Kepentingan Indonesia dalam Tata Kelola
Penerbangan Internasional
Dr. Maizar Radjin
KONEKTIVITAS UDARA GLOBAL
DAN PERLINDUNGAN
CONTENTS
ICAO ANNEXES (LAMPIRAN TEKNIS CHICAGO
CONVENTION)
CONVENTION ON INTERNATIONAL CIVIL AVIATION
(CHICAGO CONVENTION) 1944
CONVENTION FOR THE UNIFICATION OF CERTAIN RULES
FOR INTERNATIONAL CARRIAGE BY AIR (MONTREAL
CONVENTION) 1999
CONVENTION ON OFFENCES AND CERTAIN OTHER
ACTS COMMITTED ON BOARD AIRCRAFT (TOKYO
CONVENTION) 1963
CAPE TOWN CONVENTION ON INTERNATIONAL
INTERESTS IN MOBILE EQUIPMENT (2001)
2.
4.
5.
3.
1.
2
Convention on International
Civil Aviation (Chicago
Convention) 1944
01
PRINSIP KEDAULATAN NEGARA
ATAS WILAYAH UDARA
Setiap negara berdaulat penuh atas ruang udara
di atas wilayah daratan dan laut teritorialnya.
Melarang penerbangan lintas tanpa izin.
Menegaskan hak setiap negara mengatur
penerbangan domestik dan internasional.
HAK KEBEBASAN UDARA (FREEDOMS
OF THE AIR)
Mengatur hak lalu lintas udara
internasional.
Dinegosiasikan dalam perjanjian
bilateral/multilateral.
PEMBENTUKAN ICAO
ICAO didirikan sebagai badan khusus PBB.
Mengatur keselamatan, keamanan, efisiensi, dan
keteraturan penerbangan sipil internasional.
Menyusun standar dan rekomendasi (SARPs) yang
menjadi rujukan global.
LAMPIRAN TEKNIS (ANNEXES)
Memiliki 19 Annex yang mencakup
berbagai aspek penerbangan.
REGISTRASI DAN KEBANGSAAN
PESAWAT
Setiap pesawat wajib didaftarkan di suatu negara
(state of registry).
Hanya boleh memiliki satu kebangsaan.
Negara pendaftar bertanggung jawab atas
pemeliharaan keselamatan, sertifikasi, dan
pengawasan pesawat tersebut.
Pokok Substansi
4
Chicago Convention menjadi fondasi hukum
utama penerbangan sipil Indonesia.
LANDASAN HUKUM PENERBANGAN
INTERNASIONAL
01
Hak lalu lintas udara untuk Garuda Indonesia, Lion Air,
dan Saudia dinegosiasikan berdasarkan prinsip Chicago
Convention.
NEGOSIASI PENERBANGAN HAJI DAN
UMRAH
02
ICAO melalui USOAP mengaudit keselamatan
penerbangan Indonesia.
Mendorong peningkatan standar di bandara Soekarno-
Hatta, Kualanamu, hingga Sultan Hasanuddin.
SERTIFIKASI BANDARA DAN MASKAPAI
NASIONAL
03
Indonesia pernah masuk EU Safety Blacklist.
Reformasi penerbangan mengacu Chicago Convention
membantu Indonesia keluar dari daftar tersebut.
PENCEGAHAN BLACKLIST EROPA/FAA
04
Kepatuhan pada aturan ICAO memudahkan
maskapai Indonesia membuka rute
internasional baru.
PENINGKATAN DAYA SAING MASKAPAI
NASIONAL
05
Relevansi bagi Indonesia
5
Kasus Blacklist Uni Eropa
(2007–2009)
01.
Hampir semua maskapai Indonesia
dilarang terbang ke Eropa karena
dinilai tidak memenuhi standar
ICAO.
Setelah reformasi besar di
Kemenhub, larangan ini dicabut
bertahap hingga 2018.
Audit ICAO 2017
02.
Indonesia berhasil meningkatkan
Effective Implementation menjadi
81,15%.
Negosiasi Slot Penerbangan
Haji
03.
Proses ini didasarkan pada prinsip
Chicago Convention dan perjanjian
bilateral.
Contoh Penerapan/Kasus
6
ICAO Annexes (Lampiran
Teknis Chicago Convention)
02
Terdapat 19 Annex
yang mengatur
standar dan
rekomendasi (SARPs)
untuk seluruh aspek
penerbangan
internasional.
Jumlah dan Ruang
Lingkup Annexes
Mengatur standar
operasi pesawat.
