Oleh Dr. Eni Kuswati, M.Pd
○ Kompetensi Masa Depan: Fokus pada kreativitas, kolaborasi, dan penguasaan teknologi.
○ Pembelajaran Bermakna: Berdasarkan pendekatan global, menekankan pembelajaran
interaktif dan inspiratif.
SINTAK
PEMBELAJARAN MENDALAM
Latar Belakang
Perubahan masa depan sulit diprediksi
Permasalahan mutu pendidikan: Literasi, Numerasi, HOTs, Ketimpangan Mutu Pendidikan
Bonus Demografi 2035 dan Visi Indonesia Emas 2045
Kompetensi masa depan
PM sebagai solusi mewujudkan pendidikan bermutu untuk
semua
Pembelajaran Mendalam (PM)
7
“Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan
dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses
pembelajaran berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan
menggembirakan ( joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika),
olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu“.
(Puskurjar;2025)
Konsep Ki Hadjar Dewantara jika dikaitkan dengan
pembelajaran mendalam :
1.Siswa sebagai pusat pembelajaran: Keduanya mengutamakan kebutuhan
dan karakter siswa, dengan pendekatan yang relevan dan memfasilitasi
eksplorasi pribadi.
2.Pembelajaran kontekstual: Menekankan pentingnya menghubungkan
pembelajaran dengan kehidupan nyata agar lebih bermakna.
3.Karakter dan kolaborasi: Fokus pada pengembangan karakter siswa dan
kolaborasi antar siswa untuk memperdalam pemahaman.
4.Refleksi dan kesadaran: Keduanya mendorong siswa untuk lebih sadar dan
reflektif dalam proses belajar.
Thich Nhat Hanh (Mindfulness in Education)
•Pendekatan: Mindful
•Karya: Planting Seeds: Practicing Mindfulness with Children (2011)
•Relevansi: Menekankan pentingnya perhatian penuh (mindfulness) dalam
pendidikan untuk membantu siswa terhubung dengan pengalaman belajar mereka.
Marton Ference dan Roger Säljö ((Surface and Deep Learning)
•Pendekatan: Mindful
•Karya: Learning and Awareness (1997)
•Relevansi: Mereka membahas konsep pembelajaran dalam yang melibatkan
kesadaran penuh (mindfulness) terhadap apa yang dipelajari, sehingga siswa
memahami makna yang lebih mendalam.
TOKOH-TOKOH PENGEMBANG
KONSEP MINDFUL, JOYFUL & MEANINGFUL
George Siemens dan Stephen Downes (Connectivism)
•Pendekatan: Mindful dan Meaningful
•Karya: Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age (2005)
•Relevansi: Mereka mengembangkan teori konektivisme, yang menekankan hubungan
antarpengetahuan dan membuat pembelajaran lebih relevan dengan pengalaman
siswa di era digital.
John Hattie (Visible Learning)
•Pendekatan: Meaningful
•Karya: Visible Learning for Teachers: Maximizing Impact on Learning (2012)
•Relevansi: Hattie menyoroti pentingnya umpan balik dan tujuan
pembelajaran yang jelas untuk membantu siswa memahami relevansi materi
yang dipelajari.
Michael Fullan (Deep Learning Framework)
•Pendekatan: Meaningful
•Karya: Leading in a Culture of Change (2001)
•Relevansi: Fullan menghubungkan pembelajaran dengan tujuan yang lebih besar,
seperti membangun keterampilan untuk menghadapi tantangan nyata di dunia, yang
membuat pembelajaran lebih bermakna.
David Kolb (Experiential Learning)
•Pendekatan: Meaningful
•Karya: Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development
(1984)
•Relevansi: Kolb mengembangkan model pembelajaran pengalaman (experiential
learning) yang menekankan keterlibatan langsung siswa dalam proses belajar untuk
memastikan relevansi dan makna.
Ken Bain (What the Best College Teachers Do)
•Pendekatan: Joyful dan Meaningful
•Karya: What the Best College Teachers Do (2004)
•Relevansi: Ken Bain menekankan bagaimana pengajar yang hebat menciptakan
pengalaman belajar yang menyenangkan (joyful) dengan mendorong rasa ingin tahu
siswa dan membuat pembelajaran relevan secara pribadi (meaningful).
