DASAR KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA (K3)
Disusun Oleh :
NURMAYANI BERUTU
LUTHFIANI
MALENA
YARA YULIA
MAYASIRUL MUKMINATI
SURIYATUN
SITI RAHMA
VIVI SUNITA
LATAR BELAKANG MASALAH
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan faktor penting dalam rangka
perlindungan dunia kerja, dan juga sangat penting untuk produktivitas dan
kelangsungan dunia usaha. Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L)
adalah salah satu hak dasar bagi pekerja yang merupakan komponen dari hak azasi
manusia (HAM). Dengan implementasi K3 yang selalu didasarkan pada potential
hazards dan potential risks yang ada serta data K3 yang lalu, maka program K3
dengan target yang jelas dalam periode waktu tertentu disertai Cost-benefit analysis,
program K3 tersebut tidak akan merupakan ekstra biaya tetapi akan terbukti
meningkatkan produktivitas dari aspek K3 serta meningkatkan citra perusahaan.
KONSEP DASAR K3
Penggunaan mesin-mesin, pesawat-pesawat, instalasi-instalasi modern serta bahan-
bahan berbahaya semakin meningkat. Hal tersebut disamping memberikan kemudahan
proses produksi dapat pula menambah jumlah dan ragam sumber bahaya di tempat
kerja. Didalam hal lain akan terjadi pula lingkungan kerja yang kurang memenuhi
syarat, proses dan sifat pekerjaan yang berbahaya. Masalah tersebut akan
mempengaruhi dan mendorong peningkatan jumlah maupun tingkat keseriusan
keceklakaan kerja, penyakit akibat kerja, dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu,
keselamatan dan kesehatan kerja yang merupakan salah satu bagian dari perlindungan
tenaga kerja perlu dikembangkan dan ditingkatkan
Sejarah K3
Sejarah awal mulanya tepatnya perkembangan hygiene
perusahaan dan kesehatan kerja diketahui denan jelas kuran
lebih 1700 tahun sebelum masehi dalam zaman Mozai ± 5
abad setelah Hamurabi, dinyatakan bahwa ahli bangunan
bertangung jawab atas keselamatan para pelaksanaan dan
perkerjaannnya.
SEJARAH DI INDONESIA
 Abad ke-17: pendaratan V.O.C.di Jakarta
 Abad ke-20an dibuat U dan PP mengenai kebersihan
 Tahun 1957: Departemen Perburuhan mendirikan Lembaga Kesehatan Buruh yang
berpungsi sebagai penasehat dan alat meninggikan mutu ilmiah kesehatan buruh
 Tahun 1965: Lembaga Kesehatan Buruh dirubah menjadi Lembaga Keselamatan dan
Kesehatan Buruh
 Tahun 1966: dengan rekorganisasi kabinet ampera
 Tahun 1969: seminar pertama tentang kesehatan dan produktivitas Kerja di Jakarta
yang dikuti oleh 300 dokter, pengusaha, cerdik-pandai, dll.
 Tahun 1970: UU tentang Keselamatan Kerja diundangkan menggantikan Veiligheids
Reglement.
 Tahun 1971: didirikan Ikatan Higiene Perusahaan, kesehatan dan Keselamatan Kerja.
Keselamatan kerja
Keselamatan kerja mempunyai makna upaya
mengurangi dan atau menekan sejauh mungkin
kecelakaan akibat kerja dengan cara mencegah
kecelakaan dab mengawasi pemaparan bahan
berbahaya yang menimbulkan kecelakaan kerja.
Kecelakaan kerja
Dalam dunia kerja berada dalam lingkungan industri/perusahaan
dikenal istilah kecelakaan kerja.memeng secara tidak pasti
tidaklah mudah mendefinisikan kecelakaan berdasarkan hasil
penelitian ilmiah, kecelakaan kerja adalah suatu suatu kejadian
atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan setiap
manusia,merusak harta benda atau kerugian terhadap proses.juga
kecelakaan ini biasanya terjadi akibat kontak dengan zat atau
sumber energi.
