FLORA NORMAL
Dan Perannya dalam Kebidanan
dr. Tika Sastraprawira, M.Kes.
 Flora normal : kumpulan mikroorganisme
yang secara alami terdapat pada tubuh
manusia normal dan sehat.
 Umumnya dari jenis bakteri.
 Dapat menyebabkan penyakit bila
ditempatkan pada tempat yang tidak
semestinya atau ada faktor predisposisi
flora normal juga dapat menimbulkan
penyakit pada kondisi tertentu.
ex:
-Streptococcus viridans__ subacute
bacterial endocarditis.
-Bacteroides yang normal terdapat di
kolon dapat menyebabkan peritonitis
mengikuti suatu trauma.
Asal Mula Mikrobiota Manusia
 Sampai waktu akan dilahirkan, janin
tidak mengandung mikroorganisme.
 janin manusia mula-mula memperoleh
mikroorganisme ketika lewat sepanjang
saluran lahir melalui kontak permukaan,
penelanan atau penghisapan
 Setiap bagian tubuh manusia, dengan
kondisi lingkungan yang khusus, dihuni
berbagai macam mikroorganisme
tertentu.
Berdasarkan bentuk dan sifat
kehadirannya dapat digolongkan
menjadi 2 jenis,
I. Mikroorganisme tetap/normal (resident
flora/indigenous)
 yaitu mikroorganisme tertentu yang biasanya
ditemukan pada bagian tubuh tertentu dan pada
usia tertentu.
 Keberadaan nya selalu tetap, jika ada perubahan
akan kembali seperti semula. ---merupakan organisme
komensal.
 Ada yang bersifat mutualisme.: mendapatkan
makanan dari sekresi dan produk-produk buangan
tubuh manusia, dan tubuh memperoleh vitamin atau
zat hasil sintesis dari flora normal
2. Mikroorganisme sementara (transient flora)
 mikroorganisme nonpatogen atau potensial patogen
yang berada di kulit dan selaput lendir/mukosa selama
kurun waktu beberapa jam, hari, atau minggu.
 Keberadaan mikroorganisme ini ada secara tiba-tiba
(tidak tetap) dapat disebabkan oleh pengaruh
lingkungan, tidak menimbulkan penyakit .
 Flora sementara biasanya sedikit.
 Jika flora residen berubah, maka mikroba ini akan
melakukan kolonisasi, berbiak dan menimbulkan penyakit.
 Flora yang menetap diselaput lendir dan kulit
dapat mencegah kolonialisasi oleh bakteri
patogen ( bacterial interference) dan
mencegah penyakit akibat gangguan bakteri
melalui :
1.kompetisi pada reseptor atau tempat
pengikatan pada sel penjamu,
2.kompetisi untuk zat makanan,
3.penghambatan oleh produk metabolik atau
racun,
4.penghambatan oleh zat antibiotik atau
bakteriosin (bacteriocins).
 Supresi flora normal akan menimbulkan tempat
kosong yang cenderung akan ditempati oleh
mikroorganisme dari lingkungan atau tempat lain
pada tubuh. Beberapa bakteri bersifat oportunis
dan bisa menjadi patogen
 Flora normal biasanya ditemukan di bagian-
bagian tubuh manusia yang kontak langsung
dengan lingkungan misalnya kulit, hidung, mulut,
usus, saluran urogenital, mata, dan telinga.
 Organ-organ dan jaringan biasanya steril.
Mikroflora normal pada
kulit,hidung,telinga,konjungtiva
 Bakteri patogen yang akan menginfeksi kulit harus
mampu bersaing dengan mikroflora normal yang ada
untuk mendapatkan tempat kolonisasi serta nutrien
untuk tumbuh dan berkembang.
 ada sekitar 103
-104
mikroorganisme/cm2
yang
kebanyakan terletak pada stratum korneum.
 Jumlah mikroorganisme kulit dapat berkurang
dengan desinfektan, namun flora secara
cepat muncul kembali dari kelenjar sebasea
dan keringat
 Staphylococcus epidermidis yang
bersifat nonpatogen pada kulit namun dapat
menimbulkan penyakit saat mencapai
tempat-tempat tertentu seperti katup jantung
buatan dan sendi prostetik (sendi buatan).
 Staphylococcus aureus, dapat
berkolonisasi transien di kulit, tapi dapat
menetap pada rongga hidung
( nasopharyng)
 Oropharyng dihuni sejumlah besar S.
aureus dan S. epidermidis dan Strep α-
hemolitik ( Streptococcus viridans).
