8 yusmani-minyak nabati

661 views

Published on

Published in: Technology, Business
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

8 yusmani-minyak nabati

  1. 1. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20 PENAMBAHAN MINYAK NABATI UNTUK MENINGKATKAN EFIKASICENDAWAN ENTOMOPATOGEN Lecanicillium lecanii DALAM MENGENDALIKANTELUR KEPIK COKLAT (Riptortus linearis) (Hemiptera: Alydidae) PADA KEDELAI Yusmani Prayogo Staf Peneliti Hama dan Penyakit Balitkabi Malang Jln. Raya Kendalpayak P.O.BOX. 66 Malang, 65101 Email: manik_galek@yahoo.com ABSTRAKLecanicillium (=Verticillium) lecanii merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yang efektif untukmengendalikan hama kepik coklat Riptortus linearis pada kedelai karena mampu menginfeksi berbagai stadia hama,yaitu meliputi imago, nimfa, dan telur. Di lapangan, cendawan tersebut rentan terhadap sinar matahari. Penelitianini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan jenis minyak nabati untuk mempertahankan efikasi cendawan L.lecanii. Tanaman kedelai pada umur 35 hari setelah tanam (HST) diinfestasi telur kepik coklat dengan caramenempelkan pada permukaan daun bagian atas dengan lem gom arab. Masing-masing tanaman diinfestasi sebanyak25 butir yang diulang empat kali. Biakan cendawan L. lecanii umur 30 hari setelah inokulasi (HSI) ditambah airhingga mendapatkan kerapatan konidia 107/ml kemudian ditambah dengan masing-masing jenis minyak nabati 2 ml/lsesuai dengan perlakuan. Selanjutnya, diaplikasikan pada telur yang sudah dipaparkan dengan cara disemprotkan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga jenis minyak nabati yang mampu mempertahankan efikasicendawan L. lecanii dari pengaruh sinar matahari, yaitu minyak kedelai, kacang tanah, dan minyak kelapa.Keefektifan terlihat dari kemampuan cendawan dalam menghambat waktu penetasan telur kepik coklat, menekanjumlah terlur yang menetas, menekan jumlah nimfa yang akan berkembang menjadi imago, mengurangi jumlah polonghampa yang terbentuk, menurunkan jumlah tusukan pada biji, dan mampu mempertahankan berat kering biji kedelaitiap tanaman. Oleh karena itu, ketiga jenis minyak nabati tersebut berpeluang besar dapat digunakan sebagaibahan perekat untuk melindungi efikasi cendawan L. lecanii dari pengaruh sinar matahari pada waktu aplikasi dilapangan.Kata kunci: Keefektifan, minyak nabati, L. lecanii, telur, kedelai ABSTRACTLecanicillium (=Verticillium) lecanii is one of the most effective entomopathogenic fungi to control pod suckingbug Riptortus linearis. The fungi was able to infect brown stink bug in various developmental stages, from egg toadult. In the field, however the fungi was susceptible to the solar radiation. A research to study the effect ofbotanical oil as protectant for solar radiation on the effectiveness of brown stink bug. The thirty-five daysafter planting (DAP) soybean plant were infected by twenty-five eggs of brown stink bug with four replications.The thirty days old of L. lecanii were suspended in sterile water with density 107/ml conidia. These suspensionwere added with each 2 ml/l of botanical oils were sprayed to the eggs exposure. The result showed that therewere three kinds of botanical oil able protect the effectiveness L. lecanii to solar radiation i.e. soybean oil, peanutoil, and coconut oil. The effectiveness of botanical oil in protection L. lecanii were showed from inhibit to theegg hatched, able to pressure the egg hatched and the survivorship nymph to become adult, reduce the unfilled-pod and seed damaged, and able depending of seed weigh/plant. Therefore, its was suggested that thesebotanical oils can be used to protect the effectiveness of L. lecanii by solar radiation in the field.Key words: The effectiveness, botanical oils, V. lecanii, egg, soybean 28
  2. 2. Yusmani Prayogo : Penambahan Minyak Nabati Untuk Meningkatkan Efikasi Cendawan Entomopatogen Lecanicillium Lecanii Dalam Mengendalikan Telur Kepik Coklat (Riptortus Linearis) (Hemiptera: Alydidae) Pada Kedelai PENDAHULUAN Lecanicillium (=Verticillium) lecanii merupakan salah satu jenis cendawan entomopatogen yangtelah diketahui efektif untuk mengendalikan berbagai jenis hama maupun penyakit (Askary et al. 1998;Aiuchi et al. 2007; Kim et al. 2007; Kim et al. 2008; Goettel et al. 2008; Shinya et al. 2008a & 2008b &2008c). Pada tahun 2004 cendawan L. lecanii diketahui efektif untuk mengendalikan kepik coklatRiptortus linearis pada kedelai (Prayogo 2004). Kelebihan cendawan ini karena mampu menginfeksisemua stadia serangga kepik coklat mulai dari stadia telur, nimfa maupun imago dengan tingkat efikasiyang cukup tinggi yaitu hingga di atas 50% (Prayogo et al. 2004 & 2005). Telur kepik coklat yangterinfeksi cendawan L. lecanii akhirnya tidak mampu menetas karena cendawan tersebut bersifatovisidal (Prayogo 2004; Aiuchi et al. 2008a & 2008b). Telur kepik coklat yang sudah terinfeksi L.lecanii dan masih mampu menetas, namun nimfa I yang terbentuk tidak dapat melangsungkan hidupnyamenjadi nimfa II karena gagal ganti kulit (moulting) (Prayogo et al. 