INOVASI TEKNIK SIPIL UNTUK
MITIGASI DAN REKONSTRUKSI
PASCA BENCANA
D r . I r . K u r d i , S . T . , M . T . , I P M . , A s e a n . E n g
01
SEMINAR NASIONAL
‘’CIVIL REMEMBERS’’
1.Juara 3 Anugerah ASN 2023 se-Indonesia kategori JPT Pimpinan Pratama
Terbaik dari Kemenpan RB
2.Pengabdian dan Kontribusi yang diberikan dalam tugas kemanusiaan
Rehabilitasi dan Rekonstruksi BRR NAD-NIAS Tahun 2008
3.Tenaga Ahli Struktur pada Proyek Hanggar Pesawat Tempur Kerjasama Korea -
Indonesia Tahun 2009
4.Pemakalah Terbaik Konferensi Nasional Pascasarjana Teknik Sipil ITB oleh
Program Studi Magister dan Doktor Teknik Sipil Tahun 2013
5.Publikasi Jurnal Internasional oleh Belanda/Journal of Constructional Steel
Research Tahun 2017
6.Tenaga Ahli Struktur Proyek Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan
Universitas Pertahanan Tahun 2018
7.Juara III Peserta Terbaik Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tk. II oleh
Puslatbang KHAN LAN BANDA ACEH Tahun 2022
8.Juara I Anugerah Perencanaan Daerah Tingkat Kabupaten Tahun 2022
9.Juara II Inovasi Daerah Tingkat Kabupaten (Sistem Informasi Tata Ruang Aceh
Barat) Tahun 2023
10. Pemegang Sertifikat Kompetensi Bangunan Level 9 Tahun 2023
11.Penilai Ahli Kegagalan Bangunan Gedung Tahun 2023
12.Tenaga Penilai Ahli (TPA) Pada Sistem Informasi Bangunan Gedung (SIMBG)
13.dsb.
KEAHLIAN
• Residual Stress Effect On Link Element Of
Eccentrically Braced Frame pada 18th World
Conference on Earthquake Engineering, WCEE
2024 Milan
• Neutron Diffraction Method Towards Residual
Stress On Stiffener–Web- Flange Joint Of
Eccentrically Braced Frame (EBF) Link Element
pada 2nd Asia Oceania Conference on Neutron
Scattering (Juli 2015)
• Residual Stress Effect On Link Element Of
Eccentrically Braced Frame pada 16th World
Conference on Earthquake Engineering,
16WCEE 2017 (Jan 2017)
• Kajian Eksperimental Besaran Dan Distribusi
Tegangan Sisa Pada Element Link SRBE
Dengan Metode Hamburan Neutron (Neutron
Diffraction Method) pada Konferensi Nasional
Pascasarjana Teknik Sipil 2014 (KNPTS 2014)
• Tegangan Sisa Pada Sambungan End Plate-
Link Dari Struktur Rangka Baja Berpengaku
Eksentrik pada Konferensi Nasional Teknik SIpil
(Nov 2023)
• dsb.
• S1 - UNIVERSITAS SYIAH KUALA 2000 - Teknik Sipil
• S2 - INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2003 - Teknik Sipil
• S3 - INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2017 - Teknik Sipi
• PROFESI - INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2022 - Program
Profesi Insinyur
• S2 UNIVERSITAS PADJAJARAN- Sekarang - Hukum Infrastruktur
PENDIDIKAN
Dr.Ir. KURDI, S.T,M.T, IPM, Asean.Eng
Jabatan Saat Ini
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan
Penataan Ruang Kabupaten Aceh Barat
• Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Cabang Aceh Barat
• Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia
• Ahli Pengadaan Nasional LKPP
• Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia Persatuan
Bulutangkis Seluruh Indonesia Cab. Aceh Barat
• Anggota Forum Penilai Ahli Bangunan Gedung
Kementerian PUPR
ORGANISASI
• Penilai Ahli Kegagalan Bangunan
• Manajemen Konstruksi/Manajemen Proyek
• Insinyur Profesional Madya Ahli Teknik
Bangunan Gedung Jenjang IX
• Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
PRESTASI/PENGHARGAAN KARYA TULIS
Ketua Persatuan Insinyur Indonesia
Cabang Aceh Barat
Journal of Law,
Politic and
Humanities (JLPH)
The Influence of Legal Politics in the
Implementation of Government Cooperation
of Small-Scale Enterprises of Local
Government
Jurnal Hukum
Sehasen
The Role Of Legal Sociology In Implementing
PPP (Public-Private Partnership) (Lhok Guci
PPP Case Study)
Journal of Law,
Politic and
Humanities (JLPH)
Preparation of Regional Regulations in the
Context of Implementing the Content of
Presidential Regulation Number 38 of 2015
concerning Cooperation Agreements
between
Government and Business Entities in the
Provision of Infrastructure
AJUDIKASI
LAND ACQUISITION FOR INFRASTRUCTURE
DEVELOPMENT WITH THE MECHANISM OF
GOVERNMENT COOPERATION WITH
BUSINESS ENTITIES (KPBU) (CASE STUDY
OF LHOK GUCI KPBU PROJECT)
PUBLIKASI KURDI TERKAIT PPP/KPBU
Jurnal Hukum
Sehasen
Implementation Of Public-Private Partnership
Of Lhok Guci Project
Viewed From The Perspective Of Investment
Law And Financing Law
Journal of Law,
Politic and
Humanities (JLPH)
Analysis Of The Use Of The Dispute
Resolution Clause Through Arbitration (Article
79.3) In The
Peunaga Cut Ujong Road Construction
Agreement Kab. West Aceh Number
001/Pupr-Abar/2024
LATAR BELAKANG
Pentingnya Inovasi Teknik Sipil Untuk Mitigasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana di Indonesia
Lokasi geografis Indonesia
dilalui oleh jalur
pertemuan 3 lempeng
tektonik, yaitu lempeng
IndoAustralia, lempeng
Eurasia, dan lempeng
Pasifik.
Pada bagian selatan dan timur Indonesia
terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang
memanjang dari Pulau Sumatera - Jawa –
Nusa Tenggara - Sulawesi, yang sisinya
berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran
rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-
rawa.
Berdasarkan kondisi
geografis itu, Indonesia
memiliki potensi besar
menjadi negeri rawan
bencana alam.
Dari peta tersebut
dapat diketahui
bahwa sebagian
besar wilayah
Indonesia memiliki
indeks resiko
bencana yang
tinggi. Hal ini tidak
lepas dari fakta
geologis dan
Vulkanologis yang
telah umum
diketahui bahwa
wilayah Indonesia
memang berada di
sepanjang cincin
api.
Sumber:
Peta Index Bencana
Indonesia BNPB tahun 2018.
BNPB (2023) mencatat sejak tahun 2014,
jumlah kejadian bencana di Indonesia
dapat dikatakan cenderung meningkat.
Berdasarkan beberapa musibah bencana terdahulu yang melanda
wilayah Indonesia, Pribadi dkk. (2014) menyebutkan bahwa sebagian
besar korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat gempa bumi adalah
karena kerusakan yang terjadi pada sektor perumahan.
Seperti pada bencana gempa bumi yang menimpa wilayah Yogyakarta
pada tahun 2006, Bappenas (2008) memperkirakan 50% dari total
kerusakan dan kerugian akibat gempa ada pada sektor perumahan,
0
1000
2000
3000
4000
5000
6000
2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023
Data Jumlah Kejadian Bencana di Indonesia
Bencana Geologi dan Vulkanologi Bencana Hidrometeorologi
Menurut Pribadi dan Boen (2011)
kebanyakan rumah tinggal di Indonesia
termasuk ke dalam kategori bangunan nir-
rekayasa (non-engineered construction),
dan dibangun berdasarkan pengetahuan
dan keterampilan pelaku konstruksi yang
didapat secara tradisional melalui
pengalaman belajar informal turun
temurun.
Maka harus terdapat mekanisme dan
sistem pembangunan kembali yang lebih
baik dengan memanfaatkan keahlian dari
pelaku-pelaku di industri konstruksi.
Rekonstruksi
rumah
masyarakat
menjadi factor
penting dalam
pemulihan
Rekonstruksi
memerlukan
biaya yang besar
Kondisi tersebut
terjadi karena
konstruksi rumah
yang tidak dapat
menahan beban
akibat bencana.
• Data menunjukkan kerusakan dan kerugian pada sektor perumahan adalah yang tertinggi
DATA KERUSAKAN DAN KERUGIAN AKIBAT BENCANA
Penjelasan
Konsep-konsep
Mitigasi Bencana
01
Penjelasan Jasa Konstruksi
Dalam Undang-Undang No 2 tahun 2017 tentang jasa konstruksi,
disebutkan bahwa penyelenggaraan jasa konstruksi salah satunya
bertujuan untuk menata sistem Jasa Konstruksi yang mampu
mewujudkan keselamatan publik dan menciptakan kenyamanan
lingkungan terbangun.
Pada situasi pasca-bencana, peran industri konstruksi dalam
menurunkan risiko bencana di masa depan sangat penting, melalui
proses rehabilitasi dan rekonstruksi dari bangunan dan infrastruktur
yang rusak (Pribadi, 2017).
MITIGASI BENCANA
DEFINISI
TUJUAN
Mitigasi bencana adalah serangkaian tindakan yang
dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan
dampak negatif dari bencana alam atau bencana buatan
manusia sebelum bencana tersebut terjadi.
