• Save
Informasi bencana
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
310
On Slideshare
310
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
0
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide
  • KecamatanCiampel, TelukJambeTimur, Karawang Barat, BatujayadanPakisjaya.Status gunungmuriaNeumann van Padang (1951) – “Indonesia”. Catalog of Active Volcanoes of the World and Solfatara Fields; Tom Simkindan Lee Siebert (1994)-Volcanoes of the World: A Regional Directory, Gazetteer, and Chronology of Volcanism During the Last 10,000 Years; danVolcanic Program Smithsonian Institution,bisadisimpulkanbahwaGunungapiMuriasedangtidurpanjang (inactive, dormant). Gunungapiinibahkantakadadalamdaftargunungapiaftifatau dormant didaftarPVMBG; mengindikasibahwagunungMuriabukanuntukdikuatirkan.Pertanyaanahligeologitentunyatidakakanberhentisetelahmengetahui status gunungini. Lantasmengapatidurpanjang ? Letusanterakhirnyapada 160 BC +/- 300 tahun; jadisudahsekitar 2000 tahun yang lalu.
  • KecamatanTelukjambe: DesaTelukjambe, Wadas, Purwadana, Sukaharja, Puseurjaya, Sukaluyu, danDesaSirnabaya.KecamatanKarawang Barat: KelurahanTanjungpura, Tanjungmekar, Karawangkulon, Adiarsa Barat, danKelurahanNagasari. KecamatanTelukjambe Barat: DesaParungsaridanKarangligar. KecamatanKarawangTimur: DesaAdiarsaTimurKecamatanCiampel: DesaTegallega. KecamatanPakisjaya: Lima desaKecamatanBatujaya: Satudesa

Transcript

  • 1. InformasiBencana
  • 2.
  • 3.
  • 4.
  • 5.
  • 6.
  • 7.
  • 8.
  • 9. Jikadilihatdaricilangkapdengan radius daripantaiterdekat 35 km
  • 10. Jikadilihatdaricilangkapdengan radius daristasiunterdekat 10 km
  • 11.
  • 12.
  • 13. Peta Wilayah Gempa Indonesia yang dimuatdalampasaliniadalahhasilanalisisprobabilistikbahayagempa (probabilistic seismic hazard analysis) yang telahdilakukanuntukseluruhwilayah Indonesia berdasarkan data seismotektonikmutakhir yang tersediasaatini. Data masukanuntukanalisisiniadalahlokasisumbergempanya, distribusimagnitudogempadidaerahsumbergempa, fungsiatenuasi yang memberihubunganantaragerakantanahsetempat, magnitudogempadisumbergempadanjarakdaritempat yang ditinjausampaisumbergempa, magnitudo minimum danmaksimumsertafrikuensikejadiangempa per tahundidaerahsumbergempa, dan model matematikkejadiangempa. Sebagaidaerahsumbergempanya, telahditinjausemuasumbergempa yang telahtercatatdalamsejarahkegempaan Indonesia, baiksumbergempapadazonasubduksi, sumbergempadangkalpadalempengbumi, maupunsumbergempapadasesarsesaraktif yang sudahteridentifikasi. Mengenaidistribusimagnitudogempadidaerahgempa, halinitelahdihitungberdasarkan data kegempaan yang tersedia. Dalamanalisisprobabilistikbahayagempaini, percepatanpuncakbatuandasardiperolehmelaluiprosesperhitunganberturut-turutsebagaiberikut: (1) probabilitas total denganmeninjausemuakemungkinanmagnitudodanjarak, (2) probabilitas total dalamsatutahun, (3) probabilitassatukejadiandalamsatutahun (fungsi Poisson) dan (4) periodaulang (yang merupakankebalikandariprobabilitasdalamsatutahun). Hasilanalisisprobabilistikbahayagempaini, telahdiplotpadapeta Indonesia berupagaris-gariskonturpercepatanpuncakbatuandasardenganperiodaulang 500 tahun (periodaulangGempaRencana), yang kemudianmenjadidasarbagipenentuanbatas-bataswilayahgempa. Studiinitelahdilakukanolehbeberapakelompokpenelitisecaraindependen, yang masing-masinghasilnyaternyataagakberbeda yang satudari yang lainnya. Petawilayahgempa yang ditetapkandalampasaliniadalahhasilperata-rataanhasilstudisemuakelompokpeneliti
  • 14. Percepatanbatuandasar rata-rata untuk Wilayah Gempa 1 s/d 6, telahditetapkanberturut-turutsebesar 0,03 g, 0,10 g, 015 g, 0,20 g, 0,25 g dan 0,30 g. Denganpercepatanbatuandasarsepertiitu, makaditetapkanlahpercepatanpuncakmukatanah (Ao) untuk Tanah Keras, Tanah Sedangdan Tanah LunakmenurutTabel 5, satudan lain sebagaihasilstudi banding denganstandardiluarnegeri, a.l. National Earthquake Hazards Reduction Program 1997 (NEHRP 1997) dan Uniform Building Code 1997 (UBC 1997). Apabilakitatinjau NEHRP 1997 misalnya, batuandasaradalahkira-kiraekuivalendengan S1, sedangkan Tanah Keras, Tanah Sedangdan Tanah Lunakadalahkira-kiraekuivalendenganberturut-turut S2, S3 dan S4
  • 15. BencanaAlamdiKabupatenKarawang
    SudjanaRuswanamengatakansebanyak 21 dari total 30 kecamatandidaerahitumasukkategoriwilayahrawanbencanaalam.
    Bencanaalam yang rutinterjadisetiaptahundiKarawang
    banjir,
    air lautpasangatau rob,
    luapan air sungai,
    anginputingbeliung,
    orangtenggelamdan
    bencanaalamlongsor.
