PEMANFAATAN MINYAK JELANTAH (Used Cooking
Oil) SEBAGAI BIODIESEL MELALUI PROSES
TRANSESTERIFIKASI DENGAN KATALIS NaOH
Redi Febrian
Ine Nuhaeroh
Sarah Samrotul Fuadi
Irwina Sistia N
Praktikum
Biodiesel
BIOFUEL
Tujuan Penelitian
1. Mengetahui bagaimana proses transesterifikasi dalam pembuatan
biodiesel dari minyak jelantah
2. Mengetahui pengaruh katalis dalam pembuatan biodiesel
3. Mempelajari kualitas biodiesel dari minyak jelantah berdasarkan
analisa serta membandingkan dengan SNI Biodiesel.
Latar
Belakang
Minyak goreng bekas (minyak
jelantah) dapat digunakan sebagai
bahan baku dalam proses pembuatan
biodiesel. Biodiesel dapat di produksi
melalui reaksi antara minyak jelantah
dengan alkohol menggunakan katalis
homogen.
Minyak
Jelantah
METODELOGI
1. Pembuatan dan Standarisasi Larutan Standar NaOH 0,1 N
2. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah
 Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA)
 Preparasi Larutan Metoksi
 Tahap Transesterifikasi
 Pemisahan Katalis, Pencucian dan Pengeringan Biodiesel
3. Analisis Biodiesel
 Pengukuran FFA dan Angka Asam
 Pengukuran Densitas
 Pengukuran Viskositas
Pembuatan dan Standarisasi Larutan Standar NaOH 0,1 N
Melarutkan 1,001 gram NaOH dalam aquades dalam labu
ukur 250 ml. Setelah larutan NaOH 0,1 N terbentuk, dilakukan
standarisasi dengan larutan asam oksalat. Larutan asam oksalat
dibuat dengan melarutkan 0,6310 gram asam oksalat dengan
aquades dalam labu ukur 100 mL.
Larutan asam oksalat dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
sebanyak 5 mL dan diberi 2 tetes indikator PP. Kemudian larutan
asam oksalat dititrasi dengan larutan NaOH hingga larutan asam
oksalat berubah dari tidak berwarna menjadi merah muda
Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA)
Ditimbang 5 gram minyak goreng bekas dan
memasukkannya kedalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan
25 ml alkohol absolut. Selanjutnya dipanaskan pada suhu 60°
celsius selama 5 menit sambil diaduk.
Kemudian menambahkan indikator pp 1% sebanyak 3
tetes. Lalu dituangkan 10 ml NaOH 0,1 N yang telah
distandarisasi sebelumnya ke dalam buret dan titrasi campuran
hingga berubah warna menjadi merah jambu dan bertahan
sampai 15 detik.
Tahap Transesterifikasi
Memasukkan 50 mL (45,15 gram) minyak jelantah dicampurkan
dengan larutan metoksi dalam labu leher tiga. Direfluks pada suhu
65℃ selama 60 menit dan diaduk dengan stirer dengan kecepatan 800
rpm. Hasil refluks di pindahkan ke corong pisah dan mendiamkan
selama 24 jam hingga terbentuk dua lapisan. Bagian atas merupakan
biodiesel sedangkan bagian bawah merupakan gliserol. Membuka
valve corong pemisah untuk mengeluarkan lapisan bawah.
Tahap Pencucian
Sampel dinetralisasi dengan menambahkan larutan CH3COOH
hingga pH menjadi netral lalu melakukan pencucian dengan
menambahkan air hangat dengan perbandingan terhadap volume
lapisan atas 1:1 dengan suhu 80o celsius ke dalam corong pemisah
sampai warna air tidak keruh. Pencucian dilakukan 2-3 kali dengan
pencucian kedua dan seterusnya tanpa menambahkan larutan asam
asetat.
Analisis: Pengukuran Viskositas
Pengujian viskositas dilakukan berdasarkan SNI 04-7182-2015.
Pengujian ini dilakukan menggunakan alat viscometer Ostwald.
