SlideShare a Scribd company logo
1 of 18
Download to read offline
Negeri Belanda dan
Skandinavia
Kemenangan Akhir Bab 13
247.1-2
• Di Negeri Belanda, kelaliman kepausan segera
menimbulkan protes.
• Tujuh ratus tahun sebelum zaman Luther, paus Roma,
tanpa takut, dituduh oleh dua orang uskup, yang telah
pernah dikirim sebagai duta ke Roma. Mereka telah
mengetahui tabiat sebenarnya “Sri Paus”: Allah “telah
menjadikan gereja permaisuri-Nya, istrinya, untuk
menjadi pemelihara yang agung selama-lamanya bagi
keluarganya, dengan mas kawin yang tidak akan luntur
atau binasa, dan memberikan kepadanya mahkota
kekal dan tongkat kekuasaan,...
248 . 1
• Yang lain bangkit menggemakan protes ini dari abad ke
abad. Dan guru-guru pada zaman itu, yang menjelajahi
berbagai negeri dan dikenal dengan berbagai nama,
menghidupkan tabiat misionaris Vaudois, dan menyebarkan
ke mana-mana pengetahuan Injil itu, memasuki Negeri
Belanda. Ajaran mereka menyebar dengan cepat. Alkitab
Waldenses mereka terjemahkan dalam bentuk ayat-ayat ke
dalam bahasa Belanda. Mereka menyatakan “bahwa ada
keuntungan besar di dalamnya. Tak ada lelucon, tidak ada
cerita dongeng, tidak ada hal yang sepele, tidak ada
kekurangan, tetapi semuanya adalah perkataan kebenaran.
248 . 3
• Ajaran Luther mendapat tanah subur di Negeri
Belanda. Orang-orang yang sungguh-sungguh dan
setia bangkit untuk mengkhotbahkan Injil.
• Dari salah satu propinsi negeri Belanda muncullah
Menno Simons. Seorang Katolik Roma yang
terdidik, dan yang diurapi kepada keimamatan, ia
sama sekali masih buta mengenai Alkitab, dan ia
tidak akan membacanya, karena takut tertipu
menjadi bidat.
248 . 3
• Setelah beberapa waktu lamanya ia dituntun untuk
mempelajari buku Perjanjian Baru. Dan buku ini
bersama-sama dengan tulisan-tulisan Luther
membuat ia menerima iman yang diperbarui.
• Menno mengundurkan diri dari gereja Roma, dan
membaktikan hidupnya kepada pengajaran
kebenaran yang telah diterimanya.
249 . 1
• Selama dua puluh lima tahun
ia bersama isterinya dan anak-
anaknya mengembara
menanggung kesulitan besar,
pengucilan, dan sering
membahayakan nyawanya. Ia
menjelajahi negeri Belanda
dan Jerman bagian utara,
terutama bekerja di antara
golongan-golongan rakyat
biasa, namun berusaha
menyebarluaskan
pengaruhnya.
• Secara alamiah ia pandai
berbicara. Meskipun
mempunyai pendidikan yang
terbatas, ia mempunyai
integritas yang tidak goyang,
mempunyai kerendahan hati
dan tabiat yang lemah lembut,
dan seorang yang tulus dan
saleh yang sungguh-sungguh,
sehingga nyata dalam hidupnya
semua jaran-ajaran yang
diajarkannya, dan membawa
rasa keyakinan orang banyak.
250 . 1
• Doktrin yang diperbarui itu lebih banyak diterima di negeri
Belanda daripada di negara mana pun. Di beberapa negara
pengikut-pengikutnya mengalami penganiayaan yang
mengerikan. Di Jerman, Charles V telah melarang
Pembaruan, dan dengan gembira membunuh para
pengikutnya di tiang gantungan.
• Membaca Alkitab, mendengarkannya atau mengajarkannya,
atau bahkan berbicara mengenai itu akan mendatangkan
hukuman mati di atas tiang gantungan. Berdoa kepada Allah
di tempat tersembunyi, tidak menyembah patung, atau
menyanyikan nyanyian Mazmur juga bisa dihukum mati.
250 . 3
• Kemarahan para penganiaya diimbangi iman para syuhada.
