#farmasiunism_pionirvegatasiri
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MULIA
#farmasiunismberkarakter
farmasiunism
Pelayanan Farmasi Klinik di
Apotek
Penjelasan pelayanan
pemantauan terapi obat
penyakit khronis dan infeksius
di apotek
Norsarida Aryani, M.Farm
Farmasi, Fakultas Kesehatan
Universitas Sari Mulia
Farmasi Komunitas
1
Visi & Misi
Universitas Sari Mulia
“Menjadi Universitas unggul dalam bidang
kekayaan lokal untuk menghasilkan
lulusan yang berkarakter, berinovasi, dan
berdaya saing di tingkat internasional
tahun 2033.”
Visi Misi
1. Menyeleggarakan pendidikan secara profesional,
bermutu, dan berdaya saing
2. Meningkatkan dan mengembangkan kualitas
penelitian kekayaan lokal menuju internasional
3. Meningkatkan kualitas pelayanan dan pengabdian
kepada masyarakat
4. Menjalin kemitraan untuk menunjang
terwujudnya penyelenggaraan Tridarma
Perguruan Tinggi dan luaran yang berdaya saing
internasional.
Visi & Misi
Fakultas Kesehatan
“Menjadi Fakultas Kesehatan yang unggul dalam
mengembangkan potensi kekayaan lokal dalam
ilmu pengetahuan, teknologi dan pelayanan dengan
mengedepankan kolaborasi interprofesi sehingga
menghasilkan lulusan yang berkarakter, berinovasi
dan berdaya saing di tingkat internasional tahun
2033”
Visi Misi
1. Menyelenggarakan kegiatan Pendidikan secara profesional, bermutu,
dan berdaya saing dengan mengedepankan kolaborasi interprofesi di
bidang kesehatan.
2. Mengembangkan potensi kekayaan lokal dalam ilmu pengetahuan,
teknologi dan pelayanan di bidang kesehatan melalui peningkatan
kualitas penelitian dengan mengedepankan kolaborasi interprofesi.
3. Melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan
mengedepankan kolaborasi interprofesi melalui hilirisasi hasil
penelitian untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
4. Meningkatkan kerjasama tridharma perguruan tinggi di bidang
kesehatan yang berkualitas dan relevan untuk menunjang terwujudnya
penyelenggaraan Tridarma Perguruan Tinggi dan luaran di tingkat
internasional.
Visi & Misi
Jurusan Farmasi
“Menjadi Jurusan Farmasi yang unggul dalam
penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat dengan
pengembangan potensi lokal wilayah sungai
sehingga menghasilkan Sarjana dan Apoteker yang
berkarakter”
Visi Misi
1. Menyelenggarakan Pendidikan sesuai dengan standar
nasional untuk menghasilkan lulusan yang unggul
dengan pengembangan pontensi lokal
2. Melaksanakan kegiatan penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat yang mendukung pengembangan
ilmu dengan mengedepankan pengembangan potensi
wilayah sungai
3. Menjalin kemitraan di tingkat wilayah, nasional, dan
internasional untuk meningkatkan mutu Pendidikan,
penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat
Visi & Misi
Prodi Sarjana Farmasi
“Menjadi program studi sarjana farmasi yang
unggul dan inovatif dengan pengembangan
potensi wilayah sungai pada tahun 2033”
Visi Misi
1. Menyelenggarakan pendidikan yang menghasilkan sarjana
farmasidenganpengembanganpotensiwilayahsungai
2. Melaksanakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat
yang mendukung dengan pengembangan potensi wilayah
sungai
3. Menjalin kemitraan di tingkat wilayah, nasional, dan internasional
untukmeningkatkanmutupendidikandanproduktivitasprogram
studidalammelaksanakanTriDharmaPerguruan Tinggi
REFERENSI
• Biofarmaka. 2009. Pedoman Pemantauan Terapi Obat.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina
Kefarmasian dan Alat Kesehatan
• Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 73 Tahun 2016
Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
• Mahasiswa mampu melakukan dan paham Pelayanan
resep obat berbagai penyakit akut, kronis dan infeksius di
apotek
Tugas-:
Task-: Membuat Laporan pelayanan pemantauan terapi
obat
penyakit khronis dan infeksius di apotek
CAPAIAN PEMBELAJARAN
OUTLINE
Pelayanan resep
obat berbagai
penyakit akut,
kronis dan
infeksius di
apotek
Pemantauan terapi
obat penyakit kronis
dan infeksius di ap
otek
Konseling untuk
pasien kronis dan
infeksi
Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek
• Berdasar Permenkes RI/No 35/ th. 2014
1. Mutu pelayanan kefarmasian di Apotek berorientasi pada keselamatan
pasien
Perlu suatu standar yang digunakan sebagai acuan dalam pelayanan
kefarmasian di apotek
Standar pelayanan kefarmasian adalah...
