Kerancuan dalam penghitungan tarip pelayanan di rumah sakit new

3,346 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
3,346
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
161
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kerancuan dalam penghitungan tarip pelayanan di rumah sakit new

  1. 1. KERANCUAN DALAM PENGHITUNGAN TARIP PELAYANAN DI RUMAH SAKIT * Heru KusumantoPendahuluanSelama ini dalam menentukan tarip pelayanan di Rumah Sakit, kita selalu meng-hadapi kesulitan. Pertama, kesulitan dalam menghitung unit cost, selain karenasulitnya menentukan faktor apa saja yang harus dihitung, juga mengenai bagai-mana cara menghitungnya. Kedua, pada waktu menentukan besaran tarip, kitakesulitan dalam menentukan berapa margin yang kita inginkan dan mungkin kitadapatkan. Ketiga, banyak peraturan (dari Pemerintah misalnya) ataupun referensi,yang sifatnya teoritis dan sulit dipraktekkan (termasuk pengajaran di PerguruanTinggi), kadang-kadang terasa tidak sreg dengan pikiran kita, bahkan sepertinyatidak masuk akal, tetapi mau mengkritik juga tidak ada referensinya.Pada akhirnya, apa yang dilakukan dalam menetapkan tarip? Sesudah menghi-tungunit cost dengan susah payah, bahkan sampai menggunakan konsultan yang tidakmurah, akhirnya dalam menentapkan tarip, hanya didasarkan besaran tarip yangberlaku di Rumah Sakit lain/pesaing. Tergantung positioning kita, apakah kitamenempatkan diri diatas atau dibawah RS pesaing kita.Satu hal yang sering membuat rancu atau menyulitkan kita dalam menghitung unitcost adalah, kita selalu berorientasi kepada cara menghitung unit cost produkbarang fisik. Seperti misalnya menghitung harga sebuah mobil, maka dalammenghitung unit costnya didasarkan pada biaya komponen bahan yangdipergunakan untuk membuat mobil tersebut. Atau dalam membuat kue, makayang dihitung adalah berapa biaya yang telah dikeluarkan untuk membeli bahanpembuat kue tersebut, kemudian dibagi dengan jumlah kue yang dihasilkan. (Lihattulisan kami tentang kerancuan penerapan teori ekonomi dalam mana-jemenRumah Sakit)Kerancuan penentuan satuan unit jasa.Selama ini, yang ada direferensi maupun bahan ajaran/kuliah, dalam menghitungunit cost, selalu didahului dengan menghitung berapa jumlah biaya keseluruhanyang disebut dengan Total Cost, kemudian dibagi dengan, nah ini yang sering jadimasalah, yaitu untuk rawat jalan dibagi dengan jumlah pengunjung rawat jalanmisalnya (aktual) atau dibagi jumlah menurut perhitungan normatif.Yang repot adalah dalam menentukan total cost, mana yang dihitung sebagai totalcost untuk rawat jalan, total cost rawat inap, total cost gawat darurat, total costinstalasi penunjang dan sebagainya. Yang selama ini kita selalu diajarkan olehpengajar atau referensi, bahwa biaya listrik, telepon air, sumberdaya manusia,Kerancuan dalam penghitungan Tarip RS. Heru Kusumanto/Persi/122005 1
  2. 2. bahan habis pakai (termasuk idle stock) dan lain-lain dihitung sebagai total cost.Pertanyaan yang timbul adalah, listrik yang mana yang dihi tung untuk pelayananapa, SDM mana yang dihitung? Kalau keseluruhan gaji karyawan dihitung dandimasukan dalam menghitung unit cost, berapa standar gaji yang akan dipakai?Padahal kita tahu yang ada standar hanya gaji pegawai negeri, yang tidak realististentunya.Kalau kita melihat ke teori ekonomi, dalam menghitung unit cost adalah dengancara membagi total cost dengan jumlah produksi, bukan membagi dengan produkyang terjual. Kalau untuk produk fisik, yang nyata dapat dilihat dan diamati, mudah untuk menentukan jumlah produksinya. Tapi kalau untuk jasa, mana yang dihitung sebagai produk yang dihasilkan dan mana produk yang terjual, sulit untukmenjelaskan. Sehingga