2004). Peluang telur kepik coklatyang terinfeksi cendawan tersebut untuk berhasil berkembang menjadi imago hanya di bawah 20%.Oleh karena itu, cendawan L. lecanii berpeluang besar dapat digunakan sebagai salah satu agens hayatidalam pengendalian hama terpadu (PHT) khususnya hama kepik coklat pada kedelai. Salah satu penghambat yang mempengaruhi efikasi cendawan entomopatogen dalampengendalian hama di lapangan adalah faktor abiotik, khususnya aktivitas sinar matahari (Braga et al.2002). Sinar matahari selain menghasilkan panas juga mengandung sinar UV yang akan merusak konidiasehingga efikasi cendawan menurun. Tingkat kerusakan konidia akibat pengaruh sinar UV sangattergantung dari berapa lama waktu konidia terpapar pada sinar tersebut. Hasil penelitian Braga et al.(2002) menunjukkan bahwa cendawan V. lecanii yang terpapar pada sinar UV-B selama tiga jam masihmampu tumbuh namun pemaparan selama empat jam menyebabkan cendawan mati. Menurut Yuen et al.(2002) dan McCoy (2004), dampak UV-A dan UV-B dari sinar matahari secara langsung akanmenyebabkan kematian sel dan mutasi akibat dari kerusakan susunan kromosom pada DNA. Sedangkanmenurut Moore et al. (1993) UV-C menyebabkan terjadinya penundaan dan penurunan perkecambahankonidia. Penurunan daya kecambah konidia cendawan diakibatkan oleh meningkatnya respirasi danaktivitas metabolik di dalam konidia sehingga dapat menurunkan cadangan makanan di dalam konidia.Hasil penelitian Hallsworth dan Magan (1996) menunjukkan bahwa tingkat perkecambahan konidiaditentukan oleh kandungan poliol dan trehalosa. Sementara itu, kedua senyawa ini sangat berperandalam pengaturan tekanan osmotik di dalam konidia dan tekanan osmotik ditentukan oleh suhulingkungan tumbuh konidia. Oleh karena itu disarankan dalam aplikasi di lapangan perlu dihindarkan daripengaruh sinar matahari secara langsung, yaitu dengan mengatur waktu aplikasi maupun menggunakanbahan pelindung (Williams et al. 2000; Verhaar et al. 2004; Samodra & Ibrahim 2006). Menurut Leland (2001a), ada beberapa strategi untuk melindungi biopestisida yang mengandungmikroorganisme dari pengaruh degradasi sinar UV, yaitu; (1) menggunakan bahan pelindung (UVprotectant) yang dapat terlarut dalam minyak, (2) menggunakan emulsi antara minyak dan air, (3)menggunakan suspensi penyerap, dan (4) metode enkapsulasi. Ganga-Visalakshy et al. (2005) melaporkanbahwa minyak nabati mampu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan V. lecanii sehinggakeefektifan cendawan menjadi meningkat. Hasil penelitian Silva et al. (2006) menunjukkan bahwaminyak nabati yang berasal dari biji sayuran mampu meningkatkan perkecambahan konidia cendawanPaecilomyces fumosoroseus, Metarhizium anisopliae, dan Beauveria bassiana (Deuteromycotina:Hyphomycetes) hampir mencapai 100% dalam waktu yang relatif lebih singkat. Kajian penambahanminyak nabati untuk mempertahankan efikasi L. lecanii sebagai satu teknologi pengendalian R. linearisdi Indonesia belum pernah dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahanminyak nabati dalam mempertahankan keefektifan L. lecanii untuk mengendalikan telur Riptortuslinearis. 29
  3. 3. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20 BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (BALITKABI) dimulai dari bulan April sampai dengan Oktober 2009. Rancangan percobaan yangdigunakan adalah acak lengkap (RAL). Sebagai perlakuan adalah tujuh jenis minyak nabati yang masing-masing diulang sebanyak lima kali. Tujuh jenis minyak nabati yang digunakan adalah; minyak bungamatahari, minyak kelapa, minyak kapas, minyak kedelai, minyak kacang tanah, minyak wijen, dan minyakkemiri. Pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut:1. Perkembangbiakan hama kepik coklat untuk mendapatkan telur Telur kepik coklat digunakan untuk menilai efikasi pengendalian dengan cendawan L. lecanii yangdiberi minyak nabati sebagai bahan pelindung dalam mengendalikan hama tersebut. Telur diperolehdengan cara mengumpulkan imago kepik coklat yang diperoleh dari pertanaman kedelai di kebunpercobaan Balitkabi Kendalpayak pada tahun 2009 kemudian dipelihara di dalam kurungan besiberdiameter 30 cm dan tinggi 50 cm yang disungkup dengan kain kasa. Selanjutnya, seranggadipelihara di laboratorium dan setiap hari imago diberi pakan kacang panjang. Di dalam sangkarditempelkan kumpulan benang berwarna kuning dengan panjang 25 cm yang berfungsi untuk tempatpelekatan kelompok telur yang dihasilkan imago kepik coklat. Setiap dua hari, kacang panjang sebagaipakan diganti dengan yang baru yang sebelumnya direndam di dalam air bersih untuk menghindari residupestisida kimia. Kumpulan telur yang sudah diletakkan imago kepik coklat setiap hari diambil untukdikumpulkan dan dipelihara hingga menetas membentuk nimfa. Setiap instar nimfa yang terbentukdikumpulkan secara terpisah di dalam kurungan yang berbeda untuk mendapatkan calon imago denganumur yang seragam. Pemeliharaan imago dipertahankan hingga mampu memproduksi telur minimal 2000butir per hari.2. Penanaman kedelai di kebun percobaan. Kedelai varietas Wilis