PENDEKATAN ACTION RESEARCH
PENGERTIAN ACTION RESEARCH
Action research atau penelitian tindakan merupakan salah satu bentuk...
masalahnua segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung diterapkan/dipraktikkan dalam
situasi terkait. Selain itu, tampa...
mengidentifikasi kebutuhan stakeholder akan situs web, ditempuh dengan cara mengadakan
wawancara mendalam kepada stakehold...
research akan terangkat (bahkan sebuah proyek yang gagal dapat tetap menghasilkan
pengetahuan yang bernilai), dan juga mer...
yang pada gilirannya menghasilkan perubahan perilaku para penelitinya dan atau perilaku
orang lain. Jadi, penelitian tinda...
menemukan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Dengan
demikian dia akan dapat menerima dirinya sendiri ...
2. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian tindakan
pada fihak penelit. Oleh karena penelitia...
pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus menjadi sasaran penelitian sejarah, karena penulisan
sejarah dituntut untuk mengha...
diteliti. Oleh karena itu calon peneliti harus memiliki wawasan luas mengenai sumber,
khususnya sumber tertulis.
Studi Pen...
atau palsu? Dengan kata lain, kritik ekstern menilai keakuratan sumber. Kritik intern menilai
kredibilitas data dalam sumb...
proses penulisan sejarah, aplikasi metode dan teori sejarah perlu ditunjang oleh teori dan/atau
konsep ilmu-ilmu sosial ya...
 sebagai tambahan,penelitian historis menggunakan bermacam bukti yang berbeda
dibandingkan metode penelitian lainnya ( de...
serta mempertimbangkan proses serta teknik yang telah digunakan untuk melakukan suatu
penelitian.
Berdasarkan beberapa ura...
evaluasi bertujuan untuk mengevaluasi komponen-komponen program dan program secara
menyeluruh.
C. Prosedur Penelitian Eval...
7. Menganalisis data yang terkumpul dengan mengeterapkan tolok ukur yang telah
dirumuskan oleh peneliti sesuai dengan tuju...
Input evaluation, structuring decision. Evaluasi ini menolong mengatur keputusan,
menentukan sumber-sumber yang ada, alter...
2. Model Evaluasi UCLA
Tayibnapis (1989: 11) Alkin (1969) menulis tentang kerangka kerja evaluasi yang hampir
sama dengan ...
Model ini dikembangkan oleh Stake (1967), analisis proses evaluasi yang dikemukakannya
membawa dampak yang cukup besar dal...
Rika Dwi Kurniasih. 2009. Teknik Evaluasi Perencanaan, (Online), (http://
images.rikania09.multiply.multiplycontent.com/at...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Jenis penelitian pendekatan (3)

3,010 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
3,010
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
63
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Jenis penelitian pendekatan (3)

  1. 1. PENDEKATAN ACTION RESEARCH PENGERTIAN ACTION RESEARCH Action research atau penelitian tindakan merupakan salah satu bentuk rancangan penelitian, dalam penelitian tindakan peneliti mendeskripsikan, menginterpretasi dan menjelaskan suatu situasi sosial pada waktu yang bersamaan dengan melakukan perubahan atau intervensi dengan tujuan perbaikan atau partisipasi. Action research dalam pandangan tradisional adalah suatu kerangka penelitian pemecahan masalah, dimana terjadi kolaborasi antara peneliti dengan client dalam mencapai tujuan (Kurt Lewin,1973 disitasi Sulaksana,2004), sedangkan pendapat Davison, Martinsons & Kock (2004), menyebutkan penelitian tindakan, sebagai sebuah metode penelitian, didirikan atas asumsi bahwa teori dan praktik dapat secara tertutup diintegrasikan dengan pembelajaran dari hasil intervensi yang direncanakan setelah diagnosis yang rinci terhadap konteks masalahnya. Menurut Gunawan (2007), action research adalah kegiatan dan atau tindakan perbaikan sesuatu yang perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya digarap secara sistematik dan sistematik sehingga validitas dan reliabilitasnya mencapai tingkatan riset. Action research juga merupakan proses yang mencakup siklus aksi, yang mendasarkan pada refleksi; umpan balik (feedback); bukti (evidence); dan evaluasi atas aksi sebelumnya dan situasi sekarang. Penelitian tindakan ditujukan untuk memberikan andil pada pemecahan masalah praktis dalam situasi problematik yang mendesak dan pada pencapaian tujuan ilmu sosial melalui kolaborasi patungan dalam rangka kerja etis yang saling berterima (Rapoport, 1970 disitasi Madya,2006). Proses penelitian bersifat dari waktu ke waktu, antara “finding” pada saat penelitian, dan “action learning”. Dengan demikian action research menghubungkan antara teori dengan praktek. Baskerville (1999), membagi action research berdasarkan karakteristik model (iteratif, reflektif atau linear), struktur (kaku atau dinamis), tujuan (untuk pengembangan organisasi, desain sistem atau ilmu pengetahuan ilmiah) dan bentuk keterlibatan peneliti (kolaborasi, fasilitatif atau ahli. TUJUAN DAN CIRI-CIRI PENELITAN TINDAKAN. Penelitian tindakan bertujuan untuk memperoleh pengetahuan untuk situasi atau sasaran khusus dari pada pengetahuan yang secara ilmiah tergeneralisasi. Pada umumnya penelitian tindakan untuk mencapai tiga hal berikut : (Madya,2006) Peningkatan praktik. Peningkatan (pengembangan profesional) pemahaman praktik dan praktisinya. Peningkatan situasi tempat pelaksanaan praktik. Hubungan antara peneliti dan hasil penelitian tindakan dapat dikatan hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya dan tentu saja oleh orang lain yang menginginkannya dan penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang pemecahan
