Nama : Arki Dwi Putri N
Kelas : XII IPA 8
Hati yang Sempurna
Lama menunggu kehadirannya. Saat muncul dua garis merah, Walimah senang bukan
main. Ia jaga penuh kasih sayang, rawat, dan pastinya dibawa kemanapun Walimah pergi. Kini
perutnya kian membesar, pastinya tak lama lagi ia bisa menggendong sang malaikat kecilnya.
Zaenuri sang suami dengan cakap membawa ke rumah sakit ketika sang malaikatnya siap untuk
muncul di dunia.
Afisyah, nama malaikat kecil mereka. Kaki, tangan semua anggota badannya tumbuh
dengan sempurna. Tidak ada yang kurang dari penampilannya. Walimah dan Zaenuri sangat
menyayangi Afisyah . Segala kebutuhannya selalu terpenuhi dan segala keinginannya selalu
dipenuhi. Untung saja, Afisyah seorang anak yang tak banyak meminta apalagi menuntut.
Kini, Afisyah tengah duduk dibangku kelas 2 SD. Walimah sang ibutak percaya jika anak
semata wayangnya ini tidak naik kelas lagi! Sudah dua kali berturut-turut Afisyah tidak naik
kelas.
“Apakah kau tidak salah menilai? Tak mungkin jika anakku melakukan kesalahan ini dua
kali berturut-turut!” Emosi Walimah sangat membara.
“Saya bisa menjamin jika semua ini tidak ada kesalahan. Karena saya sendiri yang
menilai dan yang melihat perkembangan Afisyah. Jika saya boleh menyarankan, sebaiknya
Afisyah dipindah saja ke Sekolah Luar Biasa. Saya kira Afisyah bisa mendapatkan materi yang
sesuai dengannya.” Tutur walikelas Afisyah dengan sangat pelan karena ia tahu bahwa orang
yang sedang dihadapinya ini tengah emosi.
Walimah bercerita semuanya kepada Zaenuri, dan ia pun menyetujui usulan walikelas
Afisyah. Namun karena berlandaskan malu dan gengsi, Walimah tak setuju. Ia malu dihadapan
teman-temannya nanti.
Di tahun berikutnya Walimah mendaftarkan putrinya disekolah swasta yang ternama.
Siapa sangka jika tanggapan walikelas Afisyah yang baru sama saja dengan yang lama. Tak
terima dengan semua ini, Walimah langsung mengundurkan diri dari sekolah tersebut. Zaenuri
telah hafal dengan watak istrinya itu, ia cukup sabar menghadapinya.
Walimah memutuskan untuk mensekolahkan Afisyah dirumah saja atau Homescolling.
Dengan cara ini, ia bisa membuktikan bahwa putrinya ini tidak bodoh. Aliyah adalah guru bari
Afisyah. Denagn segala pengalamannya, ia diterima dengan baik oleh Walimah. Awalnyaia akan
mengikuti perkembangan anak semata wayangnya ini. Akan tetapi pada kenyataannya ia terlalu
sibuk dengan teman arisannya.
Seharian ini Afisyah tak mau belajar, memegang pensilpun tidak. Aliyah bingung bukan
main untuk membujuk Afisyah. Sang ibupun ditelpon tidak bisa, hpnya mati bahkan mailbox.
otaknya berputar cepat, idenya muncul saat sebuah piano klasik berdiri tegak dengan gagahnya
diruang mereka belajar. Aliyah memainkan pianonya dengan sangat lihay, tak ada satupun tuts
piano yang tertekan salah. Iramanya begitu indah dan melantun bagaikan berada di tengah konser
megah.
Sejak saat itu Afisyah tak mau lagi belajar. Ia hanya mau bermain piano. Saat Walimah
mengetahuinya, tanpa ampun ia langsung tidak diizinkan lagi untuk mengajar. Dengan amarah ia
menceritakan semua kejadian ini kepada suaminya. Zaenuri menyarankan untuk mengukut IQ
Afisyah.
“Kamu pikir putri kita gila? Dia normal bahkan sehat.” Tolak keras Walimah.
“Mengukur IQ Walimah bukan tes kejiwaan.” Ucap Zaenuri. Begitulah Walimah, sudah
salah ngotot pula. Untung saja Walimah disandingkan dengan Zaenuri yang pintar berbicara
apalagi merayu. Orang-orang yang keras kepala seperti istrinya ini dapat ditaklukan dengan
mudah.
