Tema "Katekese Umat" (1)
Sejarah Katekese Umat dari (Pertemuan Kateketik antar Keuskupan Indonesia) PKKI I ke
PKKI V
Pengantar
KV II membawa pembaharuan dalam hidup Gereja pada jaman kita sekarang ini.
Pembaharuan itu juga nampak dalam bidang pewartaan. Salah satunya adalah usaha mencari
arah katekese yang memenuhi kebutuhan dan tuntutan Gereja Indonesia yang sesuai dengan
semangat KV II. Usaha itu dilakukan oleh para peserta PKKI. Arah katekese yang ditemukan
para peserta PKKI adalah Katekese Umat. Katekese Umat merupakan pola yang dianggap
sangat sesuai dengan budaya Indonesia, yaitu budaya
musyawarah mufakat. Maka Katekese Umat merupakan model katekese yang dicita-citakan,
artinya katekese umat adalah katekese oleh umat, dari umat dan untuk umat. Umatlah yang
berperan aktif dalam katekese. Katekese umat juga merupakan gerekan, artinya bahwa
katekese umat merupakan model dari semua katekese di Indonesia. Katekese Umat adalah
pilihan. Artinya katekese umat menjadi pilihan dan menjadi primadona semua bentuk
katekese di Indonesia. Katekese-katekese yang lain di luar katekese umat haruslah berpola
pada katekese uamat itu sendiri.
I. PKKI I
Tema : Mencari Arah Katekese di Indonesia
Tempat : Sindanglaya, Jawa Barat (Wisma Samadhi Syalom)
Waktu : 10-17 Juli 1977
Pendamping : Rm. Setyakarjana
Latar belakang
Para peserta PKKI ingin mengagas dan menentukan arah katekese yang cocok dengan budaya
Indonesia, sebagai arah dan pola bagi semua katekese yang ada dengan melihat nilai budaya
dan tidak meninggalkan semangat KV II.
Hari-hari pertama pertetemuan diisi dengan tukar menukar pengalaman mengenai katekese di
lapangan dengan berbagai daerah dan latar belakang. Dari syaring yang berlangsung, maka
ada beberapa hal yang menjadi persoalan di lapangan antara lain:
1. Ada banyak corak kegiatan katekese di Indonesia. Namun demikian ada dua masalah yang
selalu sama yaitu:
a. Katekese di daerah-daerah didominasi oleh hirarki dan petugas pastoral lainnya. Agak
sedikit berbeda dengan Kalimantan dan Iran Jaya, di mana ada umat yang ikut terlibat dalam
katekese. Hal tersebut terjadi karena kurangnya imam dan pelayan pastoral lainnya.
b. Katekese sekolah mendapat porsi lumayan besar, sehingga katekese-katekese lainnya
disebut katekese “luar sekolah”.
2. Dari laporan di atas dapat disimpulkan bahwa ternyata gereja-gereja lokal masih sangat
kaku dengan terstuktur yang ada. Hirarki sangat berperan, oleh karena itu peran umat sangat
minim.
Dari pengalaman-pengalaman itu, selanjutnya disadari bahwa katekese yang teralalu hirarkis
hendaknya mulai dikurangi dan dirubah bahkan diusahakan pola katekese lain yang tidak
menggantungkan diri pada hirarki. Maka dengan bantuan Rm. Setya Karyana dalam
ceramahnya, dan disusul diskusi-diskusi dar para peserta, akhirnya muncul gagasan ttg suatu
bntuk katekese yang melibatkan seluruh umat yaitu katekese oleh umat, dari umat dan untuk
umat. Katekese itu harus menjadi arah dan pola dari katekese yang ada di Indonesia. Bentuk-
bentuk katekese lainnya, termasuk katekese seokolah, katekumenat, harus dilihat dalam
rangka katekese umat.
II. PKKI II
Tema : Merumuskan Arti dan Tujuan KU (terdiri dari 6 butir)
Tempat : Wisma Samadhi Klender Jakarta
Wkt : 29 Juni-5 Juli 1980
Pendamping : Rm. Thom Huber, SJ.
Latar Belakang
Katekese umat yang sudah dicanangkan dalam PKKI I, dianggap belum terlalu jelas. Banyak
praktek-praktek yang dianggap KU sudah dicoba-coba. Namun demikian terjadi
kesimpangsiuran mengenai KU itu, oleh sebab itu diadakanlah PKKI II guna menemukan
rumusan mengenai pengertian dan tujuan KU itu sendiri, agar pelaksanaannya tidak
membingungkan.
A. Pengalaman Berkatekese Umat di Lapangan
Setelah diadakan tukar-menukar pengalaman mengenai pelaksanaan KU di lapangan, muncul
beberapa kesan antara lain:
1. Katekese umat memang sudah dijalankan, tetapi masih banyak mengalami kesulitan, antara
lain karena kekaburan KU itu sendiri, kekurangan tenaga, dana, sarana, organisasi, dsb.
2. Katekese Umat yang dilaksanakan mulai mengganggu stabilitas Gereja institutional.
Artinya, akibat pelaksanaan KU struktur hirarkis yang kaku dan berjalan dalam garis yang
sudah ditentukan, mulai tidak berjalan efektif lagi karena umat yang di luar hirarkis sudah
terlibat dalam urusan pewartaan.
B. Merumuskan Arti dan Makna KU (Katekese Umat))
Rumusan mengenai arti KU disepakati sbb:
1. KU diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman)
antara anggota jemaat/kelompok. Melalui kesaksian para peserta saling membantu
sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin
sempurna. Dalam katekese umat tekanan terutama diletakkan pada penghayatan iman,
meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese umat mengandaikan ada perencanaan.
2. Dalam KU itu kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, pengantara Allah yang
bersabda kepada kita dan pengantara kita menanggapi Sabda Allah.
3. Yang berkatekese ialah umat, artinya semua orang beriman, yang secara pribadi memilih
Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus.
4. Dalam katekese yang menjemaat ini, pemimpin katekese bertindak sebagai pengarah dan
pemudah (fasilitator).
5. Katekese umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang
sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka.
6. Tujuan komunikasi iman itu ialah
a) Iman yang semakin mempribadi.
• Supaya dalam terang injil kita semakin meresepi arti pengalaman-pengalaman kita sehari-
hari.
• Dan kita bertobat (matanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam
kenyataan hidup sehari-hari.
• Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih, dan
makin dikukuhkan dalam hidup kristiani kita.
b) Iman yang semakin menjemaat.
• Kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas
Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta (iman yang eklesial atau menggereja).
c) Iman yang semakin memasyarakat.
• Sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah
masyarakat (iman yang memasyarakat).
Dari pertemuan-pertemuan PKKI menjadi jelas bahwa salah satu kunci keberhasilan KU
ialah pembina KU yang disebut “pemudah” atau “fasilitator”. Maka sebelum peserta kembali
ke keuskupan masing-masing, sudah dipikirkan mengenai PKKI III, yang membicarakan
masalah Pembinaan Pembina KU itu.
III. PKKI III
Tema : Pembinaan Bagi Para Pembina Katekese Umat (Fasilitator)
Temapat : Pacet Mojokerto-Jawa Timur
Waktu : 29 Januari-5 Februari 1984
Latar Belakang
Salah satu kunci keberhasilan KU adalah pembina, maka pembina diharapkan mempunyai
keterampilan. Atas dasar itulah PKKI III ini dilaksanakan. Semua peserta sepakat bahwa
pembinaan Pembina KU ditekankan pada: “Pembinaan Keterampilan” dengan tidak
melupakan kepribadian dan peningkatan pengetahuan. Hal-hal yang dirumuskan dalam PKKI
III, menyangkut pembinaan pembina KU adalah sbb:
A. Arti dan Makna Pembina Katekese Umat
Pembina KU ialah seorang yang mampu dan rela untuk menjalankan Katekese Umat dalam
kelompok dasar. Diharapkan pembina KU adalah:
1. Seorang pribadi yang beriman Katolik yang sadar akan panggilan Roh untuk melayani
sesama umat dalam kelompok dasar.
2. Rela mengumpulkan, menyatukan dan membimbing kelompok umat dasar untuk
melaksanakan katekese umat sebagai suatu proses komunikasi iman yang semakin
berkembang.
3. Menghargai setiap peserta kelompok katekese umat dengan berbagai latar belakang dan
situasinya.
4. Berperan menjadi pengarah dan pemudah untuk menciptakan suasana komunikatif dalam
kelompok umat dasar yang dilayani.
B. Pembinaan Keterampilan Pembina Katekese Umat
Adapun kemampuan/keterampilan yang harus dimiliki pembina KU adalah sbb:
1. Kemampuan/keterampilan berkomunikasi. Secara praktis kemampuan/ketrampilan
komunikasi yang perlu ditekankan antara lain:
a. Berkomunikasi dan berelasi sehingga mampu mengumpulkan, menyatukan, dan
mengarahkan kelompok sampai pada suatu tindakan nyata.
b. Mengungkapkan diri, berbicara dan mendengarkan.
c. Menciptakan suasana yang memudahkan peserta untuk mengungkapkan diri dan
mendengarkan pengalaman orang lain.
2. Kemampuan/keterampilan berefleksi
Komunikasi merupakan suatu kesaksian iman yang dihayati dan dialami serta merupakan
hasil refleksi iman akan Yesus Kristus. Maka secara praktis pembina KU dilatih untuk:
a. Menemukan nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup.
b. Menemukan nilai-nilai Kristiani dalam KS, ajaran Gereja dan tradisi lainnya.
c. Memadukan nilai-nilai Kristisni dengan nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup
sehari-hari.
C. Unsur-Unsur Pokok dalam Pembinaan Pembina Katekese Umat.
Sesuai dengan unsur-unsur KU itu sendiri, yaitu musti adanya:
1. Proses penyadaran pengalaman hidup
2. Proses penyadaran pengalaman KS dan tradisi Gereja (ada dua unsur: KS dan Tradisi
Gereja)
3. Proses penyadaran akan keterlibatan untuk pembaharuan masyarakat.
IV. PKKI IV
Tema : Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat
Tempat : Denpasar-Bali
Wkt : 24-28 Oktober 1988
Latar belakang
KU masih bergerak di seputar altar. Umat masih sangat liturgis dan devosional. Karena
paham Kerajaan Allah juga belum dapat dimiliki/dipahami dengan tepat. Sehingga Katekese
dalam PKKI IV disebut sebagai Katekese Sosial/Katekese Kontekstual yang menyentuh
bidang-bidang kehidupan secara nyata yang berorientasi pada Kerajaan Allah serta membina
umat untuk terlibat dalam masyarakat.
A. Evaluasi KU yang Sudah Berlangsung
Hasil evaluasi, disadari KU telah membawa dampak antara lain:
1. Semakin banyak umat terlibat dalam kehidupan menggereja
2. Adanya suasana persaudaraan sehingga Gereja ke dalam semakin kuat
3. Semakin banyak muncul kelompok-kelompok basis (Legio Maria, Persekutuan Doa,
KTM)
4. Umat berani bersuara
5. Ketergantungan pada hirarkis semakin berkurang
6. Umat dan pemimpin sadar akan hak dan kewajiban masing-masing
7. Umat menghargai nilai-nilai budaya setempat
Namun demikian masih ada juga faktor penghambat, antara lain:
1. Pembina yang kurang mengetahui dan memahami katekese umat dan kurang terampil
mennjalankan KU.
2. Masih ada petugas hirarki yang kurang memahami dan bersimpati pada KU
3. Masih ada umat yang klerikalisme-centris (memusatkan pada kaum klerus)
4. Adanya hambatan struktural (pemimpin, ketua lingkungan, fasilitator) sehingga umat pasif.
B. Iman yang Terlibat dalam Mayarakat
Arti iman yang terlibat dalam masyarakat:
1. Iman yang ditandai sikap sederhana, lewat hal-hal kecil mau memperhatikan lingkungan
sekitar.
2. Iman yang bercorak misioner. Lebih memberi perhatian pada mereka yang lemah dan
terdesak.
3. Iman yang memperjuangkan kelestarian lingkungan dan kekayaan alam.
4. Iman yang tidak mebiarkan pertimbangan-pertimbangan institutional membelenggu
kebebasan Injil.
C. Katekese Umat yang Dicita-citakan
1. KU adalah katekese yang melibatkan seluruh umat.
2. KU adalah komunikasi iman antara umat baik formal (katekese sekolah) maupun informal
(katekese audiovisual, katekese paroki, pendalaman iman).
3. Melalui KU iman umat akan Yesus Kristus semakin mendalam
4. KU tidak terikat pada bentuk dan metode tertentu. Sebab tergantung pada situasi
5. KU dapat terjadi dalam keluarga, kring atau sekolah.
6. Bahan KU diangakat dari persoalan hidup umat dan masyarakat.
D. Analisa Sosial dan KU
KU mengangkat masalah-masalah sosial yang terjadi secara riil. Maka untuk mengungkapkan
masalah sosila tersebut diperlukan suatu ANSOS. Dalam membina iman yang terlibat dalam
masyarakat KU berhadapan dengan kenyataan sosial di mana di dalamnya telah dikuasai
sistem dan orang-orang bermodal. Secara realitas KU dapat mendampingi kelompok-
kelompok terdekat, sebab sulit menjangkau masalah sosial yang lebih luas.
V. PKKI V
Tema : Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat dengan tekanan ANSOS
Tempat/wkt : Wisma Kinasih Caringin - Bogor. 22-30 September 1992
Latar Belakang
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk, baik dalam keyakinan kebudayaan, status
ekonomi dan status sosialnya. Maka terlihat adanya kesenjangan struktur sosial yang
menjauhkan masyarakat lemah. Maka dengan situasi demikian disadari iman haruslah
memasyarakat, berpihak pada yang lemah, masuk dalam pergumulan hidup manusia dengan
keadaan konkretnya. Oleh karena itu ada dua yang perlu ditingkatkan yaitu:
Pertama: melihat dan memahami masalah ketidakadilan secara lebih mendalam dan luas
lewat analisa sosial.
Kedua: melihat dan mendalami persoalan ketidak adilan serta penanganannya dalam terang
Kitab Suci.
Maka PKKI V ini, para peserta bergumul dengan analisa sosial dan Kitab Suci dalam
mengembangkan KU yang lebih menjawab persoalan zaman.
A. Analisa Sosial
Laporan dan refleksi
1. Makna ANSOS:
a. ANSOS hanya merupakan alat bantu, bukan tujuan dalam dirinya sendiri dalam katekese
kontekstual. Ansos biasanya diawali dengan observasi bukan dalam “photo yang netral”
melainkan data yang dikumpulkan tergantung dari visi seseorang, sehingga dapat terjadi hasil
observasi berbeda nuansanya. Dalam observasi, gejala dan akar masalah harus dibedakan.
b. Melalui ANSOS kita berjumpa dengan dimensi raksasa/global cthnya kemiskinan. Maka
perlu dilakukan langkah-langkah yang berpengaruh dalam mengambil keputusan.
c. Melalui ANSOS akan ditemukan nilai-nilai tertentu dalam masyarakat dan kemungkinan
dapat terbebaskan dari belenggu masalah. Di sini katekese mempertemukan kisah historis
manusia/umat (akar masalah manusia) dengan Injil.
d. Katekese berciri sosial merupakan suatu proses penegakan keadilan. Agar dapat
menegakan keadilan apakah dalam katekese mampu menyadarkan, mentransformasi agar
membawa perubahan untuk menemukan jalan keluar.
Adanya Ada tidaknya perubahan kesadaran
Terjadi atau tidaknya prubahan yang lebih luas.
Apakah Katekese sosial dapat atau harus menemukan/menunjkkan jalan keluar?
e. Untuk katekese berciri sosial peserta perlu memperhatika dua hal: 1) tidak boleh berhenti
pada keadian personal tetapi harus kepada keadilan sosial, 2) perlu menyadari faktor-faktor
yang penting untuk mewujudkan keadilan.
2. Bagaimana KS masuk dalam Katekese?
a. Yang dibutuhkan adalah visi biblis. Jadi yang harus ada adalah visi biblis tentang Allah
yang hidup dalam kehidupan konkrit, untuk menghindari salah pengertian mengenai ANSOS
dengan katekese. (tidak mutlak menggunakan teks kitab suci, jika perlu iya).
b. Jika visi teologi (iman yang kuat) tentang keadilan belum menjadi milik Gereja atau belum
memasyarakat, maka akan kesulitan membuat katekese yang bersifat sosial.
Latihan ANSOS:
Dua model ANSOS: Model Konsensus dan Model Konflik
Model Konsensus:
Yaitu melihat ketidakberesan masyarakat sebagai sesuatu yang harus diperbaiki (secara
lokal/individu) tanpa merombak struktur masyarakat itu sendiri, karena struktur itu sudah
harmonis, hasil konsensus. Ketidakberesan lebih disebabkan karena individu-individunya.
Dibedakan lagi atas model konsensus koservatif dan model konsensus konflik. (Melihat
ketidak beresan masyarakat sebagai suatu yang harus diperbaiki tanpa merombak struktur
masyarakat itu sendiri).
Model Konflik:
Yaitu melihat ketidaberesan masyarakat sebagai sesuatu yang menyangkut struktur dan
sistem masyarakat, di mana selalu ada perbedaan dan adu kepentingan antara kelompok
masyarakat. Model konflik lebih mampu membuka ketidakadlan. dengan menggunakan
ANSOS model konflik bertujuan untuk membangun persaudaraan sejati.
(melihat ketidakberesan masyarakat sebagai suatu yang menyagkut struktur dan sistem
masyarakat, model ini lebih mampu membuka ketidakadilan sosial daripada model
konsensus).
B. Kitab Suci dalam KU
1. Pergumulan peserta mencari kaitan antara pengalaman/peristiwa hidup yang sudah
dianalisis (ANSOS) dengan Kitab Suci.
Tahap ANSOS mengundang tahap refleksi teologis (perenungan pribadi tentang masalah-
masalah sosial yang dikaitkan dengan Tuhan), di mana KS bisa masuk.
2. Masukan dari pakar
a. Keterkaitan ANSOS dan KS
ANSOS membantu untuk mengerti bagaimana KA berjuang di tengah dunia ini, melawan
kekuatan-kekuatan yang menentangnya. Ketidak adilan sosial menentang Kerajaan Allah.
Jadi ANSOS membantu melihat Kitab Suci dalam perspektif Kerajaan Allah.
b. Pertemuan dengan KS dalam KU
1. KU tidak dipertemukan dengan teks KS tetapi pengalaman kita bertemu dengan
pengalaman KS, di situlah proses KU berlangsung.
2. Bertemunya pengalaman manusia dengan pengalaman Kitab suci membutuhkan proses
yang panjang (tidak sekali jadi).
Oleh karena itu arahnya tidak bisa ditentukan oleh pertemuan session namun berjalan sesuai
dengan pengalaman yang dituangkan dalam proses KU itu (prosesnya).
3. Namun hasilnya selalu tertuju pada kesadaran akan situasi yang ada dan melihatnya dalam
terang KS Yesus Kristus.
c. Menafsirkan teks KS
Di satu pihak harus setia pada teks, pada apa yang dimaksud pengarang, di lain pihak kita
harus memperhatikan pendengar. Roh Kudus merupakan aktor utama di dalam interaksi yang
terjadi antara sabda Allah dengan umat yang ada di dalam kelompok. Sehingga KS berfungsi
sebagai sarana dan bukan alat mengajar.
d. Makna KS dalam kelompok
1) Mengartikulasikan pengalaman sosial peserta KU secara lebih tajam
2) Mengkritik sikap kita/para peserta
3) Menegur, meneguhkan, memberi banyak kemungkinan, membuka wawasan, memberi
inspirasi dsb.
Sumber: "Buku Katekese Umat - Rm. Yosef Lalu, Pr"
SukaSuka · · Bagikan
 2 orang menyukai ini.

Tulis komentar...
Mengenal Katekese Umat
TEKESE UMAT
(Rm. Yosef Lalu, Pr)
A. Arti dan Makna Katekese Umat (KU)
Katakese umat (KU) sudah dicetuskan sejak Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-
Indonesia yang pertama (PKKI-I) tahun 1997. Pada beberapa Keuskupan, Katekese Umat
sudah cukup membudaya, tetepi pada keuskupan-keuskupan tertentu Katekese Umat masih
terasa asing.
1. Antropologi
Sebenarnya Katekese Umat mempunyai dasar yang cukup kuat dalam kebudayaan kita.
Katekese Umat sebenarnya tidak lain daripada kegiatan bermusyawarah dalam terang
iman. Musyawarah merupakan suatu kegiatan yang sudah membudaya di banyak daerah di
negeri ini. Warga kampung, warga lingkungan ataupun warga Rukun Tetangga (RT) sering
berkumpul dan membicarakan pelbagai masalah kehidupan.
Dalam musyawarah seperti itu bisasanya akan terjadi proses sebagai berikut:
 Suatu hal atau masalah dikemukakan untuk dilihat dan diketahui bersama.
 Lalu menyusul masalah itu diperbincangkan dan didalami. Dilihat sebab musabab dan
akibatnya.
 Kemudian dicari jalan keluarnya dan diambil suatu keputusan. Keputusan itu
merupakan kesepakatan bersama. Biasanya kesepakatan itu berdasarkan pelbagai
pertimbangan. Salah satu pertimbangan itu ialah tradisi. Keputusan atau kesepakatan
itu adalah sejalan dengan ajaran atau kebijaksanaan para leluhur, yang sering
diwariskan dalam pepatah atau kalimat-kalimat kunci.
Katekese Umat adalah Kristianisasi atau inkulturasi terhadap musyawarah kehidupan
masyarakat kita. Kita menjadikan musyawarah kehidupan masyarakat berdimensi Injili.
Dalam proses akhir musyawarah kehidupan bukan saja kebijaksanaan leluhur yang menjadi
pegangan, tetapi juga kebijaksanaan Injili. Itu saja!
Secara modern dapat dikatakan pula bahwa Katekese Umat adalah analisis sosial dalam
terang iman. Kita melihat situasi yang ada, mendalaminya dengan menganalisa situasi itu,
lalu menyadarinya dalam terang Injil dan kemudian mengambil keputusan untuk bertindak
sesuai situasi dan ajaran Injil itu.
Oleh sebab itu, Katekese Umat secara operasional pastoral dapat diartikan sebagai usaha
kelompok untuk melihat, mendalami, dan menafsirkan hidup nyata dalam terang njil, dan
dengan demikian kelompok iu mendapat visi baru (matanoia) untuk mengambil keputusan
dan bertindak.
2. Teologis
Secara teologis, Katekese Umat disebut komunikasi iman. Suatu bentuk katakese dari umat,
oleh umat, dan untuk umat. Katakese ini bertumbuh bersama dengan bergesernya visi Gereja
dari Gereja institusional yang bersifat hierarkhis pyramidal ke Gereja communio. Dalam
Gereja institusional, katekese lebih bersifat dari atas ke bawah, bersifat informatif,
instruksional. Dalam Gereja communio, katekese lebih bersifat komunikatif.
B. Keunggulan Katekese Umat
Rupanya Katekese Umat yang seperti dipikirkan, dikembangkan, dan dilaksanakan di
Indonesia menjadi hal yang agak khas, sehingga bisa menjadi sumbangan yang khas pula
bagi Gereja Indonesia, bagi Gereja Asia.
Katekese umat ini mempunyai beberapa keunggulan, antara lain:
1. Katekese Umat sering disebut katekese dari umat, oleh umat, dan untuk umat. Dalam
Katekese Umat semua peserta aktif berpikir, aktif berbicara, aktif mengambil
keputusan. Umat menjadi subjek dalam berkatakese. Umat sungguh menjadi
partisipan dalam berkatakese. Katekese Umat membuat peserta kreatif, kritis, dan,
otonom. Katekese Umat menumbuhkan rasa percaya diri, kepribadian dan martabat
seseorang. Sudah terbukti bahwa kelompok umat yang sering ber-Katekese Umat,
anggota umatnya menjadi semakin kritis dan otonom.
