Keluarga Mahasiswa ITB
      2008/2009
      Den Haag, 4 Juli 2009  
Sinergisasi Gerakan Akademisi  
menuju Kemandirian Energi Bangsa 

SAATNYA KITA 
MENENTUKAN MASA 
DEPAN KITA SENDIRI… 
Energi
Mahasiswa
Indonesia
  ompleksitas

 K
  evolusi
Informasi

 R
  eberagaman

 K
  olaborasi

 K
                        Indonesia
butuh


                        CITA‐CITA baru


                             sebagai


                         tujuan
bersama

Transformasi Indonesia jadi
MasyarakatKreatif dan
       Inovatif
Pemetaan

 Zonasi

 Daerah,

      pusat

   pemukiman,

  pusat
industri,

      niaga,

pemerintahan,
dll.




                      15

1. Sistem
Pendidikan
SDM
lokal
yang
mumpuni


   •  Jiwa
negarawan dan
paradigma kewirausahaan 
        Pendidikan
keluarga,
adat
isEadat
setempat

   •  Kompetensi
profesional, baik
teknis
spesifik
maupun
umum
makro,

      yang
kreaEf
dan
inovaEf

        Peran
InsEtusi
Pendidikan
lokal,
terutama
Perguruan
Tnggi

2. Sistem
PoliEk
yang
sehat
dan
berfokus
pada
tujuan:


   •  Perangkat regulasi untuk
koridor
kebijakan
kemandirian,
beserta

      manajemen
transformasinya

   •  Reorientasi fokus kepada
kepenEngan
dan
kemaslahatan
bangsa

   •  Wawasan
Kehidupan
bernegara
yang
berkelanjutan

lingkungan




                                                                      16

17

1.  Energi
=
kebutuhan
PRIMER

  •  Energi
dibutuhkan
di
semua
aspek
kehidupan

  •  Hukum
Kekekalan
Energi

       ntuk
memasak
beras,
butuh
energi
untuk

      U
      mengolahnya

       ntuk
mendapatkan
kain,
butuh
energi
untuk

      U
      industri
pakaian

       ntuk
merekonstruksi
bangunan,
butuh
SDM

      U
      berenergi (sudah
terpenuhi
pangan
dan
sandang)



                                                        18

2.  OpEmasi
potensi
SDA

  •  Pendataan
potensi
masing‐masing
daerah

  •  Analisis
fisibilitas
dan
analisis
ekonomis
dalam

     pengeksplorasian
dan
eksploitasi
SDA
tersebut

  •  Jika
belum,
diterapkan
kebijakan
tambahan

     Dukungan
teknologi

     Dukungan
regulasi

     Dukungan
pemberdayaan
komunitas


     Dukungan
akses
sosial
budaya
ekonomi

3.  Efisiensi
dalam
penggunaan
energi


    •  Dikaitkan
dengan
pemanfaatan
potensi
dan
kebutuhan

       energi
setempat

    •  PerEmbangan
harga
dan
kemudahan
serta
keterjangkauan

       sumber
energi

5.  Sustainability

    •  Keberlangsungan
daya
dukung
energi
untuk
jangka
panjang

       adalah
kepenEngan
generasi
mendatang

    •  Membuat
kerusakan
alam
=
Menghancurkan
tempat
Enggal

       sendiri

    •  Larangan
Tuhan
dalam
berbuat
kerusakan
di
muka
bumi
:

       MoEvasi
terbesar

 Menanamkan
kepedulian,
diawali
dengan


  Pertanyaan:



  
    “KENAPA?”

