GADAI (AL RAHN)
MAKALAH
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fiqih II
Dosen Pengampu
Muh. Ali Masyhudi, M.Pd.I.
Disusun oleh:
Siti Romdhoni
Nur Aini (A)
Hasan Bissri
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM DARUTTAQWA
SUCI MANYAR GRESIK
2015
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
hidayahNya. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah pada junjungan kita
Nabi Muhammad SAW.
Pada kesempatan ini kami telah menyelesaikan makalah pada dengan judul
Gadai. Dalam makalah ini akan dibahas pengertian dari gadai dan hukumnya,
rukun dan syarat gadai dan pemanfaatan barang gadai.
Kritik dan saran kami harapkan untuk perbaikan makalah kami
selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan
umumnya bagi pembaca sekalian.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Gresik, 14 April 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judul.......................................................................................................i
Kata Pengantar........................................................................................................ii
Daftar Isi.................................................................................................................iii
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................................1
B. Rumusan Masalah.........................................................................................1
BAB II: PEMBAHASAN
A. Pengertian gadai dan hukum gadai...........................................................2
B. Syarat rahin, murtahin, rukun gadai dan syarat marhun.....................4
C. Pemanfaatan barang gadai.......................................................................5
BAB III: PENUTUP
A. Kesimpulan.........................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam syari’at bermuamalah, seseorang tidaklah selamanya mampu
melaksanakan syari’at tersebut secara tunai dan lancar sesuai dengan syari’at yang
ditentukan. Ada kalanya suatu misal ketika sedang dalam perjalanan jauh
seseorang kehabisan bekal, sedangkan orang tersebut tidaklah mungkin kembali
ke tempat tinggalnya untuk mengambil perbekalan demi perjalanan selanjutnya.
Selain daripada itu, keinginan manusia untuk memnuhi kebutuhannya,
cenderung membuat mereka untuk saling bertransaksi walaupun dengan berbagai
kendala, misalnya saja kekurangan modal, tenaga dsb. maka dari itu, dalam islam
diberlakukan syari’at gadai. Adapun pengertian, hukum, dan syaratnya, serta
bagaimana penggunaannya akan dibahas dalam makalah ini.
B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian rahn? dan bagaimana hukumnya?
2. Apa saja syarat rahin dan murtahin?
3. Apa saja rukun rahn?
4. Apa saja syarat marhun?
5. Bagaimana pemanfaatan marhun?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian gadai dan hukum gadai
1. Pengertian gadai
Gadai (al rahn) secara bahasa dapat diartikan sebagai (al stubut,al habs) yaitu
penetapan dan penahanan.
Secara istilah dapat diartikan menjadikan suatu benda berharga dalam
pandangan syara’sebagai jaminan atas adanya 2 kemungkinan, untuk
mengembalikan uang itu atau mengambil sebagian benda itu.1
[1]
Gadai adalah perjanjian (akad) pinjam meminjam dengan menyerahkan
barang sebagai tanggungan utang.2
[2]
Sehingga dapat disimpulkan gadai adalah menjadikan suatu benda itu
berharga sebagai jaminan sebagai tanggungan utang berdasarkan perjanjian (akad)
antara orang yang memiliki hutang dengan pihak yang memberi hutang.
