Anamnesis
 Sejak kapan sakitnya dan gejala yang dirasakan seperti apa?
 Pernahkah ada nyeri dada dan sesak napas?
 Adakah gejala muntah, sesak napas, diare, serta dehidrasi?
 Adakah gejala yang menunjukkan septicemia (seperti
demam, menggigil, berkeringat, infeksi lokal, batuk, nyeri
dada, sesak napas)
 Riwayat penyakit terdahulu
 Adakah riwayat episode syok sebelumnya?
 Adakah riwayat penyakit jantung yang serius sebelumnya
(misalnya MI)?
 Adakah riwayat trauma sebelumnya?
 Obat-obatan
 Apakah pasien sedang mengkonsumsi atau baru saja
mengkonsumsi kortikosteroid?
 Apakah pasien mengkonsumsi obat-obatan yang
bersifat anafilaktik?
 Apakah terjadi penurunan kesadaran setelah memakan
obat?
 Alergi
 Pernahkah terpajan allergen potensial (misalnya
makanan, obat, bisa ular)?
Pemeriksaan Kesadaran
 Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal,
sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan
tentang keadaan sekelilingnya.
 Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk
berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.
 Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat,
waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi,
kadang berhayal.
 Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran
menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah
tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang
(mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu
memberi jawaban verbal.
 Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti
tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.
 Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan,
tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak
ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin
juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).
GCS (Glasgow Coma Scale)
15 : Compos
mentis
12-14 : Somnolen
8-11 : Stupor
3-7 : Coma
Pemeriksaan Fisik
 Dalam pemeriksaan fisik yang pertama harus
dilakukan adalah penilaian ABC, pasien-pasien
dengan hematemesis yang masif dapat mengalami
aspirasi atau sumbatan jalan nafas, hal ini sering
ini sering dijumpai pada pasien usia tua dan pasien
yang mengalami penurunan kesadaran.
 Sebaiknya nadi, frekuensi pernapasan, dan perfusi
kulit diperhatikan
Tabel Derajat Perdarahan dan Gejala
Derajat Perdarahan Gejala
Perdarahan derajat I (kehilangan darah
0-15%)
•Tidak ada komplikasi, hanya terjadi
takikardia minimal.
•Tekanan darah, tekanan nadi, dan
frekuensi pernapasan normal.
•Perlambatan pengisian kapiler lebih
dari 3 detik sesuai untuk kehilangan
darah sekitar 10%.
Perdarahan Derajat II (kehilangan
darah 15-30%)
•Takikardi (frekuensi nadi
>100/menit), takipnea, penurunan
tekanan nadi, kulit teraba dingin,
perlambatan pengisian kapiler, dan
anxietas ringan.
Perdarahan Derajat III (kehilangan
darah 30-40%)
•Pasien biasanya mengalami takipnea
dan takikardi, penurunan tekanan
darah sistolik, oliguria, dan
perubahan status mental yang
signifikan, seperti kebingungan dan
agitasi.
Perdarahan Derajat IV (kehilangan
darah >40%)
•Gejala berupa takikardia,
penurunan tekanan darah sistolik,
tekanan nadi menyempit (atau
tekanan diastolik tidak terukur),
berkurangnya (tidak ada) urine yang
keluar, penurunan status mental
(kehilangan kesadaran), dan kulit
dingin dan pucat.
•Jumlah perdarahan ini akan
mengancam kehidupan secara cepat.
Pemeriksaan Penunjang
 Laboratorium
 Leukosit
 Trombosit
 Hematokrit
 Hemostasis
 Protein/albumin
 SGOT/SGPT (serum alanin aminotransferase)
 Elektrolit
 Golongan darah dan cross match
 Imunoserologi
 Radiologis
Jenis-Jenis Syok
Syok Hipovolemik
 Terjadi kehilangan cairan dengan cepat yang berakhir
pada kegagalan beberapa organ, disebabkan oleh
volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat
pada perfusi yang tidak adekuat.
 Etiologi
 Muntah, diare yang sering (frekuen)
 Dehidrasi karena berbagai sebab
 Luka bakar grade II – III yang luas
 Trauma dengan perdarahan
 Perdarahan massif karena penyebab lain
 Manifestasi dan gejala klinis
 Kulit dingin, pucat, dan vena kulit kolaps akibat penurunan pengisian
kapiler selalu berkaitan dengan berkurangnya perfusi jaringan.
