Jalan tol di Makassar yang menghubungkan pelabuhan
Soekarno-Hatta dengan kota Makassar, Sulawesi Selatan.
fortune INDONESIA
53
M foto:dok.nusantarainfrastructure
MEMBANGUN
JALAN UNTUK
BERKEMBANG
MASIH LEKAT dalam ingatan M. Ramdani Basri,
Chief Executive Officer (CEO) PT Nusantara
Infrastructure, Tbk, di tahun 2006, ia harus
mencari proyek yang dapat menghidupi perusa­
haan. Selain itu, ia dan beberapa orang timnya
pun melakukan roadshow ke beberapa lembaga
pendanaan asing untuk mendapatkan suntikan
modal. Meski banyak institusi keuangan yang me­
miliki dana tidak terbatas dan tertarik berinves­
tasi di sektor infrastruktur, mereka memilih
perusahaan yang telah memiliki pengalaman dan
portofolio, sebelum menggelontorkan dana.
Perusahaan yang dulu bernama PT Nusantara
Konstruksi Indonesia itu juga sempat merugi di
tahun 2009-2010. Di tahun 2009, perusahaan ini
rugi Rp41,7 miliar dan pada tahun 2010 masih
rugi sebesar Rp34,4 miliar. Dua tahun yang
berat ini merupakan masa sulit bagi perusahaan.
Tekanan suku bunga pinjaman dan rendahnya
penjualan kendaraan menjadi penyumbang uta­
ma kerugian di tahun 2009. Dua tahun merugi,
menurut Ramdani menjadi cambuk bagi perusa­
haan untuk mereformulasi strategi. Ia menahan
sejumlah rencana ekspansi di tahun itu. Beberapa
rencana merger dan akuisisi pun ditunda.
Perlahan tapi pasti, kerja keras itu kini mem­
buahkan hasil. Perusahaan yang dinakhodai
Ramdani itu kini menjadi salah satu perusahaan
yang terbilang sukses dalam industri infrastruk­
tur. Pada kuartal I 2014 pendapatan Nusantara
Infra­structure naik 52,3% dari Rp68,8 miliar di
kuartal I 2013 menjadi Rp 104,8 miliar. Pertum­
buhan ini tidak lepas dari pendapatan sektor
jalan tol yang mulai beroperasi di tahun 2011 dan
menjadi penyumbang utama pendapatan sebesar
Rp83,5 miliar. Cita-cita emiten berkode META
ini cukup realistis. Luasnya wilayah Indonesia
yang minim infrastruktur menjadi lahan hijau
yang menjanjikan keuntungan. Tentu, Nusantara
Infrastructure perlu berjuang ekstra keras untuk
mencapai targetnya. Sebab, tidak banyak kemu­
dahan-kemudahan dan insentif yang pemerintah
berikan untuk menggarap sektor ini.
Walau demikian, Ramdani melihat sektor
infrastruktur sesungguhnya masih terbuka lebar
untuk digarap. “Meski 1.000 perusahaan didiri­
kan untuk membangun proyek infrastruktur di
Indonesia, tidak akan mampu menutupi kebutu­
KISAH NUSANTARA INFRASTRUCTURE,
PERUSAHAAN RINTISAN YANG SEDANG MENJELMA
MENJADI PERUSAHAAN INFRASTRUKTUR TERINTEGRASI
DI INDONESIA. Oleh Dian Sari Pertiwi
fortune INDONESIA
54
NUSANTARA INFRASTRUCTURE
han infrastruktur di Indonesia,” ucapnya kepada
Fortune Indonesia.
Inilah kemudian yang dijadikan landasan
berpikir bahwa peluang di industri ini memang
menjanjikan. Luas wilayah Indonesia yang
fantastis terlebih dipisahkan oleh perairan, tak
pelak membutuhkan ketersediaan infrastruktur
untuk menghubungkan antarpulau dan daerah.
Sayangnya, sedikit perusahaan yang serius meng­
garap sektor bisnis ini. Besarnya nilai investasi
dan lamanya waktu balik modal menjadi faktor
utama yang membuat pengusaha enggan masuk
ke sektor ini. Nusantara Infrastructure satu di
antara perusahaan infrastruktur yang bertahan.
Targetnya, menjadi perusahaan infrastruktur
terintegrasi di Indonesia. Untuk mencapai itu,
Nusantara Infrastructure melahirkan anak-anak
usaha yang bergerak di sektor infrastruktur
selain jalan tol, seperti pengolahan air, minihidro
hingga tower. Di tahun ini, bisnis pengolahan air
“Meski 1.000
perusahaan
didirikan un­
tuk memba­
ngun proyek
infrastruktur
di Indonesia,
tidak akan
mampu
menutupi
kebutuhan
infrastruktur
di Indonesia”
M. Ramdani
Basri
CEO PT Nusantara
Infrastructure Tbk
M. Ramdani Basri
foto:melisawijaya
fortune INDONESIA
55
M
telah menyumbang Rp11,8 miliar. Begitu juga
dengan tower, meski relatif baru, sektor ini telah
menyumbang Rp9,9 miliar.
MERANGKAK KE posisi seperti sekarang, tidak
semudah membalikkan telapak tangan. Ketika
memulai dulu, Nusantara Infrastructure
hanya mengandalkan satu lini usaha: jalan
tol. Lalu, mereka mengubah strategi dengan
memperbanyak portofolio dengan menggunakan
dana hasil refinancing dari bank Mega.
Sayang, Ramdani kesulitan mengingat berapa
jumlahnya. Dana itu kemudian digunakan untuk
memperbesar aset dan portofolio. Masa-masa
itu Ramdani sebut sebagai masa akrobat bagi
perusahaan. Ia harus memikirkan bagaimana
agar perusahaan dapat berjalan.
