Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

4 andi m amir - skrining f1 jarak pagar

1,194 views

Published on

Published in: Technology, Sports
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

4 andi m amir - skrining f1 jarak pagar

  1. 1. Andi Muhammad Amir Dan Joko Hartono : Skrining Beberapa Aksesi Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) Terhadap Hama Daun SKRINING BEBERAPA AKSESI JARAK PAGAR HIBRIDA (Jatropha curcas L.) TERHADAP HAMA DAUN Andi Muhammad Amir dan Joko Hartono Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat Malang E-mail: andimohamir@yahoo.co.id ABSTRAKPenelitian skrining beberapa aksesi jarak pagar hibrida (jatropha curcas l.) hasil persilangan produksi tinggi dengankadar minyak tinggi terhadap hama daun dilakukan di kebun percobaan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur mulai bulanMaret sampai dengan Agustus 2010, bertujuan untuk mendapatkan aksesi tanaman jarak pagar yang tahan terhadaphama daun (Tungau/P. latus, Thrips dan kutu putih Ferisia virgata dari hasil persilangan antara aksesi produksi tinggidengan kadar minyak tinggi. Perlakuan terdiri atas 16 hibrida hasil persilangan aksesi jarak pagar hibrida berproduksitinggi dengan kadar minyak tinggi dan tetua betina dan jantan yaitu 1) IP-3A x Jatim-45, 2) IP-3A x Jatim-55, 3) IP-3A xSP-67, 4) IP-3A x SM-111, 5) HS-49 x Jatim-45, 6) HS-49 x Jatim-55, 7) HS-49 x SP-67, 8) HS-49 x SM-111, 9) SP-88 xJatim-45, 10) SP-88 x Jatim-55, 11) SP-88 x SP-67, 12) SP-88 x SM-111, 13) SP-65 x Jatim-45, 14) SP-65 x Jatim-55, 15)SP-65 x SP-67, 16) SP-65 x SM-111, 17) IP-3A dan 18) Jatim-45 disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dandiulang 3 kali. Parameter pengamatan adalah persentase intensitas kerusakan tanaman akibat ketiga hama dauntersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi jarak pagar persilangan produksi tinggi dan kadar minyak tinggi,yaitu SP-65 x Jatim-45 cenderung tahan terhadap hama tungau (Polyphagotarsonemus latus), SP-65 x SP-67cenderung tahan terhadap hama Thrips dan IP-3A x Jatim 45 cenderung tahan terhadap kutu putih Ferisia virgatadengan persentase intensitas kerusakan tanaman masing-masing 2,22%, 3,06% dan 3,89%.Kata kunci: Jarak pagar (Jatropha curcas L. ) . Hama daun Tungau/P. latus, Thrips dan Kutu putih Ferisia. Virgata ABSTRACTScreening several hybrid accession Physic nut (jatropha curcas l.) from crosses of high production with high oilcontent of leaf pests in the garden experiment Pasirian, Lumajang, East Java, from March until August 2010, aims toobtain plant physic nut accessions that are resistant against leaf pests (mites/P. latus, Thrips and white lice Ferisiavirgata of the off spring of high production accessions with high oil content. The treatment consists of 16 hybrids fromcrosses of accession with high production of physic nut with high oil content and elder females and males: 1) IP-3A xJatim-45, 2) IP -3A x Jatim-55, 3) IP-3A x SP-67, 4) IP-3A x SM-111, 5) HS-49 x x Jatim-45, 6) HS-49 x Jatim-55, 7) HS-49 xSP-67, 8) HS-49 x SM-111, 9) SP-88 x jatim-45, 10) SP-88 x Jatim-55, 11) SP-88 x SP-67, 12) SP-88 x SM-111, 13) SP-65 xJatim-45, 14) SP-65 x-55 East Java, 15) SP-65 x SP-67, 16) SP-65 x SM111, 17) IP-3A and 18) Jatim-45 arranged in arandomized block design (RAK ) and repeated 3 times. Parameters of observation is the intensity of plant damagecaused by pests third leaf. The results showed that the cross accessions of physic nut high production and high oilcontent, the SP-65 x Jatim-45 tends resistant to pest mites (Polyphagotarsonemus latus), SP-65 x SP-67 Thrips tend tobe resistant to pests and IP-3A x Jatim 45 tend to be resistant to white lice Ferisia virgata with the percentage of theintensity of crop damage respectively 2.22%, 3.06% and 3.89%.Key words: Physic Nut (Jatropha curcas L. ), Polyphagutarsonemus latus Banks, Thrips and Ferisia virgata 1
