Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Makna keaksaraan bukan sekedar pemberdayaan

822 views

Published on

keaksaraan bukan sekedar melek aksara

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Makna keaksaraan bukan sekedar pemberdayaan

  1. 1. Makna Keaksaraan Bukan sekedar Pemberdayaan Oleh: Edy Hardiyanto, M.T.*)AbstrakPendidikan keaksaraan lekat dengan sejarah awal kehadiran negara Indonesia. Di masa ini corakpendidikan lebih kental sebagai pendekatan untuk mengembangkan kemampuan dalammenguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca, berhitung, berfikir, mengamati,mendengar dan berbicara yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitarwarga belajar.Masyarakat yang menjadi warga belajar pendidikan keaksaraan secara simultan berhasilmereduksi akibat tuna aksara, termasuk meningkatkan derajat bangsa dan negara di percaturannegara-negara berkembang yang gencar melaksanakan pembangunan. Derajat ini ditunjukkanmelalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM), salah satu parameter yang digunakan adalahderajat buta aksara (=illiteracy rate). Upaya ini pun berdampak luas hingga menyentuh ‘gengsi’pemerintah di berbagai tingkatan untuk menyerap anggaran, bahkan secara politis berpengaruhpada kelangsungan jabatan seorang pejabat di daerah.Kedua masa di atas telah berlalu, begitu pula dengan IPM yang tidak lagi melirik buta aksarasebagai parameter pendidikan.Tuntutan yang ada sekarang dan di masa depan adalah menempatakan keaksaraan sebagaikemampuan mencari informasi, secara kritis mengolah, menilai dan mengelolanya (dalam duniadigital) untuk kebermaknaan bagi dirinya dan berbagi dengan orang lain. Termasuk maknakeaksaraan sebagai wujud dasar peningkatan kapasitas to revolution, reform, maintenance danconservation pengetahuan yang telah dimiliki seseorang baik sebagai pribadi maupun anggotamasyarakat.Peningkatan kapasitas keaksaraan ini dapat diarahkan pada kecakapan interpersonal sepertiberkomunikasi dan mengutarakan pendapat, beragumentasi, mengenali dan mengelola perbedaanpendapat, menyimak dan menyimpulkan pendapatan umum. Kecakapan interpersonal yang telahdikuasai perlu didukung oleh kecakapan management seperti berinteraksi, mendelegasikan,
  2. 2. menerima tanggung jawab, belajar dari pengalaman, saling mengambil hikmah dari masalahhidup satu sama lain, mengendalikan tindakan yang tidak diharapkan, mengembangkantanggapan positif.PengantarDalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), pendidikan keaksaraanberkenaan erat dengan pengetahuan dan kemampuan dasar budaya membaca, menulis danberhitung bagi segenap warga masyarakat (Pasal 4 Ayat 5). Pendidikan ini pada masakemerdekaan dikenal dengan ‘kursus ABC’, kemudian pada tahun 1964 dinamakanPemberantasan Buta Huruf (PBH), tahun 1978 dikemas menjadi program kelompok belajar(Kejar) Paket A dan sesudah itu tahun 1995 menjadi Keaksaraan Fungsional (KF).Pendidikan keaksaraan fungsional lebih dikenal sebagai pendekatan untuk mengembangkankemampuan dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca, berhitung,berfikir, mengamati, mendengar dan berbicara yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari danlingkungan sekitar warga belajar (Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat, 2002:1-3).Pendidikan keaksaraan ini merupakan ‘gengsi’ pemerintah di berbagai tingkatan untuk menyerapanggaran, bahkan ternyata semakin memiliki muatan politis setelah derajat melek aksara menjadisalah satu parameter utama keberhasilan pembangunan daerah diukur dari pencapaian IndeksPembangunan Manusia.Tulisan ini hendak menawarkan pemikiran atas pendidikan keaksaraan berdasarkan gerakdinamika pembangunan. Kita pahami bersama Penbangunan itu sendiri merupakan instrumenyang diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Tentu saja,tingkat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat ini tidak berkorelasi langsung denganpencapaian derajat tertentu dalam kecakapan membaca, menulis dan menghitung. Melainkanlebih dari itu, tingkat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat memberikan harapanpemanfaatan kemampuan keaksaraan sebagai kapasitas pribadi yang bisa dioptimalkan dalammenopang laju pembangunan.
  3. 3. Pendidikan Keaksaraan sebagai Pengembangan KapasitasMewacanakan pembangunan bangsa dan negara yang ditandai oleh daya saing manusia tidaklepas dari sumbangan bidang pendidikan dan latihan yang memainkan peranan dalam perubahansosial dan ekonomi.Pendidikan dan latihan ini termasuk pendidikan keaksaraan diartikan sebagai bagian spectrumkegiatan Human Resource Development (OECD,1989:3). Sehingga makna keaksaraan menurutThomas Friedman1 telah berkembang menjadi kemampuan mencari informasi, secara kritismengolah, menilai dan mengelolanya (dalam dunia digital) untuk kebermaknaan bagi dirinyadan berbagi dengan orang lain. Sehingga dapat dibedakan keaksaraan dasar dan keaksaraankeluarga termasuk keaksaraan usaha mandiri (Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal danInformal, 2009a:29). Pendidikan keaksaraan ini dapat mewakili kebutuhan revolution, reform,maintenance dan conservation (Jones, 