Analgesic Agent
Opioid
Mekanisme Kerja
 Opioid berikatan dengan reseptor spesifik di seluruh sistem saraf
pusat dan jaringan lain
 Reseptor: µ (mu), δ (delta), Κ (kappa), σ (zigma)
 Efek opioid dimediasi oleh penghambatan adenilat siklase dan
aktivasi fosfolipase C
 Opioid dapat menimbulkan bergagai derajat sedasi dan dapat
menghasilkan anestesi umum jika diberikan dalam dosis besar
 Aktivasi reseptor opioid menghambat pelepasan presinaptik dan
respon postsinaptik neurotransmitter (misalnya, asetilkolin, zat P)
dari neuron nosiseptif
 efek terbesar opiod terjadi di dalam sistem saraf pusat, namun
reseptor opiat juga telah diidentifikasi pada saraf perifer,somatik
dan simpatik
 Efek samping opioid tertentu (depresi motilitas gastrointestinal)
opioid mengikat reseptor di jaringan perifer (dinding saluran
pencernaan)
 antagonis selektif opioid di luar sistem saraf pusat (alvimopan dan
naltrexone oral).
FARMAKOKINETIK
Penyerapan
 Penyerapan cepat dan lengkap setelah injeksi intramuskular
hidromorfon, morfin, atau meperidine
*kadar plasma puncak biasanya dicapai setelah 20-60 menit
 Berat molekul rendah dan kelarutan lemak tinggi fentanyl diserap
transdermal (tergantung luas permukaan)
*kadar puncak di serum dicapai dalam 14-24 jam
 Opioid efektif per oral: oksikodon, hydrocodone (kombinasi dengan
acetaminophen), kodein, tramadol, morfin, hidromorfon, dan
metadon
 Fentanyl dosis kecil (10-25 mcg)adjuvant anestesi spinal dan
epiduralmeningkatkan alalgesia
 Morfin 0,1 dan 0,5 mg (adjuvant spinal)memperpanjang analgesi
12-18 jam
Distribusi
 Setelah pemberian intravena, distribusi dari semua opioid cukup
cepat (5-20 menit)
 Morfin kelarutan dalam lemak rendah onset kerjanya lambat dan
durasi kerjanya panjang
 fentanil dan sufentanil(kelarutan dalam lemak lebih tinggi durasi
yang lebih cepat onset dan lebih pendek
 alfentanil memiliki onset lebih cepat dan durasi yang lebih singkat
dari fentanil, meskipun kurang larut dalam lemak dari fentanyl
Fraksi tinggi terionisasi dari alfentanil pada pH fisiologis dan
volume kecil distribusi yang kecil
Biotransformasi
 semua opioid tergantung pada hati untuk biotransformasi dan
dimetabolisme oleh sitokrom P(cyp), terkonjugasi dalam hati, atau
keduanya.
 klirens tergantung pada liver blood flow
 Morfin dan hydromorphone mengalami konjugasi dengan asam
glukuronat morfin 3-glukuronida dan morfin 6-glukuronida, dan
hydromorphone 3-glukuronida.
 Meperidinenormeperidine, metabolit aktif berhubungan dengan
aktivitas kejang (dosis besar).
 Produk akhir fentanil, sufentanil, alfentanil dan tidak aktif
 Kodein, Tramadol, oxycoden menjadi aktif setelah dimetabolisme
oleh CYP menjadi morfin.
 Struktur ester dari remifentanil membuatnya rentan terhadap
hidrolisis oleh esterase nonspesifik dalam sel darah merah dan
jaringan  half life < 10 menit.
Ekskresi
 Sebagian besar ekskresi oleh ginjal, <10 % oleh bilier
 Akumulasi metabolit morfin (morphine 3-glukuronida dan morfin 6-
glukuronida) pada pasien dengan gagal ginjalpembiusan yang
memanjang dan depresi pernafasan
 normeperidine pada konsentrasi tinggi dapat menghasilkan kejang.