Annex 6 – Operation of
Aircraft
Mengatur prosedur
imigrasi, karantina,
bea cukai, dan
pelayanan
penumpang.
Annex 9 –
Facilitation
Menetapkan standar
perlindungan
penerbangan sipil
dari tindakan
melawan hukum.
Annex 17 –
Security
Mengatur
pengangkutan
bahan berbahaya
melalui udara.
Annex 18 – The Safe Transport
of Dangerous Goods by Air
Pokok Substansi
8
03.
01. 02.
04. 05.
PENINGKATAN STANDAR
KESELAMATAN PENERBANGAN
Maskapai Indonesia wajib mematuhi
Annex 6.
PENGATURAN BARANG BERBAHAYA
DI PESAWAT
Annex 18 mencegah insiden akibat
bahan berbahaya.
KELANCARAN PERJALANAN JAMAAH
HAJI DAN UMRAH
Annex 9 sangat krusial dalam konteks
Indonesia–Arab Saudi.
AUDIT ICAO DAN REPUTASI GLOBAL
Kepatuhan Indonesia terhadap ICAO
Annexes tercermin dalam hasil audit
USOAP.
PENGUATAN KEAMANAN BANDARA
NASIONAL
Dengan Annex 17, bandara utama
meningkatkan sistem keamanan.
Relevansi bagi Indonesia
9
Insiden pembajakan Garuda GA 206 menjadi pelajaran penting
bagi Indonesia.
Kasus Pembajakan Woyla (1981)
Skor Effective Implementation Indonesia meningkat setelah
perbaikan besar mengikuti Annex ICAO.
Audit ICAO 2017
Investigasi menunjukkan pentingnya implementasi Annex 6
tentang operasi pesawat.
Kasus Lion Air JT 610 (2018)
Contoh Penerapan/Kasus
10
Convention on Offences and Certain
Other Acts Committed on Board
Aircraft (Tokyo Convention) 1963
03
YURISDIKSI NEGARA PENDAFTARAN
PESAWAT
Tindak pidana atau gangguan keamanan
yang terjadi di atas pesawat tunduk pada
yurisdiksi negara tempat pesawat tersebut
terdaftar.
DEFINISI TINDAK PIDANA DI UDARA
Termasuk tindakan yang membahayakan
keselamatan penerbangan, kekerasan
terhadap awak atau penumpang,
penghancuran peralatan pesawat, hingga
pengabaian instruksi keamanan oleh
kapten.
KEWENANGAN KAPTEN PESAWAT
Kapten memiliki kewenangan untuk
mengambil tindakan yang diperlukan
terhadap penumpang yang
membahayakan keselamatan pesawat
atau orang di dalamnya.
KOORDINASI INTERNASIONAL
Tokyo Convention mendorong kerja
sama antarnegara dalam
menangani kejahatan di udara.
TANGGUNG JAWAB NEGARA
ANGGOTA
Negara pihak konvensi wajib menerima
kembali pesawat yang terdaftar pada
mereka dan bekerja sama dalam
penanganan tindak pidana di udara.
Pokok Substansi
12
Perlindungan Awak
dan Penumpang
Kapten dan awak memiliki
legitimasi internasional untuk
mengendalikan penumpang
yang membahayakan.
Kepastian Hukum di
Rute Internasional
Tokyo Convention
memastikan bahwa yurisdiksi
tetap berada pada negara
registrasi.
Dasar Hukum
Penindakan Kasus di
Pesawat Garuda
Jika terjadi tindak pidana di
pesawat Garuda Indonesia
yang sedang terbang
internasional, yurisdiksi
Indonesia berlaku penuh
berdasarkan Tokyo
Convention.
Perlindungan Reputasi
Maskapai Nasional
Kepatuhan terhadap Tokyo
Convention membuat
maskapai Indonesia
dipandang profesional.
Relevansi bagi Indonesia
13
Insiden ini menunjukkan pentingnya
kerangka hukum internasional dalam
menangani pembajakan.
KASUS PEMBAJAKAN GARUDA GA
206 (WOYLA, 1981)
Kapten berhak mengikat atau
menahan sementara penumpang
tersebut hingga pesawat mendarat.
KASUS PENUMPANG MABUK DI
PENERBANGAN INTERNASIONAL
Berdasarkan Tokyo Convention, hal itu termasuk
tindak pidana serius karena membahayakan
keselamatan penerbangan.
