Memahami
Koding dan Kecerdasan Artifisial
Pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah
Materi 1
Memahami
Koding dan Kecerdasan Artifisial
Pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah
Materi 1
Urgensi Pendidikan
Peningkatan Kualitas Sumber Daya
Manusia
Pendidikan yang baik menghasilkan
individu yang terampil dan kompeten.
Pertumbuhan Ekonomi
Investasi dalam pendidikan
berkontribusi pada pertumbuhan
ekonomi jangka panjang
Pengentasan Kemiskinan
Pendidikan memberikan akses kepada
individu mendapatkan pekerjaan yang
lebih baik
Inovasi dan Penelitian
Mendorong teknologi baru dan
Meningkatkan kemampuan
memecahkan masalah kompleks
Keberlanjutan Lingkungan
Membantu memahami isu
keberlanjutan,
Mendorong perilaku bertanggung
jawab terhadap lingkungan
Adaptif terhadap Perubahan
Membantu beradaptasi pada
perubahan teknologi & pasar
kerja
Pendidikan bukan hanya
penting untuk individu, tetapi
juga untuk masyarakat dan
negara secara keseluruhan,
dengan meningkatkan kualitas
pendidikan, dapat menciptakan
masa depan lebih baik dan
berkelanjutan
Coding Learning Progression
Mapel Informatika
Dasar-dasar Coding dan AI, untuk fase D dan E telah
diajarkan secara terstruktur dan sistematis pada mata
pelajaran Informatika
• Berpikir Komputasional yang banyak mengajarkan
logika, abstraksi, dekomposisi, representasi data,
reasoning, dan algoritmik thinking yang menjadi dasar AI
dan coding
• Coding telah diajarkan baik dengan mode plugged
maupun unplugged. Dibelajarkan menggunakan bahasa
block programming Scratch dan Blockly pada fase D, dan
bahasa pemrograman tekstual (Python, C, Pascal) pada
fase E dan F.
Coding Learning Progression
Mapel Informatika Fase D, Memperkenalkan Konsep Coding (tipe data,
variabel, percabangan, perulangan, fungsi dan prosedur.
Block Programming: Blockly dan Scratch
Fase E, Migrasi dari block programming ke textual
programming dengan mengenalkan pseudocode sebelum
coding riil. Menggunakan bahasa Algo menggunakan konsep
dasar pemrograman (tipe data, variabel, percabangan,
perulangan, fungsi dan prosedur).
Pemrograman tekstual: C, Pascal dan Python, dll.
Kenapa pseudocode ?
Agar dapat lebih mudah untuk dipahami oleh peserta didik,
dibandingkan dengan langsung menggunakan bahasa
pemrograman yang umum dipakai.
Elemen Pembelajaran
Koding dan Kecerdasan Artifisial
• berpikir komputasional;
• literasi digital;
• algoritma pemrograman;
• analisis data;
• literasi dan etika kecerdasan artifisial; dan
• pemanfaatan dan pengembangan kecerdasan
artifisial.
Pembelajaran
Informatika - Koding dan Kecerdasan Artifisial
AI curriculum for K-12, which one is better:
AI as another course or as part of CS curriculum?
• Teaching AI in K-12 education can be approached in different
ways, with arguments for both separate courses and
integration into the Computer Science curriculum.
• Separate AI courses can provide focused learning, while
integration can enhance understanding of AI within broader
computing concepts, promoting interdisciplinary skills.
AI curriculum for K-12, which one is better:
AI as another course or as part of CS curriculum?
Separate AI Course
Focused Learning:
• A dedicated AI course allows for in-depth exploration of AI concepts,
techniques, and applications.
Specialization:
• Students can develop specific skills and knowledge related to AI, preparing
them for future studies or careers in this field.
Curriculum Flexibility:
• A standalone course can be tailored to include the latest advancements in
AI, ensuring that students are learning current and relevant material.
AI curriculum for K-12, which one is better:
AI as another course or as part of CS curriculum?
Integration into Computer Science Curriculum
Contextual Understanding:
• Integrating AI into the CS curriculum helps students see AI as part of a larger
technological landscape, enhancing their overall understanding of computing.
Interdisciplinary Skills:
• This approach encourages students to apply AI concepts across various
subjects, fostering critical thinking and problem-solving skills.
Resource Efficiency:
• Utilizing existing CS classes to teach AI can be more efficient in terms of
resources, as it leverages current teaching staff and materials.
Koding
Terminologi Koding
Koding dapat dipahami sebagai praktik pemrograman
perangkat komputasi dengan melibatkan kemampuan
berpikir komputasional dan algoritma secara internet-
based, plugged, dan unplugged
Naskah Akademik Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial Pada Pendidikan
Dasar dan Menengah , 2025
Computer programming, or coding, is a crucial skill every
child should be learning. We use computers to solve
problems, play games, help us work more effectively,
perform repetitive tasks, store and recall information,
create something new, and connect with our friends and
the world.
Everyone can learn to code; it’s just like solving a puzzle or
a riddle. You apply logic, try a solution, experiment a little
more, and then solve the problem.
Bryson Payne, TeAch Your Kids To code, 2015
Coding is fun
Technology is becoming a part of everyday life.
Every company, charitable organization, and cause
can benefit from technology. There are apps to help
you buy, give, join, play, volunteer, connect, share—
just about anything you can imagine.
Coding is a valuable job skill
Coding is the skill of the 21st century. Jobs today
require more problem-solving ability than ever
before, and more and more careers involve
technology as an integral requirement.
Terminologi Koding
Istilah coding berkaitan dengan instruksi-instruksi
yang dipahami dan dijalankan oleh komputer.
Pengertian coding secara sederhana adalah cara
manusia berkomunikasi dengan komputer
dengan cara menciptakan perangkat lunak atau
aplikasi yang berguna dalam penyelesaian
masalah.
Muh. Hasbi, dkk, Penerapan Pembelajaran Coding Di Satuan PAUD,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020
Pembelajaran coding berarti kegiatan yang
dapat memberikan stimulasi sejak usia dini
terhadap cara anak berpikir, anak berpikir
kreatif, sikap bekerjasama dan berkomunikasi
anak.
Kegiatannya tidak hanya dimaknai sebagai
penerapan komputer plugged coding, tetapi
juga meliputi keseluruhan kegiatan
pembelajaran coding tanpa menggunakan
perangkat komputer yang dikenal dengan
istilah unplugged coding.
Terminologi Koding
A computer is merely a machine that
can process a set of simple instructions
very quickly.
The set of instructions it processes is
known as a “program”, and the
instructions are known as “code”.
People who write computer programs
are known as “programmers” or
“coders”. Their programs have enabled
computers to become useful in almost
every area of modern life:
Mike McGrath, Coding for Beginners in easy steps, 2nd edition, 2022
Modern high-level programs are automatically translated into the
machine code that the computer can understand by a “compiler”
or by an “interpreter”. In order to become a coder you must
typically learn at least one of these high-level programming
languages:
• C – A powerful compiled language that is closely mapped to
machine code and used to develop operating systems.
• C++ – An enhanced compiled language developing on C to
provide classes for Object Oriented Programming (OOP).
• C# – A modern compiled language designed by Microsoft for
the .NET framework and Common Language Infrastructure.
• Java – A portable compiled language that is designed to run
on any platform regardless of the hardware architecture.
• Python – A dynamic interpreted language that allows both
functional and Object Oriented Programming (OOP)
Terminologi Koding
What are the
challenges and
opportunities
facing
computer
science
education ?
• CS disiplin ilmu yang menyentuh semua
lapisan dan populasi masyarakat
• Disposisi professional/soft skills (kegigihan,
kemandirian, adaptif, kerjasama, dst)
• Pengembangan konten kurikulum
✔ Sebagai Ilmu CS berkembang pesat (berkah)
sekaligus tantangan yang menyertainya
(challenges)
✔ Emerging technologies and area pengetahuan
(quantum computing, machine learning,
Generative AI, Fondasi Matematika, issues of
society and ethics profession, computational
thinking (disamping reading, writing and
arithmetic)
It will impact course
content, pedagogy,
and assessment
techniques
CT Pratik Lintas Bidang
🡪
opportunity for computer
science programs to offer
courses for non majors, both as
a service and a recruiting tool
Fondasi Koding & KA ?
CS Curricula 2023
ACM-IEEE
Terminologi Koding
The term software construction refers to the detailed
creation of working software through combination of
coding, verification, unit testing, integration testing, and
debugging.
Since software construction requires knowledge of
algorithms and of coding practices, it is closely related to
the Computing Foundations KA, which is concerned with
the computer science foundations that support the design
and construction of software products.
Body of Knowledge Software Engineering
Terminologi Koding
The following considerations apply to the software construction coding
activity
• Techniques for creating understandable source code, including naming
conventions and source code layout;
• Use of classes, enumerated types, variables, named constants, and other
similar entities;
• Use of control structures;
• Handling of error conditions—both anticipated and exceptional (input of
bad data, for example);
• Prevention of code-level security breaches (buffer overflows or array index
bounds, for example);
• Resource usage via use of exclusion mechanisms and discipline in
accessing serially reusable resources (including threads and database
locks);
• Source code organization (into statements, routines, classes, packages, or
other structures);
• Code documentation;
Body of Knowledge Software Engineering
Konsep Dasar Logika
Konsep Dasar Logika
Bridging the gap from here to there
• Mengapa matahari terbit pagi hari?
• Mengapa malam ada Bulan?
• Mengapa harus sekolah?
• Mengapa mobil menyala saat memutar kunci?
• Mengapa orang melanggar hukum, padahal tahu
bakal dipenjara?
Sejak usia dini meskipun mereka tidak memahami sesuatu,
tapi mereka akan menduga jawabannya pasti ada di suatu
tempat, yang ada dalam benak mereka kurang lebih:
"Jika saya di sini dan jawabannya ada di sana, apa yang
harus saya lakukan untuk sampai di sana?"
Beralih dari sini ke sana — dari ketidaktahuan menuju
pemahaman — adalah salah satu alasan utama logika
muncul. Logika tumbuh dari kebutuhan bawaan manusia
untuk memahami dunia dan, sejauh mungkin, memperoleh
kendali atas dunia yang dimaksud.
Understanding cause and effect
Salah satu cara untuk memahami adalah dengan
memperhatikan hubungan antara sebab dan akibat.
Bagaimana satu peristiwa menyebabkan peristiwa
lainnya, ini dapat ditempatkan dalam if-statement
Jika saya mengerjakan PR sekarang, maka saya akan
punya waktu untuk bermain
Jika ingin tubuh tetap sehat maka harus
memperhatikan apa yang dimakan
Jika saya ingin lulus ujian maka saya harus rajin belajar.
Understanding how if-statements work is an
important aspect of logic
Pembelajaran Koding
Pembelajaran Koding
Bagaimana membelajarkan
koding pada dikdasmen?
Tahapan Kemampuan yang
Dikuasai Peserta Didik
Pembelajaran Koding
Bagaimana membelajarkan koding pada dikdasmen?
Memaksimakan Potensi Anak dengan Koding
Melatih BK dengan Bermain di situs https://blockly.games/
Pada fase C dan Awal D, koding
yang dimaksud sejatinya bukan
pada text programming, tapi
melatih kemampuan bepikir logis
dan sistematis dalam balutan
Computational Thingking
umumnya, jikapun menggunakan
lingkungan pemorgraman akan
masuk pada kelompok blok
programming (Blocky, Scrath),
seperti yang dicontohkan pada
https://blockly.games/
Pada fase E dan F, Pseudocode to
text programming
Kecerdasan Artifisial
Terminologi Kecerdasan Artifisial
CS Curricula 2023 ACM-IEEE
Body of Knowledge
• “Intelligent Systems” to “Artificial Intelligence
• Penekanan pada aplikasi praktis AI pada berbagai bidang (medicine,
sustainability, social media)
• Model generatif (ChatGPT, DALL-E, Midjourney) mencakup cara kerjany,
kegunaannya, dan kekurangan
• Dampak dan implikasi sosial yang lebih luas dari metode dan aplikasi AI,
termasuk isu-isu dalam etika AI
Terdapat 12 Knowledge Unit:
Konsep Dasar, Machine Learning, NLP, Robotics, Computer Vission, Application n
Social Impact, dst
● Artificial Intelligence (AI)
● Algorithmic Foundations (AL)
● Architecture and Organization (AR)
● Data Management (DM)
● Foundations of Programming Languages (FPL)
● Networking and Communication (NC)
● Operating Systems (OS)
● Parallel and Distributed Computing (PDC)
● Software Development Fundamentals (SDF)
● Software Engineering (SE)
● Graphics and Interactive Techniques (GIT)
● Security (SEC)
● Society, Ethics, and the Profession (SEP)
● Human-Computer Interaction (HCI)
● Mathematical and Statistical Foundations (MSF)
● Systems Fundamentals (SF)
● Specialized Platform Development (SPD)
17 Knowledge Area
Terminologi Kecerdasan Artifisial
Terminologi "AI" dalam konteks mata pelajaran Koding dan AI di pendidikan dasar dan menengah merujuk pada pengenalan
dan pemahaman dasar tentang kecerdasan buatan. Ini mencakup beberapa konsep yang berbeda dibandingkan dengan
istilah AI yang lebih kompleks yang dipelajari di perguruan tinggi, serta perkembangan terbaru dalam ruang Generative AI
(Gen AI)
AI dalam Konteks Pendidikan Dasar
dan Menengah
Pengenalan Konsep:
Di tingkat ini, AI umumnya diperkenalkan
sebagai teknologi yang memungkinkan
komputer untuk melakukan tugas yang
biasanya memerlukan kecerdasan manusia.
Ini termasuk pengenalan pola, pemecahan
masalah, dan pengambilan keputusan.
Aplikasi Sederhana
Siswa dapat belajar tentang aplikasi AI yang
sudah ada dalam kehidupan sehari-hari,
seperti asisten virtual (misalnya, Siri atau
Google Assistant), rekomendasi produk,
dan teknologi pengenalan wajah, tanpa
harus masuk ke detail teknis yang
kompleks.
AI di Perguruan Tinggi
Pendalaman Teoretis dan Praktis
Di perguruan tinggi, studi AI mencakup
teori yang lebih mendalam, teknik machine
learning, deep learning, dan algoritma
kompleks yang digunakan dalam
pengembangan aplikasi AI. Mahasiswa
belajar tentang model matematika,
statistik, dan pemrograman yang
mendasari teknologi AI.
Penelitian dan Inovasi
Fokus juga beralih ke penelitian dan inovasi
dalam AI, termasuk pengembangan
algoritma baru, etika dalam AI, serta
dampak sosial dan ekonomi dari penerapan
teknologi AI.
Terminologi Kecerdasan Artifisial
Terminologi "AI" dalam konteks mata pelajaran Koding dan AI di pendidikan dasar dan menengah merujuk pada pengenalan
dan pemahaman dasar tentang kecerdasan buatan. Ini mencakup beberapa konsep yang berbeda dibandingkan dengan
istilah AI yang lebih kompleks yang dipelajari di perguruan tinggi, serta perkembangan terbaru dalam ruang Generative AI
(Gen AI)
Generative AI (Gen AI)
Definisi: Generative AI merujuk pada
subbidang AI yang menciptakan konten baru,
seperti teks, gambar, musik, atau video,
berdasarkan pola yang telah dipelajari dari
data. Contoh terkenal termasuk model seperti
GPT (untuk membuat teks) dan DALL-E (untuk
menghasilkan gambar).
Aplikasi di Pendidikan:
Sementara Generative AI potensi revolusioner
dari AI, di tingkat pendidikan dasar dan
menengah, fokus masih lebih pada
pemahaman dasar dan aplikasi praktis yang
mudah dicerna oleh siswa. Mungkin akan ada
pengenalan pada konsep Generative AI, tetapi
dengan cara yang lebih sederhana dan
aplikatif
Secara umum, istilah AI pada mata pelajaran
Koding dan Kecerdasan Artifisial di
pendidikan dasar dan menengah mencakup
pengenalan dan aplikasi dasar yang berbeda
dari AI yang dipelajari di perguruan tinggi
atau ruang Gen AI yang lebih spesifik dan
kompleks.
Tujuannya adalah untuk memberikan fondasi
awal kepada siswa agar mereka dapat
memahami dan tertarik pada teknologi ini,
sebelum melanjutkan ke studi yang lebih
dalam di tingkat yang lebih tinggi atau
pekerjaan yang membutuhkan
Peta Kompetensi
Sumber: (Hyunkyung Chee, et.all, A Competency Framework for AI Literacy, 2024; Unesco AI Framework, etc.)
Materi Koding dan KA
Fase C
Jenjang SD Kelas 5 dan 6
Materi Kompetensi Rasional
Konsep Dasar
Kecerdasan Artifisial
Mampu memahami istilah, definisi,
konsep, sejarah, jenis, penerapan,
prinsip, dasar etika dan limitasi
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar
mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analitis,
serta mempersiapkan peserta didik untuk tantangan dan
peluang di masa depan pada bidang Kecerdasan Artifisial
Berpikir
Komputasional
sebagai Dasar Koding
Mampu memahami konsep berpikir
komputasional (definisi, orientasi,
prinsip dan urgensi), memahami
Berpikir Komputasional sebagai
Dasar Koding dan contoh
penerapan
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar
mampu mengembangkan keterampilan berpikir sistematis dan
logis yang diperlukan pada pemecahan masalah berbantuan
pemrograman.
Konsep Dasar
Algoritma dan Logika
Mampu memahami konsep dasar
algoritma dan logika sederhana
(definisi dasar, jenis, logika dasar
dan representasi algoritma dasar)
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar
mampu mengembangkan keterampilan berpikir sistematis dan
logis yang diperlukan pada pemecahan masalah berbantuan
pemrograman.
Pemanfaatan
Kecerdasan Artifisial
Sederhana / Tingkat
Dasar
Mampu memahami pemanfaatan
Kecerdasan Artifisial Bidang umum
dan pemebelajaran
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar
mampu mengembangkan penggunaan Kecerdasan Artifisial
pada berbagaikebutuhan sehari-hari
Konsep dasar
teknologi digital
mampu memahami konsep dasar,
manfaat, dan dampak teknologi
digital
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar
mampu mengembangkan penggunaan teknologi digital pada
lingkungan keseharian
Sumber: (Hyunkyung Chee, et.all, A Competency Framework for AI Literacy, 2024; Unesco AI
Framework, etc.)
Fase D
Jenjang SMP Kelas 7, 8, dan 9
Materi Kompetensi Rasional
Literasi Digital Peserta didik mampu memproduksi dan mendiseminasi konten
digital berupa audio, video, slide, dan infografis.
Berpikir
Komputasional
Peserta didik mampu menerapkan pengelolaan data, pemecahan
masalah sederhana dalam kehidupan masyarakat secara
sistematis, dan menuliskan instruksi.
Literasi dan Etika
Kecerdasan Artifisial
Peserta didik mampu memahami perbedaan cara manusia dan KA
menggabungkan informasi dari beberapa perangkat penginderaan
atau sensor, memahami bagaimana komputer memaknai informasi
dari perangkat penginderaan atau sensor, memahami kualitas data,
serta manfaat dan dampak KA pada kehidupan masyarakat.
Peserta didik mampu memahami etika penggunaan KA dalam
kehidupan sehari-hari seperti menjaga data pribadi dalam
menggunakan KA, KA adalah sebagai alat bantu sehingga manusia
tidak boleh tergantung dan percaya sepenuhnya pada KA karena
KA masih sangat mungkin menghasilkan output yang salah, bias,
atau melakukan halusinasi, serta menganalisis konten deep fake
dalam bentuk gambar, audio, atau video.
Pemanfaatan dan
Pengembangan
Kecerdasan Artifisial
Peserta didik mampu menggunakan perangkat KA sederhana
dengan kritis dan mampu menuliskan input bermakna ke dalam
sistem KA.
Sumber: (Hyunkyung Chee, et.all, A Competency Framework for AI Literacy, 2024;
Unesco AI Framework, etc.)
Fase E
Jenjang SMA/K Kelas 10
Materi Kompetensi Rasional
Pemecahan masalah
menggunakan
perangkat/tools
Kecerdasan Artifisial
Mampu mengumpulkan, memproses data melalui
perangkat/tools Kecerdasan Artifisial dan mampu
merancang solusi berbantuan perangkat/tools
Kecerdasan Artifisial, termasuk teknik prompting dan
menginterpretasikan hasilnya
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik
agar mampu mengaplikasi keterampilan penyelesaian
masalah yang diperlukan pada dasar pemecahan masalah
berbantuan Kecerdasan Artifisial
Kreasi konten lebih
kompleks mengunakan
perangkat/tools
Kecerdasan Artifisial
Mampu mengaplikasikan berpikir kreatif dan merancang
proyek kreatif menggunakan menggunakan
perangkat/tools Kecerdasan Artifisial sederhana
(misalnya, gambar, teks, permainan atau animasi
interaktif)
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik
agar mampu menghasilkan berbagai konten kreatif
berbantuan teknologi Kecerdasan Artifisial.
Kolaborasi melalui
perangkat/tools
Kecerdasan Artifisial
Mampu menentukan perangkat/tools Kecerdasan
Artifisial yang sesuai untuk berkolaborasi (human- to-
tool (AI) collaboration). Materi Dasar: Desain Kreatif,
Penelitian dan Analisis Data, Penyuntingan Tulisan
(grammarly), Pemrograman (github), Diagnosa Medis
dst.
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik
agar mampu mengembangkan pemanfaatan berbagai
perangkat/tools Kecerdasan Artifisial untuk berkolaborasi,
sehingga dapat mendukung aktifitas kedepan
Mengenali unsur
pembentuk Prompt untuk
KA generatif
Pemahaman yang tentang konsep dasar bagaimana KA
generatif bekerja dan bagaimana prompt digunakan
untuk menghasilkan output yang diinginkan,
menganalisis dan mengevaluasi hasil yang dihasilkan
oleh KA generatif berdasarkan prompt yang diberikan
Menyusun Prompt merupakan salah satu dasar dalam
pemanfaatan dan pengembangan KA. Prompt yang jelas,
spesifik, dan terarah dapat dicapai dengan memahami
bagaimana memberikan instruksi yang tepat kepada KA
generatif untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Pemecahan masalah
menggunakan
perangkat/tools
Kecerdasan Artifisial
Mampu mengumpulkan, memproses data melalui
perangkat/tools Kecerdasan Artifisial dan mampu
merancang solusi berbantuan perangkat/tools
Kecerdasan Artifisial, termasuk teknik prompting dan
menginterpretasikan hasilnya
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik
agar mampu mengaplikasi keterampilan penyelesaian
masalah yang diperlukan pada dasar pemecahan masalah
berbantuan Kecerdasan Artifisial
Sumber: (Hyunkyung Chee, et.all, A
Competency Framework for AI Literacy,
2024; Unesco AI Framework, etc.)
Fase F
Jenjang SMA/K Kelas 11 dan 12
Materi Kompetensi Rasional
Pengoperasian dan
pengaplikasian perangkat AI
Kecerdasan Artifisial Pada
bidang tertentu/khusus
Mampu memahami dan mengaplikasikan
perangkat/tools Kecerdasan Artifisial pada area
pemanfaatan secara umum dan pada area
pemenfaatan Khusus (misalnya pada bidang
Pariwisata, Medis, Pertanian, Pemasaran dst)
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu
mengaplikasi keterampilan penyelesaian masalah yang diperlukan untuk
menyelesaikan masalah atau kreasi konten pada bidang umum dan pada
area pemenfaatan Khusus (disesuaikan dengan kebutuhan atau pada
jenjang SMK disesuiakan dengan konteks jurusan/peminatan) dengan
bantuan Kecerdasan Artifisial.
Pemograman Dasar
Kecerdasan Artifisial
Mampu mengembangkan konten Kecerdasan
Artifisial yang relevan dan bermanfaat
menggunakan perangkat/tools pemrograman
(misalnya Snap!, Python, termasuk pemanfaatan
library populer lainnya)
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu
mengembangkan keterampilan penyelesaian masalah dengan bantuan
pemograman Kecerdasan Artifisial (face recog, speech synthesis).
