Ketika cahayahidayahmenerangikalbu

2,072 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,072
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
73
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Ketika cahayahidayahmenerangikalbu

  1. 1. Ketika Cahaya Hidayah Menerangi Qalbu (How Islam Touched Their Hearts) Oleh Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil (London) Madinah Al-Munawwarah Alih bahasa Ir. Gusti Noor Barliandjaja Editor Muhammad Arifin M. A. (Madinah) Converted to PDF byIr. H. Ismail Umar (Ad Dauhah Qatar)
  2. 2. Author Imtiaz AhmadCitizenship AmericanDegrees M. Sc., M. Phil (London)Experience * Head of Physics Department. Government Degree College Islamabad, Pakistan. * Principal Islamic Schools in America. * General Manager, Mercy International.U. S. A. * Founder of Tawheed center of Farmington Hills, Michigan and Tawheed Center of Detroit, Michigan, U. S. A. * Consultant, Arabian Advanced Systems, Saudi Arabia.Author’s Address: P.O.Box: 4321, Madina Munawwara, Saudi Arabia E-Mail: mezaan22@hotmail.com Web site: www.imtiazahmad.com Send Questions in Indonesian Language to gusti_noor@yahoo.com© Imtiaz Ahmad, 2006 King Fahd National Library Cataloging-in-Publication Data Ahmad, Imtiaz Ketika cahaya hiadayah menerangi Qalbu /A. A. Imtiaz Al-Madinah Al-Munawarah 2006 84 Pages - 14 × 21 cm ISBN: 9960-52-321-7 1- Muslim converts 1- Title 213 dc 1427 / 488 Legal Deposit No. 1427 / 488 ISBN: 9960-52-321-7 AL-RASHEED PRINTERS, Madina Munawwara – P.O. Box: 1101 Tel. 00966-4-8368382 – Fax: 8383426 2
  3. 3. DAFTAR ISI- Daftar Isi 3- Pendahuluan 4- Abdullah (Seorang Serdadu US Army yang memeluk Islam) 6- James Abiba (Remaja Amerika yang menemukan Islam) 11- Kathy (Pemudi Amerika; memeluk Islam setelah membaca terjemahan Al-Qur’an) 14- Rehana (Perilaku Islami anak-anaknya yang Muslim mengubah sikap kakek-nenek mereka) 16- Imam Siraj Wahaj (Seorang Muslim Amerika; Singa Allah) 19- Susan (Seorang ibu yang bersama anak-anaknya menampakkan ciri-ciri Islam dalam kehidupan sehari-hari) 22- Dr. Najat (Liku-liku dokter Hindu yang masuk Islam dan melayani komunitas Muslim tanpa pamrih) 25- Jim (Kisah Perjalanan pemuda bersama kekasihnya yang Budha menuju Islam) 29- Renda Toshner (Seorang Arsitek keturunan Turki Amerika; Syuhada Bosnia) 34- Pengatar Khusus Edisi-3 39- Donald Flood (Instruktur Bahasa Inggris dari Amerika) 41- Joe Paul Echon (Insinyur Komputer dari Filipina) 59- Ibrahim Sulieman (Mahasiswa studi Agama dari Nigeria) 68- Janet Rose (Seorang guru di Canada) 72- Timothy Sensinyi (Seorang Mahasiswa bidang Bisnis dari Kerajaan Lesotho) 74- Surat dari Zulia Muhammed, Nigeria 81- Ayat-Ayat Qur’an 83 3
  4. 4. PENDAHULUAN Dua puluh enam tahun bermukim di Amerika Serikat, telah sayadapatkan keleluasaan sekaligus kesempatan yang berharga untuk banyakbergaul dengan para warga Muslim Amerika, baik secara peroranganmaupun juga bersama-sama keluarganya. Pengalaman ini begitumengilhami dan semakin memperkuat iman didalam dada saya. Saya akui,seperti juga para imigran Muslim lain di sana, saya jalani kehidupansebagai seorang Muslim dengan lebih baik daripada ketika kami masihberada di negri sendiri. Keadaan ini terdorong oleh para Mualaf (muslimbaru) setempat yang patut saya banggakan dan hargai. Sebagian besarmereka, dibanding diri saya sendiri, sangat tinggi pengetahuannya tentangIslam dan, begitu pula pengamalan ajaran Islam. Semoga Allah SWTmemberi saya kesempatan mengejar kertertinggalan saya dari mereka. Sebagian besar dari para insan Muslim yang kisahnya disajikandisini merupakan anggota masyarakat Muslim biasa-biasa saja di AmerikaUtara. Namun apa yang telah mereka lakukan itu, saya rasakan adanyapengaruh yang amat besar terhadap diri mereka sendiri dan orang-orangdisekeliling mereka. Kepahlawanan itulah, walaupun bersifat lokal, perluuntuk kita kenali. Ini merupakan perubahan positif ditataran akar-rumputmasyarakat Amerika, yang membuat heran bahkan mengagetkan parapenganut agama lain disana. Sebagai contoh, banyak dari para narapidanayang sangat kejam telah berubah menjadi warga negara berperilaku baikdan anggota masyarakat yang cinta damai, setelah mereka menerima Islamdalam kehidupan mereka. Para mualaf Amerika ini adalah cahaya hidayahbagi Muslim dan Non-Muslim. Diam-diam, mereka telah menghiasimasyarakat Amerika dengan perilaku mereka yang amat mengesankan. Pada waktu itu saya adalah guru matematika di sebuah SekolahNegeri di Maryland. Menjadi guru adalah pekerjaan yang menguras tenagadan pikiran. Banyak guru yang menjadi sangat kelelahan karenanya.Biasanya para anggota Departemen Matematika mengadakan acara makansiang bersama seluruh anggota pada akhir semester. Kami menamakanacara ini “Proses Pengenduran”. Kami selalu menghidangkan masakanyang kami masak sendiri, yang dikenal dengan nama Sloopy Joe, dagingsapi giling yang dimasak dengan saus tomat dan cabai halus. Hidangan inidimasak di Departemen kami menggunakan pemasak yang diatur lambatpemanasannya. Rekan-rekan kami sangat menyukai ‘sloopy joe’ ini. Suatukali, saya mengumumkan keras-keras bahwa sayalah yang akanmenyediakan daging sapi giling untuk acara mendatang. Semua rekansangat setuju. Ketika waktunya telah tiba, saya terlibat percakapan yangsangat berharga dengan seorang kolega; Namanya Cindy; ia beragamaYahudi. Dalam pembicaraan itu saya mengatakan kepadanya, “Tidakkah 4
  5. 5. kamu merasa beruntung aku bawakan daging sapi giling untuk kita semua,yang halal bagi kita berdua?” Diluar dugaan, ia menjawab, “Tuan Ahmad,saya ini bukan Yahudi yang taat, bahkan saya pun memakan daging babi.”Maka saya pun tidak melanjutkan membahas hal ini agar terhindar dari halyang peka. Cindy dan saya memiliki perhatian yang sama dalam hal perumahankarena kami berdua juga sama-sama berprofesi sebagai Tenaga PenjualanPerumahan yang terdaftar. Cindy bekerja pada kantor perantara penjualanreal-estate milik suaminya. Ia mengatakan bahwa keadaan pasar real-estatecukup baik. Ia pun menceritakan bahwa ia harus lebih sering mengurusiusaha suaminya itu, mengingat bahwa suaminya adalah seorang Perwiraberpangkat Kolonel yang berdinas di Pentagon; Markas Besar MiliterAmerika Serikat. Saya katakan kepadanya, “Cindy, kenapa kamu tidakpernah muncul bertugas dalam kegiatan sore di sekolah kita, seperti acarapertandingan bola basket ataupun kegiatan olah raga yang lain?” Iapunmenjawab dengan nada berani, “Kepala Sekolah tidak bisa mewajibkansaya mengerjakan tugas itu karena saya harus mengantarkan anak-anaksaya dan juga anak-anak tetangga saya ke Sekolah Ibrani (sekolah agamaYahudi) tiga kali seminggu di hari kerja. Ini merupakan kegiatan tambahandiluar kegiatan rutin pelayanan keagamaan. Saya lakukan ini secarasukarela sejak beberapa tahun terakhir.” Betapa Cindy telah mengejutkan saya. Diam-diam, Sayapunberbicara kepada diri sendiri; perhatikanlah perempuan muda ini. Iaseorang guru purna-waktu yang setiap hari kerja menyetir mobil sendirimenempuh perjalanan dari rumah ke sekolah selama empat puluh limamenit sekali jalan. Selain itu ia masih bekerja paruh-waktu sebagai agenpenjualan real-estate. Diluar itu semua, ia adalah seorang perempuanberkeluarga lazimnya, yang lengkap dengan kehidupan rumah-tangga dankegiatan sosial. Sungguhpun begitu ia masih sanggup meluangkan waktudan mengikatkan-diri (berkomitmen) dengan sukarela melayani kegiatansekolah agamanya. Walaupun begitu, ia masih menganggap dirinyasebagai pemeluk Yahudi yang buruk. Sayapun mulai mempertanyakan, adakah komitmen pribadi saya,dan orang-orang di sekitar saya yang merasa telah menjadi Muslim yangshalih. Semoga Allah SWT mengokohkan Iman dan Amaliyah kamisebagai Muslim. Amiin. Imtiaz Ahmad, Madinah Al-Munawwarah, Juni 2002 5
  6. 6. Cahaya Hidayah di Perang Teluk….. ABDULLAH Ketika itu ia adalah seorang pemuda tamatan Sekolah Menengah.Berdinas aktif di US Army (Angkatan Darat Amerika Serikat) selamabeberapa tahun, dimana ia memperoleh kesempatan belajar beberapakemampuan teknis. Kini ia menghidupi diri dan keluarganya denganmenggeluti usaha jasa perbaikan mesin fotocopy dan mesin fax. Sungguh menarik menyimak kisah awal mula Abdullah memelukIslam. Namun jauh lebih menarik mengetahui bagaimana ia menyusuriproses Islamisasi diri. Ketika pecah Perang Teluk yang melibatkanPasukan Amerika Serikat dengan Pasukan Irak, ia ditempatkan di SaudiArabia. Suatu hari ia sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar Saudi.Di sebuah toko, ia memilih barang, tawar menawar dengan penjaga toko,dan akhirnya sepakat atas harga yang harus dibayar untuk barang tersebut.Namun berkumdanglah Adzan panggilan shalat dari Masjid terdekat kala iahendak membayar belanjaannya itu. “Cukup sudah!” kata penjaga toko itukepadanya seraya menolak melakukan transaksi dagang apapun hinggaselesai melaksanakan shalat. Toko pun ditutupnya dan ia bergegas pergimenuju Masjid. Abdullah begitu terperanjat dan tak habis pikir dengan kejadian kecilini. Mengapa si penjual tidak mau mengambil uang yang telah menjadihaknya dengan terjadinya kesepakatan harga diantara mereka. Taksekalipun dalam kehidupan Abdullah menjumpai orang yang menolakuang. Pada umumnya, di dunia bisnis, semua orang memburu uang denganberbagai cara. Orang macam apakah si penjual itu? Agama apa pulakahyang begitu utama di matanya? Abdullah begitu penasaran dan inginmengenal lebih banyak tentang agama itu. Dibacanya berbagai bukutentang Islam, semakin hari semakin banyak buku yang dibacanya danakhirnya ketika kembali pulang ke Amerika ia memutuskan untukmemeluk Islam. Di New York, ia mendapatkan banyak guru yang baikyang mengajarkan kepadanya dasar-dasar pendidikan Islam. Iapunmemperoleh pengajaran membaca Kitab Suci Al-Qur’an. Ini menjadikanAbdullah seorang Muslim yang sangat ketat menjalani keIslaman-nya. Saya baru mengenal Abdullah manakala ia pindah ke Detroit. Iatelah memutuskan untuk bermukim didekat Masjid Pusat Tauhid Detroitdan melaksanakan hampir dari seluruh shalat lima waktunya di Masjid ini.Pada waktu itu saya bekerja sukarela menjalankan kegiatan humas Masjid.Menjalankan hubungan kemasyarakatan sebuah organisasi Islam bisamenjadi tantangan tersendiri. Banyak kejadian antara akhi Abdullah 6
  7. 7. dengan saya, yang cukup menimbulkan masalah sementara diantara kamiberdua. Kami sama-sama tulus dengan cara kami masing-masing.Permasalahan diantara kamipun sirna tanpa bekas ditelan waktu.Bagaimanapun juga kejadian ini merupakan ujian kesabaran dalam berbedapendapat dengan seseorang yang bisa saling berjumpa beberapa kali dalamsehari berkenaan dengan kegiatan Masjid. Suatu hari, saya meminta akhi Abdullah mengumandangkan adzan.Ia katakan bahwa itu akan dilakukannya diluar Masjid di tepi jalan raya.Saya katakan padanya bahwa kami telah melalui prosedur pendaftaran kePemerintah Kota Detroit dan Dinas Pemadaman Kebakaran setempatdiawal pendirian Masjid. Dewan Kota telah mengadakan pengumpulanpendapat umum sebelum akhirnya mereka mengijinkan kami membangunMasjid. Namun ia tidak merasa perlu mendengar nasehat saya. Makasayapun menegaskan dengan gamblang bahwa kalau itu tetapdilakukannya, maka saya harus berhadapan dengan masyarakat umum,Kejaksaan, Komisi Tata Ruang, dan juga Departemen Perencanaan Kota.Saya katakan dengan tegas kepadanya, “Anda hanya datang, shalat danpergi meninggalkan Masjid. Tak pernahkah terbayangkan dalam pikirananda bagaimana sulitnya pengalaman kami berhadapan dengan mereka diBalai Kota. Berbuat bijaklah dan berhati-hati dalam menjalankankeIslaman kita. Jangan sampai kita membuat lingkungan tetangga kitaNon-Muslim merasa terganggu dan tergerak untuk mengajukankeberatan? Lagi pula, seyogyanya kita pusatkan perhatian kita padamenghidupkan Iman saudara-saudara Muslim kita daripada membuatmasalah dengan para tetangga Non-Muslim di lingkungan kita ini.” Tetapsaja nasehat saya ini tak dihiraukannya sama sekali. Ia tetap menolakmengumandangkan adzan dari dalam Masjid. Maka saya pun; serayaberdoa:”Wahai Allah maafkanlah hambamu ini”; terpaksa meminta oranglain untuk mengumandangkan Adzan. Secara kebetulan saya mengetahui bahwa hanya ada satu Masjid diAmerika Utara yang memiliki ijin meletakkan pengeras suara diluarMasjid. Keputusan yang diambil oleh pengadilan Dearborn, Michiganmenguntungkan kaum Muslim karena hampir semua anggota masyarakatdi likungan itu beragama Islam. Pernah juga akhi Abdullah meminta saya memberikan kunci Masjidkepadanya. Saya jelaskan bahwa Masjid hanya dibuka pada waktu-waktushalat dan untuk keperluan asuransi telah dilakukan pembatasan kebebasanmasuk Masjid. Beberapa minggu kemudian, ia meminta ijin kepada saya agartamunya diperbolehkan tidur di Masjid pada malam hari. Tetapi saya tidakmeluluskan permintaannya. Saya bertanya kepadanya, “Mengapa andatidak menyediakan tamu anda tempat bermalam di rumah anda?” Iapun 7