Bukan hanya para lelaki, tetapi juga perempuan cantik yang
lemah lembut dan wanitawanita muda menunjukkan
keberanian yang pantang mundur. “Para isteri berdiri di
samping tiang gantungan suaminya, dan sementara suami
menahan api yang membakarnya, mereka membisikkan kata-
kata penghiburan, atau menyanyikan lagu-lagu pujian untuk
memberi semangat.” “Wanitawanita muda memasuki lubang
kubur mereka seolah-olah mereka memasuki kamar mereka
pada waktu mau tidur malam, atau pergi ke
tempat pembakaran dengan memakai pakaian terbagusnya
seolah-olah mereka mau pergi ke pesta pernikahannya.”
251 . 3
• Tausen, “Sang Pembaru Denmark,” adalah anak seorang
petani. Sejak kecil ia sudah menunjukkan intelektual yang
keras. Ia haus akan pendidik an, tetapi keinginannya ini tidak
terpenuhi oleh karena keadaan orangtuanya. Kemudian ia
memasuki sebuah biara.
• Ujian menunjukkan bahwa ia mempunyai bakat yang
menjanjikan pelayanan yang baik bagi gereja di masa yang
akan datang. Pemuda ini diizinkan memilih sendiri sekolah
yang ia sukai dengan satu syarat, bahwa ia tidak boleh pergi
ke Wittenberg. Para sarjana gereja tidak boleh dipengaruhi
oleh racun bidat. Demikianlah kata para biarawan itu.
251. 4
• Tausen pergi ke Cologne, yang kemudian, sebagaimana
sekarang, men-jadi salah satu benteng pertahanan
Romanisme. Di sini ia segera muak de-ngan ilmu mistik para
pengajar.
• Kira-kira pada waktu yang sama ia mendapat tulisan-tulisan
Luther. Ia membacanya dengan kagum dan dengan se- nang.
Dan dengan kerinduan yang besar ingin menikmati
pengajaran pribadi Pembaru itu. Tetapi dengan berbuat
demikian ia harus siap menanggung risiko melawan atasan
biaranya, dan kehilangan dukungannya. Ia segera membuat
keputusan. Dan tidak lama sesudah itu ia mendaftarkan diri
menjadi mahasiswa di Wittenberg.
252 . 1
• Sekembalinya ke Denmark, kembali ia pergi ke biaranya.
Tak seorang pun yang menduga bahwa ia adalah
pengikut Lutheranisme. Ia tidak membukakan
rahasianya, tetapi berusaha menuntun orang-orang
kepada iman yang lebih mumi dan kehidupan yang
lebih suci tanpa menimbulkan prasangka buruk teman-
temannya. Ia membuka Alkitab, dan menjelaskan
artinya yang sebenarnya; dan akhimya mengajarkan
Kristus kepada mereka sebagai kebenaran bagi orang-
orang berdosa, dan satu-satunya harapan keselamat-an
252 . 1 - 252 . 2
• Kepala biara sangat marah kepadanya. Ia telah
mengharapkannya sebagai seorang pembela Roma
yang berani. Ia segera dipindahkan dari biaranya ke
biara yang lain, dan dimasukkan ke dalam kamar
tahanan dengan peng-awasan ketat.
• Para pengawalnya yang baru ketakutan karena
beberapa biarawan segera menyatakan mereka
bertobat kepada Protestantisme. Melalui terali-terali
ruang tahanannya Tausen berkomunikasi kepada
teman-temannya menge-nai pengetahuan kebenaran.
252 .4
• Dua orang pemimpin Pembaharuan Swedia, Olaf
dan Laurentius Petri, anak-anak seorang pandai
besi dari Orebro, belajar dari Luther dan
Melanchthon. Dan kebenaran yang mereka telah
pelajari, mereka ajarkan dengan rajin. Sebagaimana
Pembaharu besar itu, Olaf memba-ngunkan orang-
orang oleh semangatnya dan kemahirannya
berbicara, se-mentara Laurentius, seperti
Melanchthon, adalah orang yang terpelajar, penuh
pikiran dan tenang.