Biodiesel hasil sintesis dipanaskan hingga 40 ℃ dimasukkan ke dalam
tabung viskometer sampai tanda batas. Lalu menghisap cairan dengan
karet penghisap kedalam bola kecil hingga melewati batas atas pada
viscometer ostwald. Lalu membiarkan cairan mengalir kebawah hingga
tepat pada batas bawah. Kemudian mencatat waktu yang diperlukan
larutan untuk mengalir dari batas atas ke batas bawah dengan
stopwatch.
Analisa: Pengukuran Densitas
Pengujian densitas dilakukan berdasarkan SNI 04-7182-
2015. Pengujian dilakukan menggunakan piknometer yang telah
bersih dan kering. Piknometer 10 ml kosong ditimbang dan dicatat
hasilnya. Biodiesel dipanaskan hingga suhu 40 ℃. Piknometer
kosong diisi dengan biodiesel kemudian ditutup hingga meluap
dan tidak ada gelembung udara.
Hasil Pembahasan
Penentuan Free Fatty Acid atau FFA menggunakan
metode titrasi asam basa dengan larutan standart NaOH
0,1 N. NaOH yang telah distandarisasi kemudian
digunakan untuk menentukan kadar FFA minyak
jelantah. Volume NaOH rata-rata yang digunakan untuk
titrasi adalah 11 mL. Kemudian dilakukan perhitungan
kadar FFA dengan menggunakan persamaan yang dapat
dilihat pada Lampiran B. Kadar FFA dari minyak
jelantah adalah 0,5536% sehingga dapat langsung
dilakukan proses transesterifikasi
Penentuan Free Fatty Acid
Pembuatan larutan metoksi yaitu NaOH
dimasukkan ke dalam larutan metanol dan distirer
dengan kecepatan 400 rpm. Menurut Lotero dkk. (2005),
pembuatan larutan metoksi ini bertujuan untuk
membentuk ion alkoksida sebagai nukleofilik untuk
menyerang ikatan karbonil yang terdapat pada
trigliserida di minyak. Kemudian dilanjutkan dengan
pembuatan biodiesel yaitu minyak jelantah dicampurkan
pada larutan metoksi dalam labu leher tiga dan direfluks
pada suhu 65 °C
Pembuatan Metoksi dan Biodiesel
Fasa yang terpisah pada corong pisah. Lapisan pertama
(fasa atas) merupakan lapisan metil ester dimana
biodiesel terbentuk dan lapisan kedua (fasa bawah)
merupakan lapisan gliserol. Pembentukan lapisan ini
disebabkan karena adanya perbedaan massa jenis dimana
massa jenis biodiesel (850-890 kg/m3) lebih rendah
dibanding massa jenis gliserol (1260 kg/m3).
Pembuatan Biodiesel
Setelah dipisahkan dari corong pisah, biodiesel dicuci
dengan air hangat hingga warna air tidak keruh kembali.
Menurut Lopez dkk. (2009), pencucian dengan air
hangat berfungsi untuk mencegah presipitasi metil ester
jenuh dan pembentukan emulsi.
Biodiesel kemudian ditambahkan natrium sulfat
(Na2SO4). Menurut Karaosmanoglu dkk. (1996),
penambahan ini bertujuan untuk menarik sisa air yang
masih tersisa pada biodiesel.
Proses Penyaringan
Setelah itu, biodiesel dievaporasi dengan evaporator agar
didapatkan biodiesel yang murni. Biodiesel yang
terbentuk berwarna kuning jernih Sintesis biodiesel
dengan katalis basa diawali dengan reaksi antara metanol
dengan katalis basa menghasilkan ion alkoksida yang
berfungsi sebagai nukleofilik. Ion ini kemudian
menyerang karbonil pada rantai minyak. Setelah itu
terjadi penataan ulang pada ikatan-ikatan di trigliserida
membentuk metil ester dan katalis basa.
Hasil Biodiesel
Densitas berkaitan dengan nilai kalor dan daya
yang dihasilkan oleh mesin diesel. Densitas yang
rendah akan menghasilkan nilai kalor yang tinggi. .
