DISKUSI TERARAH: TINDAK LANJUT PEKERTI
PROGRAM PENINGKATAN KETERAMPILAN DASAR TEKNIK INSTRUKSIONAL
SAINSTERBUKA
1TEACH A COURSE
Dr. Juneman Abraham – http://juneman.blog.binusian.org
Zoom, 9 Oktober 2020
2TEACH A COURSE
ZOOMINAR OUTLINE
TEACH A COURSE 3
Lesson 1.
Scopus Preview
vs. Scopus: Apa
yang bisa dilakukan?
Apa yang tidak bisa
dikerjakan?
1
Lesson 2.
Pre-registrasi dan
arti pentingnya untuk
academic integrity dan
responsible research
2
Lesson 3.
Open Science and Its
Enemies (VV
Krishna, 2020)
3
Lesson 4.
Tiga Buah Tantangan
4
Lesson 5.
Simpulan
5
4TEACH A COURSE
5TEACH A COURSE
6TEACH A COURSE https://osf.io/zab38/wiki/home/
7TEACH A COURSE
https://docs.google.com/document/d/1DaNmJEtBy04bq1l5OxS4
JAscdZEkUGATURWwnBKLYxk/edit?pli=1#
8TEACH A COURSE
Slide 5 - 18 merupakan terjemahan dan saduran dari:
KONDISI SAINS
 Sains: mempromosikan pemahaman
sistematis terhadap lingkungan,
memberikan manfaat terhadap
masyarakat.
 Legitimasi sains dan metodenya
memperoleh dukungan dalam
beberapa bagian dari sejarah.
 Sains terbuka (open science),
tidak hanya aksesibel oleh ilmuwan
dan sejawat tetapi masyarakat luas.
 Open science ➔ Good science
 Fitur: integritas, identifikasi awal
terhadap galat, malpraktik, dan fraud
(transparansi) - intelligibility and
assessability
 Pengetahuan merupakan barang
publik.
9
10TEACH A COURSE
 Robert Merton (1938, 1972): etos sains menekankan
hubungan antara science dan society, "moral
consensus / social contract of scientists" , yakni
 universalism (bukan bergantung pada atribut pribadi
atau sosial),
 communalism (bukan kerahasiaan dan property
rights),
 Disinterestedness / selflessness (altruisme), dan
 organized skepticism (metodologi sains, terus-
menerus evaluatif berbasis bukti).
 Etos sains merebak di laboratorium penelitian publik
maupun privat, konsil-konsil sains, akademi-akademi
sains.
 Berkat etos sains tersebut, Pemerintah mendanai
penelitian sains untuk kepentingan publik (public
interest) namun tidak mengintervensi otonomi
risetnya/sistem risetnya, melainkan diserahkan kepada
'peer system' (sebagai 'institutional measure').
 Implementasi open science: open data, open material,
open source, open access, open peer review, open
educational resources etc.
 Kekuatan self-correction dari sains datangnya dari
sains terbuka: Openness to scrutiny -
Memungkinkan/mengizinkan orang lain untuk
mengenali galat/error, untuk mendukung-menolak-
memperbaiki teori, menggunakan ulang data untuk
pemahaman lebih lanjut.
RELASI ANTARA SAINS
DAN MASYARAKAT
▪ Relasi antara sains dan
masyarakat bukan hanya
soal keterbukaan
penelitiannya (open inquiry)
melainkan
translasi/penerjemahan
sains ke dalam
masyarakat.
▪ Bukankah kita sepakat
dengan idealisme bahwa
sains mesti dapat digunakan
baik oleh ilmuwan maupun
masyarakat awam?
11TEACH A COURSE
12TEACH A COURSE
 Dalam proses translasi itu,
 Restriksi dan regulasi hendaknya
dibuat seperlunya dan seminimal
mungkin.
 Kemajuan sains (scientific
progress) adalah penting -
Bayangkan jika Penicillin (Alexander
Flemming, 1928) dipatenkan?
Bayangkan jika www. (penemu world
wide web,Tim Berners-Lee, 1989)
dipatenkan?