 KriEs
dan
tanggap
terhadap
kondisi
yang
ada

 


 Aplikasi
keilmuan

menjadi
problem
solver

 


 Membangun
komunitas
bersama
untuk

  sinergisasi
dan
kekuatan
gerak

 ‘Live
in’
ke
tengah
masyarakat,
memberikan
edukasi,

  advokasi
dan
inspirasi
untuk
bangkit

    •  Pendidikan
Kewarganegaraan

    •  Kontribusi
di
bidang
Teknologi

    •  Kepedulian
Sosial


 Menjadi
“false
alarm”
terhadap
kebijakan
yang

  dikeluarkan
pemerintah


 Rekomendasi
konstruksi
pemikiran
solusi
energi

  berdasarkan
kebenaran
ilmiah

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada 
                  kemunafikan” 
                 ‐ Soe
Hok
Gie
‐

                  


 “Beri aku 10 pemuda dan akan kuubah dunia” 
                 ‐
Soekarno
‐ 



Dan Kita punya 231, 6 juta 
penduduk Indonesia… 
25

1.  Ditemukan
GAP
antar
daerah
terkait
EBT
sbb:

  –  Riset
dan
pengetahuan

  –  Akses
ke
pemerintah‐DPRD‐pusat
peneliEan

  –  Peranan
kampus
masih
minim
thd
pengembangan

     lokal,
kecuali
beberapa
wilayah

  –  SEgma
masyarakat
tentang
EBT
=
barang
hi‐tech 
  –  DEN
belum
berfungsi,
acAon plans
harus
dibuat 
  –  Evaluasi
Energy
Mix
2025
menunjukkan
Edak

     mungkin
terjadinya
pada
tahun
2025!

2.  Komunitas
Mahasiswa
Peduli
Energi
(KMPE)

    sebagai
wadah
bagi
mahasiswa
lintas
daerah:

  –  Untuk
bertukar
informasi
mengenai
riset
dan

     pengembangan
energi
di
daerahnya

knowledge 
     management system 
  –  Follow
up
KENMI
dan
next
plannya
(bentuk

     PIMNAS,
dll)

  –  Aliansi
diresmikan
dengan
stakeholder
EBT
mulai

     dari
riset,
pengembangan,
pembentukan
kultur,

     hingga
implementasi
kebijakan
di
semua
daerah


     koordinasi
dengan
DEN

•  Pemerintah
harus
terbuka
dan
mau
untuk
menerima
masukan
dari

   Perguruan
Tinggi

perlu
dibuat
regulasi
atau
badan
yang
memungkinkan

   kolaborasi
Pemerintah‐PT‐Industri‐Masyarakat

•  Proteksi
terhadap
potensi‐potensi
EBT
lokal,
misalnya
kasus
Papua,

   Geotermal
dll

•  IdenEfikasi
relasi
dan
membentuk
jejaring
lintas
bidang
berdasarkan

   Quadrohelix
Model:

    –    Pemerintahan
:
DPR,
DPRD,
Pemerintah
Pusat,
Pemda

    –    Masy.
Sipil
:
komunitas,
LSM,


    –    Pengusaha
:
bidang
energi,
listrik,
pangan

    –    Perguruan
Tinggi
:
Pusat
pengembangan
EBT
lokal,
berdayakan
mahasiswa

    –    Media
:
jalur
propaganda
nilai
dan
visi
kemandirian
EBT!

•  Penyusunan
Renstra
EBT:


   –  acuan

kembali
ke
bentuk
GBHN
atau
sejenisnya,

      sehingga
ada
ACTION
PLAN
terukur


   –  Kriteria
:
ada
target,
komunikasi‐interaksi
lintas
bidang,

      arah
sinergis,
budgeEng,
rotasi
komunitas
akademik

•  Membuat
pusat
peneliEan
yang
bisa
diakses

   masyarakat,
atau
bisa
digunakan
konsep
balai
desa,

   innovaEon
center,
dll

   –  Musyawarah
mufakat
untuk
berbagi
peran
mengenai
implementasi

      EBT

   –  Perencanaan
parEsipaEf

•  Penyediaan
energi
melalui:

   1.  Penjaminan
ketersediaan
pasokan
energi
dalam
negeri;

   2.  pengopEmalan
produksi
energi;

   3.  pelaksanaan
konservasi
energi

•  Pemanfaatan
energi
melalui:

   1.  efisiensi
pemanfaatan
energi;

   2.  diversifikasi
energi.

