HIDUP: TUHAN VS hantu
(Oleh: Herman Dapin)
PENGANTAR
Beberapa tahun terakhir, di dunia perfilman dan tayangan TV sangat marak dengan tontonan
kedigdayaan makhluk halus yang bernama hantu. Sepertinya makhluk yang satu ini sedang
mendapat tempat di hati pemirsa, khususnya penyuka film horor. Film ‘haunted house‘,
misalnya mencoba mencari tahu latar belakang para ‘hantu’ yang sering mengganggu manusia.
Begitupun dengan tayangan sinetron di salah satu TV swasta nasional, yang hampir selalu
mengisahkan peran hantu dan dunia persihiran atau sejenisnya. Bahkan dalam kehidupan sehari-
hari, dunia hantu-hantuan seakan sudah menjadi hal yang biasa. Saya terkadang sedih kalau
mendengar para ibu dan baby sitter menakuti anak-anak kecil “awas nanti kalau nakal, ketemu
hantu lho!” Kenapa mereka tidak berkata, “Hei nak, kalau anak baik pasti disayang malaikat dan
bertemu Tuhan lho”, bukankah itu lebih positif?
Hantu dalam dunia perkeleni’an merujuk kepada roh atau arwah yang meninggalkan badan
karena kematian. Hantu selalu digambarkan sebagai roh yang mulutnya penuh dengan gigi yang
tajam bercerancang, berwarna merah, suka menghisap darah. Dia selalu menakutkan dan
meninggalkan rasa takut yang luar biasa. Sedangkan Tuhan selalu dimaknai sebagai kekuatan
yang Maha Dasyat, Maha Esa, Dia selalu menghadirkan “syalom” dan meninggalkan damai
sejahtera. Dia pun membawa suka cita dan membuka cakrawala positif. Dalam Tuhan ada
kedamaian, dalam Tuhan ada kenyamanan dan dalam Tuhan ada kebahagiaan. Nah sekarang,
tergantung kita, mau memilih yang mana, ketakutan atau kedamaian, kesedihan atau sukacita,
Tuhan atau hantu?
PERGULATAN HIDUP
Mengutip kata-kata seorang penyair Perancis (Karni Ilyas-ILC), bahwa dengan membuka satu sekolah
sesungguhnya kita sedang menutup satu penjara. Artinya, sekolah sungguh menjadi
kawahcandradimukapengasahanintelektualdan pendidikan akhlak mulia serta karakter peserta didik,
sehinggamerekaselainakanmenjadi orangyangpintarsecara IQ, tetapi jugaakanmenjadi pribadi yang
berkualitas secara moral. Kalau ini yang terjadi, maka pada giliran berikutnya, mereka akan terhindar
dari perbuatan melanggar hukum sehingga terhindar pula dari kemungkinan masuk penjara.
UN tahun 2013 merupakanUN yang takanpernah dilupakan oleh segenap komponen masyarakat yang
konsrn pada dunia pendidikan, apalagi peserta ujian. Dengan menggunakan system BARCODE, paket
soal yang senyawa dengan LJUN dan diperketat dengan 20 macam paket soal, seyogyanya menjadi
evaluasi tahapakhiryang jujur,berkualitasdanbisadipertanggungjawabkan. Dansebagaimanaharapan
para pendidik dan pemerhati dunia pendidikan, bahwa seluruh proses dan evaluasi tahap akhir
pendidikan harus terhindar dari aneka tekanan dan kecemasan. Suasana yang nyaman, kondusif,
menyenangkan harus menghiasi dunia pendidikan kita.
Namun jika ditilik realitas pelaksanaan UN SMA dan SMP yang baru selesai, rasanya sungguh jauh dari
harapan tadi. Fakta menunjukkan bahwa ada begitu banyak siswa, orang tua, para pendidik, dinas
pendidikan dan bahkan pemerintahan kota/kabupaten yang kalang kabut. Hampir semua siswa
menghadapi UN dengan cemas, was-was dan gelisah, apakah bisa lulus atau tidak. Bahkan orang tua,
sekolah,DinasPendidikanbahkanlembaga-lembagabimbingan belajar, berlomba-lomba membuat les
tambahan, aneka try out, dan berbagai uji coba pra UN untuk menyiasati situasi dan membantu para
siswa keluar dari rasa cemas dan gelisah. Namun kenyataannya, aneka bentuk persiapan dan les
tambahan tersebut juga tidak serta merta dapat membebaskan para siswa. Oleh karena itu, jangan
heran, jika tetap saja ada kecolongan, ada soal yang bocor, bahkan kunci jawaban yang bertebaran via
sms di kalangan para siswa. Lalu kalau ditanya, mengapa demikian? Tidak satupun dari antara kita bisa
menjawabnya.Kitahanyabisaberkatabahwainilahbukti bahwahantusedangmenghantui,iblissedang
menyerang dan jin sedang gentayangan. Oh sungguh, UN yang diharapkan menjadi tanda kehadiran
Tuhan, tetapi justru menjadi arena pertunjukkan karakter hantu.
PENUTUP
Semogake depan,perhelatan UN betul-betul dapat menjadi evaluasi tahap akhir yang menyenangkan,
melegakan dan membawa harapan. Dia bisa tanda kehadiran Tuhan. Namun jika sebaliknya, menjadi
saat yang mencemaskan,menegangkandanmenyesakkan, maka kita pantas bertanya diri, mungkin ini
pertanda hantu sedang menunggu.
(Penulis adalah Staf Pengajar di SMP Fatima Sibolga, STKIP Santa Maria dan STIKes Nauli
Husada Sibolga,dan tinggal di Sibolga-Sumut)

Hidup, tuhan vs hantu

  • 1.