Selain mengalami hambatan dari dalam karena
kekurangan dana, faktor eksternal pun cukup
membebani perusahaan. Saat Nusantara Infra­
structure merintis, bisnis infrastruktur belum
mendapatkan dukungan pemerintah dalam hal
regulasi. Contohnya, waktu itu mereka mulai
dengan bisnis operator jalan tol, ketidakjelasan
aturan kenaikan tarif masih menjadi momok bagi
para pelaku bisnis di sektor ini. Besarnya risiko
yang dihadapi tidak sebanding dengan imbal
balik hasil yang didapatkan. Karena bisnis infra­
struktur membutuhkan waktu yang cukup lama
untuk membangun mesin pencetak uangnya.
Misalnya, sektor jalan tol perlu waktu sedikitnya
delapan tahun untuk balik modal.
“Aturan naiknya tarif jalan tol masih harus
masuk ke parlemen dan memakan waktu,” kata
Ramdani mengenang. Ketidakjelasan masa
depan pendapatan ini yang menjadikan bisnis in­
frastruktur punya sedikit pemain. Padahal, waktu
dan biaya yang dibutuhkan tidak sedikit.
Tapi Nusantara Infrastructure yakin, bisnis
ini layaknya mengkonstruksi mesin uang. Meski
sulit, jika sabar dilakoni di masa depan mesin
uang itu akan menghasilkan pundi-pundi uang
bagi perusahaan.
Pada awal berdirinya, Nusantara Infrastructure
baru memiliki dua buah aset jalan tol di Jakarta
dengan nilai tidak lebih dari Rp350 miliar. Dua
ruas jalan tol itu PT Bintaro Serpong Damai di
Jakarta dan PT Bosowa Marga Nusantara di
Makassar. Kini, sektor jalan tol menjelma sebagai
mesin uang dan menyumbang 70% pendapatan
perusahaan ini.
Nusantara Infrastructure masuk ke Bursa Efek
Indonesia (BEI) dengan cara backdoor listing.
Delapan tahun lalu, PT Nusantara Konstruksi
Indonesia membeli saham PT Metamedia
Teknologi Tbk dan mengubah nama PT Nusan­
tara Konstruksi Indonesia menjadi PT Nusantara
Infrastructure. Menjadi salah satu perusahaan
pu­blik di BEI merupakan loncatan bagi Nusan­
tara Infrastructure. Ini yang menjadi cikal bakal
tumbuhnya bisnis perusahaan ini. Meski demiki­
an, bukan berarti proyek datang menghampiri
mereka seketika. Perusahaan ini harus berjibaku
mencari proyek yang dapat digarap dan meng­
hasilkan keuntungan.
“Waktu itu kami harus menawarkkan diri
untuk menggarap proyek, beda dengan sekarang,
proyek sampai antre,” kata Ramdani mengenang.
Ia juga bercerita bahkan untuk bertemu de­
ngan group head bank pun sulit. Perusahaannya
dianggap tidak bernilai. Meski demikian, Nusan­
tara Infrastructure dengan aset Rp400 miliar
memberanikan diri membeli sebagian saham pe­
rusahaan yang memiliki aset Rp2,7 triliun. Meski
tidak memiliki saham mayoritas, hal tersebut
menurut Ramdani, dapat menambah portofolio
perusahaan dan menjadikannya bernilai di mata
lembaga pendanaan maupun investor.
Tahun 2009, right issue pun dilakukan untuk
mendapatkan dana segar dan melepaskan diri
dari kerugian perusahaan. Kala itu, 70% dari 15,2
miliar lembar saham diserap oleh fund asal Singa­
pura, Infrastructure Growth Fund (IGF). Nilainya
tidak kurang dari Rp1 triliun. Investasi tersebut
hasil dari roadshow Nusantara Infrastructure ke
beberapa perusahaan pendanaan asing.
Potum Mundi Infra-
nusantara, salah satu
bisnis pengolahan air
di Lampung.
foto:dok.nusantarainfrastructure
fortune INDONESIA
56
NUSANTARA INFRASTRUCTURE
S
Kerja sama dengan lembaga keuangan asing
tidak lantas membuat perusahaan ini merangkak
naik. IGF kemudian menawarkan sahamnya ke
berbagai perusahaan. Ramdani enggan membe­
berkan detail, tapi di antara beberapa perusahaan
yang tertarik, hanya Rajawali Group yang berha­
sil karena menawarkan harga lebih tinggi.
SEJAK RAJAWALI GROUP masuk menjadi salah
satu pemegang saham di tahun 2010, perusahaan
ini terbilang moncer. Rajawali termasuk salah
satu perusahaan yang memiliki reputasi baik di
mata lembaga keuangan internasional. Ramdani
bilang, dengan masuknya perusahaan milik Peter
Sondakh itu, Nusantara Infrastructure lebih
mudah mendapatkan akses pendanaan dari be­
berapa lembaga keuangan internasional.
“Rajawali memang memiliki track record yang
baik di mata lembaga keuangan dan pendanaan
nasional maupun internasional, hal tersebut cu­
kup membantu kami berekspansi,” kata Ramdani.
Pasca Rajawali masuk sebagai salah satu inves­
tor, Nusantara Infrastructure fokus mengerjakan
jalan tol. Ada tiga jalan tol yang dibangunnya,
yakni Tol BSD, Jakarta Lingkar Barat (JLB),
dan Jalan Tol Seksi Empat (JTSE) yang meng­
hubungkan Maros-Makassar, Sulawesi Selatan.
Selain itu, Nusantara Infrastructure mulai me­
masuki bisnis operator pelabuhan di Lampung.