Bahaya
Bahaya perkerjaan ialah faktor-faktor dalam hubungannya
dengan pekerjaan yang dapat mendatangkan
kecelakkan.bahaya disebut potensi jika fakto-faktor tersebut
belum mendatangkan kecelakaan. Hal itu menunjukkan
adanya sesuatu yang potensial untuk magakibatkan cedera
atau penyakit, kerusakan atau perusahaan.sedangkan
kemungkinaa potensi bahaya menjadi manifest, sering disebut
resiko. Jika bahaya itu sudah menyebabkan atau terjadi
kecelakaan maka bahaya tersebut sebagai bahaya nyarta.
PENGERTIAN K3
 Secara filososfi suatu pemikira dan upaya unutk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah ampun rokhaniah
tenaga kerja pada khususnya manusia pada umumnya, hasil
karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur.
 Secara keilmuan ilmu pengetahuan dan penerapanya dalam usha
mencegah kemungkinaan terjadinyakecelakaan dan penyakit
akibat kerja.
TUJUAN K3
Bahwa proses produksi dapat berjalan lancar
Bahwa setiap sumber produksi dipergunkan secara aman dan
efesien.
Bahwa setiap tenaga kerja dan orang lainnya ditempat kerja dalam
keadaan selamat dan sehat
K3 bertujuan untuk menjamin kesempurnaan jasmaniah dan rokhaniah. Oleh
karena itu keselamatan kerja untuk bertujuan mencegah dan mengurangi
terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja, dan menjamin:
RUANG LINGKUP
Aspek perlindungan dalam K3 meliputi:
 Tenaga kerja dari semua jenis dan kejenjang keahlian
 Perlalatan dan bahan yang digunakan
 Faktor-faktor lingkungan kerja
 Proses produksi
 Karateristik dan sifat pekerjaan
 Teknologi dan metodologi kerja
1. Penerapan K3 dilaksanakan secara holistik sejak perencanaan hingga
pengelolaan hasil dari kegiatan industri barang ataupun jasa.
2. Semua pihak yang terlibat dalam proses industri/perusahaan ikut bertanggung
jawab atas keberhasilan usaha K3.
Kesehatan Kerja
(Occupational Health)
Menurut National safety Council-USA (1982)
dalam Rachman,dkk (1990), kesehatan kerja
sangat berkaitan dengan satu atau lebih kondisi
kerja yang dapat menimbulkan penyakit akibat
kerja dan dapat menurunakan produktivitas
kerja yang pada akhirnya.
Tujuan Kesehatan Kerja
Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan pekerja.
Melindungi dan mencegah pekerjaan dari semua gangguan
kesehatan akibat lingkungan kerja atau pekerjaannya.
Menempatkan pekerja sesuai dengan kemampuan fisik, mental,
dan pendidikan atau keterampilannya.
Meningkatkan efesiensi dan produktivitas.
PENYAKIT AKIBAT KERJA
Dalam Peraturan Menteri Tenaga Transmigrasi No.
01/1981 tentang kewajiba melaporkan penyakit
akibat kerja disebutkan bahwa: penyakit akibat kerja
adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan dan lingkungan kerja.
Faktor penyebab penyakit akibat kerja
Penyakit dapat terjadi akibat dari lingkungan pekerjaan yang buruk.
Beberapa hazard yang sering ditemukan dan dijumpai di lingkungan kerja
antara lain:
1. Golongan fisik
2. Golongan kimiawi
3. Golongan biologis
4. Golongan fisiologis
5. Golongan psikologi
Contoh penyakit akibat kerja
1. Pneumoconiosis
2. Mesothelioma
3. Dermatosis
4. Ephitelioma
5. Infeksia
6. Alveolitis allergic
7. Acrocmbolism
8. Cataract
PELAYANAN KESEHATAN KERJA
Pelayanan kesehatan di perusahaan atau dikenal juga sebagai pelayanan kesehatan kerja,
diselenggarakan untuk melindungi tenaga kerja dari kemungkinan mengalami gangguan
kesehatan yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja, serta sekaligus
mengupayakan peningkatan kemampuan fisik tenaga kerja.Menurut Peraturan Menteri
Tenaga Kerja dan Trasmigrasi No.03/men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja,
maksud dan tujuan penyelengaraan pelayanan kesehatan kerja adalah memberikan
bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian pekerjaan dan karakteristik fisik,
melindungi tenaga kerja dari setiap gangguan kesehatan yang timbul dari pekerjaan atau
lingkungan kerja.