253 . 1
• Di bawah kekuasaan Gereja Roma, rakyat
tenggelam dalam kemiskinan, dan dihempas oleh
penindasan. Mereka buta akan Alkitab, dan agama
mereka hanya sekadar tanda-tanda dan upacara-
upacara yang tidak membawa terang ke dalam
pikiran. Mereka kembali kepada kepercayaan
ketakhyulan dan praktik-praktik kekafiran nenek
moyang mereka.
253 . 2
• Di hadapan raja dan orang-orang terkemuka Swedia, Olaf
Petri dengan kemampuan besar mempertahankan ajaran-
ajaran iman yang diperbarui itu melawan jago-jago Romawi.
Ia menyatakan bahwa pengajaran para pater diterima hanya
kalau itu sesuai dengan Alkitab. Bahwa doktrin-doktrin
penting mengenai iman disajikan di dalam Alkitab dengan
cara yang jelas dan sederhana, sehingga semua orang bisa
mengerti. Kristus berkata, “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-
Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku(Yohanes
7:16). Dan Rasul Paulus menyatakan bahwa kalau ia mem-
beritakan Injil yang lain selain dari yang ia sudah terima,
terkutuklah dia (Galatia 1:8)
254 . 2
• Sebagai akibat dari perdebatan ini, raja Swedia menerima
iman Protestan, dan tidak lama kemudian majelis
nasional menyatakan dukungannya. Alkitab Perjanjian
Baru diterjemahkan ke dalam bahasa Swedia oleh Olaf
Petri, dan raja ingin kedua bersaudara itu
menerjemahkan seluruh Alkitab. Dengan demikian untuk
pertama kalinya rakyat Swedia menerima firman Allah
dalam bahasa mereka sendiri. Dewan Perwakilan Rakyat
memerintahkan agar diseluruh kerajaan itu para pendeta
menerangkan Alkitab, dan agar anak-anak di sekolah-
sekolah diajar untuk membaca Alkitab.
255 . 1
• Dengan tetap dan pasti kegelapan kebodohan dan
ketakhyulan diusir oleh terang Injil. Bangsa itu
mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang tidak
pernah dialami sebelumnya, setelah dibebaskan
dari penindasan Romawi. Swedia menjadi salah
satu benteng pertahanan Protestanisme.
Tuhan memberkati

More Related Content

BABAKHIR

  • 2. 247.1-2 • Di Negeri Belanda, kelaliman kepausan segera menimbulkan protes. • Tujuh ratus tahun sebelum zaman Luther, paus Roma, tanpa takut, dituduh oleh dua orang uskup, yang telah pernah dikirim sebagai duta ke Roma. Mereka telah mengetahui tabiat sebenarnya “Sri Paus”: Allah “telah menjadikan gereja permaisuri-Nya, istrinya, untuk menjadi pemelihara yang agung selama-lamanya bagi keluarganya, dengan mas kawin yang tidak akan luntur atau binasa, dan memberikan kepadanya mahkota kekal dan tongkat kekuasaan,...
  • 3. 248 . 1 • Yang lain bangkit menggemakan protes ini dari abad ke abad. Dan guru-guru pada zaman itu, yang menjelajahi berbagai negeri dan dikenal dengan berbagai nama, menghidupkan tabiat misionaris Vaudois, dan menyebarkan ke mana-mana pengetahuan Injil itu, memasuki Negeri Belanda. Ajaran mereka menyebar dengan cepat. Alkitab Waldenses mereka terjemahkan dalam bentuk ayat-ayat ke dalam bahasa Belanda. Mereka menyatakan “bahwa ada keuntungan besar di dalamnya. Tak ada lelucon, tidak ada cerita dongeng, tidak ada hal yang sepele, tidak ada kekurangan, tetapi semuanya adalah perkataan kebenaran.
  • 4. 248 . 3 • Ajaran Luther mendapat tanah subur di Negeri Belanda. Orang-orang yang sungguh-sungguh dan setia bangkit untuk mengkhotbahkan Injil. • Dari salah satu propinsi negeri Belanda muncullah Menno Simons. Seorang Katolik Roma yang terdidik, dan yang diurapi kepada keimamatan, ia sama sekali masih buta mengenai Alkitab, dan ia tidak akan membacanya, karena takut tertipu menjadi bidat.