 Flora liang telinga luar = flora kulit
 Liang telinga tengah dan dalam biasanya
steril
 Flora konjungtiva dalam keadaan normal
dikendalikan oleh aliran air mata, yang
mengandung lisozim.
Intestinal flora
usus besar mengandung populasi
mikroba yang terbanyak.
Diperkirakan jumlah mikroorganisme
di dalam spesimen tinja adalah ± 1012-
13
organisme per gram
meliputi bakteri anaerob :
Bacteroides sp, Clostridium sp dan
Lactobacillus. Dan anerob fakultatif (
E.coli)
Normal Vaginal Gram Stain
Flora Normal Vagina
Flora normal vagina →
mikroorganisme komensal yang
dalam keadaan normal berada
dalam vagina
FLORA NORMAL VAGINA PADA
BERBAGAI USIA KEHIDUPAN WANITA
Flora normal vagina didominasi oleh Lactobacillus, yg
bersifat anaerob gram (+), memproduksi as.laktat &
hidrogen peroksida (H2O2) → hambat tumbuhnya ragi
& organisme lain.
Bakteri aerob :
 Corynebacterium,
 Nonhemolytic streptoccocus,
 Enterococcus,
 Staphylococcus epidermidis,
 E. coli,
 Gardenella vaginalis
Bakteri anaerob :
 Streptococcus anaerob
 Bacteroides,
 Fusiform bacillus,
 Mobiluncus
Selama populasinya tidak terganggu, flora normal di atas
akan menghasilkan perlindungan bagi organ intim
wanita, di antaranya dengan cara memproduksi
beberapa komponen berikut:
Asam laktat; menciptakan kondisi vagina yang asam
(pH kurang dari 4,5)
Hidrogen peroksida; memiliki sifat antimikrobial
Bakteriocins; memiliki sifat antimikrobial
 Neonatus & prapubertas:
Vulva neonatus steril sampai 24 jam setelah
kelahiran, lalu berkembang organisme nonpatogen
Pada prapubertas mikroorganisme & jamur
kadarnya rendah
 Wanita usia reproduktif:
Lactobacillus kembali muncul & menetap
Wanita normal memiliki Lactobacillus dominan
Hampir seluruh wanita terdapat koloni batang gram
(-) obligat anaerob & Peptostreptococcus spp
 Wanita pascamenopause:
Serupa masa prapubertas
Lactobacillus rendah
Jumlah mikroflora lain tidak terpengaruh kadar
estrogen
Flora Normal dalam Ekosistem Vagina
Ekosistem vagina normal sangat kompleks
Komponen lengkap: mikroflora endogen,
dinding vagina, cairan vagina & keasaman
vagina
Terdapat aksi sinergistik & antagonistik
Lactobacillus menghasilkan asam organik
PERANAN FLORA NORMAL VAGINA
DALAM KESEIMBANGAN EKOSISTEM
VAGINA
Flora Normal dalam Ekosistem Vagina
Sekret vagina normal tdd:
Sekresi vulva dari kel. sebasea, kel. Bartholin
& kel. Skene
Transudasi dari dinding vagina
Sel-sel vagina & serviks yg terlepas
Mukus serviks
Cairan endometrium & oviduktal
Mikroorganisme & produk metabolitnya
Estrogen : optimal pada♀ dewasa
menurun pada prapubertas
& menopause
Epitel vagina & serviks →Glikogen
↓
Glukosa
↓→Lactobacillus
Asam Laktat
↓
pH 4,0 – 4,5
Normal dalam Ekosistem Vagina
 Kadar pH vagina yang ↑ ( >4,5) → vaginosis bakterial
 pH 4,0-5,0 → kandidiasis vulvovaginalis
 pH < 4,0 → vaginitis monilial
 Variasi kadar pH vagina wanita seksual aktif diantara beberapa ras.
Produksi Hidrogen Peroksida oleh Lactobacillus
 Beberapa spesies Lactobacillus memproduksi H2O2
 H2O2 mempunyai efek toksik
 H2O2 oleh Lactobacillus memegang peran penting pada aktivitas
mikrobisidal
Produksi Antimikroba Lain yang Dihasilkan Lactobacillus
 Lactobacillus mempunyai sifat antibakteri
 Strain L. Acidophilus melawan patogen gram (-) & (+), tetapi ada juga yg
tidak bisa menghambatnya.