  8. 8. mejawab, “Karena saya telah beristri.” Saya pun menawarkan kepadanya,“Kalau begitu, biarkan tamu anda bermalam di rumah saya.” Iapun balikbertanya, “Bukankah andapun beristri?” Saya katakan kepadanya, “Benar,tetapi akan saya usahakan untuk mencarikan ruangan untuknya di rumahsaya, atau saya akan carikan hotel untuknya dan saya yang akan membayarbiayanya.” Akhi Abdullah pun pergi begitu saja dengan membawaamarahnya. Ia hanya mau melakukan sesuai dengan cara yangdiinginkannya. Ia pun menyatakan keberatannya atas perlakuan saya itukepada saudara-saudara Muslim yang lain. Walaupun ia begitu kecewa, iatetap pada komitmennya untuk shalat berjama’ah di Masjid. Akhi Abdullah telah menghafal cukup banyak Surah dari Al-Qur’an,pelafalannya pun sangat memesona dan tepat. Saya memintanya menjadiImam shalat Isya’ setiap hari. Semakin banyak Surah yang ia hafal darihari ke hari. Ia pun amat menyukai Surah yang baru ia hafal dan cenderunguntuk ia bacakan ketika menjadi Imam Shalat. Namun selalu saja adakekeliruan dalam pembacaan surah yang baru dihafalnya. Tentu saja inimenimbulkan perasaan kurang nyaman bagi saudara-saudara Muslimlainnya yang menjadi ma’mum. Saya keluhkan hal itu kepadanya, saya sarankan agar didalam shalatia hanya membaca surah-surah yang ia kuasai hafalannya dan saya jugaminta agar sehari sebelumnya ia bacakan dulu di hadapan saya surah yangakan ia bacakan didalam shalat. Akhi Abdullah suka dengan saran saya ini.Maka ia menjadi lebih baik dan telah memahami sudut pandang saya.Kesalahan-kesalahan bacaannya pun telah hilang seluruhnya dan kerjasamayang didukung sikap untuk saling menolong ini telah menjadi jalan untukmempererat kembali persaudaraan diantara kami. Pernah juga kami (jama’ah masjid) ada masalah lain dengan akhiAbdullah. Ia pernah terbiasa membacakan surah yang panjang dandilanjutkan dengan surah Al-Ikhlas didalam setiap raka’at, sehingga shalatberlangsung lama. Kadangkala, shalat isya yang ia pimpin bisaberlangsung sampai duapuluh menit. Banyak peserta shalat berjama’ahyang tidak siap menjalani dan memiliki kesabaran cukup dalam haldemikian ini. Saya ungkapkan perasaan para jama’ah ini kepadanya. Iapunmenjawab bahwa ia menyukai cara yang ia lakukan itu, sebagaimana yangpernah dilakukan oleh salah satu sahabat Rasulullah SAW yang selalumenyambung pembacaan surah didalam shalatnya dengan surah Al-Ikhlassetiap kali mengerjakan shalat. Saya katakan kepada akhi Abdullah,“Sepanjang pengetahuan saya, surah Al-Ikhlas hanya disambungkandengan pembacaan surat lain didalam raka’at ke-dua.” Kembali iamenjawab, “ Saya baca sebuah hadits yang meriwayatkan bahwa itudilakukan di kedua raka’at.” Maka tak seorangpun dapat mencegahnya 8
  9. 9. membaca sebuah surah panjang diikuti dengan pembacaan Surah Al-Ikhlasdi setiap raka’at. Suatu hari saya melihatnya sedang membaringkan badannya disisikanan dan ditopangnya kepalanya dengan lengan kanannya menjelangshalat Subuh berjama’ah. Saya pun menjadi khawatir danmenghampirinya, saya tanyakan kepadanya adakah terjadi sesuatu padadirinya. Ia katakan bahwa ia baik-baik saja dan ia menjelaskan bahwa iamelakukan apa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAWuntuk beristirahat sejenak dengan posisi tubuh sebagaimana ia sedanglakukan. Akhi Abdullah selalu ingin mencoba melakukan apapun yang iabaca dari Al-Qur’an dan Al-Hadits tanpa sedikitpun merasa canggungataupun malu. Kehidupan rumah-tangganya pun amat mengesankan. Istrinya danbanyak saudara-saudaranya yang masuk Islam melalui usahanya yanggigih mendakwahkan Islam kepada mereka. Ia dikarunia Allah SWTbanyak anak. Semua anaknya sangat bagus dalam membaca al-Qur’an.Anak lelakinya yang tertua, waktu itu berumur tujuh tahun, telah hafalsebagian Al-Qur’an atas bimbingan sang Ayah. Bersama-sama sang Ayahpula si anak secara teratur hadir untuk shalat bejama’ah di Masjid, bahkanjuga untuk shalat Subuh. Saya belum pernah tahu, adakah ayah-ayah yanglain yang dengan senang hati membawa anak lelaki mereka yang baruberusia tujuh tahun untuk berjama’ah shalat subuh di Masjid, walaupuncuaca begitu dinginnya, lagi bersalju ataupun sedang hujan. Seusai shalatSubuh, akhi Abdullah biasanya mengajarkan Al-Qur’an kepada anaklelakinya itu di Masjid. Maka, jadilah anak lelakinya itu istimewa dalamhal pengetahuan dan pengamalan Islamnya, begitupun perilakunyasungguh menawan. Pembacaan Al-Qur’annya pun seindah sang Ayah.Adabnya bagaikan seorang pria dewasa berusia tigapuluh tahun. Semogakelak, ia bisa menjadi Imam Masjid yang baik. Seiring berjalannya waktu, akhi Abdullah tidak hanya memegangkunci Masjid, iapun bertanggung-jawab atas pelaksanaan shalat berjama’ahdi Masjid. Terpikirkan pula oleh saya, bahwa ia pun telah siap untukmemberikan khutbah Jum’at. Meskipun awalnya sedikit engan, iapunbersedia untuk berkhutbah sekali saja. Itupun telah dikerjakannya denganamat sangat baik. Oleh karena itu iapun selanjutnya ditugasi untuk setiapbulannya satu khutbah Jum’at di Pusat Tauhid Detroit dan satu Jum’at diPusat Tauhid Farmington Hills, Michigan. Ia laksanakan tugas sukarela inidengan begitu baik. Tanpa maksud membesar-besarkan, banyak jama’ah yang datanguntuk memintanya menjadi Khatib Tetap di kedua Masjid itu. Mereka jugasuka mendengarkan pembacaan Al-Qur’an olehnya. Jujur saja, kamipun 9
  10. 10. bisa mengumpulkan infaq-shadaqah lebih banyak di masing-masing masjiditu manakala akhi Abdullah memimpin Shalat Jum’at. Suatu hari diwaktu Subuh, manakala shalat Subuh berjama’ah telahusai dan semua jama’ah telah pulang ke rumah masing-masing, akhiAbdullah datang ke Masjid Pusat Tauhid Detroit bersama seorang akhiMuslim setempat. Saya sedang membaca kitab suci Al-Qur’an ketikamereka memasuki masjid. Mereka pun menunaikan shalat Subuh.Setelahnya, saya menyambut kehadiran mereka berdua yang baru sajapulang dari menunaikan ibadah Haji. Saya mendesak mereka agarberkenan singgah ke rumah saya untuk sarapan pagi. Akhi Abdullahmenolak ajakan saya, ia katakan bahwa ia belum pulang ke rumah danlangsung menuju masjid. Ini ia lakukan mengikuti Sunnah NabiMuhammad SAW yang selalu mendahulukan singgah di Masjid sepulangbeliau dari sebuah perjalanan, sebelum pulang ke rumah untuk menjumpaikeluarga beliau. Saya pun bertanya-tanya dalam hati, seberapa banyakkahorang-orang yang terlahir dari keluarga Muslim yang mengamalkan sunnahRasulullah SAW ini? Kini, akhi Abdullah suka menertawakan dirinya dimasa lalu yangbegitu kaku perilakunya. Ia sekarang telah bisa menerima beraneka-ragampengamalan ajaran Islam. Iapun sudah mulai bersedia mengumandangkanadzan dari dalam Masjid. Setelah akhi Abdullah berkesempatan menyampaikan khutbahJum’atnya yang pertama, seusai shalat saya memperkenalkannya kepadapara jama’ah, saya ceritakan bagaimana kisahnya memeluk Islam danbetapa bangga putranya ikut sang Ayah melaksanakan shalat Subuh diMasjid setiap hari. Begitu selesai perkenalan itu saya sampaikan nampakbetapa akhi Abdullah begitu ingin mengetahui tangapan saya mengenaikhubtbah yang dibawakannya. Saya katakan kepadanya bahwa khutbahnyabaik sekali, iapun menyelesaikan dengan tepat waktu, sementara seringterjadi banyak khatib yang sulit untuk mengakhiri khutbahnya. Ia pun pergitanpa berkomentar lagi. Setelah shalat Isya’ akhi Hani ingin berbicaradengan saya. Ia berkata, “Akhi Abdullah merasa tersinggung, iamenganggap bahwa memujinya didepan umum sama halnya; sebagaimanayang diriwayatkan sebuah hadits; memotong urat lehernya.” Sayamenanggapinya, “Hendaknya anda merujuk juga hadits yang lain, bahwakitapun dianjurkan untuk menghormati secara patut dan menyampaikanpenghargaan kepada siapapun yang pantas menerimanya.” Nabi SyuaibAS juga menekankan agar umatnya tidak kikir memberikan penghargaanyang patut diberikan. Hal ini juga tercantum dalam berbagai ayat didalamAl-Qur’an. Banyak orang yang hanya dengan memperhatikan sebuahhadits langsung menarik kesimpulan sendiri. Alhamdulillah saya tidakmelebih-lebihkan apapun dalam memperkenalkan dirinya. Terlebih lagi, 10
  11. 11. jama’ah perlu mengenal segala sesuatu mengenai Khatib yang baru. Sayasampaikan pendapat saya ini kepada akhi Abdullah pada keesokan harinya.Iapun merasa puas dengan penjelasan saya. Sebulan setelah kejadian itu, sekali lagi saya memperkenalkannyakepada para jama’ah setelah kedua-kalinya ia menyampaikan khutbahJum’at. Saya berkata, “Saya bukannya memuji akhi Abdullah, tetapi sayarasa, saya perlu berlaku adil dalam menyampaikan fakta dan mutusebenarnya dari khatib kita yang baru.” Setelah memperkenalkannya ,saya pun menambahkan bahwa tugas dan tanggung-jawab dijalankanbersama-sama. Kini akhi Abdullah dan akhi Hani memikul tanggung-jawab atasMasjid manakala saya berhalangan hadir ke Masjid. Mereka berduamenjalankan tugas dan tanggung-jawab mereka dengan baik sekali. Akhi Abdullah mengikuti kelas bahasa Arab pada sebuah perguruanlokal, pengajarnya adalah Dr. Syeikh Ali Suleiman. Maka kini iapun telahmampu berbahasa Arab dengan baik, memahami beberapa tata-bahasanya.Ia pun terus membaca dan menghafal surah-surah Al-Qur’an. Iapun belajarHadits, memimpin Shalat Jum’at, dan juga membimbing banyak orangyang belum beriman kepada cahaya Islam. Seorang tamatan sekolahmenengah dengan ketulusan dan komitmennya telah berhasil mengerjakanhal-hal besar ini, juga memperkenalkan dan mendakwahkan Al-Islamditengah-tengah masyarakat dari berbagai macam keyakinan. Itulah AkhiAbdullah, salah seorang produk sampingan dari Perang Teluk. Masihbanyak lagi serdadu-serdadu lain yang menjadi pemeluk Islam setelahberkunjung ke Saudi Arabia.__________________________Cahaya Hidayah di Perpustakaan Sekolah… JAMES ABIBA Kisah ini terjadi pada waktu saya bertugas sebagai pengajarmatematika dari Kelas-9 sampai dengan Kelas-12 pada Fort Mead HighSchool di Maryland. Setiap hari saya harus mengajar di lima kelas yangberbeda. Setiap kelas terdiri atas sekitar empat puluh siswa. Namun JamesAbiba bukanlah salah satu dari murid di kelima kelas itu. Ia menghubungisaya melalui salah seorang siswa saya, meminta ijin untuk menemui saya.Tentu saja saya bersedia. Ketika bertemu, James menanyakan kepada saya pertanyaan-pertanyaan dasar seputar Islam, saya berikan jawaban-jawaban ringkas ataspertanyaan itu. Pada kesempatan berikutnya ia datang lagi dengan lebihbanyak pertanyaan. Saya pun berbalik menanyakan, “Adakah ini dari 11
