1. Konservasi Lingkungan

3,205 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
3,205
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
154
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

1. Konservasi Lingkungan

  1. 1. K onservasi L ingkungan Wahyu Yun Santoso 1
  2. 2. CONSERVATION: (Oxford Compendium) To conserve means: 1. Conservare  to keep save; 2. Protect from loss or harm; 3. To preserve for long-term use; 4. Keep in constant; 5. Use cautiously and frugaly; 2
  3. 3. Konservasi (definisi legal) Internasional • Tdk ada yg secara khusus mendefinisikan “conservation” • Historically, konservasi baru dibahas setelah terjadi banyak kerusakan atau punah/hilangnya hutan dan wildlife (flora&fauna). • Penggunaan pertama istilah “konservasi” pd Pasal 3 Konvensi 1781 antara Raja Prancis & Uskup Agung Basel. • Rata2 hanya membahasakan “konservasi” dr pemahamn dan pemaknaan umum saja (ex: utk menjaga sustainability, etc). • Van Heijnsbergen dlm Int’l Legal Protection of Wild Fauna&Flora: present concept of “conservation” includes elements of protection, preservation, restoration, and safeguarding (classic) & sustainable use (modern). 3
  4. 4. Sejarah Konservasi Internasional • Usaha pertama oleh pemerintah untuk menetapkan tanah terlindungi dilakukan oleh Amerika Serikat, ketika Presiden Abraham Lincoln menandatangani "Act of Congress" pada 30 Juni 1864, menetapkan Lembah Yosemite dan Mariposa Grove di Giant Sequoia (pusatnya akan menjadi terkenal ke seluruh dunia Taman Nasional Yosemite) kepada negara bagian California • Yosemite tidak menjadi taman nasional secara legal sampai 1 Oktober 1890. • Pada 1872, Yellowstone National Park diresmikan sebagai taman nasional pertama di dunia • Selanjutnya bermunculan banyak TN di wilayah lain 4
  5. 5. 5
  6. 6. • Pd awalnya, Yellowstone jg hanya dibentuk berbasis alasan ekonomis  “creating a park made a good economic sense” • Intervensi negara  ketika Roosevelt menetapkan sbg National Park • Pd perkembangannya, taman2 nasional lain yg ditetapkan masih berbasis pd pertimbangan estetika dan ekonomi. • Perubahan drastis  post 1960-an. 6
  7. 7. 7
  8. 8. Nasional • Setidaknya terbagi menjadi 3 periodisasi: zaman kerajaan nusantara, zaman kolonial, zaman kemerdekaan • Zaman kerajaan terkait dengan tradisi sakral dalam interaksi mns & alam. • Zaman kolonial: – 1714 C. Chastelein (Pendiri Depok) mewariskan tanah seluas 6 Ha di Depok untuk dijadikan Cagar Alam – 1889 Penetapan kawasan hutan alam Cibodas sbg tempat penelitian flora (1925 Perluasan tda hingga Peg. Gede & Parangro) – 1896 Tekanan thdp pem HB atas penyelundupan cendrawasih  1910 keluar Ordonansi utk perlindungan mamalia & burung liar – 1932, diundangkannya Natuur Monumenten Ordonatie atau Ordonasi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa 8
  9. 9. Nasional • Zaman kemerdekaan: – 1947 Penunjukan Bali Barat sebagai wilayah cagar alam o/ Raja2 Bali – 1955 Artikel ttg konservasi o/ FJ. Appelman – 1974, diawali oleh kegiatan Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam  menyusun rencana pengembangan kawasan2 konservasi di Indonesia (bantuan FAO/UNDP) – Peran serta aktif Indonesia di pertemuan teknis IUCN (International Union for The Conservation of Nature and Natural Resources) ke-7 di New Delhi, India pada tanggal 25-28 November 1969 9
