10 7 | 2 0 1 3 rumahRUANGkreativitas tanpa batasRUMAH . ‘RUMAH’ . MENGGUGAH FENOMENA PERKEMBANGAN MEMAKNAI RUMAH SAAT INI ...
22Apa itu rumah?Ruang bahagia menghadirkan kontribusi yang beragam dari mulai pelajar, pendidik, pengguna kota dankata, pr...
33pencarian maknarumahRiza Nur Afifah‘rumah’Yandi Andri Yatmo &Kristanti Dewi ParamitaMenggugahFenomenaPerkembangan(?) mem...
4edisi #7: rumah
5ruang | kreativitas tanpa batasSetiap manusia mempunyai persepsinya sendiri akan ‘rumah’. Rumah adalah suatu lingkup sosi...
6edisi #7: rumah‘RUMAH’olehYandi Andri Yatmo dan Kristanti Dewi ParamitaMemahami makna ‘rumah’ bagi masyarakat Indonesia b...
7ruang | kreativitas tanpa batasIndonesia memiliki kebudayaan yang kayadengan beragam suku yang memiliki tradisidan rumah ...
8edisi #7: rumahMasyarakat Indonesia juga mengenal kata lain dalam menyebut tempattinggal, yaitu ‘gubuk’. Berbeda dengan r...
9ruang | kreativitas tanpa batasterletak di salah satu bagian halaman IstanaVersailles yang sangat luas. Marie menyukaikes...
10edisi #7: rumahdari pembeli terhadap pengembang sudahumum terdengar di berbagai penjurukota. Umumnya setelah dihuni tern...
11ruang | kreativitas tanpa batasdalam kondisi baik dan terletak di lokasi strategis. Walaupun membutuhkanrenovasi di sana...
12edisi #7: rumahMenggugahFenomenaPerkembangan (?)memaknai ‘rumah’saat ini: Sebuahceloteh dari tepianoleh Priscilla Epifan...
13ruang | kreativitas tanpa batasGelitik AwalTulisan ini merupakan napak tilasperenungan kembali atas sinisme sayaterhadap...
14edisi #7: rumahSeperti juga halnya, Klien yang ingindidesainkan rumah dengan gaya fasademasa kini (contemporary style on...
15ruang | kreativitas tanpa batasakar jiwa ruang sosial keluarga – ‘semua’ pasti pulang ke rumah induk (yangtidak akan dip...
16edisi #7: rumaharsitektur& rumahdi indonesiaoleh Asa DarmatriajiRumah adalah tempat terbentuknya dasar pemikiran, kreati...
17ruang | kreativitas tanpa batasKetidaksengajaan yang tidak disangka akanmenjadi ajang review studio perancanganarsitektu...
18edisi #7: rumahSaat itu kami terperanjat, hal ini tidakpernah kami sadari sebelumnya. Walaupunselama ini kami menganggap...
19ruang | kreativitas tanpa batasBangli, Bali, yang terlihat sangat spesifik danberkarakter, walaupun setiap rumah hanyame...
20edisi #7: rumahRUANG-RUANG PELARIANoleh Mochammad Yusni AzizDiam. Tersembunyi. Fasad-fasad itu tidak mengucap lantang ap...
21ruang | kreativitas tanpa batasBenteng.Teheran, Iran. 2013
22edisi #7: rumahTipologi introvert dari KhanehTeheran, Iran. 2013
23ruang | kreativitas tanpa batasMenutup diri dari kotaTeheran, Iran. 2013
24edisi #7: rumahBenteng 2Teheran, Iran. 2013
25ruang | kreativitas tanpa batasGaleri seni undergroundTeheran, Iran. 2013
26edisi #7: rumahbare minimalistoleh Realrich Sjarief
27ruang | kreativitas tanpa batasBare Minimalist adalah satu buah karya arsitektur yang selesai di akhir tahun 2012. Inten...
28edisi #7: rumahCerobong angin setinggi 10 meter, sekitar3 lantai, diletakkan di tengah-tengah rumahsebagai pusat. Cerobo...
29ruang | kreativitas tanpa batasSatu ruang keluarga yang besar untukCharles dan Irene direncanakan untukmenyatukan fungsi...
30edisi #7: rumah10 sentosa coveoleh Anditya Dwi SaputraBegitulah kurang lebih permintaan dari BapakDadlani,salah satu kli...
31ruang | kreativitas tanpa batasSentosa Cove berada di Pulau Sentosayang memakan waktu kurang lebih satu jamberkendara da...
32edisi #7: rumahyang lain, seperti keharusan untukmenggunakan atap miring sebesar50% dan pemilihan warna materialeksterna...
33ruang | kreativitas tanpa batasjejeran anak tangga yang mengantarseseorang ke ruang tamu di lantai dua.Anak-anak tangga ...
34edisi #7: rumahyang masuk dirasa terlalu menyilaukan.Di sisi yang berlawanan, kamar anak-anak yang berada di bawah lebih...
35ruang | kreativitas tanpa batas
36edisi #7: rumahMembangunRumah Impianoleh Dinda JouhanaSaya tidak pernah menyangka bahwamembangun rumah bisa menjadi sebu...
37ruang | kreativitas tanpa batasRencana merenovasi rumah muncul pada tahun2010. Rumah yang terletak di sebuah kompleksper...
38edisi #7: rumahSetelah melalui proses desain yang kesemuanyadilakukan tanpa tatap muka, akhirnya, gambarfinal datang pad...
39ruang | kreativitas tanpa bataspertama muncul: keluarga dan tetangga yang melihat tentu kaget dan menyayangkan keputusan...
40edisi #7: rumahMeskipun was-was dengan kinerja kontraktor,kami tetap berprasangka baik. Begitupun, sayamengambil langkah...
41ruang | kreativitas tanpa batasdapat digunakan untuk menyiram tanaman ataumendinginkan atap.Rumah ini memberikan perasaa...
42edisi #7: rumahKedekatan dan kepadatan sama-sama sebuah paradoks.Kebutuhan akan kedekatan memicu pertumbuhan populasi, e...
43ruang | kreativitas tanpa batasantara kedekatandan kepadatan  ¡ ¢ £ ¤ ¥ ¦ § ¨ ¦ ©     §Keberlangsungan memiliki sedikit ...
44edisi #7: rumahberbicara legalitas akan menjadi hal yangdilematis. Formal dan nonformal di sinitapi lebih berbicara meng...
45ruang | kreativitas tanpa bataskota. Rumah memberi jarak antara pemilikdengan orang lain, menutup diri untukbersimpati s...
46edisi #7: rumahrendah berkepadatan tinggi hadir, dan takjarang hadir dalam bentuk kampung kota.Minimalisasi merelakan ke...
47ruang | kreativitas tanpa batasnamun, entah sengaja atau tidak, seolahdi-rem oleh individu-individu yang lain.Kumpulan i...
48edisi #7: rumah
49ruang | kreativitas tanpa batasPerkembangan Kampung Codesebagai Prototipe PermukimanBerkelanjutanoleh Rofida Amalia“..as ...
50edisi #7: rumahSeringkali pemukiman-pemukiman “liar” tersebut memangakan berujung pada aksi penggusuran oleh aparat seba...
51ruang | kreativitas tanpa bataskemudian menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung.Tidak sekedar dekorasi yang indah, ...
52edisi #7: rumahTumbuhnya wacana model penyediaan tempat tinggal seperti rumah susun memangmenjadi wujud yang baik meskip...
53ruang | kreativitas tanpa batasReferensi:Abbad Al Radi.Technical Review Summary,The Aga Khan Award for Architecture, Kam...
54edisi #7: rumahKota adalah simpul. Kota adalah tempat kepentingan berkumpul. Kota adalah stasiun: tempatorang-orang data...
55ruang | kreativitas tanpa batasDi salah satu pulau terluar Indonesia, sebuahrumah berdiri di perbatasan dua negara.Pengh...
56edisi #7: rumahpeluh yang mereka hasilkan selama sebulan,habis sekejap seketika. Demi merasa pulang,merasa di rumah.Mere...
57ruang | kreativitas tanpa batasBagi sebagian yang beruntung, rumah memangtak sekedar tempat bernaung. Ia representasikes...
58edisi #7: rumahPulang (ke) Kota?Abad 21. Pelaku urbanisasi telah beberapadekade menetap hingga beranak-pinak.Mudik kini ...
59ruang | kreativitas tanpa batas
PROFILKONTRIBUTORIvan NasutionSetelah lulus dari arsitektur ITB, kemudian bekerja diPark+Associates Architect. Telah menye...
61Ruang 1: RuangRuang 4: Karya ArsitekIndonesia di Luar NegeriRuang 2: Arsitektur HijauRuang 5: ArsitekturRuang 3:JakartaR...
RUANGkreativitas tanpa batasmembacaruang.comruangarsitektur.tumblr.comfacebook.com/ruangarsitektur@ruangarsitektur
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

e-magazine arsitektur. ruang 07|2013

8,549 views

Published on

e-magazine arsitektur ruang hadir kembali dengan tema “Rumah”. Pada edisi 07|2013 kali ini, ruang menampilkan beberapa sudut pandang dalam memaknai ‘rumah’.

Published in: Design
0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
8,549
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2,623
Actions
Shares
0
Downloads
495
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

e-magazine arsitektur. ruang 07|2013

  1. 1. 10 7 | 2 0 1 3 rumahRUANGkreativitas tanpa batasRUMAH . ‘RUMAH’ . MENGGUGAH FENOMENA PERKEMBANGAN MEMAKNAI RUMAH SAAT INI .ARSITEKTUR DAN RUMAH DI INDONESIA . RUANG-RUANG PELARIAN . BARE MINIMALIST . 10SENTOSA COVE . MEMBANGUN RUMAH IMPIAN . ANTARA KEDEKATAN DAN KEPADATAN .PERKEMBANGAN KAMPUNG CODE SEBAGAI PROTOTIPE BERKELANJUTAN . PULANG KOTAPHOTO CREDIT: DOT WORKSHOP
  2. 2. 22Apa itu rumah?Ruang bahagia menghadirkan kontribusi yang beragam dari mulai pelajar, pendidik, pengguna kota dankata, praktisi, klien, penulis hingga pelukis. Jika bukan sebuah keberuntungan, entah apa namanya.Dua belas kontributor berusaha menceritakan, menggambarkan, dan menawarkan pandangan merekaakan ‘rumah’, dari makna yang sederhana hingga rumit, kepemilikan yang personal hingga umum,bahkan dengan melihat detail kecil hingga konteksnya secara luas..Kami, para kontributor, membagi persepsi, pemahaman, pemikiran, bahkan pertanyaan akan maknarumah yang kami alami dan mungkin dialami juga oleh sahabat-sahabat lain.Riza Nur Afifah membuka dengan pernyataan bahwa rumah adalah hal pribadi dan sederhana.Lalu Yandi Andri Yatmo dan Kristanti Dewi Paramita memaparkan makna kata ‘rumah’ itusendiri justru cenderung tidak stabil dan majemuk tergantung penggunaan dan konteks. PriscillaEpifania menawarkan kata ‘omah’ untuk membedakan dengan rumah, seperti home dan house.Pencarian pribadi dilakukan oleh Asa Darmatriaji melakukan mencari makna ‘rumah’ tersebutdengan mendatangi langsung dua orang arsitek Indonesia: Tan Tjiang Ay dan Eko Prawoto. Hal serupadilakukan oleh M. Yusni Aziz, dalam perjalanannya ke Iran, menemukan kepingan-kepingan makna‘rumah’ sebagai sebuah ruang pelarian dan pemberontakan.Rumah dibedah secara fisik, hingga terlihat elemen-elemen penyusunnya, sebagaimana diceritakandengan sangat baik oleh tulisan Realrich Sjarief juga Anditya Dwi Saputra di dua konteksberbeda, Indonesia dan Singapura. Hal itu dilengkapi oleh tulisan Dinda Jouhana yang menarasikanrumah sebagai proses menyusun elemen-elemen tersebut juga proses membentuk diri.Di sisi lain penceritaan oleh Ivan Nasution dan Rofida Amalia menggambarkan makna rumahyang meluas secara sosial, hingga pertentangan kaum konglomerat dan proletariat yang terlihat dikota. Ditutup oleh Rofianisa Nurdin yang memecah kepingan-kepingan ‘rumah’-nya ke sudut-sudutkota dan mengumpulkannya kembali.Apakah ‘rumah’ adalah kumpulan kepingan-kepingan itu? Mungkinkah ‘rumah’ adalah proses pencarianitu? Apakah rumah itu adalah tempat kita kembali pulang?“…saya bertanya, apakah makna rumah baginya. Ia menatap ke dalam mata saya, menjawab tanparagu: Kamu.” (Avianti Armand, Arsitektur yang Lain)Selamat menikmati ruang | kreativitas tanpa batasruang arsitekturPEMBUKARUANG
  3. 3. 33pencarian maknarumahRiza Nur Afifah‘rumah’Yandi Andri Yatmo &Kristanti Dewi ParamitaMenggugahFenomenaPerkembangan(?) memaknai‘rumah’ saatini: Sebuahceloteh daritepianPriscilla Epifaniaarsitektur& rumah diindonesiaAsa Darmatriajiruang-ruangpelarianM. Yusni Azizrumah dan kotaantarakedekatan dankepadatanIvan Nasutionperkembangankampungcode sebagaiprototipeberkelanjutanRofida Amaliapulang kotaRofianisa NurdinISIRUANGEDITOR:IVAN KURNIAWAN NASUTIONMOCHAMMAD YUSNI AZIZWEB-BLOG: www.membacaruang.comTUMBLR: ruangarsitektur.tumblr.comEMAIL: akudanruang@yahoo.comTWITTER: @ruangarsitektursegala isi materi di dalam majalah elektronik ini adalah hak cipta dantanggung jawab masing-masing penulis. penggunaan gambar untukkeperluan tertentu harus atas izin penulis.Foto pada sampul depan oleh DOT workshop dan Eric DinardiFoto pada sampul belakang oleh Dinda JouhanaprosesbareminimalistRealrich Sjarief10 sentosacoveAnditya Dwi Saputramembangunrumah impianDinda Jouhana
  4. 4. 4edisi #7: rumah
  5. 5. 5ruang | kreativitas tanpa batasSetiap manusia mempunyai persepsinya sendiri akan ‘rumah’. Rumah adalah suatu lingkup sosial terkecildan terdekat dalam hidup kita. Komponennya secara fisik merupakan tumpukan bata, kayu, atau bambu,bahkan tanah liat, ataupun hanya sebatas susunan kardus, asalkan ada ruang yang tercipta.Kadang tidak perlu luapan imaji fisik yang memberikan decakan kagum untuk mengekspresikan artirumah di dalam hati, hati setiap kita. Kadang dengan hanya tembok sederhana, jendela seadanya,balutan genteng yang tak seberapa, namun ada makna di balik semua. Bahwa rumah adalah tempatkembali, bagi siapa saja yang pernah melangkahkan kaki pergi darinya.rumaholeh Riza Nur Afifah
  6. 6. 6edisi #7: rumah‘RUMAH’olehYandi Andri Yatmo dan Kristanti Dewi ParamitaMemahami makna ‘rumah’ bagi masyarakat Indonesia bukan perkara sederhana. BahasaIndonesia mencatat setidaknya puluhan penggunaan kata rumah dengan berbagai maknadan penggunaannya masing-masing. Orang kerap mengartikan rumah sebagai tempat tinggal.Namun ‘rumah’ tidak selalu bermakna ruang ‘tinggal’, sebab apabila demikian tentu istilah‘rumah tinggal’ tidak akan diperlukan. Ada rumah-rumah yang ditujukan hanya untuk kegiatan-kegiatan tertentu, seperti rumah ibadah, rumah makan, rumah baca, rumah duka, rumahproduksi, hingga rumah jagal. Ada istilah yang menggunakan kata ‘rumah’ dengan arti kiasan,seperti rumah sakit atau rumah tangga. Rumah sakit tentu bukan rumah untuk sakit, tapimalah rumah untuk mencari kesehatan. Begitu juga rumah tangga, tentu tidak serta mertarumah yang berisi tangga. Apabila pencarian makna tersebut disederhanakan hanya menjadi‘rumah’ yang ditinggali, terdapat pula berbagai jenis rumah yang ditinggali namun hanya untuksaat tertentu, seperti rumah dinas, rumah kost, rumah yatim piatu, hingga rumah tahanan.Lalu, rumah dengan dengan makna seperti apa yang dicari?