  2. 2. masalahnua segera diperlukan, dan hasil-hasilnya langsung diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Selain itu, tampak bahwa dalam penelitian tindakan peneliti melakukan pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan. Penelitian tindakan (action research) dilaksanakan bersama-sama paling sedikit dua orang yaitu antara peneliti dan partisipan atau klien yang berasal dari akademisi ataupun masyarakat. Oleh karena itu, tujuan yang akan dicapai dari suatu penelitian tindakan (action research) akan dicapai dan berakhir tidak hanya pada situasi organisatoris tertentu, melainkan terus dikembangkan berupa aplikasi atau teori kemudian hasilnya akan di publikasikan ke masyarakat dengan tujuan riset (Madya,2006). Sementara itu, peneliti perlu untuk membuat kerjasama dengan anggota organisasi dalam kegiatan ini, membuat persetujuan eksplisit dengan klien. Pelaporan secara rutin mengenai jalannya kegiatan dapat mencerminkan ciri khusus dari kesepakatan ini. Baik peneliti maupun klien dapat memiliki peran dan tanggungjawab ganda, meskipun ini dapat berubah selama perjalanan kegiatan berlangsung, tetapi penting untuk menentukan aturan awal pada bagian luar proyek agar dapat mencegah konflik kepentingan dan menghindari ancaman terhadap hak prerogatif pribadi atau jabatan mereka. Adalah sangat penting membuat kesepakatan terlebih dahulu mengenai sasaran dari penelitian, kemudian dapat dilakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Berikut tahapan penelitian tindakan (action research) yang dapat ditempuh yaitu : (Davison, Martinsons & Kock (2004) lihat Gambar berikut : Siklus action research, (Davison, Martinsons & Kock (2004) TAHAPAN SIKLUS ACTION RESEARCH Davison, Martinsons & Kock (2004), membagi Action research dalam 5 tahapan yang merupakan siklus, yaitu : 1. Melakukan diagnosa (diagnosing) Melakukan identifikasi masalah-masalah pokok yang ada guna menjadi dasar kelompok atau organisasi sehingga terjadi perubahan, untuk pengembangan situs web pada tahap ini peneliti
  3. 3. mengidentifikasi kebutuhan stakeholder akan situs web, ditempuh dengan cara mengadakan wawancara mendalam kepada stakeholder yang terkait langsung maupun yang tidak terkait langsung dengan pengembanga situs web. 2. Membuat rencana tindakan (action planning) Peneliti dan partisipan bersama-sama memahami pokok masalah yang ada kemudian dilanjutkan dengan menyusun rencana tindakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada, pada tahap ini pengembangan situs web memasuki tahapan desain situs web. Dengan memperhatikan kebutuhanstakeholder terhadap situs web penelitian bersama partisipan memulai membuat sketsa awal dan menentukan isi yang akan ditampilkan nantinya. 3. Melakukan tindakan (action taking) Peneliti dan partisipan bersama-sama mengimplementasikan rencana tindakan dengan harapan dapat menyelesaikan masalah. Selanjutnya setelah model dibuat berdasarkan sketsa dan menyesuaikan isi yang akan ditampilkan berdasarkan kebutuhan stakeholder dilanjutkan dengan mengadakan ujicoba awal secara offline kemudian melanjutkan dengan sewa ruang di internet dengan tujuan situs web dapat ditampilkan secara online. 4. Melakukan evaluasi (evaluating) Setelah masa implementasi (action taking) dianggap cukup kemudian peneliti bersama partisipan melaksanakan evaluasi hasil dari implementasi tadi, dalam tahap ini dilihat bagaimana penerimaan pegguna terhadap situs web yang ditandai dengan berbagai aktivitas- aktivitas. 5. Pembelajaran (learning) Tahap ini merupakan bagian akhir siklus yang telah dilalui dengan melaksanakan review tahap-pertahap yang telah berakhir kemudian penelitian ini dapat berakhir. Seluruh kriteria dalam prinsip pembelajaran harus dipelajari, perubahan dalam situasi organisasi dievaluasi oleh peneliti dan dikomunikasikan kepada klien, peneliti dan klien merefleksikan terhadap hasil proyek, yang nampak akan dilaporkan secara lengkap dan hasilnya secara eksplisit dipertimbangkan dalam hal implikasinya terhadap penerapanCanonical Action Reaserch (CAR). Untuk hal tertentu, hasilnya dipertimbangkan dalam hal implikasinya untuk tindakan berikutnya dalam situasi organisasi lebih-lebih kesulitan yang dapat dikaitkan dengan pengimplementasian perubahan proses. Hasilnya juga dipertimbangkan untuk tindakan ke depan yang dapat dilakukan dalam kaitannya dengan domain penelitian, terutama akibat kegiatan yang terjadi diluar rencana awal (atau kelambanan) dan cara di mana peneliti dapat kurang hati-hati melakukan penyelesaian kegiatan dan dalam hal implikasi untuk komunitas penelitian secara umum dengan mengidentifikasi keuntungan penelitian di masa datang. Di sini, nilai action
  4. 4. research akan terangkat (bahkan sebuah proyek yang gagal dapat tetap menghasilkan pengetahuan yang bernilai), dan juga merupakan kekuatan status quo dalam lingkungan (organisasi) sosial untuk mencegah perubahan dari proses yang telah berlalu. Dari penjelasan di atas kita dapat melihat dengan jelas bahwa penelitian tindakan berurusan langsung dengan praktik di lapangan dalam situasi alami. Penelitiannya adalah pelaku praktik itu sendiri dan pengguna langsung hasil penelitiannya dengan lingkup ajang penelitian sangat terbatas. Yang menonjol adalah penelitian tindakan ditujukan untuk melakukan perubahan pada semua diri pesertanya dan perubahan situasi tempat penelitian dilakukan guna mencapai perbaikan praktik secara inkremental dan berkelanjutan (Madya,2006). Beberapa kawan-kawan di Simkes angkatan I dan II melaksanakan penelitian dimaksud. Bila anda berminat dengan penelitian tindakan saran saya : Siapkan Rencana Yang Matang, bila perlu siapkan rencana cadangan. Usahan Schedule ditepati. Memperbanyak dokumentasi selama pelaksanaan penelitian. Siapkan alat perekam yang baik. CAR menurut saya sebaiknya dipergunakan karena mempertegas akhir penelitian. Pustaka : Baskerville,L.R. (1999) Journal : Investigating Information System with Action Research, Association for Information Systems: Atlanta Sulaksana,U., (2004), Managemen Perubahan, Cetakan I, Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta. Davison, R. M., Martinsons, M. G., Kock N., (2004), Journal : Information Systems Journal : Principles of Canonical Action Research 14, 65–86 Madya, S, (2006) Teori dan Praktik Penelitian Tindakan (Action Research), Alfabeta: Bandung. Gunawan, (2004), Makalah untuk Pertemuan Dosen UKDW yang akan melaksanakan penelitian pada tahun 2005, URL : http://uny.ac.id, accersed at 19 Mei 2007, 15.25 WIB. C. Tujuan Penelitian Tindakan Semua kegiatan penelitian tindakan memiliki dua tujuan utama, yaitu: meningkatkan dan melibatkan. Tujuan pertama meningkatkan praktik, professional, yakni peningkatan pemahaman dan praktik oleh praktisinya, serta peningkatan situasi tempat pelaksanaan praktik. Dengan kata lain, tujuan utama penelitian ini adalah untuk merubah perilaku penelitianya, perilaku orang lain, dan atau merubah cara kerja, kerangka kerja, organisasi, atau struktur lain