“tolak ukur yang digunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian
dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian”
PELAYANAN KEFARMASIAN
Suatu pelayanan langsung dan
bertanggung jawab pada pasien yang
berkaitan dengan sediaan farmasi dengan
maksud mencapai hasil yang pasti untuk
meningkatkan mutu kehidupan pasien
Alur obat dari resep hingga sampai
kepada pasien
RESEP
menulis
DOKTER
Diterima
dibaca
Apoteker;
Apoteker pendamping;
Asisten Apoteker
Obat
Pasien atau
customer apotek
Menyediakan
sesuai resep
Diberikan
Skrinning administratif
Resep asli terdiri dari :
1. Nama dokter penulis resep; No. SIP
(Surat ijin Praktek), alamat praktek &
no telp
2. Tempat & tanggal ditulisnya resep
3. Nama obat, cara membuat,signatura
(aturan pakai)
4. Paraf atau tanda tangan dokter
penulis resep
5. Nama, umur & alamat pasien
1
2
3
3
4
5
Aman
Kriteria
penulisan R/
dari dokter
rasional Tepat
- Tidak berbahaya dalam penggunaan bagi
organ tubuh
- Waspada terhadap efek samping dan
kontraindikasi
- Baik dlm penulisan resep maupun
dlm komposisi obat
- Dlm pemeriksaan sesuai BSO dgn
rute pemberian, usia dan kondisi
pasien
- Obat tidak tercampur dihindarkan dari
segi farmasetika maupun farmakologi
- Interaksi obat
-Tepat indikasi
-Tepat obat
-Tepat pasien
-Tepat dosis dan perhitungan
-Tepat interval waktu dan lama
pemberian obat
Skrinning Farmakologis
Pelayanan apotek terhadap resep
• Apotek wajib melayani resep dari dokter, dokter gigi, dan dokter hewan.
• Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab APA.
• Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan
keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat.
• Apoteker tidak diizinkan mengganti obat generik yang ditulis di dalam
resep dengan obat paten.
• Bila pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis di dalam resep,
apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang
lebih tepat.
Pelayanan Apotek
A.) Apotek dapat melakukan pembuatan, pengubahan bentuk, peracikan
obat dan bahan obat untuk :
1. pelayanan resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan.
2. pelayanan langsung tanpa resep khusus untuk obat bebas dan bebas
terbatas.
3. pelayanan lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
B.) Dalam penyerahan obat kepada pasien baik R/ maupun swamedikasi,
disertai dengan pelayanan atau pemberian informasi obat meliputi :
1. Aturan pakai minum obat sesuai etiket
2. Efek samping yang mungkin timbul
3. Konseling tambahan
Pelayanan resep obat berbagai penyakit akut, kronis dan
infeksius di apotek
Contoh penyakit Kronik (asma)
Setelah di skrining resepnya dan diambilkan obatnya (Salbutamol tablet ).
Pastikan obat dosis dan aturan pakai obat dengan pemakaian 3 atau 4 x dalam 1
hari.
Memastikan macam alergen pemicu serangan asma, perlu dilakukan skin test.
Pasien perlu diedukasi mengenai berbagai cara mencegah dan mengatasi diri
dalam serangan asma jika penyebab serangan asma sudah diidentifikasi.
Pemantauan Terapi Obat ( PTO ) pastikan pasien mendapatkan terapi Obat yang
efektif dan terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek
samping
Berikan konseling bila pasien tidak paham contoh pasien kondisi khusus (anak-
anak atau lansia) atau pasien dengan tingkat kepatuhan rendah.
Pemantauan Terapi Obat (PTO)
• Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah suatu proses yang mencakup
kegiatan untuk memastikan terapi obat yang diberikan aman, efektif
dan rasional bagi pasien. Dalam melakukannya, seorang Apoteker
sebagai tim pelayan kesehatan memiliki peranan penting dalam
mencegah munculnya masalah terkait obat.