Eric Jensen(Brain-Based Learning)
•Pendekatan: Mindful
•Karya: Teaching with the Brain in Mind (2005)
•Relevansi: Eric Jensen menekankan pentingnya memanfaatkan pemahaman tentang otak
dalam merancang pembelajaran, termasuk melibatkan perhatian penuh (mindfulness)
untuk membantu siswa mengelola stres dan meningkatkan fokus belajar.
Pembelajaran
Mendalam
Olah
Pikir
Olah
Hati
Olah
Rasa
mewujudkan
Profil Lulusan
(8 Dimensi)
Pembelajaran Mendalam sebagai Solusi
Olah
Raga
Berkesadara
n
Bermakn
a
Menggembiraka
n
Puskurjar 2025
KERANGKA KERJA PEMBELAJARAN MENDALAM
Puskurjar 2025
Kerangka Pembelajaran
•Praktik Pedagogis
Strategi mengajar yang dipilih guru untuk mencapai
tujuan belajar dalam mencapai dimensi profil
lulusan. Untuk mewujudkan pembelajaran
mendalam guru berfokus pada pengalaman belajar
peserta didik yang autentik, mengutamakan praktik
nyata, mendorong keterampilan berpikir tingkat
tinggi dan kolaborasi.
•Pemanfaatan Teknologi Digital
Pemanfaatan teknologi digital juga memegang peran
penting sebagai katalisator untuk menciptakan
pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan
kontekstual. Tersedianya beragam sumber belajar
menjadi peluang menciptakan pengetahuan
bermakna pada peserta didik.
Lingkungan Pembelajaran
Lingkungan pembelajaran menekankan integrasi
antara ruang fisik, ruang virtual, dan budaya belajar
untuk mendukung pembelajaran mendalam. Ruang
fisik dan virtual dirancang fleksibel sebagai tempat
yang mendorong kolaborasi, refleksi, eksplorasi,
dan berbagi ide, sehingga dapat mengakomodasi
berbagai gaya belajar peserta didik dengan optimal.
Kemitraan Pembelajaran
Kemitraan pembelajaran (learning partnerships)
membentuk hubungan yang dinamis antara
guru, peserta didik, orang tua, komunitas, dan
mitra profesional. Pendekatan ini memindahkan
kontrol pembelajaran dari guru saja menjadi
kolaborasi bersama.
21
Puskurjar 2025
Pengalaman Belajar
Memahami
Tahap awal peserta didik untuk aktif mengkonstruksi
pengetahuan agar dapat memahami secara mendalam
konsep atau materi dari berbagai sumber dan konteks.
Pengetahuan pada fase ini terdiri dari pengetahuan
esensial (foundational knowledge), pengetahuan aplikatif
(applied knowledge), dan pengetahuan nilai dan karakter
(humanistic knowledge).
Mengaplikasi
Pengalaman belajar yang menunjukan aktivitas
peserta didik mengaplikasi pengetahuan dalam
kehidupan secara kontekstual. Pengetahuan
yang diperoleh oleh peserta didik melalui
pendalaman pengetahuan (extending
knowledge).
Merefleksi
Proses di mana peserta didik mengevaluasi dan
memaknai proses serta hasil dari tindakan atau praktik
nyata yang telah mereka lakukan. Tahap refleksi melibatkan
regulasi diri (self regulation) sebagai kemampuan individu
untuk mengelola proses belajarnya secara mandiri, meliputi
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi
terhadap cara belajar mereka.
Puskurjar 2025
Berkesadaran
Pengalaman belajar peserta
didik yang diperoleh ketika
mereka memiliki kesadaran
untuk menjadi pembelajar
yang aktif dan mampu
meregulasi diri. Peserta
didik memahami tujuan
pembelajaran, termotivasi
secara intrinsik untuk
belajar, serta aktif
mengembangkan strategi
belajar untuk mencapai
tujuan.
Bermakna
Peserta didik dapat
menerapkan
pengetahuannya ke
dalam situasi nyata.
Proses belajar peserta
didik tidak hanya sebatas
memahami informasi/
penguasaan konten, namun
berorientasi pada
kemampuan mengaplikasi
pengetahuan.
Menggembirakan
Pembelajaran yang
menggembirakan merupakan
suasana belajar yang
positif, menantang,
menyenangkan, dan
memotivasi. Rasa senang
dalam belajar membantu
peserta didik terhubung
secara emosional, sehingga
lebih mudah memahami,
mengingat, dan menerapkan
pengetahuan.