 Pada dekade ketiga abad ke-21, kontrak
sosial terancam oleh kekuatan global
ekonomis, otoritarian (vide: Karl
Popper, The Open Society and its Enemies,
1945):
 Market-based privatized science
 IR 4.0
 Tirai besi arus informasi
TANTANGAN
TEACH A COURSE 13
Privatisasi Sains
Revolusi Industri 4.0
Tirai Besi Arus
Informasi
PRIVATISASI SAINS
14
▪ Market-oriented privatized science:
(vs. public good in science).
▪ Awalnya sains adalah public domain,
kemudian terjadi "komodifikasi
pengetahuan" (komersialisasi
penelitian).
▪ Motif 'profit-making' mengemuka, dan
menyerang/mereduksi penelitian-
dasar (yang semestinya didorong
oleh keingintahuan).
▪ Personal interest mengatasi
public interest: Secrecy in science
& IPR (Intellectual property rights).
▪ Investasi penelitian dibayar oleh
pajak masyarakat, tetapi juga oleh
private sources (swasta). Korporat
komersial mempenetrasi
sejumlah universitas papan
atas (akhirnya, sudah ketahuan). -
kepentingan dari 10% populasi?
TEACH A COURSE
15TEACH A COURSE
 IPR dipromosikan, terjadi supresi
data & informasi ilmiah: apakah masih
ada ruang untuk public good of science?
 "Even the yoga mat has been patented" (page
5)
 Mulai 1990-an, globalisasi, kebebasan
akademik, otonomi sains, science governance
mulai dirambah oleh pemangku
kepentingan pasar (prioritas
mereka).
 Online peer review and methods dipatenkan
oleh Elsevier ("in the name of open science",
Mirowski - komersialisme, monopoli, profit-
making). (Page 5)
 Peran partner korporat dalam scientific
projects semakin menggurita (vide:
kemajuan vaksin Covid-19 - lebih dulu
diberitakan di media massa ketimbang jurnal
peer-reviewed).
 Tujuan dan kultur organisasi dari perusahaan
multinasional dan universitas, sekarang sulit
dibedakan. Konsep "Entrepreneurial
university" menjadi 'bola liar'.
TEACH A COURSE 16
IR 4.0
▪ AI, big data science (sains mahadata),
robotika, Internet of Things, quantum
computing, era "cognitive enterprise"
menggabungkan dunia fisik, dunia digital,
dunia biologis, mempengaruhi semua
disiplin ilmu, ekonomi, industri, dan
makna hidup. Dua sisi mata uang: penuh
harapan dan bahaya yang besar.
(Determinisme teknologis?)
▪ Tantangan terhadap adaptasi
organisasi, supervisi Pemerintah,
dan ketimpangan dalam
masyarakat.
▪ Hal ini mempengaruhi hubungan antara
sains dan masyarakat (kontrak sosial).
Perkembangan teknologi diisukan
sebagai uncontrollable dan unpredictable.
▪ Inovasi tidak lagi inklusif
melainkan melayani kepentingan
ekonomi (vide: The Social Dilemma).
Face recognition, ImageNet: isu privasi,
hak-hak manusia, etika, persaingan
dagang yang tidak sehat, akuntabilitas
(tanggung-gugat) (vs. janji tentang
efisiensi, produktivitas, dan keajaiban
ekonomi baru).
17TEACH A COURSE
DEFISIT DEMOKRASI DANTIRAI BESI BARU UNTUK ARUS
INFORMASIYANG BEBAS
Lesson 1. Sains warga (civic science/citizen science).
Membuka sains dan proses kebijakan sains kepada
publik. Nuansa kebijakan sains:Ada sistem peer review.
Dalam proses ajudikasi jika ada kontroversi sains, sains
diwakili oleh science community.
Lesson 2. Sains dan demokrasi sebenarnya berbagi nilai yang sama. Ada debat
publik, ada arus informasi yang bebas, ada saling respek, ada peran kunci penyelidikan
dan pembuktian.