  12. 12. Kelompok belajar Pelajaran Sosial?” Ia menjawab bahwa, secara kebetulania membaca sebuah buku perihal Islam di perpustakaan sekolahnya. Entahbagaimana, ia menjadi penasaran untuk mengetahui Islam. Sayamengingatkannya perihal konflik antara agama dan negara. Karena itusekolah negeri bukanlah tempat yang tepat untuk mendiskusikan secaralebih terperinci. Saya ajak dia ke sebuah restoran cepat saji. Sambilmenikmati makanan ringan, kami berdiskusi disana. Sebuah diskusi yangamat positif. Pada waktu itu James baru berumur 16 tahun. Beberapa hal menimbulkan kecemasan pada diri saya. James masihtergolong remaja, ia belum tergolong dewasa. Bisa saja orangtuanyamempermasalahkan saya. Terlebih lagi, Fort Mead adalah sebuah wilayahpangkalan militer yang terletak berdekatan dengan kantor AgensiKeamanan Nasional (NSA). Kadang saya khawatir, bisa-bisa timbul situasiyang tidak menyenangkan untuk diri saya. Puncak kecemasan saya adalah,ternyata ayahnya bertugas purna-waktu di NSA. Walaupun demikian, kami telah melangsungkan beberapa kalipertemuan di restoran cepat-saji. Pembicaraan kami begitu jujur danbanyak membuahkan pengertian. Iapun ingin melihat tempat ibadah Islam.Saya tunjukkan kepadanya sebuah rumah yang sangat tua, yang digunakansebagai Masjid di kota tetangga; Laurel, Maryland. Saya peragakankepadanya bagaimana cara bersembahyang umat Muslim. Ia menyukaikesederhanaan dan komunikasi langsung yang terjadi antara seseorangdengan Tuhan yang Maha Kuasa. Selanjutnya, James mengatakan bahwa ia ingin menjadi seorangMuslim. Saya terangkan kepadanya bahwa untuk itu hanya perlu prosesyang sangat sederhana. Namun saya peringatkan juga konsekuensinya jikaia berbalik tidak beriman lagi. Maka, saya anjurkan dia untukmemanfaatkan waktu yang lebih banyak lagi untuk memperkayapengetahuannya tentang Islam sebelum ia memutuskan memeluk Islam. Beberapa hari setelah itu, ia berkeras bahwa dirinya harus memelukIslam. Alhamdulillah…… ia telah melakukannya. Kini lebih banyaktantangan bagi kami berdua. Saya mendapat tugas baru yang harus sayakerjakan. Setiap hari Ahad saya menjemputnya di rumahnya danmembawanya ke Masjid untuk shalat dzuhur. Selama didalam masjid sayaajarkan kepadanya abjad Arab, ternyata ia bisa menguasai dengan begitucepat. James adalah seorang pemain musik, ia sangat antusias belajarmengumandangkan Adzan. Dengan segera ia telah pantas menjadiMuadzin di Masjid. Saya sadari betapa suara Adzan seorang mualaf begitumenyentuh. Tahap demi tahap, James mulai membaca Al-Qur’an dalambahasa Arab. Suatu hari saya pergi menjemput ke rumahnya. Saya terperanjatmendapatinya mengenakan pakaian khas Saudi lengkap dari kepala sampai 12
  13. 13. kaki. Saya menjadi sangat khawatir, karena para siswa saya, orangtuanya,dan juga teman-temannya sudah sering berbisik-bisik tentang kunjungansaya secara teratur ke rumahnya. Saya katakan, “Kamu tidak harusberpakaian seperti ini, Muslim boleh mengerjakan shalat dalam pakaian alaAmerika juga.” Ia menampik seraya berkata, “Pak Ahmad, anda lemahIman.” “Adakah orangtuamu marah kamu berpakaian begini? Tanya saya.“Tidak! Mereka begitu penuh pengertian. Bahkan Ibuku memasak menuhalal untukku setiap hari.” Jawabnya. Betapa lega saya mendengar jawabanini. James masih duduk di bangku sekolah lanjutan. Ia mendekat,menyampaikan niatnya kepada saya untuk mengganti namanya dengannama Islami. Dengan hati-hati saya meyakinkannya bahwa dengannamanya yang sekarang ia akan lebih mudah meng-komunikasikan nilai-nilai Islam kepada teman sebayanya. Malahan, bisa-bisa merekamenjauhinya jika ia mengganti nama yang ‘berbau’ Islam. Sekali lagi iaberkata tegas, “Pak Ahmad, Iman anda lemah.” Maka namanya punberubah menjadi, James Huseyin Abiba. Dalam kesempatan ini saya hendak mengetengahkan gambaran yangmengagumkan tentang masyarakat Amerika. Banyak remaja Amerika yangberusaha mendapatkan pekerjaan sementara guna mengumpulkan danauntuk bekal dirinya melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Walaupun orangtua mereka banyak yang kaya dan terpandang statussosialnya, anak-anak mereka tidak merasa malu untuk mencari pekerjaan,meskipun itu pekerjaan kasar, demi mewujudkan harapan mereka. Merekapara remaja, tidak sembunyi-sembunyi melakukan pekerjaan sepele itu.Dengan bangganya mereka saling berbagi pengalaman dengan kawan,saudara, dan tetangga mereka. Pekerjaan demikian membawa merekakepada kenyataan ‘pasang-surut’ kehidupan yang sesungguhnya. Dengandemikian, meningkatkan kematangan diri dan rasa tanggung-jawabmereka. Akan halnya James, iapun mencari pekerjaan di musim panasuntuk waktu seusai wisudanya dari Sekolah Lanjutan. Istri saya melatihJames sebagai penerima-tamu medis dan mempekerjakan James di Klinikmiliknya. Istri saya baru saja membuka praktek medisnya, karena itu tidakterlalu banyak pasien. Maka, cukup banyak waktu luang bagi James untukmembaca buku-buku Islam disana. Biasanya, James merayakan ‘Ied bersama keluarga saya. Suatu kali,Allah SWT memberikan kesempatan saya melakukan perjalanan dariAmerika menuju Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarahdalam bulan Ramadhan dan ‘Ied. Dalam kebahagiaan ini, saya prihatindengan kesendirian James di Amerika. Sekembali saya ke Amerika sayabergegas mencari kabar perihal keadaan James dari para ikhwan Muslim dimasjid kami. Dengan bersemangat mereka berkisah, “James ikut ambil 13
  14. 14. bagian di berbagai kegiatan Ramadhan, bahkan ia pun tinggal di masjidmelakukan I’tikaf selama sepuluh hari teakhir bulan Ramadhan.” Merekamenambahkan, “Ia selalu lebih dulu mempraktekan Islam dibandingkankami.” James begitu rendah-hati tidak pernah ia ceritakan kepada saya soalI’tikafnya. Saya panjatkan do’a ke Hadirat Allah SWT, semoga Allahmenerima ketulus-ikhlasan James berserah diri kepada-Nya. Ia melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi dan lulus sebagaiSarjana dibidang Sejarah Islam. Iapun dikenal sebagai Ketua AsosiasiMahasiswa Muslim di kampusnya di College Park, Maryland. Ia menikahigadis Muslimah asal India. Selanjutnya mereka berdua menjadi guru disekolah Islam yang dikenal sebagai Universal Islamic School, di Chicago._______________________________Cahaya Hidayah Itu Tersimpan Untuknya... KATHY Saya mengakhiri tugas di organisasi pendidikan Maryland dengankedudukan sebagai Ketua Departemen Matematika untuk kemudianbergabung dengan Sekolah Islam Seattle, sebagai Kepala Sekolah. Kathybertugas sebagai sekretaris di sekolah ini, ia juga aktif sebagai seorangpekerja sosial Muslimah di lingkungannya. Ia memeluk Islam secara unikyang di jalaninya sendiri. Berikut ini adalah kisah yang diceritakannya kepada saya: “Sewaktu masih duduk di Sekolah Dasar, saya ditemani ibu pergimengunjungi perpustakaan umum. Perpustakaan ini tidak membuangbegitu saja buku-buku duplikat dan buku-buku yang sudah waktunyadiganti. Mereka menjual buku-buku itu dengan harga murah untukmengumpulkan dana. Penjualan buku murah pun sedang berlangsungketika saya datang ke perpustakaan itu. Saya mempunyai beberapa kepingrecehan logam di kantong, maka saya pun membeli sebuah buku sehargasatu sen dollar. Sesampai di rumah, buku itu saya simpan begitu saja dikamar. Kehidupan terus berjalan bersama sang waktu, saya lulus dariSekolah Dasar. Melanjutkan ke Sekolah Menengah, dan begitu seterusnya,selesai dari Sekolah Menengah saya pun meneruskan belajar ke SekolahLanjutan, sehingga akhirnya saya pun lulus dari Sekolah Lanjutan.Beruntung saya sanggup melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Saya tidakmemilih bidang Sains, tetapi memilih jurusan Art (Seni/Budaya). Bidangstudi utama yang saya tekuni adalah Perbandingan agama-agama.Professor saya menawarkan begitu banyak pilihan tugas kerja di bidangini. Tema Utamanya adalah studi perbandingan agama Yahudi, Kristen,dan Islam. Namun tak satupun dari para pengajar kami yang beragama 14
  15. 15. Islam. Saya lalui semua tugas perkuliahan dengan mudah dan lancar.Dengan demikian, saya telah mengumpulkan banyak nilai untukdinyatakan lulus.” “Sebagai lulusan baru, saya mulai mencari pekerjaan. Sangat sedikitlapangan kerja yang tersedia di daerah tempat tinggalku. Bagaikanmendapatkan keajaiban bahwa seorang perempuan lulusan jurusanSeni/Budaya bisa memperoleh pekerjaan. Saya menjadi begitu lelah, bosandan duduk termenung di rumah hampir sepanjang waktu. Untuk mengusirrasa jemu, saya mulai mencari-cari bebagai barang yang saya miliki dirumah. Sampailah saya menemukan buku yang pernah saya beli bertahun-tahun lalu ketika saya mengunjungi perpustakaan. Begitu lama tersimpanbuku itupun tertutup debu. Saya bersihkan debu-debu itu dan mengambilbuku itu. Adalah hal biasa bila seseorang menghargai apa yang telahpernah dibelinya menggunakan uangnya sendiri, terutama bagi seoranganak. Begitu pula bagi saya buku itu adalah sebuah barang berharga yangsaya miliki. “Saya mulai membaca buku itu halaman demi halaman. Ternyatabuku itu berisi terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris. Isinya begitumenarik. Semakin jauh saya membacanya, saya semakin dibuat penasaranuntuk lebih mengenal Islam. Apa yang tertulis disitu amat sangat berbedadengan apa yang pernah diajarkan oleh professor saya di perguruan tinggi.Namun Demikian, nilai-nilai kebenaran Islam yang diketengahkan didalamAl-Qur’an memberikan kepuasan bagi akal dan nurani saya. Saya puntersadar bahwa, jika demikian inilah Islam, sungguh sangat mengagumkan.Saya ingin menjadi seorang Islam.” “Saya pun berusaha memperoleh informasi bagaimana caranya sayabisa masuk Islam. Ternyata prosesnya begitu sederhana sekali, makasayapun memeluk Islam. Alhamdulillah. Segera setelah itu, saya menikahiseorang pemuda Muslim dari Afghanistan. Berdua, kami memberikanpelayanan kepada masyarakat Muslim dan bekerja bahu-membahu denganpara pemimpin Muslim setempat. Tak pernah kami berharap untukmengubah jalan hidup kami ini. Semoga Allah SWT menerima perjuangankami.”Amiin___________________________________Cahaya Hidayah Hadir Bersama Kelahiran Anak... REHANA Banyak berpindah-pindah merupakan kewajaran dalam polakehidupan Amerika. Menurut perkiraan, rata-rata sebuah keluarga tidakpernah menetap di tempat yang sama lebih dari lima tahun. Menggunakan 15
  16. 16. ukuran ini, keluarga saya pun termasuk dalam keluarga Amerika sejati.Kami berpindah dari Seattle ke daerah perumahan di pinggiran kota LosAngeles. California. Tetangga Muslim kami yang terdekat adalah akhiAbdul Wahab. Kami tidak hanya bertemu di Masjid setiap hari, lebih dariitu kami juga secara rutin berbagi secangkir teh. Suatu hari, Abdul Wahabbertutur panjang-lebar ihwal tantangan dan ujian yang dilaluinyamenjelang ber-Islam-nya sang istri, Rehana. Berikut ini adalah kisahmereka: “Ketika menikahi Rehana, saya adalah seorang Muslim yang tidakmenjalankan perintah agama, begitupun Rehana ia seorang Kristen yangtidak pernah menjalankan agamanya. Jarang sekali saya pergi ke masjid,begitupun ia tidak pernah pergi ke gereja. Saatnya pun tiba bagi kamidikaruniai keturunan oleh Allah SWT. Saya coba untuk membicarakandengannya untuk pergi beribadah ke masjid. Terang-terangan ia menolak.Bahkan ia mengejutkan saya dengan mulai pergi ke gereja. Semakin seringsaya mengajaknya ke masjid, semakin sering pula ia hadir ke gereja.” “Tak seorang lelaki pun yang bisa menang menghadapi perempuan.”Gumam Abdul Wahab, dan meneruskan cerita, “Maka sayapunmenawarkan kompromi dengan penuh kelembutan dan kesantunan. Sayatawarkan, satu akhir pekan saya bersamanya hadir di gereja, dan akhirpekan berikutnya kami berdua hadir ke masjid. Ia menerima usul ini, walaudengan ogah-ogahan. Inilah cara yang bisa saya lakukan agar dapatmemperkenalkan Islam kepadanya.” “Saya sadari bahwa saya pun harus menjadi Muslim yangmempraktekkan ajaran Islam sebaik-baiknya. Berperilaku Islami di rumahmaupun di lingkangan sekitar saya. Hanya itulah cara agar istri saya dapatmenemukan dan menikmati nilai-nilai Islami. Maka saya perbaiki diri saya.Aspek menguntungkan dan merugikan dalam hubungan suami-istri tidakboleh dibiarkan terpendam dalam diri masing-masing, mengingat kamiberinteraksi sangat dekat dalam keseharian, dari hari ke hari.” “Ini merupakan pola hidup yang baru sekaligus indah bagi diri saya.Harus berperan sebagai sosok yang menghasilkan nilai positif. Sedikitdemi sedikit, lambat namun pasti, Rehana mulai memahami Islam melaluipengalaman positif di rumah dan di lingkungan masyarakat Muslim.Apresiasinya terhadap Islam, tumbuh dan berkembang dari hari ke hari.Dan, sampailah pada puncaknya, ia memeluk Islam. “Segala puji hanyalahbagi Allah!!... Alhamdulillah..!!” Rehana yang sekarang lain dengan Rehana yang dahulu. Ia kinimengenakan kerudung penutup kepala merepresentasikan dirinya seorangMuslimah. Ia tak habis pikir mengapa banyak perempuan yang terlahirMuslimah tidak bersedia mengenakan pakaian penanda keIslamannya. Iajuga berkeinginan agar anak-anaknya memperoleh pendidikan di Sekolah 16