ditanam di dalam pot plastik polybag yang berisi tanah 5 Kg. Setiappolybag berisi dua tanaman sebagai unit percobaan. Tanaman disiram, dipupuk, dan disiang sesuai dengankebutuhan. Pada umur 35 hari setelah tanam (HST) tanaman disungkup dengan kain kasa untukmenghindari serangan hama lain. Telur kepik coklat yang berumur satu hari ditempelkan padapermukaan daun bagian atas menggunakan lem gom arab. Masing-masing tanaman diinfestasi 25 butirtelur kepik coklat. Infestasi telur dilakukan pada sore hari menjelang aplikasi cendawan L. lecaniidilakukan.3. Aplikasi cendawan entomopatogen L. lecanii Cendawan L. lecanii ditumbuhkan pada media potato dextrose agar (PDA) di dalam cawan Petri.Pada umur 30 hari, setiap biakan cendawan di dalam cawan ditambah air steril 10 ml untuk diambilkonidianya dengan cara dikerok menggunakan kuas halus selanjutnya dengan haemocytometer danmikroskop binokuler hingga mendapatkan kerapatan konidia 107/ml. Setelah itu, suspensi konidiadimasukkan ke dalam erlenmeyer secara terpisah sesuai dengan perlakuan. Selanjutnya pada masing-masing suspensi konidia ditambahkan jenis minyak nabati sebanyak 2 ml/l dan dikocok menggunakanshaker selama 15 menit. Masing-masing perlakuan diaplikasikan pada telur-telur yang sudah ditempelkanpada permukaan daun pada sore hari pukul 16:00 WIB. Pada perlakuan kontrol diaplikasi hanya dengansuspensi konidia L. lecanii (tanpa penambahan minyak nabati).4. Pengamatan Pengamatan meliputi; waktu telur menetas, jumlah telur yang menetas, jumlah nimfa yangmampu menjadi imago, jumlah polong hampa, jumlah tusukan kepik coklat pada biji, dan berat kering bijikedelai. 30
  4. 4. Yusmani Prayogo : Penambahan Minyak Nabati Untuk Meningkatkan Efikasi Cendawan Entomopatogen Lecanicillium Lecanii Dalam Mengendalikan Telur Kepik Coklat (Riptortus Linearis) (Hemiptera: Alydidae) Pada Kedelai5. Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan program MINITAB. Setelah itu, apabilaterdapat perbedaan diantara perlakuan yang diuji maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda (DuncanMultiple Range Test) α = 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN1. Pengaruh penambahan minyak nabati pada suspensi cendawan L. lecanii terhadap waktu penetasan telur kepik coklat Salah satu tolok ukur efikasi cendawan dinilai dari waktu penetasan telur kepik coklat setelahdisemprot dengan suspensi cendawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi cendawan L. lecaniimampu memperlambat waktu penetasan telur kepik coklat. Hal ini menunjukkan bahwa denganpenambahan minyak nabati mampu meningkatkan efikasi cendawan di lapangan. Peningkatan efikasicendawan terlihat dari keterlambatan waktu penetasan telur pada masing-masing perlakuandibandingkan dengan kontrol (tanpa penambahan minyak nabati). Rata-rata waktu penetasan telur kepikcoklat berkisar dari 10 sampai dengan 10,75 hari setelah peletakan (HSP) (Gambar 1). Telur yangmenetas dari perlakuan minyak kacang tanah dan bunga matahari terjadi pada 10 HSP. Sedangkan padaperlakuan penambahan minyak kemiri, minyak kapas, minyak kelapa, dan minyak wijen tampak penetasantelur terjadi pada 10,25 HSP. Dengan penambahan minyak kedelai, telur kepik coklat menetas pada10,75 HSP, sedangkan tanpa minyak nabati (L. lecanii) telur kepik coklat menetas pada 8 HSP.Walaupun diantara perlakuan jenis minyak nabati tidak berbeda nyata, namun dengan penambahanminyak kedelai mengakibatkan telur kepik coklat menetas lebih lama dibandingkan dengan perlakuanlainnya. Telur kepik coklat menetas terlambat hingga dua hari apabila dibandingkan dengan tanpapenambahan minyak nabati. Namun, apabila dibandingkan dengan telur kepik coklat yang tidak terinfeksicendawan entomopatogen L. lecanii maka telur menetas terlambat hingga empat hari, karena secaranormal rata-rata telur kepik coklat menetas terjadi pada enam HSP (Tengkano & Sosromarsono 1985;Tengkano dkk. 1992). Keterlambatan waktu penetasan telur kepik coklat menyebabkan siklus hidup nimfa dan imagotidak sesuai dengan perkembangan polong kedelai di lapangan. Semakin lambat telur kepik coklatmenetas semakin tidak sesuai antara pertumbuhan kepik coklat dengan ketersediaan makanan yang adadi lapangan. Fenomena ini terjadi karena telur menetas pada saat keadaan polong dan biji kedelai sudahmulai mengeras sehingga kurang disukai oleh nimfa kepik coklat. Dengan demikian, akan menurunkantingkat kerusakan polong kedelai dari serangan hama kepik coklat. Menurut Soesanto dan Darsam(1993) bahwa aplikasi cendawan entomopatogen pada telur kepik hijau Nezara viridula mengakibatkanwaktu penetasan telur terlambat. Terlambatnya waktu penetasan telur berdampak pada nimfa yangterbentuk tidak sesuai dengan perkembangan polong kedelai sehingga polong tidak disukai oleh nimfa.Lebih lanjut dilaporkan Soesanto dan Darsam (1993) dengan tidak sesuainya perkembangan polongkedelai dengan nimfa maka mengakibatkan jumlah kerusakan polong akibat tusukan stilet nimfa N.viridula lebih rendah. Kelebihan penggunaan minyak nabati yang ditambahkan dalam suspensi cendawan entomopatogendisebabkan karena minyak tersebut mampu melindungi cendawan dari pengaruh sinar matahari,khususnya sinar UV yang akan merusak konidia. Konidia merupakan salah satu organ infektif cendawanyang digunakan untuk menginfeksi inang (Cagan & Svercel 2001; Mathews 2001; Braga et al. 2002).Minyak yang ditambahkan pada suspensi cendawan akan membentuk biofilm yang melapisi konidiacendawan. Biofilm akan berfungsi melindungi konidia dari pengaruh negatif sinar matahari (Leland2001a). Oleh karena itu, Leland (2001a & 2001b) menganjurkan sebelum aplikasi cendawanentomopatogen sebaiknya konidia diformulasikan di dalam larutan minyak agar lebih toleran terhadapsinar matahari. Novizan (2002) melaporkan bahwa pelapisan konidia cendawan dengan bahan perekat 31
