New Product Development from Inactive Problem Perspective in
Indonesian SMEs to Open Innovation
Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity
Vol. 6 Halaman 1-20 (2020)
Penulis: Rony Prabowo, Moses Laksono Singgih, Putu Dana Karningsih, Erwin Widodo
Reviewer: M. FADLI
Abstrak
Pengembangan produk baru merupakan inovasi penting yang harus dilakukan untuk memenuhi tren baru
konsumen. Jurnal ini membahas pengembangan produk baru melalui perspektif masalah tidak aktif pada UKM
(Usaha Kecil Menengah) di Indonesia sebagai cara untuk mengeksplorasi harapan pelanggan, yang seringkali
sulit untuk dianalisis. Kemampuan untuk mengembangkan produk baru berdasarkan perspektif masalah tidak
aktif memungkinkan UKM menjadi pelopor yang memiliki berbagai keunggulan kompetitif, termasuk kesadaran
merek yang kuat. Penelitian ini mencakup 14 sampel UKM untuk mewakili karakteristik UKM di Indonesia
antara tahun 2016 dan 2018. Tulisan ini merupakan tulisan pertama yang membahas tentang hubungan
antara biaya ide dan biaya produksi pada jenis-jenis UKM dengan perspektif masalah tidak aktif di Indonesia
untuk memperoleh laba yang maksimal dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi biaya dan
pendapatan UKM. Tulisan ini juga menganalisis biaya yang digunakan untuk merealisasikan sebuah ide agar
memperoleh laba yang maksimal. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada setiap jenis UKM, dan
perbedaan tersebut terkait dengan besarnya dana yang digunakan untuk mengeksplorasi, merealisasikan, dan
menghasilkan laba dari sebuah ide tertentu.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pada setiap jenis UKM terkait
dengan besarnya dana yang digunakan
Objek Penelitian
14 UKM manufaktur yang menjadi sampel penelitian ini berasal dari berbagai daerah
yang dianggap mampu mewakili UKM di Indonesia dalam penelitian.
Metode Penelitian
PSO (particle swarm optimization)
Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini memberikan kontribusi terhadap proses pengambilan keputusan sistem
manajemen terkait dengan pemanfaatan modal untuk pengembangan produk baru,
sehingga pengeluaran modal menjadi lebih efisien karena produk baru dapat dirancang
secara optimal untuk memperoleh keuntungan yang maksimal. Selain itu, penelitian ini
memberikan wawasan khusus bagi manajemen perusahaan terkait target produksi dan
penyerapan tenaga kerja yang produktif, serta minimum order melalui analisis PSO yang
dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor produksi.
Karakteristik UKM di Indonesia
Beberapa model inovasi terbuka yang dapat dikembangkan pada UKM di negara berkembang, khususnya di Indonesia
1. Kompetisi Ide: Dalam model ini, perlu diterapkan sistem yang mendorong persaingan antar kontributor untuk memberikan ide-ide
positif. Metode ini memberikan dampak positif bagi UKM untuk memperoleh ide-ide inovatif dengan akses murah dalam jumlah
besar sekaligus memberikan wawasan yang lebih mendalam terkait kebutuhan pelanggan.
2. Customer Immersion: Metode ini melibatkan interaksi pelanggan yang luas melalui karyawan UKM itu sendiri. Dengan demikian,
perusahaan dapat secara akurat menggabungkan masukan pelanggan sekaligus memungkinkan mereka untuk lebih terlibat dalam
proses desain dan manajemen siklus produk.
3. Jaringan Inovasi: Model ini terkait erat dengan kompetisi ide. UKM dapat memanfaatkan jaringan kontributor dalam proses desain
dengan menawarkan penghargaan tertentu dalam bentuk insentif inovasi. Jaringan kontributor digunakan untuk mengembangkan
solusi atas masalah yang diidentifikasi dalam proses pengembangan produk baru. Kemampuan UKM untuk memastikan penciptaan
nilai dalam inovasi terbuka dengan metode ini sangat dipengaruhi oleh jenis manajemen dan ukuran jaringan UKM.
4. Dalam bidang sains: Model inovasi ini memberikan tantangan kepada konsumen, pengguna, bahkan vendor untuk menyampaikan
ide-ide konsumen atau permasalahan konsumen, bahkan yang dianggap ekstrem atau sulit dipecahkan oleh UKM. Dengan
demikian, UKM dapat memacu karyawan untuk berusaha memenuhi permasalahan tersebut.