Tujuan utama dari mitigasi bencana adalah untuk
meminimalkan kerusakan pada infrastruktur, lingkungan,
dan kehidupan manusia, serta untuk meningkatkan
kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Pengembangan
Kebijakan
04
02
01
03
Strategi lainnya yang
bertujuan untuk
mengurangi
kerentanan terhadap
bencana.
Penerapan
Teknologi
Perencanaan
Tahapan Mitigasi
Kelembagaan
Legislasi
IPTEK
Penyelenggaraan
Perencanaan
Pendanaan
Pada komponen atau subsistem IPTEK
dan Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana, kegiatan penanggulangan
bencana harus diintegrasikan dalam
proses kegiatan pembangunan.
Penyelenggaraan Penanggulangan
bencana harus memanfaatkan ilmu
pengetahuan dan teknologi secara optimal
agar efektifitas Penanggulangan bencana
terjamin, karena proses penanggulangan
bencana, baik pada tahap prabencana,
pada saat terjadi bencana, maupun pada
tahap pascabencana dapat dipermudah
dan dipercepat (Kemenristek, 2007).
KOMPONEN DALAM SISTEM NASIONAL
PENANGGULANGAN BENCANA
PEMBENTUKAN SISTEM (SYSTEM
BUILDING) PENANGGULANGAN
BENCANA
Undang-undang No. 24 Tahun 2007
Penanggulangan Bencana (UUPB)
merupakan landasan bagi
pembentukan sistem (system building)
penanggulangan bencana di Indonesia
Pembentukan sistem (system
building) penanggulangan bencana di
Indonesia secara tidak langsung telah
menjelaskan pentingnya dan
besarnya peran teknik sipil dalam
upaya penanggulangan bencana
Pembangunan di wilayah yang mempunyai
berbagai ancaman bencana (multi hazard),
harus berpedoman pada sistem nasional
penanggulangan bencana, agar hasil karya
kegiatan konstruksi bermanfaat secara
maksimum, dan tidak menimbulkan kerugian
bagi penggunanya.
· jenis jenis bencana alam yang terjadi di Indonesia berdasarkan penyebabnya
· Jenis jenis bencana alam berdasarkan skala dan dampaknya
2. Bencana geologis:
3, Bencana hidrometeorologis:
1. Bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim:
1.Bencana Skala Kecil: Bencana yang berdampak lokal dan
terbatas pada komunitas atau wilayah kecil, dengan
kerusakan yang relatif kecil.
2.Bencana Skala Besar: Bencana yang berdampak luas,
melibatkan banyak wilayah atau negara, dengan
kerusakan signifikan dan kebutuhan bantuan
internasional.
Banjir Rob Erosi Pantai Kebakaran Hutan
Banjir Angin Topan Kekeringan
Gempa Bumi Tsunami
Gunung Berapi Tanah Longsor
JENIS BENCANA SERTA DAMPAKNYA PADA INFRASTRUKTUR
DAMPAK BENCANA TERHADAP INFRASTRUKTUR
1. Kerusakan Fisik pada Bangunan dan Struktur
· Bangunan: Gempa bumi, badai, dan ledakan
dapat merusak bangunan, menyebabkan
runtuhnya dinding, lantai, dan atap. Bangunan
yang tidak dirancang untuk menahan bencana
mungkin mengalami keruntuhan total.
· Jembatan: Bencana seperti gempa
bumi dan banjir dapat menyebabkan
jembatan runtuh atau mengalami
kerusakan struktural yang serius,
memutus konektivitas antara wilayah.
· Jalan Raya: Tanah longsor, banjir,
dan gempa bumi dapat merusak jalan
raya, menyebabkan longsoran,
retakan besar, atau hilangnya jalan
sepenuhnya.
Gangguan pada Infrastruktur Vital
LISTRIK DAN ENERGI AIR DAN SANITASI TELEKOMUNIKASI
Banjir dan gempa bumi
dapat merusak pipa air
dan sistem sanitasi,
mengganggu pasokan air
bersih dan pengelolaan
limbah, yang dapat
menyebabkan krisis
kesehatan masyarakat.
Menara telekomunikasi,
kabel serat optik, dan
stasiun pemancar dapat
rusak oleh bencana,
memutus komunikasi dan
menghambat upaya
tanggap darurat.
Bencana alam dapat merusak
jaringan listrik, termasuk
pembangkit listrik, tiang listrik,
dan jaringan distribusi,
menyebabkan pemadaman
listrik yang luas dan
berkepanjangan.
POLUSI DAN KONTAMINASI KERUSAKAN EKOSISTEM
Hutan, lahan basah, dan area
perlindungan lainnya dapat
hancur oleh bencana,
menyebabkan hilangnya habitat
bagi flora dan fauna serta
mempercepat erosi dan
degradasi lahan.
Banjir dan bencana industri dapat
menyebabkan polusi air dan tanah
akibat tumpahan bahan kimia atau
limbah, yang dapat merusak
ekosistem dan mengancam
kesehatan masyarakat.
Kerugian Lingkungan
Bandara dan Pelabuhan
Badai besar, tsunami, dan gempa bumi dapat merusak landasan
pacu, terminal, dan fasilitas pelabuhan, menghentikan operasi
transportasi udara dan laut yang penting
Transportasi Publik
Kereta api, bus, dan sistem transportasi umum lainnya dapat
terhenti akibat kerusakan infrastruktur, seperti rel yang bengkok
atau stasiun yang rusak.
Dampak-dampak kerusakan infrastruktur kemudian memiliki
efek ekonomi, seperti:
EFEK EKONOMI
·Biaya Perbaikan dan Rekonstruksi
Kerusakan infrastruktur menimbulkan biaya yang
sangat besar untuk perbaikan dan rekonstruksi, yang
dapat berdampak signifikan pada ekonomi lokal dan
nasional.
Gangguan Ekonomi
Gangguan pada infrastruktur dapat menyebabkan
penundaan atau penghentian operasi bisnis,
mempengaruhi rantai pasokan, dan menyebabkan
kerugian ekonomi yang luas.
Penghentian Layanan
Penutupan jalan, pemadaman listrik, dan gangguan
air dapat menghentikan layanan penting, termasuk
rumah sakit, sekolah, dan bisnis, memperlambat
pemulihan ekonomi setelah bencana.
Disrupsi pada Transportasi
Evakuasi dan Pengungsian
Kerusakan infrastruktur dapat memaksa evakuasi
massal dan menciptakan kebutuhan mendesak
akan tempat tinggal sementara dan fasilitas
darurat.
DAMPAK SOSIAL DAN KEMANUSIAAN
Krisis Kesehatan
Kerusakan sistem sanitasi dan air bersih, serta
pemadaman listrik di rumah sakit, dapat menyebabkan
kondisi kesehatan yang buruk dan memperparah krisis
kemanusiaan.
Disrupsi Pendidikan
Sekolah yang rusak atau hancur akibat bencana dapat
menyebabkan gangguan panjang pada pendidikan
anak-anak, memperburuk dampak sosial dari bencana.
Peran Teknik
Sipil dalam
Mengurangi
Risiko
Bencana
02
Pentingnya Peran Teknik Sipil
dalam Mengurangi Risiko Bencana
Menjauhkan manusia dari sumber bencana, dan/atau,
Menjauhkan sumber bencana dari manusia, dan/atau
Hidup harmoni dengan ancaman bencana dengan
memanfaatkan dan mengembangkan iptek serta
mempertahankan kearifan lokal yang nalar atau masih
efektif untuk diterapkan.
Untuk menekan korban dan kerugian akibat bencana di Indonesia
yang dikoordinasikan oleh BNPB dan BPBD sesuai Peraturan
Presiden No. 8 Tahun 2008 ada tiga opsi langkah yang secara prioritas
dapat dilakukan adalah:
CONTOH PERAN TEKNIK SIPIL DALAM
MITIGASI/PENANGGULANGAN BENCANA
1. Desain dan Konstruksi Infrastruktur Tahan Bencana
a. Bangunan Tahan Gempa
Ahli teknik sipil merancang bangunan yang dapat menahan
guncangan gempa, menggunakan teknik seperti fondasi dalam,
struktur fleksibel, dan material khusus yang mampu menyerap
energi seismik. Ini mengurangi risiko keruntuhan bangunan yang
dapat menyebabkan korban jiwa dan kerugian besar.
Peta zona gempa yang dibuat untuk memetakan derajat potensi goncangan gempa
sebagai dasar penentuan beban gempa pada bangunan melalui besaran percepatan dasar
Proses desain
bangunan tahan
gempa menggunakan
konsep perencanaan
tahan gempa
Percoban struktur
tahan gempa
menggunakan isolasi
dasar dan kendali
struktur
b. Jembatan dan Jalan Tahan Bencana
Infrastruktur transportasi dirancang untuk tetap fungsional setelah bencana. Misalnya,
jembatan dan jalan yang dirancang untuk menahan banjir, tanah longsor, atau gempa,
memastikan jalur evakuasi tetap dapat digunakan dan bantuan dapat segera dikirimkan.
2. Retrofit dan Penguatan Struktur Eksisting
a. Penguatan Bangunan Lama
Banyak bangunan tua yang tidak dirancang untuk menahan bencana. Teknik
sipil memainkan peran penting dalam retrofit bangunan ini, memperkuat
elemen struktural seperti kolom, balok, dan dinding, serta menambahkan
perangkat anti-guncangan untuk meningkatkan ketahanan terhadap bencana.