Afisyah dibawa ke psikologi untuk diukur IQnya. Bagaikan bumerang yang telah jatuh
ditengah mereka serta angin topan yang memporak porandakan hati mereka. Tak disangka. anak
semata wayangnya ini memiliki nilai IQ yang rendah. Dibawah rata-rata orang normal yang pada
umumnya diatas 100. Afisayah hanya memiliki IQ 65 dan dinyatakan tunagrahita.
Sejak pengukuran saat itu, telah ada jarak antara Walima dan Afisyah. Ia tak mau
mendekatinya, berbicara, bahkan menyentuhnya. Ia merasa bahwa anaknya telah cacat dan dia
belum bisa menerima semuanya ini. Bukan cacat fisik hanya akalnya dibawah orang normal pada
umumnya. Zaenuri, untuk kali ini telah kewalahan mengahadapi dan menasehati serta
memperingatkan istrinya yang keras kepala ini. Ia hanya bisa menunggu hidayah dari yang Maha
Kuasa.
Suatu pagi yang cerah, Walimah sedang bersantai diruang televise. Mengganti-ganti
channel berharap ada acara yang cukup menghibur hatinya setelah melihat anaknya menekan tuts
piano tidak jelas. Tangannya terhenti saat acara motivasi sedang tayang secara live.
“Saya mau beratnay dengan ibu-ibu disini dan yang dirumah. Anak kalian lebih banyak
meminta atau member?” Tanya sang motivator ti suatu acara.
“Memintaaaaaaa……” Jawab ibu-ibu dengan serentak.
“Coba kalian lihat hp dan pandangi foto anak kalian.” Ucap sang motivator yang
menyuruh ibu-ibu di studio dan yang dirumah.
Walimah berlari dengan terbirit-birit menuju suara berasal. Ia langsung memeluk sang
malaikat kecilnya ini dengan sangat erat disertai dengan cucuran air mata dari mata Walimah.
Suasana menjadi hening dan mengharukan. Zaenuri yang daritadi di samping Afisyah terlihat
sedang menyekat air matanya yang jatuh.
“Mama ini lagu buat mama.” Ucap Afisyah yang satu-satunya tidak mengerti karena ia
tidak mengetahui dengan keadaan yang telah terjadi pada dirinya. tiap dentingannya sangat indah
dan Wlimah tak menyadari akan kelbihan yang Afisyah miliki.
Walimah tak mau lagi menyia-nyiakan anaknya lagi atau bahkan membiarkannya. Ia
akan merawat dan membimbingnya dengan pelan dan kasih sayang. Sekarang, ia telah
bersekolah music di kalangan anak-anak cacat. Walupun dengan segala keterbatasannya, Afisyah
dengan semangat yang berkobar-kobar tetap berjuang. Dalam kurun waktu yang tak lama,
Afisyah dapat memainkan lagu luar negeri seperti Chopin, Bethoven, bahkan Mozart. Tak ragu
lagi, Afisyah langsung ditawarkan untuk mengikuti lomba internasional di Swiss.
“Sebenarnya anak tidak banyak meminta. Mereka tak minta jika dilahirkan dan melalui
perunt anda-anda sekalian bukan? Kitalah yang meminta. Ingatkahkalian sangat memohon untuk
dikeluarkannyalah dua garis merah yang pada akhirnya kalian senang dan gembira? Saat itulah
kita menjadi calon orang tuan. Lantas, alasan apalagi yang harus kalian utarakan dan sesali?”
Itulah kutipan sang motivator saat itu. Saat dimana Walimah sadar akan kesalahannya selama ini.
Kesalahan yang telah menyia-nyiakan sang malaiakta kecilnya ini.
Sekarang, Afisyah telah menjadi piani yang terkenak seduani. Pianis denagn biaya
termahal dan paling berbakat diantara anak cacat lainnya. Ia dapatmenguasai lagu apapun bahkan
yang tersulit sekalipun. Walimah selalu menitikkan air mata seiap melihat penampilan dan
pertunjukkan anaknya yang sangat luar biasa. Dan kata lain yang diingat oleh Walimah dari sang
motivator,
“Kelemahan anak kita bukan halangan untuk maju. Ketekunan dan kekuatan kita menjadi
energi buat mereka anak-anak kita. Kelemahan bukanlah suatu kekalahan melainkan
kemenangan! Belajar dari meraka yang selalu memaknai hidup.”

