RISIKO MENJADI MUSLIM
Apa saja risikonya bila menjadi orang
Islam saat ini. Mohon dijawab sebagai
orang yang beriman yang memahami
risiko, bukan sebagai asal beriman yang
hanya tahu itu dosa dan yang itu juga dosa
juga. Faham ya?
Sebagai seorang Muslim yang hidup di era
modern, ada beberapa risiko yang
mungkin dihadapi, baik dalam konteks
sosial, politik, maupun spiritual. Berikut
adalah beberapa risiko tersebut:
1. Stigma dan Islamofobia
- Risiko
- Konsekuensi
2. Tantangan Identitas
- Risiko
- Konsekuensi
3. Ujian Keimanan
- Risiko
- Konsekuensi
4. Krisis Pemahaman Agama
- Risiko
- Konsekuensi
5. Tantangan Hukum dan Kebijakan
- Risiko
- Konsekuensi
6. Pemisahan Dunia dan Akhirat
- Risiko
- Konsekuensi
7. Ujian Solidaritas
- Risiko
- Konsekuensi
8. Tekanan Ekonomi
- Risiko
- Konsekuensi
Namun, di balik risiko ini, ada banyak
peluang untuk memperkuat iman,
memperbaiki diri, dan berkontribusi
kepada masyarakat. Seorang Muslim yang
memahami risikonya dapat lebih bijak
dalam menghadapi tantangan dan tetap
teguh pada prinsip-prinsip Islam.
Minimal setipis apa iman seseorang agar
yang penting selamat di dunia dan di
akhirat?
Iman yang paling minimal agar seseorang
selamat di dunia dan akhirat adalah iman
yang tetap ada di hati, meskipun tipis,
selama ia memenuhi dua syarat utama:
1. Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dengan ikhlas
- Yakin sepenuh hati bahwa Allah adalah
satu-satunya Tuhan yang berhak
disembah, dan Muhammad ‫ﷺ‬ adalah
utusan-Nya.
- Keyakinan ini tidak boleh dicampur
dengan keraguan atau kesyirikan.
2. Mengucapkan Kalimat Tauhid dengan
keikhlasan
- Mengikrarkan,
- Kalimat ini adalah pintu masuk ke dalam
Islam, selama diucapkan dengan
kejujuran dan tanpa kemunafikan.
Minimal Amal yang Menyelamatkan
Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:"Barang siapa
mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan
ikhlas, maka ia akan masuk surga." (HR.
Bukhari dan Muslim)
Namun, iman tidak cukup hanya di lisan.
Setidaknya ada beberapa konsekuensi
minimal dari iman yang selamat:
1. Tidak Meninggalkan Shalat Secara Total
- Shalat adalah pembeda antara Muslim
dan kafir. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:
2. Tidak Melakukan Kesyirikan Besar
- Kesyirikan adalah dosa terbesar yang
tidak diampuni jika tidak bertaubat (QS.
An-Nisa [4]: 48).
3. Menjauhi Kekufuran yang Membatalkan
Iman
- Seperti menghina agama, mengingkari
kewajiban pokok, atau mendukung
kebatilan yang jelas bertentangan dengan
Islam.
Sederhananya:
Iman minimal yang cukup untuk selamat
adalah iman yang:
- Masih hidup di hati (tidak mati).
- Tampak dalam bentuk amal minimal,
seperti shalat.
- Bebas dari dosa-dosa besar yang
menghancurkan iman, seperti syirik dan
kufur.
Namun, meskipun ini adalah level
minimal, seorang Muslim harus berusaha
meningkatkan keimanannya, karena iman
yang tipis rentan tergelincir. Usaha untuk
memantapkan hati, memperbaiki ibadah,
dan memperbanyak amal adalah bukti
nyata bahwa kita menghargai nikmat iman
yang Allah berikan.
Apakah apabila amal seseorang hancur
lebur (habithot a'maal), lantas bagaimana
ia bisa tetap selamat?
Apabila amal seseorang hancur lebur
( ْ
‫ت‬َ‫ط‬ِ‫ب‬َ‫ح‬
ْ
ُ‫ه‬ُ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬‫ع‬َ‫أ‬ , habithat a'maluh), ini
menandakan bahwa amal-amal tersebut
tidak diterima oleh Allah. Dalam Islam,
ada beberapa sebab yang dapat
menghancurkan amal, seperti syirik,
riddah (murtad), riya (pamer amal), dan
dosa-dosa besar yang tidak diiringi taubat.
Namun, meskipun amal hancur,
keselamatan tetap mungkin dicapai jika
iman di hati tetap terjaga dan seseorang
bertaubat sebelum wafat.
Berikut penjelasannya:
1. Menghindari Penyebab Kehancuran
Amal
Penyebab utama amal hancur adalah
dosa besar yang berkaitan dengan
keimanan. Di antaranya:
- Syirik besar
- Riddah (keluar dari Islam)
Jika seseorang menghindari dosa-dosa ini
dan kembali bertaubat jika pernah
melakukannya, masih ada peluang untuk
keselamatan.
2. Taubat Sebelum Ajal Tiba
Allah Maha Pengampun. Jika seseorang
bertaubat dengan tulus, dosa-dosanya
diampuni, termasuk yang menghancurkan
amal. Rasulullah ‫ﷺ‬
bersabda:"Sesungguhnya Allah menerima
taubat seorang hamba selama ruhnya
belum sampai ke kerongkongan.” (HR.
Tirmidzi).
Taubat ini harus memenuhi syarat:
- Menyesal
- Berhenti
- Berazam
Dengan taubat, amal yang sebelumnya
hancur bisa kembali dicatat, dan
seseorang bisa meraih rahmat Allah.
3. Bergantung pada Rahmat Allah
Jika amal seseorang benar-benar habis,
keselamatannya bergantung sepenuhnya
pada rahmat Allah. Allah
berfirman:“Sesungguhnya Allah tidak
mengampuni dosa syirik, tetapi Dia
mengampuni dosa selain itu bagi siapa
yang Dia kehendaki.”(QS. An-Nisa [4]: 48).
Rasulullah ‫ﷺ‬ juga bersabda:"Tidak ada
seorang pun yang masuk surga karena
amalnya." Para sahabat bertanya,
'Termasuk engkau, wahai Rasulullah?'
Beliau menjawab, 'Ya, termasuk aku,
kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-
Nya kepadaku.'” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Dengan rahmat Allah, seseorang tetap
bisa selamat meskipun amalnya sedikit
atau bahkan tidak sempurna. Namun,
rahmat ini biasanya diberikan kepada
mereka yang masih memiliki iman, tidak
bermaksiat secara sengaja hingga ajal,
dan menunjukkan usaha untuk bertobat.
4. Keselamatan melalui Syafaat
Bagi Muslim yang amalnya rusak, syafaat
Rasulullah ‫ﷺ‬ atau syafaat dari amal
tertentu, seperti Tauhid (La ilaha illallah),
dapat menjadi penyebab
keselamatannya. Rasulullah ‫ﷺ‬
bersabda:"Barang siapa mengucapkan 'La
ilaha illallah' dengan ikhlas, maka ia akan
keluar dari neraka.” (HR. Bukhari).
Kesimpulan
Jika amal seseorang hancur lebur,
keselamatannya bergantung pada:
1. Iman yang tetap ada di hati
2. Taubat tulus
3. Rahmat Allah dan syafaat Rasulullah ‫ﷺ‬
Karena itu, meskipun amal telah rusak,
selama iman tetap terjaga dan seseorang
kembali kepada Allah dengan penuh
penyesalan, keselamatan di akhirat masih
mungkin diraih. Namun, tidak ada jaminan
mutlak, sehingga kita harus terus
berusaha memperbaiki diri sebelum
terlambat.
Apakah persiapan harian menjelang wafat
itu lebih penting daripada persiapan
harian untuk beramal sesuai parameter
sosial. Siang malam kerja agar dianggap
patuh dan disiplin kerja?
Persiapan harian menjelang wafat jauh
lebih penting daripada persiapan untuk
memenuhi parameter sosial, meskipun
keduanya memiliki tempat masing-
masing dalam kehidupan seorang Muslim.
Berikut adalah penjelasannya:
1. Persiapan Menjelang Wafat: Prioritas
Utama
Allah dan Rasul-Nya menekankan bahwa
kehidupan dunia hanyalah sementara,
sedangkan akhirat adalah tujuan utama:
- “Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan
merasakan mati, dan hanya pada hari
Kiamat sajalah diberikan dengan
sempurna balasanmu...”
Persiapan untuk wafat berarti:
- Memperbaiki hubungan dengan Allah
- Menjaga hati dari penyakit batin
- Menjaga amal saleh harian
Persiapan ini lebih penting karena
kehidupan setelah mati adalah abadi. Apa
yang kita lakukan setiap hari harus
diarahkan untuk meraih ridha Allah.
2. Parameter Sosial: Penting, tapi Bukan
Utama
Persiapan untuk memenuhi standar
sosial, seperti kerja keras, disiplin, atau
patuh pada aturan kerja, juga bagian dari
ibadah jika diniatkan karena Allah.
Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:“Sebaik-baik
manusia adalah yang paling bermanfaat
bagi orang lain.” (HR. Ahmad).
Namun, ada beberapa catatan:
- Jika fokus pada parameter sosial
mengabaikan ibadah utama atau
menyebabkan lupa akan akhirat, ini
menjadi masalah. Allah mengingatkan:
- Bekerja siang malam hanya untuk
mendapatkan penghargaan manusia atau
reputasi tanpa niat ikhlas tidak akan
bernilai di sisi Allah. Amal seperti ini
rentan menjadi sia-sia (QS. Al-Kahfi [18]:
103-104).