  2. 2. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.2.,No.2.,2012 PENDAHULUAN Krisis energi yang sedang melanda dunia saat ini memaksa untuk mencari sumber energi alaternatif yangterbarukan. Jarak pagar (Jatropha curcas L.) termasuk famili Euphorbiaceae, yang berasal dari Amerika bagian tropis,dengan sinonim J. acerifolia Salisb atau Curcas purgens Medik (Heyne, 1987) merupakan salah satu komoditaspertanian yang ditetapkan sebagai salah satu sumber energi alternatif. Pengembangan tanaman jarak pagar masihbelum mencapai target meski telah diperoleh bahan tanaman yang berproduksi tinggi beserta teknologinya. Pengembangan tanaman jarak pagar oleh Direktorat Jenderal Perkebunan dilakukan di 21 provinsi, terutamaNusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku dan Papua (Ditjenbun,2006). Usaha tani jarak pagar dapat dianggap menguntungkan apabila produksi tanaman mencapai >10ton/ha/tahun. Untuk mencapai hasil tersebut dibutuhkan varietas unggul. Dalam upaya pengembangan varietasunggul diperlukan bahan tanaman yang bermutu tinggi dalam jumlah yang banyak. Bermutu tinggi artinya bahantanaman yang akan digunakan harus memenuhi persyaratan mutu yang meliputi a) mutu genetik, b) mutu fisiologik,c) mutu fisik, dan d) mutu patologik (Luntungan dkk., 2009). Memiliki mutu genetik tinggi artinya bahan tanamantersebut memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi, sifat-sifat yang dimunculkan sesuai dengan deskripsi varietas.Mutu fisiologik tinggi artinya bahan tanaman yang digunakan memiliki viabilitas (daya berkecambah) yang tinggi danmemenuhi standar yang ditetapkan. Memiliki mutu fisik tinggi artinya penampilan fisik baik, bersih dan tidak cacat.Memiliki mutu patologik tinggi artinya bebas dari hama dan patogen yang terbawa benih/bibit seperti, hama pengisapdaun, buah dan jamur. Tanaman jarak pagar hidup berasosiasi dengan beberapa jenis organisme pengganggu tanaman (OPT) berupahama yang umumnya dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan vegetatif dan generatif sehingga berakibatmenurunkan produksi. Hasil penelitian Karmawati dkk. (2009), beberapa jenis hama utama dan potensial yang dapatmenyebabkan kerusakan pada daun adalah Selenothrips rubrocinctus Giard, Kutu putih Ferrisa virgata Coekerel,Planococcus minor Haskell, Paracoccus marginatus Williams & Granara de Wiling, Megapulvinaria maxima Green,Tungau Polyphagotarsonemus latus Banks., tungau Eriophydae (Prostigmata), tungau merah (Prostigmata;Tetranychidae) dan Acrocercops sp. Hama-hama tersebut diatas banyak ditemukan pada daun-daun muda di pucuktanaman yang menyebabkan daun keriting, kaku dan kering. Secara ekonomis hama-hama tersebut sangat merugikan untuk pengembangan tanaman jarak pagar. Dalampengembangan tanaman tersebut diperlukan ketersediaan benih/bibit yang telah terseleksi dalam jumlah yangbanyak. Hingga saat telah ditemukan 4 (empat) aksesi jarak pagar yang berproduksi tinggi, yaitu IP-3A, HS-49, SP-88dan SP-65, namun belum ditemukan aksesi-aksesi jarak pagar yang tahan terhadap hama-hama daun tersebut diatas.Untuk meminimalkan kerugian akibat serangan hama, perlu diusahakan perlindungan yang efektif denganmengimplemetasikan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) yaitu penggunaan aksesi/varietas yang tahan hamamaupun yang tahan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan aksesi tanaman jarak pagar yang tahan terhadap hama daun darihasil persilangan aksesi produksi tinggi dengan kadar minyak tinggi. BAHAN DAN METODA Penelitian dilakukan di kebun percobaan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur mulai bulan Maret sampai denganAgustus 2010. Perlakuan terdiri atas 16 hibrida hasil persilangan aksesi jarak pagar berproduksi tinggi dengan kadarminyak tinggi dan tetua betina dan jantan yaitu 1) IP-3A x Jatim-45, 2) IP-3A x Jatim-55, 3) IP-3A x SP-67, 4) IP-3A xSM-111, 5) HS-49 x Jatim-45, 6) HS-49 