RADIAL BASIS FUNCTION 
SISTEM PAKAR
TOPOLOGI JARINGAN 
• Seperti halnya jaringan syaraf tiruan yang lain, Radial Basis Function 
Network (RBFN), juga memiliki jaringan. 
• Topoloagi RBFN terdiri dari layer : 
• Input unit 
• Hidden unit 
• Output unit 
1 
j 
Y1 
Yk 
Bias (b) 
X1 
Xi 
Input Unit Hidden Unit Output Unit
Sifat Khusus RBFN 
• Pemrosesan dari Input ke hidden bersifat non-linier 
• Pemrosesan dari hidden ke output bersifat linier 
• Pada hidden layer digunakan fungsi aktivasi yang berbasis radial, 
misalnya fungsi Gaussian 
• Pada output unit , sinyal dijumlahkan seperti biasa 
• Sifat jaringannya adalah feed forward
Fungsi Gaussian 
• 휑 푟 = 푒푥푝 − 
푟2 
2휎2 untuk 휎 > 0 
• Dimana ∶ 휎  nilai spread 
• 휎 = 
푀푎푥.퐷푖푠푡푎푛푐푒 푏푒푡푤푒푒푛 푎푛푦 2 푐푒푛푡푒푟푠 
푛푢푚푏푒푟 표푓 푐푒푛푡푒푟푠 
= 
푑푚푎푥 
푚1 
• Nilai spread menentukan bagaimana data tersebar. Jika nilai 
spread makin besar, sensitivitas antar data semakin 
berkurang. 
• Centers adalah pusat cluster data
Hubungan nilai spread dg grafiknya pada 
fungsi Gaussian 
nilai spread makin 
besar, sensitivitas antar 
data semakin 
berkurang.
Fungsi Aktivasi selain Fungsi Gaussian 
• Multi-Quadric Functions 
∅ 푟 = (푟2 + 휎2)1/2 parameter  >0 
• Generalized Multi-Quadric Functions 
∅ 푟 = 푟2 + 휎2 훽 parameter >0, 1>>0 
• Inverse Multi-Quadric Functions 
∅ 푟 = 푟2 + 휎2 −1/2 푝푎푟푎푚푒푡푒푟 휎 > 0 
• Generalized Inverse Multi-Quadric Functions 
∅ 푟 = 푟2 + 휎2 −훼 푃푎푟푎푚푒푡푒푟 휎 > 0, 1 > 훼 > 0 
• Thin Plate Spline Function 
∅ 푟 = 푟2 ln 푟 
• Cubic Function 
∅ 푟 = 푟3 
• Linear Function 
∅ 푟 = 푟
RBFN 
• Biasa digunakan untuk menyelesaikan 2 jenis permasalahan, yaitu : 
• Pattern Classification 
• Time series modelling 
• Untuk Pattern Classification menggunakan fungsi aktivasi Gaussian 
• Time Series Modelling menggunakan fungsi aktivasi thin-plate spline
Algoritma Pelatihan Jaringan 
• Berguna atau tidaknya suatu JST ditentukan dari hasil pelatihan 
(bobot neuron-nya) 
• RBFN mempunyai algoritma pelatihan yang agak unik, karena terdiri 
dari cara Supervised dan unsupervised sekaligus. 
• Pelatihan RBFN terdiri dari 2 tahap, yaitu : 
1. Tahap Clustering Data 
2. Pembaharuan Bobot
Tahap 1 : Clustering Data 
• Data di cluster / dikelompokkan berdasarkan kedekatan tertentu 
(misalnya kedekatan 2 warna pixel, kedekatan jarak 2 titik, dll) 
• Penentuan cluster akan memunculkan center / pusat cluster dari 
kelompok data 
• Jumlah cluster menentukan jumlah hidden unit yg dipakai 
• Cara menentukan center ada 2, yaitu : 
1. Menentukan center secara acak dari sekelompok data (paling mudah) 
2. Menggunakan algoritma clustering. Algoritma yang paling mudah adalah K-Means. 
Dengan Algoritma ini, JST mampu mencari sendiri center yg terbaik. 
• Melihat cara tersebut, maka jelas tahap 1 ini adalah unsupervised
Tahap 2 : Pembaharuan Bobot 
• JST menyimpan pengetahuannya dalam bobot neuron-neuronnya. 
• Bobot diperbaharui melalui serangkaian perhitungan. 
• Dibutuhkan data training dan target (supervised)
Langkah2 Tahap 2 
• Meneruskan sinyal input ke hidden & menghitung nilai aktivasi pada 
tiap hidden layer 
휑 푋푚 − 푡푗 = 푒 
푋푚−푡푗 
휎2 
Dimana : 
• M = 1,2,3….sesuai dg jumlah training pattern 
• J = 1,2,3…. Sesuai dengan jumlah hidden unit 
• X  vector input 
• T  vector data yg dianggap sebagai center
Langkah2 Tahap 2 
• Menyusun matriks Gaussian dari hasil perhitungan langkah 1 
• 퐺 = 
휑11 휑12 … . 
휑21 휑22 … . 
… . … . … . 
휑1푐 
휑2푐 
… . 
휑푚1 휑푚2 … . 휑푚푐 
• Dimana : m  vector input ke-m 
c  hidden unit ke-c
Langkah2 Tahap 2 
• Menghitung bobot baru (w) dengan mengalikan pseudoinvers dari 
matrik G, dengan vector target (d) dari data training. 
Rumus : W = G+d 
= (GTG)-1 GTd 
• Menghitung nilai output JST : 
푦 푥 = 푡=1 푤퐺 푥 − 푡푡 + 푏 
Dimana b  nilai bobot bias 
G(x) pada rumus ini artinya sama dengan (x)
Pusat Cluster 
Center of cluster

Radial Basis Function Network (RBFN)

  • 2.