  • 5. 248 . 3 • Setelah beberapa waktu lamanya ia dituntun untuk mempelajari buku Perjanjian Baru. Dan buku ini bersama-sama dengan tulisan-tulisan Luther membuat ia menerima iman yang diperbarui. • Menno mengundurkan diri dari gereja Roma, dan membaktikan hidupnya kepada pengajaran kebenaran yang telah diterimanya.
  • 6. 249 . 1 • Selama dua puluh lima tahun ia bersama isterinya dan anak- anaknya mengembara menanggung kesulitan besar, pengucilan, dan sering membahayakan nyawanya. Ia menjelajahi negeri Belanda dan Jerman bagian utara, terutama bekerja di antara golongan-golongan rakyat biasa, namun berusaha menyebarluaskan pengaruhnya. • Secara alamiah ia pandai berbicara. Meskipun mempunyai pendidikan yang terbatas, ia mempunyai integritas yang tidak goyang, mempunyai kerendahan hati dan tabiat yang lemah lembut, dan seorang yang tulus dan saleh yang sungguh-sungguh, sehingga nyata dalam hidupnya semua jaran-ajaran yang diajarkannya, dan membawa rasa keyakinan orang banyak.
  • 7. 250 . 1 • Doktrin yang diperbarui itu lebih banyak diterima di negeri Belanda daripada di negara mana pun. Di beberapa negara pengikut-pengikutnya mengalami penganiayaan yang mengerikan. Di Jerman, Charles V telah melarang Pembaruan, dan dengan gembira membunuh para pengikutnya di tiang gantungan. • Membaca Alkitab, mendengarkannya atau mengajarkannya, atau bahkan berbicara mengenai itu akan mendatangkan hukuman mati di atas tiang gantungan. Berdoa kepada Allah di tempat tersembunyi, tidak menyembah patung, atau menyanyikan nyanyian Mazmur juga bisa dihukum mati.
  • 8. 250 . 3 • Kemarahan para penganiaya diimbangi iman para syuhada. Bukan hanya para lelaki, tetapi juga perempuan cantik yang lemah lembut dan wanitawanita muda menunjukkan keberanian yang pantang mundur. “Para isteri berdiri di samping tiang gantungan suaminya, dan sementara suami menahan api yang membakarnya, mereka membisikkan kata- kata penghiburan, atau menyanyikan lagu-lagu pujian untuk memberi semangat.” “Wanitawanita muda memasuki lubang kubur mereka seolah-olah mereka memasuki kamar mereka pada waktu mau tidur malam, atau pergi ke tempat pembakaran dengan memakai pakaian terbagusnya seolah-olah mereka mau pergi ke pesta pernikahannya.”
  • 9. 251 . 3 • Tausen, “Sang Pembaru Denmark,” adalah anak seorang petani. Sejak kecil ia sudah menunjukkan intelektual yang keras. Ia haus akan pendidik an, tetapi keinginannya ini tidak terpenuhi oleh karena keadaan orangtuanya. Kemudian ia memasuki sebuah biara. • Ujian menunjukkan bahwa ia mempunyai bakat yang menjanjikan pelayanan yang baik bagi gereja di masa yang akan datang. Pemuda ini diizinkan memilih sendiri sekolah yang ia sukai dengan satu syarat, bahwa ia tidak boleh pergi ke Wittenberg. Para sarjana gereja tidak boleh dipengaruhi oleh racun bidat. Demikianlah kata para biarawan itu.
  • 10. 251. 4 • Tausen pergi ke Cologne, yang kemudian, sebagaimana sekarang, men-jadi salah satu benteng pertahanan Romanisme. Di sini ia segera muak de-ngan ilmu mistik para pengajar. • Kira-kira pada waktu yang sama ia mendapat tulisan-tulisan Luther. Ia membacanya dengan kagum dan dengan se- nang. Dan dengan kerinduan yang besar ingin menikmati pengajaran pribadi Pembaru itu. Tetapi dengan berbuat demikian ia harus siap menanggung risiko melawan atasan biaranya, dan kehilangan dukungannya. Ia segera membuat keputusan. Dan tidak lama sesudah itu ia mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di Wittenberg.