  5. 5. yang pada gilirannya menghasilkan perubahan perilaku para penelitinya dan atau perilaku orang lain. Jadi, penelitian tindakan lazimnya dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung pada ruang kelas atau ajang dunia kerja. Jadi, penelitian tindakan dimaksudkan untuk meningkatkan praktik tertentu dalam situasi kerja tertentu. Tujuan untuk melibatkan dan bahu-membahu dengan orang lain agar hubungan sosial orang- orang yang terkait meningkat. Penelitian tindakan pada hakekatnya merupakan bentuk penelitian social. Mereka yang terlibat dalam praktik yang diteliti harus dilibatkan dalam proses penelitian tindakan dalam tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan pelaksanaan tindakan, dan pelaksanaan refleksi. Seraya proyek penelitian tindakan berkembang, dihrapkan semua orang yang terkena dampak oleh praktik itu menjadi terlibat dalam prosesnya. Oleh sebab itu, peneliti tindakan mau tidak mau berurusan dengan politik, proses inovasi, dan perubahan. Fungsi penelitian tindakan sebagi alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan kerja. Di sekolah dan ruangan kelas, misalnya, penelitian tindakan dapat memiliki lima kategori fungsi sebagai: 1. alat untuk memecahkan masalah yang didiagnosis dalam situasi tertentu 2. alat pelatihan dalam jabatan, dengan demikian membekali guru dengan keterampilan dan metode baru, mempertajam kemampuan analisis, dan mempertinggi kesadaran dirinya. 3. alat untuk mengenalkan pendekatan tambahan atau inovatori pada pengajaran dan pembelajaran ke dalam sistem yang ada yang biasanya menghambat inovasi dan perubahan 4. alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya kurang lancar antara guru lapangan dengan peneliti akademis, dan memperbaiki kegagalan penelitian traditional dalam memberikan preskripsi yang jelas 5. alat untuk menyediakan alternatif yang lebih baik daripada pendekatan yang lebih subyektif dan impresionistik pada pemecahan masalah di dalam kelas meskipun kurang memenuhi keketatan ilmiah. D. Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Tindakan (PT) Dengan memperhatikan karakteristik metode PTK seperti yang telah dijelaskan di atas maka dapat dikatakan bahwa PTK memiliki kelebihan dan kekurangan. Shumsky (Suwarsih Madya, 1994) menjelaskan kelebihan–kelebihan penelitian tindakan, antara lain: 1. Kerjasama dalam penelitian tindkan menimbulkan rasa memiliki. Kerjasana dalam penelitian tindakan memberikan ajang untuk menciptakan kelompok dasar yang baru dan meendorong lahirnya rasa keterikatan. Manusia akan menderita bila kelaparan dan kepedihan fisik, tetapi dia akan menemukan bahwa kepedihan yang paling hebat adalah kesendirian dan keterpencilan. Manusia dalah mkhluk kelompok dan kehidupannya adalah kehidupan kelompok. 2. Kerjasama dalm penelitian tindkn mendorong kreativitas dan pemikiran kritis . Melalui interaksi dengan orang lain dalam melakukan pekerjaan, seseorang akan
  6. 6. menemukan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Dengan demikian dia akan dapat menerima dirinya sendiri daan orang lain secara wajar. Melalui kelompok akan dapat dilihat lebih banyak cara memandang masalah, lebih banyak saran untuk penyelesaian, lebih banyak analisis dan kritikan terhadap rencana yang diajukan. 3. Kerjasama meningkatkan kemungkinan untuk berubah. Mencoba sesuatu yang baru selalu mengandung resiko. Ketika seluruh kelompok menanggung resiko, resiko perseorangan akan banyak berkurang. Penelitian tentang dinamika kelompok menunjukkan bhwa seseorang sebagai anggota kelompok lebih mudah berubah dibandingkan dengan orang yang bukan anggota kelompok. Orang yang ingin tumbuh dan berubah harus terlibat dalam setiap aspek penelitiannya, dari identifikasi masalah sampai pada tahap laporan. Kepercayaan dasar dari gerakan penelitian tindakan adalah cara yang menjanjikan untuk memulai dan menjamin perubahan dengan melibatkan konsumen potensial dari hasil penelitian dalam perencanaan, anlisis, dan penafsiran data penelitian. 4. Kerjasama dalam penelitian mampu meningkatkan kesepakatan. Seperti dianalisis oleh Passow, Miles, Corey, dan Draper (1985), perilaku yang diinginkan dari peneliti tindakan dalam situasi kelompok adalah peneliti tindakan merupakan orang yang tidak merasa bahwa dia memiliki semua fakta dan mengetahui semua jawaban. Dia mencoba mengumpulkan semua fakta dan secara cermat menilai dan menguraikan masalahnya. Dia mesti peka terhadap perasaan kelompok dan kesiapan kelompok untuk mengambil berbagai tindakan. Dia mencoba membantu kelompok menjajagi konteks yang lebih luas dari situasinya dan kemungkinan berbagai penyelesaian. Jadi melalui kerja sama dalam penelitian tindakan orang terlatih mencapai kesepakatan dalam menyelesaikan masalah. Selain memiliki beberapa kelebihan, penelitian tindakan juga memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan-kekurangan itu adalah: 1. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian tindakan pada fihak peneliti. Peneliti tindakan lazimnya dilakukan oleh para praktisi, seperti guru, pelatih, pengelola, dan pengawas yang selalu peduli akan ketimpangan atau kekurangan yang ada dalam situasi kerjanya dan berkehendak untuk memperbaikinya. Oleh karena para praktisi ini biasanya berurusan dengan hal-hal yang praktis, mereka kurang dilengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan tentang teknik dasar penelitian. Hal ini diperparah oleh perasaan bahwa kegiatan penelitian hanya layak dilakukan oleh masyarakat kampus yang bergelut dengan kegiatan ilmiah, sehingga para praktisi pada umumnya kurang tertarik untuk melakukan penelitian. Hal-hal itu tidak menguntungkan posisi para praktisi dalam melakukan penelitian tindakan. Akibatnya, tanpa pertolongan konsultan yang ahli dalam penelitian, penelitian tindakan yang dilakukan oleh orang lapangan cenderung kurang dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya.