x Jatim-55, 7) HS-49 x SP-67, 8) HS-49 x SM-111, 9) SP-88 x Jatim-45, 10) SP-88 xJatim-55, 11) SP-88 x SP-67, 12) SP-88 x SM-111, 13) SP-65 x Jatim-45, 14) SP-65 x Jatim-55, 15) SP-65 x SP-67, 16) SP-65 x SM-111, 17) IP-3A dan 18) Jatim-45 disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dan diulang 3 kali. Perlakuan yang berupa stek ditanam dengan jarak tanam 2 x 2 m. Pengolahan tanah, pemeliharaan yangterdiri atas pengairan, pemupukan dan penyiangan dilakukan sesuai dengan baku teknis agronomi tanaman jarak. Parameter pengamatan adalah persentase intensitas kerusakan tanaman akibat ketiga hama daun yaituTungau/P. latus, Thrips dan kutu putih F. virgata. Intensitas kerusakan tanaman diamati sepertiga bagian atas tanaman sebanyak 3 tanaman sampel yangditentukan secara acak sistematis dengan menggunakan nilai skor. Intensitas kerusakan daun dihitung denganmenggunakan persamaan dari Hunter et al. (1998): Nilai skor terdiri atas: Skor 0= sehat Skor 1 = 1-25% terserang sebagian 2
  3. 3. Andi Muhammad Amir Dan Joko Hartono : Skrining Beberapa Aksesi Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) Terhadap Hama Daun Skor 2 = 26-50% keriting sebagian hingga setengah Skor 3 = 51-75% keriting hampir semua Skor 4 = 76-100% keriting hingga daun melengkung Intensitas kerusakan daun dihitung dengan menggunakan persamaan dari Hunter et al. (1998): (n x V) I = -------------- x 100% NxZ dimana, I = Persentase intensitas kerusakan; n = Jumlah daun yang mempunyai nilai skor yang sama; V = Nilai skor dari setiap kategori kerusakan; N = Jumlah daun yang diamati Z = Nilai skala kategori serangan tertinggi. HASIL DAN PEMBAHASANIntensitas kerusakan tanaman akibat serangan hama kutu daun Tungau/P. latus, Thrips dan kutu putih Ferisiavirgata. Hasil pengamatan persentase intensitas kerusakan pada tanaman jarak pagar yang terserang hama kutu daun(Tungau/P. latus, Thrips dan kutu putih Ferisia virgata) pada 16 aksesi hibrida hasil persilangan antara aksesi jarakpagar (J. curcas) produksi tinggi dan kadar minyak tinggi disajikan pada Gambar 1, 2 dan 3. Pada Gambar 1, terlihatbahwa persentae intensitas serangan dari 16 aksesi hibrida cukup bervariasi, persentase intensitas kerusakantanaman berkisar antara 2,22 – 20,78%. Hibrida hasil persilangan yang menunjukkan persentase intensitas kerusakanyang terendah adalah hibrida SP-65 x Jatim-45 yaitu 2,22%, kemudian berturut-turut adalah SP-88 x Jatim 55 dan HS-49 x SM-111, yaitu 5,28%.dan 5,78%. Gambar 1. Rata-rata persentase intensitas kerusakan tanaman akibat serangan tungau P. latus) pada 16 aksesi hibrida jarak pagar hasil persilangan. Pada Gambar 2, persentase intensitas kerusakan tanaman jarak pagar pada 16 aksesi hibrida hasil persilanganantara aksesi jarak pagar (J. curcas) produksi tinggi dan kadar minyak tinggi akibat serangan Thrips juga bervariasi dantidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Hibrida hasil persilangan yang menunjukkan persentase intensitaskerusakan yang terendah adalah hibrida SP-65 x SP-67 yaitu 3,06%, kemudian berturut-turut adalah IP-3A x Jatim 55dan SP-88 x Jatim-55 yaitu 5,00% dan 5,89%. 3
  4. 4. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.2.,No.2.,2012 Gambar 2. Rata-rata persentase intensitas kerusakan tanaman akibat serangan Thrips pada 16 aksesi hibrida jarak pagar hasil persilangan Persentase intensitas kerusakan jarak pagar pada 16 aksesi hibrida hasil persilangan antara aksesi jarak pagar(J. curcas) produksi tinggi dan kadar minyak tinggi akibat serangan kutu putih F. virgata disajikan pada Gambar 3.Pada gambar tersebut rata-rata, persentase intensitas kerusakan tanaman jarak pagar pada 16 aksesi hibrida hasilpersilangan antara aksesi jarak pagar (J. curcas) produksi tinggi dan kadar minyak tinggi akibat serangan kutu putih F.virgata juga bervariasi dan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Hibrida hasil persilangan yang