2. Hukum gadai
Perjanjian gadai dibenarkan oleh islam, berdasarkan:
a. Al qur’an surat Al Baqoroh ayat: 283
1
2[1] H. Hendi suhendi. Fiqh muamalah, (jakarta: pt. Grafindo persada, 2000) hal.105-106
[2] Prof. Drs. H. Masyfuk zuhdi. Masail fiqhiyah, (Jakarta: CV. Haji masagung, 1997) hal.122
‫إن‬ِ ‫و‬َ‫م‬ْ ‫ت‬ُ ‫كن‬ُ‫لى‬َ ‫ع‬َ‫ر‬ٍ ‫ف‬َ ‫س‬َ‫م‬ْ ‫ل‬َ ‫و‬َ‫ا‬ْ ‫دو‬ُ ‫ج‬ِ ‫ت‬َ‫تبا‬ِ ‫كا‬َ‫ن‬ٌ ‫ها‬َ ‫ر‬ِ ‫ف‬َ
‫ة‬ٌ ‫ض‬َ ‫بو‬ُ ‫ق‬ْ ‫م‬ّ‫ن‬ْ ‫إ‬ِ ‫ف‬َ‫ن‬َ ‫م‬ِ ‫أ‬َ‫كم‬ُ ‫ض‬ُ ‫ع‬ْ ‫ب‬َ‫عضا‬ْ ‫ب‬َ‫د‬ّ ‫ؤ‬َ ‫ي‬ُ ‫ل‬ْ ‫ف‬َ‫ذي‬ِ ‫ل‬ّ ‫ا‬
‫ن‬َ ‫م‬ِ ‫ت‬ُ ‫ؤ‬ْ ‫ا‬‫ه‬ُ ‫ت‬َ ‫ن‬َ ‫ما‬َ ‫أ‬َ‫ق‬ِ ‫ت‬ّ ‫ي‬َ ‫ل‬ْ ‫و‬َ‫ه‬َ ‫ل‬ّ ‫ال‬‫ه‬ُ ‫ب‬ّ ‫ر‬َ‫ل‬َ ‫و‬َ‫ا‬ْ ‫مو‬ُ ‫ت‬ُ ‫ك‬ْ ‫ت‬َ
‫ة‬َ ‫د‬َ ‫ها‬َ ‫ش‬ّ ‫ال‬‫من‬َ ‫و‬َ‫ها‬َ ‫م‬ْ ‫ت‬ُ ‫ك‬ْ ‫ي‬َ‫ه‬ُ ‫ن‬ّ ‫إ‬ِ ‫ف‬َ‫م‬ٌ ‫ث‬ِ ‫آ‬‫ه‬ُ ‫ب‬ُ ‫ل‬ْ ‫ق‬َ‫ه‬ُ ‫ل‬ّ ‫وال‬َ‫ما‬َ ‫ب‬ِ
‫ن‬َ ‫لو‬ُ ‫م‬َ ‫ع‬ْ ‫ت‬َ‫م‬ٌ ‫لي‬ِ ‫ع‬َ﴿٢٨٣﴾
Artinya : Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu`amalah tidak secara tunai)
sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian
kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu
menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah
Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan
barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang
yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.3
[3]
b. Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Nasai, dan Ibnu Majah, dari
Anas r.a, yang artinya:”Rosulullah merungguhkan baju besi kepada seorang
yahudi di madinah ketika beliau mengutangkan gandum dari seorang yahudi”.4
[4]
c. Ijma ulama atas hukum mubah(boleh) dalam perjanjian gadai
3
4[3] Qur’an Player
[4] Opcit, hal 107
Hal ini menjadikan adanya khilafah pada beberapa ulama, diantaranya madzhab
Dhahiri, Mujahid, Al Dhahak, hanya memperbolehkan gadai pada saat berpergian
saja, berujuk pada surat Al Baqoroh ayat 283.
Sedangkan jumhur ulama memperbolehkan dalam bepergian atau dimana
saja berdasar hadits nabi yang melakukan transaksi gadai di Madinah.
Sehingga dapat disimpulkan perjanjian gadai diperbolehkan di dalam islam
berdasarkan Al qur’an surat Al Baqoroh ayat 283, hadits nabi Muhammad saw,
dan ijma ulama.
B. Syarat rahin, murtahin, rukun gadai dan syarat marhun
 Syarat syarat pegadai (rahin) dan penggadai (murtahin):
1. Berakal
2. Dewasa, baligh
3. Merdeka
4. Barang yang digadaikan telah ada di waktu gadai
5. Barang gadai bisa diserahkan/dipegang oleh penggadai.5
[5]
 Adapun rukun gadai:
1. Orang yang menggadai/orang yang menyerahkan barang jaminan(rahin)
2. Orang yang menerima barang gadai (murtahin)
5
[5] Opcit hal. 123
[6] A. Zainuddin S.Ag dan jamhuri M. Ag. Al islam 2 muamalah dan akhlak (bandung: CV.