• Pemantauan Terapi Obat merupakan salah satu bentuk pelayanan
farmasi klinik di apotek sesuai dengan Permenkes Nomor 73 Tahun
2016. PTO merupakan proses yang komprehensif sehingga
dibutuhkan ilmu penunjang seperti patofisiologi penyakit,
farmakoterapi hingga interpretasi hasil pemeriksaan fisik,
laboratorium ataupun diagnostik. Selain itu, dibutuhkan juga
keterampilan dalam berkomunikasi, kemampuan dalam membina
hubungan interpesonal dan dapat menganalisis masalah.
Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Tujuan Melakukan Pemantauan Terapi Obat
• Pasien yang mendapatkan terapi obat tertentu berisiko mengalami masalah terkait obat (drug
related problem) karena kompleksitas penyakit dan penggunaan obat serta perbedaan respons
individual, sehingga diperlukan adanya Pemantauan Terapi Obat untuk mengoptimalkan dan
meminimalkan efek yang tidak di inginkan. Beberapa manfaat Apoteker melakukan Pemantauan
Terapi Obat diantaranya :
• Menangani masalah terkait obat pada pasien
• Membantu pasien untuk menggunakan obat secara rasional, efektif dan sesuai, sehingga proses
penyembuhannya lebih cepat
• Membantu menghambat progresivitas penyakit pada pasien
• Bagi apotek, akan meningkatkan nilai/value apotek sehingga bisa meningkatkan kepuasan
pelanggan terhadap pelayanan apotek. Secara langsung juga bisa meningkatkan penjualan dan
omzet apotek
lanjutan
Kondisi Pasien
• Beberapa kondisi pasien yang diprioritaskan untuk
dilakukan PTO diantaranya :
• Pasien yang mempunyai banyak penyakit sehingga
menggunakan banyak obat dalam sehari
• Pasien kanker yang menerima terapi sitostatika
• Pasien dengan gangguan fungsi organ terutama hati
dan ginjal
• Pasien geriatri (lansia) dan pediatri (bayi dan anak-
anak)
• Pasien ibu hamil dan menyusui
• Pasien dengan perawatan intensif
• Pasien yang menerima obat dengan berbagai rute
pemberian obat
• Pasien yang menerima obat dengan berbagai aturan
pakai
Jenis Obat
• Beberapa jenis obat yang diterima pasien
sehingga diprioritaskan untuk dilakukan
pemantauan diantaranya :
• Obat dengan indeks terapi sempit seperti
digoksin dan fenitoin
• Obat yang bersifat nefrotoksik dan
hepatotoksik seperti gentamisin dan
obat golongan OAT (obat anti
tuberkulosis)
• Obat golongan sitostatika
• Obat golongan antikoagulan seperti
warfarin dan heparin
• Obat yang sering menimbulkan efek
yang tidak diinginkan seperti
metoklopramid
• Obat kardiovaskular seperti nitrogliserin
Konseling
Konseling obat adalah proses komunikasi antara apoteker dan pasien
yang bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi terkait
penggunaan obat secara optimal. Proses ini melibatkan penjelasan
mengenai:
• Cara penggunaan obat yang benar.
• Efek samping yang mungkin terjadi.
• Cara penyimpanan obat yang tepat.
• Informasi tentang interaksi obat dengan makanan atau obat lain
Lanjutan
• Tujuannya agar terciptanya rasa percaya antar pasien dan apoteker karena
menunjukkan perhatian dan asuhan kefarmasian. Selain itu dengan konseling,
pasien akan dapat menggunakan obat dengan benar karena telah
mendapatkan informasi yang sesuai dengan kondisi dan masalah yang
dialaminya sehingga pasien paham dan mampu mengatur serta beradaptasi
dengan penyakit dan pengobatan yang akan dilakukan.
• Konseling oleh apoteker akan memberikan manfaat nilai tambah dari sisi
ekonomi terhadap bisnis apotek yang dijalankan seperti menarik pelanggan
dan meningkatnya kepatuhan pasien karena konseling memenuhi kebutuhan
emosional pasien, meningkatnya kualitas hudip pasien karena berkurangnya
kesalahan penggunaan obat dan drug misadventure, serta meningkatkan
kemampuan pasien untuk menyelesaikan masalah kesehatannya.
