KELOMPOK 2
SISTEM PENGAMBILAN KEBIJAKAN YANG
TERKAIT DENGAN PENATALAKSANAAN
KEGAWATAN BENCANA (SENDAI
FRAMEWORK, PENGEMBILAN &
PERENCANAAN KEBIJAKAN, STRATEGI
PENANGANAN BENCANA DI INDONESIA DAN
EMPAT FASE PENANGANAN BENCANA)
APRILLIA NUR RISKI 1033242005
ADINDA WIKA LESTARI 1033242007
AZZA NITA RAHAYU 1033242006
YUSELA PUTRI CHINDI 1033242008
Page 01
ANGGOTA KELOMPOK 2
Sendai Framework for Disaster Risk
Reduction (SFDRR) merupakan
kesepakatan global yang diadopsi
oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB) dalam Third UN World
Conference on Disaster Risk
Reduction di Sendai, Jepang, pada
bulan Maret 2015. Dokumen ini
menggantikan Hyogo Framework for
Action 2005–2015 dan menjadi
pedoman utama dunia dalam
mengurangi risiko bencana untuk
periode 2015–2030 (UNDRR, 2015).
Page 02
PENGERTIAN SENDAI
FRAMEWORK
SFDRR menandai pergeseran paradigma
dari pendekatan yang berfokus pada
penanganan bencana setelah kejadian
(response-oriented) menuju pendekatan
yang berorientasi pada pengelolaan
risiko sebelum bencana terjadi (risk-
informed and preventive approach).
Kerangka ini menekankan bahwa risiko
bencana merupakan hasil interaksi
kompleks antara bahaya alam,
kerentanan sosial, eksposur, dan
kapasitas masyarakat.
TUJUAN & PRINSIP
DASAR SENDAI
FRAMEWORK
Tujuan utama dari SFDRR
adalah untuk mengurangi
secara signifikan jumlah
korban jiwa, kerugian
ekonomi, serta kerusakan
infrastruktur akibat bencana
di seluruh dunia.
TUJUAN
Page 03
PRINSIP
Sendai Framework didasarkan pada empat
prinsip dasar, yaitu:
• Pengelolaan risiko, bukan hanya
penanggulangan bahaya. Pengurangan
risiko harus menjadi bagian integral dari
perencanaan pembangunan.
• Pendekatan multisektor dan kolaboratif.
Semua pihak yang terdiri dari pemerintah,
akademisi, dunia usaha, dan masyarakat
seluruhnya memiliki peran dalam
kesiapsiagaan dan penanggulangan
bencana.
• Berbasis pengetahuan dan
bukti ilmiah.
Pengambilan keputusan harus
didasarkan pada data, riset, dan
teknologi informasi kebencanaan.
• Pemberdayaan masyarakat dan
prinsip keberlanjutan.
Masyarakat harus menjadi subjek
utama, bukan sekadar objek
EMPAT PRIORITAS AKSI SENDAI
FRAMEWORK
Page 04
• Memahami Risiko
Bencana
(Understanding
Disaster Risk).
• Memperkuat Tata
Kelola Risiko Bencana
(Strengthening
Disaster Risk
Governance).
Sendai Framework menetapkan empat prioritas
aksi global sebagai strategi implementasi:
• Berinvestasi dalam
Pengurangan Risiko
untuk Ketahanan
(Investing in Disaster
Risk Reduction for
Resilience).
• Meningkatkan
Kesiapsiagaan dan
Membangun Kembali
Lebih Baik (Enhancing
Preparedness and Build
Back Better).
IMPLEMENTASI SENDAI
FRAMEWORK DI INDONESIA
Page 05
Implementasi di sektor kesehatan dilakukan melalui program
Health-EDRM yang mencakup kesiapsiagaan rumah sakit, sistem
rujukan bencana, dan pelatihan bagi tenaga medis, termasuk
perawat. Kementerian Kesehatan juga mengembangkan panduan
pelatihan Hospital Disaster Plan dan Hospital Incident Command
System (HICS) untuk memastikan koordinasi efektif saat tanggap
darurat (Kementrian Kesehatan RI, 2023)
Penerapan kerangka Sendai di Indonesia terbukti meningkatkan
kemampuan pemerintah dalam merespons bencana besar, seperti
gempa Sulawesi Tengah 2018 dan erupsi Semeru 2021. Setiap fase
penanganan bencana baik mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap
darurat, dan pemulihan kini dirancang berbasis risiko dan
terintegrasi antarinstansi (BNPB, 2019).