Disfungsi ginjal meningkatkan kemungkinan efek racun dari
akumulasi normeperidine
 Metabolit utama remifentanil dibuang seluruhnya melalui
urinlebih lemah dari senyawa induktidak ada gejala klinis opioid
Efek Pada system Organ
Kardiovaskular
 opioid memiliki sedikit efek langsung pada jantung
 Meperidine cenderung meningkatkan denyut jantung
 morfin, fentanil, sufentanil, remifentanil, dan alfentanil (dosis
besar)bradikardia
 Meskipun demikian, tekanan darah turun sebagai akibat dari
bradikardia, venodilation, dan penurunan refleks simpatik
 Dosis bolus meperidine, hidromorfon, dan morfin membangkitkan
pelepasan histamin pada beberapa individupenurunan SVR dan
tekanan darah arteri
 Hipertensi intraoperatif: karena kurang dalamnya
anestesipenambahan agen anestesi lain (benzodiazepin,
propofol, atau agen inhalasi poten). Jika kedalaman anestesi yang
memadai dan hipertensi berlanjut, vasodilator atau antihipertensi
lain dapat digunakan
Stabilitas jantung dapat dicapai dengan mengurangi dosis opioid dan
menambahkan agen anestesi lain seperti nitrous oxide,
benzodiazepin, propofol, agen volatil
Pernafasan
 Opioid menekan ventilasi, terutama laju pernafasan
 Opioid meningkatkan tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2) dan
menurunkan respon terhadap CO2
 Efek ini disebabkan oleh opioid mengikat neuron di pusat-pusat
pernapasan batang otak Ambang apnea naik(PaCO2 besar di
mana pasien tetap apnea), dan drive erhadap hipoksia turun
 Morfin dan meperidine dapat menyebabkan histamin-induced
bronkospasme pada pasien yang rentan.
 Injeksi cepat dari dosis besar opioid (fentanil, sufentanil, remifentanil,
dan alfentanil) dapat menginduksi kekakuan dinding dada
 Opioid efektif menurunkan respon bronchoconstrictive selama
intubasi trakea.
OTAK
 opioid mengurangi konsumsi oksigen otak, aliran darah otak,
volume darah otak, dan tekanan intracranial (akan berefek dalam
kondisi normocarbia)
 Opioid hampir tidak memiliki efek pada electroencephalogram
(EEG), kecuali pemberian meperidin dosis tinggi
 Stimulasi pada zona chemoreceptor mual dan muntah.
 Dosis oral berkepanjangan opioid atau infus dosis besar (cth:
remifentanyl dalam GA) fenomena toleransi opioiddosis yang
lebih besar diperlukan untuk menghasilkan respon yang sama
(berbeda kasus dengan kecanduan)
 Perpanjangan dosis opioid juga dapat menimbulkan opioid
induced hyperalgesia
 Opioid tidak menghasilkan efek amnesia
 Meperidine intravena (10-25 mg) lebih efektif dibandingkan morfin
atau fentanyl untuk mengurangi menggigil
Gastrointestinal
 Opioid menghambat motilitas gastrointestinal dengan mengikat
reseptor opioid dalam usus dan mengurangi peristaltik
 Kolik bilier dapat diakibatkan oleh kontraksi sfingter Oddi yang
diinduksi opioid
 terapi jangka panjang opioid (misalnya, untuk nyeri kanker) 
sembelit.
Interaksi Obat
 Kombinasi meperidine dan monoamine oxidase inhibitor harus
dihindari karena dapat menyebabkan hipertensi, hipotensi,
hiperpireksia, koma,gagal nafas
 Propofol, barbiturat, benzodiazepin, dan depresan sistem saraf
pusat lain dapat memiliki efek sinergis dengan opioid terhadap
kardiovaskular, pernapasan, dan efek sedatif
 Biotransformasi alfentanil dapat terganggu setelah pemberian
erythromycin sedasi berkepanjangan dan depresi pernapasan
CYCLOOXYGENASE INHIBITOR
Mekanisme Kerja
 penghambatan siklooksigenase (COX) dalam sintesis prostaglandin
 COX mengkatalisis produksi prostaglandin H1 dari asam arakidonat.
 COX-1 didistribusikan ke seluruh tubuh, termasuk usus dan trombosit,
COX-2 diproduksi dalam respon inflinflamasi
 Penghambat COX nonselektif (aspirin) akan mengontrol demam,
peradangan infl, nyeri, dan trombosis.
