Presentasi proposal-tesis yeni

12,999 views

Published on

metode penelitian

Published in: Business
0 Comments
5 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
12,999
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
637
Comments
0
Likes
5
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentasi proposal-tesis yeni

  1. 1. PRESENTASI PROPOSAL TESIS Yeni Yuliani 120820100099 Bandung
  2. 2. JUDUL TESIS PENGARUH ADVERTISING TERHADAP PEMBENTUKAN BRAND AWARENESS SERTA DAMPAKNYA PADA KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK SANGOBION (Survey Pada Ibu-ibu PKK Pengguna Sangobion di Desa Sayati Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung)
  3. 3. Alasan Pemilihan Judul <ul><li>Peneliti merupakan karyawan pemasaran sangobion </li></ul><ul><li>Peneliti ingin mengetahui pengaruh advertising terhadap pembentukan brand awareness dan dampaknya kepada keputusan pembelian produk sangobion </li></ul>
  4. 4. Tempat Penelitian <ul><li>Kader PKK </li></ul><ul><li>Desa Sayati </li></ul><ul><li>Kecamatan Margahayu </li></ul><ul><li>Kabupaten Bandung </li></ul>
  5. 5. Alasan Pemilihan Tempat <ul><li>Ibu-Ibu kader PKK Desa Sayati cukup aktif dan kooperatif </li></ul><ul><li>Jumlah penduduk di Desa Sayati cukup padat </li></ul><ul><li>Segment masyarakatnya bervariasi, mulai dari yang berpenghasilan tinggi sampai rendah, begitu pula dengan level pendidikannya, cukup representatif </li></ul>
  6. 6. Fokus Penelitian <ul><li>Bagaimana tanggapan konsumen terhadap advertising Sangobion. </li></ul><ul><li>Bagaimana tanggapan konsumen terhadap brand awareness Sangobion. </li></ul><ul><li>Bagaimana tanggapan konsumen terhadap keputusan pembelian Sangobion. </li></ul><ul><li>Seberapa besar pengaruh advertising terhadap pembentukan brand awareness Sangobion. </li></ul><ul><li>Seberapa besar pengaruh advertising terhadap brand awareness Sangobion </li></ul><ul><li>Seberapa besar pengaruh advertising terhadap keputusan pembelian Sangobion </li></ul>
  7. 7. Tujuan Penelitian <ul><li>Mengetahui tanggapan konsumen terhadap advertising Sangobion. </li></ul><ul><li>Mengetahui tanggapan konsumen terhadap brand awareness Sangobion. </li></ul><ul><li>Mengetahui tanggapan konsumen terhadap keputusan pembelian Sangobion. </li></ul><ul><li>Mengetahui seberapa besar pengaruh advertising terhadap pembentukan brand awareness Sangobion. </li></ul><ul><li>Mengetahui seberapa besar pengaruh advertising terhadap brand awareness Sangobion. </li></ul><ul><li>Mengetahui seberapa besar pengaruh advertising terhadap keputusan pembelian Sangobion. </li></ul>
  8. 8. Manfaat Penelitian <ul><li>Kegunaan Ilmiah </li></ul><ul><li>Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas salah satu kajian ilmu pemasaran yakni promosi, khususnya adverising yang meliputi televisi, radio, dan majalah dalam kaitannya dengan brand awareness serta dampaknya terhadap keputusan pembelian produk. </li></ul><ul><li>Kegunaan Praktis </li></ul><ul><li>Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi PT. Merck, Tbk dalam menggunakan advertising sebagai upaya untuk meningkatkan brand awareness serta keputusan pembelian konsumen dalam membeli Sangobion. </li></ul>
  9. 9. KAJIAN PUSTAKA <ul><li>Definisi pemasaran menurut Kotler (2005:10) adalah: </li></ul><ul><li>proses sosial yang dengan proses itu individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain. </li></ul><ul><li>Kotler (2005:17) mendefinisikan bauran pemasaran ( marketing mix ) sebagai berikut: </li></ul><ul><li>Seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar sasaran, alat-alat itu diklasifikasikan menadi empat kelompok yang luas yang terdiri dari empat P pemasaran: produk ( product ), harga ( price ), tempat ( place ), dan promosi ( promotion ). </li></ul>
