PERANAN PERS DALAM MASYARAKAT DEMOKRASI

                                MAKALAH

                 PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

 Diajukan untuk memenuhi syarat ketuntasan nilai mata pelajaran Pendidikan
                           Kewarganegaraan




                    Disusun Oleh : Putri Putih Puspa Asri

                         Kelas : 3 Kimia Industri 5




                    PEMERINTAH KOTA BANDUNG

                          DINAS PENDIDIKAN

      SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 7 BANDUNG

PROGRAM KEAHLIAN: KIMIA INDUSTRI, TEKNOLOGI PENCELUPAN,
               ANALISIS KIMIA, FARMASI

   Jalan Soekarno-Hatta No.596 Tlp./Fax. (022) 7563077 Bandung 40286

                     Web: www.smkn7bandung.sch.id

                    E-mail: info@smkn7bandung.sch.id

                                BANDUNG

                                    2012
BAB I

                                 PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang

        Salah satu ciri menonjol negara demokrasi adalah adanya kebebasan untuk
berekspresi. Kebebasan berekspresi dapat terwujud dalam berbagai bentuk, seperti
berkesenian, menyampaikan protes, atau menyebarkan gagasan melalui media cetak.
Media ekspresi dan penyebarluasan gagasan yang banyak dikenal masyarakat adalah pers.

        Pada kehidupan masyarakat demokratis, salah satu peranan penting pers adalah
sebagai pengggerak prakarsa masyarakat, memperkenalkan usaha-usahanya sendiri, dan
menemukan       potensi-potensinya    yang     kreatif   dalam     usaha   memperbaiki
perikehidupannya. Pers juga mengemban misi sebagai salah satu alat kontrol sosial
terhadap pemerintah. Dunia pers dalam perspektif demokrasi telah menemukan jati diri
dan kebebasannya yang mampu menembus batas-batas negara baik dalam bidang politik,
ekonomi, sosial-budaya, hukum, pertahanan keamanan, dan sebagainya. Oleh sebab itu,
memasuki era globalisasi baik komponen birokrasi maupun masyarakat harus bersikap
arif dan bijaksana dalam menanggapi kritik dan saran yang dilontarkan dunia pers.

1.2 Rumusan Masalah
                   Apa pengertian pers?
                   Bagaimanakah sistem pers di berbagai negara?
                   Apakah fungsi dan peranan pers?
                   Bagaimanakah kebebasan pers Indonesia?
                   Apakah dampak dari penyalahgunaan kebebasan media?
1.3 Maksud dan Tujuan

        Maksud dan tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai syarat ketuntasan nilai
mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

1.4 Manfaat
   Dapat memberikan penjelasan tentang pers di Indonesia
   Dapat membantu kita untuk lebih kritis dalam menanggapi komentar-komentar pers
    saat ini.
BAB II
                              TINJAUAN PUSTAKA


   2.1 Pengertian Pers
       Ada beberapa pengertian tentang pengertian pers, salah satunya yaitu dalam
Ensiklopedi Pers Indonesia, disebutkan bahwa istilah pers merupakan sebutan bagi
penerbit/ perusahaan/ kalangan yang berkaitan dengan media massa atau wartawan.
Sebutan ini bermula dari cara bekerjanya media cetak yang awalnya menekankan
huruf-huruf di atas kertas yang akan dicetak. Dengan demikian, segala barang yang
dikerjakan dengan mesin cetak disebut pers.
       Adapun dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers bahwa
yang dimaksud dengan pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa
yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk
tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta grafik dan data maupun dalam bentuk
lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran
yang tersedia.
       Menurut Profesor Oemar Seno Adji, pers dalam arti sempit berarti
penyiaran-penyiaran pikiran, gagasan, atau berita-berita dengan kata tertulis.
Sebaliknya, pers dalam arti luas memasukan di dalamnya semua media mass
communications yang memancarkan pikiran dan perasaan seseorang baik dengan
kata-kata tertulis maupun lisan. Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa pers
dalam arti sempit merupakan manifestasi dari “freedom of the press”,sedangkan pers
dalam arti luas merupakan manifestasi dari “freedom of speech”, dan keduanya
tercakup oleh pengertian “freedom of expression”.
       L. Taufik, dalam bukunya “Sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia”,
menyatakan bahwa pengertian pers terbagi atas dua, yaitu pers dalam arti sempit dan
pers dalam arti luas.
       Pers dalam arti sempit diartikan sebagai surat kabar, koran, majalah, tabloid,
       dan bulein-buletin kantor berita. Jadi, pers terbatas pada media cetak.
       Pers dalam arti luas mencakup semua media massa, termasuk radio, televisi,
       film, dan internet.
Leksikon Komunikasi, pers berarti: 1) usaha percetakan dan penerbitan, 2)
usaha pengumpulan dan penyiaran berita, 3) penyiaran berita melalui surat kabar,
majalah, radio, dan televisi. Sedangkan istilah “press” berasal dari istilah bahasa
Inggris “to press” yamg artinya menekan, selanjutnya press atau pers diartikan
sebagai surat kabar dan majalah (dalam arti sempit) dan pers dalam arti luas yang
menyangkut media massa (surat kabar, radio, televisi, dan film).

   2.2 Sistem Pers di Beberapa Negara
a. Sistem pers barat (USA)

       Di negara-negara Barat yang diwakili oelh Amerika dan Eropa, kebebasan
pers diyakini sebagai bagian dari kebebasan berekspresi yang dimiliki oleh setiap
individu. Oleh sebab itu masyarakat meminta kepada negara agar memberikan
kemerdekaan dengan tanpa turut campur terlalu dalam terhadap kehidupan pers.