  17. 17. Islam yang berlangsung sehari penuh. Ia pun tetap melanjutkan menimbailmu Islam bagi dirinya sendiri. Ia meminta suaminya membawakansalinan kuliah Fiqih (hukum) Islam yang diselenggarakan di Masjid olehDr. Muzammil Siddiqi, demi memperkaya kegiatan pendidikan danpertumbuhan keIslamannya. Pada tahap ini, masalah Abdul Wahab telah usai dan masalahRehana baru saja dimulai. Rehana berjuang keras untuk belajar dan terusbelajar tentang Islam. Apapun yang telah dipelajarinya, ia berusahamenerapkan karena ia rasakan kesesuaian ajaran Islam dengan hati nuranidan akal-pikirannya. Diserapnya nilai-nilai Islami dengan kepala-dingin.Setiap kami berkesempatan bercakap-cakap dengannya, kami dapati iasemakin baik sebagai Muslimah. Lebih baik dari mereka yang dilahirkandalam keluarga Muslim. Kecintaannya terhadap penerapan ajaran Islammenjadi inspirasi bagi kami. Rehana sangat berterima-kasih kepadasuaminya atas hadiah istimewa yakni membawa dirinya menjadi sosokmuslimah yang penuh Iman dan nilai-nilai Islami Orangtua Rehana tinggal di Chicago. Ber-Islamnya Rehanamerupakan kejutan besar bagi mereka. Mereka bereaksi sangat menentanghal itu. Ayahnya bersikap kaku, kasar, dan terang-terangan tidak bisamenerimanya. Bahkan mereka berdua tidak lagi berkunjung ke rumahRehana. Bagi Rehana, adalah kewajiban seorang anak untuk mengunjungiorangtuanya. Sambil berharap ia bisa mengajak orangtuanya ke JalanKebenaran. Biasanya ia kembali ke Los Angeles dalam keadaan begitulelah setelah mengunjungi orangtuanya di Chicago. Anak-anaknya punselalu dibawa serta bila ia berkunjung. Kakek-nenek mereka kaget dankagum dengan begitu baiknya sikap dan perilaku cucu-cucu mereka, paraMuslim belia itu. Jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam merekamulai merasakan bahwa Islam tidaklah seburuk gambaran yang merekadengar, sehingga mereka setuju untuk mengunjungi Rehana di LosAngeles. Saya mengundang keluarga Abdul Wahab untuk makan malam, sayaundang juga bapak-ibu Naseem. Ibu Naseem juga seorang mualafberkebangsaan Amerika yang selalu mengenakan busana muslimah.Maksud saya mengundang juga mereka , agar kedua orangtua Rehanamengenal lebih banyak Muslim. Malam itu begitu menyenangkan sehinggakami berkumpul bersama hingga larut malam. Orangtua Rehana menjadibegitu ramah. Sekitar pukul satu dini hari, kami mengakhiri bincang-bincang kami. Kami berpisah satu sama lain dalam suasana hati yangnyaman. Sampai disini kisah lain terjadi. Sementara Rehana dan keluarganyaberjalan kaki menuju kediamannya, bapak-ibu Naseem harusmengemudikan mobil sejauh sekitar 20 Mil (setara 30 km) menuju tempat 17
  18. 18. tinggal mereka di Riverside ditengah larutnya malam. Pada jam-jam sepertiini pengemudi mabuk adalah ancaman di jalanan. Mobil pasangan Naseemtertabrak mobil lain yang dikemudikan oleh orang mabuk, sedemikiankencangnya tabarakan itu sehingga pak Naseem dan istrinya terlemparkeluar dari mobil mereka. Pak Naseem tergeletak di tepi jalan tak sadarkan diri, sedangkan BuNaseem menderita cedera tulang yang parah namun masih dalam keadaansadar. Ia duduk disisi suaminya sambil terus menerus membaca Al-Qur’anyang dilantunkan dengan suara lantang. Pada saatnya, paramedispun tibaditempat kejadian. Begitu mereka melihat bahwa korban kecelakaan dalampakaian yang asing bagi mereka dan berbicara dalam bahasa yang asingbagi telinga mereka, pertanyaan pertama yang terucap dari paramedis ituadalah “Anda bisa berbahasa Inggris?” Maka Bu Naseem pun mengiyakandan menjelaskan bahwa yang tadi diucakannya adalah ayat-ayat Al-Qur’andalam bahasa Arab. Alhamdulillah, atas Rahmat Allah Yang Maha Kuasa,setelah melalui perawatan berbulan-bulan di rumah sakit, mereka pulihseperti sediakala. Orangtua Rehana ke Chicago setelah menginap beberapa hari.Rehana pun berharap suatu saat kelak kedua orangtuanya bisa menerimaIslam. Suatu hari istri saya memberitakan bahwa Rehana sedang bersedihberurai air mata karena ibundanya sakit parah. Rehana khawatir ibu yangdicintainya wafat sebelum menerima Islam dan sebagai akibatnya akanmenderita di Hari Kemudian. Malang tak dapat ditolak sang ibunda punmeninggal sebelum beriman. Setelahnya, menjadi lebih sulit bagi dirinya untuk berbicara dengansang ayah. Kami semua berusaha untuk membantu mengatasi keadaan ini.Abdul Wahab mengunjungi ayah mertuanya tanpa mengusik denganpembicaraan serius. Ayah Rehana adalah teman saya juga, maka sayapuningin ikut membantu. Pada waktu itu saya telah pindah ke Detroit, Michigan. Sayamenelepon ayah Rehana dan mengundangnya ke kediaman kami di Detroityang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya di Chicago. Namun sayang,kesan Detroit pada waktu itu dikotori oleh ulah bodoh sebagian oknumpolisi kota itu. Karenanya meskipun senang dengan undangan saya, ayahRehana mengatakan, “Imtiaz, tentu saja saya senang jika bisa bertemudenganmu, namun saya pun selalu berusaha sebaik-baiknya untuk tidakmenyusuri jalanan Detroit seumur hidup saya.” Semoga Allah SWT memberikan hidayah bagi ayah Rehana kepadajalan yang lurus. Amiin._______________________________Cahaya Hidayah dalam Tilawah Al-Qur’an 18
  19. 19. Imam SIRAJ WAHAJ The Muslim Student Association (MSA); yang berarti PerhimpunanMahasiswa Muslim; dahulu merupakan sebuah organisasi payung yangmenaungi para Muslim di Amerika dan Kanada. Siraj Wahaj dan sayasendiri, telah mendapatkan kesempatan terhormat sebagai anggota MajlisSyura (dewan penasehat) sekaligus anggota Dewan Pelaksana MSA.Bertahun-tahun sudah, mahasiswa Muslim menjadikan Negara AmerikaSerikat sebagai rumah masa depan mereka, dan oleh karena itulah merekamenjadi warga negeri Paman Sam ini. Guna melayani kebutuhan parawarga negara ini, maka dibentuklah organisasi payung yang baru, yangdinamakan ISNA; Islamic Society of North America, (Masyarakat IslamAmerika Utara). Didalam organisasi baru ini, kami berdua pun menjadianggota Majlis Syura sekaligus anggota Dewan Pelaksana. Kami harus sering mengikuti pertemuan di kantor pusat ISNA diIndiana. Biasanya, pertemuan berlangsung sangat lama dan begitumelelahkan. Jarang sekali kami mempunyai kesempatan untuk ngobrolbebas satu sama lain, karena agenda rapat yang begitu panjang. Hanyasebagian kecil anggota yang sempat mengemukakan pendapat terhadappokok bahasan yang beraneka ragam. Dalam keadaan begini, saya rasakankehampaan diantara para pimpinan kelompok-kelompok Muslim tingkatnasional itu. Beruntung sekali, suatu hari saya sempat bersama Siraj Wahajsewaktu rehat makan siang dalam acara pertemuan Dewan PelaksanaISNA. Saya sangat ingin mengetahui awal mula ia bisa menerima Islam.Inilah penuturannya: “Dulu saya anggota kelompok pergerakan Black Moslem (MuslimKulit Hitam) yang memiliki banyak perbedaan ajaran dan amalan denganMuslim tradisional. Suatu kali, MSA mengadakan perkemahan musimpanas dalam rangka pelatihan para relawan masyarakat. Saya adalah salahseorang peserta. Acara itu diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh seorang akhi berkebangsaan Sudan. Walaupun waktu itu sayatidak mengenal bahasa Arab, namun lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an itumerasuk jauh kedalam diri saya. Saya pun mulai terisak-isak beruraiairmata. Semakin banyak ayat yang saya dengar, semakin deras airmatamengucur dari kedua mata saya ini, mengalir turun membasahi kedua pipidan jatuh membasahi pakaian. Saya tidak mengenal bahasa Arab sepatahkatapun. Saya pun berkata pada diri sendiri, “Apapun arti ayat ini, nampakbegitu nyata.” Maka, setelah peristiwa itu saya menganut aliran‘tradisional’ Muslim Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah). 19
  20. 20. Akhi Siraj begitu rajin belajar bahasa Arab dan menguasaipembacaan Kitab Suci Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAWdalam waktu singkat. Segera setelah itu ia pun menjadi Imam Masjid At-Taqwa, New York. Khutbah Jum’atnya juga sangat berbobot. Melaluidakwah yang disampaikannya banyak lelaki dan perempuan menjadipemeluk Islam. Masyarakat Muslim di sekitar masjidnya tumbuh dan berkembangsemakin besar, dan oleh karena itu ia diangkat sebagai pemimpin NorthAmerican Muslims (Ummat Islam Amerika utara). Saya juga sempat menanyakan pendapatnya ihwal kegiatan ISNAdan kelompok-kelompok Muslim yang lain. Dengan lantangnya iamenjawab, “Kalian semuanya lamban dan hasil dari kegiatan yang kaliankerjakan sedikit sekali. Tengoklah contoh sewaktu saya masih menjadibagian dari Black Moslems Movement, saya harus berjualan koran banyaksekali. Berdiri berjam-jam bersusah-payah agar semua koran yang sayabawa habis terjual. Terkadang kedua belah kaki saya sampai gemetarkelelahan meskipun saya masih muda. Sebagian besar kalian banyak bicarasedikit sekali bekerja!” Usai ia melontarkan jawaban ini, tidak ada lagiwaktu tersisa untuk bertanya lagi kepadanya walau satu pertanyaan saja. Masjidnya terletak ditengah Kota New York, dimana perdagangannarkoba berlangsung siang-malam. Para gembong pengedar narkoba itukaya raya dan amat sangat berbahaya. Untuk mengenyahkan peredarannarkoba dari wilayah ini sangatlah sulit dan beresiko tinggi. Pengedardengan mudahnya membunuh setiap pengganggu kegiatan perdaganganmereka. Tak tanggung-tanggung, perdagangan merekapun berkembangpesat diseputaran Masjid At-Taqwa. Tentu saja Imam Siraj tidak menyukaikeadaan ini. Iapun lantas mencari tahu perihal para pengedar ini daribeberapa mualaf yang masa lalu mereka adalah bagian dari perputaran rodaperdagangan terlarang itu. Selanjutnya Imam Siraj mengumpulan beberaparatus Muslim di lingkungannya, kemudian satu demi satu gembongnarkoba di wilayah itu mereka datangi dan berpesan, “Enyahlah kalian dariwilayah ini mulai esok hari. Atau kami terpaksa harus mengusir kaliansemua!” Beberapa dari mereka mengatakan, “Mangapa kalian hendakmerampas penghidupan sehari-hari kami?” Siraj menjawab, “Tidak adatempat untuk beredarnya narkoba di dalam wilayah masyarakat Muslim.”Begitulah ia dan para pengikutnya mengulangi kunjungan peringatan inipada hari berikutnya. Maka para gembong pengedar itupun denganterpaksa menyingkir, dan wilayah seputar Masjid At-Taqwa menjaditerbebas dari pengedar-pengedar narkoba hingga radius 5 mil (sekitar 7,5km). Pemerintah Amerika Serikat pun terheran-heran dengan keberhasilanini, sementara pemerintah sendiri selalu gagal menghentikan aksi para 20
