Sistem Skor pada
Trauma
dr. Yudha Dwi Prasetyo
dr. Medy Ariyatmo
dr. Wayan Baskara
dr. Timotius Wira
dr. Katarina Kala Tandung
dr. Nathanael Denny Sugihat
dr. Wildan Ahmad Furqon
dr. Muftihat Israr
dr. Wilson Wijaya
PENDAHULUAN
• Trauma adalah penyebab ketiga terbesar kematian dan
kecacatan.
• Dokter harus selalu melihat sisi obyektif keparahan cidera
 perlu sistem yang menyatukan deskripsi dan kuantifikasi
cidera
 penggunaan istilah standar dan penilaian organ yang
spesifik
 membantu proses penilaian antar dokter
• Sistem skor trauma mencoba menerjemahkan keparahan
cidera menjadi angka.
• 3 tipe sistem skor trauma
 Anatomis; deskripsi cidera
 Fisiologis; observasi dan pengukuran tanda-tanda vital
 Kombinasi sistem penilaian anatomis dan fisiologis
ANATOMI
• Mengukur trauma dari
kecelakaan kendaraan
bermotor.
• Sistem pengkodean yang
menyeluruh untuk cedera
semua tipe di setiap
bagian tubuh, dengan
deskripsi karakteristik
setiap tingkat keparahan
dari 0-6.
• Sederhana dan subyektif.
Abbreviated Injury Score (AIS), oleh American Medical
Association committee on Medical Aspect of Automotive Safety, 1969
ANATOMI
Injury Severity Score (ISS) oleh Susan Baker dkk., 1984
• Turunan AIS.
• Merangkum tingkat keparahan kondisi pasien yang mempunyai
beberapa cidera.
• Tubuh dibagi menjadi 6 area:
1. Kepala dan leher
2. Wajah
3. Toraks
4. Abdomen (termasuk organ pelvis)
5. Alat gerak (termasuk tulang pelvis)
6. Permukaan tubuh
• AIS setiap cidera dicatat→cidera yang punya nilai tertinggi di
setiap area diutamakan.
• ISS adalah penjumlahan kuadrat tiga nilai AIS tertinggi di setiap
tiga area tubuh yang mendapat cidera paling berat.
• ISS = a2 + b2 + c2
• Contoh kasus:
Pasien dengan flail chest, fraktur femur tertutup, ruptur lien:
→ 42 (thoraks) + 32 (alat gerak) + 42 (abdomen) = 41
Keterbatasan:
Pengumpulan nilai yang digunakan untuk
menggambarkan lokasi dan keparahan cidera terbatas.
Membutuhkan pengumpulan informasi cidera yang
detail.
Beberapa hanya dapat diperoleh dengan alat
penunjang.
Tidak cocok pada keadaan akut.
Tidak menyediakan gambaran keparahan cidera yang
nyata.
ISS kurang baik digunakan bila ada banyak cidera di satu
sisi tubuh.
ANATOMI
• New Injury Severity
Score (NISS) oleh
Osler, 1974
• Untuk mengurangi
kelemahan ISS,
terutama kegagalan
menilai cedera
multipel di satu regio.
ANATOMI
Anatomic Profile (AP) oleh Copes dkk., 1990
• 4 variabel untuk menjabarkan cedera pasien:
 A, B, dan C berasal dari cedera kepala dan
leher, toraks, dan bagian tubuh lain yang
serius (nilai 3-6)
 D berasal dari semua cedera yang tidak serius
(nilai 1-2)
ANATOMI
Mangled Extremity Severity Score (MESS)
• Penilaian yang didesain untuk memprediksikan
kemampuan hidup anggota gerak yang cedera.
• Poin diberikan pada keparahan cidera, iskemik anggota
gerak, syok dan usia.
• Nilai ≥7 memberikan prediksi dibutuhkannya amputasi.