2. Katekese Umat selalu berbicara tentang hidup nyata dalam terang Injil. Hal ini
menyadarkan umat pada intervensi Allah dalam hidup mereka. Itu berarti bahwa
dengan Katekese Umat peserta senantiasa disadarkan secara konkret dan aktual bahwa
Allah hadir dn berkarya dalam hidup nyata mereka. Selanjutnya hal itu berarti pula
Katekese Umat menjadi sarana yang sangat strategis untuk menumbuhkan sikap iman
umat, sebab beriman tidak lain berarti menerima intervensi Allah dalam hidup nyata
dan berpasrah kepada-Nya. Kiranya menjadi jelas bahwa kalau kita berhasil
menggalakkan musyawarah dalam terang Injil atau Katekese Umat itu, maka kita
secara mengena bisa mengkristenkan hidup umat secara menyeluruh sampai ke akar-
akarnya. Tidak ada dualisme lagi dalam hidup umat.
3. Katekese Umat senantiasa mengandalkan kita bahwa dalam berkatakese, umat aktif
berkomunikasi. Berkomunikasi tentang hidup nyata dalam terang iman. Akhirnya
harus terjadi komunikasi iman itu. Katekese Umat sering pula disebut sebagai
komunikasi iman. Semakin umat berkomunikasi iman, umat akan semakin menjadi
communio, semakin menjadi Gereja. Semakin menjadi communio umat akan semakin
mudah berkomunikasi dalam iman. Pengalaman di banyak tempat menunjukkan
bahwa di mana Katekese Umat berjalan dengan baik, di sana communio atau
kelompok Gereja basis, Gereja paroki dan keuskupan berkembang semakin mantap!
Gereja tidak hanya menjadi Gereja institusi, tetapi Gereja communio yang semakin
mandiri.
4. Dalam Katekese Umat, peserta berbicara dan berkomunikasi tentang hidup nyata.
Pembicaraan tentang hidup nyata membuat Katekese Umat dan Gereja menjadi
sungguh kontekstial dan terbuka. Dalam Katekese Umat, Gereja ber-communio
dengan dunia. Orientasi Katekese Umat adalah Kerajaan Allah, bukan terbatas pada
Gereja saja.
Tags:
Artikel
Katekese
Mata Kuliah : Katekese Umat I
: 2 SKS
:
Tujuan :
1. Memahami Katekese Umat, sebagai komunikasi iman antar umat yang dilandasi oleh paham
Gereja Konsili Vatikan II dan konteks masyarakat Indonesi.
2. Memiliki pemahaman yang benar, visi dan keterampilan-keterampilan sehingga mahasiswa
secara tepat benar melaksanakan katekese umat.
BAB I
LATAR BELAKANG MUNCULNYA
KATEKESE UMAT
A. GEJALA PADA UMUMNYA DI DUNIA
1. Seruan Konsili Vatikan II
Konsili Vatikan II membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan Gereja
Universal maupun Gereja Lokal. Salah satu di antaranya adalah pentingnya pembinaan iman
orang dewasa (katekese orang dewasa).
Seruan Konsili Vatikan II dalam hal pembinaan iman orang dewasa ini ditandai dengan
dikeluarkan beberapa dokumen yang membahas tentang Katekese, seperti :
a. Direktorium Umum Katektik (1971)
Oleh Kongregasi Suci untuk Para Klerus
Ditujukan kepada Konferensi Para Uskup, Uskup-Uskup dan semua yang berkecimpung dan
bertanggung jawab dalam bidang Katekese.
Tujuan: Sebagai bantuan dalam menyusun Direktorium Kateketik dan Katekismus.
Isinya: Memuat prinsip dasar teologi pastoral yang diambil dari Magisterium dan Konsili
Vatikan II.
b. Evangelii Nuntiandi (8 Desember 1975)
Imbauan Apostolik Paus Paulus VI, tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern.
c. Catechesi Trandendae (1977)
Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II
Ditujukan kepada Para Uskup, klerus dan segenap umat beriman tentang Katekese Masa
Kini.
Sementara itu negara-negara di Eropa mulai memberi perhatian serius pada pembinaan
iman orang dewasa.
Di Jerman, sekitar tahun 1970 muncul tokoh-tokoh terkenal di bidang katekese
seperti: Hans Schiling dan Adolf Exeler. Menurut Adolf Exeler, persoalan hidup harus
digumuli untuk menemukan maknanya. Maka, perlu refleksi teologis sehingga masalah-
masalah itu dilihat dalam terang iman.
Beberapa istilah penting yang berkaitan dengan katekese, seperti:
- Erwachsenen Katekhese: Pengajaran Katekese bagi Orang Dewasa.
- Theologishe Erwachsenenbildung: Pendidikan Teologi bagi Orang Dewasa.
- Gemeinde Katekhese: Katekese Umat, untuk membedakan dari pelajaran agama di sekolah.
Sejalan dengan itu katekese juga mulai berkembang di Perancis.
2. Sarana Pengembangan Iman Orang Dewasa
a. Pembekalan iman pada umumnya berakhir ketika orang tamat sekolah. Untuk membantu
penyempurnaan pembinaan iman di luar sekolah, perlu pembinaan lanjut lewat katekese.
b. Katekese dibutuhkan untuk membantu keluarga dan masyarakat menghadapi berbagai
tantangan dan masalah akibat perkembangan jaman.
c. Ketekse membantu merefleksikan hidup dalam terang Injil, membangun sikap baru untuk
menghayati kehidupan beriman yang semakin dewasa dan matang.
3. Perkembangan Pesat di Dunia
Perkembangan di dunia membawa banyak perubahan. Perubahan itu baik dalam hidup sosial
maupun kultural yang berdampak pada hidup keagamaan.
Budaya materalistik, hedonisme dan konsumeristik membuat orang semakin acuh tak acuh
terhadap hidup agama dan iman. Untuk itu dibutuhkan pembinaan iman melalui katekese.
B. DI INDONESIA
1. Kemajemukan etnis
Pembauran berbagai agama dan etnis karena perkembangan transportasi dan komunikasi
yang semakin lancar, memberi peluang kebebasan memiliki paham sendiri tentang agama
yang dianuti. Dalam kegoncangan ini katekese harus mewartakan Kristus sebagai jalan
kebenaran dan hidup.
2. Perkembangan alat-alat komuniksi yang pesat
Sekarang alat-alat komunikasi sudah mulai berkembang sampai ke pelosok-pelosok.
Bersamaan dengan itu, banyak paham baru, nilai baru turut menyertainya. Terjadi
pemutarbalikan nilai. Menghadapi situasi tersebut, katekese harus tampil mewartakan
kebenaran iman yang sejati.
3. Situasi Gereja di Indonesia
Kebiasaan/tradisi agama warisan generasi terdahulu mulai dilepas. Orang semakin beralih
kepada iman yang individual dan dinamis. Maka, perlu dipikirkan katekese mewartakan Injil
secara baru dan mengena.[1]
4. Katekese Umat menjangkau berbagai lapisan orang
Katekese menjangkau berbagai lapisan orang dan kelompok yang ada dalam masyarakat
(orangtua, orang muda, anak-anak, dsb)
5. Katekese sarana penjemaatan Gereja
Katekese sarana yang menjemaatkan Gereja. Kesadaran menggereja perlahan-lahan dibentuk
dan dibina melalui katekese.
Latihan
BAB II
SELAYANG PANDANG SEJARAH
KATEKESE UMAT DARI PKKI KE PKKI
Katekese Umat dicetuskan dalam pertemuan Komisi Kateketik Keuskupan se Indonesia
(PKKI) yang pertama yang berlangsung di Sindanglaya (Jabar) dari tanggal 10-16 Juli 1977.
Sejak saat itu PKKI diselenggarakan empat tahun sekali.
A. KATEKESE UMAT DALAM PKKI I
 Bertempat di Wisma Syalom Sindanglaya – Jawa Barat, tanggal 10-16 Juli 1977.
 Tema : Arah Katekese di Indonesia
 Situasi umum karya katekese:
~ Pelayanan katekese masih didominasi kaum hirarkis dan petugas pastoral lainnya.
~ Katekese Sekolah mendapat porsi yang lebih besar (utama), bentuk katekese lain disebut
‘katekese luar sekolah’.
 Hasil :
Arah katekese adalah komunikasi iman umat; katekese oleh umat, dari umat dan untuk umat.
Katekese mengumat.
Bentuk-bentuk katekese lainnya, termasuk katekese di sekolah, katekese katekumenat dilihat
dalam rangka Katekese Umat.
B. KATEKESE UMAT DALAM PKKI II
 Bertempat di Wisma Samadi Klender
 Tanggal 29 Juni – 5 Juli 1980.
 Tema : Katekese Umat
 Situasi umum karya katekese
 Katekese umat mulai dijalankan, tapi banyak mengalami kesulitan, seperti; kekaburan
pemahaman tentang Katekese Umat, tenaga, dana, sarana, dsb.
 Pergolakkan mulai terasa dalam tubuh Gereja. Terasa Katekese Umat mulai
mengganggu stabilitas Gereja Institusional.
 Hasil: Merumuskan arti dan tujuan Katekese Umat
1. KATEKESE UMAT diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman
(penghayatan iman) antara anggota jemaat/kelompok. Melalui kesaksian, para peserta saling
membantu sedemikian rupa sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara
semakin sempurna. Dalam Katekese Umat, tekanan terutama diletakan pada penghayatan
iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese Umat mengandaikan adanya
perencanaan.
2. Dalam Katekese Umat, kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus,
Pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan Pengantara kita menanggapi Sabda
Allah. Yesus Kristus tampil sebagai pola hidup kita dalam Kitab Suci, khususnya
dalam Perjanjian Baru yang mendasari penghayatan iman Gereja sepanjang
tradisinya.
3. Yang berkatekese ialah umat, artinya semua orang beriman yang secara pribadi
memilih Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus. Kristus
menjadi pola hidup pribadi, pun pula kehidupan kelompok. Jadi seluruh umat, baik
yang berkumpul dalam kelompok-kelompok basis, maupun di sekolah atau perguruan
tinggi. Penekanan pada seluruh umat ini justru merupakan salah satu unsur yang
memberi arah pada katekese sekarang. Penekanan peranan umat pada katekese ini
sesuai dengan peranan umat pada pengertian Gereja itu sendiri.
4. Dalam katekese yang menjemaat ini, pemimpin katekese bertindak sebagai pengarah
dan pemudah (fasilitator). Ia adalah pelayan yang siap menciptakan suasana yang
komunikatif. Ia membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara
terbuka. Katekese umat menerima banyak jalur komunikasi dalam katekese. Tugas
mengajar yang dipercayakan kepada hirarki menjamin agar seluruh kekayaan iman
berkembang dengan lurus.
5. Katekese Umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman
yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. Peserta berdialog dalam
suasana terbuka, ditandai sikap saling menghargai dan saling mendengarkan. Proses
terencana ini berjalan terus menerus.
6. Tujuan komunikasi iman itu ialah;
• supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman kita sehari-hari;
• dan bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan
hidup sehari-hari;
• dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih, dan
semakin dikukuhkan hidup kristiani kita;
• pula kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin mewujudkan tugas Gereja
setempat dan mengokohkan Gereja semesta;
• sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah
masyarakat.
Ditekankan pula bahwa kunci keberhasilan Katekese Umat ialah Pembina Katekese Umat
yang disebut Pemudah atau Fasilitator.
C. KATEKESE UMAT DALAM PKKI III
 Bertempat di Pacet-Mojokerto – Jawa Timur
 Tanggal 29 Januari – 5 Pebruari 1984.
 Tema : Pembinaan Pembina Katekese Umat
 Hasil :
1. Arti dan Makna Pembina Katekese Umat[2]
2. Pembinaan Keterampilan Pembina KU
Keterampilan mengenai kepekaan seluruh pribadi seseorang terhadap apa saja yang termasuk
situasi konkret, kebutuhan dan visi kristianinya.
3. Unsur-unsur Pokok dalam Pembinaan pembina KU:
a. Kemampuan/keterampilan berefleksi:
• Tentang nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup sehari-hari
Tentang nilai-nilai Injili dan nilai kristiani dalam tradisi gereja
• Tentang nilai-nilai manusiawi dalam terang nilai-nilai Injili dan Kristiani.
b. Kemampuan/keterampilan berkomunikasi
 Kemampuan mengumpulkan, menyatukan dan mengarahkan kelompok umat sampai pada
tindakan nyata.
 Kemampuan mengungkapkan diri, berbicara dan mendengarkan.
 Kemampuan menciptakan suasana yang memudahkan peserta untuk mengungkapkan diri
dan mendengarkankan pengalaman orang lain.
D. KATEKESE UMAT DALAM PKKI IV
 Bertempat di Denpasar – Bali
 Tanggal 24-28 Oktober 1988
Tema : Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat.
 Hasil :
Menetapkan katekese yang bukan Gerejasentris tetapi Kerajaan Allah sentris. Katekese yang
kontekstual, katekese yang semakin terlibat dalam masyarakat.
Alasannya: kita hidup dalam masyarakat majemuk.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini dibuat lokakarya KU dalam kaitan dengan Analisa
Sosial di Wisma PTPM Sosrowijayan Yogyakarta 7-10-1989 oleh team yang dipimpin oleh
R.P Haselaars, SJ tentang KU Metode SOTARAE.
E. KATEKESE UMAT DALAM PKKI V
 Bertempat di Caringin – Bogor
 Tanggal 22-30 September 1992
 Tema : Membina iman yang terlibat dalam masyarakat.
Beriman dalam Hidup Bermasyarakat: Tantangan bagi Katekese. Diharapkan agar umat
semakin memahami dan meyakini pentingnya katekese sosial sebagai upaya untuk membina
iman yang terlibat di dalam masyarakat.
 Hasil :
Menetapkan Katekese Umat harus bersifat kontekstual; artinya katekese yang mampu
menjawabi kebutuhan aktual, konkret. Untuk itu perlu ada Analisa Sosial (Ansos) sebagai
alat bantu untuk menemukan tema-tema aktual dan nyata.
F. KATEKESE UMAT DALAM PKKI VI
 Bertempat di Wisma Samadi Klender - Jakarta
 Tanggal 1 – 10 Agustus 1996
 Tema : Menggalakkan Karya katekese di Indonesia
Katekese Umat dan Kerajaan Allah
Memperdalam hal-hal yang berkaitan dengan katekese mulai dari PKKI I – PKK IV.
 Hasil :
• Menetapkan arah dasar Katekese Umat adalah Kerajaan Allah.
Kerena, Kerajaan Allah menjadi pokok pewartaan dan keprihatinan Yesus Kristus.
• Keterlibatan Katekese Umat Ansos untuk dapat membangun dunia ini menjadi lebih sesuai
dengan kehendak Allah.
• Beberapa hal praktis yang penting diperhatikan dalam KU
≈ Katekese Umat Ansos adalah salah satu Katekese Umat yang dimulai dengan analisis
masalah-masalah sosial.[3]
≈ Penggunaan Kitab Suci dalam Katekese Umat Ansos, sarana-sarana pendukung Katekese,
misl. televisi.
≈ Peran media bagi pembinaan iman anak dan remaja, serta spiritualitas Penilik Pendidikan
Agama Katolik di sekolah.
G. KATEKESE UMAT DALAM PKKI VII
 Bertempat di Sawiran - Jawa Timur
 Tanggal 24 – 30 Juni 2000
Tema : Katekese Umat dan Kelompok Basis Gerejani
 Hasil :
• Pembahasan Kurikulum PAK.
• Katekese Umat dan Komunitas Basis Gerejani
Katekese Umat hendaknya menjadi sarana pemberdayaan Umat Basis.
Katekese Umat yang diharapkan:
- Pertama; menghantar umat membangun komunitas, saling mengenal secara mendalam, serta
menyadari mengapa perlu berkomunitas.
- Kedua, menghantar semua anggota komunitas memiliki visi, misi dan spiritualitas yang sama,
yaitu sebagai komunitas murid-murid Yesus (Gereja), komunitas merefleksikan pengalaman
berkomunitas dalam terang Injil.
- Ketiga, mengamalkan kesederajatan. Katekese Umat membantu semua anggota komunitas
memahami dan mempraktekkan kepemimpinan partisipatif yang menjadi sentral dalam
membangun komunitas.
H. KATEKESE UMAT DALAM PKKI VIII
 Bertempat di Wisma Misericordia - Malang
 Tanggal 22 -28 Pebruari 2004
 Tema : Membangun Komunitas Basis Gerejani Berdimensi Kemasyarakatan (sosial, politik, ekonomi,
budaya, dsb)
 Hasil : Menetapkan Katekese Umat yang menunjang KBG yang berdimensi kemasyarakatan.
H. KATEKESE UMAT DALAM PKKI IX
 Bertempat di Manado
 Tanggal : 17-23 Juni 2008
 Tema : Katekese Dalam Masyarakat Yang Tertekan
 Hasil :
1. KU yang diharapkan dapat memberi peneguhan, pencerahan, serta keberanian untuk
bertindak mengatasi ketertekanan dalam tiga bidang kehidupan, yaitu bidang kemanusiaan,
politik, dan hukum.
2. Penerusan iman – dipakai sarana Kotbah perayaan Ekaristi.
3. Tema yang memiliki keberpihakan jelas - tentang masyarakat yang tertekan sebagai tujuan
kegiatan katekese.
4. Mencipta harmoni sosial - Merupakan tugas para katekis untuk membantu masyarakat
beragama menciptakan harmoni sosial. Jangan sampai keberadaan agama justru melemahkan
upaya untuk mewujudkan harmoni sosial di tengah masyarakat.
Latihan:
BAB III
ARTI, TUJUAN DAN PROSES KATEKESE UMAT
A. ARTI KATEKESE UMAT
Katekese Umat dapat ditinjau dari berbagai segi/aspek antara lain, antropologis,
sosiologis dan teologis.
1. Katekese Umat sebagai Musyawarah Iman
(aspek Antropologis)
Masyarakat kita sering bermusyawarah untuk memecahkan suatu persoalan, misalnya
kemarau yang panjang, gagal panen, dsb atau untuk memenuhi kebutuhan, misalnya
membuat rumah baru, mengadakan pesta, dsb.
Proses itu biasanya berlangsung sbb:
• Langkah pertama: melihat dan mendalami persoalan atau kebutuhan
• Langkah kedua: menimba kebijakan dari tradisi
• Langkah ketiga: merencakan tindakan yang perlu
Katekese Umat adalah kristianisasi atau inkulturasi terhadap musyawarah masyarakat
kita itu. Kita menjadikan musyawarah masyarakat itu berdimensi Injili.
2. Katekese Umat sebagai Analisa Sosial
dalam Terang Injil (aspek sosiologis)
Katekese Umat dengan tema-tema yang menyangkut ketidakadilan sangat dianjurkan
untuk memakai pendekatan analisa sosial.
PKKI IV menekankan bahwa penghayatan iman kristiani/penyaksian iman terjadi
dalam kenyataan konkret. Dalam kenyataan itu munculah masalah-masalah sosial. Maka,
untuk menangkap dan memahami masalah itu dibutuhkan analisa sosial. Dalam kaitan
dengan tujuan katekese umat yaitu membina iman yang sungguh terlibat dan bertanggung
jawab dalam kenyataan sosial, analisa sosial mutlak perlu diusahkan sebagai titik tolak dan
mewarnai proses Katekese Umat.
Dalam PKKI II dirumuskan bahwa fungsi Katekese Umat sebagai usaha menafsirkan
hidup nyata dalam terang Injil. Hidup nyata memiliki banyak dimensi. Salah satu dimensi
itu adalah bahwa adanya sistem atau aturan main yang menentukan hidup banyak orang
dalam masyarakat.
Sistem ini diatur atau diciptakan segelintir orang yang berkuasa dan bermodal untuk
mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan akibatnya bagi rakyat
jelata, sehingga menimbulkan penindasan dan kemiskinan. Sistem ini biasanya menyusup ke
segala bidang terutama politik dan ekonomi, baik di tingkat mikro maupun makro.
Akibatnya, rakyat diliputi perasaan takut, apatis, terpojok, kehilangan nafkah, kepercayaan
diri mulai lemah, dsb. Sistem-sistem yang bermain peranan di balik kenyataan ini disadari
sebagai akar masalahnya.
Dalam Analisa Sosial, kita berusaha untuk mempelajari struktur sosial yang ada,
mendalami situasi di tiap bidang sehingga kita tahu sejauh mana institusi-institusi itu
mempengaruhi situasi yang ada, dengan demikian kita mampu melihat masalah sosial yang
ada dalam konteks yang lebih luas. Dan kiranya, kita mampu melihat masalah yang lebih luas
itu, maka kita bisa menentukan aksi untuk mengatasi ketidakadilan yang ada. Jadi, Analisa
Sosial adalah suatu usaha nyata yang merupakan bagian penting menegakkan keadilan sosial.
Proses KU yang menggunakan pendekatan Analisa Sosial sebagai berikut:
• Melihat dan menyadari gejala atau fenomena ketidakadilan sosial yang ada
• Merumuskan fenomena ketidakadilan itu
• Mencari akar dari ketidakadilan dan akibat-akibatnya
• Merefleksikannya dalam iman (Kitab Suci dan ajaran Gereja)
• Merencanakan aksi, kemudian disusul dengan aksi.[4]
3. Katekese Umat sebagai Komunikasi Iman
Katekese Umat bertumbuh bersama bergesernya visi gereja, dari Gereja institusional
yang bersifat hirarkis piramidal ke Gereja Umat Allah, Gereja Commonio, Gereja Sakramen
Keselamatan, Gereja Kaum Miskin, Gereja Pemberdayaan dan Pemerdekaan.
Dalam Gereja Intitusional katekese bersifat dari atas ke bawah, bersifat informatif,
intruksional. Dalam Gereja post konsilier, katekese lebih bersifat komunikatif.
PKKI II di Klender merumuskan arti dan makna Katekese Umat sbb:
1). Katekese Umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan
iman) antara anggota jemaat/kelompok. Melalui kesaksian, para peserta saling membantu
sedemikian rupa sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin
sempurna. Dalam Katekese Umat, tekanan terutama diletakkan pada penghayatan iman,
meskipun pengetahuan tidak dilupakan.
Katekese Umat mengandaikan adanya perencanaan[5].
Yang ditekankan di sini komunikasi bukan saja antara pendamping dengan peserta, tetapi
lebih-lebih komunikasi antar peserta sendiri. Yang ditukarkan ialah penghayatan iman bukan
pengetahuan tentang rumusan iman. Rumusan iman menunjang penghayatan iman. Para
peserta katekese diharapkan mengenal penghayatan sendiri di dalam rumusan-rumusan resmi
Gereja.
Katekese umat adalah salah satu bidang dalam usaha pastoral Gereja. Namun demikian,
antara katekese dan usaha pastoral Gereja yang lain, dipengaruhi dan mempengaruhi satu
dengan lainnya. Yang dimaksudkan di sini adalah Katekes Umat adalah usaha pembinaan
iman umat secara teratur dan terencana.
2). Dalam Katekese Umat, kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, Pengantara Allah
yang bersabda kepada kita dan Pengantara kita menanggapi Sabda Allah. Yesus Kristus
tampil sebagai pola hidup kita dalam Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Baru yang
mendasari penghayatan iman Gereja sepanjang tradisinya.
Dalam anjuran Apostolik Catechesi Tradendae, Paus Yohanes Paulus II menegaskan:
Katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman,
yang khususnya mencakup penyampaian ajaran kristen, yang pada umumnya diberikan
secara organis dan sistimatis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki
kepenuhan hidup kristen[6].
Dengan kata lain, katekese adalah usaha-usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat
agar semakin memahami, menghayati, dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-
hari.
B. TUJUAN KATEKESE UMAT
Tujuan Katekese Umat, PKKI II menegaskan bahwa :
1. supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman-pengalaman
kita sehari-hari;
Rumusan tujuan mau menunjukan bahwa katekese membantu kita untuk hidup semakin
sadar, semakin mendalam. Kedalaman ini diperoleh dengan melihat hidup dalam terang iman.
Ini berarti katekese menempatkan pengalaman religius ke dalam hidup nyata dan konkret.
Dengan demikian, peserta ditolong untuk menafsirkan riwayat hidupnya sebagai sejarah
penyelamatannya.
Oleh karena itu pengalaman hidup peserta harus sungguh-sungguh digali. Katekese Umat
mencegah dualisme dalam hidup beriman. Katekese mendorong proses pemanusiaan kristiani
yang utuh.