  21. 21. pengedar itu, walaupun telah mengeluarkan biaya besar, dengan berbagaisiasat, dan para personil yang handal. Keberhasilan yang mengagumkan ini, membawa akhi Siraj padasebuah wawancara dengan stasiun televisi nasional Amerika Serikat.Pewawancara bertanya, “Bagaimana dan mengapa anda melakukan halitu?” Siraj menjawab, “Islam dan pengedar narkoba tidak mungkin hidupberdampingan. Saya tidak mau melihat rakyat miskin dihancurkan tangan-tangan para pengedar narkoba itu. Murninya tujuan dan kuatnya niatmempermudah tercapainya tujuan mulia.” Kini akhi Siraj erat bekerja-sama dengan komunitas-komunitasMuslim yang lain di Amerika dan Kanada. Ia sangat berhasil mengilhamipara muda Muslim dan meningkatkan penggalangan dana untuk Masjiddan Sekolah Islam. Adalah hal yang wajar jika kita jumpai dia dengankitab Hadits ataupun kitab suci Al-Qur’an terbuka ditangannya, meskipunsedang berada di bandara. Ia dihormati secara internasional. Dalamkunjungan terakhir saya ke Makkah dari Amerika Serikat saya berjumpadengan beberapa Muslim Amerika. Saya tanyakan kepada mereka siapalagi yang hadir di Makkah. Mereka mengatakan bahwa Imam Siraj punhadir. Maka para imam lokal Masjidil-Haram pun mencari beliau agardapat berperan-serta dalam upacara penggantian Kiswah (kain penutup)Ka’bah; Baitullah. Terakhir kali saya menyimak khutbahnya, sewaktu PertemuanTahunan ISNA di Chicago. Waktu itu bertepatan dengan puncak masakampanye pemilihan presiden Amerika Serikat dengan kandidat GeorgeBush, Bill Clinton dan Ross Perot. Mereka saling melempar cemooh satusama lain, karena yang demikian itu diperkenankan menurut hukum danperundang-undangan yang berlaku. Kaum Muslim yang bermukim diNegeri Paman Sam pun berharap memperoleh arahan dari pertemuantersebut berkaitan partisipasi mereka dalam pemungutan suara untukpemilihan presiden. Nasehat dari para pemimpin umat Muslim Amerikaseperti Siraj Wahaj sangatlah berarti bagi mereka untuk menentukanpilihan. Maka, simaklah apa yang dikatakan Siraj Wahaj memulaikhutbahnya, “Semalam saya sempatkan diri membaca Kitabullah Al-Qur’an. Betapa terperanjatnya saya bahwa saya membaca perihal GeorgeBush didalamnya. Benar! Anda sekalian mendengar yang saya ucapkanbukan?! Semalam, saya membaca perihal George Bush didalam Al-Qur’an.Sungguh, sayapun membaca perihal Bill Clinton dan Ross Perot. Merekasemua disebut bersamaan dalam satu ayat didalam Surah ke-2 dari Al-Qur’an. Baiklah, saya bacakan saja secara tepat ayat yang saya maksud.”Selanjutnya Siraj mengumandangkan ayat yang dimaksud: [ Ω⇐Σ⊕Ψ–≤ΤΩΤÿ ‚ف ⌠¬ΣΤΩ ⊇ χ∧Σ∅ ε¬<∇ΣΤŠ =ΣΘ¬Σ″ ] ⌠ 21
  22. 22. Mereka itu tuli, bisu, dan buta. Maka tiadalah mereka itu akankembali (ke jalan yang benar). [Al-Baqarah:18] Iapun menambahkan uraiannya, “Telinga mereka tidak sesuai untukmendengarkan kebenaran, lidah mereka tidak siap untuk menyuarakankebenaran dan juga mata mereka tidak sanggup melihat kebenaran. Lantas,bagaimana mungkin ada harapan agar mereka condong kepada kebenaranatau kembali kepada kebenaran?” Siraj memiliki cara yang khas, yang asli dari dirinya sendiri. Kisahdirinya perlu ditulis dalam sebuah buku tersendiri. Saya sungguh berharapsuatu hari nanti seseorang akan melakukannya._____________________________________Cahaya Hidayah Bermula Dari Keprihatinan Suami… SUSAN Susan Menikah dengan Abdul Qadar, seorang Muslimberkebangsaan Burma yang bermukim di Maryland. Pada waktu itu AbdulQadar bekerja pada perusahaan pembuat sepatu dan sering menghadirishalat jum’at di Masjid Laurel. Suatu hari, ia menemui sayamenyampaikan kesulitan yang sedang dihadapinya. Ia mengatakan, “Sayamenikahi perempuan kristen. Kami telah dikaruniai anak perempuankembar dan kini saya prihatin atas masa depan anak-anak. Saya telahberusaha semampu saya mengajak istri saya untuk datang ke Masjid ini,tetapi ia menolak mentah-mentah. Apalagikah yang mesti saya lakukan?”Maka, saya menyarankan agar ia mengajak Susan (istrinya) datang kerumah saya untuk makan malam. Dengan demikian Susan bisa berkenalandengan istri saya supaya merasa nyaman. Pendekatan ini berhasil. Susanmulai mau datang ke Masjid dan juga mengikuti kuliah tafsir AL-Qur’an.Beberapa minggu dilaluinya dengan sangat lancar, hingga pada suatu hariJum’at dimana saya memberikan kuliah tafsir. Saya menerangkan beberapaayat Al-Qur’an dan memberikan kesempatan bertanya kepada para peserta.Susan pun mengajukan sebuah pertanyaan. Sebelum saya sempatmengatakan sepatah kata pun, seorang lelaki diantara peserta telahmenjawab lebih dahulu. Betapa terkejutnya saya melihat Susan menangisterisak-isak sambil tetap duduk ditempatnya. Semua yang hadirkebingungan. Abdul Qadar membimbing istrinya meninggalkan Masjid,langsung mengantarkannya pulang ke rumah. Setelah itu, saya bertanya kepada Abdul Qadar, mengapa istrinyamenangis pada waktu itu. Ia pun menjawab, “Susan tak mau lagi datang keMasjid. Ia merasa bahwa pertanyaannya telah mengusik lelaki yang 22
  23. 23. menjawab pertanyaannya dengan mimik wajah begitu serius. Sedangkan iatidak suka mengusik siapapun juga.” Sejauh yang saya ketahui dan menurut pemahaman saya, lelaki itumenjawab pertanyaan Susan bukan karena merasa terusik. Hanya saja,memang ia berwajah serius. Maka saya katakan kepada Abdul Qadar,“Jelaskanlah kepada istri anda dengan penuh kelembutan dan ketenanganfikiran, bahwa banyak orang-orang yang berasal dari India dan Pakistanberwajah serius. Hal seperti ini bisa anda lihat di setiap bandara maupunterminal bis, ataupun di pusat perbelanjaan. Inilah kelemahan budayakami.” Lambat-laun Susan dapat memahami hal itu dan setelah beberapabulan ia kembali mengunjungi Masjid. Setiap minggu semakin bertambahbanyak hal mengenai Islam yang dipelajarinya. Ia rasakan bagian tanya-jawab sangat bermanfaat untuk mengenal nilai-nilai dan iman Islami. Iapun membangun persahabatan dengan banyak perempuan muslimahjama’ah Masjid dan banyak memperoleh dukungan dan penghormatan darimereka. Susan menyukai jalan hidupnya yang baru dan mendambakanmemeluk Islam. Adalah kehormatan bagi diri saya untuk mengajaknyamembaca Syahadah, sumpah seseorang yang memeluk Islam. Makasusanpun mengucapkan, “Asyhadu an La ilaha illa_Allah, wa asyhaduanna Muhammadan Rasulullah; Saya bersaksi bahwa tiada tuhan(sesembahan) selain Allah, dan Mahammad adalah utusan (rasul) Allah.”Maka, ia telah menjadi seorang Muslimah, berarti ia adalah saudari kitadidalam Islam. Pada hari itu juga, saya menikahkannya dengan suaminyasecara Islam di Masjid. Dan, Susan pun menikmati kehidupannya yangbaru dibawah naungan keberkahan Imannya kepada Islam. Dalam kesempatan menyelenggarakan pernikahan secara Islam, sayamenjelaskan kepada mereka bahwa suami diwajibkan menyerahkan Mahar(Mas Kawin/Bingkisan) kepada istrinya. Saya pun mengingatkan merekabahwa mahar yang diberikan menjadi milik pribadi sang istri yang bolehdipergunakan sekehendak hatinya dan sang suami tidak diperkenankanmembicarakan perihal pemberian itu sepanjang hayatnya. Seranta, AbdulQahar pun sepakat segera membayarkan mahar. Susan pun terpanamengetahui betapa Islam menghormati kaum perempuan dan ia jugakagum atas cara Islam melindungi hak-hak perempuan. Hal ini semakinmeneguhkan keImanannya didalam Islam. Untuk digaris-bawahi,pernikahan berlangsung di Negara Bagian Maryland, Amerika serikat. Beralih sejenak dari kisah Susan, berikut ini akan saya ceritakan jugasuasana pernikahan lainnya yang berlangsung di Negara Bagian Michigan,beberapa tahun kemudian. Sebagai Imam Masjid Tauhid, salah satu tugassaya adalah sebagai Penghulu dalam pernikahan Muslim di Negara bagianini. Seorang pemuda Muslim menemui saya, ia minta saya memimpin 23
  24. 24. upacara pernikahannya. Saya jelaskan kepadanya dan calon istrinya, hak-hak lelaki dan perempuan didalam Islam dan perihal mahar. Selanjutnya mereka mengisi formulir isian data pernikahan danformulir isian pembayaran Mahar. Kemudian, saya tanyakan kepadamereka apakah masih ada pertanyaan lainnya sebelum merekamengikatkan diri didalam lembaga pernikahan. Calon mempelaiperempuan menjawab, “Tidak ada pertanyaan lagi dari saya.” Calonmempelai Lelaki berkata, “ Saya ada pertanyaan penting perihal mahar,saya mengerti bahwa saya diwajibkan membayar mahar yang nantinyasepenuhnya menjadi hak istri saya. Tidakkah ia pun berkewajibanmemberikan mahar untukku?” Maka, sebagaimana halnya Susan, sangcalon istri ini pun terpana atas cara Islam mengangkat martabat dankehormatan perempuan. Kembali kepada Susan, kini ia telah memilih nama ‘Saeeda’, sesuaidengan sifat dirinya yang lembut dan selalu penuh kesantunan terhadapsiapa saja. Ia memeluk Islam dengan pengetahuan yang jelas, ketulusanyang tiada tara, dan komitmen (rasa tanggung-jawab) penuh. Segera iamengenakan busana Muslimah, tak ada sedikitpun rasa enggan ataupuntakut atas bisik-bisik tetangga atau komentar masyarakat umum. Anak-anak perempuannya; si kembar; yang ketika itu duduk di sekolah dasardimintanya untuk mengenakan jilbab dan tidak perlu menghiraukan olok-olok teman-teman sekolahnya. Malahan saya menasehatinya agar anak-anak seusia mereka tidak perlu menghadapi situasi pelik ini di sekolah.Namun ia menekankan pada perlunya pembelajaran dan pengamalan jalankehidupan Islami sejak usia dini. Maka Saeeda dan kedua gadis kecilnyapun mengenakan busana Muslimah sehingga mudah dikenali dan nampakbegitu anggun dimanapun mereka berada. Itulah bukti tingkat keimanan dan komitmen dirinya. Suaminya jadisuka menertawakan dirinya sendiri, ia merasa bahwa kita yang terlahirIslam begitu meremehkan Islam sehingga komitmen kita pun rapuh.Begitulah, selanjutnya Abdul Qadar dan Saeeda memperoleh kehidupanrumah-tangga yang penuh kedamaian dan kebahagiaan yang didambakansetiap keluarga._____________________________________Cahaya Hidayah Menerangi Budaya Keterbukaan… DR. NAJAT Dr. Najat dilahirkan, dibesarkan, dan mendapatkan pendidikan diIndia. Ia datang ke Windsor, Kanada untuk melanjutkan studinya ketingkat Pasca-Sarjana. Saya tidak menuliskan nama aslinya karena begitu 24
  25. 25. panjang dan sulit diucapkan. Dari nama aslinya itu saya bisa mengetahuibahwa ia berasal dari keluarga Hindu yang taat yang menamakannyadengan nama khas Hindu. Ia memperoleh pendidikan agama yang sangatketat, dan ia terapkan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh sejauhkesanggupannya selama ia menetap di India. Di Universitas Windsor ia berhadapan dengan interaksi berbagaigagasan dan aneka budaya yang berjalan begitu sehat. Sebagaimana paramahasiswa yang lain, ia pun berpikiran terbuka. Ia ingin menjadikanhidupnya penuh makna bagi dirinya sendiri. Akibatnya, ia tidak merasanyaman dengan gagasan dan penerapan ajaran Hindu yang dianutnya.Maka mulailah ia mempelajari kitab Injil Kristiani. Ia pun merasa ajaranini lebih memuaskan akalnya daripada agama yang sejak semuladiyakininya. Maka iapun menerima ajaran kristiani sebagai keyakinanbarunya, ia jalani dengan tulus-hati hingga setahun lebih. Namunkemudian ia merasa tidak memperoleh puncak pemuasan ruhaniah ataspencarian dalam dirinya. Mulailah ia melirik Islam dan menggali IdeologiIslam. Perang batiniah religius pun berlangsung dalam dirinya, bersamaandengan berjalannya kegiatan studi doktoralnya di bidang RekayasaTeknologi. Kampus-kampus perguruan tinggi di Kanada menyuguhkan suasanaunik dalam kebebasan memilih dan menjalani pilihan masing-masingindividu. Adakalanya, perdebatan yang membangun sikap salingpengertian pun diselenggarakan antara para ulama/sarjana Yahudi, Kristen(Nasrani), dan Muslim, dalam suasana yang amat sehat. Maka terbukalahpintu pengetahuan bagi banyak orang yang selama ini terkungkung olehpendapat pribadinya. Dan, Najat pun mempelajari lebih banyak lagi perihalIslam dari berbagai sumber. Ini membawa cakrawala kesadarannya untukcenderung memilih Tuhan Yang Esa ketimbang beribadah kepadabermacam-macam ‘tuhan’. Didalam Islam, ia menemukankeajegan/konsistensi dan kesinambungan logis daripada semua ajaran yanglain. Maka ia pun memeluk Islam dan memilih nama Najat sebagai namaislaminya. Semoga Allah SWT memelihara keIslamannya, mengingatbahwa masuk Islam itu sangatlah mudah sementara tumbuh-kembangnyapemahaman ajaran Islam didalam diri seringkali berlangsung begitulambat. Najat menyadari bahwa untuk menerapkan Islam secara tulus-ikhlasadalah dengan jalan ia menikah sesegera mungkin. Keinginannya inidengan cepat terkabul. Ia menikah dengan seorang gadis Muslimahterpelajar yang berasal dari keluarga terhormat di Windsor. Upacarapernikahan mereka berlangsung di Masjid Windsor. Najat bukan hanyatelah lulus dalam kehidupan berumah-tangga, karena pada waktu itu ia puntelah lulus dari Universitas Windsor dengan meraih gelar doktoralnya. 25