Pustaka setia, 1998) hal. 21
3. Barang yang dijadikan jaminan (marhun).6
[6]
4. Akad (ijab dan qobul)
5. Pinjaman atau piutang (mahun bihi).7
[7]
 Adapun syarat barang gadai (marhun):
1. Diketahui barangnya, jenis, ukuran, dan sifatnya. Maka dari itu, yang belum
diketahui barangnya atau jenis, ukuran, dan sifatnya, tidak boleh digadaikan.
(al-Mughni, 6/467)
2. Barang tersebut dimiliki oleh pegadai/rahin atau diizinkan baginya untuk
menggadaikannya walaupun bukan miliknya.
3. Barang tersebut adalah sesuatu yang boleh diperjualbelikan, seperti senjata,
hewan, dan baju besi.
C. Pemanfaatan Barang Gadai
Dalam pemanfaatan barang gadai, terdapat perbedaan pendapat dalam kalangan
ulama’, diantaranya:
1. Jumhur Fuqoha’ berpendapat bahwa murtahin tidak diperbolehkan memakai
barang gadai dikarenakan hal itu sama saja dengan hutang yang mengambil
kemanfaatan, sehingga bila dimanfaatkan maka termasuk riba. Berdasar hadits
nabi yang artinya: “setiap utang yang menarik manfaat adalah termasuk riba”
(HR. Harits Bin Abi Usamah)
6
7[7] Ibid, hal 108
2. Menurut Ulama Hanafi, boleh mempergunakan barang gadai oleh murtahin atas
ijin rahin, dan itu bukan merupakan riba, karena kemanfaatannya diperoleh
berdasarkan izin dari rahin.
3. Menurut Mahmud Shaltut, menyetujui pendapat dari Imam Hanafi dengan
catatan: ijin pemilik itu bukan hanya sekedar formalitas saja, melainkan benar
benar tulus ikhlas dari hati saling pengertian dan saling tolong menolong.
4. Menurut Imam Ahmad, Ishak, Al Laits Dan Al Hasan, jika barang gadaian berupa
barang gadaian yang dapat dipergunakan atau binatang ternak yang dapat diambil
susunya, maka murtahin dapat mengambil manfaat dari kedua benda gadai
tersebut disesuaikan dengan biaya pemeliharaan yang dikeluarkan selama
kendaraan atau binatang ternak itu ada padanya. Sesuai dengan hadits nabi yang
artinya:”binatang tunggangan boleh ditunggangi karena pembiayaannya apabila
digadaikan, binatang boleh diambil susunya untuk diminum karena
pembiayaannya bila digadaikan dagi orang yang memegang yang memegang dan
meminumnya wajib memberikan biaya”(HR. Bukhari)8
[8]
D. Resiko Kerusakan Marhun (barang gadai)
1. Menurut Ulama Hanafiyah, murtahin yang memegang marhun menanggung
resiko kerusakan marhun atau kehilangan marhun bila marhun itu rusak atau
hilang karena disia siakan maupun dengan sendirinya.
2. Menurut Ulama Syafi’iyah, murtahin menanggung resiko kehilangan, attau
kerusakan marhun bila marhun itu rusak atau hilang karena disia siakan
murtahin9
[9]
8[8] H. Moh anwar. Fiqh islam. (bandung. PT. Al ma’arif:1998). Hal. 58
9[9] Ibid, hal 110
Jadi dapat disimpulkan, dalam pemanfaatan barang gadai terdapat perbedaan
pendapat di kalangan ulama yaitu diantara jumhur Fuqoha’, Ulama’ Hanafiyah,
Mahmud Syaltut Dan Imam Ahmad,Ibnu Ishak, Al Laits, dan Ala Hasan, yaitu
antara memperbolehkan pemanfaatan barang gadai dengan seizin orang yang
menggadaikan dan tidak memperbolehkannya dikarenakan hal itu termasuk riba
dalam hutang.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Gadai adalah menjadikah suatu benda itu berharga sebagai jaminan sebagai
tanggungan utang berdasarkan perjanjian (akad) antara orang yang memiliki
hutang dengan pihak yang memberi hutang
2. Dapat disimpulkan bawa syarat barang gadai adalah merdeka, berakal, baligh,
adanya barang gadai, dan barang gadai tersebut bisa diserahkan/dipegang
murtahin.