•  Penetapan
kebijakan
harga
energi
ke
arah
harga

   keekonomian,

   1.  dengan
tetap
mernperErnbangkan
kemampuan
usaha
kecil,
dan

   2.  bantuan
bagi
masyarakat
Edak
mampu
dalam
jangka
waktu
tertentu.

•  Pelestarian
lingkungan
dengan
menerapkan
prinsip

   pembangunan
berkelanjutan.

•  Pengembangan
infrastruktur
energi
termasuk

   peningkatan
akses
konsumen
terhadap
energi;

•  Kemitraan
pemerintah
dan
dunia
usaha

•  Pemberdayaan
masyarakat;

•  Pengembangan
litbang
serta
pendidikan
dan

   pelaEhan.

KAMPANYE
BESAR‐BESARAN
TENTANG

LANGKAH‐LANGKAH
STRATEGIS
ENERGI

    DENGAN
OPTIMASI
MEDIA

1.  Konsep
Dasar
GKN‐KEMANDIRIAN

   Tidak
adanya
intervensi
asing
dalam

    kebijakan
negara,
terutama
kebijakan
dalam

    negeri

                                                          Pemerintah

   Menjadi
negara
yang
merdeka
dan

    berdaulat,
dipandang
di
mata
dunia
                    Peradilan

    internasional

                                                                DPR

   Mampu
mengelola
SDA
dan
SDM
dengan

    mengusahakan
pengembangan
teknologi

    anak
bangsa
                                            Perguruan 
                                                              Tinggi 
2.  Kolaborasi

                                  Masyarakat
              Masyarakat





                                                                Pekerja

                                                    Sipil
                  Ekonomi





                                                                Serikat


 QUADROHELIKS

   kolaborasi
Masyarakat
Sipil,
Pemerintah,

    Masyarakat
Pemodal
dengan
Perguruan 
    Tinggi sebagai
thinktanknya

Sistem
Kemandirian
Energi
Bangsa

“Agar
kita
Edak

terus
bergantung

tetapi
bangkit

menjadi
mandiri”

_GKNKMITB

KENMI SI-PPI Den Haag 2009, Komisi 3E

KENMI SI-PPI Den Haag 2009, Komisi 3E

  • 1.
    Keluarga Mahasiswa ITB 2008/2009 Den Haag, 4 Juli 2009  
  • 2.
  • 4.
  • 5.
  • 6.
  • 9.
      ompleksitas
 K  evolusi
Informasi
 R   eberagaman
 K   olaborasi
 K Indonesia
butuh

 CITA‐CITA baru

 sebagai

 tujuan
bersama

  • 13.
  • 15.
    Pemetaan
 Zonasi
 Daerah,
 pusat
 pemukiman,
 pusat
industri,
 niaga,
 pemerintahan,
dll.
 15

  • 16.
    1. Sistem
Pendidikan
SDM
lokal
yang
mumpuni

 •  Jiwa
negarawan dan
paradigma kewirausahaan    Pendidikan
keluarga,
adat
isEadat
setempat
 •  Kompetensi
profesional, baik
teknis
spesifik
maupun
umum
makro,
 yang
kreaEf
dan
inovaEf
   Peran
InsEtusi
Pendidikan
lokal,
terutama
Perguruan
Tnggi
 2. Sistem
PoliEk
yang
sehat
dan
berfokus
pada
tujuan:

 •  Perangkat regulasi untuk
koridor
kebijakan
kemandirian,
beserta
 manajemen
transformasinya
 •  Reorientasi fokus kepada
kepenEngan
dan
kemaslahatan
bangsa
 •  Wawasan
Kehidupan
bernegara
yang
berkelanjutan

lingkungan
 16

  • 17.
  • 18.
    1.  Energi
=
kebutuhan
PRIMER
 •  Energi
dibutuhkan
di
semua
aspek
kehidupan
 •  Hukum
Kekekalan
Energi
   ntuk
memasak
beras,
butuh
energi
untuk
 U mengolahnya
   ntuk
mendapatkan
kain,
butuh
energi
untuk
 U industri
pakaian
   ntuk
merekonstruksi
bangunan,
butuh
SDM
 U berenergi (sudah
terpenuhi
pangan
dan
sandang)
 18

