KELOMPOK 2
SISTEM PENGAMBILANKEBIJAKAN YANG
TERKAIT DENGAN PENATALAKSANAAN
KEGAWATAN BENCANA (SENDAI
FRAMEWORK, PENGEMBILAN &
PERENCANAAN KEBIJAKAN, STRATEGI
PENANGANAN BENCANA DI INDONESIA DAN
EMPAT FASE PENANGANAN BENCANA)
2.
APRILLIA NUR RISKI1033242005
ADINDA WIKA LESTARI 1033242007
AZZA NITA RAHAYU 1033242006
YUSELA PUTRI CHINDI 1033242008
Page 01
ANGGOTA KELOMPOK 2
3.
Sendai Framework forDisaster Risk
Reduction (SFDRR) merupakan
kesepakatan global yang diadopsi
oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) dalam Third UN World
Conference on Disaster Risk
Reduction di Sendai, Jepang, pada
bulan Maret 2015. Dokumen ini
menggantikan Hyogo Framework for
Action 2005–2015 dan menjadi
pedoman utama dunia dalam
mengurangi risiko bencana untuk
periode 2015–2030 (UNDRR, 2015).
Page 02
PENGERTIAN SENDAI
FRAMEWORK
SFDRR menandai pergeseran paradigma
dari pendekatan yang berfokus pada
penanganan bencana setelah kejadian
(response-oriented) menuju pendekatan
yang berorientasi pada pengelolaan
risiko sebelum bencana terjadi (risk-
informed and preventive approach).
Kerangka ini menekankan bahwa risiko
bencana merupakan hasil interaksi
kompleks antara bahaya alam,
kerentanan sosial, eksposur, dan
kapasitas masyarakat.
4.
TUJUAN & PRINSIP
DASARSENDAI
FRAMEWORK
Tujuan utama dari SFDRR
adalah untuk mengurangi
secara signifikan jumlah
korban jiwa, kerugian
ekonomi, serta kerusakan
infrastruktur akibat bencana
di seluruh dunia.
TUJUAN
Page 03
PRINSIP
Sendai Framework didasarkan pada empat
prinsip dasar, yaitu:
• Pengelolaan risiko, bukan hanya
penanggulangan bahaya. Pengurangan
risiko harus menjadi bagian integral dari
perencanaan pembangunan.
• Pendekatan multisektor dan kolaboratif.
Semua pihak yang terdiri dari pemerintah,
akademisi, dunia usaha, dan masyarakat
seluruhnya memiliki peran dalam
kesiapsiagaan dan penanggulangan
bencana.
• Berbasis pengetahuan dan
bukti ilmiah.
Pengambilan keputusan harus
didasarkan pada data, riset, dan
teknologi informasi kebencanaan.
• Pemberdayaan masyarakat dan
prinsip keberlanjutan.
Masyarakat harus menjadi subjek
utama, bukan sekadar objek
5.
EMPAT PRIORITAS AKSISENDAI
FRAMEWORK
Page 04
• Memahami Risiko
Bencana
(Understanding
Disaster Risk).
• Memperkuat Tata
Kelola Risiko Bencana
(Strengthening
Disaster Risk
Governance).
Sendai Framework menetapkan empat prioritas
aksi global sebagai strategi implementasi:
• Berinvestasi dalam
Pengurangan Risiko
untuk Ketahanan
(Investing in Disaster
Risk Reduction for
Resilience).
• Meningkatkan
Kesiapsiagaan dan
Membangun Kembali
Lebih Baik (Enhancing
Preparedness and Build
Back Better).
6.
IMPLEMENTASI SENDAI
FRAMEWORK DIINDONESIA
Page 05
Implementasi di sektor kesehatan dilakukan melalui program
Health-EDRM yang mencakup kesiapsiagaan rumah sakit, sistem
rujukan bencana, dan pelatihan bagi tenaga medis, termasuk
perawat. Kementerian Kesehatan juga mengembangkan panduan
pelatihan Hospital Disaster Plan dan Hospital Incident Command
System (HICS) untuk memastikan koordinasi efektif saat tanggap
darurat (Kementrian Kesehatan RI, 2023)
Penerapan kerangka Sendai di Indonesia terbukti meningkatkan
kemampuan pemerintah dalam merespons bencana besar, seperti
gempa Sulawesi Tengah 2018 dan erupsi Semeru 2021. Setiap fase
penanganan bencana baik mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap
darurat, dan pemulihan kini dirancang berbasis risiko dan
terintegrasi antarinstansi (BNPB, 2019).
