Sejarah Peradaban Islam
MasaUmayyah Timur: Kebijakan, Orientasi Politik, dan
kedudukan Amirul MUKMININ
Anisah Khoiriyah – Liya Nurhasanah – Yumna Zahro
Kuraini
2.
Para sejarawan membagiDinasti
Umayyah menjadi dua. Pertama, dinasti yang
dirintis oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang
berpusat di Damaskus (Suriah). Dan yang
kedua, adalah Dinasti Umayyah yang terletak
di Andalusia (Spanyol) yang pada awalnya
merupakan wilayah taklukan Umayyah di bawa
pimpinan seorang gubernur pada masa
khalifah Walid bin Malik. Kemudian menjadi
Kerajaan yang terpisah dari kekuasaan Dinasti
‘Abbasiyyah setelah berhasil menaklukan
Dinasti Umayyah di Damaskus.
Wilayah Daulah Bani Umayyah
3.
Daulah Bani Umayyah
Sukuatau klan Umayyah mengambil nama dari cabang
keturunan Umayyah bin Abdi Syam bin Abdi Manaf. Ia merupakan
tokoh terkemuka kaum Quraisy saat hadirnya agama Islam. Mu’awiyah
bin Abu Sufyan merupakan pendiri sekaligus khalifah pertama Dinasti
Umayyah. Sebagian sejarawan menorehkan catatan hitam dan
pandangan negative sebab keberhasilan memperoleh legalitas
kekuasaan dilakukan secara tidak benar melalui perang saudara di
Shiffin.
Terlepas dari catatan buruk itu, dalam diri Mu’awiyah bin Abu
Sufyan terkumpul sifat-sifat seorang penguasa, politikus, dan
administrator. Keberhasilan Mu’awiyah dalam mendirikan Dinasti
Umayyah bukan hanya kemenangan diplomasi dalam peran Shiffin dan
peristiwa Tahkim, melainkan sejak semula Muawiyah memiliki “basis
rasional” yang solid sebagai landasan pembangunan masa depan. Ia
juga mendapat dukungan yang kuat dari Suriah dan keluarga Bani
Umayyah.
4.
Singkat Cerita
Meninggalnya ‘Utsmanbin Affan yang
menyebabkan Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan
keluarganya menjadi oposisi terhadap
pemerintahan khalifah ‘Ali bin Abi Thalib.
Dua perang besar yaitu Perang Jamal dan Perang
Shiffin yang menuntut balas akan kematian
‘Ustman bin ‘Affan akhirnya berujung pada
peristiwa tahkim.
Peristiwa tahkim dilakukan di Daumatul Jandal
antara pihak Mu’awiyyah bin Abu Sufyan yang
diwakili oleh ‘Amr bin ‘Ash dan ‘Ali bin Abi Thalib
yang diwakili oleh Abu Musa Al-Asy’ari.
Peristiwa tahkim dimenangkan oleh pihak
Mu’awiyah bin Abu Suyfan. Kekalahan ‘Ali di
medan perang, terbunuhnya Husain cucu Nabi
Muhammad SAW juga merupakan awal
kemunculan kekuasaan keturunan yang merubah
sistem khilafah.
5.
Berdirinya Daulah Umayyah
Mu‘awiyahmengubah sistem
pemerintahan dari demokrasi
mufakat ke pemerintahan
monarchy heredetis (kerajaan
turun temurun).
Tanggal 25 Rabi‘ul Awwal 41 H/
661 M merupakan awal tahun
berdirinya Dinasti Umayyah.
Masa kekuasaan Dinasti
Umayyah kurang lebih selama
91 tahun dengan estafet
kepemimpinan dua keluarga,
yaitu Bani Abu Sufyan dan
Marwan dengan jumlah
khalifah 14 orang.
6.
Transisi Sistem Pemerintahanal-Khulafa ar-Rasyidun ke Dinasti Bani
Umayyah
Transisi dalam konteks regenerasi politik berarti
semua anggota masyarakat yang sudah dewasa mendapat
kesempatan untuk mengambil peran dalam penyelenggaraan
negara. Di sisi lain, transisi dalam konteks sosial berarti juga
proses yang mengarah pada berbagai bentuk perubahan
masyarakat. Bentuk perubahan tersebut terjadi dari nilai lama
ke nilai yang baru.
Pada masa transisi tidak tidak dapat dipastikan
apakah masa sesudah transisi selalu menjadi lebih baik dari
masa sebelumnya. Keadaan yang terjadi setelah masa transisi
adalah suatu ketidakpastian.Transisi politik bisa menghasilkan
sebuah pencerahan bagi sistem baru dan berakhirnya sistem
lama. Artinya, masa transisi adalah masa yang sulit diprediksi.
Pada masa transisi kondisi politik suatu negara dalam
keadaan yang tidak stabil, sehingga segala kemungkinan bisa
Tirol Salzburg Styria
Carinthia
7.
Tirol Salzburg Styria
Carinthia
StrukturKekhalifahan Turun
Temurun Daulah Umayyah
Umat Islam pada masa itu sedang
bersentuhan dengan Imperium Romawi
dan Persia. Karenanya, Mu‘awiyah
bermaksud meniru cara suksesi
kepemimpinan khas dua peradaban ini,
yaitu monarki (kerajaan). Ia melanggar
perjanjian dengan Hasan bin Ali bahwa
pergantian pemimpin akan diserahkan
kepada umat Islam. Namun, akhirnya
Mu‘awiyah melanggar janji tersebut
dengan menunjuk putranya Yazid bin
Mu‘awiyah sebagai khalifah penggantinya.
Sistem inilah yang kemudian diikuti oleh
khalifah setelahnya secara turun temurun.
8.
