Dr. H. Dadang Solihin, SE, MA -Tenaga Ahli Profesional Bid. Sosbud Lemhannas RI
Integrasi Nilai Sosial Budaya dalam Pembangunan SDM Unggul
untuk Mendukung Transformasi Sosial menuju Indonesia Emas 2045
Ceramah P4N LXVIII TA. 2025 Lemhannas RI
Jakarta, 19 Mei 2025
dadang-solihin.blogspot.com 2
dadang-solihin.blogspot.com 3
Sejak awal Januari 2022 Dadang Solihin memperkuat Lemhannas RI sebagai Tenaga Ahli Profesional (Taprof).
Wredatama ini menempuh pendidikan S1 dan S2 pada Program Studi Ekonomi Pembangunan. Gelar SE ia peroleh
dari Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan Bandung (1986), dan gelar MA ia peroleh dari University of
Colorado at Denver, USA (1996). Adapun gelar Doktor Ilmu Pemerintahan ia peroleh dari FISIP Universitas
Padjadjaran Bandung (2011). Di dunia kampus, saat ini ia menjabat sebagai Ketua Senat Akademik Institut STIAMI.
Kariernya sebagai PNS ia tekuni lebih dari 33 tahun. Dimulai dari Bappenas sejak awal 1988, di mana ia pernah
menjadi Direktur selama 7 tahun lebih. Atas pengabdiannya ini, negara menganugerahi Tanda Kehormatan
Satyalancana Karya Satya melalui 3 Presiden RI, yaitu dari Presiden Gusdur (2020), Presiden SBY (2009) dan Presiden
Jokowi (2019).
Ia pernah menjadi Rektor PTS Universitas Darma Persada (Unsada) Jakarta Masa Bakti 2015-2018, dan sempat
mendirikan Batalyon Bushido Resimen Mahasiswa Jayakarta. Pangkat Akademiknya adalah Associate
Professor/Lektor Kepala TMT 1 Oktober 2004.
Dr. H. Dadang Solihin, SE, MA
Ia juga pernah menjadi Ketua Dewan Riset Daerah Provinsi DKI Jakarta Masa Bakti 2018-2022. Jabatan terakhirnya sebagai PNS adalah Deputi
Gubernur DKI Jakarta Bidang Budaya dan Pariwisata sampai memasuki usia pensiun sebagai PNS golongan IV.e TMT 1 Desember 2021.
Senior citizen yang setiap hari menikmati perjalanan Bike to Work ini adalah Peserta Terbaik Diklat Kepemimpinan Tingkat II Angkatan XXIX
tahun 2010 yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Jakarta dan Peserta Terbaik Program Pendidikan Reguler
Angkatan (PPRA) XLIX tahun 2013 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI. Ia dinyatakan Lulus Dengan Pujian
serta dianugerahi Penghargaan Wibawa Seroja Nugraha.
Pada tahun 2019 Dadang Solihin mengikuti Pelatihan Jabatan Fungsional Perencana Tingkat Utama yang diadakan oleh Pusat Pembinaan,
Pendidikan, dan Pelatihan Perencana (Pusbindiklatren) Kementerian PPN/Bappenas RI bekerjasama dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi
dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM-FEB UI). Ia dinyatakan lulus dengan memperoleh Nilai Terbaik dan
Policy Papernya dijadikan standar nasional dalam Penilaian Kinerja Jabatan Fungsional Perencana yang diatur dalam Peraturan Menteri
PPN/Kepala Bappenas Nomor 1 Tahun 2022.
dadang-solihin.blogspot.com 4
1. Pendahuluan
2. Konsep Nilai Sosial Budaya
3. Pembangunan SDM Unggul
4. Transformasi Sosial menuju Indonesia Emas 2045
5. Integrasi Nilai Sosial Budaya dalam Strategi Pembangunan SDM
6. Peran Peserta P4N dalam Mewujudkan SDM Unggul
7. Perumusan SWOT dan Scenario Planning
Daftar Pustaka
Outline
dadang-solihin.blogspot.com 5
Pendahuluan
1
dadang-solihin.blogspot.com 6
Bila integrasi nilai
sosial budaya dalam
pembangunan SDM
unggul gagal
mendukung
transformasi sosial
menuju Indonesia
Emas 2045, maka:
• Indonesia menghadapi badai globalisasi dengan fondasi kebangsaan yang rapuh
dan SDM yang belum siap secara karakter maupun kompetensi.
• Minimnya internalisasi Pancasila, lemahnya pendidikan karakter, serta praktik
politik yang transaksional membuat bangsa ini kehilangan arah nilai.
• Ketimpangan pendidikan dan ekonomi memperdalam jurang ketidaksetaraan,
sementara westernisasi, radikalisme, dan konflik identitas merusak kohesi sosial.
• Di tengah tantangan liberalisasi ekonomi, media sosial tak terkendali menjadi pintu
masuk krisis identitas generasi muda.
• Eksploitasi SDA yang tidak memperhatikan kearifan lokal semakin melemahkan
keadilan sosial.
• Ancaman hibrida dan disintegrasi wilayah perbatasan kian nyata, sementara bonus
demografi menjadi beban jika tidak segera ditangani.
• Seperti kapal bocor di tengah samudra badai, Indonesia berada dalam risiko
stagnasi dan disorientasi nasional.
• Tanpa pembenahan sistemik, kapal ini bisa karam sebelum mencapai Indonesia
Emas 2045.
• Pembangunan SDM unggul tidak cukup hanya dengan
pendekatan teknokratik, tetapi harus menyentuh aspek
nilai dan budaya.
• Lemhannas RI memegang tanggung jawab strategis
sebagai institusi yang menjembatani antara pemikiran
strategis dan pembentukan kepemimpinan nasional yang
berkarakter.
dadang-solihin.blogspot.com 7
• Lemhannas RI berperan strategis
dalam mengembangkan kebijakan
pembangunan SDM berbasis nilai
sosial budaya.
• Program-program Lemhannas RI
fokus pada pembentukan karakter,
penanaman nilai luhur bangsa
(Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika).
• Transformasi sosial menuju
Indonesia Emas 2045 butuh
perubahan paradigma dalam
pembangunan SDM.
• Lemhannas RI mencetak pemimpin
dan agen perubahan yang
berkomitmen pada kepentingan
bangsa.
dadang-solihin.blogspot.com 8
Peran Lemhannas RI
• Nilai sosial budaya (gotong royong,
toleransi, kerjasama, kejujuran)
memperkuat kohesi sosial.
• Gotong royong penting untuk
mencapai tujuan bersama,
memperkuat kebersamaan.
• Toleransi dan penghormatan terhadap
keberagaman menciptakan masyarakat
inklusif.
• Kejujuran dan integritas penting untuk
membangun kepercayaan.
• Lemhannas RI berperan dalam
menanamkan nilai-nilai ini melalui
pendidikan dan pelatihan.
Nilai Sosial Budaya
• Mencapai Indonesia Emas 2045
memerlukan transformasi sosial yang
mendalam.
• Transformasi mencakup perubahan
ekonomi, teknologi, sosial, budaya, dan
nilai bangsa.
• Pembangunan SDM unggul adalah pilar
utama transformasi sosial.
• SDM unggul harus kompeten,
berkarakter kuat, berintegritas, dan
memiliki kesadaran sosial tinggi.
• Pembangunan SDM harus integrasikan
aspek budaya agar berakar pada
identitas nasional.
• Lemhannas RI berperan penting dalam
mencetak pemimpin masa depan.
Transformasi Sosial
dadang-solihin.blogspot.com 9
Konsep Nilai Sosial Budaya
2
• Nilai-nilai sosial budaya yang relevan untuk mendukung
pembangunan SDM, yaitu:
• Gotong royong, sebagai semangat kolektif
membangun bangsa;
• Kerja keras, sebagai etos untuk maju; serta
• Toleransi dan penghormatan keberagaman, sebagai
pilar kohesi sosial;
• Nilai-nilai ini harus diinternalisasi melalui pendidikan
dan kehidupan sosial, agar tumbuh menjadi kebiasaan
dan identitas nasional.
dadang-solihin.blogspot.com 10
• Nilai sosial budaya adalah
prinsip, norma, dan
keyakinan yang diwariskan
antar generasi.
• Nilai-nilai ini mempengaruhi
cara individu berinteraksi dan
bertindak.
• Di Indonesia, nilai sosial
budaya penting untuk
menjaga kerukunan dan
keharmonisan sosial.
• Nilai-nilai seperti gotong
royong, kerja keras, toleransi,
dan penghormatan terhadap
keberagaman memperkuat
kohesi sosial.
dadang-solihin.blogspot.com 11
Konsep Nilai Sosial
Budaya
Nilai Gotong Royong
dan Kerja Keras
Nilai Gotong Royong
• Gotong royong adalah
semangat saling membantu
dan bekerja sama.
• Mencerminkan budaya dan
cara hidup masyarakat.
• Mengajarkan kolaborasi,
kekompakan, dan tanggung
jawab sosial.
• Relevan dalam
pembangunan untuk
mencapai tujuan bersama.
Nilai Kerja Keras
• Kerja keras adalah usaha,
ketekunan, dan komitmen
dalam meraih tujuan.
• Bagian dari etos hidup
untuk meraih kesuksesan.
• Menciptakan individu yang
tangguh dan berdedikasi.
Nilai Toleransi dan
Penghormatan terhadap
Keberagaman
Nilai Toleransi
• Toleransi beragam suku, agama,
ras, dan budaya.
• Menciptakan kehidupan
harmonis dan damai.
• Pendidikan berbasis toleransi
penting untuk menjaga
kerukunan sosial.
• Relevan dalam hubungan
internasional.
Nilai Penghormatan terhadap
Keberagaman
• Menghargai perbedaan
memperkuat kohesi sosial dan
adaptasi global.
• Mempromosikan keberagaman
memperkuat citra Indonesia
dan menciptakan ruang bagi
setiap kelompok untuk
berkontribusi.
Nilai Sosial Budaya
dalam Praktik Sehari-
hari
• Nilai sosial budaya harus
diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari
(keluarga, sekolah,
masyarakat, negara).
• Contoh: Gotong royong
di keluarga, toleransi di
sekolah, kegiatan sosial
di masyarakat.
• Memastikan nilai luhur
bangsa tetap hidup dan
berkembang.
dadang-solihin.blogspot.com 12
Pembangunan SDM Unggul
3
• SDM unggul harus memiliki kompetensi, karakter, dan
integritas.
• Pendidikan dan pelatihan menjadi alat utama, didukung
teknologi digital dan penguatan karakter.
• SDM unggul tidak hanya berorientasi pada produktivitas,
tetapi juga ketahanan nasional.
• Masyarakat yang memiliki daya tahan terhadap pengaruh
negatif global akan memperkuat fondasi bangsa dalam
jangka panjang.
dadang-solihin.blogspot.com 13
• Pembangunan SDM unggul adalah pilar utama
pembangunan bangsa.
• Mencakup pengembangan karakter, integritas,
dan kemampuan adaptasi.
• Menciptakan masyarakat yang cerdas secara
intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.
• SDM unggul mendukung pembangunan
berkelanjutan dan ketahanan nasional.
dadang-solihin.blogspot.com 14
Konsep SDM Unggul Karakteristik SDM Unggul
• Keterampilan teknis,
• Karakter yang kuat,
• Kemampuan adaptasi,
• Kecerdasan emosional dan sosial,
• Spiritualitas.
Sumber: Dadang Solihin, Komite Ekonomi dan Industri Nasional-RI, 28 Februari 2019
https://www.slideshare.net/slideshow/revitalisasi-perguruan-tinggi-menghadapi-tantangan-pekerjaan-era-industri-40/133660756
dadang-solihin.blogspot.com 15
(Silahkan klik slide ini)
dadang-solihin.blogspot.com 16
Rate of Automation Tingkat Otomasi terhadap Pekerja Manusia Semakin Meninggi
• Pada tahun 2020, terdapat 67%
pekerjaan yang dikerjakan oleh
manusia. Sisanya, sebesar 33%
dilakukan oleh mesin.
• Namun, pada tahun 2025,
jumlah pekerjaan yang
ditangani manusia hanya 53%
saja. Sisanya, sebesar 47%
ditangani oleh mesin.
• Artinya terdapat peningkatan
sejumlah 14% pekerjaan
manusia yang digantikan oleh
mesin pada tahun 2025
dadang-solihin.blogspot.com 17
Top 10 Skills Kompetensi Lulusan Diharapkan sesuai dengan Top 10 Skills di
Lapangan Kerja
2015
1. Complex problem solving
2. Coordinating with others
3. People management
4. Critical thinking
5. Negotiation
6. Quality control
7. Service orientation
8. Judgement and decision making
9. Active listening
10. Creativity
2020
1. Complex problem solving
2. Critical thinking
3. Creativity
4. People management
5. Coordinating with others
6. Emotional intelligence
7. Judgement and decision making
8. Service orientation
9. Negotiation
10. Cognitive flexibility
2025
1. Analytical thinking and innovation
2. Active learning and learning
strategies
3. Complex problem-solving
4. Critical thinking and analysis
5. Creativity, originality and initiative
6. Leadership and social influence
7. Technology use, monitoring and
control
8. Technology design and
programming
9. Resilience, stress tolerance and
flexibility
10. Reasoning, problem-solving and
ideation
Source: Future of Jobs Report 2020, World Economic Forum
dadang-solihin.blogspot.com 18
Top 10 Skills 2025
1. Analytical Thinking and Innovation (Berpikir Analitis dan Inovasi).
• Mampu menganalisis berbagai informasi secara kritis dan mendalam
untuk menemukan solusi kreatif dan inovatif.
• Memahami pola, data, dan tren untuk menghasilkan ide-ide baru yang
dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas di tempat kerja.
2. Active Learning and Learning Strategies (Pembelajaran Aktif dan Strategi
Pembelajaran).
• Memiliki kemampuan untuk terus belajar secara aktif dan
mengembangkan strategi pembelajaran yang efektif.
• Memiliki kemampuan untuk mengadaptasi dan menerapkan
pengetahuan baru dengan cepat di lingkungan yang berubah-ubah.
3. Complex Problem-Solving (Pemecahan Masalah yang Kompleks).
• Mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah
yang kompleks dan multifaset.
• Menggunakan pendekatan yang sistematis dan kreatif untuk
menemukan solusi yang efektif dalam situasi yang menantang.
4. Critical Thinking and Analysis (Berpikir Kritis dan Analisis).
• Mampu berpikir kritis, mengevaluasi argumen, dan menganalisis
informasi secara objektif.
• Mampu membuat keputusan yang tepat dan memberikan solusi yang
berbasis bukti dalam situasi kerja.
5. Creativity, Originality, and Initiative (Kreativitas, Orisinalitas, dan Inisiatif).
• Memiliki kreativitas dan orisinalitas dalam mengembangkan ide-ide
baru
• Proaktif dan memiliki inisiatif untuk membawa perubahan positif di
lingkungan kerja.
6. Leadership and Social Influence (Kepemimpinan dan Pengaruh Sosial).
• Memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik serta mampu
mempengaruhi dan memotivasi orang lain.
• Bisa bekerja dengan tim, membimbing, dan mengambil keputusan yang
berdampak positif.
7. Technology Use, Monitoring, and Control (Penggunaan Teknologi,
Pemantauan, dan Pengendalian).
• Terampil dalam menggunakan teknologi secara efisien dan efektif.
• Memahami cara memantau dan mengendalikan teknologi untuk
memastikan operasional yang lancar dan efisien.
8. Technology Design and Programming (Desain Teknologi dan
Pemrograman).
• Mampu merancang, mengembangkan, dan memprogram teknologi baru
yang relevan dengan kebutuhan industri.
• Mampu bekerja dengan perangkat lunak, perangkat keras, dan sistem
teknologi informasi.
9. Resilience, Stress Tolerance, and Flexibility (Ketahanan, Toleransi terhadap
Stres, dan Fleksibilitas).
• Memiliki ketahanan mental yang kuat, kemampuan untuk mengelola
stres, serta fleksibilitas dalam menghadapi perubahan.
• Mampu beradaptasi dengan cepat dalam situasi yang tidak terduga dan
tetap produktif.