ditetapkan (sementara ini oleh berbagai kalangan yangdianggap pakar) jumlah yang terjual ya sama dengan yang diproduksi.Kerancuan berfikir tersebut menimbulkan kesulitan dalam menghitung unit cost,dan ternyata sumber masalahnya adalah belum adanya ketegasan dan kesamaanpemahaman baik dalam pemikiran maupun rumusan, apa satuan unit untukpelayanan medis/kesehatan di RS? Satuannya apa untuk jasa? Kalau produk fisikmudah, satuannya biji, buah, unit atau set. Kalau sudah tahu dengan jelassatuannya, tentunya tidak akan sulit dalam menghitung unit costnya.Pemahaman Produk Jasa Pelayanan MedisOleh karena itu, dalam bisnis apapun, langkah pertama yang harus dilakukanadalah melakukan pengenalan terhadap produk yang diproduksi dan dijual.Dengan katalain, kita harus mempunyai product knowledge yang memadai. Iniberlaku baik untuk produk yang berupa barang/fisik yang dapat dilihat, dirabaataupun jasa yang tidak nyata, tidak terlihat.Kalau kita melihat referensi tentang marketing, baik dari buku maupun sumberyang lain, pasti disebutkan, ciri jasa antara lain adalah tidak dapat dilihat(intangible), tidak dapat disimpan, mudah berubah, tidak dapat dimiliki, produksidan konsumsinya simultan, tidak dapat dipisahkan, artinya diproduksi dandikonsumsi pada saat yang sama.Ciri yang terakhir inilah yang sebenarnya menjadi sumber masalah, dan sudah salah kaprah, namun kita menerima hal itu apa adanya. Dengan demikian, banyakorang yang menjadi berpendapat bahwa jasa yang terjual jumlahnya sama denganyang diproduksi. Atau, jumlah produksi adalah sama dengan volume penjualan.Dampak yang paling nyata dari pemahaman seperti ini adalah pada penghitunganunit cost, yaitu dengan membagi total cost dengan jumlah jasa yang terjual (jumlahpengunjung/jumlah yang dirawat inap dst). Pasti jadi tidak tepat hitung-hitungannya. Belum waktu menentukan total cost, biaya apa saja yang masuk danharus dihitung, mana yang tidakharus dihitung.Kerancuan dalam penghitungan Tarip RS. Heru Kusumanto/Persi/122005 2
  3. 3. Sebetulnya, jasa itu tidak diproduksi dan dikonsumsi pada saat yang sama, tetapilebih tepatnya disajikan dan dikonsumsi pada saat yang sama. Ini berbedasekali. Karena tiak dapat disimpan, maka produk yang tidak terjual otomatis menjadi hilang. Ini yang sering lupa diperhitungkan. Contoh padanan yang miripdengan jasa ini adalah arus enersi listrik (biasa disebut setrum). Pada saat kitamerubah posisi switch dari off menjadi on, maka listrik akan mengalir, lampumenyala, komputer, televisi, dll, pasti menyala dan siap dipakai, berarti adasetumnya. Nah, kalau pada posisi off, apa enersi listrik tadi tidak ada? Coba saja,pegang kabelnya, atau colokan jari kita ke rumah bola lampu, pasti kesetrum. Padaposisi off, berarti produk tetap ada tetapi tidak dimanfaatkan.Kalau meminjam istilah di PLN atau pabrik produk apapun, ada yang dinamakan : o Kapasitas Produksi o Kapasitas Terpasang o Kapasitas TerpakaiOleh karena itu pada saat kita berhitung dengan produk jasa pelayanan medispunseharusnya juga harus bisa menjelaskan bagaimana menghitung kapasitasproduksi, kapsitas terpasang dan kapasitas terpakai di Rumah Sakit.Selain dampak pada penghitungan unit cost, perlunya pemahaman satuan unit nyaadalah untuk memahami bagaimana menentukan mutu / kualitas produk.Kapan kita menetapkan indikator kepuasan pelanggan sebagai salah satu indikator mutu jasa? Setelah terjadi transaksi atau sebelum transaksi? Memang ada sa tukata yang membuat bias, yaitu kata ‘pelayanan’, pelayanan medis sebagai produkyang akan disajikan, atau pelayanan medis sebagai proses transaksi.Kita sering tidak hati-hati dan sembrono, menggunakan istilah yang mempunyaiarti berbeda tersebut. Mengatakan