 Takikardia.
 Karena peningkatan laju jantung dan kontraktilitas adalah respon homeostatis
penting untuk hipovolemia. Peningkatan kecepatan aliran darah ke
mikrosirkulasi berfungsi mengurangi asidosis jaringan.
 Hipotensi.
 Karena tekanan darah adalah produk resistensi pembuluh darah sistemik dan
curah jantung, vasokonstriksi perifer adalah factor yang esensial dalam
mempertahankan tekanan darah. Autoregulasi aliran darah otak dapat
dipertahankan selama tekanan arteri turun tidak di bawah 70 mmHg.
 Oliguria.
 Produksi urin umumnya akan berkurang pada syok hipovolemik.
Syok Kardiogenik
 Syok yang disebabkan oleh kegagalan pompa jantung
yang mengakibatkan curah jantung menjadi
berkurang atau berhenti sama sekali untuk memenuhi
kebutuhan metabolism.
 Etiologi
 Gangguan kontraktilitas miokardium
 Disfungsi ventrikel kiri yang berat yang memicu terjadinya
kongesti paru dan atau hipoperfusi sitemik
 Infark miokard akut
 Manifestasi dan gejala klinis
 Oliguri (urin < 20ml/jam)
 Nyeri substernal seperti IMA
 Nadi cepat, kecuali ada blok A-V
 Bunyi jantung sangat lemah, bunyi jantung III sering
terdengar.
Syok septic
 Syok yang disebabkan oleh infeksi yang menyebar luas
yang merupakan bentuk paling umum syok distributive.
 Etiologi
 Mikroorganisme penyebab syok septic adalah bakteri gram
negative. Insidenya meningkat, antara lain karena
pemberian antibiotic yang berlebihan, meningkatnya
pengunaan obat sitotoksik dan imunosupresif, meningkatnya
frekuensi penggunaan alat-alat invasive seperti kateter
intravaskuler, serta meningkatnya infeksi yang disebabkan
organism yang resisten terhadap antibiotic.
 Manifestasi dan gejala klinis
 Fase dini : selaput lendir kering, kulit lembab dan
kering.
 Post resusitasi cairan: gambaran klinis syok
hiperdinamik: takikardi, nadi keras dengan tekanan
nadi melebar, precordium hiperdinamik pada palpasi,
dan ekstremitas hangat.
 Disertai tanda-tanda sepsis
 Tanda hipoperfusi: takipnea, oliguria, sianosis,
mottling, iskemia jari, perubahan status mental.
Syok neurogenik
 Terjadi akibat kegagalan pusat vasomotor karena hilangnya
tonus pembuluh darah secara mendadak di seluruh tubuh.
 Etiologi
 Trauma medulla spinalis dengan quadriplegia atau paraplegia
(syok spinal)
 Rangsangan hebat yang kurang menyenangkan seperti rasa
nyeri hebat pada fraktur tulang
 Rangsangan pada medulla spinalis seperti penggunaan obat
anestesi spinal / lumbal.
 Trauma kepala (terdapat gangguan pada pusat otonom)
 Suhu lingkungan yang panas, terkejut, takut.
 Manifestasi dan gejala klinik
 TD turun
 Nadi tidak bertambah cepat
 Bradikardi
 Kadang disertai adanya deficit neurologis
berupa quadriplegia atau paraplegia.
Working Diagnosis
 Syok Hipovolemik ec Dengue Syok Syndrome
Tanda – Tanda Syok
 Kesadaran menurun
 Nadi tidak teraba
 Ujung ekstremitas dingin, kulit dingin, dan lembab
 Tekanan Nadi < 20 mmHg
 Distress pernapasan
Etiologi
 Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini
termasuk ke dalam Arbovirus (Arthropodborn virus)
group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe
1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut
terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari
yang lainnya secara serologis virus dengue yang
termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40
nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada
berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari
sel – sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster
Kidney) maupun sel – sel Arthropoda misalnya sel
aedes Albopictus.
Penatalaksanaan
Prinsip resusitasi ABC
 A : Jalan napas harus bebas, kalau perlu dengan intubasi
 B : Pernapasan harus terjamin, jika perlu dengan ventilasi
buatan dan pemberian oksigen 100%.