Nusan­tara Infrastructure bahkan sudah siap
jika harus mengoperasikan infrastruktur energi
berbasis sampah. Sejak dua tahun lalu, Ramdani
mengung­kapkan dirinya telah mengirim orang
untuk mempelajari bisnis sektor ini di Thailand.
Jika di awal perkembangannya, Nusantara
Infrastructure hanya fokus di bisnis jalan tol,
kini ia melakukan banyak diversifikasi. Untuk
melanggengkan strategi diversifikasi, Nusantara
Infrastructure melakukan restrukturisasi
perusahaan dengan membentuk divisi-divisi
strategi bisnis unit.
Setiap tahun, Nusantara Infrastructure mela­
hirkan satu sampai dua anak perusahaan baru
dengan cara merger dan akuisisi. Strategi bisnis
unit ini menjadi payung dari masing-masing anak
usaha yang bergerak sesuai dengan sektornya.
Strategi bisnis unit itu di antaranya, PT Marga
Utama Nusantara membawahi jalan tol, PT Port­
co Infranusantara membawahi pelabuhan, PT
Potum Mundi Infranusantara membawahi sektor
air, PT Energi Infranusantara dan PT Telekom
Infranusantara yang menggarap sektor tower.
Baru-baru ini, perusahaan mulai merambah
bisnis telekomunikasi di bawah anak usahanya
PT Telekom Infrasnusantara dengan mengakuisi­
si 705.686.608 lembar saham PT Tara Cell Intra­
buana (Towerco) senilai Rp500 miliar. Targetnya
dalam lima tahun, Nusantara Infrastructure akan
memiliki sebanyak 3.000 tower di Indonesia.
Sektor ini ditargetkan memberikan kontribusi
sebesar 25% terhadap pendapatan.
Strategi akuisisi yang dilakukan adalah meng­
ambil alih perusahaan bernilai aset dua sampai
tiga kali lebih besar daripada total aset milik
Nusantara Infrastructure sendiri. Meski tidak
menjadi pemegang saham mayoritas, strategi
tersebut dapat membalikkan nilai perusahaan
menjadi lebih tinggi. Seperti akuisisi yang dila­
kukan terhadap Towerco, telah menaikkan aset
perusahaan sebesar 28,4%, bila pada akhir 2013
total aset senilai Rp2,57 triliun, pada kuartal
I/2014 menjadi Rp3,3 triliun.
“Akuisisi bisnis adalah langkah yang sangat
strategis untuk memperkuat bisnis infrastruktur
perseroan dan meningkatkan net present value,”
aku Ramdani.
Ketertarikan Rajawali Group membeli saham
perusahaan ini tidak terlepas dari fakta bahwa
Indonesia tertinggal dalam pembangunan
infrastruktur. Malaysia yang luas wilayahnya
lebih kecil dari Indonesia memiliki akses jalan tol
sepanjang 3.500 KM, sedangkan Indonesia masih
relatif tertinggal masih 1.000 KM.
“Karena prospeknya ke depan sangat baik,
kami tertarik masuk ke bisnis infrastruktur,”
kata Darjoto Setyawan, Managing Director PT
Jalan Tol BIntaro-
Pondok Aren
terbentang
sepanjang 7,25 km.
foto:dok.nusantarainfrastructure
fortune INDONESIA
57
Membangun bisnis infrastruktur sama halnya
seperti membangun bangsa. Karena, infrastruk­
tur menjadi elemen utama dalam membangun
ekonomi bangsa. Tidak sedikit perlambatan
ekonomi terjadi karena kesulitan akses mendis­
tribusikan barang dan jasa. Hitung-hitungan
komersil jangka panjang dan sumber daya manu­
sia menjadi dua agenda utama dalam bisnis ini.
Terlebih bagi Nusantara Infrastructure yang me­
miliki banyak anak usaha dengan sektor berbeda.
Menurut pengamat emiten infrastruktur, Teguh
Hidayat, tidak banyak yang bertahan di bisnis
ini mengingat cash flow-nya rendah. Selain itu,
proses pembangunan membutuhkan waktu lama.
Terkait ekspansi, Teguh mengingatkan agar
berhati-hati. Katanya, perusahaan yang terlalu
cepat melakukan ekspansi dan akuisisi, umumnya
tidak bertahan lama. Oleh karena itu, Nusantara
Infrastructure, seharusnya lebih fokus dalam
menggarap sektor infrastruktur. “Terlalu banyak
lini bisnis, akan menyulitkan perusahaan untuk
fokus mengembangkan masing-masing anak
usahanya, ekspansi berlebih ini cenderung
berbahaya,” kata Teguh.
Lain halnya pandangan Andre Maningkas. Ia
bilang strategi diversifikasi justru menyehatkan
aliran kas perusahaan. Sebab, mengandalkan
jalan tol saja tidak cukup. “Perlu waktu yang
lama untuk dapat uang di bisnis jalan tol, dengan
membagi portofolio dapat mengamankan arus
kas mereka,” kata Andre.
Menurut Andre, sejak lima tahun terakhir pe­
rusahaan ini memiliki kinerja yang baik. Hal itu
tidak terlepas dari pemilihan orang-orang yang
mengurusi masing-masing lini bisnis di Nusan­
tara Infrastructure.
Pemilihan dan penempatan orang menjadi
prioritas Nusantara Infrastructure ketika masuk
ke sektor bisnis yang baru. Hal tersebut diamini
oleh Ramdani.
“Harus diakui, di beberapa posisi kami menem­
patkan beberapa eksekutif asing karena lebih
kompeten di sektor yang baru kami masuki seper­
ti tower,” ungkap Ramdani.