PENANGGULANGAN
BENCANA
Page 06
Penanggulangan Bencana merupakan pengelolaan
bencana sebagai suatu ilmu pengetahuan terapan
(aplikatif) yang mencari, dengan observasi sistematis
dan analisis bencana untuk meningkatkan tindakan-
tindakan (measures) terkait dengan preventif
(pencegahan), mitigasi (pengurangan), persiapan,
respon darurat dan pemulihan. Undang-Undang No.
24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
dalam Pasal 1 ayat (6) menyebutkan bahwa
penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah
serangkaian upaya yang meliputi penetapan
kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya
bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap
darurat, dan rehabilitasi. Selanjutnya diatur lebih
lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun
2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana.
Page 07
Rencana Nasional Penanggulangan Bencana adalah rencana yang memuat
kebijakan dan strategi serta pilihan tindakan untuk mencapai sasaran
penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat nasional dalam kurun 5
tahun. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2020-2024 (selanjutnya
disebut RENAS PB) ditujukan untuk seluruh institusi terkait penanggulangan
bencana pada tingkat pusat atau pun daerah, pemerintah mau pun non
pemerintah (BPBD, 2024). Posisi dan kedudukan RENAS PB adalah:
• RENAS PB sebagai wujud pelaksanaan RIPB 2020-2044 dalam Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional
• RENAS PB sebagai tolak ukur penilaian keberhasilan penyelenggaraan
penanggulangan bencana Indonesia.
PENGEMBANGAN
RENCANA KEBIJAKAN
Page 08
Arah kebijakan penanggulangan bencana
merupakan pedoman strategis yang
digunakan pemerintah dan masyarakat dalam
mengelola risiko bencana secara terencana,
terpadu, dan berkelanjutan guna mengurangi
dampak yang ditimbulkan serta meningkatkan
ketangguhan daerah dan masyarakat terhadap
ancaman bencana (Doni Monardo, 2019).
ARAH KEBIJAKAN PENANGGULANGAN
BENCANA
Page 09
KEBIJAKAN DAN
STRATEGI
Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas)
Penanggulangan Bencana merupakan arah
dan jalur bagi penyelenggaraan
penanggulangan bencana di Indonesia.
Kebijakan dan Strategi Pencapaian Sasaran
Nasional Penanggulangan Bencana
dilaksanakan dengan menerapkan Kebijakan
Nasional penanggulangan bencana yang
terdiri dari (Sinambela Marzuki, 2021):
• Penguatan dan Harmonisasi Sistem, Regulasi
serta Tata Kelola PB yang efektif dan efisieh,
dengan strategi
• Peningkatan sinergi antar
kementerian/lembaga dan pemangku
kepentingan dalam penanggulangan bencana,
dengan strategi
• Penguatan investasi pengelolaan risiko bencana
sesuai dengan proyeksi peningkatan risiko
bencana, dengan strategi
• Peningkatan kapasitas dan kapabilitas
penanganan kedaruratan bencana yang cepat
dan andal, dengan strategi
• Percepatan pemulihan daerah dan masyarakat
STRATEGI PENANGANAN BENCANA
DI INDONESIA DAN EMPAT FASE
PENANGANAN BENCANA
Manajemen bencana adalah suatu
proses dinamis, berlanjut dan
terpadu untuk meningkatkan
kualitas langkah-langkah yang
berhubungan dengan observasi
dan analisis bencana serta
pencegahan, mitigasi,
kesiapsiagaan
1. MANAJEMEN BENCANA
Menurut UU No. 24 Tahun 2007,
Page 10
Page 11
Tujuannya adalah mencegah dan mengurangi dampak bencana sebelum terjadi. Terdiri
dari tiga komponen utama (Sukamto, 2023) :
a. Pencegahan (Prevention):
Menghilangkan atau mengurangi potensi ancaman melalui pengendalian fisik dan
lingkungan.