       Perihal kebebasan pers di Amerika, yang mengusung falsafah “liberalisme”,
telah mengundang pro dan kontra dalam beberapa kasus. Jika dilihat dari aspek pers,
hubungan pers dengan pemerintah Amerika Serikat dapat digambarkan sebagai
hubungan persaingan. Artinya, pers Amerika Serikat bebas dari campur tangan
pemerintahanya dan demikian pula sebaliknya sehingga terdapat persaingan di antara
pers dengan pemerintah, terutama dalam hal mengembangkan diri dan kepemimpinan.
Di Amerika Serikat, pers tidak berorientasi pada politik pemerintah, artinya pers
bukan merupakan terompet pemerintah seperti di negara-negara sosialis.

       Di sisi lain perlu dipahami pula bahwa hubungan antara pers, pemerintah, dan
masyarakat di Amerika dan Eropa sesungguhnya dapat digambarkan sebagai “upaya
saling mengontrol”. Artinya, walaupun ideologi kebebasan yang dianut memberi
kemerdekaan berekspresi, tetapi bukan berarti semuanya tanpa kontrol. Hubungan
yang demikian dapat menciptakan pemerintahan yang bersih dan kuat serta
masyarakat sipil yang juga kuat. Kondisi yang demikian memberi sumbangan penting
bagi terbangunnya kehidupan sosial yang demokratis.
b.   Sistem pers komunis (Rusia)

       Heinz Ditriech Fisher dan John C. Merril, dalam buku “International
Communications” yang dikutip oleh F. Rachmadi, menyatakan membicarakan sistem
pers Uni Soviet (Rusia), tidak dapat terlepas dari tiga nama tokohyang meletakan
dasar sistem pers uni soviet. Mereka adalah Lenin, Stalin, dan Khrushchev. “Menurut
Lenin, pers harus melayani kepentingan kaum buruh yang merupakan kelompok
mayoritas”. Dijelaskan lebih lanjut, Lenin adalah pencetus teori pers komunis dan
Stalin adalah orang yang menerapkan ajaran Lenin. Stalin adalah pribadi yang
membuat lembaga sensor, penekanan-penekanan, dan sebagainya, sedangkan
Khrushchev lebih menyadari bahwa pers itu ternyata dapat juga menjadi forum
pertukaran pendapat.

       Secara ringkas, fungsi pers di bekas negara Uni Soviet (Rusia) seperti yang
ditulis oleh F. Rachmadi, adalah sebagai berikut:

       1. Pers sebagai alat propaganda, agitato, dan organisator kolektif.
       2. Pers merupakan tempat pendidikan kader-kader komunis di kalangan
           massa.
       3. Pers bertugas sebagai lembaga yang memobilisasi dan mengorganisir
           massa untuk pembangunan ekonomi.
       4. Pers menerapkan dan menyiarkan semua dekrit, keputusan, instruksi yang
           dikeluarkan oleh Komite Sentral Partai maupun oleh Pemerintah Rusia
           serta bahan publikasi lain dari pemerintahan.
       5. Pers berfungsi sebgai alat unttuk melakukan kontrol dan kritik.

       Sesuai dengan fungsi dan peranan pers di Rusia, mereka tidak mementingkan
pemberitaan, karena badan sensor tidak akan memberi izin untuk memberitakan
kejadian-kejadian penting yang tidak dikehendaki, serta menghindari pemberitaan-
pemberitaan tentang hak asasi manusia.

c. Sistem pers di negara berkembang

       Pers di negara-negara berkembang hingga kini, kebanyakan berada dalam
proses transisi dan transformasi dari nilai-nilai lama (kolonial) ke nilai-nilai baru
(nasional). Dengan demikian berarti mereka berada dalam proses mencari bentuk
yang paling tepat, atau sedang berusaha keras untuk menemukan identitas dirinya.
Ciri-ciri khusus sistem pers pada negara-negara berkembang umumnya adalah sebagai
berikut :

        1. Sistem persnya cenderung mengikuti sistem pers negara bekas
            penjajahnya.
        2. Pers di negara berkembang sampai saat ini berada dalam bentuk transisi. Ia
            masih berusaha mencari bentuk yang tepat atau mencari identitas. Karena
            masih dalam taraf transisi, pers negara berkembang biasanya kurang stabil.
        3. Negara berkembang umumnya sedang membangun. Hal ini menyebabkan
            pers dituntut untuk bisa berperan sebagai agent of social change, di mana
            pers bersama pemerintah mempunyai tangggung jawab atas keberhasilan
            pembangunan
        4. Secara     umum      kebebasan     pers   di   negara    berkembang     diakui
            keberadaannya,     tetapi   dalam   pelaksanaanya      terdapat   pembatasan-
            pembatasan. Hal ini disebabkan karena pers dituntut untuk ikut menjamin
            atau mengusahakan stabilitas politik dan ikut serta dalam pembangunan
            ekonomi. Pada umumnya, sistem persnya menganut sistem tanggung
            jawab sosial (social responsibility).
        5. Pada umumnya, pers di negara berkembang mengalami masalah yang
            sama di bidang komunikasi, yaitu ketimpangan informasi, monopoli, dan
            pemusatan yang berlebihan dari sumber dan jalur komunikasi. Hal ini
            mengakibatkan adanya dominasi negara maju atas negara berkembang di
            bidang informasi dan komunikasi.
        6. Sistem dan pola hubungan antara pers dan pemerintah mempunyai tendesi
            perpaduan antara sistem-sistem yang ada (libertarian, authoritarian, social
            responsibility, dan lain-lain).
    2.3 Sifat, Fungsi, dan Peranan Pers
        a. Sifat pers

