Penerbangan internasional menjadi instrumen penting dalam diplomasi transportasi Indonesia, terutama karena besarnya mobilitas jamaah haji dan umrah ke Arab Saudi. Ratifikasi Chicago Convention 1944, ICAO Annexes, Tokyo Convention 1963, Montreal Convention 1999, dan Cape Town Convention 2001 memberikan dasar hukum dan teknis yang mengatur keselamatan, keamanan, hak penumpang, serta pembiayaan armada. Kepatuhan Indonesia terhadap rezim hukum penerbangan internasional memastikan keterhubungan udara global tetap berjalan lancar.
Penerapan konvensi udara memberi dampak langsung pada kualitas bandara, maskapai, dan perlindungan penumpang. Audit ICAO mendorong peningkatan standar keselamatan, sementara Montreal Convention melindungi hak penumpang atas kompensasi. Cape Town Convention memperkuat akses maskapai Indonesia ke pembiayaan pesawat modern. Hal ini tidak hanya meningkatkan reputasi penerbangan Indonesia, tetapi juga memperkuat daya saing maskapai nasional di pasar internasional.
Dalam konteks hubungan bilateral Indonesia–Arab Saudi, penerapan Annex 9 tentang fasilitasi sangat penting bagi kelancaran embarkasi jamaah haji. Konvensi udara juga menjadi instrumen diplomasi teknis dalam perundingan hak lalu lintas udara. Dengan kepatuhan penuh terhadap kerangka ICAO, Indonesia dapat menjaga reputasi penerbangan internasionalnya sekaligus memastikan kepentingan penumpang nasional terlindungi di kancah global.