Sistem SKOR Fisiologis
Glasgow Coma Score (GCS) oleh
Teasdale dan Jennet, 1974
• cepat dan sederhana
• bersifat subyektif pada beberapa kasus, cth:
Respon verbal pasien yang terintubasi dan
trakeostomi atau respon membuka mata pada
pasien dengan pembengkakan wajah yang
berat
• metode yang diakui pada cidera kepala
• ringan (GCS 13-15), sedang (GCS 9-12), atau berat (GCS 3-8)
Trauma Score
(TS) oleh
Champion dkk.,
1981
Trauma Skor PS (%)
16
15
14
13
12
11
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
99
98
95
91
83
71
55
37
22
12
7
4
2
1
0
0
Trauma Skor Dan Kemungkinan Untuk Hidup (PS)
RTS (Revised Trauma Score) oleh Champion
dkk., 1983
• Revisi dr TS: dengan menghilangkan penilaian ekspansi respirasi dan waktu
isi kapiler. Hai ini dikarenakan sulit dinilai, terutama waktu malam.
• 2 tipe: triase & penelitian
• RTS ≤11 berhubungan dengan meningkatnya mortalitasharus segera
dibawa ke pusat trauma
RTS penelitian
• RTS penelitian berbeda dari triase dalam penggunaan faktor pemberat dan didesain
untuk pengumpulan data retrospektif
• Faktor pemberat tersebut berupa komponen respirasi dikalikan dengan koefisien
0,2908, tekanan darah sistolik dikalikan 0,7326 dan GCS dikalikan 0,9368
• Hasil: 0 hingga 7,8408,
nilai yang rendah
menunjukkan cedera
yang lebih berat
CRAMS (Circulation, Respiration,
Abdominal injury, Motor & Speech
responses)
• setiap nilai ditandai setiap variabel,
tergantung apakah itu normal (nilai
2), abnormal ringan (nilai 1), atau
abnormal berat (nilai 0)
• ≥9: trauma minor
• ≤8: trauma mayor
Pediatric Trauma Score (PTS)
• ≤8 harus dikirim ke pusat trauma
Sistem SKOR Kombinasi
TRISS (Trauma Score-Injury Severity
Score) oleh Champion dkk., 1987
• menggabungkan usia, ISS, mekanisme cidera, dan komponen RTS penelitian untuk
menghitung kemungkinan hidup (Ps/Probability of survival)
• Variabelperhitungan matematika TRISS merupakan fungsi logistik.7,8,11
[1] Ps = 1/(1+e-b)
Di mana Ps adalah perkiraan probabilitas kelangsungan hidup pasien dan
e ≈ 2,718281828459045235360287471352 ≈ 2,7183 (dasar logaritma Napierian)
[2] b = bo+b1(RTS)+b2(ISS)+b3(USIA)
RTS = Revised Trauma Score dengan faktor pemberat waktu masuk RS
ISS = Injury Severity Score
USIA = 0 untuk usia <55 tahun. 1 untuk usia ≥55
b adalah koefisien
regresi yang
diperoleh dari
analisa regresi
logistik data MTOS.
Pada pasien ini, ISS mengambil area:
- Toraks (pada contoh terdapat 2 cidera: perforasi paru (nilai 4) dan hemopneumothoraks bilateral (nilai 3). Nilai yang
diambil adalah yang paling tinggi42=16)
- Abdomen (pada contoh terdapat 3 cidera: perforasi diafragma (nilai 3), laserasi hepar (nilai 3), dan laserasi
duodenum (nilai 2). Nilai yang diambil adalah nilai yang paling tinggi di antara ketiganya32=9)
- Ekstremitas (pada contoh hanya cidera pada paha, bernilai 112=1)
Sehingga total ISS adalah 16+9+1=26
• Sistem penilaian trauma RTS pada contoh:
GCS 15=4, SBP 80=3, RR 29= 3
Nilai RTS =(GCSx0,9368)+(SBPx0,7326)+(RRx0,2908)
= (4x0,9368)+(3x0,7326)+(3x0,2908)
= 3,7472+2,1978+0,8724
= 6,8174
• b = bo+b1(RTS)+b2(ISS)+b3(USIA), dengan koefisien TRISS jenis trauma tajam:
