Dr. Maizar Radjin
TANTANGAN, KEWAJIBAN, DAN IMPLIKASI BAGI
NEGARA MARITIM SEPERTI INDONESIA
IMPLEMENTASI
COLREGS 1972
Kewajiban Umum dan Ruang Lingkup
2.
1. Identitas dan Tujuan Konvensi
Prinsip Keselamatan Umum
Definisi Kunci dalam Aturan
3. 4.
Aturan Saat Kapal Saling Melihat
Aturan di Kanal Sempit dan Jalur Lalu Lintas
5. 6.
Penggunaan Lampu dan Bentuk (Lights and
Shapes)
Aturan dalam Kondisi Visibilitas Terbatas
7. 8.
Sinyal Darurat dan Ketentuan Tambahan
Sinyal Suara dan Cahaya
9. 10.
Kesimpulan
11.
Outline…
Konvensi ditandatangani di
London, 20 Oktober 1972 dan
mulai berlaku 1977
01
Disebut COLREGs 1972,
menggantikan aturan
sebelumnya dari konferensi
SOLAS 1960 02
Tujuan utama adalah
menetapkan standar
internasional untuk mencegah
tabrakan di laut 03
Berlaku bagi semua kapal di
laut lepas dan perairan yang
dapat dilayari kapal laut
04
Menjadi acuan hukum laut
global yang wajib diterapkan
oleh negara anggota IMO
05
Konvensi
Identitas dan Tujuan Konvensi
Semua negara
penandatangan
wajib
melaksanakan
aturan ini di kapal
berbendera
mereka.
Berlaku tanpa kecuali
untuk kapal dagang,
kapal penumpang,
kapal ikan, dan kapal
perang.
Negara dapat
membuat aturan
tambahan untuk
perairan khusus
(misalnya pelabuhan,
sungai).
COLREGs juga
mengatur kapal
dengan konstruksi
khusus yang tidak bisa
sepenuhnya patuh.
IMO berwenang
menetapkan skema
pemisahan lalu lintas
laut (traffic separation
schemes).
Kewajiban
01 02 03 04 05
Kewajiban Umum dan Ruang Lingkup
Definisi
Vessel
mencakup
semua alat
transportasi air,
termasuk
pesawat laut
(seaplane).
Power- driven
vesselkapal
dengan
penggerak
mesin.
Sailing
vesselkapal
layar tanpa
penggunaan
mesin.
Vessel not under
commandkapal
yang tidak
dapat
bermanuver
karena kondisi
darurat.
Restricted in
ability to
manoeuv
rekapal terbatas
manuvernya
karena jenis
pekerjaannya
(mis. dredging,
towing,
minesweeping).
Definisi Kunci dalam Aturan
Prinsip
Setiap kapal
wajib selalu
melakukan
pengawasan
visual dan
pendengaran
(look- out).
Risiko tabrakan
harus
diasumsikan
ada bila ragu.
Kapal harus
selalu berlayar
pada safe speed
agar bisa
berhenti atau
menghindar
tepat waktu.
Setiap tindakan
menghindar
tabrakan harus
positif, jelas,
dan tepat waktu.
Dalam situasi
tertentu, kapal
wajib
memperlambat
atau berhenti
untuk
mengurangi
risiko.
Prinsip Keselamatan Umum
Kapal kecil dan
kapal layar tidak
boleh
menghalangi
kapal besar yang
hanya bisa lewat
di kanal.
Dilarang melintas
kanal jika
menghalangi
kapal lain.
Skema
pemisahan lalu
lintas laut (TSS)
wajib dipatuhi
sesuai arah jalur.
Kapal di kanal
sempit wajib
tetap di sisi kanan
(starboard).
Kapal penangkap
ikan tidak boleh
menghalangi
kapal di jalur
utama.
Aturan di Kanal Sempit dan Jalur Lalu Lintas
Sailing vesselskapal dengan angin di
port side harus mengalah pada kapal
dengan angin di starboard side.
Overtakingkapal yang menyalip wajib
menghindar dari kapal yang disalip.
Head- on situationdua kapal bermesin
dari arah berlawanan wajib belok ke
starboard.
Crossing situationkapal yang melihat
kapal lain di starboard wajib
menghindar.
Kapal bermotor harus memberi jalan
pada kapal layar, kapal ikan, dan kapal
dengan manuver terbatas.
Aturan Saat Kapal Saling Melihat
Aturan
Semua kapal
wajib berlayar
dengan
kecepatan
aman.
Kapal bermesin
harus siap
bermanuver
segera.
Radar wajib
digunakan
untuk deteksi
dini tabrakan.
Berlaku saat
kabut, hujan
lebat, badai
pasir, atau
kondisi sejenis.
Kapal harus
mengurangi
kecepatan bila
mendengar
sinyal kapal lain
di depan.