16
Prinsip Pembelajaran
Puskurjar 2025
8
Dimensi
Profil
Lulusan
1. Keimanan dan Ketakwaan
terhadap Tuhan YME
Individu yang memiliki keyakinan teguh akan
keberadaan Tuhan serta menghayati nilai-nilai spiritual
dalam kehidupan sehari-hari.
3. Penalaran Kritis
Individu yang mampu berpikir secara logis, analitis,
dan reflektif dalam memahami, mengevaluasi, serta
memproses informasi untuk menyelesaikan
masalah.
2. Kewargaan
Individu yang memiliki rasa cinta tanah air
, mentaati
aturan dan norma sosial dalam kehidupan
bermasyarakat, memiliki kepedulian, tanggungjawab
sosial, serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah
nyata yang terkait keberlanjutan manusia dan
lingkungan.
4. Kreativitas
Individu yang mampu berpikir secara inovatif,
fleksibel, dan orisinal dalam mengolah ide atau
informasi untuk menciptakan solusi yang unik
dan bermanfaat.
5. Kolaborasi
Individu yang mampu bekerja sama secara efektif
dengan orang lain secara gotong royong untuk
mencapai tujuan bersama melalui pembagian
peran dan tanggung jawab.
6. Kemandirian
Individu yang mampu bertanggung jawab atas
proses dan hasil belajarnya sendiri dengan
menunjukkan kemampuan untuk mengambil
inisiatif, mengatasi hambatan, dan menyelesaikan
tugas secara tepat tanpa bergantung pada orang
lain.
7. Kesehatan
Individu yang memiliki fisik yang prima, bugar,
sehat, dan mampu menjaga keseimbangan
kesehatan mental dan fisik untuk mewujudkan
kesejahteraan lahir dan batin (well-being).
8. Komunikasi
Individu yang memiliki kemampuan komunikasi
intrapribadi untuk melakukan refleksi dan
antarpribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan
informasi baik lisan maupun tulisan serta
berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi.
Benjamin Bloom (Taksonomi Bloom)
•Pendekatan: Meaningful
•Karya: Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of
Educational Goals (1956)
•Relevansi: Taksonomi Bloom mendorong pembelajaran mendalam dengan
fokus pada analisis, sintesis, dan evaluasi, yang membuat pembelajaran
lebih bermakna.
John Biggs & Kevin Collis (Taxonomi SOLO = Structure of the Observed Learning
Outcome).
• Pendekatan: Meaningful
• Karya: Teaching for Quality Learning at University (1999)
• Relevansi:Pendekatan Constructive Alignment dari John Biggs mendorong
pembelajaran bermakna dengan memastikan keselarasan antara tujuan pembelajaran,
aktivitas belajar, dan penilaian.
TAXONOMI SOLO dan TAXONOMI BLOOM
Taksonomi SOLO terdiri dari lima tingkat pemahaman:
1.Prestruktural:
Siswa belum memahami materi. Jawaban yang diberikan tidak relevan atau tidak
sesuai dengan konteks.
Contoh: "Saya tidak tahu apa-apa tentang ini.“
2. Unistruktural:
Siswa memahami satu aspek materi; respons sederhana, tetapi pemahaman ini
terbatas.
Contoh: "Kucing adalah hewan.“
3. Multistruktural:
Siswa memahami beberapa aspek dari materi, tetapi belum mampu mengintegrasikan
informasi tersebut.
Contoh: "Kucing adalah hewan yang punya ekor, telinga, dan berbulu."
4. Relasional:
Siswa mampu mengintegrasikan berbagai aspek menjadi satu kesatuan pemahaman
yang bermakna.
Contoh: "Kucing adalah hewan peliharaan yang memiliki ekor, telinga, dan berbulu.
Mereka hidup di rumah bersama manusia dan membutuhkan makanan serta
perawatan.“
5. Abstrak Diperluas:
Siswa dapat membuat generalisasi dan mengaitkan materi dengan konteks yang lebih
luas atau abstrak.
Contoh: "Kucing adalah contoh spesies mamalia yang beradaptasi hidup bersama
manusia. Ini menunjukkan hubungan simbiosis antara spesies."
Tingkatan Taksonomi Bloom (Revisi):
Taksonomi Bloom yang direvisi oleh Lorin Anderson dan David Krathwohl:
1.Mengingat (Remembering)
• Mengingat fakta atau informasi dasar.