  7. 7. 2. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian tindakan pada fihak penelit. Oleh karena penelitian tindakan memerlukan komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya, maka waktu menjadi faktor penghambat. Praktisi yang ingin melakukan penelitian tindakan harus membagi waktunyauntuk melakukan tugas rutinnya dan untuk melakukan penelitian tindakan. Hal itu dapat berakibat pada merosotnya efisiensi dan efektivitas kerja. Mungkin hal itu pulalah yang membuat para atasan enggan mengijinkan bawahannya sebagai praktisi untuk melakukan penelitian tindakan meskipun bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan tugasnya. 3. Perbedaan konsepsi dalam kelompok. Proses kelompok dapat berjalan lancar jika pemimpin kelompok itu demokratis, yaitu seseorang yang memungkinkan para anggotanya ikut mengendalikan jalannya diskusi. Untuk dapat berfungsi sebagai pemimpin yang demokratis, sesorang dituntut untuk peka terhadap kebutuhan dan keinginan anggota kelompoknya dalam situasi tertentu. Bila kelompok kurang kompak maka akan mengganggu tercapainya tujuan penelitian tindakan. 4. Kekurangan lainnya adalah mengajak orang lain untuk berubah. Pada umumnya orang akan menentang perubahan karena perubahan berarti kerja keras, dan perubahan melalui penelitian tindakan benar-benar menuntut penyediaan tenaga, pikiran, waktu, dan sikap yang baru. Dengan kondisi seperti ini, ada kemungkinan orang menjadi sulit untuk berubah. PENDEKATAN SEJARAH Metode penelitian sejarah adalah metode atau cara yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian peristiwa sejarah dan permasalahannya. Dengan kata lain, metode penelitian sejarah adalah instrumen untuk merekonstruksi peristiwa sejarah (history as past actuality) menjadi sejarah sebagai kisah (history as written). Dalam ruang lingkup Ilmu Sejarah, metode penelitian itu disebut metode sejarah. Metode sejarah digunakan sebagai metode penelitian, pada prinsipnya bertujuan untuk menjawab enam pertanyaan (5 W dan 1 H) yang merupakan elemen dasar penulisan sejarah, yaitu what (apa), when (kapan), where (dimana), who(siapa), why (mengapa), dan how (bagaimana). Pertanyaanpertanyaan itu konkretnya adalah: Apa (peristiwa apa) yang terjadi? Kapan terjadinya? Di mana terjadinya? Siapa yang terlibat dalam peristiwa itu? Mengapa peristiwa itu terjadi? Bagaimana proses terjadinya peristiwa itu? Dalam proses penulisan sejarah sebagai kisah, pertanyaan-pertanyaan dasar itu dikembangkan sesuai dengan permasalahan yang perlu diungkap dan dibahas. Jawaban atas
  8. 8. pertanyaan-pertanyaan itulah yang harus menjadi sasaran penelitian sejarah, karena penulisan sejarah dituntut untuk menghasilkan eksplanasi (kejelasan) mengenai signifikansi (arti penting) dan makna peristiwa.Pendekatan sejarah menjelaskan dari segi mana kajian sejarah hendak dilakukan, dimensi mana yang diperhatikan, unsur-unsur mana yang diungkapkannya, dan lain sebagainya. Deskripsi dan rekonstruksi yang diperoleh akan banyak ditentukan oleh jenis pendekatan yang dipergunakan. Oleh sebab itu ilmu sejarah tidak segan-segan melintasi serta menggunakan berbagai bidang disiplin atau ilmu untuk menunjang studi dan penelitiannya, yang di dalam ilmu sejarah sudah sejak awal telah dikenalnya dan disebut sebagai Ilmu-ilmu Bantu Sejarah (sciences auxiliary to history). Penelitian sejarah berkaitan dengan penyelidikan, pemahaman, dan penjelasan kejadian-kejadian masa lampau. Tujuan dari penelitian sejarah adalah untuk mencapai kesimpulan sehubungan dengan sebab, akibat, atau kecendrungan dari kejadian masa lampau yang dapat membantu menjelaskan kejadian masa kini dan membantu mengatisipasi kejadian yang akan datang. Penelitian sejarah biasanya tidak mengumpulkan data dengan pengelolaan instrumen (missal menguji dengan suatu tes) terhadap individual, tetapi mencari data yang sudah ada. Pada penelitian sejarah dikenal adanya sumber data primer dan skunder. Sumber data primer merupakan pengetahuan dari tangan pertama (misalnya laporan saksi mata, dan dokumentasi asli); sumber data skunder merupakan informasi dari tangan kedua. Evaluasi terhadap data penelitian sejarah terdiri dari kritik dalam dan kritik luar. Dalam hubungan ini, kritik luar menaksir/menilai keotentikan dari data; kritik dalam menilai kemanfaatan data tersebut. PROSES PENELITIAN SEJARAH Pemilihan Topik Penelitian Suatu penelitian ilmiah tentu berawal dari pemilihan topik yang akan diteliti. Dalam bidang sejarah, topik penelitian harus memenuhi beberapa persyaratan. a) Topik itu harus menarik (interesting topic), dalam arti menarik sebagai obyek penelitian. Dalam hal ini termasuk adanya keunikan (uniqueness topic). b) Substansi masalah dalam topik harus memiliki arti penting (significant topic), baik bagi ilmu pengetahuan maupun bagi kegunaan tertentu. c) Masalah yang tercakup dalam topik memungkinkan untuk diteliti (manageable topic). Persyaratan ini berkaitan dengan sumber, yaitu sumber-sumbernya dapat diperoleh. Meskipun topik sangat menarik dan memiliki arti penting, namun bila sumber- sumbernya, khususnya sumber utama tidak diperoleh, masalah dalam topik tidak akan dapat
  9. 9. diteliti. Oleh karena itu calon peneliti harus memiliki wawasan luas mengenai sumber, khususnya sumber tertulis. Studi Pendahuluan Setelah topik penelitian ditentukan, segera lakukan studi pendahuluan. Cari sumber- sumber acuan utama, yaitu sumber-sumber yang diduga memuat data atau informasi yang relevan dengan topik penelitian. Dengan menelaah sumber-sumber acuan utama secara efektif, peneliti akan dapat memahami ruang lingkung penelitian, baik ruang lingkup masalah maupun ruang lingkup temporal (waktu) dan spasial (tempat/wilayah) obyek penelitian. Ruang lingkup penelitian itu kemudian dituangkan dalam rencana kerangka tulisan (laporan penelitian). Sementara itu, telaah pula bibliografi/daftar pustaka pada setiap sumber acuan utama yang berupa buku ilmiah. Hal itu dimaksudkan untuk mendapat tambahan informasi sumbersumber yang diduga memuat data tentang masalah yang akan diteliti. Catat identitas sumber-sumber itu menjadi bibliografi kerja. Implementasi Penelitian Penelitian sejarah yang pada dasarnya adalah penelitian terhadap sumber-sumber sejarah, merupakan implementasi dari tahapan kegiatan yang tercakup dalam metode sejarah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Tahapan kegiatan yang disebut terakhir sebenarnya bukan kegiatan penelitian, melainkan kegiatan penulisan sejarah (penulisan hasil penelitian). Heuristik Heuristik adalah kegiatan mencari dan menemukan sumber