3. Menyeimbangkan Kedua Hal
Islam mengajarkan keseimbangan antara
dunia dan akhirat:
- “Carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi
janganlah kamu lupakan bagianmu di
dunia...”
Untuk itu:
- Niatkan setiap aktivitas duniawi sebagai
ibadah, misalnya bekerja untuk
memenuhi kebutuhan keluarga,
membantu masyarakat, dan menunaikan
hak orang lain.
- Tetap prioritaskan amal akhirat, seperti
shalat tepat waktu, sedekah, dan
muhasabah diri setiap hari.
- Jangan terjebak dalam perlombaan
dunia yang tidak berujung. Rasulullah ‫ﷺ‬
bersabda:
Kesimpulan
Persiapan untuk wafat adalah prioritas
utama, karena hidup ini hanya jembatan
menuju akhirat. Namun, persiapan untuk
memenuhi parameter sosial juga penting
selama dilakukan dengan niat yang benar
dan tidak melalaikan kewajiban kepada
Allah. Seimbangkan keduanya, tetapi
pastikan tujuan akhir tetap tertuju kepada
ridha Allah dan keselamatan di akhirat.
Parameter agama sering harus dikalahkan
untuk memenuhi parameter pekerjaan. Ini
berdosa atau bisa dimaklumi?
Mengalahkan parameter agama demi
memenuhi parameter pekerjaan bisa
menjadi dosa jika melibatkan pelanggaran
terhadap kewajiban agama yang jelas dan
prinsip-prinsip Islam. Namun, ada
konteks di mana hal tersebut mungkin
dimaklumi, tergantung pada situasi dan
niat seseorang. Berikut adalah
penjelasannya:
1. Ketika Pengabaian Parameter Agama
Menjadi Dosa
Jika seseorang secara sadar mengabaikan
kewajiban agama demi pekerjaan, ini
tergolong dosa. Contohnya:
- Meninggalkan shalat wajib
- Melakukan hal haram demi pekerjaan
Dalam situasi ini, agama tidak boleh
dikalahkan oleh pekerjaan, karena
keselamatan akhirat lebih penting
daripada kesuksesan dunia.
2. Ketika Hal Tersebut Bisa Dimaklumi
Ada situasi tertentu di mana kompromi
dapat dimaklumi, terutama jika terkait
dengan darurat atau kesulitan yang tidak
bisa dihindari. Misalnya:
- Kondisi darurat
- Ketidaktahuan
3. Prioritas dalam Islam
Islam mengajarkan keseimbangan antara
kehidupan dunia dan akhirat, tetapi
parameter agama selalu menjadi
prioritas. Allah berfirman:“Katakanlah,
sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidupku, dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-
An’am [6]: 162).
Namun, Islam juga tidak mengabaikan
pentingnya bekerja dan memenuhi
kewajiban duniawi:
- Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:
Maka, bekerja adalah ibadah jika
dilakukan dengan niat yang benar dan
tidak melanggar hukum agama.
4. Cara Menghindari Konflik antara Agama
dan Pekerjaan
Untuk menghindari konflik ini, ada
beberapa langkah yang bisa diambil:
1. Tetapkan Prioritas
2. Berkomunikasi dengan Atasan
3. Cari Pekerjaan yang Halal dan
Mendukung Ibadah
4. Perkuat Niat dan Tawakkal
Kesimpulan
Mengalahkan parameter agama demi
pekerjaan adalah dosa jika itu melibatkan
pelanggaran terhadap kewajiban agama
atau larangan syariat. Namun, dalam
kondisi darurat atau kesulitan yang tidak
bisa dihindari, hal ini bisa dimaklumi.
Seorang Muslim harus berusaha menjaga
keseimbangan, memastikan bahwa
pekerjaan dilakukan dengan cara yang
halal tanpa mengabaikan hak Allah, dan
selalu bertawakkal kepada-Nya untuk
rezeki yang barakah.
Bagaimana bisa pada orang yang tampak
patuh pada agama tapi menjadi pemalas,
tidak disiplin, sulit diatur dan bahkan
pembangkang. Tapi juga tidak jelas
sebagai pelanggar nyata pada aturan
sosial.
Fenomena seseorang yang tampak patuh
pada agama tetapi memiliki sifat malas,
tidak disiplin, sulit diatur, atau bahkan
pembangkang adalah kondisi yang sering
kali mencerminkan adanya
ketidakseimbangan antara pemahaman
agama dan implementasi dalam
kehidupan nyata. Hal ini tidak berarti
bahwa agama yang ia peluk salah, tetapi
lebih pada kesalahan individu dalam
memahami atau menerapkan nilai-nilai
agama. Berikut adalah analisisnya:
1. Ketidakseimbangan antara Ibadah
Ritual dan Etika Sosial
- Ibadah Ritual Tanpa Pemahaman
MendalamSeseorang bisa rajin
menjalankan ibadah seperti shalat,
puasa, dan membaca Al-Qur'an, tetapi
jika ia tidak memahami nilai-nilai akhlak
yang terkandung dalam ibadah tersebut,
ia bisa gagal mencerminkan perilaku
islami dalam kehidupan sehari-hari.
- Shalat, misalnya, seharusnya
mencegah perbuatan keji dan mungkar
(QS. Al-Ankabut [29]: 45). Jika ini tidak
tercermin, mungkin shalatnya belum
dilakukan dengan khusyuk atau hanya
formalitas.
- Kesalahan Memisahkan Agama dan
Kehidupan DuniawiSebagian orang
menganggap agama hanya terkait dengan
ibadah di masjid atau saat tertentu,
sementara disiplin, kerja keras, dan
tanggung jawab dianggap "urusan dunia."
Padahal Islam mengajarkan integrasi
keduanya:
- "Sesungguhnya Allah mencintai
seseorang yang apabila melakukan suatu
pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan
(profesional dan sempurna)."
2. Salah Faham tentang Makna "Patuh
pada Agama"
- Mengutamakan Simbol daripada
EsensiAda yang fokus pada penampilan
atau ritual tanpa memahami bahwa patuh
pada agama mencakup etika, tanggung
jawab, dan hubungan baik dengan
manusia (hablum minannas).
- Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:
- Rasa Aman Palsu terhadap Amal
IbadahSebagian orang berpikir bahwa
ibadah ritual saja sudah cukup untuk
menjamin keselamatannya, sehingga
tidak peduli pada perilaku buruk yang ia
lakukan. Padahal, Rasulullah ‫ﷺ‬
bersabda:"Tahukah kalian siapa orang
yang bangkrut? ... yaitu orang yang datang
pada hari kiamat dengan membawa
shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia
mencaci orang lain, menuduh tanpa bukti,
memakan harta orang lain,
menumpahkan darah, dan memukul
orang lain..." (HR. Muslim).
3. Penyebab Psikologis dan Sosial
Selain alasan keagamaan, ada faktor lain
yang dapat menyebabkan perilaku seperti
ini:
- Kurangnya Pendidikan Karakter
- Lingkungan yang Tidak Mendukung
- Masalah Pribadi atau Psikologis
4. Solusi untuk Memperbaiki Kondisi Ini
1. Pendalaman Pemahaman Agama
- Belajar agama secara menyeluruh,
termasuk aspek akhlak, tanggung jawab
sosial, dan disiplin.
- Mengajarkan bahwa bekerja keras dan
patuh pada aturan juga bagian dari
ibadah.
2. Muhasabah Diri
- Mengingat bahwa Islam tidak hanya
mengukur seseorang dari ibadah ritual,
tetapi juga dari kontribusi sosial dan
akhlak.
- Memperbaiki niat, menyadari bahwa
sifat malas atau pembangkang dapat
merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
3. Lingkungan yang Mendukung
- Bergaul dengan orang-orang yang
disiplin dan bertanggung jawab untuk
memotivasi diri.
- Menghindari lingkungan yang
membenarkan sifat buruk tersebut.
4. Menanamkan Prinsip Amanah
- Memahami bahwa seorang Muslim
adalah khalifah di bumi yang wajib
menjaga amanah, baik dalam ibadah
maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:
5. Konsultasi dan Dukungan
- Jika sifat buruk ini disebabkan oleh
masalah psikologis, konsultasi dengan
ahli atau mendapatkan dukungan sosial
bisa membantu memperbaikinya.
Kesimpulan
Patuh pada agama tidak cukup hanya
dalam bentuk ritual ibadah, tetapi harus
diwujudkan dalam akhlak dan perilaku
sehari-hari. Jika seseorang terlihat religius
tetapi memiliki sifat malas atau sulit
diatur, itu menunjukkan adanya
kekurangan dalam memahami atau
menginternalisasi nilai-nilai agama.
Solusinya adalah memperbaiki
pemahaman, muhasabah diri, dan
menciptakan lingkungan yang mendukung
perubahan positif. Islam adalah agama
yang memadukan ketaatan kepada Allah
dengan tanggung jawab kepada sesama
manusia.
Orang yang tampak memperjuangkan
agamanya justru menjadi sial dalam
pergaulan sosialnya. Apakah tuntutan
sosial memang lebih penting pada zaman
sekarang, agar tampak sukses dan doanya
terkabul?
Fenomena di mana seseorang yang
tampak memperjuangkan agamanya
justru dianggap "sial" dalam pergaulan
sosial bisa terjadi karena konteks zaman,
standar sosial yang berubah, atau cara
seseorang membawa dirinya di
masyarakat. Namun, ini tidak berarti
bahwa tuntutan sosial lebih penting
daripada memperjuangkan agama. Islam
mengajarkan keseimbangan antara
hubungan dengan Allah (hablum
minallah) dan hubungan dengan sesama
manusia (hablum minannas). Berikut
adalah analisisnya:
1. Memperjuangkan Agama vs. Kebutuhan
Sosial
- Memperjuangkan agama tidak berarti
mengabaikan etika sosial atau kebutuhan
hidup. Allah memerintahkan
keseimbangan:“Dan carilah pada apa
yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi
janganlah kamu lupakan bagianmu di
dunia...” (QS. Al-Qashash [28]: 77).