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA
Agar seseorang tenaga kerja ada dalam keserasian sebaik-baiknya, yang berarti dapat
terjamin keadaan Kesehatan dan produktifitas kerja setinggi-tingginya, maka perl adanya
keseimbangan yang menguntungkan dari faktor:
Beban kerja
Setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya. Beban dimaksud, mungkin fisik,
sosial, dan mental.
Beban tambahan akibat lingkungan
Sebagai tambahan kepada bean kerja secara langsung akibat pekerjaan sebenarnya, suatu
pekerjaan biasanya dilakukan dalam suatu lingkungan atau situasi, yang berakibat beban
tambahan pada jasmani maupun rohaniah tenaga kerja.
Kapasitas Kerja
Kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari Satu kepada yang lainnya dan
sangat bergantung pada keterampilan, keserasian, keadaan gizi, jenis kelamin, usia, dan
ukuran-ukuran tubuh.
BAHAYA DI TEMPAT KERJA
Bahaya pekerjaan adalah faktor-faktor dalam hubungannya dengan
pekerjaan yang dapat mendatangkan kesakitan atau kecelakaan.
Bahaya disebut potensi bahaya atau hazard jika faktor-faktor tersebut
belum mendatangkan kecelakaan. Atau dapat diartikan Potensi bahaya
atau Hazard merupakan segala hal atau sesuatu yang mempunyai
kemungkinan mengakibatkan kerugian baik pada harta benda,
lingkungan maupun manusia.
Sumber Bahaya
Penyakit ataupun kecelakaan kerja terjadi karena adanya sumber-sumber
bahaya lingkungan kerja. Sasaran pengawasan yang perl diperhatikan meliputi
bagian-bagian diantaranya:
1. Sumber bahaya
Sumber bahaya biasanya berasal dari:
 Golongan fisik
 Golongan kimia
 Golongan biologi
 Golonganpisiologi/ergonomi
 Golongan psikologi
2. Asal sumber bahaya
Asal sumber bahaya bisa didapat dari faktor sebagal berikut:
o Bahan baku
o Bahan baku tambahan
o Hasil produksi
o Hasil sampingan
o Peralatan/ proses produksi
o Cara kerja
o Waktu kerja
o Lingkungan Kerja
o Limbah
o Penyimpanan/gudang
o Pemusnahan
Identifikasi bahaya
Identifikasi bahaya adalah menentukan kemungkinan ada tidaknya expose/ paparan terhadap tenaga kerja di tempt kerja melalui:
a. Monitoring
 Lingkungan kerja,yaitu melakukan pemantauan terhadap adanya bahaya-bahaya di tempat
kerja.
 Biologi, yaitu untukmengatuhai jumlah jat yang terabsirbsi oleh tubuh
 Kesehatan, yaitu untuk mengetahui dan menentukan orang yang sensitive
b. Survei lingkungan kerja
 Wawancara langsung dengan pimpinan tenpal kerja tentang kegiatan yang dilakukan
 Pemeriksaan lingkungan secara manual dan menggunakan alat bantu sederhana terhadap
seluruh sumber bahaya yang ada
 Pengukuran/pegujian yaitu menetapkan pemaparan bahaya terhadap tenaga kerja dan
sarana pencegahan dan penanggulangan k3 yang telah ada.
Evaluasi Bahaya
Yaitu mengadakan penilaian untuk menentukan besarnya dan lamanya
pemaparan bahaya di tempt kerja melalui:
a. Pelaksanaan peraturan pemerintah,standar pedoman dan peraturan lainnya.
b. Menentukan pekerja yang perlu mendapat perlindungan
c. Menetapkan rencana sistem pengendalian lingkngan kerja Menilai
kemampuan dan fungi pengendalian lingkungan yang asa apakah masih
berfungsi dengan baik atau perl perubahan
KESELAMATAN KERJA DAN KECELAKAAN
Keselamatan kerja atau occupational safety dalam istilah sehari hari
disebut dengan safety saja, oleh American society of safety engineers
(ASSE) diartikan sebagai bidang kesehatan yang ditunjukkan untuk
mencegah semua jenis kecelakaan yang ada kaitannya dengan
lingkungan dan situasi kerja, sedangkan secara filosofi diartikan sebagai
suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan
jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada
umumnya serta hasil karya dan budayanya.
