Pemburu
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Like this? Share it with your network

Share

Pemburu

  • 350 views
Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
350
On Slideshare
350
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
0
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. P e m b u r uCerpen ini terpilih sebagai cerpen terbaik majalah sastra HORISON diantara 10 cerpen yang terbit dimajalah itu sepanjang tahun 1990-2000. Selengkapnya di bawah ini.*∞*∞*∞Purnama mengapung di telaga, sesekali meleleh oleh arus gelombang. Kami memandanginya dengangamang. Angin bergegas pergi oleh kedatangan kami. Seperti juga semua makhluk yang ketakutanmendengar gemuruh kaki kami. Hingga kami merasa benar-benar sendiri, ditangkup sunyi daun-daunyang mandi cahaya.Kami beristirahat di pinggir telaga itu, hanyut oleh pikiran kami. Meletakkan semua senjata yangselama ini kami jinjing dan gendong. Sebagian dari kami langsung merebahkan tubuh ataubersandaran pada batang pohon dan gundukan batu. Sebagian lagi menyempatkan dirimembersihkan wajah terlebih dahulu, melulurkan kesejukan pada lengan dan kaki yang bengkak.*∞*∞*∞Inilah perjalanan terjauh dan terlelah kami, sebelum sampai ke telaga ini. Inilah pertama kali kamimerasa begitu lelah, setelah bertahun-tahun memburu buruan kami yang bergerak begitu cepat.Kami seperti mengejar kilat. Seluruh kekuatan dan pengalaman kami sebagai pemburu telah kamikeluarkan sampai tandas, tetapi kali ini, buruan kami tetap saja melenggang bebas. Membuat kamibegitu merasa terhina. Seakan sia-sia kebesaran kami sebagai pemburu yang telah berabad-abadmengabdikan hidup dan peradaban kami hanya untuk berburu.Kami adalah bangsa pemburu yang besar. Siapakah yang tak tahu akan hal itu?Kami tak pernah gagal memburu sesuatu. Telah kami jelajahi seluruh hutan. Telah kami bongkar tiaplekuk pegunungan. Telah kami sibak semua palung lautan. Nenek moyang kami telah membentukkami sebagai pemburu paling ulung.Lagu-lagu kami adalah lagu-lagu perburuan. Legenda kami adalah penaklukan puluhan binatangburuan. Kami tak pernah tergoda menjadi petani atau pedagang. Tak ada yang lebih terhormat bagikami, nenek moyang dan anak cucu kami, selain menjadi seorang pemburu besar yang sanggupmerobohkan gajah dengan satu gerakan. Cerita-cerita penaklukan, mengantar tidur anak-anak kami.Menjadi hutan lebat yang tumbuh dalam kepala mereka. Setiap dari kami dibesarkan dalam belukar.Kami sudah tahu bagaimana menyembelih wildebeast sejak kami masih dalam kandungan. Kamimengembara dari satu benua ke benua lainnya, untuk memburu binatang-binatang, bukan sebagaicara kami bertahan menghadapi hidup, tetapi lebih untuk kebanggaan dan kehormatan.Sampai kemudian kami menyadari, betapa binatang-binatang di dunia ini perlahan-lahan telah habiskami buru. Membuat kami cemas, melihat kehormatan kami akan goyah suatu ketika. Apalah artikami bila tak lagi hidup sebagai pemburu. Barangkali, binatang-binatang itu juga sudah terlalu hafaldengan kami. Maka mereka buru-buru menjauh pergi, begitu tercium bau kami. Tetapi mungkin jugamemang binatang-binatang itu sudah habis kami bunuhi. Gajah, badak, macan, rusa, ular, serigaladan segala macamnya. Sampai kelinci, tupai dan tikus, telah lenyap kami tangkap. Maklumlah, daritahun-ketahun, jumlah kami memang makin membesar. Setiap bulan hampir 100 anak kami lahir,sementara orang-orang tua kami bagai tak bisa mati. Mereka sudah renta, tapi tak gampang mati.Banyak diantara kami yang sudah berusia 7890 tahun, tetapi masih sanggup berlari mengejarentelope, kemudian menghantam kepala binatang itu dengan kepalan tangan, hingga pecahberantakan. Dan itulah kehormatan.