10.Reasoning, Problem-Solving, and Ideation (Penalaran, Pemecahan
Masalah, dan Ideasi).
• Memiliki kemampuan penalaran yang baik untuk memecahkan masalah
secara efektif dan menghasilkan ide-ide baru.
• Mampu mengembangkan solusi inovatif dan meningkatkan proses
kerja.
• Pendidikan berkualitas
menciptakan individu yang
kompeten dan siap
menghadapi tantangan global.
• Pendidikan menanamkan nilai
sosial budaya (gotong royong,
toleransi, keberagaman).
• Pendidikan harus menciptakan
individu yang berpikir kritis,
inovatif, dan bertanggung
jawab.
• Pelatihan mengembangkan
keterampilan teknis dan non-
teknis (kepemimpinan,
manajerial, interpersonal).
• Pelatihan berbasis
pengembangan karakter dan
kecerdasan emosional
penting.
dadang-solihin.blogspot.com 19
Diklat sebagai Landasan
Pembangunan SDM Unggul
Peran Teknologi dalam
Pengembangan SDM
Unggul
• Teknologi berperan besar
dalam pengembangan SDM
unggul di era digital.
• SDM unggul harus mampu
memanfaatkan teknologi
untuk meningkatkan
produktivitas.
• Teknologi dalam diklat
mempermudah akses
pengetahuan dan
keterampilan (e-learning).
• Teknologi meningkatkan
kualitas pelatihan (simulasi
virtual, pembelajaran
berbasis game).
• Pengembangan SDM
unggul harus mencakup
pembelajaran
berkelanjutan.
Membangun Karakter
dan Integritas dalam
Pembangunan SDM
• Penguatan karakter dan
integritas adalah aspek penting
dalam pembangunan SDM
unggul.
• Karakter yang kuat dan
integritas yang tinggi
menciptakan individu yang
dapat dipercaya dan
bertanggung jawab.
• Pembangunan karakter dimulai
sejak dini (keluarga, sekolah,
masyarakat).
• Pendidikan harus
mengintegrasikan nilai moral
dan etika.
• Integritas (kejujuran,
ketulusan, konsistensi) penting
untuk menciptakan SDM yang
beretika.
Ketahanan Nasional dan
SDM Unggul
• Pembangunan SDM unggul
berkaitan erat dengan
ketahanan nasional.
• Ketahanan nasional
mencakup ketahanan sosial,
ekonomi, dan budaya.
• SDM unggul memperkuat
ketahanan nasional dalam
menghadapi ancaman dan
tantangan.
• SDM unggul membangun
ekonomi yang tangguh dan
memajukan berbagai sektor.
dadang-solihin.blogspot.com 20
Transformasi Sosial menuju
Indonesia Emas 2045
4
• Pilar-pilar transformasi sosial yang mencakup
pemberdayaan masyarakat, inklusivitas, pemerataan
pembangunan, dan keadilan sosial.
• Transformasi sosial harus bersandar pada nilai Pancasila,
agar arah perubahan tetap dalam bingkai kebangsaan.
• Peran negara dalam merespons tantangan sosial, seperti
kesenjangan dan intoleransi, sangat menentukan
keberhasilan transformasi ini.
dadang-solihin.blogspot.com 21
• Transformasi sosial adalah
perubahan mendasar dalam
struktur, nilai, dan praktik
sosial.
• Dipicu oleh perkembangan
teknologi, globalisasi, dan
perubahan politik.
• Indonesia memerlukan
transformasi sosial untuk
mencapai Indonesia Emas
2045.
dadang-solihin.blogspot.com 22
Transformasi Sosial
menuju Indonesia Emas
2045
Tantangan Sosial yang
Dihadapi Indonesia
• Kemiskinan yang meluas,
ketimpangan sosial,
degradasi moral dan nilai
budaya.
• Transformasi sosial
diperlukan untuk
menjawab tantangan-
tantangan tersebut.
• Transformasi sosial harus
berlandaskan pada
Pancasila.
Pilar-pilar Transformasi
Sosial menuju Indonesia
Emas 2045
• Pembangunan manusia dan
penguasaan IPTEK.
• Pembangunan ekonomi
berkelanjutan.
• Pemerataan pembangunan.
• Ketahanan nasional.
Peran Pancasila dalam
Transformasi Sosial
• Pancasila adalah dasar
negara dan sumber nilai-
nilai bangsa.
• Pancasila harus menjadi
pegangan dalam
membangun bangsa yang
berkeadilan, bersatu, dan
berbudaya.
• Pancasila mengajarkan
gotong royong,
musyawarah, dan
penghargaan terhadap
perbedaan.
dadang-solihin.blogspot.com 23
Integrasi Nilai Sosial Budaya dalam
Strategi Pembangunan SDM
5
• Strategi konkret integrasi nilai budaya dalam
pembangunan SDM, antara lain:
• Pendidikan berbasis budaya yang memasukkan kearifan
lokal ke dalam kurikulum;
• Pelatihan kepemimpinan yang mengedepankan nilai
sosial budaya;
• Revitalisasi seni dan tradisi lokal; serta
• Kebijakan inklusif yang menjamin akses setara bagi
semua kelompok masyarakat.
dadang-solihin.blogspot.com 24
• Pendidikan Berbasis Budaya
• Pelatihan Kepemimpinan
Berbasis Nilai
• Revitalisasi Kearifan Lokal
• Perumusan Kebijakan Inklusif
• Kurikulum menanamkan
kearifan lokal dan budaya
nasional
• Mengajarkan gotong royong,
toleransi, dan solidaritas
• Membentuk generasi cerdas
intelektual & matang sosial
• Contoh: pelajaran budaya
lokal, praktik nilai dalam
kegiatan sekolah
dadang-solihin.blogspot.com 25
Pilar Strategi Integrasi
Nilai Sosial Budaya
Pelatihan
Kepemimpinan
Berbasis Nilai
• Kepemimpinan butuh etika,
integritas, dan pemahaman
budaya
• Pelatihan menekankan
kejujuran, keadilan,
tanggung jawab
• Pemimpin peka terhadap
keberagaman dan harmoni
sosial
• Mendorong kepemimpinan
yang menjembatani
perbedaan
Revitalisasi Kearifan Lokal
• Melestarikan seni tradisional,
adat istiadat, dan sistem sosial
• Membangun identitas budaya
di tengah arus globalisasi
• Praktik budaya seperti gotong
royong dijadikan dasar
pembentukan karakter
• Seni dan tradisi = warisan yang
membentuk bangga budaya
Perumusan Kebijakan
Inklusif
• Akses setara untuk semua
kelompok: pendidikan,
pelatihan, pekerjaan
• Tidak ada masyarakat yang
tertinggal
• Mengakomodasi
keberagaman dalam desain
kebijakan
• Menjamin keadilan dan
kebersamaan dalam
pembangunan
• Integrasi nilai sosial budaya
= strategi membangun
karakter bangsa
• SDM unggul: kompeten
secara teknis, kuat secara
moral
dadang-solihin.blogspot.com 26
Peran Peserta P4N dalam
Mewujudkan SDM Unggul
6
• Peserta P4N harus menjadi agen perubahan, teladan, dan inisiator
program yang memperkuat identitas nasional.
• Peserta P4N diharapkan dapat berkontribusi membangun karakter
generasi muda dan menjaga kesinambungan nilai kebangsaan di
tengah modernisasi dan globalisasi.
• Pendidikan dan pelatihan berbasis nilai sosial budaya adalah kunci
mewujudkan SDM unggul. Kebijakan publik harus mendorong
integrasi nilai dalam setiap aspek pembangunan.
• Visi Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai bila pembangunan
manusia tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga bijaksana,
toleran, dan berkarakter kuat.
dadang-solihin.blogspot.com 27
• SDM unggul = kunci
Indonesia Emas 2045
• P4N membentuk pemimpin
berintegritas, berkarakter,
dan berbasis nilai budaya
• Peserta P4N: pemimpin +
agen perubahan sosial
• Fokus: Integrasi nilai
Pancasila dalam
kepemimpinan dan kebijakan
publik
• Memimpin transformasi
sosial berbasis nilai budaya
• Identifikasi & solusi terhadap
masalah sosial budaya
• Dorong perubahan perilaku
masyarakat: inklusif, adil,
gotong royong
dadang-solihin.blogspot.com 28
Peran Sebagai Agen
Perubahan
Menjadi Teladan Nilai
Sosial Budaya
• Menerapkan nilai Pancasila
dalam kepemimpinan
sehari-hari
• Praktik gotong royong,
keadilan, dan toleransi
• Mendorong kolaborasi lintas
sektor dalam pembangunan
SDM
• Pemimpin sebagai panutan
etika dan moral publik
Inisiasi Program
Penguatan Identitas
Nasional
• Ciptakan program berbasis
budaya lokal: seni, bahasa
daerah, sejarah
• Revitalisasi nilai kebangsaan
dalam kurikulum pendidikan
• Dorong ekonomi kreatif
berbasis budaya
• Tingkatkan kebanggaan dan jati
diri bangsa di era globalisasi
Membangun Karakter
Generasi Muda
• Kembangkan program
pendidikan karakter: jujur,
tanggung jawab, cinta
tanah air
• Bentuk generasi muda
berakhlak, tangguh, dan
berwawasan kebangsaan
• Kolaborasi dengan sekolah,
perguruan tinggi, dan
media
• Peserta P4N = pemimpin +
role model sosial
• Wujudkan SDM unggul
yang berkarakter dan
berbudaya
• Membangun Indonesia
yang sejahtera, adil, dan
berkelanjutan
dadang-solihin.blogspot.com 29
dadang-solihin.blogspot.com 29
Analisis SWOT
Integrasi Nilai Sosial Budaya dalam Pembangunan SDM Unggul untuk
Mendukung Transformasi Sosial menuju Indonesia Emas 2045
7
• Transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2045 menuntut
pembangunan SDM unggul yang tidak hanya berdaya saing global,
tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai sosial budaya bangsa.
• Melalui pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities,
Threats), strategi pembangunan SDM disusun untuk
mengintegrasikan nilai budaya dalam seluruh dimensi kehidupan
kebangsaan.
• Melalui pemetaan SWOT dan strategi nasional yang komprehensif,
integrasi nilai sosial budaya dalam pembangunan SDM unggul dapat
menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
• Strategi ini tidak hanya menjawab tantangan global, tetapi juga
memastikan keberlanjutan karakter kebangsaan yang berakar pada
nilai luhur Indonesia.
dadang-solihin.blogspot.com 30
Strengths (Kekuatan)
No Variabel NU BF NUxBF
1 Pancasila sebagai ideologi terbuka dan inklusif yang mendukung integrasi nilai
sosial budaya secara lintas sektoral.
8 20 160
2 Stabilitas politik relatif kondusif untuk mendukung kebijakan berbasis nilai budaya
dan penguatan karakter bangsa.
7 17 119
3 Potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal (kuliner, kerajinan, seni) mendukung
pemberdayaan SDM lokal.
4 12 48
4 Kekayaan budaya gotong royong, toleransi, kerja keras, dan kearifan lokal menjadi
fondasi moral SDM unggul.
2 10 20
5 Sistem pertahanan semesta (Total Defense) mengakui pentingnya ketahanan
budaya dan nilai lokal sebagai bagian dari ketahanan nasional.
6 14 84
6 Letak geografis strategis memungkinkan pertukaran nilai budaya secara luas di
antara pulau dan negara tetangga.
1 5 5
7 Bonus demografi membuka peluang besar membentuk generasi muda unggul
berbasis nilai-nilai kebangsaan.
3 10 30
8 SDA yang beragam dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendekatan
nilai budaya lokal (ekologi budaya).
5 12 60
Jumlah 100 526
dadang-solihin.blogspot.com 31
dadang-solihin.blogspot.com 31
Dengan memanfaatkan kekuatan yang dipengaruhi oleh dinamika lingkungan internal ini, Indonesia dapat
mengoptimalkan integrasi nilai sosial budaya dalam pembangunan SDM unggul untuk mendukung
transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2045.
Weaknesses (Kelemahan)
dadang-solihin.blogspot.com 32
dadang-solihin.blogspot.com 32
No Variabel NU BF NUxBF
1 Minimnya internalisasi Pancasila secara aplikatif dalam kehidupan generasi muda dan
birokrasi.
7 17 119
2 Praktik politik transaksional dan elitisme dapat menghambat penanaman nilai luhur
dalam kebijakan publik.
6 15 90
3 Ketimpangan distribusi ekonomi menghambat akses masyarakat adat terhadap
pembangunan SDM.
4 13 52
4 Westernisasi dan penetrasi budaya asing melemahkan nilai sosial budaya lokal di
kalangan generasi muda.
5 14 70
5 Kurangnya integrasi nilai-nilai budaya dalam doktrin dan pelatihan pertahanan
nasional.
2 6 12
6 Letak geografis yang tersebar menyulitkan pemerataan program pembangunan nilai
budaya.
1 5 5
7 Kualitas pendidikan tidak merata menyebabkan ketimpangan pembentukan karakter
antarwilayah.
8 20 160
8 Eksploitasi SDA tanpa mempertimbangkan nilai kearifan lokal merusak lingkungan dan
merugikan masyarakat adat.
3 10 30
Jumlah 100 538
Dengan memahami kelemahan yang dipengaruhi oleh dinamika lingkungan internal ini, Indonesia dapat
merumuskan strategi integrasi nilai sosial budaya dalam pembangunan SDM unggul untuk mendukung
transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2045.
Opportunities (Peluang)
dadang-solihin.blogspot.com 33
dadang-solihin.blogspot.com 33
No Variabel NU BF NUxBF
1 Revitalisasi Pancasila sebagai identitas nasional dalam kurikulum dan pelatihan
kepemimpinan nasional.
5 13 65
2 Reformasi birokrasi membuka ruang pembentukan SDM aparatur sipil yang
berkarakter dan berbudaya.
6 15 90
3 Potensi ekonomi berbasis budaya (pariwisata budaya, ekonomi kreatif) sebagai
motor pembangunan berkelanjutan.
7 17 119
4 Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk kampanye dan pendidikan nilai sosial
budaya yang luas dan cepat.
4 11 44
5 Peran TNI/Polri dalam pembinaan teritorial dan bela negara dapat diperluas untuk
menyemai nilai kebangsaan.
1 5 5
6 Keanekaragaman budaya antarwilayah dapat menjadi modal promosi budaya
nasional di tingkat global.
2 8 16
7 Generasi muda sebagai digital natives berpotensi menjadi agen perubahan dan
inovator budaya.
8 20 160
8 Nilai-nilai sosial budaya dapat menjadi dasar pengelolaan SDA yang berkelanjutan
dan berkeadilan.
3 11 33
Jumlah 100 532
Dengan memanfaatkan peluang yang dipengaruhi oleh dinamika lingkungan eksternal ini, Indonesia
dapat mengoptimalkan integrasi nilai sosial budaya dalam pembangunan SDM unggul untuk mendukung
transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2045.
Threats (Ancaman)
dadang-solihin.blogspot.com 34
dadang-solihin.blogspot.com 34
No Variabel NU BF NUxBF
1 Radikalisme dan intoleransi dapat mengikis semangat persatuan dan nilai-nilai sosial
budaya.
8 22 176
2 Polarisasi politik dan konflik identitas dapat merusak kohesi sosial dan pengembangan
SDM unggul.
4 12 48
3 Liberalisasi ekonomi berisiko mengabaikan nilai-nilai budaya lokal dalam kebijakan
investasi dan pembangunan.
1 6 6
4 Media sosial dan globalisasi budaya asing dapat memicu krisis identitas nasional pada
generasi muda.
7 17 119
5 Ancaman hibrida (hoaks, perang kognitif) melemahkan ketahanan budaya dan
kesadaran bela negara.
6 15 90
6 Wilayah terpencil dan perbatasan rawan disintegrasi sosial budaya jika tidak diberi
perhatian khusus.
2 7 14
7 Bonus demografi menjadi bencana jika tidak dikelola dengan pendidikan karakter yang
kuat.
5 11 55
8 Konflik lahan dan eksploitasi SDA dapat memicu ketidakadilan sosial dan melemahkan
harmoni budaya lokal.