2. dan bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam
kenyataan hidup seharihari;
Tujuan dari setiap katekese adalah perubahan sikap baru (metanoia) karena berkat terang
iman. Mengambil sikap yang baru tidak selalu berarti beralih dari sikap yang tidak baik
(dosa) ke sikap yang baik (suci), tetapi juga berarti beralih dari sikap yang baik ke sikap yang
lebih baik lagi, menjadi semakin sempurna.
Tobat tidak sebatas pada aspek rohani melulu dalam arti menyangkut sikap iman saja, tetapi
juga, menjangkau sampai pada tindakan nyata. Tobat menyangkut keseluruhan kehidupan
manusia lahir dan batin.
Tobat sebagai hasil dari katekese menghilangkan jurang antara agama dan hidup sehari-hari.
Agama dihayati dalam hidup profan dan hidup menjadi medan perjumpaan dengan Allah.
Melalui katekese umat mengalami dan menyadari bahwa seluruh hidup dan dunia kita ditebus
oleh Kristus dan dipakai oleh Roh Kudus untuk menghantar kita kepada Allah Bapa. Tobat
yang sejati memang harus menghantar kita kepada Allah melalui hidup ini.
3. dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih, dan
semakin dikukuhkan hidup kristiani kita;
Kehidupan yang terarah kepada Allah harus terwujud dalam tiga gejala dasar yaitu, iman,
harap dan kasih yang harus semakin nyata diamalkan dalam hidup sehari-hari.
4. pula kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin mewujudkan tugas Gereja
setempat dan mengokohkan Gereja semesta;
Selain mempersatukan kita dengan Kristus, katekese juga mempersatukan kita dengan
Gereja. Katekese turut membangun Gereja. Dengan berkatekese umat kita semakin
mewujudkan Gereja basis itu sendiri secara konkret dan nyata, dengan demikian mewujudkan
gereja setempat dan gereja universal. Semakin kita berkatekese, umat semakin mewujudkan
gereja itu sendiri. Dan, bila gereja semakin terwujud maka komunikasi iman umatnya
semakin terwujud pula.
5. sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah
masyarakat[7].
Dampak dari gereja yang semakin mewujudkan dirinya tidaklah melulu terarah ke dalam,
tetapi juga keluar – ke masyarakat – ke dunia. Gereja yang semakin mewujudkan dirinya itu
harus dapat memberi kesaksian tentang Kristus kepada dunia. Dengan katekese Gereja
semakin mantap tetapi juga missioner.
Point kelima merangkum semua menuju tujuan Katekese Umat. Kelima butir rumusan tujuan
di atas menyoroti tujuan Katekese Umat dari sudut yang berbeda-beda. Ketiga butir yang
pertama lebih memperhatikan peserta. Kedua lainnya menegaskan tujuan sebagai Gereja dan
semuanya berpuncak pada hidup kita di tengah masyarakat.
Katekese Umat menempatkan pengalaman religius kembali ke dalam hidup konkret. Dengan
demikian, para peserta ditolong untuk menafsirkan riwayat hidupnya sebagai sejarah
penyelamatan.
C. TITIK TOLAK PROSES KATEKESE UMAT
1. Proses Katekese Umat
Ciri kahs Katekese umat juga terletak pada proses, yaitu: proses interaksi kelompok
dan proses pengembangan iman.
a. Proses interaksi kelompok
Proses ini terjadi dalam usaha saling menolong, saling mengkomunikasikan pengalaman
manusiawi dan pengalaman iman serta usaha bersama mencari dampaknya bagi hidup nyata
oleh kelompok itu sendiri.
b. Proses pengembangan iman
Dalam berkatekese iman seseorang bisa ditumbuhkan, diteguhkan atau mungkin dikoreksi
sebagai hasil dari komunikasi iman tersebut. Proses ini berlangsung seumur hidup.
2. Titik Tolak Proses Katekese Umat
Titik tolak proses katekese artinya darimana kita mulai berkatekese. Suatu katekese
umat dimulai dari :
a. Pengalaman hidup atau situasi aktual peserta
b. Pengalaman Kitab Suci dan Tradisi Gereja
Kedua titik tolak ini dapat digunakan dalam membangun katekese. Akan tetapi lebih
baik kalau bertitik tolak dari pengalaman hidup. Sebab:
≈ Allah menyapa manusia sepanjang sejarah hidup manusia (Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru) melalui situasi konkret dalam konteks sosio-budaya tertentu.
≈ Lebih manusiawi, artinya manusia mulai dengan penyadaran diri dan hidupnya baru
menanggapi sesuatu, termasuk Tuhan. Iman yang bertumbuh dari pengalaman hidup
manusia, prosesnya terasa lebih mengena.
≈ Suatu proses komunikasi yang akrab biasanya dimulai dari pengalaman hidup.
Alasan yang lebih bersifat metodis, yaitu:
 KU disebut katekese oleh umat dan untuk umat, akan jauh lebih gampang bila dimulai dari
kehidupan mereka sehari-hari. Sejak semula bisa dimulai dengan proses komunikasi yang
sangat akrab.
 Bila dimulai dengan Kitab Suci peranan fasilitator harus cukup dihandalkan pada
permulaannya; mungkin fasilitator harus berbicara lebih banyak dan ini agak menghalangi
proses komunikasi awal, dsb.
D. MATERI KATEKESE UMAT
Dalam berkatekese harus ada bahan/materi yang dikomunikasikan. Materi KU adalah:
1. Pengalaman hidup
2. Kitab Suci
3. Tradisi Gereja/Ajaran Gereja sepanjang masa.
Ketiga materi ini tidak boleh berdiri sendiri tetapi selalu terpadu sangat erat. Setiap KU
selalu berurusan dengan pengalaman hidup, dengan Kitab Suci dan Ajaran Gereja. KU
merupakan peristiwa hidup dan peristiwa gerejani yang mendapat artinya dalam terang Kitab
Suci.
Latihan:
1.
BAB IV
PEMBINA KATEKESE UMAT
A. KEPEMIMPINAN DALAM KATEKESE UMAT
1. Siapa itu Pemimpin Katekese Umat
PKKI III (1984) di Pacet, merumuskan kriteria Pembina Katekese Umat adalah seorang
yang mampu dan rela untuk menjalankan Katekese Umat dalam kelompok dasar. Seorang
Pembina Katekese Umat sebagai saksi iman diharapkan:
a. Seorang pribadi yang beriman Katolik yang sadar akan panggilan Roh Kudus untuk
melayani sesama umat dalam kelompok dasar.
b. Seorang pribadi yang rela mengumpulkan, menyatukan, dan membimbing kelompok
umat dasar untuk melaksanakan Katekese Umat sebagai suatu proses komunikasi
iman yang semakin berkembang.
c. Seorang pribadi yang menghargai setiap peserta kelompok Katekese Umat dengan
segala latar belakang dan situasinya.
d. Seorang pribadi yang berperan sebagai pengarah dan pemudah untuk menciptakan
suasana komunikatif dalam kelompok umat dasar yang dilayani.
2. Peran Pemimpin Ketekese Umat
Pemimpin Katekese Umat disebut dengan pengarah/fasilitator. Ia berperan mengarahkan dan
memperlancar komunikasi iman di antara peserta. Karena itu seorang pembina tidak boleh
bertindak menggurui peserta. Untuk itu ia harus :
a. Memberi kesempatan yang cukup kepada setiap peserta untuk berbicara membagi
pengalamannya.
b. Membantu peserta yang malu berbicara agar berani mengambil bagian dalam dialog.
c. Mengendalikan peserta yang mau berbicara sendiri.
d. Menggali, memperdalam dan memperluas pengalaman peserta dengan pertanyaan
yang tepat.
e. Merangkum hasil pembicaraan bersama, lalu mengarahkan.
B. KEPRIBADIAN DAN SPIRITUALITAS
PEMBINA KATEKESE UMAT
1. Kepribadian Seorang Pendamping Katekese Umat
a. Kepribadian pada Umumnya
Kepribadian (indetity) berarti keseluruhan sikap, sifat dan watak, meliputi seluruh
pembawaan dan mutu diri seseorang, termasuk seluruh kekuatan dan kelemahan,
kecenderungan dan cita-cita serta cara bagaimana semua unsur itu diintegrasikan dalam diri
seseorang.
Kepribadian itu terus berkembang ke arah yang seimbang menuju kepribadian yang matang
atau merosot ke arah yang buruk. Kepribadian berkembang apabila berdasarkan bakat-bakat
alamiah diperkembangkan menurut cita-cita luhur.
Manusia yang berpribadian matang (dewasa) kalau ia mampu berdiri sendiri sesuai dengan
sikap yang dapat dipertanggung-jawabkan bukan hanya terhadap hati nuraninya, tetapi juga
terhadap masyarakat. Ia tidak diombang-ambingkan oleh pandangan yang sedang trend. Ia
bersikap kristis, namun terbuka untuk menerima pandangan yang baik dan benar. Tidak picik
dan egosentris. Rendah hati dan komunikatif. Terhadap sesama (masyarakat) dan tugas ia
memiliki komitmen yang tinggi.
b. Kepribadian Pembina Katekese Umat
Pembina Katekese Umat diharapkan menghayati sikap, sifat, watak serta pembawaan yang
disebut di atas, meliputi:
1. Terhadap diri sendiri
- Bersikap jujur, menerima diri seadanya, tidak angkuh, tetapi juga tidak rendah diri.
- Tahu menahan diri, misalnya tidak terlalu banyak berbicara supaya umat bisa lebih banyak
berbicara, tidak overakting.
2. Terhadap sesama
- Terbuka, jujur dan rendah hati
- Memiliki kepekaan dan komitmen, suka membantu sesama.
- Suka mendengar, penuh pengertian, ramah.
- Komunikatif, tahu membawa diri.
3. Terhadap situasi
- Kritis tidak terbawa arus, tetapi terbuka, bisa menyesuaikan diri.
- Cekatan membaca tanda-tanda jaman.
- Tahan bantingan pada situasi kritis dan sulit.
4. Terhadap tugas
- Mencintai tugas dan merasa terpanggil untuk itu.
- Senantiasa loyal (setia) dan terlibat pada tugas.
- Berusaha untuk menjadi profesional dalam menjalankan tugas.
5. Terhadap Tuhan
- Percaya pada Tuhan dalam situasi apa saja.
- Senantisa bersyukur kepada Tuhan dalam untung dan malang.
- Senantiasa berharap pada Tuhan dan penuh semangat optimisme.
2. Spriritualitas Pendamping Katekese Umat
Spiritualitas pada umumnya dimaksudkan sebagai hubungan pribadi seorang beriman dengan
Allahnya dan aneka perwujudannya dalam sikap dan perbuatan. Atau spiritualitas dipahami
sebagai hidup berdasarkan kekuatan Roh Kudus dengan mengembangkan iman, harapan, dan
cinta kasih atau usaha mengintegrasikan segala segi kehidupan kedalam cara hidup yang
secara sadar bertumpu pada iman akan Yesus Kristus. Atau dapat pula dikatakan sebagai
pengalaman iman kristiani dalam hidup konkret.
Spiritualitas awam adalah kehidupan rohani yang menyanggupkan orang menghayati dan
mengamalkan imannya, baik sebagai anggota penuh Gereja maupun sebagai warga
masyarakat. Spiritualitas awam memperoleh warna khas dari lingkungan serta status
hidup seseorang dari aktivitas profesional dan sosial orang yang bersangkutan. Apapun
juga lingkungan itu, setiap orang menerima talenta yang harus dikembangkan. Demikian ia
bekerjasama dengan anugerah yang diberikan oleh Roh Kudus kepadanya[8].
Spiritualitas Pembina Ketekese Umat adalah spiritualitas umum. Dengan demikian,
spiritualitas dapat disebut mengikuti jejak Kristus. Spiritualitas kemuridan Yesus, yaitu
keterlibatan pada dunia demi membangun Kerajaan Allah.
Secara khusus spiritualitas Pembina Katekese Umat dalam lokakarya “Pembina Katekese
Umat” di Wisma Kinarsih (16 s/d 21 Pebruari 1998) merumuskan spiritualitas Pembina
Katekese Umat sebagai: Roh (semangat) membantu sesama (peserta KU) melalui
pewartaan iman yang komunikatif, agar bersama-sama mampu mewujudkan Kerajaan
Allah, karena kepedulian terhadap Allah dan sesama.
C. PENGETAHUAN PEMBINA KATEKESE UMAT
Pembina Katekese Umat diharapkan memiliki pengetahuan yang memadai, paling
kurang pengetahuan yang bisa menunjang dalam proses Katekese. Pengetahuan menyangkut:
isi, metode, peserta, dan konteks peserta Katekese Umat.
1. Pengetahuan menyakut Isi Katekese Umat
Dalam Ketekese Umat biasanya bertitik tolak dari pengalaman hidup, lalu pengalaman
hidup itu diterangi dengan ajaran iman katolik yang terdapat dalam Kitab Suci dan Tradisi
Gereja.
Jadi, menyangkut isi katekese, disebut dua hal yaitu pengalaman hidup/hidup nyata
dan ajaran iman katolik. Menyangkuti isi tentang pengalaman hidup agak susah
dibicarakan di sini, mengingat konteksnya sangat berbeda. Dengan demikian kiranya
menyangkut isi itu diangkat dari sisi ajaran iman katolik. Pengetahuan tentang ajaran iman
katolik yang hendaknya dimiliki oleh Pembina Katekese antara lain:
a. Kitab Suci
Memiliki pengertian yang tepat tentang Kitab Suci sebagai kitab iman, sehingga tidak jatuh
dalam bahaya menggunakan Kitab Suci secara fundamentalistik atau simplikasi
(menyederhanakan). Hal ini sangat membantunya untuk memilih teks-teks Kitab Suci secara
tepat dan memprosesnya bersama peserta katekese.
b. Kristologi
Mengenal pribadi, pewartaan dan tindakan Yesus. Khusus pewartaan dan tindakan Yesus
dalam hubungan dengan obsesiNya menyangkut Kerajaan Allah.
c. Eklesiologi (Gereja)
Sudah memadai kalau pembina bisa memahami:
• Gereja sebagai Umat Allah, Gereja sebagai communio, demi keterlibatan umat dalam
katekese.
• Gereja sebagai Tanda Keselamatan Dunia, Gereja Pemberdayaan dan Gereja Pemerdekaan.
Tujuan katekese antara lain untuk memberdayakan dan memerdekakan umat supaya bisa
menjadi tanda keselamatan bagi dunia.
d. Ajaran Sosial Gereja
Hal pokok dalam ajaran sosial Gereja kiranya diketahui, karena opsi dari Katekese Umat
antara lain keberpihakan pada kaum papa dan tergusur. Ajaran sosial Gereja sering
menyinggung masalah ketidakadilan sosial tersebut.
2. Pengetahuan menyangkut Metode
Pembina Katekese Umat dituntut mengetahui metodologi memproses Katekese Umat.
Pengetahun tentang metode Katekese Umat dapat dipelajari secara teoritis melalui uraian-
uraian yang telah banyak dipublikasikan, tetapi juga dengan mempelajarinya dari model-
model atau contoh-contoh Katekese Umat yang telah banyak ditulis.
Dari proses dan langkah-langkah Katekese Umat diandaikan pembina sedikit
banyaknya menguasai cara-cara berikut:
• Menganalisa situasi
• Menafsir Kitab Suci
• Menyusun rencana tindak lanjut,
• dsbnya.
3. Pengetahuan menyangkut Peserta
Agar proses Katekese Umat berjalan dengan lancar dan baik, maka penting juga
Pembina mengetahui pribadi-pribadi dan latarbelakang peserta, seperti:
• Daya nalarnya, perasaan dan intuisinya,
• Latar belakang status sosial dan latar belakang ekonominya,
• Latar belakang budaya; budaya tradisional atau modern, dsb.
Singkatnya: pembina Katekese Umat sebaiknya sedikit mengenal psikologi dan konteks
peserta.
4. Pengetahuan menyangkut Konteks
Pembina Katekese Umat juga dituntut mengetahui tentang konteks, yang bersifat
nasional dan global, misalnya pengaruh globalisasi dalam wujud semangat materialisme,
konsumerisme, individualisme, dsbnya. Karena hal ini bisa sangat mempengaruhi suasana
batin peserta. Pengetahuan tentang konteks ini penting, pertama-tama bukan untuk diberikan
kepada peserta, tetapi terutama untuk pembina sendiri supaya ia bisa dengan tepat dan peka
mengarahkan keseluruhan proses Katekese Umat secara relevan.
D. KETERAMPILAN PEMBINA KATEKESE UMAT
1. Kemampaun-Kemampuan Dasariah
a. Kemampuan/keterampilan berkomunikasi
Komunikasi yang terjadi dalam Katekese Umat adalah komunikasi antara orang-orang
dengan pengalaman tertentu pada situasi tertentu yang dilatarbelakangi kebudayaan tertentu.
Maka secara praktis kemampuan/keterampilan berkomunikasi yang perlu ditekankan antara
lain:
• Kemampuan/keterampilan berkomunikasi dan berelasi mampu mengumpulkan, menyatukan
dan mengarahkan kelompok sampai kepada suatu tindakan nyata.
• Kemampuan/keterampilan mengungkapkan diri, berbicara dan mendengarkan.
• Kemampuan/keterampilan menciptakan suasana yang memudahkan peserta untuk
mengungkapkan diri dan mendengarkan pengalaman orang lain.
b. Kemampuan/keterampilan berefleksi
Komunikasi yang dikembangkan dalam katekese adalah komunikasi iman. Hal itu berarti,
Pembina Katekese Umat adalah orang yang menyadari dan mampu memberi kesaksian
tentang pengalaman imannya. Komunikasi iam menuju/berpusat pada kehadiran Kristus yang
dialami dan dihayati oleh umat kristiani di mana-mana sejak jaman para rasul.
Maka secara praktis kemampuan/keterampilan yang harus dimiliki oleh Pembina Katekese
Umat adalah:
• Mampu/terampil menemukan nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup sehari-hari.
• Mampu/terampil menemukan nilai-nilai kriatiani dalam Kitab Suci, ajaran Gereja dan tradisi
kristiani lainnya.
• Mampu/terampil memadukan nilai-nilai kristiani dengan nilai-nilai manusiawi dalam
pengalaman hidup sehari-hari.
Untuk bisa menemukan nilai-nilai manusiawi dari pengalaman-pengalaman dan Kitab Suci
dan kemudian memadukannya dibutuhkan kemampuan untuk berefleksi.
2. Kemampuan yang lebih Spesifik
(saat membawakan Katekese Umat)
Selain kemampuan-kemampuan dasariah atau pokok di atas, dibutuhkan juga
kemampuan/ keterampilan yang lebih spesifik yang ditinjau dari langkah-langkah dari suatu
proses Katekese Umat.
Dalam suatu Katekese Umat pada umumnya terdapat tiga tahap/langkah besar, yaitu:
• Tahap menyadari situasi berhubungan dengan tema yang diangkat.
• Tahap menafsirkan situasi (tema) dalam terang Kitab Suci.
• Tahap membulatkan tekad dan menyusun rencana.
Maka, keterampilan atau kemampuan yang dibutuhkan pada tiap tahap sebagai berikut:
a. Tahap menyadari situasi berhubungan dengan topik yang diangkat.
Tahap ini berhubungan dengan menyadari situasi, misalnya “Kemiskinan”, maka dibutuhkan
oleh pembina (juga peserta) keterampilan:
• Melihat/mengamati fenomena atau gejala kemiskinan itu. Tidak boleh apriori atau berasumsi
sudah tahu. Orang harus belajar mengamati. Itu perlu kepekaan dan keterampilan.
• Menarik benang merah, membuat sintesa atau merumpunkan gejala-gejala.
• Mencari akar terdalam, menganalisis gejala-gejala itu. Semua ini terjadi dengan proses
interaksi yang intensif. Keterampilan berkomunikasi sangat dibutuhkan.
b. Tahap menyadari situasi dalam terang Kitab Suci
Untuk tahap ini Pembina Katekese Umat membutuhkan keterampilan:
• Membolak-balik dan membaca Kitab Suci dengan baik.
• Menangkap pesan (teologi) Kitab Suci dengan tepat. Di sini dibutuhkan keterampilan
menafsirkan Kitab Suci.
• Kalau pesan Kitab Suci sudah ditangkap, lalu bagaimana situasi kemiskinan di atas diterangi
dengan pesan Kitab Suci itu. Di sini dibuthkan keterampilan untuk menafsirkan, untuk
mengaktualisasikan pesan Kitab Suci tadi dalam kemiskinan itu. Atau keterampilan untuk
menerapkan relevansi pesan Kitab Suci atas situasi kemiskinan. Untuk itu semua dibutuhkan
kemampuan refleksi secara mendalam.
Dalam proses ini dibutuhkan keterampilan Pembina Katekese Umat mendampingi peserta
untuk terlibat dalam pencarian bersama.
c. Tahap membuatkan tekad dan menyusun rencana aksi
Kalau peserta sudah menyadari situasi dan meneropongi situasi itu dengan terang Kitab Suci,
maka diharapkan peserta merasa terpanggil untuk merencanakan tindakan nyata supaya bisa
memperbaiki situasi itu. Maka keterampilan/kemampuan pembina yang dibutuhkan adalah:
• Menciptakan kondisi dan menciptakan proses sedemikian rupa sehingga peserta tergerak
untuk membuat rencana tindakan nyata.
• Merumuskan tujuan yang mau dicapai dengan rencana kerja yang akan dibuat.
• Merumuskan rencana kerja (jangka panjang dan jangka pendek)
• Memanjatkan doa untuk memohon keteguhan supaya rencana yang telah dibuat dapat
dilaksanakan.
3. Keterampilan Bertanya
Proses komunikasi iman berjalan dengan lancar kalau dipandu dengan pertanyaan-
pertayaan yang mendukung. Untuk itu fasilitator perlu memiliki keterampilan bertanya,
seperti sebagai berikut:
a. Rumusan pertanyaan tidak berupa teka-teki, tetapi harus jelas dan mengenai sasaran.
b. Pertanyaan tidak boleh memaksa. Pertayaan tidak boleh diarahkan untuk memperoleh
pandangan yang sudah dibentuk.
c. Pertanyaan tidak perlu terlalu banyak; hindari kesan interogasi.
d. Pertanyaan harus jujur dan bermutu. Jujur dan bermutu menggunakan kata tanya, mengapa,
apa sebab, apa akibatnya.
e. Pertanyaan harus jelas dan dirangkai secara tepat sehingga bisa mencapai tujuan yang
dikehendaki.
f. Pertanyaan disusun dari mudah sampai dengan sulit, dari informatif sampai yang
interpretatif.
g. Pertanyaan ditujukan kepada kelompok sebagai keseluruhan tanpa menutup kemungkinan
bertanya sekali-kali kepada orang tertentu.
h. Pertanyaan harus relevan dengan materi yang dibicarakan.
i. Kadang-kadang perlu juga menanyakan perasaan-perasaan yang timbul.
j. Pertanyaan hendaknya bijaksana sehingga tidak menyinggung perasaan atau memaksa untuk
mengungkapkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan tema atau pokok-pokok pembicaraan.
4. Ketrampilan Evaluasi Diri
Evaluasi itu penting untuk melihat kembali apa yang sudah dibuat dalam proses.
Evaluasi penting demi perbaikan dan peningkatan proses komunikasi iman. Hal-hal yang
perlu dievaluasi tentang fasilitator adalah:
a. Apakah mengenal bahan/dokumen dengan baik?
b. Apakah menyiapkan pertayaan-pertanyaan yang cocok?
c. Apakah mengarahkan jalannya pertemuan pada langkah yang tepat?
d. Apakah memulai dan mengakhiri pertemuan pada waktunya?
e. Apakah dapat membantu peserta yang masih takut-takut?
f. Apakah mengikuti langkah-langkah katekese dengan baik?
g. Apakah mengarahkan pembicaraan menuju sasaran?
h. Apakah menahan diri untuk tidak mengutarakan pendapat pribadi?
i. Apakah pada saat tertetu membuat rangkuman?
j. Apakah memelihara suasana akrab?
Secara umum dapat dikatakan bahwa kemampuan atau keterampilan yang harus
dimiliki oleh seorang Pembina Ketekese Umat adalah:
a. Kemampuan/keterampilan refleksi
b. Kemampuan/keterampilan berkomunikasi
c. Kemampuan/keterampilan menyusun KU
d. Kemampuan/keterampilan membawakan KU
e. Kemampuan/keterampilan membuat evaluasi.