  10. 10. <ul><li>Bauran komunikasi pemasaran menurut Kotler (2005:600) terdiri atas lima cara komunikasi utama: </li></ul><ul><li>Advertising : semua bentuk presentasi dan promosi non-personal yang memerlukan biaya tentang gagasan, barang atau jasa oleh sponsor yang jelas. </li></ul><ul><li>Personal Selling : presentasi personal oleh tenaga penjualan sebuah perusahaan dengan tujuan menghasilkan transaksi penjualan dan membangun hunungan dengan pelanggan. </li></ul><ul><li>Sales promotion : insentif-insentif jangka pendek untuk mendorong pembelian atau penjualan suatu produk atau jasa. </li></ul><ul><li>Public Relations : membangun hubungan baik dengan berbagai publik perusahaan dengan sejumlah cara supaya memperoleh publisitas yang menguntungkan, membangun citra perusahaan yang bagus, dan menangani atau meluruskan rumor, cerita, serta event yang tidak menguntungkan. </li></ul><ul><li>Direct Marketing : hubungan-hubungan langsung dengan masing-masing pelanggan yang dibidik secara seksama dengan tujuan baik untuk memperoleh tanggapan segera maupun untuk membina hubungan dengan pelanggan yang langgeng (penggunaan telepon, surat, fax, e-mail, internet, dan perangkat-perangkat lain untuk berkomunikasi secara langsung dengan konsumen tertentu). </li></ul>
  11. 11. <ul><li>Kotler (2005:658) mendefinisikan “ advertising adalah segala bentuk penyajian dan promosi ide, barang atau jasa secara non-personal yang dilakukan oleh perusahaan sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran”. </li></ul><ul><li>Adapun AMA ( American Marketing Association ) dalam Fandy Tjiptono (2001:226) mendefinisikan advertising adalah seluruh proses yang meliputi penyiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan advertising . </li></ul><ul><li>Dari pengertian-pengertian di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa advertising adalah semua bentuk penyajian non personal , promosi, ide-ide, promosi barang atau jasa yang merupakan keseluruhan proses yang meliputi penyiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan advertising . </li></ul><ul><li>Kemudian mengambil lima keputusan utama dalam pembuatan program advertising ini, yang dikenal dengan lima M (5M), yaitu: </li></ul><ul><li>Mission (misi), apakah tujuan advertising ? </li></ul><ul><li>Money (uang), berapa banyak yang dapat dibelanjakan? </li></ul><ul><li>Message (pesan), pesan apa yang harus disampaikan? </li></ul><ul><li>Media , media apa yang akan digunakan? </li></ul><ul><li>Meassurement (pengukuran), bagaimana mengevaluasi hasilnya? (Kotler, 2005:658) </li></ul>ADVERTISING
  12. 12. TUJUAN ADVERTISING YANG MUNGKIN Sumber: Philip Kotler (2005:641) Mempertahankan produk tersebut tetap ada di benak konsumen selama bukan musimnya Mempertahankan kesadaran produk tertinggi ( top of mind ) di benak konsumen Mengingatkan pelanggan bahwa produk itu mungkin diperlukan dalam waktu dekat Mengingatkan pelanggan dimana membeli produk tersebut Mengingatkan Membujuk pelanggan membeli sekarng Membujuk pelanggan untuk menerima kunjungan tenaga penjualan Menciptakan preferensi merek Mendorong pergantian ke merek anda Mengubah persepsi pelanggan tentang atribut produk Membujuk Menggambarkan layanan yang tersedia Mengoreksi kesan yang salah Menggurangi ketakutan pembeli Menciptakan citra perusahaan Menceritakan kepada pasar tentang produk baru Menganjurkan kegunaan baru produk tertentu Menginformasikan pasar tentang perubahan harga Menjelaskan cara harga produk Menginformasikan
  13. 13. <ul><li>Ekuitas merek menurut David Aaker (1991:22) adalah seperangkat asset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau pelanggan perusahaan. </li></ul><ul><li>Sedangkan menurut Kotler (2005:350) merek yang kuat mempunyai ekuitas merek yang tinggi, dan ekuitas merek yang tinggi memberikan perusahaan berbagai keuntungan bersaing. </li></ul><ul><li>Ekuitas merek menurut Darmadi Durianto (2004:4) adalah sebagai berikut: </li></ul><ul><li>Ekuitas merek ( Brand Equity ) adalah seperangkat asset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau pelanggan perusahaan. </li></ul><ul><li>Menurut E.Knapp (2001:2) Ekuitas merek adalah totalitas dari persepsi merek, mencakup kualitas relatif dari produk dan jasa, kinerja keuangan, loyalitas pelanggan, karyawan, dan semua stakeholder yang merasakan tentang merek </li></ul>EKUITAS MEREK