#farmasiunism_pionirvegatasiri
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MULIA
#farmasiunismberkarakter
farmasiunism
Thank You

Farmasi Komunitas 1_p11.pptxppppppppppppp

  • 1.
    #farmasiunism_pionirvegatasiri JURUSAN FARMASI FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITASSARI MULIA #farmasiunismberkarakter farmasiunism Pelayanan Farmasi Klinik di Apotek Penjelasan pelayanan pemantauan terapi obat penyakit khronis dan infeksius di apotek Norsarida Aryani, M.Farm Farmasi, Fakultas Kesehatan Universitas Sari Mulia Farmasi Komunitas 1
  • 2.
    Visi & Misi UniversitasSari Mulia “Menjadi Universitas unggul dalam bidang kekayaan lokal untuk menghasilkan lulusan yang berkarakter, berinovasi, dan berdaya saing di tingkat internasional tahun 2033.” Visi Misi 1. Menyeleggarakan pendidikan secara profesional, bermutu, dan berdaya saing 2. Meningkatkan dan mengembangkan kualitas penelitian kekayaan lokal menuju internasional 3. Meningkatkan kualitas pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat 4. Menjalin kemitraan untuk menunjang terwujudnya penyelenggaraan Tridarma Perguruan Tinggi dan luaran yang berdaya saing internasional.
  • 3.
    Visi & Misi FakultasKesehatan “Menjadi Fakultas Kesehatan yang unggul dalam mengembangkan potensi kekayaan lokal dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan pelayanan dengan mengedepankan kolaborasi interprofesi sehingga menghasilkan lulusan yang berkarakter, berinovasi dan berdaya saing di tingkat internasional tahun 2033” Visi Misi 1. Menyelenggarakan kegiatan Pendidikan secara profesional, bermutu, dan berdaya saing dengan mengedepankan kolaborasi interprofesi di bidang kesehatan. 2. Mengembangkan potensi kekayaan lokal dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan pelayanan di bidang kesehatan melalui peningkatan kualitas penelitian dengan mengedepankan kolaborasi interprofesi. 3. Melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan mengedepankan kolaborasi interprofesi melalui hilirisasi hasil penelitian untuk peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. 4. Meningkatkan kerjasama tridharma perguruan tinggi di bidang kesehatan yang berkualitas dan relevan untuk menunjang terwujudnya penyelenggaraan Tridarma Perguruan Tinggi dan luaran di tingkat internasional.
  • 4.
    Visi & Misi JurusanFarmasi “Menjadi Jurusan Farmasi yang unggul dalam penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan pengembangan potensi lokal wilayah sungai sehingga menghasilkan Sarjana dan Apoteker yang berkarakter” Visi Misi 1. Menyelenggarakan Pendidikan sesuai dengan standar nasional untuk menghasilkan lulusan yang unggul dengan pengembangan pontensi lokal 2. Melaksanakan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang mendukung pengembangan ilmu dengan mengedepankan pengembangan potensi wilayah sungai 3. Menjalin kemitraan di tingkat wilayah, nasional, dan internasional untuk meningkatkan mutu Pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat
  • 5.
    Visi & Misi ProdiSarjana Farmasi “Menjadi program studi sarjana farmasi yang unggul dan inovatif dengan pengembangan potensi wilayah sungai pada tahun 2033” Visi Misi 1. Menyelenggarakan pendidikan yang menghasilkan sarjana farmasidenganpengembanganpotensiwilayahsungai 2. Melaksanakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang mendukung dengan pengembangan potensi wilayah sungai 3. Menjalin kemitraan di tingkat wilayah, nasional, dan internasional untukmeningkatkanmutupendidikandanproduktivitasprogram studidalammelaksanakanTriDharmaPerguruan Tinggi
  • 6.
    REFERENSI • Biofarmaka. 2009.Pedoman Pemantauan Terapi Obat. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan • Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 73 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
  • 7.
    • Mahasiswa mampumelakukan dan paham Pelayanan resep obat berbagai penyakit akut, kronis dan infeksius di apotek Tugas-: Task-: Membuat Laporan pelayanan pemantauan terapi obat penyakit khronis dan infeksius di apotek CAPAIAN PEMBELAJARAN
  • 8.