Lesson 3. Milovsky: Sejak 1980, sains menjadi subordinat pertimbangan pasar,
diorganisasikan oleh patron korporat dan 'kontraktor akademik'.Ada gejala
kecurigaan bahkan ketidakpercayaan terhadap sains: serangan terhadap scientific
community.
Lesson 4. Kontra-narasi: "As early as 30 November 2016, more than 2300 scientists (including
22 Nobel Prize winners) wrote to the Trump administration and Congress" (Page 9). Ada
gerakan sosial untuk menyediakan akses 'segera dan terbuka' terhadap peer-review publication
mulai Januari 2020. Selanjutnya, "to provide all intellectual property (IP) under its control".
Lesson 5. Seruan OECD merupakan oase di tengah-tengah ancaman terhadap open
science dari korporasi transnasional besar : secara sistematis meraup data,
monopolisasi penggunaan data (data is the new oil), meng-create value untuk
perusahaan sendiri (tanpa kompensasi yang masuk akal untuk masyarakat).
18TEACH A COURSE
19TEACH A COURSE
20TEACH A COURSE
https://www.tempo.co/abc/5597/ilmuwan-indonesia-merasa-
tidak-dilibatkan-dalam-menangani-virus-corona
21TEACH A COURSE
https://health.grid.id/read/352347686/gubernur-jawa-timur-khofifah-indar-parawansa-minta-
definisi-kematian-korban-covid-19-dipersempit-epidemiolog-rakyat-lagi-yang-akan-menanggung-
beban?page=all
 Revolusi kultural dalam sains. Call for values of social contract. Call for regulation:
 "The trend of big data and data science poses a big challenge when personal and publicly funded health data is appropriated under public–private partnership arrangements" (Page
11)
 "Privatizing basic knowledge is a danger to scientific and technological progress [52] (p. 356).The dangers of some crucial technologies of nuclear, telecom, and biological research
are currently regulated by various regimes such as Nuclear Suppliers Group, International Telecommunications Union, and RNA and DNA regulatory committees in various
countries." (Page 11)
 Implikasi: Various policy measures on responsible research and inoovation (RRI), Scientific Commons.
 Bernavigasi antara public good dan market good. Globalisasi perlu "bekerja untuk semua, sampai tingkat lokal", bukan hanya untuk sejumput.
 Perlu adanya negosiasi serta investasi berkelanjutan terhadap ristekdikti untuk melepaskan diri (bangsa) dari ketergantungan terhadap komersialisasi, kapitalisasi pengetahuan.
SIMPULAN
23TEACH A COURSE
Sumber Slide 5 - 18

Pekerti Sains Terbuka

  • 1.
    DISKUSI TERARAH: TINDAKLANJUT PEKERTI PROGRAM PENINGKATAN KETERAMPILAN DASAR TEKNIK INSTRUKSIONAL SAINSTERBUKA 1TEACH A COURSE Dr. Juneman Abraham – http://juneman.blog.binusian.org Zoom, 9 Oktober 2020
  • 2.
  • 3.
    ZOOMINAR OUTLINE TEACH ACOURSE 3 Lesson 1. Scopus Preview vs. Scopus: Apa yang bisa dilakukan? Apa yang tidak bisa dikerjakan? 1 Lesson 2. Pre-registrasi dan arti pentingnya untuk academic integrity dan responsible research 2 Lesson 3. Open Science and Its Enemies (VV Krishna, 2020) 3 Lesson 4. Tiga Buah Tantangan 4 Lesson 5. Simpulan 5
  • 4.
  • 5.
  • 6.
    6TEACH A COURSEhttps://osf.io/zab38/wiki/home/
  • 7.
  • 8.
    8TEACH A COURSE Slide5 - 18 merupakan terjemahan dan saduran dari:
  • 9.
    KONDISI SAINS  Sains:mempromosikan pemahaman sistematis terhadap lingkungan, memberikan manfaat terhadap masyarakat.  Legitimasi sains dan metodenya memperoleh dukungan dalam beberapa bagian dari sejarah.  Sains terbuka (open science), tidak hanya aksesibel oleh ilmuwan dan sejawat tetapi masyarakat luas.  Open science ➔ Good science  Fitur: integritas, identifikasi awal terhadap galat, malpraktik, dan fraud (transparansi) - intelligibility and assessability  Pengetahuan merupakan barang publik. 9
  • 10.