Teori penyebab kecelakaan Kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh
berbagai penyebab, teori tentang terjadinya suatu kecelakaan adalah :
1. Teori kebetulan Murni (Pure Chance Theory), yang menyimpulkan bahwa kecelakaan terjadi atas
kehendak Tuhan, sehingga tidak ada pola yang jelas dalamm rangkaian peristiwanya, karena itu
kecelakaan terjadi secara kebetulan saja.
2. Teori Kecenderungan Kecelakaan (Accident prone Theory), pada pekerja tertentu lebih sering
tertimpa kecelakaan, karena sifat-sifat pribadinya yang memang cenderung untuk mengalami
kecelakaan kerja.
3. Teori Tiga Faktor (Three Main Factor), menyebutkan bahwa penyebab kecelakaan peralatan,
lingkungan dan faktor manusia pekerja itu sendiri.
4. Teori Dua Faktor (Two main Factor), kecelakaan disebabkan oleh kondisi berbahaya (unsafe
condition) dan tindakan berbahaya (unsafe action).
5. Teori Faktor Manusia (Human Factor Theory), menekankan bahwa pada akhirnya seluruh
kecelakaan kerja tidak langsung disebabkan karena kesalahan manusia.
Klasifikasi kecelakaan
Sistem klasifikasi sederhana
(Berdasarkan lokasi kejadian)
Sistem kecelakaan majemuk (Terjatuh,
terjepit, tertimpa benda jatuh)
ALAT PELINDUNG DIRI
Alat Pelindung Diri (APD) adalah suatu alat
yang mempunyai kemampuan untuk
melindungi seseorang dalam pekerjaan yang
fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari
bahaya di tempat kerja.
Tujuan APD
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat
pekerja di semua lapangan kerja setinggi tingginya baik fisik, mental
maupun kesejahteraan sosialnya.
2. Mencegah timbulnya masyarakat pekerja gangguan kesehatan pada
keadaan/kondisi lingkungan kerjanya. yang diakibatkan oleh
3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam
pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-
faktor yang membahayakan kesehatan
4. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan kerja
yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.
Kelemahan APD
1. Kemampuan perlindungan yang tak sempurna karena: memakai APD yang tak
sempurna, cara pemakaian APD, APD tidak memenuhi pernyataan yang diperlukan.
 2. Sering APD tidak dipakai karena tidak enak/kurang nyaman. Karena itu penting
pemeliharaan dan kontrol terhadap APD sehingga fungsi APD tetap baik, misalnya:
APD yang sangat sensitif karena perubahan tertentu, APD yang mempunyai masa
kerja tertentu seperti canister dan respirator, dan APD yang dapat menularkan
penyakit bila dipakai berganti-ganti.
Jenis APD
Alat Pelindung Kepala :
a.Topi pengaman
b. Topi/tudung
c. Penutup rambut
Alat Pelindung Telinga :
a. Ear muff
b. Aer Plugs
Alat Pelindung Muka dan Mata
Syarat-syarat alat pelindung muka dan mata:
Ketahanan terhadap api, sama dengan helm Ketahanan terhadap
lemparan benda-benda; lensa tidak boleh pecah dan bergeser
Syarat optis tertentu; lensa tidak boleh mempunyai efek
distorsi/efek prisma Alat pelindung mata terhadap radiasi;
prinsipnya kacamata yang hanya tahan terhadap panjang
gelombang tertentu
Alat Pelindung Pernapasan (masker)
Alat pelindung pernafasan berfungsi untuk memberikan
perlindungan terhadap sumber-sumber bahaya di udara tempat
kerja seperti; kekurangan oksigen, pencemaran oleh partikel
(debu, kabut, asap, dan uap logam), pencemaran oleh gas atau
uap.
