Departementalisasi bop 13 des 2011

9,242 views

Published on

Akuntansi biaya manajemen 2010

Published in: Education
  • Be the first to comment

Departementalisasi bop 13 des 2011

  1. 1. Departementalisasi Biaya Overhead Pabrik
  2. 2. Pengertian <ul><li>Departementalisasi BOP adalah pembagian pabrik ke dalam bagian-bagian yang disebut departemen atau pusat biaya yg dibebani BOP. </li></ul><ul><li>Departementalisasi BOP bermanfaat untuk pengendalian biaya dan ketelitian penentuan harga pokok produk </li></ul>
  3. 3. <ul><li>Penyusunan anggaran BOP per departemen. </li></ul><ul><li>Alokasi BOP departemen pembantu ke departemen produksi. </li></ul><ul><li>Perhitungan tarif pembebanan BOP per departemen. </li></ul>Langkah-langkah Penentuan Tarif BOP per Departemen
  4. 4. Penggolongan B.FOH <ul><li>Berdasarkan sifatnya </li></ul><ul><li>Berdasarkan perilakunya yang berhubungan dengan perubahan volume kegiatan </li></ul><ul><li>Berdasarkan hubungannya dengan departemen </li></ul>
  5. 5. <ul><li>Penyusunan anggaran BOP per departemen dibagi menjadi 4 tahap utama yaitu : </li></ul>Penyusunan Anggaran BOP per Departemen <ul><li>Penaksiran BOP-langsung departemen atas dasar kapasitas yg direncanakan untuk tahun anggaran. </li></ul><ul><li>Penaksiran BOP-tak langsung departemen. </li></ul><ul><li>Distribusi BOP-tak langsung departemen ke departemen-departemen yg menikmatinya </li></ul><ul><li>Menjumlah seluruh BOP per departemen untuk mendapatkan BOP per departemen. </li></ul>
  6. 6. <ul><li>Metode yang dapat digunakan dalam pengalokasian BOP : </li></ul><ul><li>Metode Alokasi Langsung (Direct Allocation Method) </li></ul><ul><li>Metode Alokasi Bertahap (Step Method) : </li></ul><ul><li>Metode alokasi yg memperhitungkan transfer jasa timbal balik antar departemen pembantu : </li></ul><ul><li>- Metode Alokasi Kontinyu </li></ul><ul><li>- Metode Aljabar </li></ul><ul><li>Metode Alokasi yg tidak memperhitungkan transfer jasa timbal balik antar departemen pembantu : </li></ul><ul><li>- Metode Urutan Alokasi yg diatur </li></ul>Alokasi BOP Departemen Pembantu ke Departemen Produksi
  7. 7. <ul><li>Tarif pembebanan BOP dihitung dengan cara membagi total BOP departemen produksi setelah menerima alokasi BOP dari departemen pembantu, dengan dasar pembebanan yang digunakan. </li></ul>Perhitungan Tarif Pembebanan BOP
  8. 8. <ul><li>Langkah-langkah yg harus ditempuh dalam melakukan pembandingan antara BOP dibebankan dg BOP-S : </li></ul><ul><li>Mengumpulkan jml tiap jenis BOP-S dalam masing-masing departemen selama tahun anggaran. </li></ul><ul><li>Mengumpulkan data sesungguhnya yg berhubungan dg dasar distribusi dan alokasi BOP. </li></ul><ul><li>Mengalokasikan BOP-S departemen pembantu. </li></ul><ul><li>Mencari selisih BOP. </li></ul><ul><li>Menganalisis selisih BOP per departemen. </li></ul>Analisis Selisih BOP per Departemen
  9. 9. <ul><li>Pembebanan BOP kepada produk atas dasar tarif yg ditentukan di muka </li></ul>Akuntansi BOP ( Metode Full Costing ) BDP-BOP Dept. A xxxx BDP-BOP Dept. B xxxx BOP dibebankan Dept. A xxxx BOP dibebankan Dept. B xxxx
  10. 10. <ul><li>Pengumpulan BOP-S yang terjadi </li></ul>BOP-S xxxx Berbagai rekening dikredit xxxx BOP-S Dept. A xxxx BOP-S Dept. B xxxx BOP-S Dept. X xxxx BOP-S xxxx Pemindahan BOP-S ke Rek. BOP-S per Dept.