Kebijakan dan OrientasiPolitik Masa Daulah Bani Umayyah di Timur
Mu’awiyah bin Abu Sufyan sebagai pendiri Daulah
Bani Umayyah memerintah kurang lebih selama 19 tahun.
Banyak kebijakan baru dalam politik, pemerintahan, dan lain-
lain. Kebijakannya antara lain:
1. Pemisahan Kekuasaan -
2. Pembagian Wilayah -
3. Pembagian Bidang Administrasi Pemerintahan
4. Politik Arabisasi -
Tirol Salzburg Styria
Carinthia
a. Kekuasaan agama (spiritual
power)
b. Kekuasaan politik (temporal
power)
(1) Syiria dan Palestina (2) Kufah dan
Irak (3) Basrah (4) Armenia (5) Hijaz (6)
Karman
(7) Mesir (8) Afrika (9) Yaman (10)
Andalusia
a. Bahasa wajib pemerintahan:
Bahasa Arab
b. Percetakan mata uang dinar dan
dirham hasil karya orang Arab
9.
Pembagian Bidang AdministrasiPemerintahan
Dewan Rasail
Sekretaris Jendral
yang mengurus
surat yang
ditujukan pada
para gubernur
Dewan al-Kharraj
Pengurus Pajak Tanah
di daerah yang
dikuasai Daulah Bani
Umayyah
Dewan al-
Khattam
Departemen Pencatatan
untuk membendung
banyaknya usaha
pemalsuan tanda
tangan khalifah.
Diwan al-Barid
Intelijen negara yang
berfungsi
menyampaikan berita
rahasia daerah ke
pemerintah pusat
10.
Kebijakan Arabisasi
Arabisasi artinyausaha-usaha pengaraban oleh Bani Umayyah di wilayah-wilayah
yang dikuasai oleh Islam. Arabisasi yang terkenal pada masa ini adalah pada masa ‘Abd Al-
Malik dan Al-Walid, yang dinilai oleh sebagian sejarawan adalah masa dimana Dinasti
Umayah mencapai puncak kejayaannya. Salah satu bentuk arabisasi adalah ketika Abdul
Malik mewajibkan bahasa pemerintahan yang dipakai dalam wilayah kekuasaannya adalah
bahasa Arab. Maka otomatis bahasa dalam Administrasi Publik pun diubah menjadi bahasa
Arab. Dilain bidang, Abdul Malik mulai mencetak dinar emas dan dirham perak yang murni
hasil karya orang Arab.
11.
Kedudukan Amirul Mukminin
•Pada masa Dinasti Bani Umayyah, Amirul Mu’minin bertugas hanya sebagai khalifah
dalam bidang temporar (politik), sedangkan urusan keagamaan diserahkan kepada para
ulama. Hal ini berbeda dengan Amirul Mu’minin pada masa Khulafa Rasyidin yang mana
khalifah disamping kepala politik juga kepala agama. Beberapa perbedaan corak
kepemimpinan Khulafa Rasyidin dengan Daulah Bani Umayyah adalah:
• Pada masa Khulafa Rasyidin pemerintah dijalankan secara demokratis, sedangkan pada
masa Daulah Bani Umayyah berganti menuju sistem monarki absolut
• Pada masa Khulafa Rasyidin, khalifah menganggap diri mereka sebagai pelayan
masyarakat, sedangkan pada masa Daulah Bani Umayyah khalifah menganggap diri
mereka sebagai penguasa
• Pada masa Khulafa Rasyidin tidak ada satu suku yang bertahan dalam kekuasaan terus
menerus, sedangkan pada masa Daulah Bani Umayyah hanya suku tertentu (yaitu Bani
Umayyah) yang mendominasi percaturan politik dan masa kekhalifahan
12.
Prestasi Daulah BaniUmayyah
• Perluasan wilayah kekuasaan Islam (futuhat Islamiyah) yang
membentang mulai dari Asia kecil, Afrika Utara, hingga ke Barat
mendekati Andalusia.
• Penemuan kertas dan Kompas yang amat berharga bagi umat
manusia
• Membangun masjid untuk kesejahteraan rakyat sekitar masjid.
Selain itu pada masa ini gencar pembangunan istana megah tempat
tinggal khalifah lengkap beserta taman yang indah untuk rekreasi
• Dalam bidang sosial, khalifah Bani Umayyah banyak membangun
panti-panti asuhan, panti jompo, panti fakir miskin, panti yang
menampung orang buta dan musafir, serta mendanai para penghafal
Al-Qur'an
• Salah satu puncak peradaban bidang intelektual adalah pembukuan
hadits yang diinisiasi oleh khalifah Umar bin 'Abdul Aziz
13.
Kemunduran dan KeruntuhanDaulah Bani
Umayyah
• Faktor kemunduran dan runtuhnya Daulah Bani Umayyah
disebabkan oleh faktor internal dan eksternal yang menjadikan
turbulensi dan krisis multidimensi. Beberapa penyebab kemunduran
dan runtuhnya Daulah Bani Umayyah adalah:
• Sistem monarki yang membuat rakyat tidak puas terhadap kinerja
pemerintah
• Pergolakan politik dengan golongan Khawarij dan Syi'ah yang
memicu banyak huru-hara dan pertentangan internal maupun
eksternal
• Perubahan kebijakan penggunaan Baitul Mal yang sedikit banyak
diberikan kepada sanak famili khalifah Daulah Bani Umayyah
• Sikap khalifah yang cenderung hedon, suka berfoya-foya, dan kurang
memperhatikan kepentingan rakyat
• Peminggiran dan marginalisasi agamawan ('ulama)
• Wilayah kekuasaan yang luas menyulitkan pemerintah untuk
melakukan pengamanan
• Khalifah Daulah Bani Umayyah selalu menggencet dan menekan