    Sumber:
    KepalaKesatuanKebangsaan, PolitikdanPerlindunganMasyarakatKarawang, Jawa Barat,
    SudjanaRuswana
    http://arsipberita.com/show/21-kecamatan-karawang-rawan-bencana-alam-144456.html
  • 16.
  • 17. Luapansungaicitarum
    Wilayah 21 desaditujuhkecamatan,
    Karawang Barat,
    KarawangTimur,
    TelukjambeTimur,
    Telukjambe Barat,
    Ciampel,
    Batujaya, dan
    Pakisjaya
  • 18. Ciri Daerah rentanterhadapGempa
    “KondisiGeologidaerah yang terkenagempabumiumumnyatersusunolehendapankuarterberupa alluvial, endapan pantai, endapan rombakan gunungapi serta endapan batu gamping yang telahmengalamipelapukansehinggarentanterhadapgoncangan”, demikianmenurutKepala Badan Geologi, Bambang Dwiyanto
  • 19. IrEngkon K Kertapati
    Jakarta diintaiolehbeberapasesaraktif yang siap ‘menyuplai’ getarangempa yang bisasampaikewilayah Jakarta. Di antaranyaadalahSesarCimandiridenganmagnitudogempa 7,2 SR dankecepatanpergerakantanah 4 mm per tahun, sesarLembangdenganmagnitudogempa 6,5 SR dankecepatanpergerakantanah 1,5 mm per tahun, danSesarSundadenganmagnitudogempa 7,2 SR dankecepatanpergerakantanah 5 mm per tahun. sejarahmencatatgempabesarpernahmeluluhlantakkan Jakarta yaitugempa yang terjadipada 1699 dan 1852
  • 20. Gempatahun 1699, kataEngkonberpusatdiselatanGunungGede, yang menyebabkanterjadinyakerusakanbangunandankerusakanparahdisekitarHanjawar, Puncak. Sir Thomas Stamford Raffles jugamencatatdalambukunya History of Java, “Gempa 1699 memuntahkanlumpurdariperutbumi. Lumpur itumenutupaliransungai, menyebabkankondisilingkungantaksehat, kianparah.”
    MenurutbukuEncyclopedy of World Geography, gempainijugamenyebabkan Sungai Ciliwungtertutupolehlongsorlumpur, danpohon-pohon yang bertumbangan, sehinggaterjadibanjirdibanyaktempat. Taksampaiseabadkemudian, gempakembalimelanda Jakarta pada 1780.
  • 21. Pada 27 Agustus 1883, Jakarta kembalidiguncanggempabesarakibatletusanGunung Krakatau yang memicu tsunami 35 meter danmenewaskan 36 ribujiwadiJawabagianbarat, dansebelahselatan Sumatera. Dari catatan-catatansejarahtadi, Jakarta memangpernahbeberapa kali mengalamigempahebat. ancamanbagipenduduk Jakarta adalahgempa-gempadangkal yang bersumberdariJawa Selatan yaknidariarahzonaSubduksi (Megathrust) sepertigempaTasik. Kerentanan Jakarta akansemakinparahbiladaerah-daerahtesebutpadatpendudukdanbangunan-bangunannyatidakataukurangmemperhatikanaspekbangunantahangempa
  • 22. Potential Earthquake Hazard Microzonations Of The Jakarta City
    Ditulisoleh A. Soehaimi / 13 October 2009 (JurnalSumberDayaGeologi No. 02, Vol. 19 April 2009)
    Jakarta, the capital city of the Republic of Indonesia, is a potential earthquake hazard area. The city lies on the very thick ( >294 M ) Quaternary sediments. Destructive earthquakes influenced this city were generated from the subduction and active faults with the Maximum intensity of VI - VII MMI. A microtremor investigation to the shallow soft Quaternary sediment results in the dominant period of 0.05 - 0.85. The classification of this dominant period is the basic classification of rock and soil site and as an important factor of the earthquake hazard susceptibility in a region.
    Dynamic site responses, which are presented by the multiply of amplification factors and natural dominant periods of this city are divided into five microzonations, these are :
    • Very high susceptibility microzonation (index's > 10), covers the area of 7.58 km2 or 1.15 % of the total region of Jakarta occupies a small area of North Jakarta.
    • 23. High susceptibility microzonation (index's 7.5 - 10 ), covers the area of 18 km2 or 2.73% of the total region of Jakarta consisting of small area of North Jakarta city (Kapuk resort), Central Jakarta including the area of Setiabudi.
    • 24. Moderately susceptibility microzonation (index's 5-7.5), covers the areas of 86.59 km2 or 13.11 % of the total region of Jakarta, including the North, Central, East and South Jakarta and the small area of West Jakarta .
    • 25. Low susceptibility microzonation (index's 2.5 - 5), covers the area of 324 km2 or 49.18 % of the total region of Jakarta, and it occupies the western part of North Jakarta, eastern part of west Jakarta and the central part of central Jakarta.
    • 26. Very low susceptibility microzonation (index's < 2.5 ), covers the area of 223.47 km2 or 33.83 % of th total region of Jakarta , the area includes a small part of the central Jakarta and the eastern part of west Jakarta.
    These earthquake hazard microzonations are one of important data base for regional planning in order to mitigate earthquake hazards and risks of the Jakarta city.
  • 27.
  • 28. PetaUnsurTektonik
  • 29. PolaumumstrukturJawa Barat ( Martodjojo, 1994 dalamSontana, 2007
  • 30.
  • 31.
  • 32.
  • 33. PetaDistribusiSesar/SeismotektonikJawa Barat (E.K. Kertapati et al., 1998)