 C : Defisit volume peredaran darah pada syok hipovolemik
sejati atau hipovolemik relative (syok septic dan anafilaksis)
dapat diatasi dengan pemberian cairan intravena dan
mempertahankan fungsi jantung.
Penanganan Syok
Oksigenasi
Dalam keadaan renjatan
berat diberikan cairan
ringer laktat (kristaloid)
secara cepat selama 30
menit
Apabila tidak teratasi
dapat diganti dengan
koloid 10-20ml/kgBB/jam
(max 30 ml/kgBB)
Masih syok, beri
vasopresor (dopamin,
epinefrin, norepinefrin,
dobutamin diberikan bila
curah jantung rendah)
Evaluasi klinis, nadi,
tekanan darah,
pernafasan, suhu dan
pengeluaran urin
dilakukan lebih sering.
Resusitasi Cairan
Kristaloid :
 Ringer Laktat
 5 % Dextrose di dalam larutan Ringer Laktat
 5 % Dextrose di dalam larutan Ringer asetat
 5 % Dextrose di dalam larutan setengah normal garam
faali, dan
 5 % Dextrose di dalam larutan normal garam faali.
Resusitasi Cairan
Koloidal :
 Plasma expander dengan berat molekul rendah (Dextran
40)
 Plasma.
 RL / D 5 % dalam RL / D 5 % dalam Ringer Asetat / larutan
normal garam faali ---->diberikan 10 – 20 ml/kg BB/ 1 jam.
 Pada kasus yang berat (grade IV) dapat diberikan bolus 10
ml/kg BB (1 x atau 2 x).
 Jika renjatan berlangsung terus (HCT tinggi) diberikan
larutan koloidal (Dextran atauPlasma) sejumlah 10 – 20
ml/kg BB/ 1 jam.
Perhitungan Cairan
RUMUS DASAR
Faktor tetesan
Makrodrip : 20 dan 15
Mikrodrip : 60
Penatalaksanaan Dengue Syock Syndrom
 Pasien DSS umumnya memerlukan
perawatan intensive care unit (ICU).
Penatalaksanaannya dibagi menjadi 2 terapi
DSS dengan syok terkompensasi
DSS dengan syok hipotensi.
DSS dengan Syok Terkompensasi
DSS dengan syok terkompensasi merupakan pasien dengan tekanan darah sistolik
normal, tetapi memiliki tanda perfusi perifer menurun.
Penanganan yang dilakukan adalah resusitasi cairan kristaloid isotonik dengan dosis
awal 5−10 mL/kgBB/jam selama 1 jam, kemudian periksa kondisi klinis pasien.
Apabila keadaan pasien membaik, maka cairan dikurangi dengan ketentuan:
5−7 mL/kgBB/jam selama 1−2 jam
3−5 mL/kgBB/jam selama 2−4 jam
2−3 mL/kgBB/jam dan dipantau selama 24−48 jam[1-3]
Apabila keadaan pasien tidak membaik setelah monitoring 1 jam pertama dan
hematokrit tetap tinggi (>50%), maka ketentuan resusitasi cairan:
Bolus 10−20 mL/kgBB/jam dalam 1 jam,
Apabila keadaan pasien membaik, maka cairan dikurangi menjadi 7−10 mL/kgBB/jam
selama 1−2 jam
Apabila, keadaan memburuk, maka pasien dapat dilakukan pemeriksaan hematokrit
kembali dan diberikan. bolus 10-20 mL/kgBB/jam kembali apabila hematokrit masih
tinggi atau meningkat
Kemudian dikurangi sesuai dengan keadaan membaik [1-3]
DSS dengan Syok Hipotensi
DSS dengan syok hipotensi adalah pasien dengan tanda-tanda nadi lemah, pulse
pressure sempit (<20 mmHg), hipotensi berdasarkan umur, akral dingin, lembab, dan
gelisah. Penanganan adalah resusitasi cairan isotonik seperti 0,9% salin dan ringer laktat,
atau cairan koloid seperti dextran atau haes-steril. Pemberian dosis awal 20 mL/kgBB, bolus
selama 15 menit, kemudian periksa kondisi klinis pasien.