  • 2. Tapi sudah lama kami kesulitan menegakkan kehormatan macam itu. Karena, seperti kami katakantadi, semua binatang telah habis kami buru, kami bunuh."Perburuan tak mungkin berhenti!""Kita akan cepat renta bila sehari tak memburu apa pun!""Takdir tak bisa dihentikan.""Lantas bagaimana?""Apa pun yang terjadi kita mesti memburu sesuatu!""Memburu apa?"Itu membuat kami terdiam. Sampai kemudian ide brilian terlontar."Kami akan memburu manusia!!!"Kami akan memburu manusia, untuk menggantikan binatang yang kini telah musnah.Maka kami pun membeli ratusan budak. Mereka kami beri kesempatan untuk bebas, dengan caramelarikan diri. Mereka kami lepas ke tengah hutan, membiarkan mereka lari dan menghilang, barukemudian kami memburu mereka. Itu menjadikan kami begitu bahagia. Bahkan membuat kami lebihmerasa sempurna sebagai pemburu. Memburu budak-budak itu lebih mengasyikkan dari padamemburu binatang. Mereka lebih menantang untuk kami taklukkan. Anak-anak kami pun nampaknyalebih suka dengan perburuan macam itu. Lantas, perlahan-lahan, kebiasaan baru tumbuh dalamkehidupan kami. Menjadi tradisi. Kami tak lagi memburu binatang, tapi manusia. Kami membeli jugapara penjahat yang telah divonis mati.Kepada mereka kami tawarkan kebebasan, "Masuklah ke dalam hutan. Lari!! Selamatkankehidupanmu. Jangan cemas meski kami akan memburu kalian, kalian masih punya kesempatanuntuk memperpanjang kehidupan, meskipun kalian juga tak luput dari kematian. Tapi itu lebih baikbagi kalian, daripada mati di tiang gantungan, tak lagi punya pilihan. Mati dalam perburuan inilebih terhormat bagi kalian. Anggap semua ini hanya permainan. Semoga nasib baik bersamakalian......"Dan para pesakitan itu pun kami lepas dengan upacara kehormatan. Kami iringi dengan lengkinganterompet dan juga dentuman meriam. Selamat jalan. Inilah hidup yang sesungguhnya, yangmembuat kalian akan merasa memiliki harga sebagai seorang pesakitan. Adakah yang lebihmenyenangkan, selain melakukan perburuan semacam ini? Mereka kami beri kehidupan sekaligusbatas kematian. Setiap detik adalah pertarungan. Banyak juga diantara kami yang mati dalamperkelahian. Para penjahat itu, memang makhluk yang tak gampang menyerah. Liat dan sigap. Danitu, sungguh, sasaran perburuan yang menggairahkan.Rupanya, tak hanya kami yang suka dengan permainan semacam itu. Ketika kisah-kisah kamimenjalar ke banyak negara, banyak orang diluar suku kami mendatangi kami untuk ikut menikmatiperburuan itu. Mula-mula, banyak diantara kami yang menolak, karena hal itu dianggap akanmengotori kemurnian darah pemburu kami. Tetapi kami tak bisa menolak, ketika dari banyak yangdatang kepada kami itu adalah para jendral, orang-orang besar di negara mereka, para raja, puluhankepala negara, para bangsawan dan pengusaha besar.Para bangsawan, yang memang memiliki kebiasaan berburu seperti kami dan memiliki lahan-lahanperburuan yang luas, mengijinkan tempat-tempat itu untuk kami kelola dan kembangkan sebagailadang perburuan yang lebih menantang dan menyenangkan. Bahkan mereka menjanjikan kamilahan-lahan perburuan yang lebih luas.Para jendral menyediakan kami senjata-senjata paling mutakhir.Para pengusaha mensubsidi kami modal bermilyar-milyar.