        Ideologi atau falsafah yang dianut setiap negara akan berpengaruh terhadap
sifat pers yang ada di negara tersebut. Oleh sebab itu, sifat pers antara satu negara
dengan negara lainnya tidak sama. Hingga sekarang paling tidak terdapat 6 (enam)
sifat pers yang penerapannya berbeda. Keenam sifat pers itu adalah :

       1. Liberal Democration Press (Pers Demokrasi Liberal)
           Dalam hal ini kritik dan komentar pers dapat dilakukan kepada siapa saja,
           termasuk kepala negara sekalipun. Contoh kasusnya adalah ketika
           Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon yang tumbang setelah dihujat
           habis-habisan oleh pers AS karena skandal “watergate”. Contoh
           negaranya adalah Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara di Eropa.
       2. Communist Press (Pers Komunis).
           Dalam hal ini suara pers harus sama dengan suara partai komunis yang
           berkuasa dan wartawannya adalah orang-orang yang setia pada partai
           komunis. Pers komunis umumnya berada di negra-negara sosialis yang
           menganut ideologi komunis atau marxisme. Contohnya pada negara Rusia,
           Cina, Kuba, Korea Utara, dan lain-lain.
       3. Authoritarian Press (Pers Otoriter)
           Pers otoriter terjadi pada saat pemerintahan Nazi Jerman (1936-1945) yang
           sangat terkenal kekejamannya. Pers dilarang melakukan kritik kepada
           pemerintah. Pers hanya untuk kepentingan penguasa. Contohnya di Jerman
           pada masa Adolf Hitler dan Italia pada masa Musolini.
       4. Freedom and Responsibility Press (Pers Bebas dan Bertanggungjawab)
           Istilah ini semula merupakan slogan dari negara-negara Barat yang
           menginginkan kebebasan pers harus dipertanggungjawabkan kepada
           kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi, karena negara-negara tersebut
           masing-masing mempunyai pandangan berbeda terhadap pengertian bebas.
           Maka kebebasan pers di setiap negara menjadi berbeda pula, tergantung
           pada bobot yang dianut oleh masing-masing negara.
       5. Development Press (Pers Pembangunan)
           Untuk menyamakan pandangan terhadap pers pembangunan, Wilbur
           Schramm memberikan batasan sebagai berikut:
           a. Pers harus dapat menciptakan iklim pembangunan negaranya.
           b. Pers harus mampu mengarahkan perhatian masyarakat dari kebiasaan
              lama menjadi perilaku yang lebih maju lagi.
           c. Pers harus mampu memperluas pandangan bagi masyarakat.
d. Pers harus dapat meningkatkan aspirasi dan mendorong masyarakat
              berpola pikir ke arah kehidupan yang lebih baik.
          e. Pers harus bisa memperlebar tukar pikiran (diskusi) dan kebijakan
              (policy).
          f. Pers harus mampu menetapkan norma sosial.
          g. Pers harus mampu membantu secara substansial dari semua jenis
              kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

          Contohnya adalah di Indonesia dan negara-negara Asia, Afrika dan
          Amerika Latin.

       6. Five Fondation Press (Pers Pancasila)
          Dilahirkan oleh bangsa Indonesia karena falsafah negaranya adalah
          Pancasila. Sampai sekarang belum ditemukan definisi yang tepat.
          Beberapa tokoh pers memperkirakan bahwa sifat pers pancasila itu adalah
          pers yang melihat segala sesuatu secara proporsional. Pers Pancasila
          mencari keseimbangan dalam berita atau tulisannya demi kepentingan dan
          kemaslahatan semua pihak sesuai dengan konsensus demokrasi pencasila.
       b. Fungsi pers

       Dalam tulisan Kusman Hidayat yang berjudul “Dasar-dasar Jurnalistik/Pers”
dinyatakan bahwa pers mempunyai 4 (empat) fungsi sebagai berikut:

          1. Fungsi pendidik, yaitu karya-karya cetaknya dengan segala isi, baik
              langsung maupun tidak langsung dengan sifat keterbukaanya,
              membantu     masyarakat   meningkatkan     budayanya.   Rubrik-rubrik
              khusus, seperti ruang kebudayaan atau ruang ilmu pengetahuan dapat
              meningkatkan pengetahuan masyarakat.
          2. Fungsi penghubung, dengan ciri universalitasnya, pers merupakan
              sarana lalu-lintas hubungan antar manusia. Melalui pers lembaga-
              lembaga kemasyarakatan berusaha untuk menumbuhkan kontak antar
              manusia sehingga tercipata saling pengertian dan saling tukar
              pandangan bagi perkembangan dan kemajuan hidup manusia.
          3. Fungsi pembentuk pendapat umum, rubrik-rubrik dan kolom-kolom
              tertentu seperti tajuk rencana, pikiran pembaca, pojok, dan lain-lain
merupakan ruang untuk memberikan pandangan atau pikiran kepada
              khalayak pembaca.
           4. Fungsi kontrol, dengan fungsi ini pers berusaha melakukan bimbingan
              dan pengawasan terhadap masyarakat tentang tingkah laku yang benar
              atau tingkah laku yang tidak dikehendaki khalayak.
       c. Peranan pers

       Di dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers disebutkan
bahwa pers nasional melaksanakan peran sebagai berikut:

           1. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui.
           2. Menegakan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya
              supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati
              kebhinekaan
           3. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat,
              akurat, dan benar.
           4. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal
              yang berkaitan dengan kepentingan umum.
           5. Meperjuangkan keadilan dan kebenaran.