Densitas dari biodiesel yang dihasilkan berkisar 873
kg/m3. Hal ini sesuai dengan standar SNI untuk
densitas dari biodiesel yang berkisar 850-890 kg/m3
pada suhu 40⁰C, Sehingga biodiesel dari minyak
jelantah ini memenuhi standar SNI untuk densitas
biodiesel.
Analisa Densitas
Viskositas kinematika juga merupakan salah satu
karakteristik bahan bakar diesel yang sangat penting
karena akan mempengaruhi kinerja injektor pada mesin
diesel (Riyanti, 2012). Bahan bakar disel yang terlalu
rendah viskositasnya akan memberikan pelumasan
yang buruk dan cenderung mengakibatkan kebocoran
pada pompa. Sebaliknya, viskositas yang terlalu tinggi
akan menyebabkan asap kotor karena bahan bakar
lambat mengalir dan lebih sulit teratomisasi (Triana,
2006).
Viskositas pada biodiesel berdasarkan SNI
bernilai 2,3-6 cSt. Nilai viskositas biodiesel yaitu 3,678
cSt. Hasil viskositas ini sesuai dengan standar SNI
sehingga biodiesel ini sesuai dengan standar SNI.
Analisa Viskositas
Kesimpulan
● Berdasarakan hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan
bahwa pembuatan biodesel dengan proses transesterifikasi dapat
dilakukan dengan cara mereaksikan trigliserida dalam minyak
jelantah dengan metanol dan menambahakan katalis NaOH untuk
mempercepat reaksi.
● Hasil analisa kadar FFA sampel minyak jelantah sebesar 0,621%.
Hasil yield yang didapatkan sebesar 52%. Dari semua variabel
yang uji didapatkan hasil pada uji densitas sebesar 873 Kg/m3.
Viskositas sebesar 3,678 cSt; dan angka asam sebesar 0,24 mg
KOH/g. hasil analisa biodesel pada masing – masing variabel
sudah sesuai dengan SNI 04-7182-2006.

Biodiesel.pptx

  • 1.
    PEMANFAATAN MINYAK JELANTAH(Used Cooking Oil) SEBAGAI BIODIESEL MELALUI PROSES TRANSESTERIFIKASI DENGAN KATALIS NaOH Redi Febrian Ine Nuhaeroh Sarah Samrotul Fuadi Irwina Sistia N Praktikum Biodiesel BIOFUEL
  • 2.
    Tujuan Penelitian 1. Mengetahuibagaimana proses transesterifikasi dalam pembuatan biodiesel dari minyak jelantah 2. Mengetahui pengaruh katalis dalam pembuatan biodiesel 3. Mempelajari kualitas biodiesel dari minyak jelantah berdasarkan analisa serta membandingkan dengan SNI Biodiesel.
  • 3.
    Latar Belakang Minyak goreng bekas(minyak jelantah) dapat digunakan sebagai bahan baku dalam proses pembuatan biodiesel. Biodiesel dapat di produksi melalui reaksi antara minyak jelantah dengan alkohol menggunakan katalis homogen. Minyak Jelantah
  • 4.
    METODELOGI 1. Pembuatan danStandarisasi Larutan Standar NaOH 0,1 N 2. Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah  Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA)  Preparasi Larutan Metoksi  Tahap Transesterifikasi  Pemisahan Katalis, Pencucian dan Pengeringan Biodiesel 3. Analisis Biodiesel  Pengukuran FFA dan Angka Asam  Pengukuran Densitas  Pengukuran Viskositas
  • 5.
    Pembuatan dan StandarisasiLarutan Standar NaOH 0,1 N Melarutkan 1,001 gram NaOH dalam aquades dalam labu ukur 250 ml. Setelah larutan NaOH 0,1 N terbentuk, dilakukan standarisasi dengan larutan asam oksalat. Larutan asam oksalat dibuat dengan melarutkan 0,6310 gram asam oksalat dengan aquades dalam labu ukur 100 mL. Larutan asam oksalat dimasukkan ke dalam Erlenmeyer sebanyak 5 mL dan diberi 2 tetes indikator PP. Kemudian larutan asam oksalat dititrasi dengan larutan NaOH hingga larutan asam oksalat berubah dari tidak berwarna menjadi merah muda
  • 6.