    RADIAL BASIS FUNCTION SISTEM PAKAR
  • 3.
    TOPOLOGI JARINGAN •Seperti halnya jaringan syaraf tiruan yang lain, Radial Basis Function Network (RBFN), juga memiliki jaringan. • Topoloagi RBFN terdiri dari layer : • Input unit • Hidden unit • Output unit 1 j Y1 Yk Bias (b) X1 Xi Input Unit Hidden Unit Output Unit
  • 4.
    Sifat Khusus RBFN • Pemrosesan dari Input ke hidden bersifat non-linier • Pemrosesan dari hidden ke output bersifat linier • Pada hidden layer digunakan fungsi aktivasi yang berbasis radial, misalnya fungsi Gaussian • Pada output unit , sinyal dijumlahkan seperti biasa • Sifat jaringannya adalah feed forward
  • 5.
    Fungsi Gaussian •휑 푟 = 푒푥푝 − 푟2 2휎2 untuk 휎 > 0 • Dimana ∶ 휎  nilai spread • 휎 = 푀푎푥.퐷푖푠푡푎푛푐푒 푏푒푡푤푒푒푛 푎푛푦 2 푐푒푛푡푒푟푠 푛푢푚푏푒푟 표푓 푐푒푛푡푒푟푠 = 푑푚푎푥 푚1 • Nilai spread menentukan bagaimana data tersebar. Jika nilai spread makin besar, sensitivitas antar data semakin berkurang. • Centers adalah pusat cluster data
  • 6.
    Hubungan nilai spreaddg grafiknya pada fungsi Gaussian nilai spread makin besar, sensitivitas antar data semakin berkurang.
  • 7.
    Fungsi Aktivasi selainFungsi Gaussian • Multi-Quadric Functions ∅ 푟 = (푟2 + 휎2)1/2 parameter  >0 • Generalized Multi-Quadric Functions ∅ 푟 = 푟2 + 휎2 훽 parameter >0, 1>>0 • Inverse Multi-Quadric Functions ∅ 푟 = 푟2 + 휎2 −1/2 푝푎푟푎푚푒푡푒푟 휎 > 0 • Generalized Inverse Multi-Quadric Functions ∅ 푟 = 푟2 + 휎2 −훼 푃푎푟푎푚푒푡푒푟 휎 > 0, 1 > 훼 > 0 • Thin Plate Spline Function ∅ 푟 = 푟2 ln 푟 • Cubic Function ∅ 푟 = 푟3 • Linear Function ∅ 푟 = 푟
  • 8.
    RBFN • Biasadigunakan untuk menyelesaikan 2 jenis permasalahan, yaitu : • Pattern Classification • Time series modelling • Untuk Pattern Classification menggunakan fungsi aktivasi Gaussian • Time Series Modelling menggunakan fungsi aktivasi thin-plate spline
  • 9.
    Algoritma Pelatihan Jaringan • Berguna atau tidaknya suatu JST ditentukan dari hasil pelatihan (bobot neuron-nya) • RBFN mempunyai algoritma pelatihan yang agak unik, karena terdiri dari cara Supervised dan unsupervised sekaligus. • Pelatihan RBFN terdiri dari 2 tahap, yaitu : 1. Tahap Clustering Data 2. Pembaharuan Bobot
  • 10.
    Tahap 1 :Clustering Data • Data di cluster / dikelompokkan berdasarkan kedekatan tertentu (misalnya kedekatan 2 warna pixel, kedekatan jarak 2 titik, dll) • Penentuan cluster akan memunculkan center / pusat cluster dari kelompok data • Jumlah cluster menentukan jumlah hidden unit yg dipakai • Cara menentukan center ada 2, yaitu : 1. Menentukan center secara acak dari sekelompok data (paling mudah) 2. Menggunakan algoritma clustering. Algoritma yang paling mudah adalah K-Means. Dengan Algoritma ini, JST mampu mencari sendiri center yg terbaik. • Melihat cara tersebut, maka jelas tahap 1 ini adalah unsupervised
  • 11.
    Tahap 2 :Pembaharuan Bobot • JST menyimpan pengetahuannya dalam bobot neuron-neuronnya. • Bobot diperbaharui melalui serangkaian perhitungan. • Dibutuhkan data training dan target (supervised)
  • 12.
    Langkah2 Tahap 2 • Meneruskan sinyal input ke hidden & menghitung nilai aktivasi pada tiap hidden layer 휑 푋푚 − 푡푗 = 푒 푋푚−푡푗 휎2 Dimana : • M = 1,2,3….sesuai dg jumlah training pattern • J = 1,2,3…. Sesuai dengan jumlah hidden unit • X  vector input • T  vector data yg dianggap sebagai center
  • 13.
    Langkah2 Tahap 2 • Menyusun matriks Gaussian dari hasil perhitungan langkah 1 • 퐺 = 휑11 휑12 … . 휑21 휑22 … . … . … . … . 휑1푐 휑2푐 … . 휑푚1 휑푚2 … . 휑푚푐 • Dimana : m  vector input ke-m c  hidden unit ke-c
  • 14.
    Langkah2 Tahap 2 • Menghitung bobot baru (w) dengan mengalikan pseudoinvers dari matrik G, dengan vector target (d) dari data training. Rumus : W = G+d = (GTG)-1 GTd • Menghitung nilai output JST : 푦 푥 = 푡=1 푤퐺 푥 − 푡푡 + 푏 Dimana b  nilai bobot bias G(x) pada rumus ini artinya sama dengan (x)
  • 15.