Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dimulai denganmakinmaraknyaindustri besaryangberdiri sertakehidupanmasyarakat
yang tid...
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Limbah
1. PengertianLimbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari sua...
b. Dinamis
Mungkin yang dimaksud dinamis disini adalah tentang cara
pencemarannya yang tidak dalam waktu singkat menyebar ...
3.Frekuensi Pembuangan Limbah
Pada saat sekarang ini pembuangan limbah semakin naik frekuensinya
di karenakan banyaknya in...
Karenakeduaaktivitasini menimbulkanlimbahyangmencemari
lingkungan,manusiadi bumi terusmengembangkanteknologi untuk
mencega...
2.JenisLimbah
Bermacam-macamlimbahmungkinakankitatemui di sekitarkita.Pernahkahanda
melihatsampahplastic,kaleng,pecahankac...
3. Koloni yang benar-benar terpisah dari suatu kultur campuran dikarakterisasi
tipe pertumbuhan (karakterisasi makroskopis...
lingkungan lautan yang tenang dan dikenal menyebabkan gastroerileritis yang
berhubungan dengan makanan.
2. Staphylococcus
...
4. E. Coli Pathogen
E. Coli merupakan bakteri berbentuk batang pendek (kokobasil). Gram
negative, ukuran 0,4 µm – 0,7 µm x...
Pengambilan sampel pada permukaan dilakukan dengan cara mengusap
permukaan alat yang akan di uji. Penggunaan metode swab i...
1. Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama
(satuan) dan angka kedua (desimal). Jika angka y...
= . . . . . . koloni/gram
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
A. Alat dan bahan
1. Alat
a. Plastik steril 2 buah
b. Inkubator 1 unit
c. Tabung reaksi 4 bua...
2. Bahan
a. Sampel alat makan (Piring) 1 buah
b. Larutan pepton 90 ml
c. NaCl steril 9 ml/tabung
d. Nutrient agar secukupn...
d. Persiapkan lidi kapas steril, kemudian buka tutup botol dan masukkan lidi
kapas steril ke dalamnya.
e. Lidi kapas steri...
i. Disiapkan 1 pipet ukur steril yang telah dipasangkan bulp.
j. Disiapkan larutan pepton sebanyak 90 ml pada gelas beker....
t. Diambil sebanyak 1 ml sampel dari tabung pengenceran ketiga (10-3) dan
dimasukkan kedalam tabung pengenceran terakhir (...
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berdasarkan pemeriksaan jumlah kuman pada alat makan (piring) di kantin
Fakultas Kedo...
B. Pembahasan
Pemeriksaan kuman pada alat makanan dengan sampel berupa piring
dengan menggunakan metode percobaan yaitu me...
didapatkan jumlah koloni yang lebih sedikit dan mudah diketahui jumlahnya
(Sudarsono, 2008).
Pemeriksaan kuman hanya pada ...
Dilakukan pula beberapa perlakuan, seperti plambir sebelum dan setelah alat
digunakan ataupun selalu dekat dengan pembakar...
Menteri Kesehatan RI Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011, bahwa alat makan
(piring) tidak boleh mengandung bakteri lebih dari 0 ...
kran dengan air yang mengalir unuk menghindarkan adanya bakteri pada air yang
digunakan tersebut.
Adapun faktor lain yang ...
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 1620 koloni/cm2 pada
alat makan (piring) di k...
DAFTAR PUSTAKA
Chandra, B. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC
Depkes RI, 2004. Hygiene sanitasi makanan d...
Bab i SA
Bab i SA
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bab i SA

335 views

Published on

ADALAH SKRIPSI

Published in: Career
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Bab i SA

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dimulai denganmakinmaraknyaindustri besaryangberdiri sertakehidupanmasyarakat yang tidakpeduli terhadaplingkungansekitarnya.Mulailahtimbuhtumpukanlimbah atau punsampah yangtidakdi buangsebagaimana mestinya.Hal ini berakibatpada kehidupanmanusiadi bumi yangmenjaditidaksehatsehinggamenurunkankualitas kehidupanterutamapadalingkungansekitar. A. Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui jumlah kuman pada alat makan khususnya pada piring di Kantin Fakultas Kedokteran Gigi Unhas. B. Prinsip Percobaan 1. Tangan dan meja tempat praktikum harus dalam keadaan steril. 2. Alat dan bahan harus dalam keadaan steril. 3. Tabung reaksi diplambir sebelum dan sesudah dimasukkan sampel untuk menjaga agar tabung tetap steril. 4. Pipet ukur harus selalu dibersihkan dengan menggunakan akuades sebelum digunakan. 5. Pipet ukur harus diplambir sebelum dan sesudah digunakan. 6. Sampel dihomogenkan dengan menggunakan vortex mixer. 7. Diperlukan ketelitian dalam melakukan percobaan.