  5. 5. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20mampu melindungi konidia dari pengaruh negatif sinar matahari. Dengan demikian, penambahan minyakke dalam suspensi cendawan mempunyai peluang yang besar untuk pengendalian hama terutama di lahanyang mempunyai tipe iklim kering (Leland 2001a). Kontrol 8 Kemiri 10.25 Wijen 10.25 Jenis minyak nabati Kacang Tanah 10 Kedelai 10.75 Kapas 10.25 Kelapa 10.25 Bunga Matahari 10 0 2 4 6 8 10 12 Waktu penetasan telur kepik coklat (HSP) Gambar 1. Waktu penetasan telur kepik coklat setelah disemprot dengan suspensi cendawan L. lecanii yang ditambah dengan berbagai jenis minyak nabati.2. Pengaruh penambahan minyak nabati terhadap efikasi cendawan L. lecanii dalam menekan jumlah telur kepik coklat yang menetas Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak nabati mampu meningkatkan efikasicendawan L. lecanii dalam menggagalkan penetasan telur kepik coklat (Gambar 2). Walaupun diantaraperlakuan penambahan minyak nabati tidak berbeda nyata, namun penambahan minyak nabati berbedanyata dengan tanpa perlakuan (L. lecanii). Jumlah telur kepik coklat yang menetas terbanyak mencapai52,23% terjadi pada perlakuan dengan penambahan minyak bunga matahari, kemudian diikuti denganperlakuan minyak kelapa, kapas, dan wijen masing-masing sama yaitu 46,60%. Perlakuan penambahan minyak kemiri menyebabkan jumlah telur kepik coklat yang menetasmencapai 41,10%. Jumlah telur kepik coklat yang menetas terendah terjadi pada perlakuan penambahanminyak kedelai dan kacang tanah, yaitu masing-masing 30% dan 34,47%. Sedangkan pada kontrol tanpapenambahan minyak nabati (L. lecanii), jumlah telur kepik coklat yang menetas hingga mencapai 79,47%.Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa penambahan minyak nabati mampu mempertahankan efikasicendawan L. lecanii dari pengaruh sinar matahari hingga mencapai 62%. Minyak yang ditambahkankedalam suspensi konidia cendawan akan membentuk lapisan biofilm sehingga konidia terhindar daricekaman lingkungan khususnya sinar matahari yang mendera. Hal ini disebabkan sinar yang datang akandiabsorbsi oleh lapisan biofilm pada konidia (Leland et al. 2001). Oleh karena itu, struktur dindingkonidia terlindungi oleh penambahan senyawa minyak yang ditambahkan. Sementara itu, menurut Leland(2001a) dan Novizan (2002) tanpa penambahan minyak pada waktu aplikasi suspensi konidia cendawan,maka agens hayati tersebut akan kehilangan efikasinya hingga mencapai 70% apabila diaplikasikan dilahan terbuka. Oleh karena itu, perlu adanya penambahan bahan perekat berupa senyawa minyak untukmengatasi persistensi cendawan yang rendah dan kepekaannya terhadap sinar matahari. 32
  6. 6. Yusmani Prayogo : Penambahan Minyak Nabati Untuk Meningkatkan Efikasi Cendawan Entomopatogen Lecanicillium Lecanii Dalam Mengendalikan Telur Kepik Coklat (Riptortus Linearis) (Hemiptera: Alydidae) Pada Kedelai 90 Jumlah telur kepik coklat menetas (%) 79,01a 80 70 60 52,23b 50 46,60bc 44,43bc 44,81bc 41,10bc 34,47bc 40 30,00c 30 20 10 0 Bunga Kelapa Kapas Kedelai Kacang Wijen Kemiri Kontrol Matahari Tanah Jenis minyak nabati Gambar 2. Jumlah telur kepik coklat yang menetas setelah disemprot dengan suspensi konidia cendawan L. lecanii yang ditambah dengan berbegai jenis minyak nabati. Pada Gambar 2 tampak bahwa penambahan minyak nabati yang berasal dari kacang-kacangan,yaitu kacang tanah dan kedelai pada suspensi cendawan L. lecanii mengakibatkan jumlah telur kepikcoklat yang dapat menetas lebih sedikit dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Batta (2003)melaporkan bahwa minyak nabati yang berasal dari kacang-kacangan, khususnya kedelai lebih baik dayaemulsi dan viskositasnya dibandingkan dengan minyak kelapa. Daya emulsi yang dikandung oleh minyakakan mempengaruhi daya penyebaran lemak maupun protein dengan air. Kandungan lemak dan danprotein di dalam minyak dari biji kacang-kacangan cukup tinggi yaitu masing-masing 52% dan 30%(Bender 2005). Di dalam lemak (trigliserida), setelah dihidrolisis akan menghasilkan tiga molekul asamlemak yang berantai panjang dan satu molekul gliserol. Senyawa gliserol merupakan salah satu senyawayang mampu mengabsorbsi sinar matahari. Dengan demikian kelembaban konidia dapat dipertahankanakibat penambahan minyak yang banyak mengandung gliserol sehingga konidia menjadi