  7. 7. 7ruang | kreativitas tanpa batasIndonesia memiliki kebudayaan yang kayadengan beragam suku yang memiliki tradisidan rumah adatnya masing-masing. Nama-nama rumah adat tradisional seperti rumahpanjang, rumah panggung, hingga rumahgadang, tentu tidak asing lagi di telinga.Namun bagaimana makna penamaan rumah-rumah tersebut dipahami? Rumah panjangadalah rumah yang menampung beberapakeluarga untuk bertinggal bersama dalam satuderet rumah yang panjang. Rumah panjangbermakna sebagai rumah yang memenuhikebutuhan bertinggal penghuni rumahyang melebihi satu unit keluarga bersama-sama. Rumah panggung adalah rumah yangditinggikan sehingga dasar rumah tidakmenempel pada tanah. Rumah panggungmerupakan tanggapan rumah terhadap situasialam dan memudahkannya beradaptasiterhadap ancaman bencana. Rumah gadangdalam bahasa Minangkabau memiliki arti‘rumah besar’, sebab rumah tersebutmemang diperuntukkan untuk memenuhikebutuhan bertinggal secara komunal denganjumlah orang yang cukup banyak. Rumahgadang berfungsi tidak hanya sebagai ruangbertinggal, namun juga menampung kegiatansosial komunitas tersebut, seperti pertemuankeluarga besar , upacara-upacara adat danperayaan komunitas. Dengan demikian,rumah-rumah adat tersebut memiliki maknabagaimana suatu rumah akan digunakan danbagaimana rumah tersebut berada dalamsuatu lingkungan.Dalam konteks modern penamaan rumahberubah dan terjadi pergeseran dalammemaknai rumah-rumah tinggal. Arsitekpada umumnya menamai rumah-rumah hasil karyanya dengan berbagaisebutan, mulai dari ‘rumah baja’, ‘rumahbotol’, ‘rumah kampung’ hingga ‘rumahmurah’. Sebutan-sebutan ini cenderungberhubungan terhadap apa material yangdigunakan pada rumah tersebut. Seringkalibahkan hanya berkaitan dengan apa yangingin diasosiasikan dengan rumah tersebutketimbang bagaimana rumah tersebutbermakna.Penggunaan nama material padapenamaan rumah yang serupa jugadigunakan pada ‘rumah kaca’, namundengan makna yang cukup berbeda.Rumah kaca memang terbuat dari kaca,namun kaca tersebut memiliki fungsisebagai penangkap radiasi matahari yangdibutuhkan untuk budidaya tanaman yangberada di dalamnya selama sepanjangtahun. ‘Rumah keramik’ milik perajinkeramik bermakna rumah sebagai galerikeramik karya sekaligus tempat belajarkeramik bersama-sama. ‘Rumah tenun’memiliki makna serupa dengan rumahkeramik, yakni rumah penenun bertinggaldan membuat karya berupa tenunanuntuk diperjualbelikan. Senada dengannama-nama rumah adat, material padapenamaan rumah yang demikian memilikimakna lebih dari sekedar apa materialyang digunakan dalam rumah, namunbagaimana rumah dengan materialtersebut mempengaruhi fungsi darirumah dan makna dari rumah tersebutbagi penghuninya maupun komunitas disekitarnya.
  8. 8. 8edisi #7: rumahMasyarakat Indonesia juga mengenal kata lain dalam menyebut tempattinggal, yaitu ‘gubuk’. Berbeda dengan rumah, nasib ‘gubuk’ dalam memaknairuang tinggal seakan dianaktirikan. Gubuk memiliki arti sebagai ruang tinggalsederhana yang umumnya dibuat dengan bahan-bahan yang tersedia dilingkungan sekitarnya. Namun dalam keseharian masyarakat, penggunaan katagubuk seakan selalu diasosiasikan negatif. Gubuk identik dengan ‘gubuk derita’ataupun ‘gubuk reyot’. Pencarian kata gubuk dalam situs pencari semacamGoogle menghasilkan tajuk-tajuk berita seperti ‘Korban Lapindo DirikanGubuk Derita di Atas Tanggul’ , ‘Pelajar SMP Dinodai Temannya di SebuahGubuk’ , ‘Petugas Bongkar Gubuk Liar Pinggir Krueng Aceh’ hingga ‘Nyabudi Gubuk, Dokter Spesialis THT Ditangkap Polisi ‘ . Dari tajuk-tajuk tersebut,gubuk menjadi lokasi kejadian kriminal serta tempat bertinggal di antarapenderitaan hidup, hingga diungkapkan dalam lirik lagu dangdut karya MeggyZ berikut ini:Di dalam gubuk bambu tempat tinggalkuDi sini kurenungi nasib dirikuSiang dan malam aku membanting tulangDemi untuk hidup di masa depanAku yakin dan ku percayaNanti si gubuk bambu jadi istana…‘Gubuk bambu’ dalam lagu Meggy Z adalah tempatnya merenungi nasib diriyang harus bekerja keras membanting tulang demi menyambung hidup. Halyang menarik terdapat pada lirik terakhirnya yang meyakini bahwa kelak si‘gubuk bambu’ sebagai ruang tinggalnya tersebut akan berubah menjadi istanadan tentu dengan demikian dipercayai dapat membuat Meggy Z lebih bahagia.Berkebalikan dengan istilah ‘rumahku istanaku’, barangkali memiliki sebuah‘istana’ justru dapat membuat orang merasa lebih di ‘rumah’.Salah satu istana yang terkenal adalah istana Versailles nan megah danmewah yang didiami oleh Marie Antoinette yang bernasib malang. Dengankebiasaannya untuk berpesta pora di istana tidak banyak yang tahu bahwasesungguhnya Marie memiliki sebuah ‘gubuk’ yang dicintai dan ditinggalinyadari waktu ke waktu. Gubuk itu bernama Hameau de la Reine yang
  9. 9. 9ruang | kreativitas tanpa batasterletak di salah satu bagian halaman IstanaVersailles yang sangat luas. Marie menyukaikesederhanaan kehidupan pedesaan danpeternakan yang mengelilingi gubuknya. Disekitar gubuk itu terdapat tempat memeliharahewan-hewan, taman-taman yang indah, dansungai yang mengalir dengan suasana yangmenenangkan. Bagi Marie, gubuk ini adalahtempat peristirahatannya dari kehidupanistana yang melelahkan, dan justru menjadisemacam ‘resort’.Makna gubuk sebagai resort sesungguhnyasesuai dengan konsep penginapan resortberbagai destinasi wisata di Indonesia yangbanyak terdiri dari gubuk-gubuk denganbahan alami seperti bambu dan anyamanrotan. Walaupun mungkin (gubuk) resorttersebut juga memiliki tidak memiliki listrik ,asupan air yang terbatas, tanpa wifi dan terdiridari bahan-bahan seadanya, (gubuk) resorttersebut sudah tentu tidak didiami denganderita. Sebab kalau memang ketidaklengkapanmaterial ini dianggap sebagai sebuahpenderitaan artinya penghuni (gubuk) resortjustru membayar mahal untuk mengalamipenderitaan. Makna gubuk sebagai ruangbertinggal menjadi estetis dan romantis ketikakesederhanaan dan keterbatasan tersebutdialami dalam suatu konteks entah itu liburanmaupun bulan madu, didiami secara temporerserta bersanding dengan destinasi wisataseperti pantai, gunung, sawah,pedesaan, danlain sebagainya. Ketika gubuk tersebut didiamisecara lebih permanen apalagi berada ditengah kampung kota yang kumuh maupunkolong jalan layang, ia menjadi derita.Terlepas derita penghuni, gubukadalah ruang bertinggal yang palingmencerminkan kondisi lingkungan danidentitas penghuninya. Gubuk umumnyadibangun langsung oleh penghuni denganbahan-bahan yang ada di sekitarnya. Takada anyaman rotan maka akar pun jadi,malah kadang-kadang bisa juga terbuatdari potongan seng bekas, genteng bekas,terpal bekas, hingga lembaran plastikbekas yang disatukan untuk sekat ruangan.Tergantung apakah penghuninya adalahpemulung, perajin atau kuli bangunan,gubuk mereka akan mencerminkanbukan hanya apa materialnya, namun jugabagaimana material tersebut disatukandan disesuaikan pada bagian-bagian gubukberdasarkan kemampuan dan kegunaanmaterial tersebut bagi pemahamanpemiliknya tentang kebutuhannyabertinggal.Senada dengan makna negatif gubuk,penggunaan kata rumah dalam tajuk beritasemacam ‘Koruptor di Depok sudahDirumahkan’ dan ‘Akan Dirumahkan,Ribuan Guru Honorer di MojokertoResah’ mengandung makna sebagaipemutusan hubungan kerja dengantidak hormat bahkan bersifat keputusansepihak. Di’rumah’kan identik dengannasib yang tidak menentu. Penggunaanistilah tersebut menguak makna negatif‘rumah’ sebagai tempat penyingkirandalam konteks tertentu, bukannya tempatyang memberikan kenyamanan terhadappenghuninya.
  10. 10. 10edisi #7: rumahdari pembeli terhadap pengembang sudahumum terdengar di berbagai penjurukota. Umumnya setelah dihuni ternyatacat dinding rumah retak-retak, di dalamrumah terasa panas dan gelap, plafonnyagampang bocor akibat rembesan air darikamar mandi di lantai atas, hingga lantaikeramik yang amblas. Terlepas dari berbagaipenyebab dan kejadian kahar yang mungkinturut mempengaruhi terjadinya kejadiantersebut, fenomena ini merupakan cerminpengembangan ‘rumah’ yang menekankanpada apa material yang membentukrumah. Bagaimana biaya pengembanganrumah dapat ditekan dengan segala caradibandingkan bagaimana ‘rumah’ dapatdikembangkan secara bermakna namuntetap hemat biaya.Penjualan perumahan cluster tidakmembuat minat orang akan ‘rumah tua’surut. Rumah tua tentu tidak berisi orangtua seperti ‘rumah jompo’, namun rumahyang sudah memiliki usia cukup lama. Hargarumah tua terkadang dapat jauh lebih mahaldibandingkan bila membeli rumah cluster,terutama apabila rumah tua tersebut beradaBerbicara tentang ‘rumah’ maka tentu jugatidak akan lepas dari kata perumahan, sebabdi tengah keterbatasan lahan dewasa inisebuah rumah selalu hadir berkelompokdengan ‘rumah’-‘rumah’ lainnya danmembentuk kelompok ‘rumah’. Kelompok‘rumah’ juga hadir melalui rumah susun,yang berarti rumah yang disusun (keatas). Penggunaan rumah susun khususpada perumahan vertikal mengandungpertanyaan apakah dengan demikianperumahan biasa tidak tersusun? Mungkinlebih baik rumah susun diubah sebutannyamenjadi rumah tumpuk untuk menghindariambiguitas makna.Perumahan identik pula denganpengembang, yang mengembangkan tanah-tanah di berbagai sudut kota menjadiperumahan yang bergaya. Walaupuntidak semua, tak sedikit di antaranya yangmembuat pe’rumah’an dengan konseppe’murah’an, yaitu dengan menekan sebesarmungkin biaya konstruksi yang dibutuhkandan memaksimalkan tampilan yang dapatdihadirkan untuk menjamin penjualan yanglaris. Maka cerita-cerita tentang keluhan
  11. 11. 11ruang | kreativitas tanpa batasdalam kondisi baik dan terletak di lokasi strategis. Walaupun membutuhkanrenovasi di sana-sini, terkadang rumah tua memiliki kualitas material yangbaik seperti rumah tua dengan kusen kayu jati maupun keramik antik yangcukup tahan lama sehingga memiliki pesona tersendiri dan membuat pembelimelihat di balik apa material yang sudah lawas, namun bagaimana suasanakeseluruhan yang diciptakan kumpulan material tersebut.Hal lain yang menarik orang untuk membeli rumah tua adalah istilah ‘rumahtua hitung tanah’ atau ‘terima bongkaran rumah tua’. Rumah tua dibeli karenamurah dan hanya dihitung harga tanahnya, mungkin karena kondisinya yangsudah bobrok lantaran lama tak dihuni. Walaupun demikian, ketika rumahtua tersebut akan digunakan dan diratakan, hasil bongkaran rumah tua itumasih juga laku keras di pasaran. Komponen-komponen rumah mulai daritanah hasil urukan, batu-batu hasil bongkaran, reng bekas, kusen bekas hinggakloset bekas (apalagi dengan merek ternama) dapat dipreteli dan dijual dipinggiran-pinggiran jalan ibukota dengan pembeli yang terus mengalir. Benda-benda yang bekas ini justru ketika digunakan akan terlihat ‘heroik’ di majalah.Makin ‘rustic’ makin bergairah dan layak untuk diperbincangkan. Kalau tutup-tutup kloset bekas itu dikumpulkan lalu dijadikan fasad, apakah namanyajadi ‘rumah kloset’? Bagaimanapun, kalau kloset bekas sudah diletakkan ditempat baru, maka itu akan menjadi ‘kloset baru’ bagi pemiliknya tempatnyamencari inspirasi-inspirasi baru di pagi hari. Demikian ‘pula dengan ‘rumahtua’ ataupun ‘rumah lama’, ketika ditempati oleh pemilik baru, maka ia akanmenjadi ‘rumah baru’. Apa dan bagaimana rumah itu, tentu mudah-mudahanakan terasa seperti ‘rumahku istanaku’ dan bukan gubuk bambu ala Meggy Z.*
  12. 12. 12edisi #7: rumahMenggugahFenomenaPerkembangan (?)memaknai ‘rumah’saat ini: Sebuahceloteh dari tepianoleh Priscilla EpifaniaMembicarakan rumah memang bukan sesuatu yang singkat bukan?Kompleks, karena mengenai peradaban dan manusia itu sendiri.Jadi saya ga malu-malu judulnya panjang…
  13. 13. 13ruang | kreativitas tanpa batasGelitik AwalTulisan ini merupakan napak tilasperenungan kembali atas sinisme sayaterhadap fenomena perbedaan maknamembangun dan tinggal/ berhabitat manusiayang tinggal di kota besar dan yang tidaktinggal di kota besar. (mungkin tidak semua/tidak bermaksud men-generalisasi)Pun lalu tulisan ini tergelitik oleh bait pertamadari ‘call for paper’ Ruang episode ini, sebuahkutipan oleh Reyner Banham & FrancoisDallegret yang mengatakan “A home is nota house”. Dimana dalam bahasa Inggrismemang dibedakan ‘house’ dan ‘home’, kalaudalam Bahasa dapat disebut sebagai ‘rumah’dan ‘omah’.Kini saya justru melihat fenomena yangmerupakan ironi dari pernyataan tersebut.Dulu kita sadari maknanya betul, kini kitalebih sadari lagi, dan melihat antitesis darimakna pernyataan tadi di sekeliling kita.Sehingga saya tidak akan menulis mengenaievolusi desain sebuah rumah, namun inginmengkritisi apa yang terjadi di sekitar kita danrumah-rumah yang menbentuk pemukimankota, dan mungkin menyegarkan lagi maknarumah bagi setiap dari kita.Rumah kapitalis vs rumah dulu dansuatu ‘sarang’ yang masih adaApa yang kita lihat dari tindakan ‘merumah’atau keberhunian’ kita saat ini?Dari pengamatan beberapa waktu terakhir,rumah telah menjadi sekadar propertibelaka, dimana nilai ekonomi menjadi lebihberarti daripada makna psikologis ataupunfilosofis yang konservatif (?) – cultural valuedigantikan oleh economic-capitalism value(oh, inilah ‘budaya’ barunya)(Yaa memang setiap orang yang menghunirumahnya akan memberi sentuhan pribadi,itu pasti, laiknya gaya berpakaian, sayaberbicara eksterioritas, eksibisi individu,eksistensi… dan saya melihatnya sebagai‘identitas’)Hal ini berbeda jika dibanding rumah rakyatjaman dulu, atau rumah rakyat tradisional,dimana semuanya serba seragam, entahrumah tradisional dari Asia, Eropa, Afrikadan lain-lain. Mereka (jaman dulu) umumnyatampil seragam, rapi berbaris sesuai aturan‘pada umumnya’. Sentuhan kepemilikan yangkhas mungkin diletakkan di bagian dalamrumah. Sebuah interioritas?Cobalihatkini,semuaberusahamenampilkan‘label identitas kepemilikannya, di luar.Sebuah eksterioritas? Eksistensitas?Catatan: tentunya relevansi asumsi sayamungkin tak relevan untuk hunian jenisapartemen, dimana interioritas adalahkonsepnya.Mungkin kita juga sudah banyak mendengarataupun terlibat langsung dengan fenomenaini. (saya menyebutnya sebagai ekses globalkapitalisme ‘mindset’).