  11. 11. <ul><li>Alokasi BOP Dept. Pembantu ke Dept. Produksi </li></ul>BOP-S Dept. A xxxx BOP-S Dept. B xxxx BOP-S Dept. X xxxx <ul><li>Penutupan Rek. BOP yg dibebankan ke Rek. BOP-S </li></ul>BOP dibebankan Dept. A xxxx BOP dibebankan Dept. B xxxx BOP-S Dept. A xxxx BOP-S Dept. B
  12. 12. <ul><li>Penentuan BOP yang kurang atau lebih dibebankan </li></ul>Over/Under upplied BOP Dept. A xxxx Over/Under upplied BOP Dept. B xxxx BOP-S Dept. A xxxx BOP-S Dept. B xxxx
  13. 13. <ul><li>Pembebanan BOP kepada produk atas dasar tarif yg ditentukan di muka </li></ul>Akuntansi BOP ( Metode Variable Costing ) BDP-BOP-V Dept. A xxxx BDP-BOP-V Dept. B xxxx BOP-V dibebankan Dept. A xxxx BOP-V dibebankan Dept. B xxxx Bartlett Corporation Schedule of Cost of Goods Manufactured For the Year Ended December 31, 2002
  14. 14. <ul><li>Pengumpulan BOP-S yang terjadi </li></ul>BOP-S Dept. A xxxx BOP-S Dept. B xxxx BOP-S Dept. X xxxx Berbagai rekening dikredit xxxx BOP-V sesungguhnya Dept. A xxxx BOP-T sesungguhnya Dept. A xxxx BOP-S Dept. A xxxx Dst….. Pemisahan BOP
  15. 15. <ul><li>Alokasi BOP Dept. Pembantu ke Dept. Produksi </li></ul>BOP-V sesungguhnya Dept. A xxxx BOP-V sesungguhnya Dept. B xxxx BOP-V sesungguhnya Dept. X xxxx BOP-T sesungguhnya Dept. A xxxx BOP-T sesungguhnya Dept. B xxxx BOP-T sesungguhnya Dept. X xxxx
  16. 16. <ul><li>Penutupan Rek. BOP-V dibebankan ke Rek. BOP-V sesungguhnya </li></ul>BOP-V dibebankan Dept. A xxxx BOP-V dibebankan Dept. B xxxx BOP-V sesungguhnya Dept. A xxxx BOP-V sesungguhnya Dept. B xxxx <ul><li>Penutupan Rek. BOP-V dan BOP-T sesungguhnya ke Rek. Laba Rugi </li></ul>Laba-Rugi xxxx BOP-V/T sesungguhnya Dept. A xxxx BOP-V/T sesungguhnya Dept. B xxxx
  17. 17. B. Bahan Penolong <ul><li>Bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau meskipun menjadi bagian dari produk jadi tetapi nilainya relatif kecil dibandingkan dengan HP.Produksi </li></ul><ul><li>Contoh : </li></ul><ul><li>Pada perusahaan percetakan : perekat, tinta koreksi, pita mesin ketik </li></ul><ul><li>Pada perusahaan kue : pewarna makanan, pemanis buatan, ragi, soda kue dll. </li></ul>
  18. 18. B. Reparasi Dan Pemeliharaan <ul><li>Meliputi biaya untuk suku cadang, biaya bahan habis pakai dan harga perolehan jasa dari pihak luar perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan aktiva yang dimiliki oleh perusahaan seperti gedung, laboratorium dsb. </li></ul>
  19. 19. B. TK Tdk Langsung <ul><li>TKTL adalah TK pabrik yang upahnya tidak diperhitungkan secara langsung kepada produk atau pesanan tertentu. </li></ul><ul><li>Biaya TKTL meliputi upah, tunjangan dan biaya kesejahteraan </li></ul><ul><li>TKTL meliputi karyawan yang bekerja dalam departemen pembantu dan karyawan tertentu yang bekerja dalam departemen produksi </li></ul>
  20. 20. Biaya Yang Ada Karena Penilaian Terhadap Aktiva <ul><li>Biaya depresiasi/penyusutan aktiva tetap yang dimiliki perusahaan </li></ul><ul><li>Contoh : Penyusutan gedung, mesin dsb. </li></ul>Biaya Yang Ada Karena Berlalunya Waktu <ul><li>Biaya asuransi </li></ul><ul><li>Contoh : asuransi gedung, asuransi kecelakaan Karyawan dsb </li></ul>