3 10 30
Jumlah 100 536
Dengan mempertimbangkan ancaman yang dipengaruhi oleh dinamika lingkungan eksternal ini, Indonesia dapat
merumuskan strategi integrasi nilai sosial budaya dalam pembangunan SDM unggul untuk mendukung
transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2045.
Perumusan Strategi
dadang-solihin.blogspot.com 35
dadang-solihin.blogspot.com 35
Threats
(Ancaman)
(536)
Threats
(Ancaman)
(536)
Weaknesses
(Kelemahan)
(538)
Weaknesses
(Kelemahan)
(538)
Strengths
(Kekuatan)
(526)
Strengths
(Kekuatan)
(526)
Strategi ST
(1062)
Kwadran II
Strategi WT
(1074)
Kwadran IV
Strategi WO
(1070)
Kwadran III
Strategi SO
(1058)
Kwadran I
Opportunities
(Peluang)
(532)
Opportunities
(Peluang)
(532)
INTERNAL
EKSTERNAL
Strategi WT
No. Analisis SWOT: Variabel S-O, Kwadran I Strategi Terpilih
1. Pancasila sebagai ideologi terbuka dan inklusif yang mendukung integrasi nilai sosial budaya
secara lintas sektoral.
Membangun kebijakan lintas sektor yang mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam
sistem pendidikan, birokrasi, dan kepemimpinan untuk memperkuat karakter dan kohesi
sosial bangsa.
2.
Stabilitas politik relatif kondusif untuk mendukung kebijakan berbasis nilai budaya dan
penguatan karakter bangsa.
Mengarahkan stabilitas politik sebagai fondasi implementasi kebijakan penguatan karakter
bangsa berbasis nilai budaya lokal di seluruh institusi negara dan daerah.
3.
Potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal (kuliner, kerajinan, seni) mendukung
pemberdayaan SDM lokal.
Mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal sebagai sumber pertumbuhan
ekonomi baru dan instrumen pemberdayaan SDM unggul daerah.
4.
Kekayaan budaya gotong royong, toleransi, kerja keras, dan kearifan lokal menjadi fondasi
moral SDM unggul.
Menginternalisasi nilai-nilai sosial budaya dalam kurikulum pendidikan, pelatihan SDM, dan
program pembangunan karakter secara nasional dan lokal.
5.
Sistem pertahanan semesta (Total Defense) mengakui pentingnya ketahanan budaya dan
nilai lokal sebagai bagian dari ketahanan nasional.
Mengintegrasikan kearifan lokal dan nilai budaya dalam doktrin bela negara, pendidikan
kebangsaan, dan strategi pertahanan rakyat semesta.
6.
Letak geografis strategis memungkinkan pertukaran nilai budaya secara luas di antara pulau
dan negara tetangga.
Memperkuat pertukaran nilai budaya antarwilayah dan dengan dunia internasional melalui
diplomasi budaya dan platform digital berbasis lokalitas.
7.
Bonus demografi membuka peluang besar membentuk generasi muda unggul berbasis nilai-
nilai kebangsaan.
Mengarahkan investasi pendidikan karakter dan kepemudaan untuk memanfaatkan bonus
demografi dalam mencetak generasi emas berbudaya dan berintegritas.
8.
SDA yang beragam dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendekatan nilai
budaya lokal (ekologi budaya).
Mengembangkan kebijakan pengelolaan SDA yang mengedepankan prinsip keberlanjutan
dan nilai budaya lokal guna menjamin keadilan sosial dan kelestarian lingkungan.
9.
Revitalisasi Pancasila sebagai identitas nasional dalam kurikulum dan pelatihan
kepemimpinan nasional.
Mengimplementasikan revitalisasi Pancasila secara menyeluruh dalam kurikulum
pendidikan dan pelatihan kepemimpinan nasional untuk memperkuat jati diri bangsa.
10.
Reformasi birokrasi membuka ruang pembentukan SDM aparatur sipil yang berkarakter dan
berbudaya.
Memanfaatkan momentum reformasi birokrasi untuk menciptakan aparatur sipil negara
yang profesional, berkarakter, dan berbudaya sebagai motor transformasi sosial.
11.
Potensi ekonomi berbasis budaya (pariwisata budaya, ekonomi kreatif) sebagai motor
pembangunan berkelanjutan.
Mengembangkan sektor pariwisata budaya dan ekonomi kreatif berbasis nilai lokal sebagai
penggerak utama ekonomi berkelanjutan dan inklusif.
12.
Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk kampanye dan pendidikan nilai sosial budaya
yang luas dan cepat.
Mengoptimalkan teknologi digital untuk menyebarluaskan nilai-nilai sosial budaya secara
masif melalui konten edukatif dan kampanye budaya yang progresif.
13.
Peran TNI/Polri dalam pembinaan teritorial dan bela negara dapat diperluas untuk
menyemai nilai kebangsaan.
Meningkatkan peran TNI/Polri dalam pembinaan teritorial untuk menyemai semangat
kebangsaan dan nilai sosial budaya sebagai bagian dari ketahanan nasional.
14.
Keanekaragaman budaya antarwilayah dapat menjadi modal promosi budaya nasional di
tingkat global.
Menjadikan keanekaragaman budaya antarwilayah sebagai basis promosi identitas nasional
melalui diplomasi budaya dan platform global.
15.
Generasi muda sebagai digital natives berpotensi menjadi agen perubahan dan inovator
budaya.
Mengarahkan potensi digital native generasi muda sebagai agen transformasi budaya
melalui pendidikan inovatif dan pelibatan dalam ruang-ruang publik digital.
16.
Nilai-nilai sosial budaya dapat menjadi dasar pengelolaan SDA yang berkelanjutan dan
berkeadilan.
Menjadikan nilai sosial budaya sebagai prinsip utama dalam tata kelola SDA berbasis
keadilan ekologis dan partisipasi masyarakat lokal.
No. Analisis SWOT: Variabel S-T, Kwadran II Strategi Terpilih
1. Pancasila sebagai ideologi terbuka dan inklusif yang mendukung integrasi nilai sosial budaya
secara lintas sektoral.
Membangun kebijakan lintas sektor yang mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam
sistem pendidikan, birokrasi, dan kepemimpinan untuk memperkuat karakter dan kohesi
sosial bangsa.
2.
Stabilitas politik relatif kondusif untuk mendukung kebijakan berbasis nilai budaya dan
penguatan karakter bangsa.
Mengarahkan stabilitas politik sebagai fondasi implementasi kebijakan penguatan karakter
bangsa berbasis nilai budaya lokal di seluruh institusi negara dan daerah.
3.
Potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal (kuliner, kerajinan, seni) mendukung
pemberdayaan SDM lokal.
Mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal sebagai sumber pertumbuhan
ekonomi baru dan instrumen pemberdayaan SDM unggul daerah.
4.
Kekayaan budaya gotong royong, toleransi, kerja keras, dan kearifan lokal menjadi fondasi
moral SDM unggul.
Menginternalisasi nilai-nilai sosial budaya dalam kurikulum pendidikan, pelatihan SDM, dan
program pembangunan karakter secara nasional dan lokal.
5.
Sistem pertahanan semesta (Total Defense) mengakui pentingnya ketahanan budaya dan
nilai lokal sebagai bagian dari ketahanan nasional.
Mengintegrasikan kearifan lokal dan nilai budaya dalam doktrin bela negara, pendidikan
kebangsaan, dan strategi pertahanan rakyat semesta.
6.
Letak geografis strategis memungkinkan pertukaran nilai budaya secara luas di antara pulau
dan negara tetangga.
Memperkuat pertukaran nilai budaya antarwilayah dan dengan dunia internasional melalui
diplomasi budaya dan platform digital berbasis lokalitas.
7.
Bonus demografi membuka peluang besar membentuk generasi muda unggul berbasis nilai-
nilai kebangsaan.
Mengarahkan investasi pendidikan karakter dan kepemudaan untuk memanfaatkan bonus
demografi dalam mencetak generasi emas berbudaya dan berintegritas.
8.
SDA yang beragam dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendekatan nilai
budaya lokal (ekologi budaya).
Mengembangkan kebijakan pengelolaan SDA yang mengedepankan prinsip keberlanjutan
dan nilai budaya lokal guna menjamin keadilan sosial dan kelestarian lingkungan.
9.
Radikalisme dan intoleransi dapat mengikis semangat persatuan dan nilai-nilai sosial
budaya.
Mengintensifkan pendidikan kebangsaan dan moderasi beragama untuk menangkal
radikalisme serta memperkuat nilai-nilai sosial budaya dalam kehidupan masyarakat.
10.
Polarisasi politik dan konflik identitas dapat merusak kohesi sosial dan pengembangan SDM
unggul.
Membangun ekosistem politik inklusif berbasis Pancasila untuk meredam polarisasi dan
memperkuat kohesi sosial dalam pengembangan SDM unggul.
11.
Liberalisasi ekonomi berisiko mengabaikan nilai-nilai budaya lokal dalam kebijakan investasi
dan pembangunan.
Mewajibkan prinsip keberpihakan budaya lokal dalam setiap kebijakan investasi dan
pembangunan ekonomi agar tidak mengikis identitas budaya bangsa.
12.
Media sosial dan globalisasi budaya asing dapat memicu krisis identitas nasional pada
generasi muda.
Meningkatkan literasi digital dan nasionalisme kultural di kalangan generasi muda untuk
mengatasi krisis identitas akibat pengaruh globalisasi dan media sosial.
13.
Ancaman hibrida (hoaks, perang kognitif) melemahkan ketahanan budaya dan kesadaran
bela negara.
Memperkuat ketahanan budaya melalui sistem edukasi pertahanan siber, literasi hoaks, dan
bela negara berbasis nilai-nilai kebangsaan.
14.
Wilayah terpencil dan perbatasan rawan disintegrasi sosial budaya jika tidak diberi
perhatian khusus.
Menyusun kebijakan afirmatif untuk wilayah terpencil dan perbatasan guna mencegah
disintegrasi sosial budaya dan memperkuat peran strategisnya.
15. Bonus demografi menjadi bencana jika tidak dikelola dengan pendidikan karakter yang kuat.
Mengarahkan bonus demografi melalui pendidikan karakter nasionalis agar generasi muda
menjadi kekuatan pembangunan, bukan sumber kerentanan sosial.
16.
Konflik lahan dan eksploitasi SDA dapat memicu ketidakadilan sosial dan melemahkan
harmoni budaya lokal.
Mewujudkan tata kelola SDA yang adil, partisipatif, dan berbasis nilai kearifan lokal untuk
mencegah konflik sosial serta menjaga harmoni budaya.
No. Analisis SWOT: Variabel W-O, Kwadran III Strategi Terpilih
1.
Minimnya internalisasi Pancasila secara aplikatif dalam kehidupan generasi muda dan
birokrasi.
Mengarusutamakan pendidikan dan praktik nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum, program
ASN, dan kehidupan sosial generasi muda melalui pendekatan kontekstual dan digital.
2.
Praktik politik transaksional dan elitisme dapat menghambat penanaman nilai luhur dalam
kebijakan publik.
Mendorong reformasi budaya politik melalui pendidikan politik berintegritas dan sistem
kaderisasi kepemimpinan publik yang berbasis nilai kebangsaan dan anti-korupsi.
3.
Ketimpangan distribusi ekonomi menghambat akses masyarakat adat terhadap
pembangunan SDM.
Merancang kebijakan afirmatif dan inklusif untuk membuka akses ekonomi dan pelatihan
SDM bagi komunitas adat dan daerah tertinggal secara berkeadilan.
4.
Westernisasi dan penetrasi budaya asing melemahkan nilai sosial budaya lokal di kalangan
generasi muda.
Memperkuat literasi budaya di kalangan generasi muda melalui media digital dan
pendidikan multikultural untuk menangkal dampak negatif westernisasi.
5. Kurangnya integrasi nilai-nilai budaya dalam doktrin dan pelatihan pertahanan nasional.
Mengintegrasikan pendidikan karakter dan nilai budaya lokal ke dalam pelatihan TNI/Polri
dan sistem bela negara untuk memperkuat ketahanan nasional berbasis budaya.
6. Letak geografis yang tersebar menyulitkan pemerataan program pembangunan nilai budaya.
Memperluas jangkauan program pembangunan budaya dengan pendekatan digitalisasi dan
mobilisasi kader budaya ke daerah terpencil dan perbatasan.
7.
Kualitas pendidikan tidak merata menyebabkan ketimpangan pembentukan karakter
antarwilayah.
Meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan karakter melalui penguatan peran guru,
kurikulum nilai, dan sarana pendidikan di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
8.
Eksploitasi SDA tanpa mempertimbangkan nilai kearifan lokal merusak lingkungan dan
merugikan masyarakat adat.
Menerapkan kebijakan tata kelola SDA berbasis ekologi budaya yang melibatkan masyarakat
lokal dan menghormati kearifan adat untuk pembangunan berkelanjutan.
9.
Revitalisasi Pancasila sebagai identitas nasional dalam kurikulum dan pelatihan
kepemimpinan nasional.
Mengimplementasikan revitalisasi Pancasila secara menyeluruh dalam kurikulum
pendidikan dan pelatihan kepemimpinan nasional untuk memperkuat jati diri bangsa.
10.
Reformasi birokrasi membuka ruang pembentukan SDM aparatur sipil yang berkarakter dan
berbudaya.
Memanfaatkan momentum reformasi birokrasi untuk menciptakan aparatur sipil negara
yang profesional, berkarakter, dan berbudaya sebagai motor transformasi sosial.
11.
Potensi ekonomi berbasis budaya (pariwisata budaya, ekonomi kreatif) sebagai motor
pembangunan berkelanjutan.
Mengembangkan sektor pariwisata budaya dan ekonomi kreatif berbasis nilai lokal sebagai
penggerak utama ekonomi berkelanjutan dan inklusif.
12.
Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk kampanye dan pendidikan nilai sosial budaya
yang luas dan cepat.
Mengoptimalkan teknologi digital untuk menyebarluaskan nilai-nilai sosial budaya secara
masif melalui konten edukatif dan kampanye budaya yang progresif.
13.
Peran TNI/Polri dalam pembinaan teritorial dan bela negara dapat diperluas untuk
menyemai nilai kebangsaan.
Meningkatkan peran TNI/Polri dalam pembinaan teritorial untuk menyemai semangat
kebangsaan dan nilai sosial budaya sebagai bagian dari ketahanan nasional.
14.
Keanekaragaman budaya antarwilayah dapat menjadi modal promosi budaya nasional di
tingkat global.
Menjadikan keanekaragaman budaya antarwilayah sebagai basis promosi identitas nasional
melalui diplomasi budaya dan platform global.
15.
Generasi muda sebagai digital natives berpotensi menjadi agen perubahan dan inovator
budaya.
Mengarahkan potensi digital native generasi muda sebagai agen transformasi budaya
melalui pendidikan inovatif dan pelibatan dalam ruang-ruang publik digital.
16.
Nilai-nilai sosial budaya dapat menjadi dasar pengelolaan SDA yang berkelanjutan dan
berkeadilan.
Menjadikan nilai sosial budaya sebagai prinsip utama dalam tata kelola SDA berbasis
keadilan ekologis dan partisipasi masyarakat lokal.
No. Analisis SWOT: Variabel W-T, Kwadran IV Strategi Terpilih
1.
Minimnya internalisasi Pancasila secara aplikatif dalam kehidupan generasi muda dan
birokrasi.
Mengarusutamakan pendidikan dan praktik nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum, program
ASN, dan kehidupan sosial generasi muda melalui pendekatan kontekstual dan digital.
2.
Praktik politik transaksional dan elitisme dapat menghambat penanaman nilai luhur dalam
kebijakan publik.
Mendorong reformasi budaya politik melalui pendidikan politik berintegritas dan sistem
kaderisasi kepemimpinan publik yang berbasis nilai kebangsaan dan anti-korupsi.
3.
Ketimpangan distribusi ekonomi menghambat akses masyarakat adat terhadap
pembangunan SDM.
Merancang kebijakan afirmatif dan inklusif untuk membuka akses ekonomi dan pelatihan
SDM bagi komunitas adat dan daerah tertinggal secara berkeadilan.