 Penghambat COX-2 selektif (asetaminofen [parasetamol],
celecoxib, etoricoxib) digunakan pada perioperatif tanpa
mengkhawatiran gangguan platelet maupun pencernaan
 Aspirin, sebelumnya digunakan sebagai antipiretik dan analgesik
saat ini untuk pencegahan trombosis
 Aspirin sifatnya ireversibel menghambat COX-1,setelah 1 minggu
penghentian agregrasi trombosit kembali normal
 acetaminophen (paracetamol) efektif untuk analgesia, tidak ada
efek anti inflamasi seperti COX-2 selektif lainnya
 Multimodal analgesia biasanya mencakup penggunaan COX
inhibitor,regional anesthesia, local anesthesia dan pendekatan lain
yang bertujuan untuk mengurangi kebutuhan untuk opioid pada
pasien pasca operasi
Farmako Kinetik
Penyerapan
Semua inhibitor COX (kecuali ketorolac) baik diserap setelah pemberian
oral dan semua biasanya akan mencapai konsentrasi puncak dalam
waktu kurang dari 3 jam
Distribusi
 COX inhibitor sangat terikat oleh protein plasma, utamanya albumin.
 Kelarutan lipidnya memungkinkan untuk menembus sawar darah-
otak analgesia pusat dan antipyresis
 Dapat menembus ruang sendi untuk menghasilkan (kecuali
acetaminophen) efek antiinflamasi.
Biotransformasi
 COX inhibitor menjalani biotransformasi di hati
 Acetaminophen: peningkatan dosis menghasilkan konsentrasi N-
acetyl-p-benzoquinone imina yang cukup besar untuk
menghasilkan gagal hati.
Ekskresi
 Hampir semua COX inhibitor diekskresikan dalam urin setelah
biotransformasi.
Efek Pada Sistem Organ
Kardiovaskular
 COX inhibitor tidak berefek langsung pada sistem kardiovaskular.
 Setiap efek kardiovaskular berasal dari efek koagulasi obat ini.
Pernapasan
 Pada dosis klinis yang tepat, tidak ada COX inhibitor memiliki efek pada
fungsi respirasi atau paru-paru.
Gastrointestinal
 perdarahan saluran cerna atas.
 Acetaminophen penyalahgunaannya atau overdosisgagal hati
Terima Kasih

Analgesic Agent Anestesi dan Terapi Intensif .pptx

  • 1.
  • 2.
    Opioid Mekanisme Kerja  Opioidberikatan dengan reseptor spesifik di seluruh sistem saraf pusat dan jaringan lain  Reseptor: µ (mu), δ (delta), Κ (kappa), σ (zigma)  Efek opioid dimediasi oleh penghambatan adenilat siklase dan aktivasi fosfolipase C  Opioid dapat menimbulkan bergagai derajat sedasi dan dapat menghasilkan anestesi umum jika diberikan dalam dosis besar
  • 3.
     Aktivasi reseptoropioid menghambat pelepasan presinaptik dan respon postsinaptik neurotransmitter (misalnya, asetilkolin, zat P) dari neuron nosiseptif  efek terbesar opiod terjadi di dalam sistem saraf pusat, namun reseptor opiat juga telah diidentifikasi pada saraf perifer,somatik dan simpatik  Efek samping opioid tertentu (depresi motilitas gastrointestinal) opioid mengikat reseptor di jaringan perifer (dinding saluran pencernaan)  antagonis selektif opioid di luar sistem saraf pusat (alvimopan dan naltrexone oral).
  • 5.
    FARMAKOKINETIK Penyerapan  Penyerapan cepatdan lengkap setelah injeksi intramuskular hidromorfon, morfin, atau meperidine *kadar plasma puncak biasanya dicapai setelah 20-60 menit  Berat molekul rendah dan kelarutan lemak tinggi fentanyl diserap transdermal (tergantung luas permukaan) *kadar puncak di serum dicapai dalam 14-24 jam
  • 6.
     Opioid efektifper oral: oksikodon, hydrocodone (kombinasi dengan acetaminophen), kodein, tramadol, morfin, hidromorfon, dan metadon  Fentanyl dosis kecil (10-25 mcg)adjuvant anestesi spinal dan epiduralmeningkatkan alalgesia  Morfin 0,1 dan 0,5 mg (adjuvant spinal)memperpanjang analgesi 12-18 jam
  • 8.