Di sektor-sektor baru itu, Nusantara Infra­
structure melakukan pembibitan sumber daya
manusia dengan menggunakan tenaga asing atau
pun tenaga dari perusahaan berpe­ngalaman.
Umumnya proses ini memakan waktu kurang
lebih satu hingga dua tahun sampai sumber daya
manusianya memiliki kemampuan yang sama
dengan tim ahli.
Rajawali Corpora kepada Fortune Indonesia.
Rajawali Group memang dikenal sebagai
perusahaan kakap yang mengerti bagaimana cara
memoles bisnis yang hampir kandas menjadi
bisnis yang berkinerja kinclong. Seperti di Nu­
santara Infrastructre, setelah anak perusahaan
Rajawali Group PT Hijau Makmur Sejahtera
masuk, satu hal yang menjadi perhatian utama
adalah masalah sumber daya manusia.
Meski Ramdani mengatakan tidak ada single
majority dalam perusahaan, Rajawali Group ter­
kesan dominan dalam Nusantara Infrastructure.
Sebab selain Rajawali, Eagle Infrastructure selaku
pemegang 21,66% saham merupakan lembaga
pendanaan asing yang bermarkas di Hongkong.
Praktis Rajawali selaku pemegang 21% saham
menjadi penggerak roda bisnis ini. Ramdani
juga tak menampik sejak Rajawali Group ma­
suk, Nusantara Infrastructure jauh lebih mudah
mendapatkan akses pendanaan dari berbagai lem­
baga keuangan, baik dalam maupun luar negeri.
“Bisnis infrastruktur itu kan tidak mudah,
selama ini Rajawali memang dikenal sebagai per­
usahaan yang pandai memilih orang-orang kom­
peten, lihat saja PT Express Transindo Utama
Tbk (TAXI) yang diurus Rajawali menjadi lebih
baik,” kata Andre Maningkas, peng­amat emiten
dari Buana Capital.
“Karena pros­
peknya ke
depan sangat
baik, kami
tertarik ma­
suk ke bisnis
infrastruktur”
Darjoto
Setyawan
Managing Director
PT Rajawali Corpora
Darjoto Setyawan
foto:gugunanggunisuminarto
fortune INDONESIA
58
NUSANTARA INFRASTRUCTURE
Ramdani mengungkapkan, model pengemba­
ngan bisnis yang ia lakukan adalah bekerja sama
dengan berbagai pihak, termasuk partner asing.
Sebab, walau bagaimana pun, kemampuan mere­
ka mengelola sektor infrastruktur selain jalan
tol lebih baik. Misalnya, untuk masuk ke sektor
pelabuhan, Nusantara Infrastructure meng­
gandeng Lui Drivers, operator pelabuhan dan
komoditas asal Perancis. Begitu juga di sektor
telekomunikasi bekerja sama dengan Providence
Equity sebuah perusahaan telekomunikasi asal
Amerika yang memiliki tidak kurang dari 2.800
tower di India. Selain itu, di sektor jalan tol Nus­
antara Infrastructure pun menggandeng Capital
Advisors Partners Asia Pte Ltd (CapAsia) sebagai
mitra strategis dalam pengoperasian jalan tol.
Kerja sama seperti ini saling menguntungkan,
terutama bagi Nusantara Infrastructure. Selain
mendapatkan suntikan dana dengan menjual
sebagian saham, ia juga belajar pada karyawan
perusahaan mitra yang dipekerjakan.
Meski demikian, pembatasan kepemilikan
partner asing dibatasi. Dalam setiap divestasi
yang dilakukan, umumnya kepemilikan pihak
asing tidak lebih dari 30%.
Tidak hanya di level atas, pembibitan sum­
ber daya manusia pun dilakukan di level bawah
se­perti office boy. Di Nusantara Infrastructure,
office boy memiliki kesempatan beasiswa un­
tuk melanjutkan kuliah. Dengan program ini,
diharapkan loyalitas karyawan akan tumbuh
signifikan. Dalam setiap kebutuhan lowongan pe­
kerjaan baru, Nusantara Infrastructure membuka
kesempatan bagi karyawan internal terlebih da­
hulu, baru membukanya kepada pihak eksternal.
Loyalitas itu yang kemudian akan membangun
budaya perusahaan dan memperkokohnya. Meski
budaya perusahaan telah dibangun sejak awal,
namun Nusantara Infrastructure kerap mengala­
mi hambatan-hambatan internal dalam menye­
suaikan budaya perusahaan yang baru diakuisisi.
“Proses penyesuaian ini umumnya berlangsung
antara satu hingga dua tahun,” kata Ramdani.
Selama proses itu, Nusantara Infrastructure
mengutus orang yang khusus ditugaskan
untuk membangun budaya di perusahaan yang
baru diakuisisi. Salah satunya, saat Nusantara
Infrastructure baru saja mengakuisisi perusahaan
pengolahan air di Medan, ia mengutus dua orang
di jajaran top management untuk menyesuaikan
budaya perusahaan baru dengan Nusantara
Infrastructure.
foto:dok.nusantarainfrastructure
Salah satu menara telekomunikasi milik PT Nusantara
Infrastructure di Medan, Sumatera Utara.
“Kami terbiasa kerja cepat, sedangkan
perusahaan di daerah itu umumnya cenderung
lamban. Untuk menyesuaikan pola seperti itu,
kami tempatkan orang-orang dari Jawa di sana,”
kata Ramdani.
Andre menyebut selain CEO Ramdani, Chief
Officer Operational (COO) Nusantara Infra­
structure Danni Hasan merupakan orang yang
cepat menduduki berbagai posisi senior pada
beragam perusahaan terkemuka di bidangnya,
seperti manufaktur, minyak dan gas, serta sekuri­
tas, termasuk PT Akzo Coating Indonesia, Sigma
Batara, dan PT Asamera Oil Indonesia.
