MENULIS, MENDAMAIKAN
Oleh: Farninda Aditya
(Club Menulis IAIN Pontianak)
Disampaikan pada Pelatihan Pelatihan Peace Journalism (Jurnalisme
Damai)
dalam Perspektif Anti Teror FKPT Provinsi Kalimantan Barat
"Cekal Terorisme di Kalimantan Barat"
Rumah Melayu Kalimantan Barat, 26 Agustus 2015
Mendengar atau membaca
kata Terosisme sebagian
besar orang akan merasa
ngeri. Keadaan serba
kekerasan terasa
mengancam di lingkungan
 Keamanan, sejahtera, hidup dengan
damai serta harmonis pada dan
dimana saja tentu menjadi keinginan
semua orang.
 Maka mewujudkan hal tersebut
memerlukan kerjasama antar semua
pihak. Bukan sekadar pemerintah,
tetapi semua orang yang menjadi
bagian dari masyarakat.
 Setiap individu dapat menjaga
lingkungannya dari aksi terorisme
dengan berbagai cara, satu di
antaranya adalah menulis.
 MENULIS, MENDAMAIKAN
Menulis menimbulkan rasa
saling memahami, hal tersebut
telah dirasakan oleh anggota
Club Menulis Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) Pontianak.
Kisah Pelarian 97 yakni
kumpulan cerita
pengalaman dari sisi
korban pada kerusuhan
1997 di Kalimantan Barat.
Berikut kutipan cerita
tentang korban yang
mencoba untuk
menyelamatkan diri dari
kerusuhan di hutan yang
ditulis oleh Siti Hanina.
“Setelah semuanya mendapatkan tempat untuk
beristirahat. Keadaanya menjadi sangat sunyi. Tak
ada yang bersuara. Yang terdengar hanya bunyi
jangkrik dan burung hantu yang sangat jelas terdengar
di telinga kami. Dan semua obor telah dimatikan. Yang
ada saat itu hanya penerangan dari sinar bulan yang
masuk melalui celah-celah daun sagu yang rimbun.
Tidak ada seorang pun yang tidur saat itu. Semuanya
hanya duduk dan sambil menjaga anaknya. Ibu-ibu
sibuk mengipasi anak-anaknya menggunakan sarung
atau kain agar tidak digigit nyamuk. Tapi untunglah
tidak ada satu anak pun yang menangis malam itu.
Semuanya diam karena keadaan saat itu benar-benar
sunyi (Hal 9) . …. Namun setelah pulang dari hutan
tersebut. Ada berita dari orang dan ternyata orang
Dayak dari kampung seberang memberitahu untuk
agar kami segera meninggalkan kampung kami (Hal
12)”.
Yakni catatan perjalanan
di Parit Banjar, Punggur.
Buku ini mengisahkan
kehidupan masyarakat
Bugis yang tinggal di
Desa Melati atau lebih di
kenal Parit Banjar. Orang
Bugis di Parit Banjar
banyak yang
berpenghasilan dari
Kopra, berikut kisahnya.
“Hayalanku melayang jauh. Aku membayangkan
seandainya Aku hidup layaknya mereka.
Mampukah Aku bersabar dan bersyukur atas
nikmat Allah. Dibandingkan dengan kehidupan di
kampungku, jauh memang penghasilan mereka.
Aku tak bisa membayangkan kalau harus
memanjat kelapa dengan upah Rp. 170/biji atau
Rp. 170.000/1000biji. Nyawa dipertaruhkan untuk
memenuhi kebutuhan. Atau manggang kelapa
untuk kopra selama dua hari hanya Rp. 80.000.
padahal sekali panggang/salai lebih kurang 6.000
kelapa. Aku tak tahu harus bagaimana kalau Aku
menjalani hidup yang sedemikian kerasnya.”
(Mutamakin, Hal 14)
1. Menulis Berbagai Kisah
Berasal dari sejarah, pengalaman pribadi
atau orang lain, lingkungan dapat menjadi
ide dalam menulis fiksi, misal saja Cerpen,
Novel, Puisi, atau Cerita Drama Teater.
“Beberapa penguasa Lembah Danau Sentar
berseragam dan bersenjata api ikut
mengawasi para penyenso. Walhasil,
penduduk rumah panjang tidak ada yang
berani mendekat. Semuanya membisu.