    Distribusi  Setelah pemberianintravena, distribusi dari semua opioid cukup cepat (5-20 menit)  Morfin kelarutan dalam lemak rendah onset kerjanya lambat dan durasi kerjanya panjang  fentanil dan sufentanil(kelarutan dalam lemak lebih tinggi durasi yang lebih cepat onset dan lebih pendek  alfentanil memiliki onset lebih cepat dan durasi yang lebih singkat dari fentanil, meskipun kurang larut dalam lemak dari fentanyl Fraksi tinggi terionisasi dari alfentanil pada pH fisiologis dan volume kecil distribusi yang kecil
  • 9.
    Biotransformasi  semua opioidtergantung pada hati untuk biotransformasi dan dimetabolisme oleh sitokrom P(cyp), terkonjugasi dalam hati, atau keduanya.  klirens tergantung pada liver blood flow  Morfin dan hydromorphone mengalami konjugasi dengan asam glukuronat morfin 3-glukuronida dan morfin 6-glukuronida, dan hydromorphone 3-glukuronida.  Meperidinenormeperidine, metabolit aktif berhubungan dengan aktivitas kejang (dosis besar).  Produk akhir fentanil, sufentanil, alfentanil dan tidak aktif
  • 10.
     Kodein, Tramadol,oxycoden menjadi aktif setelah dimetabolisme oleh CYP menjadi morfin.  Struktur ester dari remifentanil membuatnya rentan terhadap hidrolisis oleh esterase nonspesifik dalam sel darah merah dan jaringan  half life < 10 menit.
  • 12.
    Ekskresi  Sebagian besarekskresi oleh ginjal, <10 % oleh bilier  Akumulasi metabolit morfin (morphine 3-glukuronida dan morfin 6- glukuronida) pada pasien dengan gagal ginjalpembiusan yang memanjang dan depresi pernafasan  normeperidine pada konsentrasi tinggi dapat menghasilkan kejang. Disfungsi ginjal meningkatkan kemungkinan efek racun dari akumulasi normeperidine  Metabolit utama remifentanil dibuang seluruhnya melalui urinlebih lemah dari senyawa induktidak ada gejala klinis opioid
  • 13.
    Efek Pada systemOrgan Kardiovaskular  opioid memiliki sedikit efek langsung pada jantung  Meperidine cenderung meningkatkan denyut jantung  morfin, fentanil, sufentanil, remifentanil, dan alfentanil (dosis besar)bradikardia  Meskipun demikian, tekanan darah turun sebagai akibat dari bradikardia, venodilation, dan penurunan refleks simpatik
  • 14.
     Dosis bolusmeperidine, hidromorfon, dan morfin membangkitkan pelepasan histamin pada beberapa individupenurunan SVR dan tekanan darah arteri  Hipertensi intraoperatif: karena kurang dalamnya anestesipenambahan agen anestesi lain (benzodiazepin, propofol, atau agen inhalasi poten). Jika kedalaman anestesi yang memadai dan hipertensi berlanjut, vasodilator atau antihipertensi lain dapat digunakan Stabilitas jantung dapat dicapai dengan mengurangi dosis opioid dan menambahkan agen anestesi lain seperti nitrous oxide, benzodiazepin, propofol, agen volatil
  • 15.
    Pernafasan  Opioid menekanventilasi, terutama laju pernafasan  Opioid meningkatkan tekanan parsial karbon dioksida (PaCO2) dan menurunkan respon terhadap CO2  Efek ini disebabkan oleh opioid mengikat neuron di pusat-pusat pernapasan batang otak Ambang apnea naik(PaCO2 besar di mana pasien tetap apnea), dan drive erhadap hipoksia turun
  • 17.
     Morfin danmeperidine dapat menyebabkan histamin-induced bronkospasme pada pasien yang rentan.  Injeksi cepat dari dosis besar opioid (fentanil, sufentanil, remifentanil, dan alfentanil) dapat menginduksi kekakuan dinding dada  Opioid efektif menurunkan respon bronchoconstrictive selama intubasi trakea.
  • 18.
    OTAK  opioid mengurangikonsumsi oksigen otak, aliran darah otak, volume darah otak, dan tekanan intracranial (akan berefek dalam kondisi normocarbia)  Opioid hampir tidak memiliki efek pada electroencephalogram (EEG), kecuali pemberian meperidin dosis tinggi  Stimulasi pada zona chemoreceptor mual dan muntah.