Latihan:
BAB V
METODE KATEKESE UMAT
Metode lebih diartikan sebagai teknik dan methodis suatu katekese umat dapat
dibangun. Maka pada dasarnya Katekese Umat mengikuti proses pastoral atau siklus pastoral
pada umumnya. Ada tiga langkah besar yang didahului dengan tahap persiapan, yaitu:
A. TAHAP PERSIAPAN
Tahap persiapan ini berupa persiapan jauh dan persiapan dekat.
 Persiapan jauh umumnya bertujuan menciptakan suasana agar kelompok itu saling mengenal,
saling terbuka dan bisa menjadi kelompok yang akrab dan mampu berkomunikasi secara
verbal.
 Persiapan dekat. Biasanya sudah mengarah kepada tema atau pokok yang mau disadari akan
didalami. Persiapan dekat ini dapat ditempuh misalnya dengan:
- Mulai menyinggung tema yang mau didalami yang tentu sebelumnya telah disiapkan.
- Menyambung dan mengajak peserta untuk memberikan perhatian kepada percakapan yang
sesuai dengan tema yang telah disiapkan yang mungkin dimunculkan oleh salah seorang
anggota yang hadir.
- Munculkan ke tengah peserta sarana-sarana sebagai dokumen misalnya; koran, lagu, cergam,
ceritera, dsb supaya mereka dapat memulai memberikan komentarnya.
- Bila acara akan dimulai, mulailah menyambung pembicaraan peserta yang sudah menyentuh
tema (doa dan lagu bisa ditunda/atau tidak harus ada pada pembukaan).
B. TAHAP PERTAMA:
Menghadirkan Pengalaman Hidup
Proses mengamati dan menyadari suatu fenomena tertentu dalam masyarakat yang kita
angkat sebagai tema katekese. Situasi konkret ini bisa merupakan persoalan masyarakat,
misalnya kelaparan, ketidakadilan, bencana atau kebutuhan masyarakat seperti makan,
minum, rumah, pendidikan, dsb. Situasi konkret ini diamati, didalami dan dianalisis supaya
kita menyadarinya secara utuh.
Dalam proses katekese bisa dibuat dengan cara:
≈ Langsung: meminta peserta menceriterakan pengalamannya sesuai dengan tema (masalah/
kebutuhan) yang diangkat.
≈ Tidak langsung: dengan cara fasilitator menceriterakan suatu pengalaman, ceritera mitologi
dsb atau melalui media lainnya seperti gambar, film, slide dsb.
C. TAHAP KEDUA:
Interpretasi Kitab Suci
Menyadari dan merefleksikan situasi yang telah dianalistis dalam terang Sabda Tuhan.
Melalui Kitab Suci, peserta diajak untuk mendengarkan Allah ‘hic et nunc” (di sini dan
sekarang) bersabda kepada kita di tengah masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.
Dalam renungan diusahakan agar peserta dapat menemukan dan memahami kepedulian
Allah terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi masyarakat. Atau dalam renungan
diharapkan agar Kitab Suci membantu umat untuk mengerti serta meresapkan pandangan dan
sikap Allah atas peristiwa yang sedang terjadi atau dialami di masyarakat atau peserta.
Dengan demikian, nilai pewartaan tidak boleh dipaksakan tetapi mengalir secara spontan.
Isi Kitab Suci dapat dimunculkan dengan cara:
≈ Dibacakan atau diceriterakan
≈ Menyajikan gambar/cergam/komik Kitab Suci
≈ Memutar slide/video/VCD Kitab Suci
≈ Lagu-lagu dan puisi Kitab Suci
≈ Peserta diajak untuk mencari teks-teks yang dapat berbicara dan memberi pesan untuk
pengalaman hidupnya.
≈ Mendramatisasikan isi Kitab Suci.
D. TAHAP KETIGA:
Mencari dampak bagi hidup
Memikirkan dan merencanakan aksi untuk bertindak (mencari dan menentukan dampak
dalam hidup). Langkah mengamati situasi dan kemudian merefleksikan dalam terang Sabda
Tuhan bertujuan supaya peserta menjadi lebih sadar akan panggilan sebagai orang beriman
untuk memperbaiki keadaan yang ada. Mungkin Sabda Tuhan itu menegur supaya orang
bermetanoia, atau memberi inspirasi dan meneguhkan untuk bertindak. Maka pada tahap ini
diharapkan peserta membuat rencana-rencana dan membulatkan tekad untuk bertindak.
Memang, tindakan nyata ini sudah di luar Katekese Umat, namun harus dilihat dalam
rangka implementasi dari katekese. Katekese Umat selalu berujung pada aksi nyata.
Tahap membulatkan tekad ke arah perwujudan pesan-pesan Injil bagi hidup dapat
ditempuh dengan cara:
- Ajakan untuk membuat niat dan pertanyaan reflektif yang mendorong ke arah
pelaksanaannya.
- Meditasi
- Metafor: mendengarkan dan merenungkan teks-teks Kitab Suci.
- Iklan: membuat iklan berdasarkan inspirasi Kitab Suci untuk direalisasikan dalam hidup.
- Simbolisasi: mencari simbol yang mengungkapkan diri sebagai hasil dari proses ketekese.
- Role play, mementaskan suatu sikap atau tindakan baru sebagai hasil penyadaran diri.
Hal-hal yang perlu dielakan:
- Penggunaan metode yang monoton, jangan tiap tahap digunakan metode yang sama.
- Gunakan metode yang cocok untuk kelompok yang cocok.
- Usahakan agar dengan menggunakan metode-metode itu suasana santai tetapi mendalam.
Tidak menjadi sandiwara tanpa makna.
E. MEMADUKAN PENGALAMAN PESERTA KATEKESE UMAT DENGAN
PENGALAMAN KITAB SUCI (BAGAIMANA)
Menganalogikan pengalaman peserta Katekese Umat dengan pengalaman alkitabiah
tidaklah gampang. Harus ada jembatan antara dua pengalaman itu, harus ada kaitan satu
sama lain. Supaya kedua pengalaman itu bisa terpadu perlu diperhatikan beberapa hal antara
lain:
 Pertama: Segi nalar yang sehat; harus ada keterikatan isi (tema) antara pengalaman peserta
Katekese Umat dengan pengalaman alkitabiah. Misalnya, kalau tema yang digumuli adalah
masalah kekerasan, maka harus diangkat pengalaman alkitabiah tentang kekerasan. Kita
mengangkat teks-teks kitab suci yang memberi pesan teologis tentang kekerasan. Teks kitab
suci tidak boleh dimanipulir supaya terpadu dengan pengalaman peserta Katekese Umat.
Perlu disadari betul pesan teologis atau segi iman yang mau diwartakan oleh teks kitab suci
itu.
 Kedua: Segi afektif; terpeliharanya keterkaitannya antara pengalaman peserta KU dan
pengalaman alkitabiah. Misalnya, kalau peserta tidak merasa puas dengan situasi kekerasan,
maka dalam menggumuli pengalaman alkitabiah peserta hendaknya merasa lega karena diberi
penerangan, diberi jalan, diberi peneguhan, dsb. Bisa juga peserta merasa ditegur, dikritik,
dsb untuk bermetanoia. Singkatnya, segi afeksi jangan dilupakan, karena segi afeksi bisa
mendorong proses Katekese Umat berkembang dan kemudian mengambil keputusan untuk
bertindak. Afeksi mendorong kemauan dan kehendak. Hal yang diterima secara nalar, belum
tentu dilaksanakan kalau kemauan dan kehendak belum digerakkan.
 Ketiga: Dalam KU peserta tidak dipertemukan dengan teks kitab suci, tetapi dengan
pengalaman kitab suci. Maka perhatian visi teologi atau visi iman dari teks itu. Teks kitab
suci jangan dipandang sebagai kalimat-kalimat bertuah. Disinilah letak bahaya
fundamentalistik.
 Keempat: Membangkitkan fantasi, imaginasi dan intuisi agar proses dari pengalaman aktual
peserta ke pengalaman alkitabiah berjalan dengan lancar. Hal ini dapat mempertajam
kepekaan rohani orang atas pengalaman hidup dan pengalaman alkitabiah. Bahwa akhirnya
orang bisa bermetanoia dan beriman sudah merupakan karunia Tuhan.
SUSUNAN SUATU KU
Tema : Apa yang menjadi pokok pembicaraan
Tujuan : Apa yang mau dicapai dalam pertemuan itu
Kitab Suci : KSPL/KSPB atau Ajaran Gereja yang memberikan inspirasi
Materi : Pokok-pokok pembicaraan
Bahan : Sarana yang digunakan dalam pertemuan
Metode : Cara-cara yang dipakai dalam proses pertemuan.
Waktu :
kiran Dasar/ Gagasan Pokok
: Alur keseluruhan jalan pikiran yang akan dikembangkan dalam pertemuan
Langkah-Langkah Pengembangan
1. Pembukaan
 Sapaan Fasilitator
 Doa Pembuka
2. Tahap 1. Menghadirkan Pengalaman
 Menghadirkan dokumen : langsung/tidak langsung
 Tanya jawab tentang dokumen (digali dan diperjelas)
 Syering pengalaman peserta sehubungan dengan dokumen (menemukan makna)
 Rangkuman & Penegasan (rangkum langkah 1, & mengarahkan peserta masuk langkah 2)
3. Tahap 2. Peneguhan dalam Kitab Suci
 Menghadirkan KS/Ajaran Gereja : membaca, dramatisasi, slide, dsb.
 Tanya jawab tentang isi KS/ ajaran Gereja
 Syering peserta sehubungan dengan pesan KS atau ajaran Gereja
 Rangkuman dan penegasan (rangkum langkah 2 dengan memperhatikan langkah 1,
mengarahkan peserta masuk langkah 3)
Pada tahap ini hendaknya sudah mulai terjadi dialektika/ konfrontasi antara pengalaman
hidup peserta dengan pesan KS atau ajaran Gereja sehingga terjadi perubahan sikap/cara
pandang pada diri peserta/kelompok untuk mengambil tindakan.
4. Tahap 3. Mencari dampak bagi hidup
Caranya:
 Mengajakan untuk bertindak (ingat penegasan langkah 1 & langkah 2)
 Mengajukan pertanyaan refleksi sebagai rangsangan untuk bertindak
 Merenungkan gambar atau teks
5. Evaluasi (fasilitator, peserta, proses)
6. Doa penutup
Contoh: Sebuah Model Katekese Umat
Tema : KETABAHAN HIDUP[9]
Tujuan :
1. Agar peserta menyadari kehadiran Allah di dalam perjalanan hidup, khususnya dalam saat-
saat sulit.
2. Supaya peserta tetap sabar dan maju terus karena keyakinan bahwa Tuhan senantiasa
menyertainya.
Kitab Suci : Luk. 8:22-25
Bahan :
Metode : Tanya jawab, diiskusi, shering
Waktu : 60 menit
Pemikiran dasar/Gagasan Pokok:
Adanya bermacam-macam kesulitan akibat devaluasi saat ini bias membawa orang
kepada sikap putus asa, nekad, frustrasi dan sebagainya.
Padaa saat yang sulit seperti ini mungkin ada baiknya kita mengingat peribahasa:
”Dibalik awan ada matahari”. Memang matahari itu selalu ada walaupun kadangkala ia tidak
Nampak karena hari sedang mendung.
Tuhan juga hadir selalu padaa saat-saat gelap yang sedang dialami. Keyakinan ini
hendaknya membuat kita tabah. Memang ketabahan kristiani mempunyai maknanya sendiri.
Proses Katekese
1. Tahap Persiapan
Ajaklah peserta untuk bercakap-cakap tentang pelbagai kesulitan akibat devaluasi.
Misalnya. Naiknya harga barang-barang, meningkatnya biaya pendidikan, sulitnya mencari
pekerjaan, dsb.
Ajaklah bagaimana sikap orang dalam menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut.
2. Tahap menghadirkan dan menyeleksi pengalaman hidup
Fasilitator mengajak peserta untuk memajukan contoh-contoh dari hidup nyata yang
menyangkut sikap yang tidak ksatria dalam menghadapi kesulitan tersebut (bisa pakai sarana,
seperti ceritera, cergam, dsb)
Tanyakan bagaimana sikap mereka menghadapi kesulitan tersebut.
Peserta diberi kesempatan untuk berpikir dan berbicara/berkomunikasi tentang sikap kristiani
dalam menghadapi tantangan masa kita.
3. Tahap interpretasi Kitab Suci
 Baca KS. Luk. 8:22-25
 Mendalami teks dengan memakai metaphor dan dibicarakan bersama
KITAB SUCI HIDUP KITA
Para Murid naik perahu Perjalanan hidup kita
Mengalami taufan, badai Mengalami kesulitan
Yesus bersama mereka
tetapi tertidur
Yesus ada tetapi tidak
nampak nyata
Sikap Para Rasul:
- Ragu-ragu
- Mencari kekuatan pada
Tuhan
- Akhirnya sadar sebab Tuhan
berada dalam perahu
Sikap kita:
- ____________?
- ____________?
- ____________?
- ____________?
4. Tahap mencari dampak
Untuk meneguhkan peserta agar tetap tabah, optimis dan maju terus dapat ditempuh dengan
cara, seperti membuat slogan Di Balik Awan ada Matahari (kalau pesertanya OMK)
Pertemuan ditutup dengan doa atau nyanyian Tuhanlah Gembalaku atau lagu yang sesuai.
Contoh 2
Tema : SEKSUALITAS ADALAH ANUGERAH TUHAN
Tujuan : Supaya peserta sadar bahwa seksualitas adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri,
dihargai dan dijaga serta dipelihara dalam hidup perkawinan.
Sumber : 2 Sam. 13, 1-9, Amnon dan Tamar
Metode : Ceritera dialog
Waktu : 30 menit
an Dasar
Manusia pria dan wanita adalah ciptaan Tuhan (Kej. 1, 26-27). Keduanya diciptakan
menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Keduanya memiliki harkat dan martabat yang sama,
dibekali dengan akal budi dan dikaruniai dengan kehendak bebas yang sama pula. Secara
faktual pria dan wanita berbeda secara fisik dan psikis. Akan tetapi perbedaan-perbedaan itu
tidak dimaksudkan sebagai pemisahan melainkan untuk saling melengkapi dan
menyempurnakan dalam hidup bersama, terutama dalam hidup perkawinan.
Karena itu penghargaan dan penghormatan terhadap seksualitas yaitu hal-hal yang
berhubungan dengan kepriaan dan kewanitaan adalah suatu kemestian. Rasa hormat itu
diwujudkan dalam sikap dan tindakan saling menjaga dan memelihara kemurnian baik
terhadap diri maupun terhadap pihak yang lain.
Langkah-Langkah Pengembangan
1. Pembukaan
Doa pembuka
Pengantar singkat oleh pendamping
2. Menghadirkan Pengalaman
a. Fasilitaor menceriterakan kisah berikut ini
Karena Cintakah ?
Dengan berat hati Lisa menceriterakan sepenggal pengalaman pahit yang dialaminya bersama
sang kekasih. Kata orang wajahku, tubuhku, suara dan kelincahanku mengagumkan. Aku
bangga atas semua pujian lawan jenisku maupun teman-teman sejenisku. Setiap bangun pagi
dan menjelang tidur aku selalu bersyukur kepada Tuhan sebab aku sadar semua yang
kumiliki itu merupakan anugerahNya. Tetapi hari tidak selamanya cerah. Kadang-kadang
muncul juga mendung. Dan itulah hari naas bagiku. Di suatu malam, pacarku mengajak aku
ke tempat kostnya. Aku tidak berprasangka buruk atas ajakannya. Ternyata di tempat kostnya
yang sepi itu, ia memaksa aku untuk bersetubuh. Aku menolak dengan halus : “sabarlah biar
kita melakukan tugas itu kalau kita sudah resmi menjadi suami istri”. Pacarku malah semakin
bernapsu. Ia memegang dan memelukku erat-erat. Aku meronta-ronta, berusaha sekuat
tenaga melepaskan diri tetapi sia-sia. Mulutku disumpal. Tangan dan kakiku diikat. Aku
dibaringkan di atas tempat tidur dan pakaianku dilucuti. Dengan buas ia memperkosaku.
Sebenarnya aku mau melapor ke polisi tetapi aku malu. Biarlah aib itu menjadi bagian
rahasia pribadiku. Sejak peristiwa naas itu alat vitalku terasa perih. Untuk kencing saja
sakitnya bukan main. Aku tidak punya keberanian untuk memeriksa diri ke dokter. Aku malu.
Aku berpikir: “Tubuh yang indah hanya mendatangkan malapetaka bagiku. Aku bingung dan
harus buat apa ?”
b. Mendalami ceritera. Fasilitator mengajukan pertanyaan-pertanyaan:
1. Bagaimana perasaan anda setelah mendengar ceritera Lisa itu ?
2. Apa yang selalu dibuat Lisa terhadap pujian orang tentang kecantikan tubuhnya ?
3. Mengapa Lisa menolak menyerahkan tubuhnya kepada sang pacar ?
4. Apakah ada ceritera serupa yang anda ketahui ? Bagaimana terjadinya kisah itu ?
5. Bagaimana tanggapan anda terhadap kasus pemerkosaan yang semakin merajalela di wilayah
kita ?
6. Menurut pendapat anda mengapa begitu sering terjadi kasus-kasus pemerkosaan ?
c. Rangkuman
Fasilitator merangkum hasil pembicaraan bersama
3. Menghadirkan Pengalaman Kitab Suci
a. Fasilitator mengajak peserta membuka Kitab Suci dan membaca teks 2 Sam. 13. 1-19.
b. Mendalami Kitab Suci dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Apa yang anda rasakan setelah mendengar ceritera tadi ?
2. Apa yang dinasihatkan Yonadab kepada Amnon ?
3. Apakah nasihat Yonadab itu baik ?
4. Mengapa Amnon mengikuti nasihat itu ?
5. Apa alasan Tamar menolak ajakan Amnon untuk menidurinya ?
6. Mengapa Amnon menjadi benci kepada Tamar setelah memperkosanya ?
7. Apa arti perkataan Tamar kepada Amnon : “Tidak kakakku, sebab menyuruh aku pergi
adalah lebih jahat dari pada apa yang telah kau lakukan padaku tadi ?
8. Apa akibat perbuatan Amnon terhadap Tamar ?
c. Rangkuman dan penegasan
Fasilitator memberi rangkuman singkat tentang apa yang baru dibicarakan tadi dan
memberikan penegasan berikut:
Pemerkosaan adalah bukti orang tidak menghargai sama sekali lawan jenisnya. Tindakan itu
sangat merendahkan harkat dan martabat seorang wanita. Wanita diperlakukan sebagai obyek
pemuasan nafsu laki-laki melulu. Ia dipandang tidak berarti sama sekali, ibarat mainan di
tangan laki-laki. Dengan memperkosa seorang wanita juga orang membuat nasib wanita itu
terpuruk, masa depannya menjadi suram dan berantakan. Pemerkosaan juga merupakan
penghinaan terhadap Allah sendiri sebab sebagai manusia, wanita adalah ciptaan dan citra
Allah. Ia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, sederajat dengan laki-laki. Ia memiliki
akal budi dan kehendak bebas seperti seorang laki-laki. Meskipun berbeda secara fisik dan
psikis dengan laki-laki, perbedaan itu tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang
memisahkan tetapi justru saling melengkapi. Yang kurang pada pria akan dilengkapi dan
disempurnakan oleh wanita, sebaliknya yang kurang pada wanita, akan disempurnakan oleh
pria. Dan justru itulah anugerah cinta Tuhan yang indah yang pantas disyukuri. Karena itu
kesetaraan derajat, kesamaan hak dan martabat dengan wanita, mengharuskan setiap laki-laki
menghormati, menghargai dan menjunjung tinggi wanita sebagai partner dalam hidupnya.
Wanita sebagai pribadi, ciptaan Tuhan dan citra Allah tidak boleh dilecehkan, dipandang hina
dan diperkosa sesuka hati oleh laki-laki dalam hidup bersama.
Berbicara bersama : Apa yang dapat dibuat baik secara fisik maupun psikis terhadap wanita-
wanita yang mengalami pemerkosaan ?
Tugas: Latihan membawakan katekese umat
1. Pelajarilah contoh katekese di atas, atau cari salah satu tema katekese.
2. Pelajarilah isi, proses katekese umat
BAB VI
MENGEVALUASI KATEKESE UMAT
A. PENTINGNYA EVALUASI
Evaluasi membantu orang untuk berkembang. Karena dengan evaluasi orang diberi
kesempatan melihat dan menilai diri sudah sejauh mana apa yang diharapkan, terwujud
dalam kenyataan. Ada 2 jenis evaluasi atau penilaian yang dapat dibuat dalam KU yaitu :
Evaluasi diri dan Evaluasi kegiatan.
Evaluasi diri yaitu penilaian terhadap diri sendiri menyangkut pengetahuan, sikap dan
keterampilan. Sedangkan evaluasi kegiatan berkaitan dengan jalannya pertemuan, suasana,
bahan dan lain-lain.
Karena tujuan evaluasi itu demi perbaikan dan pengayaan diri, maka setiap evaluasi
hendaknya diterima dengan lapang dada, dengan rendah hati dan penuh rasa syukur. Acuh tak
acuh dan menolak evaluasi, menunjukkan sikap arogan yang hanya menutup peluang dan
kesempatan untuk maju dan berkembang.
Suatu evaluasi mencapai tujuannya yaitu membantu kita memperbaiki atau
memperkaya diri dan pekerjaan kita kalau :
a) Evaluasi itu dibuat dengan sungguh-sungguh, bukan asal-asalan.
b) Evaluasi yang dibuat hendaknya menyangkut hal-hal hakiki, esensial, bukan hal-hal sepele
melulu.
c) Ada sikap baik yaitu, sikap menerima evaluasi dengan lapang dada, jiwa besar, dan rendah
hati tanpa merasa terpojok atau dipojokkan.
B. MODEL EVALUASI KU
1. Kesan Umum
a. Setiap peserta dibiarkan memberikan kesannya terhadap praktek KU
b. Biarkan mereka berbicara sebebas-bebasnya.
2. Suasana pertemuan
a. Apakah seluruh suasana mendukung tukar menukar pengalaman dalam kelompok ?
b. Apakah ada suasana persaudaraan ?
c. Keterbukaan ?
d. Komunikatif ?
e. Saling mendukung dan menghargai ?
3. Bahan atau materi
a. Aktual, relevan, menarik ?
b. Mendukung tujuan yang dicanangkan ?
c. Nilai-nilai yang ditanam cukup jelas ?
d. Segi perwujudan iman dapat ditangkap peserta ?
4. Jalannya pertemuan
a. Ada proses yang baik dan runtun ?
b. Langkah-langkah diikuti dengan setia ?
c. Langkah-langkah mendukung tujuan yang mau dicapai ?
5. Keterlibatan peserta
a. Peserta aktif terlibat ?
b. Sikap mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap sesama peserta yang berbicara ?
c. Bebas dan terbuka berbicara ?
d. Nampak ada perubahan dalam diri peserta ?
6. Pemandu KU/Fasilitator
a. Kesan, pendapat tentang fasilitator
b. Sungguh-sungguh berperan sebagai pelancar, mengajak, membimbing, memberikan
kesempatan berbicara, meneguhkan pembicaraan peserta ?
c. Arah seluruh pertemuan diperhatikan ?
d. Mengikuti langkah-langkah dengan setia ?
Demi keberhasilan tugasnya satu dua hal penting yang tidak boleh terabaikan oleh
seorang fasilitator ialah bahwa ia harus sungguh-sungguh beriman dan seorang yang mau
belajar dan membina diri menjadi manusia yang semakin disukai oleh Allah dan manusia.
Sebagai orang beriman, andalan utamanya ialah Tuhan dan rahmatNya. Karena itu ia harus
terus menerus belajar dari pengalaman, dari buku, dari sesama dan akhirnya dari Yesus sang
Guru Agung. Warta sang fasilitator KU diterima bukan terutama dari apa yang dikatakannya
tetapi karena orang menyaksikan dengan mata kepala sendiri teladan hidupnya sebagai
perwujudan nyata apa yang dikatakannya. Kata-kata mengajak, teladan hidup menarik (Verba
movent, exempla autem trahunt).