3. Rukun dari gadai adalah adanya rahin, murtahin, marhun, akad dan hutang yang
dimiliki(marhun bihi).
4. Syarat marhun adalah diketahui barang, jenis, ukuran, dan sifat. Barang tersebut
dimiliki rohin dan bisa diperjualbelikan
5. Dalam pemanfaatan barang gadai terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama
yaitu diantara jumhur Fuqoha’, Ulama’ Hanafiyah, Mahmud Syaltut dan Imam
Ahmad,Ibnu Ishak, Al Laits, dan Al Hasan, yaitu antara memperbolehkan
pemanfaatan barang gadai dengan seizin orang yang menggadaikan dan tidak
memperbolehkannya dikarenakan hal itu termasuk riba dalam hutang.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI. 2007. Al Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: CV
penerbit diponegoro
H. Suhendi, Hendi. 2000. Fiqh Muamalah. Jakarta. PT. Grafindo Persada
Drs. H. Zuhdi, Masyfuk. 1997. Masail Fiqhiyyah. Jakarta. CV. Hajimasagung
A. Zainuddin S. Ag, Jamhuri, M.Ag. 1998. Al Islam 2, Muamalah Dan Akhlak.
Bandung. Cv. Pustaka Setia
H. Anwar Moh. 1998. Fiqh Islam. Bandung. Pt. Al Maarif Offset

Gadai(rohn)

  • 1.
    GADAI (AL RAHN) MAKALAH Disusununtuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fiqih II Dosen Pengampu Muh. Ali Masyhudi, M.Pd.I. Disusun oleh: Siti Romdhoni Nur Aini (A) Hasan Bissri JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM DARUTTAQWA SUCI MANYAR GRESIK 2015
  • 2.
    KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr.Wb Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahNya. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpah pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Pada kesempatan ini kami telah menyelesaikan makalah pada dengan judul Gadai. Dalam makalah ini akan dibahas pengertian dari gadai dan hukumnya, rukun dan syarat gadai dan pemanfaatan barang gadai. Kritik dan saran kami harapkan untuk perbaikan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi pembaca sekalian. Wassalamu’alaikum Wr. Wb Gresik, 14 April 2015 Penyusun
  • 3.
    DAFTAR ISI Halaman Judul.......................................................................................................i KataPengantar........................................................................................................ii Daftar Isi.................................................................................................................iii BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang.........................................................................................1 B. Rumusan Masalah.........................................................................................1 BAB II: PEMBAHASAN A. Pengertian gadai dan hukum gadai...........................................................2 B. Syarat rahin, murtahin, rukun gadai dan syarat marhun.....................4 C. Pemanfaatan barang gadai.......................................................................5 BAB III: PENUTUP A. Kesimpulan.........................................................................................8 DAFTAR PUSTAKA
  • 4.
    BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Dalam syari’at bermuamalah, seseorang tidaklah selamanya mampu melaksanakan syari’at tersebut secara tunai dan lancar sesuai dengan syari’at yang ditentukan. Ada kalanya suatu misal ketika sedang dalam perjalanan jauh seseorang kehabisan bekal, sedangkan orang tersebut tidaklah mungkin kembali ke tempat tinggalnya untuk mengambil perbekalan demi perjalanan selanjutnya. Selain daripada itu, keinginan manusia untuk memnuhi kebutuhannya, cenderung membuat mereka untuk saling bertransaksi walaupun dengan berbagai kendala, misalnya saja kekurangan modal, tenaga dsb. maka dari itu, dalam islam diberlakukan syari’at gadai. Adapun pengertian, hukum, dan syaratnya, serta bagaimana penggunaannya akan dibahas dalam makalah ini. B. Rumusan masalah 1. Apa pengertian rahn? dan bagaimana hukumnya? 2. Apa saja syarat rahin dan murtahin? 3. Apa saja rukun rahn? 4. Apa saja syarat marhun? 5. Bagaimana pemanfaatan marhun?