yang diperlukan. Berhasil- tidaknya pencarian sumber, pada dasarnya tergantung dari wawasan peneliti mengenai sumber yang diperlukan dan keterampilan teknis penelusuran sumber. Berdasarkan bentuk penyajiannya, sumber-sumber sejarah terdiri atas arsip, dokumen, buku, majalah/jurnal, surat kabar, dan lain-lain. Berdasarkan sifatnya, sumber sejarah terdiri atas sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber yang waktu pembuatannya tidak jauh dari waktu peristiwa terjadi. Sumber sekunder adalah sumber yang waktu pembuatannya jauh dari waktu terjadinya peristiwa. Peneliti harus mengetahui benar, mana sumber primer dan mana sumber sekunder. Dalam pencarian sumber sejarah, sumber primer harus ditemukan, karena penulisan sejarah ilmiah tidak ukup hanya menggunakan sumber sekunder. Agar pencarian sumber berlangsung secara efektif, dua unsur penunjang heuristik harus diperhatikan. a) Pencarian sumber harus berpedoman pada bibliografi kerja dan kerangka tulisan. Dengan memperhatikan permasalahan-permasalahan yang tersirat dalam kerangka tulisan (bab dan subbab), peneliti akan mengetahui sumbersumber yang belum ditemukan. b) Dalam mencari sumber di perpustakaan, peneliti wajib memahami sistem katalog perpustakaan yang bersangkutan. Kritik Sumber Sumber untuk penulisan sejarah ilmiah bukan sembarang sumber, tetapi sumber-sumber itu terlebih dahulu harus dinilai melalui kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern menilai, apakah sumber itu benar-benar sumber yang diperlukan? Apakah sumber itu asli, turunan,
  10. 10. atau palsu? Dengan kata lain, kritik ekstern menilai keakuratan sumber. Kritik intern menilai kredibilitas data dalam sumber. Tujuan utama kritik sumber adalah untuk menyeleksi data, sehingga diperoleh fakta. Setiap data sebaiknya dicatat dalam lembaran lepas (sistem kartu), agar memudahkan pengklasifikasiannya berdasarkan kerangka tulisan. Interpretasi Setelah fakta untuk mengungkap dan membahas masalah yang diteliti cukup memadai, kemudian dilakukan interpretasi, yaitu penafsiran akan makna fakta dan hubungan antara satu fakta dengan fakta lain. Penafsiran atas fakta harus dilandasi oleh sikap obyektif. Kalaupun dalam hal tertentu bersikap subyektif, harus subyektif rasional, jangan subyektif emosional. Rekonstruksi peristiwa sejarah harus menghasilkan sejarah yang benar atau mendekati kebenaran. Historiografi Kegiatan terakhir dari penelitian sejarah (metode sejarah) adalah merangkaikan fakta berikut maknanya secara kronologis/diakronis dan sistematis, menjadi tulisan sejarah sebagai kisah. Kedua sifat uraian itu harus benar-benar tampak, karena kedua hal itu merupakan bagian dari ciri karya sejarah ilmiah, sekaligus ciri sejarah sebagai ilmu. Selain kedua hal tersebut, penulisan sejarah, khususnya sejarah yang bersifat ilmiah, juga harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah umumnya. o Bahasa yang digunakan harus bahasa yang baik dan benar menurut kaidah bahasa yang bersangkutan. Kaya ilmiah dituntut untuk menggunakan kalimat efektif. o Merperhatikan konsistensi, antara lain dalam penempatan tanda baca, penggunaan istilah, dan penujukan sumber. o Istilah dan kata-kata tertentu harus digunakan sesuai dengan konteks permasalahannya. o Format penulisan harus sesuai dengan kaidah atau pedoman yang berlaku, termasuk format penulisan bibliografi/daftar pustaka/daftar sumber. Kaidah-kaidah tersebut harus benar-benar dipahami dan diterapkan, karena kualitas karya ilmiah bukan hanya terletak pada masalah yang dibahas, tetapi ditunjukkan pula oleh format penyajiannya. Kesimpulan Penelitian sejarah harus dilandasi atau berpedoman pada kaidah-kaidah metode sejarah. Jika tidak, penelitian itu hanya akan menghasilkan tulisan sejarah semi ilmiah atau bahkan sejarah populer. Oleh karena itu calon peneliti sejarah harus memahami kaidah-kaidah metode sejarah dan mampu mengimplementasikannya, agar penelitian itu menghasilkan karya sejarah ilmiah. Penulisan sejarah ilmiah dituntut untuk menghasilkan eksplanasi mengenai permasalahan yang dibahas. Eksplanasi itu diperoleh melalui analisis. Untuk mempertajam analisis, dalam
  11. 11. proses penulisan sejarah, aplikasi metode dan teori sejarah perlu ditunjang oleh teori dan/atau konsep ilmu-ilmu sosial yang relevan (sosiologi, antropologi, ekonomi, politik, dll.). Dengan kata lain, penulisan sejarah yang dituntut memberikan eksplanasi mengenai masalah yang dibahas, perlu dilakukan secara interdisipliner dengan menggunakan pendekatan multidimensional (multidimensional approach). Hal itu sesuai dengan ciri-ciri dan karakteristik sejarah sebagai ilmu. Oleh karena itu, penelitian sejarah dan hasilnya dapat membantu penelitian dan pengembangan kebudayaan. Sejarah mengkaji aspek-aspek kehidupan manusia di masa lampau, termasuk kebudayaan. TUJUAN PENELITIAN HISTORIS Membuat orang menyadari apa yang terjadi pada masa lalu sehingga mereka mungkin mempelajari dari kegagalan dan keberhasilan masa lampau Mempelajari bagaiman sesuatu telah dilakukan pada masa lalu, untuk melihat jika mereka dapat mengaplikasikan maslahnya pada masa sekarang Membantu memprediksi sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang Membantu menguji hipotesis yang berkenaan dengan hubungan atau kecendrungan. Misalnya pada awal tahun 1990, mayoritas guru-guru wanita datang dari kelas menengah ke atas, tetapi guru laki-laki tidak Memahami praktik dan politik pendidikan sekarang secara lebih lengkap. CIRI-CIRI PENELITIAN HISTORIS Penelitian histories lebih bergatung pada data yang diobservasi orang lain di masa lampau. Berlainan dengan anggapan yang popular, penelitian haruslah tertib ketat, sistematis, dan tutas Penelitian histories tergantung kapada dua macam data, yaitu primer dan data sekunder Terdapat dua macam kritik,internal dan eksternal. SUMBER DATA Sumber data primer Data yang diperoleh dari cerita para pelaku perisriwa itu sendiri, dan atau saksi mata yang mengalami atau mengetahui peristiwa tersebut. Sumber data sekunder Informasi yang diperoleh dari sumber lain yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan peristiwa tersebut. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN METODE PENELITIAN HISTORIS Keunggulan utama penelitian historis adalah :  penelitian ini mengijinkan penyelidikan tentang topik-topik dan pernyataan- pernyataan yang tidak dapat di kaji oleh penelitian lain.  penelitian histori merupakan satu-satunya penelitian yang dapat mengkaji bukti-bukti dari masa lampau dalam hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan pada saat ini.