  26. 26. Selanjut DR. Najat pun berusaha mendapatkan pekerjaan. Ia mendapattawaran istimewa dari Ford Company di Detroit. Iapun menerima tawaranitu dan bersama keluarganya ia berpindah ke Farmington Hills, sebuahkawasan permukiman di pinggiran Detroit. Sebuah masjid baru dibangun di wilayah ini, namanya TawheedCenter of (Pusat Tauhid) Farmington Hills, Michigan. Di masjid inilahbeberapa kali saya bertemu dengannya. Suatu hari, saya bertanyakepadanya perihal kemampuannya membaca Al-Qur’an dalam tulisanaslinya, yakni huruf Arab. Betapa terkejutnya saya mendapati kenyataanbahwa seorang Najat yang begitu berbakat belum bisa membaca Al-Qur’andalam bahasa Arab. Alasannya sudah jelas, banyak umat Muslim yangtidak sanggup meluangkan waktu untuk membimbing orang lainmempelajari Islam dengan pola orang per orang. Jika terus menerusdemikian, banyak orang yang berkemauan belajar menjadi telantar ataupunkecewa. Tanpa pengorbanan waktu pribadi akan sangat sulit mencapaikemajuan dalam hal apapun. Ungkapan keprihatin sebatas kata takkanbermanfaat. Saya pun terang-terangan bertanya kepada Ny. Najat,“Mengapa anda belum mengajarkan abjad Arab kepada suami anda,sedangkan anda berdua telah beberapa tahun menikah ?” Namun ia tidakbisa memberikan jawaban yang memuaskan. Maka saya katakan kepadaDR. Najat, “ Mari kita buat kesepakatan. Luangkan waktu anda empatakhir pekan bersama saya, maka saya jamin anda akan mampu membacaAl-Qur’an. Insya Allah (dengan perkenan Allah SWT)!” Kami pun sepakatuntuk bertemu di Tawheed Center selama beberapa jam seusai shalatSubuh. Sebuah kejutan yang menggembirakan terjadi, setelah berlangsungempat akhir pekan, DR. Najat telah bisa membaca Al-Qur’an dalam bahasaArab. Hal ini membangkitkan semangat para pembelajar potensial yanglain. Banyak saudara-saudara Muslim yang mulai menerima murid barudengan pola orang per orang (satu murid satu pembimbing). Kami pundikagetkan oleh seorang Doktor Medik (bergelar ‘MD’) kelahiran Amerikapun bergabung dalam kelompok bimbingan sebagai murid baru. Kegiatanpagi hari ini seringkali dilanjutkan dengan sarapan bersama di Masjid. DR. Najat telah bisa membaca berbagai surah dari Juz terakhir Al-Qur’an. Namun ia masih memerlukan guru yang lebih baik daripada saya.Seorang akhi (saudara muslim lelaki) asal Syria yang berusia lebih tua darisaya; Syeikh Al-Atasy; bersedia mengajar DR. Najat secara privat. Ia punmulai bisa menikmati pembacaan Al-Qur’an setelah belajar carapengucapan yang benar dari seorang guru berpengalaman yang mampuberbahasa Arab. Baik Syeikh Al-Atasy maupun Najat, amat menyukaikegiatan mereka ini dan menambahkan waktu belajarnya menjadi setiaphari sesudah shalat Subuh selama sekitar satu setengah jam. Seusai belajar,Najat langsung berangkat dari masjid menuju tempat kerjanya. Sepulang 26
  27. 27. bekerja ia membawa serta keluarganya mengikuti jama’ah shalat Isya’ diMasjid. Syeikh Al-Atasy dan Akhi Najat sangat mementingkankelangsungan pembelajaran Al-Qur’an yang mereka lakukan. Ketikamusim dingin tiba, Detroit mengalami musim dingin yang sangat buruk.Mereka bersusah payah menembus salju dan hujan badai demi tak terlewatseharipun untuk belajar. Syeikh Al-Atasy begitu bangga dengan muridnya.Ia suka mengatakan kepada saya, “Pengucapan bacaan Najat sudah lebihbaik daripada anda.” Najat tidak hanya bagus sekali dalam membaca Al-Qur’an, iapun sanggup membaca Al-Qur’an dari manapun andamembukakan untuknya Kitab Al-Qur’an. Ia juga mulai membaca tafsir Al-Qur’an yang ditulis dalam bahasa Inggris. Dengan demikian ia telah mulaimengapresiasi ayat-ayat Al-Qur’an beserta maknanya secara keseluruhan.Tidak berhenti sampai disini, ia pun mulai menghafal Al-Qur’an. Terakhirkali kami berjumpa, ia telah menghafal setengah dari Juz terakhir Al-Qur’an (Juz ‘amma). Betapa sulit mendapat sukarelawan untuk kegiatan lingkungan.Sebagian besar orang asyik melemparkan kritik ataupun membesar-besarkan hal kecil yang mereka telah lakukan. DR. Najat-lah yang tanpabanyak bicara ataupun keinginan menonjolkan diri di depan saya, telahmenjadi relawan untuk menjalankan hubungan kemasyarakatan Masjid.Seringkali ia membukakan pintu Masjid untuk shalat Subuh meskipun iabertempat tinggal paling jauh jaraknya dari masjid. Ia menyingkirkan saljudari jalan setapak dan lorong menuju pintu utama masjid, menaburipermukaannya dengan garam agar orang yang lewat tidak jatuhterpelanting yang bisa berakibat patah tulang. Pelayanan yang diberikanNajat ini adalah hal pokok dan teramat penting bagi komunitas kami.Sebab, setiap orang yang cidera akibat terjatuh di area Masjid dapat denganmudah mengajukan tuntutan akibat menderita kerusakan yang besar.Sebagai akibatnya, perusahaan asuransi akan menolak memberikanjaminan pertanggungan atas tempat umum seperti ini. DR.Najat juga membantu penyelenggaraan Sekolah Islam Akhir-pekan di Masjid. Maka iapun bertugas untuk membuka lagi masjidsebelum waktu Dzuhur, dan menyingkirkan salju, menaburkan garam,sebelum para guru dan murid berdatangan. Menjadi penarik danapendidikan sekolah kepada para orangtua murid bukanlah pekerjaan yangmenyenangkan, inipun dikerjakannya tanpa mengusik siapapun. Ia jugasuka berbelanja makanan ringan untuk dibagikan kepada anak-anak. Iabersihkan sendiri dapur masjid dan dicairkannya pula bunga-es didalamkulkas secara berkala. Suatu malam, saya menutup masjid seusai shalat Tarawih. Semuajama’ah telah meninggalkan masjid. Saya padamkan lampu-lampu 27
  28. 28. diberbagai tempat satu demi satu. Sampai di tempat wudhu jama’ah lelaki,betapa terkejutnya saya melihat DR. Najat sedang membersihkan kamarkecil. Ada enam kamar kecil di tempat itu. Saya pun berterima kasihkepadanya. Ia hanya tersipu dan tersenyum kecil kemudian berusahamengalihkan pembicaraan, ini menunjukkan bahwa menurutnya bukanlahhal yang luar biasa bahwa ia membersihkan kamar kecil. Mungkin karenaia mengenal dengan baik pepatah urdu berikut ini, ‘Keikhlasan pengabdian kepada Allah SWT bukanlah urusanperdagangan. Maka hendaklah jangan berharap untuk mendapatkanpenghargaan, karena yang demikian itu akan melunturkan semangatkeikhlasan.’ Akhi Najat tidak membatasi dirinya pada kegiatan didalam masjidsaja, Lahan sekeliling masjid terbentang lebih dari 2.5 acre (hampir 1.2hektar). Dan Najat mengerjakan pemupukan lahan yang berumput setiaptahun. Ia beli sendiri pupuk dan pembasmi hama dengan uang pribadinya,sebagaimana juga ia membeli garam untuk ditaburkan dimusim salju. Iarendah hati dan masih muda usia. Menebang pepohonan yang telah mati disekeliling masjid dikerjakannya juga. Kami sangat menghargai pelayanannya selama Bulan Ramadhandimana biasa diselenggarakan acara jamuan makan (buka puasa) bersamaseminggu sekali. Ia membantu masing-masing penyaji dalammempersiapkan jamuan makan dan menyajikan kepada tamu lelaki danperempuan. Ia operasikan sendiri mesin penyedot debu (vacuum cleaner)membersihkan masjid hampir setiap usai jamuan makan. Ia lebih sukamengerjakan sendiri semua pekerjaan yang perlu dikerjakan, daripadameminta atau menghimbau orang lain. Ia bekerja-sama dengan pararelawan lainnya mengatur dan menyajikan minuman lezat kepada jama’ahseusai melaksanakan shalat Ied. Ia membina hubungan yang sangat eratdengan para warga di lingkungan kami. Biasanya, ia juga mengundangbanyak keluarga ke rumahnya untuk mencicipi makanan ringan maupunjamuan makan setelah penyelenggaraan shalat Ied. Dilakukannya hal itudari tahun ke tahun, dan tanggapan dari warga pun sangatmenggembirakan. Karena itulah, hal pertama yang saya lakukan setelahmenyampaikan khutbah Ied adalah segera berkunjung ke rumah akhi Najatuntuk menghibur diri saya dengan makanan-makanan yang serba lezat.Semoga Allah SWT melimpahkan ganjaran kepada akhi Najat sekeluargaatas keajegan dan ketulusannya memberikan pelayanan. Suatu hari saya bertanya kepada akhi Najat, “Pengetahuan andaperihal Al-Qur’an dan Islam cukup memadai. Bagaimanakahsesungguhnya perasaan anda terhadap ajaran Islam?” DR. Najat menjawab,“Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya katakan sejujurnya, sayasangat terpuaskan. Tidak pernah saya sepuas ini ketika saya menganut 28
  29. 29. Kristen maupun Hindu. Saya mendapati Al-Qur’an memberikan dampakyang sangat melegakan akal dan kalbu saya.” Kini akhi Najat bahkan sesekali menjadi Imam shalat. Nyatalahdisini tidak terdapat hirarki didalam Islam. Siapapun yang berpengetahuanbaik dan bertaqwa bisa menjadi pemimpin dalam pelaksanaan bermacampelayanan Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: & Ω ΘΩ ¬Ρ∇ΗΩ⊆Τπ ԎςΚ… ϑðΨ/≅… ΩŸ⇒Ψ∅ ψΡ∇Ω∨≤{ςΚ… ⇐ΜΞ… “… Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allahadalah yang paling bertaqwa…” (Al Hujuraat:13). Dalam Islam seorangyang taqwa boleh menjadi pemimpin tanpa membedakan warna kulit,kelompok, asal geografis maupun kebangsaan.______________________________Cahaya Hidayah didalam Hadiah Natal… JIM Irama kehidupan di dunia Barat berjalan begitu cepat. Dalam hirukpikuk kehidupan sedemikian itu, banyak kaum Muslim yang hidup di Baratmasih bisa meluangkan waktu untuk berkiprah secara sukarela dilingkungan masjid dan Sekeloh Islam. Contohnya, suatu hari para jama’ahMasjid Tauhid Detroit sepakat untuk bersilaturahim ke Masjid TauhidFarmington Hills seusai shalat Subuh. Kami hendak menebang pohon-pohon yang tumbuh liar di halaman masjid menggunakan gergaji mesinkemudian memotong batang pohon itu menjadi potongan-potongan kecil.Potongan-potongan kecil itu kami satukan dalam ikatan-ikatan, selanjutnyakami letakkan di tepi jalan agar diangkut oleh dinas pelayanan kebersihankota. Dengan begitu halaman masjid menjadi bersih. Maka berangkatlah kami dalam dua mobil untuk keperluan inisetelah berjamaah shalat Subuh. Diantara kami terdapat seorang mualafbernama Jim yang semobil dengan saya. Dalam perjalan saya tanyakankepadanya, bagaimana ia masuk Islam. Secara rinci, ia ceritakanpengalaman hidupnya yang menarik itu. Beginilah ceritanya: “Sebelumnya, sebagai penganut Kristen saya biasa ke gerejabersama kedua orangtua saya. Untuk memperoleh pelayanan gereja,orangtua saya harus menyisihkan sepuluh persen dari penghasilannyauntuk disumbangkan ke gereja ini. Merasa tidak cocok dengan praktekkeagamaan di gereja ini orangtua sayapun akhirnya berpindah ke gerejalain. Di gereja berikutnya ini, kami cukup menyisihkan delapan persenpenghasilan perbulan untuk memperoleh pelayanan gereja. Hal ini dapatdimaklumi oleh orangtua saya, karena hampir semua gereja melakukan hal 29