5. Platforming Produk: Dalam metode ini, UKM menyediakan kerangka kerja atau alat bagi kontributor ide untuk mengakses,
mengadaptasi, dan memanfaatkannya. Tujuannya adalah agar kontributor memfasilitasi transfer informasi dan mempercepat
peninjauan produk baru dengan mempertimbangkan banyak pihak.
6. Collaborative Product Design and Development: UKM dapat membuka inovasi dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti
perusahaan yang telah menghasilkan produk baru, pemasok, atau bahkan pesaing melalui apa yang disebut coopetition. Dengan
metode ini, UKM dapat melakukan penghematan dalam pengembangan produk baru, dan produk dapat dibuat atau dipasarkan
dengan cepat.
Hasil analisis data saat menggunakan PSO
Tabel tersebut menunjukkan nilai Xopt , yang mencerminkan ide-ide yang dapat dicapai dalam pengembangan produk baru, sedangkan
Fmax menunjukkan keuntungan yang dapat dicapai. UKM yang aktif telah mampu mengembangkan produk baru dengan dengan
menggunakan modal yang cukup sekitar Rp 50.000.000–750.000.000 untuk mengeksplorasi 8–10 ide. Dengan demikian, minimal
keuntungan yang diperoleh berkisar antara Rp 22.681.046 sampai dengan Rp 89.359.153.
• Pada UKM yang aktif, penggunaan modal lebih tinggi dari Rp 750.000.000 menyebabkan alokasi modal tidak efisien dan akibatnya
terjadi kelebihan produksi, kelebihan pasokan, dan pengadaan fasilitas yang tidak diperlukan. UKM yang dinamis telah mampu
mewujudkan ide-ide spesifik dalam pengembangan produk baru dengan menggunakan modal sekitar Rp 325.000.000 – Rp
1.150.000.000 untuk merealisasikan 6-8 rencana, sehingga menghasilkan minimal keuntungan antara Rp 145.723.582 sampai
dengan Rp 283.712.718.
• Pada UKM yang dinamis, penggunaan modal lebih tinggi lebih dari Rp 1.150.000.000 menyebabkan penggunaan dan alokasi modal
tidak efisien dalam bentuk promosi yang berlebihan, pemasaran yang berlebihan, perekrutan karyawan yang lebih banyak, dan
peningkatan biaya transportasi, tidak ada satupun yang sepenuhnya diperlukan.
• UKM yang sudah maju dapat merealisasikan idenya dengan mengeluarkan modal yang cukup sekitar Rp 400.000.000–
2.000.000.000 untuk 5–7 desain dan memperoleh keuntungan minimum sekitar Rp 265.772.572–398.507.295. Pada UKM yang
aktif, penggunaan modal di atas Rp 2.000.000.000 memicu terjadinya inefisiensi pemanfaatan dan alokasi modal dalam bentuk
pengadaan mesin yang tidak diperlukan, penggunaan tenaga kerja perekrutan, dan kelebihan pasokan bahan baku.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan pengaruh realisasi ide terhadap pengembangan produk baru, biaya, dan
perbedaan jumlah laba yang dapat diperoleh oleh masing-masing jenis UKM. Disarankan untuk
menggunakan metode masalah aktif karena penggunaan metode tidak aktif, pada titik ini, menurunkan
laba dan mengarah pada kerugian finansial karena penggunaan dana yang tidak efektif. Oleh karena itu,
metode yang paling tepat bagi UKM aktif dalam pengembangan produk baru dan peningkatan laba
adalah alokasi modal untuk mempekerjakan lebih banyak karyawan dan pengadaan mesin produksi.
Strategi ini dianggap sesuai dengan karakteristik UKM aktif, karena mereka perlu fokus pada
pengendalian kualitas produksi dan kualitas produk, yang keduanya dapat diwujudkan dengan
mempekerjakan lebih banyak pekerja yang memahami kualitas produk dan mesin produksi.
Kekuatan Penelitian
Tulisan ini merupakan tulisan pertama yang membahas tentang hubungan antara biaya
ide dan biaya produksi pada jenisjenis UKM dengan perspektif masalah tidak aktif di
Indonesia untuk memperoleh laba yang maksimal dengan mempertimbangkan berbagai
faktor yang mempengaruhi biaya dan pendapatan UKM.
Kelemahan Penelitian
Studi ini menemukan kelemahan algoritma PSO, karena algoritma ini hanya dapat
memberikan solusi dengan membandingkan solusi yang dipilihnya dengan solusi lain
dalam periode literasi.
TERIMAKASIH

New Product Development from Inactive Problem

  • 1.