  • 5.
    BAB II PEMBAHASAN A. Pengertiangadai dan hukum gadai 1. Pengertian gadai Gadai (al rahn) secara bahasa dapat diartikan sebagai (al stubut,al habs) yaitu penetapan dan penahanan. Secara istilah dapat diartikan menjadikan suatu benda berharga dalam pandangan syara’sebagai jaminan atas adanya 2 kemungkinan, untuk mengembalikan uang itu atau mengambil sebagian benda itu.1 [1] Gadai adalah perjanjian (akad) pinjam meminjam dengan menyerahkan barang sebagai tanggungan utang.2 [2] Sehingga dapat disimpulkan gadai adalah menjadikan suatu benda itu berharga sebagai jaminan sebagai tanggungan utang berdasarkan perjanjian (akad) antara orang yang memiliki hutang dengan pihak yang memberi hutang. 2. Hukum gadai Perjanjian gadai dibenarkan oleh islam, berdasarkan: a. Al qur’an surat Al Baqoroh ayat: 283 1 2[1] H. Hendi suhendi. Fiqh muamalah, (jakarta: pt. Grafindo persada, 2000) hal.105-106 [2] Prof. Drs. H. Masyfuk zuhdi. Masail fiqhiyah, (Jakarta: CV. Haji masagung, 1997) hal.122
  • 6.
    ‫إن‬ِ ‫و‬َ‫م‬ْ ‫ت‬ُ‫كن‬ُ‫لى‬َ ‫ع‬َ‫ر‬ٍ ‫ف‬َ ‫س‬َ‫م‬ْ ‫ل‬َ ‫و‬َ‫ا‬ْ ‫دو‬ُ ‫ج‬ِ ‫ت‬َ‫تبا‬ِ ‫كا‬َ‫ن‬ٌ ‫ها‬َ ‫ر‬ِ ‫ف‬َ ‫ة‬ٌ ‫ض‬َ ‫بو‬ُ ‫ق‬ْ ‫م‬ّ‫ن‬ْ ‫إ‬ِ ‫ف‬َ‫ن‬َ ‫م‬ِ ‫أ‬َ‫كم‬ُ ‫ض‬ُ ‫ع‬ْ ‫ب‬َ‫عضا‬ْ ‫ب‬َ‫د‬ّ ‫ؤ‬َ ‫ي‬ُ ‫ل‬ْ ‫ف‬َ‫ذي‬ِ ‫ل‬ّ ‫ا‬ ‫ن‬َ ‫م‬ِ ‫ت‬ُ ‫ؤ‬ْ ‫ا‬‫ه‬ُ ‫ت‬َ ‫ن‬َ ‫ما‬َ ‫أ‬َ‫ق‬ِ ‫ت‬ّ ‫ي‬َ ‫ل‬ْ ‫و‬َ‫ه‬َ ‫ل‬ّ ‫ال‬‫ه‬ُ ‫ب‬ّ ‫ر‬َ‫ل‬َ ‫و‬َ‫ا‬ْ ‫مو‬ُ ‫ت‬ُ ‫ك‬ْ ‫ت‬َ ‫ة‬َ ‫د‬َ ‫ها‬َ ‫ش‬ّ ‫ال‬‫من‬َ ‫و‬َ‫ها‬َ ‫م‬ْ ‫ت‬ُ ‫ك‬ْ ‫ي‬َ‫ه‬ُ ‫ن‬ّ ‫إ‬ِ ‫ف‬َ‫م‬ٌ ‫ث‬ِ ‫آ‬‫ه‬ُ ‫ب‬ُ ‫ل‬ْ ‫ق‬َ‫ه‬ُ ‫ل‬ّ ‫وال‬َ‫ما‬َ ‫ب‬ِ ‫ن‬َ ‫لو‬ُ ‫م‬َ ‫ع‬ْ ‫ت‬َ‫م‬ٌ ‫لي‬ِ ‫ع‬َ﴿٢٨٣﴾ Artinya : Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu`amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.3 [3] b. Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari, Nasai, dan Ibnu Majah, dari Anas r.a, yang artinya:”Rosulullah merungguhkan baju besi kepada seorang yahudi di madinah ketika beliau mengutangkan gandum dari seorang yahudi”.4 [4] c. Ijma ulama atas hukum mubah(boleh) dalam perjanjian gadai 3 4[3] Qur’an Player [4] Opcit, hal 107
  • 7.