  30. 30. ini untuk penyelenggaraan gereja. Tetapi saya tetap saja tidak suka denganpraktek ‘membeli tempat duduk’ yang dikemas dalam bentuk sumbanganwajib seperti itu. Saya putuskan untuk tidak lagi ke gereja karena sayasungguh tidak setuju dengan praktek-praktek yang dilakukan oleh gereja-gereja itu.” “Lulus dari High School (SLA), saya pun melanjutkan ke perguruantinggi. Disini, saya bertemu dengan banyak mahasiswa Muslim dariberbagai Negara. Saya sempatkan bertanya kepada mereka:”Adakah kalianwajib membayar tempat untuk beribadah?” Merekapun menjawab:”TidakSama sekali. Sebenarnya setiap orang memiliki hak yang sama untukmenggunakan tempat ibadah untuk mengerjakan shalat.” Perlu saya tambahkan disini, bahwa di lingkungan kampusperguruan tinggi di dunia Barat, para mahasiswa dihadapkan padakebebasan memilih yang tanpa batas. Sebagian kecil diantara merekamemanfaatkan kebebasan itu secara keliru sehingga menghancurkan masadepan mereka. Namun, sebagian besar mahasiswa memanfaatkan denganbaik kebebasan ini, mereka berinteraksi secara konstruktif satu sama lain.Interaksi inilah yang sebenarnya sangat menguntungkan. Mereka tidakpernah menjawab dengan singkat pertanyaan orang lain sehingga sipenanya tetap dalam kebingungan. Tidak juga menjawab terlalu ‘njelimet’sehingga si penanya tak berani lagi bertanya lebih lanjut. Lebih dari itu,mereka tidak memaksakan pandangannya terhadap orang lain sehinggatidak terjadi perseteruan diantara mereka. Bentuk interaksi yangmenguntungkan semacam ini berlangsung sepanjang waktu diantara semuamahasiswa, maka sebenarnya, ini menjadi pedoman bagi sebagian dari parapendakwah keagamaan kami. Jim berpandangan bahwa sebenarnya tidak adanya pungutan biayatempat ibadah adalah praktek yang paling masuk akal. Karena itulah iabertanya pada diri sendiri, mengapa tidak ditelaahnya saja detail-detailselebihnya dari agama ini? Kemudian ia lanjutkan berkisah kepada saya: “Dulu, pacar saya tinggal se-apartemen sewaan dengan saya. Iaberagama Budha. Ia letakkan patung-patung budhanya di semua penjuruapartemen kami, walaupun ia sendiri tidak begitu rajin beribadah. Saya puntidak menjalankan ibadah sebagai seorang Kristen. Dari pembicaraan sayasehari-hari ia dapat menangkap pencarian saya atas suatu pegangan hidup.Kamipun saling menerima apa adanya satu sama lain. Akhirnya, tibalahNatal.” Natal adalah saat-saat dimana setiap orang mendambakan diberihadiah oleh teman karibnya, tanpa memandang apapun keyakinanagamanya. Misalnya saja, orang-orang Yahudi yang sama sekali tidakmengimani Yesus, justru merekalah yang terlebih dahulu saling bertukarhadiah dan menghias tempat-tempat usaha mereka dengan pohon natal 30
  31. 31. yang begitu besar untuk memikat pelanggan. Jim melanjutkan lagikisahnya: “Pacar saya juga tak ketinggalan bergegas ke tempat belanja, untukmembelikan saya hadiah Natal. Ditempat itu perhatiannya tertuju padasebuah buku yang menurutnya nampak sangat filosofis. Iapun berkata padadiri sendiri, “Jim tentu akan suka dengan buku ini, karena ia selalu berkata-kata aneh bagaikan ungkapan novel.” Maka sayapun mulai membaca bukuini begitu saya terima sebagai hadiah darinya. Ternyata buku ini adalahTerjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Inggris. Saya pun suka membacanyasetiap hari, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan dalam pikiran saya.Para mahasiswa Muslim di kampus memberikan jawaban yang masuk akalatas berbagai pertanyaan saya. Ini membuat saya semakin tertarik kepadaIslam, dan pada akhirnya saya puas dengan jalan hidup Muslim. Sayalantas menghubungi beberapa anggota Himpunan Mahasiswa Muslim dikampus Universitas dimana saya belajar. Mereka pun menjelaskan kepadasaya ikrar yang harus diucapkan untuk masuk Islam. Maka dengan penuhkesiapan hati dan bersemangat, saya menyatakan memeluk Islam. Pujisyukur kepada Tuhan – Alhamdulillah.” “Saya telah sangat memahami bahwa Shalat adalah hal terpentingdidalam Rukun Islam. Biasanya saya mengerjakan shalat di kampus dan dirumah. Karena itu saya minta kepada kekasih saya untuk memindahkanpatung-patung miliknya dari ruang keluarga karena saya perlu ruangan ituuntuk mengerjakan shalat. Ia tidak menyukai hal ini; memang tidaklahmudah berhadapan dengan hal-hal yang dapat mengusik keyakinanseseorang; Namun akhirnya dengan perasaan enggan ia pun memindahkanpatung-patung itu demi menyenangkan hatiku.” “Begitu pendidikan dan keyakinan Islam saya semakin menguat,saya mulai menampakkan kekurangan perhatian terhadapnya, kamipunsempat beberapa kali bertengkar soal ini. Berkali-kali ia berkata, “aku telahselalu berusaha sebaik-baiknya untuk menyenangkanmu, karenakesetiaanku kepadamu tidak pernah berkurang sedikitpun. Lalu, apa yangmembuatmu mengabaikanku sementara aku tetap dengan kesetiaankupadamu?” Saya berikan jawaban serius kepadanya,”Semua hal yang kamukatakan itu benar adanya, saya tidak mengingkari hal itu. Tapi kini sebagaiseorang Muslim saya tidak mungkin lagi menjalin hubungan perkawinandengan Non-Muslim” Ia mengenal sepenuhnya sifat dasar saya yanglembut dan tenang serta hubungan saya yang selalu baik dengan teman-teman karib saya. Maka iapun tidak pernah berharap untuk meninggalkansaya, walau sebesar apapun pengorbanan yang ia mesti berikan. Iakemudian bertanya, “Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan demimempertahankan hubungan kita ini?” Saya katakan, bahwa untuk itu iaharus memeluk Islam. Ia kembali bertanya,”Apa itu Islam?” Saya jelaskan 31
  32. 32. kepadanya secara keseluruhan pokok-pokok ajaran Islam dalam waktusingkat. Ia kurang bisa mencerna sepenuhnya gagasan yang saya uraikan,namun akhirnya iapun setuju memeluk Islam untuk menenteramkan hatisaya. Ia singkirkan sendiri patung-patung miliknya dari apartemen kami.” “Kami pun kemudian mengikatkan diri dalam pernikahan secaraIslam, setelah itu kami biasa beribadah di Masjid setempat. Kehidupankami berjalan sebagaimana mestinya. Ternyata, istri saya tidak tertib danteratur menjalankan Shalat 5 Waktu. Maka, saya pun menegur-nya,”Bagaimana kamu ini, muslim yang bagaimanakah yang tidak tertibshalat lima waktunya?” Ia menjawab,”Saya sudah berusaha semampusaya!” Maka, sekali lagi saya tegas-tegas mengingatkannya. Iapun mulaimenangis dan mengadukan perihal perselisihan kami kepada teman-temanmuslimah di lingkungan kami.” “Sampailah persoalan kami terdengar oleh para pemuka umatmuslim setempat. Merekapun menugasi pasangan suami-istri muslimterpelajar agar berusaha memperbaiki hubungan kami. Saya dinasehati olehmereka,”Istrimu seorang mualaf, Islam meresap kedalam kalbu dan jiwaseseorang secara bertahap, janganlah bersikap teramat keras terhadapnya.”Saya dapat mencerna nasehat ini dan sayapun memperlunak sikap kritissaya kepada istri saya.” “Sebelum memeluk Islam, saya suka membuang-buang waktu yangberharga dengan berkumpul bersama muda-mudi di lingkungan kami. Jikakami sedang berkumpul banyak dari kami yang berbicara semaunya secarabersamaan tanpa mempedulikan gagasan dan harapan teman yang lain.Jadilah tempat kami seperti “Rumah Gila” dimana setiap orang meneriakisatu sama lain. Setelah masuk Islam, saya masih datang berkumpulbeberapa kali. Teman-teman begitu kaget melihat perubahan saya yanglebih banyak diam. Saya berbicara hanya ketika yang lain memperhatikanapa yang saya bicarakan. Mereka heran dengan perubahan etika dantingkah laku yang terjadi pada diri saya. “Apa yang telah terjadi denganJim?” begitulah diantara mereka saling bertanya. Saya menjadi sebalmendengar obrolan yang berlarut-larut tanpa manfaat. Hasilnya, waktuterbuang percuma. Saya berharap bisa meninggalkan kehidupan sosialsemacam ini. “Pemikiran keagamaan orang tua saya pun sama sekali berbedadengan saya. Ini membuat saya merasa sulit sekali untuk tinggal dilingkungan yang menyebabkan saya merasa tertekan sedemikian rupa.Saya berharap bisa pindah ke suatu tempat dimana saya leluasa menjalaniajaran Islam yang begitu indah ini dengan ketulusan dan penuhkonsentrasi. Begitulah selanjutnya, saya tinggalkan kota kelahiran,orangtua, dan kawan-kawan. Dan sampailah saya disini, di Detroit. Istrisaya masih menetap di kota kelahiran kami untuk menyelesaikan kuliah 32
  33. 33. kesarjanaannya. Di Detroit, saya mengunjungi teman kuliah saya, akhiAhmad, Ketua organisasi Muslim Indonesia dan Malaysia di AmerikaUtara. Saya datang tanpa bekal apapun. Adalah ia yang menyediakantempat tinggal, makan dan pakaian. Itulah sebabnya anda melihat saya hariini datang ke masjid bersamanya. Saya temukan iklim spiritual yangnyaman di masjid ini. Saya sangat bahagia disini.” Banyak hadiah dari saudara-saudara Muslim di masjid untuk Jim. Iapun begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan kami. Ia mulaimencari kerja disekitar Detroit. Dalam waktu singkat ia sudah mendapatpekerjaan. Namun, kemudian pekerjaan ini ia tinggalkan karenapemiliknya melarang Jim mengambil jeda untuk pergi Shalat Jum’at.Masih banyak pengusaha lain yang sangat membantu karyawan merekayang Muslim dan memperpanjang waktu istirahat makan siang merekauntuk keperluan Shalat Jum’at. Jim telah mempelajari banyak bagian dari Al-Qur’an, pengucapan(makhraj)-nya pun sangat bagus. Saya tanyakan kepadanya,”Adakah inikarena tuan rumahmu yang dari Indonesia membantumu dalam belajarmembaca Al-Qur’an?” Jim menjawab, “Tidak. Sebenarnya, dirumahterdapat sebuah komputer dan CD-ROM Tilawatil-Qur’an. Saya putar sajaberulang-ulang untuk belajar sendiri ayat-ayat Al-Qur’an”. Suatu hari Jim bertanya kepadaku, apakah ia boleh membeli satu darikitab Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa Inggris yang ada di masjid.Saya katakan kepadanya, “Untuk mualaf, itu diberikan secara cuma-cuma”.Ia katakan, itu dimaksudkan untuk ibundanya dengan harapan sang ibuakan memperoleh cahaya hidayah sebagaimana telah terjadi pada dirinya.Ia pun berkeinginan memberikan beberapa untuk para sahabat lamanya dikota kelahirannya. Kembali saya katakan kepadanya, “Kamu boleh ambilberapapun yang kamu mau dengan gratis.” Sementara itu, Jim bertemu dengan sekelompok orang yang disebutsebagai Kelompok Dakwah, mereka ini menyeru orang-orang kepadaIslam. Mereka manyambut hangat para mualaf. Tidak sekedar menyajikankeramah-tamahan semata, mereka pun memberikan pengajaran sendi-sendiagama Islam kepada para mualaf itu. Jim bergabung bersama para ikhwanini menempuh perjalanan ke pelbagai negara bagian di Amerika Serikatuntuk mengajarkan, belajar, dan berdakwah Islam. Biasanya ia berkunjungke Detroit semalam atau dua malam setelah perjalanan dakwahnya selamaberbulan-bulan. Maka kami hanya sempat berjumpa dengannya dalamwaktu yang sangat singkat. Nampaknya ia telah memutuskan untukmengabdikan hidup masa mudanya untuk melayani Al-Islam. SemogaAllah SWT semakin memperkaya pengetahuan dan pengamalan Islam bagiJim. Semoga Allah SWT menerima pengabdian, komitmen, danpelayanannya kepada Al-Islam. Amiin 33