b. Mitigasi (Mitigation):
Mengurangi dampak risiko dengan tindakan non-rekayasa (penyuluhan, regulasi, pelatihan)
c. Kesiapsiagaan (Preparedness):
Melatih masyarakat dan petugas agar siap menghadapi bencana. Meliputi:
1) Pengkajian kerentanan,
2) Perencanaan pencegahan,
3) Pengorganisasian tim,
4) Sistem informasi dan peringatan dini,
5) Pengumpulan sumber daya,
6) Mekanisme tindakan,
7) Pendidikan serta pelatihan masyarakat,
1.STRATEGI PENANGANAN
PRA-BENCANA
Page 12
Fase ini fokus pada aksi cepat untuk
menyelamatkan jiwa dan mengurangi
kerusakan. Strateginya mencakup
(Sukamto, 2023):
a. Instruksi evakuasi dan pengungsian.
b. Pencarian dan penyelamatan korban
(SAR).
c. Menjamin keamanan lokasi bencana.
d. Pendataan dan pengkajian kerugian.
e. Distribusi logistik, obat, dan bantuan
darurat.
1.STRATEGI SAAT BENCANA
f. Pelayanan medis darurat dan
penanganan korban luka.
g. Penyediaan tempat pengungsian
sementara.
Secara medis, fase ini dibagi dua:
• Fase Akut (0–48 jam): fokus
penyelamatan nyawa dan pertolongan
pertama.
• Fase Subakut (1 minggu): perawatan
lanjutan korban dan pencegahan
penyakit di pengungsian.
1.STRATEGI PASCA
BENCANA
Page 13
Difokuskan pada pemulihan kondisi sosial,
ekonomi, dan fisik masyarakat. Terdiri dari dua
tahap besar (Sukamto, 2023):
a. Fase Pemulihan (Recovery):
Masyarakat mulai memperbaiki tempat tinggal,
bekerja kembali, dan memulihkan fungsi sosial
dengan bantuan pemerintah.
b. Fase Rekonstruksi/Rehabilitasi:
Mengembalikan dan memperkuat sistem agar
lebih tangguh terhadap bencana mendatang
(rebuilding better). Pemerintah menyusun
rencana pembangunan ulang secara bertahap
dan berkelanjutan.
Page 14 1.TUJUAN MANAJEMEN
BENCANA
Menurut Warfield, manajemen bencana
mempunyai tujuan (Asep Setiawan et al.,
2024) :
a. Mengurangi, atau mencegah,
kerugian karena bencana,
b. menjamin terlaksananya bantuan
yang segera dan memadai terhadap
korban bencana, dan
mencapai pemulihan yang cepat dan
efektif. Dengan demikian, siklus
manajemen bencana memberikan
gambaran bagaimana rencana dibuat
untuk mengurangi atau mencegah
kerugian
Secara garis besar terdapat empat fase manajemen
bencana, yaitu:
1. Fase Mitigasi: upaya memperkecil dampak
negative bencana. Contoh: zonasi dan pengaturan
bangunan (building codes), analisis kerentanan;
pembelajaran public.
2. Fase Preparadness: merencanakan bagaimana
menaggapi bencana. Contoh: merencanakan
kesiagaan; latihan keadaan darurat, system
peringatan.
3. Fase respon: upaya memperkecil kerusakan
yang disebabkan oleh bencana. Contoh: pencarian
dan pertolongan; tindakan darurat,
4. Fase Recovery: mengembalikan masyarakat ke
kondisi normal. Contoh: perumahan sementara,
Page 15
Keempat fase manajemen bencana tersebut tidak harus
selalu ada, atau tidak secara terpisah, atau tidak harus
dilaksanakan dengan urutan seperrti tersebut diatas. Fase-
fase sering saling overlap dan lama berlangsungnya setiap
fase tergantung pada kehebatan atau besarnya kerusakan
yang disebabkan oleh bencana itu. Dengan demikian,
berkaitan dengan penetuan tindakan di dalam setiap fase
itu, kita perlu memahami karakteristik dari setiap bencana
yang mungkin terjadi.