SEKIAN DAN TERIMAKASIH
WASSALAM

pptk3.pptxdddddddddddfffffffffffffffffff

  • 1.
    DASAR KESELAMATAN DAN KESEHATANKERJA (K3) Disusun Oleh : NURMAYANI BERUTU LUTHFIANI MALENA YARA YULIA MAYASIRUL MUKMINATI SURIYATUN SITI RAHMA VIVI SUNITA
  • 2.
    LATAR BELAKANG MASALAH Keselamatandan Kesehatan Kerja (K3) merupakan faktor penting dalam rangka perlindungan dunia kerja, dan juga sangat penting untuk produktivitas dan kelangsungan dunia usaha. Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) adalah salah satu hak dasar bagi pekerja yang merupakan komponen dari hak azasi manusia (HAM). Dengan implementasi K3 yang selalu didasarkan pada potential hazards dan potential risks yang ada serta data K3 yang lalu, maka program K3 dengan target yang jelas dalam periode waktu tertentu disertai Cost-benefit analysis, program K3 tersebut tidak akan merupakan ekstra biaya tetapi akan terbukti meningkatkan produktivitas dari aspek K3 serta meningkatkan citra perusahaan.
  • 3.
    KONSEP DASAR K3 Penggunaanmesin-mesin, pesawat-pesawat, instalasi-instalasi modern serta bahan- bahan berbahaya semakin meningkat. Hal tersebut disamping memberikan kemudahan proses produksi dapat pula menambah jumlah dan ragam sumber bahaya di tempat kerja. Didalam hal lain akan terjadi pula lingkungan kerja yang kurang memenuhi syarat, proses dan sifat pekerjaan yang berbahaya. Masalah tersebut akan mempengaruhi dan mendorong peningkatan jumlah maupun tingkat keseriusan keceklakaan kerja, penyakit akibat kerja, dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, keselamatan dan kesehatan kerja yang merupakan salah satu bagian dari perlindungan tenaga kerja perlu dikembangkan dan ditingkatkan
  • 4.
    Sejarah K3 Sejarah awalmulanya tepatnya perkembangan hygiene perusahaan dan kesehatan kerja diketahui denan jelas kuran lebih 1700 tahun sebelum masehi dalam zaman Mozai ± 5 abad setelah Hamurabi, dinyatakan bahwa ahli bangunan bertangung jawab atas keselamatan para pelaksanaan dan perkerjaannnya.
  • 5.
    SEJARAH DI INDONESIA Abad ke-17: pendaratan V.O.C.di Jakarta  Abad ke-20an dibuat U dan PP mengenai kebersihan  Tahun 1957: Departemen Perburuhan mendirikan Lembaga Kesehatan Buruh yang berpungsi sebagai penasehat dan alat meninggikan mutu ilmiah kesehatan buruh  Tahun 1965: Lembaga Kesehatan Buruh dirubah menjadi Lembaga Keselamatan dan Kesehatan Buruh  Tahun 1966: dengan rekorganisasi kabinet ampera  Tahun 1969: seminar pertama tentang kesehatan dan produktivitas Kerja di Jakarta yang dikuti oleh 300 dokter, pengusaha, cerdik-pandai, dll.  Tahun 1970: UU tentang Keselamatan Kerja diundangkan menggantikan Veiligheids Reglement.  Tahun 1971: didirikan Ikatan Higiene Perusahaan, kesehatan dan Keselamatan Kerja.
  • 6.
    Keselamatan kerja Keselamatan kerjamempunyai makna upaya mengurangi dan atau menekan sejauh mungkin kecelakaan akibat kerja dengan cara mencegah kecelakaan dab mengawasi pemaparan bahan berbahaya yang menimbulkan kecelakaan kerja.
  • 7.
    Kecelakaan kerja Dalam duniakerja berada dalam lingkungan industri/perusahaan dikenal istilah kecelakaan kerja.memeng secara tidak pasti tidaklah mudah mendefinisikan kecelakaan berdasarkan hasil penelitian ilmiah, kecelakaan kerja adalah suatu suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan setiap manusia,merusak harta benda atau kerugian terhadap proses.juga kecelakaan ini biasanya terjadi akibat kontak dengan zat atau sumber energi.