  12. 12.  sebagai tambahan,penelitian historis menggunakan bermacam bukti yang berbeda dibandingkan metode penelitian lainnya ( dengan pengecualian penelitian studi kasus dan etnografi ).  Penelitian historis menyediakan suatu alternatife dan mungkin sumber informasi yanglebih kaya tentang topik-topik nyata yang juga dapat di kaji melalui metodologi lainnya Kelemahan penelitian historis adalah :  tidak adanya kontrol yang mengendalikangangguan terhadap validitas internal.  pembahasan di lakukan oleh sampel dokumen dan proses instrumentasi ( analisis dokumen ) barang kali begitu ketat.  Peneliti peneliti tidak dapat menjamin keterwakilan sampel (representativeness of the sample),ataupun apakah mereka dapat memeriksa realibittas dan validitas terhadap penafsiran yang dibuat dari data yang tersedia. Sumber ; Materi penyuluhan dalam "Workshop Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan; Penulisan Karya Ilmiah dan Perekaman Data" tanggal 12-14 Februari 2008 yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, kerjasama dengan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung. PENELITIAN EVALUASI Evaluasi adalah suatu upaya untuk mengukur hasil atau dampak suatu aktivitas, program, atau proyek dengan cara membandingkan dengan tujuan yg telah ditetapkan, dan bagaimana cara pencapaiannya (Mulyono 2009). Sedangkan menurut Rika Dwi K. (2009) Evaluasi adalah sebuah proses dimana keberhasilan yang dicapai dibandingkan dengan seperangkat keberhasilan yang diharapkan. Perbandingan ini kemudian dilanjutkan dengan pengidentifikasian faktor-faktor yang berpengaruh pada kegagalan dan keberhasilan. Viviane dan Gilbert de Lansheere (dalam Inggit Kurniawan, 2009) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses penentuan apakah materi dan metode pembelajaran telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Sedangkan menurut Zulharman (2007) Evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Evaluasi program adalah proses untuk mendeskripsikan dan menilai suatu program dengan menggunakan kriteria tertentu dengan tujuan untuk membantu merumuskan keputusan, kebijakan yang lebih baik. Pertimbangannya adalah untuk memudahkan evaluator dalam mendeskripsikan dan menilai komponen-komponen yang dinilai, apakah sesuai dengan ketentuan atau tidak (Edison, 2009). Menurut Suharsimi Arikunto (2007: 222) penelitian evaluasi dapat diartikan suatu proses yang dilakukan dalam rangka menentukan kebijakan dengan terlebih dahulu mempertimbangkan nilai-nilai positif dan keuntungan suatu program,
  13. 13. serta mempertimbangkan proses serta teknik yang telah digunakan untuk melakukan suatu penelitian. Berdasarkan beberapa uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian evaluasi merupakan suatu prosedur ilmiah yang sistematis yang dilakukan untuk mengukur hasil program atau proyek (efektifitas suatu program) sesuai dengan tujuan yang direncanakan atau tidak, dengan cara mengumpulkan, menganalisis dan mengkaji pelaksaaan program yang dilakukan secara objektif. Kemudian merumuskan dan menentukan kebijakan dengan terlebih dahulu mempertimbangkan nilai-nilai positif dan keuntungan suatu program. B. Fungsi dan Tujuan Penelitian Evaluasi Michael Scriven (dalam Arikunto, 2007: 222-223) mengemukakan bahwa secara garis besar fungsi penelitian evaluasi dapat dibedakan menjadi dua yakni: Evaluasi formatif difungsikan sebagai pengumpulan data pada waktu pendidikan masih berlangsung. Data hasil evaluasi ini dapat digunakan untuk “membentuk” (to form) dan memodifikasi program kegiatan. Jika pada pertengahan kegiatan sudah diketahui hal-hal apa yang negatif dan para pengambil keputusan sudah dapat menentukan sikap tentang kegiatan yang sedang berlangsung maka terjadinya pemborosan yang mungkin akan terjadi, dapat dicegah. Evaluasi sumatif dilangsungkan jika program kegiatan sudah betul-betul selesai dilaksanakan. Evaluasi sumatif dilaksanakan untuk menentukan sejauh mana sesuatu program mempunyai nilai kemanfaatan, terutama jika dibandingkan dengan pelaksanaan program-program yang lain. Penilaian sumatif bermanfaat datanya bagi para pendidik yang akan mengadopsi program yang dievaluasi berkenaan dengan hasil, program atau prosedur. Sedangkan menurut Tayipnapis (1989: 3): Evaluasi dapat mempunyai dua kegunaan, yaitu fungsi formatif dan fungsi sumatif. Fungsi formatif, evaluasi digunakan untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang berjalan (program, orang, produk, dsb). Fungsi sumatif, evaluasi digunakan untuk pertanggungjawaban, keterangan, seleksi atau lanjutan. Jadi evaluasi hendaknya membantu pengembangan, implementasi, kebutuhan suatu program, perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi, motivasi, menambah pengetahuan dan dukungan dari pihak yang terlibat. Pada prinsipnya tujuan evaluasi program harus dirumuskan dengan titik tolak tujuan program yang akan dievaluasi (Dwiyogo, 2006: 50). Ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum biasanya diarahkan pada program secara keseluruhan, sedangkan tujuan khusus diarahkan pada tiap-tiap komponen dari program. Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian evaluasi mempunyai dua fungsi yaitu 1) Fungsi formatif, untuk pengumpulan data pada kegiatan yang sedang berjalan dan digunakan untuk perbaikan, pengembangan, dan modifikasi program. 2) Fungsi sumatif yang dilaksanakan setelah program selesasi dilaksanakan. Digunakan untuk pertanggungjawaban program dan penentuan sejauh mana kemanfaatan program. Penelitian
  14. 14. evaluasi bertujuan untuk mengevaluasi komponen-komponen program dan program secara menyeluruh. C. Prosedur Penelitian Evaluasi Penelitian evaluasi adalah salah satu bentuk dari berjenis-jenis penelitian yang dapat dilaksanakan oleh peneliti. Seperti hal penelitian-penelitian lainnya, penelitian evaluasi juga memiliki prosedur untuk melekukannya. Akan tetapi menurut Suharsimi Arikunto ( 2007: 298) satu hal yang paling mencolok dalam perbedaan penelitian evaluasi dengan penelitian- penelitian lainnya yaitu untuk mengambil keputusan maka pengambilan kesimpulan penelitian didasarkan atas tolok ukur dan kriteria tertentu. Biasanya yang dijadikan sebagai tolok ukur adalah sasran yang hendak dicapai melalui program yang dilaksanakan. Tolok ukur untuk komponen-komponen program adalah kualitas maksimal yang dikehendaki bagi setiap komponen. Sedangkan prosedur penelitian evaluasi menurut Suharsimi Arikunto (2007: 299-230) adalah sebagai berikut: 1. Peneliti mengadakan pengkajian terhadap buku-buku, lapangan dan menggali informasi dari para pakar untuk memperoleh gambaran tentang masalah yang akan diteliti. 2. Peneliti merumuskan problematika penelitian dalm bentuk pertanyaan penelitian setelah terlebih dahulu mengkaji lagi sumber-sumber yang relevan untuk memperoleh ketajamn problematika. 3. Peneliti menyusun proposal penelitian dengan mencantumkan latar belakang masalah, alasan mengadakan penelitian, problematika, tujuan, hipotesis ( disertai dengan dukungan teori dan penemuan-penemuan penelitian), metodologi penelitian yang memuat subjek penelitian (populasi dan sampel dengan rincian besarnya sampel, teknik sampling dan siapa sampel penelitiannya), instrumen pengumpulan data dan teknik analisis data. 4. Peneliti mengatur perencanaan penelitian, menyusun instrumen, menyiapkan kancah penelitian dan melaksanakn uji coba instrumen. 5. Pelaksanan penelitian dalam bentuk yang disesuaikan dengan model penelitian yang telah dipilih. Dalam penelitian evaluasi peneliti mungkin mengambil model eksperimen murni (jika persyaratan-persyaratan terpenuhi) atau model eksperimen pura-pura. Dalam hal ini penelitian berfikir bahwa dalam mengevaluasi program dipikirkan mesti ada sesuatu yang dilaksanakan. Peneliti mengukur tingkat keberhasilan perlakuan yang dilaksanakan dalam progran yang dievaluasi. Dalam hal ini peneliti telah mengkaji rencana pengelola program melalui sasaran yang dikehendaki sesudah perlakuan diberikan. Dengan kata lain pelaksana penelitian evaluasi sudah menyiapkan tolok ukur. 6. Peneliti mengumpulkan data dengan instrumen yang telah disusun berdasrkan rincian komponen-komponen yang akan dievaluasi.
