Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Rasa ini

702 views

Published on

cerpen pemula

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Rasa ini

  1. 1. Rasa yang terpendam dalam hati, biarlah melekat Hanya bisa berharap akan hilang dengan bergulirnya waktu Ketika bel berbunyi yang menandakan jam pelajaran telah usai, dia lekas-lekas keluar dan melangkah menemui kakak kelas yang sedari tadi menunggunya. Panggillah dia Inay, yang selalu tampil sibuk tanpa kerjaan. Tapi, Sekarang dirinya tengah disibukkan dengan bimbingan yang cukup menyita banyak waktu. Dan teman- teman satu bimbingannya tidak lain adalah kakak kelasnya sendiri, yaitu Ariska dan Ugik. Meskipun dia masih kelas X, dia tidak pernah malu dan selalu berusaha akrab dengan mereka semua. Meskipun kak Ugik selalu bersifat dingin padanya, tapi lain halnya dengan Ariska. Dua sosok yang bertolak belakang. Saat Inay menghampiri mereka, Ariska lansung menyapanya. '' Inay, ikut aku dulu yuk ke parkiran!''. Pintanya sedikit memohon '' ok dah.'' jawabnya singkat Setelah mengambil sepeda motor, Ariska dan Inay masih menunggu Ugik yang juga mengambil sepeda motornya di parkiran. Setelah mereka semua berkumpul, mereka lansung berangkat ke tempat bimbingan yang kebetulan berada di MTS HIDAYAH. Disanalah tempat bimbingannya berlansung dan guru yang mengajari mereka adalah mas Purwinda. Mereka sering memanggilnya dengan sebutan akrab yaitu mas Pur. dia orangnya baik, lucu dan menyenangkan, sehingga tidak pernah ada kata bosan untuk mengikuti bimbingannya. Saat mereka sampai di tempat tujuan, mereka belum melihat mas Pur. Jadi, mereka menunggunya di Mushalla yang masih dalam tahap renovasi. Akhirnya yang ditunggupun datang dan lansung menyapa mereka semua, '' sudah berapa lama nunggunya?'' ''Masih barusan mas'' jawab Ugik
  2. 2. merekapun lansung masuk dan memulai bimbingannya. Meskipun materi hari ini sulit untuk Inay pahami, karena 3 kali ia tidak menghadiri pertemuan sebelumnya. Tapi Inay selalu terlihat mencoba bertanya dan terus mencoba memahaminya. Sementara disisi lain, 2 kakak kelasnya terlihat sangat memahami materi tersebut. Saat mengerjakan soal yang diberikan oleh mas Pur, Inay sempatkan untuk mencuri-curi waktu melihat lelaki yang sekarang ini tengah ada disampingnya. Saat itu, yang terlintas dibenaknya adalah mengapa lelaki yang notabennya adalah kakak kelasnya ini selalu memberi kesan cuek, pendiam, tertutup, dengan sikap dinginnya. Meskipun sikapnya seperti itu, ia terus berusaha untuk mengenalnya lebih dekat lagi. Sikap yang dimilikinya sangat membuat Inay penasaran dan selalu ingin mencari tahu tentang dirinya. Ugik memang bisa dibilang memiliki fisik yang tampan, jadi tak heran banyak kaum hawa yang mencintainya. Tampil rapi, bersih, dan indah serasa melengkapi ketampanan wajahnya. Hal itu juga yang membuat anak MTS HIDAYAH suka dan bersikap sok kenal kepadanya. Tapi, dia malah tidak menanggapinya. Entahlah apa yang sebenarnya ia rasakan pada saat itu. Sekali lagi, Ugik terkesan lelaki yang aneh dan susah ditebak, lebih jelasnya '' misterius''. '' bagaimana Inay, sudah selesai?'' tanya mas Pur yang sekaligus menyadarkannya dari lamunan, lamunan yang membuatnya lalai mengerjakan tugas. '' hehehe belum mas, saya belum mengerti dan saya juga belum