  • 3. Para raja dan kepala negara mempersilahkan kami untuk memilih rakyat mereka sebagai binatangburuan. Hingga kami tak lagi kekurangan buruan.Kami tak hanya punya kesempatan memburu para penjahat yang telah divonis mati, tetapi kamibebas memilih siapa pun yang paling menyenangkan kami buru. Malah sering para raja dan kepalanegara itu memberi kemudahan kami dengan memberi lisensi untuk menghabisi para tokoh oposisiyang tak mereka sukai, para demosntrans untuk kami habisi. Juga kaum intelektual yang selama inimereka benci.Ah, begitu melimpah buruan kami.Kami bangun juga istana-istana, tempat kami berpesta setelah seharian berburu. Kami menjadi kaumpemburu yang kian kokoh dan terhormat. Kami perlahan-lahan meninggalkan cara hidup kami dihutan, dengan setiap malam tidur di ranjang yang bersih dan nyaman. Kami tak lagi hanya terbiasadengan bunyi pedang, tetapi juga denting gelas dalam kehangatan pesta."Ini darah seorang penyair untukmu, jangan sedih." Gelas kami beradu, dan kami tertawa bahagia.Begitulah memang mestinya nasib penyair yang tak menulis sayir puja-puji bagi keagungan kami.Hidup pemburu agung!Kami pun menjadi kelompok pemburu yang besar, yang melintas bagai badai dan gelombang,menggulung apa pun yang tak kami sukai, mengangkangi segala yang kami maui, meski itu bukan hakkami. Kami melibas, menguasai, merampas dan menjarah diantara kemeriahan pesta sembari terusmenuliskan sejarah kami yang agung. Perburuan bukan lagi perkara kebesaran dan kehormatan,tetapi juga, terkadang, keisengan. Kami, yang telah menjadi sekelompok pemburu yang paling kuat,dengan dukungan dana yang melimpah, pasokan senjata yang bagai anggur mengalir dalam gelas-gelas kami, menjadi tak tertandingi. Kami berdiri di puncak menara peradaban, sendiri. Itu seringmembuat kami terusik sunyi. Apakah arti kekuatan bila tak ada tantangan yang sepadan? Tak adalagi yang sanggup melawan kami.Ketika kami menjarah perempuan dan membunuhi anak-anak, ketika kami memburu ribuan orangYahudi untuk kami kirim ke kamp konsentrasi, ketika kami menembaki anak-anak Palestina, ketikakami memburu dan membantai orang-orang Muslim di Bosnia, ketika kami mengirim pasukanpemburu ke banyak negara untuk meluluhlantakkan apa saja, tak ada lagi kegairahan karenakemenangan. Tak ada lagi yang berani menggertak kami, hingga permainan menjadi tak lagi begitupunya arti. Kami terus memburu, kami terus bergerak dari benua ke benua dari zaman ke zaman,melintasi gelombang waktu, menumpuk tengkorak kepala para korban kami hingga menggunungsampai menyentuh awan, tetapi kami selalu dirundung sunyi. Apalah arti semua itu bagi jiwapemburu kami? Semua itu bukan lagi gairah petualangan dan tantangan, tetapi penaklukan yangmembosankan. Karena kami sudah terlalu kuat, hingga pertarungan menjadi tak sepadan. Kamiseperti kehilangan buruan yang mengasyikan."Kita harus melakukan sesuatu. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi pucat dan layu. Janganbiarkan mereka menjadi lembek karena rasa sunyi ini."Lalu seseorang yang paling tua diantara kami, yang sudah berumur 100 juta tahun lebih,menyarankan kami agar mengumpulkan para Kiyai. Suaranya sudah gemetar, seakan maut sudahmenyentuh bibir orang tua itu."Untuk apa mengumpulkan para Kiyai itu?""Aku sudah mencium ajalku. Dan aku ingin, sebelum maut menjemputku, aku ingin menikmatiperburuan yang paling menggairahkan.""Apa hubunganya dengan para Kiyai itu?"