  2. 2. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Tentang Limbah 1. PengertianLimbah Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupundomestik(rumahtangga,yanglebihdikenal sebagai sampah) atau juga dapat dihasilkan oleh alam yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia organik dan anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah.penanganan limbah ini tentunya tidak hanya sekedar mengolahnya/ mendaur ulangnya langsung tanpa memperhatikan jenis limbah dan cara penangannanya klarena dari setiap limbah yang ada mempunyai cirri berbeda terhadap dampak yang ditimbulkanya. 2. Karakteristik limbah : Pada umumnya sesuatu yang ada di bumi ini memiliki suatu karakteristik yang berbeda. Termasuk juga limbah yang mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. Berukuran mikro Karekteristik ini merupakan karakterisik pada besar kecilnya limbah/ volumenya. Contoh dari limbah yang berukuran mikro atau kecil atau bahkan tidak bias terlihat adalah limbah industri berupa bahan kimia yang tidak terpakai yang di buang tidak sesuai dengan prosedur pembuangan yang dianjurkan.
  3. 3. b. Dinamis Mungkin yang dimaksud dinamis disini adalah tentang cara pencemarannya yang tidak dalam waktu singkat menyebar dan mengakibatkan pencermaran. Biasanya limbah dalam menyerbar di perlukan waktu yang cukup lama dan tidak diketahui dengan hanya melihat saja. Hal ini dikarenakan ukuran limbah yang tidak dapat dilihat. c. Berdampak luas (penyebarannya) Luasnya dampak yang di timbulkan oleh limbah ini merupakan efek dari karakteristik limbah yang berukuran mikro yang tak dapat dilihat dengan mata tellanjang. Contoh dari besarnya dampak yang ditimbulkan yaitu adanya istilah “Minamata disease” atau keracunan raksa (Hg) di Jepang yang mengakibatkan nelayan-nelayan mengidap paralis (hilangnya kemampuan untuk bergerak karena kerusakan pada saraf). Kejadian ini terajadi di Teluk Minamata dan Sungai Jintsu karena pencemaran oleh raksa (Hg). d. Berdampak jangka panjang (antar generasi) Dampak yang ditimbulkan limbah terutama limbah kimia biasanya tidak sekedar berdampak pada orang yang terkena tetapi dapat mengakibatkan turunannya mengalami hal serupa. Dari karakteristik limbah di atas pencemaran limbah juga didukung oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhi pencemaran limbah terhadap lingkungan diantaranya : 1.Volume Limbah Tentunya semakin banyak limbah yang dihasilkan oleh manusia dampak yang akan ditimbulkan semakin besar pula terasa. 2.Kandungan Bahan Pencemar Kandunngan yang terdapat di limbah ini mengakibatkan pencemaran lingkungan apabila kandunganya berbahaya dapat mengakibatkan pencemaran yang fatal bahkan dapat membunuh manusia serta mahluk hidup sekitar.
  4. 4. 3.Frekuensi Pembuangan Limbah Pada saat sekarang ini pembuangan limbah semakin naik frekuensinya di karenakan banyaknya industry yang berdiri. Dengan semakin banyak frekuensi limbah tentunya pembuanganlimbah menjadi tidak terkandali dan usaha untuk mengolahnya tidak dapat maksimal dikarenakan pengolahan limbah yang masih jauh dari harapan kita semua. 3. SumberdanJenisLimbah 1. SumberUtama imbah Sumberadanyalimbah sebenarnyabanyaksekali tetapipadapengelompokannya sumberlimbahterdiri dari : a. Aktivitasmanusia Saat manusiamelakukanaktivitasuntukmenghasikansesuatubarang produksi makaakan timbul suatulimbahkarenatidakmampunya pengolahanyangdilakukanolehmanusiamenggunkanmesindanjuga sulitnyauntukmengolahbarangyangtidakbergunamenjadi barangyang biasdimanfaatkanuntukkeperluanmanusia.Berikutadalahlimbahyang dihasilkanolehaktivitasmanusiamisalnya: a)Hasil pembakaranbahanbakarpada industrydanjugakendaranbermotor b)Pengolahanbahantambangdanminyakbumi c)Pembakaranhutanuntukmembukalahanpertanianataupunperumahan b. Aktivitasalam Selaindari aktivitasdiataspencemaranlimbahdi bumi jugadi timbulkan olehaktivitasalamwalaupunjumlahnyasangatsedikitpengaruhnya terhadaplingkungankarenalokasinyayangbiasanyabersifatlokal.berikut ini contohdari aktivitasalamyangmenghasilkanlimbahyaitu: a)Pembusukanbahanorganikalami b)Adanyaaktifitasgunungberapi c)Banjir,longsorserta d)Aktivitasalamyanglain