KASUS ANCAMAN BOM PALSU
Contoh Penerapan/Kasus
14
Convention for the Unification of Certain
Rules for International Carriage by Air
(Montreal Convention) 1999
04
TANGGUNG JAWAB
MASKAPAI TERHADAP
PENUMPANG
Maskapai bertanggung jawab
atas cedera atau kematian
penumpang yang terjadi
selama penerbangan.
KOMPENSASI KEHILANGAN
ATAU KERUSAKAN BAGASI
Maskapai bertanggung jawab atas
kehilangan, kerusakan, atau
keterlambatan bagasi terdaftar.
KESERAGAMAN PROSEDUR
KLAIM
Konvensi menyatukan aturan
internasional mengenai
tanggung jawab maskapai.
TANGGUNG JAWAB
TERHADAP KARGO
Maskapai bertanggung jawab atas
kerusakan, kehilangan, atau
keterlambatan pengiriman kargo.
ATURAN TENTANG
PENUNDAAN
PENERBANGAN
Maskapai dapat dimintai
pertanggungjawaban jika terjadi
penundaan yang menyebabkan
kerugian finansial bagi penumpang.
Pokok Substansi
16
Perlindungan Konsumen Penerbangan
Penumpang Indonesia yang bepergian internasional memiliki hak
hukum untuk mendapat kompensasi.
01.
Kepastian Hukum bagi Maskapai Nasional
Maskapai Indonesia memiliki aturan yang seragam dalam
menangani klaim internasional.
02.
Peningkatan Kepercayaan Penumpang
Masyarakat lebih percaya pada layanan maskapai nasional
karena hak- hak mereka diakui dan dilindungi hukum internasional.
03.
Standar Kompensasi Internasional
Indonesia bisa menghindari perbedaan aturan kompensasi
antarnegara.
04.
Daya Saing Maskapai di Pasar Global
Maskapai Indonesia lebih mudah menjalin kerja sama code- share
atau aliansi dengan maskapai asing.
05.
Relevansi bagi Indonesia
17
KECELAKAAN PESAWAT
Keluarga korban mendapat
kompensasi sesuai
Montreal Convention.
KEHILANGAN BAGASI DI
PENERBANGAN
INTERNASIONAL
Penumpang berhak atas
kompensasi maksimal
sekitar 1.288 SDR.
PENUNDAAN PENERBANGAN
HAJI
Jamaah dapat menuntut
kompensasi ke maskapai
dengan dasar hukum
Montreal Convention.
Contoh Penerapan/Kasus
18
Cape Town Convention on
International Interests in Mobile
Equipment (2001)
05
REGISTRASI GLOBAL
Setiap kepentingan atas pesawat dapat didaftarkan di International Registry
berbasis elektronik yang berlaku secara global.
JAMINAN INTERNASIONAL ATAS ASET BERGERAK
Menciptakan mekanisme hukum internasional untuk
memberikan jaminan atas aset bergerak bernilai tinggi.
PERLINDUNGAN KREDITUR
Kreditur dilindungi jika debitur gagal membayar.
PENGATURAN INSOLVENSI
Kreditur mendapat prioritas untuk mengambil kembali
atau menjual pesawat guna menutup pinjaman.
PROTOKOL PESAWAT UDARA (AIRCRAFT
PROTOCOL)
Menetapkan standar kontrak leasing, pembiayaan, dan
hak kepemilikan.
Pokok Substansi
20
MEMPERMUDAH LEASING PESAWAT
Proses leasing lebih cepat, murah, dan aman secara hukum.
MENGURANGI RISIKO KREDITUR
Lembaga pembiayaan internasional lebih percaya pada
maskapai Indonesia.
MENDORONG MODERNISASI ARMADA NASIONAL
Maskapai Indonesia bisa memperbarui armada dengan
pesawat generasi baru.
MENINGKATKAN DAYA SAING MASKAPAI NASIONAL
Maskapai Indonesia bisa bersaing dengan maskapai
regional.
KEPASTIAN HUKUM TRANSAKSI INTERNASIONAL
Sengketa pembiayaan pesawat dapat diselesaikan melalui
mekanisme Cape Town Convention.
Relevansi bagi Indonesia
21
LEASING BOEING 777 GARUDA INDONESIA
Garuda menggunakan mekanisme Cape Town
untuk memperoleh pesawat wide- body.
01
LION AIR & PEMBELIAN BOEING 737
Lion Air memanfaatkan proteksi Cape Town
dalam transaksi pembelian/leasing pesawat.