lebih cepatberkecambah dalam jumlah yang lebih banyak (Gambar 3). Sementara itu, hasil pengamatan secaramikroskopis mengindikasikan bahwa suspensi konidia yang diaplikasikan pada telur tanpa bahan pelindungminyak maka jumlah konidia yang mampu berkecambah hanya sedikit setelah satu hari dipaparkan dialam terbuka (Gambar 4).3. Pengaruh penambahan minyak nabati terhadap efikasi cendawan L. lecanii dalam menekan jumlah nimfa kepik coklat yang berkembang menjadi imago Nimfa kepik coklat terdiri dari lima stadia sebelum ganti kulit (moulting) berkembang menjadiimago. Baik nimfa maupun imago berpeluang sama untuk menyerang polong dan biji kedelai meskipuntingkat serangan lebih parah yang diakibatkan oleh stadia nimfa. Oleh karena itu, nimfa yang mampuberkembang merupakan imago menjadi salah satu kriteria tolok ukur efikasi cendawan yangdiaplikasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak nabati berpengaruh terhadapefikasi cendawan dalam menekan jumlah nimfa kepik coklat yang mampu berkembang menjadi imago(Gambar 5). Hal ini tampak dari perbedaan yang signifikan antara perlakuan kontrol (L. lecanii) denganperlakuan penambahan minyak nabati. Jumlah nimfa kepik coklat yang berkembang menjadi imago 33
  7. 7. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20terendah terjadi pada perlakuan minyak nabati kedelai dan kacang tanah, yaitu masing-masing 11,30%dan 15,13%. Kedua jenis minyak nabati tersebut mampu mempertahankan efikasi cendawan L. lecaniidan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Gambar 3. Konidia L. lecanii yang berkecambah pada permukaan korion telur kepik coklat dengan penambahan minyak kacang setelah 0 jam diinkubasi. SEM MERK JEOL JAPAN TYPE JSM-5000 MAG X5.000 Gambar 4. Konidia L. lecanii yang berkecambah pada permukaan korion telur kepik coklat tanpa penambahan minyak nabati setelah satu hari aplikasi. 34
  8. 8. Yusmani Prayogo : Penambahan Minyak Nabati Untuk Meningkatkan Efikasi Cendawan Entomopatogen Lecanicillium Lecanii Dalam Mengendalikan Telur Kepik Coklat (Riptortus Linearis) (Hemiptera: Alydidae) Pada Kedelai Jumlah nimfa kepik coklat yang berkembang menjadi imago pada perlakuan minyak nabatikelapa, kapas, dan kemiri masing-masing 19,13%; 19,10; dan 19,30%, lebih tinggi dibandingkan denganperlakuan minyak kedelai dan kacang tanah, namun tidak berbeda nyata dengan kedua jenis minyaktersebut. Sedangkan perlakuan minyak bunga matahari dan wijen menunjukkan bahwa imago yangmampu hidup lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan kelima minyak nabati tersebut di atas, yaitumasing-masing 30,50% dan 28,70%. Jumlah imago kepik coklat yang hidup pada perlakuan tanpa minyaknabati (L. lecanii ) masih relatif tinggi hingga mencapai 42%. 42 c Kontrol 19,30 ab Kemiri 28,70 b Jenis minyak nabati Wijen 15,13 a Kacang Tanah 11,30 a Kedelai 19,10 ab Kapas 19,13 ab Kelapa 30,50 b Bunga Matahari 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 Jumlah nimfa kepik coklat yang menjadi imago (%) Gambar 5. Jumlah nimfa kepik coklat yang berkembang menjadi imago akibat aplikasi cendawan L. lecanii ditambah dengan minyak nabati. Di dalam biji kacang-kacangan memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan denganminyak kelapa (Sutanto 2008). Di dalam potein minyak kacang-kacangan terkandung lesitin dan kaseinyang keduanya merupakan bahan pengemulsi yang baik (Daniel 2004; Lawhon 2008). Semakin tinggikandungan protein pada minyak nabati maka semakin besar peluang konidia yang dapat teremulsi denganminyak. Dengan demikian, konidia yang dapat dilindungi oleh minyak sebagai bahan pelindung sehinggaapabila terpapar di alam terbuka konidia lebih toleran. Batta (2003) melaporkan bahwa minyak nabatiyang berasal dari kacang-kacangan, khususnya kedelai lebih banyak daya emulsi dan viskositasnyadibandingkan dengan minyak kelapa.4. Pengaruh penambahan minyak nabati terhadap efikasi cendawan L. lecanii menekan jumlah polong hampa Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak nabati pada suspensi cendawan L.lecanii berpengaruh nyata terhadap efikasi cendawan dalam menekan jumlah polong hampa yangdisebabkan oleh kepik coklat (Tabel 1). Jumlah polong hampa terendah terjadi pada perlakuan denganpenambahan minyak kelapa dan kedelai, yaitu masing-masing 3,33 ± 1,87 dan 3,67 ± 1,29. Sedangkanpenambahan minyak kemiri mengakibatkan jumlah polong hampa lebih tinggi dibandingkan perlakuanminyak kelapa maupun kedelai, yaitu mencapai 4,35 ± 2,26. 35