7.
PENANGGULANGAN
BENCANA
Page 06
Penanggulangan Bencanamerupakan pengelolaan
bencana sebagai suatu ilmu pengetahuan terapan
(aplikatif) yang mencari, dengan observasi sistematis
dan analisis bencana untuk meningkatkan tindakan-
tindakan (measures) terkait dengan preventif
(pencegahan), mitigasi (pengurangan), persiapan,
respon darurat dan pemulihan. Undang-Undang No.
24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
dalam Pasal 1 ayat (6) menyebutkan bahwa
penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah
serangkaian upaya yang meliputi penetapan
kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya
bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap
darurat, dan rehabilitasi. Selanjutnya diatur lebih
lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun
2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana.
8.
Page 07
Rencana NasionalPenanggulangan Bencana adalah rencana yang memuat
kebijakan dan strategi serta pilihan tindakan untuk mencapai sasaran
penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat nasional dalam kurun 5
tahun. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2020-2024 (selanjutnya
disebut RENAS PB) ditujukan untuk seluruh institusi terkait penanggulangan
bencana pada tingkat pusat atau pun daerah, pemerintah mau pun non
pemerintah (BPBD, 2024). Posisi dan kedudukan RENAS PB adalah:
• RENAS PB sebagai wujud pelaksanaan RIPB 2020-2044 dalam Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional
• RENAS PB sebagai tolak ukur penilaian keberhasilan penyelenggaraan
penanggulangan bencana Indonesia.
PENGEMBANGAN
RENCANA KEBIJAKAN
9.
Page 08
Arah kebijakanpenanggulangan bencana
merupakan pedoman strategis yang
digunakan pemerintah dan masyarakat dalam
mengelola risiko bencana secara terencana,
terpadu, dan berkelanjutan guna mengurangi
dampak yang ditimbulkan serta meningkatkan
ketangguhan daerah dan masyarakat terhadap
ancaman bencana (Doni Monardo, 2019).
ARAH KEBIJAKAN PENANGGULANGAN
BENCANA
10.
Page 09
KEBIJAKAN DAN
STRATEGI
Kebijakandan Strategi Nasional (Jakstranas)
Penanggulangan Bencana merupakan arah
dan jalur bagi penyelenggaraan
penanggulangan bencana di Indonesia.
Kebijakan dan Strategi Pencapaian Sasaran
Nasional Penanggulangan Bencana
dilaksanakan dengan menerapkan Kebijakan
Nasional penanggulangan bencana yang
terdiri dari (Sinambela Marzuki, 2021):
• Penguatan dan Harmonisasi Sistem, Regulasi
serta Tata Kelola PB yang efektif dan efisieh,
dengan strategi
• Peningkatan sinergi antar
kementerian/lembaga dan pemangku
kepentingan dalam penanggulangan bencana,
dengan strategi
• Penguatan investasi pengelolaan risiko bencana
sesuai dengan proyeksi peningkatan risiko
bencana, dengan strategi
• Peningkatan kapasitas dan kapabilitas
penanganan kedaruratan bencana yang cepat
dan andal, dengan strategi
• Percepatan pemulihan daerah dan masyarakat
11.
STRATEGI PENANGANAN BENCANA
DIINDONESIA DAN EMPAT FASE
PENANGANAN BENCANA
Manajemen bencana adalah suatu
proses dinamis, berlanjut dan
terpadu untuk meningkatkan
kualitas langkah-langkah yang
berhubungan dengan observasi
dan analisis bencana serta
pencegahan, mitigasi,
kesiapsiagaan
1. MANAJEMEN BENCANA
Menurut UU No. 24 Tahun 2007,
Page 10
12.