Interaksi Mikroba
 Lactobacillus menghambat bakteri patogen.
 Komponen beraktivitas antibakteri
 Hidrogen Peroksida menghambat pertumbuhan gonokokus dan HI
sebaliknya
 Hidrogen Peroksida + mieloperoksidase memiliki efek antifungi
Fluktuasi Flora Normal Vagina
 Fluktuasi ekosistem mikroba vagina berubah dari hari ke hari
 Mempengaruhi keseimbangan ekosistem vagina
Menstruasi dan Hubungan Seksual
 Lactobacillus ↓ selama menstruasi dan hubungan seksual →
pH vagina ↑
 Hubungan seksual berdampak sedikit pada frekuensi
Lactobacillus,
 Ada kenaikan bermakna Enterococcus, E. coli,
Streptococcus grup B
 ↑ pH selama hubungan seksual → ↑ daya hidup kuman
Penggunaan Douche dan Pengering
 Douching mengubah kekebalan terhadap infeksi dengan
jalan:
- mengubah mikroflora vagina,
- menghilangkan komponen pelindung vagina dan serviks
- menginduksi penyebaran mikroorganisme
 Douching yang rutin → vaginosis bakterial
 Douching yang mengandung antiseptik → vaginitis akibat
jamur
Penggunaan Douche dan Pengering
 Pemakaian pengering ataupun ‘penyempit’ vagina → efek
negatif
 Epitel vagina yang tebal + glikogen → mekanisme
pertahanan
 ↓ estrogen → penipisan epitel vagina
 Penipisan + kehilangan struktur elastisitas → rentan
kerusakan
 Pengering / penyempit → mengeringkan vagina & ↑
kerentanan terhadap infeksi
Antibiotik
 Agen antimikroba untuk infeksi nongenital & genital dapat
memberikan efek samping terhadap ekosistem mikroba
vagina
 Keseimbangan yang kompleks dari spesies yang berbeda
bisa dirusak oleh penggunaan antibiotik tertentu → ↑
pertumbuhan organisme yang tidak terkena efek antibiotik
tersebut.
Flora Normal
Implikasi pada Kehamilan,
Persalinan dan Nifas
 Flora normal (mikrobiota vagina) pada kehamilan
sehat didominasi oleh Lactobacillus yang berperan
melindungi dari infeksi, dan komposisinya bisa
berubah selama kehamilan.
 Perubahan komposisi mikrobiota vagina yang tidak
normal selama kehamilan, persalinan, dan masa
nifas dapat berimplikasi pada peningkatan risiko
komplikasi kehamilan, persalinan, dan masalah pada
bayi baru lahir
Implikasi pada kehamilan
 Perlindungan:
Flora normal Lactobacillus menciptakan lingkungan
asam yang mencegah pertumbuhan bakteri
berbahaya, sehingga melindungi dari infeksi.
 Risiko komplikasi:
Perubahan pada flora normal, seperti berkurangnya
populasi Lactobacillus dan peningkatan bakteri
anaerob, dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko
komplikasi kehamilan seperti keguguran atau kelainan
metabolisme janin.
Implikasi pada persalinan
 Lingkungan persalinan:
Perubahan flora normal bisa berpengaruh pada proses
persalinan. Misalnya, keberadaan bakteri yang tidak normal
selama kehamilan bisa mempengaruhi proses persalinan.
 Risiko infeksi:
flora normal yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko infeksi
selama dan setelah persalinan.
 Perubahan mikrobiota pascapersalinan:
Setelah melahirkan, komposisi mikrobiota vagina dapat berubah
kembali dan mungkin butuh waktu hingga satu tahun untuk
kembali stabil.
Implikasi pada nifas
(pascapersalinan)
 Perubahan komposisi mikroba:
Mikrobiota pada masa nifas bisa berbeda dari kondisi sebelum
kehamilan dan berbeda antar individu, yang dipengaruhi oleh
riwayat reproduksi dan persalinan.
 Risiko infeksi nifas:
Kondisi flora normal yang terganggu bisa meningkatkan risiko infeksi
pascapersalinan.
 Dampak pada bayi:
Flora yang tidak seimbang pada ibu dapat mempengaruhi profil
mikroba pada bayi baru lahir, yang mungkin memiliki implikasi
jangka panjang pada kesehatan bayi.