  5. 5. Karenakeduaaktivitasini menimbulkanlimbahyangmencemari lingkungan,manusiadi bumi terusmengembangkanteknologi untuk mencegahdampakpencemaranlingkungan.Walaupundilainpihaklimbah terusmeningkatterutamadiakibatkanolehaktivitasmanusiahal ini didorongolehbeberapafactorsebagai berikut: - Perkembanganindustri Perkembanganindustri yangsangatcepatbaikpertambangan, transportasi danmanufakuratau pabrikyangmengahsilkanlimbah dalamjumlahyangrelative besarsehinggaterjadi pembuanganlimbah yang kurangterkontrol karenakurannyateknologi untukmembuat limbahmenjadi barangyangterurai atauramah lingkungan - Modernisasi Pada saat sekarangperkembanganteknologi untukmenghasilkan barang semakinmarakdigunakandikalanganorangyangmengeluti bidangindustry.Hal ini bertujuanuntukmenghasilkanbarangdengan cepattetapi di lainhal perkembanganteknologi berakibatpadasemakin banyaknyalimbahyangdihasilkanolehteknologi itu sendiri. - Pertambahanpenduduk Semakinbanyaknyapendudukdi bumi ini mengakibatkanbertambah meningkatnyakebutuhanakantempattinggal sertameingkatnya jumlahkebutuhanakanbarang.Hal ini dapat menimbulkanberberpa macam masal seperti : a)Pembukaan lahanuntukpemukimandansarantransportasi Pembukaanlahanuntukpemukimandansarantransportasi berdampak terhadapsemakinberkurangnyahutanuntukmengurangi kadar pencemaranlingkungan. b)Penimbunansampah Semakinhari kitamelihatbanyaknyasampahyangmenumpukkarena pembuangannyayangsembarangandanmungkinjugakarenakurang mampunyatempatpembuangansampahuntukmenampungsampah atau yang biasadisebutTPA (TempatPembuanganAkhir) dalam menampungsampahsehinggasampahmenumpukdi suatutempat yang berdampakmenurunnyakualitaslingkungansekitar.
  6. 6. 2.JenisLimbah Bermacam-macamlimbahmungkinakankitatemui di sekitarkita.Pernahkahanda melihatsampahplastic,kaleng,pecahankaca,kotoranhewandanlainsebagainya.Dari sekianbanyaknyalimbahini dapatdikelompokanberdasarsumberdari limbahini berasal seperti penjelasandi bawahini :  Garbage yaitusisapengelolaanatausisamakananyangmudah membusuk.Misal limbahyangdihasilkanolehrumahtangga,restorandanhotel.  Rubbishyaitubahanatau limbahyangtidakmudahmembusukyangterdiri dari : ·bahanyang mudahterbakarseperti kayudankertas ·bahanyang tidakmudahterbakarseperti klaengdankaca  Ashesyaitusejenisabuhasil dari prosespembakaranseperti pembakarankayu, batubara maupunabudari hasil industry.  Deadanimal yaitusegalajenisbangkai yangmembusuksepertibangkai kuda, sapi,kucingtikusdanlain-lain.  Streetsweepingyaitusegalajenissampahataukotoranyangberserakandi jalan karenaperbuatanorang yangtidakbertanggungjawab.  Industrial waste yaitubenda-bendapadatsisadari industryyangtidaktepakai atau dibuang.Missal industrykalengdenganpotongankaleng-kalengyangtidak terolah. 4. A. Tinjauan Umum Tentang Bakteri Pada Alat Makanan. Dalam dunia mikrobiologi, dikenal beberapa istilah seperti inokulasi, kultur dan isolasi. Inokulasi adalah suatu usaha menumbuhkan mikroorganisme dari satu sumber ke media pertumbuhan steril. Biakan yang tumbuh disebut dengan kultur. Isolat adalah biakan murni dari mikroorgansime yang diharapkan berasal dari satu jenis, sedangkan isolasi adalah usaha untuk mendapatkan isolat. Tahapan sederhana dalam mengidentifikasi bakteri, yaitu: 1. Menumbuhkan mikroorganisme dalam media sintetik cawan petri. 2. Koloni yang tumbuh pada tahap 1 merupakan koloni campuran, sehingga perlu tahap lanjut.
