LAPORAN SEMINAR ARSITEKTUR
Studi Kualitas Pencahayaan, Suara, dan Suhu pada Ruang Salat Masjid
(Studi Kasus: Masjid Raya Jakarta Islamic Centre – Koja, Jakarta Utara)
BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Arsitektur merupakan perwujudan fisik sebagai wadah kegiatan
manusia. Bagaimana pun juga unsur-unsur fungsi, ruang, bentuk dan
ekspresi akan menentukan bagaimana arsitektur dapat meninggikan nilai
suatu karya, memperoleh tanggapan serta mengungkapkan suatu makna.
Dalam Noe’man (2003) dikatakan bahwa karya arsitektur budaya Islam
bukan terbatas pada perwujudan bentuk, tetapi juga nilai-nilai hakiki dan
semangat moral/akhlak serta hikmahnya. Ijtihad dan kreativitas arsitek,
pendekatan terhadap materi, ruang dan waktu, cara berpikir dan sudut
pandang hendaknya bertolok ukur dan bersumber dari Alquran dan Sunah.
Masjid sebagai salah satu karya arsitektur yang mengedepankan faktor
kenyamanan ruang dalam dan lingkungan. Oleh karena itu, pendekatan
desain dan mekanis demi terciptanya kenyamanan bagi jamaah harus
dikedepankan. Dalam beberapa poin, kenyamanan di Masjid Al Jihad telah
tercipta, namun belum sepenuhnya. Sebab setelah dilakukan analisis secara
komprehensif, secara umum didapat kesimpulan sebagai berikut:
• Kualitas pencahayaan pada ruang salat utama Masjid Al Jihad belum
baik. Ini didasarkan pada hasil pengukuran pada ruangan, dimana
tingkat pencahayaan ruang salat utama Masjid Al Jihad masih kurang
dari rata-rata tingkat pencahayaan yang direkomendasikan.
Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi ruangan, hal tersebut dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya sebagai berikut:
1. Bukaan pada pintu dan jendela kurang dapat menangkap cahaya
alami yang cukup bagi ruangan. Kondisi ini dimungkinkan oleh
masih rapatnya celah pada rongga pintu.
2. Pencahayaan buatan tidak digunakan secara menyeluruh pada
BAB VI – PENUTUP VI-1
LAPORAN SEMINAR ARSITEKTUR
Studi Kualitas Pencahayaan, Suara, dan Suhu pada Ruang Salat Masjid
(Studi Kasus: Masjid Raya Jakarta Islamic Centre – Koja, Jakarta Utara)
atap-atap ruangan.
3. Lampu gantung selalu dalam kondisi tidak menyala. Hasil
pengukuran menunjukkan bahwa pencahayaan di ruangan belum
maksimal. Apabila lampu gantung dapat dinyalakan sebagian atau
seluruhnya, maka dapat menambah tingkat pencahayaan pada
ruangan.
4. Ketika pengukuran dilakukan, sebagian lampu LED juga tidak
menyala. Ini mengakibatkan pencahayaan di beberapa titik masih
terasa minim.
• Kualitas suara pada ruang utama salat pada Masjid Al Jihad belum
sepenuhnya baik. Kualitas ini dapat dilihat dari hasil pengukuran pada
ruangan, dimana beberapa kategori tingkat suara pada ruang utama
salat pada Masjid Al JIhad masih belum memenuhi standar yang
digunakan, yaitu tingkat kekerasan suara (waktu salat berjamaah),
tingkat kebisingan (waktu zuhur dan asar), dan distribusi suara. Faktor-
faktor yang dapat mempengaruhinya di antaranya adalah:
1. Volume pengeras suara yang kurang keras. Volume kekerasan
suara di ruang salat harus selalu diatur dan terukur agar dapat
memenuhi standar kenyamanan terhadap kekerasan suara
speech, terlebih ketika salat berjamaah yang kekerasan suara
speech-nya lebih rendah daripada azan.
2. Posisi penempatan dan arah pengeras suara masih kurang tepat.
Posisi penempatan, misalnya dengan jarak pengeras suara yang
terlalu renggang akan dapat mengurangi kekerasan suara yang
ditangkap di suatu titik di ruangan, sehingga juga berpengaruh
terhadap pola persebaran suara.
3. Material akustik yang melapisi luar ruangan masih kurang
menyerap/memantulkan bising yang terjadi. Bising yang terdengar
hingga ke ruangan harus dapat dikendalikan, agar kejelasan suara
yang diinginkan dari dalam ruang salat tidak terganggu.