Verifikasi hasil dan akurasi
perangkat/tools Kecerdasan
Artifisial
Mampu mengindentifikasi potensi kesalahan hasil
dari pemanfaatan perangkat/tools Kecerdasan
Artifisial, memverifikasi keakuratan hasil, dan
Mampu merancang keputusan yang rasional
berdasarkan data yang tervalidasi
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu
mengembangkan keterampilan penyelesaian masalah yang akurat dan
mendukung pengambilan keputusan berdasarkan data dan sumber data
yang valid
Pengenalan model bahasa
besar (LLM) pada KA
Generatif
Memahami konsep dasar kecerdasan buatan,
khususnya model bahasa besar LLM, termasuk
arsitektur, cara kerja, dan aplikasi praktisnya
Merupakan teknologi yang sedang berkembang pesat dan memiliki potensi
untuk mengubah banyak aspek kehidupan. Peserta didik perlu memahami
teknologi ini agar siap menghadapi masa depan yang semakin didominasi
oleh Kecerdasan Artifisial (KA)
Pengoperasian dan
pengaplikasian perangkat AI
Kecerdasan Artifisial Pada
bidang tertentu/khusus
Mampu memahami dan mengaplikasikan
perangkat/tools Kecerdasan Artifisial pada area
pemanfaatan secara umum dan pada area
pemenfaatan Khusus (misalnya pada bidang
Pariwisata, Medis, Pertanian, Pemasaran dst)
Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu
mengaplikasi keterampilan penyelesaian masalah yang diperlukan untuk
menyelesaikan masalah atau kreasi konten pada bidang umum dan pada
area pemenfaatan Khusus (disesuaikan dengan kebutuhan atau pada
jenjang SMK disesuiakan dengan konteks jurusan/peminatan) dengan
bantuan Kecerdasan Artifisial.
Sumber: (Hyunkyung Chee, et.all, A
Competency Framework for AI Literacy,
2024; Unesco AI Framework, etc.)
Pembelajaran Kecerdasan Artifisial
Bagaimana membelajarkan
AI/KA pada dikdasmen?
Tahapan Kemampuan yang
Dikuasai Peserta Didik
Framework Pembelajaran KA
Beberapa framework:
1. AI4K12 Initiative: Inisiatif ini menawarkan kerangka kerja yang dikenal
sebagai "Five Big Ideas in AI," yang dirancang untuk membantu pendidik
memahami dan mengajarkan konsep AI kepada siswa K-12. Mereka juga
menyediakan sumber daya seperti buku, materi kurikulum, dan perangkat
lunak untuk mendukung pengajaran AI.
2. UNESCO's Mapping of K-12 AI Curricula: UNESCO telah merilis laporan
yang memetakan kurikulum AI yang disetujui pemerintah di berbagai
negara. Laporan ini memberikan wawasan tentang bagaimana berbagai
negara mengintegrasikan AI ke dalam pendidikan K-12 dan dapat menjadi
referensi bagi pendidik yang ingin mengembangkan kurikulum AI.
3. AI for the Future Project (AI4Future): Proyek ini, yang diprakarsai oleh The
Chinese University of Hong Kong, telah mengembangkan dan
mengevaluasi kurikulum AI untuk pendidikan pra-universitas. Mereka
berfokus pada pembuatan kurikulum yang dapat digunakan di sekolah
menengah dan telah menerima umpan balik positif.
Salah satu referensi yang disponsori oleh CSTA
(AI4K12), memberikan fokus AI pada K12
Pembelajaran Kecerdasan Artifisial
Simulasi cara kerja KA dengan bermain di situs
https://studio.code.org/s/oceans
Contoh Materi
• Kreasi konten mengunakan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial
(Manfaat Kreasi Konten dengan KA, Tahapan Kreasi Konten dengan KA,
Teknik Prompt Untuk Produksi Konten Kreatif)
• Kolaborasi melalui perangkat/tools Kecerdasan Artifisial --Human to AI
Collaboration– (Desain Kreatif, Penelitian dan Analisis Data, Penyuntingan
Tulisan, Kolaborasi dalam Pemograman dan dalam bidang khusus lainnya)
• Mengenali unsur pembentuk Prompt untuk KA generatif (Fondasi, Teknik,
Implementasi , Karir dan Etika)
• Pengoperasian dan pengaplikasian perangkat AI Kecerdasan Artifisial Pada
bidang Umum dan pada bidang tertentu/khusus.
• Pemograman Dasar Kecerdasan Artifisial (Python, Snap!, serta
pemanfaatan library Kecerdasan Artifisial populer lainnya)
• IDE untuk Mengembangkan Aplikasi Kecerdasan Artifisial (Google
Colaborator, Visual Studio Code, Spyder, dll)
• Pengenalan model bahasa besar /LLM pada KA Generatif (Konsep Dasar,
Peran LLM dalam Kecerdasan Artifisial Generatif, Teknik Integrasi
Pemrograman KA dengan Model LLM mialkan melalui API
Pembelajaran Kecerdasan Artifisial
Maze
Implementasi konsep speech Synthesis yang
dimanfaatkan untuk mengatur pergerakan
karakter/sprite dalam permainan labirin dengan
menggunakan platform Snap! Berkeley.
Prosesnya meliputi input suara, memproses suara,
mengatur agar karakter dapat bergerak sesuai
dengan perintah suara dari awal sampai menuju
rumah melalui labirin.
Berganti Wajah
Implementasi konsep speech recognition yang
dimanfaatkan untuk menampilkan image.
Prosesnya meliputi input suara, memproses suara,
mengatur agar image siswa tiga orang dapat berganti
sesuai dengan perintah suara baik individuak maupun
kelompok.
Klasifikasi sayuran
sebuah model machine learning yang bisa membedakan
tipe-tipe sayuran seperti singkong, kol, kangkung, dan
bayam menggunakan platform Google Teachable
Machine.
Prosesnya meliputi pengumpulan data, kemudian masuk
ke dalam proses pembersihan data, validasi data, proses
training model, hingga mengevaluasi model machine
learning. Akhir output dari project ini adalah model bisa
membedakan macam-macam jenis sayuran
Strategi Pembelajaran
Problem/Project Based Learning dan Case Method, melibatkan
peserta didik dalam aplikasi persoalan nyata pada bidang umum dan
pada area pemenfaatan Khusus (disesuaikan dengan kebutuhan atau
pada jenjang SMK disesuiakan dengan konteks jurusan/peminatan)
untuk diselesaikan dengan bantuan teknologi Kecerdasan Artifisial.
Contoh: Menggunakan berbagai perangkat/tools Kecerdasan
Artifisial yang sesuai dengan persoalan yang diberikan, Studi Kasus
melibatkan peserta didik dalam persoalan nyata.
Variasi Metode Pembelajaran
Menggunakan berbagai metode agar peserta didik tidak bosan
termasuk menerapkan model gamifikasi, termasuk unplugged yang
meduplikasi/meniru blok program.
Contoh: Kombinasi ceramah, dan simulasi dalam mengajarkan
perangkat/tools Kecerdasan Artifisial, Menciptakan Model
Eksperimen Virtual.
Memahami
Mengaplikasikan
Merefleksikan
Pengalaman
Belajar
1
2
Kompetensi Afektif
Kompetensi Afektif
1. Kepercayaan diri dan self-efficacy pemanfaatan Kecerdasan Artifisial.
Peserta didik memiliki kepercayaan diri dan self- efficacy untuk meningkatkan minat dan motivasi dalam pemanfataan teknologi
Kecerdasan Artifisial.
Kepercayaan diri merupakan keyakinan umum peserta didik setelah melalui proses pembelajaran bahwa sebagai kemampuan
belajar, beradaptasi, dan keberhasilan menggunakan alat dan sistem berbasis Kecerdasan Artifisial.
Sementara self- efficacy merupakan keyakinan yang lebih spesifik bahwa peserta didik mampu memanfaatkan teknologi
Kecerdasan Artifisial untuk menyelesaikan tugas tertentu, seperti menulis dan atau menghasilkan konten, menganalisis data,
atau membuat model dukungan data pada bidang tertentu sesuai minat dan konsentrasi pendidikannya, misalnya dalam
bidang pariwisata, pertanian, medis dan seterusnya.
2. Pola pikir reflektif pemanfaatan Kecerdasan Artifisial
Sesuai dengan model pembelajaran mendalam atau bermakna, dimana pengalaman belajar diarahkan pada kemampuan
reflektif.
Peserta didik memiliki pola pikir reflektif dan mampu menilai pemahaman seseorang tentang Kecerdasan Artifisial, mampu
menentukan/menilai tingkat literasi Kecerdasan Artifisial seseorang, dan mengenali bidang/area yang memerlukan
pembelajaran Kecerdasan Artifisial lebih lanjut, khususnya pada jenjang SMK yang membutuhkan pemahaman dan aplikasi
secara kontekstual berdasakan konsentrasi minat dan konsentrasi pendidikannya.
Kurikulum hanyalah sebuah resep. Seenak apapun, jika kokinya tidak mampu memasak, maka masakan tidak akan enak,
bahkan melenceng. Koki yang handal dan kreatif akan mampu mengadaptasi bahan lokal untuk menghasilkan masakan
yang enak dan tidak melenceng
Peran Guru Pengampu Mapel Sangat Penting
THREE MAIN COMPONENTS IN LEARNING PROCESS
Pendidikan Dasar dan Menengah
Pengoperasian, Pengaplikasian, dan
Kolaborasi Perangkat Kecerdasan Artifisial
Materi 2
Pokok Materi
Definisi Kecerdasan Artifisial (KA) Menurut
Para Pakar
Definisi Kecerdasan Artifisial (KA)
Seiring berjalannya waktu, pengertian tentang Kecerdasan Artifisial (KA)
terus mengalami perkembangan, kerap bersentuhan dengan pertanyaan
filosofis mengenai makna sejati dari "kecerdasan" dan sejauh mana mesin
dapat dikatakan benar-benar cerdas. Namun dalam praktiknya, KA mengacu
pada sistem yang memungkinkan komputer belajar dari data, mengenal
pola, serta membuat prediksi atau keputusan secara mandiri.
Karakterisitik Kecerdasan Artifisial (KA)
KA belajar dari data (Machine Learning)
KA bisa belajar dari data yang diberikan kepadanya (Russell & Norvig, 2021).
Semakin banyak data yang ia pelajari, semakin baik kemampuannya.
KA mampu beradaptasi dan meningkatkan performanya
Jika KA awalnya sering melakukan kesalahan, ia bisa memperbaiki dirinya sendiri
dengan belajar dari kesalahan tersebut (Goodfellow et al., 2016).
Karakterisitik Kecerdasan Artifisial (KA)
KA bekerja berdasarkan algoritma dan model prediktif
KA bekerja dengan aturan dan langkah-langkah matematis yang disebut algoritma.
Dengan algoritma ini, KA bisa memprediksi sesuatu sebelum terjadi berdasarkan pola
data yang telah dipelajari (Domingos, 2015).
KA mampu mengenali pola dan membuat keputusan secara
otomatis
KA tidak hanya melihat data, tetapi juga bisa menemukan pola yang tidak terlihat oleh
manusia. Dari pola-pola ini, KA bisa membantu mengambil keputusan secara otomatis
(Mitchell, 1997).
Kecerdasan Artifisial Versus Manusia
Manakah yang lebih baik ?
Kecerdasan Artifisial Versus Manusia
Komponen Utama Kecerdasan Artifisial
Prinsip Kerja Kecerdasan Artifisial
Cara Kerja KA (diadaptasi dari Abdaladze, n.d.)
Evolusi dan Faktor Pendorong
Perkembangan KA
Tiga Subkategori Kecerdasan Artifisial
Kategori Perangkat KA dan Contoh
Aplikasinya
Kecerdasan Artifisial Berdasarkan Fungsinya
Pengoperasian Perangkat KA
1. Input Data
Pengoperasian KA dimulai dengan mengumpulkan data berupa teks, gambar, suara, video, atau
data sensor lainnya. Data ini menjadi "bahan bakar" bagi KA untuk belajar dan bekerja.
2. Pemrosesan Data (Processing)
Data yang telah dikumpulkan kemudian diproses menggunakan algoritma KA, seperti machine
learning, deep learning, atau natural language processing. Proses ini dilakukan oleh komputer,
server, atau perangkat khusus seperti chip KA (misalnya NVIDIA Jetson, Google Coral, dsb.).
3. Pelatihan Model (Model Training)
Pada tahap ini, KA dilatih menggunakan data untuk mengenali pola atau melakukan klasifikasi.
Misalnya, mengenali wajah, menerjemahkan bahasa, atau menganalisis perilaku.
4. Inferensi (Inference)
Setelah dilatih, KA dapat mengambil keputusan atau memberikan prediksi berdasarkan data
baru. Contoh: sistem KA dapat mengenali apakah seseorang memakai masker atau tidak melalui
kamera.
Pengoperasian Perangkat KA
5. Output atau Tindakan
Hasil dari pemrosesan ditampilkan dalam bentuk jawaban, rekomendasi, peringatan, atau
tindakan otomatis. Contohnya:
Asisten suara memberikan jawaban.
Mobil pintar melakukan pengereman otomatis.
Aplikasi menampilkan rekomendasi konten.
6. Umpan Balik dan Pembelajaran Berkelanjutan
Beberapa sistem AI dapat belajar dari kesalahan atau masukan pengguna (feedback loop) untuk
meningkatkan akurasi dan kinerja di masa depan.
Contoh Perangkat yang Menggunakan KA
Smartphone (face unlock, kamera pintar), Smart speaker (Google Home, Alexa), Robot edukasi
Kamera pengawas pintar, Aplikasi rekomendasi (YouTube, Netflix)
Sistem pendeteksi penyakit berbasis citra medis
Aplikasi KA dalam Berbagai Bidang
Aplikasi KA dalam Berbagai Bidang
Profesi Utama di Bidang KA
Profesi Utama di Bidang KA
Peta Profesi Masa Depan: Siapa Bertahan, Siapa
Tergeser oleh AI?
❑ Transformasi digital dan KA
mengubah dunia kerja secara
besar-besaran.
❑ Banyak profesi baru bermunculan,
terutama di bidang teknologi dan
data.
❑ Profesi tradisional yang bersifat
rutin mulai tergeser otomatisasi.
❑ Laporan Future of Jobs 2025
menyoroti tren ini secara global
Peta Profesi Masa Depan: Siapa Bertahan,
Siapa Tergeser oleh AI?
❑ Pemahaman tentang profesi
berbasis KA penting untuk
kesiapan karier.
❑ Pendidikan perlu menyesuaikan:
fokus pada literasi teknologi dan
keterampilan adaptif.
❑ Pembelajaran KA harus
dirancang untuk membekali
siswa menghadapi perubahan
kerja.
Kolaborasi Manusia dan KA :
Transformasi Berbagai Bidang
Kolaborasi Manusia dan KA :
Transformasi Berbagai Bidang
Kuadran Kolaborasi Manusia-KA
Kai-Fu Lee (2018) memetakan empat
bentuk kolaborasi manusia-KA dalam
sebuah kuadran. Pemetaan ini berfungsi
sebagai panduan bagi manusia untuk
mengoptimalkan kapabilitasnya di era
KA.
https://www.futuremindslab.com
Mengatasi Tantangan Implementasi KA
" Guru tidak tergantikan oleh AI—mereka
ditingkatkan olehnya”
Mas’ad Fachir
Tim Fasilitator Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah
Materi 3.
REKAYASA PROMPT
UNTUK KREASI KONTEN
Mengenali Unsur Pembentuk Prompt
untuk Kecerdasan Artifisial Generatif
Definisi KA Generatif
Kecerdasan Artifisial (KA) Generatif merupakan cabang dari kecerdasan artifisial yang berfokus pada
pembuatan konten baru (baik berupa teks, gambar, musik, maupun video) dengan menggunakan model
pembelajaran mendalam (deep learning).
Jenis KA Generatif yang digunakan secara luas, meliputi:
Konsep Dasar Kecerdasan Artifisial Generatif
Jenis KA Generatif
ChatGPT & LLM Lainnya DALL-E & Pembuat Gambar MusicLM & Pembuat Musik Pembuat Video & Animasi
Model KA untuk menghasilkan
teks
Model KA untuk mengubah prompt
menjadi gambar
Model KA untuk menciptakan
musik
Model KA untuk membuat video
dan animasi
Definisi Prompt
Prompt merupakan perintah atau instruksi yang diberikan kepada model KA untuk
menghasilkan keluaran yang diinginkan. Dalam konteks KA generatif, prompt memiliki peran
krusial sebagai pengarah proses pembuatan konten.
Fungsi Utama Penggunaan Prompt
Peran dan Fungsi Prompt
Mengatur Konteks
Prompt menyediakan konteks
yang diperlukan bagi model
KA untuk memahami topik,
gaya, dan tujuan output yang
diharapkan.
Memberi Instruksi Spesifik
Instruksi yang jelas dan spesifik
akan membantu model KA untuk
memfokuskan output pada area
tertentu.
Menentukan Format Output
Sebuah prompt dapat mencakup
instruksi mengenai pemformatan
(misalnya: daftar poin, esai naratif,
atau dialog)
Memfasilitasi Kreativitas
Memberikan elemen kreatif dalam
prompt, seperti metafora, analogi,
atau skenario, model KA dapat
menghasilkan output yang juga
memiliki nilai estetika.
1
Informasi latar
belakang untuk
memandu KA
memahami situasi
atau audiens
Konteks
(Background)
2 3 4 5
Informasi khusus
yang perlu diproses
KA, seperti teks,
angka, atau data
mentah
Data/Input
Spesifik
Demonstrasi output
yang diharapkan
untuk memandu
format, gaya, atau
konten
Contoh
(Examples)
Pengaturan yang
mengontrol output,
seperti panjang,
tingkat kreativitas,
dan pilihan model
Parameter Teknis
Inti dari prompt yang
menjelaskan tugas
yang harus dilakukan
KA
Instruksi
(Task)
6
Penyesuaian bahasa
sesuai kebutuhan:
formal, kasual, teknis,
atau humoris
Nada dan Gaya
(Tone/Style)
7 8 9 10
Larangan atau
pembatasan konten
Batasan
(Constraints)
Meminta KA
berperan sebagai ahli
atau karakter
tertentu
Peran (Role
Specification)
Proses memperbaiki
prompt berdasar
respons sebelumnya
Penyempurnaan
Iteratif
Spesifikasi struktur
respon, seperti
daftar, tabel, JSON,
atau paragraf
Format
Output
Unsur-unsur Pembentuk Prompt
Kejelasan (Clarity)
Memastikan prompt mudah
dipahami dan tidak ambigu.
Spesifisitas (Specificity)
Menyediakan detail yang tepat
untuk memandu output model.
Konteks
Memberikan latar belakang
yang diperlukan untuk
pemahaman.
Kreativitas dan
Kebebasan Berekspresi
Memungkinkan eksplorasi ide-ide
baru dan inovasi.
Contoh Output:
Unsur Penting Prompt yang Efektif
Strategi Penyusunan Prompt
Output KA yang
Disempurnakan
Input Prompt
KA
Iterasi
Prompt
Evaluasi
Kreativitas
Penilaian
Relevansi
Identifikasi
Bias
Analisis
Akurasi
Strategi iterasi prompt yang diadaptasi
dari Google Cloud:
https://cloud.google.com/vertex-ai/gen
erative-ai/docs/learn/prompts/prompt-
iteration?hl=id
Analisis Dan Evaluasi Output KA Generatif
Berdasarkan laporan dari World Economic Forum (2023), 34% pengguna
KA cenderung mengalami penurunan kemampuan analitis dan terlalu
bergantung pada solusi instan. Fokus utama pengguna KA, seharusnya,
tidak hanya berhenti di cara menggunakan KA secara efektif, tetapi juga
memetakan ulang pola pikir dalam berinteraksi dengan teknologi
sedemikian sehingga KA digunakan untuk meningkatkan kapasitas diri.
KA dalam Konteks Pembelajaran Modern
Definisi
Teknik
Menggunakan KA untuk
memperluas, bukan menggantikan
kemampuan manusia.
Teori Beban Kognitif
KA dapat:
● Mengurangi extraneous load
(bantu tugas administratif)
● Meningkatkan germane load
(fokus ke analisis & refleksi)
Growth
Mindset
“Buatkan peta konsep yang
menunjukkan hubungan antara
IoT, sensor, dan data dalam
konteks sistem monitoring suhu
ruangan"
Mempertahankan
Kendali (Agency)
Contoh
Prompt
Augmentasi
Skill
“Kategorikan respons survei, lalu
ajukan 3 pertanyaan analisis”
Prinsip
Pengguna tetap menjadi pengendali
proses berpikir
Fokus pada proses belajar, bukan
hasil instan. Jadikan KA sebagai
mitra pengembangan diri
Teknik Pertanyaan 3 Lapisan
● Lapis 1 – Fakta: Apa?
● Lapis 2 – Analisis: Bagaimana
perbedaannya?
● Lapis 3 – Refleksi: Mengapa ini
penting bagi saya?
Prompt Reflektif
● Prompt yang berorientasi
proses bukan lagi prompt
pasif.
● Fakta: "Apa definisi machine
learning?"
● Analisis: "Bagaimana machine learning
berbeda dari pemrograman
tradisional?"
● Reflektif: "Mengapa konsep ini relevan
dengan karir saya?
Prinsip Dasar Prompting yang Sehat
Teknik Dekonstruksi Argumen
Membongkar argumen kompleks menjadi
komponen-komponen yang lebih kecil untuk
analisis.
Metode Socratic Prompting
Menggunakan pertanyaan untuk mengungkap
asumsi dan mendorong penalaran yang lebih dalam.
Analisis Bias dan Perspektif
Membandingkan sudut pandang untuk
meningkatkan kesadaran kritis. Tindak lanjut:
Gunakan tools seperti CRAAP Test untuk
mengevaluasi sumber yang direkomendasi KA
Elemen CRAAP
Periksa apakah informasi atau data yang disajikan berasal dari
sumber yang terbaru dan relevan dengan perkembangan
teknologi pendidikan terkini.
Strategi
Currency
(Keterkinian)
Relevance
(Keterkaitan)
Pastikan sumber tersebut secara langsung membahas topik
penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran, dan
relevan dengan kedua teori (kognitivisme dan
konstruktivisme).
Authority
(Kewenangan)
Evaluasi kredibilitas penulis atau lembaga yang mengeluarkan
sumber tersebut.
Accuracy
(Akurasi)
Verifikasi apakah data dan argumen yang disampaikan
didukung oleh bukti yang dapat dipercaya, seperti hasil riset
atau studi kasus yang valid.
Purpose
(Tujuan)
Analisis tujuan dari sumber tersebut. Apakah informasi
disajikan secara objektif bertujuan untuk mendidik atau ada
agenda tertentu yang dapat mempengaruhi isi dan sudut
pandangnya?
Melatih Berpikir Kritis dengan KA
KA menyesuaikan rencana belajar
berdasarkan kinerja siswa
KA menyusun jadwal belajar yang disesuaikan
dengan materi dan latihan.
Siswa melakukan tes diagnostik untuk
mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan.
Rencana Belajar Penyesuaian Rencana
Profil Belajar
KA mengevaluasi pekerjaan siswa dan memberikan
umpan balik yang konstruktif.
Penetapan Target Evaluasi dan Umpan Balik
Siswa dan KA menetapkan target yang dapat
dicapai untuk perbaikan.
Contoh Proses Pembelajaran yang Dipersonalisasi dengan KA:
KA berfungsi seperti personal trainer yang memberikan panduan, memantau kemajuan,
dan menyesuaikan latihan berdasarkan kebutuhan individu
KA sebagai Personal Trainer
1. Keterbatasan Koneksi dan Empati
Manusia
● KA tidak dapat memberikan motivasi, dorongan, dan
penghayatan emosional sebagaimana yang dapat ditawarkan
pelatih manusia.
● Unsur manusia ini penting untuk membangun kepercayaan
dan kedekatan, yang menjadi fondasi keberhasilan pelatihan
jangka panjang.
2. Kemampuan Terbatas dalam Menyesuaikan Diri
dengan Kebutuhan dan Kondisi Individu
● KA mungkin tidak mampu menyesuaikan rencana latihan
berdasarkan performa waktu nyata, tingkat kelelahan,
maupun perubahan mendadak dalam jadwal pelatihan.