  • 19.
    2.  OpEmasi
potensi
SDA
 •  Pendataan
potensi
masing‐masing
daerah
 •  Analisis
fisibilitas
dan
analisis
ekonomis
dalam
 pengeksplorasian
dan
eksploitasi
SDA
tersebut
 •  Jika
belum,
diterapkan
kebijakan
tambahan
  Dukungan
teknologi
  Dukungan
regulasi
  Dukungan
pemberdayaan
komunitas

  Dukungan
akses
sosial
budaya
ekonomi

  • 20.
    3.  Efisiensi
dalam
penggunaan
energi

 •  Dikaitkan
dengan
pemanfaatan
potensi
dan
kebutuhan
 energi
setempat
 •  PerEmbangan
harga
dan
kemudahan
serta
keterjangkauan
 sumber
energi
 5.  Sustainability
 •  Keberlangsungan
daya
dukung
energi
untuk
jangka
panjang
 adalah
kepenEngan
generasi
mendatang
 •  Membuat
kerusakan
alam
=
Menghancurkan
tempat
Enggal
 sendiri
 •  Larangan
Tuhan
dalam
berbuat
kerusakan
di
muka
bumi
:
 MoEvasi
terbesar

  • 22.
     Menanamkan
kepedulian,
diawali
dengan

 Pertanyaan:

 
 “KENAPA?”
  KriEs
dan
tanggap
terhadap
kondisi
yang
ada
 
  Aplikasi
keilmuan

menjadi
problem
solver
 
  Membangun
komunitas
bersama
untuk
 sinergisasi
dan
kekuatan
gerak

  • 23.
     ‘Live
in’
ke
tengah
masyarakat,
memberikan
edukasi,
 advokasi
dan
inspirasi
untuk
bangkit
 •  Pendidikan
Kewarganegaraan
 •  Kontribusi
di
bidang
Teknologi
 •  Kepedulian
Sosial
  Menjadi
“false
alarm”
terhadap
kebijakan
yang
 dikeluarkan
pemerintah
  Rekomendasi
konstruksi
pemikiran
solusi
energi
 berdasarkan
kebenaran
ilmiah

  • 24.
    “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada  kemunafikan”  ‐ Soe
Hok
Gie
‐
 
 “Beri aku 10 pemuda dan akan kuubah dunia”  ‐
Soekarno
‐  Dan Kita punya 231, 6 juta  penduduk Indonesia… 
  • 25.
  • 27.
    1.  Ditemukan
GAP
antar
daerah
terkait
EBT
sbb:
 –  Riset
dan
pengetahuan
 –  Akses
ke
pemerintah‐DPRD‐pusat
peneliEan
 –  Peranan
kampus
masih
minim
thd
pengembangan
 lokal,
kecuali
beberapa
wilayah
 –  SEgma
masyarakat
tentang
EBT
=
barang
hi‐tech  –  DEN
belum
berfungsi,
acAon plans
harus
dibuat  –  Evaluasi
Energy
Mix
2025
menunjukkan
Edak
 mungkin
terjadinya
pada
tahun
2025!