  34. 34. ____________________________________Cahaya Hidayah Mengantarnya Sebagai Syuhada RENDA TOSHNER Terlahir di Amerika Serikat dalam keluarga Turki, ia bukanlahseorang lelaki mualaf, namun demikian ia tidak mengenal sedikitpuntentang Islam sehingga ia menginjak usia remaja. Kisah hidupnya memberibanyak pelajaran bagi kita. Sebelum mengisahkan dirinya, terlebih dahulu saya akan awalidengan memberikan gambaran tentang komunitas Turki yang bermukim disekitar Detroit, Michigan. Orang-orang Turki mulai bermigrasi ke Amerikadi tahun 1970-an. Kini generasi ke-tiga dari mereka berkembang ke seluruhAmerika. Mereka memiliki pekerjaan dengan tingkat profesionalismetinggi dan juga banyak sebagai pengusaha sukses. Sebagian besar darimereka bermukim di lingkungan permukiman orang berada di Detroit.Mereka mapan disegi keuangan dan memiliki hubungan sosial yang baikdengan orang-orang pemerintahan. Waktu itu saya baru diperkenalkankepada mereka karena saya ikut membantu beberapa kali pengurusanjenazah yang mereka selenggarakan di masjid Tawheed Centre diFarmington Hills, Michigan. Saya menjadi lebih dekat dengan merekaketika saya mulai diundang berkunjung ke rumah-rumah mereka dan jugadiundang untuk menghadiri Turkish Social Club (= Kerukunan MasyarakatTurki) yang mereka dirikan. Ternyata sebagai Muslim mereka telahmelebur begitu rupa kedalam masyarakat Amerika. Kecenderungan inibukanlah hanya terjadi pada masyarakat keturunan Turki, karena berbagaiimigran Muslim datang ke Amerika dari berbagai negri juga meleburkandiri kedalam masyarakat Amerika sehingga kehilangan jati-diri keIslamanmereka. Di lain pihak banyak juga Imigran Muslim yang menjadi semakinbaik keIslamannya setiba di Amerika dibanding ketika masih di tanah airmereka sendiri. Bahkan anak-anak mereka melebihi ketaatan orangtuamereka dalam menjalani keIslaman mereka dengan dukungan fahamkebebasan beragama di Amerika. Kedua orangtua Renda adalah anggota terpandang pada komunitasTurki Amerika ini. Keduanya berprofesi dokter dan berkelimpahan secaramateri. Jadi, Renda terlahir dalam keluarga sangat berkecukupan. Namunkedua orangtuanya tidak membesarkannya dengan pendidikan Islami. Setelah lulus SLA Renda melanjutkan ke Universitas. Ia tidakmengenal Islam sama sekali sampai kemudian ia mulai berbaur dalampergaulan dengan para mahasiswa Muslim dari negara lain yang belajar di 34
  35. 35. kampusnya. Amerika; termasuk juga universitasnya; menawarkankebebasan memilih seluas-luasnya bagi masyarakatnya dan tidak pernahikut-campur dalam hal pilihan pribadi orang per orang. Renda padadasarnya berpembawaan halus, maka pengajaran dan pengamalan Islammenarik hatinya. Ia terkejut menyadari bahwa dirinya yang sesungguhnyaterlahir dalam keluarga Muslim mendapati kehidupan kesehariankeluarganya menjauhkan dirinya dari pengetahuan dan pengamalan Islam.Ia pun belajar dan belajar perihal Islam dari hari ke hari dan berusahauntuk mengamalkannya. Dalam hal perkuliahan, Ia tergolong mahasiswa yang sangat cerdas.Ia menekuni bidang studi Arsitektur dan mampu menyelesaikannya denganmudah. Selanjutnya ia bergabung dengan firma arsitektur dalam rangkamempersiapkan diri untuk ujian lisensi Arsitek. Biasanya seorang Arsitekbutuh waktu bertahun-tahun dan berkali-kali menempuh ujian untukmemperoleh lisensi. Renda yang sangat pandai ini mampu memperolehlisensi dalam sekali tempuh. Begitupun dalam bertumbuh-kembangnya pengetahuan danpengamalan keIslamannya berlangsung dengan begitu Istimewa. Iamemetik manfaat yang amat besar dari aktifitasnya di Masjid Anarbor danmasyarakat Muslim disana. Bersamaan dengan itu, orangtuanya yang telahpensiun memutuskan untuk kembali ke Turki, melewatkan hari tuamenetap di negeri asal mereka. Renda memilih untuk tetap tinggal diAmerika karena ia menyukai kehidupan masyarakat Muslim Anarbor. Iaingin lebih meningkatkan keikut-sertaannya dalam kegiatan-kegiatan Islamdisana. Saya biasa memberikan khutbah Jum’at sekali sebulan di MasjidAnarbor yang terdapat di lingkungan Unversitas Negeri Michigan(Michigan State University). Renda biasanya bertindak sebagai muazzin dimasjid besar ini. Saya teringat, suatu kali saya pernah membawakan kisahNabi Yusuf AS dalam kesempatan khutbah Jum’at. Dalam kisah ini sayamenyebutkan pakaian Nabi Yusuf AS telah dipergunakan oleh kakak-kakaknya sebagai bukti untuk meyakinkan bahwa Yusuf telah dimakanoleh binatang buas. Berikutnya, ketika istri Aziz mengajak Yusuf ASberselingkuh dan kemudian memfitnahnya, pakaian beliau menjadi buktibahwa istri Aziz-lah yang bersalah. Belakangan lagi, pakaian Nabi YusufAS menjadi sarana pemulihan kesehatan mata Ayahandanya yang menjadibuta lantaran duka yang mendalam kehilangan Yusuf. Selanjutnya sayakatakan, “Jika sepatong pakaian Nabi Yusuf bisa menjadi mukjizat, makabetapa yang mengenakannya pun tentu sangatlah lain daripada yang lain.”Renda menyukai apa yang saya simpulkan ini dan menelepon saya begitusaya tiba di rumah. Ia bertanya,”Adakah khutbah tadi buah fikiranmusendiri?” Saya katakan padanya,”Sama sekali bukan. Semua yang saya 35
  36. 36. sampaikan tadi berasal dari kitab Tafsir, yakni keterangan dan penjelasanAl-Qur’an yang ditulis oleh Ulama. Saya bukanlah seorang ulama, sayatidak berhak menjabarkan Al-Qur’an menurut diri sendiri.” Sebagai Muslim, selain terus memperdalam pengetahuannya, ia jugaingin dirinya nampak sebagai sosok Muslim. Ia kenakan busana Islamikhas Turki sepanjang waktu, bahkan ditempat kerjanya. Saya tanyakankepadanya, “Apakah berpakaian seperti itu tidak dilarang oleh tempatkerjamu, sementara kamu harus mewakili perusahaan di berbagai tempat?”Ia tegas menjawab, “Jika mereka membutuhkan saya maka mereka harusmenerima saya apa adanya.” Saya bertanya lagi, “Apakah kamu tidakmenghadapi banyak prasangka di tempat kerja karena berbusana muslim?”Dengan polosnya ia menjawab, “Adalah masalah mereka jika gusar denganpakaian saya.” Saya suka dengan cara Renda mengenakan sorban. Sayamemintanya menunjukkan caranya mengikatkan sorban dengan begituanggun. Renda memberikan kontribusi yang sangat besar kepada berbagaikomunitas Muslim. Ia biasa memperkenalkan Islam kepada paranarapidana di penjara-penjara Amerika. Hal sedemikian butuhpengorbanan yang besar baik dari segi waktu maupun kesabaran. Berbagaipengalamannya dengan para narapidana membuahkan hal positif padadirinya. Ia rasakan bahwa para mualaf itu membutuhkan bahan bacaanyang khas, yakni singkat, ringkas, tetapi menyeluruh. Renda punmengembangkan dan membiayai sendiri pencetakan bacaan-bacaan dalambentuk pamflet. Saya dipercaya untuk mempelajari isi pamflet-pamfletnya.Saya berpendapat bahwa isinya sangat penting untuk para mualaf. SemogaAllah SWT memberinya ganjaran atas usaha yang telah dilakukannya ini.Kontribusi Renda kepada Masjid Farmington Hills juga lain dari yang lain.Ia membeli sebidang lahan seluas 1,16 hektar untuk mendirikan sebuahMasjid di Farmington Hills. Ia memiliki beberapa pilihan konstruksibangunan masjid dan tempat parkir untuk tapak itu. Penatatan arsitekturalmasjid yang sekarang ini berdiri dirancang secara eksklusif oleh Renda.Tahap perancangan arsitektur ditenderkan kepada berbagai firmaarsitektur. Perusahaan dimana Renda bekerja mengajukan penawaran hargatinggi. Renda menyarankan agar kami memilih tawaran harga terendahyang diajukan oleh perusahaan yang lain. Walaupun begitu Renda tetapmembantu perusahaan yang terpilih. Detail-detail arsitektur masjiddigambarnya sendiri. Pernah beberapa kali kami berdua harus mengikutirapat yang begitu lama dan melelahkan, tetapi Renda tidak pernahmengeluhkan hal ini. Rasanya, masjid ini tak kan kunjung terselesaikanpembangunannya tanpa bantuan profesional yang Renda berikan. Kehidupan pribadinya juga sangat unik. Ia berkunjung ke Turkiuntuk menikah. Renda tidak meminta bantuan orangtuanya agar 36
  37. 37. mencarikan calon istri dari keluarga kaya, tetapi ia memilih sendiri seoranggadis dari keluarga biasa. Renda mengetahui bahwa si gadis yangdipinangnya itu tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang Islam,namun ia begitu yakin dan berketetapan hati untuk membimbing danmengajarkan Islam kepada gadis pilihannya itu. Ia berpendapat bahwaRasulullah Muhammad SAW dan juga para nabi yang lain telah disuruholeh Allah SWT untuk terlebih dahulu menyerukan dan mengajarkan Islamkepada anggota keluarganya yang terdekat dan terkasih. Dan Renda tidakhanya mengajarkan melainkan juga tampil sebagai teladan yang baik bagiistrinya. Atas pertolongan Allah SWT, dengan cepat istri Rendamenguasaipengetahuan tentang Islam. Berdua, mereka mencinta jalanhidup Islami. Pernikahan mereka diberkahi Allah SWT dengan dua oranganak perempuan. Renda tak ingin langkah dakwah Islamnya berhenti sampai disitusaja. Ia hendak lebih berperan serta dalam kegiatan-kegiatan Islam dengandukungan penuh dari sang istri. Kala itu, peperangan di Bosnia sedanghebat-hebatnya. Banyak kaum Muslim disiksa dan dibunuh setiap hari.Banyak pemuda Muslim dari berbagai negara yang datang ke Bosnia untukmenolong saudara-saudaranya sesama Muslim. Renda tak bisa tinggaldiam dan memutuskan untuk berangkat juga ke sana. Ia tinggalkan Istridan anak-anaknya yang masih kecil di kota Anarbor. Ia menunjuk seorangwali bagi keluarganya, dari antara para Mahasiswa Muslim asal Turki. Iamenelepon saya untuk mengucap Salam dan memberitahukan perihalpengaturan yang telah ia tetapkan untuk keluarganya. Renda bersifatberkepala dingin, percaya diri, dan teguh pendirian atas sesuatu yang sudahmenjadi keputusannya. Ia mempunyai tujuan khusus, yakni menolonganak-anak yatim Bosnia. Beberapa waktu berselang setelahkeberangkatannya, kami mendapat berita bahwa Allah menghendaki Rendamenjadi Syuhada di Bosnia. Masyarakat Muslim Anarbor sangat bangga pada Renda dankeluarganya. Mereka segera membentuk badan amanat dan menggalangdana. Dana ini ditujukan untuk bekal pendidikan anak-anak Renda kelakketika mereka melanjutkan ke perguruan tinggi. Istri Renda pun begitu mulia. Ia berkembang semakin Islami sejalandengan pemahaman dan hafalan Al-Qur’an dan Hadits yang kian haribertambah banyak. Anak-anak Renda tumbuh sebagai anak-anak pintarsebagaimana almarhum Renda. Istri Renda mendidik anak-anak merekauntuk tumbuh dengan dasar keIslaman yang sangat baik. Kami juga diberitahu bahwa Ayahanda dan Ibunda Renda di Turkipun bangga menjadi orang tua sorang Syuhada. Demikian juga kaumMuslim jama’ah Masjid Tauhid Farmington Hills, Michigan, bersyukur 37
  38. 38. kepada Allah SWT bahwa masjid mereka telah dirancang oleh seorangSyuhada. Semoga Allah membalasnya dengan tempat yang megah didalamSurga Firdaus. Amiin.______________________________ Pengantar Khusus Bab ini merupakan pengantar khusus untuk bagian ke-dua dari bukuini. Para agamawan Non-Muslim yang berfikiran terbuka bahkanmengakui terdapat banyak prasangka yang diciptakan dan dilestarikanuntuk menghadapi pengajaran Agama Islam. Ini terjadi hingga pada tingkatyang mampu membuat mental seseorang tidak dapat berfikir secaraobyektif atas pengajaran Islam. Namun dengan menyingkirkan segalaprasangka yang ada dalam benaknya, seseorang yang berupayamenemukan kebenaran akan tetap sampai kepada tujuannya yang mulia.Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya: [ Ω⇐κΨ⇒Ψ♥™Σ∧<√≅… Ω⊗Ω∧ς√ ϑðΩ/≅… ΘΩ⇐ΜΞ… &†ΤΩ ⇒ς∏Σ‰ΤΣ♠ ⌠¬Σς⇒Π ÿΩ ΨŸΤΩ ⇒ς√ †ΩΤ⇒∼Ψ⊇ Ν…ΣŸΩΤΗ Ω– ⇑ÿΨϒς√≅… ] Ω Ω Π Ω “Dan bagi orang-orang yang bersungguh-sunguh berjuang untuk(berjihad, mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkankepada mereka jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta paramuhsinin (orang-orang yang berbuat baik).” [Al Ankabut :69].Sungguhpun demikian, orang-orang ini tidak menampakkan kesombonganketika telah mencapai keberhasilan menemukan jalan-Nya. Mereka iturendah hati (tawadlu’) sebagaimana juga disinggung dalam Al-Quran: [ Σ/≅… †ΩΤ⇒ΗΤΩŸΩ∑ ⌠⇐Κς… :‚فς√ ðΨŸΤΩ ΤΩ ⇒Ψ√ †ΘΩ⇒ΤΡ †Ω∨ …ΩϒΤΗ ΩΨ√ †ΩΤ⇒ΗΤΩŸΩ∑ Ψϒς√≅… Ψς∏Ψ√ ΣŸ∧Ω™<√≅… Ν…ΣΤ√†ΩΤ∈Ω ] ∃ϑð Ω Π Π ”… Mereka berkata, “Segala puji syukur bagi Allah, yang telahmenunjukkan (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapatpetunjuk jika Allah tidak memberi kami petunjuk. …” [Al Aaraf : 43) Hal kedua yang muncul dalam benak saya adalah bahwa, selalu sajaada kekuatan-kekuatan yang secara aktif mencoba membelokkankebenaran. Hal ini telah berlangsung sejak lama sekali. Kekuatan itumuncul dengan metoda-metoda baru setiap masa. Namun demikian, Selalusaja Rencana Allah-lah yang lebih unggul, sebagaimana disebutkan dalamayat Al-Qur’an berikut ini: [ ⇑ÿΞ≤Ψ|ΤΗΤΩ∧<√≅… Σ⁄κΤΩā Σϑð/≅… Σ/≅… Σ≤Ρ∇∧ÿ Ω⇐Σ≤Ρ∇∧ÿ Ω Ω ∃ϑð ΩΩ ΩΩ ] 38

×