  • 8.
    Bahaya Bahaya perkerjaan ialahfaktor-faktor dalam hubungannya dengan pekerjaan yang dapat mendatangkan kecelakkan.bahaya disebut potensi jika fakto-faktor tersebut belum mendatangkan kecelakaan. Hal itu menunjukkan adanya sesuatu yang potensial untuk magakibatkan cedera atau penyakit, kerusakan atau perusahaan.sedangkan kemungkinaa potensi bahaya menjadi manifest, sering disebut resiko. Jika bahaya itu sudah menyebabkan atau terjadi kecelakaan maka bahaya tersebut sebagai bahaya nyarta.
  • 9.
    PENGERTIAN K3  Secarafilososfi suatu pemikira dan upaya unutk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah ampun rokhaniah tenaga kerja pada khususnya manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur.  Secara keilmuan ilmu pengetahuan dan penerapanya dalam usha mencegah kemungkinaan terjadinyakecelakaan dan penyakit akibat kerja.
  • 10.
    TUJUAN K3 Bahwa prosesproduksi dapat berjalan lancar Bahwa setiap sumber produksi dipergunkan secara aman dan efesien. Bahwa setiap tenaga kerja dan orang lainnya ditempat kerja dalam keadaan selamat dan sehat K3 bertujuan untuk menjamin kesempurnaan jasmaniah dan rokhaniah. Oleh karena itu keselamatan kerja untuk bertujuan mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja, dan menjamin:
  • 11.
    RUANG LINGKUP Aspek perlindungandalam K3 meliputi:  Tenaga kerja dari semua jenis dan kejenjang keahlian  Perlalatan dan bahan yang digunakan  Faktor-faktor lingkungan kerja  Proses produksi  Karateristik dan sifat pekerjaan  Teknologi dan metodologi kerja 1. Penerapan K3 dilaksanakan secara holistik sejak perencanaan hingga pengelolaan hasil dari kegiatan industri barang ataupun jasa. 2. Semua pihak yang terlibat dalam proses industri/perusahaan ikut bertanggung jawab atas keberhasilan usaha K3.
  • 12.
    Kesehatan Kerja (Occupational Health) MenurutNational safety Council-USA (1982) dalam Rachman,dkk (1990), kesehatan kerja sangat berkaitan dengan satu atau lebih kondisi kerja yang dapat menimbulkan penyakit akibat kerja dan dapat menurunakan produktivitas kerja yang pada akhirnya.
  • 13.
    Tujuan Kesehatan Kerja Meningkatkandan memelihara derajat kesehatan pekerja. Melindungi dan mencegah pekerjaan dari semua gangguan kesehatan akibat lingkungan kerja atau pekerjaannya. Menempatkan pekerja sesuai dengan kemampuan fisik, mental, dan pendidikan atau keterampilannya. Meningkatkan efesiensi dan produktivitas.
  • 14.
    PENYAKIT AKIBAT KERJA DalamPeraturan Menteri Tenaga Transmigrasi No. 01/1981 tentang kewajiba melaporkan penyakit akibat kerja disebutkan bahwa: penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja.
  • 15.
    Faktor penyebab penyakitakibat kerja Penyakit dapat terjadi akibat dari lingkungan pekerjaan yang buruk. Beberapa hazard yang sering ditemukan dan dijumpai di lingkungan kerja antara lain: 1. Golongan fisik 2. Golongan kimiawi 3. Golongan biologis 4. Golongan fisiologis 5. Golongan psikologi
  • 16.
    Contoh penyakit akibatkerja 1. Pneumoconiosis 2. Mesothelioma 3. Dermatosis 4. Ephitelioma 5. Infeksia 6. Alveolitis allergic 7. Acrocmbolism 8. Cataract
  • 17.