    Hal ini menjadikanadanya khilafah pada beberapa ulama, diantaranya madzhab Dhahiri, Mujahid, Al Dhahak, hanya memperbolehkan gadai pada saat berpergian saja, berujuk pada surat Al Baqoroh ayat 283. Sedangkan jumhur ulama memperbolehkan dalam bepergian atau dimana saja berdasar hadits nabi yang melakukan transaksi gadai di Madinah. Sehingga dapat disimpulkan perjanjian gadai diperbolehkan di dalam islam berdasarkan Al qur’an surat Al Baqoroh ayat 283, hadits nabi Muhammad saw, dan ijma ulama. B. Syarat rahin, murtahin, rukun gadai dan syarat marhun  Syarat syarat pegadai (rahin) dan penggadai (murtahin): 1. Berakal 2. Dewasa, baligh 3. Merdeka 4. Barang yang digadaikan telah ada di waktu gadai 5. Barang gadai bisa diserahkan/dipegang oleh penggadai.5 [5]  Adapun rukun gadai: 1. Orang yang menggadai/orang yang menyerahkan barang jaminan(rahin) 2. Orang yang menerima barang gadai (murtahin) 5 [5] Opcit hal. 123 [6] A. Zainuddin S.Ag dan jamhuri M. Ag. Al islam 2 muamalah dan akhlak (bandung: CV. Pustaka setia, 1998) hal. 21
  • 8.
    3. Barang yangdijadikan jaminan (marhun).6 [6] 4. Akad (ijab dan qobul) 5. Pinjaman atau piutang (mahun bihi).7 [7]  Adapun syarat barang gadai (marhun): 1. Diketahui barangnya, jenis, ukuran, dan sifatnya. Maka dari itu, yang belum diketahui barangnya atau jenis, ukuran, dan sifatnya, tidak boleh digadaikan. (al-Mughni, 6/467) 2. Barang tersebut dimiliki oleh pegadai/rahin atau diizinkan baginya untuk menggadaikannya walaupun bukan miliknya. 3. Barang tersebut adalah sesuatu yang boleh diperjualbelikan, seperti senjata, hewan, dan baju besi. C. Pemanfaatan Barang Gadai Dalam pemanfaatan barang gadai, terdapat perbedaan pendapat dalam kalangan ulama’, diantaranya: 1. Jumhur Fuqoha’ berpendapat bahwa murtahin tidak diperbolehkan memakai barang gadai dikarenakan hal itu sama saja dengan hutang yang mengambil kemanfaatan, sehingga bila dimanfaatkan maka termasuk riba. Berdasar hadits nabi yang artinya: “setiap utang yang menarik manfaat adalah termasuk riba” (HR. Harits Bin Abi Usamah) 6 7[7] Ibid, hal 108
  • 9.
