Al Rahn (Gadai)
M nur khotibul umam - 10210047
 Universitas Islam Negeri (UIN)
 Maulana Malik Ibrahim Malang
Secara Bahasa: berarti tetap atau lama

Istilah Syara’ :“Menjadikan harta benda
sebagai jaminan hutang untuk dilunasi
dengan jaminan tersebut ketika tidak mampu
melunasinya”
Landasan Rahn (gadai)
• Al-Qur’an
  “Apabila kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai),
  sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, hendaklah ada
  barang
  tanggungan yang dipegang”. (QS. Al-Baqarah : 283)


• As-Sunah
 “Dari Siti Aisyah r.a. Sesungguhnya Nabi SAW membeli dari seorang yahudi bahan
  makanan dengan cara hutang dan menggadaikan baju besinya. (HR Al Bukhori no
  2513 dan Muslim no. 1603).
Sifat Rahn (gadai)
• bersifat derma
  sebab apa yang diberikan penggadai (rahin) kepada penerima
  gadai (murtahin) tidak ditukar dengan sesuatu.
• Yang diberikan murtahin kepada
  rahin adalah utang, bukan penukar atas barang yang
  digadaikan.
Rukun Al Rahn
Mayoritas ulama memandang rukun Al rahn (Gadai) ada empat
   yaitu :
• Al Rahn atau Al Marhuun (barang yang digadaikan)
• Al Marhun bihi (hutang)
• Shighah ijab qabul
• Dua pihak yang bertransaksi yaitu Raahin (orang yang
   menggadaikan) dan Murtahin (pemberi hutang)
Sedangkan madzhab Hanafiyah memandang Al rahn
(gadai) hanya memiliki satu rukun yaitu shighah, karena ia
pada hakekatnya adalah transaksi.
Syarat Al Rahn
1. syarat yang berhubungan dengan transaktor (orang yang bertransaksi) yaitu
    Orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki
    kompetensi beraktivitas, yaitu baligh, berakal dan rusyd (kemampuan
    mengatur).
2. Syarat yang berhubungan dengan Al Marhun (barang gadai) yaitu:
• Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi hutangnya
    baik barang atau nilainya ketika tidak mampu melunasinya.
• Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau
    yang dizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai.
• Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran, jenis dan sifatnya, karena Al
    rahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini.

3. Syarat berhubungan dengan Al Marhun bihi (hutang) adalah hutang yang
    wajib atau yang akhirnya menjadi wajib.
Serah terima Al Rahn
• jika berupa barang yang tidak dapat
  dipindahkan maka disepakati serah terimanya
  dengan mengosongkannya
• Jika berupa barang yang ditakar maka
  disepakati serah terimanya dengan ditakar
  pada takaran,
• jika barang timbangan serah terimanya
  dengan cara ditimbang, jika diukur dg cara
  ukuran dll.
Berakhirnya akad rahn
• Barang telah diserahkan kembali kepada
  pemiliknya
• Rahin membayar hutangnya
• Dijual dengan perintah hakim atas perintah
  rahin
• Pembebasan hutang dengan cara apapun
  meskipun tidak ada persetujuan dari pihak
  rahin
Sekian

Ar rahn (gadai)

  • 1.
    Al Rahn (Gadai) Mnur khotibul umam - 10210047 Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang
  • 2.
    Secara Bahasa: berartitetap atau lama Istilah Syara’ :“Menjadikan harta benda sebagai jaminan hutang untuk dilunasi dengan jaminan tersebut ketika tidak mampu melunasinya”
  • 3.
    Landasan Rahn (gadai) •Al-Qur’an “Apabila kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai), sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang”. (QS. Al-Baqarah : 283) • As-Sunah “Dari Siti Aisyah r.a. Sesungguhnya Nabi SAW membeli dari seorang yahudi bahan makanan dengan cara hutang dan menggadaikan baju besinya. (HR Al Bukhori no 2513 dan Muslim no. 1603).
  • 4.
    Sifat Rahn (gadai) •bersifat derma sebab apa yang diberikan penggadai (rahin) kepada penerima gadai (murtahin) tidak ditukar dengan sesuatu. • Yang diberikan murtahin kepada rahin adalah utang, bukan penukar atas barang yang digadaikan.
  • 5.
    Rukun Al Rahn Mayoritasulama memandang rukun Al rahn (Gadai) ada empat yaitu : • Al Rahn atau Al Marhuun (barang yang digadaikan) • Al Marhun bihi (hutang) • Shighah ijab qabul • Dua pihak yang bertransaksi yaitu Raahin (orang yang menggadaikan) dan Murtahin (pemberi hutang) Sedangkan madzhab Hanafiyah memandang Al rahn (gadai) hanya memiliki satu rukun yaitu shighah, karena ia pada hakekatnya adalah transaksi.
  • 6.
    Syarat Al Rahn 1.syarat yang berhubungan dengan transaktor (orang yang bertransaksi) yaitu Orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki kompetensi beraktivitas, yaitu baligh, berakal dan rusyd (kemampuan mengatur). 2. Syarat yang berhubungan dengan Al Marhun (barang gadai) yaitu: • Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi hutangnya baik barang atau nilainya ketika tidak mampu melunasinya. • Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau yang dizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai. • Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran, jenis dan sifatnya, karena Al rahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini. 3. Syarat berhubungan dengan Al Marhun bihi (hutang) adalah hutang yang wajib atau yang akhirnya menjadi wajib.
  • 7.
    Serah terima AlRahn • jika berupa barang yang tidak dapat dipindahkan maka disepakati serah terimanya dengan mengosongkannya • Jika berupa barang yang ditakar maka disepakati serah terimanya dengan ditakar pada takaran, • jika barang timbangan serah terimanya dengan cara ditimbang, jika diukur dg cara ukuran dll.
  • 8.
    Berakhirnya akad rahn •Barang telah diserahkan kembali kepada pemiliknya • Rahin membayar hutangnya • Dijual dengan perintah hakim atas perintah rahin • Pembebasan hutang dengan cara apapun meskipun tidak ada persetujuan dari pihak rahin
  • 9.