  21. 21. B.FOH Lain Yang Secara Langsung Memerlukan Pengeluaran Uang Tunai <ul><li>B.reparasi yang diserahkan kepada pihak luar perusahaan </li></ul><ul><li>Contoh : biaya listrik PLN </li></ul>
  22. 22. B.FOH Berdasarkan perilakunya yang berhubungan dengan perubahan volume kegiatan <ul><li>B.FOH tetap </li></ul><ul><li>B.FOH variabel </li></ul><ul><li>B.FOH semivariabel : B.FOH yang besarnya berubah tidak sebanding dengan volume kegiatan, biasanya langsung dipecah menjadi variabel dan tetap </li></ul>
  23. 23. B.FOH Berdasarkan hubungannya dengan departemen <ul><li>Akan ada jika perusahaan memiliki departemen lain (departemen pembantu) selain departemen produksi </li></ul><ul><li>Dibagi menjadi 2 : </li></ul><ul><li>B.FOH langsung departemen : B.FOH yang terjaadi pada departemen tertentu dan hasilnya hanya dirasakan oleh departemen tersebut </li></ul><ul><li>Contoh : gaji mandor departemen produksi, penyusutan mesin dan biaya bahan penolong </li></ul><ul><li>B.FOH tidak langsung departemen :B.FOH yang hasilnya dinikmati lebih dari satu departemen </li></ul><ul><li>Contoh : pemeliharaan dan asuransi gedung pabrik yang digunakan oleh beberapa departemen </li></ul>
  24. 24. Penentuan Tarif B.FOH <ul><li>Alasan pembebanan B.FOH pada produk bdsk tarif di muka : </li></ul><ul><ul><li>Jika FOH yang sesungguhnya terjadi dibebankan kepada produk maka akan menyebabkan HP Produksi per satuan menjadi berfluktuasi </li></ul></ul><ul><ul><li>Manajemen memerlukan informasi HP Produksi per satuan pada saat pesanan selesai dikerjakan, padahal ada elemen B.FOH yang baru bisa diketahui setelah akhir bulan atau akhir tahun, misalnya biaya listrik dan air. </li></ul></ul>
  25. 25. Penyebab terjadinya Fluktuasi HP Produksi per satuan <ul><li>Perubahan tingkat produksi dari bulan ke bulan </li></ul><ul><li>Perubahan tingkat efisiensi produksi </li></ul><ul><li>Adanya B.FOH yang terjadi secara sporadik, menyebar secara tidak merata selama jangka waktu satu tahun </li></ul><ul><li>B.FOH tertentu sering terjadi secara teratur pada waktu-waktu tertentu </li></ul>
  26. 26. Tahapan Penyusunan Tarif FOH <ul><li>Menyusun anggaran B.FOH </li></ul><ul><li>Memilih dasar pembebanan B.FOH pada produk </li></ul><ul><li>Menghitung tarif B.FOH </li></ul>
  27. 27. Hal –hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan anggaran B.FOH <ul><li>Kapasitas teoritis : kapasitas pabrik atau departemen untuk menghasilkan produk dalam kecepatan penuh tanpa berhenti selama jangka waktu tertentu. </li></ul><ul><li>Kapasitas praktis : kapasitas teoritis dikurangi dengan kerugian-kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena hambatan-hambatan internal perusahaan (masih belum memperhitungkan hambatan eksternal). </li></ul>