  10. 10. • 1982 di Bali diadakan Kongres Taman Nasional Sedunia ke-3 yang melahirkan Deklarasi Bali. • Terpilihnya Bali sebagai tempat kongres mempunyai dampak yang positif bagi perkembangan pengelolaan hutan suaka alam dan taman nasional di Indonesia. • Pada tahun 1978 tercatat tidak kurang dari 104 jenis telah dinyatakan sebagai satwa liar dilindungi. • Pada tahun 1985, keadaannya berubah menjadi 95 jenis mamalia, 372 jenis burung, 28 jenis reptil, 6 jenis ikan, dan 20 jenis serangga yang dilindungi. 10
  11. 11. Kekayaan Spesies Indonesia tercatat dalam urutan (IUCN 2006) 1. Kesatu untuk mammalia (436 spesies, 51 % endemik), 2. Kedua untuk Kupu-kupu (121 spesies, 44 % endemik), 3. Ketiga Palem (477 spesies, 47 % endemik), 4. Keempat untuk reptil (512 spesies, 29 % endemik), 5. Kelima untuk burung (1.519) spesies, 28 % endemik), 6. Keenam untuk amphibi (270 spesies, 37 % endemik), dan 7. Ketujuh untuk tumbuhan berbunga (29.375 spesies, 59 % endemik). 11
  12. 12. Update report dari IUCN 2011 Terdapat 300.000 jenis satwa liar yang berhasil diidentifikasikan di Indonesia. Jumlah tersebut mencakup sekitar 17% dari total jenis satwa liar yang masih tersisa di dunia. Luas daratan Indonesia hanya sekitar 1,3% dari luas daratan di seluruh dunia, tetapi Indonesia memiliki paling banyak kekayaan mamalia (515 jenis) yang menjadi habitat dari sekitar 1.539 jenis burung. Adapun sebanyak 45% jenis ikan di dunia (air tawar maupun air asin) hidup di Indonesia. 12
  13. 13. Jumlah spesies rawan di Indonesia • daftar satwa liar yang masuk ke dalam ancaman kepunahan yang terdiri atas 184 jenis mamalia, 119 jenis burung, 32 jenis reptil, dan 32 jenis amfibi. Jumlah total spesies yang terancam kepunahan dengan kategori kritis (critically endangered) telah mencapai 68 spesies, kategori endangered sebanyak 69 spesies, dan kategori rentan (vulnerable) sebanyak 517 spesies [IUCN 2011] 13
  14. 14. Konsep Konservasi Konservasi keanekaragaman hayati bertolak pada pengelolaan konservasi di tiga level keanekaragaman hayati yaitu: •level ekosistem, •level jenis dan •level genetik secara terintegrasi dan komprehensif. (basis hkm: UU 5/1990 & IUCN – CBD) 14
  15. 15. • Pada level species, konservasi dalam jangka panjang bertujuan untuk mencegah terjadinya kepunahan jenis yang diakibatkan oleh penyebab utama terancamnya jenis dari kepunahan yaitu kerusakan habitat dan pemanfaatan (termasuk perdagangan) yang tidak terkendali. Bagi jenis-jenis yang populasinya sudah dalam kondisi kritis maka pengelolaannya harus diarahkan pada pemulihan populasi (population recovery) dengan berbagai cara termasuk perbaikan habitat, rehabilitasi satwa hasil sitaan serta penangkaran untuk dilepas kembali ke alam (conservation breeding). 15
  16. 16. • Pada level genetik, konservasi keanekaragaman genetik diarahkan pada konservasi in situ di dalam dan di luar konservasi maupun konservasi ex situ. Arah pengelolaan sumberdaya genetik di masa depan adalah pemanfaatan sumberdaya genetik untuk mendukung pengembangan budidaya tanaman maupun ternak melalui pengembangan kultivarkultivar unggul 16
  17. 17. Aspek-aspek Konservasi • Kwsn pyangga khdpn, yg perlu dilindungi agar terpelihara proses ekologis yg mnunjang klangsungan khdpn u mningkatkn ksjhtrn masy • Pngawetn keanekaragaman jenis tumbuhan&satwa liar yg dilaksanakan d dlm&luar kawasan suaka alam • Pmanfaatan scr lestari SDA Hayati&ekos • Spending money  earning money (pengelolaan bisnis konservasi) 17