    2. Menurut UlamaHanafi, boleh mempergunakan barang gadai oleh murtahin atas ijin rahin, dan itu bukan merupakan riba, karena kemanfaatannya diperoleh berdasarkan izin dari rahin. 3. Menurut Mahmud Shaltut, menyetujui pendapat dari Imam Hanafi dengan catatan: ijin pemilik itu bukan hanya sekedar formalitas saja, melainkan benar benar tulus ikhlas dari hati saling pengertian dan saling tolong menolong. 4. Menurut Imam Ahmad, Ishak, Al Laits Dan Al Hasan, jika barang gadaian berupa barang gadaian yang dapat dipergunakan atau binatang ternak yang dapat diambil susunya, maka murtahin dapat mengambil manfaat dari kedua benda gadai tersebut disesuaikan dengan biaya pemeliharaan yang dikeluarkan selama kendaraan atau binatang ternak itu ada padanya. Sesuai dengan hadits nabi yang artinya:”binatang tunggangan boleh ditunggangi karena pembiayaannya apabila digadaikan, binatang boleh diambil susunya untuk diminum karena pembiayaannya bila digadaikan dagi orang yang memegang yang memegang dan meminumnya wajib memberikan biaya”(HR. Bukhari)8 [8] D. Resiko Kerusakan Marhun (barang gadai) 1. Menurut Ulama Hanafiyah, murtahin yang memegang marhun menanggung resiko kerusakan marhun atau kehilangan marhun bila marhun itu rusak atau hilang karena disia siakan maupun dengan sendirinya. 2. Menurut Ulama Syafi’iyah, murtahin menanggung resiko kehilangan, attau kerusakan marhun bila marhun itu rusak atau hilang karena disia siakan murtahin9 [9] 8[8] H. Moh anwar. Fiqh islam. (bandung. PT. Al ma’arif:1998). Hal. 58 9[9] Ibid, hal 110
  • 10.
    Jadi dapat disimpulkan,dalam pemanfaatan barang gadai terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama yaitu diantara jumhur Fuqoha’, Ulama’ Hanafiyah, Mahmud Syaltut Dan Imam Ahmad,Ibnu Ishak, Al Laits, dan Ala Hasan, yaitu antara memperbolehkan pemanfaatan barang gadai dengan seizin orang yang menggadaikan dan tidak memperbolehkannya dikarenakan hal itu termasuk riba dalam hutang.
  • 11.
    BAB III PENUTUP KESIMPULAN 1. Gadaiadalah menjadikah suatu benda itu berharga sebagai jaminan sebagai tanggungan utang berdasarkan perjanjian (akad) antara orang yang memiliki hutang dengan pihak yang memberi hutang 2. Dapat disimpulkan bawa syarat barang gadai adalah merdeka, berakal, baligh, adanya barang gadai, dan barang gadai tersebut bisa diserahkan/dipegang murtahin. 3. Rukun dari gadai adalah adanya rahin, murtahin, marhun, akad dan hutang yang dimiliki(marhun bihi). 4. Syarat marhun adalah diketahui barang, jenis, ukuran, dan sifat. Barang tersebut dimiliki rohin dan bisa diperjualbelikan 5. Dalam pemanfaatan barang gadai terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama yaitu diantara jumhur Fuqoha’, Ulama’ Hanafiyah, Mahmud Syaltut dan Imam Ahmad,Ibnu Ishak, Al Laits, dan Al Hasan, yaitu antara memperbolehkan pemanfaatan barang gadai dengan seizin orang yang menggadaikan dan tidak memperbolehkannya dikarenakan hal itu termasuk riba dalam hutang.
  • 12.
    DAFTAR PUSTAKA Departemen AgamaRI. 2007. Al Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: CV penerbit diponegoro H. Suhendi, Hendi. 2000. Fiqh Muamalah. Jakarta. PT. Grafindo Persada Drs. H. Zuhdi, Masyfuk. 1997. Masail Fiqhiyyah. Jakarta. CV. Hajimasagung A. Zainuddin S. Ag, Jamhuri, M.Ag. 1998. Al Islam 2, Muamalah Dan Akhlak. Bandung. Cv. Pustaka Setia H. Anwar Moh. 1998. Fiqh Islam. Bandung. Pt. Al Maarif Offset