Tugas : Membawakan KU dan Evaluasi Katekese
DAFTAR PUSTAKA
Lalu, Yosef. (2007). Katekese Umat. Jakarta: Komisi Kateketik KWI.
[1] bdk. Catechesi Trandendae, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II, tentang
Katekese M asa Kini
[2] Bagian ini didalami pada Pembina Katekese Umat
[3] Bdk. PKKI V
[4] KU Ansos akan didalami dalam Kuliah Katekese Umat II
[5] Bdk. Rumusan PKKI II, no 1
[6] CT. 18
[7] Bdk.Rumusan PKKI II no. 6
[8] Bdk. KA 4
[9] Catatan: dibutuhkan kepekaan terhadap keadaan, berusaha menggali pengalaman hidup
peserta, berusaha untuk mencari peneguhannya dari Kitab Suci.

Mykatekese

  • 1.
    Tema "Katekese Umat"(1) Sejarah Katekese Umat dari (Pertemuan Kateketik antar Keuskupan Indonesia) PKKI I ke PKKI V Pengantar KV II membawa pembaharuan dalam hidup Gereja pada jaman kita sekarang ini. Pembaharuan itu juga nampak dalam bidang pewartaan. Salah satunya adalah usaha mencari arah katekese yang memenuhi kebutuhan dan tuntutan Gereja Indonesia yang sesuai dengan semangat KV II. Usaha itu dilakukan oleh para peserta PKKI. Arah katekese yang ditemukan para peserta PKKI adalah Katekese Umat. Katekese Umat merupakan pola yang dianggap sangat sesuai dengan budaya Indonesia, yaitu budaya musyawarah mufakat. Maka Katekese Umat merupakan model katekese yang dicita-citakan, artinya katekese umat adalah katekese oleh umat, dari umat dan untuk umat. Umatlah yang berperan aktif dalam katekese. Katekese umat juga merupakan gerekan, artinya bahwa katekese umat merupakan model dari semua katekese di Indonesia. Katekese Umat adalah pilihan. Artinya katekese umat menjadi pilihan dan menjadi primadona semua bentuk katekese di Indonesia. Katekese-katekese yang lain di luar katekese umat haruslah berpola pada katekese uamat itu sendiri. I. PKKI I Tema : Mencari Arah Katekese di Indonesia Tempat : Sindanglaya, Jawa Barat (Wisma Samadhi Syalom) Waktu : 10-17 Juli 1977 Pendamping : Rm. Setyakarjana Latar belakang Para peserta PKKI ingin mengagas dan menentukan arah katekese yang cocok dengan budaya Indonesia, sebagai arah dan pola bagi semua katekese yang ada dengan melihat nilai budaya dan tidak meninggalkan semangat KV II. Hari-hari pertama pertetemuan diisi dengan tukar menukar pengalaman mengenai katekese di lapangan dengan berbagai daerah dan latar belakang. Dari syaring yang berlangsung, maka ada beberapa hal yang menjadi persoalan di lapangan antara lain: 1. Ada banyak corak kegiatan katekese di Indonesia. Namun demikian ada dua masalah yang selalu sama yaitu: a. Katekese di daerah-daerah didominasi oleh hirarki dan petugas pastoral lainnya. Agak sedikit berbeda dengan Kalimantan dan Iran Jaya, di mana ada umat yang ikut terlibat dalam katekese. Hal tersebut terjadi karena kurangnya imam dan pelayan pastoral lainnya. b. Katekese sekolah mendapat porsi lumayan besar, sehingga katekese-katekese lainnya disebut katekese “luar sekolah”. 2. Dari laporan di atas dapat disimpulkan bahwa ternyata gereja-gereja lokal masih sangat kaku dengan terstuktur yang ada. Hirarki sangat berperan, oleh karena itu peran umat sangat minim. Dari pengalaman-pengalaman itu, selanjutnya disadari bahwa katekese yang teralalu hirarkis hendaknya mulai dikurangi dan dirubah bahkan diusahakan pola katekese lain yang tidak menggantungkan diri pada hirarki. Maka dengan bantuan Rm. Setya Karyana dalam ceramahnya, dan disusul diskusi-diskusi dar para peserta, akhirnya muncul gagasan ttg suatu bntuk katekese yang melibatkan seluruh umat yaitu katekese oleh umat, dari umat dan untuk umat. Katekese itu harus menjadi arah dan pola dari katekese yang ada di Indonesia. Bentuk-
  • 2.
    bentuk katekese lainnya,termasuk katekese seokolah, katekumenat, harus dilihat dalam rangka katekese umat. II. PKKI II Tema : Merumuskan Arti dan Tujuan KU (terdiri dari 6 butir) Tempat : Wisma Samadhi Klender Jakarta Wkt : 29 Juni-5 Juli 1980 Pendamping : Rm. Thom Huber, SJ. Latar Belakang Katekese umat yang sudah dicanangkan dalam PKKI I, dianggap belum terlalu jelas. Banyak praktek-praktek yang dianggap KU sudah dicoba-coba. Namun demikian terjadi kesimpangsiuran mengenai KU itu, oleh sebab itu diadakanlah PKKI II guna menemukan rumusan mengenai pengertian dan tujuan KU itu sendiri, agar pelaksanaannya tidak membingungkan. A. Pengalaman Berkatekese Umat di Lapangan Setelah diadakan tukar-menukar pengalaman mengenai pelaksanaan KU di lapangan, muncul beberapa kesan antara lain: 1. Katekese umat memang sudah dijalankan, tetapi masih banyak mengalami kesulitan, antara lain karena kekaburan KU itu sendiri, kekurangan tenaga, dana, sarana, organisasi, dsb. 2. Katekese Umat yang dilaksanakan mulai mengganggu stabilitas Gereja institutional. Artinya, akibat pelaksanaan KU struktur hirarkis yang kaku dan berjalan dalam garis yang sudah ditentukan, mulai tidak berjalan efektif lagi karena umat yang di luar hirarkis sudah terlibat dalam urusan pewartaan. B. Merumuskan Arti dan Makna KU (Katekese Umat)) Rumusan mengenai arti KU disepakati sbb: 1. KU diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaat/kelompok. Melalui kesaksian para peserta saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna. Dalam katekese umat tekanan terutama diletakkan pada penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese umat mengandaikan ada perencanaan. 2. Dalam KU itu kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan pengantara kita menanggapi Sabda Allah. 3. Yang berkatekese ialah umat, artinya semua orang beriman, yang secara pribadi memilih Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus. 4. Dalam katekese yang menjemaat ini, pemimpin katekese bertindak sebagai pengarah dan pemudah (fasilitator). 5. Katekese umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. 6. Tujuan komunikasi iman itu ialah a) Iman yang semakin mempribadi. • Supaya dalam terang injil kita semakin meresepi arti pengalaman-pengalaman kita sehari- hari. • Dan kita bertobat (matanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari. • Dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih, dan makin dikukuhkan dalam hidup kristiani kita. b) Iman yang semakin menjemaat. • Kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin tegas mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta (iman yang eklesial atau menggereja).
  • 3.
    c) Iman yangsemakin memasyarakat. • Sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat (iman yang memasyarakat). Dari pertemuan-pertemuan PKKI menjadi jelas bahwa salah satu kunci keberhasilan KU ialah pembina KU yang disebut “pemudah” atau “fasilitator”. Maka sebelum peserta kembali ke keuskupan masing-masing, sudah dipikirkan mengenai PKKI III, yang membicarakan masalah Pembinaan Pembina KU itu. III. PKKI III Tema : Pembinaan Bagi Para Pembina Katekese Umat (Fasilitator) Temapat : Pacet Mojokerto-Jawa Timur Waktu : 29 Januari-5 Februari 1984 Latar Belakang Salah satu kunci keberhasilan KU adalah pembina, maka pembina diharapkan mempunyai keterampilan. Atas dasar itulah PKKI III ini dilaksanakan. Semua peserta sepakat bahwa pembinaan Pembina KU ditekankan pada: “Pembinaan Keterampilan” dengan tidak melupakan kepribadian dan peningkatan pengetahuan. Hal-hal yang dirumuskan dalam PKKI III, menyangkut pembinaan pembina KU adalah sbb: A. Arti dan Makna Pembina Katekese Umat Pembina KU ialah seorang yang mampu dan rela untuk menjalankan Katekese Umat dalam kelompok dasar. Diharapkan pembina KU adalah: 1. Seorang pribadi yang beriman Katolik yang sadar akan panggilan Roh untuk melayani sesama umat dalam kelompok dasar. 2. Rela mengumpulkan, menyatukan dan membimbing kelompok umat dasar untuk melaksanakan katekese umat sebagai suatu proses komunikasi iman yang semakin berkembang. 3. Menghargai setiap peserta kelompok katekese umat dengan berbagai latar belakang dan situasinya. 4. Berperan menjadi pengarah dan pemudah untuk menciptakan suasana komunikatif dalam kelompok umat dasar yang dilayani. B. Pembinaan Keterampilan Pembina Katekese Umat Adapun kemampuan/keterampilan yang harus dimiliki pembina KU adalah sbb: 1. Kemampuan/keterampilan berkomunikasi. Secara praktis kemampuan/ketrampilan komunikasi yang perlu ditekankan antara lain: a. Berkomunikasi dan berelasi sehingga mampu mengumpulkan, menyatukan, dan mengarahkan kelompok sampai pada suatu tindakan nyata. b. Mengungkapkan diri, berbicara dan mendengarkan. c. Menciptakan suasana yang memudahkan peserta untuk mengungkapkan diri dan mendengarkan pengalaman orang lain. 2. Kemampuan/keterampilan berefleksi Komunikasi merupakan suatu kesaksian iman yang dihayati dan dialami serta merupakan hasil refleksi iman akan Yesus Kristus. Maka secara praktis pembina KU dilatih untuk: a. Menemukan nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup. b. Menemukan nilai-nilai Kristiani dalam KS, ajaran Gereja dan tradisi lainnya. c. Memadukan nilai-nilai Kristisni dengan nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup sehari-hari. C. Unsur-Unsur Pokok dalam Pembinaan Pembina Katekese Umat. Sesuai dengan unsur-unsur KU itu sendiri, yaitu musti adanya: 1. Proses penyadaran pengalaman hidup
  • 4.
    2. Proses penyadaranpengalaman KS dan tradisi Gereja (ada dua unsur: KS dan Tradisi Gereja) 3. Proses penyadaran akan keterlibatan untuk pembaharuan masyarakat. IV. PKKI IV Tema : Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat Tempat : Denpasar-Bali Wkt : 24-28 Oktober 1988 Latar belakang KU masih bergerak di seputar altar. Umat masih sangat liturgis dan devosional. Karena paham Kerajaan Allah juga belum dapat dimiliki/dipahami dengan tepat. Sehingga Katekese dalam PKKI IV disebut sebagai Katekese Sosial/Katekese Kontekstual yang menyentuh bidang-bidang kehidupan secara nyata yang berorientasi pada Kerajaan Allah serta membina umat untuk terlibat dalam masyarakat. A. Evaluasi KU yang Sudah Berlangsung Hasil evaluasi, disadari KU telah membawa dampak antara lain: 1. Semakin banyak umat terlibat dalam kehidupan menggereja 2. Adanya suasana persaudaraan sehingga Gereja ke dalam semakin kuat 3. Semakin banyak muncul kelompok-kelompok basis (Legio Maria, Persekutuan Doa, KTM) 4. Umat berani bersuara 5. Ketergantungan pada hirarkis semakin berkurang 6. Umat dan pemimpin sadar akan hak dan kewajiban masing-masing 7. Umat menghargai nilai-nilai budaya setempat Namun demikian masih ada juga faktor penghambat, antara lain: 1. Pembina yang kurang mengetahui dan memahami katekese umat dan kurang terampil mennjalankan KU. 2. Masih ada petugas hirarki yang kurang memahami dan bersimpati pada KU 3. Masih ada umat yang klerikalisme-centris (memusatkan pada kaum klerus) 4. Adanya hambatan struktural (pemimpin, ketua lingkungan, fasilitator) sehingga umat pasif. B. Iman yang Terlibat dalam Mayarakat Arti iman yang terlibat dalam masyarakat: 1. Iman yang ditandai sikap sederhana, lewat hal-hal kecil mau memperhatikan lingkungan sekitar. 2. Iman yang bercorak misioner. Lebih memberi perhatian pada mereka yang lemah dan terdesak. 3. Iman yang memperjuangkan kelestarian lingkungan dan kekayaan alam. 4. Iman yang tidak mebiarkan pertimbangan-pertimbangan institutional membelenggu kebebasan Injil. C. Katekese Umat yang Dicita-citakan 1. KU adalah katekese yang melibatkan seluruh umat. 2. KU adalah komunikasi iman antara umat baik formal (katekese sekolah) maupun informal (katekese audiovisual, katekese paroki, pendalaman iman). 3. Melalui KU iman umat akan Yesus Kristus semakin mendalam 4. KU tidak terikat pada bentuk dan metode tertentu. Sebab tergantung pada situasi 5. KU dapat terjadi dalam keluarga, kring atau sekolah. 6. Bahan KU diangakat dari persoalan hidup umat dan masyarakat. D. Analisa Sosial dan KU KU mengangkat masalah-masalah sosial yang terjadi secara riil. Maka untuk mengungkapkan masalah sosila tersebut diperlukan suatu ANSOS. Dalam membina iman yang terlibat dalam
  • 5.
    masyarakat KU berhadapandengan kenyataan sosial di mana di dalamnya telah dikuasai sistem dan orang-orang bermodal. Secara realitas KU dapat mendampingi kelompok- kelompok terdekat, sebab sulit menjangkau masalah sosial yang lebih luas. V. PKKI V Tema : Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat dengan tekanan ANSOS Tempat/wkt : Wisma Kinasih Caringin - Bogor. 22-30 September 1992 Latar Belakang Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk, baik dalam keyakinan kebudayaan, status ekonomi dan status sosialnya. Maka terlihat adanya kesenjangan struktur sosial yang menjauhkan masyarakat lemah. Maka dengan situasi demikian disadari iman haruslah memasyarakat, berpihak pada yang lemah, masuk dalam pergumulan hidup manusia dengan keadaan konkretnya. Oleh karena itu ada dua yang perlu ditingkatkan yaitu: Pertama: melihat dan memahami masalah ketidakadilan secara lebih mendalam dan luas lewat analisa sosial. Kedua: melihat dan mendalami persoalan ketidak adilan serta penanganannya dalam terang Kitab Suci. Maka PKKI V ini, para peserta bergumul dengan analisa sosial dan Kitab Suci dalam mengembangkan KU yang lebih menjawab persoalan zaman. A. Analisa Sosial Laporan dan refleksi 1. Makna ANSOS: a. ANSOS hanya merupakan alat bantu, bukan tujuan dalam dirinya sendiri dalam katekese kontekstual. Ansos biasanya diawali dengan observasi bukan dalam “photo yang netral” melainkan data yang dikumpulkan tergantung dari visi seseorang, sehingga dapat terjadi hasil observasi berbeda nuansanya. Dalam observasi, gejala dan akar masalah harus dibedakan. b. Melalui ANSOS kita berjumpa dengan dimensi raksasa/global cthnya kemiskinan. Maka perlu dilakukan langkah-langkah yang berpengaruh dalam mengambil keputusan. c. Melalui ANSOS akan ditemukan nilai-nilai tertentu dalam masyarakat dan kemungkinan dapat terbebaskan dari belenggu masalah. Di sini katekese mempertemukan kisah historis manusia/umat (akar masalah manusia) dengan Injil. d. Katekese berciri sosial merupakan suatu proses penegakan keadilan. Agar dapat menegakan keadilan apakah dalam katekese mampu menyadarkan, mentransformasi agar membawa perubahan untuk menemukan jalan keluar. Adanya Ada tidaknya perubahan kesadaran Terjadi atau tidaknya prubahan yang lebih luas. Apakah Katekese sosial dapat atau harus menemukan/menunjkkan jalan keluar? e. Untuk katekese berciri sosial peserta perlu memperhatika dua hal: 1) tidak boleh berhenti pada keadian personal tetapi harus kepada keadilan sosial, 2) perlu menyadari faktor-faktor yang penting untuk mewujudkan keadilan. 2. Bagaimana KS masuk dalam Katekese? a. Yang dibutuhkan adalah visi biblis. Jadi yang harus ada adalah visi biblis tentang Allah yang hidup dalam kehidupan konkrit, untuk menghindari salah pengertian mengenai ANSOS dengan katekese. (tidak mutlak menggunakan teks kitab suci, jika perlu iya). b. Jika visi teologi (iman yang kuat) tentang keadilan belum menjadi milik Gereja atau belum memasyarakat, maka akan kesulitan membuat katekese yang bersifat sosial. Latihan ANSOS: Dua model ANSOS: Model Konsensus dan Model Konflik Model Konsensus: Yaitu melihat ketidakberesan masyarakat sebagai sesuatu yang harus diperbaiki (secara
  • 6.
    lokal/individu) tanpa merombakstruktur masyarakat itu sendiri, karena struktur itu sudah harmonis, hasil konsensus. Ketidakberesan lebih disebabkan karena individu-individunya. Dibedakan lagi atas model konsensus koservatif dan model konsensus konflik. (Melihat ketidak beresan masyarakat sebagai suatu yang harus diperbaiki tanpa merombak struktur masyarakat itu sendiri). Model Konflik: Yaitu melihat ketidaberesan masyarakat sebagai sesuatu yang menyangkut struktur dan sistem masyarakat, di mana selalu ada perbedaan dan adu kepentingan antara kelompok masyarakat. Model konflik lebih mampu membuka ketidakadlan. dengan menggunakan ANSOS model konflik bertujuan untuk membangun persaudaraan sejati. (melihat ketidakberesan masyarakat sebagai suatu yang menyagkut struktur dan sistem masyarakat, model ini lebih mampu membuka ketidakadilan sosial daripada model konsensus). B. Kitab Suci dalam KU 1. Pergumulan peserta mencari kaitan antara pengalaman/peristiwa hidup yang sudah dianalisis (ANSOS) dengan Kitab Suci. Tahap ANSOS mengundang tahap refleksi teologis (perenungan pribadi tentang masalah- masalah sosial yang dikaitkan dengan Tuhan), di mana KS bisa masuk. 2. Masukan dari pakar a. Keterkaitan ANSOS dan KS ANSOS membantu untuk mengerti bagaimana KA berjuang di tengah dunia ini, melawan kekuatan-kekuatan yang menentangnya. Ketidak adilan sosial menentang Kerajaan Allah. Jadi ANSOS membantu melihat Kitab Suci dalam perspektif Kerajaan Allah. b. Pertemuan dengan KS dalam KU 1. KU tidak dipertemukan dengan teks KS tetapi pengalaman kita bertemu dengan pengalaman KS, di situlah proses KU berlangsung. 2. Bertemunya pengalaman manusia dengan pengalaman Kitab suci membutuhkan proses yang panjang (tidak sekali jadi). Oleh karena itu arahnya tidak bisa ditentukan oleh pertemuan session namun berjalan sesuai dengan pengalaman yang dituangkan dalam proses KU itu (prosesnya). 3. Namun hasilnya selalu tertuju pada kesadaran akan situasi yang ada dan melihatnya dalam terang KS Yesus Kristus. c. Menafsirkan teks KS Di satu pihak harus setia pada teks, pada apa yang dimaksud pengarang, di lain pihak kita harus memperhatikan pendengar. Roh Kudus merupakan aktor utama di dalam interaksi yang terjadi antara sabda Allah dengan umat yang ada di dalam kelompok. Sehingga KS berfungsi sebagai sarana dan bukan alat mengajar. d. Makna KS dalam kelompok 1) Mengartikulasikan pengalaman sosial peserta KU secara lebih tajam 2) Mengkritik sikap kita/para peserta 3) Menegur, meneguhkan, memberi banyak kemungkinan, membuka wawasan, memberi inspirasi dsb. Sumber: "Buku Katekese Umat - Rm. Yosef Lalu, Pr" SukaSuka · · Bagikan  2 orang menyukai ini. 
  • 7.
    Tulis komentar... Mengenal KatekeseUmat TEKESE UMAT (Rm. Yosef Lalu, Pr) A. Arti dan Makna Katekese Umat (KU) Katakese umat (KU) sudah dicetuskan sejak Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se- Indonesia yang pertama (PKKI-I) tahun 1997. Pada beberapa Keuskupan, Katekese Umat sudah cukup membudaya, tetepi pada keuskupan-keuskupan tertentu Katekese Umat masih terasa asing. 1. Antropologi Sebenarnya Katekese Umat mempunyai dasar yang cukup kuat dalam kebudayaan kita. Katekese Umat sebenarnya tidak lain daripada kegiatan bermusyawarah dalam terang iman. Musyawarah merupakan suatu kegiatan yang sudah membudaya di banyak daerah di negeri ini. Warga kampung, warga lingkungan ataupun warga Rukun Tetangga (RT) sering berkumpul dan membicarakan pelbagai masalah kehidupan. Dalam musyawarah seperti itu bisasanya akan terjadi proses sebagai berikut:  Suatu hal atau masalah dikemukakan untuk dilihat dan diketahui bersama.  Lalu menyusul masalah itu diperbincangkan dan didalami. Dilihat sebab musabab dan akibatnya.  Kemudian dicari jalan keluarnya dan diambil suatu keputusan. Keputusan itu merupakan kesepakatan bersama. Biasanya kesepakatan itu berdasarkan pelbagai pertimbangan. Salah satu pertimbangan itu ialah tradisi. Keputusan atau kesepakatan itu adalah sejalan dengan ajaran atau kebijaksanaan para leluhur, yang sering diwariskan dalam pepatah atau kalimat-kalimat kunci.
  • 8.