  • 19.
     Dosis oralberkepanjangan opioid atau infus dosis besar (cth: remifentanyl dalam GA) fenomena toleransi opioiddosis yang lebih besar diperlukan untuk menghasilkan respon yang sama (berbeda kasus dengan kecanduan)  Perpanjangan dosis opioid juga dapat menimbulkan opioid induced hyperalgesia  Opioid tidak menghasilkan efek amnesia  Meperidine intravena (10-25 mg) lebih efektif dibandingkan morfin atau fentanyl untuk mengurangi menggigil
  • 20.
    Gastrointestinal  Opioid menghambatmotilitas gastrointestinal dengan mengikat reseptor opioid dalam usus dan mengurangi peristaltik  Kolik bilier dapat diakibatkan oleh kontraksi sfingter Oddi yang diinduksi opioid  terapi jangka panjang opioid (misalnya, untuk nyeri kanker)  sembelit.
  • 22.
    Interaksi Obat  Kombinasimeperidine dan monoamine oxidase inhibitor harus dihindari karena dapat menyebabkan hipertensi, hipotensi, hiperpireksia, koma,gagal nafas  Propofol, barbiturat, benzodiazepin, dan depresan sistem saraf pusat lain dapat memiliki efek sinergis dengan opioid terhadap kardiovaskular, pernapasan, dan efek sedatif  Biotransformasi alfentanil dapat terganggu setelah pemberian erythromycin sedasi berkepanjangan dan depresi pernapasan
  • 23.
    CYCLOOXYGENASE INHIBITOR Mekanisme Kerja penghambatan siklooksigenase (COX) dalam sintesis prostaglandin  COX mengkatalisis produksi prostaglandin H1 dari asam arakidonat.  COX-1 didistribusikan ke seluruh tubuh, termasuk usus dan trombosit, COX-2 diproduksi dalam respon inflinflamasi  Penghambat COX nonselektif (aspirin) akan mengontrol demam, peradangan infl, nyeri, dan trombosis.  Penghambat COX-2 selektif (asetaminofen [parasetamol], celecoxib, etoricoxib) digunakan pada perioperatif tanpa mengkhawatiran gangguan platelet maupun pencernaan
  • 24.
     Aspirin, sebelumnyadigunakan sebagai antipiretik dan analgesik saat ini untuk pencegahan trombosis  Aspirin sifatnya ireversibel menghambat COX-1,setelah 1 minggu penghentian agregrasi trombosit kembali normal  acetaminophen (paracetamol) efektif untuk analgesia, tidak ada efek anti inflamasi seperti COX-2 selektif lainnya  Multimodal analgesia biasanya mencakup penggunaan COX inhibitor,regional anesthesia, local anesthesia dan pendekatan lain yang bertujuan untuk mengurangi kebutuhan untuk opioid pada pasien pasca operasi
  • 25.
    Farmako Kinetik Penyerapan Semua inhibitorCOX (kecuali ketorolac) baik diserap setelah pemberian oral dan semua biasanya akan mencapai konsentrasi puncak dalam waktu kurang dari 3 jam Distribusi  COX inhibitor sangat terikat oleh protein plasma, utamanya albumin.  Kelarutan lipidnya memungkinkan untuk menembus sawar darah- otak analgesia pusat dan antipyresis  Dapat menembus ruang sendi untuk menghasilkan (kecuali acetaminophen) efek antiinflamasi.
  • 26.
    Biotransformasi  COX inhibitormenjalani biotransformasi di hati  Acetaminophen: peningkatan dosis menghasilkan konsentrasi N- acetyl-p-benzoquinone imina yang cukup besar untuk menghasilkan gagal hati. Ekskresi  Hampir semua COX inhibitor diekskresikan dalam urin setelah biotransformasi.
  • 27.
    Efek Pada SistemOrgan Kardiovaskular  COX inhibitor tidak berefek langsung pada sistem kardiovaskular.  Setiap efek kardiovaskular berasal dari efek koagulasi obat ini. Pernapasan  Pada dosis klinis yang tepat, tidak ada COX inhibitor memiliki efek pada fungsi respirasi atau paru-paru. Gastrointestinal  perdarahan saluran cerna atas.  Acetaminophen penyalahgunaannya atau overdosisgagal hati
  • 28.