  • 4. "Kumpulkan mereka dari seluruh dunia. Suruh mereka menyediakan malaikat untuk kita buru!"Kami terpukau oleh gagasan itu. Membuat darah kami menggelembungkan jiwa pemburu kami.Gairah menjalar, membangkitkan imajinasi kami. Ya, malaikat, kenapa kami tak memburu malaikat?"Jibril! Bagaimana kalau kita minta Jibril??!"Kami bersorai, anggur segera kami tuang dalam gelas, bersulang, menyambut hari depan kami yanggilang gemilang. Panji perburuan berkibar. Kami segera menghimpun topan. Kami segeramengeluarkan seluruh senjata kami. Dan tentu, kami segera mengumpulkan para Kiyai. Mereka kamidatangkan dari semua penjuru, kalau perlu dengan paksa dan kekerasaan."Kami ingin Jibril," kata kami kepada mereka. "Kami tak mau tahu, bagaimana cara kalianmendatangkan Jibril bagi kami. Apakah kalian akan shalat sepanjang hari? Apakah kalian akanberdoa dan mengaji? Apakah kalian akan menangkar atau menjebak Jibril dengan sebuahperangkap? Kami tak mau tahu dengan itu semua. Sekarang, katakan kepada kami, kapan kalianbisa menyediakan Jibril bagi kami?"Kami tatap wajah para Kiyai itu, mencari kepastian dalam mata mereka."Baiklah!" tegas kami, "Kalian kami beri waktu 1 bulan. Bila selama itu kalian tak bisamendatangkan Jibril bagi kami, kami akan membikin perhitungan sendiri."Mereka, para Kiyai itu, kami giring ke sebuah istana kami yang paling megah tetapi mereka menolak,dan meminta kami untuk membawa mereka ke sebuah kaki bukit dimana ada sebuah Masjid kecil dipinggir hutan. Kami turuti kemauan mereka, meski sesungguhnya heran. Apalagi ketika kami melihatsendiri Masjid itu. Benar-benar Masjid kecil yang tak terawat. Seluruh bangunan itu terbuat daripelepah kayu, telah lapuk. Luasnya tak lebih dari 5 kali 5 tombak. Bagaimana tempat sekecil itumenampung jutaan Kiyai yang kami himpun dari seluruh penjuru ini?!"Kalian jangan bercanda!" teriak kami."Kalianlah yang bercanda, dengan meminta kami mendatangkan Jibril.""Baiklah....."Lantas kami membiarkan satu persatu para Kiyai itu masuk Masjid kecil itu, membuat kami begituternganga, ketika hampir separuh dari jutaan Kiyai itu sudah masuk ke dalam Masjid, tetapi Masjiditu tak juga penuh. Pintu itu terbuka untuk menerima siapa pun masuk ke dalamnya. Barisan Kiyaimasih antri di depan Masjid itu, bekelok-kelok mengikuti pinggir bukit, seperti barisan semut yangbegitu tertib menuju lubang sarang mereka. Jutaan Kiyai masuk ke dalam Masjid yang bagi kamihanya cukup untuk tidur 20 orang, itu pun pasti sudah berhimpitan, bagaimana mungkin? Tapi, itulahyang kami saksikan. Sampai kemudian semua Kiyai telah masuk dalam Masjid itu.Dan kami mendengar gema dzikir dari dalam sana, mengalun menidurkan rerumputan, sepanjanghari sepanjang malam. Gema itu melambung, menyentuh langit. Kadang kami merasa ada yangmenggemericik dalam hati kami karena gema itu. Seperti batang-batang pohon yang bergoyang itu,seperti daun yang melayang-layang itu, yang hanyut dibuai dzikir para Kiyai. Kami memagarbetisMasjid itu, tak membiarkan seekor tikus pun lolos dari amatan kami. Kami tak mau kecolongan. Kamitak mau ditipu para Kiyai itu, jangan-jangan semua itu sihir belaka. Kami terus berjaga, takut merekaakan keluar dan meloloskan diri ketika kami tertidur.Satu bulan lewat, menguap begitu cepat, bersama angin dan embun. Membuat kami cemas,sekaligus marah, ketika para Kiyai itu tak juga muncul dari dalam Masjid. Segera kami kirim seseoranguntuk menemui mereka. Namun orang itu tak kembali. Membuat kami tambah cemas menunggu,kemudian kembali mengirim utusan untuk menemui para Kiyai di dalam Masjid itu. Tetapi sepertiyang pertama, orang kedua kami pun tak kembali. Kami panggil namanya, tetapi tak kunjung keluarjua. Kami kirim utusan kembali, memperingatkan para Kiyai bahwa waktu sudah habis buat mereka.