  14. 14. 14edisi #7: rumahSeperti juga halnya, Klien yang ingindidesainkan rumah dengan gaya fasademasa kini (contemporary style on trend),lalu minta memaksimalkan pembangunandi lahannya - tentunya seringkali tidakmengindahkan lingkungan apalagi resapanair. Menjadikan eksploitasi permukaandaratan oleh keberhabitan manusia yang kianmemadati bumi – nyaris serakah, denganruang-ruang yang general atau kepamoranestetika teknologi cipta bangun; adalah jugamerupakan eksploitasi arsitektur pada tahaptertentu yang kian marak dan percaya diri;terlihat seperti sebuah pola penjajahan mukabumi berkedok arsitektur dan hunian.Lebih jauh, mungkin saya ingin berasumsijustru untuk kalangan sosial ekonomi ataslah dimana mereka sungguh-sungguhmemberlakukan suatu aksi menginginkansebuah ‘rumah’ (diluar fungsi sosial budayaekonomi) mereka berpikir jangka panjanguntuk tinggal di rumah ‘utama’ (seandainyamereka memiliki lebih dari sebuah rumah,namun pastinya ada ‘Rumah Utama’.Kemudian diberi sentuhan personal, diberimakna, dilabeli oleh individunya. Satupreposisi gegabah lainnya adalah golonganmanusia berusia di atas 45 tahun yang sudahstabil sosial ekonominya, kelihatannya punyakecenderungan untuk menetap (dalammaksud menentukan ‘omah’ masa tuanya– walau tetap melakukan bisnis jual beliproperti-rumah).Di sini, saya teringat... Suatu kenangan akansebuah ‘sarang’(*) yang saya rasakan duatahun lalu. Rumah dalam kerumahan yangsangat rumah-omah. Sebuah ‘omah’ yanglebih mendalam, hingga nyaris primitif (bukanfisiknya) bak sebuah ‘sarang’ berhabitatdimana setiap sudutnya serasa berjejaknyawa-identitas si empunya rumah.Menyimpulkan Gugahan PemaknaanRumahSebagai sebuah usaha membuat kesimpulan,saya menarik ‘batas naif’ antara masa kini(kiwari) dan masa lampau.Jika kini,‘Rumah Kapitalis’ dimana nilai ekonomisjauh lebih penting (dengan argumentasi‘untuk bertahan hidup’) dan dilihat sebagaiaset-ekonomi-wajib-milik (bak perlombaanatas suatu sertifikat hak milik). Mungkinjuga sebenarnya kita sudah sampai di titiknyaris faham, sehingga tak banyak yang bisadisebut-simpulan lagi disini.Menoleh ke dulu,Rumah adalah semacam ‘micro cosmos’ darisebuah keluarga, dari komunitas sel, tempatberkumpul, pusat ruang sosial dari keluarga,(*) Tulisan “Eko Prawoto & Arsitektur Sarang” oleh Priscilla Epifania, 2011
  15. 15. 15ruang | kreativitas tanpa batasakar jiwa ruang sosial keluarga – ‘semua’ pasti pulang ke rumah induk (yangtidak akan diperbolehkan dijual oleh leluhur - yang ada malahan dipeliharaturun temurun oleh tiap generasi keturunan – berlaku bagi budaya yangmasih memegang tradisi). Dan yang lebih lampau lagi, juga bagian darikehidupan yang harus senantiasa harmonis dan memikirkan keseimbangan-keselarasan dengan bumi dan lingkungan habitat manusianya.Lantas manakah yang lebih bernilai?Manakah yang penting?Adakah makna masih dinikmati?Siapa-dimana-mengapa-seperti apakah?Biar pertanyaan ini menjadi suatu siklus, mungkin memang makna harusbergeser, supaya perspektif hidup lebih variatif.Pada Akhir Tulisan...Tentunya sebagai salah satu kebutuhan primer manusia, tokh pada akhirnyasetiap manusia akan menciptakan, menetapkan dimana ‘omah’nya, atautheir real ‘home’, something that we can say ‘this is our home’ atau adajuga yang menyebutnya ‘the final house’. Dari riset kecil saya berupawawancara dan pengamatan terhadap beberapa kasus (orang dankecenderungan kepemilikan properti hunian) ‘omah’ masih menjadi hasratimpian, baik bagi yang mampu mewujud-milikkan dengan mudah ataupunyang membiarkannya terbawa masa untuk nilai-kebutuhan ekonomis dantertunda hingga di akhir masa pertengahan hidupnya.Dimana rumah bukan hanya sekedar kata benda tetapi sebuah identitasdan bagian dari habitat hidup, ruang sosial kultural kehidupan kesehariankita selama hidup di dunia, kembali ke makna ‘home’ itu lagi. Pelabuhanhabitat terakhir, sebuah sarang jua - jika sempat.
  16. 16. 16edisi #7: rumaharsitektur& rumahdi indonesiaoleh Asa DarmatriajiRumah adalah tempat terbentuknya dasar pemikiran, kreativitas, sikapdan sifat-sifat lain yang diturunkan langsung oleh orang tua dan ang-gota keluarga lainnya, rumah juga menjadi lingkungan pertama seorangindividu sebelum diterjunkan ke publik.Bermula dari pertemuan dengan pak Tan Tjiang Ay di kantorsekaligus huniannya di jalanGempol, Bandung, tahun 2004. Berlanjutkepada niat untuk mengundang beliau ke Universitas KatolikParahyangan (UNPAR) Bandung untuk berbicara mengenai desaindan perencanaan arsitektur rumah di Indonesia, menggali prosesyang membentuk karakter beliau menjadi sangat kuat, baik secarapersonal maupun dalam perancangan arsitektur rumah, dan jugamencari tahu proses yang beliau lalui sampai ada di posisi sekarang.
  17. 17. 17ruang | kreativitas tanpa batasKetidaksengajaan yang tidak disangka akanmenjadi ajang review studio perancanganarsitektur 4 di UNPAR, BandungTan Tjiang Ay (TTA), Asa Darmatriaji(AD), Adhi Wibowo (AW)TTA: Mana coba lihat apa yang kamubelajar di kampus kamu?AD&AW: Ini pak... kita sedang merancangrumah sekaligus tempat usaha, jadi ada duafungsi dalam satu tapak perancangan.(Beliau mulai menelaah gambar pada kertas‘roti’ yang kami tunjukkan)TTA: Kenapa kalian membuat parkiranseperti ini? Apa kalian sadar bahwaukurannya bisa dipakai untuk upacara baris-berbaris...(kemudian beliau beranjak dari kursinya untukmemperagakan seolah-olah sedang terjadikegiatan baris-berbaris).Yang digaris bawahi di sini adalah sebuahdimensi seharusnya diputuskankarena adanya kebutuhan; ketikamenjadi berlebihan, ada pemborosan dalamperancangan dalam berbagai aspek, baikmaterial, biaya, danf aktor-faktor lain dalamperancangan..(Kemudian beliau melihat ukuran ruang tamu,ruang keluarga, ruang tidur dan sebagainya,sekaligus bertanya akan orientasi bangunan,penyikapan bangunan pada tapak)TTA: Kok kalian membuat ruang keluargaukurannya 8x4m?Apa keluarga menjadi dekat kalauruangannya besar sekali?Apa kalian tahu secara fundamental apadefinisi sebuah ruang keluarga, ruang tamudan ruang tidur dalam sebuah rumah?AD&AW: Ruang keluarga itu tempatberkumpul dan berkomunikasinya sebuahkeluarga, saling berbagi senang dan susahserta untuk melakukan aktifitas yang tidakbisa dilakukan di kamar tidur ataupun diruang-ruang lainnya.TTA: Apakah kalian dekat dengan sayasekarang?(wawancara informal ini dilakukan di sebuahruang mungil dengan meja yang satu sisinyabersandar pada tembok dan beberapa kursidimana kita duduk bersamaan)AD&AW: ...Iya, pak, dekat.TTA: Nah, seharusnya kamu merancangruang keluarga yang memungkinkanterjadinya hubungan sosial antara anggotakeluarga..Pada poin ini beliau menekankan bahwadalam perancangan arsitektur rumah, perludiamati derajat keintiman anggotakeluarga dan bukan malah terlebih dahulumembicarakan luasan serta keterbukaanruangannya..Beliau juga menekankan bahwa ada ruangintim, ruang dekat, ruang privat, dan ruangbersama. Kejelasan perancangan tergambardari dimensi-dimensi yang dipakai dalamperancangan.