Jika kondisi pasien membaik, maka cairan kristaloid atau koloid dapat diturunkan dengan
ketentuan:
 10 mL/kgBB/jam selama 1 jam
 5−7 mL/kgBB/jam selama 1−2 jam
 3−5 mL/kgBB/jam selama 2−4 jam
 2−3 mL/kgBB/jam[1-3]
Jika setelah bolus pertama kondisi pasien tidak membaik dan hematokrit tetap meningkat,
maka maka ketentuan resusitasi:
 cairan koloid 10−20 mL/kg sebagai bolus kedua selama 0,5−1 jam
 Jika keadaan membaik, maka cairan dikurangi menjadi 7−10 mL/kg/jam selama 1−2 jam
 Ganti menjadi cairan kristaloid, kemudian dikurangi sesuai dengan keadaan membaik[1-
3]
 Apabila tanda vital tetap tidak stabil dan hematokrit rendah, maka kemungkinan
terdapat perdarahan yang membutuhkan transfusi darah segera. Jenis transfusi darah
yang dapat diberikan adalah packed red cells 5‒10 ml/kgBB atau fresh whole blood 10‒20
ml/kgBB.[1-3]
Penatalaksanaan Fase Pemulihan
Setelah keadaan pasien stabil, pemberian cairan intravena
tetap dibutuhkan sampai 24─48 jam selanjutnya. Gejala
dan tanda pemulihan di antaranya tanda vital stabil, suhu
normal, nafsu makan membaik, nyeri perut dan muntah
tidak ada, dan tanda perdarahan seperti petekie atau ruam
kulit menghilang. Sedangkan hasil pemeriksaan urin
output adekuat dan hematokrit stabil.
Pemberian cairan intravena dihentikan bila hematokrit di
bawah 40%, dan volume intravaskular adekuat. Keadaan
ini menandakan bahwa tubuh pasien telah meresorpsi
cairan ekstravaskuler, sehingga menurunkan risiko
komplikasi overload volume dalam pembuluh darah.
Kriteria Memulangkan Pasien
1. Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
2. Nafsu makan membaik
3. Tampak perbaikan secara klinis
4. Hematokrit stabil
5. Tiga hari setelah syok teratasi
6. Jumlah trombosit >50.000/ml
7. Tidak dijumpai distres pernafasan (disebabkan
oleh efusi pleura atau asidosis).
D:STIKINDOdbd.docx
Hatur Nuhun…

DSS.pptx

  • 2.
    Anamnesis  Sejak kapansakitnya dan gejala yang dirasakan seperti apa?  Pernahkah ada nyeri dada dan sesak napas?  Adakah gejala muntah, sesak napas, diare, serta dehidrasi?  Adakah gejala yang menunjukkan septicemia (seperti demam, menggigil, berkeringat, infeksi lokal, batuk, nyeri dada, sesak napas)  Riwayat penyakit terdahulu  Adakah riwayat episode syok sebelumnya?  Adakah riwayat penyakit jantung yang serius sebelumnya (misalnya MI)?  Adakah riwayat trauma sebelumnya?
  • 3.
     Obat-obatan  Apakahpasien sedang mengkonsumsi atau baru saja mengkonsumsi kortikosteroid?  Apakah pasien mengkonsumsi obat-obatan yang bersifat anafilaktik?  Apakah terjadi penurunan kesadaran setelah memakan obat?  Alergi  Pernahkah terpajan allergen potensial (misalnya makanan, obat, bisa ular)?
  • 4.
    Pemeriksaan Kesadaran  ComposMentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.  Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.  Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal.  Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal.
  • 5.
     Stupor (soporokoma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri.  Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya).
  • 6.
    GCS (Glasgow ComaScale) 15 : Compos mentis 12-14 : Somnolen 8-11 : Stupor 3-7 : Coma
  • 7.
    Pemeriksaan Fisik  Dalampemeriksaan fisik yang pertama harus dilakukan adalah penilaian ABC, pasien-pasien dengan hematemesis yang masif dapat mengalami aspirasi atau sumbatan jalan nafas, hal ini sering ini sering dijumpai pada pasien usia tua dan pasien yang mengalami penurunan kesadaran.  Sebaiknya nadi, frekuensi pernapasan, dan perfusi kulit diperhatikan
  • 8.