  • 5. Tapi seperti yang pertama dan kedua, utusan kami ini pun tak muncul lagi meski kami sudah menantilebih 5 hari. Begitulah berkali-kali, setiap orang yang kami kirim untuk menjumpai para Kiyai, takpernah muncul kembali. Sementara suara dzikir itu terus saja bergema, membuat udara bergetar danperasaan kami gemetar. Lantas kami tak bisa lagi sabar. Kami berteriak menyuruh para Kiyai itukeluar, tetapi hanya gema dzikir membalas suara kami. Kami sudah cukup punya pengertian, bukan?Jangan salahkan kami. Dan kami segera menyerbu, masuk dalam Masjid itu, tetapi, luar biasa, semuadari kami yang masuk ke dalam Masjid itu, lenyap seketika, raib begitu saja. Tiba-tiba tubuh merekahilang tak berbekas, bagai masuk ke tabir ruang dan waktu pada dimensi lain, tertelan dan lenyap.Kami panik. Kemarahan kami menyalakan api di tangan, berkobar dan segera kami lempar padaMasjid itu.Kami bakar Masjid itu, hingga kayu-kayu bergemeretakan dan api melahap cepat, membumbung.Namun dzikir itu masih kami dengar, di pucuk api berkobar.Pada saat itulah, seseorang di antara kami berteriak, membuat kami tengadah ke puncak api. Dan, yaTuhan, di sana, di puncak kobaran api, kami melihat selesat biru cahaya menatap kami, dengan sayapterentang sampai ujung paling jauh dari semesta."Jibril!!""Jibril!!"Seketika kami berteriak, antara takjub dan panik, gembira dan tak percaya, melihat impian kamisudah di depan mata. Apakah ini keajaiban yang dikirim bagi kami?"Buru!"Teriakkan itu, mendadak menyadarkan kami, betapa memang inilah yang selama ini kami tunggu-tunggu. Jibril, kini telah muncul di hadapan kami, kenapa kami malah bengong begini? Maka, dengansigap kami segera meraih senjata-senjata kami. Tombak, anak panah, desing senapan mesin, roketdan basoka, dengan cepat berlesatan ke arah selesat cahaya biru itu yang dengan cepat bergerakdengan sayap mengepak menebah cakrawala."Kejar!"Kami pun melesat, mengejar Jibril.Bertahun-tahun kami memburu. Membiarkan kaki kami koyak oleh duri, membiarkan rambut danjenggot kami memanjang tak terawat. Kami tak punya waktu untuk memikirkan itu semua. Jiwapemburu kami bergelora oleh gairah perburuan kali ini. Inilah perburuan paling menakjubkan bagikami.Setelah berabad-abad kami hidup sebagai pemburu, setelah bermacam pengalaman perburuanmembuat kami jadi pemburu sejati, inilah sesungguh-sungguhnya perburuan yang sejati. Tombakterus berterbangan, roket terus berlesatan, jaring-jaring baja telah kami rentangkan, ranjau-ranjautelah kami tanam, perangkap telah kami pasang, agar kami mampu meringkus Jibril. KemanapunJibril melesat, kami pun melesat memburunya.Sampai kami tiba di pinggir telaga ini, yang menyimpan bayangan bulan. Sebagian besar dari kamikini benar-benar renta. Kami tak sempat istirahat. Kami tak pernah tidur di satu tempat, hingga telahlama anak-anak kami tak lahir. Kami begitu sibuk memburu Jibril. Banyak dari kami yang mati dalamperburuan ini, dan kami pun tak sempat menguburkannya. Karena kami harus terus mengejar Jibril.Kami tak mau kehilangan jejak.Dan memang, kami benar-benar tak pernah punya waktu istirahat. Ketika kami baru saja rebahandan membasuh kelelahan kami di telaga itu pun, mengharap kesegaran akan membuat tenaga kamikembali muda, kami sudah harus kembali pergi ketika pada bayangan bulan, kami lihat jejak cahaya.
  • 6. "Kesana!" seseorang dari kami berteriak, dan langsung melesat. Di seberang telaga sana, kamimelihat buruan abadi kami, mengepakkan sayap-sayap cahayanya.Maka kami pun kembali bangkit, meraih peralatan berburu kami dan segera menghambur,melanjutkan pemburuan abadi kami.*∞*∞*∞sumber dan sumberPada dasarnya manusia itu rakus, tamak dan tak pernah puas dengan apa yang dimiliki dandimauinya, selalu saja ingin lebih, lebih dan lebih!
  • 7. "Kesana!" seseorang dari kami berteriak, dan langsung melesat. Di seberang telaga sana, kamimelihat buruan abadi kami, mengepakkan sayap-sayap cahayanya.Maka kami pun kembali bangkit, meraih peralatan berburu kami dan segera menghambur,melanjutkan pemburuan abadi kami.*∞*∞*∞sumber dan sumberPada dasarnya manusia itu rakus, tamak dan tak pernah puas dengan apa yang dimiliki dandimauinya, selalu saja ingin lebih, lebih dan lebih!