Flora Normal dan Perannya dalam Kebidanan.ppt

  • 1.
    FLORA NORMAL Dan Perannyadalam Kebidanan dr. Tika Sastraprawira, M.Kes.
  • 2.
     Flora normal: kumpulan mikroorganisme yang secara alami terdapat pada tubuh manusia normal dan sehat.  Umumnya dari jenis bakteri.  Dapat menyebabkan penyakit bila ditempatkan pada tempat yang tidak semestinya atau ada faktor predisposisi
  • 3.
    flora normal jugadapat menimbulkan penyakit pada kondisi tertentu. ex: -Streptococcus viridans__ subacute bacterial endocarditis. -Bacteroides yang normal terdapat di kolon dapat menyebabkan peritonitis mengikuti suatu trauma.
  • 4.
    Asal Mula MikrobiotaManusia  Sampai waktu akan dilahirkan, janin tidak mengandung mikroorganisme.  janin manusia mula-mula memperoleh mikroorganisme ketika lewat sepanjang saluran lahir melalui kontak permukaan, penelanan atau penghisapan  Setiap bagian tubuh manusia, dengan kondisi lingkungan yang khusus, dihuni berbagai macam mikroorganisme tertentu.
  • 5.
    Berdasarkan bentuk dansifat kehadirannya dapat digolongkan menjadi 2 jenis, I. Mikroorganisme tetap/normal (resident flora/indigenous)  yaitu mikroorganisme tertentu yang biasanya ditemukan pada bagian tubuh tertentu dan pada usia tertentu.  Keberadaan nya selalu tetap, jika ada perubahan akan kembali seperti semula. ---merupakan organisme komensal.  Ada yang bersifat mutualisme.: mendapatkan makanan dari sekresi dan produk-produk buangan tubuh manusia, dan tubuh memperoleh vitamin atau zat hasil sintesis dari flora normal
  • 6.
    2. Mikroorganisme sementara(transient flora)  mikroorganisme nonpatogen atau potensial patogen yang berada di kulit dan selaput lendir/mukosa selama kurun waktu beberapa jam, hari, atau minggu.  Keberadaan mikroorganisme ini ada secara tiba-tiba (tidak tetap) dapat disebabkan oleh pengaruh lingkungan, tidak menimbulkan penyakit .  Flora sementara biasanya sedikit.  Jika flora residen berubah, maka mikroba ini akan melakukan kolonisasi, berbiak dan menimbulkan penyakit.
  • 7.
     Flora yangmenetap diselaput lendir dan kulit dapat mencegah kolonialisasi oleh bakteri patogen ( bacterial interference) dan mencegah penyakit akibat gangguan bakteri melalui : 1.kompetisi pada reseptor atau tempat pengikatan pada sel penjamu, 2.kompetisi untuk zat makanan, 3.penghambatan oleh produk metabolik atau racun, 4.penghambatan oleh zat antibiotik atau bakteriosin (bacteriocins).
  • 9.
     Supresi floranormal akan menimbulkan tempat kosong yang cenderung akan ditempati oleh mikroorganisme dari lingkungan atau tempat lain pada tubuh. Beberapa bakteri bersifat oportunis dan bisa menjadi patogen  Flora normal biasanya ditemukan di bagian- bagian tubuh manusia yang kontak langsung dengan lingkungan misalnya kulit, hidung, mulut, usus, saluran urogenital, mata, dan telinga.  Organ-organ dan jaringan biasanya steril.
  • 10.
    Mikroflora normal pada kulit,hidung,telinga,konjungtiva Bakteri patogen yang akan menginfeksi kulit harus mampu bersaing dengan mikroflora normal yang ada untuk mendapatkan tempat kolonisasi serta nutrien untuk tumbuh dan berkembang.  ada sekitar 103 -104 mikroorganisme/cm2 yang kebanyakan terletak pada stratum korneum.
  • 11.
     Jumlah mikroorganismekulit dapat berkurang dengan desinfektan, namun flora secara cepat muncul kembali dari kelenjar sebasea dan keringat  Staphylococcus epidermidis yang bersifat nonpatogen pada kulit namun dapat menimbulkan penyakit saat mencapai tempat-tempat tertentu seperti katup jantung buatan dan sendi prostetik (sendi buatan).
  • 12.