  18. 18. 18edisi #7: rumahSaat itu kami terperanjat, hal ini tidakpernah kami sadari sebelumnya. Walaupunselama ini kami menganggap hal tersebutpenting, tapi yang kami alami dalam prosesasistensi di dunia pendidikan, seolah hanyamembahas seputar bagus atau jelek atauruang yang terlalu besar atau kecil. Pada saatitu pula, kami mempertanyakan kapabilitaspara pengajar di universitas.Kemudian Pak Tan membuka kisahmengenai sahabat lamanya. Pak Tandan sahabatnya ini bersama-sama dalampencarian mereka terhadap arsitektur. Beliaubercerita bagaimana ia kerap kali dijemputoleh sahabatnya dengan vespa antik setiapjumat, sabtu, dan minggu. Mereka kemudianmengunjungi banyak karya yang telahdibangun oleh pak Sujudi (arsitek Indonesiatahun 1960-1990-an yang menjadi idolamereka berdua). Pak Tan melanjutkan, takjarang mereka memanjat plafond untukmengamati ‘isi’ dibalik plafond itu. Merekajuga kerap mengamati proses konstruksirumah ataupun gedung untuk dijadikanreferensi dalam perkuliahan saat beliaumasih bersekolah di ITB dan UNPAR. Alhasil,beliau kerap mendapatkan nilai D atau E,karena beliau secara jujur menggambarkanapa yang beliau lihat dengan sahabatnya itu.Kejadian ini terjadi berulangkali sehinggapada akhirnya beliau memutuskan untukrehat.Sambil menghela nafas pak Tan melanjutkan.Beliau merasa skeptis dengan duniapendidikan arsitektur di Indonesia, danmerasa hal ini perlu direvisi besar-besaran,mulai dari metoda pengajaran hinggakebaharuan ilmu yang diajarkan. Beliaunampak sedih ketika melanjutkan ceritamengenai sahabat lamanya itu. Walaupunmereka sempat bersama-sama dalampencarian mereka, akan tetapi duniaakademis seolah memisahkan mereka.Beliau sempat mengingatkan kalau suatu harinanti kita menjadi orang besar, jangan cepatpuas dengan apa yang dicapai, dan cari tahulebih banyak lagi....Akhirnya waktunya tiba.Setelah kurang lebih satu bulanmempersiapkan bersama pak Tan, akhirnyamateri telah rampung dan siap untuk pakTan sampaikan di UNPAR. Beliau pun tibake kampus UNPAR. Namun, hal yang cukupmengejutkan, hanya seorang dosen yanghadir di acara. Hall UNPAR hanya dipenuhioleh mahasiswa.Acara tetap berjalan. Dengan gayanya yangtegas dan lugas, pak Tan tetap berhasilmembuat semua mahasiswa terperanjatdengan pertanyaan-pertanyaan. Diantaranya,pak Tan menanyakan mengenai apa yangmahasiswa pikirkan ketika mulai merancang?Pada kesempatan ini, beliau mengingatkanbahwa perancangan arsitektur seharusnyatidak menjadi satu rumah produksi untukmengeluarkan solusi yang praktis tapi tidakmenyeluruh, ataupun hanya menawarkanvariasi yang diperlukan dari dinamikakehidupan di Indonesia....Proses pencarian kami tidak berhenti disana. Lantas, kami melakukan ekspedisi ke
  19. 19. 19ruang | kreativitas tanpa batasBangli, Bali, yang terlihat sangat spesifik danberkarakter, walaupun setiap rumah hanyamemiliki tanah kurang lebih 5x10m untukmemisahkan aktivitas memasak, mandidalam satu atap dan tempat tidur dalam ataplain. Ruang keluarga terjadi di ruang irisannya.Ruang keluarga menjadi tempat bertemunyasetiap aktivitas.Salahsatucarauntukmemudahkanpencarianarsitektur rumah Indonesia, seyogyanyapara arsitek Indonesia mengunjungiTaman Mini Indonesia Indah yang dimanaterdapat kompilasi rangkuman rumah adatIndonesia. Di sini kita dapat menelaah secaraseksama proses perancangan, penentuansekuensial ruangnya yang sangat ditentukanoleh asal-muasalnya. Proses evolusidalam perancangan arsitektur tradisionalmenjadi satu poin penting untuk dipelajari,dilestarikan, dan dikembangkan sesuaidengan kebutuhan jaman, etikanya, dan nilai-nilai luhur yang dipegang oleh tiap-tiap sukubangsa Indonesia.Namun di sisi lain, rangkuman ini tidakmenawarkan solusi praktis atau punmenyimpulkan bagaimana kita membentukrumah Indonesia. Kebebasan dalampenentuan keputusan yang jujur, kritis, danbertanggung jawab menjadi satu hal yangsangat berharga bagi para perancang. Halyang perlu digarisbawahi adalah janganterlalu banyak terpengaruh oleh budayabarat, kembangkan dan lestarikan budayakita yang sudah diwariskan oleh nenekmoyang menjadi poin yang sudah mulaisedikit terlupakan dalam agenda pencarianpara arsitek di Indonesia.Yogyakarta. Tujuannya untuk mengunjungipak Eko Prawoto di kediaman sekaligusstudionya.Beliau menyambut kami dengan pakaiansederhana dabmenjamu kami di teras depanrumahnya. Kami mulai bertanya mengenaihal yang mendasari pencarian arsitekturnya.Pak Eko menjelaskan peribahasa “di manabumi dipijak di situ langit dijunjung”, aliasberadaptasi dengan apa yang sudah menjadibasis setiap lokasi dan mengoptimalkanpotensi material lokal serta solusi praktisdalam perancangan yang ekonomis.Tak lupa kami mengunjungi beberapabangunan yang beliau rancang, salahsatunya bangunan kumpul komunitas diTembi. Beliau juga menunjukkan beberapakarya instalasi, rumah, dan juga bangunanpublik yang beliau rancang.Beliau mengingatkan bahwa kita harusmengerti sifat-sifat alamiah setiap elemenarsitektur yang akan kita pakai, jugamemahami karakter penghuninya secaraspesifik.Dari sini kita mulai menyimpulkan bahwaperancangan menjadi sangat plural danspesifik disesuaikan dengan kebutuhan dankemauan, atau dengan kata lain merancangrumah itu harus luwes.Kerap kali perkembangan arsitektur rumah diIndonesia, didominasi oleh pengaruh budayaBarat yang nilai korelasinya sangat kecildengan karakter bangsa Indonesia. Sebagaicontoh pembanding, coba kunjungi rumah-rumah di Bali, misalnya Desa Perliangan
  20. 20. 20edisi #7: rumahRUANG-RUANG PELARIANoleh Mochammad Yusni AzizDiam. Tersembunyi. Fasad-fasad itu tidak mengucap lantang apa yang pernah dan sedangterjadi didalam. Realita kebebasan berkota yang terpecah, terpotong kecil, menyusup ke dalamruang-ruang domestik. Rumah sebagai ruang pelarian.Rumah, ketika ditelanjangi dari segala aksesori identitas, pada akhirnya tidak lebih dari sebuahkerangka yang secara fundamental memberikan batasan untuk melindungi dan memberikanprivasi kepada sang penghuni. Menawarkan kemerdekaan, melonggarkan seorang individudari segala tuntutan aksi yang terdapat di dalam ruang publik.Khaneh1, courtyard house tradisional Iran, dengan massanya yang masif dan introvermenjembatani kebutuhan privasi yang tinggi dalam kehidupan berkomunitas. Bergeromboldengan yang lain membentuk sebuah Mahalleh2, seseorang akan dihadapkan kepada sebuahlabirin anonim sebagai strategi perlindungan disaat perang; serta menyimpan rapi kehidupankolektif yang juga turut menjamur di ruang-ruang tersembunyi3dan di dalam halaman rumah.Teheran, sang ibukota, menjadi sebuah paradigma dimana kebutuhan akan privasi tetapmenjadi prioritas meski modernisasi kota dan globalisasi telah merasuki kehidupan masyarakatIran. Bangunan-bangunan tipikal dengan jendela terbuka ke arah jalan menjadi sebuahparadoks ketika mereka selalu menutup dirinya dengan tirai, kaca reflektif atau berbagaiobyek digunakan untuk menyembunyikan kehidupan di area interior. Tindakan yang dilandasiuntuk mematuhi ajaran agama, untuk mematuhi pemerintah, atau untuk memberontak.Rumah-rumah itu bereaksi terhadap kondisi yang terjadi di ruang publik yang semakinterbuka, arena penanaman ideologi rezim otoriter Khameini. Seperti kewajiban untukmenggunakan jilbab, kontrol ketat terhadap aksi dan produksi seni4; dan segala propagandapengusung nasionalisme dan keutamaan pemimpin agung yang menghiasi segala sudut kota.Mendorong beberapa lapisan warga melarikan diri dari kota, kedalam. Menjadi narapidanarumah-rumah mereka sendiri.Rumah akhirnya menjadi ruang-ruang pemberontakan. Ia bermutasi menjadi galeri seniunderground, arena pesta, arena berkumpul yang netral ataupun lokasi penembusan proteksisensor pemerintah terhadap informasi. Rumah menjadi cerminan keinginan warga akan apayang mereka inginkan untuk hadir di dalam kehidupan berkota. Rumah menjadi ruang-ruangpelarian.1. Kata Khaneh berasal dari dua kata: Kan, Xan, atau Gan; dan Serai. Kata pertama berarti “menggali, menciptakan gundukan”,menciptakan sebuah pelindung. Sementara kata kedua berarti “ruang yang dibatasi”. Menegaskan esensi mendasar dari rumah yangmerupakan sebuah batasan untuk melindungi penghuni didalamnya.2. Perkampungan tradisional Iran3. Takyeh, ruang terbuka teratapi oleh sebuah kain yang tumbuh sporadik didalam Mahalleh, umumnya untuk acara keagamaan;Hammam, fasilitas mandi komunitas; Zulkhaneh, fasilitas olahraga tradisional yang tumbuh secara underground di dalam Mahalleh;menjadi ruang publik utama masyarakat Iran pre-modern yang minim dari segala tuntutan dan pengawasan penguasa.4. Contoh kasus: untuk melakukan pertunjukkan seni diruang publik, seseorang harus melalui persetujuan rumit yang berke-mungkinan kecil membuahkan hasil positif. (baca: the absence of music in public space: http://en.artpress.com/mobile/index.php?a=8038&achat). Disisi lain, segala karya seni yang tidak sesuai dengan ideologi negara atau berbentuk mengkritisi tidak dapatdipublikasikan secara legal dan terancam sanksi penjara.
  21. 21. 21ruang | kreativitas tanpa batasBenteng.Teheran, Iran. 2013
  22. 22. 22edisi #7: rumahTipologi introvert dari KhanehTeheran, Iran. 2013
  23. 23. 23ruang | kreativitas tanpa batasMenutup diri dari kotaTeheran, Iran. 2013
  24. 24. 24edisi #7: rumahBenteng 2Teheran, Iran. 2013
  25. 25. 25ruang | kreativitas tanpa batasGaleri seni undergroundTeheran, Iran. 2013
  26. 26. 26edisi #7: rumahbare minimalistoleh Realrich Sjarief
  27. 27. 27ruang | kreativitas tanpa batasBare Minimalist adalah satu buah karya arsitektur yang selesai di akhir tahun 2012. Intensidesain yang saya pikirkan pada awal perencanaan rumah ini sangat sederhana, yaknimendesain sebuah rumah tropis. Desain ini tentu yang berbeda dengan rumah subtropiskarena mempertimbangkan sudut matahari yang datang, sirkulasi udara yang dibutuhkan, dankelembapan yang terjadi di dalamnya - sekitar 85%, sedangkan negara sub tropis sekitar 55 %.Desain rumah pun disusun untuk mengakomodasi kepentingan Charles dan Irene sebagaiklien, rumah dengan 3 buah kamar tidur ditambah ruangan kantor di lantai dasar denganestimasi luasan maksimum 200 m2.Pada waktu awal perencanaan saya berpikir bentuk bangunan akan sangat sederhana, kotakdengan kanopi tanaman rambat sebagai transisi antara bentuk yang tegas untuk menghargaialam. Kotak tersebut memiliki lubang – lubang, tempat cahaya masuk sesuai dengan privasiruang di belakangnya, dan dimana angin masuk untuk menurunkan kelembapan yang ada. Iniadalah versi yang terakomodasi untuk iklim tropis dari Villa Savoye.
  28. 28. 28edisi #7: rumahCerobong angin setinggi 10 meter, sekitar3 lantai, diletakkan di tengah-tengah rumahsebagai pusat. Cerobong ini dikelilingisirkulasi di lantai dasar dan roof garden dilantai 1 dan 2. Cerobong ini digunakanuntuk merespon air stacking effectdibantu dengan sirkulasi udara silang yangmembelah di sisi utara, selatan, dan timur.Sistem air stacking effect ini menjadi satutitik perenungan desain dengan bentukyang simple grid 2m x 2m. Disinilah nafaspassive design muncul, wind tunnel yangmembelah rumah secara vertikal.Perencanaan lebar ruangan dan grid ruangper ruang yang dipakai menyesuaikandengan fungsi ruang dan bentuk tanah yangditempati, 8 m x 24 m. Dengan bentuktanah yang memanjang ke belakang danmenghadap sisi selatan, massa bangunandiletakkan menutup diri dari sisi barat danmembuka dirinya ke sisi utara, selatan dantimur. Sistem separasi solid-void dilakukandari daerah depan publik ke daerah privatkemudian daerah servis dibelakangnyadengan Grid kelipatan 3 m, dengan jarak2 m ke sisi timur untuk daerah servis.Bangunan sebesar 11.5 x 6 m dipecahdengan grid 2 meter, 3 meter, 6.5 meter,dan 6 meter. Dalam grid 2 meter ini anginmasuk dalam sirkulasi udara, dan di 3 sisiutara barat dan timur cahaya mataharimasuk ke dalam ruang.
  29. 29. 29ruang | kreativitas tanpa batasSatu ruang keluarga yang besar untukCharles dan Irene direncanakan untukmenyatukan fungsi ruang duduk, ruangmakan, dan dapur. Permasalahan yangmenuntut untuk dipecahkan sangatsederhana yaitu menyelesaikan rumah inidengan batasan biaya, berpacu denganwaktu secepat mungkin, dan inovasidesain yang dilakukan. Sistem utilitas yangdigunakan memecahkan ketersediaan airbersih dengan filtrasi air yang menyaringdari air tanah, dan pengkondisian udara,penyediaan airpanas yang terintegrasidengan sistem HVAC yang didesain olehJohn Budi sebagai perencana. Sistem shaftdiletakkan di sisi Barat untuk menahaneksposure dari matahari di grid 2 meter.Ekspresi beton, GRC 600 x 1200 mmunfinished yang dibawakannya, siluet ruangyang natural membawa satu kesan yangbare dan jujur dalam inovasi fungsi ruangdan fungsi bukaan yang dibawakannya.Credit :Owner : Charles Wiriawan, IreneArchitect : > O + Workshop [Principal : RealrichSjarief]General Contractor : Ir. Singgih SuryantoStructural Engineer : PT. Cipta Sukses [Principal :Anwar Susanto]Photographer : Bacteria photography [by Eric Dinardi]
  30. 30. 30edisi #7: rumah10 sentosa coveoleh Anditya Dwi SaputraBegitulah kurang lebih permintaan dari BapakDadlani,salah satu klien kami.Walaupun beliautelah lama menetap di Singapura, kultur danbudaya Indianya masih tetap dikedepankan.Lahan seluas 1000 meter persegi yang barudibeli ingin segera beliau tempati bersamakeluarganya. Bapak Dadlani merupakansalah satu orang yang dapat dikategorikanberada di tingkat ekonomi menengah ke atas.Menurut kami, seiring dengan naiknyatingkat ekonomi seseorang, naik pulalahderajat rumah orang tersebut. Bagipara pemilik lahan di Sentosa Cove,rumah bukan hanya untuk berkumpuldengan keluarga dan berlindungdari hujan, tapi juga merupakanperpanjangan tangan akan status mereka.“Saya ingin dibuatkan Taj Mahal”
  31. 31. 31ruang | kreativitas tanpa batasSentosa Cove berada di Pulau Sentosayang memakan waktu kurang lebih satu jamberkendara dari pusat kota. Masterplanrancangan Bernard Spoerry, McKerrellLynch Architects, Klages, dan Carter & Vailini memang terkenal sebagai perumahantempat para arsitek memamerkan desainnya.Jika anda berkesempatan berkunjung kesana,anda dapat melihat berbagai bentukan rumah,mulai dari yang bergaya tropis sampai yangberkesan futuristik. Dengan luas kawasanlebih dari 117 hektar, perumahan inidapat menampung lebih dari 2500 rumah.Pihak pengelola Sentosa Cove sendirimempunyai beberapa peraturan desainyang diharapkan dapat menjadi benangmerah antara satu rumah dan rumah
  32. 32. 32edisi #7: rumahyang lain, seperti keharusan untukmenggunakan atap miring sebesar50% dan pemilihan warna materialeksternal yang harus senada denganwarna-warna natural. Hal tersebutkami rasakan cukup berhasil membawakeseragaman di dalam Sentosa Cove.Berangkat dari gagasan bahwa rumahini harus berkesan megah namun tidakterkesan seperti benteng, kami memutarotak berusaha untuk menerjemahkankeinginan serta kebutuhan merekake dalam desain. Beberapa diskusidan presentasi pun dilakukan untukmenentukan desain yang sesuai dengankarakter bapak Dadlani dan keluarga.Setelah sempat tertunda selama 1,5tahun, proyek ini akhirnya mulai memasukitahap konstruksi pada tahun 2010. Secaragaris besar, rumah ini didesain untukmenjembatani kebutuhan dua generasiyang berbeda dengan tetap memberikanprivasi terhadap aktivitas masing-masingpenghuni. Hal ini dapat terlihat daripengelompokan ruang yang terdiri daritiga blok massa. Blok pertama berada dibagian depan rumah, terdiri dari ruang-ruang publik, seperti ruang tidur tamu,ruang makan formal, dan ruang teatermini. Sedangkan blok ke dua terdiri daridapur, ruang keluarga, ruang kerja, dankamar utama. Blok kedua tersebut beradadi bagian kanan, yang sebagian besarsisinya menghadap ke rumah tetangga.Blok ketiga sebagai blok terakhir terdiridari kamar tidur anak dan ruang tamu.Blok ini berada di bagian kiri, menghadapke lahan kosong yang memang tidakdiperuntukkan untuk dibangun. Ketigablok massa inilah yang akan kemudiandibalut dalam bentukan arsitektur, yangtidak berusaha memisahkan kegiatan didalam rumah dengan aktivitas di luarnya.Sirkulasi memegang peranan penting
  33. 33. 33ruang | kreativitas tanpa batasjejeran anak tangga yang mengantarseseorang ke ruang tamu di lantai dua.Anak-anak tangga tersebut merangkulsebuah struktur berbentuk silinder yangterbungkus oleh rangkaian panel bajaringan. Di dalamnya terdapat sebuahtangga spiral yang menghubungkan semualantai dengan ruang terbuka di atap.Panel-panel tersebut dihadirkan secarabepori dengan pola khusus, sehinggapada malam hari struktur silinder iniakan berpendar dan menghasilkanbayangan yang menarik di sekitarnya.Gagasan lainnya yang berhasil diaplikasikanterinspirasi dari courtyard house melaluipenghadiran ruang publik berupakolam renang yang sengaja diletakkandi pusat rumah. Peletakkan ini seolah-olah mendorong ketiga blok massatersebut menjadi menjauhi pusat. Kondisiini kemudian menciptakan sebuah airwell yang membantu sirkulasi udaramengalir dengan lebih baik. Tidak hanyadari segi penghawaan, kolam renangdi dalam rumah ini. Permainan antarakoridor terbuka dan tertutup sertabalkon yang saling terhubung tidakhanya memberi keleluasaan bagi merekauntuk berpindah dari satu ruang keruang lain, tetapi juga memberikankenikmatan visual bagi yang melewatinya.Dari sekian banyak gagasan, beberapadiantaranya berhasil terejawantahkan.Salah satunya adalah peletakkan ruang-ruang publik seperti ruang tamu danruang makan formal di bagian depanlantai dua yang menghadap ke jalanutama. Sementara ruang-ruang privatseperti kamar tidur anak, dapur, danruang keluarga justru diletakkan di lantaidasar. Hasil rumusan tersebut diharapkanmenimbulkan kesan ‘mengundang’namun tidak mengumbar privasi.Tamu yang berkunjung ke rumah ini tidakakan disambut dengan dinding tinggiyang berkesan angkuh, melainkan olehlobi terbuka setinggi dua lantai dengan
  34. 34. 34edisi #7: rumahyang masuk dirasa terlalu menyilaukan.Di sisi yang berlawanan, kamar anak-anak yang berada di bawah lebihmempunyai kesan tersembunyi. Dengantetap memperhatikan pencahayaan danpenghawaan alami, kamar-kamar ini diposisikan sedemikian rupa agar jugamemfasilitasi kebutuhan penghuni yangmenaruh minat besar pada musik danfotografi. Panel-panel geser yang jugaberfungsi sebagai filter sinar matahari, danbeberapatanamandisisirumahmenambahkontras visual dua fungsi ruang tersebut.Kamar tidur utama kami letakkan dilantai dua pada sisi belakang rumah,sebagai salah satu cara memberikanprivasi bagi si tuan rumah. Kamar tiduryang menghadap ke sungai yang mengalirsepanjang pantai Sentosa ini terhubungkansecara visual dengan ruang meditasi diatasnya. Disinilah aspek religi menjadibagian dalam pengambilan keputusanpenempatan sebuah ruang. Ruang yangmemungkinkan terjadinya hubungan batindengan Sang Pencipta ini ditempatkandi lantai teratas, mengisyaratkantidak adanya batas antara ke duanya.Jika anda melangkah keluar dari ruangmeditasi ke arah ruang terbuka di ataprumah, anda dapat dengan leluasa melihatke sekeliling kawasan. Dua buah tanggayang terletak pada sisi berlawanan,menghubungkan ruang terbuka di ataptersebut dengan lantai-lantai di bawahnya.Rumah belum tentu menjadi tempattinggal yang nyaman. Pencahayaanalami dan sirkulasi udara yang baikmerupakan dua syarat penting dalammencapai kenyamanan. Namun halyang paling utama menurut kami adalahperhatian terhadap karakter dan polahidup si pemilik rumah agar dapatdimunculkan dalam desain sebuah rumah.ini juga menjadi pemandangan yang menarikbagi orang-orang yg sedang berjalan darisatu ruang ke ruang lain. Dinding terlapisbatu vulkanik setinggi dua lantai yang diakhiridengan panel kaca, menyembunyikan sebuahjembatan yang menghubungkan dapur danruang keluarga dengan kamar tidur anak.Pencahayaan alami bukanlah sesuatu yanglangka bagi rumah ini. Sebagai contohnyapada ruang tamu yang terletak di lantai dua.Ruang ini terbungkus kaca yang menjulangdari lantai sampai langit-langit di ketigasisinya. Untuk mengimbangi, aksesoris interiorberupa tirai dihadirkan jika sinar matahari
  35. 35. 35ruang | kreativitas tanpa batas
  36. 36. 36edisi #7: rumahMembangunRumah Impianoleh Dinda JouhanaSaya tidak pernah menyangka bahwamembangun rumah bisa menjadi sebuahperjalanan spiritual.Ada begitu banyak nilai-nilai filosofis yang sayapelajari sepanjang prosesnya.Ini merupakan pengalaman luar biasa yangmengubah cara pandang saya melihat hidupdan berinteraksi dengan sekeliling.