Page 14
Thank You

KEL 2 KEP Bencana alam keperawatan pptsx

  • 1.
    KELOMPOK 2 SISTEM PENGAMBILANKEBIJAKAN YANG TERKAIT DENGAN PENATALAKSANAAN KEGAWATAN BENCANA (SENDAI FRAMEWORK, PENGEMBILAN & PERENCANAAN KEBIJAKAN, STRATEGI PENANGANAN BENCANA DI INDONESIA DAN EMPAT FASE PENANGANAN BENCANA)
  • 2.
    APRILLIA NUR RISKI1033242005 ADINDA WIKA LESTARI 1033242007 AZZA NITA RAHAYU 1033242006 YUSELA PUTRI CHINDI 1033242008 Page 01 ANGGOTA KELOMPOK 2
  • 3.
    Sendai Framework forDisaster Risk Reduction (SFDRR) merupakan kesepakatan global yang diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Third UN World Conference on Disaster Risk Reduction di Sendai, Jepang, pada bulan Maret 2015. Dokumen ini menggantikan Hyogo Framework for Action 2005–2015 dan menjadi pedoman utama dunia dalam mengurangi risiko bencana untuk periode 2015–2030 (UNDRR, 2015). Page 02 PENGERTIAN SENDAI FRAMEWORK SFDRR menandai pergeseran paradigma dari pendekatan yang berfokus pada penanganan bencana setelah kejadian (response-oriented) menuju pendekatan yang berorientasi pada pengelolaan risiko sebelum bencana terjadi (risk- informed and preventive approach). Kerangka ini menekankan bahwa risiko bencana merupakan hasil interaksi kompleks antara bahaya alam, kerentanan sosial, eksposur, dan kapasitas masyarakat.
  • 4.
    TUJUAN & PRINSIP DASARSENDAI FRAMEWORK Tujuan utama dari SFDRR adalah untuk mengurangi secara signifikan jumlah korban jiwa, kerugian ekonomi, serta kerusakan infrastruktur akibat bencana di seluruh dunia. TUJUAN Page 03 PRINSIP Sendai Framework didasarkan pada empat prinsip dasar, yaitu: • Pengelolaan risiko, bukan hanya penanggulangan bahaya. Pengurangan risiko harus menjadi bagian integral dari perencanaan pembangunan. • Pendekatan multisektor dan kolaboratif. Semua pihak yang terdiri dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat seluruhnya memiliki peran dalam kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana. • Berbasis pengetahuan dan bukti ilmiah. Pengambilan keputusan harus didasarkan pada data, riset, dan teknologi informasi kebencanaan. • Pemberdayaan masyarakat dan prinsip keberlanjutan. Masyarakat harus menjadi subjek utama, bukan sekadar objek
  • 5.
    EMPAT PRIORITAS AKSISENDAI FRAMEWORK Page 04 • Memahami Risiko Bencana (Understanding Disaster Risk). • Memperkuat Tata Kelola Risiko Bencana (Strengthening Disaster Risk Governance). Sendai Framework menetapkan empat prioritas aksi global sebagai strategi implementasi: • Berinvestasi dalam Pengurangan Risiko untuk Ketahanan (Investing in Disaster Risk Reduction for Resilience). • Meningkatkan Kesiapsiagaan dan Membangun Kembali Lebih Baik (Enhancing Preparedness and Build Back Better).
  • 6.