- Namun, tuntutan sosial yang dimaksud
dalam pertanyaan sering kali didasarkan
pada standar materialisme atau
popularitas, bukan nilai-nilai etis. Jika
seseorang hanya fokus pada standar
tersebut, ia bisa melupakan tujuan utama
hidup, yaitu meraih ridha Allah. Rasulullah
‫ﷺ‬ bersabda:“Barang siapa menjadikan
dunia sebagai tujuan utamanya, maka
Allah akan membuatnya selalu dalam
kegelisahan...” (HR. Tirmidzi).
2. Mengapa Orang yang Memperjuangkan
Agama Bisa Dianggap "Sial"?
Beberapa alasan mengapa seseorang
yang berkomitmen pada agama bisa
menghadapi tantangan sosial:
- Konflik Nilai
- Cara Penyampaian yang Tidak Bijak
- Ujian dari Allah
3. Apakah Tuntutan Sosial Lebih Penting?
Tidak. Namun, Islam mengajarkan bahwa
seorang Muslim harus memperhatikan
aspek sosial selama tidak melanggar
prinsip agama. Rasulullah ‫ﷺ‬
bersabda:“Seorang Muslim adalah orang
yang membuat orang lain selamat dari
lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari).
- Tuntutan sosial yang positif
- Tuntutan sosial yang negatif
Jika seseorang tampak sukses secara
sosial tetapi mengabaikan agamanya,
keberhasilannya hanyalah semu.
Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:“Sungguh
beruntung orang yang diberi hidayah
masuk Islam, diberi kecukupanrezeki, dan
merasa puas dengan apa yang diberikan
Allah kepadanya.” (HR. Muslim).
4. Bagaimana Menyikapi Hal Ini?
1. Kuatkan Niat dan SabarJika seseorang
menghadapi kesulitan dalam
memperjuangkan agama, ia harus yakin
bahwa Allah akan membalas
perjuangannya di dunia atau akhirat.
Firman-Nya:“Janganlah kamu bersikap
lemah, dan janganlah bersedih hati,
padahal kamulah orang-orang yang paling
tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang
beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 139).
2. Perbaiki Akhlak dalam
PergaulanMemperjuangkan agama tidak
berarti menjauhi masyarakat. Rasulullah
‫ﷺ‬ adalah teladan terbaik, yang
memperjuangkan agama tetapi juga
sangat dekat dengan masyarakatnya,
ramah, dan bijak dalam menyampaikan
ajaran Islam.
3. Jangan Mengukur Doa dengan
Kesuksesan SosialKesuksesan sosial
tidak menjamin doa terkabul. Doa yang
tulus kepada Allah bergantung pada
hubungan seseorang dengan-Nya, bukan
pada bagaimana ia terlihat di mata
manusia.
4. Seimbangkan Dunia dan AkhiratJangan
abaikan tuntutan duniawi, seperti bekerja
dan bersosialisasi, selama itu tidak
melanggar syariat. Islam mengajarkan
bahwa bekerja mencari nafkah juga
bagian dari ibadah jika niatnya benar.
Kesimpulan
Tuntutan sosial tidak lebih penting
daripada memperjuangkan agama.
Namun, Islam mendorong keseimbangan:
memperjuangkan agama dengan tetap
memperhatikan etika sosial dan
kehidupan duniawi. Kesulitan yang
dihadapi dalam memperjuangkan agama
adalah ujian yang harus dihadapi dengan
sabar dan bijak. Jangan mengejar
kesuksesan sosial demi pujian manusia,
tetapi fokuslah pada ridha Allah, karena
itu yang akan membawa kebahagiaan
sejati di dunia dan akhirat.
Apakah bumi ini akan selalu dipimpin oleh
orang orang yang dzalim, munafik bahkan
kafir? Yaitu disaat orang-orang yang
berjuang secara Islam malah tidak disukai
secara umum?
Pertanyaan ini menyentuh fenomena yang
sering terjadi dalam sejarah: orang-orang
yang benar dan memperjuangkan
kebenaran sering kali mendapatkan
penolakan, sedangkan para pemimpin
yang dzalim atau tidak bertakwa justru
tampak mendominasi. Dalam pandangan
Islam, ada beberapa hal yang dapat
dijelaskan mengenai hal ini:
1. Fenomena Pemimpin yang Dzalim
dalam Sejarah
Islam mengakui bahwa kedzaliman dan
kepemimpinan yang buruk sering muncul,
terutama ketika masyarakat
meninggalkan nilai-nilai kebenaran. Halini
disebabkan oleh:
- Masyarakat yang Melalaikan AgamaAllah
menjadikan kepemimpinan buruk sebagai
ujian bagi umat manusia ketika mereka
tidak menjalankan ajaran Islam dengan
benar. Firman Allah:“Dan demikianlah
Kami jadikan sebagian orang-orang yang
dzalim menjadi pemimpin bagi sebagian
yang lain, disebabkan apa yang mereka
kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 129).
- Dunia Sebagai Tempat UjianDunia
adalah tempat ujian, dan adanya
pemimpin dzalim adalah bagian dari ujian
tersebut. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:“Kalian
akan mendapati pemimpin-pemimpin
yang tidak menjalankan petunjukku dan
tidak mengikuti sunnahku...” (HR.
Muslim).
2. Mengapa Pejuang Islam Tidak Disukai?
- Kebenaran Itu Berat DiterimaKebenaran
sering kali bertentangan dengan hawa
nafsu manusia. Firman Allah:“Dan
kebenaran itu telah datang kepada
mereka, tetapi kebanyakan mereka
membenci kebenaran itu.” (QS. Az-
Zukhruf [43]: 78).
- Kekuatan Pengaruh DuniawiOrang-orang
yang dzalim sering menggunakan
kekuatan duniawi, propaganda, dan
kekuasaan untuk menindas orang yang
memperjuangkan Islam, sebagaimana
yang terjadi pada para nabi. Firman
Allah:“Demikianlah setiap nabi Kami
jadikan musuh dari golongan orang-orang
berdosa.” (QS. Al-Furqan [25]: 31).
- Pejuang Islam Kadang Kurang
BijakTerkadang, orang-orang yang
memperjuangkan Islam tidak
menggunakan hikmah dan metode yang
sesuai dengan tuntunan Rasulullah ‫ﷺ‬,
sehingga cara mereka menimbulkan
resistensi dari masyarakat.
3. Apakah Dunia Selalu Dipimpin oleh
Orang Dzalim?
Tidak selalu. Ada janji Allah bahwa
kebenaran akan tegak di muka bumi:
- Janji Kekuasaan bagi Orang BerimanAllah
berjanji memberikan kepemimpinan
kepada orang-orang yang beriman dan
beramal saleh:“Dan Allah telah berjanji
kepada orang-orang yang beriman di
antara kamu dan mengerjakan amal-amal
yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh
akan menjadikan mereka berkuasa di
bumi...” (QS. An-Nur [24]: 55).
- Kepemimpinan Orang Shalih dalam
SejarahAda banyak contoh pemimpin
Islam yang adil, seperti Rasulullah ‫ﷺ‬,
Khulafaur Rasyidin, Umar bin Abdul Aziz,
dan lainnya. Mereka adalah bukti bahwa
kepemimpinan yang adil dan bertakwa
bisa terwujud ketika umat menjalankan
ajaran Islam dengan benar.
Namun, ketika masyarakat tidak
memenuhi syarat-syarat keimanan dan
amal saleh, Allah membiarkan
kedzaliman berkuasa sebagai peringatan
atau hukuman.
4. Sikap yang Harus Diambil
Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh
pasrah pada kedzaliman. Berikut adalah
langkah yang bisa dilakukan:
1. Memperbaiki Diri dan MasyarakatUmat
Islam harus memperbaiki akhlak,
memperkuat ilmu agama, dan bersatu.
Pemimpin yang baik muncul dari
masyarakat yang baik. Firman
Allah:“Sesungguhnya Allah tidak akan
mengubah keadaan suatu kaum sampai
mereka mengubah keadaan yang ada
pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d
[13]: 11).
2. Bersabar dan Tetap BerjuangRasulullah
‫ﷺ‬ dan para nabi menghadapi penolakan
dan kedzaliman, tetapi mereka tetap
bersabar dan terus berdakwah. Rasulullah
‫ﷺ‬ bersabda:“Sesungguhnya setelah
kesulitan ada kemudahan, dan
sesungguhnya kemenangan itu bersama
kesabaran.” (HR. Ahmad).
3. Gunakan Cara yang Bijak dan
DamaiPerjuangan Islam harus dilakukan
dengan cara yang sesuai dengan syariat,
menggunakan hikmah dan pendekatan
yang lembut, sebagaimana firman
Allah:“Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125).
4. Berdoa dan Bertawakal kepada
AllahJangan meremehkan kekuatan doa.
Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:“Doa adalah
senjata orang mukmin.” (HR. Abu Ya’la).
Kesimpulan
Meskipun dunia sering dipimpin oleh
orang-orang dzalim, itu bukan kondisi
yang permanen. Kepemimpinan yang adil
dan bertakwa bisa terwujud jika umat
Islam memperbaiki diri, bersatu, dan terus
berjuang dengan cara yang benar. Jangan
menyerah pada keadaan, karena tugas
seorang Muslim adalah berusaha
menegakkan kebenaran dan menyerahkan
hasilnya kepada Allah. Firman-
Nya:“Kebenaran telah datang, dan yang
batil itu pasti lenyap. Sesungguhnya yang
batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”
(QS. Al-Isra [17]: 81).