bo= -2,5355, b1 = 0,9934, b2 = -0,0651, b3 = -1,136
usia pasien di bawah 55 tahunusia = 0
= -2,5355+0,9934(6,8174)+(-0,0651)26+(-1,136)0
= -2,5355+6,7724–1,6926–0
= 2,5443
• Ps = 1/(1+e-b)
= 1/(1+2,7183-2,5443)
= 1/(1+0,0785)
= 1/1,0785
= 0,927
= 92,7%
Total ISS =27
Sistem penilaian trauma RTS pada contoh:
GCS 13 = 4, SBP 60 = 2, RR 20 = 4
Nilai RTS =(GCSx0,9368)+(SBPx0,7326)+(RRx0,2908)
= (4x0,9368)+(2x0,7326)+(4x0,2908)
= 3,7472+1,4652+1,1632
= 6,3756 ≈ 6,376
• b = bo+b1(RTS)+b2(ISS)+b3(USIA), dengan
koefisien TRISS jenis traumatumpul:
bo= -0,4499, b1 = 0,8085, b2 = -0,0835, b3 = -1,7430
usia pasien di atas 55 tahunusia = 1
= -0,4499+0,8085(6,376)+(-0,0835)27+(-1,7430)1
= -0,4499+5,155–2,2545–1,7430
= 0,7076
• Ps = 1/(1+e-b)
= 1/(1+2,7183-0,7076)
= 1/(1+0,4928)
= 1/1,4928
= 0,67
= 67%
• Keterbatasan:
- seperti ISS dan GCS
- persamaan memiliki banyak komponen
perhitungan
- tidak dimasukkannya informasi yang berkaitan
dengan penyakit penyerta (misal penyakit
jantung, penyakit paru, dan sebagainya).
A Severity Characterisation Of Trauma
(ASCOT) oleh Champion dkk, 1996
• menggunakan GCS, AP, usia, tekanan darah sistolik dan laju respirasi
• perhitungan kompleksitas lebih besar
• Ps = 1/(1+e-k)
• Di mana
Ps = Probabilitas kelangsungan hidup
e = 2,7183 (dasar logaritma Napierian)
k = k0+k1G+k2S+k3R+k4A+k5B+k6C+k7Nilai usia
G = nilai GCS seperti yang dikodekan di RTS waktu masuk RS
S = nilai tekanan darah sistolikseperti yang dikodekan di RTS waktu masuk RS
R = nilai laju respirasi seperti yang dikodekan di RTS waktu masuk RS
A, B, dan C adalah komponen AP
• Koefisien pemberat untuk ASCOT tergantung dari tipe cedera.
• Pada ASCOT, usia pasien mempunyai
lima poin skala
Pasien usia ≤54Nilai usia = 0
Pasien usia 55-64Nilai usia = 1
Pasien usia 65-74Nilai usia = 2
Pasien usia 75-84Nilai usia = 3
Pasien usia ≥85Nilai usia = 4
• Pasien dengan cedera yang sangat
parah (AIS = 6) atau sangat ringan
(komponen A, B, dan C AP = 0) tidak
dievaluasi dengan model logistik
ASCOT.
Kesimpulan
• Trauma adalah kondisi sensitif-waktu dan merupakan salah satu tantangan
utama
• Sistem penilaian trauma membantu menilai secara kuantitatif berat
ringannya cidera, memperkirakan hasil akhir trauma tersebut, bahkan
berguna dalam penelitian
• Hingga sekarang, tidak ada sistem penilaian trauma yang digunakan sebagai
standar. Setiap sistem penilaian mempunyai keterbatasan
• Sistem penilaian anatomis membutuhkan informasi yang akurat tentang
sifat dan tingkat yang tepat setiap cideratidak dapat diperoleh dalam
waktu singkat
• Penilaian fisiologis dapat dilengkapi tanpa informasi cidera penyerta yang
detail. Namun, pada penilaian fisiologis, sulit untuk menilai GCS pada
pasien yang terintubasi atau mengalami paralisis. Situasi ini menyebabkan
hanya nilai-nilai tertentu yang sesuai
• Metode kombinasi mengusahakan cara yang terbaik, tetapi membutuhkan
pengumpulan jumlah data yang banyak. Kurangnya ketersediaan tenaga
yang terlatih untuk melengkapi nilai-nilai secara akurat dan segera juga
menghambat praktiknya
2 trauma score.pptx

2 trauma score.pptx

  • 1.