Retrofit bangunan untuk
menguatkan kembali bangunan
yang sudah ada
b. Pemeliharaan dan Pemantauan: Pemantauan kondisi infrastruktur yang
terus menerus dan pemeliharaan rutin memastikan bahwa bangunan dan
infrastruktur tetap aman dan mampu menahan dampak bencana.
Proses desain
jembatan tahan gempa
menggunakan konsep
perencanaan tahan
gempa
Aspal porus sebagai
aspal yang dapat
meneruskan air hujan
ke tanah untuk
antisipasi banjir di
perkotaan
3. Pengelolaan Sumber Daya Air dan Drainase
a. Sistem Drainase dan Pengendalian Banjir
Insinyur sipil merancang sistem drainase perkotaan yang efisien untuk mengurangi
risiko banjir, termasuk normalisasi sungi, naturalisasi daerah aliran sungai,
pembangunan kanal, kolam resapan, dan tanggul. Ini membantu mencegah
kerusakan infrastruktur dan properti serta mengurangi risiko kesehatan akibat
banjir.
b. Pembangunan Bendungan dan Reservoir
Bendungan dan reservoir dirancang untuk mengendalikan aliran air, mengurangi risiko
banjir di hilir dan menyediakan cadangan air selama kekeringan, yang membantu
menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Waduk sebagai pengendali
banjir di hilir serta menyediakan
cadangan air saat kemarau
Proses normalisasi sungai
di kawasan perkotaan untuk
mengurangi risiko banjir
4. Rekayasa Geoteknik untuk Stabilitas Tanah
Pembuatan dinding
penahan tanah (DPT)
guna menstabilkan lereng
tanah
Penguatan Tanah dan Pondasi
a. Zonasi Wilayah Rawan Bencana
Teknik sipil berperan dalam
perencanaan tata ruang yang
memperhitungkan risiko bencana,
seperti menetapkan zona larangan
pembangunan di area rawan banjir atau
longsor. Ini mengurangi risiko kerugian
harta benda dan korban jiwa saat
bencana terjadi.
b. Pembangunan Berbasis Resiliensi:
Melalui tata ruang yang berorientasi pada resiliensi, insinyur sipil membantu
menciptakan komunitas yang lebih tangguh, dengan infrastruktur dan layanan
yang dirancang untuk pulih dengan cepat setelah bencana.
6. Penggunaan Teknologi Modern dan Inovasi
5. Perencanaan Tata Ruang dan Zonasi
a.. Building Information Modeling (BIM)
BIM digunakan untuk mensimulasikan dampak bencana pada bangunan
dan infrastruktur, memungkinkan insinyur sipil untuk mengidentifikasi
potensi kelemahan dan merancang solusi yang lebih baik.
Penggunaan BIM untuk simulasi dampak bencana
b. Sensor dan Sistem Peringatan Dini
Teknologi sensor yang dipasang pada bangunan, jembatan, dan
bendungan dapat mendeteksi getaran, pergerakan tanah, atau perubahan
tekanan yang mungkin menunjukkan bencana akan terjadi.
Penggunaan sensor pada jembatan untuk mendeteksi getaran serta
defleksi struktur
7. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat
Edukasi Konstruksi Tahan Bencana
Teknik sipil juga berperan dalam edukasi masyarakat tentang pentingnya
konstruksi tahan bencana, baik melalui seminar, pelatihan, atau kampanye publik.
Ini membantu masyarakat memahami risiko dan bagaimana cara melindungi diri
mereka sendiri dan properti mereka.
Keterlibatan dalam Perencanaan Komunitas:
Insinyur sipil bekerja dengan pemerintah dan komunitas untuk memastikan bahwa
pembangunan infrastruktur baru mempertimbangkan potensi bencana, serta
membantu dalam merancang rencana tanggap darurat yang efektif
Inovasi Terkini
dalam Mitigasi
Bencana dan
Rekonstruksi
Pasca Bencana
03
2. Teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA)
Panel panel RISHA
Gambar rumah RISHA yang telah dibangun
RISHA adalah sebuah penemuan teknologi konstruksi knock down yang dapat
dibangun dengan waktu cepat (oleh sebab itu disebut sebagai teknologi
instan), dengan menggunakan bahan beton bertulang pada staruktur
utamanya
RISHA didesain sedemikian rupa sehingga dapat menahan potensi gempa
yang bergerak secara horizontal.
Panel P1 memiliki uk P 120 cm, L 30 cm, dan T
max 10 cm.
Panel P2 memiliki UK P 120 cm, L 20 cm, dan T
max 10 cm.
Panel P3 merupakan panel simpul
dengan UK P 30 cm, dan L 30 cm, dan T
max 10 cm.
Karena ukuran komponen mengacu pada ukuran modular maka komponennya
memiliki sifat fleksibel dan efisien dalam konsumsi bahan bangunan. Sehingga,
waktu yang diperlukan dalam proses pembangunan setiap modul 24 jam oleh 3
pekerja.
Terdapat 67 aplikator dan diterapkan sebanyak + 10.000 unit di Aceh pasca
Tsunami
Struktur rumah ini dibilang bisa menahan gempa berkekuatan 8 skala ritcher
(SR) dan 8 Modified Mercalli Intensity (MMI)
INTEGRASI STRATEGI MITIGASI BENCANA DALAM PERENCANAAN TATA RUANG KOTA
Langkah penting untuk mengurangi risiko bencana dan memastikan pembangunan kota yang berkelanjutan serta aman bagi penduduknya.
Identifikasi Risiko dan Zonasi Wilayah
Pemetaan Risiko Bencana: Langkah
pertama adalah melakukan pemetaan
wilayah kota untuk mengidentifikasi area
yang rentan terhadap bencana alam seperti
banjir, gempa bumi, tanah longsor, tsunami,
dan lain-lain. Pemetaan ini menggunakan
data historis, studi geoteknik, dan analisis
lingkungan.
Zonasi Berdasarkan Risiko:
Berdasarkan hasil pemetaan, wilayah
kota dibagi menjadi zona-zona yang
disesuaikan dengan tingkat risiko.
Misalnya, zona dengan risiko banjir
tinggi sebaiknya dialokasikan untuk
ruang terbuka hijau atau area non-
permanen daripada untuk
pembangunan permukiman padat.
Peraturan dan pengembangan
Bangunan Tahan Bencana
Pembangunan Infrastruktur Tahan Bencana
Penyediaan Ruang Terbuka
Hijau dan Area Resapan Air
Ruang Terbuka Hijau (RTH):
berfungsi sebagai area resapan
air terhadap bencana seperti
banjir dan tanah longsor.
Konservasi dan Restorasi
Ekosistem Alami: Pelestarian
hutan kota, mangrove, dan lahan
basah membantu mengurangi risiko
bencana seperti banjir dan erosi.
Penyediaan Ruang Terbuka Hijau dan Area Resapan Air
Pengelolaan Lahan dan Pengendalian Perubahan Tata Guna Lahan
Pengaturan Penggunaan Lahan: Tata ruang
harus mencakup kebijakan yang ketat mengenai
penggunaan lahan untuk mencegah
pembangunan di area yang berisiko tinggi
terhadap bencana. Misalnya, larangan
pembangunan di lereng curam atau daerah
rawan longsor.
Perencanaan Pembangunan di Zona
Rawan: Jika pembangunan di area rawan
tidak dapat dihindari, maka perencanaan
harus melibatkan teknik mitigasi seperti
penguatan lereng, pembuatan tembok
penahan, dan penerapan teknik konstruksi
tahan bencana.
Pengembangan Jalur Evakuasi dan Infrastruktur Darurat
Perencanaan Jalur Evakuasi: Jalur evakuasi yang jelas dan
bebas hambatan harus diintegrasikan dalam tata ruang kota. Ini
termasuk pengembangan jalan raya, jembatan, dan jalur darurat
yang menghubungkan area berisiko dengan titik evakuasi atau
tempat aman.
Penyediaan Fasilitas Darurat: Tata ruang
kota harus mencakup lokasi-lokasi untuk
fasilitas darurat seperti pusat evakuasi,
rumah sakit, dan stasiun pemadam
kebakaran, yang dapat diakses dengan
mudah selama bencana.
INTEGRASI STRATEGI MITIGASI BENCANA DALAM PERENCANAAN TATA RUANG KOTA
Pengembangan Jalur Evakuasi dan Infrastruktur
Darurat
Perencanaan Jalur Evakuasi: Jalur
evakuasi yang jelas dan bebas hambatan
harus diintegrasikan dalam tata ruang
kota. Ini termasuk pengembangan jalan
raya, jembatan, dan jalur darurat yang
menghubungkan area berisiko dengan
titik evakuasi atau tempat aman.
Penyediaan Fasilitas Darurat:
Tata ruang kota harus mencakup
lokasi-lokasi untuk fasilitas darurat
seperti pusat evakuasi, rumah
sakit, dan stasiun pemadam
kebakaran, yang dapat diakses
dengan mudah selama bencana.