• Kualitas suhu pada ruang utama salat pada Masjid Al JIhad adalah
BAB VI – PENUTUP VI-2
LAPORAN SEMINAR ARSITEKTUR
Studi Kualitas Pencahayaan, Suara, dan Suhu pada Ruang Salat Masjid
(Studi Kasus: Masjid Raya Jakarta Islamic Centre – Koja, Jakarta Utara)
baik. Kualitas ini ditunjukkan oleh kondisi riil suhu dalam ruangan yang
telah memenuhi standar yang digunakan dalam penelitian. Meskipun
dengan catatan, yaitu suhu pada waktu salat zuhur, asar, dan magrib
belum mencapai suhu optimal, dan hampir menyentuh ambang
batasnya suhu hangat nyaman, dimana batas tersebut adalah batas
akhir bagi suhu nyaman orang Indonesia secara umum.
VI.2 Saran
• Beberapa langkah dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas
pencahayaan pada ruang salat utama, tentunya dengan proses
perhitungan terlebih dahulu terhadap besarnya intensitas cahaya dan
konsentrasi jamaah agar penggunaannya tetap efisien. Langkah-
langkah tersebut di antaranya adalah:
1. Menambah jumlah pintu yang dibuka ketika siang hari, sebab
biasanya hanya 4 dari 6 pintu yang dibuka. Langkah ini dapat
memaksimalkan masuknya cahaya alami ke dalam ruangan.
2. Menggunakan lampu LED secara menyeluruh pada plafon
ruangan.
3. Meningkatkan intensitas cahaya lampu LED yang terdapat pada
plafon.
4. Lampu gantung dapat dinyalakan beberapa atau seluruhnya, baik
siang maupun malam hari.
5. Melakukan pemeriksaan terhadap kondisi sistem pencahayaan
pada ruangan secara berkala.
• Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas
tingkat suara yang masih belum memenuhi standar, yaitu:
1. Meningkatkan volume pengeras suara agar suara ketika salat
berjamaah dapat terdengar baik oleh jamaah.
2. Mengatur posisi pengeras suara dengan lebih rapat sehingga
kekerasan suara yang ditangkap dapat sama di seluruh titik dalam
BAB VI – PENUTUP VI-3
LAPORAN SEMINAR ARSITEKTUR
Studi Kualitas Pencahayaan, Suara, dan Suhu pada Ruang Salat Masjid
(Studi Kasus: Masjid Raya Jakarta Islamic Centre – Koja, Jakarta Utara)
ruangan.
3. Menggunakan elemen akustik tambahan yang berkarakteristik
menyerap suara (absorption), sehingga bising yang terdengar
hingga ke ruangan salat dapat semakin terkendali.
• Sedangkan langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas suhu dalam
ruangan adalah sebagai berikut:
1. Menggunakan kipas angin yang lebih besar, atau dengan
menambah kipas angina yang sudah ada agar suhu dalam
ruangan lebih terasa sejuk.
2. Menggunakan blower, dapat ditempatkan di depan area salat.
Optimalisasi fungsi masjid perlu digiatkan demi mempersiapkan
generasi Islam yang khusyuk dalam berilmu dan beramal. Masjid menjadi
awal pembentukan tatanan masyarakat yang senantiasa menegakkan rukun
Islam (Syamsiyah, 2013). Masyarakat harus senantiasa terikat dengan
masjid, sehingga masjid perlu dipersiapkan secara fisik, sebagai ruang yang
mampu memberikan kenyamanan pencahayaan, suara dan suhu. Ruang
dalam masjid yang sesuai dengan standar kenyamanan akan menjamin
orang-orang di dalamnya lebih khusyuk dalam beribadah.
Kinerja elemen ruang di ruang salat utama Masjid Al JIhad perlu
ditelaah ulang, sebab terindikasi bahwa elemen-elemen tersebut belum
sepenuhnya mampu memberikan kenyamanan secara fisik. Perlu adanya
tindak lanjut dari pengelola dalam rangka optimalisasi fungsi dan
peningkatan kualitas masjid, agar jamaah dapat lebih khusyuk dalam
beribadah kepada-Nya. Tentunya iktikad ini akan berdampak terhadap
pembentukan generasi Islam yang unggul, sehingga dapat memenuhi
fungsinya sebagai masjid, pusat peradaban Islam.