       Sedangkan menurut Jacob Oetama, dalam konteks masyarakat Indonesia pers
khusus sebgai berikut:

           a. Tugas untuk memperkuat dan mengkreaatifkan konsensus-konsensus
              dasar nasional.
           b. Pers perlu mengenali masalah-masalah sosial yang peka dalam
              masyarakatnya. Bukan untuk didiamkan, juga buakn serta merta
              diberitakan begitu saja. Perlu diusahakan pemecahanya bersama
              pemerintah dan masyarakat secara bijaksana dengan tetap berorientasi
              maju.
           c. Pers perlu menggerakan prakarsa masyarakat, memperkenalkan usaha-
              usahanya sendiri, dan menemukan potensi-potensinya yang kreatif
              dalam usaha memperbaiki perikehidupannya.
           d. Pers menyebarluaskan dan memperkuat rasa mampu untuk mengubah
              nasibnya sendiri.
e. Kekurangan, kegagalan, serta korupsi dilaporkan bukan untuk merusak
               dan    membangun     rasa   pesimis,   tetapi   untuk   koreksi   dan
               membangkitkan kegairahan dan selalu melangkah maju. Karena itu
               harus bersedia mengoreksi diri dan dikoreksi.
   2.4 Kebebasan Pers Indonesia

       Kebebasan pers adalah kebebasan mengemukakan pendapat, baik secara
tulisan maupun lisan, melalui pers, seperti harian, majalah, dan buletin. Kebebasan
pers dituntut tanggung jawabnya untuk menegakan keadilan, ketertiban, dan
keamanan dalam masyarakat. Demikian juga pers harus mempertimbangkan apakah
berita yang disebarkan dapat menguntungkan masyarakat luas atau memberi dampak
positif pada masyarakat dan bangsa. Inilah segi tanggung jawab dari pers. Jadi, pers
diberi kebebasan dengan disertai tanggung jawab sosial.

       Selanjutnya, Komisi Kemerdekaan Pers menggariskan lima hal yang menjadi
tuntutan masyarakat modern terhadap pers, yang merupakan ukuran pelaksanaan
kegiatan pers, sebagai berikut :

       a. Pers dituntut untuk menyajikan laporan tentang kejadian sehari-hari secara
           jujur, mendalam, dan cerdas.
       b. Pers dituntut untuk menjadi sebuah forum pertukaran komentar dan kritik,
           yang berarti pers diminta untuk menjadi wadah diskusi di kalangan
           masyarakat, walaupun berbeda pendapat dengan pengelola pers itu sendiri.
       c. Pers hendaknya menonjolkan sebuah gambaran yang representatif dari
           kelompok-kelompok dalam masyarakat. Hal ini mengacu pada segelintir
           kelompok minoritas dalam masyarakat yang juga memiliki hak yang sama
           dalam masyarakat untuk didengarkan.
       d. Pers hendaknya bertanggung jawab dalam penyajian dan penguraian
           tujuan dan nilai-nilai dalm masyarakat.
       e. Pers hendaknya menyajikan kesempatan kepada masyarakat untuk
           memperoleh berita sehari-hari. Ini berkaitan dengan kebebasan informasi
           yang diminta masyarakat.
Adapun landasan hukum kebebasan pers Indonesia termaktub dalam:

       a. Undang-undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kebebasan Menyampaikan
           Pendapat di Muka Umum.
       b. Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.
       c. Undang-undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
   2.5 Dampak Penyalahgunaan Kebebasan Media

       Dalam kehidupan masyarakat, media massa dapat memberikan informasi atau
berita yang jelas dan akurat. Media massa dalam penyampaian beritanya untuk
kehidupan masyarakat memiliki manfaat yang cukup besar. Istilah media
mengandung makna untuk semua organisasi, baik swasta maupun pemerintah yang
bertugas mencari informasi kepada publik. Mereka menggunakan alat atau media
seperti koran, radio, televisi, seni pertunjukan, dan lain sebagainya. Peralatan tersebut
digunakan untuk manyampaikan pesan. Jika kebebasan pers yang terikat oleh Kode
Etik Jurnalistik di abaikan, akibatnya informasi yang disampaikan akan menyimpang
dari fungsi-fungsi pers yang ada.
BAB III

                                    PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Istilah pers pada umumnya mengandung arti penerbitan yang berkaitan dengan media
   massa atau wartawan. Dapat juga merupakan lembaga sosial dan wahana komunikasi
   massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik baik cetak maupun elektronik.
2. Dalam pelaksanaan pers di beberapa negara, terdapat kebebasan pers yang ternyata
   tidak sama antarnegara. Ada beberapa negara yang menganut pers Barat dan pers
   Komunis. Demikian juga karakteristiknya, ada yang menerapkan teoti pers otoritarian,
   libertarian, tanggung jawab sosial, dan komunis.
3. Perkembangan pers di Indonesia terus mengalami kemajuan setelah pemerintah
   Republik Indonesia terbentuk pada tahun 1945. Pasang surut pers di Indonesia dialami
   baik pada masa revolusi, era demokrasi liberal, zaman Orde Lama atau Pers
   Terpimpin, era Demokrasi Pancasila dan Orde Baru, serta kebebasan pers Era
   Reformasi.
4. Setiap negara memiliki karakteristik pers yang berbeda antara satu negara dengan
   negara lain, hal ini sangat tergantung kepada ideologi atau falsafah yang dianutnya.
   Ada 6 sifat pers yang kita kenal, yaitu pers demokrasi liberal, pers komunis, pers
   otoriter, pers bebas dan bertanggungjawab, pers pembangunan, dan pers pancasila.
5. Pers sebagai lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang pengumpulan dan
   penyebaran informasi memiliki visi yakni: ikut mencerdaskan masyarakat,
   menegakan keadilan, dan memberantas kebatilan.
6. Kusman Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Dasar-dasar Jurnalistik/Pers”,
   menyebutkan 4 fungsi pers, yaitu sebagai fungsi pendidik, fungsi penghubung, fungsi
   pembentuk pendapat umum, dan fungsi kontrol.
7. Undang-undang pers yang pernah ada di Indonesia, antara lain: Undang-undang
   Nomor 11 Tahun 1966, Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967, Undang-undang
   Nomor 21 Tahun 1982, dan terbaru Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999.
8. Pers melalui organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) telah memiliki Kode
   Etik Jurnalistik yang merupakan aturan mengenai perilaku dan pertimbangan moral
   yang harus dianut dan ditaati oleh media pers dalam siarannya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Budiyanto. 2007 “Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA kelas XII”. Jakarta:
   Penerbit Erlangga.