  14. 14. Kesan Kualitas Aset Merek yang lain Kesadaran Merek Sumber: David A. Aaker (1997:25) EKUITAS MEREK Assosiasi Merek EKUITAS MEREK Nama & Simbol Loyalitas Merek Memberikan nilai kepada pelanggan dengan menguatkan: Interpretasi/proses informasi Rasa percaya diri dalam keputusan pembelian Pencapaian kepuasan dari pelanggan Memberikan nilai kepada perusahaan dengan menguatkan: Efisiensi dan efektifitas program pemasaran Loyalitas merek Harga/laba Perluasan merek Peningkatan perdagangan
  15. 15. <ul><li>Menurut David Aaker dalam Darmadi Durianto (2004:4) mengatakan bahwa untuk mengukur ekuitas merek harus dilihat melalui lima dimensi yaitu: </li></ul><ul><ul><li>Brand Awareness (Kesadaran Merek): kesanggupan calon pembeli untuk mengenali, mengingat kembali suatu merek sebagai bagian dari suatu kategori produk tertentu. Masyarakat cenderung membeli merek yang sudah terkenal karena mereka merasa aman dengan sesuatu yang dikenal. </li></ul></ul><ul><ul><li>Perceived Quality (Kesan Kualitas): sebuah merek akan dikaitkan oleh sebuah persepsi kualitas tanpa perlu mendasarkan pengetahuan yang mendetail mengenai spesifikasi. Persepsi kualitas mungkin berwujud sesuatu yang berbeda untuk masing-masing tipe industri. </li></ul></ul><ul><ul><li>Brand Association (Asosiasi Merek): mencerminkan pencitraan suatu merek terhadap suatu kesan tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan, gaya hidup, manfaat, atribut produk, geografis, harga, pesaing, selebritis dan lain-lain. </li></ul></ul><ul><ul><li>Brand Loyalty (Loyalitas Merek): mencerminkan tingkat keterikatan konsumen dengan suatu merek produk. Bagi perusahaan adalah mahal untuk mendapatkan konsumen baru. Sebaliknya, relatif tidak mahal untuk memelihara konsumen yang sudah ada, terutama jika para konsumen itu sudah puas dan bahkan menyukai merek tersebut. </li></ul></ul><ul><ul><li>Other Proprietary Brand Assets : Aset-aset merek yang lainnya seperti paten, cap, saluran hubungan dan lain-lain. </li></ul></ul>EKUITAS MEREK
  16. 16. <ul><li>Brand awareness merupakan kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori merek tertentu (Aaker, 1996:90). </li></ul><ul><li>Terence A.Shimp (2003:11) mengemukakan bahwa brand awareness merupakan kemampuan sebuah merek untuk muncul dalam benak konsumen ketika mereka sedang memikirkan kategori produk tertentu dan seberapa mudahnya nama tersevut dimunculkan. </li></ul><ul><li>Menurut Rhenald Kasali (1999:378) awareness adalah: </li></ul><ul><li>Pengetahuan yang dimiliki konsumen tentang keberadaan produk. Biasanya dinyatakan dengan pernyataan-pernyataan seperti: Saya pernah mendengar, Saya pernah melihatnya, Saya pernah mencobanya, Saya tahu apa gunanya. </li></ul><ul><li>Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa brand awareness adalah sampai sejauh mana konsumen dapat mengenali dan menyadari tentang keberadaan suatu merek yang merupakan bagian dari kategori produk tertentu. </li></ul>BRAND AWARENESS
  17. 17. <ul><li>Tingkatan Brand Awareness menurut David A.Aaker (1997:92) </li></ul><ul><li>Unware of brand merupakan tingkat yang paling rendah dalam piramida kesadaran merek di mana konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek. </li></ul><ul><li>Brand recognition merupakan tingkat minimal dari kesadaran merek. Hal ini penting pada saat seorang pembeli memilih suatu merek pada saat melakukan pembelian. Pengakuan merek, didasarkan suatu tes pengingatan kembali lewat bantuan. Pengenalan merek adalah tingkat minimal dari kesadaran merek, hal ini penting khususnya ketika seorang pembeli memilih suatu merek pada saat pembelian. </li></ul><ul><li>Pada tingkat