  15. 15. 7. Menganalisis data yang terkumpul dengan mengeterapkan tolok ukur yang telah dirumuskan oleh peneliti sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh pengelola program. 8. Menyimpulkan hasil penelitian berdasarkan atas gambaran sejauh mana data sesuai dengan tolok ukur. 9. Informasi mengenai hasil penelitian evaluasi disampaikan kepada pengelola program atau pihak yang minta bantuan kepada peneliti evaluasi. Evaluasi tersebut digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi tindak lanjut program yang dievaluasi. Wujud tindak lanjut ada tiga alternatif yatu: Program disebarluaskan karena dipandang baik Program direvisi karena ada hal-hal yang belum sesuai dengan tolol ukur yang dikehendaki Program dihentikan karena ada bukti bahwa kurang atau tidak baik. D. Model-model Evaluasi Terdapat beberapa beberapa model evaluasi sebagai strategi atau pedoman kerja pelaksanaan evaluasi program, yaitu: 1. Model Evaluasi CIPP Model evaluasi CIPP adalah model evaluasi yang tujuannya untuk mengambil keputusan dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengembangkan suatu program (Fuddin, 2007). Mbulu (1995: 62) model CIPP merupakan singkatan (akronim) dari contect evaluation, input evaluation, process evaluation, dan product evaluation yang dikembangkan oleh Daniel Stufflebeam dan kawan-kawannya pada tahun 1968 di Ohio State University dan berorientasi pada pengambilan keputusan. Context evaluation to serve planning decision. Konteks evaluasi ini membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program dan merumuskan tujuan program (Tayibnapis, 1989: 10-11). Evaluasi konteks meliputi penggambaran latar belakang program yang dievaluasi, memberikan perkiraan kebutuhan dan tujuan program, menentukan sasaran program dan menentukan sejauh mana tawaran ini cukup responsif terhadap kebutuhan yang sudah diidentifikasi (Edison, 2009). Mbulu (1994/1995: 62-63) evaluasi konteks meliputi: a) analisis masalah/kebutuhan yang berhubungan dengan lingkungan. Suatu kebutuhan dirumuskan sebagai suatu kesenjangan antara kondisi yang ada sekarang dengan kondisi yang diharapkan. Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut telah diidentifikasikan, maka langkah selanjutnya adalah: b) menggambarkan secara jelas dan terperinci tujuan program yang akan memperkecil kesenjangan antara kondisi yang ada sekarang dengan kondisi yang diharapkan. Dengan singkat dapat dikemukakan bahwa evaluasi konteks adalah evaluasi terhadap kebutuhan-kebutuhan, tujuan pemenuhan kebutuhan serta karakteristik individu yang melaksanakan evaluasi.
  16. 16. Input evaluation, structuring decision. Evaluasi ini menolong mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan. Bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya (Tayibnapis, 1989: 11). Evaluasi ini digunakan dalam pelaksanaan program, diadakan penjadwalan dan prosedur pelaksanaannya (Mbulu, 1994/1995: 63). Edison (2009) evaluasi masukan dilaksanakan dengan tujuan dapat menilai relevansi rancangan program, strategi yang dipilih, prosedur, sumber baik yang berupa manusia (guru, siswa) atau mata pelajaran serta sarana prasarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Singkatnya masukan (input) merupakan model yang digunakan untuk menentukan bagaimana cara agar penggunaan sumberdaya yang ada bisa mencapai tujuan serta secara esensial memberikan informasi tentang apakah perlu mencari bantuan dari pihak lain atau tidak. Aspek input juga membantu menentukan prosedur dan desain untuk mengimplementasikan program. Process evaluation, to serve implementing decision. Evaluasi proses untuk membantu mengimplementasi keputusan. Sampai sejauh mana rencana telah diterapkan? Apa yang yang harus direvisi? Begitu pertanyaan tersebut terjawab, prosedur dapat dimonitor, dikontrol, dan diperbaiki (Tayibnapis, 1989; 11). Mbulu (1994/1995: 63) evaluasi proses dipergunakan untuk membantu memberikan dan menyediakan informasi balikan dalam rangka mengimplementasi keputusan, sampai sejauh mana rencana-rencana atau tindakan-tindakan yang hendak dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan program sudah sesuai dengan prosedur dan penjadwalan yang ditetapkan. Evaluasi Proses dilaksanakan dengan harapan dapat memperoleh informasi mengenai bagaimana program telah diimplementasikan sehari- hari didalam maupun diluar kelas, pengalaman belajar apa saja yang telah diperoleh siswa, serta bagaimana kesiapan guru dan siswa dalam implementasi program tersebut dan untuk memperbaiki kualitas program dari program yang berjalan serta memberikan informasi sebagai alat untuk menilai apakah sebuah proyek relatif sukses/gagal (Edison, 2009). Product evaluation, to serve recycling decision. Evaluasi produk untuk menolong keputusan selanjutnya. Apa hasil yang telah dicapai? Apa yang dilakukan setelah program berjalan? (Tayibnapis, 1989: 11). Edison (2009) evaluasi produk mengakomodasi informasi untuk meyakinkan dalam kondisi apa tujuan dapat dicapai dan juga untuk menentukan jika strategi yang berkaitan dengan prosedur dan metode yang diterapkan guna mencapai tujuan sebaiknya berhenti, modifikasi atau dilanjutkan dalam bentuk yang seperti sekarang. Evaluasi produk meliputi penentuan dan penilaian dampak umum dan khusus suatu program, mengukur dampak yang terantisipasi, mengidentifikasi dampak yang tak terantisipasi, memperkirakan kebaikan program serta mengukur efektifitas program. Mbulu (1994/1995: 64) jenis evaluasi produk digunakan untuk: a. menolong keputusan selanjutnya, seberapa besar hasil yang telah dicapai da apa yang akan dilakukan setelah program dilaksanakan. b. mengukur keberhasilan pencapaian tujuan program yang telah ditetapkan. Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Model evaluasi untuk mengambil keputusan dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengembangkan suatu program dengan menggunakan evaluasi konteks, evaluasi masukan, evaluasi proses, dan evaluasi produk.