    Katekese Umat adalahKristianisasi atau inkulturasi terhadap musyawarah kehidupan masyarakat kita. Kita menjadikan musyawarah kehidupan masyarakat berdimensi Injili. Dalam proses akhir musyawarah kehidupan bukan saja kebijaksanaan leluhur yang menjadi pegangan, tetapi juga kebijaksanaan Injili. Itu saja! Secara modern dapat dikatakan pula bahwa Katekese Umat adalah analisis sosial dalam terang iman. Kita melihat situasi yang ada, mendalaminya dengan menganalisa situasi itu, lalu menyadarinya dalam terang Injil dan kemudian mengambil keputusan untuk bertindak sesuai situasi dan ajaran Injil itu. Oleh sebab itu, Katekese Umat secara operasional pastoral dapat diartikan sebagai usaha kelompok untuk melihat, mendalami, dan menafsirkan hidup nyata dalam terang njil, dan dengan demikian kelompok iu mendapat visi baru (matanoia) untuk mengambil keputusan dan bertindak. 2. Teologis Secara teologis, Katekese Umat disebut komunikasi iman. Suatu bentuk katakese dari umat, oleh umat, dan untuk umat. Katakese ini bertumbuh bersama dengan bergesernya visi Gereja dari Gereja institusional yang bersifat hierarkhis pyramidal ke Gereja communio. Dalam Gereja institusional, katekese lebih bersifat dari atas ke bawah, bersifat informatif, instruksional. Dalam Gereja communio, katekese lebih bersifat komunikatif. B. Keunggulan Katekese Umat Rupanya Katekese Umat yang seperti dipikirkan, dikembangkan, dan dilaksanakan di Indonesia menjadi hal yang agak khas, sehingga bisa menjadi sumbangan yang khas pula bagi Gereja Indonesia, bagi Gereja Asia. Katekese umat ini mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: 1. Katekese Umat sering disebut katekese dari umat, oleh umat, dan untuk umat. Dalam Katekese Umat semua peserta aktif berpikir, aktif berbicara, aktif mengambil keputusan. Umat menjadi subjek dalam berkatakese. Umat sungguh menjadi partisipan dalam berkatakese. Katekese Umat membuat peserta kreatif, kritis, dan, otonom. Katekese Umat menumbuhkan rasa percaya diri, kepribadian dan martabat seseorang. Sudah terbukti bahwa kelompok umat yang sering ber-Katekese Umat, anggota umatnya menjadi semakin kritis dan otonom. 2. Katekese Umat selalu berbicara tentang hidup nyata dalam terang Injil. Hal ini menyadarkan umat pada intervensi Allah dalam hidup mereka. Itu berarti bahwa dengan Katekese Umat peserta senantiasa disadarkan secara konkret dan aktual bahwa Allah hadir dn berkarya dalam hidup nyata mereka. Selanjutnya hal itu berarti pula Katekese Umat menjadi sarana yang sangat strategis untuk menumbuhkan sikap iman umat, sebab beriman tidak lain berarti menerima intervensi Allah dalam hidup nyata dan berpasrah kepada-Nya. Kiranya menjadi jelas bahwa kalau kita berhasil menggalakkan musyawarah dalam terang Injil atau Katekese Umat itu, maka kita secara mengena bisa mengkristenkan hidup umat secara menyeluruh sampai ke akar- akarnya. Tidak ada dualisme lagi dalam hidup umat. 3. Katekese Umat senantiasa mengandalkan kita bahwa dalam berkatakese, umat aktif berkomunikasi. Berkomunikasi tentang hidup nyata dalam terang iman. Akhirnya
  • 9.
    harus terjadi komunikasiiman itu. Katekese Umat sering pula disebut sebagai komunikasi iman. Semakin umat berkomunikasi iman, umat akan semakin menjadi communio, semakin menjadi Gereja. Semakin menjadi communio umat akan semakin mudah berkomunikasi dalam iman. Pengalaman di banyak tempat menunjukkan bahwa di mana Katekese Umat berjalan dengan baik, di sana communio atau kelompok Gereja basis, Gereja paroki dan keuskupan berkembang semakin mantap! Gereja tidak hanya menjadi Gereja institusi, tetapi Gereja communio yang semakin mandiri. 4. Dalam Katekese Umat, peserta berbicara dan berkomunikasi tentang hidup nyata. Pembicaraan tentang hidup nyata membuat Katekese Umat dan Gereja menjadi sungguh kontekstial dan terbuka. Dalam Katekese Umat, Gereja ber-communio dengan dunia. Orientasi Katekese Umat adalah Kerajaan Allah, bukan terbatas pada Gereja saja. Tags: Artikel Katekese Mata Kuliah : Katekese Umat I : 2 SKS : Tujuan : 1. Memahami Katekese Umat, sebagai komunikasi iman antar umat yang dilandasi oleh paham Gereja Konsili Vatikan II dan konteks masyarakat Indonesi. 2. Memiliki pemahaman yang benar, visi dan keterampilan-keterampilan sehingga mahasiswa secara tepat benar melaksanakan katekese umat.
  • 10.
    BAB I LATAR BELAKANGMUNCULNYA KATEKESE UMAT A. GEJALA PADA UMUMNYA DI DUNIA 1. Seruan Konsili Vatikan II Konsili Vatikan II membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan Gereja Universal maupun Gereja Lokal. Salah satu di antaranya adalah pentingnya pembinaan iman orang dewasa (katekese orang dewasa). Seruan Konsili Vatikan II dalam hal pembinaan iman orang dewasa ini ditandai dengan dikeluarkan beberapa dokumen yang membahas tentang Katekese, seperti : a. Direktorium Umum Katektik (1971) Oleh Kongregasi Suci untuk Para Klerus Ditujukan kepada Konferensi Para Uskup, Uskup-Uskup dan semua yang berkecimpung dan bertanggung jawab dalam bidang Katekese. Tujuan: Sebagai bantuan dalam menyusun Direktorium Kateketik dan Katekismus. Isinya: Memuat prinsip dasar teologi pastoral yang diambil dari Magisterium dan Konsili Vatikan II. b. Evangelii Nuntiandi (8 Desember 1975) Imbauan Apostolik Paus Paulus VI, tentang Karya Pewartaan Injil dalam Jaman Modern. c. Catechesi Trandendae (1977) Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II Ditujukan kepada Para Uskup, klerus dan segenap umat beriman tentang Katekese Masa Kini. Sementara itu negara-negara di Eropa mulai memberi perhatian serius pada pembinaan iman orang dewasa. Di Jerman, sekitar tahun 1970 muncul tokoh-tokoh terkenal di bidang katekese seperti: Hans Schiling dan Adolf Exeler. Menurut Adolf Exeler, persoalan hidup harus digumuli untuk menemukan maknanya. Maka, perlu refleksi teologis sehingga masalah- masalah itu dilihat dalam terang iman. Beberapa istilah penting yang berkaitan dengan katekese, seperti: - Erwachsenen Katekhese: Pengajaran Katekese bagi Orang Dewasa. - Theologishe Erwachsenenbildung: Pendidikan Teologi bagi Orang Dewasa. - Gemeinde Katekhese: Katekese Umat, untuk membedakan dari pelajaran agama di sekolah. Sejalan dengan itu katekese juga mulai berkembang di Perancis. 2. Sarana Pengembangan Iman Orang Dewasa a. Pembekalan iman pada umumnya berakhir ketika orang tamat sekolah. Untuk membantu penyempurnaan pembinaan iman di luar sekolah, perlu pembinaan lanjut lewat katekese. b. Katekese dibutuhkan untuk membantu keluarga dan masyarakat menghadapi berbagai tantangan dan masalah akibat perkembangan jaman. c. Ketekse membantu merefleksikan hidup dalam terang Injil, membangun sikap baru untuk menghayati kehidupan beriman yang semakin dewasa dan matang. 3. Perkembangan Pesat di Dunia
  • 11.
    Perkembangan di duniamembawa banyak perubahan. Perubahan itu baik dalam hidup sosial maupun kultural yang berdampak pada hidup keagamaan. Budaya materalistik, hedonisme dan konsumeristik membuat orang semakin acuh tak acuh terhadap hidup agama dan iman. Untuk itu dibutuhkan pembinaan iman melalui katekese. B. DI INDONESIA 1. Kemajemukan etnis Pembauran berbagai agama dan etnis karena perkembangan transportasi dan komunikasi yang semakin lancar, memberi peluang kebebasan memiliki paham sendiri tentang agama yang dianuti. Dalam kegoncangan ini katekese harus mewartakan Kristus sebagai jalan kebenaran dan hidup. 2. Perkembangan alat-alat komuniksi yang pesat Sekarang alat-alat komunikasi sudah mulai berkembang sampai ke pelosok-pelosok. Bersamaan dengan itu, banyak paham baru, nilai baru turut menyertainya. Terjadi pemutarbalikan nilai. Menghadapi situasi tersebut, katekese harus tampil mewartakan kebenaran iman yang sejati. 3. Situasi Gereja di Indonesia Kebiasaan/tradisi agama warisan generasi terdahulu mulai dilepas. Orang semakin beralih kepada iman yang individual dan dinamis. Maka, perlu dipikirkan katekese mewartakan Injil secara baru dan mengena.[1]
  • 12.
    4. Katekese Umatmenjangkau berbagai lapisan orang Katekese menjangkau berbagai lapisan orang dan kelompok yang ada dalam masyarakat (orangtua, orang muda, anak-anak, dsb) 5. Katekese sarana penjemaatan Gereja Katekese sarana yang menjemaatkan Gereja. Kesadaran menggereja perlahan-lahan dibentuk dan dibina melalui katekese. Latihan
  • 13.
    BAB II SELAYANG PANDANGSEJARAH KATEKESE UMAT DARI PKKI KE PKKI Katekese Umat dicetuskan dalam pertemuan Komisi Kateketik Keuskupan se Indonesia (PKKI) yang pertama yang berlangsung di Sindanglaya (Jabar) dari tanggal 10-16 Juli 1977. Sejak saat itu PKKI diselenggarakan empat tahun sekali. A. KATEKESE UMAT DALAM PKKI I  Bertempat di Wisma Syalom Sindanglaya – Jawa Barat, tanggal 10-16 Juli 1977.  Tema : Arah Katekese di Indonesia  Situasi umum karya katekese: ~ Pelayanan katekese masih didominasi kaum hirarkis dan petugas pastoral lainnya. ~ Katekese Sekolah mendapat porsi yang lebih besar (utama), bentuk katekese lain disebut ‘katekese luar sekolah’.  Hasil : Arah katekese adalah komunikasi iman umat; katekese oleh umat, dari umat dan untuk umat. Katekese mengumat. Bentuk-bentuk katekese lainnya, termasuk katekese di sekolah, katekese katekumenat dilihat dalam rangka Katekese Umat. B. KATEKESE UMAT DALAM PKKI II  Bertempat di Wisma Samadi Klender  Tanggal 29 Juni – 5 Juli 1980.  Tema : Katekese Umat  Situasi umum karya katekese  Katekese umat mulai dijalankan, tapi banyak mengalami kesulitan, seperti; kekaburan pemahaman tentang Katekese Umat, tenaga, dana, sarana, dsb.  Pergolakkan mulai terasa dalam tubuh Gereja. Terasa Katekese Umat mulai mengganggu stabilitas Gereja Institusional.  Hasil: Merumuskan arti dan tujuan Katekese Umat 1. KATEKESE UMAT diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaat/kelompok. Melalui kesaksian, para peserta saling membantu sedemikian rupa sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna. Dalam Katekese Umat, tekanan terutama diletakan pada penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese Umat mengandaikan adanya perencanaan. 2. Dalam Katekese Umat, kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, Pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan Pengantara kita menanggapi Sabda Allah. Yesus Kristus tampil sebagai pola hidup kita dalam Kitab Suci, khususnya
  • 14.
    dalam Perjanjian Baruyang mendasari penghayatan iman Gereja sepanjang tradisinya. 3. Yang berkatekese ialah umat, artinya semua orang beriman yang secara pribadi memilih Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih memahami Kristus. Kristus menjadi pola hidup pribadi, pun pula kehidupan kelompok. Jadi seluruh umat, baik yang berkumpul dalam kelompok-kelompok basis, maupun di sekolah atau perguruan tinggi. Penekanan pada seluruh umat ini justru merupakan salah satu unsur yang memberi arah pada katekese sekarang. Penekanan peranan umat pada katekese ini sesuai dengan peranan umat pada pengertian Gereja itu sendiri. 4. Dalam katekese yang menjemaat ini, pemimpin katekese bertindak sebagai pengarah dan pemudah (fasilitator). Ia adalah pelayan yang siap menciptakan suasana yang komunikatif. Ia membangkitkan gairah supaya para peserta berani berbicara secara terbuka. Katekese umat menerima banyak jalur komunikasi dalam katekese. Tugas mengajar yang dipercayakan kepada hirarki menjamin agar seluruh kekayaan iman berkembang dengan lurus. 5. Katekese Umat merupakan komunikasi iman dari peserta sebagai sesama dalam iman yang sederajat, yang saling bersaksi tentang iman mereka. Peserta berdialog dalam suasana terbuka, ditandai sikap saling menghargai dan saling mendengarkan. Proses terencana ini berjalan terus menerus. 6. Tujuan komunikasi iman itu ialah; • supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman kita sehari-hari; • dan bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup sehari-hari; • dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih, dan semakin dikukuhkan hidup kristiani kita; • pula kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta; • sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat. Ditekankan pula bahwa kunci keberhasilan Katekese Umat ialah Pembina Katekese Umat yang disebut Pemudah atau Fasilitator. C. KATEKESE UMAT DALAM PKKI III  Bertempat di Pacet-Mojokerto – Jawa Timur  Tanggal 29 Januari – 5 Pebruari 1984.  Tema : Pembinaan Pembina Katekese Umat  Hasil : 1. Arti dan Makna Pembina Katekese Umat[2] 2. Pembinaan Keterampilan Pembina KU
  • 15.
    Keterampilan mengenai kepekaanseluruh pribadi seseorang terhadap apa saja yang termasuk situasi konkret, kebutuhan dan visi kristianinya. 3. Unsur-unsur Pokok dalam Pembinaan pembina KU: a. Kemampuan/keterampilan berefleksi: • Tentang nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup sehari-hari Tentang nilai-nilai Injili dan nilai kristiani dalam tradisi gereja • Tentang nilai-nilai manusiawi dalam terang nilai-nilai Injili dan Kristiani. b. Kemampuan/keterampilan berkomunikasi  Kemampuan mengumpulkan, menyatukan dan mengarahkan kelompok umat sampai pada tindakan nyata.  Kemampuan mengungkapkan diri, berbicara dan mendengarkan.  Kemampuan menciptakan suasana yang memudahkan peserta untuk mengungkapkan diri dan mendengarkankan pengalaman orang lain. D. KATEKESE UMAT DALAM PKKI IV  Bertempat di Denpasar – Bali  Tanggal 24-28 Oktober 1988 Tema : Membina Iman yang Terlibat dalam Masyarakat.  Hasil : Menetapkan katekese yang bukan Gerejasentris tetapi Kerajaan Allah sentris. Katekese yang kontekstual, katekese yang semakin terlibat dalam masyarakat. Alasannya: kita hidup dalam masyarakat majemuk. Sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini dibuat lokakarya KU dalam kaitan dengan Analisa Sosial di Wisma PTPM Sosrowijayan Yogyakarta 7-10-1989 oleh team yang dipimpin oleh R.P Haselaars, SJ tentang KU Metode SOTARAE. E. KATEKESE UMAT DALAM PKKI V  Bertempat di Caringin – Bogor  Tanggal 22-30 September 1992  Tema : Membina iman yang terlibat dalam masyarakat. Beriman dalam Hidup Bermasyarakat: Tantangan bagi Katekese. Diharapkan agar umat semakin memahami dan meyakini pentingnya katekese sosial sebagai upaya untuk membina iman yang terlibat di dalam masyarakat.  Hasil : Menetapkan Katekese Umat harus bersifat kontekstual; artinya katekese yang mampu menjawabi kebutuhan aktual, konkret. Untuk itu perlu ada Analisa Sosial (Ansos) sebagai alat bantu untuk menemukan tema-tema aktual dan nyata. F. KATEKESE UMAT DALAM PKKI VI  Bertempat di Wisma Samadi Klender - Jakarta  Tanggal 1 – 10 Agustus 1996  Tema : Menggalakkan Karya katekese di Indonesia Katekese Umat dan Kerajaan Allah Memperdalam hal-hal yang berkaitan dengan katekese mulai dari PKKI I – PKK IV.  Hasil :
  • 16.
    • Menetapkan arahdasar Katekese Umat adalah Kerajaan Allah. Kerena, Kerajaan Allah menjadi pokok pewartaan dan keprihatinan Yesus Kristus. • Keterlibatan Katekese Umat Ansos untuk dapat membangun dunia ini menjadi lebih sesuai dengan kehendak Allah. • Beberapa hal praktis yang penting diperhatikan dalam KU ≈ Katekese Umat Ansos adalah salah satu Katekese Umat yang dimulai dengan analisis masalah-masalah sosial.[3] ≈ Penggunaan Kitab Suci dalam Katekese Umat Ansos, sarana-sarana pendukung Katekese, misl. televisi. ≈ Peran media bagi pembinaan iman anak dan remaja, serta spiritualitas Penilik Pendidikan Agama Katolik di sekolah.
  • 17.
    G. KATEKESE UMATDALAM PKKI VII  Bertempat di Sawiran - Jawa Timur  Tanggal 24 – 30 Juni 2000 Tema : Katekese Umat dan Kelompok Basis Gerejani  Hasil : • Pembahasan Kurikulum PAK. • Katekese Umat dan Komunitas Basis Gerejani Katekese Umat hendaknya menjadi sarana pemberdayaan Umat Basis. Katekese Umat yang diharapkan: - Pertama; menghantar umat membangun komunitas, saling mengenal secara mendalam, serta menyadari mengapa perlu berkomunitas. - Kedua, menghantar semua anggota komunitas memiliki visi, misi dan spiritualitas yang sama, yaitu sebagai komunitas murid-murid Yesus (Gereja), komunitas merefleksikan pengalaman berkomunitas dalam terang Injil. - Ketiga, mengamalkan kesederajatan. Katekese Umat membantu semua anggota komunitas memahami dan mempraktekkan kepemimpinan partisipatif yang menjadi sentral dalam membangun komunitas. H. KATEKESE UMAT DALAM PKKI VIII  Bertempat di Wisma Misericordia - Malang  Tanggal 22 -28 Pebruari 2004  Tema : Membangun Komunitas Basis Gerejani Berdimensi Kemasyarakatan (sosial, politik, ekonomi, budaya, dsb)  Hasil : Menetapkan Katekese Umat yang menunjang KBG yang berdimensi kemasyarakatan.
  • 18.
    H. KATEKESE UMATDALAM PKKI IX  Bertempat di Manado  Tanggal : 17-23 Juni 2008  Tema : Katekese Dalam Masyarakat Yang Tertekan  Hasil : 1. KU yang diharapkan dapat memberi peneguhan, pencerahan, serta keberanian untuk bertindak mengatasi ketertekanan dalam tiga bidang kehidupan, yaitu bidang kemanusiaan, politik, dan hukum. 2. Penerusan iman – dipakai sarana Kotbah perayaan Ekaristi. 3. Tema yang memiliki keberpihakan jelas - tentang masyarakat yang tertekan sebagai tujuan kegiatan katekese. 4. Mencipta harmoni sosial - Merupakan tugas para katekis untuk membantu masyarakat beragama menciptakan harmoni sosial. Jangan sampai keberadaan agama justru melemahkan upaya untuk mewujudkan harmoni sosial di tengah masyarakat. Latihan:
  • 19.
    BAB III ARTI, TUJUANDAN PROSES KATEKESE UMAT A. ARTI KATEKESE UMAT Katekese Umat dapat ditinjau dari berbagai segi/aspek antara lain, antropologis, sosiologis dan teologis. 1. Katekese Umat sebagai Musyawarah Iman (aspek Antropologis) Masyarakat kita sering bermusyawarah untuk memecahkan suatu persoalan, misalnya kemarau yang panjang, gagal panen, dsb atau untuk memenuhi kebutuhan, misalnya membuat rumah baru, mengadakan pesta, dsb. Proses itu biasanya berlangsung sbb: • Langkah pertama: melihat dan mendalami persoalan atau kebutuhan • Langkah kedua: menimba kebijakan dari tradisi • Langkah ketiga: merencakan tindakan yang perlu Katekese Umat adalah kristianisasi atau inkulturasi terhadap musyawarah masyarakat kita itu. Kita menjadikan musyawarah masyarakat itu berdimensi Injili. 2. Katekese Umat sebagai Analisa Sosial dalam Terang Injil (aspek sosiologis) Katekese Umat dengan tema-tema yang menyangkut ketidakadilan sangat dianjurkan untuk memakai pendekatan analisa sosial. PKKI IV menekankan bahwa penghayatan iman kristiani/penyaksian iman terjadi dalam kenyataan konkret. Dalam kenyataan itu munculah masalah-masalah sosial. Maka, untuk menangkap dan memahami masalah itu dibutuhkan analisa sosial. Dalam kaitan dengan tujuan katekese umat yaitu membina iman yang sungguh terlibat dan bertanggung jawab dalam kenyataan sosial, analisa sosial mutlak perlu diusahkan sebagai titik tolak dan mewarnai proses Katekese Umat. Dalam PKKI II dirumuskan bahwa fungsi Katekese Umat sebagai usaha menafsirkan hidup nyata dalam terang Injil. Hidup nyata memiliki banyak dimensi. Salah satu dimensi itu adalah bahwa adanya sistem atau aturan main yang menentukan hidup banyak orang dalam masyarakat. Sistem ini diatur atau diciptakan segelintir orang yang berkuasa dan bermodal untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan akibatnya bagi rakyat jelata, sehingga menimbulkan penindasan dan kemiskinan. Sistem ini biasanya menyusup ke segala bidang terutama politik dan ekonomi, baik di tingkat mikro maupun makro. Akibatnya, rakyat diliputi perasaan takut, apatis, terpojok, kehilangan nafkah, kepercayaan diri mulai lemah, dsb. Sistem-sistem yang bermain peranan di balik kenyataan ini disadari sebagai akar masalahnya. Dalam Analisa Sosial, kita berusaha untuk mempelajari struktur sosial yang ada, mendalami situasi di tiap bidang sehingga kita tahu sejauh mana institusi-institusi itu mempengaruhi situasi yang ada, dengan demikian kita mampu melihat masalah sosial yang ada dalam konteks yang lebih luas. Dan kiranya, kita mampu melihat masalah yang lebih luas
  • 20.
    itu, maka kitabisa menentukan aksi untuk mengatasi ketidakadilan yang ada. Jadi, Analisa Sosial adalah suatu usaha nyata yang merupakan bagian penting menegakkan keadilan sosial. Proses KU yang menggunakan pendekatan Analisa Sosial sebagai berikut: • Melihat dan menyadari gejala atau fenomena ketidakadilan sosial yang ada • Merumuskan fenomena ketidakadilan itu • Mencari akar dari ketidakadilan dan akibat-akibatnya • Merefleksikannya dalam iman (Kitab Suci dan ajaran Gereja) • Merencanakan aksi, kemudian disusul dengan aksi.[4] 3. Katekese Umat sebagai Komunikasi Iman Katekese Umat bertumbuh bersama bergesernya visi gereja, dari Gereja institusional yang bersifat hirarkis piramidal ke Gereja Umat Allah, Gereja Commonio, Gereja Sakramen Keselamatan, Gereja Kaum Miskin, Gereja Pemberdayaan dan Pemerdekaan. Dalam Gereja Intitusional katekese bersifat dari atas ke bawah, bersifat informatif, intruksional. Dalam Gereja post konsilier, katekese lebih bersifat komunikatif. PKKI II di Klender merumuskan arti dan makna Katekese Umat sbb: 1). Katekese Umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman (penghayatan iman) antara anggota jemaat/kelompok. Melalui kesaksian, para peserta saling membantu sedemikian rupa sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna. Dalam Katekese Umat, tekanan terutama diletakkan pada penghayatan iman, meskipun pengetahuan tidak dilupakan. Katekese Umat mengandaikan adanya perencanaan[5]. Yang ditekankan di sini komunikasi bukan saja antara pendamping dengan peserta, tetapi lebih-lebih komunikasi antar peserta sendiri. Yang ditukarkan ialah penghayatan iman bukan pengetahuan tentang rumusan iman. Rumusan iman menunjang penghayatan iman. Para peserta katekese diharapkan mengenal penghayatan sendiri di dalam rumusan-rumusan resmi Gereja. Katekese umat adalah salah satu bidang dalam usaha pastoral Gereja. Namun demikian, antara katekese dan usaha pastoral Gereja yang lain, dipengaruhi dan mempengaruhi satu dengan lainnya. Yang dimaksudkan di sini adalah Katekes Umat adalah usaha pembinaan iman umat secara teratur dan terencana. 2). Dalam Katekese Umat, kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus, Pengantara Allah yang bersabda kepada kita dan Pengantara kita menanggapi Sabda Allah. Yesus Kristus tampil sebagai pola hidup kita dalam Kitab Suci, khususnya dalam Perjanjian Baru yang mendasari penghayatan iman Gereja sepanjang tradisinya. Dalam anjuran Apostolik Catechesi Tradendae, Paus Yohanes Paulus II menegaskan: Katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistimatis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup kristen[6]. Dengan kata lain, katekese adalah usaha-usaha dari pihak Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati, dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari- hari.
  • 21.