Ramdani mengatakan, tahun ini menjadi
momen bagi Nusantara Infrastructure untuk take
off. “Sekarang kami siap mengakuisisi perusahaan
yang nilainya dua sampai tiga kali lebih besar
daripada aset yang kami punya,” tandas pria
berkacamata itu. 

Nusantara Infrastructure

  • 1.
    Jalan tol diMakassar yang menghubungkan pelabuhan Soekarno-Hatta dengan kota Makassar, Sulawesi Selatan.
  • 2.
    fortune INDONESIA 53 M foto:dok.nusantarainfrastructure MEMBANGUN JALANUNTUK BERKEMBANG MASIH LEKAT dalam ingatan M. Ramdani Basri, Chief Executive Officer (CEO) PT Nusantara Infrastructure, Tbk, di tahun 2006, ia harus mencari proyek yang dapat menghidupi perusa­ haan. Selain itu, ia dan beberapa orang timnya pun melakukan roadshow ke beberapa lembaga pendanaan asing untuk mendapatkan suntikan modal. Meski banyak institusi keuangan yang me­ miliki dana tidak terbatas dan tertarik berinves­ tasi di sektor infrastruktur, mereka memilih perusahaan yang telah memiliki pengalaman dan portofolio, sebelum menggelontorkan dana. Perusahaan yang dulu bernama PT Nusantara Konstruksi Indonesia itu juga sempat merugi di tahun 2009-2010. Di tahun 2009, perusahaan ini rugi Rp41,7 miliar dan pada tahun 2010 masih rugi sebesar Rp34,4 miliar. Dua tahun yang berat ini merupakan masa sulit bagi perusahaan. Tekanan suku bunga pinjaman dan rendahnya penjualan kendaraan menjadi penyumbang uta­ ma kerugian di tahun 2009. Dua tahun merugi, menurut Ramdani menjadi cambuk bagi perusa­ haan untuk mereformulasi strategi. Ia menahan sejumlah rencana ekspansi di tahun itu. Beberapa rencana merger dan akuisisi pun ditunda. Perlahan tapi pasti, kerja keras itu kini mem­ buahkan hasil. Perusahaan yang dinakhodai Ramdani itu kini menjadi salah satu perusahaan yang terbilang sukses dalam industri infrastruk­ tur. Pada kuartal I 2014 pendapatan Nusantara Infra­structure naik 52,3% dari Rp68,8 miliar di kuartal I 2013 menjadi Rp 104,8 miliar. Pertum­ buhan ini tidak lepas dari pendapatan sektor jalan tol yang mulai beroperasi di tahun 2011 dan menjadi penyumbang utama pendapatan sebesar Rp83,5 miliar. Cita-cita emiten berkode META ini cukup realistis. Luasnya wilayah Indonesia yang minim infrastruktur menjadi lahan hijau yang menjanjikan keuntungan. Tentu, Nusantara Infrastructure perlu berjuang ekstra keras untuk mencapai targetnya. Sebab, tidak banyak kemu­ dahan-kemudahan dan insentif yang pemerintah berikan untuk menggarap sektor ini. Walau demikian, Ramdani melihat sektor infrastruktur sesungguhnya masih terbuka lebar untuk digarap. “Meski 1.000 perusahaan didiri­ kan untuk membangun proyek infrastruktur di Indonesia, tidak akan mampu menutupi kebutu­ KISAH NUSANTARA INFRASTRUCTURE, PERUSAHAAN RINTISAN YANG SEDANG MENJELMA MENJADI PERUSAHAAN INFRASTRUKTUR TERINTEGRASI DI INDONESIA. Oleh Dian Sari Pertiwi
  • 3.
    fortune INDONESIA 54 NUSANTARA INFRASTRUCTURE haninfrastruktur di Indonesia,” ucapnya kepada Fortune Indonesia. Inilah kemudian yang dijadikan landasan berpikir bahwa peluang di industri ini memang menjanjikan. Luas wilayah Indonesia yang fantastis terlebih dipisahkan oleh perairan, tak pelak membutuhkan ketersediaan infrastruktur untuk menghubungkan antarpulau dan daerah. Sayangnya, sedikit perusahaan yang serius meng­ garap sektor bisnis ini. Besarnya nilai investasi dan lamanya waktu balik modal menjadi faktor utama yang membuat pengusaha enggan masuk ke sektor ini. Nusantara Infrastructure satu di antara perusahaan infrastruktur yang bertahan. Targetnya, menjadi perusahaan infrastruktur terintegrasi di Indonesia. Untuk mencapai itu, Nusantara Infrastructure melahirkan anak-anak usaha yang bergerak di sektor infrastruktur selain jalan tol, seperti pengolahan air, minihidro hingga tower. Di tahun ini, bisnis pengolahan air “Meski 1.000 perusahaan didirikan un­ tuk memba­ ngun proyek infrastruktur di Indonesia, tidak akan mampu menutupi kebutuhan infrastruktur di Indonesia” M. Ramdani Basri CEO PT Nusantara Infrastructure Tbk M. Ramdani Basri foto:melisawijaya
  • 4.