• Contoh: Menyebutkan nama ibu kota, menghafal tabel periodik.
2.Memahami (Understanding)
• Menjelaskan ide atau konsep.
• Contoh: Menerjemahkan paragraf, menjelaskan diagram.
3.Menerapkan (Applying)
• Menggunakan informasi dalam situasi baru.
• Contoh: Menggunakan rumus matematika untuk memecahkan masalah nyata.
4.Menganalisis (Analyzing)
• Memecah informasi menjadi bagian-bagian dan memahami bagaimana bagian tersebut saling berhubungan.
• Contoh: Menganalisis argumen dalam esai, membedah struktur cerita.
5.Mengevaluasi (Evaluating)
• Menilai atau membuat keputusan berdasarkan kriteria tertentu.
• Contoh: Memberikan kritik konstruktif pada karya seni, mengevaluasi solusi masalah.
6.Mencipta (Creating)
• Menggabungkan elemen-elemen untuk membentuk sesuatu yang baru atau orisinal.
• Contoh: Merancang eksperimen ilmiah, menulis cerita pendek.
Perbandingan Taksonomi Bloom dan SOLO
•Taksonomi Bloom fokus pada tingkat keterampilan kognitif yang diharapkan siswa capai.
•Taksonomi SOLO fokus pada kualitas dan kompleksitas respons siswa terhadap tugas tertentu.
Taksonomi SOLO dan Bloom dalam Pembelajaran Mendalam
Tingkat Pembelajaran
Taksonomi
SOLO
Taksonomi
Bloom
Pengalaman
Belajar PM
Deskripsi
Unggul
(Excellence)
Pembelajaran
Mendalam
Berpikir Abstrak
yang Mendalam
• Mencipta
• Mengevaluasi
Merefleksi
Memperluas dan
menerapkan ide
Cakap
(Secure
)
Relasional • Menganalisis
• Menerapkan
Mengaplikasi
Menghubungkan
ide-ide
Berkembang
(Developing)
Pembelajaran
Dasar
Multistruktural Memahami
Memahami
Memiliki banyak ide
Dasar
(Foundation)
Unistruktural Mengingat Mengingat kembali
Belum
Berkembang
(Incompetence)
Prastruktural
Puskurjar 2025
Elemen Ekosistem
Puskurjar 2025
Transformasi Peran Guru dalam Ekosistem PM
Guru sebagai Activator
Guru sebagai Collaborator
Guru sebagai Culture
Builder
Peran guru yang berubah di ekosistem pembelajaran
mendalam. Sebelumnya, guru berada di posisi terbawah,
dengan arahan dari pemerintah pusat , pemerintah daerah
dan kepala sekolah. (Diagram kiri)
Dalam transformasi peran guru dalam ekosistem PM: guru
menjadi pusat ekosistem, mendukung dan bekerja sama
dengan kepala sekolah, pemerintah daerah, dan pemerintah
pusat.
Puskurjar 2025
TERIMA KASIH

PM SHARE.pptxwqwdqwdqwdqdASQWDQWDqdwqdwefwef

  • 1.
    Oleh Dr. EniKuswati, M.Pd ○ Kompetensi Masa Depan: Fokus pada kreativitas, kolaborasi, dan penguasaan teknologi. ○ Pembelajaran Bermakna: Berdasarkan pendekatan global, menekankan pembelajaran interaktif dan inspiratif. SINTAK PEMBELAJARAN MENDALAM
  • 2.
    Latar Belakang Perubahan masadepan sulit diprediksi Permasalahan mutu pendidikan: Literasi, Numerasi, HOTs, Ketimpangan Mutu Pendidikan Bonus Demografi 2035 dan Visi Indonesia Emas 2045 Kompetensi masa depan PM sebagai solusi mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua
  • 3.
    Pembelajaran Mendalam (PM) 7 “PembelajaranMendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan ( joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu“. (Puskurjar;2025)
  • 4.
    Konsep Ki HadjarDewantara jika dikaitkan dengan pembelajaran mendalam : 1.Siswa sebagai pusat pembelajaran: Keduanya mengutamakan kebutuhan dan karakter siswa, dengan pendekatan yang relevan dan memfasilitasi eksplorasi pribadi. 2.Pembelajaran kontekstual: Menekankan pentingnya menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata agar lebih bermakna. 3.Karakter dan kolaborasi: Fokus pada pengembangan karakter siswa dan kolaborasi antar siswa untuk memperdalam pemahaman. 4.Refleksi dan kesadaran: Keduanya mendorong siswa untuk lebih sadar dan reflektif dalam proses belajar.