    10TEACH A COURSE Robert Merton (1938, 1972): etos sains menekankan hubungan antara science dan society, "moral consensus / social contract of scientists" , yakni  universalism (bukan bergantung pada atribut pribadi atau sosial),  communalism (bukan kerahasiaan dan property rights),  Disinterestedness / selflessness (altruisme), dan  organized skepticism (metodologi sains, terus- menerus evaluatif berbasis bukti).  Etos sains merebak di laboratorium penelitian publik maupun privat, konsil-konsil sains, akademi-akademi sains.  Berkat etos sains tersebut, Pemerintah mendanai penelitian sains untuk kepentingan publik (public interest) namun tidak mengintervensi otonomi risetnya/sistem risetnya, melainkan diserahkan kepada 'peer system' (sebagai 'institutional measure').  Implementasi open science: open data, open material, open source, open access, open peer review, open educational resources etc.  Kekuatan self-correction dari sains datangnya dari sains terbuka: Openness to scrutiny - Memungkinkan/mengizinkan orang lain untuk mengenali galat/error, untuk mendukung-menolak- memperbaiki teori, menggunakan ulang data untuk pemahaman lebih lanjut.
  • 11.
    RELASI ANTARA SAINS DANMASYARAKAT ▪ Relasi antara sains dan masyarakat bukan hanya soal keterbukaan penelitiannya (open inquiry) melainkan translasi/penerjemahan sains ke dalam masyarakat. ▪ Bukankah kita sepakat dengan idealisme bahwa sains mesti dapat digunakan baik oleh ilmuwan maupun masyarakat awam? 11TEACH A COURSE
  • 12.
    12TEACH A COURSE Dalam proses translasi itu,  Restriksi dan regulasi hendaknya dibuat seperlunya dan seminimal mungkin.  Kemajuan sains (scientific progress) adalah penting - Bayangkan jika Penicillin (Alexander Flemming, 1928) dipatenkan? Bayangkan jika www. (penemu world wide web,Tim Berners-Lee, 1989) dipatenkan?  Pada dekade ketiga abad ke-21, kontrak sosial terancam oleh kekuatan global ekonomis, otoritarian (vide: Karl Popper, The Open Society and its Enemies, 1945):  Market-based privatized science  IR 4.0  Tirai besi arus informasi
  • 13.
    TANTANGAN TEACH A COURSE13 Privatisasi Sains Revolusi Industri 4.0 Tirai Besi Arus Informasi
  • 14.
    PRIVATISASI SAINS 14 ▪ Market-orientedprivatized science: (vs. public good in science). ▪ Awalnya sains adalah public domain, kemudian terjadi "komodifikasi pengetahuan" (komersialisasi penelitian). ▪ Motif 'profit-making' mengemuka, dan menyerang/mereduksi penelitian- dasar (yang semestinya didorong oleh keingintahuan). ▪ Personal interest mengatasi public interest: Secrecy in science & IPR (Intellectual property rights). ▪ Investasi penelitian dibayar oleh pajak masyarakat, tetapi juga oleh private sources (swasta). Korporat komersial mempenetrasi sejumlah universitas papan atas (akhirnya, sudah ketahuan). - kepentingan dari 10% populasi? TEACH A COURSE
  • 15.
    15TEACH A COURSE IPR dipromosikan, terjadi supresi data & informasi ilmiah: apakah masih ada ruang untuk public good of science?  "Even the yoga mat has been patented" (page 5)  Mulai 1990-an, globalisasi, kebebasan akademik, otonomi sains, science governance mulai dirambah oleh pemangku kepentingan pasar (prioritas mereka).  Online peer review and methods dipatenkan oleh Elsevier ("in the name of open science", Mirowski - komersialisme, monopoli, profit- making). (Page 5)  Peran partner korporat dalam scientific projects semakin menggurita (vide: kemajuan vaksin Covid-19 - lebih dulu diberitakan di media massa ketimbang jurnal peer-reviewed).  Tujuan dan kultur organisasi dari perusahaan multinasional dan universitas, sekarang sulit dibedakan. Konsep "Entrepreneurial university" menjadi 'bola liar'.