Aturan dalam Kondisi Visibilitas Terbatas
Aturan
Kapal wajib menyalakan
lampu navigasi antara
matahari terbenam hingga
terbit.
Kapal berbeda jenis (mesin,
layar, ikan, pilot, towing)
memiliki konfigurasi lampu
khusus.
Annex I–II mengatur detail
teknis posisi, jarak, dan
spesifikasi lampu serta
tanda.
Lampu wajib memenuhi
standar warna (merah,
hijau, putih, kuning) dan
jarak pandang.
Bentuk siang hari (ball, cone,
diamond, cylinder)
digunakan untuk status
tertentu (mis. aground,
towing).
Penggunaan Lampu dan Bentuk (Lights and Shapes)
Aturan
Kapal ≥12 m wajib
dilengkapi peluit
dan lonceng; ≥100
m juga wajib ada
gong
Sinyal manuver1
blast (belok
starboard), 2 blast
(port), 3 blast
(mundur)
Sinyal
peringatan≥5 blast
pendek bila ragu
terhadap niat
kapal lain
Dalam kabut,
kapal bermesin
wajib
membunyikan 1
blast panjang
setiap ≤2 menit
Annex III mengatur
spesifikasi teknis
frekuensi peluit
dan jangkauan
audibilitas
Sinyal Suara dan Cahaya
COLREGs bersifat dinamis dan dapat
diamandemen oleh IMO sesuai
kebutuhan zaman
Kapal sebelum 1977 dapat diberi
pengecualian teknis (misalnya posisi
lampu) berdasarkan Rule 38
Penggunaan sinyal distress hanya
untuk keadaan darurat; dilarang
untuk keperluan lain
Annex IV mencantumkan 16 jenis
sinyal resmi keadaan bahaya
Distress signals meliputiSOS Morse,
“Mayday”, flare merah, asap oranye,
hingga gerakan tangan
Sinyal Darurat dan Ketentuan Tambahan
Konvensi COLREGs 1972
adalah pilar hukum
internasional yang
menjamin keselamatan
navigasi global
Implementasinya
menuntut disiplin penuh
dari semua kapal,
keterlibatan aktif negara
bendera, serta
pengawasan port state
Bagi Indonesia sebagai
negara maritim besar,
kepatuhan COLREGs
bukan hanya kewajiban
hukum internasional,
melainkan juga strategi
menjaga keselamatan
pelayaran nasional,
mendukung konektivitas
laut, serta memperkuat
posisi diplomasi maritim
di IMO.
Kesimpulan
Dr. Maizar Rdj
Thanks

IMPLEMENTASI COLREGS 1972 TANTANGAN, KEWAJIBAN, DAN IMPLIKASI BAGI NEGARA MARITIM SEPERTI INDONESIA.pdf

  • 1.
    Dr. Maizar Radjin TANTANGAN,KEWAJIBAN, DAN IMPLIKASI BAGI NEGARA MARITIM SEPERTI INDONESIA IMPLEMENTASI COLREGS 1972
  • 2.
    Kewajiban Umum danRuang Lingkup 2. 1. Identitas dan Tujuan Konvensi Prinsip Keselamatan Umum Definisi Kunci dalam Aturan 3. 4. Aturan Saat Kapal Saling Melihat Aturan di Kanal Sempit dan Jalur Lalu Lintas 5. 6. Penggunaan Lampu dan Bentuk (Lights and Shapes) Aturan dalam Kondisi Visibilitas Terbatas 7. 8. Sinyal Darurat dan Ketentuan Tambahan Sinyal Suara dan Cahaya 9. 10. Kesimpulan 11. Outline…
  • 3.
    Konvensi ditandatangani di London,20 Oktober 1972 dan mulai berlaku 1977 01 Disebut COLREGs 1972, menggantikan aturan sebelumnya dari konferensi SOLAS 1960 02 Tujuan utama adalah menetapkan standar internasional untuk mencegah tabrakan di laut 03 Berlaku bagi semua kapal di laut lepas dan perairan yang dapat dilayari kapal laut 04 Menjadi acuan hukum laut global yang wajib diterapkan oleh negara anggota IMO 05 Konvensi Identitas dan Tujuan Konvensi
  • 4.
    Semua negara penandatangan wajib melaksanakan aturan inidi kapal berbendera mereka. Berlaku tanpa kecuali untuk kapal dagang, kapal penumpang, kapal ikan, dan kapal perang. Negara dapat membuat aturan tambahan untuk perairan khusus (misalnya pelabuhan, sungai). COLREGs juga mengatur kapal dengan konstruksi khusus yang tidak bisa sepenuhnya patuh. IMO berwenang menetapkan skema pemisahan lalu lintas laut (traffic separation schemes). Kewajiban 01 02 03 04 05 Kewajiban Umum dan Ruang Lingkup
  • 5.