    Penentuan Kadar AsamLemak Bebas (FFA) Ditimbang 5 gram minyak goreng bekas dan memasukkannya kedalam erlenmeyer. Kemudian ditambahkan 25 ml alkohol absolut. Selanjutnya dipanaskan pada suhu 60° celsius selama 5 menit sambil diaduk. Kemudian menambahkan indikator pp 1% sebanyak 3 tetes. Lalu dituangkan 10 ml NaOH 0,1 N yang telah distandarisasi sebelumnya ke dalam buret dan titrasi campuran hingga berubah warna menjadi merah jambu dan bertahan sampai 15 detik.
  • 7.
    Tahap Transesterifikasi Memasukkan 50mL (45,15 gram) minyak jelantah dicampurkan dengan larutan metoksi dalam labu leher tiga. Direfluks pada suhu 65℃ selama 60 menit dan diaduk dengan stirer dengan kecepatan 800 rpm. Hasil refluks di pindahkan ke corong pisah dan mendiamkan selama 24 jam hingga terbentuk dua lapisan. Bagian atas merupakan biodiesel sedangkan bagian bawah merupakan gliserol. Membuka valve corong pemisah untuk mengeluarkan lapisan bawah.
  • 8.
    Tahap Pencucian Sampel dinetralisasidengan menambahkan larutan CH3COOH hingga pH menjadi netral lalu melakukan pencucian dengan menambahkan air hangat dengan perbandingan terhadap volume lapisan atas 1:1 dengan suhu 80o celsius ke dalam corong pemisah sampai warna air tidak keruh. Pencucian dilakukan 2-3 kali dengan pencucian kedua dan seterusnya tanpa menambahkan larutan asam asetat.
  • 9.
    Analisis: Pengukuran Viskositas Pengujianviskositas dilakukan berdasarkan SNI 04-7182-2015. Pengujian ini dilakukan menggunakan alat viscometer Ostwald. Biodiesel hasil sintesis dipanaskan hingga 40 ℃ dimasukkan ke dalam tabung viskometer sampai tanda batas. Lalu menghisap cairan dengan karet penghisap kedalam bola kecil hingga melewati batas atas pada viscometer ostwald. Lalu membiarkan cairan mengalir kebawah hingga tepat pada batas bawah. Kemudian mencatat waktu yang diperlukan larutan untuk mengalir dari batas atas ke batas bawah dengan stopwatch.
  • 10.
    Analisa: Pengukuran Densitas Pengujiandensitas dilakukan berdasarkan SNI 04-7182- 2015. Pengujian dilakukan menggunakan piknometer yang telah bersih dan kering. Piknometer 10 ml kosong ditimbang dan dicatat hasilnya. Biodiesel dipanaskan hingga suhu 40 ℃. Piknometer kosong diisi dengan biodiesel kemudian ditutup hingga meluap dan tidak ada gelembung udara.
  • 11.
  • 12.
    Penentuan Free FattyAcid atau FFA menggunakan metode titrasi asam basa dengan larutan standart NaOH 0,1 N. NaOH yang telah distandarisasi kemudian digunakan untuk menentukan kadar FFA minyak jelantah. Volume NaOH rata-rata yang digunakan untuk titrasi adalah 11 mL. Kemudian dilakukan perhitungan kadar FFA dengan menggunakan persamaan yang dapat dilihat pada Lampiran B. Kadar FFA dari minyak jelantah adalah 0,5536% sehingga dapat langsung dilakukan proses transesterifikasi Penentuan Free Fatty Acid
  • 13.
    Pembuatan larutan metoksiyaitu NaOH dimasukkan ke dalam larutan metanol dan distirer dengan kecepatan 400 rpm. Menurut Lotero dkk. (2005), pembuatan larutan metoksi ini bertujuan untuk membentuk ion alkoksida sebagai nukleofilik untuk menyerang ikatan karbonil yang terdapat pada trigliserida di minyak. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan biodiesel yaitu minyak jelantah dicampurkan pada larutan metoksi dalam labu leher tiga dan direfluks pada suhu 65 °C Pembuatan Metoksi dan Biodiesel
  • 14.