Tidak bisa membaca Alquran.
Tidak peduli dengan pembohongan,
ngibul.
Tapi justru bisa jadi pemimpin yang
tertinggi di dalam kelompok plural.
Fenomena apa ini?
Fenomena ini mencerminkan situasi di
mana nilai-nilai agama dan etika
terabaikan dalam seleksi kepemimpinan,
sering kali karena standar duniawi atau
kebutuhan pragmatis lebih diutamakan
daripada kriteria moral atau spiritual.
Fenomena ini bukan hal baru, bahkan
telah disebutkan dalam Al-Qur'an dan
hadis, di mana Allah memperingatkan
bahwa kedzaliman dan kejahilan bisa
menjadi ciri suatu zaman ketika
masyarakat tidak lagi mengutamakan
kebenaran. Berikut adalah analisisnya:
1. Mengapa Orang yang Tidak Memiliki
Nilai Keagamaan Bisa Menjadi Pemimpin?
Ada beberapa alasan mengapa ini terjadi:
a. Sistem Sosial yang Rusak
Ketika masyarakat lebih mementingkan
kekuasaan, kepentingan kelompok, atau
keuntungan materi, standar pemilihan
pemimpin bergeser dari kriteria moral ke
kriteria pragmatis:
- Kekuasaan dan Koneksi
- Kebutuhan Pluralitas
b. Kehilangan Standar Kebenaran
Masyarakat yang kehilangan pegangan
terhadap nilai-nilai agama dan etika
cenderung lebih menerima kebohongan,
manipulasi, dan pragmatisme. Rasulullah
‫ﷺ‬ bersabda: "Akan tiba saatnya
pembohong dipercaya, dan orang jujur
dianggap pembohong." (HR.Ahmad).
C. Pencemaran Nama Baik di Akhir Zaman
Fenomena ini merupakan tanda fitnah
akhir zaman yang telah diperingatkan oleh
Nabi ‫ﷺ‬:
- "Ketika kepercayaan disia-siakan,
tunggulah kehancuran!" Mereka bertanya,
'Bagaimana sia-sia amanah itu wahai
Rasulullah?' Beliau menjawab, ‘Apabila
urusan diserahkan kepada orang yang
bukan anggota, maka tunggulah
kehancurannya.’”
2. Apa Konsekuensinya bagi Masyarakat?
Kepemimpinan seperti ini sering
membawa dampak negatif:
- Hilangnya Keadilan
- Kerusakan Moral
- Meningkatnya Kebingungan Sosial
3. Apakah Fenomena Ini Bisa Dijelaskan
dalam Islam?
Ya, Islam telah memberikan penjelasan
tentang fenomena ini sebagai ujian bagi
umat manusia:
- Ujian untuk Membedakan Orang
BerimanAllah membiarkan orang-orang
yang tidak layak memimpin sebagai ujian
bagi umat:“Dan demikianlah Kami jadikan
sebagian orang-orang yang dzalim
menjadi pemimpin bagi sebagian yang
lain, disebabkan apa yang mereka
kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 129).
- Tanda-Tanda Akhir ZamanRasulullah ‫ﷺ‬
bersabda bahwa di akhir zaman,
kepemimpinan akan diberikan kepada
orang-orang yang tidak memiliki nilai
moral:“Akan datang kepada manusia
tahun-tahun penuh penipuan. Ketika itu,
orang yang jujur dianggap pendusta, dan
pendusta dipercaya.” (HR. Ahmad).
4. Bagaimana Menyikapinya?
Sebagai seorang Muslim, ada beberapa
langkah yang dapat diambil:
a. Berpegang Teguh pada Kebenaran
Meskipun sulit, kita harus tetap
mempertahankan nilai-nilai kebenaran
dan kejujuran, meskipun mayoritas
masyarakat tidak peduli. Firman
Allah:“Dan katakanlah, ‘Kebenaran itu
datangnya dari Tuhanmu; maka barang
siapa yang ingin (beriman), hendaklah ia
beriman, dan barang siapa yang ingin
(kafir), biarlah ia kafir.’” (QS. Al-Kahfi [18]:
29).
b. Memperbaiki Diri dan Masyarakat
Umat Islam harus memulai dari diri sendiri
dan komunitasnya untuk menghidupkan
kembali nilai-nilai agama dan akhlak
dalam kehidupan sehari-hari.
Kepemimpinan yang baik akan muncul
dari masyarakat yang baik.
c. Sabar dan Berdoa
Rasulullah ‫ﷺ‬ mengajarkan untuk bersabar
menghadapi kedzaliman dan terus berdoa
kepada Allah agar diberikan pemimpin
yang adil dan bertakwa.
d. Berpartisipasi dalam Perubahan
Jika memungkinkan, umat Islam harus
aktif dalam membentuk sistem yang lebih
adil, termasuk mendukung calon
pemimpin yang memiliki integritas moral
dan nilai-nilai keagamaan.
Kesimpulan
Fenomena di mana orang yang tidak
memiliki nilai keagamaan atau kejujuran
menjadi pemimpin mencerminkan krisis
moral dan spiritual dalam masyarakat.
Islam melihat ini sebagai ujian dan
peringatan agar umat tetap berpegang
teguh pada nilai-nilai kebenaran. Sebagai
seorang Muslim, tugas kita adalah
memperbaiki diri, bersabar, dan terus
berusaha untuk membangun masyarakat
yang lebih baik, sambil tetap percaya
bahwa pada akhirnya, kebenaran akan
menang sesuai dengan janji Allah:“Dan
katakanlah: Kebenaran telah datang dan
yang batil itu pasti lenyap. Sesungguhnya
yang batil itu adalah sesuatu yang pasti
lenyap.” (QS. Al-Isra [17]: 81).
Orang beriman sering tampak kalah,
bodoh, sial dibanding dengan orang
munafik yang pembual, pembohong,
menjilat dan tampak sukses. Apakah ini
juga risiko sebagai orang beriman atau
cuekin saja karena itu hanya permainan di
dunia?
Fenomena di mana orang beriman tampak
kalah, bodoh, atau sial dibanding dengan
orang munafik yang tampak sukses dan
cerdas, adalah salah satu ujian yang
sering dihadapi oleh umat Islam di dunia
ini. Hal ini bisa dilihat sebagai bagian dari
risiko kehidupan dunia yang penuh
dengan ujian dan tantangan. Islam
mengajarkan bahwa kehidupan dunia ini
adalah tempat ujian dan bukan tempat
bagi kenyamanan dan kesenangan abadi.
Ada beberapa perspektif dalam menjawab
pertanyaan ini:
1. Dunia Ini Tempat Ujian, Bukan Tujuan
Akhir
Dunia ini adalah tempat ujian bagi setiap
manusia. Tuhan berkata: “Kami telah
menciptakan mati dan hidup untuk
menguji siapa di antara kalian yang lebih
baik amalnya.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).Dunia
seringkali memberi gambaran yang
menyesatkan, di mana kedzoliman dan
kebohongan tampak menang sementara
orang yang beriman tampak kalah.
Namun, itu hanyalah sementara dan
bagian dari ujian kehidupan. Rasulullah ‫ﷺ‬
mengingatkan:“Sesungguhnya dunia ini
adalah penjara bagi orang beriman dan
surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim).
Maksudnya, dunia ini penuh dengan
tantangan bagi orang beriman karena
mereka harus berpegang teguh pada
kebenaran, meskipun dalam situasi yang
sulit.
2. Ujian Iman dan Kesabaran
Orang beriman sering menghadapi
kesulitan, penindasan, dan ketidakadilan,
sementara orang-orang yang tidak
beriman atau munafik mungkin tampak
berhasil dalam kehidupan dunia. Ini
adalah ujian bagi orang beriman, seperti
yang tercantum dalam Al-Qur'an:“Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk
surga padahal belum datang kepadamu
(cobaan) seperti yang terjadi sebelum
kamu? Mereka dirundung kemiskinan dan
penderitaan, serta tergoncang (oleh
berbagai cobaan), sehingga rasul dan
orang-orang mukmin bertanya, 'Kapankah
Allah akan menolong?' Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu
sangat dekat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 214).
Penting bagi orang beriman untuk sabar
dan tetap tawakal (berserah diri) kepada
Allah, karena janji-Nya adalah
pertolongan pasti akan datang. Kesulitan
yang dialami di dunia ini hanyalah
sementara, dan di akhiratlah kemenangan
yang sejati.
3. Dunia Bukanlah Ukuran Kesuksesan
Sejati
Kesuksesan di dunia tidak selalu
menunjukkan keberhasilan yang hakiki di
sisi Allah. Banyak orang yang tampak
sukses, kaya, atau berkuasa di dunia ini,
namun mereka tidak berada di jalan yang
benar menurut Islam. Rasulullah ‫ﷺ‬
bersabda: “Sesungguhnya amal itu
tergantung niatnya, dan setiap orang akan
mendapatkan sesuai dengan apa yang
diniatkannya...” (HR. Bukhari dan
Muslim).Dalam perspektif Islam,
kesuksesan sejati adalah kesuksesan
yang berlandaskan pada ketaatan kepada
Allah dan amal saleh . Orang yang tampak
sukses di dunia tetapi tidak beriman atau
tidak hidup dengan benar, pada akhirnya
tidak akan mendapat kebahagiaan sejati,
baik di dunia maupun di akhirat.