INTEGRASI STRATEGI MITIGASI BENCANA DALAM PERENCANAAN TATA RUANG KOTA
Pemantauan dan Penegakan
Peraturan
Sistem Pemantauan Berkelanjutan:
Setelah rencana tata ruang diterapkan,
penting untuk memiliki sistem
pemantauan yang dapat menilai
efektivitas strategi mitigasi dan membuat
penyesuaian jika diperlukan. Teknologi
seperti GIS (Geographic Information
Systems) dan sensor monitoring dapat
digunakan untuk tujuan ini.
Penegakan Peraturan: Pemerintah
daerah harus tegas dalam
menegakkan peraturan terkait
pembangunan di zona risiko dan
memastikan bahwa semua
pembangunan mematuhi standar
mitigasi bencana.
TANTANGAN DAN PELUANG DI MASA DEPAN DALAM PENANGGULANGAN BENCANA
· Tantangan Global:
Perubahan iklim dan
meningkatnya
frekuensi serta
intensitas bencana
Keterbatasan
sumber daya dan
teknologi di negara
berkembang
· Peluang Inovasi:
Pengembangan
teknologi baru untuk
mitigasi bencana
yang lebih efektif.
Investasi dalam
penelitian dan
pengembangan di
bidang teknik sipil
terkait mitigasi bencana
Isu-Isu
Kontemporer
Mengenai
Bencana Dan
Mitigasi
Bencana
04
ZONA SUBDUKSI DAN POTENSI GEMPA
MEGATHRUST DI INDONESIA
Karakteristik Gempa Megathrust
Tsunami Aceh dipicu Gempa Megathrust
Gempa Berkekuatan Besar
Memiliki potensi kekuatan dengan skala 8,0-
9,0 magnitudo
Berpotensi Tsunami
Skala Magnitudo yang besar dapat
menyebabkan tsunami.
Gempa Aceh (26
Desember 2004)
Zona Subduksi:
Samudera Hindia-
Lempeng Burma
Kekuatan: 9.1-9.3
Magnitudo
Kedalaman: 30
Kilometer
Panjang Patahan:
1000-1300 KM
Kedalaman: 30
Kilometer
• Megathrust adalah bagian dangkal suatu jalur subduksi yang memiliki sudut
tukik landai
• Zona Subduksi Sunda membentang dari sebelah barat ujung Sumatera hingga
selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
• Menurut BMKG, gempa berulang yang terjadi sejak awal Agustus 2019
memperlihatkan terjadinya proses sebelum kemunculan gempa utama.
• BMKG juga menyatakan bahwa rentetan gempa tersebut tidak selalu berujung
pada gempa besar. Sumber: BMKG dan Antara News
Mengenal Ancaman Megathrust
Berlokasi di Pulau Jawa yang
dilewati cincin api (ring of fire),
Jakarta rawan akan bencana alam.
Jakarta rentan akan bencana alam
seperti banjir, penurunan muka
tanah (land subsidence), hingga
gempa bumi.
Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD) DKI Jakarta
mencatat sebanyak 1.258 bencana
terjadi di Jakarta sepanjang tahun
2023 yang umumnya berupa
kebakaran permukiman dan gedung
Sebagai Kota dengan tingkat
kepadatan penduduk yang
tinggi, Jakarta juga rawan akan
bencana non-alam seperti
kebakaran.
KAJIAN RISIKO BENCANA DI DKI JAKARTA
PERAN IBU KOTA NUSANTARA (IKN) SEBAGAI MITIGASI BENCANA DKI JAKARTA
1
Pengurangan Beban Penduduk untuk
mengurangi mengurangi tekanan
terhadap infrastrukturdi DKI Jakarta.
Desentralisasi Pemerintahan yang berpotensi
mengurangi kepadatan penduduk dan
pembangunan yang tidak terencana.
Fokus pada Infrastruktur Hijau dan
Mewujudkan Ibu Kota Tahan Bencana di
IKN
2
3
Mitigasi dan Rekonstruksi
Pasca Bencana di
KabupatenAceh Barat
05
POTENSI KEBENCANAAN DI KABUPATEN ACEH BARAT (BENCANA ALAM)
• 12 Kecamatan (4 di Pesisir), 322 Gampong
• + 200 ribu jiwa penduduk
• Pusat Perkotaan di Wilayah Pesisir
• Permukiman Masyarakat di Pinggiran Pantai
• 3 Sungai Besar Utama (Kr. Woyla, Kr. Bubon,
Kr. Meureubo)
• Permukiman masyarakat di Pinggiran Sungai
Banjir Rob
Banjir
Gempa Bumi Tsunami
POTENSI KEBENCANAAN DI KABUPATEN ACEH BARAT
Pemicu utama Tsunami adalah pergerakan vertikal dari
permukaan dasar laut. Karena itu, mayoritas Tsunami
berkaitan dengan gempa bumi disekitar daerah
penunjang lempeng. Namun Tsunami dapat juga
disebabkan oleh longsoran bawah laut, letusan gunung
api bawah laut, bahkan meteor yang jatuh ke bumi
Dampak Tsunami:
Korban Jiwa
Kehilangan Materi Dampak Sosial Kemasyarakatan
Kerusakan Bangunan dan
Infrastruktur
Penyebab Terjadinya Tsunami
TSUNAMI
Tanggap Darurat
Serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat
kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang
ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi
korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, pelindungan,
pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana
dan sarana (UU No 24/ 2007)
Rehabilitasi
Perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau
masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah
pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau
berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan
kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana (UU No
24/ 2007)
Rekonstruksi
Pembangunan kembali semua prasarana dan sarana,
kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat
pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama
tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan
budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran
serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat
pada wilayah pascabencana (UU No 24/ 2007)
PENANGANAN PASCA BENCANA (TANGGAP DARURAT, REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI)
UPAYA MITIGASI BENCANA TSUNAMI DI ACEH
Regulasi: Penyediaan Peraturan Daerah
(Qanun) untuk membatasi lahan
terbangun di zona rawan bencana
tsunami, serta peraturan lainnya.
Pengelolaan kawasan pesisir (pelestarian
hutan mangrove/ bakau, pengaturan
aktivitas Sempadan Pantai
Pembangunan Sarana dan Prasarna Mitigasi
Bencana (Penyebarluasan Informasi Tsunami/
Alarm Tsunami, Penyediaan Escape Building,
Penyediaan Tempat Evakuasi Sementara
Peningkatan Kapasitas Kelembagaan
(Pembentukan dan Pembinaan Desa
Tangguh Bencana, Sekolah Siaga
Bencana dan Komunitas Sejenis
lainnya)
Sosialisasi Bencana Tsunami
(Sosialisasi dan Simulasi
penanggulangan tsunami di
masyarakat dan sekolah)
Penguatan SATGAS
Kebencanaan
Pengelolaan zona rawan bencana
tsunami (pengaturan jumlah/
ketinggian bangunan, pembatasan
aktivitas, insentif dan disinsentif
melalui regulasi)
Potensi Bencana Strategis Lainnya di
Aceh Barat (BANJIR)
Banjir akibat curah hujan tinggi
dan luapan Sungai (Krueng
Meureubo, Krueng Woyla dan
Krueng Bubon)
Kerugian: Korban jiwa, material, lahan
pertanian yang rusak, aktvitas
ekonomi sosial terganggu, kerusakan
bangunan dan infrastruktur
• Krueng Meureubo : Wilayah kecamatan
yang terkena: Pante Ceureumen, Kaway
XVI, Panton Reu, Johan Pahlawan
• Krueng Woyla: Woyla, Woyla Barat, Woyla
Timur, Bubon
• Krueng Bubon: Bubon, Samatiga
Sungai kecil lainnya:
• Krueng Lambalek: Arongan
Lambalek dan Woyla Barat,
• Krueng Manggi: Panton Reu
Banjir/ Genangan Kawasan Perkotaan
Meulaboh
Hasil simulasi banjir dengan kala ulang 100 tahun yang
menunjukkan tinggi maksimum genangan sebesar 2.4 meter
di daerah pesisir pantai dan sungai menjadi indikator
seriusnya potensi risiko banjir yang harus ditangani secara
cermat.
UPAYA MITIGASI BANJIR
Perlu dilakukan peningkatan dan
perbaikan infrastruktur drainase.
Perencanaan tata ruang yang
baik dapat meminimalkan risiko
banjir (pengalokasian zona/
penggunaan lahan/ landuse)
Pemberdayaan masyarakat juga
merupakan upaya penting dalam
mitigasi banjir (menjaga
lingkungan)
Teknologi modern, seperti sistem
peringatan dini, dapat memberikan
informasi cepat kepada warga
tentang potensi banjir
Kerjasama antara pemerintah,
sektor swasta, dan masyarakat
sangat penting dalam
menghadapi tantangan banjir
dalam penyediaan infrastruktur
drainase
1
2 3
4 5
Note:
Pengaturan/ regulasi untuk
sebaran permukiman dengan
maksud menghindari sempadan
sungai.
Upaya mitigasi saat ini umumnya secara struktur yaitu dengan
pembangunan konstruksi struktur sebagai pengaman tebing sungai.
Upaya mitigasi secara non struktur masih jarang dilakukan
Menanam vegetasi seperti rumput,
semak, atau pohon dapat
membantu mengurangi erosi tanah
dengan memperkuat struktur
tanah dan akar tanaman yang
menjaga tanah tetap terikat.
Sistem drainase yang baik dapat
membantu mengalirkan air hujan dari
permukaan tebing dengan cepat
sehingga mengurangi tekanan air yang
dapat menyebabkan erosi.