Hanya bisa melihat dari kejauhan. Seorang
toke kayu dari negeri jiran tersenyum puas
melihat batang-batang kayu yang terus
bertumbangan. Aktivitas para penyenso
mendadak dikejutkan sebuah teriakan. Tiba-
tiba seorang pemuda berteriak dan berlari
"Agik idup agik ngelaban" sambil membawa
sebilah parang yang dikibas-kibaskan. "Kalau
ada yang berani menebang pokok-pokok
kayu ini aku bunuh," seru sang pemuda.
Ancaman sang pemuda menghentikan
aktivitas para penyenso.” (Hal 29)
2. Menulis di Media
Menulis dan publikasi di
media sosial tentu saja
memberikan banyak inspirasi d
an mendapat apresiasi, begitu
pula koreksi, karenanya perlu
pandai dalam menghadapinya
agar tak menimbulkan suatu
sikap sensitif.
3. Menulis adalah Aksi
 Menulis adalah Aksi ialah melakukan
kegiatan menulis dan menghasilkan
tulisan.Kegiatan menulis ialah kegiatan
mengetik maupun tulisan
tangan tanpa memikirkan isi
tulisan selanjutnya, karenanya
istilah tulis saja apa yang kamu
pikirkan bukan pikirkan apa
yang kamu tulis dalam hal ini
menjadi hal wajib
Memanfaatkan indra perasa.
Deskripsikan saja apa yang
diketahui.
Berbekal pengalaman dan ide
sebagai bahan tulisan menjadi
lebih mudah untuk
misalnya saja menulis tentang gotong
royong, kearifan budaya lokal, sikap baik
seorang teman, inspirator, tata ruang, dan
sebagainya.
SIMPULAN
Menulis dapat menjabarkan hal-hal
yang mulanya dipandang rumit hingga
menimbulkan kepahaman.
Menulis dengan pesan damai, menulis
untuk kedamaian dapat dilakukan oleh
siapa saja. Kedamaian adalah
keinginan bersama dan mesti
diaksikan bersama.
TERIMA KASIH
MARI MENULIS

Menulis, mendamaikan

  • 1.
    MENULIS, MENDAMAIKAN Oleh: FarnindaAditya (Club Menulis IAIN Pontianak) Disampaikan pada Pelatihan Pelatihan Peace Journalism (Jurnalisme Damai) dalam Perspektif Anti Teror FKPT Provinsi Kalimantan Barat "Cekal Terorisme di Kalimantan Barat" Rumah Melayu Kalimantan Barat, 26 Agustus 2015
  • 2.
    Mendengar atau membaca kataTerosisme sebagian besar orang akan merasa ngeri. Keadaan serba kekerasan terasa mengancam di lingkungan
  • 3.
     Keamanan, sejahtera,hidup dengan damai serta harmonis pada dan dimana saja tentu menjadi keinginan semua orang.  Maka mewujudkan hal tersebut memerlukan kerjasama antar semua pihak. Bukan sekadar pemerintah, tetapi semua orang yang menjadi bagian dari masyarakat.  Setiap individu dapat menjaga lingkungannya dari aksi terorisme dengan berbagai cara, satu di antaranya adalah menulis.
  • 4.
     MENULIS, MENDAMAIKAN Menulismenimbulkan rasa saling memahami, hal tersebut telah dirasakan oleh anggota Club Menulis Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak.
  • 5.
    Kisah Pelarian 97yakni kumpulan cerita pengalaman dari sisi korban pada kerusuhan 1997 di Kalimantan Barat. Berikut kutipan cerita tentang korban yang mencoba untuk menyelamatkan diri dari kerusuhan di hutan yang ditulis oleh Siti Hanina.
  • 6.