  7. 7. 3. Koloni yang benar-benar terpisah dari suatu kultur campuran dikarakterisasi tipe pertumbuhan (karakterisasi makroskopis) kemudian diisolasi murni pada media miring (slant agar) dalam tabung reaksi. 4. Identifikasi dilanjutkan hingga tingkat mikroskopis berdasarkan sifat-sifat tertentu yang tercantum dalam Bergey`s Manual of Determinative Bacteriology. Dalam mengembangbiakkan mikroorganisme, khususnya bakteri, alat-alat yang digunakan harus steril. Sterilisasi dilakukan dengan memanaskan seluruh alat, seperti cawan petri, ose, tabung reaksi, dll di dalam autoclave. Sterilisasi dilakukan pada suhu 121oC, tekanan 1 atm dan dilakukan selama 15 menit. Ini dilakukan gar sel-sel vegetatif bakteri mati, sehingga dapat menurunkan resiko kontaminasi. Sterilisasi juga menjadi syarat utama untuk bekerja di laboratorium (Dwidjoseputro, 2005). Beberapa bakteri koloni yang terdapat pada makanan yang dapat menyebabkan penyakit, yaitu (SNI 7388: 2009): 1. Vibrio Parahemolitik Vibrio parahemolicus adalah bakteri halofilik yang merupakan bakteri bentuk batang bengkok, garam negatif dan bergerak karena ada flagel pada satu kutubnya. Bakteri ini tidak membentuk spora, bersifat aerob atau fakultatif anaerob tidak dijumpai pada enterotiksin. Bakteri ini menetap di
  8. 8. lingkungan lautan yang tenang dan dikenal menyebabkan gastroerileritis yang berhubungan dengan makanan. 2. Staphylococcus Keracunan staphylococcus merupakan gejala intoksikasi yang paling banyak dilaporkan di Amerika Serikat, dimana setiap tahunnya meliputi 20 % sampai 50 % dari seluruh keracunan yang disebabkan oleh makanan. Gejala keracunan ini disebabkan oleh tertelannya suatu toksin yang disebut enterotoksin yang mungkin terdapat di dalam makanan dan diproduksi oleh spesies dan strain tertentu dari bakteri staphylococcus. Toksin ini disebut enterotoksin karena dapat menyebabkan gastroentritis atau inflamasi pada saluran usus. 3. Salmonella Salmonella terdapat pada makanan dalam jumlah tinggi, tetapi tidak selalu menimbulkan perubahan dalam hal warna, bau, maupun rasa dari makanan tersebut. Semakin tinggi jumlah salmonella dalam makanan, semakin besar timbulnya gejala infeksi pada orang yang memakan makanan tersebut dan semakin cepat waku inkubasi sampai timbulnya gejala infeksi. Makanan yang sering terkontaminasi oleh salmonella yaitu telur dan hasil olahannya, ikan dan hasil olahannya, daging ayam, daging sapi serta susu dan hasil olahannya, es krim dan keju. Gejala awal nyeri kepala, muntah, gangguan pada perut waktu baung air besar, suhu tubuh tinggi disertai batuk kering.
  9. 9. 4. E. Coli Pathogen E. Coli merupakan bakteri berbentuk batang pendek (kokobasil). Gram negative, ukuran 0,4 µm – 0,7 µm x 1,4 µm, dan beberapa strain mempunyai kapsul. Terdapat strain E. Coli yang patogen dan non patogen. E. Coli patogen banyak ditemukan di dalam usus besar manusia sebagai flora normal dan berperan dalam pencernaan pangan dengan menghasilkan vitamin K dari bahan yang belum dicerna dalam usus besar. 5. Clostridium Perfringes Clostridium pefringens adalah bakteri patogen invasif berbentuk batang, nonmotil, bersifat gram positif dan anaerob, serta mempunyai spora yang relatif stabil terhadap suhu panas. Sel vegetatifnya dapat rusak pada suhu 600C. Sel sebanyak 105 koloni/g memungkinkan terjadinya keracunan makanan. Ciri umum dari keracunan Clostridium pefringens adalah gejala kejang perut dan diare. B. Tinjauan Umum Tentang Metode Swab Metode swab merupakan metode pengujian sanitasi yang dapat digunakan pada permukaan yang rata, bergelombang, atau permukaan yang sulit dijangkau seperti retakan, sudut dan celah. Swab tersusun dari tangkai atau gagang (panjang 12-15 cm) dengan kepala swab terbuat dari kapas (diameter 0,5 cm dan 2 cm).
  10. 10. Pengambilan sampel pada permukaan dilakukan dengan cara mengusap permukaan alat yang akan di uji. Penggunaan metode swab ini biasanya digunakan untuk mengetahui jumlah mikroorganisme (per cm2) dan jumlah koliform (per cm2) pada permukaan yang kontak dengan pangan (harrigan, 1998 dalam Lukman & Soejoedono, 2009). Peralatan makan yang kita gunakan harus bersih, agar kita terhindar dari kemungkinan penularan penyakit. oleh karena itu perlu dilakukan uji sanitasi alat makan. Uji sanitasi alat makan lazimnya menggunakan uji ALT (Angka Lempeng Total) untuk mengetahui jumlah kuman yang ada di alat makan tersebut. Uji Angka Lempeng Total (ALT) merupakan metode kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba pada suatu sampel. Angka Lempeng Total (ALT) menunjukkan jumlah mikroba dalam suatu produk. ALT secara umum tidak terkait dengan bahaya keamanan makanan, namun bermanfaat untuk menunjukkan kualitas, masa simpan, kontaminasi, dan status higiene/sanitasi selama proses produksi. Media plating (sumber energi) yang digunakan dalam pengujian ALT dapat mempengaruhi jumlah dan jenis bakteri yang diisolasi karena perbedaan persyaratan nutrisi dan garam pada tiap mikroba (SNI 7388:2009). Cara perhitungan koloni pada metode cawan ini adalah dengan menggunakan Standard Plate Count (SPC) atau Angka Lempeng Total (ALT), caranya adalah sebagai berikut (Ericka, 2011).
