Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Memaknai Pengembangan Model

1,035 views

Published on

Model thinking adalah alternatif lain dalam mengembangkan model bagi PNF yang dikenal selama ini

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Memaknai Pengembangan Model

  1. 1. 1/4 Apakah Pengembangan Model itu? (Bagian Dua - Akhir) Oleh: Edy Hardiyanto12 Salah satu tugas yang menjadi kebanggaan Pamong Belajar (PB) adalah pengembangan model. Dari PB yang lebih awal menekuni tugas ini, banyak dilihat bagaimana dan proses sebuah model dikembangkan, dibangun dan dikonstruksikan, meskipun banyak dari mereka lebih mengutamakan bentuk narasi. Bahkan hingga kini, bentuk narasi ini menjadi determinan penting untuk menyebutkan hasil kerja PB adalah pengembangan model. Sekurang-kurangnya model seperti ini ditemukan di salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat di bidang Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal. Secara umum, bentuk yang menjadi acuan model Pendidikan Nonformal adalah program pembelajaran, alat pembelajaran, dan pengelolaan pembelajaran sebagai mana Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 mengenai Pengaturan dan 1 Disampaikan untuk Workshop Peningkatan Kompetensi Pamong Belajar di Kabupaten Bandung, Selasa, 22 Januari 2013 2 Tanggapan dan komentar atas artikel ini dapat disampaikan melalui email: hardybkk@yahoo.com Contoh hasil model berpikir (dok. Pribadi)
  2. 2. 2/4 Pengelolaan Pendidikan. Tugas mengembangkan model ini pun tidak dimiliki oleh pendidik lain yaitu tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, bahkan guru, serta dosen yang lebih dahulu menikmati tunjangan profesi (PP 17/2010, pasal 171) tidak memiliki tanggung jawab untuk susah payah mengembangkan model. Dari hari ke hari, persoalan bentuk model ini tidak pernah selesai termasuk belum menjadi core business yang turut menegakkan kewibawaan dan kebanggaan seorang PB. Sejak lima tahun terakhir upaya untuk mengarahkan rancang bangun model ini dilakukan dengan melibatkan Pusat Penelitian, Kebijakan dan Inovasi Pendidikan (Puslijaknov) Kementrian Pendidikan. Alih-alih urusan menjadi gampang dan mudah, ternyata model yang ditangani PB semakin bertambah kompleks dan tidak memiliki ujung. Hal ini lebih diakibatkan oleh intervensi stake holder dan kelembagaan tempat PB bernaung. Sebut saja contoh model ini adalah Pengelolaan Desa PNF, Penyelenggaraan Desa Vokasi, hingga Pelatihan Kursus Para Profesi Luar Negeri (KPP-LN) bidang Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT). Pengertian umum model dapat dilihat sebagai a small object, usually built to scale, that represents in detail another, often larger object – obyek kecil yang biasanya mewakili obyek lain yang lebih besar. Dalam batasan teknis, model seperti ini dapat dijumpai berbentuk maket gedung, prototype pesawat terbang, termasuk sample product. Apabila PP 17/2010 tidak menyediakan penjelasan yang memuaskan, maka saya memberanikan diri melalui tulisan ini untuk
  3. 3. 3/4 memasuki ranah System Thinking. Sebagai salah satu upaya menegaskan tugas dan tanggung jawab ‘unik’ PB yaitu mengembangkan model. Lalu seperti apa, bentuk hasil pengembangan model PB yang lebih baik? Bagi kebanyakan PB dan sebagian alumni jurusan Pendidikan Luar Sekolah di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sudah jenuh dengan kajian dan mata kuliah Analisis Sistem (AS). Kemudian selama interaksi dalam pekerjaan di kemudian hari diperkenalkan Analisis Strength Weakness Opportunity and Treat (SWOT). Kedua strategi analisis dalam menetapkan masalah yang berkenaan dengan model PNF, ternyata masih bahkan teramat jauh untuk dikatakan mumpuni dalam memetakan masalah awal. Diketahui, bahwa pemetaan masalah ini sangat menentukan konstruksi dari model itu sendiri sebagai sebuah situasi yang menawarkan alternatif pemecahan masalah di lingkungan penyelenggaraan PNF. Hingga sejauh ini, banyak pengembangan model PB menggunakan dua strategi; AS dan SWOT untuk mengkaji masalah dan solusi yang ditunjukkan oleh model sekalipun berupa model pembelajaran semata. Padahal kedua strategi itu tidak didasarkan pada pijakan menurut perspektif tertentu yang membantu memperjelas dan mendudukkan model dalam konstelasi dan relasi lebih luas. Perspektif yang dibangun melalui System Thinking dan perkembangan metodologi terakhir seperti Outcome Mapping memang masih langka dibicarakan dan belum menjadikan pijakan PB dalam mengembangkan model. Padahal kedua metodolodi terakhir ini menjadi kerangka pikir perencana perubahan yang dinamakan perekayasa.
  4. 4. 4/4 Memang para perekayasa ini banyak berpendidikan teknologi dibandingkan PB yang berpendidikan sosial, namun kedua ilmu tersebut sudah bersinergi menjadi sosio teknologi. Sinergitas kedua ilmu yang tadinya berseberangan telah melahirkan bentuk rekayasa sosial selain intervensi sosial yang juga menjadi muara sebuah model PB. Akan menjadi tantangan paling berat dan riil ke depan jika PB hendak mengibarkan bendera profesional secara murni, sementara bekal keilmuan yang ada masih sederhana lalu ingin disejajarkan dengan pekerjaan profesi lain. Untuk mengembangkan model saja, PB masih harus melalui batu ujian sebelum dianggap berwenang mengatasnamakan professional dalam bidang pengembangan model sejajar dengan Social Planner lain. Proyeksi tantangan PB yang profesional terutama dalam penguasaan keilmuan seperti tulisan saya ini mungkin tidak menjadi sentuhan profesionalisme melalui sertifikasi kompetensi apalagi jika yang diperjuangkan adalah kehendak untuk memperoleh persamaan hak tunjangan profesi yang diterima guru dan dosen. ----- Terima Kasih dan Sampai Jumpa -----

×