    B. TUJUAN KATEKESEUMAT Tujuan Katekese Umat, PKKI II menegaskan bahwa : 1. supaya dalam terang Injil kita semakin meresapi arti pengalaman-pengalaman-pengalaman kita sehari-hari; Rumusan tujuan mau menunjukan bahwa katekese membantu kita untuk hidup semakin sadar, semakin mendalam. Kedalaman ini diperoleh dengan melihat hidup dalam terang iman. Ini berarti katekese menempatkan pengalaman religius ke dalam hidup nyata dan konkret. Dengan demikian, peserta ditolong untuk menafsirkan riwayat hidupnya sebagai sejarah penyelamatannya. Oleh karena itu pengalaman hidup peserta harus sungguh-sungguh digali. Katekese Umat mencegah dualisme dalam hidup beriman. Katekese mendorong proses pemanusiaan kristiani yang utuh. 2. dan bertobat (metanoia) kepada Allah dan semakin menyadari kehadiran-Nya dalam kenyataan hidup seharihari; Tujuan dari setiap katekese adalah perubahan sikap baru (metanoia) karena berkat terang iman. Mengambil sikap yang baru tidak selalu berarti beralih dari sikap yang tidak baik (dosa) ke sikap yang baik (suci), tetapi juga berarti beralih dari sikap yang baik ke sikap yang lebih baik lagi, menjadi semakin sempurna. Tobat tidak sebatas pada aspek rohani melulu dalam arti menyangkut sikap iman saja, tetapi juga, menjangkau sampai pada tindakan nyata. Tobat menyangkut keseluruhan kehidupan manusia lahir dan batin. Tobat sebagai hasil dari katekese menghilangkan jurang antara agama dan hidup sehari-hari. Agama dihayati dalam hidup profan dan hidup menjadi medan perjumpaan dengan Allah. Melalui katekese umat mengalami dan menyadari bahwa seluruh hidup dan dunia kita ditebus oleh Kristus dan dipakai oleh Roh Kudus untuk menghantar kita kepada Allah Bapa. Tobat yang sejati memang harus menghantar kita kepada Allah melalui hidup ini. 3. dengan demikian kita semakin sempurna beriman, berharap, mengamalkan cinta kasih, dan semakin dikukuhkan hidup kristiani kita; Kehidupan yang terarah kepada Allah harus terwujud dalam tiga gejala dasar yaitu, iman, harap dan kasih yang harus semakin nyata diamalkan dalam hidup sehari-hari. 4. pula kita makin bersatu dalam Kristus, makin menjemaat, makin mewujudkan tugas Gereja setempat dan mengokohkan Gereja semesta; Selain mempersatukan kita dengan Kristus, katekese juga mempersatukan kita dengan Gereja. Katekese turut membangun Gereja. Dengan berkatekese umat kita semakin mewujudkan Gereja basis itu sendiri secara konkret dan nyata, dengan demikian mewujudkan gereja setempat dan gereja universal. Semakin kita berkatekese, umat semakin mewujudkan gereja itu sendiri. Dan, bila gereja semakin terwujud maka komunikasi iman umatnya semakin terwujud pula. 5. sehingga kita sanggup memberi kesaksian tentang Kristus dalam hidup kita di tengah masyarakat[7]. Dampak dari gereja yang semakin mewujudkan dirinya tidaklah melulu terarah ke dalam, tetapi juga keluar – ke masyarakat – ke dunia. Gereja yang semakin mewujudkan dirinya itu
  • 22.
    harus dapat memberikesaksian tentang Kristus kepada dunia. Dengan katekese Gereja semakin mantap tetapi juga missioner. Point kelima merangkum semua menuju tujuan Katekese Umat. Kelima butir rumusan tujuan di atas menyoroti tujuan Katekese Umat dari sudut yang berbeda-beda. Ketiga butir yang pertama lebih memperhatikan peserta. Kedua lainnya menegaskan tujuan sebagai Gereja dan semuanya berpuncak pada hidup kita di tengah masyarakat. Katekese Umat menempatkan pengalaman religius kembali ke dalam hidup konkret. Dengan demikian, para peserta ditolong untuk menafsirkan riwayat hidupnya sebagai sejarah penyelamatan. C. TITIK TOLAK PROSES KATEKESE UMAT 1. Proses Katekese Umat Ciri kahs Katekese umat juga terletak pada proses, yaitu: proses interaksi kelompok dan proses pengembangan iman. a. Proses interaksi kelompok Proses ini terjadi dalam usaha saling menolong, saling mengkomunikasikan pengalaman manusiawi dan pengalaman iman serta usaha bersama mencari dampaknya bagi hidup nyata oleh kelompok itu sendiri.
  • 23.
    b. Proses pengembanganiman Dalam berkatekese iman seseorang bisa ditumbuhkan, diteguhkan atau mungkin dikoreksi sebagai hasil dari komunikasi iman tersebut. Proses ini berlangsung seumur hidup. 2. Titik Tolak Proses Katekese Umat Titik tolak proses katekese artinya darimana kita mulai berkatekese. Suatu katekese umat dimulai dari : a. Pengalaman hidup atau situasi aktual peserta b. Pengalaman Kitab Suci dan Tradisi Gereja Kedua titik tolak ini dapat digunakan dalam membangun katekese. Akan tetapi lebih baik kalau bertitik tolak dari pengalaman hidup. Sebab: ≈ Allah menyapa manusia sepanjang sejarah hidup manusia (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) melalui situasi konkret dalam konteks sosio-budaya tertentu. ≈ Lebih manusiawi, artinya manusia mulai dengan penyadaran diri dan hidupnya baru menanggapi sesuatu, termasuk Tuhan. Iman yang bertumbuh dari pengalaman hidup manusia, prosesnya terasa lebih mengena. ≈ Suatu proses komunikasi yang akrab biasanya dimulai dari pengalaman hidup. Alasan yang lebih bersifat metodis, yaitu:  KU disebut katekese oleh umat dan untuk umat, akan jauh lebih gampang bila dimulai dari kehidupan mereka sehari-hari. Sejak semula bisa dimulai dengan proses komunikasi yang sangat akrab.  Bila dimulai dengan Kitab Suci peranan fasilitator harus cukup dihandalkan pada permulaannya; mungkin fasilitator harus berbicara lebih banyak dan ini agak menghalangi proses komunikasi awal, dsb.
  • 24.
    D. MATERI KATEKESEUMAT Dalam berkatekese harus ada bahan/materi yang dikomunikasikan. Materi KU adalah: 1. Pengalaman hidup 2. Kitab Suci 3. Tradisi Gereja/Ajaran Gereja sepanjang masa. Ketiga materi ini tidak boleh berdiri sendiri tetapi selalu terpadu sangat erat. Setiap KU selalu berurusan dengan pengalaman hidup, dengan Kitab Suci dan Ajaran Gereja. KU merupakan peristiwa hidup dan peristiwa gerejani yang mendapat artinya dalam terang Kitab Suci. Latihan: 1.
  • 25.
    BAB IV PEMBINA KATEKESEUMAT A. KEPEMIMPINAN DALAM KATEKESE UMAT 1. Siapa itu Pemimpin Katekese Umat PKKI III (1984) di Pacet, merumuskan kriteria Pembina Katekese Umat adalah seorang yang mampu dan rela untuk menjalankan Katekese Umat dalam kelompok dasar. Seorang Pembina Katekese Umat sebagai saksi iman diharapkan: a. Seorang pribadi yang beriman Katolik yang sadar akan panggilan Roh Kudus untuk melayani sesama umat dalam kelompok dasar. b. Seorang pribadi yang rela mengumpulkan, menyatukan, dan membimbing kelompok umat dasar untuk melaksanakan Katekese Umat sebagai suatu proses komunikasi iman yang semakin berkembang. c. Seorang pribadi yang menghargai setiap peserta kelompok Katekese Umat dengan segala latar belakang dan situasinya. d. Seorang pribadi yang berperan sebagai pengarah dan pemudah untuk menciptakan suasana komunikatif dalam kelompok umat dasar yang dilayani. 2. Peran Pemimpin Ketekese Umat Pemimpin Katekese Umat disebut dengan pengarah/fasilitator. Ia berperan mengarahkan dan memperlancar komunikasi iman di antara peserta. Karena itu seorang pembina tidak boleh bertindak menggurui peserta. Untuk itu ia harus : a. Memberi kesempatan yang cukup kepada setiap peserta untuk berbicara membagi pengalamannya. b. Membantu peserta yang malu berbicara agar berani mengambil bagian dalam dialog. c. Mengendalikan peserta yang mau berbicara sendiri. d. Menggali, memperdalam dan memperluas pengalaman peserta dengan pertanyaan yang tepat. e. Merangkum hasil pembicaraan bersama, lalu mengarahkan. B. KEPRIBADIAN DAN SPIRITUALITAS PEMBINA KATEKESE UMAT 1. Kepribadian Seorang Pendamping Katekese Umat a. Kepribadian pada Umumnya Kepribadian (indetity) berarti keseluruhan sikap, sifat dan watak, meliputi seluruh pembawaan dan mutu diri seseorang, termasuk seluruh kekuatan dan kelemahan, kecenderungan dan cita-cita serta cara bagaimana semua unsur itu diintegrasikan dalam diri seseorang.
  • 26.
    Kepribadian itu terusberkembang ke arah yang seimbang menuju kepribadian yang matang atau merosot ke arah yang buruk. Kepribadian berkembang apabila berdasarkan bakat-bakat alamiah diperkembangkan menurut cita-cita luhur. Manusia yang berpribadian matang (dewasa) kalau ia mampu berdiri sendiri sesuai dengan sikap yang dapat dipertanggung-jawabkan bukan hanya terhadap hati nuraninya, tetapi juga terhadap masyarakat. Ia tidak diombang-ambingkan oleh pandangan yang sedang trend. Ia bersikap kristis, namun terbuka untuk menerima pandangan yang baik dan benar. Tidak picik dan egosentris. Rendah hati dan komunikatif. Terhadap sesama (masyarakat) dan tugas ia memiliki komitmen yang tinggi. b. Kepribadian Pembina Katekese Umat Pembina Katekese Umat diharapkan menghayati sikap, sifat, watak serta pembawaan yang disebut di atas, meliputi: 1. Terhadap diri sendiri - Bersikap jujur, menerima diri seadanya, tidak angkuh, tetapi juga tidak rendah diri. - Tahu menahan diri, misalnya tidak terlalu banyak berbicara supaya umat bisa lebih banyak berbicara, tidak overakting. 2. Terhadap sesama - Terbuka, jujur dan rendah hati - Memiliki kepekaan dan komitmen, suka membantu sesama. - Suka mendengar, penuh pengertian, ramah. - Komunikatif, tahu membawa diri. 3. Terhadap situasi - Kritis tidak terbawa arus, tetapi terbuka, bisa menyesuaikan diri. - Cekatan membaca tanda-tanda jaman. - Tahan bantingan pada situasi kritis dan sulit. 4. Terhadap tugas - Mencintai tugas dan merasa terpanggil untuk itu. - Senantiasa loyal (setia) dan terlibat pada tugas. - Berusaha untuk menjadi profesional dalam menjalankan tugas. 5. Terhadap Tuhan - Percaya pada Tuhan dalam situasi apa saja. - Senantisa bersyukur kepada Tuhan dalam untung dan malang. - Senantiasa berharap pada Tuhan dan penuh semangat optimisme.
  • 28.
    2. Spriritualitas PendampingKatekese Umat Spiritualitas pada umumnya dimaksudkan sebagai hubungan pribadi seorang beriman dengan Allahnya dan aneka perwujudannya dalam sikap dan perbuatan. Atau spiritualitas dipahami sebagai hidup berdasarkan kekuatan Roh Kudus dengan mengembangkan iman, harapan, dan cinta kasih atau usaha mengintegrasikan segala segi kehidupan kedalam cara hidup yang secara sadar bertumpu pada iman akan Yesus Kristus. Atau dapat pula dikatakan sebagai pengalaman iman kristiani dalam hidup konkret. Spiritualitas awam adalah kehidupan rohani yang menyanggupkan orang menghayati dan mengamalkan imannya, baik sebagai anggota penuh Gereja maupun sebagai warga masyarakat. Spiritualitas awam memperoleh warna khas dari lingkungan serta status hidup seseorang dari aktivitas profesional dan sosial orang yang bersangkutan. Apapun juga lingkungan itu, setiap orang menerima talenta yang harus dikembangkan. Demikian ia bekerjasama dengan anugerah yang diberikan oleh Roh Kudus kepadanya[8]. Spiritualitas Pembina Ketekese Umat adalah spiritualitas umum. Dengan demikian, spiritualitas dapat disebut mengikuti jejak Kristus. Spiritualitas kemuridan Yesus, yaitu keterlibatan pada dunia demi membangun Kerajaan Allah. Secara khusus spiritualitas Pembina Katekese Umat dalam lokakarya “Pembina Katekese Umat” di Wisma Kinarsih (16 s/d 21 Pebruari 1998) merumuskan spiritualitas Pembina Katekese Umat sebagai: Roh (semangat) membantu sesama (peserta KU) melalui pewartaan iman yang komunikatif, agar bersama-sama mampu mewujudkan Kerajaan Allah, karena kepedulian terhadap Allah dan sesama. C. PENGETAHUAN PEMBINA KATEKESE UMAT Pembina Katekese Umat diharapkan memiliki pengetahuan yang memadai, paling kurang pengetahuan yang bisa menunjang dalam proses Katekese. Pengetahuan menyangkut: isi, metode, peserta, dan konteks peserta Katekese Umat. 1. Pengetahuan menyakut Isi Katekese Umat Dalam Ketekese Umat biasanya bertitik tolak dari pengalaman hidup, lalu pengalaman hidup itu diterangi dengan ajaran iman katolik yang terdapat dalam Kitab Suci dan Tradisi Gereja. Jadi, menyangkut isi katekese, disebut dua hal yaitu pengalaman hidup/hidup nyata dan ajaran iman katolik. Menyangkuti isi tentang pengalaman hidup agak susah dibicarakan di sini, mengingat konteksnya sangat berbeda. Dengan demikian kiranya menyangkut isi itu diangkat dari sisi ajaran iman katolik. Pengetahuan tentang ajaran iman katolik yang hendaknya dimiliki oleh Pembina Katekese antara lain: a. Kitab Suci Memiliki pengertian yang tepat tentang Kitab Suci sebagai kitab iman, sehingga tidak jatuh dalam bahaya menggunakan Kitab Suci secara fundamentalistik atau simplikasi (menyederhanakan). Hal ini sangat membantunya untuk memilih teks-teks Kitab Suci secara tepat dan memprosesnya bersama peserta katekese. b. Kristologi
  • 29.
    Mengenal pribadi, pewartaandan tindakan Yesus. Khusus pewartaan dan tindakan Yesus dalam hubungan dengan obsesiNya menyangkut Kerajaan Allah. c. Eklesiologi (Gereja) Sudah memadai kalau pembina bisa memahami: • Gereja sebagai Umat Allah, Gereja sebagai communio, demi keterlibatan umat dalam katekese. • Gereja sebagai Tanda Keselamatan Dunia, Gereja Pemberdayaan dan Gereja Pemerdekaan. Tujuan katekese antara lain untuk memberdayakan dan memerdekakan umat supaya bisa menjadi tanda keselamatan bagi dunia. d. Ajaran Sosial Gereja Hal pokok dalam ajaran sosial Gereja kiranya diketahui, karena opsi dari Katekese Umat antara lain keberpihakan pada kaum papa dan tergusur. Ajaran sosial Gereja sering menyinggung masalah ketidakadilan sosial tersebut. 2. Pengetahuan menyangkut Metode Pembina Katekese Umat dituntut mengetahui metodologi memproses Katekese Umat. Pengetahun tentang metode Katekese Umat dapat dipelajari secara teoritis melalui uraian- uraian yang telah banyak dipublikasikan, tetapi juga dengan mempelajarinya dari model- model atau contoh-contoh Katekese Umat yang telah banyak ditulis. Dari proses dan langkah-langkah Katekese Umat diandaikan pembina sedikit banyaknya menguasai cara-cara berikut: • Menganalisa situasi • Menafsir Kitab Suci • Menyusun rencana tindak lanjut, • dsbnya. 3. Pengetahuan menyangkut Peserta Agar proses Katekese Umat berjalan dengan lancar dan baik, maka penting juga Pembina mengetahui pribadi-pribadi dan latarbelakang peserta, seperti: • Daya nalarnya, perasaan dan intuisinya, • Latar belakang status sosial dan latar belakang ekonominya, • Latar belakang budaya; budaya tradisional atau modern, dsb. Singkatnya: pembina Katekese Umat sebaiknya sedikit mengenal psikologi dan konteks peserta. 4. Pengetahuan menyangkut Konteks Pembina Katekese Umat juga dituntut mengetahui tentang konteks, yang bersifat nasional dan global, misalnya pengaruh globalisasi dalam wujud semangat materialisme, konsumerisme, individualisme, dsbnya. Karena hal ini bisa sangat mempengaruhi suasana batin peserta. Pengetahuan tentang konteks ini penting, pertama-tama bukan untuk diberikan
  • 30.
    kepada peserta, tetapiterutama untuk pembina sendiri supaya ia bisa dengan tepat dan peka mengarahkan keseluruhan proses Katekese Umat secara relevan. D. KETERAMPILAN PEMBINA KATEKESE UMAT 1. Kemampaun-Kemampuan Dasariah a. Kemampuan/keterampilan berkomunikasi Komunikasi yang terjadi dalam Katekese Umat adalah komunikasi antara orang-orang dengan pengalaman tertentu pada situasi tertentu yang dilatarbelakangi kebudayaan tertentu. Maka secara praktis kemampuan/keterampilan berkomunikasi yang perlu ditekankan antara lain: • Kemampuan/keterampilan berkomunikasi dan berelasi mampu mengumpulkan, menyatukan dan mengarahkan kelompok sampai kepada suatu tindakan nyata. • Kemampuan/keterampilan mengungkapkan diri, berbicara dan mendengarkan. • Kemampuan/keterampilan menciptakan suasana yang memudahkan peserta untuk mengungkapkan diri dan mendengarkan pengalaman orang lain. b. Kemampuan/keterampilan berefleksi Komunikasi yang dikembangkan dalam katekese adalah komunikasi iman. Hal itu berarti, Pembina Katekese Umat adalah orang yang menyadari dan mampu memberi kesaksian tentang pengalaman imannya. Komunikasi iam menuju/berpusat pada kehadiran Kristus yang dialami dan dihayati oleh umat kristiani di mana-mana sejak jaman para rasul. Maka secara praktis kemampuan/keterampilan yang harus dimiliki oleh Pembina Katekese Umat adalah: • Mampu/terampil menemukan nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup sehari-hari. • Mampu/terampil menemukan nilai-nilai kriatiani dalam Kitab Suci, ajaran Gereja dan tradisi kristiani lainnya. • Mampu/terampil memadukan nilai-nilai kristiani dengan nilai-nilai manusiawi dalam pengalaman hidup sehari-hari. Untuk bisa menemukan nilai-nilai manusiawi dari pengalaman-pengalaman dan Kitab Suci dan kemudian memadukannya dibutuhkan kemampuan untuk berefleksi. 2. Kemampuan yang lebih Spesifik (saat membawakan Katekese Umat) Selain kemampuan-kemampuan dasariah atau pokok di atas, dibutuhkan juga kemampuan/ keterampilan yang lebih spesifik yang ditinjau dari langkah-langkah dari suatu proses Katekese Umat. Dalam suatu Katekese Umat pada umumnya terdapat tiga tahap/langkah besar, yaitu: • Tahap menyadari situasi berhubungan dengan tema yang diangkat. • Tahap menafsirkan situasi (tema) dalam terang Kitab Suci. • Tahap membulatkan tekad dan menyusun rencana. Maka, keterampilan atau kemampuan yang dibutuhkan pada tiap tahap sebagai berikut: a. Tahap menyadari situasi berhubungan dengan topik yang diangkat.
  • 31.
    Tahap ini berhubungandengan menyadari situasi, misalnya “Kemiskinan”, maka dibutuhkan oleh pembina (juga peserta) keterampilan: • Melihat/mengamati fenomena atau gejala kemiskinan itu. Tidak boleh apriori atau berasumsi sudah tahu. Orang harus belajar mengamati. Itu perlu kepekaan dan keterampilan. • Menarik benang merah, membuat sintesa atau merumpunkan gejala-gejala. • Mencari akar terdalam, menganalisis gejala-gejala itu. Semua ini terjadi dengan proses interaksi yang intensif. Keterampilan berkomunikasi sangat dibutuhkan. b. Tahap menyadari situasi dalam terang Kitab Suci Untuk tahap ini Pembina Katekese Umat membutuhkan keterampilan: • Membolak-balik dan membaca Kitab Suci dengan baik. • Menangkap pesan (teologi) Kitab Suci dengan tepat. Di sini dibutuhkan keterampilan menafsirkan Kitab Suci. • Kalau pesan Kitab Suci sudah ditangkap, lalu bagaimana situasi kemiskinan di atas diterangi dengan pesan Kitab Suci itu. Di sini dibuthkan keterampilan untuk menafsirkan, untuk mengaktualisasikan pesan Kitab Suci tadi dalam kemiskinan itu. Atau keterampilan untuk menerapkan relevansi pesan Kitab Suci atas situasi kemiskinan. Untuk itu semua dibutuhkan kemampuan refleksi secara mendalam. Dalam proses ini dibutuhkan keterampilan Pembina Katekese Umat mendampingi peserta untuk terlibat dalam pencarian bersama. c. Tahap membuatkan tekad dan menyusun rencana aksi Kalau peserta sudah menyadari situasi dan meneropongi situasi itu dengan terang Kitab Suci, maka diharapkan peserta merasa terpanggil untuk merencanakan tindakan nyata supaya bisa memperbaiki situasi itu. Maka keterampilan/kemampuan pembina yang dibutuhkan adalah: • Menciptakan kondisi dan menciptakan proses sedemikian rupa sehingga peserta tergerak untuk membuat rencana tindakan nyata. • Merumuskan tujuan yang mau dicapai dengan rencana kerja yang akan dibuat. • Merumuskan rencana kerja (jangka panjang dan jangka pendek) • Memanjatkan doa untuk memohon keteguhan supaya rencana yang telah dibuat dapat dilaksanakan. 3. Keterampilan Bertanya Proses komunikasi iman berjalan dengan lancar kalau dipandu dengan pertanyaan- pertayaan yang mendukung. Untuk itu fasilitator perlu memiliki keterampilan bertanya, seperti sebagai berikut: a. Rumusan pertanyaan tidak berupa teka-teki, tetapi harus jelas dan mengenai sasaran. b. Pertanyaan tidak boleh memaksa. Pertayaan tidak boleh diarahkan untuk memperoleh pandangan yang sudah dibentuk. c. Pertanyaan tidak perlu terlalu banyak; hindari kesan interogasi. d. Pertanyaan harus jujur dan bermutu. Jujur dan bermutu menggunakan kata tanya, mengapa, apa sebab, apa akibatnya.
  • 32.
    e. Pertanyaan harusjelas dan dirangkai secara tepat sehingga bisa mencapai tujuan yang dikehendaki. f. Pertanyaan disusun dari mudah sampai dengan sulit, dari informatif sampai yang interpretatif. g. Pertanyaan ditujukan kepada kelompok sebagai keseluruhan tanpa menutup kemungkinan bertanya sekali-kali kepada orang tertentu. h. Pertanyaan harus relevan dengan materi yang dibicarakan. i. Kadang-kadang perlu juga menanyakan perasaan-perasaan yang timbul. j. Pertanyaan hendaknya bijaksana sehingga tidak menyinggung perasaan atau memaksa untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak berkaitan dengan tema atau pokok-pokok pembicaraan. 4. Ketrampilan Evaluasi Diri Evaluasi itu penting untuk melihat kembali apa yang sudah dibuat dalam proses. Evaluasi penting demi perbaikan dan peningkatan proses komunikasi iman. Hal-hal yang perlu dievaluasi tentang fasilitator adalah: a. Apakah mengenal bahan/dokumen dengan baik? b. Apakah menyiapkan pertayaan-pertanyaan yang cocok? c. Apakah mengarahkan jalannya pertemuan pada langkah yang tepat? d. Apakah memulai dan mengakhiri pertemuan pada waktunya? e. Apakah dapat membantu peserta yang masih takut-takut? f. Apakah mengikuti langkah-langkah katekese dengan baik? g. Apakah mengarahkan pembicaraan menuju sasaran? h. Apakah menahan diri untuk tidak mengutarakan pendapat pribadi? i. Apakah pada saat tertetu membuat rangkuman? j. Apakah memelihara suasana akrab? Secara umum dapat dikatakan bahwa kemampuan atau keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang Pembina Ketekese Umat adalah: a. Kemampuan/keterampilan refleksi b. Kemampuan/keterampilan berkomunikasi c. Kemampuan/keterampilan menyusun KU d. Kemampuan/keterampilan membawakan KU e. Kemampuan/keterampilan membuat evaluasi. Latihan:
  • 34.