BAB VI – PENUTUP VI-4

FISIKA BANGUANAN BAB 5

  • 1.
    LAPORAN SEMINAR ARSITEKTUR StudiKualitas Pencahayaan, Suara, dan Suhu pada Ruang Salat Masjid (Studi Kasus: Masjid Raya Jakarta Islamic Centre – Koja, Jakarta Utara) BAB VI PENUTUP VI.1 Kesimpulan Arsitektur merupakan perwujudan fisik sebagai wadah kegiatan manusia. Bagaimana pun juga unsur-unsur fungsi, ruang, bentuk dan ekspresi akan menentukan bagaimana arsitektur dapat meninggikan nilai suatu karya, memperoleh tanggapan serta mengungkapkan suatu makna. Dalam Noe’man (2003) dikatakan bahwa karya arsitektur budaya Islam bukan terbatas pada perwujudan bentuk, tetapi juga nilai-nilai hakiki dan semangat moral/akhlak serta hikmahnya. Ijtihad dan kreativitas arsitek, pendekatan terhadap materi, ruang dan waktu, cara berpikir dan sudut pandang hendaknya bertolok ukur dan bersumber dari Alquran dan Sunah. Masjid sebagai salah satu karya arsitektur yang mengedepankan faktor kenyamanan ruang dalam dan lingkungan. Oleh karena itu, pendekatan desain dan mekanis demi terciptanya kenyamanan bagi jamaah harus dikedepankan. Dalam beberapa poin, kenyamanan di Masjid Al Jihad telah tercipta, namun belum sepenuhnya. Sebab setelah dilakukan analisis secara komprehensif, secara umum didapat kesimpulan sebagai berikut: • Kualitas pencahayaan pada ruang salat utama Masjid Al Jihad belum baik. Ini didasarkan pada hasil pengukuran pada ruangan, dimana tingkat pencahayaan ruang salat utama Masjid Al Jihad masih kurang dari rata-rata tingkat pencahayaan yang direkomendasikan. Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi ruangan, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya sebagai berikut: 1. Bukaan pada pintu dan jendela kurang dapat menangkap cahaya alami yang cukup bagi ruangan. Kondisi ini dimungkinkan oleh masih rapatnya celah pada rongga pintu. 2. Pencahayaan buatan tidak digunakan secara menyeluruh pada BAB VI – PENUTUP VI-1
  • 2.
    LAPORAN SEMINAR ARSITEKTUR StudiKualitas Pencahayaan, Suara, dan Suhu pada Ruang Salat Masjid (Studi Kasus: Masjid Raya Jakarta Islamic Centre – Koja, Jakarta Utara) atap-atap ruangan. 3. Lampu gantung selalu dalam kondisi tidak menyala. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa pencahayaan di ruangan belum maksimal. Apabila lampu gantung dapat dinyalakan sebagian atau seluruhnya, maka dapat menambah tingkat pencahayaan pada ruangan. 4. Ketika pengukuran dilakukan, sebagian lampu LED juga tidak menyala. Ini mengakibatkan pencahayaan di beberapa titik masih terasa minim. • Kualitas suara pada ruang utama salat pada Masjid Al Jihad belum sepenuhnya baik. Kualitas ini dapat dilihat dari hasil pengukuran pada ruangan, dimana beberapa kategori tingkat suara pada ruang utama salat pada Masjid Al JIhad masih belum memenuhi standar yang digunakan, yaitu tingkat kekerasan suara (waktu salat berjamaah), tingkat kebisingan (waktu zuhur dan asar), dan distribusi suara. Faktor- faktor yang dapat mempengaruhinya di antaranya adalah: 1. Volume pengeras suara yang kurang keras. Volume kekerasan suara di ruang salat harus selalu diatur dan terukur agar dapat memenuhi standar kenyamanan terhadap kekerasan suara speech, terlebih ketika salat berjamaah yang kekerasan suara speech-nya lebih rendah daripada azan. 2. Posisi penempatan dan arah pengeras suara masih kurang tepat. Posisi penempatan, misalnya dengan jarak pengeras suara yang terlalu renggang akan dapat mengurangi kekerasan suara yang ditangkap di suatu titik di ruangan, sehingga juga berpengaruh terhadap pola persebaran suara. 3. Material akustik yang melapisi luar ruangan masih kurang menyerap/memantulkan bising yang terjadi. Bising yang terdengar hingga ke ruangan harus dapat dikendalikan, agar kejelasan suara yang diinginkan dari dalam ruang salat tidak terganggu. • Kualitas suhu pada ruang utama salat pada Masjid Al JIhad adalah BAB VI – PENUTUP VI-2
  • 3.