Pembangunan dinding penahan tanah
atau terracing pada tebing dapat
membantu mengurangi erosi dengan
mengurangi kemiringan tebing dan
memberikan struktur penahan untuk
tanah.
Pengaturan/ regulasi
Drainase
Pengelolaan pada sempadan sungai Struktur penahan tanah
Upaya Mitigasi Erosi Tebing Sungai
Upaya Mitigasi Erosi Tebing
Sungai melalui Cara Non
Struktur ( Inovasi Baver)
Tanaman bambu yang rapat
dapat mengikat tanah pada
daerah lereng, sehingga
berfungsi mengurangi erosi,
sedimentasi dan longsor.
Tanaman bambu juga mampu menyerap air
hujan yang cukup besar melalui mekanisme
intersepsi, sehingga kemungkinan terjadinya
aliran langsung dan erosi di atas permukaan
lahan dengan dominasi bambu menjadi kecil.
Terkait dengan upaya mitigasi
perubahan iklim, pengembangan
tanaman bambu juga dapat
meningkatkan penyerapan karbon .
- Sesi Tanya Jawab -
Terima Kasih

INOVASI TEKNIK SIPIL UNTUK MITIGASI DAN REKONSTRUKSI PASCA BENCANA_Final.pdf

  • 1.
    INOVASI TEKNIK SIPILUNTUK MITIGASI DAN REKONSTRUKSI PASCA BENCANA D r . I r . K u r d i , S . T . , M . T . , I P M . , A s e a n . E n g 01 SEMINAR NASIONAL ‘’CIVIL REMEMBERS’’
  • 2.
    1.Juara 3 AnugerahASN 2023 se-Indonesia kategori JPT Pimpinan Pratama Terbaik dari Kemenpan RB 2.Pengabdian dan Kontribusi yang diberikan dalam tugas kemanusiaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi BRR NAD-NIAS Tahun 2008 3.Tenaga Ahli Struktur pada Proyek Hanggar Pesawat Tempur Kerjasama Korea - Indonesia Tahun 2009 4.Pemakalah Terbaik Konferensi Nasional Pascasarjana Teknik Sipil ITB oleh Program Studi Magister dan Doktor Teknik Sipil Tahun 2013 5.Publikasi Jurnal Internasional oleh Belanda/Journal of Constructional Steel Research Tahun 2017 6.Tenaga Ahli Struktur Proyek Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Universitas Pertahanan Tahun 2018 7.Juara III Peserta Terbaik Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tk. II oleh Puslatbang KHAN LAN BANDA ACEH Tahun 2022 8.Juara I Anugerah Perencanaan Daerah Tingkat Kabupaten Tahun 2022 9.Juara II Inovasi Daerah Tingkat Kabupaten (Sistem Informasi Tata Ruang Aceh Barat) Tahun 2023 10. Pemegang Sertifikat Kompetensi Bangunan Level 9 Tahun 2023 11.Penilai Ahli Kegagalan Bangunan Gedung Tahun 2023 12.Tenaga Penilai Ahli (TPA) Pada Sistem Informasi Bangunan Gedung (SIMBG) 13.dsb. KEAHLIAN • Residual Stress Effect On Link Element Of Eccentrically Braced Frame pada 18th World Conference on Earthquake Engineering, WCEE 2024 Milan • Neutron Diffraction Method Towards Residual Stress On Stiffener–Web- Flange Joint Of Eccentrically Braced Frame (EBF) Link Element pada 2nd Asia Oceania Conference on Neutron Scattering (Juli 2015) • Residual Stress Effect On Link Element Of Eccentrically Braced Frame pada 16th World Conference on Earthquake Engineering, 16WCEE 2017 (Jan 2017) • Kajian Eksperimental Besaran Dan Distribusi Tegangan Sisa Pada Element Link SRBE Dengan Metode Hamburan Neutron (Neutron Diffraction Method) pada Konferensi Nasional Pascasarjana Teknik Sipil 2014 (KNPTS 2014) • Tegangan Sisa Pada Sambungan End Plate- Link Dari Struktur Rangka Baja Berpengaku Eksentrik pada Konferensi Nasional Teknik SIpil (Nov 2023) • dsb. • S1 - UNIVERSITAS SYIAH KUALA 2000 - Teknik Sipil • S2 - INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2003 - Teknik Sipil • S3 - INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2017 - Teknik Sipi • PROFESI - INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2022 - Program Profesi Insinyur • S2 UNIVERSITAS PADJAJARAN- Sekarang - Hukum Infrastruktur PENDIDIKAN Dr.Ir. KURDI, S.T,M.T, IPM, Asean.Eng Jabatan Saat Ini Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Aceh Barat • Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Cabang Aceh Barat • Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia • Ahli Pengadaan Nasional LKPP • Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia Cab. Aceh Barat • Anggota Forum Penilai Ahli Bangunan Gedung Kementerian PUPR ORGANISASI • Penilai Ahli Kegagalan Bangunan • Manajemen Konstruksi/Manajemen Proyek • Insinyur Profesional Madya Ahli Teknik Bangunan Gedung Jenjang IX • Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah PRESTASI/PENGHARGAAN KARYA TULIS Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Cabang Aceh Barat
  • 3.
    Journal of Law, Politicand Humanities (JLPH) The Influence of Legal Politics in the Implementation of Government Cooperation of Small-Scale Enterprises of Local Government Jurnal Hukum Sehasen The Role Of Legal Sociology In Implementing PPP (Public-Private Partnership) (Lhok Guci PPP Case Study) Journal of Law, Politic and Humanities (JLPH) Preparation of Regional Regulations in the Context of Implementing the Content of Presidential Regulation Number 38 of 2015 concerning Cooperation Agreements between Government and Business Entities in the Provision of Infrastructure AJUDIKASI LAND ACQUISITION FOR INFRASTRUCTURE DEVELOPMENT WITH THE MECHANISM OF GOVERNMENT COOPERATION WITH BUSINESS ENTITIES (KPBU) (CASE STUDY OF LHOK GUCI KPBU PROJECT) PUBLIKASI KURDI TERKAIT PPP/KPBU Jurnal Hukum Sehasen Implementation Of Public-Private Partnership Of Lhok Guci Project Viewed From The Perspective Of Investment Law And Financing Law Journal of Law, Politic and Humanities (JLPH) Analysis Of The Use Of The Dispute Resolution Clause Through Arbitration (Article 79.3) In The Peunaga Cut Ujong Road Construction Agreement Kab. West Aceh Number 001/Pupr-Abar/2024
  • 4.
    LATAR BELAKANG Pentingnya InovasiTeknik Sipil Untuk Mitigasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana di Indonesia Lokasi geografis Indonesia dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu lempeng IndoAustralia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera - Jawa – Nusa Tenggara - Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa- rawa. Berdasarkan kondisi geografis itu, Indonesia memiliki potensi besar menjadi negeri rawan bencana alam.
  • 5.
    Dari peta tersebut dapatdiketahui bahwa sebagian besar wilayah Indonesia memiliki indeks resiko bencana yang tinggi. Hal ini tidak lepas dari fakta geologis dan Vulkanologis yang telah umum diketahui bahwa wilayah Indonesia memang berada di sepanjang cincin api. Sumber: Peta Index Bencana Indonesia BNPB tahun 2018.
  • 7.
    BNPB (2023) mencatatsejak tahun 2014, jumlah kejadian bencana di Indonesia dapat dikatakan cenderung meningkat. Berdasarkan beberapa musibah bencana terdahulu yang melanda wilayah Indonesia, Pribadi dkk. (2014) menyebutkan bahwa sebagian besar korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat gempa bumi adalah karena kerusakan yang terjadi pada sektor perumahan. Seperti pada bencana gempa bumi yang menimpa wilayah Yogyakarta pada tahun 2006, Bappenas (2008) memperkirakan 50% dari total kerusakan dan kerugian akibat gempa ada pada sektor perumahan, 0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 Data Jumlah Kejadian Bencana di Indonesia Bencana Geologi dan Vulkanologi Bencana Hidrometeorologi
  • 8.
    Menurut Pribadi danBoen (2011) kebanyakan rumah tinggal di Indonesia termasuk ke dalam kategori bangunan nir- rekayasa (non-engineered construction), dan dibangun berdasarkan pengetahuan dan keterampilan pelaku konstruksi yang didapat secara tradisional melalui pengalaman belajar informal turun temurun. Maka harus terdapat mekanisme dan sistem pembangunan kembali yang lebih baik dengan memanfaatkan keahlian dari pelaku-pelaku di industri konstruksi. Rekonstruksi rumah masyarakat menjadi factor penting dalam pemulihan Rekonstruksi memerlukan biaya yang besar Kondisi tersebut terjadi karena konstruksi rumah yang tidak dapat menahan beban akibat bencana. • Data menunjukkan kerusakan dan kerugian pada sektor perumahan adalah yang tertinggi DATA KERUSAKAN DAN KERUGIAN AKIBAT BENCANA
  • 9.
  • 10.