    IMPLEMENTASI SENDAI FRAMEWORK DIINDONESIA Page 05 Implementasi di sektor kesehatan dilakukan melalui program Health-EDRM yang mencakup kesiapsiagaan rumah sakit, sistem rujukan bencana, dan pelatihan bagi tenaga medis, termasuk perawat. Kementerian Kesehatan juga mengembangkan panduan pelatihan Hospital Disaster Plan dan Hospital Incident Command System (HICS) untuk memastikan koordinasi efektif saat tanggap darurat (Kementrian Kesehatan RI, 2023) Penerapan kerangka Sendai di Indonesia terbukti meningkatkan kemampuan pemerintah dalam merespons bencana besar, seperti gempa Sulawesi Tengah 2018 dan erupsi Semeru 2021. Setiap fase penanganan bencana baik mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan kini dirancang berbasis risiko dan terintegrasi antarinstansi (BNPB, 2019).
  • 7.
    PENANGGULANGAN BENCANA Page 06 Penanggulangan Bencanamerupakan pengelolaan bencana sebagai suatu ilmu pengetahuan terapan (aplikatif) yang mencari, dengan observasi sistematis dan analisis bencana untuk meningkatkan tindakan- tindakan (measures) terkait dengan preventif (pencegahan), mitigasi (pengurangan), persiapan, respon darurat dan pemulihan. Undang-Undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dalam Pasal 1 ayat (6) menyebutkan bahwa penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Selanjutnya diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.
  • 8.
    Page 07 Rencana NasionalPenanggulangan Bencana adalah rencana yang memuat kebijakan dan strategi serta pilihan tindakan untuk mencapai sasaran penyelenggaraan penanggulangan bencana di tingkat nasional dalam kurun 5 tahun. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2020-2024 (selanjutnya disebut RENAS PB) ditujukan untuk seluruh institusi terkait penanggulangan bencana pada tingkat pusat atau pun daerah, pemerintah mau pun non pemerintah (BPBD, 2024). Posisi dan kedudukan RENAS PB adalah: • RENAS PB sebagai wujud pelaksanaan RIPB 2020-2044 dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional • RENAS PB sebagai tolak ukur penilaian keberhasilan penyelenggaraan penanggulangan bencana Indonesia. PENGEMBANGAN RENCANA KEBIJAKAN
  • 9.
    Page 08 Arah kebijakanpenanggulangan bencana merupakan pedoman strategis yang digunakan pemerintah dan masyarakat dalam mengelola risiko bencana secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan guna mengurangi dampak yang ditimbulkan serta meningkatkan ketangguhan daerah dan masyarakat terhadap ancaman bencana (Doni Monardo, 2019). ARAH KEBIJAKAN PENANGGULANGAN BENCANA
  • 10.
    Page 09 KEBIJAKAN DAN STRATEGI Kebijakandan Strategi Nasional (Jakstranas) Penanggulangan Bencana merupakan arah dan jalur bagi penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia. Kebijakan dan Strategi Pencapaian Sasaran Nasional Penanggulangan Bencana dilaksanakan dengan menerapkan Kebijakan Nasional penanggulangan bencana yang terdiri dari (Sinambela Marzuki, 2021): • Penguatan dan Harmonisasi Sistem, Regulasi serta Tata Kelola PB yang efektif dan efisieh, dengan strategi • Peningkatan sinergi antar kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan dalam penanggulangan bencana, dengan strategi • Penguatan investasi pengelolaan risiko bencana sesuai dengan proyeksi peningkatan risiko bencana, dengan strategi • Peningkatan kapasitas dan kapabilitas penanganan kedaruratan bencana yang cepat dan andal, dengan strategi • Percepatan pemulihan daerah dan masyarakat
  • 11.
    STRATEGI PENANGANAN BENCANA DIINDONESIA DAN EMPAT FASE PENANGANAN BENCANA Manajemen bencana adalah suatu proses dinamis, berlanjut dan terpadu untuk meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan observasi dan analisis bencana serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan 1. MANAJEMEN BENCANA Menurut UU No. 24 Tahun 2007, Page 10
  • 12.