02
KASUS INSOLVENSI MASKAPAI
Kreditur internasional dapat menarik kembali
pesawat yang disewa sesuai aturan Cape Town.
03
Contoh Penerapan/Kasus
22
Thanks Dr. Maizar Radjin

Konektivitas Udara Global dan Perlindungan Kepentingan Indonesia dalam Tata Kelola Penerbangan Internasional.pdf

  • 1.
    Kepentingan Indonesia dalamTata Kelola Penerbangan Internasional Dr. Maizar Radjin KONEKTIVITAS UDARA GLOBAL DAN PERLINDUNGAN
  • 2.
    CONTENTS ICAO ANNEXES (LAMPIRANTEKNIS CHICAGO CONVENTION) CONVENTION ON INTERNATIONAL CIVIL AVIATION (CHICAGO CONVENTION) 1944 CONVENTION FOR THE UNIFICATION OF CERTAIN RULES FOR INTERNATIONAL CARRIAGE BY AIR (MONTREAL CONVENTION) 1999 CONVENTION ON OFFENCES AND CERTAIN OTHER ACTS COMMITTED ON BOARD AIRCRAFT (TOKYO CONVENTION) 1963 CAPE TOWN CONVENTION ON INTERNATIONAL INTERESTS IN MOBILE EQUIPMENT (2001) 2. 4. 5. 3. 1. 2
  • 3.
    Convention on International CivilAviation (Chicago Convention) 1944 01
  • 4.
    PRINSIP KEDAULATAN NEGARA ATASWILAYAH UDARA Setiap negara berdaulat penuh atas ruang udara di atas wilayah daratan dan laut teritorialnya. Melarang penerbangan lintas tanpa izin. Menegaskan hak setiap negara mengatur penerbangan domestik dan internasional. HAK KEBEBASAN UDARA (FREEDOMS OF THE AIR) Mengatur hak lalu lintas udara internasional. Dinegosiasikan dalam perjanjian bilateral/multilateral. PEMBENTUKAN ICAO ICAO didirikan sebagai badan khusus PBB. Mengatur keselamatan, keamanan, efisiensi, dan keteraturan penerbangan sipil internasional. Menyusun standar dan rekomendasi (SARPs) yang menjadi rujukan global. LAMPIRAN TEKNIS (ANNEXES) Memiliki 19 Annex yang mencakup berbagai aspek penerbangan. REGISTRASI DAN KEBANGSAAN PESAWAT Setiap pesawat wajib didaftarkan di suatu negara (state of registry). Hanya boleh memiliki satu kebangsaan. Negara pendaftar bertanggung jawab atas pemeliharaan keselamatan, sertifikasi, dan pengawasan pesawat tersebut. Pokok Substansi 4
  • 5.
    Chicago Convention menjadifondasi hukum utama penerbangan sipil Indonesia. LANDASAN HUKUM PENERBANGAN INTERNASIONAL 01 Hak lalu lintas udara untuk Garuda Indonesia, Lion Air, dan Saudia dinegosiasikan berdasarkan prinsip Chicago Convention. NEGOSIASI PENERBANGAN HAJI DAN UMRAH 02 ICAO melalui USOAP mengaudit keselamatan penerbangan Indonesia. Mendorong peningkatan standar di bandara Soekarno- Hatta, Kualanamu, hingga Sultan Hasanuddin. SERTIFIKASI BANDARA DAN MASKAPAI NASIONAL 03 Indonesia pernah masuk EU Safety Blacklist. Reformasi penerbangan mengacu Chicago Convention membantu Indonesia keluar dari daftar tersebut. PENCEGAHAN BLACKLIST EROPA/FAA 04 Kepatuhan pada aturan ICAO memudahkan maskapai Indonesia membuka rute internasional baru. PENINGKATAN DAYA SAING MASKAPAI NASIONAL 05 Relevansi bagi Indonesia 5
  • 6.
    Kasus Blacklist UniEropa (2007–2009) 01. Hampir semua maskapai Indonesia dilarang terbang ke Eropa karena dinilai tidak memenuhi standar ICAO. Setelah reformasi besar di Kemenhub, larangan ini dicabut bertahap hingga 2018. Audit ICAO 2017 02. Indonesia berhasil meningkatkan Effective Implementation menjadi 81,15%. Negosiasi Slot Penerbangan Haji 03. Proses ini didasarkan pada prinsip Chicago Convention dan perjanjian bilateral. Contoh Penerapan/Kasus 6
  • 7.
    ICAO Annexes (Lampiran TeknisChicago Convention) 02
  • 8.