    Penjelasan Jasa Konstruksi DalamUndang-Undang No 2 tahun 2017 tentang jasa konstruksi, disebutkan bahwa penyelenggaraan jasa konstruksi salah satunya bertujuan untuk menata sistem Jasa Konstruksi yang mampu mewujudkan keselamatan publik dan menciptakan kenyamanan lingkungan terbangun. Pada situasi pasca-bencana, peran industri konstruksi dalam menurunkan risiko bencana di masa depan sangat penting, melalui proses rehabilitasi dan rekonstruksi dari bangunan dan infrastruktur yang rusak (Pribadi, 2017).
  • 11.
    MITIGASI BENCANA DEFINISI TUJUAN Mitigasi bencanaadalah serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan dampak negatif dari bencana alam atau bencana buatan manusia sebelum bencana tersebut terjadi. Tujuan utama dari mitigasi bencana adalah untuk meminimalkan kerusakan pada infrastruktur, lingkungan, dan kehidupan manusia, serta untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
  • 12.
    Pengembangan Kebijakan 04 02 01 03 Strategi lainnya yang bertujuanuntuk mengurangi kerentanan terhadap bencana. Penerapan Teknologi Perencanaan Tahapan Mitigasi
  • 13.
    Kelembagaan Legislasi IPTEK Penyelenggaraan Perencanaan Pendanaan Pada komponen atausubsistem IPTEK dan Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, kegiatan penanggulangan bencana harus diintegrasikan dalam proses kegiatan pembangunan. Penyelenggaraan Penanggulangan bencana harus memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara optimal agar efektifitas Penanggulangan bencana terjamin, karena proses penanggulangan bencana, baik pada tahap prabencana, pada saat terjadi bencana, maupun pada tahap pascabencana dapat dipermudah dan dipercepat (Kemenristek, 2007). KOMPONEN DALAM SISTEM NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA
  • 14.
    PEMBENTUKAN SISTEM (SYSTEM BUILDING)PENANGGULANGAN BENCANA Undang-undang No. 24 Tahun 2007 Penanggulangan Bencana (UUPB) merupakan landasan bagi pembentukan sistem (system building) penanggulangan bencana di Indonesia Pembentukan sistem (system building) penanggulangan bencana di Indonesia secara tidak langsung telah menjelaskan pentingnya dan besarnya peran teknik sipil dalam upaya penanggulangan bencana Pembangunan di wilayah yang mempunyai berbagai ancaman bencana (multi hazard), harus berpedoman pada sistem nasional penanggulangan bencana, agar hasil karya kegiatan konstruksi bermanfaat secara maksimum, dan tidak menimbulkan kerugian bagi penggunanya.
  • 15.
    · jenis jenisbencana alam yang terjadi di Indonesia berdasarkan penyebabnya · Jenis jenis bencana alam berdasarkan skala dan dampaknya 2. Bencana geologis: 3, Bencana hidrometeorologis: 1. Bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim: 1.Bencana Skala Kecil: Bencana yang berdampak lokal dan terbatas pada komunitas atau wilayah kecil, dengan kerusakan yang relatif kecil. 2.Bencana Skala Besar: Bencana yang berdampak luas, melibatkan banyak wilayah atau negara, dengan kerusakan signifikan dan kebutuhan bantuan internasional. Banjir Rob Erosi Pantai Kebakaran Hutan Banjir Angin Topan Kekeringan Gempa Bumi Tsunami Gunung Berapi Tanah Longsor JENIS BENCANA SERTA DAMPAKNYA PADA INFRASTRUKTUR
  • 16.
    DAMPAK BENCANA TERHADAPINFRASTRUKTUR 1. Kerusakan Fisik pada Bangunan dan Struktur · Bangunan: Gempa bumi, badai, dan ledakan dapat merusak bangunan, menyebabkan runtuhnya dinding, lantai, dan atap. Bangunan yang tidak dirancang untuk menahan bencana mungkin mengalami keruntuhan total. · Jembatan: Bencana seperti gempa bumi dan banjir dapat menyebabkan jembatan runtuh atau mengalami kerusakan struktural yang serius, memutus konektivitas antara wilayah. · Jalan Raya: Tanah longsor, banjir, dan gempa bumi dapat merusak jalan raya, menyebabkan longsoran, retakan besar, atau hilangnya jalan sepenuhnya.
  • 17.
    Gangguan pada InfrastrukturVital LISTRIK DAN ENERGI AIR DAN SANITASI TELEKOMUNIKASI Banjir dan gempa bumi dapat merusak pipa air dan sistem sanitasi, mengganggu pasokan air bersih dan pengelolaan limbah, yang dapat menyebabkan krisis kesehatan masyarakat. Menara telekomunikasi, kabel serat optik, dan stasiun pemancar dapat rusak oleh bencana, memutus komunikasi dan menghambat upaya tanggap darurat. Bencana alam dapat merusak jaringan listrik, termasuk pembangkit listrik, tiang listrik, dan jaringan distribusi, menyebabkan pemadaman listrik yang luas dan berkepanjangan. POLUSI DAN KONTAMINASI KERUSAKAN EKOSISTEM Hutan, lahan basah, dan area perlindungan lainnya dapat hancur oleh bencana, menyebabkan hilangnya habitat bagi flora dan fauna serta mempercepat erosi dan degradasi lahan. Banjir dan bencana industri dapat menyebabkan polusi air dan tanah akibat tumpahan bahan kimia atau limbah, yang dapat merusak ekosistem dan mengancam kesehatan masyarakat. Kerugian Lingkungan
  • 18.
    Bandara dan Pelabuhan Badaibesar, tsunami, dan gempa bumi dapat merusak landasan pacu, terminal, dan fasilitas pelabuhan, menghentikan operasi transportasi udara dan laut yang penting Transportasi Publik Kereta api, bus, dan sistem transportasi umum lainnya dapat terhenti akibat kerusakan infrastruktur, seperti rel yang bengkok atau stasiun yang rusak. Dampak-dampak kerusakan infrastruktur kemudian memiliki efek ekonomi, seperti: EFEK EKONOMI ·Biaya Perbaikan dan Rekonstruksi Kerusakan infrastruktur menimbulkan biaya yang sangat besar untuk perbaikan dan rekonstruksi, yang dapat berdampak signifikan pada ekonomi lokal dan nasional. Gangguan Ekonomi Gangguan pada infrastruktur dapat menyebabkan penundaan atau penghentian operasi bisnis, mempengaruhi rantai pasokan, dan menyebabkan kerugian ekonomi yang luas. Penghentian Layanan Penutupan jalan, pemadaman listrik, dan gangguan air dapat menghentikan layanan penting, termasuk rumah sakit, sekolah, dan bisnis, memperlambat pemulihan ekonomi setelah bencana. Disrupsi pada Transportasi
  • 19.
    Evakuasi dan Pengungsian Kerusakaninfrastruktur dapat memaksa evakuasi massal dan menciptakan kebutuhan mendesak akan tempat tinggal sementara dan fasilitas darurat. DAMPAK SOSIAL DAN KEMANUSIAAN Krisis Kesehatan Kerusakan sistem sanitasi dan air bersih, serta pemadaman listrik di rumah sakit, dapat menyebabkan kondisi kesehatan yang buruk dan memperparah krisis kemanusiaan. Disrupsi Pendidikan Sekolah yang rusak atau hancur akibat bencana dapat menyebabkan gangguan panjang pada pendidikan anak-anak, memperburuk dampak sosial dari bencana.
  • 20.
  • 21.
    Pentingnya Peran TeknikSipil dalam Mengurangi Risiko Bencana Menjauhkan manusia dari sumber bencana, dan/atau, Menjauhkan sumber bencana dari manusia, dan/atau Hidup harmoni dengan ancaman bencana dengan memanfaatkan dan mengembangkan iptek serta mempertahankan kearifan lokal yang nalar atau masih efektif untuk diterapkan. Untuk menekan korban dan kerugian akibat bencana di Indonesia yang dikoordinasikan oleh BNPB dan BPBD sesuai Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2008 ada tiga opsi langkah yang secara prioritas dapat dilakukan adalah:
  • 23.
    CONTOH PERAN TEKNIKSIPIL DALAM MITIGASI/PENANGGULANGAN BENCANA 1. Desain dan Konstruksi Infrastruktur Tahan Bencana a. Bangunan Tahan Gempa Ahli teknik sipil merancang bangunan yang dapat menahan guncangan gempa, menggunakan teknik seperti fondasi dalam, struktur fleksibel, dan material khusus yang mampu menyerap energi seismik. Ini mengurangi risiko keruntuhan bangunan yang dapat menyebabkan korban jiwa dan kerugian besar. Peta zona gempa yang dibuat untuk memetakan derajat potensi goncangan gempa sebagai dasar penentuan beban gempa pada bangunan melalui besaran percepatan dasar Proses desain bangunan tahan gempa menggunakan konsep perencanaan tahan gempa Percoban struktur tahan gempa menggunakan isolasi dasar dan kendali struktur
  • 24.
    b. Jembatan danJalan Tahan Bencana Infrastruktur transportasi dirancang untuk tetap fungsional setelah bencana. Misalnya, jembatan dan jalan yang dirancang untuk menahan banjir, tanah longsor, atau gempa, memastikan jalur evakuasi tetap dapat digunakan dan bantuan dapat segera dikirimkan. 2. Retrofit dan Penguatan Struktur Eksisting a. Penguatan Bangunan Lama Banyak bangunan tua yang tidak dirancang untuk menahan bencana. Teknik sipil memainkan peran penting dalam retrofit bangunan ini, memperkuat elemen struktural seperti kolom, balok, dan dinding, serta menambahkan perangkat anti-guncangan untuk meningkatkan ketahanan terhadap bencana. Retrofit bangunan untuk menguatkan kembali bangunan yang sudah ada b. Pemeliharaan dan Pemantauan: Pemantauan kondisi infrastruktur yang terus menerus dan pemeliharaan rutin memastikan bahwa bangunan dan infrastruktur tetap aman dan mampu menahan dampak bencana. Proses desain jembatan tahan gempa menggunakan konsep perencanaan tahan gempa Aspal porus sebagai aspal yang dapat meneruskan air hujan ke tanah untuk antisipasi banjir di perkotaan
  • 25.