4. Tidak Perlu Terlalu Peduli dengan
Tampilan Dunia
Meskipun kadang-kadang kita melihat
orang yang munafik atau tidak jujur
tampak lebih sukses atau dihormati di
dunia, hal ini seharusnya tidak
mengganggu ketenangan hati seorang
Muslim. Kita diajarkan untuk tidak terlalu
terikat pada dunia yang sementara ini.
Allah berfirman:“Dan janganlah kamu iri
hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah
kepada sebagian kamu lebih banyak dari
sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa [4]:
32).Kita harus tetap fokus pada tujuan
utama hidup kita, yaitu meraih keridhaan
Allah. Jika kita beriman dan beramal saleh,
maka kesuksesan duniawi yang tampak
pada orang lain tidak seharusnya menjadi
ukuran kebahagiaan kita.
5. Janji Allah untuk Orang yang Bersabar
Tuhan menjanjikan pahala yang besar bagi
orang-orang yang bersabar dalam
menghadapi cobaan hidup, termasuk
dalam menghadapi ketidakadilan dan
kesenjangan dunia. Dalam sebuah hadits,
Nabi ‫ﷺ‬ bersabda: “Jika Allah mencintai
seseorang, Dia akan mengujinya.”
(HR.Bukhari). Ketika kita diuji, kesabaran
kita akan membuahkan pahala yang besar
di akhirat. Selain itu, Allah berjanji akan
memberikan kemenangan kepada orang-
orang yang beriman, meski mungkin
mereka tidak mendapatkannya di dunia
ini. Nabi ‫ﷺ‬ bersabda: “Sesungguhnya
Allah tidak melihat tubuh dan
penampilanmu, tetapi Dia melihat hati
dan amalmu.” (HR.Muslim).
Kesimpulan
Orang beriman memang sering
menghadapi ujian, dan dunia ini sering kali
menunjukkan gambaran yang keliru, di
mana orang yang tidak jujur atau munafik
tampak sukses. Namun, ini adalah bagian
dari ujian hidup yang harus dihadapi
dengan sabar, tawakal, dan tetap
berpegang pada nilai-nilai agama. Dunia
ini tidak lebih dari sementara dan ujian .
Kesuksesan sejati ada di akhirat, di mana
amal baik dan ketakwaan akan mendapat
balasan yang sempurna. Kita tidak perlu
terlalu peduli dengan tampilan duniawi
orang lain, karena yang penting adalah
bagaimana kita menjalani hidup ini sesuai
dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Apa Saja Risikonya Bila Menjadi Orang Islam Saat Ini

Apa Saja Risikonya Bila Menjadi Orang Islam Saat Ini

  • 1.
    RISIKO MENJADI MUSLIM Apasaja risikonya bila menjadi orang Islam saat ini. Mohon dijawab sebagai orang yang beriman yang memahami risiko, bukan sebagai asal beriman yang hanya tahu itu dosa dan yang itu juga dosa juga. Faham ya? Sebagai seorang Muslim yang hidup di era modern, ada beberapa risiko yang mungkin dihadapi, baik dalam konteks sosial, politik, maupun spiritual. Berikut adalah beberapa risiko tersebut: 1. Stigma dan Islamofobia
  • 2.
    - Risiko - Konsekuensi 2.Tantangan Identitas - Risiko - Konsekuensi 3. Ujian Keimanan - Risiko - Konsekuensi 4. Krisis Pemahaman Agama
  • 3.
    - Risiko - Konsekuensi 5.Tantangan Hukum dan Kebijakan - Risiko - Konsekuensi 6. Pemisahan Dunia dan Akhirat - Risiko - Konsekuensi 7. Ujian Solidaritas
  • 4.
    - Risiko - Konsekuensi 8.Tekanan Ekonomi - Risiko - Konsekuensi Namun, di balik risiko ini, ada banyak peluang untuk memperkuat iman, memperbaiki diri, dan berkontribusi kepada masyarakat. Seorang Muslim yang memahami risikonya dapat lebih bijak dalam menghadapi tantangan dan tetap teguh pada prinsip-prinsip Islam.
  • 5.
    Minimal setipis apaiman seseorang agar yang penting selamat di dunia dan di akhirat? Iman yang paling minimal agar seseorang selamat di dunia dan akhirat adalah iman yang tetap ada di hati, meskipun tipis, selama ia memenuhi dua syarat utama: 1. Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan ikhlas - Yakin sepenuh hati bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak
  • 6.
    disembah, dan Muhammad‫ﷺ‬ adalah utusan-Nya. - Keyakinan ini tidak boleh dicampur dengan keraguan atau kesyirikan. 2. Mengucapkan Kalimat Tauhid dengan keikhlasan - Mengikrarkan, - Kalimat ini adalah pintu masuk ke dalam Islam, selama diucapkan dengan kejujuran dan tanpa kemunafikan. Minimal Amal yang Menyelamatkan Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:"Barang siapa mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan ikhlas, maka ia akan masuk surga." (HR. Bukhari dan Muslim)
  • 7.
    Namun, iman tidakcukup hanya di lisan. Setidaknya ada beberapa konsekuensi minimal dari iman yang selamat: 1. Tidak Meninggalkan Shalat Secara Total - Shalat adalah pembeda antara Muslim dan kafir. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda: 2. Tidak Melakukan Kesyirikan Besar - Kesyirikan adalah dosa terbesar yang tidak diampuni jika tidak bertaubat (QS. An-Nisa [4]: 48). 3. Menjauhi Kekufuran yang Membatalkan Iman - Seperti menghina agama, mengingkari kewajiban pokok, atau mendukung
  • 8.
    kebatilan yang jelasbertentangan dengan Islam. Sederhananya: Iman minimal yang cukup untuk selamat adalah iman yang: - Masih hidup di hati (tidak mati). - Tampak dalam bentuk amal minimal, seperti shalat. - Bebas dari dosa-dosa besar yang menghancurkan iman, seperti syirik dan kufur.
  • 9.
    Namun, meskipun iniadalah level minimal, seorang Muslim harus berusaha meningkatkan keimanannya, karena iman yang tipis rentan tergelincir. Usaha untuk memantapkan hati, memperbaiki ibadah, dan memperbanyak amal adalah bukti nyata bahwa kita menghargai nikmat iman yang Allah berikan. Apakah apabila amal seseorang hancur lebur (habithot a'maal), lantas bagaimana ia bisa tetap selamat? Apabila amal seseorang hancur lebur ( ْ ‫ت‬َ‫ط‬ِ‫ب‬َ‫ح‬ ْ ُ‫ه‬ُ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬‫ع‬َ‫أ‬ , habithat a'maluh), ini
  • 10.
    menandakan bahwa amal-amaltersebut tidak diterima oleh Allah. Dalam Islam, ada beberapa sebab yang dapat menghancurkan amal, seperti syirik, riddah (murtad), riya (pamer amal), dan dosa-dosa besar yang tidak diiringi taubat. Namun, meskipun amal hancur, keselamatan tetap mungkin dicapai jika iman di hati tetap terjaga dan seseorang bertaubat sebelum wafat. Berikut penjelasannya: 1. Menghindari Penyebab Kehancuran Amal
  • 11.
    Penyebab utama amalhancur adalah dosa besar yang berkaitan dengan keimanan. Di antaranya: - Syirik besar - Riddah (keluar dari Islam) Jika seseorang menghindari dosa-dosa ini dan kembali bertaubat jika pernah melakukannya, masih ada peluang untuk keselamatan. 2. Taubat Sebelum Ajal Tiba
  • 12.
    Allah Maha Pengampun.Jika seseorang bertaubat dengan tulus, dosa-dosanya diampuni, termasuk yang menghancurkan amal. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:"Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai ke kerongkongan.” (HR. Tirmidzi). Taubat ini harus memenuhi syarat: - Menyesal - Berhenti - Berazam
  • 13.
    Dengan taubat, amalyang sebelumnya hancur bisa kembali dicatat, dan seseorang bisa meraih rahmat Allah. 3. Bergantung pada Rahmat Allah Jika amal seseorang benar-benar habis, keselamatannya bergantung sepenuhnya pada rahmat Allah. Allah berfirman:“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.”(QS. An-Nisa [4]: 48).
  • 14.
    Rasulullah ‫ﷺ‬ jugabersabda:"Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya." Para sahabat bertanya, 'Termasuk engkau, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Ya, termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat- Nya kepadaku.'” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan rahmat Allah, seseorang tetap bisa selamat meskipun amalnya sedikit atau bahkan tidak sempurna. Namun, rahmat ini biasanya diberikan kepada mereka yang masih memiliki iman, tidak bermaksiat secara sengaja hingga ajal, dan menunjukkan usaha untuk bertobat.
  • 15.
    4. Keselamatan melaluiSyafaat Bagi Muslim yang amalnya rusak, syafaat Rasulullah ‫ﷺ‬ atau syafaat dari amal tertentu, seperti Tauhid (La ilaha illallah), dapat menjadi penyebab keselamatannya. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:"Barang siapa mengucapkan 'La ilaha illallah' dengan ikhlas, maka ia akan keluar dari neraka.” (HR. Bukhari). Kesimpulan
  • 16.
    Jika amal seseoranghancur lebur, keselamatannya bergantung pada: 1. Iman yang tetap ada di hati 2. Taubat tulus 3. Rahmat Allah dan syafaat Rasulullah ‫ﷺ‬ Karena itu, meskipun amal telah rusak, selama iman tetap terjaga dan seseorang kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan, keselamatan di akhirat masih mungkin diraih. Namun, tidak ada jaminan mutlak, sehingga kita harus terus berusaha memperbaiki diri sebelum terlambat.