Bener 2

  • 1.
    PERANAN PERS DALAMMASYARAKAT DEMOKRASI MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Diajukan untuk memenuhi syarat ketuntasan nilai mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Disusun Oleh : Putri Putih Puspa Asri Kelas : 3 Kimia Industri 5 PEMERINTAH KOTA BANDUNG DINAS PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 7 BANDUNG PROGRAM KEAHLIAN: KIMIA INDUSTRI, TEKNOLOGI PENCELUPAN, ANALISIS KIMIA, FARMASI Jalan Soekarno-Hatta No.596 Tlp./Fax. (022) 7563077 Bandung 40286 Web: www.smkn7bandung.sch.id E-mail: info@smkn7bandung.sch.id BANDUNG 2012
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu ciri menonjol negara demokrasi adalah adanya kebebasan untuk berekspresi. Kebebasan berekspresi dapat terwujud dalam berbagai bentuk, seperti berkesenian, menyampaikan protes, atau menyebarkan gagasan melalui media cetak. Media ekspresi dan penyebarluasan gagasan yang banyak dikenal masyarakat adalah pers. Pada kehidupan masyarakat demokratis, salah satu peranan penting pers adalah sebagai pengggerak prakarsa masyarakat, memperkenalkan usaha-usahanya sendiri, dan menemukan potensi-potensinya yang kreatif dalam usaha memperbaiki perikehidupannya. Pers juga mengemban misi sebagai salah satu alat kontrol sosial terhadap pemerintah. Dunia pers dalam perspektif demokrasi telah menemukan jati diri dan kebebasannya yang mampu menembus batas-batas negara baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, hukum, pertahanan keamanan, dan sebagainya. Oleh sebab itu, memasuki era globalisasi baik komponen birokrasi maupun masyarakat harus bersikap arif dan bijaksana dalam menanggapi kritik dan saran yang dilontarkan dunia pers. 1.2 Rumusan Masalah  Apa pengertian pers?  Bagaimanakah sistem pers di berbagai negara?  Apakah fungsi dan peranan pers?  Bagaimanakah kebebasan pers Indonesia?  Apakah dampak dari penyalahgunaan kebebasan media? 1.3 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai syarat ketuntasan nilai mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. 1.4 Manfaat  Dapat memberikan penjelasan tentang pers di Indonesia  Dapat membantu kita untuk lebih kritis dalam menanggapi komentar-komentar pers saat ini.
  • 3.
    BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pers Ada beberapa pengertian tentang pengertian pers, salah satunya yaitu dalam Ensiklopedi Pers Indonesia, disebutkan bahwa istilah pers merupakan sebutan bagi penerbit/ perusahaan/ kalangan yang berkaitan dengan media massa atau wartawan. Sebutan ini bermula dari cara bekerjanya media cetak yang awalnya menekankan huruf-huruf di atas kertas yang akan dicetak. Dengan demikian, segala barang yang dikerjakan dengan mesin cetak disebut pers. Adapun dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers bahwa yang dimaksud dengan pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta grafik dan data maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Menurut Profesor Oemar Seno Adji, pers dalam arti sempit berarti penyiaran-penyiaran pikiran, gagasan, atau berita-berita dengan kata tertulis. Sebaliknya, pers dalam arti luas memasukan di dalamnya semua media mass communications yang memancarkan pikiran dan perasaan seseorang baik dengan kata-kata tertulis maupun lisan. Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa pers dalam arti sempit merupakan manifestasi dari “freedom of the press”,sedangkan pers dalam arti luas merupakan manifestasi dari “freedom of speech”, dan keduanya tercakup oleh pengertian “freedom of expression”. L. Taufik, dalam bukunya “Sejarah dan Perkembangan Pers di Indonesia”, menyatakan bahwa pengertian pers terbagi atas dua, yaitu pers dalam arti sempit dan pers dalam arti luas. Pers dalam arti sempit diartikan sebagai surat kabar, koran, majalah, tabloid, dan bulein-buletin kantor berita. Jadi, pers terbatas pada media cetak. Pers dalam arti luas mencakup semua media massa, termasuk radio, televisi, film, dan internet.
  • 4.
    Leksikon Komunikasi, persberarti: 1) usaha percetakan dan penerbitan, 2) usaha pengumpulan dan penyiaran berita, 3) penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, radio, dan televisi. Sedangkan istilah “press” berasal dari istilah bahasa Inggris “to press” yamg artinya menekan, selanjutnya press atau pers diartikan sebagai surat kabar dan majalah (dalam arti sempit) dan pers dalam arti luas yang menyangkut media massa (surat kabar, radio, televisi, dan film). 