    Sistem Skor pada Trauma dr.Yudha Dwi Prasetyo dr. Medy Ariyatmo dr. Wayan Baskara dr. Timotius Wira dr. Katarina Kala Tandung dr. Nathanael Denny Sugihat dr. Wildan Ahmad Furqon dr. Muftihat Israr dr. Wilson Wijaya
  • 2.
    PENDAHULUAN • Trauma adalahpenyebab ketiga terbesar kematian dan kecacatan. • Dokter harus selalu melihat sisi obyektif keparahan cidera  perlu sistem yang menyatukan deskripsi dan kuantifikasi cidera  penggunaan istilah standar dan penilaian organ yang spesifik  membantu proses penilaian antar dokter • Sistem skor trauma mencoba menerjemahkan keparahan cidera menjadi angka. • 3 tipe sistem skor trauma  Anatomis; deskripsi cidera  Fisiologis; observasi dan pengukuran tanda-tanda vital  Kombinasi sistem penilaian anatomis dan fisiologis
  • 3.
    ANATOMI • Mengukur traumadari kecelakaan kendaraan bermotor. • Sistem pengkodean yang menyeluruh untuk cedera semua tipe di setiap bagian tubuh, dengan deskripsi karakteristik setiap tingkat keparahan dari 0-6. • Sederhana dan subyektif. Abbreviated Injury Score (AIS), oleh American Medical Association committee on Medical Aspect of Automotive Safety, 1969
  • 5.
    ANATOMI Injury Severity Score(ISS) oleh Susan Baker dkk., 1984 • Turunan AIS. • Merangkum tingkat keparahan kondisi pasien yang mempunyai beberapa cidera. • Tubuh dibagi menjadi 6 area: 1. Kepala dan leher 2. Wajah 3. Toraks 4. Abdomen (termasuk organ pelvis) 5. Alat gerak (termasuk tulang pelvis) 6. Permukaan tubuh • AIS setiap cidera dicatat→cidera yang punya nilai tertinggi di setiap area diutamakan. • ISS adalah penjumlahan kuadrat tiga nilai AIS tertinggi di setiap tiga area tubuh yang mendapat cidera paling berat.
  • 6.
    • ISS =a2 + b2 + c2 • Contoh kasus: Pasien dengan flail chest, fraktur femur tertutup, ruptur lien: → 42 (thoraks) + 32 (alat gerak) + 42 (abdomen) = 41
  • 7.
    Keterbatasan: Pengumpulan nilai yangdigunakan untuk menggambarkan lokasi dan keparahan cidera terbatas. Membutuhkan pengumpulan informasi cidera yang detail. Beberapa hanya dapat diperoleh dengan alat penunjang. Tidak cocok pada keadaan akut. Tidak menyediakan gambaran keparahan cidera yang nyata. ISS kurang baik digunakan bila ada banyak cidera di satu sisi tubuh.
  • 8.
    ANATOMI • New InjurySeverity Score (NISS) oleh Osler, 1974 • Untuk mengurangi kelemahan ISS, terutama kegagalan menilai cedera multipel di satu regio.
  • 9.
    ANATOMI Anatomic Profile (AP)oleh Copes dkk., 1990 • 4 variabel untuk menjabarkan cedera pasien:  A, B, dan C berasal dari cedera kepala dan leher, toraks, dan bagian tubuh lain yang serius (nilai 3-6)  D berasal dari semua cedera yang tidak serius (nilai 1-2)
  • 10.
    ANATOMI Mangled Extremity SeverityScore (MESS) • Penilaian yang didesain untuk memprediksikan kemampuan hidup anggota gerak yang cedera. • Poin diberikan pada keparahan cidera, iskemik anggota gerak, syok dan usia. • Nilai ≥7 memberikan prediksi dibutuhkannya amputasi.
  • 12.
  • 13.
    Glasgow Coma Score(GCS) oleh Teasdale dan Jennet, 1974 • cepat dan sederhana • bersifat subyektif pada beberapa kasus, cth: Respon verbal pasien yang terintubasi dan trakeostomi atau respon membuka mata pada pasien dengan pembengkakan wajah yang berat • metode yang diakui pada cidera kepala
  • 14.