  11. 11. 1. Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama (satuan) dan angka kedua (desimal). Jika angka yang ketiga sama dengan atau lebih besar dari lima, harus dibulatkan satu angka lebih tinggi pada angka kedua. 2. Jika pada semua pengenceran dihasilkan kurang dari 30 koloni mikroba pada cawan petri, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi. Oleh karena itu jumlah kuman pada pengenceran yang terendah yang diukur/dihitung. Selanjutnya hasil yang kurang dari 30 dikalikan dengan besarnya pengenceran, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung. 3. Jika pada semua pengenceran dihasilkan lebih dari 300 koloni pada medium, berarti pengenceran yang dilakukan terlalu rendah. Oleh karena itu jumlah kuman pada pengenceran yang tertinggi yang dihitung. Hasilnya dilaporkan kemudian dikalikan dengan faktor pengencernya, tetapi jumlah yang sebenarnya harus dicantumkan di dalam tanda kurung. 4. Jika digunakan dua cawan petri per pengenceran, data yang diambil harus dari kedua cawan tersebut, tidak boleh diambil salah satu. Oleh karena itu harus dipilih tingkat pengenceran yang menghasilkan kuman diantara 30-300. Adapun rumus perhitungan ALT adalah sebagai berikut : (10-3 - kontrol) x 1000 + (10-4 - kontrol) x 10.000 Luas Penampang = Jumlah kuman =
  12. 12. = . . . . . . koloni/gram
  13. 13. BAB III METODOLOGI PERCOBAAN A. Alat dan bahan 1. Alat a. Plastik steril 2 buah b. Inkubator 1 unit c. Tabung reaksi 4 buah d. Rak tabung reaksi 1 buah e. Cawan Petri 2 buah f. Pembakar Bunsen 1 buah g. Korek Api 1 buah h. Pipet ukur 1 buah i. Bulp 1 buah j. Penggaris 1 buah k. Colony counter 1 unit l. Labu erlenmeyer 1 buah m. Vortex mixer 1 unit n. Gelas ukur 1 buah o. Gelas Beker 1 buah p. Gunting 1 buah q. Autoclave 1 unit
  14. 14. 2. Bahan a. Sampel alat makan (Piring) 1 buah b. Larutan pepton 90 ml c. NaCl steril 9 ml/tabung d. Nutrient agar secukupnya e. Lidi kapas steril 1 buah f. Alkohol secukupnya g. Akuades secukupnya h. Buffer (Putih telur) secukupnya i. Tisu secukupnya j. Kertas Label secukupnya k. Kapas Secukupnya B. Waktu Dan Tempat Pengambilan Sampel Waktu : Rabu 20 maret 2013 pukul 10.00 WITA Tempat : Kantin Fakultas Kedokteran Gigi Unhas C. Prosedur Kerja 1. Pengambilan Sampel a. Persiapkan sarung tangan yang steril untuk memulai mengambil sampel b. Alat makan/masak yang akan diperiksa masing-masing diambil 4-5 buah tiap jenis yang diambil secara acak dari tempat penyimpanan. c. Persiapkan catatan formulir pemeriksaan dengan membagi alat makan /masak dalam kelompok-kelompok.
  15. 15. d. Persiapkan lidi kapas steril, kemudian buka tutup botol dan masukkan lidi kapas steril ke dalamnya. e. Lidi kapas steril dalam botol ditekan ke dinding botol untuk membuang airnya, kemudian diangkat dan di usapkan pada setiap alat-alat yang diusapkan sampai satu kelompok selesai diusap. 2. Pembuatan Kontrol a. Disiapkan 1 buah cawan petri dan diberi label (kontrol). b. NaCl steril dipipet sebanyak 1 ml kedalam cawan petri dan di tambahkan nutrient agar. Kemudian di homogenkan dengan membentuk angka 8 di atas meja sebanyak 12 kali. c. Cawan petri (kontrol) yang telah dihomogenkan di diamkan sampai membeku. d. Setelah membeku, kontrol dimasukkan ke dalam inkubator dengan suhu 34o C dengan posisi terbalik selama 1 x 24 jam. 3. Pemeriksaan Sampel f. Tangan dan meja tempat praktikum disterilkan dengan menggunakan alkohol. g. Disiapkan 4 buah tabung reaksi yang berisi NaCl steril masing-masing sebanyak 9 ml. Kemudian tabung reaksi yang berisi NaCl steril diberi label 10-1, 10-2, 10-3, 10-4. h. Disiapkan 2 cawan petri untuk media pertumbuhan bakteri. Diberi label 10-3 dan 10-4.