berikutnya adalah pengingatan kembali merek (brand recall). Pengingatan kembali merek didasarkan pada permintaan seseorang untuk menyebutkan merek tersebut dalam suatu kelas produk. Hal ini diistilahkan dengan pengingatan kembali tanpa bantuan, karena berbeda dari tugas pengenalan, responden tidak perlu dibantu untuk memunculkan merek tersebut. </li></ul><ul><li>Top of Mind merupakan tingkat tertinggi dari kesadaran merek. Apabila seseorang ditanya secara langsung tanpa diberi bantuan pengingatan dan ia dapat menyebutkan satu nama merek, maka merek yang paling banyak disebutkan pertama kali merupakan puncak pikiran. </li></ul>BRAND AWARENESS
  18. 18. <ul><li>Menurut Kotler (2005:221) tipe perilaku pembelian dapat dibedakan menjadi empat tipe, yaitu: </li></ul><ul><ul><li>Perilaku pembelian kompleks: perilaku pembelian konsumen dalam situasi yang bercirikan adanya keterlibatan konsumen yang sangat tinggi dalam membeli dan adanya persepsi yang signifikan mengenai perbedaan diantara merek. </li></ul></ul><ul><ul><li>Perilaku pembelian pengurangan disonansi: perilaku pembelian dalam situasi dimana pembeli mempunyai keterlibatan yang tinggi tetapi melihat hanya sedikit perbedaan merek. </li></ul></ul><ul><ul><li>Perilaku pembelian kebiasaan: suatu situasi dimana konsumen mempunyai keterlibatan rendah dan perbedaan yang tidak jauh diantara merek. </li></ul></ul><ul><ul><li>Perilaku pembelian pencarian variasi: perilaku pembelian konsumen dalam situasi dimana konsumen mempunyai tingkat keterlibatan yang rendah tetapi mempersepsikan adanya perbedaan merek yang signifikan. </li></ul></ul>PERILAKU KONSUMEN
  19. 19. <ul><ul><li>Menurut Schiffman dan Kanuk (2000:560) istilah model konsumen menunjukkan kepada cara pandang umum terhadap bagaimana dan mengapa individu berperilaku seperti yang ditampilkannya, terdapat 4 (empat) pandangan yaitu: ekonomis (economic) , pasif (passive) , mengamati (cognitive) , dan emosional (emotional). </li></ul></ul><ul><ul><li>Economic Man . Dalam persaingan sempurna, konsumen sering digolongkan sebagai economic man , yaitu seorang yang membuat keputusan secara rasional. </li></ul></ul><ul><ul><li>Passive Man . Sebagai konsumen dari keterangan nomor satu diatas, passive man digambarkan sebagai konsumen yang patuh terhadap keinginan dan promosi dari pemasar. </li></ul></ul><ul><ul><li>Cognitive Man . Model ini memfokuskan pada proses konsumen dalam mencari dan mengevaluasi merek dan toko eceran. </li></ul></ul><ul><ul><li>Emotional Man . Pada saat melakukan pembelian secara emosional cenderung memperhatikan dan mencari informasi lebih memperhatikan pada perasaan dan suasana hati. </li></ul></ul>PERILAKU KONSUMEN
  20. 20. <ul><ul><li>LIMA TAHAP PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN </li></ul></ul><ul><ul><li>(Kotler 2005:224) </li></ul></ul><ul><ul><li>Pengenalan masalah. Proses pembelian dimulai saat konsumen mengenali sebuah masalah atau kebutuhan. Kebutuhan konsumen dapat dipengaruhi oleh rangsangan internal atau rangsangan eksternal. </li></ul></ul><ul><ul><li>Pencarian informasi. Setelah mengenali kebutuhannya, maka konsumen akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Situasi pencarian informasi yang lebih ringan dinamakan perhatian yang menguat. Pada tingkat ini seseorang hanya menjadi lebih peka terhadap informasi tentang produk. Pada tingkat selanjutnya, konsumen itu mungkin memasuki pencarian aktif informasi yaitu mencari bahan bacaan, menelepon teman, dan mengunjungi toko untuk mempelajari produk. </li></ul></ul>