    BAB V METODE KATEKESEUMAT Metode lebih diartikan sebagai teknik dan methodis suatu katekese umat dapat dibangun. Maka pada dasarnya Katekese Umat mengikuti proses pastoral atau siklus pastoral pada umumnya. Ada tiga langkah besar yang didahului dengan tahap persiapan, yaitu: A. TAHAP PERSIAPAN Tahap persiapan ini berupa persiapan jauh dan persiapan dekat.  Persiapan jauh umumnya bertujuan menciptakan suasana agar kelompok itu saling mengenal, saling terbuka dan bisa menjadi kelompok yang akrab dan mampu berkomunikasi secara verbal.  Persiapan dekat. Biasanya sudah mengarah kepada tema atau pokok yang mau disadari akan didalami. Persiapan dekat ini dapat ditempuh misalnya dengan: - Mulai menyinggung tema yang mau didalami yang tentu sebelumnya telah disiapkan. - Menyambung dan mengajak peserta untuk memberikan perhatian kepada percakapan yang sesuai dengan tema yang telah disiapkan yang mungkin dimunculkan oleh salah seorang anggota yang hadir. - Munculkan ke tengah peserta sarana-sarana sebagai dokumen misalnya; koran, lagu, cergam, ceritera, dsb supaya mereka dapat memulai memberikan komentarnya. - Bila acara akan dimulai, mulailah menyambung pembicaraan peserta yang sudah menyentuh tema (doa dan lagu bisa ditunda/atau tidak harus ada pada pembukaan).
  • 35.
    B. TAHAP PERTAMA: MenghadirkanPengalaman Hidup Proses mengamati dan menyadari suatu fenomena tertentu dalam masyarakat yang kita angkat sebagai tema katekese. Situasi konkret ini bisa merupakan persoalan masyarakat, misalnya kelaparan, ketidakadilan, bencana atau kebutuhan masyarakat seperti makan, minum, rumah, pendidikan, dsb. Situasi konkret ini diamati, didalami dan dianalisis supaya kita menyadarinya secara utuh. Dalam proses katekese bisa dibuat dengan cara: ≈ Langsung: meminta peserta menceriterakan pengalamannya sesuai dengan tema (masalah/ kebutuhan) yang diangkat. ≈ Tidak langsung: dengan cara fasilitator menceriterakan suatu pengalaman, ceritera mitologi dsb atau melalui media lainnya seperti gambar, film, slide dsb.
  • 36.
    C. TAHAP KEDUA: InterpretasiKitab Suci Menyadari dan merefleksikan situasi yang telah dianalistis dalam terang Sabda Tuhan. Melalui Kitab Suci, peserta diajak untuk mendengarkan Allah ‘hic et nunc” (di sini dan sekarang) bersabda kepada kita di tengah masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. Dalam renungan diusahakan agar peserta dapat menemukan dan memahami kepedulian Allah terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi masyarakat. Atau dalam renungan diharapkan agar Kitab Suci membantu umat untuk mengerti serta meresapkan pandangan dan sikap Allah atas peristiwa yang sedang terjadi atau dialami di masyarakat atau peserta. Dengan demikian, nilai pewartaan tidak boleh dipaksakan tetapi mengalir secara spontan. Isi Kitab Suci dapat dimunculkan dengan cara: ≈ Dibacakan atau diceriterakan ≈ Menyajikan gambar/cergam/komik Kitab Suci ≈ Memutar slide/video/VCD Kitab Suci ≈ Lagu-lagu dan puisi Kitab Suci ≈ Peserta diajak untuk mencari teks-teks yang dapat berbicara dan memberi pesan untuk pengalaman hidupnya. ≈ Mendramatisasikan isi Kitab Suci. D. TAHAP KETIGA: Mencari dampak bagi hidup Memikirkan dan merencanakan aksi untuk bertindak (mencari dan menentukan dampak dalam hidup). Langkah mengamati situasi dan kemudian merefleksikan dalam terang Sabda Tuhan bertujuan supaya peserta menjadi lebih sadar akan panggilan sebagai orang beriman untuk memperbaiki keadaan yang ada. Mungkin Sabda Tuhan itu menegur supaya orang bermetanoia, atau memberi inspirasi dan meneguhkan untuk bertindak. Maka pada tahap ini diharapkan peserta membuat rencana-rencana dan membulatkan tekad untuk bertindak. Memang, tindakan nyata ini sudah di luar Katekese Umat, namun harus dilihat dalam rangka implementasi dari katekese. Katekese Umat selalu berujung pada aksi nyata. Tahap membulatkan tekad ke arah perwujudan pesan-pesan Injil bagi hidup dapat ditempuh dengan cara: - Ajakan untuk membuat niat dan pertanyaan reflektif yang mendorong ke arah pelaksanaannya. - Meditasi - Metafor: mendengarkan dan merenungkan teks-teks Kitab Suci. - Iklan: membuat iklan berdasarkan inspirasi Kitab Suci untuk direalisasikan dalam hidup. - Simbolisasi: mencari simbol yang mengungkapkan diri sebagai hasil dari proses ketekese. - Role play, mementaskan suatu sikap atau tindakan baru sebagai hasil penyadaran diri. Hal-hal yang perlu dielakan: - Penggunaan metode yang monoton, jangan tiap tahap digunakan metode yang sama. - Gunakan metode yang cocok untuk kelompok yang cocok. - Usahakan agar dengan menggunakan metode-metode itu suasana santai tetapi mendalam. Tidak menjadi sandiwara tanpa makna.
  • 37.
    E. MEMADUKAN PENGALAMANPESERTA KATEKESE UMAT DENGAN PENGALAMAN KITAB SUCI (BAGAIMANA) Menganalogikan pengalaman peserta Katekese Umat dengan pengalaman alkitabiah tidaklah gampang. Harus ada jembatan antara dua pengalaman itu, harus ada kaitan satu sama lain. Supaya kedua pengalaman itu bisa terpadu perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:  Pertama: Segi nalar yang sehat; harus ada keterikatan isi (tema) antara pengalaman peserta Katekese Umat dengan pengalaman alkitabiah. Misalnya, kalau tema yang digumuli adalah masalah kekerasan, maka harus diangkat pengalaman alkitabiah tentang kekerasan. Kita mengangkat teks-teks kitab suci yang memberi pesan teologis tentang kekerasan. Teks kitab suci tidak boleh dimanipulir supaya terpadu dengan pengalaman peserta Katekese Umat. Perlu disadari betul pesan teologis atau segi iman yang mau diwartakan oleh teks kitab suci itu.  Kedua: Segi afektif; terpeliharanya keterkaitannya antara pengalaman peserta KU dan pengalaman alkitabiah. Misalnya, kalau peserta tidak merasa puas dengan situasi kekerasan, maka dalam menggumuli pengalaman alkitabiah peserta hendaknya merasa lega karena diberi penerangan, diberi jalan, diberi peneguhan, dsb. Bisa juga peserta merasa ditegur, dikritik, dsb untuk bermetanoia. Singkatnya, segi afeksi jangan dilupakan, karena segi afeksi bisa mendorong proses Katekese Umat berkembang dan kemudian mengambil keputusan untuk bertindak. Afeksi mendorong kemauan dan kehendak. Hal yang diterima secara nalar, belum tentu dilaksanakan kalau kemauan dan kehendak belum digerakkan.  Ketiga: Dalam KU peserta tidak dipertemukan dengan teks kitab suci, tetapi dengan pengalaman kitab suci. Maka perhatian visi teologi atau visi iman dari teks itu. Teks kitab suci jangan dipandang sebagai kalimat-kalimat bertuah. Disinilah letak bahaya fundamentalistik.  Keempat: Membangkitkan fantasi, imaginasi dan intuisi agar proses dari pengalaman aktual peserta ke pengalaman alkitabiah berjalan dengan lancar. Hal ini dapat mempertajam kepekaan rohani orang atas pengalaman hidup dan pengalaman alkitabiah. Bahwa akhirnya orang bisa bermetanoia dan beriman sudah merupakan karunia Tuhan.
  • 38.
    SUSUNAN SUATU KU Tema: Apa yang menjadi pokok pembicaraan Tujuan : Apa yang mau dicapai dalam pertemuan itu Kitab Suci : KSPL/KSPB atau Ajaran Gereja yang memberikan inspirasi Materi : Pokok-pokok pembicaraan Bahan : Sarana yang digunakan dalam pertemuan Metode : Cara-cara yang dipakai dalam proses pertemuan. Waktu : kiran Dasar/ Gagasan Pokok : Alur keseluruhan jalan pikiran yang akan dikembangkan dalam pertemuan
  • 39.
    Langkah-Langkah Pengembangan 1. Pembukaan Sapaan Fasilitator  Doa Pembuka 2. Tahap 1. Menghadirkan Pengalaman  Menghadirkan dokumen : langsung/tidak langsung  Tanya jawab tentang dokumen (digali dan diperjelas)  Syering pengalaman peserta sehubungan dengan dokumen (menemukan makna)  Rangkuman & Penegasan (rangkum langkah 1, & mengarahkan peserta masuk langkah 2) 3. Tahap 2. Peneguhan dalam Kitab Suci  Menghadirkan KS/Ajaran Gereja : membaca, dramatisasi, slide, dsb.  Tanya jawab tentang isi KS/ ajaran Gereja  Syering peserta sehubungan dengan pesan KS atau ajaran Gereja  Rangkuman dan penegasan (rangkum langkah 2 dengan memperhatikan langkah 1, mengarahkan peserta masuk langkah 3) Pada tahap ini hendaknya sudah mulai terjadi dialektika/ konfrontasi antara pengalaman hidup peserta dengan pesan KS atau ajaran Gereja sehingga terjadi perubahan sikap/cara pandang pada diri peserta/kelompok untuk mengambil tindakan. 4. Tahap 3. Mencari dampak bagi hidup Caranya:  Mengajakan untuk bertindak (ingat penegasan langkah 1 & langkah 2)  Mengajukan pertanyaan refleksi sebagai rangsangan untuk bertindak  Merenungkan gambar atau teks 5. Evaluasi (fasilitator, peserta, proses) 6. Doa penutup
  • 40.
    Contoh: Sebuah ModelKatekese Umat Tema : KETABAHAN HIDUP[9] Tujuan : 1. Agar peserta menyadari kehadiran Allah di dalam perjalanan hidup, khususnya dalam saat- saat sulit. 2. Supaya peserta tetap sabar dan maju terus karena keyakinan bahwa Tuhan senantiasa menyertainya. Kitab Suci : Luk. 8:22-25 Bahan : Metode : Tanya jawab, diiskusi, shering Waktu : 60 menit Pemikiran dasar/Gagasan Pokok: Adanya bermacam-macam kesulitan akibat devaluasi saat ini bias membawa orang kepada sikap putus asa, nekad, frustrasi dan sebagainya. Padaa saat yang sulit seperti ini mungkin ada baiknya kita mengingat peribahasa: ”Dibalik awan ada matahari”. Memang matahari itu selalu ada walaupun kadangkala ia tidak Nampak karena hari sedang mendung. Tuhan juga hadir selalu padaa saat-saat gelap yang sedang dialami. Keyakinan ini hendaknya membuat kita tabah. Memang ketabahan kristiani mempunyai maknanya sendiri. Proses Katekese 1. Tahap Persiapan Ajaklah peserta untuk bercakap-cakap tentang pelbagai kesulitan akibat devaluasi. Misalnya. Naiknya harga barang-barang, meningkatnya biaya pendidikan, sulitnya mencari pekerjaan, dsb. Ajaklah bagaimana sikap orang dalam menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut. 2. Tahap menghadirkan dan menyeleksi pengalaman hidup Fasilitator mengajak peserta untuk memajukan contoh-contoh dari hidup nyata yang menyangkut sikap yang tidak ksatria dalam menghadapi kesulitan tersebut (bisa pakai sarana, seperti ceritera, cergam, dsb) Tanyakan bagaimana sikap mereka menghadapi kesulitan tersebut. Peserta diberi kesempatan untuk berpikir dan berbicara/berkomunikasi tentang sikap kristiani dalam menghadapi tantangan masa kita. 3. Tahap interpretasi Kitab Suci  Baca KS. Luk. 8:22-25  Mendalami teks dengan memakai metaphor dan dibicarakan bersama KITAB SUCI HIDUP KITA Para Murid naik perahu Perjalanan hidup kita Mengalami taufan, badai Mengalami kesulitan
  • 41.
    Yesus bersama mereka tetapitertidur Yesus ada tetapi tidak nampak nyata Sikap Para Rasul: - Ragu-ragu - Mencari kekuatan pada Tuhan - Akhirnya sadar sebab Tuhan berada dalam perahu Sikap kita: - ____________? - ____________? - ____________? - ____________? 4. Tahap mencari dampak Untuk meneguhkan peserta agar tetap tabah, optimis dan maju terus dapat ditempuh dengan cara, seperti membuat slogan Di Balik Awan ada Matahari (kalau pesertanya OMK) Pertemuan ditutup dengan doa atau nyanyian Tuhanlah Gembalaku atau lagu yang sesuai.
  • 42.
    Contoh 2 Tema :SEKSUALITAS ADALAH ANUGERAH TUHAN Tujuan : Supaya peserta sadar bahwa seksualitas adalah anugerah Tuhan yang harus disyukuri, dihargai dan dijaga serta dipelihara dalam hidup perkawinan. Sumber : 2 Sam. 13, 1-9, Amnon dan Tamar Metode : Ceritera dialog Waktu : 30 menit an Dasar Manusia pria dan wanita adalah ciptaan Tuhan (Kej. 1, 26-27). Keduanya diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Keduanya memiliki harkat dan martabat yang sama, dibekali dengan akal budi dan dikaruniai dengan kehendak bebas yang sama pula. Secara faktual pria dan wanita berbeda secara fisik dan psikis. Akan tetapi perbedaan-perbedaan itu tidak dimaksudkan sebagai pemisahan melainkan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan dalam hidup bersama, terutama dalam hidup perkawinan. Karena itu penghargaan dan penghormatan terhadap seksualitas yaitu hal-hal yang berhubungan dengan kepriaan dan kewanitaan adalah suatu kemestian. Rasa hormat itu diwujudkan dalam sikap dan tindakan saling menjaga dan memelihara kemurnian baik terhadap diri maupun terhadap pihak yang lain. Langkah-Langkah Pengembangan 1. Pembukaan Doa pembuka Pengantar singkat oleh pendamping 2. Menghadirkan Pengalaman a. Fasilitaor menceriterakan kisah berikut ini Karena Cintakah ? Dengan berat hati Lisa menceriterakan sepenggal pengalaman pahit yang dialaminya bersama sang kekasih. Kata orang wajahku, tubuhku, suara dan kelincahanku mengagumkan. Aku bangga atas semua pujian lawan jenisku maupun teman-teman sejenisku. Setiap bangun pagi dan menjelang tidur aku selalu bersyukur kepada Tuhan sebab aku sadar semua yang kumiliki itu merupakan anugerahNya. Tetapi hari tidak selamanya cerah. Kadang-kadang muncul juga mendung. Dan itulah hari naas bagiku. Di suatu malam, pacarku mengajak aku ke tempat kostnya. Aku tidak berprasangka buruk atas ajakannya. Ternyata di tempat kostnya yang sepi itu, ia memaksa aku untuk bersetubuh. Aku menolak dengan halus : “sabarlah biar kita melakukan tugas itu kalau kita sudah resmi menjadi suami istri”. Pacarku malah semakin bernapsu. Ia memegang dan memelukku erat-erat. Aku meronta-ronta, berusaha sekuat tenaga melepaskan diri tetapi sia-sia. Mulutku disumpal. Tangan dan kakiku diikat. Aku dibaringkan di atas tempat tidur dan pakaianku dilucuti. Dengan buas ia memperkosaku. Sebenarnya aku mau melapor ke polisi tetapi aku malu. Biarlah aib itu menjadi bagian rahasia pribadiku. Sejak peristiwa naas itu alat vitalku terasa perih. Untuk kencing saja sakitnya bukan main. Aku tidak punya keberanian untuk memeriksa diri ke dokter. Aku malu. Aku berpikir: “Tubuh yang indah hanya mendatangkan malapetaka bagiku. Aku bingung dan harus buat apa ?” b. Mendalami ceritera. Fasilitator mengajukan pertanyaan-pertanyaan:
  • 43.
    1. Bagaimana perasaananda setelah mendengar ceritera Lisa itu ? 2. Apa yang selalu dibuat Lisa terhadap pujian orang tentang kecantikan tubuhnya ? 3. Mengapa Lisa menolak menyerahkan tubuhnya kepada sang pacar ? 4. Apakah ada ceritera serupa yang anda ketahui ? Bagaimana terjadinya kisah itu ? 5. Bagaimana tanggapan anda terhadap kasus pemerkosaan yang semakin merajalela di wilayah kita ? 6. Menurut pendapat anda mengapa begitu sering terjadi kasus-kasus pemerkosaan ? c. Rangkuman Fasilitator merangkum hasil pembicaraan bersama 3. Menghadirkan Pengalaman Kitab Suci a. Fasilitator mengajak peserta membuka Kitab Suci dan membaca teks 2 Sam. 13. 1-19. b. Mendalami Kitab Suci dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: 1. Apa yang anda rasakan setelah mendengar ceritera tadi ? 2. Apa yang dinasihatkan Yonadab kepada Amnon ? 3. Apakah nasihat Yonadab itu baik ? 4. Mengapa Amnon mengikuti nasihat itu ? 5. Apa alasan Tamar menolak ajakan Amnon untuk menidurinya ? 6. Mengapa Amnon menjadi benci kepada Tamar setelah memperkosanya ? 7. Apa arti perkataan Tamar kepada Amnon : “Tidak kakakku, sebab menyuruh aku pergi adalah lebih jahat dari pada apa yang telah kau lakukan padaku tadi ? 8. Apa akibat perbuatan Amnon terhadap Tamar ?
  • 44.
    c. Rangkuman danpenegasan Fasilitator memberi rangkuman singkat tentang apa yang baru dibicarakan tadi dan memberikan penegasan berikut: Pemerkosaan adalah bukti orang tidak menghargai sama sekali lawan jenisnya. Tindakan itu sangat merendahkan harkat dan martabat seorang wanita. Wanita diperlakukan sebagai obyek pemuasan nafsu laki-laki melulu. Ia dipandang tidak berarti sama sekali, ibarat mainan di tangan laki-laki. Dengan memperkosa seorang wanita juga orang membuat nasib wanita itu terpuruk, masa depannya menjadi suram dan berantakan. Pemerkosaan juga merupakan penghinaan terhadap Allah sendiri sebab sebagai manusia, wanita adalah ciptaan dan citra Allah. Ia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, sederajat dengan laki-laki. Ia memiliki akal budi dan kehendak bebas seperti seorang laki-laki. Meskipun berbeda secara fisik dan psikis dengan laki-laki, perbedaan itu tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang memisahkan tetapi justru saling melengkapi. Yang kurang pada pria akan dilengkapi dan disempurnakan oleh wanita, sebaliknya yang kurang pada wanita, akan disempurnakan oleh pria. Dan justru itulah anugerah cinta Tuhan yang indah yang pantas disyukuri. Karena itu kesetaraan derajat, kesamaan hak dan martabat dengan wanita, mengharuskan setiap laki-laki menghormati, menghargai dan menjunjung tinggi wanita sebagai partner dalam hidupnya. Wanita sebagai pribadi, ciptaan Tuhan dan citra Allah tidak boleh dilecehkan, dipandang hina dan diperkosa sesuka hati oleh laki-laki dalam hidup bersama. Berbicara bersama : Apa yang dapat dibuat baik secara fisik maupun psikis terhadap wanita- wanita yang mengalami pemerkosaan ? Tugas: Latihan membawakan katekese umat 1. Pelajarilah contoh katekese di atas, atau cari salah satu tema katekese. 2. Pelajarilah isi, proses katekese umat
  • 45.
    BAB VI MENGEVALUASI KATEKESEUMAT A. PENTINGNYA EVALUASI Evaluasi membantu orang untuk berkembang. Karena dengan evaluasi orang diberi kesempatan melihat dan menilai diri sudah sejauh mana apa yang diharapkan, terwujud dalam kenyataan. Ada 2 jenis evaluasi atau penilaian yang dapat dibuat dalam KU yaitu : Evaluasi diri dan Evaluasi kegiatan. Evaluasi diri yaitu penilaian terhadap diri sendiri menyangkut pengetahuan, sikap dan keterampilan. Sedangkan evaluasi kegiatan berkaitan dengan jalannya pertemuan, suasana, bahan dan lain-lain. Karena tujuan evaluasi itu demi perbaikan dan pengayaan diri, maka setiap evaluasi hendaknya diterima dengan lapang dada, dengan rendah hati dan penuh rasa syukur. Acuh tak acuh dan menolak evaluasi, menunjukkan sikap arogan yang hanya menutup peluang dan kesempatan untuk maju dan berkembang. Suatu evaluasi mencapai tujuannya yaitu membantu kita memperbaiki atau memperkaya diri dan pekerjaan kita kalau : a) Evaluasi itu dibuat dengan sungguh-sungguh, bukan asal-asalan. b) Evaluasi yang dibuat hendaknya menyangkut hal-hal hakiki, esensial, bukan hal-hal sepele melulu. c) Ada sikap baik yaitu, sikap menerima evaluasi dengan lapang dada, jiwa besar, dan rendah hati tanpa merasa terpojok atau dipojokkan.
  • 46.
    B. MODEL EVALUASIKU 1. Kesan Umum a. Setiap peserta dibiarkan memberikan kesannya terhadap praktek KU b. Biarkan mereka berbicara sebebas-bebasnya.
  • 47.
    2. Suasana pertemuan a.Apakah seluruh suasana mendukung tukar menukar pengalaman dalam kelompok ? b. Apakah ada suasana persaudaraan ? c. Keterbukaan ? d. Komunikatif ? e. Saling mendukung dan menghargai ? 3. Bahan atau materi a. Aktual, relevan, menarik ? b. Mendukung tujuan yang dicanangkan ? c. Nilai-nilai yang ditanam cukup jelas ? d. Segi perwujudan iman dapat ditangkap peserta ? 4. Jalannya pertemuan a. Ada proses yang baik dan runtun ? b. Langkah-langkah diikuti dengan setia ? c. Langkah-langkah mendukung tujuan yang mau dicapai ? 5. Keterlibatan peserta a. Peserta aktif terlibat ? b. Sikap mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap sesama peserta yang berbicara ? c. Bebas dan terbuka berbicara ? d. Nampak ada perubahan dalam diri peserta ? 6. Pemandu KU/Fasilitator a. Kesan, pendapat tentang fasilitator b. Sungguh-sungguh berperan sebagai pelancar, mengajak, membimbing, memberikan kesempatan berbicara, meneguhkan pembicaraan peserta ? c. Arah seluruh pertemuan diperhatikan ? d. Mengikuti langkah-langkah dengan setia ? Demi keberhasilan tugasnya satu dua hal penting yang tidak boleh terabaikan oleh seorang fasilitator ialah bahwa ia harus sungguh-sungguh beriman dan seorang yang mau belajar dan membina diri menjadi manusia yang semakin disukai oleh Allah dan manusia. Sebagai orang beriman, andalan utamanya ialah Tuhan dan rahmatNya. Karena itu ia harus terus menerus belajar dari pengalaman, dari buku, dari sesama dan akhirnya dari Yesus sang Guru Agung. Warta sang fasilitator KU diterima bukan terutama dari apa yang dikatakannya tetapi karena orang menyaksikan dengan mata kepala sendiri teladan hidupnya sebagai perwujudan nyata apa yang dikatakannya. Kata-kata mengajak, teladan hidup menarik (Verba movent, exempla autem trahunt). Tugas : Membawakan KU dan Evaluasi Katekese
  • 49.
    DAFTAR PUSTAKA Lalu, Yosef.(2007). Katekese Umat. Jakarta: Komisi Kateketik KWI. [1] bdk. Catechesi Trandendae, Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II, tentang Katekese M asa Kini [2] Bagian ini didalami pada Pembina Katekese Umat [3] Bdk. PKKI V [4] KU Ansos akan didalami dalam Kuliah Katekese Umat II [5] Bdk. Rumusan PKKI II, no 1 [6] CT. 18 [7] Bdk.Rumusan PKKI II no. 6 [8] Bdk. KA 4 [9] Catatan: dibutuhkan kepekaan terhadap keadaan, berusaha menggali pengalaman hidup peserta, berusaha untuk mencari peneguhannya dari Kitab Suci.