    New Product Developmentfrom Inactive Problem Perspective in Indonesian SMEs to Open Innovation Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity Vol. 6 Halaman 1-20 (2020) Penulis: Rony Prabowo, Moses Laksono Singgih, Putu Dana Karningsih, Erwin Widodo Reviewer: M. FADLI
  • 2.
    Abstrak Pengembangan produk barumerupakan inovasi penting yang harus dilakukan untuk memenuhi tren baru konsumen. Jurnal ini membahas pengembangan produk baru melalui perspektif masalah tidak aktif pada UKM (Usaha Kecil Menengah) di Indonesia sebagai cara untuk mengeksplorasi harapan pelanggan, yang seringkali sulit untuk dianalisis. Kemampuan untuk mengembangkan produk baru berdasarkan perspektif masalah tidak aktif memungkinkan UKM menjadi pelopor yang memiliki berbagai keunggulan kompetitif, termasuk kesadaran merek yang kuat. Penelitian ini mencakup 14 sampel UKM untuk mewakili karakteristik UKM di Indonesia antara tahun 2016 dan 2018. Tulisan ini merupakan tulisan pertama yang membahas tentang hubungan antara biaya ide dan biaya produksi pada jenis-jenis UKM dengan perspektif masalah tidak aktif di Indonesia untuk memperoleh laba yang maksimal dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi biaya dan pendapatan UKM. Tulisan ini juga menganalisis biaya yang digunakan untuk merealisasikan sebuah ide agar memperoleh laba yang maksimal. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada setiap jenis UKM, dan perbedaan tersebut terkait dengan besarnya dana yang digunakan untuk mengeksplorasi, merealisasikan, dan menghasilkan laba dari sebuah ide tertentu.
  • 3.
    Tujuan Penelitian Penelitian inibertujuan untuk mengetahui perbedaan pada setiap jenis UKM terkait dengan besarnya dana yang digunakan Objek Penelitian 14 UKM manufaktur yang menjadi sampel penelitian ini berasal dari berbagai daerah yang dianggap mampu mewakili UKM di Indonesia dalam penelitian. Metode Penelitian PSO (particle swarm optimization)
  • 4.
    Hasil Penelitian Hasil penelitianini memberikan kontribusi terhadap proses pengambilan keputusan sistem manajemen terkait dengan pemanfaatan modal untuk pengembangan produk baru, sehingga pengeluaran modal menjadi lebih efisien karena produk baru dapat dirancang secara optimal untuk memperoleh keuntungan yang maksimal. Selain itu, penelitian ini memberikan wawasan khusus bagi manajemen perusahaan terkait target produksi dan penyerapan tenaga kerja yang produktif, serta minimum order melalui analisis PSO yang dapat digunakan untuk menganalisis faktor-faktor produksi.
  • 5.
  • 6.
    Beberapa model inovasiterbuka yang dapat dikembangkan pada UKM di negara berkembang, khususnya di Indonesia 1. Kompetisi Ide: Dalam model ini, perlu diterapkan sistem yang mendorong persaingan antar kontributor untuk memberikan ide-ide positif. Metode ini memberikan dampak positif bagi UKM untuk memperoleh ide-ide inovatif dengan akses murah dalam jumlah besar sekaligus memberikan wawasan yang lebih mendalam terkait kebutuhan pelanggan. 2. Customer Immersion: Metode ini melibatkan interaksi pelanggan yang luas melalui karyawan UKM itu sendiri. Dengan demikian, perusahaan dapat secara akurat menggabungkan masukan pelanggan sekaligus memungkinkan mereka untuk lebih terlibat dalam proses desain dan manajemen siklus produk. 3. Jaringan Inovasi: Model ini terkait erat dengan kompetisi ide. UKM dapat memanfaatkan jaringan kontributor dalam proses desain dengan menawarkan penghargaan tertentu dalam bentuk insentif inovasi. Jaringan kontributor digunakan untuk mengembangkan solusi atas masalah yang diidentifikasi dalam proses pengembangan produk baru. Kemampuan UKM untuk memastikan penciptaan nilai dalam inovasi terbuka dengan metode ini sangat dipengaruhi oleh jenis manajemen dan ukuran jaringan UKM. 4. Dalam bidang sains: Model inovasi ini memberikan tantangan kepada konsumen, pengguna, bahkan vendor untuk menyampaikan ide-ide konsumen atau permasalahan konsumen, bahkan yang dianggap ekstrem atau sulit dipecahkan oleh UKM. Dengan demikian, UKM dapat memacu karyawan untuk berusaha memenuhi permasalahan tersebut. 5. Platforming Produk: Dalam metode ini, UKM menyediakan kerangka kerja atau alat bagi kontributor ide untuk mengakses, mengadaptasi, dan memanfaatkannya. Tujuannya adalah agar kontributor memfasilitasi transfer informasi dan mempercepat peninjauan produk baru dengan mempertimbangkan banyak pihak. 6. Collaborative Product Design and Development: UKM dapat membuka inovasi dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti perusahaan yang telah menghasilkan produk baru, pemasok, atau bahkan pesaing melalui apa yang disebut coopetition. Dengan metode ini, UKM dapat melakukan penghematan dalam pengembangan produk baru, dan produk dapat dibuat atau dipasarkan dengan cepat.