Page 11
Tujuannya adalahmencegah dan mengurangi dampak bencana sebelum terjadi. Terdiri
dari tiga komponen utama (Sukamto, 2023) :
a. Pencegahan (Prevention):
Menghilangkan atau mengurangi potensi ancaman melalui pengendalian fisik dan
lingkungan.
b. Mitigasi (Mitigation):
Mengurangi dampak risiko dengan tindakan non-rekayasa (penyuluhan, regulasi, pelatihan)
c. Kesiapsiagaan (Preparedness):
Melatih masyarakat dan petugas agar siap menghadapi bencana. Meliputi:
1) Pengkajian kerentanan,
2) Perencanaan pencegahan,
3) Pengorganisasian tim,
4) Sistem informasi dan peringatan dini,
5) Pengumpulan sumber daya,
6) Mekanisme tindakan,
7) Pendidikan serta pelatihan masyarakat,
1.STRATEGI PENANGANAN
PRA-BENCANA
13.
Page 12
Fase inifokus pada aksi cepat untuk
menyelamatkan jiwa dan mengurangi
kerusakan. Strateginya mencakup
(Sukamto, 2023):
a. Instruksi evakuasi dan pengungsian.
b. Pencarian dan penyelamatan korban
(SAR).
c. Menjamin keamanan lokasi bencana.
d. Pendataan dan pengkajian kerugian.
e. Distribusi logistik, obat, dan bantuan
darurat.
1.STRATEGI SAAT BENCANA
f. Pelayanan medis darurat dan
penanganan korban luka.
g. Penyediaan tempat pengungsian
sementara.
Secara medis, fase ini dibagi dua:
• Fase Akut (0–48 jam): fokus
penyelamatan nyawa dan pertolongan
pertama.
• Fase Subakut (1 minggu): perawatan
lanjutan korban dan pencegahan
penyakit di pengungsian.
14.
1.STRATEGI PASCA
BENCANA
Page 13
Difokuskanpada pemulihan kondisi sosial,
ekonomi, dan fisik masyarakat. Terdiri dari dua
tahap besar (Sukamto, 2023):
a. Fase Pemulihan (Recovery):
Masyarakat mulai memperbaiki tempat tinggal,
bekerja kembali, dan memulihkan fungsi sosial
dengan bantuan pemerintah.
b. Fase Rekonstruksi/Rehabilitasi:
Mengembalikan dan memperkuat sistem agar
lebih tangguh terhadap bencana mendatang
(rebuilding better). Pemerintah menyusun
rencana pembangunan ulang secara bertahap
dan berkelanjutan.
15.
Page 14 1.TUJUANMANAJEMEN
BENCANA
Menurut Warfield, manajemen bencana
mempunyai tujuan (Asep Setiawan et al.,
2024) :
a. Mengurangi, atau mencegah,
kerugian karena bencana,
b. menjamin terlaksananya bantuan
yang segera dan memadai terhadap
korban bencana, dan
mencapai pemulihan yang cepat dan
efektif. Dengan demikian, siklus
manajemen bencana memberikan
gambaran bagaimana rencana dibuat
untuk mengurangi atau mencegah
kerugian
Secara garis besar terdapat empat fase manajemen
bencana, yaitu:
1. Fase Mitigasi: upaya memperkecil dampak
negative bencana. Contoh: zonasi dan pengaturan
bangunan (building codes), analisis kerentanan;
pembelajaran public.
2. Fase Preparadness: merencanakan bagaimana
menaggapi bencana. Contoh: merencanakan
kesiagaan; latihan keadaan darurat, system
peringatan.
3. Fase respon: upaya memperkecil kerusakan
yang disebabkan oleh bencana. Contoh: pencarian
dan pertolongan; tindakan darurat,
4. Fase Recovery: mengembalikan masyarakat ke
kondisi normal. Contoh: perumahan sementara,
16.
Page 15
Keempat fasemanajemen bencana tersebut tidak harus
selalu ada, atau tidak secara terpisah, atau tidak harus
dilaksanakan dengan urutan seperrti tersebut diatas. Fase-
fase sering saling overlap dan lama berlangsungnya setiap
fase tergantung pada kehebatan atau besarnya kerusakan
yang disebabkan oleh bencana itu. Dengan demikian,
berkaitan dengan penetuan tindakan di dalam setiap fase
itu, kita perlu memahami karakteristik dari setiap bencana
yang mungkin terjadi.