  • 17.
    Apakah persiapan harianmenjelang wafat itu lebih penting daripada persiapan harian untuk beramal sesuai parameter sosial. Siang malam kerja agar dianggap patuh dan disiplin kerja? Persiapan harian menjelang wafat jauh lebih penting daripada persiapan untuk memenuhi parameter sosial, meskipun keduanya memiliki tempat masing- masing dalam kehidupan seorang Muslim. Berikut adalah penjelasannya:
  • 18.
    1. Persiapan MenjelangWafat: Prioritas Utama Allah dan Rasul-Nya menekankan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan utama: - “Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu...” Persiapan untuk wafat berarti: - Memperbaiki hubungan dengan Allah - Menjaga hati dari penyakit batin
  • 19.
    - Menjaga amalsaleh harian Persiapan ini lebih penting karena kehidupan setelah mati adalah abadi. Apa yang kita lakukan setiap hari harus diarahkan untuk meraih ridha Allah. 2. Parameter Sosial: Penting, tapi Bukan Utama Persiapan untuk memenuhi standar sosial, seperti kerja keras, disiplin, atau patuh pada aturan kerja, juga bagian dari ibadah jika diniatkan karena Allah. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:“Sebaik-baik
  • 20.
    manusia adalah yangpaling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad). Namun, ada beberapa catatan: - Jika fokus pada parameter sosial mengabaikan ibadah utama atau menyebabkan lupa akan akhirat, ini menjadi masalah. Allah mengingatkan: - Bekerja siang malam hanya untuk mendapatkan penghargaan manusia atau reputasi tanpa niat ikhlas tidak akan bernilai di sisi Allah. Amal seperti ini rentan menjadi sia-sia (QS. Al-Kahfi [18]: 103-104).
  • 21.
    3. Menyeimbangkan KeduaHal Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat: - “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...” Untuk itu: - Niatkan setiap aktivitas duniawi sebagai ibadah, misalnya bekerja untuk
  • 22.
    memenuhi kebutuhan keluarga, membantumasyarakat, dan menunaikan hak orang lain. - Tetap prioritaskan amal akhirat, seperti shalat tepat waktu, sedekah, dan muhasabah diri setiap hari. - Jangan terjebak dalam perlombaan dunia yang tidak berujung. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda: Kesimpulan Persiapan untuk wafat adalah prioritas utama, karena hidup ini hanya jembatan menuju akhirat. Namun, persiapan untuk
  • 23.
    memenuhi parameter sosialjuga penting selama dilakukan dengan niat yang benar dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah. Seimbangkan keduanya, tetapi pastikan tujuan akhir tetap tertuju kepada ridha Allah dan keselamatan di akhirat. Parameter agama sering harus dikalahkan untuk memenuhi parameter pekerjaan. Ini berdosa atau bisa dimaklumi? Mengalahkan parameter agama demi memenuhi parameter pekerjaan bisa menjadi dosa jika melibatkan pelanggaran terhadap kewajiban agama yang jelas dan
  • 24.
    prinsip-prinsip Islam. Namun,ada konteks di mana hal tersebut mungkin dimaklumi, tergantung pada situasi dan niat seseorang. Berikut adalah penjelasannya: 1. Ketika Pengabaian Parameter Agama Menjadi Dosa Jika seseorang secara sadar mengabaikan kewajiban agama demi pekerjaan, ini tergolong dosa. Contohnya: - Meninggalkan shalat wajib
  • 25.
    - Melakukan halharam demi pekerjaan Dalam situasi ini, agama tidak boleh dikalahkan oleh pekerjaan, karena keselamatan akhirat lebih penting daripada kesuksesan dunia. 2. Ketika Hal Tersebut Bisa Dimaklumi Ada situasi tertentu di mana kompromi dapat dimaklumi, terutama jika terkait dengan darurat atau kesulitan yang tidak bisa dihindari. Misalnya:
  • 26.
    - Kondisi darurat -Ketidaktahuan 3. Prioritas dalam Islam Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, tetapi parameter agama selalu menjadi prioritas. Allah berfirman:“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al- An’am [6]: 162).
  • 27.
    Namun, Islam jugatidak mengabaikan pentingnya bekerja dan memenuhi kewajiban duniawi: - Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda: Maka, bekerja adalah ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar dan tidak melanggar hukum agama. 4. Cara Menghindari Konflik antara Agama dan Pekerjaan
  • 28.
    Untuk menghindari konflikini, ada beberapa langkah yang bisa diambil: 1. Tetapkan Prioritas 2. Berkomunikasi dengan Atasan 3. Cari Pekerjaan yang Halal dan Mendukung Ibadah 4. Perkuat Niat dan Tawakkal Kesimpulan Mengalahkan parameter agama demi pekerjaan adalah dosa jika itu melibatkan pelanggaran terhadap kewajiban agama
  • 29.
    atau larangan syariat.Namun, dalam kondisi darurat atau kesulitan yang tidak bisa dihindari, hal ini bisa dimaklumi. Seorang Muslim harus berusaha menjaga keseimbangan, memastikan bahwa pekerjaan dilakukan dengan cara yang halal tanpa mengabaikan hak Allah, dan selalu bertawakkal kepada-Nya untuk rezeki yang barakah. Bagaimana bisa pada orang yang tampak patuh pada agama tapi menjadi pemalas, tidak disiplin, sulit diatur dan bahkan pembangkang. Tapi juga tidak jelas sebagai pelanggar nyata pada aturan sosial.
  • 30.
    Fenomena seseorang yangtampak patuh pada agama tetapi memiliki sifat malas, tidak disiplin, sulit diatur, atau bahkan pembangkang adalah kondisi yang sering kali mencerminkan adanya ketidakseimbangan antara pemahaman agama dan implementasi dalam kehidupan nyata. Hal ini tidak berarti bahwa agama yang ia peluk salah, tetapi lebih pada kesalahan individu dalam memahami atau menerapkan nilai-nilai agama. Berikut adalah analisisnya:
  • 31.
    1. Ketidakseimbangan antaraIbadah Ritual dan Etika Sosial - Ibadah Ritual Tanpa Pemahaman MendalamSeseorang bisa rajin menjalankan ibadah seperti shalat, puasa, dan membaca Al-Qur'an, tetapi jika ia tidak memahami nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam ibadah tersebut, ia bisa gagal mencerminkan perilaku islami dalam kehidupan sehari-hari. - Shalat, misalnya, seharusnya mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut [29]: 45). Jika ini tidak tercermin, mungkin shalatnya belum dilakukan dengan khusyuk atau hanya formalitas.
  • 32.
    - Kesalahan MemisahkanAgama dan Kehidupan DuniawiSebagian orang menganggap agama hanya terkait dengan ibadah di masjid atau saat tertentu, sementara disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab dianggap "urusan dunia." Padahal Islam mengajarkan integrasi keduanya: - "Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional dan sempurna)." 2. Salah Faham tentang Makna "Patuh pada Agama"
  • 33.
    - Mengutamakan Simboldaripada EsensiAda yang fokus pada penampilan atau ritual tanpa memahami bahwa patuh pada agama mencakup etika, tanggung jawab, dan hubungan baik dengan manusia (hablum minannas). - Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda: - Rasa Aman Palsu terhadap Amal IbadahSebagian orang berpikir bahwa ibadah ritual saja sudah cukup untuk menjamin keselamatannya, sehingga tidak peduli pada perilaku buruk yang ia lakukan. Padahal, Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:"Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut? ... yaitu orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia
  • 34.
    mencaci orang lain,menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain..." (HR. Muslim). 3. Penyebab Psikologis dan Sosial Selain alasan keagamaan, ada faktor lain yang dapat menyebabkan perilaku seperti ini: - Kurangnya Pendidikan Karakter - Lingkungan yang Tidak Mendukung - Masalah Pribadi atau Psikologis
  • 35.
    4. Solusi untukMemperbaiki Kondisi Ini 1. Pendalaman Pemahaman Agama - Belajar agama secara menyeluruh, termasuk aspek akhlak, tanggung jawab sosial, dan disiplin. - Mengajarkan bahwa bekerja keras dan patuh pada aturan juga bagian dari ibadah. 2. Muhasabah Diri - Mengingat bahwa Islam tidak hanya mengukur seseorang dari ibadah ritual,
  • 36.
    tetapi juga darikontribusi sosial dan akhlak. - Memperbaiki niat, menyadari bahwa sifat malas atau pembangkang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain. 3. Lingkungan yang Mendukung - Bergaul dengan orang-orang yang disiplin dan bertanggung jawab untuk memotivasi diri. - Menghindari lingkungan yang membenarkan sifat buruk tersebut. 4. Menanamkan Prinsip Amanah - Memahami bahwa seorang Muslim adalah khalifah di bumi yang wajib menjaga amanah, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:
  • 37.
    5. Konsultasi danDukungan - Jika sifat buruk ini disebabkan oleh masalah psikologis, konsultasi dengan ahli atau mendapatkan dukungan sosial bisa membantu memperbaikinya. Kesimpulan Patuh pada agama tidak cukup hanya dalam bentuk ritual ibadah, tetapi harus diwujudkan dalam akhlak dan perilaku sehari-hari. Jika seseorang terlihat religius tetapi memiliki sifat malas atau sulit diatur, itu menunjukkan adanya kekurangan dalam memahami atau
  • 38.
    menginternalisasi nilai-nilai agama. Solusinyaadalah memperbaiki pemahaman, muhasabah diri, dan menciptakan lingkungan yang mendukung perubahan positif. Islam adalah agama yang memadukan ketaatan kepada Allah dengan tanggung jawab kepada sesama manusia. Orang yang tampak memperjuangkan agamanya justru menjadi sial dalam pergaulan sosialnya. Apakah tuntutan sosial memang lebih penting pada zaman sekarang, agar tampak sukses dan doanya terkabul?