2.2 Sistem Pers di Beberapa Negara a. Sistem pers barat (USA) Di negara-negara Barat yang diwakili oelh Amerika dan Eropa, kebebasan pers diyakini sebagai bagian dari kebebasan berekspresi yang dimiliki oleh setiap individu. Oleh sebab itu masyarakat meminta kepada negara agar memberikan kemerdekaan dengan tanpa turut campur terlalu dalam terhadap kehidupan pers. Perihal kebebasan pers di Amerika, yang mengusung falsafah “liberalisme”, telah mengundang pro dan kontra dalam beberapa kasus. Jika dilihat dari aspek pers, hubungan pers dengan pemerintah Amerika Serikat dapat digambarkan sebagai hubungan persaingan. Artinya, pers Amerika Serikat bebas dari campur tangan pemerintahanya dan demikian pula sebaliknya sehingga terdapat persaingan di antara pers dengan pemerintah, terutama dalam hal mengembangkan diri dan kepemimpinan. Di Amerika Serikat, pers tidak berorientasi pada politik pemerintah, artinya pers bukan merupakan terompet pemerintah seperti di negara-negara sosialis. Di sisi lain perlu dipahami pula bahwa hubungan antara pers, pemerintah, dan masyarakat di Amerika dan Eropa sesungguhnya dapat digambarkan sebagai “upaya saling mengontrol”. Artinya, walaupun ideologi kebebasan yang dianut memberi kemerdekaan berekspresi, tetapi bukan berarti semuanya tanpa kontrol. Hubungan yang demikian dapat menciptakan pemerintahan yang bersih dan kuat serta masyarakat sipil yang juga kuat. Kondisi yang demikian memberi sumbangan penting bagi terbangunnya kehidupan sosial yang demokratis.
  • 5.
    b. Sistem pers komunis (Rusia) Heinz Ditriech Fisher dan John C. Merril, dalam buku “International Communications” yang dikutip oleh F. Rachmadi, menyatakan membicarakan sistem pers Uni Soviet (Rusia), tidak dapat terlepas dari tiga nama tokohyang meletakan dasar sistem pers uni soviet. Mereka adalah Lenin, Stalin, dan Khrushchev. “Menurut Lenin, pers harus melayani kepentingan kaum buruh yang merupakan kelompok mayoritas”. Dijelaskan lebih lanjut, Lenin adalah pencetus teori pers komunis dan Stalin adalah orang yang menerapkan ajaran Lenin. Stalin adalah pribadi yang membuat lembaga sensor, penekanan-penekanan, dan sebagainya, sedangkan Khrushchev lebih menyadari bahwa pers itu ternyata dapat juga menjadi forum pertukaran pendapat. Secara ringkas, fungsi pers di bekas negara Uni Soviet (Rusia) seperti yang ditulis oleh F. Rachmadi, adalah sebagai berikut: 1. Pers sebagai alat propaganda, agitato, dan organisator kolektif. 2. Pers merupakan tempat pendidikan kader-kader komunis di kalangan massa. 3. Pers bertugas sebagai lembaga yang memobilisasi dan mengorganisir massa untuk pembangunan ekonomi. 4. Pers menerapkan dan menyiarkan semua dekrit, keputusan, instruksi yang dikeluarkan oleh Komite Sentral Partai maupun oleh Pemerintah Rusia serta bahan publikasi lain dari pemerintahan. 5. Pers berfungsi sebgai alat unttuk melakukan kontrol dan kritik. Sesuai dengan fungsi dan peranan pers di Rusia, mereka tidak mementingkan pemberitaan, karena badan sensor tidak akan memberi izin untuk memberitakan kejadian-kejadian penting yang tidak dikehendaki, serta menghindari pemberitaan- pemberitaan tentang hak asasi manusia. c. Sistem pers di negara berkembang Pers di negara-negara berkembang hingga kini, kebanyakan berada dalam proses transisi dan transformasi dari nilai-nilai lama (kolonial) ke nilai-nilai baru
  • 6.
    (nasional). Dengan demikianberarti mereka berada dalam proses mencari bentuk yang paling tepat, atau sedang berusaha keras untuk menemukan identitas dirinya. Ciri-ciri khusus sistem pers pada negara-negara berkembang umumnya adalah sebagai berikut : 1. Sistem persnya cenderung mengikuti sistem pers negara bekas penjajahnya. 2. Pers di negara berkembang sampai saat ini berada dalam bentuk transisi. Ia masih berusaha mencari bentuk yang tepat atau mencari identitas. Karena masih dalam taraf transisi, pers negara berkembang biasanya kurang stabil. 3. Negara berkembang umumnya sedang membangun. Hal ini menyebabkan pers dituntut untuk bisa berperan sebagai agent of social change, di mana pers bersama pemerintah mempunyai tangggung jawab atas keberhasilan pembangunan 4. Secara umum kebebasan pers di negara berkembang diakui keberadaannya, tetapi dalam pelaksanaanya terdapat pembatasan- pembatasan. Hal ini disebabkan karena pers dituntut untuk ikut menjamin atau mengusahakan stabilitas politik dan ikut serta dalam pembangunan ekonomi. Pada umumnya, sistem persnya menganut sistem tanggung jawab sosial (social responsibility). 5. Pada umumnya, pers di negara berkembang mengalami masalah yang sama di bidang komunikasi, yaitu ketimpangan informasi, monopoli, dan pemusatan yang berlebihan dari sumber dan jalur komunikasi. Hal ini mengakibatkan adanya dominasi negara maju atas negara berkembang di bidang informasi dan komunikasi. 6. Sistem dan pola hubungan antara pers dan pemerintah mempunyai tendesi perpaduan antara sistem-sistem yang ada (libertarian, authoritarian, social responsibility, dan lain-lain). 2.3 Sifat, Fungsi, dan Peranan Pers a. Sifat pers Ideologi atau falsafah yang dianut setiap negara akan berpengaruh terhadap sifat pers yang ada di negara tersebut. Oleh sebab itu, sifat pers antara satu negara
  • 7.