  37. 37. 37ruang | kreativitas tanpa batasRencana merenovasi rumah muncul pada tahun2010. Rumah yang terletak di sebuah kompleksperumahan di Cibubur, Bogor itu dibeli oleh suamisaya dari tangan ketiga pada akhir 2008. Denganluas bangunan 48 m2diatas tanah 72 m2, rumahdengan dua kamar tidur itu tak lagi nyaman untuksaya dan suami.Tipikal rumah kompleks, apalagi sudahdirenovasi pemilik sebelumnya, rumah itu sangatmengandalkan AC untuk sirkulasi udara. Cahayaalami hanya bisa didapatkan dari kamar depan yangkami sulap menjadi ruang kerja. Selain itu usianyacukup tua sehingga banyak bocor dimana-mana.Saya dan suami memutuskan untuk menggunakanjasa arsitek professional. Sebab kami menginginkansebuah rumah yang sesuai kebutuhan, rumahimpian. Tidak apa membayar biaya desain, tapihasilnya puas. Daripada dikerjakan sendiri, denganpengetahuan yang terbatas, hasilnya tidak akanmaksimal.Saya mengusulkan untuk menggunakan jasa YuSing, yang saya ‘kenal’ dari sebuah artikel di korantahun 2009. Idealismenya dalam berbicara soalrumah sehat yang terjangkau, penggunaan bahan-bahan alam yang murah dan mudah ditemukan,membuat saya ‘jatuh cinta pada pandanganpertama’. Suami saya setuju dengan usulan ini.Baginya, karya Yu Sing artistik dan tidak biasa.Pada awal Oktober 2010, saya mengirimkane-mail kepada Yu Sing menanyakan kesediaannyauntuk merenovasi rumah kami. Setelah sebulanbelum berbalas, lantas, saya memberanikan dirimengirimkan e-mail kedua dengan permintaanyang lebih spesifik dan memberikan anggaran Rp100 juta.Kami terkejut karena permintaan kami ditolak.“Renovasi sering bertentangan dengan kepuasan.Padahal apalagi kenikmatannya selain kepuasandesain kalau dari proyek-proyek kecil sepertiini,” kata Yu Sing. Ia lebih memilih membangunrumah dari nol, sehingga desain lebih maksimal,dan mengajukan angka, 150 juta.Alasannya cukup masuk akal. Sebagai penulisdan fotografer freelance, saya paham rasanyamenolak klien yang tidak seide. Saya dansuami justru mengagumi langkah ini. Kami pundengan semangat membalas: jika memangrumah yang sekarang harus dirobohkan, kamitidak keberatan.Sejak itu, perjalanan mendesain rumah pundimulai. Yu Sing memberikan kami ‘formulir’berisi serangkaian pertanyaan seperti lokasilahan, peraturan tertentu untuk membangundisitu, kebutuhan ruang, anggaran, dan sumberdana. Tidak hanya itu, juga ada pertanyaanpribadi seperti hobi, karakter keluarga, falsafahhidup, dan hal lain yang menurut kami relevan.Ada juga pertanyaan soal kualitas ruang yangkami impikan, atau apakah kami sudah punyakonsep rumah. Arahnya tentu saja agardesain rumah bisa dibuat sepersonal mungkin.Uniknya, semua ini cukup dilakukan lewate-mail.Soal rumah impian, pada dasarnya kamimemiliki beberapa kriteria penting. Yangpertama adalah rumah yang ramah sehinggaorang – terutama tetangga – tidak segan untukmasuk, mengingat rumah kompleks biasanyasangat privat. Lalu, haruslah mengutamakanfungsi daripada estetika belaka. Rumah jugaharus menjadi tempat istirahat yang nyamansehingga seolah seperti suasana berliburdi rumah. Hal ini penting bagi suami sayadengan jadwal 5 minggu kerja di luar kotadan 4 minggu libur di rumah. Rumah jugaharus sehat dengan sirkulasi udara dan cahayabaik. Jika memungkinkan, kami menginginkanrumah yang ramah lingkungan serta gampangperawatannya.
  38. 38. 38edisi #7: rumahSetelah melalui proses desain yang kesemuanyadilakukan tanpa tatap muka, akhirnya, gambarfinal datang pada bulan November 2011, sekitarsatu tahun sejak pertama kali mengirimkan e-mail.Yu Sing memang sudah mensyaratkan bahwa iatidak bisa buru-buru.Di atas kertas, desain rumah sangatlah cantik.Kebutuhan ruang dapat terpenuhi. Tiga kamartidur, dua kamar mandi, ruang keluarga, dapur,ruang makan, ruang kerja hingga ruang servis yangmemuat gudang, tempat cuci dan jemur. Apalagi,dalam proses itu kami mendapat rezeki, sehinggabisa menaikkan anggaran pembangunan menjadiRp 300 juta. Rumah yang tadinya direncanakandua lantai, menjadi tiga karena ditambahkanruang mezzanine (ruangan di bawah atap) yangbisa dipakai buat apa saja.Sembari mengurus Izin Mendirikan Bangunan,kami mulai mencari kontraktor. Karena kami tidakpunya referensi, sang arsitek merekomendasikankontraktor yang pernah bekerja dengannya.Kami tahu rumah ini akan ‘berbeda’ dari rumahkebanyakan, tentunya dibutuhkan kontraktoryang sudah mengenal gaya sang arsitek. Akhirnya,kami memutuskan untuk menggunakan jasakontraktor yang direkomendasi.Setelah bertemu dan menerima pengajuan RAB,ternyata anggaran untuk struktur saja sudahhampir mencapai anggaran keseluruhan yang kamisediakan. Meskipun kami masih menyediakandana cadangan diluar anggaran, tetap saja ituterlalu mahal karena masih ada pekerjaan finishingyang biasanya berjumlah signifikan.Berbekal penawaran RAB, kami bertemumuka dengan Yu Sing dan tim Akanoma, AnjarPrimasetra. Dari hasil diskusi tersebut, kamisepakat untuk mengubah spek bangunan.Perubahan paling vital adalah dinding. Yangtadinya memakai bata, kini berdinding simpai:teknik yang menggunakan besi hollow untukpertulangan, dinding GRC yang disekrup di satusisi dan plesteran aci di sisi yang lain, denganmenggunakan kawat ayam dibagian tengahnyaagar acian dapat menempel baik. Selain itu,rumah akan bernuansa ekspos. Dinding tidakdicat, langit-langit tanpa plafon dan jaringan listrikterlihat jelas.Kami membawa hasil diskusi itu ke kontraktor.Tidak pernah mengerjakan dinding sedemikian,ia sempat ragu. Sang kontraktor memberikanargumentasi ‘khas sipil’ terutama soal kekuatandan ketahanan bangunan. Masalah kerapian jugamengemuka. Ia ingin memastikan kami tahu apayang kami lakukan. Dengan spek baru, hargabisa ditekan, meskipun pekerjaan dinding masukkepada finishing, bukan struktur.Saya dan suami menimbang plus-minus spek yangbaru. Tapi, keputusan apapun dalam hidup ini pastiada kontroversinya. Ini adalah salah satu pelajaranfilosofis yang saya dapatkan. Pertanyaannyasekarang, jika sudah tahu apa kekurangan dankelebihannya, maukah kami berkomitmen ataskeputusan itu? Ternyata jawabannya adalah: YA.Kami masih muda, dan senang berpetualang.Membangun rumah yang nyeleneh, juga adalahpetualangan; kami siap menanggung resiko.Dan dari situ, petualangan sesungguhnya dimulai.Awal tahun 2012, kami mengontrak rumahyang berjarak hanya dua menit berjalan kaki darirumah awal. Sesuai kontrak, rumah akan selesaipada bulan November 2012. Dengan perkirakansatu bulan beres-beres, jika berjalan lancar, awal2013 kami sudah bisa menempati rumah baru.Tahun baru, rumah baru. Itu rencananya.Setelah pekerjaan administrasi dan sebagainya,pekerjaan rumah baru dimulai pada bulan Maret2012. Rumah lama dihancurkan total. Masalah
  39. 39. 39ruang | kreativitas tanpa bataspertama muncul: keluarga dan tetangga yang melihat tentu kaget dan menyayangkan keputusan ini.Tapi kami jalan terus.Sekitar lima bulan kemudian saat struktur sudah selesai dibangun, tim arsitek membeberkan ide untukmerubah façade. Perubahan ini tentunya masih mungkin dilakukan mengingat proses finishing belumdimulai.Ide perubahan ini berawal dari usulan kami untuk menambahkan detail ukiran Aceh yang terinspirasidari rumoh geudong milik keluarga besar suami saya yang terletak di Sigli, Nangroe Aceh Darusalam.Ternyata ide ini diterima, malah berkembang sehingga rumah kami berganti ‘judul’ menjadi RumohAceh Transformasi.Rumah ini terlihat seolah-olah seperti rumah panggung dari kayu. Untuk lantai dua dan tiga, yang tadinyamemakai GRC diganti menjadi woodplank, bahan dari fiber semen yang permukaannya dicetak miripkayu. Beberapa detail ditambahkan, seperti lisplang dan railing balkon yang ukirannya terinspirasi dariukiran rumoh geudong tersebut.Setelah struktur selesai, proses finishing agak tersendat. Kontraktor memastikan semuanya akan sesuaijadwal. Awalnya kami percaya penuh. Namun, di bulan Oktober – sebulan sebelum kontrak berakhir,rumah masih belum berdinding, belum berlantai. Kecuali dibangun oleh Bandung Bondowoso, rumahtidak akan bisa selesai sesuai jadwal dalam kontrak.
  40. 40. 40edisi #7: rumahMeskipun was-was dengan kinerja kontraktor,kami tetap berprasangka baik. Begitupun, sayamengambil langkah drastis. Pengerjaan rumah sayasupervisi sendiri. Saya mempelajari semua selukbeluk rumah dan mendatangi proyek setiap hariuntuk memastikan pekerjaan tukang. Saya jugamembeli sendiri bahan-bahan yang seharusnyadisediakan kontraktor. Saya bahkan melaporkanperkembangan rumah kepada kontraktor yangmemang jarang nongol di lapangan.Pada saat itu kepercayaan saya terhadapkontraktor sudah jauh menurun dan kesabaransaya benar-benar diuji. Suami saya tetapberpendapat untuk memberi kesempatankepadanya untuk memperbaiki kinerja. Akhirnyakami memutuskan untuk memperpanjangkontrakan rumah hingga Februari 2013, karenahingga Desemberpun proyek belum selesai.Saat pertemuan awal Januari, sang kontraktorberjanji dengan sungguh-sungguh akan serahterima rumah pada akhir Januari. Namun, padatenggat yang ia tentukan sendiri itu, rumah jugamasih belum selesai. Jangankan mengunjungiproyek, mengabari pun tidak. Padahal, pekerjaansesungguhnya hanya tinggal sedikit. Akhirnya, kamimemutuskan untuk memberhentikan para tukangpada akhir Februari, dan memanggil tukang lainuntuk menyelesaikan sisa-sisa pekerjaan.Permasalahan dengan kontraktor ini adalahpelajaran lain yang saya dapatkan dari prosesmembangun rumah. Sebagus apapun konsepyang kita punya, jika eksekusinya tidak baik, makahasilnya tidak akan maksimal. Mungkin sepertinegara ini: konsep Pancasila di republik ini begitubagus, namun jika pemerintah tidak mengaturnegara ini dengan baik, hasilnya adalah chaos.Akhirnya rumah baru sudah bisa saya tempatipada awal Maret, meskipun masih harus dirapikandi sana-sini. Hasil akhir rumahnya sendiri tidakberbeda jauh dari apa yang didesain oleh paraarsitek.Tentu saja ada detail-detail yang terlihat bagus diatas kertas, namun tidak sesuai dengan lapangansehingga harus berimprovisasi. Juga, ada hal-halyang sebenarnya sangat bisa dilakukan sesuaidengan desain, namun karena pengerjaan yangkurang rapi dan presisi, membuat beberapa halberbeda dari desain. Selain itu, ada spek yang kami“Sebagus apapun konsep yang kitapunya, jika eksekusinya tidak baik, makahasilnya tidak akan maksimal. Mungkinseperti negara ini: konsep Pancasila direpublik ini begitu bagus, namun jikapemerintah tidak mengatur negara inidengan baik, hasilnya adalah chaos.