Cerpen, b.indo

  • 1.
    Nama : ArkiDwi Putri N Kelas : XII IPA 8 Hati yang Sempurna Lama menunggu kehadirannya. Saat muncul dua garis merah, Walimah senang bukan main. Ia jaga penuh kasih sayang, rawat, dan pastinya dibawa kemanapun Walimah pergi. Kini perutnya kian membesar, pastinya tak lama lagi ia bisa menggendong sang malaikat kecilnya. Zaenuri sang suami dengan cakap membawa ke rumah sakit ketika sang malaikatnya siap untuk muncul di dunia. Afisyah, nama malaikat kecil mereka. Kaki, tangan semua anggota badannya tumbuh dengan sempurna. Tidak ada yang kurang dari penampilannya. Walimah dan Zaenuri sangat menyayangi Afisyah . Segala kebutuhannya selalu terpenuhi dan segala keinginannya selalu dipenuhi. Untung saja, Afisyah seorang anak yang tak banyak meminta apalagi menuntut. Kini, Afisyah tengah duduk dibangku kelas 2 SD. Walimah sang ibutak percaya jika anak semata wayangnya ini tidak naik kelas lagi! Sudah dua kali berturut-turut Afisyah tidak naik kelas. “Apakah kau tidak salah menilai? Tak mungkin jika anakku melakukan kesalahan ini dua kali berturut-turut!” Emosi Walimah sangat membara. “Saya bisa menjamin jika semua ini tidak ada kesalahan. Karena saya sendiri yang menilai dan yang melihat perkembangan Afisyah. Jika saya boleh menyarankan, sebaiknya Afisyah dipindah saja ke Sekolah Luar Biasa. Saya kira Afisyah bisa mendapatkan materi yang sesuai dengannya.” Tutur walikelas Afisyah dengan sangat pelan karena ia tahu bahwa orang yang sedang dihadapinya ini tengah emosi. Walimah bercerita semuanya kepada Zaenuri, dan ia pun menyetujui usulan walikelas Afisyah. Namun karena berlandaskan malu dan gengsi, Walimah tak setuju. Ia malu dihadapan teman-temannya nanti. Di tahun berikutnya Walimah mendaftarkan putrinya disekolah swasta yang ternama. Siapa sangka jika tanggapan walikelas Afisyah yang baru sama saja dengan yang lama. Tak terima dengan semua ini, Walimah langsung mengundurkan diri dari sekolah tersebut. Zaenuri telah hafal dengan watak istrinya itu, ia cukup sabar menghadapinya. Walimah memutuskan untuk mensekolahkan Afisyah dirumah saja atau Homescolling. Dengan cara ini, ia bisa membuktikan bahwa putrinya ini tidak bodoh. Aliyah adalah guru bari Afisyah. Denagn segala pengalamannya, ia diterima dengan baik oleh Walimah. Awalnyaia akan mengikuti perkembangan anak semata wayangnya ini. Akan tetapi pada kenyataannya ia terlalu sibuk dengan teman arisannya. Seharian ini Afisyah tak mau belajar, memegang pensilpun tidak. Aliyah bingung bukan main untuk membujuk Afisyah. Sang ibupun ditelpon tidak bisa, hpnya mati bahkan mailbox. otaknya berputar cepat, idenya muncul saat sebuah piano klasik berdiri tegak dengan gagahnya diruang mereka belajar. Aliyah memainkan pianonya dengan sangat lihay, tak ada satupun tuts
  • 2.