4.
Westernisasi dan penetrasi budaya asing melemahkan nilai sosial budaya lokal di kalangan
generasi muda.
Memperkuat literasi budaya di kalangan generasi muda melalui media digital dan
pendidikan multikultural untuk menangkal dampak negatif westernisasi.
5. Kurangnya integrasi nilai-nilai budaya dalam doktrin dan pelatihan pertahanan nasional.
Mengintegrasikan pendidikan karakter dan nilai budaya lokal ke dalam pelatihan TNI/Polri
dan sistem bela negara untuk memperkuat ketahanan nasional berbasis budaya.
6. Letak geografis yang tersebar menyulitkan pemerataan program pembangunan nilai budaya.
Memperluas jangkauan program pembangunan budaya dengan pendekatan digitalisasi dan
mobilisasi kader budaya ke daerah terpencil dan perbatasan.
7.
Kualitas pendidikan tidak merata menyebabkan ketimpangan pembentukan karakter
antarwilayah.
Meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan karakter melalui penguatan peran guru,
kurikulum nilai, dan sarana pendidikan di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
8.
Eksploitasi SDA tanpa mempertimbangkan nilai kearifan lokal merusak lingkungan dan
merugikan masyarakat adat.
Menerapkan kebijakan tata kelola SDA berbasis ekologi budaya yang melibatkan masyarakat
lokal dan menghormati kearifan adat untuk pembangunan berkelanjutan.
9.
Radikalisme dan intoleransi dapat mengikis semangat persatuan dan nilai-nilai sosial
budaya.
Mengintensifkan pendidikan kebangsaan dan moderasi beragama untuk menangkal
radikalisme serta memperkuat nilai-nilai sosial budaya dalam kehidupan masyarakat.
10.
Polarisasi politik dan konflik identitas dapat merusak kohesi sosial dan pengembangan SDM
unggul.
Membangun ekosistem politik inklusif berbasis Pancasila untuk meredam polarisasi dan
memperkuat kohesi sosial dalam pengembangan SDM unggul.
11.
Liberalisasi ekonomi berisiko mengabaikan nilai-nilai budaya lokal dalam kebijakan investasi
dan pembangunan.
Mewajibkan prinsip keberpihakan budaya lokal dalam setiap kebijakan investasi dan
pembangunan ekonomi agar tidak mengikis identitas budaya bangsa.
12.
Media sosial dan globalisasi budaya asing dapat memicu krisis identitas nasional pada
generasi muda.
Meningkatkan literasi digital dan nasionalisme kultural di kalangan generasi muda untuk
mengatasi krisis identitas akibat pengaruh globalisasi dan media sosial.
13.
Ancaman hibrida (hoaks, perang kognitif) melemahkan ketahanan budaya dan kesadaran
bela negara.
Memperkuat ketahanan budaya melalui sistem edukasi pertahanan siber, literasi hoaks, dan
bela negara berbasis nilai-nilai kebangsaan.
14.
Wilayah terpencil dan perbatasan rawan disintegrasi sosial budaya jika tidak diberi
perhatian khusus.
Menyusun kebijakan afirmatif untuk wilayah terpencil dan perbatasan guna mencegah
disintegrasi sosial budaya dan memperkuat peran strategisnya.
15. Bonus demografi menjadi bencana jika tidak dikelola dengan pendidikan karakter yang kuat.
Mengarahkan bonus demografi melalui pendidikan karakter nasionalis agar generasi muda
menjadi kekuatan pembangunan, bukan sumber kerentanan sosial.
16.
Konflik lahan dan eksploitasi SDA dapat memicu ketidakadilan sosial dan melemahkan
harmoni budaya lokal.
Mewujudkan tata kelola SDA yang adil, partisipatif, dan berbasis nilai kearifan lokal untuk
mencegah konflik sosial serta menjaga harmoni budaya.
dadang-solihin.blogspot.com 40
Berdasarkan Analisis SWOT tersebut, maka Strategi yang Terpilih adalah:
1. Mengarusutamakan pendidikan dan praktik nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum, program ASN, dan kehidupan sosial generasi muda melalui pendekatan
kontekstual dan digital.
2. Mendorong reformasi budaya politik melalui pendidikan politik berintegritas dan sistem kaderisasi kepemimpinan publik yang berbasis nilai kebangsaan
dan anti-korupsi.
3. Merancang kebijakan afirmatif dan inklusif untuk membuka akses ekonomi dan pelatihan SDM bagi komunitas adat dan daerah tertinggal secara
berkeadilan.
4. Memperkuat literasi budaya di kalangan generasi muda melalui media digital dan pendidikan multikultural untuk menangkal dampak negatif westernisasi.
5. Mengintegrasikan pendidikan karakter dan nilai budaya lokal ke dalam pelatihan TNI/Polri dan sistem bela negara untuk memperkuat ketahanan nasional
berbasis budaya.
6. Memperluas jangkauan program pembangunan budaya dengan pendekatan digitalisasi dan mobilisasi kader budaya ke daerah terpencil dan perbatasan.
7. Meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan karakter melalui penguatan peran guru, kurikulum nilai, dan sarana pendidikan di wilayah 3T (tertinggal,
terdepan, terluar).
8. Menerapkan kebijakan tata kelola SDA berbasis ekologi budaya yang melibatkan masyarakat lokal dan menghormati kearifan adat untuk pembangunan
berkelanjutan.
9. Mengintensifkan pendidikan kebangsaan dan moderasi beragama untuk menangkal radikalisme serta memperkuat nilai-nilai sosial budaya dalam
kehidupan masyarakat.
10.Membangun ekosistem politik inklusif berbasis Pancasila untuk meredam polarisasi dan memperkuat kohesi sosial dalam pengembangan SDM unggul.
11.Mewajibkan prinsip keberpihakan budaya lokal dalam setiap kebijakan investasi dan pembangunan ekonomi agar tidak mengikis identitas budaya bangsa.
12.Meningkatkan literasi digital dan nasionalisme kultural di kalangan generasi muda untuk mengatasi krisis identitas akibat pengaruh globalisasi dan media
sosial.
13.Memperkuat ketahanan budaya melalui sistem edukasi pertahanan siber, literasi hoaks, dan bela negara berbasis nilai-nilai kebangsaan.
14.Menyusun kebijakan afirmatif untuk wilayah terpencil dan perbatasan guna mencegah disintegrasi sosial budaya dan memperkuat peran strategisnya.
15.Mengarahkan bonus demografi melalui pendidikan karakter nasionalis agar generasi muda menjadi kekuatan pembangunan, bukan sumber kerentanan
sosial.
16.Mewujudkan tata kelola SDA yang adil, partisipatif, dan berbasis nilai kearifan lokal untuk mencegah konflik sosial serta menjaga harmoni budaya.
dadang-solihin.blogspot.com 41
dadang-solihin.blogspot.com 41
Scenario Planning
Integrasi Nilai Sosial Budaya dalam Pembangunan SDM Unggul untuk
Mendukung Transformasi Sosial menuju Indonesia Emas 2045
7
Penentuan Kwadran Terplih
dadang-solihin.blogspot.com 42
dadang-solihin.blogspot.com 42
Strategi ST
(1062)
Kwadran II
Strategi WT
(1074)
Kwadran IV
Strategi WO
(1070)
Kwadran III
Strategi SO
(1058)
Kwadran I
Kwadran IV
dadang-solihin.blogspot.com 43
Empat Skenario
Driving Forces:
1. Sumbu X: Tingkat Integrasi Nilai Sosial Budaya
2. Sumbu Y: Kualitas Pembangunan SDM
Ultimate Goals:
1. Transformasi Sosial berhasil
2. Indonesia Emas 2045 terwujud
Kwadran III: W-O
“Wayang Tanpa Dalang”
Bangsa ini kaya akan nilai dan budaya, tetapi miskin
penggerak yang mampu mengartikulasikan nilai itu dalam
bentuk inovasi, daya saing, dan kompetensi. Seperti
wayang yang indah dan sakral namun tidak hidup tanpa
dalang yang bijak dan terampil.
Kwadran I: S-O
“Kapal Nusantara Berlayar ”
Bagaikan kapal layar yang besar, adaptif, dan berkarakter, Indonesia
berlayar jauh berbekal arah angin budaya dan awak kapal yang
terlatih, bangsa ini melaju menuju Indonesia Emas dengan arah yang
jelas, tenaga SDM unggul yang berakar pada nilai luhur, dan arah
angin transformasi sosial yang mendukung.
Kwadran II: S-T
“Robot Canggih Tanpa Jiwa”
SDM Indonesia menjadi unggul secara teknis dan intelektual,
namun tidak memiliki karakter dan identitas budaya. Seperti
robot yang efisien namun tidak memiliki moral kompas, arah,
atau empati—mudah dikendalikan oleh kepentingan asing, dan
kehilangan makna kebangsaan.
Tingkat Integrasi Nilai Sosial Budaya
Kwadran IV: W-T
“Kapal Bocor di Samudra Badai”
Bangsa ini terombang-ambing di tengah badai globalisasi
tanpa arah nilai dan dengan awak kapal (SDM) yang tidak
siap. Kebocoran nilai budaya dan lemahnya kompetensi
membuat kapal kehilangan arah dan daya tahan. Risiko
disintegrasi dan stagnasi tinggi. Kualitas
Pembangunan
SDM
Tinggi
Rendah
Unggul
Lemah
dadang-solihin.blogspot.com 44
Empat Skenario
Driving Forces:
1. Sumbu X: Tingkat Integrasi Nilai Sosial Budaya
2. Sumbu Y: Kualitas Pembangunan SDM
Ultimate Goals:
1. Transformasi Sosial berhasil
2. Indonesia Emas 2045 terwujud
Kwadran III: W-O
“Wayang Tanpa Dalang”
Memiliki nilai luhur bangsa, tapi belum didukung kapasitas
SDM unggul untuk mewujudkannya dalam tindakan nyata.
Kwadran I: S-O
“Kapal Nusantara Berlayar”
Kombinasi optimal antara karakter dan kompetensi SDM
yang menjadikan Indonesia tangguh di tengah gelombang
globalisasi.
Kwadran II: S-T
“Robot Canggih Tanpa Jiwa”
Pembangunan tanpa nilai budaya berisiko menciptakan
generasi pintar tapi kehilangan arah dan nasionalisme.
Tingkat Integrasi Nilai Sosial Budaya
Kwadran IV: W-T
“Kapal Bocor di Samudra Badai”
Ini adalah skenario kegagalan, di mana kehilangan akar
budaya dan lemahnya kualitas SDM mengancam
ketahanan nasional.
Kualitas
Pembangunan
SDM
Tinggi
Rendah
Unggul
Lemah
dadang-solihin.blogspot.com 45
Kwadran I Kapal Nusantara Berlayar
• Dalam skenario “Kapal Nusantara Berlayar”, Indonesia berlayar kokoh menuju Indonesia Emas 2045
dengan arah yang jelas dan didukung SDM unggul yang berakar kuat pada nilai sosial budaya bangsa.
• Pancasila sebagai ideologi terbuka menjadi kompas yang menuntun arah pembangunan, diperkuat oleh
stabilitas politik dan reformasi birokrasi yang membuka ruang pembentukan karakter Aparatur Sipil Negara.
• SDM Indonesia bukan hanya terampil, tetapi juga berkarakter gotong royong, toleran, jujur, dan pekerja
keras.
• Potensi ekonomi kreatif, pariwisata budaya, serta keanekaragaman budaya antarpulau menjadi kekuatan
ekonomi berkelanjutan.
• Teknologi digital dimanfaatkan untuk menyebarluaskan nilai luhur, sementara bonus demografi dan letak
geografis strategis menjadi peluang emas mencetak generasi muda berkarakter dan inovatif.
• Dengan dukungan seluruh stakeholders bangsa dan peran aktif TNI/Polri dalam bela negara berbasis nilai,
serta pengelolaan SDA melalui ekologi budaya, Indonesia tampil sebagai bangsa yang tangguh, adaptif, dan
berdaulat—sebuah kapal layar besar yang melaju mantap di samudra transformasi sosial.
dadang-solihin.blogspot.com 46
Kwadran II Robot Canggih Tanpa Jiwa
• Dalam skenario “Robot Canggih Tanpa Jiwa”, Indonesia berhasil mencetak SDM unggul secara teknis dan
intelektual, namun kehilangan ruh kebangsaan dan akar budaya.
• Pancasila sebagai ideologi terbuka belum sepenuhnya terinternalisasi dalam karakter generasi muda.
• Meskipun stabilitas politik dan potensi ekonomi kreatif berkembang, nilai gotong royong, toleransi, dan
kearifan lokal mulai terkikis oleh arus globalisasi budaya, media sosial, serta liberalisasi ekonomi yang tak
berbasis nilai.
• SDM yang terlatih tapi hampa karakter menjadi rentan terhadap polarisasi, radikalisme, dan perang
kognitif, layaknya robot yang efisien tapi tanpa empati, mudah dikendalikan kepentingan luar.
• Ketahanan budaya melemah, terlebih di wilayah perbatasan dan komunitas adat yang rentan terpinggirkan.
• Jika bonus demografi tidak diarahkan dengan pendidikan karakter yang kuat, peluang bisa berubah menjadi
bencana.
• Indonesia tampak maju dari luar, tetapi rapuh di dalam—sebuah bangsa canggih, namun kehilangan
jiwanya.
dadang-solihin.blogspot.com 47
Kwadran III Wayang Tanpa Dalang
• Skenario “Wayang Tanpa Dalang” menggambarkan Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan nilai luhur
dan warisan budaya, namun belum mampu melahirkan SDM yang cukup unggul untuk menghidupkan nilai-
nilai tersebut menjadi kekuatan transformasi sosial.
• Internalisasi Pancasila belum terimplementasi kuat dalam pendidikan dan birokrasi, sementara politik
transaksional serta ketimpangan akses ekonomi dan pendidikan memperlebar jurang kualitas antarwilayah.
• Kekuatan budaya ibarat wayang sakral, namun tanpa dalang bijak yang mampu menggerakkannya.
• Meski demikian, peluang besar terbuka: revitalisasi Pancasila, reformasi birokrasi, potensi ekonomi
berbasis budaya, dan kehadiran teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk mempercepat internalisasi nilai
dan pembangunan karakter.
• Peran strategis seluruh stakeholders bangsa termasuk TNI/Polri dan generasi digital natives juga menjadi
modal untuk menyemai semangat kebangsaan secara lebih luas.
• Dengan memanfaatkan peluang tersebut, Indonesia dapat mencetak dalang-dalang masa depan yang
mampu menghidupkan kembali nilai luhur menjadi kekuatan SDM unggul dan berkarakter.
dadang-solihin.blogspot.com 48
Kwadran IV Kapal Bocor di Samudra Badai
• Dalam skenario “Kapal Bocor di Samudra Badai”, Indonesia menghadapi badai globalisasi dengan fondasi
kebangsaan yang rapuh dan awak kapal—yakni SDM—yang belum siap secara karakter maupun
kompetensi.
• Minimnya internalisasi Pancasila, lemahnya pendidikan karakter, serta praktik politik yang transaksional
membuat bangsa ini kehilangan arah nilai.
• Ketimpangan pendidikan dan ekonomi memperdalam jurang ketidaksetaraan, sementara westernisasi,
radikalisme, dan konflik identitas merusak kohesi sosial.
• Di tengah tantangan liberalisasi ekonomi, media sosial tak terkendali menjadi pintu masuk krisis identitas
generasi muda.
• Eksploitasi SDA yang tidak memperhatikan kearifan lokal semakin melemahkan keadilan sosial.
• Ancaman hibrida dan disintegrasi wilayah perbatasan kian nyata, sementara bonus demografi menjadi
beban jika tidak segera ditangani.
• Seperti kapal bocor di tengah samudra badai, Indonesia dalam skenario ini berada dalam risiko stagnasi
dan disorientasi nasional.
• Tanpa pembenahan sistemik, kapal ini bisa karam sebelum mencapai Indonesia Emas 2045.