    Tabel Derajat Perdarahandan Gejala Derajat Perdarahan Gejala Perdarahan derajat I (kehilangan darah 0-15%) •Tidak ada komplikasi, hanya terjadi takikardia minimal. •Tekanan darah, tekanan nadi, dan frekuensi pernapasan normal. •Perlambatan pengisian kapiler lebih dari 3 detik sesuai untuk kehilangan darah sekitar 10%. Perdarahan Derajat II (kehilangan darah 15-30%) •Takikardi (frekuensi nadi >100/menit), takipnea, penurunan tekanan nadi, kulit teraba dingin, perlambatan pengisian kapiler, dan anxietas ringan.
  • 9.
    Perdarahan Derajat III(kehilangan darah 30-40%) •Pasien biasanya mengalami takipnea dan takikardi, penurunan tekanan darah sistolik, oliguria, dan perubahan status mental yang signifikan, seperti kebingungan dan agitasi. Perdarahan Derajat IV (kehilangan darah >40%) •Gejala berupa takikardia, penurunan tekanan darah sistolik, tekanan nadi menyempit (atau tekanan diastolik tidak terukur), berkurangnya (tidak ada) urine yang keluar, penurunan status mental (kehilangan kesadaran), dan kulit dingin dan pucat. •Jumlah perdarahan ini akan mengancam kehidupan secara cepat.
  • 10.
    Pemeriksaan Penunjang  Laboratorium Leukosit  Trombosit  Hematokrit  Hemostasis  Protein/albumin  SGOT/SGPT (serum alanin aminotransferase)  Elektrolit  Golongan darah dan cross match  Imunoserologi  Radiologis
  • 11.
    Jenis-Jenis Syok Syok Hipovolemik Terjadi kehilangan cairan dengan cepat yang berakhir pada kegagalan beberapa organ, disebabkan oleh volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang tidak adekuat.  Etiologi  Muntah, diare yang sering (frekuen)  Dehidrasi karena berbagai sebab  Luka bakar grade II – III yang luas  Trauma dengan perdarahan  Perdarahan massif karena penyebab lain
  • 12.
     Manifestasi dangejala klinis  Kulit dingin, pucat, dan vena kulit kolaps akibat penurunan pengisian kapiler selalu berkaitan dengan berkurangnya perfusi jaringan.  Takikardia.  Karena peningkatan laju jantung dan kontraktilitas adalah respon homeostatis penting untuk hipovolemia. Peningkatan kecepatan aliran darah ke mikrosirkulasi berfungsi mengurangi asidosis jaringan.  Hipotensi.  Karena tekanan darah adalah produk resistensi pembuluh darah sistemik dan curah jantung, vasokonstriksi perifer adalah factor yang esensial dalam mempertahankan tekanan darah. Autoregulasi aliran darah otak dapat dipertahankan selama tekanan arteri turun tidak di bawah 70 mmHg.  Oliguria.  Produksi urin umumnya akan berkurang pada syok hipovolemik.
  • 13.
    Syok Kardiogenik  Syokyang disebabkan oleh kegagalan pompa jantung yang mengakibatkan curah jantung menjadi berkurang atau berhenti sama sekali untuk memenuhi kebutuhan metabolism.  Etiologi  Gangguan kontraktilitas miokardium  Disfungsi ventrikel kiri yang berat yang memicu terjadinya kongesti paru dan atau hipoperfusi sitemik  Infark miokard akut
  • 14.
     Manifestasi dangejala klinis  Oliguri (urin < 20ml/jam)  Nyeri substernal seperti IMA  Nadi cepat, kecuali ada blok A-V  Bunyi jantung sangat lemah, bunyi jantung III sering terdengar.
  • 15.
    Syok septic  Syokyang disebabkan oleh infeksi yang menyebar luas yang merupakan bentuk paling umum syok distributive.  Etiologi  Mikroorganisme penyebab syok septic adalah bakteri gram negative. Insidenya meningkat, antara lain karena pemberian antibiotic yang berlebihan, meningkatnya pengunaan obat sitotoksik dan imunosupresif, meningkatnya frekuensi penggunaan alat-alat invasive seperti kateter intravaskuler, serta meningkatnya infeksi yang disebabkan organism yang resisten terhadap antibiotic.
  • 16.