  28. 28. <ul><li>Kapasitas normal : kemampuan perusahaan dalam memproduksi dan menjual produknya dalam jangka panjang. </li></ul><ul><li>Kapasitas sesungguhnya yang diharapkan: </li></ul><ul><ul><li>Kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan bisa dicapai oleh perusahaan dalam tahun yang akan datang </li></ul></ul><ul><ul><li>Merupakan pendekatan jangka pendek yang biasanya menyebabkan penggunaan tarif yang berbeda dari periode ke periode. </li></ul></ul>
  29. 29. Kelemahan penggunaan kapasitas sesungguhnya sbg dasar tarif FOH <ul><li>Menyebabkan perbedaan tarif FOH yang besar dari tahun ke tahun. </li></ul><ul><li>Contoh : perusahaan yang menggunakan peralatan yang serba otomatis (FOH tetapnya relatif besar) sehingga penjualannya cenderung fluktuatif </li></ul><ul><li>2. Biaya karena kapasitas mengganggur menjadi diperhitungkan dalam HP.Produksi yang bisa mempengaruhi keputusan manajemen </li></ul><ul><li>Contoh : bila ada hubungan antara HP dengan harga jual produk maka pada periode yang kapasitasnya menganggur HP dan harga jual akan lebih tinggi dan manajemen akan kesulitan untuk menjual produk </li></ul>
  30. 30. Pemilihan Dasar Pembebanan Biaya FOH <ul><li>Satuan produk </li></ul><ul><li>Biaya Bahan Baku </li></ul><ul><li>Biaya TKL </li></ul><ul><li>Jam TKL </li></ul><ul><li>Jam mesin </li></ul>Faktor yg harus diperhatikan dalam Pembebanan Biaya FOH <ul><li>Jenis Biaya FOH yang jumlahnya paling dominan dalam departemen produksi </li></ul><ul><li>Sifat-sifat Biaya FOH yang dominan dan keeratan hubungan sifat tersebut dengan dasar pembebanan yang akan dipakai </li></ul>
  31. 31. Pembebanan Biaya FOH Berdasarkan Satuan Produk <ul><li>Merupakan metode yang paling sederhana dan yang langsung membebankan B.FOH pada produk </li></ul><ul><li>Cocok untuk perusahaan yang hanya memproduksi satu macam produk. </li></ul><ul><li>Contoh : Ada 20 jenis B.FOH dan yang jumlahnya relatif besar adalah B.Asuransi Bhn.Baku. </li></ul><ul><li>B.FOH dibebankan pada produk atas dasar B.BB yang dipakai masing-masing produk, karena B.Asuransi sifatnya bervariasi jumlahnya dengan HP BB yang diasuransikan (B.FOH berhubungan erat dengan HP BB) </li></ul>
  32. 32. Rumus Biaya FOH Berdasarkan Satuan Produk <ul><li>Tarif FOH per satuan : </li></ul><ul><li>Taksiran B.FOH </li></ul><ul><li>Taksiran jumlah satuan produk yang dihasilkan </li></ul><ul><li>Contoh : </li></ul><ul><li>Taksiran B.FOH selama 1 tahun = Rp 5.000.000 </li></ul><ul><li>Taksiran jumlah produk yang dihasilkan selama tahun anggaran = 10.000 </li></ul><ul><li>Tarif FOH = Rp 5.000.000/10.000 = Rp 500 per unit produk </li></ul>
  33. 33. Pembebanan Biaya FOH Berdasarkan Biaya Bahan Baku <ul><li>Semakin besar B.BB yang dikeluarkan maka B.FOH nya juga semakin besar </li></ul>
  34. 35. Pembebanan Biaya FOH Berdasarkan Biaya Tenaga Kerja <ul><li>Jika sebagian besar B.FOH berhubungan erat dengan upah TKL </li></ul><ul><li>Kelemahan: </li></ul><ul><ul><li>B.FOH harus dilihat sbg tambahan nilai produk sedangkan tambahan nilai sering disebabkan karena biaya depresiasi aktiva tetap yang mempunyai harga pokok tinggi yang tidak mempunyai hubungan dengan BTKL </li></ul></ul><ul><ul><li>Jumlah BTKL mrpk total upah dgn tarif tinggi dan rendah, jika pekerjaan dikerjakan oleh karyawan tarif tinggi maka FOHnya akan tinggi dan sebaliknya. </li></ul></ul>