● Pelatih manusia dapat melakukan penyesuaian spontan
sesuai perkembangan dan kebutuhan khusus peserta.
3. Potensi Ketergantungan Berlebih dan Kurangnya
Akuntabilitas
● Meskipun KA dapat memberikan pengingat dan dorongan,
efektivitasnya dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab
dan memotivasi agar konsisten sering kali lebih rendah
dibandingkan pelatih manusia.
● Ketergantungan berlebihan pada KA dapat mengurangi
kesadaran diri dan kemampuan manusia untuk mengambil
keputusan mandiri terkait latihan.
4. Kekhawatiran terhadap Privasi dan Keamanan Data
● Sistem KA kerap memproses informasi pribadi yang sensitif,
sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai privasi dan
keamanan data.
● Penggunaan KA dalam berbagai bidang harus dilakukan
secara aman dan bertanggung jawab, terutama untuk
pengguna yang rentan
Keterbatasan KA sebagai Personal Trainer
Pertanyaan
Refleksi Diri
Teknik
"20-40-40”
Evaluasi penggunaan KA
secara berkala. “Apakah saya
menggunakan KA untuk
menghindari kesulitan atau
untuk mengatasinya?”
❏ 20% KA : Gunakan KA untuk
tugas repetitif
❏ 40% Kolaborasi: Diskusikan
output KA dengan rekan
❏ 40% Mandiri: Analisis,
sintesis, dan eksekusi tugas
tanpa KA
Pembatasan Waktu
Penggunaan KA
Checklist Kritis Sebelum
Melakukan Prompting
Modifikasi Teknik Pomodoro:
25 menit kerja mandiri
5 menit klarifikasi dengan KA
Ulangi siklus, dengan jeda
15 menit setiap 2 jam.
❏ Saya sudah mencoba
menjawab
sendiri
❏ Saya tahu apa yang ingin
dicapai dari respon KA
❏ Saya siap memverifikasi
informasi dari sumber lain
Strategi Menghindari Jebakan Ketergantungan
Kreasi Konten Menggunakan
Perangkat Kecerdasan Artifisial
Definisi Kreasi Konten dengan KA
Kreasi konten dengan KA adalah proses kolaboratif yang menggabungkan kemampuan analitis dan kreatif yang
dimiliki mesin dengan wawasan dan intuisi manusia
Manfaat Penggunaan KA dalam Kreasi Konten
Tahapan kreasi konten dengan KA
1) Efisiensi Produksi; 2) Inovasi dan Eksperimen; 3) Kustomisasi dan Personalisasi
Brainstorming
Drafting Editing dan
Revisi
Dokumentasi
Proses
Pengguna
mengumpulkan
ide-ide awal
KA
menghasilkan
konten awal
Pengguna
menyempurnakan
konten KA
Iterasi dan revisi
didokumentasikan
Dasar-dasar Kreasi Konten dengan KA
KA dapat memiliki peran dengan membantu pengguna untuk melakukan
brainstorming dan mind mapping secara digital. Pengembangan ide melalui
pendekatan digital ini memungkinkan penyusunan konsep yang terintegrasi antara
analisis data dan intuisi kreatif yang dimiliki manusia, sehingga menghasilkan
konten yang tidak hanya informatif tetapi juga menarik dan relevan.
— Prompt Engineering Guide, 2019
Pengembangan Ide dan Kreativitas Digital
2
3
1
4
Tentukan apa yang ingin dicapai melalui konten tersebut. Apakah untuk
mengedukasi, menginspirasi, menghibur, atau menginformasikan?
Definisikan Tujuan Konten
Jelaskan latar belakang, target audiens, dan konteks yang relevan. Hal ini
membantu KA menghasilkan konten yang lebih terarah.
Sertakan Elemen Kontekstual
Jika memungkinkan, sertakan contoh-contoh format atau gaya yang diinginkan.
Beri Contoh
Buat prompt multi-langkah di mana output awal dievaluasi dan prompt direvisi
berdasarkan feedback.
Terapkan Teknik Iteratif
Teknik Perancangan Prompt untuk Produksi
Konten Kreatif
Penyuntingan dan
Kurasi Konten
Memastikan kualitas
dan akurasi konten
Penggabungan dengan
Elemen Lain
Menggabungkan visual dan
interaktivitas
Dokumentasi
Proses Kerja
Mencatat semua langkah
pengembangan
Uji Coba dan
Feedback
Mengumpulkan masukan
untuk perbaikan
Integrasi Konten dalam Proyek Nyata
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Membuat
Presentasi
Visual
Pendukung
Menulis
Skenario
Merekam
Narasi
Mengedit
Video
Menggunakan Gamma
untuk membuat
presentasi yang menarik
secara otomatis.
Menghasilkan
ilustrasi atau grafik
dengan Napkin.ai
untuk mendukung
pembelajaran.
Menggunakan ChatGPT
atau lainnya untuk
menyusun skrip video
yang menarik.
Menambahkan
narasi profesional
menggunakan
TTSMaker.
Mengedit video
menggunakan
Canva serta
interaktivitas pada
Quizizz.
1 2 3 4 5&6
+
Membuat Video Pembelajaran dengan KA
Isu Etika Utama Kreasi Konten dengan KA
Plagiarisme & Hak Cipta
Bias & Ketidakberpihakan Akuntabilitas & Tanggung Jawab
Isu Lingkungan
Transparansi Penggunaan
Output yang dihasilkan oleh KA harus diperiksa agar tidak melanggar hak cipta
atau meniru karya orang lain secara tidak sah. Pengguna harus memastikan
bahwa konten tersebut original atau disertai dengan atribusi yang tepat jika
mengacu pada sumber eksternal.
Contoh nyata dari permasalahan ini adalah gugatan hukum yang diajukan oleh Getty
Images terhadap perusahaan KA bernama Stability AI pada tahun 2023. Stability AI
merupakan pengembang dari Stable Diffusion, sebuah model generatif yang dapat
membuat gambar baru berdasarkan perintah teks. Getty Images menuduh bahwa
Stability AI secara tidak sah telah menggunakan lebih dari 12 juta gambar berlisensi
milik mereka untuk melatih model tersebut tanpa izin atau kompensasi. Gugatan
tersebut diajukan di pengadilan federal AS dan juga di Inggris, dengan tuduhan
pelanggaran hak cipta dalam skala besar (Reuters, 2023).
Plagiarisme & Hak Cipta
Isu Etika Utama Kreasi Konten dengan KA
Model KA sering kali mewarisi bias dari data latihnya. Oleh karena itu, penting
untuk mengevaluasi output dan mengoreksi bagian-bagian yang menunjukkan
bias gender, etnis, atau budaya.
Contoh kasus yang cukup dikenal adalah sistem rekrutmen berbasis KA yang
dikembangkan oleh Amazon pada tahun 2018. Sistem tersebut secara otomatis menilai
dan menyaring lamaran kerja, namun terbukti menunjukkan bias terhadap pelamar
perempuan. Hal ini terjadi karena model dilatih menggunakan data lamaran historis
selama 10 tahun, yang didominasi oleh laki-laki di bidang teknologi. Akibatnya,
algoritma mulai menurunkan peringkat lamaran yang mengandung kata-kata yang
berasosiasi dengan perempuan. Menyadari hal ini, Amazon akhirnya membatalkan
proyek tersebut secara internal sebagai bentuk tanggung jawab etis (Reuters, 2018).
Bias & Ketidakberpihakan
Isu Etika Utama Kreasi Konten dengan KA
Penggunaan KA dalam kreasi konten sebaiknya diumumkan secara
terbuka kepada audiens, terutama bila konten tersebut
mempengaruhi opini publik atau keputusan penting.
Salah satu contoh kasus adalah ketika The Guardian pada tahun 2020
menerbitkan artikel opini yang ditulis oleh KA GPT-3. Meskipun disebutkan
bahwa artikel tersebut dibuat dengan KA, banyak pembaca tidak mengetahui
bahwa isi artikel merupakan hasil kurasi dari beberapa output dan telah
disunting oleh editor manusia. Hal ini memicu perdebatan tentang
pentingnya menyampaikan secara jujur sejauh mana keterlibatan manusia
dalam konten yang diklaim dihasilkan oleh KA (The Guardian, 2020)
Transparansi Penggunaan
Isu Etika Utama Kreasi Konten dengan KA
Pengguna KA harus bertanggung jawab atas output yang dihasilkan. Proses
verifikasi dan validasi konten menjadi kunci untuk memastikan bahwa
informasi yang dipublikasikan tidak menyesatkan dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Contoh kasusnya adalah pada tahun 2016, Microsoft meluncurkan chatbot KA bernama
Tay di platform Twitter (sekarang X), yang dirancang untuk belajar dari percakapan
dengan pengguna. Namun, hanya dalam hitungan jam, Tay mulai mengeluarkan cuitan
yang rasis, seksis, dan ofensif akibat masukan dari pengguna internet yang
mengeksploitasi celah dalam desain pembelajarannya. Menyadari bahaya tersebut,
Microsoft segera menonaktifkan Tay, mengeluarkan permintaan maaf resmi, dan
mengakui bahwa mereka kurang mengantisipasi potensi penyalahgunaan dari publik.
Microsoft kemudian berkomitmen untuk memperkuat kebijakan pengembangan KA
mereka, termasuk aspek etika, keamanan, dan akuntabilitas dalam desain sistem
berbasis pembelajaran mesin (IEEE Spectrum, 2023).
Akuntabilitas & Tanggung Jawab
Isu Etika Utama Kreasi Konten dengan KA
Selain isu etika dalam penggunaan Kecerdasan Artifisial (KA), penting pula
untuk mempertimbangkan dampak ekologisnya, khususnya terkait
konsumsi energi dan emisi karbon.
● Sebuah studi oleh Strubell et al. (2019) menunjukkan bahwa pelatihan model
NLP canggih dapat menghasilkan emisi hingga 284 ton CO₂, setara dengan
lebih dari 300 penerbangan sekali jalan antara London dan New York (Strubell
et al., 2019)
● pelatihan GPT-3 dapat mengkonsumsi air setara dengan memproduksi 370
botol air (500 ml) untuk setiap 20–50 pertanyaan yang diajukan ke model AI
(Li & Hao, 2023).
● Konsumsi listrik oleh pusat data secara global dapat lebih dari dua kali lipat
pada tahun 2030, sebagian besar dipicu oleh meningkatnya adopsi teknologi
KA (IEA, 2023)
Isu Lingkungan
Isu Etika Utama Kreasi Konten dengan KA
Peningkatan Kualitas Pembelajaran dan Pemahaman:
Penggunaan KA generatif harus ditujukan untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran, memfasilitasi pemahaman konsep yang lebih mendalam,
dan mendorong pemikiran kritis.
Pengembangan Keterampilan Abad ke-21:
Pemanfaatan KA generatif harus membantu peserta didik dalam
mengembangkan keterampilan yang relevan untuk abad ke-21, seperti
literasi digital, kemampuan analisis informasi
Integritas Akademik:
Pengguna KA generatif harus memahami batasan penggunaan KA
generatif dan tidak menggunakannya untuk melakukan plagiarisme
atau kecurangan akademik lainnya.
Transparansi dan Akuntabilitas Penggunaan:
Pendidik dan peserta didik perlu memiliki pemahaman yang jelas
tentang batasan dan potensi bias dalam hasil yang dihasilkan oleh KA
generatif juga perlu disadari.
Pengembangan Kemandirian Belajar:
Penggunaan KA generatif harus mendorong kemandirian belajar
peserta didik, bukan membuat mereka bergantung sepenuhnya pada
teknologi.
Akses yang Adil dan Merata:
Upaya perlu dilakukan untuk memastikan bahwa akses terhadap alat
dan sumber daya KA generatif tersedia secara adil dan merata bagi
seluruh peserta didik.
Privasi dan Keamanan Data:
Jika dalam penggunaan KA generatif melibatkan pengumpulan atau
pemrosesan data pribadi, prinsip-prinsip privasi dan keamanan data
harus dihormati dan dipatuhi.
Pengembangan Kebijakan yang Jelas:
Pemangku kebijakan dalam bidang pendidikan perlu mengembangkan
kebijakan yang jelas mengenai penggunaan KA generatif dalam
pembelajaran.
Pedoman Etis Penggunaan KA Generatif
● Menggunakan KA generatif sebagai alat bantu
untuk belajar dan mengembangkan pmahaman,
bukan untuk melakukan kecurangan akademik.
● Mencantumkan dengan jelas jika menggunakan
output dari KA generatif dalam tugas atau
pekerjaan akademik, sesuai dengan kebijakan
institusi.
● Mengembangkan kemampuan untuk mengevaluasi
secara kritis informasi yang dihasilkan oleh KA
generatif dan memverifikasinya dari sumber lain.
● Bertanggung jawab atas hasil pekerjaan akademik
yang mereka kumpulkan, meskipun sebagian
dibantu oleh KA generatif.
Bagi PESERTA DIDIK:
● Memberikan panduan yang jelas kepada peserta
didik mengenai batasan dan cara penggunaan KA
generatif yang diperbolehkan dalam tugas dan
kegiatan pembelajaran.
● Mendorong penggunaan KA generatif sebagai alat
bantu untuk brainstorming, mencari ide, atau
memahami konsep, bukan sebagai pengganti
pemikiran dan analisis mandiri.
● Merancang tugas yang mendorong pemikiran
kritis, analisis, dan sintesis informasi yang tidak
dapat sepenuhnya digantikan oleh KA generatif.
● Mengevaluasi hasil pekerjaan peserta didik tidak
hanya berdasarkan output yang dihasilkan, tetapi
juga pada proses pemahaman dan keterlibatan.
Bagi PENDIDIK:
Implikasi Praktis Penggunaan KA Generatif
Dalam Pembelajaran
KODING DAN
KECERDASAN ARTIFISIAL
Pendidikan Dasar dan Menengah
Modul 4
Dasar Pemrograman
Kecerdasan Artifisial
KA dan Machine Learning
KA bukan hanya Machine Learning
Meskipun banyak yang mengasosiasikan KA secara
eksklusif dengan machine learning (ML) karena
kemampuannya untuk belajar dari data, KA
sebenarnya mencakup spektrum yang jauh lebih luas
Ragam Bahasa Pemrograman Kecerdasan Artifisial
Dasar Pemrograman Python
Variabel & Tipe Data
Sumber: https://automatetheboringstuff.com/2e/chapter2/
Variabel di Python adalah “kotak” penyimpanan berlabel yang dibuat untuk
menyimpan dan mengambil data—seperti angka, teks, atau daftar—selama program
berjalan.
Dasar Pemrograman Python (lanjutan)
Operator
Operator di Python adalah simbol atau kata kunci (mis. + - * / ** % // and or not) yang
memerintahkan komputer melakukan perhitungan atau logika pada nilai
tipe data—seperti int, float, str, bool, list, tuple, set, dan dict—
menentukan bentuk serta sifat nilai itu agar operator tahu cara
memprosesnya.
Dasar Pemrograman Python
Sumber: https://automatetheboringstuff.com/2e/chapter2/
Struktur kontrol di Python adalah perintah memungkinkan
program untuk mengambil jalur eksekusi yang berbeda
berdasarkan suatu kondisi tertentu.
1. Percabangan (Decision), seperti if, elif, dan else.
2. Perulangan (Looping / Iterasi), seperti for dan while.
Dasar Pemrograman Python
Sumber: https://automatetheboringstuff.com/2e/chapter2/
Struktur kontrol di Python adalah perintah seperti if, for,
dan while yang mengatur alur eksekusi program sehingga
komputer dapat memilih, mengulang, atau melewati blok kode
sesuai kondisi yang terjadi.
Dasar Pemrograman Python
Function
Sumber: https://unstop.com/blog/python-functions
Fungsi di Python adalah blok kode bernama yang secara opsional menerima parameter dan
mengembalikan nilai (jika diperlukan), sehingga Anda bisa menjalankan suatu blok kode program
berulang-ulang dengan satu panggilan dan menjaga kode tetap rapi.
List (mutable)
vs
Tuple (immutable)
• Struktur data merupakan cara untuk menyimpan dan mengelola data.
• Aplikasi KA melibatkan data dengan jumlah yang besar, sehingga membutuhkan struktur data
Struktur Data
• Dictionary: pasangan kunci (key) dan nilai (value)
Sumber https://jeevangupta.com/python-dictionary-tutorial/
Struktur Data
• Numpy Array
https://nustat.github.io/DataScience_Intro_python/NumPy.html
struktur data N dimensional
‑
yang menyimpan elemen
dengan tipe data sama
secara terstruktur dan
mendukung operasi vektor
Struktur Data
• Pandas Series & DataFrame
https://www.linkedin.com/posts/devonsuardi31_dataanalysis-
pandas-python-activity-7033804160558895105-IkD1/
Pandas Series :daftar satu baris atau satu kolom angka (atau teks) yang tiap elemen punya label (index),
mirip daftar nilai ujian dengan nama siswa di sampingnya.
Pandas DataFrame: tabel dua dimensi yang punya banyak baris dan kolom—bayangkan lembar kerja Excel
—di mana setiap kolom bisa berisi tipe data yang berbeda (misal angka, teks, tanggal)
Struktur Data
Pembelajaran Mesin
Machine Learning
Pembelajaran mesin adalah cabang kecerdasan artifisial di mana komputer “belajar”
dari contoh-contoh data untuk mengenali pola dan kemudian membuat prediksi atau
keputusan tanpa instruksi detail untuk setiap situasi baru.
Pembelajaran Mesin (Machine Learning)
• Penggunaan dataset berlabel
(input dan output yang diketahui)
untuk melatih algoritma dalam
mengklasifikasikan data atau
memprediksi hasil dengan akurat
• Untuk mengenali gambar apel,
maka sistem diberi data gambar
yang diberi label sebagai apel.
• Contohnya adalah pengelompokan
(classification), pohon keputusan
(decision tree), naive bayes, dan
regresi (regression).
Sumber: Dicoding
Supervised Learning / Pembelajaran
Terawasi
• menggunakan data tidak berlabel
• belajar dari kumpulan data yang tidak
diinputkan secara manual oleh manusia
(tidak terawasi) dan mengkategorikannya
ke dalam berbagai kelompok berdasarkan
atributnya
• jika algoritma diberi input data berupa
gambar apel dan pisang, maka algoritma
tersebut akan bekerja dengan sendirinya
untuk mengkategorikan gambar mana
yang merupakan apel dan pisang
• digunakan dalam pemodelan deskriptif
dan pencocokan pola, seperti fuzzy
means dan k-means clustering,
Sumber: Dicoding
Unsupervised Learning / Pembelajaran
Tidak Terawasi
• menggabungkan keunggulan dari
pembelajaran terawasi dan tak terawasi
• algoritma dilatih menggunakan sejumlah kecil
data berlabel dan sejumlah besar data tidak
berlabel, dengan tujuan meningkatkan akurasi
model tanpa harus memberikan label pada
seluruh dataset
• efektif ketika data tak berlabel mudah didapat,
tetapi pelabelannya mahal atau sulit dilakukan
• banyak digunakan dalam klasifikasi teks,
gambar, dan analisis suara berskala besar
seperti klasifikasi konten internet, analisis
genom, atau pelabelan rekaman suara
Sumber: https://www.geeksforgeeks.org/ml-semi-supervised-l
earning/
Semi Supervised Learning / Pembelajaran
Semi Terawasi
• belajar melalui praktik:
serangkaian uji coba oleh
“agen” yang melakukan
perbaikan terus menerus
berdasarkan feedback loop
yang diterima, hingga
kinerjanya sesuai dengan
harapan
• Model reinforcement learning
banyak digunakan dalam
permainan, seperti catur dan
maze.
Sumber: https://databasecamp.de/en/ml/reinforcement-
learnings
Reinforcement Learning
• Data training atau data latih adalah sekumpulan data yang digunakan untuk melatih
model machine learning.
• Data testing atau data uji adalah kumpulan data yang belum pernah digunakan selama proses
pelatihan: digunakan untuk mengukur seberapa baik model dapat menggeneralisasi pengetahuan
yang telah didapat ke data baru yang belum dikenal sebelumnya
• Pemisahan data training dan testing penting untuk dilakukan dengan perhitungan yang seksama,
yang bertujuan untuk:
• Menghindari Bias: Jika data testing ikut digunakan selama training, model pembelajaran mesin
bisa saja menghafal data tersebut, yang mengakibatkan kinerja model tampak sangat baik pada
data yang sama namun sangat kurang baik saat menghadapi data nyata.
• Evaluasi Kinerja: Dengan menggunakan data testing yang terpisah, kita dapat mendapatkan
gambaran yang lebih jujur tentang kemampuan model dalam memprediksi data yang tidak dikenal.
Training & Testing
Contoh Pemisahan Data Training & Testing
• Data adalah fakta yang dapat berbentuk teks, angka, gambar, suara, dan lainnya
• Dataset adalah kumpulan data yang telah disusun, biasanya dalam bentuk
matriks, tabel, himpunan (array), ataupun struktur spesifik lainnya
• Cara mencari dataset:
• Menggunakan Mesin Pencari: kata kunci spesifik seperti "dataset [topik]" atau
"open dataset [topik]“
• Platform Dataset Terbuka (UCI, Kaggle, data.gov, dll)
Dataset
Jenis/Tipe Dataset
Contoh Cara Load Dataset (Python)
Contoh: Bekerja dengan Dataset
Iris
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
• https://colab.research.google.com/drive/
1vwoldLmLrr5FeSARUVYCBP8MTOm_rAB
N?usp=sharing
:
• Memuat dan mengonversi dataset ke
DataFrame.
• Eksplorasi data: menampilkan baris
pertama, informasi umum, statistik
deskriptif, dan pemeriksaan nilai yang
hilang.
• Data Preparation adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk
mengumpulkan dan menyiapkan data yang akan digunakan dalam proses
pembelajaran mesin.
• Di dalamnya, termasuk tahap data pre-processing (serangkaian langkah untuk
mengubah data mentah menjadi format yang bersih, terstruktur, dan
optimal sebelum dianalisis atau digunakan)
Data Preparation & Pre-Processing
Data Preparation & Pre-Processing
Contoh penerapan data preparation & pre-processing menggunakan dataset Indonesia Reading
Interest dalam bahasa python:
https://colab.research.google.com/drive/1d5yPdFKFB8s6hdP8iWsHB69TPOA6oaHb?usp=sharing
teknik menyajikan data dan hasil analisis model dalam bentuk grafik, diagram, atau peta untuk
memudahkan identifikasi pola dan hubungan antar variabel.
Teknik
Visualisasi
Data
Deskripsi Kapan Digunakan
Histogram Menampilkan distribusi frekuensi
dari data numerik.
Digunakan untuk memeriksa sebaran dan frekuensi data, seperti mendeteksi
normalitas, skewness, atau distribusi nilai.
Boxplot Menunjukkan ringkasan statistik
data, termasuk median, kuartil, dan
outlier.
Cocok untuk memahami sebaran data dan mendeteksi nilai ekstrim (outlier)
dalam data numerik.
Scatter Plot Menggambarkan hubungan antara
dua variabel numerik.
Digunakan untuk mengevaluasi korelasi atau pola hubungan antara dua
variabel, seperti hubungan antara pendapatan dan pengeluaran.
Heatmap Menampilkan matriks korelasi antar
variabel dalam bentuk visual.
Ideal untuk melihat hubungan antar banyak variabel sekaligus, misalnya
memeriksa korelasi antar variabel dalam dataset numerik.
Bar Plot Menampilkan perbandingan nilai
atau frekuensi untuk data kategorik.
Digunakan untuk membandingkan nilai agregat (misalnya rata-rata,
jumlah) atau frekuensi antar kategori, seperti perbandingan penjualan
per produk.
Data Visualization
Contoh Visualisasi Data
• Proses awal dalam analisis data yang bertujuan untuk memahami karakteristik dataset secara menyeluruh
❑ Memahami Struktur Data: Mengetahui jumlah variabel, tipe data (numerik, kategorik, tanggal), dan
ukuran dataset.
❑ Mengidentifikasi Missing Values dan Outlier: Mendeteksi data yang hilang atau tidak konsisten serta
outlier yang dapat mempengaruhi hasil analisis.