  18. 18. Pengaruh yg sdh tjadi pd kondisi SDA • Simplikasi pd budidaya  pnyederhanaan mll cara monokultur (dg alsn kmudahan pngelolaan&produktivitas yg tinggi • Pmusnahan jenis sblm smpt dikenali & dmanfaatkn baik mll konservasi legal, illegal, pembakaran, dll • Kerusakan habitat akibat tindkn yg krg bijaksana • Pemanfaatn chemical stabilizing factor > natural stabilizing factor • Tuntutan jasa lingkungan thdp SDA smkn tinggi 18
  19. 19. Permasalahan mendasar • Pngelolaan kwsn konservasi tdk mnarik minat masy maupun pejabat/forester  identik dg spending money • Peraturan yg ada skrg walaupun tgolong sdh cukup banyak&baik namun blm komprehensif sesuai karakteristik SDA ybs  yg mnonjol adl kpntgn masing2 19
  20. 20. Eco-Analysis of Conservation • Benefits Beyond Boundaries • Tema Kongres Taman Nasional Sedunia (World Parks Congress) 8-17 Sepetember 2003 di Durban, Afrika Selatan • Konsep-konsep pengelolaan kawasan konservasi selama ini masih menganut pola-pola borjuasi Barat yang berlandaskan pada kekaguman keindahan alam (aesthetic), penikmatan wisata buru (recreation), dan pendewaan spesies-spesies kharismatik yang notabene hampir punah (species survival) • Sedang kegiatan konservasi pemerintah masih banyak project oriented • Konservasi yg berparadigma borjuasi Barat, di satu sisi memberi teladan pada keberanian ingin tahu yang besar thdp potensi sebuah kawasan konservasi. • Konservasi berparadigma birokrasi pemerintah cenderung top-down dan meniadakan inovasi lokal 20
  21. 21. Capaian yang dituju • Perpaduan antara pembangunan dan konservasi melalui proyek Integrated Protected Area System (IPAS) dan Integrated Conservation and Development Project (ICDP) • Konservasi berparadigma komunitas, sebenarnya built-in dalam adat dan budaya mereka sendiri, tinggal bagaimana mengontrol sistem-sistem yang datang dari luar agar lebih adaptif, sehingga mampu menghargai dan mengakui keberadaan adat mereka 21
  22. 22. Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam • Jasa lingkungan adalah produk sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (SDAHE) yang berupa manfaat langsung (tangible) dan/atau manfaat tidak langsung (intangible), yang meliputi antara lain jasa wisata alam,/rekreasi, jasa perlindungan tata air/hidrologi, kesuburan tanah, pengendalian erosi dan banjir, keindahan, keunikan, penyerapan dan penyimpanan karbon (carbon offset). • Letak geografis, luas dan karakteristik bio-fisik hutan Indonesia yang sangat beragam merupakan keunggulan komparatif (Comparative advantage) tersendiri dalam hal potensi jasa lingkungan, sehingga apabila jasa lingkungan ini dikelola secara baik akan memberikan nilai ekonomi kuantitatif maupun manfaat atau kepuasan kepada konsumen jasa lingkungan. 22
  23. 23. Beberapa peluang pengembangan jasa lingkungan: • Carbon offset merupakan jasa lingkungan yang memberikan kontribusi dalam upaya mencegah dampak negatif perubahan iklim, dimana pemanfaatan jasa lingkungan ini nantinya diatur melalui Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism, CDM) di bawah Protocol Kyoto. Dan berdasarkan kajian sementara bahwa Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk dapat bersaing dalam pasar dunia untuk pengurangan karbon. • Pemanfaatan air; dengan adanya indikasi menyusutnya suplay air di bumi, maka air merupakan jasa lingkungan yang berpeluang untuk dikembangkan. • Eco-tourism; potensi fenomena /keindahan/keunikan alam, keanekaragaman hayati dan budaya memberikan peluang usaha di bidang wisata alam 23

×