  35. 37. Pembebanan Biaya FOH Berdasarkan Jam Tenaga Kerja Langsung <ul><li>Jika sebagian besar B.FOH berhubungan erat waktu untuk membuat produk </li></ul>
  36. 39. Pembebanan Biaya FOH Berdasarkan Jam Mesin <ul><li>Jika sebagian besar B.FOH bervariasi dengan penggunaan mesin </li></ul>
  37. 41. Perhitungan Tarif FOH <ul><li>Contoh : PT. Mutiara Kasih memproduksi produknya berdasarkan pesanan. Dalam penentuan tarif B.FOH telah disusun B.FOH (lihat tabel). B.FOH dibebankan pada produk berdasarkan jam mesin. Anggaran B.FOH disusun pada kapasitas normal sebanyak 80.000 jam mesin. </li></ul>
  38. 42. Anggaran B.FOH
  39. 43. Perhitungan Tarif FOH
  40. 44. Pembebanan B.FOH pada produk dengan Metode Full Costing <ul><li>Berdasarkan contoh, misal PT. Mutiara Kasih menerima 100 Macam Pesanan dan menghabiskan waktu pengerjaan sebanyak 75.000 jam dalam tahun 20XX, maka biaya FOH yang dibebankan pada produk adalah Rp 10.500.000,- (Rp 140 per jam x 75.000 jam) </li></ul><ul><li>Jurnalnya : </li></ul><ul><li>Barang dalam proses-B.FOH Rp 10.500.000 </li></ul><ul><li>Biaya FOH dibebankan Rp 10.500.000 </li></ul>
  41. 45. Pembebanan B.FOH pada produk dengan Metode Variable Costing <ul><li>Berdasarkan contoh, misal PT. Mutiara Kasih maka biaya FOH yang dibebankan pada produk adalah Rp 5.437.500,- (Rp 72,5 per jam x 75.000 jam)* </li></ul><ul><li>* Dalam Variabel Costing yang dibebankan hanya biaya yang bersifat variabel saja. </li></ul><ul><li>Jurnalnya : </li></ul><ul><li>Barang dalam proses-B.FOH Rp 5.437.500,- Biaya FOH Variabel dibebankan Rp 5.437.500,- </li></ul>
  42. 46. Pengumpulan B.FOH Sesungguhnya <ul><li>Digunakan untuk membandingkan dengan FOH yang dibebankan berdasarkan tarif (untuk mengetahui selisihnya, apakah kurang aatau berlebih). </li></ul>
  43. 47. Pengumpulan B.FOH Sesungguhnya
  44. 48. Pengumpulan B.FOH Sesungguhnya Metode Full Costing
  45. 49. Pengumpulan B.FOH Sesungguhnya Metode Variabel Costing
  46. 50. Perhitungan & Analisis Selisih B.FOH Metode Full Costing
  47. 51. Perhitungan & Analisis Selisih B.FOH Metode Full Costing (Jurnal)
  48. 52. Perhitungan & Analisis Selisih B.FOH Metode Full Costing (Selisih Anggaran)
  49. 53. Perhitungan & Analisis Selisih B.FOH Metode Full Costing (Selisih Anggaran)
  50. 54. Perhitungan & Analisis Selisih B.FOH Metode Full Costing (Selisih Kapasitas I)
  51. 55. Perhitungan & Analisis Selisih B.FOH Metode Full Costing (Selisih Kapasitas II)
  52. 56. Perhitungan & Analisis Selisih B.FOH Metode Full Costing (Selisih Kapasitas III)
  53. 57. Perhitungan & Analisis Selisih B.FOH Metode Variabel Costing
  54. 58. Perhitungan & Analisis Selisih B.FOH Metode Variabel Costing (Jurnal)
  55. 59. Perlakuan Terhadap Selisih FOH
  56. 60. Perlakuan Terhadap Selisih FOH (Metode I)
  57. 61. Perlakuan Terhadap Selisih FOH (Pembagian Selisih)
  58. 62. Perlakuan Terhadap Selisih FOH (Jurnal & Metode II)
  59. 63. The End

×