    dengan negara lainnyatidak sama. Hingga sekarang paling tidak terdapat 6 (enam) sifat pers yang penerapannya berbeda. Keenam sifat pers itu adalah : 1. Liberal Democration Press (Pers Demokrasi Liberal) Dalam hal ini kritik dan komentar pers dapat dilakukan kepada siapa saja, termasuk kepala negara sekalipun. Contoh kasusnya adalah ketika Presiden Amerika Serikat, Richard Nixon yang tumbang setelah dihujat habis-habisan oleh pers AS karena skandal “watergate”. Contoh negaranya adalah Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara di Eropa. 2. Communist Press (Pers Komunis). Dalam hal ini suara pers harus sama dengan suara partai komunis yang berkuasa dan wartawannya adalah orang-orang yang setia pada partai komunis. Pers komunis umumnya berada di negra-negara sosialis yang menganut ideologi komunis atau marxisme. Contohnya pada negara Rusia, Cina, Kuba, Korea Utara, dan lain-lain. 3. Authoritarian Press (Pers Otoriter) Pers otoriter terjadi pada saat pemerintahan Nazi Jerman (1936-1945) yang sangat terkenal kekejamannya. Pers dilarang melakukan kritik kepada pemerintah. Pers hanya untuk kepentingan penguasa. Contohnya di Jerman pada masa Adolf Hitler dan Italia pada masa Musolini. 4. Freedom and Responsibility Press (Pers Bebas dan Bertanggungjawab) Istilah ini semula merupakan slogan dari negara-negara Barat yang menginginkan kebebasan pers harus dipertanggungjawabkan kepada kehidupan bermasyarakat. Akan tetapi, karena negara-negara tersebut masing-masing mempunyai pandangan berbeda terhadap pengertian bebas. Maka kebebasan pers di setiap negara menjadi berbeda pula, tergantung pada bobot yang dianut oleh masing-masing negara. 5. Development Press (Pers Pembangunan) Untuk menyamakan pandangan terhadap pers pembangunan, Wilbur Schramm memberikan batasan sebagai berikut: a. Pers harus dapat menciptakan iklim pembangunan negaranya. b. Pers harus mampu mengarahkan perhatian masyarakat dari kebiasaan lama menjadi perilaku yang lebih maju lagi. c. Pers harus mampu memperluas pandangan bagi masyarakat.
  • 8.
    d. Pers harusdapat meningkatkan aspirasi dan mendorong masyarakat berpola pikir ke arah kehidupan yang lebih baik. e. Pers harus bisa memperlebar tukar pikiran (diskusi) dan kebijakan (policy). f. Pers harus mampu menetapkan norma sosial. g. Pers harus mampu membantu secara substansial dari semua jenis kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Contohnya adalah di Indonesia dan negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. 6. Five Fondation Press (Pers Pancasila) Dilahirkan oleh bangsa Indonesia karena falsafah negaranya adalah Pancasila. Sampai sekarang belum ditemukan definisi yang tepat. Beberapa tokoh pers memperkirakan bahwa sifat pers pancasila itu adalah pers yang melihat segala sesuatu secara proporsional. Pers Pancasila mencari keseimbangan dalam berita atau tulisannya demi kepentingan dan kemaslahatan semua pihak sesuai dengan konsensus demokrasi pencasila. b. Fungsi pers Dalam tulisan Kusman Hidayat yang berjudul “Dasar-dasar Jurnalistik/Pers” dinyatakan bahwa pers mempunyai 4 (empat) fungsi sebagai berikut: 1. Fungsi pendidik, yaitu karya-karya cetaknya dengan segala isi, baik langsung maupun tidak langsung dengan sifat keterbukaanya, membantu masyarakat meningkatkan budayanya. Rubrik-rubrik khusus, seperti ruang kebudayaan atau ruang ilmu pengetahuan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat. 2. Fungsi penghubung, dengan ciri universalitasnya, pers merupakan sarana lalu-lintas hubungan antar manusia. Melalui pers lembaga- lembaga kemasyarakatan berusaha untuk menumbuhkan kontak antar manusia sehingga tercipata saling pengertian dan saling tukar pandangan bagi perkembangan dan kemajuan hidup manusia. 3. Fungsi pembentuk pendapat umum, rubrik-rubrik dan kolom-kolom tertentu seperti tajuk rencana, pikiran pembaca, pojok, dan lain-lain
  • 9.
    merupakan ruang untukmemberikan pandangan atau pikiran kepada khalayak pembaca. 4. Fungsi kontrol, dengan fungsi ini pers berusaha melakukan bimbingan dan pengawasan terhadap masyarakat tentang tingkah laku yang benar atau tingkah laku yang tidak dikehendaki khalayak. c. Peranan pers Di dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers disebutkan bahwa pers nasional melaksanakan peran sebagai berikut: 1. Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui. 2. Menegakan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan 3. Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar. 4. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum. 5. Meperjuangkan keadilan dan kebenaran. Sedangkan menurut Jacob Oetama, dalam konteks masyarakat Indonesia pers khusus sebgai berikut: a. Tugas untuk memperkuat dan mengkreaatifkan konsensus-konsensus dasar nasional. b. Pers perlu mengenali masalah-masalah sosial yang peka dalam masyarakatnya. Bukan untuk didiamkan, juga buakn serta merta diberitakan begitu saja. Perlu diusahakan pemecahanya bersama pemerintah dan masyarakat secara bijaksana dengan tetap berorientasi maju. c. Pers perlu menggerakan prakarsa masyarakat, memperkenalkan usaha- usahanya sendiri, dan menemukan potensi-potensinya yang kreatif dalam usaha memperbaiki perikehidupannya. d. Pers menyebarluaskan dan memperkuat rasa mampu untuk mengubah nasibnya sendiri.
  • 10.