  41. 41. 41ruang | kreativitas tanpa batasdapat digunakan untuk menyiram tanaman ataumendinginkan atap.Rumah ini memberikan perasaan yangmenyenangkan bagi saya dan suami. Bagisaya, setiap sudut rumah ini photogenic. Iamemberikan inspirasi untuk berkarya. Sesuaidengan nafas etnik facade rumah ini, saya bahkanmembayangkan ini sebagai ‘rumah Indonesia’:mendekorasinya dengan kain-kain tradisionalkoleksi saya atau menjadi semacam ‘galeri’ untukmemajang karya-karya seniman Indonesia.Meski banyak ketidaksempurnaan yangumumnya bersumber dari pengerjaan yangkurang rapi, rumah ini tetap cantik. Seperti kataYu Sing sang arsitek saat berkunjung di akhirFebruari lalu, “Ini adalah rumah yang manusiawi,yang memaafkan kesalahan.”Rumah ini, adalah semacamconstant reminder untuk sayayang ‘terlalu perfeksionis’: bahwatidak ada yang sempurna didunia ini. Saya tahu, saya akanbelajar banyak dari rumah sayasendiri.… kemudian pertanyaan sejutadolar dilontarkan: berapa totalbiaya yang dihabiskan? Wah, untukmenjawabnya, saya masih menunggutagihan dari kontraktor, hehehe…ubah. Beberapa atap/skylight yang sesungguhnyabisa memakai polikarbonat, kami ganti dengan kaca.Atau lantai yang tadinya cukup dengan multipleks,kami lapis dengan kayu pinus. Semata karena adarezeki tambahan.Begitupun, rumah ini sesuai seperti yang saya dansuami harapkan. Rumah tiga lantai ini rampak ramah,tidak menjulang angkuh. Bahkan ketinggiannya samadengan rumah tetangga yang berlantai dua. Belumlagi selesai dibereskan, anak-anak tetangga sudahdatang bertamu dan bermain tanpa ragu.Detail-detailnya fungsional, seperti tangga dari lantaidua ke lantai mezzanine yang juga berfungsi sebagairak buku. Cahaya alami melimpah di siang hari dansirkulasi udara begitu bagus. Bahkan lantai mezzaninepun terasa dingin karena angin bebas masuk. Rumahini juga ramah lingkungan karena tidak hanya hematlistrik, tapi juga ada penampungan air hujan yang
  42. 42. 42edisi #7: rumahKedekatan dan kepadatan sama-sama sebuah paradoks.Kebutuhan akan kedekatan memicu pertumbuhan populasi, ekonomi, dan fungsi kota. Makakedekatan akan menarik kepadatan. Sementara itu kepadatan menstimulasi kota untukmembangun lebih tinggi, lebih dalam, dan lebih beragam. Maka, kepadatan akan menghadirkankedekatan. Namun, keduanya sama-sama melegitimasi alasan kota ada.Mari berbicara sedikit soal kota...Ketika ‘kota’ disebut di sini akan mengacukepada pembacaan Rossi (1982), dalamArchitettura Della Città, dimana hubunganarsitektur dengan kota disejajarkan denganhubungan kontras antara khusus dan umum,antara individu dan kolektif. Dengan katalain kota di sini adalah susunan beragamarsitektur dalam rentang waktu tertentu.Muncul pertanyaan berikutnya, apa arti‘arsitektur’ di sini? Untuk kepentinganartikel ini, arsitektur akan dilepas daribebannya sebagai sebuah monumen, sebuahpengecualian. Demi memberi gambaranlebih tepat antara hubungan individu dankolektif, arsitektur tidak hanya akan dilihatdari pandangan Vitruvius melalui kekuatan,keindahan, dan kegunaan (firmitas, venustas,dan utilitas). Namun, ada aspek keempatakan diperkenalkan (dan dipertanyakan):
  43. 43. 43ruang | kreativitas tanpa batasantara kedekatandan kepadatan  ¡ ¢ £ ¤ ¥ ¦ § ¨ ¦ © §Keberlangsungan memiliki sedikit dari ketigaaspek di atas. Keberlangsungan menyediakanseminimal mungkin fungsi sesuai yangdibutuhkan; kekuatan menjadi sesuatuyang tidak stabil namun mencukupi; dankeindahan dilihat tidak dalam tata, proporsi,dan hierarki namun estetika yang selaludalam keseimbangan dan negosiasi, hampirruntuh tapi masih berdiri.Elemen penyusun kepadatan tak lain adalahmanusia.Tentu jika berbicara mengenai manusia, kitaakan berbicara mengenai tempat berlindung,baik yang formal maupun nonformal.Formal’ dan ‘nonformal’ di sini tidakberbicara mengenai legalitas, karena selamaharga tanah di kota dikuasai oleh spekulan,
  44. 44. 44edisi #7: rumahberbicara legalitas akan menjadi hal yangdilematis. Formal dan nonformal di sinitapi lebih berbicara mengenai sesuatu yangtumbuh menjadi berbentuk atau tumbuhdengan tidak terdefinisi bentuk.Lalu, jika di awal disebutkan bahwaarsitekturlah yang menyusun kota,kebutuhan manusia akan kedekatanmembawa kepadatan, kota dilegitimasioleh kepadatan dan kedekatan dandemi keberlangsungannya, kepadatanmembutuhkan tempat berlindung, apakahlayak jika tempat berlindung itu kita disebut‘arsitektur’? Bahkan jika diamati lebih jauh,salah satu aspek penyusun kota yangdominan adalah tempat berlindung. Tempatberlindung itu seringkali hadir dengansebutan ‘rumah’.Keterbatasan ruangKepadatan dan kedekatan memaksa ruangmenjadi sebuah komoditas. Pemanfaatanruang di kota sangat diperhatikan. Adadua respon ekstrim dari pemanfaatan ini,untuk kepentingan artikel ini mari kita sebut‘maksimalisasi’ dan ‘minimalisasi’.Maksimalisasi adalah usaha menumpukkepadatan dengan sebanyak dan setinggimungkin demi pemanfaatan lahan secaramaksimal, jauh dari optimal. Dengan katalain, maksimalisasi mengakali kepadatandengan menumpuknya. Hal itu melahirkanbangunan tinggi berkepadatan tinggi, disisi proletar hadir denagan nama rumahsusun dan di sisi borjuis hadir dengan namaapartemen. Sementara itu, kelas menengahsangatlah adaptif dan reaktif, mereka mampumenyesuaikan diri dengan setiap spektrumyang ada dari rumah susun ke apartemen.Disamping itu, maksimalisasi juga melahirkanbangunan rendah berkepadatan rendahnamun berluasan tinggi. Tipe ini lebih dikenaldengan istilah ‘rumah gedong’, yang jugahadir di sisi borjuis. Apartemen maupunrumah gedong berbicara hal yang sama:luasan.Maksimalisasi menyeimbangkan kepadatandengan luasan.Maksimalisasi menginginkan keduanya,suasana luas atau luasan juga kedekatanekonomi. Keduanya terpaut dengan angka.Kuantitas seolah mengungguli kualitas. Setiapjengkal ruang tidak luput dari komodifikasi.Kualitas dipertanyakan, bahkan seolahbergeser maknanya menjadi luasan. Lalu,mantra ‘gaya hidup’ dan komodifikasiruang menjustifikasi dan meringankanalasan terjadinya penumpukan kepadatan.Konsekuensinya, rumah (arsitektur) tidak lagiberbicarakekuatan,keindahan,dankegunaan,juga keberlangsungan, tapi tergantikan olehsimbol yang merepresentasikan status sosialdengan parameter luas bangunan. Rumahmenjadi label bagi si pemilik. Rumah dipaksadipercantik oleh susunan elemen arsitekturyang megah untuk menjadi topeng bagipenghuninya.Terlebih lagi, demi melindungi pemilikborjuisnya, rumah diperlengkapi olehbeberapa elemen yang membuatnyaterlihat ‘kokoh’, diantaranya pagar, alarm,CCTV, dan pos penjaga. adalah Rumahmengisolasi pemiliknya dari hal-hal ‘buruk’dan infrarealitas yang terkandung dalam
  45. 45. 45ruang | kreativitas tanpa bataskota. Rumah memberi jarak antara pemilikdengan orang lain, menutup diri untukbersimpati serta mempunyai harapan akankolektivitas, yang ada hanyalah individu.Rumah menjadi topeng dan sebuah benteng.Dengan luasan tadi, kebutuhan ruangdipaksa melebar untuk menyesuaikan luasan.Fungsi ruang menjadi terbagi-bagi denganlebih spesifik. Setidaknya untuk bersosialisasisaja terdapat empat jenis ruangan, sebutlahteras, ruang tamu, ruang keluarga, dan ruangtelevisi. Masing-masing membicarakan aspek‘sosial’ dengan kadar tertentu. Fungsi ruangdipurifikasi, sehingga sebuah ruang seolahtidak diperkenankan mengkontaminasiruang yang lain. Satu fungsi setara dengansatu ruang. Ruang terspesialisasi dan steril.Rumah menjadi ekpresi soliter.Lain halnya dengan respon kedua,minimalisasi yang cenderung lebih resilien,elastis, melenting. Mereka (terpaksa dandipaksa) mengerti bahwa ada hal yangharus dikorbankan demi ‘kedekatan’ekonomi; kepadatan harus diterima sebagaikonsekuensi.Minimalisasi tak hanya menumpukkepadatan, juga hidup dengannya. Bangunan
  46. 46. 46edisi #7: rumahrendah berkepadatan tinggi hadir, dan takjarang hadir dalam bentuk kampung kota.Minimalisasi merelakan kenyamanandan keleluasan yang dipersikukuhkanmaksimalisasi demi kedekatan ekonomi.Mereka hidup dengan keberlangsungan.Secara fungsional, rumah hanyadiperuntukkan untuk makan dan tidur. Secarastruktural, minimalisasi hanya membutuhkansebuah pelindung yang temporer dan cukupkokoh untuk berteduh. Estetika dinilaidengan cara yang cukup berbeda denganketeraturan umumnya, dan lebih mengarahkepada etika. Kecantikan yang dinegosiasikandan diterima, tidak dogmatis dan memaksa.Rumah berada di batas minimal sebuahtempat berlindung, eksistensminimum.Minimalisasi memaksa rumah sebatas padaproses keberlangsungan.Dengan keadaan seperti ini, tak jarang fungsi‘dikeluarkan’ dari dalam rumah, beberapadiantaranya fungsi sosialisasi, produksi,penyimpanan bahkan servis. Sebagaigantinya, minimalisasi memanfaatkan bahkanmengeksploitasi ruang-ruang publik seperti‘jalan’ di depan rumah mereka. Jalan seolahdiposisikan sebagai perpanjangan darirumah, menjadi tempat menerima tamu,tempat produksi, dan etalase untuk usaha.Fungsi rumah dipecah dan didistribusikan keruang-ruang disekitarnya. Sehingga hal yangmenyangkut publik dan privat menjadi rancu.Rumah menjadi entitas yang menyebar.Rumah seolah menjadi sebuah jaringan yangsaling terikat.Setiap jengkal ruang juga dinegosiasi,diapropriasi, dikomodifikasi, bahkan dijejalisepenuh-penuhnya, oleh minimalisasi.Kuantias (terpaksa) tetap mengunggulikualitas. Privasi seolah melebur, dihimpitoleh gang-gang kecil. Ruang dipaksa untukmengakomodir hampir segala jenis kegiatan,sebuah bilik 3 m x4 m dapat menjadi tempatmemproduksi dagangan di pagi hari, tempatbelajar di sore hari, dan tempat istirahatdi malam hari. Ruang yang sama berubahfungsi secara terus-menerus. Kemajemukantercipta di tengah kepadatan.Rumah menjadi wajah yang majemuk.Disamping itu estetika menjadi perdebatan,selalu berada dalam proses negosiasi.Estetika menjadi konsensus, kesepakatanbersama. Individualitas tetap diekspresikan,
  47. 47. 47ruang | kreativitas tanpa batasnamun, entah sengaja atau tidak, seolahdi-rem oleh individu-individu yang lain.Kumpulan individu ini membentuk kolektif.Demi mengeksploitasi ruang-ruang publikuntuk kepentingan pribadi, mau atau tidakmau, seorang individu akan terlibat dalamdialog konstruktif maupun destruktif dengankolektif. Proses negosiasi yang berkelanjutanitulah yang membuat minimalisasi seolahtumbuh dengan tidak berbentuk namunmemiliki pola.Rumah menjadi sarana dialog dan negosiasi.Antara maksimalisasi dan minimalisasiMaksimalisasi, hampir selalu, hidupbersebelahan dengan minimalisasi, tapibelum tentu berdialog. Dua entitas ini tidakserta-merta merepresentasikan mana yangbaik dan mana yang buruk. Setidaknya selaluada dua sisi argumen untuk membenarkanatau menyalahkan salah satu diantarakeduanya.Dua entitas ini memiliki caranya masing-masing dalam merespon kepadatan dankedekatan sebagai konsekuensi terjadinyakota. Yang satu menolak kepadatan kotadengan menumpuk lebih tinggi, yang lainmenerimanya dengan melepas beberapaelemennya; memaksimalkan ruang danmeminimalkan ruang.Keduanya mengeksploitasi kota dengancaranya masing-masing, yang satumemanfaatkan seluas-luasnya sebuahlahan, yang lain yang lain mengkontaminasisebesar-besarnya ruang-ruang milikbersama seperti jalan atau gang; yang satubersifat introver, yang lain ekstrover.Dua entitas tersebut memiliki caratersendiri dalam beradaptasi dengankepadatan, yang satu mengaturnya,yang lain hidup dengannya; yang satumendorong individu dan individualisasi,yang lain terpaksa menerima orang lain;yang satu menginginkan privasi, yang lainmerelakannya demi kolektivitas.Antara terpaksa dan kerelaan menjadikabur, antara memanfaatkan dengan baikdan mengeksploitasi seolah tipis, antaramengatur dan hidup dengan seolah pilihan.Tapi, apakah hanya ada dua pilihan?Apakah sesederhana memilih yang satuberarti mengorbankan yang lainnya?Bukankah abu-abu kadangkala lebih baikdibandingkan dengan hitam dan putih?Entahlah, setidaknya hitam dan putih sudah sulit terlihat lagi...