menunjukkanpersentase intensitas kerusakan yang terendah adalah IP-3A x Jatim 45 yaitu 3,89% kemudian berturut-turut adalahSP-88 x Jatim 45 dan SP-65 x SP-67 yaitu 4,77% dan 8,43%. Gambar 3. Rata-rata persentase intensitas kerusakan tanaman akibat serangan kutu putih Ferisia virgata pada 16 aksesi hibrida jarak pagar hasil persilangan. Intensitas kerusakan tanaman pada 16 aksesi hibrida hasil persilangan jarak pagar produksi tinggi dan kadarminyak tinggi sangat bervariasi. Hal tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh faktor pengendali sifat ketahanan yangbelum diketahui, namun diduga dipengaruhi oleh faktor fisik, kimiawi, anatomis, fisiologis dan genetis. Painter (1968),mengemukakan bahwa ketahanan tanaman dikelompokkan atas tiga dasar, yaitu preferensi/non preferensi, antibiosisdan toleransi. Hubungan serangga dengan tanaman inang, selain dilihat dari segi fisiologi serangga, juga dilihat dari sifatmorfologis dan fisiologis tanaman sebagai sumber rangsangan utama. Ciri morfologi tertentu dapat menghasilkanrangsangan fisik untuk kegiatan makan serangga atau kegiatan peletakan telur. Variasi dalam ukuran daun, bentukwarna, kekerasan jaringan tanaman, adanya rambit dan tonjolan dapat menentukan seberapa jauh derajatpenerimaan serangga terhadap tanaman tertentu. Pada ciri fisiologi yang mempengaruhi serangga biasanya berupazat kimia yang dihasilkan oleh metabolisme tanaman baik metabolisme primer maupun sekunder. Hasil metabolisme 4
  5. 5. Andi Muhammad Amir Dan Joko Hartono : Skrining Beberapa Aksesi Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) Terhadap Hama Daunprimer adalah karbohidrat, protein, lipid, hormon dan enzym senyawa organik. Beberapa metabolit primer dapatmenjadi rangsangan makan, bagian dari nutrisi serangga dan mungkin sebagai racun (Kasumbogo, 1993). Ketahanan tanaman terhadap gangguan serangga dapat diukur dari pengaruhnya terhadap bagian tanaman,antara lain terhambatnya pertumbuhan, kerusakan bagian tanaman, penurunan atau kehilangan hasil, sedang dariserangganya adalah keperidian serangga betina dan persentase telur yang menetas (Kogan, 1975). KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa persilangan aksesi jarak pagar persilangan produksi tinggi dan kadarminyak tinggi, yaitu SP-65 x Jatim-45 cenderung tahan terhadap hama tungau (Polyphagotarsonemus latus), SP-65 xSP-67 cenderung tahan terhadap hama Thrips dan IP-3A x Jatim 45 cenderung tahan terhadap kutu putih Ferisiavirgata dengan persentase intensitas kerusakan tanaman masing-masing 2,22%, 3,06% dan 3,89%. DAFTAR PUSTAKADitjenbun. 2006. Perkembangan Aksi Energi Alternatif: Pengembangan jarak pagar. Senin, 18 Desember 2006. URL.:http://ditjenbun.deptan.go.id/Heyne. K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Diterjemahkan oleh badan Litbang Kehutanan. 2521 hal..Hunter, WB., E. Hiebert, SE. Webb, J.H. Tsai, JE. Polston. 1988. ocation of eminivirus In The Whitefly Bemisia tabaci (Homoptera : Aleyrodidae). Plant Disease . 82: 1147-151. The American Phytopathological Society.Luntungan H. T. dan Rr. Sri Hartati, R.D. Purwati, H. Sudarmo, Hasnam, Maftuchah dan Moch. Cholik. 2009 Bahan Tanaman. Menjawab Tantangan Krisis Energi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Pertanian. Deptan. 2009. Hal. 21-40.Karmawati E., W. Rumini, Sri Yuni Astuti, T. Yulianti dan Nur Asbani. 2009. Hama dan Penyakit. Teknologi Jarak pagar Menjawab Tantangan Krisis Energi. Pusat Penelitian Perkebunan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen pertanian. 2009. Hal.55-69.Kasumbogo, U. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada press. Jogjakarta. Hal. 132-151.Kogan, M. 1975. Plant Resistences in Pest management in Metcalf, R. L., and W. Luckmann (ed) Introduction to Pest Management. A Wiley Inter Science. Canada. P. 103-146.Painter, R.H. 1968. Insect Resistance in Crops plants. The University of kansas. 520 p. 5

×