    Terdapat 19 Annex yangmengatur standar dan rekomendasi (SARPs) untuk seluruh aspek penerbangan internasional. Jumlah dan Ruang Lingkup Annexes Mengatur standar operasi pesawat. Annex 6 – Operation of Aircraft Mengatur prosedur imigrasi, karantina, bea cukai, dan pelayanan penumpang. Annex 9 – Facilitation Menetapkan standar perlindungan penerbangan sipil dari tindakan melawan hukum. Annex 17 – Security Mengatur pengangkutan bahan berbahaya melalui udara. Annex 18 – The Safe Transport of Dangerous Goods by Air Pokok Substansi 8
  • 9.
    03. 01. 02. 04. 05. PENINGKATANSTANDAR KESELAMATAN PENERBANGAN Maskapai Indonesia wajib mematuhi Annex 6. PENGATURAN BARANG BERBAHAYA DI PESAWAT Annex 18 mencegah insiden akibat bahan berbahaya. KELANCARAN PERJALANAN JAMAAH HAJI DAN UMRAH Annex 9 sangat krusial dalam konteks Indonesia–Arab Saudi. AUDIT ICAO DAN REPUTASI GLOBAL Kepatuhan Indonesia terhadap ICAO Annexes tercermin dalam hasil audit USOAP. PENGUATAN KEAMANAN BANDARA NASIONAL Dengan Annex 17, bandara utama meningkatkan sistem keamanan. Relevansi bagi Indonesia 9
  • 10.
    Insiden pembajakan GarudaGA 206 menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Kasus Pembajakan Woyla (1981) Skor Effective Implementation Indonesia meningkat setelah perbaikan besar mengikuti Annex ICAO. Audit ICAO 2017 Investigasi menunjukkan pentingnya implementasi Annex 6 tentang operasi pesawat. Kasus Lion Air JT 610 (2018) Contoh Penerapan/Kasus 10
  • 11.
    Convention on Offencesand Certain Other Acts Committed on Board Aircraft (Tokyo Convention) 1963 03
  • 12.
    YURISDIKSI NEGARA PENDAFTARAN PESAWAT Tindakpidana atau gangguan keamanan yang terjadi di atas pesawat tunduk pada yurisdiksi negara tempat pesawat tersebut terdaftar. DEFINISI TINDAK PIDANA DI UDARA Termasuk tindakan yang membahayakan keselamatan penerbangan, kekerasan terhadap awak atau penumpang, penghancuran peralatan pesawat, hingga pengabaian instruksi keamanan oleh kapten. KEWENANGAN KAPTEN PESAWAT Kapten memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan yang diperlukan terhadap penumpang yang membahayakan keselamatan pesawat atau orang di dalamnya. KOORDINASI INTERNASIONAL Tokyo Convention mendorong kerja sama antarnegara dalam menangani kejahatan di udara. TANGGUNG JAWAB NEGARA ANGGOTA Negara pihak konvensi wajib menerima kembali pesawat yang terdaftar pada mereka dan bekerja sama dalam penanganan tindak pidana di udara. Pokok Substansi 12
  • 13.
    Perlindungan Awak dan Penumpang Kaptendan awak memiliki legitimasi internasional untuk mengendalikan penumpang yang membahayakan. Kepastian Hukum di Rute Internasional Tokyo Convention memastikan bahwa yurisdiksi tetap berada pada negara registrasi. Dasar Hukum Penindakan Kasus di Pesawat Garuda Jika terjadi tindak pidana di pesawat Garuda Indonesia yang sedang terbang internasional, yurisdiksi Indonesia berlaku penuh berdasarkan Tokyo Convention. Perlindungan Reputasi Maskapai Nasional Kepatuhan terhadap Tokyo Convention membuat maskapai Indonesia dipandang profesional. Relevansi bagi Indonesia 13
  • 14.
    Insiden ini menunjukkanpentingnya kerangka hukum internasional dalam menangani pembajakan. KASUS PEMBAJAKAN GARUDA GA 206 (WOYLA, 1981) Kapten berhak mengikat atau menahan sementara penumpang tersebut hingga pesawat mendarat. KASUS PENUMPANG MABUK DI PENERBANGAN INTERNASIONAL Berdasarkan Tokyo Convention, hal itu termasuk tindak pidana serius karena membahayakan keselamatan penerbangan. KASUS ANCAMAN BOM PALSU Contoh Penerapan/Kasus 14
  • 15.