  • 28.
    2.  Komunitas
Mahasiswa
Peduli
Energi
(KMPE)
 sebagai
wadah
bagi
mahasiswa
lintas
daerah:
 –  Untuk
bertukar
informasi
mengenai
riset
dan
 pengembangan
energi
di
daerahnya

knowledge  management system  –  Follow
up
KENMI
dan
next
plannya
(bentuk
 PIMNAS,
dll)
 –  Aliansi
diresmikan
dengan
stakeholder
EBT
mulai
 dari
riset,
pengembangan,
pembentukan
kultur,
 hingga
implementasi
kebijakan
di
semua
daerah

 koordinasi
dengan
DEN

  • 29.
    •  Pemerintah
harus
terbuka
dan
mau
untuk
menerima
masukan
dari
 Perguruan
Tinggi

perlu
dibuat
regulasi
atau
badan
yang
memungkinkan
 kolaborasi
Pemerintah‐PT‐Industri‐Masyarakat
 •  Proteksi
terhadap
potensi‐potensi
EBT
lokal,
misalnya
kasus
Papua,
 Geotermal
dll
 •  IdenEfikasi
relasi
dan
membentuk
jejaring
lintas
bidang
berdasarkan
 Quadrohelix
Model:
 –  Pemerintahan
:
DPR,
DPRD,
Pemerintah
Pusat,
Pemda
 –  Masy.
Sipil
:
komunitas,
LSM,

 –  Pengusaha
:
bidang
energi,
listrik,
pangan
 –  Perguruan
Tinggi
:
Pusat
pengembangan
EBT
lokal,
berdayakan
mahasiswa
 –  Media
:
jalur
propaganda
nilai
dan
visi
kemandirian
EBT!

  • 30.
    •  Penyusunan
Renstra
EBT:

 –  acuan

kembali
ke
bentuk
GBHN
atau
sejenisnya,
 sehingga
ada
ACTION
PLAN
terukur

 –  Kriteria
:
ada
target,
komunikasi‐interaksi
lintas
bidang,
 arah
sinergis,
budgeEng,
rotasi
komunitas
akademik
 •  Membuat
pusat
peneliEan
yang
bisa
diakses
 masyarakat,
atau
bisa
digunakan
konsep
balai
desa,
 innovaEon
center,
dll
 –  Musyawarah
mufakat
untuk
berbagi
peran
mengenai
implementasi
 EBT
 –  Perencanaan
parEsipaEf

  • 31.
    •  Penyediaan
energi
melalui:
 1.  Penjaminan
ketersediaan
pasokan
energi
dalam
negeri;
 2.  pengopEmalan
produksi
energi;
 3.  pelaksanaan
konservasi
energi
 •  Pemanfaatan
energi
melalui:
 1.  efisiensi
pemanfaatan
energi;
 2.  diversifikasi
energi.
 •  Penetapan
kebijakan
harga
energi
ke
arah
harga
 keekonomian,
 1.  dengan
tetap
mernperErnbangkan
kemampuan
usaha
kecil,
dan
 2.  bantuan
bagi
masyarakat
Edak
mampu
dalam
jangka
waktu
tertentu.
 •  Pelestarian
lingkungan
dengan
menerapkan
prinsip
 pembangunan
berkelanjutan.

  • 32.
    •  Pengembangan
infrastruktur
energi
termasuk
 peningkatan
akses
konsumen
terhadap
energi;
 •  Kemitraan
pemerintah
dan
dunia
usaha
 •  Pemberdayaan
masyarakat;
 •  Pengembangan
litbang
serta
pendidikan
dan
 pelaEhan.

  • 33.
  • 34.
    1.  Konsep
Dasar
GKN‐KEMANDIRIAN
  Tidak
adanya
intervensi
asing
dalam
 kebijakan
negara,
terutama
kebijakan
dalam
 negeri
 Pemerintah
   Menjadi
negara
yang
merdeka
dan
 berdaulat,
dipandang
di
mata
dunia
 Peradilan
 internasional
 DPR
   Mampu
mengelola
SDA
dan
SDM
dengan
 mengusahakan
pengembangan
teknologi
 anak
bangsa
 Perguruan  Tinggi  2.  Kolaborasi

 Masyarakat
 Masyarakat
 Pekerja
 Sipil
 Ekonomi
 Serikat
 
 QUADROHELIKS
   kolaborasi
Masyarakat
Sipil,
Pemerintah,
 Masyarakat
Pemodal
dengan
Perguruan  Tinggi sebagai
thinktanknya

  • 35.
  • 36.