     Staphylococcus aureus,dapat berkolonisasi transien di kulit, tapi dapat menetap pada rongga hidung ( nasopharyng)  Oropharyng dihuni sejumlah besar S. aureus dan S. epidermidis dan Strep α- hemolitik ( Streptococcus viridans).  Flora liang telinga luar = flora kulit  Liang telinga tengah dan dalam biasanya steril  Flora konjungtiva dalam keadaan normal dikendalikan oleh aliran air mata, yang mengandung lisozim.
  • 13.
    Intestinal flora usus besarmengandung populasi mikroba yang terbanyak. Diperkirakan jumlah mikroorganisme di dalam spesimen tinja adalah ± 1012- 13 organisme per gram meliputi bakteri anaerob : Bacteroides sp, Clostridium sp dan Lactobacillus. Dan anerob fakultatif ( E.coli)
  • 16.
  • 17.
    Flora Normal Vagina Floranormal vagina → mikroorganisme komensal yang dalam keadaan normal berada dalam vagina
  • 18.
    FLORA NORMAL VAGINAPADA BERBAGAI USIA KEHIDUPAN WANITA Flora normal vagina didominasi oleh Lactobacillus, yg bersifat anaerob gram (+), memproduksi as.laktat & hidrogen peroksida (H2O2) → hambat tumbuhnya ragi & organisme lain.
  • 19.
    Bakteri aerob : Corynebacterium,  Nonhemolytic streptoccocus,  Enterococcus,  Staphylococcus epidermidis,  E. coli,  Gardenella vaginalis Bakteri anaerob :  Streptococcus anaerob  Bacteroides,  Fusiform bacillus,  Mobiluncus
  • 20.
    Selama populasinya tidakterganggu, flora normal di atas akan menghasilkan perlindungan bagi organ intim wanita, di antaranya dengan cara memproduksi beberapa komponen berikut: Asam laktat; menciptakan kondisi vagina yang asam (pH kurang dari 4,5) Hidrogen peroksida; memiliki sifat antimikrobial Bakteriocins; memiliki sifat antimikrobial
  • 21.
     Neonatus &prapubertas: Vulva neonatus steril sampai 24 jam setelah kelahiran, lalu berkembang organisme nonpatogen Pada prapubertas mikroorganisme & jamur kadarnya rendah
  • 22.
     Wanita usiareproduktif: Lactobacillus kembali muncul & menetap Wanita normal memiliki Lactobacillus dominan Hampir seluruh wanita terdapat koloni batang gram (-) obligat anaerob & Peptostreptococcus spp
  • 23.
     Wanita pascamenopause: Serupamasa prapubertas Lactobacillus rendah Jumlah mikroflora lain tidak terpengaruh kadar estrogen
  • 24.
    Flora Normal dalamEkosistem Vagina Ekosistem vagina normal sangat kompleks Komponen lengkap: mikroflora endogen, dinding vagina, cairan vagina & keasaman vagina Terdapat aksi sinergistik & antagonistik Lactobacillus menghasilkan asam organik PERANAN FLORA NORMAL VAGINA DALAM KESEIMBANGAN EKOSISTEM VAGINA
  • 25.
    Flora Normal dalamEkosistem Vagina Sekret vagina normal tdd: Sekresi vulva dari kel. sebasea, kel. Bartholin & kel. Skene Transudasi dari dinding vagina Sel-sel vagina & serviks yg terlepas Mukus serviks Cairan endometrium & oviduktal Mikroorganisme & produk metabolitnya
  • 26.
    Estrogen : optimalpada♀ dewasa menurun pada prapubertas & menopause Epitel vagina & serviks →Glikogen ↓ Glukosa ↓→Lactobacillus Asam Laktat ↓ pH 4,0 – 4,5
  • 27.
    Normal dalam EkosistemVagina  Kadar pH vagina yang ↑ ( >4,5) → vaginosis bakterial  pH 4,0-5,0 → kandidiasis vulvovaginalis  pH < 4,0 → vaginitis monilial  Variasi kadar pH vagina wanita seksual aktif diantara beberapa ras.
  • 28.
    Produksi Hidrogen Peroksidaoleh Lactobacillus  Beberapa spesies Lactobacillus memproduksi H2O2  H2O2 mempunyai efek toksik  H2O2 oleh Lactobacillus memegang peran penting pada aktivitas mikrobisidal
  • 29.
    Produksi Antimikroba Lainyang Dihasilkan Lactobacillus  Lactobacillus mempunyai sifat antibakteri  Strain L. Acidophilus melawan patogen gram (-) & (+), tetapi ada juga yg tidak bisa menghambatnya.