     Manifestasi dangejala klinis  Fase dini : selaput lendir kering, kulit lembab dan kering.  Post resusitasi cairan: gambaran klinis syok hiperdinamik: takikardi, nadi keras dengan tekanan nadi melebar, precordium hiperdinamik pada palpasi, dan ekstremitas hangat.  Disertai tanda-tanda sepsis  Tanda hipoperfusi: takipnea, oliguria, sianosis, mottling, iskemia jari, perubahan status mental.
  • 17.
    Syok neurogenik  Terjadiakibat kegagalan pusat vasomotor karena hilangnya tonus pembuluh darah secara mendadak di seluruh tubuh.  Etiologi  Trauma medulla spinalis dengan quadriplegia atau paraplegia (syok spinal)  Rangsangan hebat yang kurang menyenangkan seperti rasa nyeri hebat pada fraktur tulang  Rangsangan pada medulla spinalis seperti penggunaan obat anestesi spinal / lumbal.  Trauma kepala (terdapat gangguan pada pusat otonom)  Suhu lingkungan yang panas, terkejut, takut.
  • 18.
     Manifestasi dangejala klinik  TD turun  Nadi tidak bertambah cepat  Bradikardi  Kadang disertai adanya deficit neurologis berupa quadriplegia atau paraplegia.
  • 19.
    Working Diagnosis  SyokHipovolemik ec Dengue Syok Syndrome
  • 20.
    Tanda – TandaSyok  Kesadaran menurun  Nadi tidak teraba  Ujung ekstremitas dingin, kulit dingin, dan lembab  Tekanan Nadi < 20 mmHg  Distress pernapasan
  • 21.
    Etiologi  Virus dengueyang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus (Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4 keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang lainnya secara serologis virus dengue yang termasuk dalam genus flavivirus ini berdiameter 40 nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang berasal dari sel – sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel – sel Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus.
  • 22.
    Penatalaksanaan Prinsip resusitasi ABC A : Jalan napas harus bebas, kalau perlu dengan intubasi  B : Pernapasan harus terjamin, jika perlu dengan ventilasi buatan dan pemberian oksigen 100%.  C : Defisit volume peredaran darah pada syok hipovolemik sejati atau hipovolemik relative (syok septic dan anafilaksis) dapat diatasi dengan pemberian cairan intravena dan mempertahankan fungsi jantung.
  • 23.
    Penanganan Syok Oksigenasi Dalam keadaanrenjatan berat diberikan cairan ringer laktat (kristaloid) secara cepat selama 30 menit Apabila tidak teratasi dapat diganti dengan koloid 10-20ml/kgBB/jam (max 30 ml/kgBB) Masih syok, beri vasopresor (dopamin, epinefrin, norepinefrin, dobutamin diberikan bila curah jantung rendah) Evaluasi klinis, nadi, tekanan darah, pernafasan, suhu dan pengeluaran urin dilakukan lebih sering.
  • 24.
    Resusitasi Cairan Kristaloid : Ringer Laktat  5 % Dextrose di dalam larutan Ringer Laktat  5 % Dextrose di dalam larutan Ringer asetat  5 % Dextrose di dalam larutan setengah normal garam faali, dan  5 % Dextrose di dalam larutan normal garam faali.
  • 25.
    Resusitasi Cairan Koloidal : Plasma expander dengan berat molekul rendah (Dextran 40)  Plasma.  RL / D 5 % dalam RL / D 5 % dalam Ringer Asetat / larutan normal garam faali ---->diberikan 10 – 20 ml/kg BB/ 1 jam.  Pada kasus yang berat (grade IV) dapat diberikan bolus 10 ml/kg BB (1 x atau 2 x).  Jika renjatan berlangsung terus (HCT tinggi) diberikan larutan koloidal (Dextran atauPlasma) sejumlah 10 – 20 ml/kg BB/ 1 jam.
  • 26.
    Perhitungan Cairan RUMUS DASAR Faktortetesan Makrodrip : 20 dan 15 Mikrodrip : 60
  • 27.
    Penatalaksanaan Dengue SyockSyndrom  Pasien DSS umumnya memerlukan perawatan intensive care unit (ICU). Penatalaksanaannya dibagi menjadi 2 terapi DSS dengan syok terkompensasi DSS dengan syok hipotensi.
  • 28.