❑ Mengeksplorasi Distribusi Data: Melihat sebaran data, tren sentral, dan penyebaran dengan bantuan
histogram, boxplot, dan density plot.
❑ Menguji Asumsi Awal: Memeriksa hubungan antar variabel, seperti korelasi atau asosiasi, yang nantinya
dapat digunakan untuk pemodelan.
❑ Mendapatkan Wawasan Awal: Memberikan gambaran umum yang mendalam mengenai dataset
sehingga dapat menentukan strategi pembersihan data, transformasi, atau pemilihan fitur untuk
pemodelan.
Exploratory Data Analysis
Exploratory Data Analysis
• Contoh: https://colab.research.google.com/drive/1BBnmCH8oSt7lcCzMBUD7Fbb4kOQmeCsJ?usp=sharing
Exploratory Data Analysis
Berdasarkan grafik di samping:
• Jumlah Penumpang Pria Lebih Banyak dari Wanita
• Dari grafik, terlihat bahwa jumlah penumpang laki-laki
(male) jauh lebih banyak dibandingkan penumpang
perempuan (female).
• Ini menunjukkan bahwa mayoritas penumpang Titanic
adalah pria.
• Kemungkinan Pengaruh terhadap Tingkat Keselamatan
• Berdasarkan aturan "Women and children first", wanita
memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk diselamatkan
dibandingkan pria.
• Perbedaan jumlah ini bisa berpengaruh pada analisis tingkat
keselamatan (survival rate).
Exploratory Data Analysis
Berdasarkan grafik di samping:
• Mayoritas Penumpang Berusia 20-40 Tahun
• Puncak distribusi terlihat di rentang 20-30 tahun, dengan frekuensi
tertinggi sekitar 70 penumpang pada kelompok usia sekitar 25 tahun.
• Rentang usia 30-40 tahun juga cukup banyak, meskipun jumlahnya
sedikit lebih rendah.
• Keberagaman Umur Penumpang: Ada penumpang dari berbagai
kelompok umur, mulai dari bayi hingga lansia sekitar 80 tahun.
• Frekuensi anak-anak (di bawah 10 tahun) cukup rendah tetapi masih
terlihat signifikan.
• Lansia (di atas 60 tahun) memiliki jumlah yang jauh lebih sedikit
dibandingkan kelompok usia lainnya.
• Grafik menunjukkan pola distribusi miring ke kanan (right-skewed), di
mana lebih banyak penumpang berusia muda dibandingkan
penumpang yang lebih tua. Hal ini masuk akal karena Titanic
kemungkinan besar membawa banyak pekerja muda dan keluarga
dibandingkan lansia
Training set digunakan untuk melatih model
agar dapat mempelajari pola dari data. Testing
set digunakan untuk mengevaluasi model
dengan data yang belum pernah dilihat oleh
model sebelumnya, sehingga kita bisa menilai
performa model secara objektif dan mendeteksi
masalah seperti overfitting.
Memisahkan Data Training & Testing
Model yang paling sederhana adalah garis (regresi
linier) dengan persamaan garis y = mx + c, yang
menggambarkan pengaruh antara variable x
terhadap y
Melatih model (pada konteks regresi linier),
adalah mencari nilai m dan c yang paling optimal,
sehingga garis regresi menjadi garis yang paling
akurat dalam merepresentasikan hubungan antara
variable dependen dan independen
https://colab.research.google.com/drive/1V9ZzDDNcsGprbLsGGGua3GnCmK6Pm-r1?usp=shari
ng
Melatih Model Machine Learning
Melatih Model
Seringkali, model berupa garis
lurus tidak cukup mewakili. Salah
satu model lain, adalah logistic
regression yang berbentuk kurva
sigmoid
Contoh:
https://colab.research.google.com/
drive/1pk7vycijnjHCn6M5K-rXGh6D
o5v0_MGZ?usp=sharing
Melatih Model
Dalam kasus lain, mesin perlu mengelompokkan
sekumpulan data berdasarkan kemiripannya. K-
means clustering adalah algoritma unsupervised
learning yang mengelompokkan data ke dalam
sejumlah k klaster berdasarkan kesamaan fitur,
dengan cara menginisiasi sebanyak k titik pusat
(centroid) secara acak, kemudian menetapkan
setiap data ke klaster dengan centroid terdekat,
dan akhirnya memperbarui posisi centroid
berdasarkan rata-rata data dalam klaster tersebut
hingga tercapai kondisi konvergen.
Contoh:
https://colab.research.google.com/drive/1ATmIdTpshocn
xqfqZ9wC3QMW6vdREHcH?usp=sharing
Library Pemrograman KA
(Python)
Pemrograman KA dipermudah dengan adanya library yang bisa digunakan, sehingga pemrograman tidak
selalu melakukan pemrograman dari 0. Contoh library:
1. TensorFlow
2. Scikit-Learn
Library Pemrograman KA
Analisis Hasil Pembelajaran
Mesin
Nilai koefisien regresi yang optimal
adalah yang menghasilkan paling sedikit
error.
MAE (Mean Absolute Error): Rata rata
‑ jarak tiap
titik data ke garis prediksi, diukur persis seperti kita
mengukur panjang dengan penggaris lalu dijumlahkan
dan dibagi banyak titik.
MSE (Mean Squared Error): Rata rata
‑ jarak kuadrat:
untuk tiap titik, jaraknya dikuadratkan (jarak × jarak)
baru dijumlahkan dan dirata ratakan.
‑
Contoh:
https://colab.research.google.com/drive/1mdxRzWGP1p59opv
AFwIXlumwLImO4h9p?usp=sharing
Analisis Hasil Regresi
Confusion Matrix
Confusion matrix adalah sebuah tabel yang menggambarkan
kinerja model klasifikasi dengan membandingkan hasil prediksi
model dengan data aktual. Matriks ini menyediakan informasi
mengenai:
True Positives (TP): Jumlah data positif yang benar-benar diprediksi
sebagai positif.
• True Negatives (TN): Jumlah data negatif yang benar-benar
diprediksi sebagai negatif.
• False Positives (FP): Jumlah data negatif yang salah diprediksi
sebagai positif.
• False Negatives (FN): Jumlah data positif yang salah diprediksi
sebagai negatif.
Contoh:
https://colab.research.google.com/drive/1SM7LTKJ8KPr1ziwyquQzB
B3jdUwNpC62?usp=sharing
Metode Siku / Elbow Method
Metode siku digunakan untuk menentukan banyaknya klaster
yang paling optimal dengan menarik tiap titik data ke pusat
klaster dan menghitung jaraknya. Semakin kecil jarak, maka
semakin rapat sebuah klaster. Jika jarak-jarak tersebut
divisualisasikan dalam sebuah grafik garis, maka akan
terbentuk sebuah garis yang menurun tajam di awal, hingga
suatu nilai di mana penurunannya menjadi lebih landai.
Contoh:
https://colab.research.google.com/drive/1lr3qYX9ZurElDfhZtu
_yIhJbbyhNQQM7?usp=
sharing
Nilai k pada metode siku menunjukkan banyak klaster yang
optimal untuk digunakan dalam klasterisasi
Mengenal Model Bahasa Besar
Large Language Model (LLM)
Large Language
Model adalah sebuah
sistem berbasis
jaringan syaraf
tiruan yang dilatih
untuk dapat
memahami,
memproses, dan
menghasilkan teks
dalam bahasa alami
atau bahasa natural
(bahasa yang
digunakan manusia
sehari-hari dalam
berbagai gaya)
Attention Is All You Need" adalah
sebuah karya tulis penelitian penting
tahun dalam pembelajaran mesin yang
ditulis oleh delapan ilmuwan yang
bekerja di Google. Karya tulis tersebut
memperkenalkan arsitektur
pembelajaran mendalam baru yang
dikenal sebagai transformer ,
berdasarkan mekanisme perhatian yang
diusulkan pada tahun 2014 oleh
Bahdanau et al. Karya tulis tersebut
dianggap sebagai karya tulis
dasar dalam kecerdasan buatan
modern , dan kontributor utama bagi
ledakan KA , karena pendekatan
transformer telah menjadi arsitektur
utama dari berbagai macam KA, seperti
model bahasa besar
Pengenalan Large Language Model (LLM)
LLM menggunakan mekanisme
“attention”, yang merupakan
teknik pembelajaran mesin yang
mengarahkan model deep
learning untuk memprioritaskan
(atau memperhatikan/ attention/
atensi) kepada bagian paling
relevan dari data inputan
https://www.analyticsvidhya.com/blog/2019/11/comprehensive-guide-attention-mechanism-deep-learning/
Pengenalan Large Language Model (LLM)
Penjelasan Visual tentang LLM
https://www.youtube.com/watch?v=LPZh9BOjkQs
Sumber: https://learnopencv.com/attention-mechanism-in-transformer-neural-networks/
Penjelasan Visual Tentang Arsitektur Transformer
https://www.youtube.com/watch?v=wjZofJX0v4M
(Arsitektur Sistem di Dalam LLM)
• Representasi Kata: Setiap kata diubah jadi vektor angka (embedding) agar model bisa
“membaca” dan membandingkannya satu sama lain.
• Menentukan Kata Fokus (Query & Key): Untuk tiap kata yang ingin diprediksi atau diproses,
model membentuk “query” dan membandingkannya dengan “key” dari semua kata lain untuk
menilai seberapa relevan satu sama lain.
• Menghitung Skor Perhatian: Query dan key dikalikan (dot product) untuk menghasilkan skor—
semakin tinggi skor, semakin penting kata itu untuk konteks query.
• Normalisasi ke Bobot (Softmax): Semua skor diubah lewat fungsi softmax sehingga menjadi
bobot antara 0–1 yang jika dijumlahkan totalnya 1; ini membuat model “terfokus” pada kata-kata
paling relevan.
• Membangun Konteks (Value & Weighted Sum): Bobot tadi dipakai untuk mengalikan vektor
“value” dari tiap kata, lalu dijumlahkan. Hasilnya adalah vektor konteks yang kaya informasi,
digunakan model untuk memprediksi atau menghasilkan kata berikutnya.
Cara Kerja Singkat Mekanisme Attention
Visualisasi Cara Kerja Mekanisme Attention
https://www.youtube.com/watch?v=eMlx5fFNoYc
1. Persiapan Data & Tokenisasi: Kumpulkan teks dalam jumlah sangat besar (buku, artikel, web). Setiap
kata/frasa diubah menjadi potongan–potongan kecil (token) agar model dapat memprosesnya.
2. Pretraining (Pembelajaran Awal): Model belajar dengan “membaca” token secara berurutan dan mencoba
memprediksi token selanjutnya. Parameter (bobot) model diubah sedikit demi sedikit menggunakan
algoritma optimisasi (gradient descent) hingga prediksi makin akurat.
3. (Opsional) Fine Tuning
‑ : Jika ingin model mahir pada tugas khusus (misalnya tanya jawab atau
‑
terjemahan), model dilatih ulang dengan dataset yang sudah berlabel agar kemampuan sesuai kebutuhan.
4. Tokenisasi & Input Saat Inference: Ketika kita beri teks baru, teks itu kembali diubah jadi token dan
dimasukkan ke model yang sudah “terlatih”.
5. Prediksi & Dekode Output: Model menghitung skor untuk setiap token berikutnya menggunakan
mekanisme attention dan bobot yang telah dipelajari, lalu memilih token tertinggi (atau sampling). Token–
token hasil itu digabung kembali jadi kalimat atau paragraf sebagai jawaban.
Referensi video Cara Kerja LLM:
https://www.youtube.com/watch?v=5sLYAQS9sWQ
Cara Kerja LLM
1. LLM merupakan inti dari KA Generatif, contohnya pada model GPT
(Generative Pre-Trained Transformer) yang banyak digunakan di
perangkat KA seperti ChatGPT, ScholarGPT, dan lain-lain
2. LLM banyak berperan dalam chatbot virtual (layanan pelanggan),
penulisan dan pembuatan konten, penerjemahan bahasa, dan riset
3. Isu etika yang muncul: bias, diskriminasi, keamanan, penyalahgunaan,
dan transparansi model
LLM dalam KA Generatif
1. Integrasi melalui API (Application Programming Interface): OpenAI, Hugging Face, dll
2. Integrasi melalui Pipeline Machine Learning: menggunakan modul seperti PyTorch dan TensorFlow
3. Integrasi melalui pemrograman (Python, JavaScript, dll)
Integrasi LLM dengan Aplikasi KA
Suplemen Modul 4 Fase E/F
Orange Data Mining & Contoh Pengerjaan LK 4.2
Machine Learning dengan Orange Data Mining
Suplemen ini bertujuan untuk memudahkan pemahaman
dan pengaplikasian machine learning dengan antarmuka
pemrograman visual, sebelum memasuki pemrograman
machine learning berbasis teks (dengan bahasa
pemrograman seperti Python).
Tautan suplemen dapat diakses melalui:
https://docs.google.com/document/d/1L8-t3enQN-_fzoI
_bbORMGKiplth3B1Q/edit?usp=sharing&ouid=11790188
4224837387765&rtpof=true&sd=true
Orange Data Mining
PEDAGOGIK UNTUK KODING DAN KA
Pendidikan Dasar dan Menengah
Modul 5.
Alur Pembelajaran
Materi Tahapan dalam PM Indikator Mode Aktivitas Evaluasi
Prinsip Pedagogik dalam
Pembelajaran
Pembelajaran HOTS dan
TPCAK
Rancangan Pembelajaran
berbasis Pembelajaran
Mendalam
Memahami ∙ Peserta mampu menjelaskan
prinsip-prinsip pedagogik dalam
pembelajaran
∙ Peserta mampu menjelaskan
pembelajaran berbasis HOTs
dan Kerangka pembelajaran
TPACK
∙ Peserta mampu menjelaskan
konsep rancangan
pembelajaran berbasis
pembelajaran mendalam (PM)
(IN-Synchronous)
(IN- Asynchronous)
Fasilitator menjelaskan pemaparan singkat mengenai
prinsip-prinsip pedagogik, HOTs, dan TPACK serta
Pembelajaran Mendalam
Peserta membaca modul sesuai arahan fasilitator dan
mendalami materi dengan membuat mind map materi
LK 5.1 Peserta membuat mind map
terkait materi : prinsip-prinsip
pedagogi, pembelajaran berbasis
HOTs dan TPACK serta
Pembelajaran Mendalam
Rancangan Pembelajaran
berbasis Pembelajaran
Mendalam
Mengaplikasikan ∙ Peserta mampu merancang
perangkat pembelajaran
dengan pendekatan
pembelajaran mendalam untuk
materi Koding KA
(IN-Synchronous)
(IN-Asynchronous)
(ON-Asynchronous)
Fasilitator memberikan pengarahan mengenai perancangan
perangkat pembelajaran Koding KA dengan konsep PM
Peserta merancang perangkat pembelajaran berbasis PM
dengan untuk salah satu materi KA
Peserta beserta fasilitator mendiskusikan hasil
perancangan perangkat pembelajaran yang telah dibuat
Peserta mempraktekan hasil perancangan dalam bentuk
mictroteaching atau peer teaching
LK. 5.2 Peserta mendesain
perangkat pembelajaran dengan
pendekatan PM
Merefleksikan Peserta mampu merancang perangkat
pembelajaran dengan pendekatan
pembelajaran mendalam untuk materi
Koding KA
(IN -2) Peserta melakukan evaluasi dan refleksi terhadap
pelaksanaan microteaching
LK. Refleksi dan Evaluasi
Microteaching
Prinsip-prinsip Pedagogik
Bagaimana menerapkan prinsip-prinsip pegadogik
Memahami
Karakteristik Peserta
Didik
Mengetahui dan
memahami teori belajar
dan prinsip pembelajaran
mendidik
Menguasai konten
dan kurikulum
Memahami potensi
peserta didik
Mengetahui dan
menguasai keterampilan
berkomunikasi
Memahami proses
penilaian dan evaluasi
belajar
Identifikasi karakteristik peserta didik
Etnik
Kultural
Status Sosial
Minat atau
motivasi
Perkembangan
Kognitif
Kemampuan Awal
Gaya Belajar
Perkembangan
Emosi
Perkembangan
Moral dan Spiritual
Perkembangan
Motorik
Konteks geografis
Apa saja Komponen Kurikulum?
Kompone
n
Kurikulum
Komponen
Tujuan
Komponen
Isi/Materi
Komponen
Media
Komponen
Strategi
Pembelajaran
Komponen Proses
Belajar Mengajar
Komponen
Evaluasi
High Order Thinking Skills
High Order Thinking Skills
Fungsi dari kemampuan high order thinking skills
1. Mampu mentransformasikan pengetahuan
a. peserta didik mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilan
yang diperoleh selama proses pembelajaran di kehidupan mereka
sehari-hari
b. Pembelajaran lebih bermakna atau memaknai setiap pengetahuan
yang diperoleh
2. Mampu menciptakan solusi dari sebuah permasalahan
a. siswa dapat mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan yang
dihadapi di kehidupan akademik maupun kehidupan nyata,
b. mampu untuk menciptakan solusi baru untuk menyelesaikan masalah
yang mereka definisikan sendiri atau yang ditemui dalam kehidupan
sehari-hari.
3. Mampu berpikir kritis dan kreatif
a. Critical thinking adalah kemampuan melakukan penalaran dan berpikir
reflektif untuk fokus dalam memutuskan apa yang diyakini atau yang
akan dilakukan
b. mengajarkan siswa untuk melakukan penalaran, merenung dan
membuat keputusan yang tepat.
c. siswa diminta untuk mengevaluasi dan mengestimasi akibat dari
berbagai peristiwa
HOTs dalam Taksonomi Pembelajaran
Blooms vs Solo
Taksonomi Blooms
Anderson
Taksonomi Solo Pengalaman
belajar
Deskripsi
Tingkat
Pembelajaran
Taksonomi
- Belum berkembang Prastruktural - Belum memahami
C1 - Mengingat Dasar Unistruktural
Memahami
Mengingat
C2 - Memahami Berkembang Multisktuktual
Mengumpulkan
ide
C3 – Menerapkan
C4- Menganalisis
Cakap Rasional Mengaplikasi
Menghubungkan
ide
C5-Mengevaluasi
C6- Mencipta
Unggul Berpikir Abstrak Merefleksi
Menerapkan ide
menjadi solusi
TPACK
(Technological Pedagogical Content and
Knowledge)
MARI BERDISKUSI
Pernahkah Anda mendengar Kerangka TPACK dalam
pembelajaran?
Apa yang Anda ketahui mengenai Kerangka TPACK
dalam pembelajaran ?
( Reproduced by permission of the publisher, © 2012 by tpack.org)
Setelah mencermati gambar di
samping, apakah definisi Anda berubah
mengenai TPACK?
Apakah komponen paling penting
dalam TPACK?
Bagaimana definisi TPACK jika dijelaskan
oleh gambar di samping?
Apakah semua komponen dalam TPACK
harus dikuasai oleh guru?
Bagaimana menuangkan air
dari botol ke dalam gelas?
Untuk lebih mendalami konsep TPACK
Perhatikan Ilustrasi berikut…
Guru
Siswa
evaluasi
capaian
belajar siswa
Penguasaan materi
guru
materi yang
perlu dikuasai
oleh siswa
Content
Pedagogical
metode yang
digunakan dalam
mentransfer
pengetahuan
(students center
learning)
media
pembelajaran
Technological
Sumber : Harsa, W. 2024
Bentuk botol dan gelas bermacam-
macam, sehingga sering kali perlu
metode yang berbeda dan teknologi
yang sesuai untuk mendukung
pembelajaran
Dalam ilustrasi ini, guru perlu menguasai Konten, Pedagogi, dan
Teknologi untuk menyajikan pembelajaran yang efektif
Content knowledge (CK) adalah pengetahuan
guru tentang bidang ilmu yang akan diajarkan
kepada siswa.
Pengetahuan berkenaan dengan konten ini
juga berkaitan dengan kedalaman dan
keluasan dari materi yang akan diajarkan.
Guru perlu mampu memilah mana konten
yang menjadi keutamaan untuk dikuasai oleh
siswa dan mana yang tidak.
Technological
Knowledge
Pedagogical
Knowledge
Content
Knowledge
Sumber : Harsa, W. 2024
Pedagogical Knowledge (PK) adalah pengetahuan
yang dimiliki oleh guru mengenai model, metode
pengajaran, dan pendekatan pembelajaran.
Hal tersebut mencangkup cara dan seni dalam
mengajar, yang bertujuan untuk memberikan
pengalaman pengetahuan dan keterampilan
kepada peserta didik.
Termasuk ke dalam pedagogical knowledge ini
adalah pengetahuan yang berkenaan dengan
karakter peserta didik, pengelolahan kelas, dan
penilaian proses-hasil belajar
Technological
Pedagogical Content
Sumber : Harsa, W. 2024
Technology Knowledge (TK)
merupakan pengetahuan tentang
suatu teknologi dan cara teknologi
tersebut digunakan.
TK juga mengacu pada kemampuan
untuk mempertimbangkan
kegunaan dari suatu teknologi
(misalkan jenis aktivitas yang
didukung oleh teknologi) dan
mengapa teknologi tersebut cocok
dalam konteks situasi tertentu
Technological
Pedagogical Content
Sumber : Harsa, W. 2024
What
is ..
Technological
Pedagogical Content
TPACK
Technological Pedagogical Content Knowledge
(TPACK) mengacu pada pengetahuan guru
berkenaan dengan teknik pedagogis yang
menggunakan teknologi dengan cara konstruktif
untuk mengajarkan konten; pengetahuan tentang apa
yang membuat konsep sulit atau mudah dipelajari
dan bagaimana teknologi dapat membantu
memperbaiki masalah ini; dan pengetahuan tentang
bagaimana teknologi dapat digunakan untuk
mengembangkan pengetahuan baru atau
memperkuat pengetahuan sebelumnya
Sumber : Harsa, W. 2024
Mari tebak
Missing ‘T’
Teknologi apa yang diperlukan?
Jika,
Metode pembelajaran : Drill & Practice
Materi yang disampaikan : Memahami Machine Learning
???
Drill &
Practice
Machine
Learning
Technological
Content
Pedagogical
Online
Simulation
Discussion/
Debate
???
Technological
Content
Pedagogical
Mari tebak
Missing ‘C’
Content apa yang dapat disampaikan?
Jika,
Metode pembelajaran : Discussion/Debate
Teknologi yang digunakan : Online Simulation
Video Recording
???
Etika dan Risiko
Teknologi
Kecerdasan
Artifisial
Technological
Content
Pedagogical
Mari tebak
Missing ‘P’
Metode Pembelajaran apa yang diperlukan?
Jika,
Teknologi yang digunakan : Video Recording
Materi yang disampaikan : Etika dan Risiko KA
Rancangan Pembelajaran untuk
Koding dan KA
Bagaimana merencanakan Pembelajaran
Mendalam pada Koding dan KA
Tahap pertama ialah
tahap memahami dan
mengkonstruksi
pengetahuan
• merekonstruksi
pengetahuan esensial,
aplikatif, serta nilai dan
karakter pengetahuan
• memahami arti,
karakteristik, prinsip kerja,
macam dan jenis koding
dan KA.
Tahapan kedua adalah
tahap mengaplikasi
yang bertujuan
membentuk
pendalaman
pengetahuan pada
peserta didik.
• Tahap ini menuntut untuk
mengaplikasikan apa yang
peserta didik sudah
pelajari untuk
memecahkan kehidupan
keseharian
Terakhir, tahap
merefleksi, peserta
didik mengevaluasi
dan memaknai proses
serta hasil dari
tindakan atau praktik
nyata yang telah
mereka lakukan.
• Tahap ini melibatkan
kemampuan peserta didik
untuk meregulasi diri atau
mengelola proses
belajarnya sendiri.
Model Pembelajaran yang dapat digunakan:
1. Problem based learning
2. Project Based learning
3. Inquiry based learning
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Koding dan Kecerdasanifisial merged.pptx

  • 1.
    Memahami Koding dan KecerdasanArtifisial Pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah Materi 1
  • 2.
    Memahami Koding dan KecerdasanArtifisial Pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah Materi 1
  • 3.