1. Fahmi, Rizal et al., 2022. Integrasi Nilai-Nilai Budaya dan Karakter Bangsa dalam Kurikulum
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
2. Jenny M.T Hartanto, Njaju et. al., 2022. Materi Pokok Bidang Studi Sosial Budaya, Lemhannas RI.
3. Koentjaraningrat, 2009. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan.
4. Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025-2029.
5. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
6. UU RI No. 59 Tahun 2024 tentang RPJPN 2025-2045.
7. United Nations, 2015. Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development.
dadang-solihin.blogspot.com 49
Daftar Pustaka
1. https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-001-january-
2025/278738763
2. https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-002-february-2025-
501e/278738655
3. https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-003-march-2025-
746d/278738490
4. https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-004-april-2025-
e2bf/278738326
5. https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-special-edition-taskap-
001-2025-3dda/278738176
6. https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-005-may-2025-
09c6/278737908
dadang-solihin.blogspot.com 50
Bahan Bacaan
Terima Kasih
51
Di Antara Dua Benua
Yang Menghubungkan Dua Samudera
Aku Berpijak, Aku Menatap
Keagungan Karya Ciptaan-Nya
Dan di Sana Aku Dilahirkan
Mengarungi Jalan Kehidupan
Aku Berdo'a, Aku Bekerja
Mengisi Kemerdekaan Bangsa
Tenteram Kurasa di Pangkuanmu
O Ibu Pertiwi Trimalah Karya Baktiku
Kan Kupertahankan,
Wilayah Negeriku
Bumi Nusantara,
Indonesia Raya

Integrasi Nilai Sosial Budaya dalam Pembangunan SDM Unggul untuk Mendukung Transformasi Sosial menuju Indonesia Emas 2045

  • 1.
    Dr. H. DadangSolihin, SE, MA -Tenaga Ahli Profesional Bid. Sosbud Lemhannas RI Integrasi Nilai Sosial Budaya dalam Pembangunan SDM Unggul untuk Mendukung Transformasi Sosial menuju Indonesia Emas 2045 Ceramah P4N LXVIII TA. 2025 Lemhannas RI Jakarta, 19 Mei 2025
  • 2.
  • 3.
    dadang-solihin.blogspot.com 3 Sejak awalJanuari 2022 Dadang Solihin memperkuat Lemhannas RI sebagai Tenaga Ahli Profesional (Taprof). Wredatama ini menempuh pendidikan S1 dan S2 pada Program Studi Ekonomi Pembangunan. Gelar SE ia peroleh dari Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan Bandung (1986), dan gelar MA ia peroleh dari University of Colorado at Denver, USA (1996). Adapun gelar Doktor Ilmu Pemerintahan ia peroleh dari FISIP Universitas Padjadjaran Bandung (2011). Di dunia kampus, saat ini ia menjabat sebagai Ketua Senat Akademik Institut STIAMI. Kariernya sebagai PNS ia tekuni lebih dari 33 tahun. Dimulai dari Bappenas sejak awal 1988, di mana ia pernah menjadi Direktur selama 7 tahun lebih. Atas pengabdiannya ini, negara menganugerahi Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya melalui 3 Presiden RI, yaitu dari Presiden Gusdur (2020), Presiden SBY (2009) dan Presiden Jokowi (2019). Ia pernah menjadi Rektor PTS Universitas Darma Persada (Unsada) Jakarta Masa Bakti 2015-2018, dan sempat mendirikan Batalyon Bushido Resimen Mahasiswa Jayakarta. Pangkat Akademiknya adalah Associate Professor/Lektor Kepala TMT 1 Oktober 2004. Dr. H. Dadang Solihin, SE, MA Ia juga pernah menjadi Ketua Dewan Riset Daerah Provinsi DKI Jakarta Masa Bakti 2018-2022. Jabatan terakhirnya sebagai PNS adalah Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Budaya dan Pariwisata sampai memasuki usia pensiun sebagai PNS golongan IV.e TMT 1 Desember 2021. Senior citizen yang setiap hari menikmati perjalanan Bike to Work ini adalah Peserta Terbaik Diklat Kepemimpinan Tingkat II Angkatan XXIX tahun 2010 yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI Jakarta dan Peserta Terbaik Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) XLIX tahun 2013 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI. Ia dinyatakan Lulus Dengan Pujian serta dianugerahi Penghargaan Wibawa Seroja Nugraha. Pada tahun 2019 Dadang Solihin mengikuti Pelatihan Jabatan Fungsional Perencana Tingkat Utama yang diadakan oleh Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Perencana (Pusbindiklatren) Kementerian PPN/Bappenas RI bekerjasama dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM-FEB UI). Ia dinyatakan lulus dengan memperoleh Nilai Terbaik dan Policy Papernya dijadikan standar nasional dalam Penilaian Kinerja Jabatan Fungsional Perencana yang diatur dalam Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor 1 Tahun 2022.
  • 4.
    dadang-solihin.blogspot.com 4 1. Pendahuluan 2.Konsep Nilai Sosial Budaya 3. Pembangunan SDM Unggul 4. Transformasi Sosial menuju Indonesia Emas 2045 5. Integrasi Nilai Sosial Budaya dalam Strategi Pembangunan SDM 6. Peran Peserta P4N dalam Mewujudkan SDM Unggul 7. Perumusan SWOT dan Scenario Planning Daftar Pustaka Outline
  • 5.
  • 6.
    dadang-solihin.blogspot.com 6 Bila integrasinilai sosial budaya dalam pembangunan SDM unggul gagal mendukung transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2045, maka: • Indonesia menghadapi badai globalisasi dengan fondasi kebangsaan yang rapuh dan SDM yang belum siap secara karakter maupun kompetensi. • Minimnya internalisasi Pancasila, lemahnya pendidikan karakter, serta praktik politik yang transaksional membuat bangsa ini kehilangan arah nilai. • Ketimpangan pendidikan dan ekonomi memperdalam jurang ketidaksetaraan, sementara westernisasi, radikalisme, dan konflik identitas merusak kohesi sosial. • Di tengah tantangan liberalisasi ekonomi, media sosial tak terkendali menjadi pintu masuk krisis identitas generasi muda. • Eksploitasi SDA yang tidak memperhatikan kearifan lokal semakin melemahkan keadilan sosial. • Ancaman hibrida dan disintegrasi wilayah perbatasan kian nyata, sementara bonus demografi menjadi beban jika tidak segera ditangani. • Seperti kapal bocor di tengah samudra badai, Indonesia berada dalam risiko stagnasi dan disorientasi nasional. • Tanpa pembenahan sistemik, kapal ini bisa karam sebelum mencapai Indonesia Emas 2045.
  • 7.
    • Pembangunan SDMunggul tidak cukup hanya dengan pendekatan teknokratik, tetapi harus menyentuh aspek nilai dan budaya. • Lemhannas RI memegang tanggung jawab strategis sebagai institusi yang menjembatani antara pemikiran strategis dan pembentukan kepemimpinan nasional yang berkarakter. dadang-solihin.blogspot.com 7
  • 8.
    • Lemhannas RIberperan strategis dalam mengembangkan kebijakan pembangunan SDM berbasis nilai sosial budaya. • Program-program Lemhannas RI fokus pada pembentukan karakter, penanaman nilai luhur bangsa (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika). • Transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2045 butuh perubahan paradigma dalam pembangunan SDM. • Lemhannas RI mencetak pemimpin dan agen perubahan yang berkomitmen pada kepentingan bangsa. dadang-solihin.blogspot.com 8 Peran Lemhannas RI • Nilai sosial budaya (gotong royong, toleransi, kerjasama, kejujuran) memperkuat kohesi sosial. • Gotong royong penting untuk mencapai tujuan bersama, memperkuat kebersamaan. • Toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman menciptakan masyarakat inklusif. • Kejujuran dan integritas penting untuk membangun kepercayaan. • Lemhannas RI berperan dalam menanamkan nilai-nilai ini melalui pendidikan dan pelatihan. Nilai Sosial Budaya • Mencapai Indonesia Emas 2045 memerlukan transformasi sosial yang mendalam. • Transformasi mencakup perubahan ekonomi, teknologi, sosial, budaya, dan nilai bangsa. • Pembangunan SDM unggul adalah pilar utama transformasi sosial. • SDM unggul harus kompeten, berkarakter kuat, berintegritas, dan memiliki kesadaran sosial tinggi. • Pembangunan SDM harus integrasikan aspek budaya agar berakar pada identitas nasional. • Lemhannas RI berperan penting dalam mencetak pemimpin masa depan. Transformasi Sosial
  • 9.
  • 10.
    • Nilai-nilai sosialbudaya yang relevan untuk mendukung pembangunan SDM, yaitu: • Gotong royong, sebagai semangat kolektif membangun bangsa; • Kerja keras, sebagai etos untuk maju; serta • Toleransi dan penghormatan keberagaman, sebagai pilar kohesi sosial; • Nilai-nilai ini harus diinternalisasi melalui pendidikan dan kehidupan sosial, agar tumbuh menjadi kebiasaan dan identitas nasional. dadang-solihin.blogspot.com 10
  • 11.
    • Nilai sosialbudaya adalah prinsip, norma, dan keyakinan yang diwariskan antar generasi. • Nilai-nilai ini mempengaruhi cara individu berinteraksi dan bertindak. • Di Indonesia, nilai sosial budaya penting untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan sosial. • Nilai-nilai seperti gotong royong, kerja keras, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman memperkuat kohesi sosial. dadang-solihin.blogspot.com 11 Konsep Nilai Sosial Budaya Nilai Gotong Royong dan Kerja Keras Nilai Gotong Royong • Gotong royong adalah semangat saling membantu dan bekerja sama. • Mencerminkan budaya dan cara hidup masyarakat. • Mengajarkan kolaborasi, kekompakan, dan tanggung jawab sosial. • Relevan dalam pembangunan untuk mencapai tujuan bersama. Nilai Kerja Keras • Kerja keras adalah usaha, ketekunan, dan komitmen dalam meraih tujuan. • Bagian dari etos hidup untuk meraih kesuksesan. • Menciptakan individu yang tangguh dan berdedikasi. Nilai Toleransi dan Penghormatan terhadap Keberagaman Nilai Toleransi • Toleransi beragam suku, agama, ras, dan budaya. • Menciptakan kehidupan harmonis dan damai. • Pendidikan berbasis toleransi penting untuk menjaga kerukunan sosial. • Relevan dalam hubungan internasional. Nilai Penghormatan terhadap Keberagaman • Menghargai perbedaan memperkuat kohesi sosial dan adaptasi global. • Mempromosikan keberagaman memperkuat citra Indonesia dan menciptakan ruang bagi setiap kelompok untuk berkontribusi. Nilai Sosial Budaya dalam Praktik Sehari- hari • Nilai sosial budaya harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (keluarga, sekolah, masyarakat, negara). • Contoh: Gotong royong di keluarga, toleransi di sekolah, kegiatan sosial di masyarakat. • Memastikan nilai luhur bangsa tetap hidup dan berkembang.
  • 12.
  • 13.
    • SDM unggulharus memiliki kompetensi, karakter, dan integritas. • Pendidikan dan pelatihan menjadi alat utama, didukung teknologi digital dan penguatan karakter. • SDM unggul tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga ketahanan nasional. • Masyarakat yang memiliki daya tahan terhadap pengaruh negatif global akan memperkuat fondasi bangsa dalam jangka panjang. dadang-solihin.blogspot.com 13
  • 14.
    • Pembangunan SDMunggul adalah pilar utama pembangunan bangsa. • Mencakup pengembangan karakter, integritas, dan kemampuan adaptasi. • Menciptakan masyarakat yang cerdas secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. • SDM unggul mendukung pembangunan berkelanjutan dan ketahanan nasional. dadang-solihin.blogspot.com 14 Konsep SDM Unggul Karakteristik SDM Unggul • Keterampilan teknis, • Karakter yang kuat, • Kemampuan adaptasi, • Kecerdasan emosional dan sosial, • Spiritualitas.
  • 15.
    Sumber: Dadang Solihin,Komite Ekonomi dan Industri Nasional-RI, 28 Februari 2019 https://www.slideshare.net/slideshow/revitalisasi-perguruan-tinggi-menghadapi-tantangan-pekerjaan-era-industri-40/133660756 dadang-solihin.blogspot.com 15 (Silahkan klik slide ini)
  • 16.
    dadang-solihin.blogspot.com 16 Rate ofAutomation Tingkat Otomasi terhadap Pekerja Manusia Semakin Meninggi • Pada tahun 2020, terdapat 67% pekerjaan yang dikerjakan oleh manusia. Sisanya, sebesar 33% dilakukan oleh mesin. • Namun, pada tahun 2025, jumlah pekerjaan yang ditangani manusia hanya 53% saja. Sisanya, sebesar 47% ditangani oleh mesin. • Artinya terdapat peningkatan sejumlah 14% pekerjaan manusia yang digantikan oleh mesin pada tahun 2025
  • 17.
    dadang-solihin.blogspot.com 17 Top 10Skills Kompetensi Lulusan Diharapkan sesuai dengan Top 10 Skills di Lapangan Kerja 2015 1. Complex problem solving 2. Coordinating with others 3. People management 4. Critical thinking 5. Negotiation 6. Quality control 7. Service orientation 8. Judgement and decision making 9. Active listening 10. Creativity 2020 1. Complex problem solving 2. Critical thinking 3. Creativity 4. People management 5. Coordinating with others 6. Emotional intelligence 7. Judgement and decision making 8. Service orientation 9. Negotiation 10. Cognitive flexibility 2025 1. Analytical thinking and innovation 2. Active learning and learning strategies 3. Complex problem-solving 4. Critical thinking and analysis 5. Creativity, originality and initiative 6. Leadership and social influence 7. Technology use, monitoring and control 8. Technology design and programming 9. Resilience, stress tolerance and flexibility 10. Reasoning, problem-solving and ideation Source: Future of Jobs Report 2020, World Economic Forum
  • 18.
    dadang-solihin.blogspot.com 18 Top 10Skills 2025 1. Analytical Thinking and Innovation (Berpikir Analitis dan Inovasi). • Mampu menganalisis berbagai informasi secara kritis dan mendalam untuk menemukan solusi kreatif dan inovatif. • Memahami pola, data, dan tren untuk menghasilkan ide-ide baru yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas di tempat kerja. 2. Active Learning and Learning Strategies (Pembelajaran Aktif dan Strategi Pembelajaran). • Memiliki kemampuan untuk terus belajar secara aktif dan mengembangkan strategi pembelajaran yang efektif. • Memiliki kemampuan untuk mengadaptasi dan menerapkan pengetahuan baru dengan cepat di lingkungan yang berubah-ubah. 3. Complex Problem-Solving (Pemecahan Masalah yang Kompleks). • Mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah yang kompleks dan multifaset. • Menggunakan pendekatan yang sistematis dan kreatif untuk menemukan solusi yang efektif dalam situasi yang menantang. 4. Critical Thinking and Analysis (Berpikir Kritis dan Analisis). • Mampu berpikir kritis, mengevaluasi argumen, dan menganalisis informasi secara objektif. • Mampu membuat keputusan yang tepat dan memberikan solusi yang berbasis bukti dalam situasi kerja. 5. Creativity, Originality, and Initiative (Kreativitas, Orisinalitas, dan Inisiatif). • Memiliki kreativitas dan orisinalitas dalam mengembangkan ide-ide baru • Proaktif dan memiliki inisiatif untuk membawa perubahan positif di lingkungan kerja. 6. Leadership and Social Influence (Kepemimpinan dan Pengaruh Sosial). • Memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik serta mampu mempengaruhi dan memotivasi orang lain. • Bisa bekerja dengan tim, membimbing, dan mengambil keputusan yang berdampak positif. 7. Technology Use, Monitoring, and Control (Penggunaan Teknologi, Pemantauan, dan Pengendalian). • Terampil dalam menggunakan teknologi secara efisien dan efektif. • Memahami cara memantau dan mengendalikan teknologi untuk memastikan operasional yang lancar dan efisien. 8. Technology Design and Programming (Desain Teknologi dan Pemrograman). • Mampu merancang, mengembangkan, dan memprogram teknologi baru yang relevan dengan kebutuhan industri. • Mampu bekerja dengan perangkat lunak, perangkat keras, dan sistem teknologi informasi. 9. Resilience, Stress Tolerance, and Flexibility (Ketahanan, Toleransi terhadap Stres, dan Fleksibilitas). • Memiliki ketahanan mental yang kuat, kemampuan untuk mengelola stres, serta fleksibilitas dalam menghadapi perubahan. • Mampu beradaptasi dengan cepat dalam situasi yang tidak terduga dan tetap produktif. 10.Reasoning, Problem-Solving, and Ideation (Penalaran, Pemecahan Masalah, dan Ideasi). • Memiliki kemampuan penalaran yang baik untuk memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan ide-ide baru. • Mampu mengembangkan solusi inovatif dan meningkatkan proses kerja.