  • 11. 252 . 1 • Sekembalinya ke Denmark, kembali ia pergi ke biaranya. Tak seorang pun yang menduga bahwa ia adalah pengikut Lutheranisme. Ia tidak membukakan rahasianya, tetapi berusaha menuntun orang-orang kepada iman yang lebih mumi dan kehidupan yang lebih suci tanpa menimbulkan prasangka buruk teman- temannya. Ia membuka Alkitab, dan menjelaskan artinya yang sebenarnya; dan akhimya mengajarkan Kristus kepada mereka sebagai kebenaran bagi orang- orang berdosa, dan satu-satunya harapan keselamat-an
  • 12. 252 . 1 - 252 . 2 • Kepala biara sangat marah kepadanya. Ia telah mengharapkannya sebagai seorang pembela Roma yang berani. Ia segera dipindahkan dari biaranya ke biara yang lain, dan dimasukkan ke dalam kamar tahanan dengan peng-awasan ketat. • Para pengawalnya yang baru ketakutan karena beberapa biarawan segera menyatakan mereka bertobat kepada Protestantisme. Melalui terali-terali ruang tahanannya Tausen berkomunikasi kepada teman-temannya menge-nai pengetahuan kebenaran.
  • 13. 252 .4 • Dua orang pemimpin Pembaharuan Swedia, Olaf dan Laurentius Petri, anak-anak seorang pandai besi dari Orebro, belajar dari Luther dan Melanchthon. Dan kebenaran yang mereka telah pelajari, mereka ajarkan dengan rajin. Sebagaimana Pembaharu besar itu, Olaf memba-ngunkan orang- orang oleh semangatnya dan kemahirannya berbicara, se-mentara Laurentius, seperti Melanchthon, adalah orang yang terpelajar, penuh pikiran dan tenang.
  • 14. 253 . 1 • Di bawah kekuasaan Gereja Roma, rakyat tenggelam dalam kemiskinan, dan dihempas oleh penindasan. Mereka buta akan Alkitab, dan agama mereka hanya sekadar tanda-tanda dan upacara- upacara yang tidak membawa terang ke dalam pikiran. Mereka kembali kepada kepercayaan ketakhyulan dan praktik-praktik kekafiran nenek moyang mereka.
  • 15. 253 . 2 • Di hadapan raja dan orang-orang terkemuka Swedia, Olaf Petri dengan kemampuan besar mempertahankan ajaran- ajaran iman yang diperbarui itu melawan jago-jago Romawi. Ia menyatakan bahwa pengajaran para pater diterima hanya kalau itu sesuai dengan Alkitab. Bahwa doktrin-doktrin penting mengenai iman disajikan di dalam Alkitab dengan cara yang jelas dan sederhana, sehingga semua orang bisa mengerti. Kristus berkata, “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri- Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku(Yohanes 7:16). Dan Rasul Paulus menyatakan bahwa kalau ia mem- beritakan Injil yang lain selain dari yang ia sudah terima, terkutuklah dia (Galatia 1:8)
  • 16. 254 . 2 • Sebagai akibat dari perdebatan ini, raja Swedia menerima iman Protestan, dan tidak lama kemudian majelis nasional menyatakan dukungannya. Alkitab Perjanjian Baru diterjemahkan ke dalam bahasa Swedia oleh Olaf Petri, dan raja ingin kedua bersaudara itu menerjemahkan seluruh Alkitab. Dengan demikian untuk pertama kalinya rakyat Swedia menerima firman Allah dalam bahasa mereka sendiri. Dewan Perwakilan Rakyat memerintahkan agar diseluruh kerajaan itu para pendeta menerangkan Alkitab, dan agar anak-anak di sekolah- sekolah diajar untuk membaca Alkitab.
  • 17. 255 . 1 • Dengan tetap dan pasti kegelapan kebodohan dan ketakhyulan diusir oleh terang Injil. Bangsa itu mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang tidak pernah dialami sebelumnya, setelah dibebaskan dari penindasan Romawi. Swedia menjadi salah satu benteng pertahanan Protestanisme.