    e. Kekurangan, kegagalan,serta korupsi dilaporkan bukan untuk merusak dan membangun rasa pesimis, tetapi untuk koreksi dan membangkitkan kegairahan dan selalu melangkah maju. Karena itu harus bersedia mengoreksi diri dan dikoreksi. 2.4 Kebebasan Pers Indonesia Kebebasan pers adalah kebebasan mengemukakan pendapat, baik secara tulisan maupun lisan, melalui pers, seperti harian, majalah, dan buletin. Kebebasan pers dituntut tanggung jawabnya untuk menegakan keadilan, ketertiban, dan keamanan dalam masyarakat. Demikian juga pers harus mempertimbangkan apakah berita yang disebarkan dapat menguntungkan masyarakat luas atau memberi dampak positif pada masyarakat dan bangsa. Inilah segi tanggung jawab dari pers. Jadi, pers diberi kebebasan dengan disertai tanggung jawab sosial. Selanjutnya, Komisi Kemerdekaan Pers menggariskan lima hal yang menjadi tuntutan masyarakat modern terhadap pers, yang merupakan ukuran pelaksanaan kegiatan pers, sebagai berikut : a. Pers dituntut untuk menyajikan laporan tentang kejadian sehari-hari secara jujur, mendalam, dan cerdas. b. Pers dituntut untuk menjadi sebuah forum pertukaran komentar dan kritik, yang berarti pers diminta untuk menjadi wadah diskusi di kalangan masyarakat, walaupun berbeda pendapat dengan pengelola pers itu sendiri. c. Pers hendaknya menonjolkan sebuah gambaran yang representatif dari kelompok-kelompok dalam masyarakat. Hal ini mengacu pada segelintir kelompok minoritas dalam masyarakat yang juga memiliki hak yang sama dalam masyarakat untuk didengarkan. d. Pers hendaknya bertanggung jawab dalam penyajian dan penguraian tujuan dan nilai-nilai dalm masyarakat. e. Pers hendaknya menyajikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh berita sehari-hari. Ini berkaitan dengan kebebasan informasi yang diminta masyarakat.
  • 11.
    Adapun landasan hukumkebebasan pers Indonesia termaktub dalam: a. Undang-undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kebebasan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. b. Undang-undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. c. Undang-undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. 2.5 Dampak Penyalahgunaan Kebebasan Media Dalam kehidupan masyarakat, media massa dapat memberikan informasi atau berita yang jelas dan akurat. Media massa dalam penyampaian beritanya untuk kehidupan masyarakat memiliki manfaat yang cukup besar. Istilah media mengandung makna untuk semua organisasi, baik swasta maupun pemerintah yang bertugas mencari informasi kepada publik. Mereka menggunakan alat atau media seperti koran, radio, televisi, seni pertunjukan, dan lain sebagainya. Peralatan tersebut digunakan untuk manyampaikan pesan. Jika kebebasan pers yang terikat oleh Kode Etik Jurnalistik di abaikan, akibatnya informasi yang disampaikan akan menyimpang dari fungsi-fungsi pers yang ada.
  • 12.
    BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 1. Istilah pers pada umumnya mengandung arti penerbitan yang berkaitan dengan media massa atau wartawan. Dapat juga merupakan lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik baik cetak maupun elektronik. 2. Dalam pelaksanaan pers di beberapa negara, terdapat kebebasan pers yang ternyata tidak sama antarnegara. Ada beberapa negara yang menganut pers Barat dan pers Komunis. Demikian juga karakteristiknya, ada yang menerapkan teoti pers otoritarian, libertarian, tanggung jawab sosial, dan komunis. 3. Perkembangan pers di Indonesia terus mengalami kemajuan setelah pemerintah Republik Indonesia terbentuk pada tahun 1945. Pasang surut pers di Indonesia dialami baik pada masa revolusi, era demokrasi liberal, zaman Orde Lama atau Pers Terpimpin, era Demokrasi Pancasila dan Orde Baru, serta kebebasan pers Era Reformasi. 4. Setiap negara memiliki karakteristik pers yang berbeda antara satu negara dengan negara lain, hal ini sangat tergantung kepada ideologi atau falsafah yang dianutnya. Ada 6 sifat pers yang kita kenal, yaitu pers demokrasi liberal, pers komunis, pers otoriter, pers bebas dan bertanggungjawab, pers pembangunan, dan pers pancasila. 5. Pers sebagai lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang pengumpulan dan penyebaran informasi memiliki visi yakni: ikut mencerdaskan masyarakat, menegakan keadilan, dan memberantas kebatilan. 6. Kusman Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Dasar-dasar Jurnalistik/Pers”, menyebutkan 4 fungsi pers, yaitu sebagai fungsi pendidik, fungsi penghubung, fungsi pembentuk pendapat umum, dan fungsi kontrol. 7. Undang-undang pers yang pernah ada di Indonesia, antara lain: Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966, Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967, Undang-undang Nomor 21 Tahun 1982, dan terbaru Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999. 8. Pers melalui organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) telah memiliki Kode Etik Jurnalistik yang merupakan aturan mengenai perilaku dan pertimbangan moral yang harus dianut dan ditaati oleh media pers dalam siarannya.
  • 13.
    DAFTAR PUSTAKA 1. Budiyanto.2007 “Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA kelas XII”. Jakarta: Penerbit Erlangga.