  • 39.
    Fenomena di manaseseorang yang tampak memperjuangkan agamanya justru dianggap "sial" dalam pergaulan sosial bisa terjadi karena konteks zaman, standar sosial yang berubah, atau cara seseorang membawa dirinya di masyarakat. Namun, ini tidak berarti bahwa tuntutan sosial lebih penting daripada memperjuangkan agama. Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). Berikut adalah analisisnya:
  • 40.
    1. Memperjuangkan Agamavs. Kebutuhan Sosial - Memperjuangkan agama tidak berarti mengabaikan etika sosial atau kebutuhan hidup. Allah memerintahkan keseimbangan:“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia...” (QS. Al-Qashash [28]: 77). - Namun, tuntutan sosial yang dimaksud dalam pertanyaan sering kali didasarkan pada standar materialisme atau popularitas, bukan nilai-nilai etis. Jika seseorang hanya fokus pada standar tersebut, ia bisa melupakan tujuan utama hidup, yaitu meraih ridha Allah. Rasulullah
  • 41.
    ‫ﷺ‬ bersabda:“Barang siapamenjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan membuatnya selalu dalam kegelisahan...” (HR. Tirmidzi). 2. Mengapa Orang yang Memperjuangkan Agama Bisa Dianggap "Sial"? Beberapa alasan mengapa seseorang yang berkomitmen pada agama bisa menghadapi tantangan sosial: - Konflik Nilai - Cara Penyampaian yang Tidak Bijak
  • 42.
    - Ujian dariAllah 3. Apakah Tuntutan Sosial Lebih Penting? Tidak. Namun, Islam mengajarkan bahwa seorang Muslim harus memperhatikan aspek sosial selama tidak melanggar prinsip agama. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:“Seorang Muslim adalah orang yang membuat orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari). - Tuntutan sosial yang positif - Tuntutan sosial yang negatif
  • 43.
    Jika seseorang tampaksukses secara sosial tetapi mengabaikan agamanya, keberhasilannya hanyalah semu. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:“Sungguh beruntung orang yang diberi hidayah masuk Islam, diberi kecukupanrezeki, dan merasa puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.” (HR. Muslim). 4. Bagaimana Menyikapi Hal Ini? 1. Kuatkan Niat dan SabarJika seseorang menghadapi kesulitan dalam memperjuangkan agama, ia harus yakin
  • 44.
    bahwa Allah akanmembalas perjuangannya di dunia atau akhirat. Firman-Nya:“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 139). 2. Perbaiki Akhlak dalam PergaulanMemperjuangkan agama tidak berarti menjauhi masyarakat. Rasulullah ‫ﷺ‬ adalah teladan terbaik, yang memperjuangkan agama tetapi juga sangat dekat dengan masyarakatnya, ramah, dan bijak dalam menyampaikan ajaran Islam. 3. Jangan Mengukur Doa dengan Kesuksesan SosialKesuksesan sosial tidak menjamin doa terkabul. Doa yang
  • 45.
    tulus kepada Allahbergantung pada hubungan seseorang dengan-Nya, bukan pada bagaimana ia terlihat di mata manusia. 4. Seimbangkan Dunia dan AkhiratJangan abaikan tuntutan duniawi, seperti bekerja dan bersosialisasi, selama itu tidak melanggar syariat. Islam mengajarkan bahwa bekerja mencari nafkah juga bagian dari ibadah jika niatnya benar. Kesimpulan Tuntutan sosial tidak lebih penting daripada memperjuangkan agama.
  • 46.
    Namun, Islam mendorongkeseimbangan: memperjuangkan agama dengan tetap memperhatikan etika sosial dan kehidupan duniawi. Kesulitan yang dihadapi dalam memperjuangkan agama adalah ujian yang harus dihadapi dengan sabar dan bijak. Jangan mengejar kesuksesan sosial demi pujian manusia, tetapi fokuslah pada ridha Allah, karena itu yang akan membawa kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Apakah bumi ini akan selalu dipimpin oleh orang orang yang dzalim, munafik bahkan kafir? Yaitu disaat orang-orang yang berjuang secara Islam malah tidak disukai secara umum?
  • 47.
    Pertanyaan ini menyentuhfenomena yang sering terjadi dalam sejarah: orang-orang yang benar dan memperjuangkan kebenaran sering kali mendapatkan penolakan, sedangkan para pemimpin yang dzalim atau tidak bertakwa justru tampak mendominasi. Dalam pandangan Islam, ada beberapa hal yang dapat dijelaskan mengenai hal ini: 1. Fenomena Pemimpin yang Dzalim dalam Sejarah
  • 48.
    Islam mengakui bahwakedzaliman dan kepemimpinan yang buruk sering muncul, terutama ketika masyarakat meninggalkan nilai-nilai kebenaran. Halini disebabkan oleh: - Masyarakat yang Melalaikan AgamaAllah menjadikan kepemimpinan buruk sebagai ujian bagi umat manusia ketika mereka tidak menjalankan ajaran Islam dengan benar. Firman Allah:“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang dzalim menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 129). - Dunia Sebagai Tempat UjianDunia adalah tempat ujian, dan adanya pemimpin dzalim adalah bagian dari ujian
  • 49.
    tersebut. Rasulullah ‫ﷺ‬bersabda:“Kalian akan mendapati pemimpin-pemimpin yang tidak menjalankan petunjukku dan tidak mengikuti sunnahku...” (HR. Muslim). 2. Mengapa Pejuang Islam Tidak Disukai? - Kebenaran Itu Berat DiterimaKebenaran sering kali bertentangan dengan hawa nafsu manusia. Firman Allah:“Dan kebenaran itu telah datang kepada mereka, tetapi kebanyakan mereka membenci kebenaran itu.” (QS. Az- Zukhruf [43]: 78).
  • 50.
    - Kekuatan PengaruhDuniawiOrang-orang yang dzalim sering menggunakan kekuatan duniawi, propaganda, dan kekuasaan untuk menindas orang yang memperjuangkan Islam, sebagaimana yang terjadi pada para nabi. Firman Allah:“Demikianlah setiap nabi Kami jadikan musuh dari golongan orang-orang berdosa.” (QS. Al-Furqan [25]: 31). - Pejuang Islam Kadang Kurang BijakTerkadang, orang-orang yang memperjuangkan Islam tidak menggunakan hikmah dan metode yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah ‫ﷺ‬, sehingga cara mereka menimbulkan resistensi dari masyarakat.
  • 51.
    3. Apakah DuniaSelalu Dipimpin oleh Orang Dzalim? Tidak selalu. Ada janji Allah bahwa kebenaran akan tegak di muka bumi: - Janji Kekuasaan bagi Orang BerimanAllah berjanji memberikan kepemimpinan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh:“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi...” (QS. An-Nur [24]: 55).
  • 52.
    - Kepemimpinan OrangShalih dalam SejarahAda banyak contoh pemimpin Islam yang adil, seperti Rasulullah ‫ﷺ‬, Khulafaur Rasyidin, Umar bin Abdul Aziz, dan lainnya. Mereka adalah bukti bahwa kepemimpinan yang adil dan bertakwa bisa terwujud ketika umat menjalankan ajaran Islam dengan benar. Namun, ketika masyarakat tidak memenuhi syarat-syarat keimanan dan amal saleh, Allah membiarkan kedzaliman berkuasa sebagai peringatan atau hukuman.
  • 53.
    4. Sikap yangHarus Diambil Sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh pasrah pada kedzaliman. Berikut adalah langkah yang bisa dilakukan: 1. Memperbaiki Diri dan MasyarakatUmat Islam harus memperbaiki akhlak, memperkuat ilmu agama, dan bersatu. Pemimpin yang baik muncul dari masyarakat yang baik. Firman Allah:“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).
  • 54.
    2. Bersabar danTetap BerjuangRasulullah ‫ﷺ‬ dan para nabi menghadapi penolakan dan kedzaliman, tetapi mereka tetap bersabar dan terus berdakwah. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:“Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan, dan sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran.” (HR. Ahmad). 3. Gunakan Cara yang Bijak dan DamaiPerjuangan Islam harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan syariat, menggunakan hikmah dan pendekatan yang lembut, sebagaimana firman Allah:“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125). 4. Berdoa dan Bertawakal kepada AllahJangan meremehkan kekuatan doa.
  • 55.
    Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda:“Doaadalah senjata orang mukmin.” (HR. Abu Ya’la). Kesimpulan Meskipun dunia sering dipimpin oleh orang-orang dzalim, itu bukan kondisi yang permanen. Kepemimpinan yang adil dan bertakwa bisa terwujud jika umat Islam memperbaiki diri, bersatu, dan terus berjuang dengan cara yang benar. Jangan menyerah pada keadaan, karena tugas seorang Muslim adalah berusaha menegakkan kebenaran dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Firman-
  • 56.
    Nya:“Kebenaran telah datang,dan yang batil itu pasti lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra [17]: 81). Tidak bisa membaca Alquran. Tidak peduli dengan pembohongan, ngibul. Tapi justru bisa jadi pemimpin yang tertinggi di dalam kelompok plural. Fenomena apa ini? Fenomena ini mencerminkan situasi di mana nilai-nilai agama dan etika
  • 57.
    terabaikan dalam seleksikepemimpinan, sering kali karena standar duniawi atau kebutuhan pragmatis lebih diutamakan daripada kriteria moral atau spiritual. Fenomena ini bukan hal baru, bahkan telah disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadis, di mana Allah memperingatkan bahwa kedzaliman dan kejahilan bisa menjadi ciri suatu zaman ketika masyarakat tidak lagi mengutamakan kebenaran. Berikut adalah analisisnya: 1. Mengapa Orang yang Tidak Memiliki Nilai Keagamaan Bisa Menjadi Pemimpin?