  • 5.
    Thich Nhat Hanh(Mindfulness in Education) •Pendekatan: Mindful •Karya: Planting Seeds: Practicing Mindfulness with Children (2011) •Relevansi: Menekankan pentingnya perhatian penuh (mindfulness) dalam pendidikan untuk membantu siswa terhubung dengan pengalaman belajar mereka. Marton Ference dan Roger Säljö ((Surface and Deep Learning) •Pendekatan: Mindful •Karya: Learning and Awareness (1997) •Relevansi: Mereka membahas konsep pembelajaran dalam yang melibatkan kesadaran penuh (mindfulness) terhadap apa yang dipelajari, sehingga siswa memahami makna yang lebih mendalam. TOKOH-TOKOH PENGEMBANG KONSEP MINDFUL, JOYFUL & MEANINGFUL
  • 6.
    George Siemens danStephen Downes (Connectivism) •Pendekatan: Mindful dan Meaningful •Karya: Connectivism: A Learning Theory for the Digital Age (2005) •Relevansi: Mereka mengembangkan teori konektivisme, yang menekankan hubungan antarpengetahuan dan membuat pembelajaran lebih relevan dengan pengalaman siswa di era digital. John Hattie (Visible Learning) •Pendekatan: Meaningful •Karya: Visible Learning for Teachers: Maximizing Impact on Learning (2012) •Relevansi: Hattie menyoroti pentingnya umpan balik dan tujuan pembelajaran yang jelas untuk membantu siswa memahami relevansi materi yang dipelajari. Michael Fullan (Deep Learning Framework) •Pendekatan: Meaningful •Karya: Leading in a Culture of Change (2001) •Relevansi: Fullan menghubungkan pembelajaran dengan tujuan yang lebih besar, seperti membangun keterampilan untuk menghadapi tantangan nyata di dunia, yang membuat pembelajaran lebih bermakna.
  • 7.
    David Kolb (ExperientialLearning) •Pendekatan: Meaningful •Karya: Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development (1984) •Relevansi: Kolb mengembangkan model pembelajaran pengalaman (experiential learning) yang menekankan keterlibatan langsung siswa dalam proses belajar untuk memastikan relevansi dan makna. Ken Bain (What the Best College Teachers Do) •Pendekatan: Joyful dan Meaningful •Karya: What the Best College Teachers Do (2004) •Relevansi: Ken Bain menekankan bagaimana pengajar yang hebat menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan (joyful) dengan mendorong rasa ingin tahu siswa dan membuat pembelajaran relevan secara pribadi (meaningful). Eric Jensen(Brain-Based Learning) •Pendekatan: Mindful •Karya: Teaching with the Brain in Mind (2005) •Relevansi: Eric Jensen menekankan pentingnya memanfaatkan pemahaman tentang otak dalam merancang pembelajaran, termasuk melibatkan perhatian penuh (mindfulness) untuk membantu siswa mengelola stres dan meningkatkan fokus belajar.
  • 8.
    Pembelajaran Mendalam Olah Pikir Olah Hati Olah Rasa mewujudkan Profil Lulusan (8 Dimensi) PembelajaranMendalam sebagai Solusi Olah Raga Berkesadara n Bermakn a Menggembiraka n Puskurjar 2025
  • 9.
    KERANGKA KERJA PEMBELAJARANMENDALAM Puskurjar 2025
  • 10.
    Kerangka Pembelajaran •Praktik Pedagogis Strategimengajar yang dipilih guru untuk mencapai tujuan belajar dalam mencapai dimensi profil lulusan. Untuk mewujudkan pembelajaran mendalam guru berfokus pada pengalaman belajar peserta didik yang autentik, mengutamakan praktik nyata, mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi dan kolaborasi. •Pemanfaatan Teknologi Digital Pemanfaatan teknologi digital juga memegang peran penting sebagai katalisator untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan kontekstual. Tersedianya beragam sumber belajar menjadi peluang menciptakan pengetahuan bermakna pada peserta didik. Lingkungan Pembelajaran Lingkungan pembelajaran menekankan integrasi antara ruang fisik, ruang virtual, dan budaya belajar untuk mendukung pembelajaran mendalam. Ruang fisik dan virtual dirancang fleksibel sebagai tempat yang mendorong kolaborasi, refleksi, eksplorasi, dan berbagi ide, sehingga dapat mengakomodasi berbagai gaya belajar peserta didik dengan optimal. Kemitraan Pembelajaran Kemitraan pembelajaran (learning partnerships) membentuk hubungan yang dinamis antara guru, peserta didik, orang tua, komunitas, dan mitra profesional. Pendekatan ini memindahkan kontrol pembelajaran dari guru saja menjadi kolaborasi bersama. 21 Puskurjar 2025
  • 11.