    DSS dengan SyokTerkompensasi DSS dengan syok terkompensasi merupakan pasien dengan tekanan darah sistolik normal, tetapi memiliki tanda perfusi perifer menurun. Penanganan yang dilakukan adalah resusitasi cairan kristaloid isotonik dengan dosis awal 5−10 mL/kgBB/jam selama 1 jam, kemudian periksa kondisi klinis pasien. Apabila keadaan pasien membaik, maka cairan dikurangi dengan ketentuan: 5−7 mL/kgBB/jam selama 1−2 jam 3−5 mL/kgBB/jam selama 2−4 jam 2−3 mL/kgBB/jam dan dipantau selama 24−48 jam[1-3] Apabila keadaan pasien tidak membaik setelah monitoring 1 jam pertama dan hematokrit tetap tinggi (>50%), maka ketentuan resusitasi cairan: Bolus 10−20 mL/kgBB/jam dalam 1 jam, Apabila keadaan pasien membaik, maka cairan dikurangi menjadi 7−10 mL/kgBB/jam selama 1−2 jam Apabila, keadaan memburuk, maka pasien dapat dilakukan pemeriksaan hematokrit kembali dan diberikan. bolus 10-20 mL/kgBB/jam kembali apabila hematokrit masih tinggi atau meningkat Kemudian dikurangi sesuai dengan keadaan membaik [1-3]
  • 29.
    DSS dengan SyokHipotensi DSS dengan syok hipotensi adalah pasien dengan tanda-tanda nadi lemah, pulse pressure sempit (<20 mmHg), hipotensi berdasarkan umur, akral dingin, lembab, dan gelisah. Penanganan adalah resusitasi cairan isotonik seperti 0,9% salin dan ringer laktat, atau cairan koloid seperti dextran atau haes-steril. Pemberian dosis awal 20 mL/kgBB, bolus selama 15 menit, kemudian periksa kondisi klinis pasien. Jika kondisi pasien membaik, maka cairan kristaloid atau koloid dapat diturunkan dengan ketentuan:  10 mL/kgBB/jam selama 1 jam  5−7 mL/kgBB/jam selama 1−2 jam  3−5 mL/kgBB/jam selama 2−4 jam  2−3 mL/kgBB/jam[1-3] Jika setelah bolus pertama kondisi pasien tidak membaik dan hematokrit tetap meningkat, maka maka ketentuan resusitasi:  cairan koloid 10−20 mL/kg sebagai bolus kedua selama 0,5−1 jam  Jika keadaan membaik, maka cairan dikurangi menjadi 7−10 mL/kg/jam selama 1−2 jam  Ganti menjadi cairan kristaloid, kemudian dikurangi sesuai dengan keadaan membaik[1- 3]  Apabila tanda vital tetap tidak stabil dan hematokrit rendah, maka kemungkinan terdapat perdarahan yang membutuhkan transfusi darah segera. Jenis transfusi darah yang dapat diberikan adalah packed red cells 5‒10 ml/kgBB atau fresh whole blood 10‒20 ml/kgBB.[1-3]
  • 30.
    Penatalaksanaan Fase Pemulihan Setelahkeadaan pasien stabil, pemberian cairan intravena tetap dibutuhkan sampai 24─48 jam selanjutnya. Gejala dan tanda pemulihan di antaranya tanda vital stabil, suhu normal, nafsu makan membaik, nyeri perut dan muntah tidak ada, dan tanda perdarahan seperti petekie atau ruam kulit menghilang. Sedangkan hasil pemeriksaan urin output adekuat dan hematokrit stabil. Pemberian cairan intravena dihentikan bila hematokrit di bawah 40%, dan volume intravaskular adekuat. Keadaan ini menandakan bahwa tubuh pasien telah meresorpsi cairan ekstravaskuler, sehingga menurunkan risiko komplikasi overload volume dalam pembuluh darah.
  • 31.
    Kriteria Memulangkan Pasien 1.Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik 2. Nafsu makan membaik 3. Tampak perbaikan secara klinis 4. Hematokrit stabil 5. Tiga hari setelah syok teratasi 6. Jumlah trombosit >50.000/ml 7. Tidak dijumpai distres pernafasan (disebabkan oleh efusi pleura atau asidosis).
  • 32.
  • 33.