    Convention for theUnification of Certain Rules for International Carriage by Air (Montreal Convention) 1999 04
  • 16.
    TANGGUNG JAWAB MASKAPAI TERHADAP PENUMPANG Maskapaibertanggung jawab atas cedera atau kematian penumpang yang terjadi selama penerbangan. KOMPENSASI KEHILANGAN ATAU KERUSAKAN BAGASI Maskapai bertanggung jawab atas kehilangan, kerusakan, atau keterlambatan bagasi terdaftar. KESERAGAMAN PROSEDUR KLAIM Konvensi menyatukan aturan internasional mengenai tanggung jawab maskapai. TANGGUNG JAWAB TERHADAP KARGO Maskapai bertanggung jawab atas kerusakan, kehilangan, atau keterlambatan pengiriman kargo. ATURAN TENTANG PENUNDAAN PENERBANGAN Maskapai dapat dimintai pertanggungjawaban jika terjadi penundaan yang menyebabkan kerugian finansial bagi penumpang. Pokok Substansi 16
  • 17.
    Perlindungan Konsumen Penerbangan PenumpangIndonesia yang bepergian internasional memiliki hak hukum untuk mendapat kompensasi. 01. Kepastian Hukum bagi Maskapai Nasional Maskapai Indonesia memiliki aturan yang seragam dalam menangani klaim internasional. 02. Peningkatan Kepercayaan Penumpang Masyarakat lebih percaya pada layanan maskapai nasional karena hak- hak mereka diakui dan dilindungi hukum internasional. 03. Standar Kompensasi Internasional Indonesia bisa menghindari perbedaan aturan kompensasi antarnegara. 04. Daya Saing Maskapai di Pasar Global Maskapai Indonesia lebih mudah menjalin kerja sama code- share atau aliansi dengan maskapai asing. 05. Relevansi bagi Indonesia 17
  • 18.
    KECELAKAAN PESAWAT Keluarga korbanmendapat kompensasi sesuai Montreal Convention. KEHILANGAN BAGASI DI PENERBANGAN INTERNASIONAL Penumpang berhak atas kompensasi maksimal sekitar 1.288 SDR. PENUNDAAN PENERBANGAN HAJI Jamaah dapat menuntut kompensasi ke maskapai dengan dasar hukum Montreal Convention. Contoh Penerapan/Kasus 18
  • 19.
    Cape Town Conventionon International Interests in Mobile Equipment (2001) 05
  • 20.
    REGISTRASI GLOBAL Setiap kepentinganatas pesawat dapat didaftarkan di International Registry berbasis elektronik yang berlaku secara global. JAMINAN INTERNASIONAL ATAS ASET BERGERAK Menciptakan mekanisme hukum internasional untuk memberikan jaminan atas aset bergerak bernilai tinggi. PERLINDUNGAN KREDITUR Kreditur dilindungi jika debitur gagal membayar. PENGATURAN INSOLVENSI Kreditur mendapat prioritas untuk mengambil kembali atau menjual pesawat guna menutup pinjaman. PROTOKOL PESAWAT UDARA (AIRCRAFT PROTOCOL) Menetapkan standar kontrak leasing, pembiayaan, dan hak kepemilikan. Pokok Substansi 20
  • 21.
    MEMPERMUDAH LEASING PESAWAT Prosesleasing lebih cepat, murah, dan aman secara hukum. MENGURANGI RISIKO KREDITUR Lembaga pembiayaan internasional lebih percaya pada maskapai Indonesia. MENDORONG MODERNISASI ARMADA NASIONAL Maskapai Indonesia bisa memperbarui armada dengan pesawat generasi baru. MENINGKATKAN DAYA SAING MASKAPAI NASIONAL Maskapai Indonesia bisa bersaing dengan maskapai regional. KEPASTIAN HUKUM TRANSAKSI INTERNASIONAL Sengketa pembiayaan pesawat dapat diselesaikan melalui mekanisme Cape Town Convention. Relevansi bagi Indonesia 21
  • 22.
    LEASING BOEING 777GARUDA INDONESIA Garuda menggunakan mekanisme Cape Town untuk memperoleh pesawat wide- body. 01 LION AIR & PEMBELIAN BOEING 737 Lion Air memanfaatkan proteksi Cape Town dalam transaksi pembelian/leasing pesawat. 02 KASUS INSOLVENSI MASKAPAI Kreditur internasional dapat menarik kembali pesawat yang disewa sesuai aturan Cape Town. 03 Contoh Penerapan/Kasus 22
  • 23.