pelayanan medis sebagai produk, tetapi dalampikiran membayangkan sebagai proses transaksi. Sehingga seringkali dicampur,bicara kualitas jasa pelayanan medis, ya dua-duanya, baik sebagai produk maupunsebagai proses transaksi. Akibatnya, pada waktu membicarakan kualitas produk,langsung saja menyebut salah satu indikatornya adalah kepuasan pelang gan. Puasatau kecewanya pelanggan itu tentunya setelah terjadi transaksi, pada hal kualitasproduk tentunya sebelum terjadi transaksi.Dalam pemasaran, lebih gawat lagi, menggunakan segmentasi pasar dengan pendekatan yang menyamakan produk jasa pelayanan medis seperti produk fisik yangdiproduksi untuk memenuhi kebutuhan. Malah dikaitkan dengan ATP (ability topay) dan WTP (willingness to pay). Atau dikaitkan dengan teori elastisitas.Runyam jadinya. Memang, sebagaimana ilmunya, Ekonomi adalah mempelajariupaya manusia dalam memenuhi kebutuhan dengan sumberdaya yang terbatas.Kondisi sakit itu kebutuhan atau resiko? Kalau sakit itu bukan kebutuhan, yajangan menggunakan ekonomi yang umum. Kita terjebak.Kerancuan dalam penghitungan Tarip RS. Heru Kusumanto/Persi/122005 3
  4. 4. Ini menandakan belum ada pemahaman yang memadai mengenai apa yang sebe-narnya jasa pelayanan medis itu, karena tidak/belum mengetahui satuan unitnya.Belum ada rumusan yang jelas mengenai stuan unitnya.Maaf saja, selama kita mempersepsikan jasa pelayanan medis di RS hanya untukmelayani orang sakit (sesuai penamaan yang berasal sari zuiken huis), maka sebenarnya jasa yang dijual RS adalah sama dengan Jasa Pemadam Kebakaran, atauJasa Pemakaman. Mengapa? Karena sakit itu sebenarnya adalah Resiko, bukankebutuhan. Kalau Sehat, ya, itu kebutuhan.Padahal semua orang tahu kalau yang namanya ilmu ekonomi itu adalah ilmu yangmempelajari upaya manusia memenuhi kebutuhan dengan sumberdaya yangterbatas. Sehingga wajar jika teori ekonomi tidak dapat begitu saja untukditerapkan dalam manajemen perumah sakitan, yang masih berorientasi padaupaya pengobatan (yang terkategori sebagai unsought product).Bagaimana menghitung Tarip ?Kalau barang fisik, mudah membicarakan. Ambil contoh yang mudah, membuatkue lemper (atau apa saja silahkan), apa yang kita hitung untuk mencari unitcostnya? Katakanlah kita akan memproduksi seratus buah lemper, untuk bahanmentah, minyak untuk kompor dll, termasuk upah satu orang yang mengerjakanpembuatan lemper adalah Rp. 100.000,-. Kemudian lemper kita jual, ternyatahanya laku 50 buah, berapa unit cost per buah lemper?Pertanyaannya, apakah untuk menghitung ini kita harus menghitung listrik dirumah kita, kemudian kita hitung biaya telepon, air serta gaji pembantu yang laindirumah? Apa juga termasuk harga rumah, atau penyusutannya juga? Biaya apasaja yang akan kita hitung menjadi total cost untuk membuat 100 lemper tersebut?Katakanlah setelah ketemu total cost, untuk mencari unit cost apakah kemudianakan dibagi dengan 100 lemper atau dibagi dengan 50?Maaf, mahasiswa penulis di S2 MARS, ada yang menjawab unit cost perbuahlemper adalah Rp. 2.000,- (karena dibagi 50, yang laku. Yang tidak laku dihitungsebagai keuntungan). Ada yang menjawab unit costnya adalah Rp. 1000,- (karenadibagi 100) Mana yang benar? Menghitung unit cost itu sebenarnya sebelumbarang dijual atau setelah dijual? Barangkali karena di perguruan tinggi harusilmiah sehingga cara berfikirnya harus ilmiah juga, dan takut salah maka ada yangmenjawab Rp. 2000,-. Masya Allah. Bagaimana kalau yang terjual 10?Secara awampun, kalau biaya keseluruhan untuk memproduksi 100 lemper =Rp.100.000,- tentunya biaya untuk per buah lemper adalah Rp. 1000,-. Nahtinggal mau ambil untung berapa, untuk menentukan harga jualnya. Katakanlahkarena jualnnya di Mall Kelapa Gading, agar dapat menutup biaya pajak dll, hargajual lemper dibuat Rp. 2000,- perbuah.Kerancuan dalam penghitungan Tarip RS. Heru Kusumanto/Persi/122005 4