    Urgensi Pendidikan Peningkatan KualitasSumber Daya Manusia Pendidikan yang baik menghasilkan individu yang terampil dan kompeten. Pertumbuhan Ekonomi Investasi dalam pendidikan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang Pengentasan Kemiskinan Pendidikan memberikan akses kepada individu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik Inovasi dan Penelitian Mendorong teknologi baru dan Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah kompleks Keberlanjutan Lingkungan Membantu memahami isu keberlanjutan, Mendorong perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan Adaptif terhadap Perubahan Membantu beradaptasi pada perubahan teknologi & pasar kerja Pendidikan bukan hanya penting untuk individu, tetapi juga untuk masyarakat dan negara secara keseluruhan, dengan meningkatkan kualitas pendidikan, dapat menciptakan masa depan lebih baik dan berkelanjutan
  • 5.
    Coding Learning Progression MapelInformatika Dasar-dasar Coding dan AI, untuk fase D dan E telah diajarkan secara terstruktur dan sistematis pada mata pelajaran Informatika • Berpikir Komputasional yang banyak mengajarkan logika, abstraksi, dekomposisi, representasi data, reasoning, dan algoritmik thinking yang menjadi dasar AI dan coding • Coding telah diajarkan baik dengan mode plugged maupun unplugged. Dibelajarkan menggunakan bahasa block programming Scratch dan Blockly pada fase D, dan bahasa pemrograman tekstual (Python, C, Pascal) pada fase E dan F.
  • 6.
    Coding Learning Progression MapelInformatika Fase D, Memperkenalkan Konsep Coding (tipe data, variabel, percabangan, perulangan, fungsi dan prosedur. Block Programming: Blockly dan Scratch Fase E, Migrasi dari block programming ke textual programming dengan mengenalkan pseudocode sebelum coding riil. Menggunakan bahasa Algo menggunakan konsep dasar pemrograman (tipe data, variabel, percabangan, perulangan, fungsi dan prosedur). Pemrograman tekstual: C, Pascal dan Python, dll. Kenapa pseudocode ? Agar dapat lebih mudah untuk dipahami oleh peserta didik, dibandingkan dengan langsung menggunakan bahasa pemrograman yang umum dipakai.
  • 7.
    Elemen Pembelajaran Koding danKecerdasan Artifisial • berpikir komputasional; • literasi digital; • algoritma pemrograman; • analisis data; • literasi dan etika kecerdasan artifisial; dan • pemanfaatan dan pengembangan kecerdasan artifisial.
  • 8.
    Pembelajaran Informatika - Kodingdan Kecerdasan Artifisial
  • 9.
    AI curriculum forK-12, which one is better: AI as another course or as part of CS curriculum? • Teaching AI in K-12 education can be approached in different ways, with arguments for both separate courses and integration into the Computer Science curriculum. • Separate AI courses can provide focused learning, while integration can enhance understanding of AI within broader computing concepts, promoting interdisciplinary skills.
  • 10.
    AI curriculum forK-12, which one is better: AI as another course or as part of CS curriculum? Separate AI Course Focused Learning: • A dedicated AI course allows for in-depth exploration of AI concepts, techniques, and applications. Specialization: • Students can develop specific skills and knowledge related to AI, preparing them for future studies or careers in this field. Curriculum Flexibility: • A standalone course can be tailored to include the latest advancements in AI, ensuring that students are learning current and relevant material.
  • 11.
    AI curriculum forK-12, which one is better: AI as another course or as part of CS curriculum? Integration into Computer Science Curriculum Contextual Understanding: • Integrating AI into the CS curriculum helps students see AI as part of a larger technological landscape, enhancing their overall understanding of computing. Interdisciplinary Skills: • This approach encourages students to apply AI concepts across various subjects, fostering critical thinking and problem-solving skills. Resource Efficiency: • Utilizing existing CS classes to teach AI can be more efficient in terms of resources, as it leverages current teaching staff and materials.
  • 12.
  • 13.
    Terminologi Koding Koding dapatdipahami sebagai praktik pemrograman perangkat komputasi dengan melibatkan kemampuan berpikir komputasional dan algoritma secara internet- based, plugged, dan unplugged Naskah Akademik Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial Pada Pendidikan Dasar dan Menengah , 2025 Computer programming, or coding, is a crucial skill every child should be learning. We use computers to solve problems, play games, help us work more effectively, perform repetitive tasks, store and recall information, create something new, and connect with our friends and the world. Everyone can learn to code; it’s just like solving a puzzle or a riddle. You apply logic, try a solution, experiment a little more, and then solve the problem. Bryson Payne, TeAch Your Kids To code, 2015 Coding is fun Technology is becoming a part of everyday life. Every company, charitable organization, and cause can benefit from technology. There are apps to help you buy, give, join, play, volunteer, connect, share— just about anything you can imagine. Coding is a valuable job skill Coding is the skill of the 21st century. Jobs today require more problem-solving ability than ever before, and more and more careers involve technology as an integral requirement.
  • 14.
    Terminologi Koding Istilah codingberkaitan dengan instruksi-instruksi yang dipahami dan dijalankan oleh komputer. Pengertian coding secara sederhana adalah cara manusia berkomunikasi dengan komputer dengan cara menciptakan perangkat lunak atau aplikasi yang berguna dalam penyelesaian masalah. Muh. Hasbi, dkk, Penerapan Pembelajaran Coding Di Satuan PAUD, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2020 Pembelajaran coding berarti kegiatan yang dapat memberikan stimulasi sejak usia dini terhadap cara anak berpikir, anak berpikir kreatif, sikap bekerjasama dan berkomunikasi anak. Kegiatannya tidak hanya dimaknai sebagai penerapan komputer plugged coding, tetapi juga meliputi keseluruhan kegiatan pembelajaran coding tanpa menggunakan perangkat komputer yang dikenal dengan istilah unplugged coding.
  • 15.
    Terminologi Koding A computeris merely a machine that can process a set of simple instructions very quickly. The set of instructions it processes is known as a “program”, and the instructions are known as “code”. People who write computer programs are known as “programmers” or “coders”. Their programs have enabled computers to become useful in almost every area of modern life: Mike McGrath, Coding for Beginners in easy steps, 2nd edition, 2022 Modern high-level programs are automatically translated into the machine code that the computer can understand by a “compiler” or by an “interpreter”. In order to become a coder you must typically learn at least one of these high-level programming languages: • C – A powerful compiled language that is closely mapped to machine code and used to develop operating systems. • C++ – An enhanced compiled language developing on C to provide classes for Object Oriented Programming (OOP). • C# – A modern compiled language designed by Microsoft for the .NET framework and Common Language Infrastructure. • Java – A portable compiled language that is designed to run on any platform regardless of the hardware architecture. • Python – A dynamic interpreted language that allows both functional and Object Oriented Programming (OOP)
  • 16.
    Terminologi Koding What arethe challenges and opportunities facing computer science education ? • CS disiplin ilmu yang menyentuh semua lapisan dan populasi masyarakat • Disposisi professional/soft skills (kegigihan, kemandirian, adaptif, kerjasama, dst) • Pengembangan konten kurikulum ✔ Sebagai Ilmu CS berkembang pesat (berkah) sekaligus tantangan yang menyertainya (challenges) ✔ Emerging technologies and area pengetahuan (quantum computing, machine learning, Generative AI, Fondasi Matematika, issues of society and ethics profession, computational thinking (disamping reading, writing and arithmetic) It will impact course content, pedagogy, and assessment techniques CT Pratik Lintas Bidang 🡪 opportunity for computer science programs to offer courses for non majors, both as a service and a recruiting tool Fondasi Koding & KA ? CS Curricula 2023 ACM-IEEE
  • 17.
    Terminologi Koding The termsoftware construction refers to the detailed creation of working software through combination of coding, verification, unit testing, integration testing, and debugging. Since software construction requires knowledge of algorithms and of coding practices, it is closely related to the Computing Foundations KA, which is concerned with the computer science foundations that support the design and construction of software products. Body of Knowledge Software Engineering
  • 18.
    Terminologi Koding The followingconsiderations apply to the software construction coding activity • Techniques for creating understandable source code, including naming conventions and source code layout; • Use of classes, enumerated types, variables, named constants, and other similar entities; • Use of control structures; • Handling of error conditions—both anticipated and exceptional (input of bad data, for example); • Prevention of code-level security breaches (buffer overflows or array index bounds, for example); • Resource usage via use of exclusion mechanisms and discipline in accessing serially reusable resources (including threads and database locks); • Source code organization (into statements, routines, classes, packages, or other structures); • Code documentation; Body of Knowledge Software Engineering
  • 19.
  • 20.
    Konsep Dasar Logika Bridgingthe gap from here to there • Mengapa matahari terbit pagi hari? • Mengapa malam ada Bulan? • Mengapa harus sekolah? • Mengapa mobil menyala saat memutar kunci? • Mengapa orang melanggar hukum, padahal tahu bakal dipenjara? Sejak usia dini meskipun mereka tidak memahami sesuatu, tapi mereka akan menduga jawabannya pasti ada di suatu tempat, yang ada dalam benak mereka kurang lebih: "Jika saya di sini dan jawabannya ada di sana, apa yang harus saya lakukan untuk sampai di sana?" Beralih dari sini ke sana — dari ketidaktahuan menuju pemahaman — adalah salah satu alasan utama logika muncul. Logika tumbuh dari kebutuhan bawaan manusia untuk memahami dunia dan, sejauh mungkin, memperoleh kendali atas dunia yang dimaksud. Understanding cause and effect Salah satu cara untuk memahami adalah dengan memperhatikan hubungan antara sebab dan akibat. Bagaimana satu peristiwa menyebabkan peristiwa lainnya, ini dapat ditempatkan dalam if-statement Jika saya mengerjakan PR sekarang, maka saya akan punya waktu untuk bermain Jika ingin tubuh tetap sehat maka harus memperhatikan apa yang dimakan Jika saya ingin lulus ujian maka saya harus rajin belajar. Understanding how if-statements work is an important aspect of logic
  • 21.
  • 22.
    Pembelajaran Koding Bagaimana membelajarkan kodingpada dikdasmen? Tahapan Kemampuan yang Dikuasai Peserta Didik
  • 23.
    Pembelajaran Koding Bagaimana membelajarkankoding pada dikdasmen? Memaksimakan Potensi Anak dengan Koding Melatih BK dengan Bermain di situs https://blockly.games/ Pada fase C dan Awal D, koding yang dimaksud sejatinya bukan pada text programming, tapi melatih kemampuan bepikir logis dan sistematis dalam balutan Computational Thingking umumnya, jikapun menggunakan lingkungan pemorgraman akan masuk pada kelompok blok programming (Blocky, Scrath), seperti yang dicontohkan pada https://blockly.games/ Pada fase E dan F, Pseudocode to text programming
  • 24.
  • 25.
    Terminologi Kecerdasan Artifisial CSCurricula 2023 ACM-IEEE Body of Knowledge • “Intelligent Systems” to “Artificial Intelligence • Penekanan pada aplikasi praktis AI pada berbagai bidang (medicine, sustainability, social media) • Model generatif (ChatGPT, DALL-E, Midjourney) mencakup cara kerjany, kegunaannya, dan kekurangan • Dampak dan implikasi sosial yang lebih luas dari metode dan aplikasi AI, termasuk isu-isu dalam etika AI Terdapat 12 Knowledge Unit: Konsep Dasar, Machine Learning, NLP, Robotics, Computer Vission, Application n Social Impact, dst ● Artificial Intelligence (AI) ● Algorithmic Foundations (AL) ● Architecture and Organization (AR) ● Data Management (DM) ● Foundations of Programming Languages (FPL) ● Networking and Communication (NC) ● Operating Systems (OS) ● Parallel and Distributed Computing (PDC) ● Software Development Fundamentals (SDF) ● Software Engineering (SE) ● Graphics and Interactive Techniques (GIT) ● Security (SEC) ● Society, Ethics, and the Profession (SEP) ● Human-Computer Interaction (HCI) ● Mathematical and Statistical Foundations (MSF) ● Systems Fundamentals (SF) ● Specialized Platform Development (SPD) 17 Knowledge Area
  • 26.
    Terminologi Kecerdasan Artifisial Terminologi"AI" dalam konteks mata pelajaran Koding dan AI di pendidikan dasar dan menengah merujuk pada pengenalan dan pemahaman dasar tentang kecerdasan buatan. Ini mencakup beberapa konsep yang berbeda dibandingkan dengan istilah AI yang lebih kompleks yang dipelajari di perguruan tinggi, serta perkembangan terbaru dalam ruang Generative AI (Gen AI) AI dalam Konteks Pendidikan Dasar dan Menengah Pengenalan Konsep: Di tingkat ini, AI umumnya diperkenalkan sebagai teknologi yang memungkinkan komputer untuk melakukan tugas yang biasanya memerlukan kecerdasan manusia. Ini termasuk pengenalan pola, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Aplikasi Sederhana Siswa dapat belajar tentang aplikasi AI yang sudah ada dalam kehidupan sehari-hari, seperti asisten virtual (misalnya, Siri atau Google Assistant), rekomendasi produk, dan teknologi pengenalan wajah, tanpa harus masuk ke detail teknis yang kompleks. AI di Perguruan Tinggi Pendalaman Teoretis dan Praktis Di perguruan tinggi, studi AI mencakup teori yang lebih mendalam, teknik machine learning, deep learning, dan algoritma kompleks yang digunakan dalam pengembangan aplikasi AI. Mahasiswa belajar tentang model matematika, statistik, dan pemrograman yang mendasari teknologi AI. Penelitian dan Inovasi Fokus juga beralih ke penelitian dan inovasi dalam AI, termasuk pengembangan algoritma baru, etika dalam AI, serta dampak sosial dan ekonomi dari penerapan teknologi AI.
  • 27.
    Terminologi Kecerdasan Artifisial Terminologi"AI" dalam konteks mata pelajaran Koding dan AI di pendidikan dasar dan menengah merujuk pada pengenalan dan pemahaman dasar tentang kecerdasan buatan. Ini mencakup beberapa konsep yang berbeda dibandingkan dengan istilah AI yang lebih kompleks yang dipelajari di perguruan tinggi, serta perkembangan terbaru dalam ruang Generative AI (Gen AI) Generative AI (Gen AI) Definisi: Generative AI merujuk pada subbidang AI yang menciptakan konten baru, seperti teks, gambar, musik, atau video, berdasarkan pola yang telah dipelajari dari data. Contoh terkenal termasuk model seperti GPT (untuk membuat teks) dan DALL-E (untuk menghasilkan gambar). Aplikasi di Pendidikan: Sementara Generative AI potensi revolusioner dari AI, di tingkat pendidikan dasar dan menengah, fokus masih lebih pada pemahaman dasar dan aplikasi praktis yang mudah dicerna oleh siswa. Mungkin akan ada pengenalan pada konsep Generative AI, tetapi dengan cara yang lebih sederhana dan aplikatif Secara umum, istilah AI pada mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial di pendidikan dasar dan menengah mencakup pengenalan dan aplikasi dasar yang berbeda dari AI yang dipelajari di perguruan tinggi atau ruang Gen AI yang lebih spesifik dan kompleks. Tujuannya adalah untuk memberikan fondasi awal kepada siswa agar mereka dapat memahami dan tertarik pada teknologi ini, sebelum melanjutkan ke studi yang lebih dalam di tingkat yang lebih tinggi atau pekerjaan yang membutuhkan
  • 28.
    Peta Kompetensi Sumber: (HyunkyungChee, et.all, A Competency Framework for AI Literacy, 2024; Unesco AI Framework, etc.)
  • 29.
  • 30.
    Fase C Jenjang SDKelas 5 dan 6 Materi Kompetensi Rasional Konsep Dasar Kecerdasan Artifisial Mampu memahami istilah, definisi, konsep, sejarah, jenis, penerapan, prinsip, dasar etika dan limitasi Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, analitis, serta mempersiapkan peserta didik untuk tantangan dan peluang di masa depan pada bidang Kecerdasan Artifisial Berpikir Komputasional sebagai Dasar Koding Mampu memahami konsep berpikir komputasional (definisi, orientasi, prinsip dan urgensi), memahami Berpikir Komputasional sebagai Dasar Koding dan contoh penerapan Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengembangkan keterampilan berpikir sistematis dan logis yang diperlukan pada pemecahan masalah berbantuan pemrograman. Konsep Dasar Algoritma dan Logika Mampu memahami konsep dasar algoritma dan logika sederhana (definisi dasar, jenis, logika dasar dan representasi algoritma dasar) Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengembangkan keterampilan berpikir sistematis dan logis yang diperlukan pada pemecahan masalah berbantuan pemrograman. Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial Sederhana / Tingkat Dasar Mampu memahami pemanfaatan Kecerdasan Artifisial Bidang umum dan pemebelajaran Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengembangkan penggunaan Kecerdasan Artifisial pada berbagaikebutuhan sehari-hari Konsep dasar teknologi digital mampu memahami konsep dasar, manfaat, dan dampak teknologi digital Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengembangkan penggunaan teknologi digital pada lingkungan keseharian Sumber: (Hyunkyung Chee, et.all, A Competency Framework for AI Literacy, 2024; Unesco AI Framework, etc.)
  • 31.
    Fase D Jenjang SMPKelas 7, 8, dan 9 Materi Kompetensi Rasional Literasi Digital Peserta didik mampu memproduksi dan mendiseminasi konten digital berupa audio, video, slide, dan infografis. Berpikir Komputasional Peserta didik mampu menerapkan pengelolaan data, pemecahan masalah sederhana dalam kehidupan masyarakat secara sistematis, dan menuliskan instruksi. Literasi dan Etika Kecerdasan Artifisial Peserta didik mampu memahami perbedaan cara manusia dan KA menggabungkan informasi dari beberapa perangkat penginderaan atau sensor, memahami bagaimana komputer memaknai informasi dari perangkat penginderaan atau sensor, memahami kualitas data, serta manfaat dan dampak KA pada kehidupan masyarakat. Peserta didik mampu memahami etika penggunaan KA dalam kehidupan sehari-hari seperti menjaga data pribadi dalam menggunakan KA, KA adalah sebagai alat bantu sehingga manusia tidak boleh tergantung dan percaya sepenuhnya pada KA karena KA masih sangat mungkin menghasilkan output yang salah, bias, atau melakukan halusinasi, serta menganalisis konten deep fake dalam bentuk gambar, audio, atau video. Pemanfaatan dan Pengembangan Kecerdasan Artifisial Peserta didik mampu menggunakan perangkat KA sederhana dengan kritis dan mampu menuliskan input bermakna ke dalam sistem KA. Sumber: (Hyunkyung Chee, et.all, A Competency Framework for AI Literacy, 2024; Unesco AI Framework, etc.)
  • 32.
    Fase E Jenjang SMA/KKelas 10 Materi Kompetensi Rasional Pemecahan masalah menggunakan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial Mampu mengumpulkan, memproses data melalui perangkat/tools Kecerdasan Artifisial dan mampu merancang solusi berbantuan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial, termasuk teknik prompting dan menginterpretasikan hasilnya Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengaplikasi keterampilan penyelesaian masalah yang diperlukan pada dasar pemecahan masalah berbantuan Kecerdasan Artifisial Kreasi konten lebih kompleks mengunakan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial Mampu mengaplikasikan berpikir kreatif dan merancang proyek kreatif menggunakan menggunakan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial sederhana (misalnya, gambar, teks, permainan atau animasi interaktif) Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu menghasilkan berbagai konten kreatif berbantuan teknologi Kecerdasan Artifisial. Kolaborasi melalui perangkat/tools Kecerdasan Artifisial Mampu menentukan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial yang sesuai untuk berkolaborasi (human- to- tool (AI) collaboration). Materi Dasar: Desain Kreatif, Penelitian dan Analisis Data, Penyuntingan Tulisan (grammarly), Pemrograman (github), Diagnosa Medis dst. Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengembangkan pemanfaatan berbagai perangkat/tools Kecerdasan Artifisial untuk berkolaborasi, sehingga dapat mendukung aktifitas kedepan Mengenali unsur pembentuk Prompt untuk KA generatif Pemahaman yang tentang konsep dasar bagaimana KA generatif bekerja dan bagaimana prompt digunakan untuk menghasilkan output yang diinginkan, menganalisis dan mengevaluasi hasil yang dihasilkan oleh KA generatif berdasarkan prompt yang diberikan Menyusun Prompt merupakan salah satu dasar dalam pemanfaatan dan pengembangan KA. Prompt yang jelas, spesifik, dan terarah dapat dicapai dengan memahami bagaimana memberikan instruksi yang tepat kepada KA generatif untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Pemecahan masalah menggunakan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial Mampu mengumpulkan, memproses data melalui perangkat/tools Kecerdasan Artifisial dan mampu merancang solusi berbantuan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial, termasuk teknik prompting dan menginterpretasikan hasilnya Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengaplikasi keterampilan penyelesaian masalah yang diperlukan pada dasar pemecahan masalah berbantuan Kecerdasan Artifisial Sumber: (Hyunkyung Chee, et.all, A Competency Framework for AI Literacy, 2024; Unesco AI Framework, etc.)
  • 33.
    Fase F Jenjang SMA/KKelas 11 dan 12 Materi Kompetensi Rasional Pengoperasian dan pengaplikasian perangkat AI Kecerdasan Artifisial Pada bidang tertentu/khusus Mampu memahami dan mengaplikasikan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial pada area pemanfaatan secara umum dan pada area pemenfaatan Khusus (misalnya pada bidang Pariwisata, Medis, Pertanian, Pemasaran dst) Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengaplikasi keterampilan penyelesaian masalah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah atau kreasi konten pada bidang umum dan pada area pemenfaatan Khusus (disesuaikan dengan kebutuhan atau pada jenjang SMK disesuiakan dengan konteks jurusan/peminatan) dengan bantuan Kecerdasan Artifisial. Pemograman Dasar Kecerdasan Artifisial Mampu mengembangkan konten Kecerdasan Artifisial yang relevan dan bermanfaat menggunakan perangkat/tools pemrograman (misalnya Snap!, Python, termasuk pemanfaatan library populer lainnya) Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengembangkan keterampilan penyelesaian masalah dengan bantuan pemograman Kecerdasan Artifisial (face recog, speech synthesis). Verifikasi hasil dan akurasi perangkat/tools Kecerdasan Artifisial Mampu mengindentifikasi potensi kesalahan hasil dari pemanfaatan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial, memverifikasi keakuratan hasil, dan Mampu merancang keputusan yang rasional berdasarkan data yang tervalidasi Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengembangkan keterampilan penyelesaian masalah yang akurat dan mendukung pengambilan keputusan berdasarkan data dan sumber data yang valid Pengenalan model bahasa besar (LLM) pada KA Generatif Memahami konsep dasar kecerdasan buatan, khususnya model bahasa besar LLM, termasuk arsitektur, cara kerja, dan aplikasi praktisnya Merupakan teknologi yang sedang berkembang pesat dan memiliki potensi untuk mengubah banyak aspek kehidupan. Peserta didik perlu memahami teknologi ini agar siap menghadapi masa depan yang semakin didominasi oleh Kecerdasan Artifisial (KA) Pengoperasian dan pengaplikasian perangkat AI Kecerdasan Artifisial Pada bidang tertentu/khusus Mampu memahami dan mengaplikasikan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial pada area pemanfaatan secara umum dan pada area pemenfaatan Khusus (misalnya pada bidang Pariwisata, Medis, Pertanian, Pemasaran dst) Merupakan materi dasar yang dibutuhkan peserta didik agar mampu mengaplikasi keterampilan penyelesaian masalah yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah atau kreasi konten pada bidang umum dan pada area pemenfaatan Khusus (disesuaikan dengan kebutuhan atau pada jenjang SMK disesuiakan dengan konteks jurusan/peminatan) dengan bantuan Kecerdasan Artifisial. Sumber: (Hyunkyung Chee, et.all, A Competency Framework for AI Literacy, 2024; Unesco AI Framework, etc.)
  • 34.
    Pembelajaran Kecerdasan Artifisial Bagaimanamembelajarkan AI/KA pada dikdasmen? Tahapan Kemampuan yang Dikuasai Peserta Didik
  • 35.