  • 7.
    Hasil analisis datasaat menggunakan PSO Tabel tersebut menunjukkan nilai Xopt , yang mencerminkan ide-ide yang dapat dicapai dalam pengembangan produk baru, sedangkan Fmax menunjukkan keuntungan yang dapat dicapai. UKM yang aktif telah mampu mengembangkan produk baru dengan dengan menggunakan modal yang cukup sekitar Rp 50.000.000–750.000.000 untuk mengeksplorasi 8–10 ide. Dengan demikian, minimal keuntungan yang diperoleh berkisar antara Rp 22.681.046 sampai dengan Rp 89.359.153. • Pada UKM yang aktif, penggunaan modal lebih tinggi dari Rp 750.000.000 menyebabkan alokasi modal tidak efisien dan akibatnya terjadi kelebihan produksi, kelebihan pasokan, dan pengadaan fasilitas yang tidak diperlukan. UKM yang dinamis telah mampu mewujudkan ide-ide spesifik dalam pengembangan produk baru dengan menggunakan modal sekitar Rp 325.000.000 – Rp 1.150.000.000 untuk merealisasikan 6-8 rencana, sehingga menghasilkan minimal keuntungan antara Rp 145.723.582 sampai dengan Rp 283.712.718. • Pada UKM yang dinamis, penggunaan modal lebih tinggi lebih dari Rp 1.150.000.000 menyebabkan penggunaan dan alokasi modal tidak efisien dalam bentuk promosi yang berlebihan, pemasaran yang berlebihan, perekrutan karyawan yang lebih banyak, dan peningkatan biaya transportasi, tidak ada satupun yang sepenuhnya diperlukan. • UKM yang sudah maju dapat merealisasikan idenya dengan mengeluarkan modal yang cukup sekitar Rp 400.000.000– 2.000.000.000 untuk 5–7 desain dan memperoleh keuntungan minimum sekitar Rp 265.772.572–398.507.295. Pada UKM yang aktif, penggunaan modal di atas Rp 2.000.000.000 memicu terjadinya inefisiensi pemanfaatan dan alokasi modal dalam bentuk pengadaan mesin yang tidak diperlukan, penggunaan tenaga kerja perekrutan, dan kelebihan pasokan bahan baku.
  • 8.
    Kesimpulan Penelitian ini menunjukkanpengaruh realisasi ide terhadap pengembangan produk baru, biaya, dan perbedaan jumlah laba yang dapat diperoleh oleh masing-masing jenis UKM. Disarankan untuk menggunakan metode masalah aktif karena penggunaan metode tidak aktif, pada titik ini, menurunkan laba dan mengarah pada kerugian finansial karena penggunaan dana yang tidak efektif. Oleh karena itu, metode yang paling tepat bagi UKM aktif dalam pengembangan produk baru dan peningkatan laba adalah alokasi modal untuk mempekerjakan lebih banyak karyawan dan pengadaan mesin produksi. Strategi ini dianggap sesuai dengan karakteristik UKM aktif, karena mereka perlu fokus pada pengendalian kualitas produksi dan kualitas produk, yang keduanya dapat diwujudkan dengan mempekerjakan lebih banyak pekerja yang memahami kualitas produk dan mesin produksi.
  • 9.
    Kekuatan Penelitian Tulisan inimerupakan tulisan pertama yang membahas tentang hubungan antara biaya ide dan biaya produksi pada jenisjenis UKM dengan perspektif masalah tidak aktif di Indonesia untuk memperoleh laba yang maksimal dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi biaya dan pendapatan UKM. Kelemahan Penelitian Studi ini menemukan kelemahan algoritma PSO, karena algoritma ini hanya dapat memberikan solusi dengan membandingkan solusi yang dipilihnya dengan solusi lain dalam periode literasi.
  • 10.