  48. 48. 48edisi #7: rumah
  49. 49. 49ruang | kreativitas tanpa batasPerkembangan Kampung Codesebagai Prototipe PermukimanBerkelanjutanoleh Rofida Amalia“..as an illegal settlement of ill-repute, Kampong Kali Cho-de ought to be improved and notdisplaced to another remote part of town, where it will revert to similar form.”(Romo Mangun)Rumah adalah salah satu dari tiga kebutuhan primer bagi manusia selain sandangdan papan. Keberadaannya menjadi ruang berlabuh bagi setiap individu untukmelepas lelah setelah beraktivitas sehari-hari. Ia tidak hanya menjadi tempattinggal namun juga memiliki peran untuk menyediakan ruang privasi bagi setiapindividu, tempat memulihkan energi melalui kehangatan suasana kekeluargaan.Sebagai unit bangunan terkecil dalam khazanah arsitektur, rumah menjadi awal mulaterbentuknya pemukiman yang selanjutnya akan menjadi cikal bakal tersusunnya perkotaan.Akan tetapi, tampak kota pada kenyataannya kini seakan tumbuh secara sporadis. Padapersil-persil tertentu, terbangun hunian-hunian berwajah modern dan megah, menandakanpemiliknya seorang yang terbilang berada. Sedangkan di sisi yang berbeda, diantarabangunan-bangunan eksklusif tersebut terselip ruang-ruang “terpinggirkan”, misalnyatepian rel-rel kereta, kolong jalan layang, ataupun bantaran sungai, dengan kondisi yangmemprihatinkan –setidaknya bagi saya—dan menjadi penyebab hadirnya kesenjangansosial yang cukup tinggi antara pemukiman kaum konglomerat dan kaum proletariat.Keterbatasan lahan yang seperti tidak seimbang dengan pertambahan jumlah pendudukmemicu pemanfaatan ruang-ruang terpinggirkan sebagai tempat tinggal. Memang ruang-ruang tersebut sebenarnya tidak layak dijadikan tempat bernaung, terkait kenyamananmaupun keamanannya. Ditambah lagi dengan status dan legalitas tanah yang rumit.Ketika pihak-pihak tertentu telah merasa “nyaman” hidup di sana, tak jarang klaim untukmenetap muncul sehingga akan menyulitkan proses relokasi. Selanjutnya permasalahanbaru akan muncul saat mereka mulai mengakui hak milik atas tanah dengan dasar telahmenetap sekian lama, bisa jadi hingga capaian puluhan tahun dan turun-temurun.Disisilain,sebenarnyakeberadaanmerekadiruang-ruangterpinggirkanterkadangmenimbulkanpermasalahan baru selain keindahan kota, yaitu kualitas lingkungan yang buruk. Misalnya,membuang sampah secara sembarangan dan serampangan dengan melemparnya ke dalamaliran sungai yang pada akhirnya berujung pada penyumbatan aliran air dan terjadinya banjir.
  50. 50. 50edisi #7: rumahSeringkali pemukiman-pemukiman “liar” tersebut memangakan berujung pada aksi penggusuran oleh aparat sebagaisenjata untuk merapikan kawasan kota demi memperolehfasad kota yang lebih cantik. Namun usaha seperti itu takjarang pula tidak berhasil dan justru menimbulkan bentrokantara warga dan aparat. Sekilas dapat disimpulkan bahwarasa memiliki atau sense of belonging atas tempat tersebuttelah demikian kuat melekat pada diri masing-masing individu.Kalaupun penggurusan tersebut berhasil, terdapat kemungkinaneks-penghuni mencari tempat baru untuk tinggal dengankriteria yang sama, seperti pernyataan Romo Mangun yangdihimpun pada The Aga Khan Technical Review Summary untukkaryanya revitalisasi Kampung Code di pusat kota Yogyakarta.Kampung Code terletak di bantaran Kali Code yang merupakansungai yang berhulu di Gunung Merapi, tepatnya di bawahjembatan Gondolayu, tidak jauh dari ikon penanda identitaskota Yogyakarta, Tugu Jogja. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, yangakrab disapa Romo Mangun, mendedikasikan pemikirannyapada kawasan yang mulanya dianggap kumuh, liar, denganberbagai persepsi buruk yang lain seperti kebanyakan bantaransungai di kota-kota besar Indonesia. Sebagai seorang arsitekhumanis, Romo Mangun banyak mengajarkan perancangandan penataan elemen kota dengan arif dan bijaksana. Salahsatunya melalui penggarapan proyek Kampung Code denganpertimbangan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.Sebelum tahun 1983, kampung yang berpenghuni sekitar 35keluarga dengan reputasi slum area;erat dengan stempel sampahmasyarakat, miskin, tidak sehat, serta populer dengan kasus-kasus kriminalitas dan prostitusi. Profesi para penghuni wilayahGondolayu tersebut hanyalah seputar pengayuh becak,pemulung,atau pedagang asongan. Gagasan tentang Kampung Code diawalioleh ide Willi Prasetya yang saat itu menjabat sebagai lurah. Iaberkoordinasi dengan Romo Mangun untuk menjadi voluntaryconsultant pada penataan pemukiman di sekitar Kali Codedengan eksisting lahan di utara dan selatan Jembatan Gondolayu.Kampung Code dibangun dengan material yang sederhana danapa adanya, yaitu material lokal yang terdiri dari kombinasi tanahliat (tanah lempung), batu bata, bata beton (concrete block),kayu, dan bambu. Konsentrasi perencanaan dan perancanganberfokus pada penyediaan rumah tinggal sederhana, ruangkomunal, ruang bermain, balai pertemuan, dan ruang edukasi.Dengan bantuan relawan sekelompok mahasiswa jurusanseni, penduduk memperoleh inspirasi untuk membuat tempattinggalnya berwarna-warni. Aksen yang cenderung mirip mural
  51. 51. 51ruang | kreativitas tanpa bataskemudian menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung.Tidak sekedar dekorasi yang indah, melainkan strategi untukmenarik dukungan dari pemerintah, menurut Romo Mangun.Kala membicarakan tentang Code tidak bisa tidak, KampungCode akan senantiasa terlibat. Terdapat aturan tidak tertulisbahwa apabila penduduk Code telah mencapai taraf lebihmampu atau ia menikah dan memiliki keluarga baru, maka haruskeluar dari Kampung Code. Dengan hal ini diharapkan individulain yang serba kekurangan dapat terbantu. Bisa pula dikatakanbahwa rumah-rumah di Code ini merupakan rumah singgah bagipenghuni tak tetap. Apabila penghuni ingin merenovasi rumahtersebut, karakteristik renovasi diharuskan sesuai dengan ciri“Code”yang berwarna-warni dan penggunaan material kayu sertabambu.Meskipun penghuni Kampung Code tidak dapat dikatakansebagai penghuni tetap terkait kepemilikan tanah, keberadaannyamampu membangkitkan geliat ekonomi dan citra sosial kota.Capaian atas apa yang dilakukan dan perubahan yangterjadi atas kepedulian Romo Mangun merupakan hal yangpatut diapresiasi dan dijadikan panutan dalam perspektifwaktu yang berbeda. Keberhasilannya merubah kulturmasyarakat serta transisi stigma negatif menjadi positifhingga menerima penghargaan Aga Khan tentu menjadiprestasi tersendiri bagi perkembangan arsitektur di Indonesia.Sudah hampir tiga dekade semenjak Romo Mangun mengiringiproses pembangunan Kampung Code pada perjalanan tahun1983-1985. Seiring berputarnya waktu selama puluhan tahuntersebut, tidak terpungkiri bahwa pertumbuhan penduduk disekitar Kampung Code pun meningkat pesat. Pemukiman disekitar bantaran Kali Code pun menjadi kian padat, tidak hanya dibawah jembatan Gondolayu saja tetapi hampir di sepanjang tepiansungai tersebut.Tercatat,di wilayah Jetis dan Gondokusuman yangjuga meliputi Kampung Code hasil rancangan Romo Mangun,menurut pemaparan Septiono E. Bawono dan Zulaikha B.Astuti(2011) telah mencapai kepadatan sebesar 13.721 orang/km2.Oleh karena itu, pada tahun 2006 pemerintah memulaipembangunan rumah susun sebagai salah satu solusi untukmengurangi kepadatan penduduk. Transformasi pemukimanyang cenderung horizontal menjadi vertikal, diharapkan mampumenyediakan tempat tinggal yang lebih layak bagi masyarakat.Tetapi hingga tahun 2010, kenyataannya keberadaan rumahsusun yang telah tersedia hanya dapat memenuhi 8,31% darikebutuhan keseluruhan rumah tinggal pada area tersebut.
  52. 52. 52edisi #7: rumahTumbuhnya wacana model penyediaan tempat tinggal seperti rumah susun memangmenjadi wujud yang baik meskipun dalam pelaksanaannya di negara berkembang sepertiIndonesia memang menjadi persoalan yang serius terutama jika dikaitkan denganmasalah alokasi finansial. Padahal menurut undang-undang dari Kementerian PekerjaanUmum No. 05/PRT/M/2007 disebutkan bahwa rumah susun disewa oleh pemerintahuntuk kalangan penduduk tidak mampu dengan tarif rendah yaitu Rp 1.000.000-2.500.000 per bulan, dan tarif menengah yaitu Rp 2.500.000-4.500.000 per bulan.Namun tampaknya hal tersebut memang belum mampu menutupi semua kebutuhanterkait pembangunan rumah susun meskipun memang masih akan senantiasa diupayakan.Pada dasarnya, rumah susun memiliki beberapa keuntungan berupa berkurangnyakebutuhan lahan karena fokus bangunan yang vertikal. Dengan demikian usaha untukmenciptakan area hijau, area komunal, dan area bermain anak yang lebih luas akan lebihmudah terealisasi. Sementara itu, perancangan rumah susun mampu meningkatkan dayaserap air melalui penyediaan lahan serapan, serta mengurangi potensi lahan terkenabanjir apabila debit air sungai meningkat. Mengingat keberadaan Kali Code merupakanhilir dari gunung aktif Merapi yang sesekali banjir lahar dingin mengancam makakeberadaan rumah susun diharapkan mampu menjadi solusi perlindungan yang lebih baik.Perputaran zaman sepertinya menuntut sikap masing-masing individu untuk menyesuaikandiri dan tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Konteks lingkungansekian puluh tahun yang lalu bisa jadi sudah tidak relevan lagi diaplikasikan dalamkehidupan masa kini. Luas wilayah Kampung Code saat ini yang statis tentu sudahtidak dapat menyediakan tempat bagi berlipatnya jumlah penduduk. Sebagai alternatifsubstitusi, diharapkan keberadaan rumah susun mampu memberikan ruang layakuntuk dihuni masyarakat. Meski begitu pemerintah kota telah menggadang-gadangKampung Code warisan Romo Mangun sebagai kawasan budaya yang patut dilestarikan.Apapun bentuknya, sebuah kampung di tengah kota pada hakikatnya (Lilis: 2010) setidaknyamemiliki:• Sistem perantara antara masyarakat yang bersifat makro,dengan keluarga yang bersifat mikro.• Identifikasi penduduk yang jelas sebagai cermin kesatuan,kebersamaan,dan kesadaran warga.•Keteraturan sosial spasial yang tumbuh secara mandiri darikomunitas tersebut, di samping adanya peran serta pemerintah kota.•Diferensiasi fungsi atau tata guna lahan, tidak hanya melulu sebagai huniansemata tetapi juga ketersediaan fasilitas umum seperti warung, bengkel, atau salon.•Pertukaran sumber daya sebagai penyesuaian diri dengan lingkungan yang lebih luas.•Organisasidanlembagamasyarakatuntukmemenuhikebutuhansistemmakrodansistemmikro.Apa yang dilakukan Romo Mangun dengan mendampingi komunitas di bawahjembatan Gondolayu, menjamin defensible life space (ruang kehidupan yang dapatdipertahankan), hal itu kemudian menjadi bukti bahwa hal tersebut mampu membantumengantarkan mereka yang miskin dan rentan untuk lepas dari jerat kemiskinannya(Khudori:2002 melalui Bhakti Setiawan). Hal menarik ini semoga mampu menjadi teladanbagi generasi pembangun negeri di hari ini dan selanjutnya agar tercipta harmonisasikehidupan bermasyarakat dengan lingkungan, sosial, dan ekonomi yang lebih baik.
  53. 53. 53ruang | kreativitas tanpa batasReferensi:Abbad Al Radi.Technical Review Summary,The Aga Khan Award for Architecture, Kampung Kali Cho-de. 1992.Bakti Setiawan, Prof. 2010. Kampung Kota dan Kota Kampung:Tantangan Perencanaan Kota di Indonesia. PidatoPengukuhan Jabatan Guru Besar Ilmu Perencanaan Kota Universitas Gadjah Mada.Lilis Widaningsih. 2010. Makalah. Pendidikan Lingkungan bagi Masyarakat Kampung Kota melalui ProgramPemberdayaan Masyarakat (Community Based Development).Septiono E. Bawono dan Zulaikha B.Astuti. Slide Presentasi. Disampaikan dalam FIG Work Week 2011, BridgingThe Gap Between Cultures, di Universidade do Minho, Marrakech, Marocco 18-22 May 2011.