    Framework Pembelajaran KA Beberapaframework: 1. AI4K12 Initiative: Inisiatif ini menawarkan kerangka kerja yang dikenal sebagai "Five Big Ideas in AI," yang dirancang untuk membantu pendidik memahami dan mengajarkan konsep AI kepada siswa K-12. Mereka juga menyediakan sumber daya seperti buku, materi kurikulum, dan perangkat lunak untuk mendukung pengajaran AI. 2. UNESCO's Mapping of K-12 AI Curricula: UNESCO telah merilis laporan yang memetakan kurikulum AI yang disetujui pemerintah di berbagai negara. Laporan ini memberikan wawasan tentang bagaimana berbagai negara mengintegrasikan AI ke dalam pendidikan K-12 dan dapat menjadi referensi bagi pendidik yang ingin mengembangkan kurikulum AI. 3. AI for the Future Project (AI4Future): Proyek ini, yang diprakarsai oleh The Chinese University of Hong Kong, telah mengembangkan dan mengevaluasi kurikulum AI untuk pendidikan pra-universitas. Mereka berfokus pada pembuatan kurikulum yang dapat digunakan di sekolah menengah dan telah menerima umpan balik positif. Salah satu referensi yang disponsori oleh CSTA (AI4K12), memberikan fokus AI pada K12
  • 36.
    Pembelajaran Kecerdasan Artifisial Simulasicara kerja KA dengan bermain di situs https://studio.code.org/s/oceans Contoh Materi • Kreasi konten mengunakan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial (Manfaat Kreasi Konten dengan KA, Tahapan Kreasi Konten dengan KA, Teknik Prompt Untuk Produksi Konten Kreatif) • Kolaborasi melalui perangkat/tools Kecerdasan Artifisial --Human to AI Collaboration– (Desain Kreatif, Penelitian dan Analisis Data, Penyuntingan Tulisan, Kolaborasi dalam Pemograman dan dalam bidang khusus lainnya) • Mengenali unsur pembentuk Prompt untuk KA generatif (Fondasi, Teknik, Implementasi , Karir dan Etika) • Pengoperasian dan pengaplikasian perangkat AI Kecerdasan Artifisial Pada bidang Umum dan pada bidang tertentu/khusus. • Pemograman Dasar Kecerdasan Artifisial (Python, Snap!, serta pemanfaatan library Kecerdasan Artifisial populer lainnya) • IDE untuk Mengembangkan Aplikasi Kecerdasan Artifisial (Google Colaborator, Visual Studio Code, Spyder, dll) • Pengenalan model bahasa besar /LLM pada KA Generatif (Konsep Dasar, Peran LLM dalam Kecerdasan Artifisial Generatif, Teknik Integrasi Pemrograman KA dengan Model LLM mialkan melalui API
  • 37.
    Pembelajaran Kecerdasan Artifisial Maze Implementasikonsep speech Synthesis yang dimanfaatkan untuk mengatur pergerakan karakter/sprite dalam permainan labirin dengan menggunakan platform Snap! Berkeley. Prosesnya meliputi input suara, memproses suara, mengatur agar karakter dapat bergerak sesuai dengan perintah suara dari awal sampai menuju rumah melalui labirin. Berganti Wajah Implementasi konsep speech recognition yang dimanfaatkan untuk menampilkan image. Prosesnya meliputi input suara, memproses suara, mengatur agar image siswa tiga orang dapat berganti sesuai dengan perintah suara baik individuak maupun kelompok. Klasifikasi sayuran sebuah model machine learning yang bisa membedakan tipe-tipe sayuran seperti singkong, kol, kangkung, dan bayam menggunakan platform Google Teachable Machine. Prosesnya meliputi pengumpulan data, kemudian masuk ke dalam proses pembersihan data, validasi data, proses training model, hingga mengevaluasi model machine learning. Akhir output dari project ini adalah model bisa membedakan macam-macam jenis sayuran
  • 38.
    Strategi Pembelajaran Problem/Project BasedLearning dan Case Method, melibatkan peserta didik dalam aplikasi persoalan nyata pada bidang umum dan pada area pemenfaatan Khusus (disesuaikan dengan kebutuhan atau pada jenjang SMK disesuiakan dengan konteks jurusan/peminatan) untuk diselesaikan dengan bantuan teknologi Kecerdasan Artifisial. Contoh: Menggunakan berbagai perangkat/tools Kecerdasan Artifisial yang sesuai dengan persoalan yang diberikan, Studi Kasus melibatkan peserta didik dalam persoalan nyata. Variasi Metode Pembelajaran Menggunakan berbagai metode agar peserta didik tidak bosan termasuk menerapkan model gamifikasi, termasuk unplugged yang meduplikasi/meniru blok program. Contoh: Kombinasi ceramah, dan simulasi dalam mengajarkan perangkat/tools Kecerdasan Artifisial, Menciptakan Model Eksperimen Virtual. Memahami Mengaplikasikan Merefleksikan Pengalaman Belajar 1 2
  • 39.
  • 40.
    Kompetensi Afektif 1. Kepercayaandiri dan self-efficacy pemanfaatan Kecerdasan Artifisial. Peserta didik memiliki kepercayaan diri dan self- efficacy untuk meningkatkan minat dan motivasi dalam pemanfataan teknologi Kecerdasan Artifisial. Kepercayaan diri merupakan keyakinan umum peserta didik setelah melalui proses pembelajaran bahwa sebagai kemampuan belajar, beradaptasi, dan keberhasilan menggunakan alat dan sistem berbasis Kecerdasan Artifisial. Sementara self- efficacy merupakan keyakinan yang lebih spesifik bahwa peserta didik mampu memanfaatkan teknologi Kecerdasan Artifisial untuk menyelesaikan tugas tertentu, seperti menulis dan atau menghasilkan konten, menganalisis data, atau membuat model dukungan data pada bidang tertentu sesuai minat dan konsentrasi pendidikannya, misalnya dalam bidang pariwisata, pertanian, medis dan seterusnya. 2. Pola pikir reflektif pemanfaatan Kecerdasan Artifisial Sesuai dengan model pembelajaran mendalam atau bermakna, dimana pengalaman belajar diarahkan pada kemampuan reflektif. Peserta didik memiliki pola pikir reflektif dan mampu menilai pemahaman seseorang tentang Kecerdasan Artifisial, mampu menentukan/menilai tingkat literasi Kecerdasan Artifisial seseorang, dan mengenali bidang/area yang memerlukan pembelajaran Kecerdasan Artifisial lebih lanjut, khususnya pada jenjang SMK yang membutuhkan pemahaman dan aplikasi secara kontekstual berdasakan konsentrasi minat dan konsentrasi pendidikannya.
  • 41.
    Kurikulum hanyalah sebuahresep. Seenak apapun, jika kokinya tidak mampu memasak, maka masakan tidak akan enak, bahkan melenceng. Koki yang handal dan kreatif akan mampu mengadaptasi bahan lokal untuk menghasilkan masakan yang enak dan tidak melenceng Peran Guru Pengampu Mapel Sangat Penting THREE MAIN COMPONENTS IN LEARNING PROCESS
  • 42.
    Pendidikan Dasar danMenengah Pengoperasian, Pengaplikasian, dan Kolaborasi Perangkat Kecerdasan Artifisial Materi 2
  • 43.
  • 45.
    Definisi Kecerdasan Artifisial(KA) Menurut Para Pakar
  • 46.
    Definisi Kecerdasan Artifisial(KA) Seiring berjalannya waktu, pengertian tentang Kecerdasan Artifisial (KA) terus mengalami perkembangan, kerap bersentuhan dengan pertanyaan filosofis mengenai makna sejati dari "kecerdasan" dan sejauh mana mesin dapat dikatakan benar-benar cerdas. Namun dalam praktiknya, KA mengacu pada sistem yang memungkinkan komputer belajar dari data, mengenal pola, serta membuat prediksi atau keputusan secara mandiri.
  • 47.
    Karakterisitik Kecerdasan Artifisial(KA) KA belajar dari data (Machine Learning) KA bisa belajar dari data yang diberikan kepadanya (Russell & Norvig, 2021). Semakin banyak data yang ia pelajari, semakin baik kemampuannya. KA mampu beradaptasi dan meningkatkan performanya Jika KA awalnya sering melakukan kesalahan, ia bisa memperbaiki dirinya sendiri dengan belajar dari kesalahan tersebut (Goodfellow et al., 2016).
  • 48.
    Karakterisitik Kecerdasan Artifisial(KA) KA bekerja berdasarkan algoritma dan model prediktif KA bekerja dengan aturan dan langkah-langkah matematis yang disebut algoritma. Dengan algoritma ini, KA bisa memprediksi sesuatu sebelum terjadi berdasarkan pola data yang telah dipelajari (Domingos, 2015). KA mampu mengenali pola dan membuat keputusan secara otomatis KA tidak hanya melihat data, tetapi juga bisa menemukan pola yang tidak terlihat oleh manusia. Dari pola-pola ini, KA bisa membantu mengambil keputusan secara otomatis (Mitchell, 1997).
  • 49.
    Kecerdasan Artifisial VersusManusia Manakah yang lebih baik ?
  • 50.
  • 52.
  • 53.
    Prinsip Kerja KecerdasanArtifisial Cara Kerja KA (diadaptasi dari Abdaladze, n.d.)
  • 54.
    Evolusi dan FaktorPendorong Perkembangan KA
  • 55.
  • 56.
    Kategori Perangkat KAdan Contoh Aplikasinya
  • 57.
  • 58.
    Pengoperasian Perangkat KA 1.Input Data Pengoperasian KA dimulai dengan mengumpulkan data berupa teks, gambar, suara, video, atau data sensor lainnya. Data ini menjadi "bahan bakar" bagi KA untuk belajar dan bekerja. 2. Pemrosesan Data (Processing) Data yang telah dikumpulkan kemudian diproses menggunakan algoritma KA, seperti machine learning, deep learning, atau natural language processing. Proses ini dilakukan oleh komputer, server, atau perangkat khusus seperti chip KA (misalnya NVIDIA Jetson, Google Coral, dsb.). 3. Pelatihan Model (Model Training) Pada tahap ini, KA dilatih menggunakan data untuk mengenali pola atau melakukan klasifikasi. Misalnya, mengenali wajah, menerjemahkan bahasa, atau menganalisis perilaku. 4. Inferensi (Inference) Setelah dilatih, KA dapat mengambil keputusan atau memberikan prediksi berdasarkan data baru. Contoh: sistem KA dapat mengenali apakah seseorang memakai masker atau tidak melalui kamera.
  • 59.
    Pengoperasian Perangkat KA 5.Output atau Tindakan Hasil dari pemrosesan ditampilkan dalam bentuk jawaban, rekomendasi, peringatan, atau tindakan otomatis. Contohnya: Asisten suara memberikan jawaban. Mobil pintar melakukan pengereman otomatis. Aplikasi menampilkan rekomendasi konten. 6. Umpan Balik dan Pembelajaran Berkelanjutan Beberapa sistem AI dapat belajar dari kesalahan atau masukan pengguna (feedback loop) untuk meningkatkan akurasi dan kinerja di masa depan. Contoh Perangkat yang Menggunakan KA Smartphone (face unlock, kamera pintar), Smart speaker (Google Home, Alexa), Robot edukasi Kamera pengawas pintar, Aplikasi rekomendasi (YouTube, Netflix) Sistem pendeteksi penyakit berbasis citra medis
  • 60.
    Aplikasi KA dalamBerbagai Bidang
  • 61.
    Aplikasi KA dalamBerbagai Bidang
  • 62.
  • 63.
  • 64.
    Peta Profesi MasaDepan: Siapa Bertahan, Siapa Tergeser oleh AI? ❑ Transformasi digital dan KA mengubah dunia kerja secara besar-besaran. ❑ Banyak profesi baru bermunculan, terutama di bidang teknologi dan data. ❑ Profesi tradisional yang bersifat rutin mulai tergeser otomatisasi. ❑ Laporan Future of Jobs 2025 menyoroti tren ini secara global
  • 65.
    Peta Profesi MasaDepan: Siapa Bertahan, Siapa Tergeser oleh AI? ❑ Pemahaman tentang profesi berbasis KA penting untuk kesiapan karier. ❑ Pendidikan perlu menyesuaikan: fokus pada literasi teknologi dan keterampilan adaptif. ❑ Pembelajaran KA harus dirancang untuk membekali siswa menghadapi perubahan kerja.
  • 66.
    Kolaborasi Manusia danKA : Transformasi Berbagai Bidang
  • 67.
    Kolaborasi Manusia danKA : Transformasi Berbagai Bidang
  • 68.
    Kuadran Kolaborasi Manusia-KA Kai-FuLee (2018) memetakan empat bentuk kolaborasi manusia-KA dalam sebuah kuadran. Pemetaan ini berfungsi sebagai panduan bagi manusia untuk mengoptimalkan kapabilitasnya di era KA. https://www.futuremindslab.com
  • 69.
  • 70.
    " Guru tidaktergantikan oleh AI—mereka ditingkatkan olehnya” Mas’ad Fachir Tim Fasilitator Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah
  • 71.
  • 72.
    Mengenali Unsur PembentukPrompt untuk Kecerdasan Artifisial Generatif
  • 73.
    Definisi KA Generatif KecerdasanArtifisial (KA) Generatif merupakan cabang dari kecerdasan artifisial yang berfokus pada pembuatan konten baru (baik berupa teks, gambar, musik, maupun video) dengan menggunakan model pembelajaran mendalam (deep learning). Jenis KA Generatif yang digunakan secara luas, meliputi: Konsep Dasar Kecerdasan Artifisial Generatif Jenis KA Generatif ChatGPT & LLM Lainnya DALL-E & Pembuat Gambar MusicLM & Pembuat Musik Pembuat Video & Animasi Model KA untuk menghasilkan teks Model KA untuk mengubah prompt menjadi gambar Model KA untuk menciptakan musik Model KA untuk membuat video dan animasi
  • 74.
    Definisi Prompt Prompt merupakanperintah atau instruksi yang diberikan kepada model KA untuk menghasilkan keluaran yang diinginkan. Dalam konteks KA generatif, prompt memiliki peran krusial sebagai pengarah proses pembuatan konten. Fungsi Utama Penggunaan Prompt Peran dan Fungsi Prompt Mengatur Konteks Prompt menyediakan konteks yang diperlukan bagi model KA untuk memahami topik, gaya, dan tujuan output yang diharapkan. Memberi Instruksi Spesifik Instruksi yang jelas dan spesifik akan membantu model KA untuk memfokuskan output pada area tertentu. Menentukan Format Output Sebuah prompt dapat mencakup instruksi mengenai pemformatan (misalnya: daftar poin, esai naratif, atau dialog) Memfasilitasi Kreativitas Memberikan elemen kreatif dalam prompt, seperti metafora, analogi, atau skenario, model KA dapat menghasilkan output yang juga memiliki nilai estetika.
  • 75.
    1 Informasi latar belakang untuk memanduKA memahami situasi atau audiens Konteks (Background) 2 3 4 5 Informasi khusus yang perlu diproses KA, seperti teks, angka, atau data mentah Data/Input Spesifik Demonstrasi output yang diharapkan untuk memandu format, gaya, atau konten Contoh (Examples) Pengaturan yang mengontrol output, seperti panjang, tingkat kreativitas, dan pilihan model Parameter Teknis Inti dari prompt yang menjelaskan tugas yang harus dilakukan KA Instruksi (Task) 6 Penyesuaian bahasa sesuai kebutuhan: formal, kasual, teknis, atau humoris Nada dan Gaya (Tone/Style) 7 8 9 10 Larangan atau pembatasan konten Batasan (Constraints) Meminta KA berperan sebagai ahli atau karakter tertentu Peran (Role Specification) Proses memperbaiki prompt berdasar respons sebelumnya Penyempurnaan Iteratif Spesifikasi struktur respon, seperti daftar, tabel, JSON, atau paragraf Format Output Unsur-unsur Pembentuk Prompt
  • 76.
    Kejelasan (Clarity) Memastikan promptmudah dipahami dan tidak ambigu. Spesifisitas (Specificity) Menyediakan detail yang tepat untuk memandu output model. Konteks Memberikan latar belakang yang diperlukan untuk pemahaman. Kreativitas dan Kebebasan Berekspresi Memungkinkan eksplorasi ide-ide baru dan inovasi. Contoh Output: Unsur Penting Prompt yang Efektif
  • 77.
  • 78.
    Output KA yang Disempurnakan InputPrompt KA Iterasi Prompt Evaluasi Kreativitas Penilaian Relevansi Identifikasi Bias Analisis Akurasi Strategi iterasi prompt yang diadaptasi dari Google Cloud: https://cloud.google.com/vertex-ai/gen erative-ai/docs/learn/prompts/prompt- iteration?hl=id Analisis Dan Evaluasi Output KA Generatif
  • 79.
    Berdasarkan laporan dariWorld Economic Forum (2023), 34% pengguna KA cenderung mengalami penurunan kemampuan analitis dan terlalu bergantung pada solusi instan. Fokus utama pengguna KA, seharusnya, tidak hanya berhenti di cara menggunakan KA secara efektif, tetapi juga memetakan ulang pola pikir dalam berinteraksi dengan teknologi sedemikian sehingga KA digunakan untuk meningkatkan kapasitas diri. KA dalam Konteks Pembelajaran Modern
  • 80.
    Definisi Teknik Menggunakan KA untuk memperluas,bukan menggantikan kemampuan manusia. Teori Beban Kognitif KA dapat: ● Mengurangi extraneous load (bantu tugas administratif) ● Meningkatkan germane load (fokus ke analisis & refleksi) Growth Mindset “Buatkan peta konsep yang menunjukkan hubungan antara IoT, sensor, dan data dalam konteks sistem monitoring suhu ruangan" Mempertahankan Kendali (Agency) Contoh Prompt Augmentasi Skill “Kategorikan respons survei, lalu ajukan 3 pertanyaan analisis” Prinsip Pengguna tetap menjadi pengendali proses berpikir Fokus pada proses belajar, bukan hasil instan. Jadikan KA sebagai mitra pengembangan diri Teknik Pertanyaan 3 Lapisan ● Lapis 1 – Fakta: Apa? ● Lapis 2 – Analisis: Bagaimana perbedaannya? ● Lapis 3 – Refleksi: Mengapa ini penting bagi saya? Prompt Reflektif ● Prompt yang berorientasi proses bukan lagi prompt pasif. ● Fakta: "Apa definisi machine learning?" ● Analisis: "Bagaimana machine learning berbeda dari pemrograman tradisional?" ● Reflektif: "Mengapa konsep ini relevan dengan karir saya? Prinsip Dasar Prompting yang Sehat
  • 81.
    Teknik Dekonstruksi Argumen Membongkarargumen kompleks menjadi komponen-komponen yang lebih kecil untuk analisis. Metode Socratic Prompting Menggunakan pertanyaan untuk mengungkap asumsi dan mendorong penalaran yang lebih dalam. Analisis Bias dan Perspektif Membandingkan sudut pandang untuk meningkatkan kesadaran kritis. Tindak lanjut: Gunakan tools seperti CRAAP Test untuk mengevaluasi sumber yang direkomendasi KA Elemen CRAAP Periksa apakah informasi atau data yang disajikan berasal dari sumber yang terbaru dan relevan dengan perkembangan teknologi pendidikan terkini. Strategi Currency (Keterkinian) Relevance (Keterkaitan) Pastikan sumber tersebut secara langsung membahas topik penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran, dan relevan dengan kedua teori (kognitivisme dan konstruktivisme). Authority (Kewenangan) Evaluasi kredibilitas penulis atau lembaga yang mengeluarkan sumber tersebut. Accuracy (Akurasi) Verifikasi apakah data dan argumen yang disampaikan didukung oleh bukti yang dapat dipercaya, seperti hasil riset atau studi kasus yang valid. Purpose (Tujuan) Analisis tujuan dari sumber tersebut. Apakah informasi disajikan secara objektif bertujuan untuk mendidik atau ada agenda tertentu yang dapat mempengaruhi isi dan sudut pandangnya? Melatih Berpikir Kritis dengan KA
  • 82.
    KA menyesuaikan rencanabelajar berdasarkan kinerja siswa KA menyusun jadwal belajar yang disesuaikan dengan materi dan latihan. Siswa melakukan tes diagnostik untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan. Rencana Belajar Penyesuaian Rencana Profil Belajar KA mengevaluasi pekerjaan siswa dan memberikan umpan balik yang konstruktif. Penetapan Target Evaluasi dan Umpan Balik Siswa dan KA menetapkan target yang dapat dicapai untuk perbaikan. Contoh Proses Pembelajaran yang Dipersonalisasi dengan KA: KA berfungsi seperti personal trainer yang memberikan panduan, memantau kemajuan, dan menyesuaikan latihan berdasarkan kebutuhan individu KA sebagai Personal Trainer
  • 83.
    1. Keterbatasan Koneksidan Empati Manusia ● KA tidak dapat memberikan motivasi, dorongan, dan penghayatan emosional sebagaimana yang dapat ditawarkan pelatih manusia. ● Unsur manusia ini penting untuk membangun kepercayaan dan kedekatan, yang menjadi fondasi keberhasilan pelatihan jangka panjang. 2. Kemampuan Terbatas dalam Menyesuaikan Diri dengan Kebutuhan dan Kondisi Individu ● KA mungkin tidak mampu menyesuaikan rencana latihan berdasarkan performa waktu nyata, tingkat kelelahan, maupun perubahan mendadak dalam jadwal pelatihan. ● Pelatih manusia dapat melakukan penyesuaian spontan sesuai perkembangan dan kebutuhan khusus peserta. 3. Potensi Ketergantungan Berlebih dan Kurangnya Akuntabilitas ● Meskipun KA dapat memberikan pengingat dan dorongan, efektivitasnya dalam menumbuhkan rasa tanggung jawab dan memotivasi agar konsisten sering kali lebih rendah dibandingkan pelatih manusia. ● Ketergantungan berlebihan pada KA dapat mengurangi kesadaran diri dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan mandiri terkait latihan. 4. Kekhawatiran terhadap Privasi dan Keamanan Data ● Sistem KA kerap memproses informasi pribadi yang sensitif, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai privasi dan keamanan data. ● Penggunaan KA dalam berbagai bidang harus dilakukan secara aman dan bertanggung jawab, terutama untuk pengguna yang rentan Keterbatasan KA sebagai Personal Trainer
  • 84.
    Pertanyaan Refleksi Diri Teknik "20-40-40” Evaluasi penggunaanKA secara berkala. “Apakah saya menggunakan KA untuk menghindari kesulitan atau untuk mengatasinya?” ❏ 20% KA : Gunakan KA untuk tugas repetitif ❏ 40% Kolaborasi: Diskusikan output KA dengan rekan ❏ 40% Mandiri: Analisis, sintesis, dan eksekusi tugas tanpa KA Pembatasan Waktu Penggunaan KA Checklist Kritis Sebelum Melakukan Prompting Modifikasi Teknik Pomodoro: 25 menit kerja mandiri 5 menit klarifikasi dengan KA Ulangi siklus, dengan jeda 15 menit setiap 2 jam. ❏ Saya sudah mencoba menjawab sendiri ❏ Saya tahu apa yang ingin dicapai dari respon KA ❏ Saya siap memverifikasi informasi dari sumber lain Strategi Menghindari Jebakan Ketergantungan
  • 85.
  • 86.
    Definisi Kreasi Kontendengan KA Kreasi konten dengan KA adalah proses kolaboratif yang menggabungkan kemampuan analitis dan kreatif yang dimiliki mesin dengan wawasan dan intuisi manusia Manfaat Penggunaan KA dalam Kreasi Konten Tahapan kreasi konten dengan KA 1) Efisiensi Produksi; 2) Inovasi dan Eksperimen; 3) Kustomisasi dan Personalisasi Brainstorming Drafting Editing dan Revisi Dokumentasi Proses Pengguna mengumpulkan ide-ide awal KA menghasilkan konten awal Pengguna menyempurnakan konten KA Iterasi dan revisi didokumentasikan Dasar-dasar Kreasi Konten dengan KA
  • 87.
    KA dapat memilikiperan dengan membantu pengguna untuk melakukan brainstorming dan mind mapping secara digital. Pengembangan ide melalui pendekatan digital ini memungkinkan penyusunan konsep yang terintegrasi antara analisis data dan intuisi kreatif yang dimiliki manusia, sehingga menghasilkan konten yang tidak hanya informatif tetapi juga menarik dan relevan. — Prompt Engineering Guide, 2019 Pengembangan Ide dan Kreativitas Digital
  • 88.