  9. 9. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20 Tabel 1. Jumlah polong hampa, jumlah tusukan pada biji, dan berat kering biji tiap tanaman kedelai setelah diaplikasi dengan cendawan entomopatogen L. lecanii dengan penambahan minyak berbagai jenis nabati Perlakuan Jumlah polong Jumlah tusukan pada Berat kering biji (Jenis minyak nabati) hampa tiap biji tiap tanaman (gram) Bunga Matahari 8,33 ± 3,33 a * 4,36 ± 1,06 ab* 8,40 ± 3,43 b * Kelapa 3,33 ± 1,87 bc 3,10 ± 0,89 b 9,73 ± 3,50 b Kapas 5,67 ± 2,24 abc 4,50 ± 1,96 ab 8,90 ± 3,18 b Kedelai 3,67 ± 1,29 bc 3,56 ± 1,09 a 9,33 ± 3,52 b Kacang Tanah 5,33 ± 2,20 abc 3,36 ± 0,93 a 9,80 ± 3,47 b Wijen 6,33 ± 2,84 ab 4,76 ± 2,25 ab 9,13 ± 2,93 b Kemiri 4,35 ± 2,26 b 3,14 ± 1,01 a 7,60 ± 2,93 ab Kontrol (L. lecanii) 8,90 ± 3,43 a 6,60 ± 2,93 b 5,63 ± 2,78 a DMRT (0,05) 2,21 2,09 3,04 KK (%) 35,35 15,56 28,40 * Rerata selajur yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata (uji DMRT, α = 0,05). Jumlah polong hampa relatif lebih tinggi, yaitu masing-masing 5,33 ± 2,20; 5,67 ± 2,24; dan6,33 ± 2,84 pada perlakuan minyak kacang tanah, kapas, dan minyak wijen. Jumlah polong hampaterbanyak terjadi pada perlakuan penambahan minyak bunga matahari, yaitu 8,33 ± 3,33 dan perlakuanminyak tersebut tidak berbeda nyata dengan tanpa perlakuan (L. lecanii) yaitu hingga mencapai 8,90 ±3,43. Tingginya jumlah polong hampa pada perlakuan minyak bunga matahari dan tanpa perlakuandisebabkan karena jumlah telur yang menetas dan jumlah nimfa yang berkembang menjadi imago masihrelatif banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Dengan demikian, peluang kepik coklatmenyebabkan kerusakan biji pada waktu pengisian polong juga lebih tinggi sehingga banyak polong hampaterbentuk. Menurut Todd dan Turnipseed (1974) dan Tengkano dkk. (1992), serangan hama kepikcoklat yang terjadi pada fase pertumbuhan polong dan perkembangan biji akan menyebabkan polong danbiji hampa.5. Pengaruh penambahan minyak nabati terhadap keefektifan cendawan L. lecanii menekan jumlah luka tusukan stilet kepik coklat pada biji kedelai Penambahan minyak nabati, selain mampu menekan jumlah polong hampa yang terbentuk jugamampu menekan jumlah luka tusukan pada setiap biji yang disebabkan oleh stilet kepik coklat yangakhirnya mempengaruhi juga kerusakan pada biji. Jumlah tusukan terendah terjadi pada perlakuanminyak kelapa yaitu hanya 3,10 ± 0,89 tiap biji kemudian minyak kemiri yaitu 3,14 ± 1,01. Selanjutnyadiikuti perlakuan minyak kacang tanah dan kedelai masing-masing 3,36 ± 0,93 dan 3,56 ± 1,09 tusukan.Perlakuan minyak bunga matahari, minyak kapas, dan minyak wijen menunjukkan jumlah tusukan relatiflebih tinggi, yaitu berturut-turut 4,36 ± 1,06; 4,50 ± 1,96; dan 4,76 ± 2,25 yang hampir sama dengantanpa penambahan minyak (L. lecanii), yaitu 6,60 ± 2,93. Penambahan minyak nabati pada suspensicendawan L. lecanii untuk mengendalikan hama kepik coklat mempunyai peran yang tinggi dalammenyelamatkan biji karena kerusakan akibat tusukan stilet kepik coklat dan mengakibatkan kerugianyang cukup besar. Hasil penelitian Harnoto dkk. (1977) menunjukkan bahwa biji kedelai yang memilikibekas tusukan stilet kepik coklat dapat menyebabkan daya kecambah biji rendah karena bagian dalambiji sudah mengalami kerusakan. 36
  10. 10. Yusmani Prayogo : Penambahan Minyak Nabati Untuk Meningkatkan Efikasi Cendawan Entomopatogen Lecanicillium Lecanii Dalam Mengendalikan Telur Kepik Coklat (Riptortus Linearis) (Hemiptera: Alydidae) Pada Kedelai6. Pengaruh penambahan minyak nabati pada cendawan entomopatogen L. lecanii terhadap berat kering biji kedelai. Penambahan minyak nabati pada suspensi cendawan L. lecanii dalam pengendalian kepik coklatberpengaruh terhadap berat kering biji yang dihasilkan tiap tanaman walaupun antar perlakuan tidakberbeda nyata. Namun demikian berat kering biji total tertinggi terdapat pada perlakuan minyak nabatidari kacang tanah, yaitu mencapai 9,80 ± 3,47 g kemudian diikuti dengan perlakuan dari penambahanminyak kelapa, kedelai, wijen, kapas, bunga matahari, dan kemiri masing-masing 9,73 ± 3,50 g; 9,33 ±3,52 g; 9,13 ± 2,93 g; 8,40 ± 3,43 g; dan 7,60 ± 2,93 g. Sedangkan pada tanpa perlakuan (L. lecanii)hanya 5,63 ± 2,78 g/tanaman. Pada perlakuan penambahan minyak kacang tanah, kedelai, dan kelapa menghasilkan berat keringbiji tiap tanaman lebih tinggi dari perlakuan minyak nabati lainnya. Hal ini disebabkan karena padaperlakuan tersebut jumlah nimfa yang mampu berkembang menjadi imago juga lebih rendah karenamengalami gagal ganti kulit sewaktu stadia nimfa. Dengan demikian, jumlah imago yang masih hidup danmakan atau merusak biji juga relatif lebih sedikit, selain itu jaringan organ tubuh imago diduga sudahmengalami infeksi cendawan. Menurut Farques et al. (1994), jaringan organ tubuh Colorado potatobeatle yang terinfeksi cendawan Beauveria bassiana akan mengalami kerusakan sehingga mempengaruhipenurunan aktivitas makan serangga tersebut. Lebih lanjut dilaporkan bahwa penurunan konsumsi makanserangga hama tersebut disebabkan oleh terganggunya sistem hormonal sebagai pengendali syaraf.Oleh karena itu, Smith dan Sinoquet (2004); McCoy (2005); dan Katatny (2003) menganjurkan aplikasicendawan entomopatogen sebaiknya ditambah larutan minyak untuk meningkatkan daya persistensi danproliferasi cendawan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tiga jenis minyak nabati, yaitu minyakkelapa, minyak kedelai, dan minyak kacang tanah mampu mempertahankan efikasi cendawanentomopatogen L. lecanii dalam mengendalikan telur kepik coklat pada kedelai. Efikasi cendawantampak mampu menghambat waktu penetasan telur sampai empat hari, menekan jumlah telur yang tidakmenetas hingga 62,20%, menekan jumlah nimfa yang berkembang menjadi imago sampai 73,10%,menurunkan jumlah polong hampa sampai 62,20%, menurunkan jumlah luka tusukan pada biji sebesar53%, dan mampu mempertahankan berat kering biji sampai 42,60%. Tiga jenis minyak nabati tersebutberpeluang sebagai bahan perekat pada waktu aplikasi untuk melindungi efikasi cendawanentomopatogen dari pengaruh sinar matahari saat pengendalian hama di lapangan. UCAPAN TERIMAKASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Dr. Suharsono, MS atassaran dan koreksi naskah ini. DAFTAR PUSTAKAAiuchi, D., Y. Baba, K. Inami, R. Shinya, M. Tani, K. Kuramochi, S. Horie, and M. Koike. 