  17. 17. 2. Model Evaluasi UCLA Tayibnapis (1989: 11) Alkin (1969) menulis tentang kerangka kerja evaluasi yang hampir sama dengan model CIPP. Alkin mendefinisikan evaluasi sebagai suatu proses meyakinkan keputusan, memilih informasi yang tepat, mengumpulkan dan menganalisis informasi sehingga dapat melaporkan ringkasan data yang berguna bagi pembuat keputusan dan memilih beberapa alternatif. Alkin mengemukakan lima macam evaluasi yaitu: . System assessment, yang memberikan informasi tentang keadaan atau posisi sistem (Tayibnapis. 1989: 11). Mbulu (1994/1995: 83) system assessment,berfungsi memberikan informasi mengenai keadaan atau profil program. Program plannin, membantu pemilihan program tertentu yang mungkin akan berhasil memenuhi kebutuhan program (Tayibnapis. 1989: 11). Program implementation, yang menyiapkan informasi apakah program sudah diperkenalkan kepada kelompok tertentu yang tepat seperti yang direncanakan? (Tayibnapis. 1989: 11). Program improvement, yang memberikan informasi tentang bagaimana program berfungsi, bagaimana program bekerja, atau berjalan? Apakah menuju pencapaian tujuan, adakah hal-hal atau masalah-masalah baru yang muncul tak terduga (Tayibnapis. 1989: 11). Mbulu (1994/1995: 83) program improvement, berfungsi memberikan informasi tentang bagaimana program tersebut bermanfaat dan bagaimana program dapat dilaksanakan. Program certification, yang memberi informasi tentang nilai atau guna program(Tayibnapis. 1989: 11). 3. Model evaluasi Brinkerhoff Model ini dikembangkan oleh Brinkerhoff dan kawan-kawan, dengan mengemukakan tiga jenis desain yaitu (dalam Dwiyogo, 2006: 54): 1) Fixed vs Emergant evaluation design. Desain fixed ditentukan dan direncanakan secara sistematis dan desainnya dikembangkan dengan mengacu pada tujuan program. Rencana analisis dibuat sebelumnya dimana si pemakai akan menerima informasi seperti yang telah ditentukan dalam tujuan. Strategi pengumpulan informasi dalam desain ini menggunakan tes, angket, lembar wawancara. Berbeda dengan desain fixed, desain emergent dibuat dengan maksud menangkap fenomena yang sedang berlangsung yang berpengaruh terhadap program seperti masukan-masukan baru. Pada prinsipnya desain ini terus berkembang sesuai dengan kondisi dan dapat berubah sesuai dengan kebutuhan. 2) Formatif vs Summative evaluation.Evaluasi formatif digunakan untuk memperoleh data bagi keperluan revisi program, sedangkan evaluasi sumatif dibuat untuk menilai kegunaan suatu program. Pada evaluasi sumatif fokus evaluasi ditujukan pada variabel-variabel yang dipandang penting dan berkaitan dengan kebutuhan pengambilan keputusan. 3) Desain eksperimental dan Quasi eksperimental vs Natural inquiry. Desain eksperimental, quasi eksperimental dan natural inquiry desain merupakan hasil adopsi dari disiplin penelitian. Desain eksperimental dan quasi eksperimental digunakan untuk menilai suatu program yang baru diujicobakan. Sedangkan natural inquiry dilakukan dengan cara evaluator terlibat langsung dengan sumber- sumber informasi serta program yang dilaksanakannya. 4. Model Evaluasi Stake
  18. 18. Model ini dikembangkan oleh Stake (1967), analisis proses evaluasi yang dikemukakannya membawa dampak yang cukup besar dalam bidang ini dan meletakkan dasar yang sederhana namun merupakan konsep yang cukup kuat untuk perkembangan yang lebih jauh dalam bidang evaluasi. Stake menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi ialah Descriptions dan judgement dan membedakan adanya tiga tahap dalam program pendidikan yaitu: Antecedents (context), transaction (process), dan Outcomes (output) (Tayibnapis. 1989: 11). Mbulu (1994/1995: 74-75): Tahap pendahuluan (antecedents) menyangkut kondisi yang terlebih dahulu ada sampai pada saat dilakukan instruksi yang dihubungkan dengan hasil yang dicapai. Tahap transaksi (transactions) menyangkut proses dilakukannya instruksi dan hasil yang diperoleh adalah karena pengaruh dari proses tersebut. Tahap outcomes menyangkut hasil yang dicapai setelah program diimplementasikan serta untuk menentukan langkah kerja selanjutnya. Penekanan yang umum atau hal yang penting dalam model ini ialah bahwa evaluator yang membuat penilaian tentang program yang dievaluasi. Stake mengatakan bahwa description di satu pihak berbeda dengan judgement atau menilai. Dalam model ini, antecedents (masukan), transaction (proses) dan outcomes (hasil) data dibandingkan tidak hanya untuk menentukan apakah ada perbedaan tujuan dengan keadaan sebenarnya, tetapi juga dibandingkan dengan standar yang absolut, untuk menilai manfaat program (Tayibnapis,1989:16-17). DAFTAR PUSTAKA Suharsimi Arikunto. 2007. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta Edison. 2009. Penelitian dan Evaluasi Dalam Bidang Pendidikan:Evaluasi CIPP, (Online), (http://ed150n5.blogspot.com/2009/04/evaluasi-cipp.html, 11 April 2011) Fuddin Van B. 2007. Evaluasi Program, (Online), (http:// fuddin. wordpress.com /2007/07/17/ evaluasi-program/, diakses 11 April 2011) Inggit Kurniawan. 2009. Pengertian dan Konsep Evaluasi, Penilaian dan Pengukuran(Online), (http:// santriw4n. wordpress. com/ 2009/ 11/ 18/pengertian -dan- konsep -evaluasi- penilaian-dan-pengukuran/, diakses 11 April 2011) Mbulu, J. 1995. Evaluasi Program Konsep Dasar, Pendekatan Model, dan Prosedur Pelaksanaan. Malang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas. Mulyono. 2009. Penelitian Eveluasi Kebijakan, (Online), (http:// mulyono. staff.uns .ac.id /2009/ 05/13/penelitian-evaluasi-kebijakan/, diakses 11 April 2011)
  19. 19. Rika Dwi Kurniasih. 2009. Teknik Evaluasi Perencanaan, (Online), (http:// images.rikania09.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SUdfiwoKCF8AADuyo- 81/Rika%20Eva.doc?nmid=148657139, diakses 12 April 2011) Tayipnapis, F.Y. 1989. Evaluasi Program. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Zulharman. 2007. Evaluasi Kurikulum : Pengertian, Kepentingan Dan Masalah Yang Dihadapi, (Online), (http:// zulharman79. wordpress. com/ 2007/08/04/ evaluasi-kurikulum- pengertian-kepentingan-dan-masalah-yang-dihadapi/, diakses 12 April 2011)

×