    Pengalaman Belajar Memahami Tahap awalpeserta didik untuk aktif mengkonstruksi pengetahuan agar dapat memahami secara mendalam konsep atau materi dari berbagai sumber dan konteks. Pengetahuan pada fase ini terdiri dari pengetahuan esensial (foundational knowledge), pengetahuan aplikatif (applied knowledge), dan pengetahuan nilai dan karakter (humanistic knowledge). Mengaplikasi Pengalaman belajar yang menunjukan aktivitas peserta didik mengaplikasi pengetahuan dalam kehidupan secara kontekstual. Pengetahuan yang diperoleh oleh peserta didik melalui pendalaman pengetahuan (extending knowledge). Merefleksi Proses di mana peserta didik mengevaluasi dan memaknai proses serta hasil dari tindakan atau praktik nyata yang telah mereka lakukan. Tahap refleksi melibatkan regulasi diri (self regulation) sebagai kemampuan individu untuk mengelola proses belajarnya secara mandiri, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap cara belajar mereka. Puskurjar 2025
  • 12.
    Berkesadaran Pengalaman belajar peserta didikyang diperoleh ketika mereka memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri. Peserta didik memahami tujuan pembelajaran, termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan. Bermakna Peserta didik dapat menerapkan pengetahuannya ke dalam situasi nyata. Proses belajar peserta didik tidak hanya sebatas memahami informasi/ penguasaan konten, namun berorientasi pada kemampuan mengaplikasi pengetahuan. Menggembirakan Pembelajaran yang menggembirakan merupakan suasana belajar yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu peserta didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan. 16 Prinsip Pembelajaran Puskurjar 2025
  • 13.
    8 Dimensi Profil Lulusan 1. Keimanan danKetakwaan terhadap Tuhan YME Individu yang memiliki keyakinan teguh akan keberadaan Tuhan serta menghayati nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. 3. Penalaran Kritis Individu yang mampu berpikir secara logis, analitis, dan reflektif dalam memahami, mengevaluasi, serta memproses informasi untuk menyelesaikan masalah. 2. Kewargaan Individu yang memiliki rasa cinta tanah air , mentaati aturan dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat, memiliki kepedulian, tanggungjawab sosial, serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nyata yang terkait keberlanjutan manusia dan lingkungan. 4. Kreativitas Individu yang mampu berpikir secara inovatif, fleksibel, dan orisinal dalam mengolah ide atau informasi untuk menciptakan solusi yang unik dan bermanfaat. 5. Kolaborasi Individu yang mampu bekerja sama secara efektif dengan orang lain secara gotong royong untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian peran dan tanggung jawab. 6. Kemandirian Individu yang mampu bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya sendiri dengan menunjukkan kemampuan untuk mengambil inisiatif, mengatasi hambatan, dan menyelesaikan tugas secara tepat tanpa bergantung pada orang lain. 7. Kesehatan Individu yang memiliki fisik yang prima, bugar, sehat, dan mampu menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin (well-being). 8. Komunikasi Individu yang memiliki kemampuan komunikasi intrapribadi untuk melakukan refleksi dan antarpribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan informasi baik lisan maupun tulisan serta berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi.
  • 14.
    Benjamin Bloom (TaksonomiBloom) •Pendekatan: Meaningful •Karya: Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals (1956) •Relevansi: Taksonomi Bloom mendorong pembelajaran mendalam dengan fokus pada analisis, sintesis, dan evaluasi, yang membuat pembelajaran lebih bermakna. John Biggs & Kevin Collis (Taxonomi SOLO = Structure of the Observed Learning Outcome). • Pendekatan: Meaningful • Karya: Teaching for Quality Learning at University (1999) • Relevansi:Pendekatan Constructive Alignment dari John Biggs mendorong pembelajaran bermakna dengan memastikan keselarasan antara tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, dan penilaian. TAXONOMI SOLO dan TAXONOMI BLOOM
  • 15.