  16. 16. i. Disiapkan 1 pipet ukur steril yang telah dipasangkan bulp. j. Disiapkan larutan pepton sebanyak 90 ml pada gelas beker. k. Disiapkan plastik steril sebagai penampang, diukur menggunakan penggaris dengan ukuran 5 x 10 cm. l. Bagian tengah plastik steril yang telah diukur, kemudian digunting dan diletakkan pada permukaan piring. m. Bagian permukaan piring dengan luas penampang 5 x 10 cm, diusap menggunakan lidi kapas yang telah dilumuri dengan buffer (putih telur). n. Lidi kapas dimasukkan ke dalam gelas beker yang berisi larutan pepton. Kemudian lidi kapas dipatahkan agar tidak melebihi tinggi gelas beker dan ditutup dengan kapas. Setelah itu, didiamkan selama 15 menit. o. Setelah 15 menit, penutup kapas pada gelas beker yang berisi lidi kapas p. dan larutan pepton di buka. q. Dimasukkan 1 ml larutan pepton yang berisi lidi kapas kedalam tabung pengenceran pertama (10-1) dengan menggunakan pipet ukur, lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit. r. Dari tabung pengenceran pertama (10-1), diambil 1 ml sampel dan dimasukkan kedalam tabung pengenceran kedua (10-2), lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit. s. Dari tabung pengenceran kedua (10-2), diambil lagi sebanyak 1 ml sampel dan dimasukkan kedalam tabung pengencer ketiga (10-3), lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit.
  17. 17. t. Diambil sebanyak 1 ml sampel dari tabung pengenceran ketiga (10-3) dan dimasukkan kedalam tabung pengenceran terakhir (10-4), lalu dihomogenkan dengan vortex mixer selama ± 1 menit. u. Dimasukkan 1 ml sampel dari tabung pengenceran ketiga (10-3) dan keempat (10-4) berturut-turut kedalam cawan petri yang berlabel 10-3 dan 10-4 , lalu dituangkan nutrient agar secukupnya, kemudian masing-masing sampel dihomogenkan dengan membentuk angka 8 sebanyak 12 kali. Sampel didiamkan hingga membeku selama ± 10 menit. v. Kedua cawan petri (10-3 dan 10-4) yang telah membeku, dimasukkan kedalam inkubator selama 1 x 24 jam pada suhu 34˚C. w. Setelah 1 x 24 jam, cawan petri dikeluarkan dari dalam inkubator. Bakteri yang tampak pada cawan petri kemudian dihitung dengan menggunakan colony counter. 4. Penghitungan jumlah bakteri Setelah sampel diinkubasi selama 24 jam pada suhu 34°C, sampel dikeluarkan dari inkubator. Kemudian dihitung jumlah koloni bakeri (berupa bercak atau titik-titik bulat berwarna putih) yang terdapat dalam cawan petri dengan alat colony counter. Untuk jumlah kuman masukkan kedalam rumus : (10-3 – kontrol) x 1.000 + (10-4 – kontrol) x 10.000 Jumlah Kuman = luas penampang = . . . . . . koloni/cm2.
  18. 18. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Berdasarkan pemeriksaan jumlah kuman pada alat makan (piring) di kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin yang telah dilakukan di Laboratorium Terpadu Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, terlihat bahwa pada setiap cawan tersebut terdapat koloni bakteri dengan jumlah koloni pada cawan petri control sebanyak 12 koloni, cawan petri pengenceran 10-3 sebanyak 23 koloni dan pada cawan petri pengenceran 10-4 sebanyak 19 koloni. Adapun jumlah koloni bakteri berdasarkan luas penampang alat makan (piring) atau setiap 1 cm2 alat makan adalah sebagai berikut : (10-3 – kontrol) x 1.000 + (10-4 – kontrol) x 10.000 Jumlah Koloni = luas penampang (23 – 12) x 1.000 + (19 - 12) x 10.000 = 5 x 10 11.000 + 70.000 = 50 81.000 = = 1.620 koloni/cm2 50 Jadi, jumlah kuman per setiap 1 cm2 permukaan adalah 1.620 koloni.