    Fasa yang terpisahpada corong pisah. Lapisan pertama (fasa atas) merupakan lapisan metil ester dimana biodiesel terbentuk dan lapisan kedua (fasa bawah) merupakan lapisan gliserol. Pembentukan lapisan ini disebabkan karena adanya perbedaan massa jenis dimana massa jenis biodiesel (850-890 kg/m3) lebih rendah dibanding massa jenis gliserol (1260 kg/m3). Pembuatan Biodiesel
  • 15.
    Setelah dipisahkan daricorong pisah, biodiesel dicuci dengan air hangat hingga warna air tidak keruh kembali. Menurut Lopez dkk. (2009), pencucian dengan air hangat berfungsi untuk mencegah presipitasi metil ester jenuh dan pembentukan emulsi. Biodiesel kemudian ditambahkan natrium sulfat (Na2SO4). Menurut Karaosmanoglu dkk. (1996), penambahan ini bertujuan untuk menarik sisa air yang masih tersisa pada biodiesel. Proses Penyaringan
  • 16.
    Setelah itu, biodieseldievaporasi dengan evaporator agar didapatkan biodiesel yang murni. Biodiesel yang terbentuk berwarna kuning jernih Sintesis biodiesel dengan katalis basa diawali dengan reaksi antara metanol dengan katalis basa menghasilkan ion alkoksida yang berfungsi sebagai nukleofilik. Ion ini kemudian menyerang karbonil pada rantai minyak. Setelah itu terjadi penataan ulang pada ikatan-ikatan di trigliserida membentuk metil ester dan katalis basa. Hasil Biodiesel
  • 17.
    Densitas berkaitan dengannilai kalor dan daya yang dihasilkan oleh mesin diesel. Densitas yang rendah akan menghasilkan nilai kalor yang tinggi. . Densitas dari biodiesel yang dihasilkan berkisar 873 kg/m3. Hal ini sesuai dengan standar SNI untuk densitas dari biodiesel yang berkisar 850-890 kg/m3 pada suhu 40⁰C, Sehingga biodiesel dari minyak jelantah ini memenuhi standar SNI untuk densitas biodiesel. Analisa Densitas
  • 18.
    Viskositas kinematika jugamerupakan salah satu karakteristik bahan bakar diesel yang sangat penting karena akan mempengaruhi kinerja injektor pada mesin diesel (Riyanti, 2012). Bahan bakar disel yang terlalu rendah viskositasnya akan memberikan pelumasan yang buruk dan cenderung mengakibatkan kebocoran pada pompa. Sebaliknya, viskositas yang terlalu tinggi akan menyebabkan asap kotor karena bahan bakar lambat mengalir dan lebih sulit teratomisasi (Triana, 2006). Viskositas pada biodiesel berdasarkan SNI bernilai 2,3-6 cSt. Nilai viskositas biodiesel yaitu 3,678 cSt. Hasil viskositas ini sesuai dengan standar SNI sehingga biodiesel ini sesuai dengan standar SNI. Analisa Viskositas
  • 19.
    Kesimpulan ● Berdasarakan hasilpraktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pembuatan biodesel dengan proses transesterifikasi dapat dilakukan dengan cara mereaksikan trigliserida dalam minyak jelantah dengan metanol dan menambahakan katalis NaOH untuk mempercepat reaksi. ● Hasil analisa kadar FFA sampel minyak jelantah sebesar 0,621%. Hasil yield yang didapatkan sebesar 52%. Dari semua variabel yang uji didapatkan hasil pada uji densitas sebesar 873 Kg/m3. Viskositas sebesar 3,678 cSt; dan angka asam sebesar 0,24 mg KOH/g. hasil analisa biodesel pada masing – masing variabel sudah sesuai dengan SNI 04-7182-2006.