    • ringan (GCS13-15), sedang (GCS 9-12), atau berat (GCS 3-8)
  • 15.
  • 16.
    Trauma Skor PS(%) 16 15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 99 98 95 91 83 71 55 37 22 12 7 4 2 1 0 0 Trauma Skor Dan Kemungkinan Untuk Hidup (PS)
  • 17.
    RTS (Revised TraumaScore) oleh Champion dkk., 1983 • Revisi dr TS: dengan menghilangkan penilaian ekspansi respirasi dan waktu isi kapiler. Hai ini dikarenakan sulit dinilai, terutama waktu malam. • 2 tipe: triase & penelitian • RTS ≤11 berhubungan dengan meningkatnya mortalitasharus segera dibawa ke pusat trauma
  • 18.
    RTS penelitian • RTSpenelitian berbeda dari triase dalam penggunaan faktor pemberat dan didesain untuk pengumpulan data retrospektif • Faktor pemberat tersebut berupa komponen respirasi dikalikan dengan koefisien 0,2908, tekanan darah sistolik dikalikan 0,7326 dan GCS dikalikan 0,9368 • Hasil: 0 hingga 7,8408, nilai yang rendah menunjukkan cedera yang lebih berat
  • 19.
    CRAMS (Circulation, Respiration, Abdominalinjury, Motor & Speech responses) • setiap nilai ditandai setiap variabel, tergantung apakah itu normal (nilai 2), abnormal ringan (nilai 1), atau abnormal berat (nilai 0) • ≥9: trauma minor • ≤8: trauma mayor
  • 20.
    Pediatric Trauma Score(PTS) • ≤8 harus dikirim ke pusat trauma
  • 21.
  • 22.
    TRISS (Trauma Score-InjurySeverity Score) oleh Champion dkk., 1987 • menggabungkan usia, ISS, mekanisme cidera, dan komponen RTS penelitian untuk menghitung kemungkinan hidup (Ps/Probability of survival) • Variabelperhitungan matematika TRISS merupakan fungsi logistik.7,8,11 [1] Ps = 1/(1+e-b) Di mana Ps adalah perkiraan probabilitas kelangsungan hidup pasien dan e ≈ 2,718281828459045235360287471352 ≈ 2,7183 (dasar logaritma Napierian) [2] b = bo+b1(RTS)+b2(ISS)+b3(USIA) RTS = Revised Trauma Score dengan faktor pemberat waktu masuk RS ISS = Injury Severity Score USIA = 0 untuk usia <55 tahun. 1 untuk usia ≥55 b adalah koefisien regresi yang diperoleh dari analisa regresi logistik data MTOS.
  • 23.
    Pada pasien ini,ISS mengambil area: - Toraks (pada contoh terdapat 2 cidera: perforasi paru (nilai 4) dan hemopneumothoraks bilateral (nilai 3). Nilai yang diambil adalah yang paling tinggi42=16) - Abdomen (pada contoh terdapat 3 cidera: perforasi diafragma (nilai 3), laserasi hepar (nilai 3), dan laserasi duodenum (nilai 2). Nilai yang diambil adalah nilai yang paling tinggi di antara ketiganya32=9) - Ekstremitas (pada contoh hanya cidera pada paha, bernilai 112=1) Sehingga total ISS adalah 16+9+1=26 • Sistem penilaian trauma RTS pada contoh: GCS 15=4, SBP 80=3, RR 29= 3 Nilai RTS =(GCSx0,9368)+(SBPx0,7326)+(RRx0,2908) = (4x0,9368)+(3x0,7326)+(3x0,2908) = 3,7472+2,1978+0,8724 = 6,8174 • b = bo+b1(RTS)+b2(ISS)+b3(USIA), dengan koefisien TRISS jenis trauma tajam: bo= -2,5355, b1 = 0,9934, b2 = -0,0651, b3 = -1,136 usia pasien di bawah 55 tahunusia = 0 = -2,5355+0,9934(6,8174)+(-0,0651)26+(-1,136)0 = -2,5355+6,7724–1,6926–0 = 2,5443 • Ps = 1/(1+e-b) = 1/(1+2,7183-2,5443) = 1/(1+0,0785) = 1/1,0785 = 0,927 = 92,7%
  • 24.