    fortune INDONESIA 55 M telah menyumbangRp11,8 miliar. Begitu juga dengan tower, meski relatif baru, sektor ini telah menyumbang Rp9,9 miliar. MERANGKAK KE posisi seperti sekarang, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ketika memulai dulu, Nusantara Infrastructure hanya mengandalkan satu lini usaha: jalan tol. Lalu, mereka mengubah strategi dengan memperbanyak portofolio dengan menggunakan dana hasil refinancing dari bank Mega. Sayang, Ramdani kesulitan mengingat berapa jumlahnya. Dana itu kemudian digunakan untuk memperbesar aset dan portofolio. Masa-masa itu Ramdani sebut sebagai masa akrobat bagi perusahaan. Ia harus memikirkan bagaimana agar perusahaan dapat berjalan. Selain mengalami hambatan dari dalam karena kekurangan dana, faktor eksternal pun cukup membebani perusahaan. Saat Nusantara Infra­ structure merintis, bisnis infrastruktur belum mendapatkan dukungan pemerintah dalam hal regulasi. Contohnya, waktu itu mereka mulai dengan bisnis operator jalan tol, ketidakjelasan aturan kenaikan tarif masih menjadi momok bagi para pelaku bisnis di sektor ini. Besarnya risiko yang dihadapi tidak sebanding dengan imbal balik hasil yang didapatkan. Karena bisnis infra­ struktur membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun mesin pencetak uangnya. Misalnya, sektor jalan tol perlu waktu sedikitnya delapan tahun untuk balik modal. “Aturan naiknya tarif jalan tol masih harus masuk ke parlemen dan memakan waktu,” kata Ramdani mengenang. Ketidakjelasan masa depan pendapatan ini yang menjadikan bisnis in­ frastruktur punya sedikit pemain. Padahal, waktu dan biaya yang dibutuhkan tidak sedikit. Tapi Nusantara Infrastructure yakin, bisnis ini layaknya mengkonstruksi mesin uang. Meski sulit, jika sabar dilakoni di masa depan mesin uang itu akan menghasilkan pundi-pundi uang bagi perusahaan. Pada awal berdirinya, Nusantara Infrastructure baru memiliki dua buah aset jalan tol di Jakarta dengan nilai tidak lebih dari Rp350 miliar. Dua ruas jalan tol itu PT Bintaro Serpong Damai di Jakarta dan PT Bosowa Marga Nusantara di Makassar. Kini, sektor jalan tol menjelma sebagai mesin uang dan menyumbang 70% pendapatan perusahaan ini. Nusantara Infrastructure masuk ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan cara backdoor listing. Delapan tahun lalu, PT Nusantara Konstruksi Indonesia membeli saham PT Metamedia Teknologi Tbk dan mengubah nama PT Nusan­ tara Konstruksi Indonesia menjadi PT Nusantara Infrastructure. Menjadi salah satu perusahaan pu­blik di BEI merupakan loncatan bagi Nusan­ tara Infrastructure. Ini yang menjadi cikal bakal tumbuhnya bisnis perusahaan ini. Meski demiki­ an, bukan berarti proyek datang menghampiri mereka seketika. Perusahaan ini harus berjibaku mencari proyek yang dapat digarap dan meng­ hasilkan keuntungan. “Waktu itu kami harus menawarkkan diri untuk menggarap proyek, beda dengan sekarang, proyek sampai antre,” kata Ramdani mengenang. Ia juga bercerita bahkan untuk bertemu de­ ngan group head bank pun sulit. Perusahaannya dianggap tidak bernilai. Meski demikian, Nusan­ tara Infrastructure dengan aset Rp400 miliar memberanikan diri membeli sebagian saham pe­ rusahaan yang memiliki aset Rp2,7 triliun. Meski tidak memiliki saham mayoritas, hal tersebut menurut Ramdani, dapat menambah portofolio perusahaan dan menjadikannya bernilai di mata lembaga pendanaan maupun investor. Tahun 2009, right issue pun dilakukan untuk mendapatkan dana segar dan melepaskan diri dari kerugian perusahaan. Kala itu, 70% dari 15,2 miliar lembar saham diserap oleh fund asal Singa­ pura, Infrastructure Growth Fund (IGF). Nilainya tidak kurang dari Rp1 triliun. Investasi tersebut hasil dari roadshow Nusantara Infrastructure ke beberapa perusahaan pendanaan asing. Potum Mundi Infra- nusantara, salah satu bisnis pengolahan air di Lampung. foto:dok.nusantarainfrastructure
  • 5.