sepenuhnya paham.'' jawabnya dengan perasaan malu. '' iya sudah, jika kamu banyak berlatih, pasti kamu nanti bisa. Sekarang kamu tanya ke Ariska atau Ugik dulu.'' perintahnya Dengan sigap Inay lansung bertanya kepada Ariska, dan mencoba memahami yang digambarkannya. Saat 2 jam bimbingan, akhirnya mereka siap-siap untuk pulang. Tapi, sebelumnya mas Pur bertanya kepada mereka tentang bimbingan minggu depan. '' minggu depan bimbingannya mau dimana ? Masih disini atau pindah ?'' '' minggu depan kami libur mas. Bagaimana kita pindah saja ke rumahnya saya, di Sumber.'' jawab Ugik yang mencoba memberi usulan. '' ahh.... Jangan Ugik. Rumahmu jauh. Akukan juga tidak tahu rumahmu.'' jawab Ariska yang menolak usulan Ugik. Sementara Inay hanya bisa diam dan mendengarkan usulan mereka. Karna ia hanya adik kelas mereka dan ia juga tidak mau terkesan banyak tingkah. '' ya..... Sudah. Kita bicarakan lain waktu saja. Nanti saya informasikan lagi.'' jelas
  3. 3. mas Pur yang sekaligus menhentikan debatan antara Ugik dan Ariska. Saat perjalanan pulang, terlihat Ugik yang tengah berada di belakangnya. Dia mengendarai sepeda motornya sangat cepat dan lansung belok di pertigaan. Saat itu Inay baru ingat, kalau Ugik masih ada les di AIRLANGGA. Saat itu Inay memutar memori otaknya tentang Ugik dan sifat anehnya. Seperti dalam beberapa kali bimbingan, mereka belum sempat berkenalan dan saling tegur sapa dengannya. Dia terlalu cuek untuk diajak berkenalan. Dan jika Inay paksakan mungkin hanya sifat dinginyalah yang dia peroleh. Setelah beberapa hari liburan di rumah, akhirnya tiba saatnya dia bimbingan lagi. Tapi, Inay masih menuggu informasi selengkapnya dari Ariska atau mas Pur tentang tempat pelaksanaanya. Setelah sekian lama dia menunggu, tiba-tiba Handphonenya berbunyi, dan dia lekas-lekas lansung membuka pesan baru dari Ariska. Ariska memberitahukan kalau bimbingannya di rumah mas Pur yang tempatnya di dekat Pasar Dringu. Setelah mendapat pesan baru dari Ariska, dia lekas-lekas mempersiapkan semuanya, mulai dari baju, buku yang harus di bawa, tas, alat tulis, dan tak lupa tas kresek yang selalu ia bawa karna sekarang yang sedang musim hujan. Saat tiba di Pasar wonoasih, Inay lansung menghampiri Ugik dan Ariska yang sedari tadi sudah menunggunya. Saat itu, yang bias Inay lakukan hanyalah minta maaf, “ maaf ya kak, aku tadi masih nungguin angkot.” “iya tidak apa-apa dek. Ngomong-ngomong kamu tahu Pasar Dringu itu dimana ?” Tanya Ariska yang membuat Inay terlihat bingung sendiri. “apa? Pasar Dringu? Saya tidak tahu, apalagi saya tidak pernah kelayapan.kalau Pasar Muneng saya tahu.” Jawanya yang disertai candaan meski ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk bercanda. “ooohh, iya sudah kalau begitu. Ugik jangan sampai nyasar ya,,,,!” ucap Ariska yang seraya menghidupkan mesin sepeda motornya. Sementara Ugik sudah berlalu tanpa ada sepatah jawaban apapun. “Dasar cowok aneh, sekali aneh tetap saja aneh” ucap Inay dalam hati. Satelah beberapa lama perjalanan akhirnya merekapun sampai di Pasar Dringu. Dan mereka mengikuti aba-aba selanjutnya dari mas Pur. Setelah merasakan rasa kebingungan menunggu di teras depan rumahnya. Rumah yang sederhana dan berjajar dengan banyak rumah lainnya sehingga member kesan seperti perumahan atau lebih tepatnya kost.