    PELAYANAN KESEHATAN KERJA Pelayanankesehatan di perusahaan atau dikenal juga sebagai pelayanan kesehatan kerja, diselenggarakan untuk melindungi tenaga kerja dari kemungkinan mengalami gangguan kesehatan yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja, serta sekaligus mengupayakan peningkatan kemampuan fisik tenaga kerja.Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Trasmigrasi No.03/men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja, maksud dan tujuan penyelengaraan pelayanan kesehatan kerja adalah memberikan bantuan kepada tenaga kerja dalam penyesuaian pekerjaan dan karakteristik fisik, melindungi tenaga kerja dari setiap gangguan kesehatan yang timbul dari pekerjaan atau lingkungan kerja.
  • 18.
    KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA Agarseseorang tenaga kerja ada dalam keserasian sebaik-baiknya, yang berarti dapat terjamin keadaan Kesehatan dan produktifitas kerja setinggi-tingginya, maka perl adanya keseimbangan yang menguntungkan dari faktor: Beban kerja Setiap pekerjaan merupakan beban bagi pelakunya. Beban dimaksud, mungkin fisik, sosial, dan mental. Beban tambahan akibat lingkungan Sebagai tambahan kepada bean kerja secara langsung akibat pekerjaan sebenarnya, suatu pekerjaan biasanya dilakukan dalam suatu lingkungan atau situasi, yang berakibat beban tambahan pada jasmani maupun rohaniah tenaga kerja. Kapasitas Kerja Kemampuan kerja seorang tenaga kerja berbeda dari Satu kepada yang lainnya dan sangat bergantung pada keterampilan, keserasian, keadaan gizi, jenis kelamin, usia, dan ukuran-ukuran tubuh.
  • 19.
    BAHAYA DI TEMPATKERJA Bahaya pekerjaan adalah faktor-faktor dalam hubungannya dengan pekerjaan yang dapat mendatangkan kesakitan atau kecelakaan. Bahaya disebut potensi bahaya atau hazard jika faktor-faktor tersebut belum mendatangkan kecelakaan. Atau dapat diartikan Potensi bahaya atau Hazard merupakan segala hal atau sesuatu yang mempunyai kemungkinan mengakibatkan kerugian baik pada harta benda, lingkungan maupun manusia.
  • 20.
    Sumber Bahaya Penyakit ataupunkecelakaan kerja terjadi karena adanya sumber-sumber bahaya lingkungan kerja. Sasaran pengawasan yang perl diperhatikan meliputi bagian-bagian diantaranya: 1. Sumber bahaya Sumber bahaya biasanya berasal dari:  Golongan fisik  Golongan kimia  Golongan biologi  Golonganpisiologi/ergonomi  Golongan psikologi 2. Asal sumber bahaya Asal sumber bahaya bisa didapat dari faktor sebagal berikut: o Bahan baku o Bahan baku tambahan o Hasil produksi o Hasil sampingan o Peralatan/ proses produksi o Cara kerja o Waktu kerja o Lingkungan Kerja o Limbah o Penyimpanan/gudang o Pemusnahan
  • 21.
    Identifikasi bahaya Identifikasi bahayaadalah menentukan kemungkinan ada tidaknya expose/ paparan terhadap tenaga kerja di tempt kerja melalui: a. Monitoring  Lingkungan kerja,yaitu melakukan pemantauan terhadap adanya bahaya-bahaya di tempat kerja.  Biologi, yaitu untukmengatuhai jumlah jat yang terabsirbsi oleh tubuh  Kesehatan, yaitu untuk mengetahui dan menentukan orang yang sensitive b. Survei lingkungan kerja  Wawancara langsung dengan pimpinan tenpal kerja tentang kegiatan yang dilakukan  Pemeriksaan lingkungan secara manual dan menggunakan alat bantu sederhana terhadap seluruh sumber bahaya yang ada  Pengukuran/pegujian yaitu menetapkan pemaparan bahaya terhadap tenaga kerja dan sarana pencegahan dan penanggulangan k3 yang telah ada.
  • 22.
    Evaluasi Bahaya Yaitu mengadakanpenilaian untuk menentukan besarnya dan lamanya pemaparan bahaya di tempt kerja melalui: a. Pelaksanaan peraturan pemerintah,standar pedoman dan peraturan lainnya. b. Menentukan pekerja yang perlu mendapat perlindungan c. Menetapkan rencana sistem pengendalian lingkngan kerja Menilai kemampuan dan fungi pengendalian lingkungan yang asa apakah masih berfungsi dengan baik atau perl perubahan
  • 23.