    Taksonomi SOLO terdiridari lima tingkat pemahaman: 1.Prestruktural: Siswa belum memahami materi. Jawaban yang diberikan tidak relevan atau tidak sesuai dengan konteks. Contoh: "Saya tidak tahu apa-apa tentang ini.“ 2. Unistruktural: Siswa memahami satu aspek materi; respons sederhana, tetapi pemahaman ini terbatas. Contoh: "Kucing adalah hewan.“ 3. Multistruktural: Siswa memahami beberapa aspek dari materi, tetapi belum mampu mengintegrasikan informasi tersebut. Contoh: "Kucing adalah hewan yang punya ekor, telinga, dan berbulu."
  • 16.
    4. Relasional: Siswa mampumengintegrasikan berbagai aspek menjadi satu kesatuan pemahaman yang bermakna. Contoh: "Kucing adalah hewan peliharaan yang memiliki ekor, telinga, dan berbulu. Mereka hidup di rumah bersama manusia dan membutuhkan makanan serta perawatan.“ 5. Abstrak Diperluas: Siswa dapat membuat generalisasi dan mengaitkan materi dengan konteks yang lebih luas atau abstrak. Contoh: "Kucing adalah contoh spesies mamalia yang beradaptasi hidup bersama manusia. Ini menunjukkan hubungan simbiosis antara spesies."
  • 17.
    Tingkatan Taksonomi Bloom(Revisi): Taksonomi Bloom yang direvisi oleh Lorin Anderson dan David Krathwohl: 1.Mengingat (Remembering) • Mengingat fakta atau informasi dasar. • Contoh: Menyebutkan nama ibu kota, menghafal tabel periodik. 2.Memahami (Understanding) • Menjelaskan ide atau konsep. • Contoh: Menerjemahkan paragraf, menjelaskan diagram. 3.Menerapkan (Applying) • Menggunakan informasi dalam situasi baru. • Contoh: Menggunakan rumus matematika untuk memecahkan masalah nyata. 4.Menganalisis (Analyzing) • Memecah informasi menjadi bagian-bagian dan memahami bagaimana bagian tersebut saling berhubungan. • Contoh: Menganalisis argumen dalam esai, membedah struktur cerita. 5.Mengevaluasi (Evaluating) • Menilai atau membuat keputusan berdasarkan kriteria tertentu. • Contoh: Memberikan kritik konstruktif pada karya seni, mengevaluasi solusi masalah. 6.Mencipta (Creating) • Menggabungkan elemen-elemen untuk membentuk sesuatu yang baru atau orisinal. • Contoh: Merancang eksperimen ilmiah, menulis cerita pendek.
  • 18.
    Perbandingan Taksonomi Bloomdan SOLO •Taksonomi Bloom fokus pada tingkat keterampilan kognitif yang diharapkan siswa capai. •Taksonomi SOLO fokus pada kualitas dan kompleksitas respons siswa terhadap tugas tertentu.
  • 19.
    Taksonomi SOLO danBloom dalam Pembelajaran Mendalam Tingkat Pembelajaran Taksonomi SOLO Taksonomi Bloom Pengalaman Belajar PM Deskripsi Unggul (Excellence) Pembelajaran Mendalam Berpikir Abstrak yang Mendalam • Mencipta • Mengevaluasi Merefleksi Memperluas dan menerapkan ide Cakap (Secure ) Relasional • Menganalisis • Menerapkan Mengaplikasi Menghubungkan ide-ide Berkembang (Developing) Pembelajaran Dasar Multistruktural Memahami Memahami Memiliki banyak ide Dasar (Foundation) Unistruktural Mengingat Mengingat kembali Belum Berkembang (Incompetence) Prastruktural Puskurjar 2025
  • 20.
  • 21.
    Transformasi Peran Gurudalam Ekosistem PM Guru sebagai Activator Guru sebagai Collaborator Guru sebagai Culture Builder Peran guru yang berubah di ekosistem pembelajaran mendalam. Sebelumnya, guru berada di posisi terbawah, dengan arahan dari pemerintah pusat , pemerintah daerah dan kepala sekolah. (Diagram kiri) Dalam transformasi peran guru dalam ekosistem PM: guru menjadi pusat ekosistem, mendukung dan bekerja sama dengan kepala sekolah, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat. Puskurjar 2025
  • 22.