  • 58.
    Ada beberapa alasanmengapa ini terjadi: a. Sistem Sosial yang Rusak Ketika masyarakat lebih mementingkan kekuasaan, kepentingan kelompok, atau keuntungan materi, standar pemilihan pemimpin bergeser dari kriteria moral ke kriteria pragmatis: - Kekuasaan dan Koneksi - Kebutuhan Pluralitas b. Kehilangan Standar Kebenaran
  • 59.
    Masyarakat yang kehilanganpegangan terhadap nilai-nilai agama dan etika cenderung lebih menerima kebohongan, manipulasi, dan pragmatisme. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda: "Akan tiba saatnya pembohong dipercaya, dan orang jujur dianggap pembohong." (HR.Ahmad). C. Pencemaran Nama Baik di Akhir Zaman Fenomena ini merupakan tanda fitnah akhir zaman yang telah diperingatkan oleh Nabi ‫ﷺ‬: - "Ketika kepercayaan disia-siakan, tunggulah kehancuran!" Mereka bertanya, 'Bagaimana sia-sia amanah itu wahai
  • 60.
    Rasulullah?' Beliau menjawab,‘Apabila urusan diserahkan kepada orang yang bukan anggota, maka tunggulah kehancurannya.’” 2. Apa Konsekuensinya bagi Masyarakat? Kepemimpinan seperti ini sering membawa dampak negatif: - Hilangnya Keadilan - Kerusakan Moral - Meningkatnya Kebingungan Sosial
  • 61.
    3. Apakah FenomenaIni Bisa Dijelaskan dalam Islam? Ya, Islam telah memberikan penjelasan tentang fenomena ini sebagai ujian bagi umat manusia: - Ujian untuk Membedakan Orang BerimanAllah membiarkan orang-orang yang tidak layak memimpin sebagai ujian bagi umat:“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang dzalim menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]: 129).
  • 62.
    - Tanda-Tanda AkhirZamanRasulullah ‫ﷺ‬ bersabda bahwa di akhir zaman, kepemimpinan akan diberikan kepada orang-orang yang tidak memiliki nilai moral:“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh penipuan. Ketika itu, orang yang jujur dianggap pendusta, dan pendusta dipercaya.” (HR. Ahmad). 4. Bagaimana Menyikapinya? Sebagai seorang Muslim, ada beberapa langkah yang dapat diambil: a. Berpegang Teguh pada Kebenaran
  • 63.
    Meskipun sulit, kitaharus tetap mempertahankan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran, meskipun mayoritas masyarakat tidak peduli. Firman Allah:“Dan katakanlah, ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir.’” (QS. Al-Kahfi [18]: 29). b. Memperbaiki Diri dan Masyarakat Umat Islam harus memulai dari diri sendiri dan komunitasnya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai agama dan akhlak
  • 64.
    dalam kehidupan sehari-hari. Kepemimpinanyang baik akan muncul dari masyarakat yang baik. c. Sabar dan Berdoa Rasulullah ‫ﷺ‬ mengajarkan untuk bersabar menghadapi kedzaliman dan terus berdoa kepada Allah agar diberikan pemimpin yang adil dan bertakwa. d. Berpartisipasi dalam Perubahan Jika memungkinkan, umat Islam harus aktif dalam membentuk sistem yang lebih adil, termasuk mendukung calon
  • 65.
    pemimpin yang memilikiintegritas moral dan nilai-nilai keagamaan. Kesimpulan Fenomena di mana orang yang tidak memiliki nilai keagamaan atau kejujuran menjadi pemimpin mencerminkan krisis moral dan spiritual dalam masyarakat. Islam melihat ini sebagai ujian dan peringatan agar umat tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran. Sebagai seorang Muslim, tugas kita adalah memperbaiki diri, bersabar, dan terus berusaha untuk membangun masyarakat
  • 66.
    yang lebih baik,sambil tetap percaya bahwa pada akhirnya, kebenaran akan menang sesuai dengan janji Allah:“Dan katakanlah: Kebenaran telah datang dan yang batil itu pasti lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isra [17]: 81). Orang beriman sering tampak kalah, bodoh, sial dibanding dengan orang munafik yang pembual, pembohong, menjilat dan tampak sukses. Apakah ini juga risiko sebagai orang beriman atau cuekin saja karena itu hanya permainan di dunia?
  • 67.
    Fenomena di manaorang beriman tampak kalah, bodoh, atau sial dibanding dengan orang munafik yang tampak sukses dan cerdas, adalah salah satu ujian yang sering dihadapi oleh umat Islam di dunia ini. Hal ini bisa dilihat sebagai bagian dari risiko kehidupan dunia yang penuh dengan ujian dan tantangan. Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia ini adalah tempat ujian dan bukan tempat bagi kenyamanan dan kesenangan abadi. Ada beberapa perspektif dalam menjawab pertanyaan ini:
  • 68.
    1. Dunia IniTempat Ujian, Bukan Tujuan Akhir Dunia ini adalah tempat ujian bagi setiap manusia. Tuhan berkata: “Kami telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).Dunia seringkali memberi gambaran yang menyesatkan, di mana kedzoliman dan kebohongan tampak menang sementara orang yang beriman tampak kalah. Namun, itu hanyalah sementara dan bagian dari ujian kehidupan. Rasulullah ‫ﷺ‬ mengingatkan:“Sesungguhnya dunia ini adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim). Maksudnya, dunia ini penuh dengan
  • 69.
    tantangan bagi orangberiman karena mereka harus berpegang teguh pada kebenaran, meskipun dalam situasi yang sulit. 2. Ujian Iman dan Kesabaran Orang beriman sering menghadapi kesulitan, penindasan, dan ketidakadilan, sementara orang-orang yang tidak beriman atau munafik mungkin tampak berhasil dalam kehidupan dunia. Ini adalah ujian bagi orang beriman, seperti yang tercantum dalam Al-Qur'an:“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk
  • 70.
    surga padahal belumdatang kepadamu (cobaan) seperti yang terjadi sebelum kamu? Mereka dirundung kemiskinan dan penderitaan, serta tergoncang (oleh berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang mukmin bertanya, 'Kapankah Allah akan menolong?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 214). Penting bagi orang beriman untuk sabar dan tetap tawakal (berserah diri) kepada Allah, karena janji-Nya adalah pertolongan pasti akan datang. Kesulitan yang dialami di dunia ini hanyalah sementara, dan di akhiratlah kemenangan yang sejati.
  • 71.
    3. Dunia BukanlahUkuran Kesuksesan Sejati Kesuksesan di dunia tidak selalu menunjukkan keberhasilan yang hakiki di sisi Allah. Banyak orang yang tampak sukses, kaya, atau berkuasa di dunia ini, namun mereka tidak berada di jalan yang benar menurut Islam. Rasulullah ‫ﷺ‬ bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya...” (HR. Bukhari dan Muslim).Dalam perspektif Islam, kesuksesan sejati adalah kesuksesan yang berlandaskan pada ketaatan kepada Allah dan amal saleh . Orang yang tampak
  • 72.
    sukses di duniatetapi tidak beriman atau tidak hidup dengan benar, pada akhirnya tidak akan mendapat kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat. 4. Tidak Perlu Terlalu Peduli dengan Tampilan Dunia Meskipun kadang-kadang kita melihat orang yang munafik atau tidak jujur tampak lebih sukses atau dihormati di dunia, hal ini seharusnya tidak mengganggu ketenangan hati seorang Muslim. Kita diajarkan untuk tidak terlalu terikat pada dunia yang sementara ini.
  • 73.
    Allah berfirman:“Dan janganlahkamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa [4]: 32).Kita harus tetap fokus pada tujuan utama hidup kita, yaitu meraih keridhaan Allah. Jika kita beriman dan beramal saleh, maka kesuksesan duniawi yang tampak pada orang lain tidak seharusnya menjadi ukuran kebahagiaan kita. 5. Janji Allah untuk Orang yang Bersabar Tuhan menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang bersabar dalam
  • 74.
    menghadapi cobaan hidup,termasuk dalam menghadapi ketidakadilan dan kesenjangan dunia. Dalam sebuah hadits, Nabi ‫ﷺ‬ bersabda: “Jika Allah mencintai seseorang, Dia akan mengujinya.” (HR.Bukhari). Ketika kita diuji, kesabaran kita akan membuahkan pahala yang besar di akhirat. Selain itu, Allah berjanji akan memberikan kemenangan kepada orang- orang yang beriman, meski mungkin mereka tidak mendapatkannya di dunia ini. Nabi ‫ﷺ‬ bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan penampilanmu, tetapi Dia melihat hati dan amalmu.” (HR.Muslim).
  • 75.
    Kesimpulan Orang beriman memangsering menghadapi ujian, dan dunia ini sering kali menunjukkan gambaran yang keliru, di mana orang yang tidak jujur atau munafik tampak sukses. Namun, ini adalah bagian dari ujian hidup yang harus dihadapi dengan sabar, tawakal, dan tetap berpegang pada nilai-nilai agama. Dunia ini tidak lebih dari sementara dan ujian . Kesuksesan sejati ada di akhirat, di mana amal baik dan ketakwaan akan mendapat balasan yang sempurna. Kita tidak perlu terlalu peduli dengan tampilan duniawi orang lain, karena yang penting adalah bagaimana kita menjalani hidup ini sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.