  19. 19. B. Pembahasan Pemeriksaan kuman pada alat makanan dengan sampel berupa piring dengan menggunakan metode percobaan yaitu metode swab dilakukan dengan cara di usap dengan menggunakan lidi kapas steril yang telah dilumuri buffer (putih telur) dengan tujuan untuk membasahi lidi kapas sehingga, mikroorganisme bisa melekat pada lidi kapas steril tersebut. Alat makan (piring) yang akan diusap, terlebih dahulu diukur luas penampangnya menggunakan plastik steril dengan luas 5 x 10 cm2. Penentuan ukuran luas penampang karena permukaan piring terlalu luas untuk diusap secara keseluruhan. Selanjutnya lidi kapas yang telah diusap sebanyak 3 kali pada permukaan alat makan (piring), dimasukkan kedalam gelas beker yang berisi 90 ml larutan pepton yang berguna agar mikroba cepat tumbuh, karena mengandung banyak N2. Larutan pepton juga berfungsi untuk mempertahankan nilai pH tertentu agar tidak banyak berubah selama reaksi kimia berlangsung. Lidi kapas steril didiamkan selama 15 menit dalam larutan pepton, sehingga memungkinkan mikroorganisme pada sampel tersebar merata dalam larutan pepton. Pada percobaan ini, dilakukan pengenceran sampai 4 (empat) kali yaitu pengenceran 10-1 sampai 10-4, yaitu suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran diencerkan dalam suatu tabung tersendiri secara berkelanjutan dari suatu tabung ke tabung lain sampai pada pengenceran keempat. Dengan tujuan untuk menurunkan jumlah bakteri sehingga pada pengenceran terakhir akan
  20. 20. didapatkan jumlah koloni yang lebih sedikit dan mudah diketahui jumlahnya (Sudarsono, 2008). Pemeriksaan kuman hanya pada pengenceran ketiga (10-3) dan keempat (10-4). Metode ini umumnya dilakukan pada mikroba yang dapat membentuk koloni yang mudah terpisah pada media padat seperti kebanyakan bakteri, khamir, jamur, dan alga uniseluler (Hadioetomo, 1985 dalam Sudarsono, 2008). Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan hasil pada pengenceran ketiga (10-3) dan keempat (10-4) berturut-turut adalah 23 koloni/cm2 dan 19 koloni/cm2. Hasil yang berbeda pada kedua media cawan dengan pengenceran, maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pengenceran yang dilakukan, semakin sedikit mikroba yang tumbuh dalam media. Untuk medium kontrol yang berfungsi untuk mengetahui kondisi awal lingkungan pemeriksaan dengan memasukkan 1 ml NaCl ke dalam cawan petri dan dituangkan nutrient agar, lalu dihomogenkan dengan membentuk angka 8 sebanyak 12 kali pada medium datar. Dari hasil perhitungan untuk kontrol didapatkan 12 koloni/cm2. Hal ini menandakan bahwa kondisi awal lingkungan mengandung mikroba sebanyak 12 koloni/cm2 permukaan. Meskipun pada dasarnya, hasil pemeriksaan untuk kontrol idealnya 0 (nol) koloni/cm2, akan tetapi nilai ini boleh jadi karena ada kontaminasi dari praktikan ataupun lingkungan dilakukannya pemeriksaan, termasuk alat yang digunakan pada saat praktikum. Dengan catatan bahwa nilai dari kontrol harus lebih kecil dari nilai pada pemeriksaan media biakan mikroba.
  21. 21. Dilakukan pula beberapa perlakuan, seperti plambir sebelum dan setelah alat digunakan ataupun selalu dekat dengan pembakar bunsen pada saat bekerja dengan tujuan menghindari kontaminasi bakteri, selain dari bakteri yang dibiakkan. Kemudian larutan dihomogenkan dengan vortex mixer agar pada larutan tercampur dengan rata. Setelah dilakukan pengenceran, diambil 1 ml sampel pada pengenceran 10-3 dan 10-4 , lalu dituangkan pada cawan petri (10-3 dan 10-4) kemudian dituangkan nutrient agar keseluruh permukaan cawan, nutrient agar berguna untuk memudahkan dalam menghitung jumlah koloni yang terbentuk. Pertumbuhan bakteri pada medium agar pada umumnya berbentuk koloni, berupa lender berwarna putih dan mengkilap. Setelah membeku, cawan petri selanjutnya dimasukkan ke dalam inkubator selama 1 x 24 jam dengan keadaan terbalik. Waktu ini adalah masa yang dibutuhkan bagi sel untuk membelah diri yang dikenal sebagai waktu generasi. Suhu yang digunakan selama inkubasi yaitu 34˚ C dan bakteri yang dapat tumbuh pada suhu ini adalah bakteri jenis mesofil dengan suhu minimum 10-20˚ C, optimum 20-40˚ C, dan maksimum 40-45˚ C. Dalam menghitung jumlah koloni, digunakan alat colony counter yang memudahkan perhitungan koloni bakteri yang sulit diamati dengan penglihatan langsung. Hasil perhitungan dengan metode Angka Lempeng Total (ALT), diperoleh jumlah kuman pada alat makan (piring) kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin sebanyak 1.620 koloni/cm2. Berdasarkan Keputusan