    LAPORAN SEMINAR ARSITEKTUR StudiKualitas Pencahayaan, Suara, dan Suhu pada Ruang Salat Masjid (Studi Kasus: Masjid Raya Jakarta Islamic Centre – Koja, Jakarta Utara) baik. Kualitas ini ditunjukkan oleh kondisi riil suhu dalam ruangan yang telah memenuhi standar yang digunakan dalam penelitian. Meskipun dengan catatan, yaitu suhu pada waktu salat zuhur, asar, dan magrib belum mencapai suhu optimal, dan hampir menyentuh ambang batasnya suhu hangat nyaman, dimana batas tersebut adalah batas akhir bagi suhu nyaman orang Indonesia secara umum. VI.2 Saran • Beberapa langkah dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pencahayaan pada ruang salat utama, tentunya dengan proses perhitungan terlebih dahulu terhadap besarnya intensitas cahaya dan konsentrasi jamaah agar penggunaannya tetap efisien. Langkah- langkah tersebut di antaranya adalah: 1. Menambah jumlah pintu yang dibuka ketika siang hari, sebab biasanya hanya 4 dari 6 pintu yang dibuka. Langkah ini dapat memaksimalkan masuknya cahaya alami ke dalam ruangan. 2. Menggunakan lampu LED secara menyeluruh pada plafon ruangan. 3. Meningkatkan intensitas cahaya lampu LED yang terdapat pada plafon. 4. Lampu gantung dapat dinyalakan beberapa atau seluruhnya, baik siang maupun malam hari. 5. Melakukan pemeriksaan terhadap kondisi sistem pencahayaan pada ruangan secara berkala. • Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas tingkat suara yang masih belum memenuhi standar, yaitu: 1. Meningkatkan volume pengeras suara agar suara ketika salat berjamaah dapat terdengar baik oleh jamaah. 2. Mengatur posisi pengeras suara dengan lebih rapat sehingga kekerasan suara yang ditangkap dapat sama di seluruh titik dalam BAB VI – PENUTUP VI-3
  • 4.
    LAPORAN SEMINAR ARSITEKTUR StudiKualitas Pencahayaan, Suara, dan Suhu pada Ruang Salat Masjid (Studi Kasus: Masjid Raya Jakarta Islamic Centre – Koja, Jakarta Utara) ruangan. 3. Menggunakan elemen akustik tambahan yang berkarakteristik menyerap suara (absorption), sehingga bising yang terdengar hingga ke ruangan salat dapat semakin terkendali. • Sedangkan langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas suhu dalam ruangan adalah sebagai berikut: 1. Menggunakan kipas angin yang lebih besar, atau dengan menambah kipas angina yang sudah ada agar suhu dalam ruangan lebih terasa sejuk. 2. Menggunakan blower, dapat ditempatkan di depan area salat. Optimalisasi fungsi masjid perlu digiatkan demi mempersiapkan generasi Islam yang khusyuk dalam berilmu dan beramal. Masjid menjadi awal pembentukan tatanan masyarakat yang senantiasa menegakkan rukun Islam (Syamsiyah, 2013). Masyarakat harus senantiasa terikat dengan masjid, sehingga masjid perlu dipersiapkan secara fisik, sebagai ruang yang mampu memberikan kenyamanan pencahayaan, suara dan suhu. Ruang dalam masjid yang sesuai dengan standar kenyamanan akan menjamin orang-orang di dalamnya lebih khusyuk dalam beribadah. Kinerja elemen ruang di ruang salat utama Masjid Al JIhad perlu ditelaah ulang, sebab terindikasi bahwa elemen-elemen tersebut belum sepenuhnya mampu memberikan kenyamanan secara fisik. Perlu adanya tindak lanjut dari pengelola dalam rangka optimalisasi fungsi dan peningkatan kualitas masjid, agar jamaah dapat lebih khusyuk dalam beribadah kepada-Nya. Tentunya iktikad ini akan berdampak terhadap pembentukan generasi Islam yang unggul, sehingga dapat memenuhi fungsinya sebagai masjid, pusat peradaban Islam. BAB VI – PENUTUP VI-4