    3. Pengelolaan SumberDaya Air dan Drainase a. Sistem Drainase dan Pengendalian Banjir Insinyur sipil merancang sistem drainase perkotaan yang efisien untuk mengurangi risiko banjir, termasuk normalisasi sungi, naturalisasi daerah aliran sungai, pembangunan kanal, kolam resapan, dan tanggul. Ini membantu mencegah kerusakan infrastruktur dan properti serta mengurangi risiko kesehatan akibat banjir. b. Pembangunan Bendungan dan Reservoir Bendungan dan reservoir dirancang untuk mengendalikan aliran air, mengurangi risiko banjir di hilir dan menyediakan cadangan air selama kekeringan, yang membantu menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Waduk sebagai pengendali banjir di hilir serta menyediakan cadangan air saat kemarau Proses normalisasi sungai di kawasan perkotaan untuk mengurangi risiko banjir 4. Rekayasa Geoteknik untuk Stabilitas Tanah Pembuatan dinding penahan tanah (DPT) guna menstabilkan lereng tanah Penguatan Tanah dan Pondasi
  • 26.
    a. Zonasi WilayahRawan Bencana Teknik sipil berperan dalam perencanaan tata ruang yang memperhitungkan risiko bencana, seperti menetapkan zona larangan pembangunan di area rawan banjir atau longsor. Ini mengurangi risiko kerugian harta benda dan korban jiwa saat bencana terjadi. b. Pembangunan Berbasis Resiliensi: Melalui tata ruang yang berorientasi pada resiliensi, insinyur sipil membantu menciptakan komunitas yang lebih tangguh, dengan infrastruktur dan layanan yang dirancang untuk pulih dengan cepat setelah bencana. 6. Penggunaan Teknologi Modern dan Inovasi 5. Perencanaan Tata Ruang dan Zonasi a.. Building Information Modeling (BIM) BIM digunakan untuk mensimulasikan dampak bencana pada bangunan dan infrastruktur, memungkinkan insinyur sipil untuk mengidentifikasi potensi kelemahan dan merancang solusi yang lebih baik. Penggunaan BIM untuk simulasi dampak bencana b. Sensor dan Sistem Peringatan Dini Teknologi sensor yang dipasang pada bangunan, jembatan, dan bendungan dapat mendeteksi getaran, pergerakan tanah, atau perubahan tekanan yang mungkin menunjukkan bencana akan terjadi. Penggunaan sensor pada jembatan untuk mendeteksi getaran serta defleksi struktur 7. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat Edukasi Konstruksi Tahan Bencana Teknik sipil juga berperan dalam edukasi masyarakat tentang pentingnya konstruksi tahan bencana, baik melalui seminar, pelatihan, atau kampanye publik. Ini membantu masyarakat memahami risiko dan bagaimana cara melindungi diri mereka sendiri dan properti mereka. Keterlibatan dalam Perencanaan Komunitas: Insinyur sipil bekerja dengan pemerintah dan komunitas untuk memastikan bahwa pembangunan infrastruktur baru mempertimbangkan potensi bencana, serta membantu dalam merancang rencana tanggap darurat yang efektif
  • 27.
    Inovasi Terkini dalam Mitigasi Bencanadan Rekonstruksi Pasca Bencana 03
  • 29.
    2. Teknologi RumahInstan Sederhana Sehat (RISHA) Panel panel RISHA Gambar rumah RISHA yang telah dibangun RISHA adalah sebuah penemuan teknologi konstruksi knock down yang dapat dibangun dengan waktu cepat (oleh sebab itu disebut sebagai teknologi instan), dengan menggunakan bahan beton bertulang pada staruktur utamanya RISHA didesain sedemikian rupa sehingga dapat menahan potensi gempa yang bergerak secara horizontal. Panel P1 memiliki uk P 120 cm, L 30 cm, dan T max 10 cm. Panel P2 memiliki UK P 120 cm, L 20 cm, dan T max 10 cm. Panel P3 merupakan panel simpul dengan UK P 30 cm, dan L 30 cm, dan T max 10 cm. Karena ukuran komponen mengacu pada ukuran modular maka komponennya memiliki sifat fleksibel dan efisien dalam konsumsi bahan bangunan. Sehingga, waktu yang diperlukan dalam proses pembangunan setiap modul 24 jam oleh 3 pekerja. Terdapat 67 aplikator dan diterapkan sebanyak + 10.000 unit di Aceh pasca Tsunami Struktur rumah ini dibilang bisa menahan gempa berkekuatan 8 skala ritcher (SR) dan 8 Modified Mercalli Intensity (MMI)
  • 30.
    INTEGRASI STRATEGI MITIGASIBENCANA DALAM PERENCANAAN TATA RUANG KOTA Langkah penting untuk mengurangi risiko bencana dan memastikan pembangunan kota yang berkelanjutan serta aman bagi penduduknya. Identifikasi Risiko dan Zonasi Wilayah Pemetaan Risiko Bencana: Langkah pertama adalah melakukan pemetaan wilayah kota untuk mengidentifikasi area yang rentan terhadap bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, tsunami, dan lain-lain. Pemetaan ini menggunakan data historis, studi geoteknik, dan analisis lingkungan. Zonasi Berdasarkan Risiko: Berdasarkan hasil pemetaan, wilayah kota dibagi menjadi zona-zona yang disesuaikan dengan tingkat risiko. Misalnya, zona dengan risiko banjir tinggi sebaiknya dialokasikan untuk ruang terbuka hijau atau area non- permanen daripada untuk pembangunan permukiman padat. Peraturan dan pengembangan Bangunan Tahan Bencana Pembangunan Infrastruktur Tahan Bencana Penyediaan Ruang Terbuka Hijau dan Area Resapan Air Ruang Terbuka Hijau (RTH): berfungsi sebagai area resapan air terhadap bencana seperti banjir dan tanah longsor. Konservasi dan Restorasi Ekosistem Alami: Pelestarian hutan kota, mangrove, dan lahan basah membantu mengurangi risiko bencana seperti banjir dan erosi. Penyediaan Ruang Terbuka Hijau dan Area Resapan Air
  • 31.
    Pengelolaan Lahan danPengendalian Perubahan Tata Guna Lahan Pengaturan Penggunaan Lahan: Tata ruang harus mencakup kebijakan yang ketat mengenai penggunaan lahan untuk mencegah pembangunan di area yang berisiko tinggi terhadap bencana. Misalnya, larangan pembangunan di lereng curam atau daerah rawan longsor. Perencanaan Pembangunan di Zona Rawan: Jika pembangunan di area rawan tidak dapat dihindari, maka perencanaan harus melibatkan teknik mitigasi seperti penguatan lereng, pembuatan tembok penahan, dan penerapan teknik konstruksi tahan bencana. Pengembangan Jalur Evakuasi dan Infrastruktur Darurat Perencanaan Jalur Evakuasi: Jalur evakuasi yang jelas dan bebas hambatan harus diintegrasikan dalam tata ruang kota. Ini termasuk pengembangan jalan raya, jembatan, dan jalur darurat yang menghubungkan area berisiko dengan titik evakuasi atau tempat aman. Penyediaan Fasilitas Darurat: Tata ruang kota harus mencakup lokasi-lokasi untuk fasilitas darurat seperti pusat evakuasi, rumah sakit, dan stasiun pemadam kebakaran, yang dapat diakses dengan mudah selama bencana. INTEGRASI STRATEGI MITIGASI BENCANA DALAM PERENCANAAN TATA RUANG KOTA
  • 32.
    Pengembangan Jalur Evakuasidan Infrastruktur Darurat Perencanaan Jalur Evakuasi: Jalur evakuasi yang jelas dan bebas hambatan harus diintegrasikan dalam tata ruang kota. Ini termasuk pengembangan jalan raya, jembatan, dan jalur darurat yang menghubungkan area berisiko dengan titik evakuasi atau tempat aman. Penyediaan Fasilitas Darurat: Tata ruang kota harus mencakup lokasi-lokasi untuk fasilitas darurat seperti pusat evakuasi, rumah sakit, dan stasiun pemadam kebakaran, yang dapat diakses dengan mudah selama bencana. INTEGRASI STRATEGI MITIGASI BENCANA DALAM PERENCANAAN TATA RUANG KOTA Pemantauan dan Penegakan Peraturan Sistem Pemantauan Berkelanjutan: Setelah rencana tata ruang diterapkan, penting untuk memiliki sistem pemantauan yang dapat menilai efektivitas strategi mitigasi dan membuat penyesuaian jika diperlukan. Teknologi seperti GIS (Geographic Information Systems) dan sensor monitoring dapat digunakan untuk tujuan ini. Penegakan Peraturan: Pemerintah daerah harus tegas dalam menegakkan peraturan terkait pembangunan di zona risiko dan memastikan bahwa semua pembangunan mematuhi standar mitigasi bencana.