  • 19.
    • Pendidikan berkualitas menciptakanindividu yang kompeten dan siap menghadapi tantangan global. • Pendidikan menanamkan nilai sosial budaya (gotong royong, toleransi, keberagaman). • Pendidikan harus menciptakan individu yang berpikir kritis, inovatif, dan bertanggung jawab. • Pelatihan mengembangkan keterampilan teknis dan non- teknis (kepemimpinan, manajerial, interpersonal). • Pelatihan berbasis pengembangan karakter dan kecerdasan emosional penting. dadang-solihin.blogspot.com 19 Diklat sebagai Landasan Pembangunan SDM Unggul Peran Teknologi dalam Pengembangan SDM Unggul • Teknologi berperan besar dalam pengembangan SDM unggul di era digital. • SDM unggul harus mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas. • Teknologi dalam diklat mempermudah akses pengetahuan dan keterampilan (e-learning). • Teknologi meningkatkan kualitas pelatihan (simulasi virtual, pembelajaran berbasis game). • Pengembangan SDM unggul harus mencakup pembelajaran berkelanjutan. Membangun Karakter dan Integritas dalam Pembangunan SDM • Penguatan karakter dan integritas adalah aspek penting dalam pembangunan SDM unggul. • Karakter yang kuat dan integritas yang tinggi menciptakan individu yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab. • Pembangunan karakter dimulai sejak dini (keluarga, sekolah, masyarakat). • Pendidikan harus mengintegrasikan nilai moral dan etika. • Integritas (kejujuran, ketulusan, konsistensi) penting untuk menciptakan SDM yang beretika. Ketahanan Nasional dan SDM Unggul • Pembangunan SDM unggul berkaitan erat dengan ketahanan nasional. • Ketahanan nasional mencakup ketahanan sosial, ekonomi, dan budaya. • SDM unggul memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi ancaman dan tantangan. • SDM unggul membangun ekonomi yang tangguh dan memajukan berbagai sektor.
  • 20.
  • 21.
    • Pilar-pilar transformasisosial yang mencakup pemberdayaan masyarakat, inklusivitas, pemerataan pembangunan, dan keadilan sosial. • Transformasi sosial harus bersandar pada nilai Pancasila, agar arah perubahan tetap dalam bingkai kebangsaan. • Peran negara dalam merespons tantangan sosial, seperti kesenjangan dan intoleransi, sangat menentukan keberhasilan transformasi ini. dadang-solihin.blogspot.com 21
  • 22.
    • Transformasi sosialadalah perubahan mendasar dalam struktur, nilai, dan praktik sosial. • Dipicu oleh perkembangan teknologi, globalisasi, dan perubahan politik. • Indonesia memerlukan transformasi sosial untuk mencapai Indonesia Emas 2045. dadang-solihin.blogspot.com 22 Transformasi Sosial menuju Indonesia Emas 2045 Tantangan Sosial yang Dihadapi Indonesia • Kemiskinan yang meluas, ketimpangan sosial, degradasi moral dan nilai budaya. • Transformasi sosial diperlukan untuk menjawab tantangan- tantangan tersebut. • Transformasi sosial harus berlandaskan pada Pancasila. Pilar-pilar Transformasi Sosial menuju Indonesia Emas 2045 • Pembangunan manusia dan penguasaan IPTEK. • Pembangunan ekonomi berkelanjutan. • Pemerataan pembangunan. • Ketahanan nasional. Peran Pancasila dalam Transformasi Sosial • Pancasila adalah dasar negara dan sumber nilai- nilai bangsa. • Pancasila harus menjadi pegangan dalam membangun bangsa yang berkeadilan, bersatu, dan berbudaya. • Pancasila mengajarkan gotong royong, musyawarah, dan penghargaan terhadap perbedaan.
  • 23.
    dadang-solihin.blogspot.com 23 Integrasi NilaiSosial Budaya dalam Strategi Pembangunan SDM 5
  • 24.
    • Strategi konkretintegrasi nilai budaya dalam pembangunan SDM, antara lain: • Pendidikan berbasis budaya yang memasukkan kearifan lokal ke dalam kurikulum; • Pelatihan kepemimpinan yang mengedepankan nilai sosial budaya; • Revitalisasi seni dan tradisi lokal; serta • Kebijakan inklusif yang menjamin akses setara bagi semua kelompok masyarakat. dadang-solihin.blogspot.com 24
  • 25.
    • Pendidikan BerbasisBudaya • Pelatihan Kepemimpinan Berbasis Nilai • Revitalisasi Kearifan Lokal • Perumusan Kebijakan Inklusif • Kurikulum menanamkan kearifan lokal dan budaya nasional • Mengajarkan gotong royong, toleransi, dan solidaritas • Membentuk generasi cerdas intelektual & matang sosial • Contoh: pelajaran budaya lokal, praktik nilai dalam kegiatan sekolah dadang-solihin.blogspot.com 25 Pilar Strategi Integrasi Nilai Sosial Budaya Pelatihan Kepemimpinan Berbasis Nilai • Kepemimpinan butuh etika, integritas, dan pemahaman budaya • Pelatihan menekankan kejujuran, keadilan, tanggung jawab • Pemimpin peka terhadap keberagaman dan harmoni sosial • Mendorong kepemimpinan yang menjembatani perbedaan Revitalisasi Kearifan Lokal • Melestarikan seni tradisional, adat istiadat, dan sistem sosial • Membangun identitas budaya di tengah arus globalisasi • Praktik budaya seperti gotong royong dijadikan dasar pembentukan karakter • Seni dan tradisi = warisan yang membentuk bangga budaya Perumusan Kebijakan Inklusif • Akses setara untuk semua kelompok: pendidikan, pelatihan, pekerjaan • Tidak ada masyarakat yang tertinggal • Mengakomodasi keberagaman dalam desain kebijakan • Menjamin keadilan dan kebersamaan dalam pembangunan • Integrasi nilai sosial budaya = strategi membangun karakter bangsa • SDM unggul: kompeten secara teknis, kuat secara moral
  • 26.
    dadang-solihin.blogspot.com 26 Peran PesertaP4N dalam Mewujudkan SDM Unggul 6
  • 27.
    • Peserta P4Nharus menjadi agen perubahan, teladan, dan inisiator program yang memperkuat identitas nasional. • Peserta P4N diharapkan dapat berkontribusi membangun karakter generasi muda dan menjaga kesinambungan nilai kebangsaan di tengah modernisasi dan globalisasi. • Pendidikan dan pelatihan berbasis nilai sosial budaya adalah kunci mewujudkan SDM unggul. Kebijakan publik harus mendorong integrasi nilai dalam setiap aspek pembangunan. • Visi Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai bila pembangunan manusia tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga bijaksana, toleran, dan berkarakter kuat. dadang-solihin.blogspot.com 27
  • 28.
    • SDM unggul= kunci Indonesia Emas 2045 • P4N membentuk pemimpin berintegritas, berkarakter, dan berbasis nilai budaya • Peserta P4N: pemimpin + agen perubahan sosial • Fokus: Integrasi nilai Pancasila dalam kepemimpinan dan kebijakan publik • Memimpin transformasi sosial berbasis nilai budaya • Identifikasi & solusi terhadap masalah sosial budaya • Dorong perubahan perilaku masyarakat: inklusif, adil, gotong royong dadang-solihin.blogspot.com 28 Peran Sebagai Agen Perubahan Menjadi Teladan Nilai Sosial Budaya • Menerapkan nilai Pancasila dalam kepemimpinan sehari-hari • Praktik gotong royong, keadilan, dan toleransi • Mendorong kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan SDM • Pemimpin sebagai panutan etika dan moral publik Inisiasi Program Penguatan Identitas Nasional • Ciptakan program berbasis budaya lokal: seni, bahasa daerah, sejarah • Revitalisasi nilai kebangsaan dalam kurikulum pendidikan • Dorong ekonomi kreatif berbasis budaya • Tingkatkan kebanggaan dan jati diri bangsa di era globalisasi Membangun Karakter Generasi Muda • Kembangkan program pendidikan karakter: jujur, tanggung jawab, cinta tanah air • Bentuk generasi muda berakhlak, tangguh, dan berwawasan kebangsaan • Kolaborasi dengan sekolah, perguruan tinggi, dan media • Peserta P4N = pemimpin + role model sosial • Wujudkan SDM unggul yang berkarakter dan berbudaya • Membangun Indonesia yang sejahtera, adil, dan berkelanjutan
  • 29.
    dadang-solihin.blogspot.com 29 dadang-solihin.blogspot.com 29 AnalisisSWOT Integrasi Nilai Sosial Budaya dalam Pembangunan SDM Unggul untuk Mendukung Transformasi Sosial menuju Indonesia Emas 2045 7
  • 30.
    • Transformasi sosialmenuju Indonesia Emas 2045 menuntut pembangunan SDM unggul yang tidak hanya berdaya saing global, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai sosial budaya bangsa. • Melalui pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), strategi pembangunan SDM disusun untuk mengintegrasikan nilai budaya dalam seluruh dimensi kehidupan kebangsaan. • Melalui pemetaan SWOT dan strategi nasional yang komprehensif, integrasi nilai sosial budaya dalam pembangunan SDM unggul dapat menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. • Strategi ini tidak hanya menjawab tantangan global, tetapi juga memastikan keberlanjutan karakter kebangsaan yang berakar pada nilai luhur Indonesia. dadang-solihin.blogspot.com 30
  • 31.
    Strengths (Kekuatan) No VariabelNU BF NUxBF 1 Pancasila sebagai ideologi terbuka dan inklusif yang mendukung integrasi nilai sosial budaya secara lintas sektoral. 8 20 160 2 Stabilitas politik relatif kondusif untuk mendukung kebijakan berbasis nilai budaya dan penguatan karakter bangsa. 7 17 119 3 Potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal (kuliner, kerajinan, seni) mendukung pemberdayaan SDM lokal. 4 12 48 4 Kekayaan budaya gotong royong, toleransi, kerja keras, dan kearifan lokal menjadi fondasi moral SDM unggul. 2 10 20 5 Sistem pertahanan semesta (Total Defense) mengakui pentingnya ketahanan budaya dan nilai lokal sebagai bagian dari ketahanan nasional. 6 14 84 6 Letak geografis strategis memungkinkan pertukaran nilai budaya secara luas di antara pulau dan negara tetangga. 1 5 5 7 Bonus demografi membuka peluang besar membentuk generasi muda unggul berbasis nilai-nilai kebangsaan. 3 10 30 8 SDA yang beragam dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendekatan nilai budaya lokal (ekologi budaya). 5 12 60 Jumlah 100 526 dadang-solihin.blogspot.com 31 dadang-solihin.blogspot.com 31 Dengan memanfaatkan kekuatan yang dipengaruhi oleh dinamika lingkungan internal ini, Indonesia dapat mengoptimalkan integrasi nilai sosial budaya dalam pembangunan SDM unggul untuk mendukung transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2045.
  • 32.
    Weaknesses (Kelemahan) dadang-solihin.blogspot.com 32 dadang-solihin.blogspot.com32 No Variabel NU BF NUxBF 1 Minimnya internalisasi Pancasila secara aplikatif dalam kehidupan generasi muda dan birokrasi. 7 17 119 2 Praktik politik transaksional dan elitisme dapat menghambat penanaman nilai luhur dalam kebijakan publik. 6 15 90 3 Ketimpangan distribusi ekonomi menghambat akses masyarakat adat terhadap pembangunan SDM. 4 13 52 4 Westernisasi dan penetrasi budaya asing melemahkan nilai sosial budaya lokal di kalangan generasi muda. 5 14 70 5 Kurangnya integrasi nilai-nilai budaya dalam doktrin dan pelatihan pertahanan nasional. 2 6 12 6 Letak geografis yang tersebar menyulitkan pemerataan program pembangunan nilai budaya. 1 5 5 7 Kualitas pendidikan tidak merata menyebabkan ketimpangan pembentukan karakter antarwilayah. 8 20 160 8 Eksploitasi SDA tanpa mempertimbangkan nilai kearifan lokal merusak lingkungan dan merugikan masyarakat adat. 3 10 30 Jumlah 100 538 Dengan memahami kelemahan yang dipengaruhi oleh dinamika lingkungan internal ini, Indonesia dapat merumuskan strategi integrasi nilai sosial budaya dalam pembangunan SDM unggul untuk mendukung transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2045.
  • 33.
    Opportunities (Peluang) dadang-solihin.blogspot.com 33 dadang-solihin.blogspot.com33 No Variabel NU BF NUxBF 1 Revitalisasi Pancasila sebagai identitas nasional dalam kurikulum dan pelatihan kepemimpinan nasional. 5 13 65 2 Reformasi birokrasi membuka ruang pembentukan SDM aparatur sipil yang berkarakter dan berbudaya. 6 15 90 3 Potensi ekonomi berbasis budaya (pariwisata budaya, ekonomi kreatif) sebagai motor pembangunan berkelanjutan. 7 17 119 4 Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk kampanye dan pendidikan nilai sosial budaya yang luas dan cepat. 4 11 44 5 Peran TNI/Polri dalam pembinaan teritorial dan bela negara dapat diperluas untuk menyemai nilai kebangsaan. 1 5 5 6 Keanekaragaman budaya antarwilayah dapat menjadi modal promosi budaya nasional di tingkat global. 2 8 16 7 Generasi muda sebagai digital natives berpotensi menjadi agen perubahan dan inovator budaya. 8 20 160 8 Nilai-nilai sosial budaya dapat menjadi dasar pengelolaan SDA yang berkelanjutan dan berkeadilan. 3 11 33 Jumlah 100 532 Dengan memanfaatkan peluang yang dipengaruhi oleh dinamika lingkungan eksternal ini, Indonesia dapat mengoptimalkan integrasi nilai sosial budaya dalam pembangunan SDM unggul untuk mendukung transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2045.
  • 34.
    Threats (Ancaman) dadang-solihin.blogspot.com 34 dadang-solihin.blogspot.com34 No Variabel NU BF NUxBF 1 Radikalisme dan intoleransi dapat mengikis semangat persatuan dan nilai-nilai sosial budaya. 8 22 176 2 Polarisasi politik dan konflik identitas dapat merusak kohesi sosial dan pengembangan SDM unggul. 4 12 48 3 Liberalisasi ekonomi berisiko mengabaikan nilai-nilai budaya lokal dalam kebijakan investasi dan pembangunan. 1 6 6 4 Media sosial dan globalisasi budaya asing dapat memicu krisis identitas nasional pada generasi muda. 7 17 119 5 Ancaman hibrida (hoaks, perang kognitif) melemahkan ketahanan budaya dan kesadaran bela negara. 6 15 90 6 Wilayah terpencil dan perbatasan rawan disintegrasi sosial budaya jika tidak diberi perhatian khusus. 2 7 14 7 Bonus demografi menjadi bencana jika tidak dikelola dengan pendidikan karakter yang kuat. 5 11 55 8 Konflik lahan dan eksploitasi SDA dapat memicu ketidakadilan sosial dan melemahkan harmoni budaya lokal. 3 10 30 Jumlah 100 536 Dengan mempertimbangkan ancaman yang dipengaruhi oleh dinamika lingkungan eksternal ini, Indonesia dapat merumuskan strategi integrasi nilai sosial budaya dalam pembangunan SDM unggul untuk mendukung transformasi sosial menuju Indonesia Emas 2045.
  • 35.