    fortune INDONESIA 56 NUSANTARA INFRASTRUCTURE S Kerjasama dengan lembaga keuangan asing tidak lantas membuat perusahaan ini merangkak naik. IGF kemudian menawarkan sahamnya ke berbagai perusahaan. Ramdani enggan membe­ berkan detail, tapi di antara beberapa perusahaan yang tertarik, hanya Rajawali Group yang berha­ sil karena menawarkan harga lebih tinggi. SEJAK RAJAWALI GROUP masuk menjadi salah satu pemegang saham di tahun 2010, perusahaan ini terbilang moncer. Rajawali termasuk salah satu perusahaan yang memiliki reputasi baik di mata lembaga keuangan internasional. Ramdani bilang, dengan masuknya perusahaan milik Peter Sondakh itu, Nusantara Infrastructure lebih mudah mendapatkan akses pendanaan dari be­ berapa lembaga keuangan internasional. “Rajawali memang memiliki track record yang baik di mata lembaga keuangan dan pendanaan nasional maupun internasional, hal tersebut cu­ kup membantu kami berekspansi,” kata Ramdani. Pasca Rajawali masuk sebagai salah satu inves­ tor, Nusantara Infrastructure fokus mengerjakan jalan tol. Ada tiga jalan tol yang dibangunnya, yakni Tol BSD, Jakarta Lingkar Barat (JLB), dan Jalan Tol Seksi Empat (JTSE) yang meng­ hubungkan Maros-Makassar, Sulawesi Selatan. Selain itu, Nusantara Infrastructure mulai me­ masuki bisnis operator pelabuhan di Lampung. Nusan­tara Infrastructure bahkan sudah siap jika harus mengoperasikan infrastruktur energi berbasis sampah. Sejak dua tahun lalu, Ramdani mengung­kapkan dirinya telah mengirim orang untuk mempelajari bisnis sektor ini di Thailand. Jika di awal perkembangannya, Nusantara Infrastructure hanya fokus di bisnis jalan tol, kini ia melakukan banyak diversifikasi. Untuk melanggengkan strategi diversifikasi, Nusantara Infrastructure melakukan restrukturisasi perusahaan dengan membentuk divisi-divisi strategi bisnis unit. Setiap tahun, Nusantara Infrastructure mela­ hirkan satu sampai dua anak perusahaan baru dengan cara merger dan akuisisi. Strategi bisnis unit ini menjadi payung dari masing-masing anak usaha yang bergerak sesuai dengan sektornya. Strategi bisnis unit itu di antaranya, PT Marga Utama Nusantara membawahi jalan tol, PT Port­ co Infranusantara membawahi pelabuhan, PT Potum Mundi Infranusantara membawahi sektor air, PT Energi Infranusantara dan PT Telekom Infranusantara yang menggarap sektor tower. Baru-baru ini, perusahaan mulai merambah bisnis telekomunikasi di bawah anak usahanya PT Telekom Infrasnusantara dengan mengakuisi­ si 705.686.608 lembar saham PT Tara Cell Intra­ buana (Towerco) senilai Rp500 miliar. Targetnya dalam lima tahun, Nusantara Infrastructure akan memiliki sebanyak 3.000 tower di Indonesia. Sektor ini ditargetkan memberikan kontribusi sebesar 25% terhadap pendapatan. Strategi akuisisi yang dilakukan adalah meng­ ambil alih perusahaan bernilai aset dua sampai tiga kali lebih besar daripada total aset milik Nusantara Infrastructure sendiri. Meski tidak menjadi pemegang saham mayoritas, strategi tersebut dapat membalikkan nilai perusahaan menjadi lebih tinggi. Seperti akuisisi yang dila­ kukan terhadap Towerco, telah menaikkan aset perusahaan sebesar 28,4%, bila pada akhir 2013 total aset senilai Rp2,57 triliun, pada kuartal I/2014 menjadi Rp3,3 triliun. “Akuisisi bisnis adalah langkah yang sangat strategis untuk memperkuat bisnis infrastruktur perseroan dan meningkatkan net present value,” aku Ramdani. Ketertarikan Rajawali Group membeli saham perusahaan ini tidak terlepas dari fakta bahwa Indonesia tertinggal dalam pembangunan infrastruktur. Malaysia yang luas wilayahnya lebih kecil dari Indonesia memiliki akses jalan tol sepanjang 3.500 KM, sedangkan Indonesia masih relatif tertinggal masih 1.000 KM. “Karena prospeknya ke depan sangat baik, kami tertarik masuk ke bisnis infrastruktur,” kata Darjoto Setyawan, Managing Director PT Jalan Tol BIntaro- Pondok Aren terbentang sepanjang 7,25 km. foto:dok.nusantarainfrastructure
  • 6.
    fortune INDONESIA 57 Membangun bisnisinfrastruktur sama halnya seperti membangun bangsa. Karena, infrastruk­ tur menjadi elemen utama dalam membangun ekonomi bangsa. Tidak sedikit perlambatan ekonomi terjadi karena kesulitan akses mendis­ tribusikan barang dan jasa. Hitung-hitungan komersil jangka panjang dan sumber daya manu­ sia menjadi dua agenda utama dalam bisnis ini. Terlebih bagi Nusantara Infrastructure yang me­ miliki banyak anak usaha dengan sektor berbeda. Menurut pengamat emiten infrastruktur, Teguh Hidayat, tidak banyak yang bertahan di bisnis ini mengingat cash flow-nya rendah. Selain itu, proses pembangunan membutuhkan waktu lama. Terkait ekspansi, Teguh mengingatkan agar berhati-hati. Katanya, perusahaan yang terlalu cepat melakukan ekspansi dan akuisisi, umumnya tidak bertahan lama. Oleh karena itu, Nusantara Infrastructure, seharusnya lebih fokus dalam menggarap sektor infrastruktur. “Terlalu banyak lini bisnis, akan menyulitkan perusahaan untuk fokus mengembangkan masing-masing anak usahanya, ekspansi berlebih ini cenderung berbahaya,” kata Teguh. Lain halnya pandangan Andre Maningkas. Ia bilang strategi diversifikasi justru menyehatkan aliran kas perusahaan. Sebab, mengandalkan jalan tol saja tidak cukup. “Perlu waktu yang lama untuk dapat uang di bisnis jalan tol, dengan membagi portofolio dapat mengamankan arus kas mereka,” kata Andre. Menurut Andre, sejak lima tahun terakhir pe­ rusahaan ini memiliki kinerja yang baik. Hal itu tidak terlepas dari