    OUTLINE Pelayanan resep obat berbagai penyakitakut, kronis dan infeksius di apotek Pemantauan terapi obat penyakit kronis dan infeksius di ap otek Konseling untuk pasien kronis dan infeksi
  • 9.
    Standar Pelayanan KefarmasianDi Apotek • Berdasar Permenkes RI/No 35/ th. 2014 1. Mutu pelayanan kefarmasian di Apotek berorientasi pada keselamatan pasien Perlu suatu standar yang digunakan sebagai acuan dalam pelayanan kefarmasian di apotek Standar pelayanan kefarmasian adalah... “tolak ukur yang digunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian”
  • 10.
    PELAYANAN KEFARMASIAN Suatu pelayananlangsung dan bertanggung jawab pada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien
  • 11.
    Alur obat dariresep hingga sampai kepada pasien RESEP menulis DOKTER Diterima dibaca Apoteker; Apoteker pendamping; Asisten Apoteker Obat Pasien atau customer apotek Menyediakan sesuai resep Diberikan
  • 12.
    Skrinning administratif Resep asliterdiri dari : 1. Nama dokter penulis resep; No. SIP (Surat ijin Praktek), alamat praktek & no telp 2. Tempat & tanggal ditulisnya resep 3. Nama obat, cara membuat,signatura (aturan pakai) 4. Paraf atau tanda tangan dokter penulis resep 5. Nama, umur & alamat pasien 1 2 3 3 4 5
  • 13.
    Aman Kriteria penulisan R/ dari dokter rasionalTepat - Tidak berbahaya dalam penggunaan bagi organ tubuh - Waspada terhadap efek samping dan kontraindikasi - Baik dlm penulisan resep maupun dlm komposisi obat - Dlm pemeriksaan sesuai BSO dgn rute pemberian, usia dan kondisi pasien - Obat tidak tercampur dihindarkan dari segi farmasetika maupun farmakologi - Interaksi obat -Tepat indikasi -Tepat obat -Tepat pasien -Tepat dosis dan perhitungan -Tepat interval waktu dan lama pemberian obat Skrinning Farmakologis
  • 14.
    Pelayanan apotek terhadapresep • Apotek wajib melayani resep dari dokter, dokter gigi, dan dokter hewan. • Pelayanan resep sepenuhnya atas tanggung jawab APA. • Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pada kepentingan masyarakat. • Apoteker tidak diizinkan mengganti obat generik yang ditulis di dalam resep dengan obat paten. • Bila pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis di dalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang lebih tepat.
  • 15.
    Pelayanan Apotek A.) Apotekdapat melakukan pembuatan, pengubahan bentuk, peracikan obat dan bahan obat untuk : 1. pelayanan resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan. 2. pelayanan langsung tanpa resep khusus untuk obat bebas dan bebas terbatas. 3. pelayanan lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. B.) Dalam penyerahan obat kepada pasien baik R/ maupun swamedikasi, disertai dengan pelayanan atau pemberian informasi obat meliputi : 1. Aturan pakai minum obat sesuai etiket 2. Efek samping yang mungkin timbul 3. Konseling tambahan
  • 16.
    Pelayanan resep obatberbagai penyakit akut, kronis dan infeksius di apotek Contoh penyakit Kronik (asma) Setelah di skrining resepnya dan diambilkan obatnya (Salbutamol tablet ). Pastikan obat dosis dan aturan pakai obat dengan pemakaian 3 atau 4 x dalam 1 hari. Memastikan macam alergen pemicu serangan asma, perlu dilakukan skin test. Pasien perlu diedukasi mengenai berbagai cara mencegah dan mengatasi diri dalam serangan asma jika penyebab serangan asma sudah diidentifikasi. Pemantauan Terapi Obat ( PTO ) pastikan pasien mendapatkan terapi Obat yang efektif dan terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping Berikan konseling bila pasien tidak paham contoh pasien kondisi khusus (anak- anak atau lansia) atau pasien dengan tingkat kepatuhan rendah.
  • 17.