  21. 21. <ul><ul><li>LIMA TAHAP PROSES KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN </li></ul></ul><ul><ul><li>(Kotler 2005:224) </li></ul></ul><ul><ul><li>3. Evaluasi alternatif. Tidak ada proses evaluasi tunggal sederhana yang digunakan oleh semua konsumen atau oleh satu konsumen dalam semua situasi pembelian. Terdapat beberapa proses evaluasi keputusan, dan model-model yang terbaru memandang proses evaluasi konsumen sebagai proses yang berorientasi kognitif. Yaitu, model tersebut menganggap konsumen membentuk penilaian atas produk terutama secara sadar dan rasional. </li></ul></ul><ul><ul><li>4. Keputusan pembelian. Dalam tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi atas merek-merek dalam kumpulan pilihan. Konsumen juga mungkin membentuk niat untuk membeli produk yang paling disukai. </li></ul></ul><ul><ul><li>5. Perilaku pascapembelian. Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami level kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Tugas pemasar tidak berakhir saat produk dibeli, melainkan berlanjut hingga periode pascapembelian. Pemasar harus memantau kepuasan pascapembelian, tindakan pascapembelian, dan pemakaian pascapembelian. </li></ul></ul>
  22. 22. Cara Meneliti <ul><li>Orientasi </li></ul><ul><li>Perencanaan </li></ul><ul><li>Pengumpulan Data </li></ul><ul><li>Penggunaan dan Pengolahan data </li></ul><ul><li>Sintesa dan Interpretasi data </li></ul><ul><li>Evaluasi dan Follow up </li></ul>
  23. 23. METODE PENELITIAN <ul><li>Penelitian ini menggunakan pendekatan manajemen pemasaran khususnya mengenai pengaruh advertising terhadap pembentukan brand awareness serta dampaknya pada keputusan pembelian </li></ul><ul><li>Adapun yang menjadi objek penelitian ini sebagai variabel bebas (independent variable) atau variabel eksogen adalah advertsing yang terdiri atas tujuan, frekuensi, daya tarik, keefektifan, dan ketepatan media serta brand awareness yang terdiri atas unware of brand, brand recognation, brand recall, dan top of mind. </li></ul><ul><li>Berdasarkan objek penelitian tersebut, maka akan dianalisis mengenai pengaruh advertising terhadap pembentukan brand awareness serta dampaknya pada keputusan pembelian Sangobion di Desa Sayati Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung. </li></ul><ul><li>Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data, dan fungsinya sebagai pendukung tugas penelitian sebagai instrumen. Dengan demikian kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subyek atau informan. </li></ul><ul><li>Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey explanatory , yaitu penelitian survey yang digunakan untuk menjelaskan hubungan kausal dan pengujian hipotesis </li></ul>
  24. 24. Teknik Analisis Data <ul><li>Reduksi Data </li></ul><ul><li>Penyajian Data </li></ul>
  25. 25. Reduksi Data <ul><li>Reduksi data sebagai suatu proses pemilihan, memfokuskan pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data mentah/kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan </li></ul>
  26. 26. Penyajian Data <ul><li>Penyajian data merupakan proses pemberian sekumpulan informasi yang sudah disusun yang memungkinkan untuk penarikan kesimpulan. </li></ul>
  27. 27. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi <ul><li>Pada penelitian kualitatif, verifikasi data dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian dilakukan . Sejak pertama masuk ke lapangan dan selama proses pengumpulan data, peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan, yaitu mencari pola tema, hubungan persamaan, hipotesis dan selanjutnya dituangkan dalam bentuk kesimpulan tentatif. </li></ul><ul><li>Dalam tahapan untuk menarik kesimpulan dari kategori-kategori data yang telah direduksi dan disajikan untuk selanjutnya menuju kesimpulan akhir mampu menjawab permasalahan yang dihadapi. Tetapi dengan bertambahnya data melalui verifikasi secara terus menerus, maka diperoleh kesimpulan yang bersifat grounded. </li></ul>
  28. 28. Uji Keabsahan Data <ul><li>Untuk menguji keabsahan data atau kebenaran hasil wawancara, pengamatan dan dokumentasi, dipergunakan teknik ketekunan pengamatan. Yaitu dengan mengamati faktor-faktor yang ditelaah sesuai dengan fokus penelitian ini </li></ul>
  29. 29. SEKIAN PENELITI MOHON MASUKAN AGAR PROPOSAL INI MENJADI LEBIH BAIK

×