pemilihan orang-orang yang mengurusi masing-masing lini bisnis di Nusan­ tara Infrastructure. Pemilihan dan penempatan orang menjadi prioritas Nusantara Infrastructure ketika masuk ke sektor bisnis yang baru. Hal tersebut diamini oleh Ramdani. “Harus diakui, di beberapa posisi kami menem­ patkan beberapa eksekutif asing karena lebih kompeten di sektor yang baru kami masuki seper­ ti tower,” ungkap Ramdani. Di sektor-sektor baru itu, Nusantara Infra­ structure melakukan pembibitan sumber daya manusia dengan menggunakan tenaga asing atau pun tenaga dari perusahaan berpe­ngalaman. Umumnya proses ini memakan waktu kurang lebih satu hingga dua tahun sampai sumber daya manusianya memiliki kemampuan yang sama dengan tim ahli. Rajawali Corpora kepada Fortune Indonesia. Rajawali Group memang dikenal sebagai perusahaan kakap yang mengerti bagaimana cara memoles bisnis yang hampir kandas menjadi bisnis yang berkinerja kinclong. Seperti di Nu­ santara Infrastructre, setelah anak perusahaan Rajawali Group PT Hijau Makmur Sejahtera masuk, satu hal yang menjadi perhatian utama adalah masalah sumber daya manusia. Meski Ramdani mengatakan tidak ada single majority dalam perusahaan, Rajawali Group ter­ kesan dominan dalam Nusantara Infrastructure. Sebab selain Rajawali, Eagle Infrastructure selaku pemegang 21,66% saham merupakan lembaga pendanaan asing yang bermarkas di Hongkong. Praktis Rajawali selaku pemegang 21% saham menjadi penggerak roda bisnis ini. Ramdani juga tak menampik sejak Rajawali Group ma­ suk, Nusantara Infrastructure jauh lebih mudah mendapatkan akses pendanaan dari berbagai lem­ baga keuangan, baik dalam maupun luar negeri. “Bisnis infrastruktur itu kan tidak mudah, selama ini Rajawali memang dikenal sebagai per­ usahaan yang pandai memilih orang-orang kom­ peten, lihat saja PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) yang diurus Rajawali menjadi lebih baik,” kata Andre Maningkas, peng­amat emiten dari Buana Capital. “Karena pros­ peknya ke depan sangat baik, kami tertarik ma­ suk ke bisnis infrastruktur” Darjoto Setyawan Managing Director PT Rajawali Corpora Darjoto Setyawan foto:gugunanggunisuminarto
  • 7.
    fortune INDONESIA 58 NUSANTARA INFRASTRUCTURE Ramdanimengungkapkan, model pengemba­ ngan bisnis yang ia lakukan adalah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk partner asing. Sebab, walau bagaimana pun, kemampuan mere­ ka mengelola sektor infrastruktur selain jalan tol lebih baik. Misalnya, untuk masuk ke sektor pelabuhan, Nusantara Infrastructure meng­ gandeng Lui Drivers, operator pelabuhan dan komoditas asal Perancis. Begitu juga di sektor telekomunikasi bekerja sama dengan Providence Equity sebuah perusahaan telekomunikasi asal Amerika yang memiliki tidak kurang dari 2.800 tower di India. Selain itu, di sektor jalan tol Nus­ antara Infrastructure pun menggandeng Capital Advisors Partners Asia Pte Ltd (CapAsia) sebagai mitra strategis dalam pengoperasian jalan tol. Kerja sama seperti ini saling menguntungkan, terutama bagi Nusantara Infrastructure. Selain mendapatkan suntikan dana dengan menjual sebagian saham, ia juga belajar pada karyawan perusahaan mitra yang dipekerjakan. Meski demikian, pembatasan kepemilikan partner asing dibatasi. Dalam setiap divestasi yang dilakukan, umumnya kepemilikan pihak asing tidak lebih dari 30%. Tidak hanya di level atas, pembibitan sum­ ber daya manusia pun dilakukan di level bawah se­perti office boy. Di Nusantara Infrastructure, office boy memiliki kesempatan beasiswa un­ tuk melanjutkan kuliah. Dengan program ini, diharapkan loyalitas karyawan akan tumbuh signifikan. Dalam setiap kebutuhan lowongan pe­ kerjaan baru, Nusantara Infrastructure membuka kesempatan bagi karyawan internal terlebih da­ hulu, baru membukanya kepada pihak eksternal. Loyalitas itu yang kemudian akan membangun budaya perusahaan dan memperkokohnya. Meski budaya perusahaan telah dibangun sejak awal, namun Nusantara Infrastructure kerap mengala­ mi hambatan-hambatan internal dalam menye­ suaikan budaya perusahaan yang baru diakuisisi. “Proses penyesuaian ini umumnya berlangsung antara satu hingga dua tahun,” kata Ramdani. Selama proses itu, Nusantara Infrastructure mengutus orang yang khusus ditugaskan untuk membangun budaya di perusahaan yang baru diakuisisi. Salah satunya, saat Nusantara Infrastructure baru saja mengakuisisi perusahaan pengolahan air di Medan, ia mengutus dua orang di jajaran top management untuk menyesuaikan budaya perusahaan baru dengan Nusantara Infrastructure. foto:dok.nusantarainfrastructure Salah satu menara telekomunikasi milik PT Nusantara Infrastructure di Medan, Sumatera Utara. “Kami terbiasa kerja cepat, sedangkan perusahaan di daerah itu umumnya cenderung lamban. Untuk menyesuaikan pola seperti itu, kami tempatkan orang-orang dari Jawa di sana,” kata Ramdani. Andre menyebut selain CEO Ramdani, Chief Officer Operational (COO) Nusantara Infra­ structure Danni Hasan merupakan orang yang cepat menduduki berbagai posisi senior pada beragam perusahaan terkemuka di bidangnya, seperti manufaktur, minyak dan gas, serta sekuri­ tas, termasuk PT Akzo Coating Indonesia, Sigma Batara, dan PT Asamera Oil Indonesia. Ramdani mengatakan, tahun ini menjadi momen bagi Nusantara Infrastructure untuk take off. “Sekarang kami siap mengakuisisi perusahaan yang nilainya dua sampai tiga kali lebih besar daripada aset yang kami punya,” tandas pria berkacamata itu.