  5. 5. Dari keuntungan RP. 1000,- per buah lemper, setelah dikurangi pajak dan tipuntuk orang yang menjual, keuntungan bersih per buah menjadi Rp.600,-.Misalnya setiap hari kita memproduksi lemper 100, berarti setiap bulan, pada harikerja, diproduksi 2.500 buah. Keuntungan per bulan = Rp 1.500.000,-. Nah darikeuntungan sebesar Rp 1,5 juta inilah baru difikirkan penggunaannya, apakah maudipakai untuk membayar listrik, sekolah anak, gaji pembantu dll, tergantung kita.Inipun dapat dihitung terlebih dulu dalam perencanaan.Dengan cara pikir yang sama, tentunya menghitung cost untuk pelayanan medis diRS tidak akan sulit. Asal diketahui rumusan satuan unitnya. Kalau sudah ketemubiaya satuan, tinggal ditentukan margin/keuntungan yang diinginkan. Ataubahkan untuk jenis pelayanan tertentu ada yang dijual dibawah unit cost, sebagailoosing post misalnya, dalam strategi penetapan harga.Sebelum masuk ke unit cost pelayanan medis, sekarang dicari contoh tentang jasa.Mau salon, atau massage? Sama saja, yang penting upah kapster ataumassaseurnya berapa per klien, itu yang kita hitung dulu. Setelah dihitung bahanhabis pakai untuk operasional pijat atau salon ketemu, tambahkan dengan upahkapster atau pemijat, kemudian tambahkan margin yang kita inginkan, baru diketahui tarip pelayanan. Dari keuntungan inilah, secara kumulatif setiap bulan, yangkita jadikan sumber untuk pembayaran pengeluaran lain, sehubungan dengankegiatan membuka salon atau panti pijat, termasuk untuk pemeliharaan dan atauinvestasi alat baru. Untuk pijat, pelayanannya biasa dihitung per jam. Artinyauntuk transaksi jasa diperlukan waktu rata2 satu jam/orang. Sedangkan untuksalon, mungkin berbeda2 tergantung pekerjaannya, apakah hanya potong rambutatau dengan creambath, atau luluran, atau rebonding dansebagainya, masing2 dihitung waktu yang dibutuhkan untuk satu jenis pelayanan (rata2).Nah, sekarang bicara soal Jasa Pelayanan Medis. Kita harus pahami terlebihdahulu, apa saja yang merupakan faktor pembentuk jasa tersebut : 1. Sumber daya manusianya (SDM), terutama dokter (baik yang umum, gigi, maupun spesialis), diruang pemeriksaan. Dalam memeriksa pasien, untuk menetapkan diagnosa sampai memberikan resep obat ataupun rekomendasi tindakan medis lanjut (termasuk ke pemeriksaan penunjang) bisa saja perlu menggunakan atau tidak menggunakan peralatan medis yang canggih. Ilmu dan ketrampilan dokter inilah yang sebenarnya dijual, mulai anamnese, diagnosa sampai memberi resep dan saran tindak lanjut. Mengapa demikian? Karena tidak semua pasien perlu diperiksa dengan alat canggih, tidak semua pasien perlu diberi obat dan tidak semua pasien perlu tindakan medik lanjut. Dalam pemeriksaan ini, barangkali diperlukan tenaga perawat untuk membantu dokter, terutama untuk spesialisasi tertentu seperti dokter anak misalnya.Kerancuan dalam penghitungan Tarip RS. Heru Kusumanto/Persi/122005 5
  6. 6. 2. Methode dan Tehnologi, yaitu pendekatan yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan, yaitu kegiatan ilmiah sesuai dengan ilmu kedokteran dan tehnologi yang mendukung (dan relevan) 3. Peralatan, yaitu barang yang dipergunakan untuk melakukan kegiatan profesinya (aspek kualitas). Ada yang standard tetapi juga ada yang canggih. Yang standard misalnya stetoskop, spatula, atau senter. Sedangkan yang canggih (sifatnya optional) misalnya USG, EKG, dan ini ditaripkan tersendiri. 