2007. Screening of Verticillium lecanii (Lecanicillium spp.) hybrid strains based on evaluation of pathogenicity against cotton aphid and greenhouse whitefly and viability on the leaf surface. Appl Entomol Zool 51: 205-212.Aiuchi, D., Y. Baha, K. Inami, R. Shinya, and M. Tani M. 2008a. Variation in growth a different temperatures and production and size of conidia in hybrid strains of Verticillium lecanii (=Lecanicillium lecanii) (Deuteromycotina: Hyphomycetes). J Appl Entomol and Zool 43(3): 427- 436. 37
  11. 11. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20Aiuchi, D., S. Horie, and M. Koike. 2008b. Lecanicillium lecanii (=Verticillium lecanii) penetrate into Trialeurodes vaporariorum egg. 41st Annual Meeting of the Society for Invertebrate Pathology and 9th International Conference on Bacillus thuringiensis. August, 3-7;2008 University of Warwick, Coventry, United Kingdom.Askary, H., Y. Carriere, R.R. Belanger, and J. Brodeur. 1998. Pathogenicity of the fungus Verticillium lecanii to aphids and powdery mildew. Biocontrol Sci Technol 8: 23-32.Batta, Y.A. 2003. Production and testing of novel formulations of the entomopathogenic fungus Metarhizium anisopliae (Metschnikoff) Sorokin (Deuteromycotina: Hyphomycetes). Crop Protect 22(2): 415-422.Bender, D.A. 2005. Arachis oil: A dictionary of food and nutrition. Oxford University Press. http://www.encyclopedia.com/doc/1039-arachisoil.html [24 Mar 2008].Braga, G.U. L., D.E.N. Rangel, S.D. Flint, C.D. Miller, and A.J. Anderson. 2002. Damage and Recovery from UV-B exposure on conidia of the entomopathogens Verticillium lecanii and Aphanocladium album. Logan Utah State University.Cagan, and M. Svercel. 2001. The influence of ultraviolet light on pathogenicity of entomopathogenic fungus Beauveria bassiana (balsamo) Vuillemin the European Corn Borer Ostrinia nubilalis HBN (Lepidoptera: Cerambidae). http://www.agr.hr/jcea/issues/jcea2-35/jcea2349.html [21 Juli 2005].Daniel, K.T. 2004. Soy lecithin from sludge to profit. Wise traditions in food, farming and the healing arts. http://.Lecithin/Lecithin-growth.html [2 Des 2008].Ganga-Visalakshy, P.N., A. Krishnamoorthy, and A. Manoj-Kumar. 2005. Effect of plant oils and adhesive stickers on the mycelia growth and condition of Verticillium lecanii, a potential entomopathogen. Phytopar 33(4): 367-369.Goettel, M.S., M. Koike, J.J. Kim, D. Aiuchi, R. Shinya, and J. Brodeur. 2008. Potential of Lecanicillium spp. for management of insects, nematodes, and plant disease. J Invertebr Pathol 29:1819- 1824.Hallsworth, J.E. and N. Magan N. 1996. Culture age, temperature, and pH affect the polyol and trehalose contents of fungal propagule. Appl and Environ Microbiol 67(7): 2435-2442.Harnoto, W. Tengkano, dan D. Soekarna. 1977. Hama penting kedelai dan cara penanggulannya. Simposium I. Peranan Hasil Penelitian Padi dan Palawija dalam Pembangunan Pertanian. Maros, 26-29 September 1977. Departemen Pertanian: Lembaga Pusat Penelitian Pertanian. hlm:1-20.Katatny. 2003. Improvement of cell wall degrading enzymes production by alginate encapsulated Trichoderma spp. http://pabww.screhr/ftbrfd/41219/pdf [1 Januari 2006].Kim, J.J., M.S. Goetel, and D.R. Gilespie. 2007. Potential of Lecanicillium lecanii species for dual microbial control of aphids and cucumber powdery fungus Sphaerotheca fuliginea. Biol Control 40: 327-332.Kim, J.J., M.S. Goettel, and D.R. Gillespie. 2008. Evaluation of Lecanicillium longisporum Vertalec for simultaneous suppression of cotton aphid Aphids gissypii and cucumber powdery mildew Sphaerotheca fuliginea on potted cucumbers. Biol Control Crop Protection 29(6): 540-544.Leland, J.E. 2001a. Enviromental-stress tolerant formulations of Metarhizium anisopliae var. Acridum for control of African Desert Locust (Schistocerca gregaria). Dissertation. Virginia: Faculty of VirginiaPolytechnic. 38