    2 3 1 4 Tentukan apa yangingin dicapai melalui konten tersebut. Apakah untuk mengedukasi, menginspirasi, menghibur, atau menginformasikan? Definisikan Tujuan Konten Jelaskan latar belakang, target audiens, dan konteks yang relevan. Hal ini membantu KA menghasilkan konten yang lebih terarah. Sertakan Elemen Kontekstual Jika memungkinkan, sertakan contoh-contoh format atau gaya yang diinginkan. Beri Contoh Buat prompt multi-langkah di mana output awal dievaluasi dan prompt direvisi berdasarkan feedback. Terapkan Teknik Iteratif Teknik Perancangan Prompt untuk Produksi Konten Kreatif
  • 89.
    Penyuntingan dan Kurasi Konten Memastikankualitas dan akurasi konten Penggabungan dengan Elemen Lain Menggabungkan visual dan interaktivitas Dokumentasi Proses Kerja Mencatat semua langkah pengembangan Uji Coba dan Feedback Mengumpulkan masukan untuk perbaikan Integrasi Konten dalam Proyek Nyata
  • 90.
    Kementerian Pendidikan Dasardan Menengah Membuat Presentasi Visual Pendukung Menulis Skenario Merekam Narasi Mengedit Video Menggunakan Gamma untuk membuat presentasi yang menarik secara otomatis. Menghasilkan ilustrasi atau grafik dengan Napkin.ai untuk mendukung pembelajaran. Menggunakan ChatGPT atau lainnya untuk menyusun skrip video yang menarik. Menambahkan narasi profesional menggunakan TTSMaker. Mengedit video menggunakan Canva serta interaktivitas pada Quizizz. 1 2 3 4 5&6 + Membuat Video Pembelajaran dengan KA
  • 91.
    Isu Etika UtamaKreasi Konten dengan KA Plagiarisme & Hak Cipta Bias & Ketidakberpihakan Akuntabilitas & Tanggung Jawab Isu Lingkungan Transparansi Penggunaan
  • 92.
    Output yang dihasilkanoleh KA harus diperiksa agar tidak melanggar hak cipta atau meniru karya orang lain secara tidak sah. Pengguna harus memastikan bahwa konten tersebut original atau disertai dengan atribusi yang tepat jika mengacu pada sumber eksternal. Contoh nyata dari permasalahan ini adalah gugatan hukum yang diajukan oleh Getty Images terhadap perusahaan KA bernama Stability AI pada tahun 2023. Stability AI merupakan pengembang dari Stable Diffusion, sebuah model generatif yang dapat membuat gambar baru berdasarkan perintah teks. Getty Images menuduh bahwa Stability AI secara tidak sah telah menggunakan lebih dari 12 juta gambar berlisensi milik mereka untuk melatih model tersebut tanpa izin atau kompensasi. Gugatan tersebut diajukan di pengadilan federal AS dan juga di Inggris, dengan tuduhan pelanggaran hak cipta dalam skala besar (Reuters, 2023). Plagiarisme & Hak Cipta Isu Etika Utama Kreasi Konten dengan KA
  • 93.
    Model KA seringkali mewarisi bias dari data latihnya. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi output dan mengoreksi bagian-bagian yang menunjukkan bias gender, etnis, atau budaya. Contoh kasus yang cukup dikenal adalah sistem rekrutmen berbasis KA yang dikembangkan oleh Amazon pada tahun 2018. Sistem tersebut secara otomatis menilai dan menyaring lamaran kerja, namun terbukti menunjukkan bias terhadap pelamar perempuan. Hal ini terjadi karena model dilatih menggunakan data lamaran historis selama 10 tahun, yang didominasi oleh laki-laki di bidang teknologi. Akibatnya, algoritma mulai menurunkan peringkat lamaran yang mengandung kata-kata yang berasosiasi dengan perempuan. Menyadari hal ini, Amazon akhirnya membatalkan proyek tersebut secara internal sebagai bentuk tanggung jawab etis (Reuters, 2018). Bias & Ketidakberpihakan Isu Etika Utama Kreasi Konten dengan KA
  • 94.
    Penggunaan KA dalamkreasi konten sebaiknya diumumkan secara terbuka kepada audiens, terutama bila konten tersebut mempengaruhi opini publik atau keputusan penting. Salah satu contoh kasus adalah ketika The Guardian pada tahun 2020 menerbitkan artikel opini yang ditulis oleh KA GPT-3. Meskipun disebutkan bahwa artikel tersebut dibuat dengan KA, banyak pembaca tidak mengetahui bahwa isi artikel merupakan hasil kurasi dari beberapa output dan telah disunting oleh editor manusia. Hal ini memicu perdebatan tentang pentingnya menyampaikan secara jujur sejauh mana keterlibatan manusia dalam konten yang diklaim dihasilkan oleh KA (The Guardian, 2020) Transparansi Penggunaan Isu Etika Utama Kreasi Konten dengan KA
  • 95.
    Pengguna KA harusbertanggung jawab atas output yang dihasilkan. Proses verifikasi dan validasi konten menjadi kunci untuk memastikan bahwa informasi yang dipublikasikan tidak menyesatkan dan dapat dipertanggungjawabkan. Contoh kasusnya adalah pada tahun 2016, Microsoft meluncurkan chatbot KA bernama Tay di platform Twitter (sekarang X), yang dirancang untuk belajar dari percakapan dengan pengguna. Namun, hanya dalam hitungan jam, Tay mulai mengeluarkan cuitan yang rasis, seksis, dan ofensif akibat masukan dari pengguna internet yang mengeksploitasi celah dalam desain pembelajarannya. Menyadari bahaya tersebut, Microsoft segera menonaktifkan Tay, mengeluarkan permintaan maaf resmi, dan mengakui bahwa mereka kurang mengantisipasi potensi penyalahgunaan dari publik. Microsoft kemudian berkomitmen untuk memperkuat kebijakan pengembangan KA mereka, termasuk aspek etika, keamanan, dan akuntabilitas dalam desain sistem berbasis pembelajaran mesin (IEEE Spectrum, 2023). Akuntabilitas & Tanggung Jawab Isu Etika Utama Kreasi Konten dengan KA
  • 96.
    Selain isu etikadalam penggunaan Kecerdasan Artifisial (KA), penting pula untuk mempertimbangkan dampak ekologisnya, khususnya terkait konsumsi energi dan emisi karbon. ● Sebuah studi oleh Strubell et al. (2019) menunjukkan bahwa pelatihan model NLP canggih dapat menghasilkan emisi hingga 284 ton CO₂, setara dengan lebih dari 300 penerbangan sekali jalan antara London dan New York (Strubell et al., 2019) ● pelatihan GPT-3 dapat mengkonsumsi air setara dengan memproduksi 370 botol air (500 ml) untuk setiap 20–50 pertanyaan yang diajukan ke model AI (Li & Hao, 2023). ● Konsumsi listrik oleh pusat data secara global dapat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030, sebagian besar dipicu oleh meningkatnya adopsi teknologi KA (IEA, 2023) Isu Lingkungan Isu Etika Utama Kreasi Konten dengan KA
  • 97.
    Peningkatan Kualitas Pembelajarandan Pemahaman: Penggunaan KA generatif harus ditujukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memfasilitasi pemahaman konsep yang lebih mendalam, dan mendorong pemikiran kritis. Pengembangan Keterampilan Abad ke-21: Pemanfaatan KA generatif harus membantu peserta didik dalam mengembangkan keterampilan yang relevan untuk abad ke-21, seperti literasi digital, kemampuan analisis informasi Integritas Akademik: Pengguna KA generatif harus memahami batasan penggunaan KA generatif dan tidak menggunakannya untuk melakukan plagiarisme atau kecurangan akademik lainnya. Transparansi dan Akuntabilitas Penggunaan: Pendidik dan peserta didik perlu memiliki pemahaman yang jelas tentang batasan dan potensi bias dalam hasil yang dihasilkan oleh KA generatif juga perlu disadari. Pengembangan Kemandirian Belajar: Penggunaan KA generatif harus mendorong kemandirian belajar peserta didik, bukan membuat mereka bergantung sepenuhnya pada teknologi. Akses yang Adil dan Merata: Upaya perlu dilakukan untuk memastikan bahwa akses terhadap alat dan sumber daya KA generatif tersedia secara adil dan merata bagi seluruh peserta didik. Privasi dan Keamanan Data: Jika dalam penggunaan KA generatif melibatkan pengumpulan atau pemrosesan data pribadi, prinsip-prinsip privasi dan keamanan data harus dihormati dan dipatuhi. Pengembangan Kebijakan yang Jelas: Pemangku kebijakan dalam bidang pendidikan perlu mengembangkan kebijakan yang jelas mengenai penggunaan KA generatif dalam pembelajaran. Pedoman Etis Penggunaan KA Generatif
  • 98.
    ● Menggunakan KAgeneratif sebagai alat bantu untuk belajar dan mengembangkan pmahaman, bukan untuk melakukan kecurangan akademik. ● Mencantumkan dengan jelas jika menggunakan output dari KA generatif dalam tugas atau pekerjaan akademik, sesuai dengan kebijakan institusi. ● Mengembangkan kemampuan untuk mengevaluasi secara kritis informasi yang dihasilkan oleh KA generatif dan memverifikasinya dari sumber lain. ● Bertanggung jawab atas hasil pekerjaan akademik yang mereka kumpulkan, meskipun sebagian dibantu oleh KA generatif. Bagi PESERTA DIDIK: ● Memberikan panduan yang jelas kepada peserta didik mengenai batasan dan cara penggunaan KA generatif yang diperbolehkan dalam tugas dan kegiatan pembelajaran. ● Mendorong penggunaan KA generatif sebagai alat bantu untuk brainstorming, mencari ide, atau memahami konsep, bukan sebagai pengganti pemikiran dan analisis mandiri. ● Merancang tugas yang mendorong pemikiran kritis, analisis, dan sintesis informasi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh KA generatif. ● Mengevaluasi hasil pekerjaan peserta didik tidak hanya berdasarkan output yang dihasilkan, tetapi juga pada proses pemahaman dan keterlibatan. Bagi PENDIDIK: Implikasi Praktis Penggunaan KA Generatif Dalam Pembelajaran
  • 99.
  • 100.
  • 101.
    KA dan MachineLearning KA bukan hanya Machine Learning Meskipun banyak yang mengasosiasikan KA secara eksklusif dengan machine learning (ML) karena kemampuannya untuk belajar dari data, KA sebenarnya mencakup spektrum yang jauh lebih luas
  • 102.
    Ragam Bahasa PemrogramanKecerdasan Artifisial
  • 103.
    Dasar Pemrograman Python Variabel& Tipe Data Sumber: https://automatetheboringstuff.com/2e/chapter2/ Variabel di Python adalah “kotak” penyimpanan berlabel yang dibuat untuk menyimpan dan mengambil data—seperti angka, teks, atau daftar—selama program berjalan.
  • 104.
    Dasar Pemrograman Python(lanjutan) Operator Operator di Python adalah simbol atau kata kunci (mis. + - * / ** % // and or not) yang memerintahkan komputer melakukan perhitungan atau logika pada nilai tipe data—seperti int, float, str, bool, list, tuple, set, dan dict— menentukan bentuk serta sifat nilai itu agar operator tahu cara memprosesnya.
  • 105.
    Dasar Pemrograman Python Sumber:https://automatetheboringstuff.com/2e/chapter2/ Struktur kontrol di Python adalah perintah memungkinkan program untuk mengambil jalur eksekusi yang berbeda berdasarkan suatu kondisi tertentu. 1. Percabangan (Decision), seperti if, elif, dan else. 2. Perulangan (Looping / Iterasi), seperti for dan while.
  • 106.
    Dasar Pemrograman Python Sumber:https://automatetheboringstuff.com/2e/chapter2/ Struktur kontrol di Python adalah perintah seperti if, for, dan while yang mengatur alur eksekusi program sehingga komputer dapat memilih, mengulang, atau melewati blok kode sesuai kondisi yang terjadi.
  • 107.
    Dasar Pemrograman Python Function Sumber:https://unstop.com/blog/python-functions Fungsi di Python adalah blok kode bernama yang secara opsional menerima parameter dan mengembalikan nilai (jika diperlukan), sehingga Anda bisa menjalankan suatu blok kode program berulang-ulang dengan satu panggilan dan menjaga kode tetap rapi.
  • 108.
    List (mutable) vs Tuple (immutable) •Struktur data merupakan cara untuk menyimpan dan mengelola data. • Aplikasi KA melibatkan data dengan jumlah yang besar, sehingga membutuhkan struktur data Struktur Data
  • 109.
    • Dictionary: pasangankunci (key) dan nilai (value) Sumber https://jeevangupta.com/python-dictionary-tutorial/ Struktur Data
  • 110.
    • Numpy Array https://nustat.github.io/DataScience_Intro_python/NumPy.html strukturdata N dimensional ‑ yang menyimpan elemen dengan tipe data sama secara terstruktur dan mendukung operasi vektor Struktur Data
  • 111.
    • Pandas Series& DataFrame https://www.linkedin.com/posts/devonsuardi31_dataanalysis- pandas-python-activity-7033804160558895105-IkD1/ Pandas Series :daftar satu baris atau satu kolom angka (atau teks) yang tiap elemen punya label (index), mirip daftar nilai ujian dengan nama siswa di sampingnya. Pandas DataFrame: tabel dua dimensi yang punya banyak baris dan kolom—bayangkan lembar kerja Excel —di mana setiap kolom bisa berisi tipe data yang berbeda (misal angka, teks, tanggal) Struktur Data
  • 112.
  • 113.
    Pembelajaran mesin adalahcabang kecerdasan artifisial di mana komputer “belajar” dari contoh-contoh data untuk mengenali pola dan kemudian membuat prediksi atau keputusan tanpa instruksi detail untuk setiap situasi baru. Pembelajaran Mesin (Machine Learning)
  • 114.
    • Penggunaan datasetberlabel (input dan output yang diketahui) untuk melatih algoritma dalam mengklasifikasikan data atau memprediksi hasil dengan akurat • Untuk mengenali gambar apel, maka sistem diberi data gambar yang diberi label sebagai apel. • Contohnya adalah pengelompokan (classification), pohon keputusan (decision tree), naive bayes, dan regresi (regression). Sumber: Dicoding Supervised Learning / Pembelajaran Terawasi
  • 115.
    • menggunakan datatidak berlabel • belajar dari kumpulan data yang tidak diinputkan secara manual oleh manusia (tidak terawasi) dan mengkategorikannya ke dalam berbagai kelompok berdasarkan atributnya • jika algoritma diberi input data berupa gambar apel dan pisang, maka algoritma tersebut akan bekerja dengan sendirinya untuk mengkategorikan gambar mana yang merupakan apel dan pisang • digunakan dalam pemodelan deskriptif dan pencocokan pola, seperti fuzzy means dan k-means clustering, Sumber: Dicoding Unsupervised Learning / Pembelajaran Tidak Terawasi
  • 116.
    • menggabungkan keunggulandari pembelajaran terawasi dan tak terawasi • algoritma dilatih menggunakan sejumlah kecil data berlabel dan sejumlah besar data tidak berlabel, dengan tujuan meningkatkan akurasi model tanpa harus memberikan label pada seluruh dataset • efektif ketika data tak berlabel mudah didapat, tetapi pelabelannya mahal atau sulit dilakukan • banyak digunakan dalam klasifikasi teks, gambar, dan analisis suara berskala besar seperti klasifikasi konten internet, analisis genom, atau pelabelan rekaman suara Sumber: https://www.geeksforgeeks.org/ml-semi-supervised-l earning/ Semi Supervised Learning / Pembelajaran Semi Terawasi
  • 117.
    • belajar melaluipraktik: serangkaian uji coba oleh “agen” yang melakukan perbaikan terus menerus berdasarkan feedback loop yang diterima, hingga kinerjanya sesuai dengan harapan • Model reinforcement learning banyak digunakan dalam permainan, seperti catur dan maze. Sumber: https://databasecamp.de/en/ml/reinforcement- learnings Reinforcement Learning
  • 118.
    • Data trainingatau data latih adalah sekumpulan data yang digunakan untuk melatih model machine learning. • Data testing atau data uji adalah kumpulan data yang belum pernah digunakan selama proses pelatihan: digunakan untuk mengukur seberapa baik model dapat menggeneralisasi pengetahuan yang telah didapat ke data baru yang belum dikenal sebelumnya • Pemisahan data training dan testing penting untuk dilakukan dengan perhitungan yang seksama, yang bertujuan untuk: • Menghindari Bias: Jika data testing ikut digunakan selama training, model pembelajaran mesin bisa saja menghafal data tersebut, yang mengakibatkan kinerja model tampak sangat baik pada data yang sama namun sangat kurang baik saat menghadapi data nyata. • Evaluasi Kinerja: Dengan menggunakan data testing yang terpisah, kita dapat mendapatkan gambaran yang lebih jujur tentang kemampuan model dalam memprediksi data yang tidak dikenal. Training & Testing
  • 119.
    Contoh Pemisahan DataTraining & Testing
  • 120.
    • Data adalahfakta yang dapat berbentuk teks, angka, gambar, suara, dan lainnya • Dataset adalah kumpulan data yang telah disusun, biasanya dalam bentuk matriks, tabel, himpunan (array), ataupun struktur spesifik lainnya • Cara mencari dataset: • Menggunakan Mesin Pencari: kata kunci spesifik seperti "dataset [topik]" atau "open dataset [topik]“ • Platform Dataset Terbuka (UCI, Kaggle, data.gov, dll) Dataset
  • 121.
  • 122.
    Contoh Cara LoadDataset (Python)
  • 123.
    Contoh: Bekerja denganDataset Iris Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah • https://colab.research.google.com/drive/ 1vwoldLmLrr5FeSARUVYCBP8MTOm_rAB N?usp=sharing : • Memuat dan mengonversi dataset ke DataFrame. • Eksplorasi data: menampilkan baris pertama, informasi umum, statistik deskriptif, dan pemeriksaan nilai yang hilang.
  • 124.
    • Data Preparationadalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk mengumpulkan dan menyiapkan data yang akan digunakan dalam proses pembelajaran mesin. • Di dalamnya, termasuk tahap data pre-processing (serangkaian langkah untuk mengubah data mentah menjadi format yang bersih, terstruktur, dan optimal sebelum dianalisis atau digunakan) Data Preparation & Pre-Processing
  • 125.
    Data Preparation &Pre-Processing
  • 126.
    Contoh penerapan datapreparation & pre-processing menggunakan dataset Indonesia Reading Interest dalam bahasa python: https://colab.research.google.com/drive/1d5yPdFKFB8s6hdP8iWsHB69TPOA6oaHb?usp=sharing
  • 127.
    teknik menyajikan datadan hasil analisis model dalam bentuk grafik, diagram, atau peta untuk memudahkan identifikasi pola dan hubungan antar variabel. Teknik Visualisasi Data Deskripsi Kapan Digunakan Histogram Menampilkan distribusi frekuensi dari data numerik. Digunakan untuk memeriksa sebaran dan frekuensi data, seperti mendeteksi normalitas, skewness, atau distribusi nilai. Boxplot Menunjukkan ringkasan statistik data, termasuk median, kuartil, dan outlier. Cocok untuk memahami sebaran data dan mendeteksi nilai ekstrim (outlier) dalam data numerik. Scatter Plot Menggambarkan hubungan antara dua variabel numerik. Digunakan untuk mengevaluasi korelasi atau pola hubungan antara dua variabel, seperti hubungan antara pendapatan dan pengeluaran. Heatmap Menampilkan matriks korelasi antar variabel dalam bentuk visual. Ideal untuk melihat hubungan antar banyak variabel sekaligus, misalnya memeriksa korelasi antar variabel dalam dataset numerik. Bar Plot Menampilkan perbandingan nilai atau frekuensi untuk data kategorik. Digunakan untuk membandingkan nilai agregat (misalnya rata-rata, jumlah) atau frekuensi antar kategori, seperti perbandingan penjualan per produk. Data Visualization
  • 128.
  • 129.
    • Proses awaldalam analisis data yang bertujuan untuk memahami karakteristik dataset secara menyeluruh ❑ Memahami Struktur Data: Mengetahui jumlah variabel, tipe data (numerik, kategorik, tanggal), dan ukuran dataset. ❑ Mengidentifikasi Missing Values dan Outlier: Mendeteksi data yang hilang atau tidak konsisten serta outlier yang dapat mempengaruhi hasil analisis. ❑ Mengeksplorasi Distribusi Data: Melihat sebaran data, tren sentral, dan penyebaran dengan bantuan histogram, boxplot, dan density plot. ❑ Menguji Asumsi Awal: Memeriksa hubungan antar variabel, seperti korelasi atau asosiasi, yang nantinya dapat digunakan untuk pemodelan. ❑ Mendapatkan Wawasan Awal: Memberikan gambaran umum yang mendalam mengenai dataset sehingga dapat menentukan strategi pembersihan data, transformasi, atau pemilihan fitur untuk pemodelan. Exploratory Data Analysis
  • 130.
    Exploratory Data Analysis •Contoh: https://colab.research.google.com/drive/1BBnmCH8oSt7lcCzMBUD7Fbb4kOQmeCsJ?usp=sharing
  • 131.
    Exploratory Data Analysis Berdasarkangrafik di samping: • Jumlah Penumpang Pria Lebih Banyak dari Wanita • Dari grafik, terlihat bahwa jumlah penumpang laki-laki (male) jauh lebih banyak dibandingkan penumpang perempuan (female). • Ini menunjukkan bahwa mayoritas penumpang Titanic adalah pria. • Kemungkinan Pengaruh terhadap Tingkat Keselamatan • Berdasarkan aturan "Women and children first", wanita memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk diselamatkan dibandingkan pria. • Perbedaan jumlah ini bisa berpengaruh pada analisis tingkat keselamatan (survival rate).
  • 132.
    Exploratory Data Analysis Berdasarkangrafik di samping: • Mayoritas Penumpang Berusia 20-40 Tahun • Puncak distribusi terlihat di rentang 20-30 tahun, dengan frekuensi tertinggi sekitar 70 penumpang pada kelompok usia sekitar 25 tahun. • Rentang usia 30-40 tahun juga cukup banyak, meskipun jumlahnya sedikit lebih rendah. • Keberagaman Umur Penumpang: Ada penumpang dari berbagai kelompok umur, mulai dari bayi hingga lansia sekitar 80 tahun. • Frekuensi anak-anak (di bawah 10 tahun) cukup rendah tetapi masih terlihat signifikan. • Lansia (di atas 60 tahun) memiliki jumlah yang jauh lebih sedikit dibandingkan kelompok usia lainnya. • Grafik menunjukkan pola distribusi miring ke kanan (right-skewed), di mana lebih banyak penumpang berusia muda dibandingkan penumpang yang lebih tua. Hal ini masuk akal karena Titanic kemungkinan besar membawa banyak pekerja muda dan keluarga dibandingkan lansia
  • 133.
    Training set digunakanuntuk melatih model agar dapat mempelajari pola dari data. Testing set digunakan untuk mengevaluasi model dengan data yang belum pernah dilihat oleh model sebelumnya, sehingga kita bisa menilai performa model secara objektif dan mendeteksi masalah seperti overfitting. Memisahkan Data Training & Testing
  • 134.
    Model yang palingsederhana adalah garis (regresi linier) dengan persamaan garis y = mx + c, yang menggambarkan pengaruh antara variable x terhadap y Melatih model (pada konteks regresi linier), adalah mencari nilai m dan c yang paling optimal, sehingga garis regresi menjadi garis yang paling akurat dalam merepresentasikan hubungan antara variable dependen dan independen https://colab.research.google.com/drive/1V9ZzDDNcsGprbLsGGGua3GnCmK6Pm-r1?usp=shari ng Melatih Model Machine Learning
  • 135.
    Melatih Model Seringkali, modelberupa garis lurus tidak cukup mewakili. Salah satu model lain, adalah logistic regression yang berbentuk kurva sigmoid Contoh: https://colab.research.google.com/ drive/1pk7vycijnjHCn6M5K-rXGh6D o5v0_MGZ?usp=sharing
  • 136.