    HIDUP: TUHAN VShantu (Oleh: Herman Dapin) PENGANTAR Beberapa tahun terakhir, di dunia perfilman dan tayangan TV sangat marak dengan tontonan kedigdayaan makhluk halus yang bernama hantu. Sepertinya makhluk yang satu ini sedang mendapat tempat di hati pemirsa, khususnya penyuka film horor. Film ‘haunted house‘, misalnya mencoba mencari tahu latar belakang para ‘hantu’ yang sering mengganggu manusia. Begitupun dengan tayangan sinetron di salah satu TV swasta nasional, yang hampir selalu mengisahkan peran hantu dan dunia persihiran atau sejenisnya. Bahkan dalam kehidupan sehari- hari, dunia hantu-hantuan seakan sudah menjadi hal yang biasa. Saya terkadang sedih kalau mendengar para ibu dan baby sitter menakuti anak-anak kecil “awas nanti kalau nakal, ketemu hantu lho!” Kenapa mereka tidak berkata, “Hei nak, kalau anak baik pasti disayang malaikat dan bertemu Tuhan lho”, bukankah itu lebih positif? Hantu dalam dunia perkeleni’an merujuk kepada roh atau arwah yang meninggalkan badan karena kematian. Hantu selalu digambarkan sebagai roh yang mulutnya penuh dengan gigi yang tajam bercerancang, berwarna merah, suka menghisap darah. Dia selalu menakutkan dan meninggalkan rasa takut yang luar biasa. Sedangkan Tuhan selalu dimaknai sebagai kekuatan yang Maha Dasyat, Maha Esa, Dia selalu menghadirkan “syalom” dan meninggalkan damai sejahtera. Dia pun membawa suka cita dan membuka cakrawala positif. Dalam Tuhan ada kedamaian, dalam Tuhan ada kenyamanan dan dalam Tuhan ada kebahagiaan. Nah sekarang, tergantung kita, mau memilih yang mana, ketakutan atau kedamaian, kesedihan atau sukacita, Tuhan atau hantu? PERGULATAN HIDUP Mengutip kata-kata seorang penyair Perancis (Karni Ilyas-ILC), bahwa dengan membuka satu sekolah sesungguhnya kita sedang menutup satu penjara. Artinya, sekolah sungguh menjadi kawahcandradimukapengasahanintelektualdan pendidikan akhlak mulia serta karakter peserta didik, sehinggamerekaselainakanmenjadi orangyangpintarsecara IQ, tetapi jugaakanmenjadi pribadi yang berkualitas secara moral. Kalau ini yang terjadi, maka pada giliran berikutnya, mereka akan terhindar dari perbuatan melanggar hukum sehingga terhindar pula dari kemungkinan masuk penjara. UN tahun 2013 merupakanUN yang takanpernah dilupakan oleh segenap komponen masyarakat yang konsrn pada dunia pendidikan, apalagi peserta ujian. Dengan menggunakan system BARCODE, paket soal yang senyawa dengan LJUN dan diperketat dengan 20 macam paket soal, seyogyanya menjadi evaluasi tahapakhiryang jujur,berkualitasdanbisadipertanggungjawabkan. Dansebagaimanaharapan para pendidik dan pemerhati dunia pendidikan, bahwa seluruh proses dan evaluasi tahap akhir pendidikan harus terhindar dari aneka tekanan dan kecemasan. Suasana yang nyaman, kondusif, menyenangkan harus menghiasi dunia pendidikan kita.
  • 2.
    Namun jika ditilikrealitas pelaksanaan UN SMA dan SMP yang baru selesai, rasanya sungguh jauh dari harapan tadi. Fakta menunjukkan bahwa ada begitu banyak siswa, orang tua, para pendidik, dinas pendidikan dan bahkan pemerintahan kota/kabupaten yang kalang kabut. Hampir semua siswa menghadapi UN dengan cemas, was-was dan gelisah, apakah bisa lulus atau tidak. Bahkan orang tua, sekolah,DinasPendidikanbahkanlembaga-lembagabimbingan belajar, berlomba-lomba membuat les tambahan, aneka try out, dan berbagai uji coba pra UN untuk menyiasati situasi dan membantu para siswa keluar dari rasa cemas dan gelisah. Namun kenyataannya, aneka bentuk persiapan dan les tambahan tersebut juga tidak serta merta dapat membebaskan para siswa. Oleh karena itu, jangan heran, jika tetap saja ada kecolongan, ada soal yang bocor, bahkan kunci jawaban yang bertebaran via sms di kalangan para siswa. Lalu kalau ditanya, mengapa demikian? Tidak satupun dari antara kita bisa menjawabnya.Kitahanyabisaberkatabahwainilahbukti bahwahantusedangmenghantui,iblissedang menyerang dan jin sedang gentayangan. Oh sungguh, UN yang diharapkan menjadi tanda kehadiran Tuhan, tetapi justru menjadi arena pertunjukkan karakter hantu. PENUTUP Semogake depan,perhelatan UN betul-betul dapat menjadi evaluasi tahap akhir yang menyenangkan, melegakan dan membawa harapan. Dia bisa tanda kehadiran Tuhan. Namun jika sebaliknya, menjadi saat yang mencemaskan,menegangkandanmenyesakkan, maka kita pantas bertanya diri, mungkin ini pertanda hantu sedang menunggu. (Penulis adalah Staf Pengajar di SMP Fatima Sibolga, STKIP Santa Maria dan STIKes Nauli Husada Sibolga,dan tinggal di Sibolga-Sumut)