  • 30.
    Interaksi Mikroba  Lactobacillusmenghambat bakteri patogen.  Komponen beraktivitas antibakteri  Hidrogen Peroksida menghambat pertumbuhan gonokokus dan HI sebaliknya  Hidrogen Peroksida + mieloperoksidase memiliki efek antifungi
  • 31.
    Fluktuasi Flora NormalVagina  Fluktuasi ekosistem mikroba vagina berubah dari hari ke hari  Mempengaruhi keseimbangan ekosistem vagina Menstruasi dan Hubungan Seksual  Lactobacillus ↓ selama menstruasi dan hubungan seksual → pH vagina ↑  Hubungan seksual berdampak sedikit pada frekuensi Lactobacillus,  Ada kenaikan bermakna Enterococcus, E. coli, Streptococcus grup B  ↑ pH selama hubungan seksual → ↑ daya hidup kuman
  • 32.
    Penggunaan Douche danPengering  Douching mengubah kekebalan terhadap infeksi dengan jalan: - mengubah mikroflora vagina, - menghilangkan komponen pelindung vagina dan serviks - menginduksi penyebaran mikroorganisme  Douching yang rutin → vaginosis bakterial  Douching yang mengandung antiseptik → vaginitis akibat jamur
  • 33.
    Penggunaan Douche danPengering  Pemakaian pengering ataupun ‘penyempit’ vagina → efek negatif  Epitel vagina yang tebal + glikogen → mekanisme pertahanan  ↓ estrogen → penipisan epitel vagina  Penipisan + kehilangan struktur elastisitas → rentan kerusakan  Pengering / penyempit → mengeringkan vagina & ↑ kerentanan terhadap infeksi
  • 34.
    Antibiotik  Agen antimikrobauntuk infeksi nongenital & genital dapat memberikan efek samping terhadap ekosistem mikroba vagina  Keseimbangan yang kompleks dari spesies yang berbeda bisa dirusak oleh penggunaan antibiotik tertentu → ↑ pertumbuhan organisme yang tidak terkena efek antibiotik tersebut.
  • 35.
    Flora Normal Implikasi padaKehamilan, Persalinan dan Nifas  Flora normal (mikrobiota vagina) pada kehamilan sehat didominasi oleh Lactobacillus yang berperan melindungi dari infeksi, dan komposisinya bisa berubah selama kehamilan.  Perubahan komposisi mikrobiota vagina yang tidak normal selama kehamilan, persalinan, dan masa nifas dapat berimplikasi pada peningkatan risiko komplikasi kehamilan, persalinan, dan masalah pada bayi baru lahir
  • 37.
    Implikasi pada kehamilan Perlindungan: Flora normal Lactobacillus menciptakan lingkungan asam yang mencegah pertumbuhan bakteri berbahaya, sehingga melindungi dari infeksi.  Risiko komplikasi: Perubahan pada flora normal, seperti berkurangnya populasi Lactobacillus dan peningkatan bakteri anaerob, dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko komplikasi kehamilan seperti keguguran atau kelainan metabolisme janin.
  • 38.
    Implikasi pada persalinan Lingkungan persalinan: Perubahan flora normal bisa berpengaruh pada proses persalinan. Misalnya, keberadaan bakteri yang tidak normal selama kehamilan bisa mempengaruhi proses persalinan.  Risiko infeksi: flora normal yang tidak optimal dapat meningkatkan risiko infeksi selama dan setelah persalinan.  Perubahan mikrobiota pascapersalinan: Setelah melahirkan, komposisi mikrobiota vagina dapat berubah kembali dan mungkin butuh waktu hingga satu tahun untuk kembali stabil.
  • 39.
    Implikasi pada nifas (pascapersalinan) Perubahan komposisi mikroba: Mikrobiota pada masa nifas bisa berbeda dari kondisi sebelum kehamilan dan berbeda antar individu, yang dipengaruhi oleh riwayat reproduksi dan persalinan.  Risiko infeksi nifas: Kondisi flora normal yang terganggu bisa meningkatkan risiko infeksi pascapersalinan.  Dampak pada bayi: Flora yang tidak seimbang pada ibu dapat mempengaruhi profil mikroba pada bayi baru lahir, yang mungkin memiliki implikasi jangka panjang pada kesehatan bayi.