  54. 54. 54edisi #7: rumahKota adalah simpul. Kota adalah tempat kepentingan berkumpul. Kota adalah stasiun: tempatorang-orang datang, orang-orang pergi. Orang-orang yang (bersikukuh) tinggal dan orang-orangyang tak (pernah) kembali.Bagi sebagian orang, kota itu sesederhana tempat berpulang:Rumah.PULANG KOTAoleh Rofianisa NurdinFoto oleh Lukman Hakim
  55. 55. 55ruang | kreativitas tanpa batasDi salah satu pulau terluar Indonesia, sebuahrumah berdiri di perbatasan dua negara.Penghuninya menerima tamu di Indonesia,dan pergi ke dapur untuk menyeduh kopidi Malaysia. Fakta ini kerap menjadi leluconringan masyarakat di sana: bahwa sekedarmelangkah ke ruangan lain di dalam rumah,mereka harus berpindah negara1.Lain halnya dengan yang terjadi di kota besar.Ada hal yang sebenarnya janggal namunsudah menjadi pemandangan yang lumrah:orang-orang tak lagi menerima tamu diberanda rumah. Mereka menetapkan janjibersilaturahmi melalui media sosial, lalu padawaktu yang telah ditentukan bergegas denganmoda transportasi yang sesuai dengankemampuan (dan kelas) masing-masing,menempuh jarak yang terbias waktu tempuhyang tak terduga, menyebut kata “macet”sebagai pengganti ucapan salam ketika telahbertatap muka, dan memilih kafe ataupunresto yang paling fotogenik untuk akhirnyamereka abadikan gambarnya demi menjadibagian masyarakat dunia maya (mencatatsejarah, katanya. Menampilkan citra tertentu,biasanya). Sekedar bertatap muka untukberbincang ringan mereka habiskan sejumlahuang, selewat waktu, dan segelintir kesabaranyang kian terkikis di perjalanan tiap harinya.Dalam waktu dan biaya yang sama, seorangpengelana sudah bisa berpindah kota. Tapitentu saja konteksnya berbeda. Pengelanaitu barangkali sedang mencari rumah dalampemaknaan yang ia imani, sementara orang-orang di kafe tadi justru (meski, mungkin,tanpa disadari) sedang memecah fungsirumah, menjadikannya fragmen-fragmenruang yang terpisah jarak dan pencapaian.Menjadikannya horcrux2.Horcrux adalah objek berkekuatan sihirtempat fragmen jiwa seorang penyihirdisimpan dan dirahasiakan. Mereka yang mati1) Rumah Malindo, Pulau Sebatik; perbatasan Kalimantan Utara (Indonesia) dengan Sabah (Malaysia).2) Istilah horcrux dipopulerkan pada novel fantasi berseri Harry Potter karangan J.K. Rowling.namun memiliki sebagian jiwa di dalamhorcrux akan dapat hidup kembali.Semakinbanyak horcrux mereka ciptakan, semakinbanyak jiwa mereka terfragmentasi,semakin dekat mereka dengan keabadian;meskipun memiliki resiko hilangnya sifat-sifat manusiawi dan kejanggalan pada rupafisik.Jika sebuah rumah memiliki jiwa, makatindakan memecah fungsi rumah tadisama halnya dengan menciptakan horcrux:upaya merekayasa ruang-ruang sosialpada bangunan publik komersial; menjualskala yang intim, dekorasi yang cozy,“kenyamanan seakan di rumah sendiri”;menawarkannya kepada mereka yangterbutakan keabadian uang dan tersihirkonsumerisme; kitsch yang membuaidalam dunia “seolah-olah”. Rumah yangsebenarnya lalu menjadi sepenggal kataambigu, menjadi sebuah ruang sekedar.Kosong, cacat, berdebu.Tanpa jiwa.Alkisah segerombol pendatangmemutuskanhijrahkekota.Selamaaktivitasekonomi masih berjalan dan wahanaperputaran uang masih dikemudikantangan-tangan tak kasat mata, merekaakan selalu ada. Memenuhi ruang-ruangkota yang sudah sesak: kamar-kamar kosdi lipatan-lipatan strategis; rumah-rumahmakan yang kurang higienis; sesekali (atauberulang kali, tergantung pendapatan danego mana yang dimenangkan: hedonisatau utilitarian) memanjakan diri di saranahiburan dan pusat perbelanjaan (mal, kafe,bar, club, pusat kecantikan; - sebut saja,semua ada). Gejala kaum menengah yangmenjadi fenomena populer, belakangan.Bertumpu pada kaki-kaki mereka yangsudah bisa berdiri sendiri, di hadapanmereka dunia terbuka lebar. Tersihirlampu-lampu kota, berlembar-lembar
  56. 56. 56edisi #7: rumahpeluh yang mereka hasilkan selama sebulan,habis sekejap seketika. Demi merasa pulang,merasa di rumah.Mereka adalah penikmat horcrux yang palingsetia.Penghuni sekotak ruang tidur yang ruang-ruang sosialnya tersebar di mana-mana.Membaca dan mengerjakan tugas di kedaikopi ber-wi-fi, bercengkrama sepulang kerjadi lounge bersama teman lama, mencicipikuliner dunia dalam satu meja di foodcourttersohor di sejagat kota. Mereka mendambarumah, dan obrolan hangat, dan masakanbunda; berharap ruang-ruang berinteriortemaram dalam berbagai tema dapatdapat menggantikannya. Bisakah?Apakah Rumah?“Walls with windows and doors form thehouse,but the empty space within itis the essence of the home.”— Lao TseJika rice dalam bahasa Inggris dapatdidefinisikan sebagai padi, beras, juga nasi;maka rumah dalam bahasa Indonesia punmemilikidefinisigandadalambahasaInggrissebagai house dan home, meski kedua katatersebut punya makna yang berbeda.Perbedaan makna dalam satu kata ini,barangkali, yang membuat kita terkadanglupa bahwa rumah bukan sekedartempat bernaung. Lalu apakah rumah?
  57. 57. 57ruang | kreativitas tanpa batasBagi sebagian yang beruntung, rumah memangtak sekedar tempat bernaung. Ia representasikesuksesan penghuninya.Tercermin dari pilar-pilar maha, pagar-pagar berukir bersaluttembaga, beton berlapis peluh seratus buruh,ruang-ruang bersalut statuario dan bebatuanalam dari negeri di ujung dunia. Rumah bagimereka adalah simbol. Sebuah kebanggaan.Sebuah pernyataan. Etalase.Bagi yang kurang beruntung, rumah taklebih dari secuil spasi beratap bayang-bayangmalam. Tempat yang hanya cukup untukmeringkuk mencari mimpi dalam bising kakiyang berlalu-lalang. Rumah yang akan hilangketika pagi datang. Ketika toko-toko kembalibuka dan segala jenis sampah yang berserakandi pelatarannya disapu; termasuk mereka.Bagi segelintir pengenyam pendidikanarsitektur, rumah ibarat komoditas: takpernah habis beratus-ratus kali dimaknai,diteliti, didefinisi lalu diredefinisi kembali,dirancang dan dan dihancurkan, diolahmenjadi barang dagangan demi sesuapnasi dan setenggak kopi untuk bertahansetidaknya hingga satu malam lagi. DiIndonesia, common sense arsitekturadalah rumah. Praktisi dan akademisiyang ingin mencari perhatian publik,menggunakan rumah sebagai kata kunci.Bagi sebagian orang,rumah itu sekomplekssebuah kota. Tempat mereka memaknai“pulang”.
  58. 58. 58edisi #7: rumahPulang (ke) Kota?Abad 21. Pelaku urbanisasi telah beberapadekade menetap hingga beranak-pinak.Mudik kini tak hanya diasosiasikan dengan“pulang ke kampung”,karena tak sedikit yangmerayakan hari raya maupun berkumpuldalam hajatan keluarga besar di kota (danbukannya “kampung”) halaman. Ke tempatyang tertua dan yang dituakan yang masihtersisa, tinggal.Kamar-kamar hotel full-booked. Restoransudah tak bisa menerima reservasi.Tempatrekreasi penuh.Mal gegap dan riuh.Selebrasipulang kota tak cukup hanya denganmencicipi masakan oma dan bermain dihalaman belakang rumah bersama sanak-saudara; petugas katering telah menyiapkansegala hidangannya dan halaman belakangrumah habis dibangun kamar-kamar untukdisewa (lagipula baik anak-anak maupunorang dewasa telah sibuk dengan bendaelektronik di tangannya). Pulang kotaadalah momen ketika horcrux-horcrux yangtersebar di penjuru kota laku tersambangi.Nostalgia tentang “kota halaman” yangdikunjungi setahun sekali kini berisi tentangrestoran yang tahun lalu mereka kunjungi,film box office yang mereka tonton,pertujukan yang tak luput mereka nikmati(karena media beserta para selebritas didalamnya akan membicarakannya terus-menerus, dan mereka yang kehabisan tiketakan merasa menjadi manusia urban yangtak sempurna). Hingga anak-anak merekakembali ke sekolah dan menceritakanpengalaman berlibur mereka. Tentanggemericik air di resto sunda (dan bukannyadi sungai kecil belakang rumah nenek), kisahsuperhero yang mereka tonton di bioskop(dan bukannya nyanyian tentang anakgembala yang mengurusi kambing-kambingmilik paman), serta betapa gemerlapnyadekorasi pohon natal di mall yangbaru dibuka (karena gemerlap malambertabur bintang kini bukan sesuatu yanglumrah ditemukan di kota).Lalu mereka berkoar-koar tentangromantisme pulang ke kota asal. “Thisfeels like home,” seseorang berusiaseperempat abad bergumam melaluijempolnya, menuliskan tentang betapaaroma kedai kopi favoritnya sejak SMAmasih belum berubah.Mengesampingkanfakta bahwa usaha franchise internasionalitu tentu punya standar penyajian yangtak setiap bulan berubah.Pun di antaramereka, ada yang tak hadir. Mungkin takmenemukan jalan pulang, atau memangsengaja terlupa. Bagi mereka, pulang kekota hanya menyajikan penat; tak perlulagi diingat.Kota adalah simpul. Kota adalah tempatkepentingan berkumpul. Sejak dulu,definisinya selalu begitu.Kota adalah stasiun: tempat orang-orangdatang, orang-orang pergi. Orang-orang yang (bersikukuh) tinggal (meskihuniannya sudah tak layak lagi), danorang-orang yang (bersumpah) tak (akanpernah) kembali.Bagi sebagian orang, pulang ke kotaadalah sebuah trauma. Seberapapunnyaman naungan yang mereka hadirkan,Kota tak lagi sesederhana tempatberpulang:Sensasi rumah dalam kenangantelah hilang.
  59. 59. 59ruang | kreativitas tanpa batas
  60. 60. PROFILKONTRIBUTORIvan NasutionSetelah lulus dari arsitektur ITB, kemudian bekerja diPark+Associates Architect. Telah menyelesaikan riset di BerlageInstitute Rotterdam pada tahun 2011. Saat ini menjadi researchassistant di Centre for Sustainable Asian Cities, NUS.Dinda JouhanaTelah lulus Ilmu dari Komunikasi FISIP, USU; mencintai penulisan dan fotografi juga duniaseni budaya, filantropi dan bisnis. Sejak mengundurkan diri dari Los Angeles Times biroJakarta tahun 2009, menjadi freelancer dan mengerjakan berbagai proyek yang menarikminatnya, seperti pembuatan buku dan mengorganisir event budaya. Dengan dukunganpenuh suaminya, Teuku Ismail, perempuan yang sedang kerajingan diving ini jugamempunyai berbagai bisnis, mulai dari jasa fotografi, produksi yogurt hingga rental mobil.Saat ini, ia tengah sibuk merancang dekorasi untuk rumah yang baru saja selesai dibangun.Yandi Andri Yatmoteaches architecture at the University of Indonesia since1997. He obtained his PhD degree from the School ofArchitecture at the University of Sheffield, where hepreviously studied for Postgraduate Diploma in Architectureand Master of Architecture. His professional experiencesinclude working for Singapore Housing and DevelopmentBoard (HDB) and Encona Engineering. His works areprimarily on design theories and their relevance to designpractice, as well as environmental education.M. Yusni AzizAlumnus double-degree bachelor program kerjasamaantara ITS dan Saxion Hogeschool of Applied Sciences.Saat ini sedang melanjutkan riset di the BerlageInstitute Delft sejak September 2011.CZARL ARCHITECTSDidirikan tahun 2008 ini diprakarsai oleh Carl Lim danAnditya Dwi Saputra. Latar belakang pendidikan dankarakter yang berbeda membuat keduanya tidak lepasdari diskusi argumentatif. Mereka percaya bahwaide dapat datang dari mana saja. Oleh karenanyabiro yang berdomisili di Singapura ini tidak hanyamembatasi dirinya dalam arsitektur, namun jugainterior, desain produk, bahkan desain grafis. Tiga buahkarya desain mereka telah menjadi nominasi di WorldArchitecture Festival tahun 2012 .Riza Nur AfifahAlumnus arsitektur ITB. Saat ini sayamerupakan junior urban designer di sebuahbiro konsultan arsitektur (PDW-architects)di Jakarta. Menulis bagi saya adalah carasaya untuk memahami dan membacakembali. Menulis bisa menjadi cermin diri,dan menjadi cara bagi kita untuk maubelajar lagi dan terus mengasah diri. Bagisaya, bidang arsitektur ataupun perancangankota adalah sebuah ilmu dan wawasan yangharusnya diperkenalkan kepada seluruhlapisan masyarakat. Lewat jalan inilah kitabisa berkontribusi.Rofida AmaliaApprentice Writer di Imelda Akmal Architectural Writer.Semasa kuliah di Universitas Sebelas Maret, pernahmenyusun buku rencangan Rumah Kayu (2011) bersamakawan-kawan sealmamater. Pecinta kata dan penyukapermainan bahasa. Penikmat hujan dan penggemarkartu pos.Rofianisa NurdinMenggemari sastra dan arsitektur, dan senang menyatukankeduanya. Bersama tiga orang teman dari Arsitektur ITBmenggagas Vidour: sebuah wadah dokumentasi arsitektur yangselama kurang dari setahun telah menghasilkan belasan videoyang membawa mereka ke Jakarta, Semarang, Surabaya, WaeRebo, lalu Tokyo. Karyanya bersama Vidour bisa dilihat di www.vimeo.com/vidour, sedangkan tulisan sehari-harinya ada di www.blabbermouthdisease.tumblr.com.Asa DarmatriajiAlumnus arsitektur Universitas Parahyangan dan DIA, Dessau, Jerman.Bekerja sebagai intern di Budi Pradono Architects. Setelah lulus (2007),bekerja sebagai architectural designer di SCDA, Singapura. Padatahun 2010 bekerja sebagai Senior Architectural Designer di studiogoto,Singapura; juga membentuk biro arsitektur, designstudio. Karyanyadipamerkan di eksebisi Fringe Bandung, Imagening Bandung bersamakomunitas Archos. Beberapa penghargaan yang diraihnya: 300 proyekterpilih dari 4000 entry di Evolo magazine; juara kedua Pondok TjandraIndah Gate competition di Surabaya.realrich sjariefArsitek, sekaligus suami dari dokter gigi Laurensia Yudith adalahPrincipal Architect di O + Workshop. Pernah berkerja untuk LordNorman Foster di London. Karyanya untuk Charles dan Irene, BareMinimalist mendapatkan finalis IAI Award Jakarta 2012. Selain itudi-samping berpraktek sebagai arsitek, ia aktif sebagai dosen mengajardi Universitas Pelita Harapan.priscilla epifaniaSarjana arsitektur di Universitas Tarumanagara, Jakarta (1996) danmagister di bidang urban tourism di University of Westminster,London (2010). Selain perintis di Next [In] Architecture dan aktifmengajar di almamater sejak lulus, kini terpelosok di kepengurusanIAI Jakarta di periode 2012-2015. Juga sebagai anggota modern AsianArchitecture Network (mAAN) , IAU Komisi 41 Working group onAstronomy and World HeritageKristanti Dewi ParamitaGraduated from University of Indonesiain 2007. She completed her Masterdegree at MA/ad Sheffield. Particularlyinterested in the relationship betweenculture and design.
  61. 61. 61Ruang 1: RuangRuang 4: Karya ArsitekIndonesia di Luar NegeriRuang 2: Arsitektur HijauRuang 5: ArsitekturRuang 3:JakartaRuang 6: Ruang PublikRUANG merupakan sebuah wadah menyuarakan hati dan pikiran insan kreatif yang memiliki ketertarikan pada arsitektur,kota serta permasalahan sosial disekitarnya. RUANG hadir untuk memasyarakatkan arsitektur melalui majalah elektronikarsitektur.Ingin berkontribusi? Kunjungi http://www.membacaruang.comEDISI SEBELUMNYA
  62. 62. RUANGkreativitas tanpa batasmembacaruang.comruangarsitektur.tumblr.comfacebook.com/ruangarsitektur@ruangarsitektur

×