    Definisi Vessel mencakup semua alat transportasi air, termasuk pesawatlaut (seaplane). Power- driven vesselkapal dengan penggerak mesin. Sailing vesselkapal layar tanpa penggunaan mesin. Vessel not under commandkapal yang tidak dapat bermanuver karena kondisi darurat. Restricted in ability to manoeuv rekapal terbatas manuvernya karena jenis pekerjaannya (mis. dredging, towing, minesweeping). Definisi Kunci dalam Aturan
  • 6.
    Prinsip Setiap kapal wajib selalu melakukan pengawasan visualdan pendengaran (look- out). Risiko tabrakan harus diasumsikan ada bila ragu. Kapal harus selalu berlayar pada safe speed agar bisa berhenti atau menghindar tepat waktu. Setiap tindakan menghindar tabrakan harus positif, jelas, dan tepat waktu. Dalam situasi tertentu, kapal wajib memperlambat atau berhenti untuk mengurangi risiko. Prinsip Keselamatan Umum
  • 7.
    Kapal kecil dan kapallayar tidak boleh menghalangi kapal besar yang hanya bisa lewat di kanal. Dilarang melintas kanal jika menghalangi kapal lain. Skema pemisahan lalu lintas laut (TSS) wajib dipatuhi sesuai arah jalur. Kapal di kanal sempit wajib tetap di sisi kanan (starboard). Kapal penangkap ikan tidak boleh menghalangi kapal di jalur utama. Aturan di Kanal Sempit dan Jalur Lalu Lintas
  • 8.
    Sailing vesselskapal denganangin di port side harus mengalah pada kapal dengan angin di starboard side. Overtakingkapal yang menyalip wajib menghindar dari kapal yang disalip. Head- on situationdua kapal bermesin dari arah berlawanan wajib belok ke starboard. Crossing situationkapal yang melihat kapal lain di starboard wajib menghindar. Kapal bermotor harus memberi jalan pada kapal layar, kapal ikan, dan kapal dengan manuver terbatas. Aturan Saat Kapal Saling Melihat
  • 9.
    Aturan Semua kapal wajib berlayar dengan kecepatan aman. Kapalbermesin harus siap bermanuver segera. Radar wajib digunakan untuk deteksi dini tabrakan. Berlaku saat kabut, hujan lebat, badai pasir, atau kondisi sejenis. Kapal harus mengurangi kecepatan bila mendengar sinyal kapal lain di depan. Aturan dalam Kondisi Visibilitas Terbatas
  • 10.
    Aturan Kapal wajib menyalakan lampunavigasi antara matahari terbenam hingga terbit. Kapal berbeda jenis (mesin, layar, ikan, pilot, towing) memiliki konfigurasi lampu khusus. Annex I–II mengatur detail teknis posisi, jarak, dan spesifikasi lampu serta tanda. Lampu wajib memenuhi standar warna (merah, hijau, putih, kuning) dan jarak pandang. Bentuk siang hari (ball, cone, diamond, cylinder) digunakan untuk status tertentu (mis. aground, towing). Penggunaan Lampu dan Bentuk (Lights and Shapes)
  • 11.
    Aturan Kapal ≥12 mwajib dilengkapi peluit dan lonceng; ≥100 m juga wajib ada gong Sinyal manuver1 blast (belok starboard), 2 blast (port), 3 blast (mundur) Sinyal peringatan≥5 blast pendek bila ragu terhadap niat kapal lain Dalam kabut, kapal bermesin wajib membunyikan 1 blast panjang setiap ≤2 menit Annex III mengatur spesifikasi teknis frekuensi peluit dan jangkauan audibilitas Sinyal Suara dan Cahaya
  • 12.
    COLREGs bersifat dinamisdan dapat diamandemen oleh IMO sesuai kebutuhan zaman Kapal sebelum 1977 dapat diberi pengecualian teknis (misalnya posisi lampu) berdasarkan Rule 38 Penggunaan sinyal distress hanya untuk keadaan darurat; dilarang untuk keperluan lain Annex IV mencantumkan 16 jenis sinyal resmi keadaan bahaya Distress signals meliputiSOS Morse, “Mayday”, flare merah, asap oranye, hingga gerakan tangan Sinyal Darurat dan Ketentuan Tambahan
  • 13.
    Konvensi COLREGs 1972 adalahpilar hukum internasional yang menjamin keselamatan navigasi global Implementasinya menuntut disiplin penuh dari semua kapal, keterlibatan aktif negara bendera, serta pengawasan port state Bagi Indonesia sebagai negara maritim besar, kepatuhan COLREGs bukan hanya kewajiban hukum internasional, melainkan juga strategi menjaga keselamatan pelayaran nasional, mendukung konektivitas laut, serta memperkuat posisi diplomasi maritim di IMO. Kesimpulan
  • 14.