  • 16.
    TEACH A COURSE16 IR 4.0 ▪ AI, big data science (sains mahadata), robotika, Internet of Things, quantum computing, era "cognitive enterprise" menggabungkan dunia fisik, dunia digital, dunia biologis, mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri, dan makna hidup. Dua sisi mata uang: penuh harapan dan bahaya yang besar. (Determinisme teknologis?) ▪ Tantangan terhadap adaptasi organisasi, supervisi Pemerintah, dan ketimpangan dalam masyarakat. ▪ Hal ini mempengaruhi hubungan antara sains dan masyarakat (kontrak sosial). Perkembangan teknologi diisukan sebagai uncontrollable dan unpredictable. ▪ Inovasi tidak lagi inklusif melainkan melayani kepentingan ekonomi (vide: The Social Dilemma). Face recognition, ImageNet: isu privasi, hak-hak manusia, etika, persaingan dagang yang tidak sehat, akuntabilitas (tanggung-gugat) (vs. janji tentang efisiensi, produktivitas, dan keajaiban ekonomi baru).
  • 17.
    17TEACH A COURSE DEFISITDEMOKRASI DANTIRAI BESI BARU UNTUK ARUS INFORMASIYANG BEBAS Lesson 1. Sains warga (civic science/citizen science). Membuka sains dan proses kebijakan sains kepada publik. Nuansa kebijakan sains:Ada sistem peer review. Dalam proses ajudikasi jika ada kontroversi sains, sains diwakili oleh science community. Lesson 2. Sains dan demokrasi sebenarnya berbagi nilai yang sama. Ada debat publik, ada arus informasi yang bebas, ada saling respek, ada peran kunci penyelidikan dan pembuktian. Lesson 3. Milovsky: Sejak 1980, sains menjadi subordinat pertimbangan pasar, diorganisasikan oleh patron korporat dan 'kontraktor akademik'.Ada gejala kecurigaan bahkan ketidakpercayaan terhadap sains: serangan terhadap scientific community. Lesson 4. Kontra-narasi: "As early as 30 November 2016, more than 2300 scientists (including 22 Nobel Prize winners) wrote to the Trump administration and Congress" (Page 9). Ada gerakan sosial untuk menyediakan akses 'segera dan terbuka' terhadap peer-review publication mulai Januari 2020. Selanjutnya, "to provide all intellectual property (IP) under its control". Lesson 5. Seruan OECD merupakan oase di tengah-tengah ancaman terhadap open science dari korporasi transnasional besar : secara sistematis meraup data, monopolisasi penggunaan data (data is the new oil), meng-create value untuk perusahaan sendiri (tanpa kompensasi yang masuk akal untuk masyarakat).
  • 18.
  • 19.
  • 20.
  • 21.
  • 22.
     Revolusi kulturaldalam sains. Call for values of social contract. Call for regulation:  "The trend of big data and data science poses a big challenge when personal and publicly funded health data is appropriated under public–private partnership arrangements" (Page 11)  "Privatizing basic knowledge is a danger to scientific and technological progress [52] (p. 356).The dangers of some crucial technologies of nuclear, telecom, and biological research are currently regulated by various regimes such as Nuclear Suppliers Group, International Telecommunications Union, and RNA and DNA regulatory committees in various countries." (Page 11)  Implikasi: Various policy measures on responsible research and inoovation (RRI), Scientific Commons.  Bernavigasi antara public good dan market good. Globalisasi perlu "bekerja untuk semua, sampai tingkat lokal", bukan hanya untuk sejumput.  Perlu adanya negosiasi serta investasi berkelanjutan terhadap ristekdikti untuk melepaskan diri (bangsa) dari ketergantungan terhadap komersialisasi, kapitalisasi pengetahuan. SIMPULAN
  • 23.