  4. 4. Saat tiba disana, Ariska dan Ugik lansung memarkir sepeda motornya di teras depan. Akhirnya mas Pur mempersilahkan mereka semua masuk dan duduk di dalam tanpa ada kursi ataupun meja, hanya beralaskan karpet biru yang panjang. Materi hari ini sangatlah penting dan juga menyenangkan. Banyak sekali yang mereka peroleh hari ini. Seperti, revolusi bintang atau sering disebut dengan kelahiran bintang- bintang, mulai dari katai putih hingga bintang maha raksasa. Materi hari ini juga membahas tentang hari kelahiran merka semua. Dan dapat disimpulkan bahwa “Inay lebih tua dari pada Ariska, sedangkan untuk menentukan hari apa mereka dilahirkan. Hal yang membuat Inay merasa senang ialah, inilah hari pertama ia berbicara dengan Ugik, si cowok misterius. Tidak terasa bimbingan yang menyenangkan itu harus berakhir dengan bergulirnya waktu. Akhirnya merekapun siap-siap pulang. Tapi, sebelumnya tak lupa berpamitan kepada mas Pur dan isterinya yang terlihat cantik dengan baju yang ia pakai. Saat di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Ugik menegur Inay. “ Inay, kamu pulangnya dengan siapa?” “naik angkot.” Jawabnya singkat “ memangnya ada tah angkot jam segini?” Tanya Ugik lagi “ kurang tahu aku, akukan baru sekarang pulang magrib seperti ini.” Jelas Inay yang mulai resah Akhirnya Ugik mencoba menghentikan sepsda motor yang dikendarai Ariska. “Riska, berhenti!” perintah Ugik “apa?” Tanyanya bingung “ Inay bareng aku saja, kasihan sekarang sudah malam, takutnya tidak ada angkot.” Jelasya pada Ariska. “ iya,,, sudah. Aku duluan ya,,,,” pamit Ariska setelah aku turun dari boncengannya. Sementara, Ugik masih memperbaiki tasnya, karena saat itu hujanpun mulai mengalir. “ kakak rumahnya dimana ?” Tanya Inay yang memecahkan keheningan diantara mereka berdua. “di Sumber dek, kamu sendiri dimana?” tanyanya balik “di Muneng kak.” Jawanya singkat Setelah Ugik selesai memperbaiki tasnya, Inay pun lansung naik dan duduk berboncengan dengan Ugik.
  5. 5. Di sepanjang perjalanan, mereka tidak lagi saling berbicara. Ugik sangat konsentrasi dengan menyetir sepeda motornya. Sementara, Inay malah senyum- senyum sendiri melihat kenampakan itu. Dari hari ini Ugik berhasil mengubah kesan yang dulunya cuek berubah menjadi perhatian. Buktinya Ugik masih memikirkan Inay jika kalau harus pulang malam dan menunggu angkot. Selama perjalanan entah mengapa hatinya Inay merasakan kesenangan yang lama sudah ia tak rasakan lagi. Tiba-tiba perasaan itu dating, dan membuatnya bingung.”perasaan apa ini? Kenapa aku merasakan senang yang berlebihan seperti ini.” Tanyanya dalam hati. Tak terasa kini mereka sudah sampai lampu merah di Laweyan. Tiba-tiba Ugik membuka kaca helmnya, memperlahatkan wajah tampannya. “ dimana rumanya adek ?” tanyanya “turun disini saja kak.”pinta Inay karena ia tak ingin tambah merepotkan Ugik dengan harus mengantarkannya pulang sampai ke rumahnya, apalagi dia telah melihat sosok yang tak asing lagi olehnya, yaitu ayahnya sendiri. Setelah Inay turun dari boncengannya, tak lupa ia berterima kasih pap Ugik,” terima kasih ya kak, sudah diantar pulang.” “iya,sama-sama.” Jawab Ugik singkat seraya pergi dan menghilang dari pandangannya. Sementara Inay menghampiri ayahnya dan pulang menuju rumahnya. Sejak peristiwa itu, Inay masih merasakan kebahagiaan yang menimpanya itu. Rasa senang yang amat-amat dalam yang ia rasakan dan ia juga bingung mengapa dia bias seperti itu. Perasaan yang hinggap di hatinya, dan peristiwa itu seperti mimpi yang aku yakin takkan terulang yang kedua kalinya. Dari peristiwa itu juga tahap demi tahap Inay mulai akrab dengan Ugik dan mulai ada komunikasi diantara mereka. Inay pun mulai mengenal sosok Ugik, mulai dari nomor handphonenya, akun facebooknya, hingga sifat-sifatnya yang belum diketahui sebelumnya, dan juga hal yang privasi sekalipun. Tiga minggu berikutnya, mereka bimbingan dan sudah mulai akrab satu sama lain. Jadi, mereka mempunyai banyak waktu untuk belajar bersama. Saat mereka belajar sudah tidak ada lagi sikap dingin ataupun sikap cueknya. Setelah beberapa hari, mereka mendapatkan briving tentang OSN yang akan dilaksanakan mulai besok. Semua telah terjadwal dengan sama rata, sementara Inay, Ugik dan Ariska kebagian hari Rabu. Pemberitahuan itu lantas membuat mereka kaget, karna yang mereka tahu, OSN yang mereka ikuti adalah hari Kamis. Sejak saat di umumkannya pemberitahuan