    Perumusan Strategi dadang-solihin.blogspot.com 35 dadang-solihin.blogspot.com35 Threats (Ancaman) (536) Threats (Ancaman) (536) Weaknesses (Kelemahan) (538) Weaknesses (Kelemahan) (538) Strengths (Kekuatan) (526) Strengths (Kekuatan) (526) Strategi ST (1062) Kwadran II Strategi WT (1074) Kwadran IV Strategi WO (1070) Kwadran III Strategi SO (1058) Kwadran I Opportunities (Peluang) (532) Opportunities (Peluang) (532) INTERNAL EKSTERNAL Strategi WT
  • 36.
    No. Analisis SWOT:Variabel S-O, Kwadran I Strategi Terpilih 1. Pancasila sebagai ideologi terbuka dan inklusif yang mendukung integrasi nilai sosial budaya secara lintas sektoral. Membangun kebijakan lintas sektor yang mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam sistem pendidikan, birokrasi, dan kepemimpinan untuk memperkuat karakter dan kohesi sosial bangsa. 2. Stabilitas politik relatif kondusif untuk mendukung kebijakan berbasis nilai budaya dan penguatan karakter bangsa. Mengarahkan stabilitas politik sebagai fondasi implementasi kebijakan penguatan karakter bangsa berbasis nilai budaya lokal di seluruh institusi negara dan daerah. 3. Potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal (kuliner, kerajinan, seni) mendukung pemberdayaan SDM lokal. Mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru dan instrumen pemberdayaan SDM unggul daerah. 4. Kekayaan budaya gotong royong, toleransi, kerja keras, dan kearifan lokal menjadi fondasi moral SDM unggul. Menginternalisasi nilai-nilai sosial budaya dalam kurikulum pendidikan, pelatihan SDM, dan program pembangunan karakter secara nasional dan lokal. 5. Sistem pertahanan semesta (Total Defense) mengakui pentingnya ketahanan budaya dan nilai lokal sebagai bagian dari ketahanan nasional. Mengintegrasikan kearifan lokal dan nilai budaya dalam doktrin bela negara, pendidikan kebangsaan, dan strategi pertahanan rakyat semesta. 6. Letak geografis strategis memungkinkan pertukaran nilai budaya secara luas di antara pulau dan negara tetangga. Memperkuat pertukaran nilai budaya antarwilayah dan dengan dunia internasional melalui diplomasi budaya dan platform digital berbasis lokalitas. 7. Bonus demografi membuka peluang besar membentuk generasi muda unggul berbasis nilai- nilai kebangsaan. Mengarahkan investasi pendidikan karakter dan kepemudaan untuk memanfaatkan bonus demografi dalam mencetak generasi emas berbudaya dan berintegritas. 8. SDA yang beragam dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendekatan nilai budaya lokal (ekologi budaya). Mengembangkan kebijakan pengelolaan SDA yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan nilai budaya lokal guna menjamin keadilan sosial dan kelestarian lingkungan. 9. Revitalisasi Pancasila sebagai identitas nasional dalam kurikulum dan pelatihan kepemimpinan nasional. Mengimplementasikan revitalisasi Pancasila secara menyeluruh dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan kepemimpinan nasional untuk memperkuat jati diri bangsa. 10. Reformasi birokrasi membuka ruang pembentukan SDM aparatur sipil yang berkarakter dan berbudaya. Memanfaatkan momentum reformasi birokrasi untuk menciptakan aparatur sipil negara yang profesional, berkarakter, dan berbudaya sebagai motor transformasi sosial. 11. Potensi ekonomi berbasis budaya (pariwisata budaya, ekonomi kreatif) sebagai motor pembangunan berkelanjutan. Mengembangkan sektor pariwisata budaya dan ekonomi kreatif berbasis nilai lokal sebagai penggerak utama ekonomi berkelanjutan dan inklusif. 12. Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk kampanye dan pendidikan nilai sosial budaya yang luas dan cepat. Mengoptimalkan teknologi digital untuk menyebarluaskan nilai-nilai sosial budaya secara masif melalui konten edukatif dan kampanye budaya yang progresif. 13. Peran TNI/Polri dalam pembinaan teritorial dan bela negara dapat diperluas untuk menyemai nilai kebangsaan. Meningkatkan peran TNI/Polri dalam pembinaan teritorial untuk menyemai semangat kebangsaan dan nilai sosial budaya sebagai bagian dari ketahanan nasional. 14. Keanekaragaman budaya antarwilayah dapat menjadi modal promosi budaya nasional di tingkat global. Menjadikan keanekaragaman budaya antarwilayah sebagai basis promosi identitas nasional melalui diplomasi budaya dan platform global. 15. Generasi muda sebagai digital natives berpotensi menjadi agen perubahan dan inovator budaya. Mengarahkan potensi digital native generasi muda sebagai agen transformasi budaya melalui pendidikan inovatif dan pelibatan dalam ruang-ruang publik digital. 16. Nilai-nilai sosial budaya dapat menjadi dasar pengelolaan SDA yang berkelanjutan dan berkeadilan. Menjadikan nilai sosial budaya sebagai prinsip utama dalam tata kelola SDA berbasis keadilan ekologis dan partisipasi masyarakat lokal.
  • 37.
    No. Analisis SWOT:Variabel S-T, Kwadran II Strategi Terpilih 1. Pancasila sebagai ideologi terbuka dan inklusif yang mendukung integrasi nilai sosial budaya secara lintas sektoral. Membangun kebijakan lintas sektor yang mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam sistem pendidikan, birokrasi, dan kepemimpinan untuk memperkuat karakter dan kohesi sosial bangsa. 2. Stabilitas politik relatif kondusif untuk mendukung kebijakan berbasis nilai budaya dan penguatan karakter bangsa. Mengarahkan stabilitas politik sebagai fondasi implementasi kebijakan penguatan karakter bangsa berbasis nilai budaya lokal di seluruh institusi negara dan daerah. 3. Potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal (kuliner, kerajinan, seni) mendukung pemberdayaan SDM lokal. Mendorong penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru dan instrumen pemberdayaan SDM unggul daerah. 4. Kekayaan budaya gotong royong, toleransi, kerja keras, dan kearifan lokal menjadi fondasi moral SDM unggul. Menginternalisasi nilai-nilai sosial budaya dalam kurikulum pendidikan, pelatihan SDM, dan program pembangunan karakter secara nasional dan lokal. 5. Sistem pertahanan semesta (Total Defense) mengakui pentingnya ketahanan budaya dan nilai lokal sebagai bagian dari ketahanan nasional. Mengintegrasikan kearifan lokal dan nilai budaya dalam doktrin bela negara, pendidikan kebangsaan, dan strategi pertahanan rakyat semesta. 6. Letak geografis strategis memungkinkan pertukaran nilai budaya secara luas di antara pulau dan negara tetangga. Memperkuat pertukaran nilai budaya antarwilayah dan dengan dunia internasional melalui diplomasi budaya dan platform digital berbasis lokalitas. 7. Bonus demografi membuka peluang besar membentuk generasi muda unggul berbasis nilai- nilai kebangsaan. Mengarahkan investasi pendidikan karakter dan kepemudaan untuk memanfaatkan bonus demografi dalam mencetak generasi emas berbudaya dan berintegritas. 8. SDA yang beragam dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendekatan nilai budaya lokal (ekologi budaya). Mengembangkan kebijakan pengelolaan SDA yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan nilai budaya lokal guna menjamin keadilan sosial dan kelestarian lingkungan. 9. Radikalisme dan intoleransi dapat mengikis semangat persatuan dan nilai-nilai sosial budaya. Mengintensifkan pendidikan kebangsaan dan moderasi beragama untuk menangkal radikalisme serta memperkuat nilai-nilai sosial budaya dalam kehidupan masyarakat. 10. Polarisasi politik dan konflik identitas dapat merusak kohesi sosial dan pengembangan SDM unggul. Membangun ekosistem politik inklusif berbasis Pancasila untuk meredam polarisasi dan memperkuat kohesi sosial dalam pengembangan SDM unggul. 11. Liberalisasi ekonomi berisiko mengabaikan nilai-nilai budaya lokal dalam kebijakan investasi dan pembangunan. Mewajibkan prinsip keberpihakan budaya lokal dalam setiap kebijakan investasi dan pembangunan ekonomi agar tidak mengikis identitas budaya bangsa. 12. Media sosial dan globalisasi budaya asing dapat memicu krisis identitas nasional pada generasi muda. Meningkatkan literasi digital dan nasionalisme kultural di kalangan generasi muda untuk mengatasi krisis identitas akibat pengaruh globalisasi dan media sosial. 13. Ancaman hibrida (hoaks, perang kognitif) melemahkan ketahanan budaya dan kesadaran bela negara. Memperkuat ketahanan budaya melalui sistem edukasi pertahanan siber, literasi hoaks, dan bela negara berbasis nilai-nilai kebangsaan. 14. Wilayah terpencil dan perbatasan rawan disintegrasi sosial budaya jika tidak diberi perhatian khusus. Menyusun kebijakan afirmatif untuk wilayah terpencil dan perbatasan guna mencegah disintegrasi sosial budaya dan memperkuat peran strategisnya. 15. Bonus demografi menjadi bencana jika tidak dikelola dengan pendidikan karakter yang kuat. Mengarahkan bonus demografi melalui pendidikan karakter nasionalis agar generasi muda menjadi kekuatan pembangunan, bukan sumber kerentanan sosial. 16. Konflik lahan dan eksploitasi SDA dapat memicu ketidakadilan sosial dan melemahkan harmoni budaya lokal. Mewujudkan tata kelola SDA yang adil, partisipatif, dan berbasis nilai kearifan lokal untuk mencegah konflik sosial serta menjaga harmoni budaya.
  • 38.
    No. Analisis SWOT:Variabel W-O, Kwadran III Strategi Terpilih 1. Minimnya internalisasi Pancasila secara aplikatif dalam kehidupan generasi muda dan birokrasi. Mengarusutamakan pendidikan dan praktik nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum, program ASN, dan kehidupan sosial generasi muda melalui pendekatan kontekstual dan digital. 2. Praktik politik transaksional dan elitisme dapat menghambat penanaman nilai luhur dalam kebijakan publik. Mendorong reformasi budaya politik melalui pendidikan politik berintegritas dan sistem kaderisasi kepemimpinan publik yang berbasis nilai kebangsaan dan anti-korupsi. 3. Ketimpangan distribusi ekonomi menghambat akses masyarakat adat terhadap pembangunan SDM. Merancang kebijakan afirmatif dan inklusif untuk membuka akses ekonomi dan pelatihan SDM bagi komunitas adat dan daerah tertinggal secara berkeadilan. 4. Westernisasi dan penetrasi budaya asing melemahkan nilai sosial budaya lokal di kalangan generasi muda. Memperkuat literasi budaya di kalangan generasi muda melalui media digital dan pendidikan multikultural untuk menangkal dampak negatif westernisasi. 5. Kurangnya integrasi nilai-nilai budaya dalam doktrin dan pelatihan pertahanan nasional. Mengintegrasikan pendidikan karakter dan nilai budaya lokal ke dalam pelatihan TNI/Polri dan sistem bela negara untuk memperkuat ketahanan nasional berbasis budaya. 6. Letak geografis yang tersebar menyulitkan pemerataan program pembangunan nilai budaya. Memperluas jangkauan program pembangunan budaya dengan pendekatan digitalisasi dan mobilisasi kader budaya ke daerah terpencil dan perbatasan. 7. Kualitas pendidikan tidak merata menyebabkan ketimpangan pembentukan karakter antarwilayah. Meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan karakter melalui penguatan peran guru, kurikulum nilai, dan sarana pendidikan di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). 8. Eksploitasi SDA tanpa mempertimbangkan nilai kearifan lokal merusak lingkungan dan merugikan masyarakat adat. Menerapkan kebijakan tata kelola SDA berbasis ekologi budaya yang melibatkan masyarakat lokal dan menghormati kearifan adat untuk pembangunan berkelanjutan. 9. Revitalisasi Pancasila sebagai identitas nasional dalam kurikulum dan pelatihan kepemimpinan nasional. Mengimplementasikan revitalisasi Pancasila secara menyeluruh dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan kepemimpinan nasional untuk memperkuat jati diri bangsa. 10. Reformasi birokrasi membuka ruang pembentukan SDM aparatur sipil yang berkarakter dan berbudaya. Memanfaatkan momentum reformasi birokrasi untuk menciptakan aparatur sipil negara yang profesional, berkarakter, dan berbudaya sebagai motor transformasi sosial. 11. Potensi ekonomi berbasis budaya (pariwisata budaya, ekonomi kreatif) sebagai motor pembangunan berkelanjutan. Mengembangkan sektor pariwisata budaya dan ekonomi kreatif berbasis nilai lokal sebagai penggerak utama ekonomi berkelanjutan dan inklusif. 12. Teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk kampanye dan pendidikan nilai sosial budaya yang luas dan cepat. Mengoptimalkan teknologi digital untuk menyebarluaskan nilai-nilai sosial budaya secara masif melalui konten edukatif dan kampanye budaya yang progresif. 13. Peran TNI/Polri dalam pembinaan teritorial dan bela negara dapat diperluas untuk menyemai nilai kebangsaan. Meningkatkan peran TNI/Polri dalam pembinaan teritorial untuk menyemai semangat kebangsaan dan nilai sosial budaya sebagai bagian dari ketahanan nasional. 14. Keanekaragaman budaya antarwilayah dapat menjadi modal promosi budaya nasional di tingkat global. Menjadikan keanekaragaman budaya antarwilayah sebagai basis promosi identitas nasional melalui diplomasi budaya dan platform global. 15. Generasi muda sebagai digital natives berpotensi menjadi agen perubahan dan inovator budaya. Mengarahkan potensi digital native generasi muda sebagai agen transformasi budaya melalui pendidikan inovatif dan pelibatan dalam ruang-ruang publik digital. 16. Nilai-nilai sosial budaya dapat menjadi dasar pengelolaan SDA yang berkelanjutan dan berkeadilan. Menjadikan nilai sosial budaya sebagai prinsip utama dalam tata kelola SDA berbasis keadilan ekologis dan partisipasi masyarakat lokal.
  • 39.