    piano yang tertekansalah. Iramanya begitu indah dan melantun bagaikan berada di tengah konser megah. Sejak saat itu Afisyah tak mau lagi belajar. Ia hanya mau bermain piano. Saat Walimah mengetahuinya, tanpa ampun ia langsung tidak diizinkan lagi untuk mengajar. Dengan amarah ia menceritakan semua kejadian ini kepada suaminya. Zaenuri menyarankan untuk mengukut IQ Afisyah. “Kamu pikir putri kita gila? Dia normal bahkan sehat.” Tolak keras Walimah. “Mengukur IQ Walimah bukan tes kejiwaan.” Ucap Zaenuri. Begitulah Walimah, sudah salah ngotot pula. Untung saja Walimah disandingkan dengan Zaenuri yang pintar berbicara apalagi merayu. Orang-orang yang keras kepala seperti istrinya ini dapat ditaklukan dengan mudah. Afisyah dibawa ke psikologi untuk diukur IQnya. Bagaikan bumerang yang telah jatuh ditengah mereka serta angin topan yang memporak porandakan hati mereka. Tak disangka. anak semata wayangnya ini memiliki nilai IQ yang rendah. Dibawah rata-rata orang normal yang pada umumnya diatas 100. Afisayah hanya memiliki IQ 65 dan dinyatakan tunagrahita. Sejak pengukuran saat itu, telah ada jarak antara Walima dan Afisyah. Ia tak mau mendekatinya, berbicara, bahkan menyentuhnya. Ia merasa bahwa anaknya telah cacat dan dia belum bisa menerima semuanya ini. Bukan cacat fisik hanya akalnya dibawah orang normal pada umumnya. Zaenuri, untuk kali ini telah kewalahan mengahadapi dan menasehati serta memperingatkan istrinya yang keras kepala ini. Ia hanya bisa menunggu hidayah dari yang Maha Kuasa. Suatu pagi yang cerah, Walimah sedang bersantai diruang televise. Mengganti-ganti channel berharap ada acara yang cukup menghibur hatinya setelah melihat anaknya menekan tuts piano tidak jelas. Tangannya terhenti saat acara motivasi sedang tayang secara live. “Saya mau beratnay dengan ibu-ibu disini dan yang dirumah. Anak kalian lebih banyak meminta atau member?” Tanya sang motivator ti suatu acara. “Memintaaaaaaa……” Jawab ibu-ibu dengan serentak. “Coba kalian lihat hp dan pandangi foto anak kalian.” Ucap sang motivator yang menyuruh ibu-ibu di studio dan yang dirumah. Walimah berlari dengan terbirit-birit menuju suara berasal. Ia langsung memeluk sang malaikat kecilnya ini dengan sangat erat disertai dengan cucuran air mata dari mata Walimah. Suasana menjadi hening dan mengharukan. Zaenuri yang daritadi di samping Afisyah terlihat sedang menyekat air matanya yang jatuh. “Mama ini lagu buat mama.” Ucap Afisyah yang satu-satunya tidak mengerti karena ia tidak mengetahui dengan keadaan yang telah terjadi pada dirinya. tiap dentingannya sangat indah dan Wlimah tak menyadari akan kelbihan yang Afisyah miliki. Walimah tak mau lagi menyia-nyiakan anaknya lagi atau bahkan membiarkannya. Ia akan merawat dan membimbingnya dengan pelan dan kasih sayang. Sekarang, ia telah bersekolah music di kalangan anak-anak cacat. Walupun dengan segala keterbatasannya, Afisyah dengan semangat yang berkobar-kobar tetap berjuang. Dalam kurun waktu yang tak lama,
  • 3.
    Afisyah dapat memainkanlagu luar negeri seperti Chopin, Bethoven, bahkan Mozart. Tak ragu lagi, Afisyah langsung ditawarkan untuk mengikuti lomba internasional di Swiss. “Sebenarnya anak tidak banyak meminta. Mereka tak minta jika dilahirkan dan melalui perunt anda-anda sekalian bukan? Kitalah yang meminta. Ingatkahkalian sangat memohon untuk dikeluarkannyalah dua garis merah yang pada akhirnya kalian senang dan gembira? Saat itulah kita menjadi calon orang tuan. Lantas, alasan apalagi yang harus kalian utarakan dan sesali?” Itulah kutipan sang motivator saat itu. Saat dimana Walimah sadar akan kesalahannya selama ini. Kesalahan yang telah menyia-nyiakan sang malaiakta kecilnya ini. Sekarang, Afisyah telah menjadi piani yang terkenak seduani. Pianis denagn biaya termahal dan paling berbakat diantara anak cacat lainnya. Ia dapatmenguasai lagu apapun bahkan yang tersulit sekalipun. Walimah selalu menitikkan air mata seiap melihat penampilan dan pertunjukkan anaknya yang sangat luar biasa. Dan kata lain yang diingat oleh Walimah dari sang motivator, “Kelemahan anak kita bukan halangan untuk maju. Ketekunan dan kekuatan kita menjadi energi buat mereka anak-anak kita. Kelemahan bukanlah suatu kekalahan melainkan kemenangan! Belajar dari meraka yang selalu memaknai hidup.”