    Pemantauan Terapi Obat(PTO) • Pemantauan Terapi Obat (PTO) adalah suatu proses yang mencakup kegiatan untuk memastikan terapi obat yang diberikan aman, efektif dan rasional bagi pasien. Dalam melakukannya, seorang Apoteker sebagai tim pelayan kesehatan memiliki peranan penting dalam mencegah munculnya masalah terkait obat. • Pemantauan Terapi Obat merupakan salah satu bentuk pelayanan farmasi klinik di apotek sesuai dengan Permenkes Nomor 73 Tahun 2016. PTO merupakan proses yang komprehensif sehingga dibutuhkan ilmu penunjang seperti patofisiologi penyakit, farmakoterapi hingga interpretasi hasil pemeriksaan fisik, laboratorium ataupun diagnostik. Selain itu, dibutuhkan juga keterampilan dalam berkomunikasi, kemampuan dalam membina hubungan interpesonal dan dapat menganalisis masalah.
  • 18.
    Pemantauan Terapi Obat(PTO) Tujuan Melakukan Pemantauan Terapi Obat • Pasien yang mendapatkan terapi obat tertentu berisiko mengalami masalah terkait obat (drug related problem) karena kompleksitas penyakit dan penggunaan obat serta perbedaan respons individual, sehingga diperlukan adanya Pemantauan Terapi Obat untuk mengoptimalkan dan meminimalkan efek yang tidak di inginkan. Beberapa manfaat Apoteker melakukan Pemantauan Terapi Obat diantaranya : • Menangani masalah terkait obat pada pasien • Membantu pasien untuk menggunakan obat secara rasional, efektif dan sesuai, sehingga proses penyembuhannya lebih cepat • Membantu menghambat progresivitas penyakit pada pasien • Bagi apotek, akan meningkatkan nilai/value apotek sehingga bisa meningkatkan kepuasan pelanggan terhadap pelayanan apotek. Secara langsung juga bisa meningkatkan penjualan dan omzet apotek
  • 19.
    lanjutan Kondisi Pasien • Beberapakondisi pasien yang diprioritaskan untuk dilakukan PTO diantaranya : • Pasien yang mempunyai banyak penyakit sehingga menggunakan banyak obat dalam sehari • Pasien kanker yang menerima terapi sitostatika • Pasien dengan gangguan fungsi organ terutama hati dan ginjal • Pasien geriatri (lansia) dan pediatri (bayi dan anak- anak) • Pasien ibu hamil dan menyusui • Pasien dengan perawatan intensif • Pasien yang menerima obat dengan berbagai rute pemberian obat • Pasien yang menerima obat dengan berbagai aturan pakai Jenis Obat • Beberapa jenis obat yang diterima pasien sehingga diprioritaskan untuk dilakukan pemantauan diantaranya : • Obat dengan indeks terapi sempit seperti digoksin dan fenitoin • Obat yang bersifat nefrotoksik dan hepatotoksik seperti gentamisin dan obat golongan OAT (obat anti tuberkulosis) • Obat golongan sitostatika • Obat golongan antikoagulan seperti warfarin dan heparin • Obat yang sering menimbulkan efek yang tidak diinginkan seperti metoklopramid • Obat kardiovaskular seperti nitrogliserin
  • 20.
    Konseling Konseling obat adalahproses komunikasi antara apoteker dan pasien yang bertujuan untuk memberikan informasi dan edukasi terkait penggunaan obat secara optimal. Proses ini melibatkan penjelasan mengenai: • Cara penggunaan obat yang benar. • Efek samping yang mungkin terjadi. • Cara penyimpanan obat yang tepat. • Informasi tentang interaksi obat dengan makanan atau obat lain
  • 21.
    Lanjutan • Tujuannya agarterciptanya rasa percaya antar pasien dan apoteker karena menunjukkan perhatian dan asuhan kefarmasian. Selain itu dengan konseling, pasien akan dapat menggunakan obat dengan benar karena telah mendapatkan informasi yang sesuai dengan kondisi dan masalah yang dialaminya sehingga pasien paham dan mampu mengatur serta beradaptasi dengan penyakit dan pengobatan yang akan dilakukan. • Konseling oleh apoteker akan memberikan manfaat nilai tambah dari sisi ekonomi terhadap bisnis apotek yang dijalankan seperti menarik pelanggan dan meningkatnya kepatuhan pasien karena konseling memenuhi kebutuhan emosional pasien, meningkatnya kualitas hudip pasien karena berkurangnya kesalahan penggunaan obat dan drug misadventure, serta meningkatkan kemampuan pasien untuk menyelesaikan masalah kesehatannya.
  • 22.
    #farmasiunism_pionirvegatasiri JURUSAN FARMASI FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITASSARI MULIA #farmasiunismberkarakter farmasiunism Thank You