  22. 22. Menteri Kesehatan RI Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011, bahwa alat makan (piring) tidak boleh mengandung bakteri lebih dari 0 koloni/cm2. Maka dapat dilihat bahwa sampel alat makan (piring) yang diteliti dapat dikatakan tidak sehat dan tidak layak untuk digunakan oleh masyarakat. Ada beberapa faktor yang menyebabkan keberadaan kuman (bakteri) pada alat makan (piring) di kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, yaitu pedagang tidak melakukan proses pencucian dengan baik, seperti tidak tidak menggunakan bak pembilas unuk mencuci peralatan makan. Menurut Anwar, 1990 dalam Pohan, 2009. Dalam buku studi sanitasi makanan dan minuman, bahwa keberadaan bak pembilas adalah sangat penting dalam proses pencucian peralatan makan. Adapun fungsi dari bak tersebut diantaranya adalah pertama harus terdapat bak yang berisi air hangat dan sabun/detergen, kedua harus ada terdapat bak pembilas yang berisi air panas (700 – 760o C), ketiga harus terdapat bak pembilas yang berfungsi sebagai desinfektan. Kemungkinan juga penjamah kurang baik didalam proses pencucian peralatan yang langsung dibawah kran. Hal ini dikarenakan kebiasaan pedagang makanan menempatkan air pada wadah penampungan ember. Menurut pohan, 2009. Air yang digunakan berulang-ulang untuk proses pencucian peralatan makanan akan sangat mudah terkontaminasi bakteri yang menempel pada peralatan yang akan dicuci. Kondisi seperti ini tidak memenuhi syarat kesehatan higiene sanitasi jasaboga bahwa peralatan hendaknya langsung dicuci dibawah
  23. 23. kran dengan air yang mengalir unuk menghindarkan adanya bakteri pada air yang digunakan tersebut. Adapun faktor lain yang menyebabkan keberadaan kuman (bakteri) pada alat makan (piring) di kantin Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, dapat pula dipengaruhi dari ketidaktelitian praktikan pada saat melalukan percobaan, termasuk pelaksanaan praktikum yang tidak sesuai prinsip kerja, dalam hal ini adalah kesalahan cara pengambilan sampel serta banyak berbicara pada saat melakukan praktikum. Akibat kontaminasi bakteri terhadap alat akan mempengaruhi kesehatan meskipun pada dasarnya tidak berhubungan langsung dengan makanan akan tetapi, persyaratan higiene dan sanitasi makanan salah satunya ditentukan oleh peralatan makanan. Hasil identifikasi kontaminasi bakteri patogen pada alat makanan dan minuman menunjukkan bahwa penyebab kontaminasi didominasi oleh bakteri Bacillus cereus. Bakteri lain yang ditemukan dalam jumlah terbatas adalah E.coli, Staphilococcus aureus dan Jamur (Melatiwati, 2010). Keterpaparan yang lebih jauh bisa akan menyebabkan terjadinya food and water borne disease. Oleh beberapa jenis bakteri yang dapat menyebabkan diare dan keracunan, bahkan sampai menyebabkan diare berdarah, yaitu Clostridium pefringens (SNI 7388:2009).
  24. 24. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 1620 koloni/cm2 pada alat makan (piring) di kantin Fakultas Kedokteran Gigi Unhas. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011, bahwa peralatan makanan tidak boleh mengandung bakteri lebih dari 0 koloni/cm2. Hal ini berarti peralatan makanan (piring) yang berada di kantin Fakultas Kedokteran Gigi Unhas tidak memenuhi standar dan dapat dikatakan tidak sehat dan tidak layak untuk digunakan oleh masyarakat. B. Saran 1. Bagi masyarakat, agar selektif dalam memilih tempat makan, mengingat tidak diketahuinya mikroba yang terkandung dalam alat pengolahan makanan tersebut. Bagi pedagang makanan, agar menjaga kebersihan peralatan makanannya dalam menyajikan makanannya. 2. Dilakukan penyuluhan kepada pedagang-pedagang makanan dalam proses pencucian peralatan makan. Proses pencucian peralatan makan di anggap memenuhi syarat sanitasi bila memiliki 3 (tiga) bak yaitu bak pertama disebut bak pencuci (wash), bak ke dua disebut bak pembilas (detergen), bak ke tiga di sebut bak pembilas terahir dengan desinfektan
  25. 25. DAFTAR PUSTAKA Chandra, B. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC Depkes RI, 2004. Hygiene sanitasi makanan dan minuman. Jakarta : Ditjen PPM dan PL. Dwidjoseputro. 2005. Dasar-dasar mikrobiologi. Jakarta : Djambatan. Ericka, D. 2011. Metode hitungan cawan. [online]. http://erickbio.wordpress.com/2011/07/02/metode-hitungan-cawan/. [Diakses pada tanggal 17 Maret 2013]. Lukman & Soejoedono. 2009. Uji sanitasi dengan metode RODAC. Penuntun praktikum hygiene pangan asal ternak. Bogor: Bagian Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Melatiwati, dkk. 2010. Survey kontaminasi bakteri patogen pada makanan dan minuman yang dijual di sekitar gedung perkantoran di Jakarta. Jakarta. Menteri Kesehatan RI. 2011. Permenkes nomor 1096 tahun 2011 tentang persyaratan hygiene sanitasi jasaboga. Jakarta : Menteri Kesehatan RI Pohan, 2009. Pemeriksaan Escherichia Coli Pada Usapan Peralatan Makan yang Digunakan Oleh Pedagang Makanan di Pasar Petisah Medan [online] http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14698/1/09E02756.pdf [diakses 21 maret 2013]. Slamet, J. 2009. Kesehatan lingkungan. Yogyakarta : Gadjah mada university press. Sudarsono, A. 2008. Isolasi dan karakterisasi bakteri pada ikan laut dalam spesies ikan gindara (lepidocibium flavobronneum). Skripsi. Teknologi Hasil Perikanan. Bogor. Standar Nasional Indonesia 7338. 2009. Batas maksimum cemaran mikroba dalam pangan. Bogor : Badan Standar Nasional.

×