    KESELAMATAN KERJA DANKECELAKAAN Keselamatan kerja atau occupational safety dalam istilah sehari hari disebut dengan safety saja, oleh American society of safety engineers (ASSE) diartikan sebagai bidang kesehatan yang ditunjukkan untuk mencegah semua jenis kecelakaan yang ada kaitannya dengan lingkungan dan situasi kerja, sedangkan secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil karya dan budayanya.
  • 24.
    Teori penyebab kecelakaanKecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh berbagai penyebab, teori tentang terjadinya suatu kecelakaan adalah : 1. Teori kebetulan Murni (Pure Chance Theory), yang menyimpulkan bahwa kecelakaan terjadi atas kehendak Tuhan, sehingga tidak ada pola yang jelas dalamm rangkaian peristiwanya, karena itu kecelakaan terjadi secara kebetulan saja. 2. Teori Kecenderungan Kecelakaan (Accident prone Theory), pada pekerja tertentu lebih sering tertimpa kecelakaan, karena sifat-sifat pribadinya yang memang cenderung untuk mengalami kecelakaan kerja. 3. Teori Tiga Faktor (Three Main Factor), menyebutkan bahwa penyebab kecelakaan peralatan, lingkungan dan faktor manusia pekerja itu sendiri. 4. Teori Dua Faktor (Two main Factor), kecelakaan disebabkan oleh kondisi berbahaya (unsafe condition) dan tindakan berbahaya (unsafe action). 5. Teori Faktor Manusia (Human Factor Theory), menekankan bahwa pada akhirnya seluruh kecelakaan kerja tidak langsung disebabkan karena kesalahan manusia.
  • 25.
    Klasifikasi kecelakaan Sistem klasifikasisederhana (Berdasarkan lokasi kejadian) Sistem kecelakaan majemuk (Terjatuh, terjepit, tertimpa benda jatuh)
  • 26.
    ALAT PELINDUNG DIRI AlatPelindung Diri (APD) adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang dalam pekerjaan yang fungsinya mengisolasi tubuh tenaga kerja dari bahaya di tempat kerja.
  • 27.
    Tujuan APD 1. Memeliharadan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua lapangan kerja setinggi tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya. 2. Mencegah timbulnya masyarakat pekerja gangguan kesehatan pada keadaan/kondisi lingkungan kerjanya. yang diakibatkan oleh 3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor- faktor yang membahayakan kesehatan 4. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan kerja yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.
  • 28.
    Kelemahan APD 1. Kemampuanperlindungan yang tak sempurna karena: memakai APD yang tak sempurna, cara pemakaian APD, APD tidak memenuhi pernyataan yang diperlukan.  2. Sering APD tidak dipakai karena tidak enak/kurang nyaman. Karena itu penting pemeliharaan dan kontrol terhadap APD sehingga fungsi APD tetap baik, misalnya: APD yang sangat sensitif karena perubahan tertentu, APD yang mempunyai masa kerja tertentu seperti canister dan respirator, dan APD yang dapat menularkan penyakit bila dipakai berganti-ganti.
  • 29.
    Jenis APD Alat PelindungKepala : a.Topi pengaman b. Topi/tudung c. Penutup rambut Alat Pelindung Telinga : a. Ear muff b. Aer Plugs Alat Pelindung Muka dan Mata Syarat-syarat alat pelindung muka dan mata: Ketahanan terhadap api, sama dengan helm Ketahanan terhadap lemparan benda-benda; lensa tidak boleh pecah dan bergeser Syarat optis tertentu; lensa tidak boleh mempunyai efek distorsi/efek prisma Alat pelindung mata terhadap radiasi; prinsipnya kacamata yang hanya tahan terhadap panjang gelombang tertentu Alat Pelindung Pernapasan (masker) Alat pelindung pernafasan berfungsi untuk memberikan perlindungan terhadap sumber-sumber bahaya di udara tempat kerja seperti; kekurangan oksigen, pencemaran oleh partikel (debu, kabut, asap, dan uap logam), pencemaran oleh gas atau uap.
  • 30.