4. Perlengkapan, yaitu sarana dan prasarana, yang pada prinsipnya un tuk meningkatkan produktifitas dan kinerja, seperti ruangan yang berpendingin, penerangan yang memadai, kebersihan, tersedia air untuk cuci tangan, tersedia telepon intern (kadang yang ekstern juga). 5. Bahan Logistik, yaitu semua bahan habis pakai yang digunakan un-tuk operasional. Mencakup bahan farmasi dan non farmasi seperti obat, reagens, alat medis habis pakai dan film, alat tulis kantor, barang cetakan, bahan gizi, alat perlengkapan rumah tangga dan kebersihan, suku cadang pemeliharaan. 6. Informasi, yaitu informasi yang diperlukan berkaitan dengan kegiatan pemeriksaan kepada pasien. Informasi tentang pasien dan segala keterangannya, informasi tentang ketersediaan obat di apotik RS, ketersediaan ruang rawat inap, dan segala hal lainnya. Sehingga dokter dalam mengambil keputusan sudah well informed. 7. Dana atau anggaran atau uang, yang dialokasikan untuk operasio-nal, investasi maupun pengembangan. Termasuk disini gaji/upah, insentif, tunjangan dan jasa produksi. 8. Waktu, yaitu rata2 waktu yang diperlukan dalam melakukan satu kali pemeriksaan per pasien.Kalau kita perhatikan faktor produksi tersebut diatas, maka ada yang namanyainti produk yang langsung memenuhi kebutuhan pasien (pengobatan) yaitudokter, perawat dan bahan habis pakai. Dan ada yang berupa kemasan, yaitusarana, prasarana dan sumberdaya lainnya.Dengan demikian, maka sebenarnya sudah dapat dirumuskan apa yangmerupakan satuan unit pelayanan medis, seperti yang dicontohkan diatas untukkegiatan di rawat jalan atau poliklinik. Yaitu kesiapan dokter (termasuk peralatanstandar dan perawat jika diperlukan) untuk melakukan pemeriksaan terhadap seorang pasiensecara profesional dalam durasi waktu tertentu. Kesiapan yang dimaksud disini adalahKerancuan dalam penghitungan Tarip RS. Heru Kusumanto/Persi/122005 6
  7. 7. kondisi yang memadai, baik dari segi ilmiah, standar profesi, kelayakan danperaturan maupun etika.Oleh karena itu, dalam menentukan tarip seyogyanya : 1. Yang dihitung terlebih dahulu adalah berapa nilai imbalan jasa seorang dokter untuk melakukan pemeriksaan dalam durasi waktu tertentu. Karena ini adalah inti produk. 2. Berapa nilai kemasan yang diperlukan dalam durasi waktu tertentu tersebut. 3. Berapa nilai margin yang diinginkan RS.Nilai kemasan dan margin inilah yang harus ditetapkan oleh manajemen RumahSakit, yang akan diperhitungkan untuk membiayai baik kegiatan operasionalmaupun investasi dan pengembangan, sehingga tarip pemeriksaan menjadibervariasi dari satu RS ke RS yang lain.Namun untuk imbalan dokter, seharusnya dapat distandarkan, tentunya olehprofesi, dan akan lebih baik lagi bila ditetapkan oleh Pemerintah Pusat/Daerahberdasarkan usulan dari ikatan profesi. Penetapan standar imbalan jasa dokter inijuga dapat dibuat dengan klasifikasi, sehingga seorang doker yang baru lulusdengan yang lebih senior, dengan yang laris (bisa dihitung dari laporan pajak, ataurekam medis), dengan spesialis akan berbeda.Untuk penghitungan unit cost dan pentaripan di rawat inap, maupun di instalasipenunjang, dapat digunakan dengan pendekatan yang sama. Yang penting harusdiketahui dulu satuan unitnya, mana yang terkategori inti produk dan mana yangterkategori kemasan.PenutupDemikianlah sekedar wacana mengenai restrukturisasi pentaripan di RS. Dandibalik ini semua sebenarnya ada keinginan untuk memenuhi kebutuhan perlunyastandarisasi imbalan untuk dokter, dimanapun dia bekerja dan melakukanprofesinya. Kalau tidak ada atau belum ada referensinya, kenapa kita tidakmembuat sesuatu agar dipergunakan sebagai referensi oleh orang lain? Semogakita makin kreatif dan inovatif agar tidak ketinggalanJakarta, 1 Januari 2006Heru Kusumanto.Kerancuan dalam penghitungan Tarip RS. Heru Kusumanto/Persi/122005 7

×