    Total ISS =27 Sistempenilaian trauma RTS pada contoh: GCS 13 = 4, SBP 60 = 2, RR 20 = 4 Nilai RTS =(GCSx0,9368)+(SBPx0,7326)+(RRx0,2908) = (4x0,9368)+(2x0,7326)+(4x0,2908) = 3,7472+1,4652+1,1632 = 6,3756 ≈ 6,376 • b = bo+b1(RTS)+b2(ISS)+b3(USIA), dengan koefisien TRISS jenis traumatumpul: bo= -0,4499, b1 = 0,8085, b2 = -0,0835, b3 = -1,7430 usia pasien di atas 55 tahunusia = 1 = -0,4499+0,8085(6,376)+(-0,0835)27+(-1,7430)1 = -0,4499+5,155–2,2545–1,7430 = 0,7076 • Ps = 1/(1+e-b) = 1/(1+2,7183-0,7076) = 1/(1+0,4928) = 1/1,4928 = 0,67 = 67%
  • 25.
    • Keterbatasan: - sepertiISS dan GCS - persamaan memiliki banyak komponen perhitungan - tidak dimasukkannya informasi yang berkaitan dengan penyakit penyerta (misal penyakit jantung, penyakit paru, dan sebagainya).
  • 26.
    A Severity CharacterisationOf Trauma (ASCOT) oleh Champion dkk, 1996 • menggunakan GCS, AP, usia, tekanan darah sistolik dan laju respirasi • perhitungan kompleksitas lebih besar • Ps = 1/(1+e-k) • Di mana Ps = Probabilitas kelangsungan hidup e = 2,7183 (dasar logaritma Napierian) k = k0+k1G+k2S+k3R+k4A+k5B+k6C+k7Nilai usia G = nilai GCS seperti yang dikodekan di RTS waktu masuk RS S = nilai tekanan darah sistolikseperti yang dikodekan di RTS waktu masuk RS R = nilai laju respirasi seperti yang dikodekan di RTS waktu masuk RS A, B, dan C adalah komponen AP • Koefisien pemberat untuk ASCOT tergantung dari tipe cedera.
  • 27.
    • Pada ASCOT,usia pasien mempunyai lima poin skala Pasien usia ≤54Nilai usia = 0 Pasien usia 55-64Nilai usia = 1 Pasien usia 65-74Nilai usia = 2 Pasien usia 75-84Nilai usia = 3 Pasien usia ≥85Nilai usia = 4 • Pasien dengan cedera yang sangat parah (AIS = 6) atau sangat ringan (komponen A, B, dan C AP = 0) tidak dievaluasi dengan model logistik ASCOT.
  • 28.
    Kesimpulan • Trauma adalahkondisi sensitif-waktu dan merupakan salah satu tantangan utama • Sistem penilaian trauma membantu menilai secara kuantitatif berat ringannya cidera, memperkirakan hasil akhir trauma tersebut, bahkan berguna dalam penelitian • Hingga sekarang, tidak ada sistem penilaian trauma yang digunakan sebagai standar. Setiap sistem penilaian mempunyai keterbatasan • Sistem penilaian anatomis membutuhkan informasi yang akurat tentang sifat dan tingkat yang tepat setiap cideratidak dapat diperoleh dalam waktu singkat • Penilaian fisiologis dapat dilengkapi tanpa informasi cidera penyerta yang detail. Namun, pada penilaian fisiologis, sulit untuk menilai GCS pada pasien yang terintubasi atau mengalami paralisis. Situasi ini menyebabkan hanya nilai-nilai tertentu yang sesuai • Metode kombinasi mengusahakan cara yang terbaik, tetapi membutuhkan pengumpulan jumlah data yang banyak. Kurangnya ketersediaan tenaga yang terlatih untuk melengkapi nilai-nilai secara akurat dan segera juga menghambat praktiknya