1988:47). Pemenuhan keempat kebutuhan pendidikankeaksaraan ini dapat mewakili upaya mewujudkan ciri individu berdaya:1. Dapat mengandalkan diri untuk memulai suatu kegiatan dengan menggunakan potensi (kemampuan, keterampilan, hasrat, pengetahuan) dalam diri.2. Tidak bergantung pada orang lain, lingkungan atau pihak lain untuk memberikan fasilitas bagi dirinya dalam melaksanakan kegiatannya.3. Memiliki optimism dan motivasi internal dalam beraktivitas.4. Memberikan inspirasi dan motivasi pada orang lain untuk berperilaku positif5. Menghargai hak-hak orang lain dan memberikan peluang untuk berkembang bagi orang lain.6. Tidak cemas pada kegagalan dan dapat melihat makna/hikmah dari setiap peristiwa, serta bertindak konsturktif dalam meyikapi kegagalan.7. Selalu mengembangkan dirinya dan belajar sepanjang hayat.8. Merasa mempunyai pilihan dalam hidupnya, dan dapat mengendalikan lingkungan, jadi bukan lingkungan yang mengendalikannya.9. Memiliki alternative/solusi.10. Berpikir positif dalam menjalani hidup.1 Yulaelawati, Ella (2009). Penyampaian Ketersediaan Data Penduduk Buta Aksara Indikator Terpilah Jenis Kelamin. Presentasi Direktur Pendidikan Masyarakat, Jakarta 15 Januari 2009
  4. 4. 11. Merasa nyaman dan bahagia dengan keberadaan dirinya.Dengan melihat sasaran pendidikan keaksaraan pada akhir Agustus 2008 yang mencapai 10,16juta orang (6,22 persen). Angka ini menunjukkan jumlah penduduk buta huruf yang ternyata 65persen adalah wanita (Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal, 2009b:16).Sedangkan menurut BPS pada tahun 2009 proporsi angka melek huruf penduduk berumur 10tahun ke atas mencapai 93,05 persen.Besaran jumlah sasaran pendidikan keaksaraan versi Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformaldan Informal tahun 2008 tidak menetapkan umur, sementara BPS tahun 2009 menetapkanproporsi angkat butu huruf di atas usia 10 tahun mencapai 6,95 persen. Andaikata jumlah iniadalah mereka yang berusia 65 tahun ke atas, maka kalkulasi sederhana dengan memperhatikanlaju pengurangan penduduk per tahun secara normal sebesar 10 persen. Jumlah sasaran butaaksara ini akan mencapai titik nol pada sepuluh tahun mendatang.Apabila hendak mencapai tujuan MDG pada tahun 2015, strategi pendidikan keaksaraan yangtepat adalah dengan melipat gandakan proporsi pencapaian program menjadi 20 persen pertahun. Hal ini bila diasumsikan semua bagian yang berkorelasi terhadap pengurangan pendudukbuta aksara berlangsung normal. Untuk itu penyelenggaraan keaksaraan Paket A denganmenekankan revolusi dan reformasi cara belajar untuk mendapatkan Surat Keterangan MelekAksara (SUKMA) dapat ditempuh sebagai program unggulan. Sedangkan keaksaraan fungsionalmenjadi program andalan dalam upaya pemeliharaan dan konservasi kecakapan keaksaraansesuai bidang kehidupan dan pekerjaan peserta didik.KesimpulanSebagai sasaran antara pembangunan sumber daya manusia, maka pengembangan programkeaksaraan menempatkan prioritas pada pencapaian sasaran MDG’s tahun 2015. Pencapaian initentu dengan tidak melupakan sasaran jangka panjang sebagai bagian peningkatan kapasitasperseorangan warga masyarakat.
  5. 5. Peningkatan kapasitas keaksaraan ini dapat diarahkan pada kecakapan interpersonal sepertiberkomunikasi dan mengutarakan pendapat, beragumentasi, mengenali dan mengelola perbedaanpendapat, menyimak dan menyimpulkan pendapatan umum. Kecakapan interpersonal yang telahdikuasai perlu didukung oleh kecakapan management seperti berinteraksi, mendelegasikan,menerima tanggung jawab, belajar dari pengalaman, saling mengambil hikmah dari masalahhidup satu sama lain, mengendalikan tindakan yang tidak diharapkan, mengembangkantanggapan positif.Sehingga rancang bangun pendidikan keaksaraan yang memiliki dimensi pemberdayaanmenawarkan nilai dan harapan baru, pencapaian tujuan berdasarkan visi, mengelola kemitraan disekitar, serta secara kreatif menciptakan peluang untuk berprestasi.ReferensiDinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat. (2002) Keaksaraan Fungsional: Buku Pegangan Pelatihan Tutor Keaksaraan Fungsional. Bandung: Proyek Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah.Direktorat Jenderal Pendidikan Non Formal dan Informal (2009a). Mereka diarahkan pada Pendidikan Kesetaraan Integrasi Keterampilan. Warta PNFI: Agenda. Volume 77. Edisi X Tahun 2009.------------ (2009b). Pemerintah Optimis Turunkan Buta Aksara. Warta PNFI: Sajian Utama. Volume 76. Edisi IX Tahun 2009.Direktorat Pendidikan Masyarakat. (2009). Berkualitas Karena Aksara dalam Utama - Aksara: Media Komunitas Pendidikan Keaksaraan NO. 16. THN IV. Edisi Januari – Februari 2009.OECD. (1989). Education and The Economy in Changing Society. Report on Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) on Intergovernmental Conference, Paris, March 16-18, 1988. Paris: OECDJones, David. (1988). Adult Education and Cultural Development. New York dan London: Routledge.*) Disampaikan pada Seminar International Pendidikan Non Formal, Program Studi Pendidikan Luar Sekolah – Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia, tanggal 29 November 2010. Kontak Email: e.hardiyanto@yahoo.co.id.

×