    No. Analisis SWOT:Variabel W-T, Kwadran IV Strategi Terpilih 1. Minimnya internalisasi Pancasila secara aplikatif dalam kehidupan generasi muda dan birokrasi. Mengarusutamakan pendidikan dan praktik nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum, program ASN, dan kehidupan sosial generasi muda melalui pendekatan kontekstual dan digital. 2. Praktik politik transaksional dan elitisme dapat menghambat penanaman nilai luhur dalam kebijakan publik. Mendorong reformasi budaya politik melalui pendidikan politik berintegritas dan sistem kaderisasi kepemimpinan publik yang berbasis nilai kebangsaan dan anti-korupsi. 3. Ketimpangan distribusi ekonomi menghambat akses masyarakat adat terhadap pembangunan SDM. Merancang kebijakan afirmatif dan inklusif untuk membuka akses ekonomi dan pelatihan SDM bagi komunitas adat dan daerah tertinggal secara berkeadilan. 4. Westernisasi dan penetrasi budaya asing melemahkan nilai sosial budaya lokal di kalangan generasi muda. Memperkuat literasi budaya di kalangan generasi muda melalui media digital dan pendidikan multikultural untuk menangkal dampak negatif westernisasi. 5. Kurangnya integrasi nilai-nilai budaya dalam doktrin dan pelatihan pertahanan nasional. Mengintegrasikan pendidikan karakter dan nilai budaya lokal ke dalam pelatihan TNI/Polri dan sistem bela negara untuk memperkuat ketahanan nasional berbasis budaya. 6. Letak geografis yang tersebar menyulitkan pemerataan program pembangunan nilai budaya. Memperluas jangkauan program pembangunan budaya dengan pendekatan digitalisasi dan mobilisasi kader budaya ke daerah terpencil dan perbatasan. 7. Kualitas pendidikan tidak merata menyebabkan ketimpangan pembentukan karakter antarwilayah. Meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan karakter melalui penguatan peran guru, kurikulum nilai, dan sarana pendidikan di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). 8. Eksploitasi SDA tanpa mempertimbangkan nilai kearifan lokal merusak lingkungan dan merugikan masyarakat adat. Menerapkan kebijakan tata kelola SDA berbasis ekologi budaya yang melibatkan masyarakat lokal dan menghormati kearifan adat untuk pembangunan berkelanjutan. 9. Radikalisme dan intoleransi dapat mengikis semangat persatuan dan nilai-nilai sosial budaya. Mengintensifkan pendidikan kebangsaan dan moderasi beragama untuk menangkal radikalisme serta memperkuat nilai-nilai sosial budaya dalam kehidupan masyarakat. 10. Polarisasi politik dan konflik identitas dapat merusak kohesi sosial dan pengembangan SDM unggul. Membangun ekosistem politik inklusif berbasis Pancasila untuk meredam polarisasi dan memperkuat kohesi sosial dalam pengembangan SDM unggul. 11. Liberalisasi ekonomi berisiko mengabaikan nilai-nilai budaya lokal dalam kebijakan investasi dan pembangunan. Mewajibkan prinsip keberpihakan budaya lokal dalam setiap kebijakan investasi dan pembangunan ekonomi agar tidak mengikis identitas budaya bangsa. 12. Media sosial dan globalisasi budaya asing dapat memicu krisis identitas nasional pada generasi muda. Meningkatkan literasi digital dan nasionalisme kultural di kalangan generasi muda untuk mengatasi krisis identitas akibat pengaruh globalisasi dan media sosial. 13. Ancaman hibrida (hoaks, perang kognitif) melemahkan ketahanan budaya dan kesadaran bela negara. Memperkuat ketahanan budaya melalui sistem edukasi pertahanan siber, literasi hoaks, dan bela negara berbasis nilai-nilai kebangsaan. 14. Wilayah terpencil dan perbatasan rawan disintegrasi sosial budaya jika tidak diberi perhatian khusus. Menyusun kebijakan afirmatif untuk wilayah terpencil dan perbatasan guna mencegah disintegrasi sosial budaya dan memperkuat peran strategisnya. 15. Bonus demografi menjadi bencana jika tidak dikelola dengan pendidikan karakter yang kuat. Mengarahkan bonus demografi melalui pendidikan karakter nasionalis agar generasi muda menjadi kekuatan pembangunan, bukan sumber kerentanan sosial. 16. Konflik lahan dan eksploitasi SDA dapat memicu ketidakadilan sosial dan melemahkan harmoni budaya lokal. Mewujudkan tata kelola SDA yang adil, partisipatif, dan berbasis nilai kearifan lokal untuk mencegah konflik sosial serta menjaga harmoni budaya.
  • 40.
    dadang-solihin.blogspot.com 40 Berdasarkan AnalisisSWOT tersebut, maka Strategi yang Terpilih adalah: 1. Mengarusutamakan pendidikan dan praktik nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum, program ASN, dan kehidupan sosial generasi muda melalui pendekatan kontekstual dan digital. 2. Mendorong reformasi budaya politik melalui pendidikan politik berintegritas dan sistem kaderisasi kepemimpinan publik yang berbasis nilai kebangsaan dan anti-korupsi. 3. Merancang kebijakan afirmatif dan inklusif untuk membuka akses ekonomi dan pelatihan SDM bagi komunitas adat dan daerah tertinggal secara berkeadilan. 4. Memperkuat literasi budaya di kalangan generasi muda melalui media digital dan pendidikan multikultural untuk menangkal dampak negatif westernisasi. 5. Mengintegrasikan pendidikan karakter dan nilai budaya lokal ke dalam pelatihan TNI/Polri dan sistem bela negara untuk memperkuat ketahanan nasional berbasis budaya. 6. Memperluas jangkauan program pembangunan budaya dengan pendekatan digitalisasi dan mobilisasi kader budaya ke daerah terpencil dan perbatasan. 7. Meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan karakter melalui penguatan peran guru, kurikulum nilai, dan sarana pendidikan di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). 8. Menerapkan kebijakan tata kelola SDA berbasis ekologi budaya yang melibatkan masyarakat lokal dan menghormati kearifan adat untuk pembangunan berkelanjutan. 9. Mengintensifkan pendidikan kebangsaan dan moderasi beragama untuk menangkal radikalisme serta memperkuat nilai-nilai sosial budaya dalam kehidupan masyarakat. 10.Membangun ekosistem politik inklusif berbasis Pancasila untuk meredam polarisasi dan memperkuat kohesi sosial dalam pengembangan SDM unggul. 11.Mewajibkan prinsip keberpihakan budaya lokal dalam setiap kebijakan investasi dan pembangunan ekonomi agar tidak mengikis identitas budaya bangsa. 12.Meningkatkan literasi digital dan nasionalisme kultural di kalangan generasi muda untuk mengatasi krisis identitas akibat pengaruh globalisasi dan media sosial. 13.Memperkuat ketahanan budaya melalui sistem edukasi pertahanan siber, literasi hoaks, dan bela negara berbasis nilai-nilai kebangsaan. 14.Menyusun kebijakan afirmatif untuk wilayah terpencil dan perbatasan guna mencegah disintegrasi sosial budaya dan memperkuat peran strategisnya. 15.Mengarahkan bonus demografi melalui pendidikan karakter nasionalis agar generasi muda menjadi kekuatan pembangunan, bukan sumber kerentanan sosial. 16.Mewujudkan tata kelola SDA yang adil, partisipatif, dan berbasis nilai kearifan lokal untuk mencegah konflik sosial serta menjaga harmoni budaya.
  • 41.
    dadang-solihin.blogspot.com 41 dadang-solihin.blogspot.com 41 ScenarioPlanning Integrasi Nilai Sosial Budaya dalam Pembangunan SDM Unggul untuk Mendukung Transformasi Sosial menuju Indonesia Emas 2045 7
  • 42.
    Penentuan Kwadran Terplih dadang-solihin.blogspot.com42 dadang-solihin.blogspot.com 42 Strategi ST (1062) Kwadran II Strategi WT (1074) Kwadran IV Strategi WO (1070) Kwadran III Strategi SO (1058) Kwadran I Kwadran IV
  • 43.
    dadang-solihin.blogspot.com 43 Empat Skenario DrivingForces: 1. Sumbu X: Tingkat Integrasi Nilai Sosial Budaya 2. Sumbu Y: Kualitas Pembangunan SDM Ultimate Goals: 1. Transformasi Sosial berhasil 2. Indonesia Emas 2045 terwujud Kwadran III: W-O “Wayang Tanpa Dalang” Bangsa ini kaya akan nilai dan budaya, tetapi miskin penggerak yang mampu mengartikulasikan nilai itu dalam bentuk inovasi, daya saing, dan kompetensi. Seperti wayang yang indah dan sakral namun tidak hidup tanpa dalang yang bijak dan terampil. Kwadran I: S-O “Kapal Nusantara Berlayar ” Bagaikan kapal layar yang besar, adaptif, dan berkarakter, Indonesia berlayar jauh berbekal arah angin budaya dan awak kapal yang terlatih, bangsa ini melaju menuju Indonesia Emas dengan arah yang jelas, tenaga SDM unggul yang berakar pada nilai luhur, dan arah angin transformasi sosial yang mendukung. Kwadran II: S-T “Robot Canggih Tanpa Jiwa” SDM Indonesia menjadi unggul secara teknis dan intelektual, namun tidak memiliki karakter dan identitas budaya. Seperti robot yang efisien namun tidak memiliki moral kompas, arah, atau empati—mudah dikendalikan oleh kepentingan asing, dan kehilangan makna kebangsaan. Tingkat Integrasi Nilai Sosial Budaya Kwadran IV: W-T “Kapal Bocor di Samudra Badai” Bangsa ini terombang-ambing di tengah badai globalisasi tanpa arah nilai dan dengan awak kapal (SDM) yang tidak siap. Kebocoran nilai budaya dan lemahnya kompetensi membuat kapal kehilangan arah dan daya tahan. Risiko disintegrasi dan stagnasi tinggi. Kualitas Pembangunan SDM Tinggi Rendah Unggul Lemah
  • 44.
    dadang-solihin.blogspot.com 44 Empat Skenario DrivingForces: 1. Sumbu X: Tingkat Integrasi Nilai Sosial Budaya 2. Sumbu Y: Kualitas Pembangunan SDM Ultimate Goals: 1. Transformasi Sosial berhasil 2. Indonesia Emas 2045 terwujud Kwadran III: W-O “Wayang Tanpa Dalang” Memiliki nilai luhur bangsa, tapi belum didukung kapasitas SDM unggul untuk mewujudkannya dalam tindakan nyata. Kwadran I: S-O “Kapal Nusantara Berlayar” Kombinasi optimal antara karakter dan kompetensi SDM yang menjadikan Indonesia tangguh di tengah gelombang globalisasi. Kwadran II: S-T “Robot Canggih Tanpa Jiwa” Pembangunan tanpa nilai budaya berisiko menciptakan generasi pintar tapi kehilangan arah dan nasionalisme. Tingkat Integrasi Nilai Sosial Budaya Kwadran IV: W-T “Kapal Bocor di Samudra Badai” Ini adalah skenario kegagalan, di mana kehilangan akar budaya dan lemahnya kualitas SDM mengancam ketahanan nasional. Kualitas Pembangunan SDM Tinggi Rendah Unggul Lemah
  • 45.
    dadang-solihin.blogspot.com 45 Kwadran IKapal Nusantara Berlayar • Dalam skenario “Kapal Nusantara Berlayar”, Indonesia berlayar kokoh menuju Indonesia Emas 2045 dengan arah yang jelas dan didukung SDM unggul yang berakar kuat pada nilai sosial budaya bangsa. • Pancasila sebagai ideologi terbuka menjadi kompas yang menuntun arah pembangunan, diperkuat oleh stabilitas politik dan reformasi birokrasi yang membuka ruang pembentukan karakter Aparatur Sipil Negara. • SDM Indonesia bukan hanya terampil, tetapi juga berkarakter gotong royong, toleran, jujur, dan pekerja keras. • Potensi ekonomi kreatif, pariwisata budaya, serta keanekaragaman budaya antarpulau menjadi kekuatan ekonomi berkelanjutan. • Teknologi digital dimanfaatkan untuk menyebarluaskan nilai luhur, sementara bonus demografi dan letak geografis strategis menjadi peluang emas mencetak generasi muda berkarakter dan inovatif. • Dengan dukungan seluruh stakeholders bangsa dan peran aktif TNI/Polri dalam bela negara berbasis nilai, serta pengelolaan SDA melalui ekologi budaya, Indonesia tampil sebagai bangsa yang tangguh, adaptif, dan berdaulat—sebuah kapal layar besar yang melaju mantap di samudra transformasi sosial.
  • 46.
    dadang-solihin.blogspot.com 46 Kwadran IIRobot Canggih Tanpa Jiwa • Dalam skenario “Robot Canggih Tanpa Jiwa”, Indonesia berhasil mencetak SDM unggul secara teknis dan intelektual, namun kehilangan ruh kebangsaan dan akar budaya. • Pancasila sebagai ideologi terbuka belum sepenuhnya terinternalisasi dalam karakter generasi muda. • Meskipun stabilitas politik dan potensi ekonomi kreatif berkembang, nilai gotong royong, toleransi, dan kearifan lokal mulai terkikis oleh arus globalisasi budaya, media sosial, serta liberalisasi ekonomi yang tak berbasis nilai. • SDM yang terlatih tapi hampa karakter menjadi rentan terhadap polarisasi, radikalisme, dan perang kognitif, layaknya robot yang efisien tapi tanpa empati, mudah dikendalikan kepentingan luar. • Ketahanan budaya melemah, terlebih di wilayah perbatasan dan komunitas adat yang rentan terpinggirkan. • Jika bonus demografi tidak diarahkan dengan pendidikan karakter yang kuat, peluang bisa berubah menjadi bencana. • Indonesia tampak maju dari luar, tetapi rapuh di dalam—sebuah bangsa canggih, namun kehilangan jiwanya.
  • 47.
    dadang-solihin.blogspot.com 47 Kwadran IIIWayang Tanpa Dalang • Skenario “Wayang Tanpa Dalang” menggambarkan Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan nilai luhur dan warisan budaya, namun belum mampu melahirkan SDM yang cukup unggul untuk menghidupkan nilai- nilai tersebut menjadi kekuatan transformasi sosial. • Internalisasi Pancasila belum terimplementasi kuat dalam pendidikan dan birokrasi, sementara politik transaksional serta ketimpangan akses ekonomi dan pendidikan memperlebar jurang kualitas antarwilayah. • Kekuatan budaya ibarat wayang sakral, namun tanpa dalang bijak yang mampu menggerakkannya. • Meski demikian, peluang besar terbuka: revitalisasi Pancasila, reformasi birokrasi, potensi ekonomi berbasis budaya, dan kehadiran teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk mempercepat internalisasi nilai dan pembangunan karakter. • Peran strategis seluruh stakeholders bangsa termasuk TNI/Polri dan generasi digital natives juga menjadi modal untuk menyemai semangat kebangsaan secara lebih luas. • Dengan memanfaatkan peluang tersebut, Indonesia dapat mencetak dalang-dalang masa depan yang mampu menghidupkan kembali nilai luhur menjadi kekuatan SDM unggul dan berkarakter.
  • 48.
    dadang-solihin.blogspot.com 48 Kwadran IVKapal Bocor di Samudra Badai • Dalam skenario “Kapal Bocor di Samudra Badai”, Indonesia menghadapi badai globalisasi dengan fondasi kebangsaan yang rapuh dan awak kapal—yakni SDM—yang belum siap secara karakter maupun kompetensi. • Minimnya internalisasi Pancasila, lemahnya pendidikan karakter, serta praktik politik yang transaksional membuat bangsa ini kehilangan arah nilai. • Ketimpangan pendidikan dan ekonomi memperdalam jurang ketidaksetaraan, sementara westernisasi, radikalisme, dan konflik identitas merusak kohesi sosial. • Di tengah tantangan liberalisasi ekonomi, media sosial tak terkendali menjadi pintu masuk krisis identitas generasi muda. • Eksploitasi SDA yang tidak memperhatikan kearifan lokal semakin melemahkan keadilan sosial. • Ancaman hibrida dan disintegrasi wilayah perbatasan kian nyata, sementara bonus demografi menjadi beban jika tidak segera ditangani. • Seperti kapal bocor di tengah samudra badai, Indonesia dalam skenario ini berada dalam risiko stagnasi dan disorientasi nasional. • Tanpa pembenahan sistemik, kapal ini bisa karam sebelum mencapai Indonesia Emas 2045.
  • 49.
    1. Fahmi, Rizalet al., 2022. Integrasi Nilai-Nilai Budaya dan Karakter Bangsa dalam Kurikulum Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. 2. Jenny M.T Hartanto, Njaju et. al., 2022. Materi Pokok Bidang Studi Sosial Budaya, Lemhannas RI. 3. Koentjaraningrat, 2009. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. 4. Peraturan Presiden No. 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025-2029. 5. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 6. UU RI No. 59 Tahun 2024 tentang RPJPN 2025-2045. 7. United Nations, 2015. Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. dadang-solihin.blogspot.com 49 Daftar Pustaka
  • 50.
    1. https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-001-january- 2025/278738763 2. https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-002-february-2025- 501e/278738655 3.https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-003-march-2025- 746d/278738490 4. https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-004-april-2025- e2bf/278738326 5. https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-special-edition-taskap- 001-2025-3dda/278738176 6. https://www.slideshare.net/slideshow/dadang-solihin-book-review-number-005-may-2025- 09c6/278737908 dadang-solihin.blogspot.com 50 Bahan Bacaan
  • 51.
    Terima Kasih 51 Di AntaraDua Benua Yang Menghubungkan Dua Samudera Aku Berpijak, Aku Menatap Keagungan Karya Ciptaan-Nya Dan di Sana Aku Dilahirkan Mengarungi Jalan Kehidupan Aku Berdo'a, Aku Bekerja Mengisi Kemerdekaan Bangsa Tenteram Kurasa di Pangkuanmu O Ibu Pertiwi Trimalah Karya Baktiku Kan Kupertahankan, Wilayah Negeriku Bumi Nusantara, Indonesia Raya