  6. 6. tersebut, mereka menambah jam belejarnya. Saat pulang sekolah, mereka mengadakan belajar bersama, mengingat besok giliran mereka OSN. Sebelum belajar, mereka sempatkan untuk shalat terlebih dahulu. Setelah selesai shalat, mereka memulai belejar bersama. Tapi, Ugik tidak ikut belajar. Dia sibuk dengan kesibukannya mendownload sesuatu dari Handphonenya. Tangannya begitu lincah meminkan Handphone yang dia pegang saat ini. Inay dan Ariska pun tidak berani menegurnya. Tiba-tiba Ugik menggumal sendiri “ huhuh lemot, sial sial harus diulang lagi.” Saat itu aku tersadar bahwa dirinya tak sepenuhnya pendiam, ada saatnya dia juga cerewet seperti saat ini. Setelah mereka merasa cukup bekajar hari ini, mereka pulang ke rumah masing-masing. Saat pagi telah datang, matahari bersinar dari ufuk timur. Inay terbangun dari tidur nyenyaknya. Meski badannya susah untuk bangun tapi, ia tersadar kalau hari ini adalah hari dimana dirinya harus mengikuti OSN bersama Ugik, dan Ariska. Akhirnya ia bangun dan langsung mempersiapkan segala sesuatu yang harus ia bawa. Setelah semua terasa lengkap, dai pergi tapi sebelumnya dia meminta doa restu kepada ibunya, bukan doa restu untuk kawin melainkan untuk hari ini yang akan ia jalani. Akhirnya ia berangkat dengan bekal ilmu seadanya yang ia punya dari belajar selama bimbingan. Saat tiba di tempat OSN yang kebetulan berada di SMKN 1 PROBOLINGGO. Selama mengikuti Olimpiade tersebut, Inay mencoba tenang. Yang dibuat aneh mengapa pandangannya tak pernah lepas dari sosok Ugik yang sekarang tampil rapi dan bersih sehingga menambah ketampanan lelaki itu. Saat waktu menunjukkan bahwa OSn tersebut telah usai. Mereka semua bergegas pulang menuju rumah masing-masing. Mereka tak ingin kembali ke sekolah untuk hari ini, karna energy mereka telah habis terkuras OSN tadi. Saat Inay menunggu angkot yang tak kunjung tampak. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan bunyi klakson sepeda motor. Setelah ia menoleh, ternyata bunyi tadi berasal dari Ugik yang tengah lewat di depannya seraya melemparkan senyum manisnya. Inay hanya bisa membalas dengan senyuman. Dia merasakan hatinya kacau. Ada rasa lega karena ia sudah tidak ada beban tentang OSN, tapi separuh hatinya sedih dan hancur karna ia menyadari bahwa inilah pertemuannya yang terakhir dan saat inilah ia mendapatkan senyuman termanis dari Ugik, yang tanpa ia sadari bahwa dirinya mulai menyukainya.
  7. 7. Pandangan itu semakin lama, semakin tak terlihat lagi. Masa-masa itu begitu indah untuk dilupakan. Meski ia menyadari detik ini semuanya tak akan sama lagi seperti yang dulu, saat masih bisa bersama dengannya. Yang ada saat ini hanya Inay sendiri memendang sosok yang sudah tak tampak itu. Mungki bisa dibilang Inay sangat merasakan kehilangan. perasaan yang tak sempat ia katakana. Sifat Ugik masih sangat melekat di hatinya, kekaguman karena sifatnya yang MISTERIUS. Ia hanya bisa mengunggkapan perasaannya pada secarik kertas yang ia simpan dengan rapi di dalam kotak hadiah bekas. Bila bola kehidupan ini terus berputar Berikan aku setitik harapan Yang bisa membuat hati ini bergetar bergetar karena takut kehilangan Izinkan aku melihat indahnya pelangi Saat aku dalam kesunyian malam Izinkan aku memiliki rasa cinta Yang terus menyala meski harus terpendam

×