  12. 12. Yusmani Prayogo : Penambahan Minyak Nabati Untuk Meningkatkan Efikasi Cendawan Entomopatogen Lecanicillium Lecanii Dalam Mengendalikan Telur Kepik Coklat (Riptortus Linearis) (Hemiptera: Alydidae) Pada Kedelai http://scholar.lib.vt.edu/theses/available/etd_12052001_115455/unrestrictited/JlelandDiser tation. PDF [21 Juli 2005].Leland, J.E. 200b. Coating Metarhizium anisopliae var Acridum with water soluble lignins for enhaced UVB-protection and effects on virulence to Schistocerca Americana (Drary). Virginia: Department of Entomology. http://essa.confex.com/esa/2001/echprogram/paper3552.htm [21 Juli 2005].Lawhon, C. 2008. Lecithin supplements effectiveness in weight loss. The health psychology home page. http://www.Lecithin/LECITHIN_SUPPLEMENT.html [2 Des 2008].Moore, D., P.D. Bridge, P.M. Higgins, R.P. Bateman, and C. Prior. 1993. Ultra-violet radiation damage to Metarhizium flavoviride conidia and the protection given by vegetable and mineral oils and chemical sunscreens. Ann Appl Biol 122: 605-616.Farques, J., J.C. Delmas, and R.A. Lebrun. 1994. Leaf comsuption by larva of the Colorado potato beetle (Coleoptera: Chrysomelidae) infected with the entomopathogenic Beauveria bassiana. J of Econ Entomol (87): 67-71.McCoy, D.L. 2004. Enviromental persistence of entomopathogenic fungi. University of Florida. http://www.agctr.Isu.edu/s265/McCoy.htm [21 Des 2005].Mathews, G. 2001. Can biological agents be sprayed like chemical pesticides? http://pubs.nrc- cnrc.gc.ca/cgi-bin/rp/rp2abste?cjmw99-0854nsnfcjm [5 Mar 2005].Novizan. 2002. Membuat dan memanfaatkan pestisida ramah lingkungan. Agromedia Pustaka. Jakarta. Hlm:53-55.Prayogo, Y. 2004. Keefektifan lima jenis cendawan entomopatogen terhadap hama pengisap polong kedelai Riptortus linearis (Hemiptera: Alydidae) dan dampaknya terhadap predator Oxyopes javanus Thorell (Araneida: Oxyopidae). [Tesis]. Sekolah Pascasarjana. Departemen Hama dan Penyakit Tanaman. Institut Pertanian Bogor.Prayogo, Y, T. Santoso, dan Widodo. 2004. Keefektifan lima jenis cendawan entomopatogen terhadap telur hama pengisap polong kedelai Riptortus linearis (Hemiptera; Alydidae). Seminar Nasional Hasil Penelitian Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Malang, 5 Oktober 2004. 11hlm.Prayogo, Y., Santoso, dan Widodo. 2005. Kerentanan Stadia Nimfa Hama Pengisap Polong Kedelai Riptortus linearis (Hemiptera: Alydidae) terhadap Jamur Entomopatogen Verticillium lecanii. Hlm: Dalam. (Editor). Jurnal Agrikultura. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran Bandung. Vol. (2): 15-23.Samodra, H. and Y. Ibrahim Y. 2006. Effects of dust formulations of three entomophatogenic fungal isolates against Sitophilus oryzae (Coleoptera: Curculionidae) in Rice grain. J Bios 17(1): 1-7.Shinya, R., D. Aiuchi, A. Kushida, M. Tani, K. Kuramochi, A. Kushida, and M. Koike. 2008a. Effects of fungal culture filtrates of Verticillium lecanii (Lecanicillium spp.) hubrid strains on Heterodera glycines egg and juveniles. J Invertebr Pathol 97: 291-297.Shinya, R., D. Aiuchi, A. Kushida, M. Tani, K. Kuramochi, and M. Koike. 2008b. Pathogenicity and its mode of action in different sedentary stages of Heterodera glycines (Tylenchida: Heteroderidae) by Verticillium lecanii hybrid strains. Appl Entomol Zool 43(2): 227-233. 39
  13. 13. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.2.,20Shinya, R., A. Watanabe, D. Aiuchi, M. Tani, K. Kuramochi, A. Kushida, and M. Koike. 2008c. Potential of Verticillium lecanii (Lecanicillium lecanii) hybrid strains as biological control agents for soybean cyst nematode: Is protoplast fusion an effective tool for development of plant-parasitic nematode control agents?. J of Invertebr Pathol 98(3): 256-261.Smith, N. and H. Sinoquet. 2004. Fungal bioinsecticide survival in response to UVB in 3D digitized grapevine canopies a simulation study. Perancis. http://www.agr.hr/jcea/issue/jcea2- 34/pdfjcea234-9pdf [21 Jul 2005].Soesanto, L. dan Darsam. 1993. Mikroba entomopatogenik: patogenisitasnya terhadap telur Nezara viridula L. hlm: 327-332. Dalam: Martono, E., E. Mahrub, N.S. Putra, dan Y. Trisetyawati (Editor). Simposium Patologi Serangga I. Yogyakarta, 12-13 Oktober 1993.Sutanto A. 2008. Minyak: Jenis dan komposisi. NTUST Indonesian Student Association. http://www/NTUST%20Indonesian%20Association20-%20 minyak %20Goreng. html [15 Jan 2008].Tengkano, W. dan S. Sosromarsono. 1985. Bioekologi dan pengendalian pengisap polong kedelai (Nezara viridula L., Riptortus linearis F., dan Piezodorus rubrofasciatus F.). Prosiding Simposium Hama Palawija. PEI Cabang Bandung. Sukamandi, 3-4 Desember 1985. hlm:42-49.Tengkano, W., M. Arifin, dan A. M. Tohir. 1992. Bioekologi, serangan, dan pengendalian hama pengisap dan penggerek polong kedelai. Di dalam: Marwoto, Saleh N, Sunardi, Winarto A, editor. Risalah Lokakarya Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Kedelai; Malang, 8-10 Agustus 1991. Balittan Malang. Hlm: 117-153.Todd, J.W. dan S.G. Turnipseed. 1974. Effect of southern green stink bug damage on yield and quality of soybean. J. Econ. Entomol (3): 421-426.Verhaar, M.A., T. Hijwegen, and J.C. Zadoks. 2004. Improvement of the efficacy of Verticillium lecanii used in biocontrol of Sphaerotheca fuliginea by addition of oil formulation. Biocontr 44(1): 73- 87.Williams, M.D.C., R.N. Edmondson, and Gill. 2000. The potential of some adjuvants in promoting infection with Verticillium lecanii : laboratory bioassays with Myzus persicae. Ann Appl Biol 137(3): 3373-3482.Yuen, G.Y. 2002. UV-B biodosimetry in turfgrass canopies. Crop Sci 42:859-868. 40

×