  • 33.
    TANTANGAN DAN PELUANGDI MASA DEPAN DALAM PENANGGULANGAN BENCANA · Tantangan Global: Perubahan iklim dan meningkatnya frekuensi serta intensitas bencana Keterbatasan sumber daya dan teknologi di negara berkembang · Peluang Inovasi: Pengembangan teknologi baru untuk mitigasi bencana yang lebih efektif. Investasi dalam penelitian dan pengembangan di bidang teknik sipil terkait mitigasi bencana
  • 34.
  • 35.
    ZONA SUBDUKSI DANPOTENSI GEMPA MEGATHRUST DI INDONESIA Karakteristik Gempa Megathrust Tsunami Aceh dipicu Gempa Megathrust Gempa Berkekuatan Besar Memiliki potensi kekuatan dengan skala 8,0- 9,0 magnitudo Berpotensi Tsunami Skala Magnitudo yang besar dapat menyebabkan tsunami. Gempa Aceh (26 Desember 2004) Zona Subduksi: Samudera Hindia- Lempeng Burma Kekuatan: 9.1-9.3 Magnitudo Kedalaman: 30 Kilometer Panjang Patahan: 1000-1300 KM Kedalaman: 30 Kilometer • Megathrust adalah bagian dangkal suatu jalur subduksi yang memiliki sudut tukik landai • Zona Subduksi Sunda membentang dari sebelah barat ujung Sumatera hingga selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. • Menurut BMKG, gempa berulang yang terjadi sejak awal Agustus 2019 memperlihatkan terjadinya proses sebelum kemunculan gempa utama. • BMKG juga menyatakan bahwa rentetan gempa tersebut tidak selalu berujung pada gempa besar. Sumber: BMKG dan Antara News Mengenal Ancaman Megathrust
  • 37.
    Berlokasi di PulauJawa yang dilewati cincin api (ring of fire), Jakarta rawan akan bencana alam. Jakarta rentan akan bencana alam seperti banjir, penurunan muka tanah (land subsidence), hingga gempa bumi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sebanyak 1.258 bencana terjadi di Jakarta sepanjang tahun 2023 yang umumnya berupa kebakaran permukiman dan gedung Sebagai Kota dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, Jakarta juga rawan akan bencana non-alam seperti kebakaran. KAJIAN RISIKO BENCANA DI DKI JAKARTA
  • 38.
    PERAN IBU KOTANUSANTARA (IKN) SEBAGAI MITIGASI BENCANA DKI JAKARTA 1 Pengurangan Beban Penduduk untuk mengurangi mengurangi tekanan terhadap infrastrukturdi DKI Jakarta. Desentralisasi Pemerintahan yang berpotensi mengurangi kepadatan penduduk dan pembangunan yang tidak terencana. Fokus pada Infrastruktur Hijau dan Mewujudkan Ibu Kota Tahan Bencana di IKN 2 3
  • 39.
    Mitigasi dan Rekonstruksi PascaBencana di KabupatenAceh Barat 05
  • 40.
    POTENSI KEBENCANAAN DIKABUPATEN ACEH BARAT (BENCANA ALAM) • 12 Kecamatan (4 di Pesisir), 322 Gampong • + 200 ribu jiwa penduduk • Pusat Perkotaan di Wilayah Pesisir • Permukiman Masyarakat di Pinggiran Pantai • 3 Sungai Besar Utama (Kr. Woyla, Kr. Bubon, Kr. Meureubo) • Permukiman masyarakat di Pinggiran Sungai Banjir Rob Banjir Gempa Bumi Tsunami POTENSI KEBENCANAAN DI KABUPATEN ACEH BARAT
  • 41.
    Pemicu utama Tsunamiadalah pergerakan vertikal dari permukaan dasar laut. Karena itu, mayoritas Tsunami berkaitan dengan gempa bumi disekitar daerah penunjang lempeng. Namun Tsunami dapat juga disebabkan oleh longsoran bawah laut, letusan gunung api bawah laut, bahkan meteor yang jatuh ke bumi Dampak Tsunami: Korban Jiwa Kehilangan Materi Dampak Sosial Kemasyarakatan Kerusakan Bangunan dan Infrastruktur Penyebab Terjadinya Tsunami TSUNAMI
  • 43.
    Tanggap Darurat Serangkaian kegiatanyang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, pelindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana (UU No 24/ 2007) Rehabilitasi Perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana (UU No 24/ 2007) Rekonstruksi Pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana (UU No 24/ 2007) PENANGANAN PASCA BENCANA (TANGGAP DARURAT, REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI)
  • 44.
    UPAYA MITIGASI BENCANATSUNAMI DI ACEH Regulasi: Penyediaan Peraturan Daerah (Qanun) untuk membatasi lahan terbangun di zona rawan bencana tsunami, serta peraturan lainnya. Pengelolaan kawasan pesisir (pelestarian hutan mangrove/ bakau, pengaturan aktivitas Sempadan Pantai Pembangunan Sarana dan Prasarna Mitigasi Bencana (Penyebarluasan Informasi Tsunami/ Alarm Tsunami, Penyediaan Escape Building, Penyediaan Tempat Evakuasi Sementara Peningkatan Kapasitas Kelembagaan (Pembentukan dan Pembinaan Desa Tangguh Bencana, Sekolah Siaga Bencana dan Komunitas Sejenis lainnya) Sosialisasi Bencana Tsunami (Sosialisasi dan Simulasi penanggulangan tsunami di masyarakat dan sekolah) Penguatan SATGAS Kebencanaan Pengelolaan zona rawan bencana tsunami (pengaturan jumlah/ ketinggian bangunan, pembatasan aktivitas, insentif dan disinsentif melalui regulasi)
  • 45.
    Potensi Bencana StrategisLainnya di Aceh Barat (BANJIR) Banjir akibat curah hujan tinggi dan luapan Sungai (Krueng Meureubo, Krueng Woyla dan Krueng Bubon) Kerugian: Korban jiwa, material, lahan pertanian yang rusak, aktvitas ekonomi sosial terganggu, kerusakan bangunan dan infrastruktur • Krueng Meureubo : Wilayah kecamatan yang terkena: Pante Ceureumen, Kaway XVI, Panton Reu, Johan Pahlawan • Krueng Woyla: Woyla, Woyla Barat, Woyla Timur, Bubon • Krueng Bubon: Bubon, Samatiga Sungai kecil lainnya: • Krueng Lambalek: Arongan Lambalek dan Woyla Barat, • Krueng Manggi: Panton Reu
  • 46.
    Banjir/ Genangan KawasanPerkotaan Meulaboh Hasil simulasi banjir dengan kala ulang 100 tahun yang menunjukkan tinggi maksimum genangan sebesar 2.4 meter di daerah pesisir pantai dan sungai menjadi indikator seriusnya potensi risiko banjir yang harus ditangani secara cermat. UPAYA MITIGASI BANJIR Perlu dilakukan peningkatan dan perbaikan infrastruktur drainase. Perencanaan tata ruang yang baik dapat meminimalkan risiko banjir (pengalokasian zona/ penggunaan lahan/ landuse) Pemberdayaan masyarakat juga merupakan upaya penting dalam mitigasi banjir (menjaga lingkungan) Teknologi modern, seperti sistem peringatan dini, dapat memberikan informasi cepat kepada warga tentang potensi banjir Kerjasama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sangat penting dalam menghadapi tantangan banjir dalam penyediaan infrastruktur drainase 1 2 3 4 5
  • 48.
    Note: Pengaturan/ regulasi untuk sebaranpermukiman dengan maksud menghindari sempadan sungai. Upaya mitigasi saat ini umumnya secara struktur yaitu dengan pembangunan konstruksi struktur sebagai pengaman tebing sungai. Upaya mitigasi secara non struktur masih jarang dilakukan Menanam vegetasi seperti rumput, semak, atau pohon dapat membantu mengurangi erosi tanah dengan memperkuat struktur tanah dan akar tanaman yang menjaga tanah tetap terikat. Sistem drainase yang baik dapat membantu mengalirkan air hujan dari permukaan tebing dengan cepat sehingga mengurangi tekanan air yang dapat menyebabkan erosi. Pembangunan dinding penahan tanah atau terracing pada tebing dapat membantu mengurangi erosi dengan mengurangi kemiringan tebing dan memberikan struktur penahan untuk tanah. Pengaturan/ regulasi Drainase Pengelolaan pada sempadan sungai Struktur penahan tanah Upaya Mitigasi Erosi Tebing Sungai
  • 50.
    Upaya Mitigasi ErosiTebing Sungai melalui Cara Non Struktur ( Inovasi Baver) Tanaman bambu yang rapat dapat mengikat tanah pada daerah lereng, sehingga berfungsi mengurangi erosi, sedimentasi dan longsor. Tanaman bambu juga mampu menyerap air hujan yang cukup besar melalui mekanisme intersepsi, sehingga kemungkinan terjadinya aliran langsung dan erosi di atas permukaan lahan dengan dominasi bambu menjadi kecil. Terkait dengan upaya mitigasi perubahan iklim, pengembangan tanaman bambu juga dapat meningkatkan penyerapan karbon .
  • 51.
    - Sesi TanyaJawab - Terima Kasih