    “Setelah semuanya mendapatkantempat untuk beristirahat. Keadaanya menjadi sangat sunyi. Tak ada yang bersuara. Yang terdengar hanya bunyi jangkrik dan burung hantu yang sangat jelas terdengar di telinga kami. Dan semua obor telah dimatikan. Yang ada saat itu hanya penerangan dari sinar bulan yang masuk melalui celah-celah daun sagu yang rimbun. Tidak ada seorang pun yang tidur saat itu. Semuanya hanya duduk dan sambil menjaga anaknya. Ibu-ibu sibuk mengipasi anak-anaknya menggunakan sarung atau kain agar tidak digigit nyamuk. Tapi untunglah tidak ada satu anak pun yang menangis malam itu. Semuanya diam karena keadaan saat itu benar-benar sunyi (Hal 9) . …. Namun setelah pulang dari hutan tersebut. Ada berita dari orang dan ternyata orang Dayak dari kampung seberang memberitahu untuk agar kami segera meninggalkan kampung kami (Hal 12)”.
  • 7.
    Yakni catatan perjalanan diParit Banjar, Punggur. Buku ini mengisahkan kehidupan masyarakat Bugis yang tinggal di Desa Melati atau lebih di kenal Parit Banjar. Orang Bugis di Parit Banjar banyak yang berpenghasilan dari Kopra, berikut kisahnya.
  • 8.
    “Hayalanku melayang jauh.Aku membayangkan seandainya Aku hidup layaknya mereka. Mampukah Aku bersabar dan bersyukur atas nikmat Allah. Dibandingkan dengan kehidupan di kampungku, jauh memang penghasilan mereka. Aku tak bisa membayangkan kalau harus memanjat kelapa dengan upah Rp. 170/biji atau Rp. 170.000/1000biji. Nyawa dipertaruhkan untuk memenuhi kebutuhan. Atau manggang kelapa untuk kopra selama dua hari hanya Rp. 80.000. padahal sekali panggang/salai lebih kurang 6.000 kelapa. Aku tak tahu harus bagaimana kalau Aku menjalani hidup yang sedemikian kerasnya.” (Mutamakin, Hal 14)
  • 10.
    1. Menulis BerbagaiKisah Berasal dari sejarah, pengalaman pribadi atau orang lain, lingkungan dapat menjadi ide dalam menulis fiksi, misal saja Cerpen, Novel, Puisi, atau Cerita Drama Teater.
  • 11.
    “Beberapa penguasa LembahDanau Sentar berseragam dan bersenjata api ikut mengawasi para penyenso. Walhasil, penduduk rumah panjang tidak ada yang berani mendekat. Semuanya membisu. Hanya bisa melihat dari kejauhan. Seorang toke kayu dari negeri jiran tersenyum puas melihat batang-batang kayu yang terus bertumbangan. Aktivitas para penyenso mendadak dikejutkan sebuah teriakan. Tiba- tiba seorang pemuda berteriak dan berlari "Agik idup agik ngelaban" sambil membawa sebilah parang yang dikibas-kibaskan. "Kalau ada yang berani menebang pokok-pokok kayu ini aku bunuh," seru sang pemuda. Ancaman sang pemuda menghentikan aktivitas para penyenso.” (Hal 29)
  • 12.
    2. Menulis diMedia Menulis dan publikasi di media sosial tentu saja memberikan banyak inspirasi d an mendapat apresiasi, begitu pula koreksi, karenanya perlu pandai dalam menghadapinya agar tak menimbulkan suatu sikap sensitif.
  • 13.
    3. Menulis adalahAksi  Menulis adalah Aksi ialah melakukan kegiatan menulis dan menghasilkan tulisan.Kegiatan menulis ialah kegiatan mengetik maupun tulisan tangan tanpa memikirkan isi tulisan selanjutnya, karenanya istilah tulis saja apa yang kamu pikirkan bukan pikirkan apa yang kamu tulis dalam hal ini menjadi hal wajib
  • 14.
    Memanfaatkan indra perasa. Deskripsikansaja apa yang diketahui. Berbekal pengalaman dan ide sebagai bahan tulisan menjadi lebih mudah untuk misalnya saja menulis tentang gotong royong, kearifan budaya lokal, sikap baik seorang teman, inspirator, tata ruang, dan sebagainya.
  • 16.
    SIMPULAN Menulis dapat menjabarkanhal-hal yang mulanya dipandang rumit hingga menimbulkan kepahaman. Menulis dengan pesan damai, menulis untuk kedamaian dapat dilakukan oleh siapa saja. Kedamaian adalah keinginan bersama dan mesti diaksikan bersama.
  • 17.