    Page 11 Tujuannya adalahmencegah dan mengurangi dampak bencana sebelum terjadi. Terdiri dari tiga komponen utama (Sukamto, 2023) : a. Pencegahan (Prevention): Menghilangkan atau mengurangi potensi ancaman melalui pengendalian fisik dan lingkungan. b. Mitigasi (Mitigation): Mengurangi dampak risiko dengan tindakan non-rekayasa (penyuluhan, regulasi, pelatihan) c. Kesiapsiagaan (Preparedness): Melatih masyarakat dan petugas agar siap menghadapi bencana. Meliputi: 1) Pengkajian kerentanan, 2) Perencanaan pencegahan, 3) Pengorganisasian tim, 4) Sistem informasi dan peringatan dini, 5) Pengumpulan sumber daya, 6) Mekanisme tindakan, 7) Pendidikan serta pelatihan masyarakat, 1.STRATEGI PENANGANAN PRA-BENCANA
  • 13.
    Page 12 Fase inifokus pada aksi cepat untuk menyelamatkan jiwa dan mengurangi kerusakan. Strateginya mencakup (Sukamto, 2023): a. Instruksi evakuasi dan pengungsian. b. Pencarian dan penyelamatan korban (SAR). c. Menjamin keamanan lokasi bencana. d. Pendataan dan pengkajian kerugian. e. Distribusi logistik, obat, dan bantuan darurat. 1.STRATEGI SAAT BENCANA f. Pelayanan medis darurat dan penanganan korban luka. g. Penyediaan tempat pengungsian sementara. Secara medis, fase ini dibagi dua: • Fase Akut (0–48 jam): fokus penyelamatan nyawa dan pertolongan pertama. • Fase Subakut (1 minggu): perawatan lanjutan korban dan pencegahan penyakit di pengungsian.
  • 14.
    1.STRATEGI PASCA BENCANA Page 13 Difokuskanpada pemulihan kondisi sosial, ekonomi, dan fisik masyarakat. Terdiri dari dua tahap besar (Sukamto, 2023): a. Fase Pemulihan (Recovery): Masyarakat mulai memperbaiki tempat tinggal, bekerja kembali, dan memulihkan fungsi sosial dengan bantuan pemerintah. b. Fase Rekonstruksi/Rehabilitasi: Mengembalikan dan memperkuat sistem agar lebih tangguh terhadap bencana mendatang (rebuilding better). Pemerintah menyusun rencana pembangunan ulang secara bertahap dan berkelanjutan.
  • 15.
    Page 14 1.TUJUANMANAJEMEN BENCANA Menurut Warfield, manajemen bencana mempunyai tujuan (Asep Setiawan et al., 2024) : a. Mengurangi, atau mencegah, kerugian karena bencana, b. menjamin terlaksananya bantuan yang segera dan memadai terhadap korban bencana, dan mencapai pemulihan yang cepat dan efektif. Dengan demikian, siklus manajemen bencana memberikan gambaran bagaimana rencana dibuat untuk mengurangi atau mencegah kerugian Secara garis besar terdapat empat fase manajemen bencana, yaitu: 1. Fase Mitigasi: upaya memperkecil dampak negative bencana. Contoh: zonasi dan pengaturan bangunan (building codes), analisis kerentanan; pembelajaran public. 2. Fase Preparadness: merencanakan bagaimana menaggapi bencana. Contoh: merencanakan kesiagaan; latihan keadaan darurat, system peringatan. 3. Fase respon: upaya memperkecil kerusakan yang disebabkan oleh bencana. Contoh: pencarian dan pertolongan; tindakan darurat, 4. Fase Recovery: mengembalikan masyarakat ke kondisi normal. Contoh: perumahan sementara,
  • 16.
    Page 15 Keempat fasemanajemen bencana tersebut tidak harus selalu ada, atau tidak secara terpisah, atau tidak harus dilaksanakan dengan urutan seperrti tersebut diatas. Fase- fase sering saling overlap dan lama berlangsungnya setiap fase tergantung pada kehebatan atau besarnya kerusakan yang disebabkan oleh bencana itu. Dengan demikian, berkaitan dengan penetuan tindakan di dalam setiap fase itu, kita perlu memahami karakteristik dari setiap bencana yang mungkin terjadi.
  • 17.