    Melatih Model Dalam kasuslain, mesin perlu mengelompokkan sekumpulan data berdasarkan kemiripannya. K- means clustering adalah algoritma unsupervised learning yang mengelompokkan data ke dalam sejumlah k klaster berdasarkan kesamaan fitur, dengan cara menginisiasi sebanyak k titik pusat (centroid) secara acak, kemudian menetapkan setiap data ke klaster dengan centroid terdekat, dan akhirnya memperbarui posisi centroid berdasarkan rata-rata data dalam klaster tersebut hingga tercapai kondisi konvergen. Contoh: https://colab.research.google.com/drive/1ATmIdTpshocn xqfqZ9wC3QMW6vdREHcH?usp=sharing
  • 137.
  • 138.
    Pemrograman KA dipermudahdengan adanya library yang bisa digunakan, sehingga pemrograman tidak selalu melakukan pemrograman dari 0. Contoh library: 1. TensorFlow 2. Scikit-Learn Library Pemrograman KA
  • 139.
  • 140.
    Nilai koefisien regresiyang optimal adalah yang menghasilkan paling sedikit error. MAE (Mean Absolute Error): Rata rata ‑ jarak tiap titik data ke garis prediksi, diukur persis seperti kita mengukur panjang dengan penggaris lalu dijumlahkan dan dibagi banyak titik. MSE (Mean Squared Error): Rata rata ‑ jarak kuadrat: untuk tiap titik, jaraknya dikuadratkan (jarak × jarak) baru dijumlahkan dan dirata ratakan. ‑ Contoh: https://colab.research.google.com/drive/1mdxRzWGP1p59opv AFwIXlumwLImO4h9p?usp=sharing Analisis Hasil Regresi
  • 141.
    Confusion Matrix Confusion matrixadalah sebuah tabel yang menggambarkan kinerja model klasifikasi dengan membandingkan hasil prediksi model dengan data aktual. Matriks ini menyediakan informasi mengenai: True Positives (TP): Jumlah data positif yang benar-benar diprediksi sebagai positif. • True Negatives (TN): Jumlah data negatif yang benar-benar diprediksi sebagai negatif. • False Positives (FP): Jumlah data negatif yang salah diprediksi sebagai positif. • False Negatives (FN): Jumlah data positif yang salah diprediksi sebagai negatif. Contoh: https://colab.research.google.com/drive/1SM7LTKJ8KPr1ziwyquQzB B3jdUwNpC62?usp=sharing
  • 142.
    Metode Siku /Elbow Method Metode siku digunakan untuk menentukan banyaknya klaster yang paling optimal dengan menarik tiap titik data ke pusat klaster dan menghitung jaraknya. Semakin kecil jarak, maka semakin rapat sebuah klaster. Jika jarak-jarak tersebut divisualisasikan dalam sebuah grafik garis, maka akan terbentuk sebuah garis yang menurun tajam di awal, hingga suatu nilai di mana penurunannya menjadi lebih landai. Contoh: https://colab.research.google.com/drive/1lr3qYX9ZurElDfhZtu _yIhJbbyhNQQM7?usp= sharing Nilai k pada metode siku menunjukkan banyak klaster yang optimal untuk digunakan dalam klasterisasi
  • 143.
    Mengenal Model BahasaBesar Large Language Model (LLM)
  • 144.
    Large Language Model adalahsebuah sistem berbasis jaringan syaraf tiruan yang dilatih untuk dapat memahami, memproses, dan menghasilkan teks dalam bahasa alami atau bahasa natural (bahasa yang digunakan manusia sehari-hari dalam berbagai gaya) Attention Is All You Need" adalah sebuah karya tulis penelitian penting tahun dalam pembelajaran mesin yang ditulis oleh delapan ilmuwan yang bekerja di Google. Karya tulis tersebut memperkenalkan arsitektur pembelajaran mendalam baru yang dikenal sebagai transformer , berdasarkan mekanisme perhatian yang diusulkan pada tahun 2014 oleh Bahdanau et al. Karya tulis tersebut dianggap sebagai karya tulis dasar dalam kecerdasan buatan modern , dan kontributor utama bagi ledakan KA , karena pendekatan transformer telah menjadi arsitektur utama dari berbagai macam KA, seperti model bahasa besar Pengenalan Large Language Model (LLM)
  • 145.
    LLM menggunakan mekanisme “attention”,yang merupakan teknik pembelajaran mesin yang mengarahkan model deep learning untuk memprioritaskan (atau memperhatikan/ attention/ atensi) kepada bagian paling relevan dari data inputan https://www.analyticsvidhya.com/blog/2019/11/comprehensive-guide-attention-mechanism-deep-learning/ Pengenalan Large Language Model (LLM)
  • 146.
    Penjelasan Visual tentangLLM https://www.youtube.com/watch?v=LPZh9BOjkQs Sumber: https://learnopencv.com/attention-mechanism-in-transformer-neural-networks/
  • 147.
    Penjelasan Visual TentangArsitektur Transformer https://www.youtube.com/watch?v=wjZofJX0v4M (Arsitektur Sistem di Dalam LLM)
  • 148.
    • Representasi Kata:Setiap kata diubah jadi vektor angka (embedding) agar model bisa “membaca” dan membandingkannya satu sama lain. • Menentukan Kata Fokus (Query & Key): Untuk tiap kata yang ingin diprediksi atau diproses, model membentuk “query” dan membandingkannya dengan “key” dari semua kata lain untuk menilai seberapa relevan satu sama lain. • Menghitung Skor Perhatian: Query dan key dikalikan (dot product) untuk menghasilkan skor— semakin tinggi skor, semakin penting kata itu untuk konteks query. • Normalisasi ke Bobot (Softmax): Semua skor diubah lewat fungsi softmax sehingga menjadi bobot antara 0–1 yang jika dijumlahkan totalnya 1; ini membuat model “terfokus” pada kata-kata paling relevan. • Membangun Konteks (Value & Weighted Sum): Bobot tadi dipakai untuk mengalikan vektor “value” dari tiap kata, lalu dijumlahkan. Hasilnya adalah vektor konteks yang kaya informasi, digunakan model untuk memprediksi atau menghasilkan kata berikutnya. Cara Kerja Singkat Mekanisme Attention
  • 149.
    Visualisasi Cara KerjaMekanisme Attention https://www.youtube.com/watch?v=eMlx5fFNoYc
  • 150.
    1. Persiapan Data& Tokenisasi: Kumpulkan teks dalam jumlah sangat besar (buku, artikel, web). Setiap kata/frasa diubah menjadi potongan–potongan kecil (token) agar model dapat memprosesnya. 2. Pretraining (Pembelajaran Awal): Model belajar dengan “membaca” token secara berurutan dan mencoba memprediksi token selanjutnya. Parameter (bobot) model diubah sedikit demi sedikit menggunakan algoritma optimisasi (gradient descent) hingga prediksi makin akurat. 3. (Opsional) Fine Tuning ‑ : Jika ingin model mahir pada tugas khusus (misalnya tanya jawab atau ‑ terjemahan), model dilatih ulang dengan dataset yang sudah berlabel agar kemampuan sesuai kebutuhan. 4. Tokenisasi & Input Saat Inference: Ketika kita beri teks baru, teks itu kembali diubah jadi token dan dimasukkan ke model yang sudah “terlatih”. 5. Prediksi & Dekode Output: Model menghitung skor untuk setiap token berikutnya menggunakan mekanisme attention dan bobot yang telah dipelajari, lalu memilih token tertinggi (atau sampling). Token– token hasil itu digabung kembali jadi kalimat atau paragraf sebagai jawaban. Referensi video Cara Kerja LLM: https://www.youtube.com/watch?v=5sLYAQS9sWQ Cara Kerja LLM
  • 151.
    1. LLM merupakaninti dari KA Generatif, contohnya pada model GPT (Generative Pre-Trained Transformer) yang banyak digunakan di perangkat KA seperti ChatGPT, ScholarGPT, dan lain-lain 2. LLM banyak berperan dalam chatbot virtual (layanan pelanggan), penulisan dan pembuatan konten, penerjemahan bahasa, dan riset 3. Isu etika yang muncul: bias, diskriminasi, keamanan, penyalahgunaan, dan transparansi model LLM dalam KA Generatif
  • 152.
    1. Integrasi melaluiAPI (Application Programming Interface): OpenAI, Hugging Face, dll 2. Integrasi melalui Pipeline Machine Learning: menggunakan modul seperti PyTorch dan TensorFlow 3. Integrasi melalui pemrograman (Python, JavaScript, dll) Integrasi LLM dengan Aplikasi KA
  • 153.
    Suplemen Modul 4Fase E/F Orange Data Mining & Contoh Pengerjaan LK 4.2
  • 154.
    Machine Learning denganOrange Data Mining Suplemen ini bertujuan untuk memudahkan pemahaman dan pengaplikasian machine learning dengan antarmuka pemrograman visual, sebelum memasuki pemrograman machine learning berbasis teks (dengan bahasa pemrograman seperti Python). Tautan suplemen dapat diakses melalui: https://docs.google.com/document/d/1L8-t3enQN-_fzoI _bbORMGKiplth3B1Q/edit?usp=sharing&ouid=11790188 4224837387765&rtpof=true&sd=true Orange Data Mining
  • 155.
    PEDAGOGIK UNTUK KODINGDAN KA Pendidikan Dasar dan Menengah Modul 5.
  • 156.
    Alur Pembelajaran Materi Tahapandalam PM Indikator Mode Aktivitas Evaluasi Prinsip Pedagogik dalam Pembelajaran Pembelajaran HOTS dan TPCAK Rancangan Pembelajaran berbasis Pembelajaran Mendalam Memahami ∙ Peserta mampu menjelaskan prinsip-prinsip pedagogik dalam pembelajaran ∙ Peserta mampu menjelaskan pembelajaran berbasis HOTs dan Kerangka pembelajaran TPACK ∙ Peserta mampu menjelaskan konsep rancangan pembelajaran berbasis pembelajaran mendalam (PM) (IN-Synchronous) (IN- Asynchronous) Fasilitator menjelaskan pemaparan singkat mengenai prinsip-prinsip pedagogik, HOTs, dan TPACK serta Pembelajaran Mendalam Peserta membaca modul sesuai arahan fasilitator dan mendalami materi dengan membuat mind map materi LK 5.1 Peserta membuat mind map terkait materi : prinsip-prinsip pedagogi, pembelajaran berbasis HOTs dan TPACK serta Pembelajaran Mendalam Rancangan Pembelajaran berbasis Pembelajaran Mendalam Mengaplikasikan ∙ Peserta mampu merancang perangkat pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran mendalam untuk materi Koding KA (IN-Synchronous) (IN-Asynchronous) (ON-Asynchronous) Fasilitator memberikan pengarahan mengenai perancangan perangkat pembelajaran Koding KA dengan konsep PM Peserta merancang perangkat pembelajaran berbasis PM dengan untuk salah satu materi KA Peserta beserta fasilitator mendiskusikan hasil perancangan perangkat pembelajaran yang telah dibuat Peserta mempraktekan hasil perancangan dalam bentuk mictroteaching atau peer teaching LK. 5.2 Peserta mendesain perangkat pembelajaran dengan pendekatan PM Merefleksikan Peserta mampu merancang perangkat pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran mendalam untuk materi Koding KA (IN -2) Peserta melakukan evaluasi dan refleksi terhadap pelaksanaan microteaching LK. Refleksi dan Evaluasi Microteaching
  • 157.
  • 158.
    Bagaimana menerapkan prinsip-prinsippegadogik Memahami Karakteristik Peserta Didik Mengetahui dan memahami teori belajar dan prinsip pembelajaran mendidik Menguasai konten dan kurikulum Memahami potensi peserta didik Mengetahui dan menguasai keterampilan berkomunikasi Memahami proses penilaian dan evaluasi belajar
  • 159.
    Identifikasi karakteristik pesertadidik Etnik Kultural Status Sosial Minat atau motivasi Perkembangan Kognitif Kemampuan Awal Gaya Belajar Perkembangan Emosi Perkembangan Moral dan Spiritual Perkembangan Motorik Konteks geografis
  • 160.
    Apa saja KomponenKurikulum? Kompone n Kurikulum Komponen Tujuan Komponen Isi/Materi Komponen Media Komponen Strategi Pembelajaran Komponen Proses Belajar Mengajar Komponen Evaluasi
  • 161.
  • 162.
    High Order ThinkingSkills Fungsi dari kemampuan high order thinking skills 1. Mampu mentransformasikan pengetahuan a. peserta didik mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama proses pembelajaran di kehidupan mereka sehari-hari b. Pembelajaran lebih bermakna atau memaknai setiap pengetahuan yang diperoleh 2. Mampu menciptakan solusi dari sebuah permasalahan a. siswa dapat mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi di kehidupan akademik maupun kehidupan nyata, b. mampu untuk menciptakan solusi baru untuk menyelesaikan masalah yang mereka definisikan sendiri atau yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. 3. Mampu berpikir kritis dan kreatif a. Critical thinking adalah kemampuan melakukan penalaran dan berpikir reflektif untuk fokus dalam memutuskan apa yang diyakini atau yang akan dilakukan b. mengajarkan siswa untuk melakukan penalaran, merenung dan membuat keputusan yang tepat. c. siswa diminta untuk mengevaluasi dan mengestimasi akibat dari berbagai peristiwa
  • 163.
    HOTs dalam TaksonomiPembelajaran Blooms vs Solo Taksonomi Blooms Anderson Taksonomi Solo Pengalaman belajar Deskripsi Tingkat Pembelajaran Taksonomi - Belum berkembang Prastruktural - Belum memahami C1 - Mengingat Dasar Unistruktural Memahami Mengingat C2 - Memahami Berkembang Multisktuktual Mengumpulkan ide C3 – Menerapkan C4- Menganalisis Cakap Rasional Mengaplikasi Menghubungkan ide C5-Mengevaluasi C6- Mencipta Unggul Berpikir Abstrak Merefleksi Menerapkan ide menjadi solusi
  • 164.
  • 165.
    MARI BERDISKUSI Pernahkah Andamendengar Kerangka TPACK dalam pembelajaran? Apa yang Anda ketahui mengenai Kerangka TPACK dalam pembelajaran ?
  • 166.
    ( Reproduced bypermission of the publisher, © 2012 by tpack.org) Setelah mencermati gambar di samping, apakah definisi Anda berubah mengenai TPACK? Apakah komponen paling penting dalam TPACK? Bagaimana definisi TPACK jika dijelaskan oleh gambar di samping? Apakah semua komponen dalam TPACK harus dikuasai oleh guru?
  • 167.
    Bagaimana menuangkan air daribotol ke dalam gelas? Untuk lebih mendalami konsep TPACK Perhatikan Ilustrasi berikut…
  • 168.
    Guru Siswa evaluasi capaian belajar siswa Penguasaan materi guru materiyang perlu dikuasai oleh siswa Content Pedagogical metode yang digunakan dalam mentransfer pengetahuan (students center learning) media pembelajaran Technological Sumber : Harsa, W. 2024 Bentuk botol dan gelas bermacam- macam, sehingga sering kali perlu metode yang berbeda dan teknologi yang sesuai untuk mendukung pembelajaran Dalam ilustrasi ini, guru perlu menguasai Konten, Pedagogi, dan Teknologi untuk menyajikan pembelajaran yang efektif
  • 169.
    Content knowledge (CK)adalah pengetahuan guru tentang bidang ilmu yang akan diajarkan kepada siswa. Pengetahuan berkenaan dengan konten ini juga berkaitan dengan kedalaman dan keluasan dari materi yang akan diajarkan. Guru perlu mampu memilah mana konten yang menjadi keutamaan untuk dikuasai oleh siswa dan mana yang tidak. Technological Knowledge Pedagogical Knowledge Content Knowledge Sumber : Harsa, W. 2024
  • 170.
    Pedagogical Knowledge (PK)adalah pengetahuan yang dimiliki oleh guru mengenai model, metode pengajaran, dan pendekatan pembelajaran. Hal tersebut mencangkup cara dan seni dalam mengajar, yang bertujuan untuk memberikan pengalaman pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik. Termasuk ke dalam pedagogical knowledge ini adalah pengetahuan yang berkenaan dengan karakter peserta didik, pengelolahan kelas, dan penilaian proses-hasil belajar Technological Pedagogical Content Sumber : Harsa, W. 2024
  • 171.
    Technology Knowledge (TK) merupakanpengetahuan tentang suatu teknologi dan cara teknologi tersebut digunakan. TK juga mengacu pada kemampuan untuk mempertimbangkan kegunaan dari suatu teknologi (misalkan jenis aktivitas yang didukung oleh teknologi) dan mengapa teknologi tersebut cocok dalam konteks situasi tertentu Technological Pedagogical Content Sumber : Harsa, W. 2024
  • 173.
    What is .. Technological Pedagogical Content TPACK TechnologicalPedagogical Content Knowledge (TPACK) mengacu pada pengetahuan guru berkenaan dengan teknik pedagogis yang menggunakan teknologi dengan cara konstruktif untuk mengajarkan konten; pengetahuan tentang apa yang membuat konsep sulit atau mudah dipelajari dan bagaimana teknologi dapat membantu memperbaiki masalah ini; dan pengetahuan tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mengembangkan pengetahuan baru atau memperkuat pengetahuan sebelumnya Sumber : Harsa, W. 2024
  • 174.
    Mari tebak Missing ‘T’ Teknologiapa yang diperlukan? Jika, Metode pembelajaran : Drill & Practice Materi yang disampaikan : Memahami Machine Learning ??? Drill & Practice Machine Learning Technological Content Pedagogical
  • 175.
    Online Simulation Discussion/ Debate ??? Technological Content Pedagogical Mari tebak Missing ‘C’ Contentapa yang dapat disampaikan? Jika, Metode pembelajaran : Discussion/Debate Teknologi yang digunakan : Online Simulation
  • 176.
    Video Recording ??? Etika danRisiko Teknologi Kecerdasan Artifisial Technological Content Pedagogical Mari tebak Missing ‘P’ Metode Pembelajaran apa yang diperlukan? Jika, Teknologi yang digunakan : Video Recording Materi yang disampaikan : Etika dan Risiko KA
  • 177.
  • 178.
    Bagaimana merencanakan Pembelajaran Mendalampada Koding dan KA Tahap pertama ialah tahap memahami dan mengkonstruksi pengetahuan • merekonstruksi pengetahuan esensial, aplikatif, serta nilai dan karakter pengetahuan • memahami arti, karakteristik, prinsip kerja, macam dan jenis koding dan KA. Tahapan kedua adalah tahap mengaplikasi yang bertujuan membentuk pendalaman pengetahuan pada peserta didik. • Tahap ini menuntut untuk mengaplikasikan apa yang peserta didik sudah pelajari untuk memecahkan kehidupan keseharian Terakhir, tahap merefleksi, peserta didik mengevaluasi dan memaknai proses serta hasil dari tindakan atau praktik nyata yang telah mereka lakukan. • Tahap ini melibatkan kemampuan peserta didik untuk meregulasi diri atau mengelola proses belajarnya sendiri. Model Pembelajaran yang dapat digunakan: 1. Problem based learning 2. Project Based learning 3. Inquiry based learning
  • 179.

Editor's Notes

  • #9 Pengajaran AI dalam pendidikan K-12 dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan argumen untuk kursus terpisah dan integrasi ke dalam kurikulum Ilmu Komputer. Kursus AI terpisah dapat memberikan pembelajaran yang terfokus, sementara integrasi dapat meningkatkan pemahaman AI dalam konsep komputasi yang lebih luas, mempromosikan keterampilan interdisipliner.
  • #10 Kursus AI Terpisah Pembelajaran Terfokus: Kursus AI khusus memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap konsep, teknik, dan aplikasi AI. Spesialisasi: Siswa dapat mengembangkan keterampilan dan pengetahuan khusus yang terkait dengan AI, mempersiapkan mereka untuk studi atau karier masa depan di bidang ini. Fleksibilitas Kurikulum: Kursus mandiri dapat disesuaikan untuk mencakup kemajuan terbaru dalam AI, memastikan bahwa siswa mempelajari materi terkini dan relevan.
  • #11 Integrasi ke dalam Kurikulum Ilmu Komputer Pemahaman Kontekstual: Mengintegrasikan AI ke dalam kurikulum CS membantu siswa melihat AI sebagai bagian dari lanskap teknologi yang lebih luas, meningkatkan pemahaman mereka secara menyeluruh tentang komputasi. Keterampilan Interdisipliner: Pendekatan ini mendorong siswa untuk menerapkan konsep AI di berbagai mata pelajaran, menumbuhkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Efisiensi Sumber Daya: Memanfaatkan kelas CS yang ada untuk mengajarkan AI dapat lebih efisien dalam hal sumber daya, karena memanfaatkan staf pengajar dan materi saat ini.
  • #15 Komputer hanyalah sebuah mesin yang dapat memproses serangkaian instruksi sederhana dengan sangat cepat. Seperangkat instruksi yang diprosesnya dikenal sebagai "program", dan instruksinya dikenal sebagai "kode". Orang yang menulis program komputer dikenal sebagai "programmer" atau "coder". Program mereka telah memungkinkan komputer menjadi berguna di hampir setiap bidang kehidupan modern: Program tingkat tinggi modern secara otomatis diterjemahkan ke dalam kode mesin yang dapat dipahami komputer oleh "kompiler" atau "penerjemah". Untuk menjadi seorang pembuat kode, Anda biasanya harus mempelajari setidaknya satu dari bahasa pemrograman tingkat tinggi ini: C – Bahasa terkompilasi yang canggih yang dipetakan secara dekat dengan kode mesin dan digunakan untuk mengembangkan sistem operasi. C++ – Bahasa terkompilasi yang disempurnakan yang dikembangkan pada C untuk menyediakan kelas bagi Pemrograman Berorientasi Objek (OOP). C# – Bahasa terkompilasi modern yang dirancang oleh Microsoft untuk kerangka kerja .NET dan Infrastruktur Bahasa Umum. Java – Bahasa terkompilasi portabel yang dirancang untuk berjalan pada platform apa pun terlepas dari arsitektur perangkat kerasnya. Python – Bahasa terinterpretasi dinamis yang memungkinkan Pemrograman fungsional dan Berorientasi Objek (OOP)
  • #17 Istilah konstruksi perangkat lunak mengacu pada pembuatan perangkat lunak yang berfungsi secara terperinci melalui kombinasi pengodean, verifikasi, pengujian unit, pengujian integrasi, dan penelusuran kesalahan. Karena konstruksi perangkat lunak memerlukan pengetahuan tentang algoritma dan praktik pengodean, hal ini terkait erat dengan Computing Foundations KA, yang berkaitan dengan dasar-dasar ilmu komputer yang mendukung desain dan konstruksi produk perangkat lunak.
  • #18 Pertimbangan berikut berlaku untuk aktivitas pengkodean konstruksi perangkat lunak Teknik untuk membuat kode sumber yang dapat dipahami, termasuk konvensi penamaan dan tata letak kode sumber; Penggunaan kelas, tipe terhitung, variabel, konstanta bernama, dan entitas serupa lainnya; Penggunaan struktur kontrol; Penanganan kondisi kesalahan—baik yang diantisipasi maupun yang luar biasa (misalnya, input data yang buruk); Pencegahan pelanggaran keamanan tingkat kode (misalnya, luapan buffer atau batasan indeks array); Penggunaan sumber daya melalui penggunaan mekanisme pengecualian dan disiplin dalam mengakses sumber daya yang dapat digunakan kembali secara serial (termasuk utas dan kunci basis data); Pengorganisasian kode sumber (menjadi pernyataan, rutinitas, kelas, paket, atau struktur lainnya); Pendokumentasian kode;
  • #178 Pengajaran AI dalam pendidikan K-12 dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan argumen untuk kursus terpisah dan integrasi ke dalam kurikulum Ilmu Komputer. Kursus AI terpisah dapat memberikan pembelajaran yang terfokus, sementara integrasi dapat meningkatkan pemahaman AI dalam konsep komputasi yang lebih luas, mempromosikan keterampilan interdisipliner.