Andi Muhammad Amir Dan I Wayan Laba : Pengendalian Secara Kimiawi Serangga Hama Utama Dan Vektor Virus Pada Tanaman       ...
Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.3.,2011yang sangat khas. Produktivitas tembakau dalam negeri hingga saat ...
Andi Muhammad Amir Dan I Wayan Laba : Pengendalian Secara Kimiawi Serangga Hama Utama Dan Vektor Virus Pada Tanaman       ...
Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.3.,2011                      Tabel 1.  Rata‐rata populasi ulat grayak Spo...
Andi Muhammad Amir Dan I Wayan Laba : Pengendalian Secara Kimiawi Serangga Hama Utama Dan Vektor Virus Pada Tanaman       ...
Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.3.,2011O’Brien, R.D. and I. yamamoto. 1970. Biochemical Toxicology of Ins...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

4 am amir-virus tembakau

613 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
613
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
9
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

4 am amir-virus tembakau

  1. 1. Andi Muhammad Amir Dan I Wayan Laba : Pengendalian Secara Kimiawi Serangga Hama Utama Dan Vektor Virus Pada Tanaman Tembakau PENGENDALIAN SECARA KIMIAWI SERANGGA HAMA UTAMA DAN VEKTOR VIRUS PADA TANAMAN TEMBAKAU Andi Muhammad Amir1) dan I Wayan Laba2) 1) Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Malang 2) Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor/PEI Cab. Bogor e-mail: andimohamir@yahoo.co.id ABSTRAK Penelitian pengendalian secara kimiawi serangga hama utama dan vektor virus pada tanaman tembakau telah dilaksanakan di desa Jati Guwi, kecamatan Sumber Pucung, kabupaten Malang pada musim tanam tahun 2008, bertujuan untuk mengetahui efisiensi penggunaan insektisida terhadap hama utama tembakau yaitu ulat grayak Spodoptera litura F., penggerek pucuk Helicoverpa armigera Hubner dan kutu daun Myzus persicae Sulz. Perlakuan terdiri atas 6 (enam) tingkat konsentrasi insektisida berbahan aktif Abamektin yaitu 0,125; 0,25; 0,375; 0,50 0,75; 0,1 ml/l air, 1 (satu) tingkat konsentrasi insektisida berbahan aktif Beta siflutrin yaitu 0,5 ml/l dan kontrol (tanpa perlakuan) disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) diulang 4 (empat) kali. Hasil pengujian menunjukkan bahwa insektisida berbahan aktif Abamektin dengan konsentrasi 1,00 ml/l air efektif menekan populasi ulat grayak S. litura dan penggerek pucuk H. armigera dan konsentrasi 0,50–0,75 ml/l air efektif menekan populasi vector virus M. persicae pada tanaman tembakau dengan tingkat efikasi insektisida 65,37 – 100%. Kata kunci:Tembakau Nicotiana tabaccum L., ulat grayak Spodoptera litura F., penggerek pucuk Helicoverpa armigera Hubner., dan kutu daun Myzus persicae Sulz. ABSTRACT Research control of insect pest is chemically and vector virus in tobacco plants has been conducted in the distric of Jati Guwi, Sumber Pucung, Malang regency in the planting season in 2008, aims to determine the efficiency of the use of insecticides against the major pests of tobacco Spodoptera litura F., Helicoverpa armigera Hubner and Myzus persicae Sulz. The treatment consisted of 6 (six) contain active levels of insecticide Abamektin concentration of 0.125, 0.25, 0.375, 0.50 0.75; 0.1 ml/ l water, 1 (one) level of concentration of Beta siflutrin insecticides contain active: 0, 5 ml / l and control (no treatment) arranged in a randomized block design (RBD) repeated 4 (four) times. The results showed indicate that contain active insecticide Abamektin with concentration 1.00 ml / l water effectively suppress armyworm populations of S. litura and H. armigera and concentration from 0.50 to 0.75 ml/l water effectively suppress vector virus populations M. persicae on tobacco plants with insecticide efficacy rate from 65.37 to 100%. Keywords: Tobacco Nicotiana tabacum L., Spodoptera litura F.,Helicoverpa armigera Hubner., and Myzus persicae. PENDAHULUAN Tembakau (Nicotiana tabacum L.) adalah merupakan salah satu komoditas tanaman perkebunanyang dapat diekspor dan menghasilkan devisa yang cukup tinggi karena memiliki ciri, rasa, dan aroma 1
  2. 2. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.3.,2011yang sangat khas. Produktivitas tembakau dalam negeri hingga saat ini mengalami penurunan baikkualitas maupun kuantitasnya. Beberapa faktor pembatas yang mempengaruhi hal tersebut antara lainadalah menurunnya kesuburan tanah, iklim yang tidak menentu serta adanya serangan OrganismePengganggu Tanaman (OPT) baik hama maupun penyakit. Diantara faktor pembatas tersebut diatas, kerugian yang paling dominan dalam budidayatembakau adalah akibat serangan hama utama yaitu ulat grayak Spodoptera. litura F. dan penggerekpucuk Helicoverpa armigera Hubner yang dapat mencapai 60% (Subiyakto et al,, 1992). Selain darikedua jenis hama tersebut diatas, beberapa jenis hama lain seperti kutu daun Myzus persicae Sulz. danThrips sp, juga merupakan hama pada tembakau yang mengakibatkan tingkat kerusakan cukup tinggi danjuga merupakan vektor penyakit untuk jenis virus tertentu (Kalshoven, 1981). Serangan jenis hamatersebut diatas dapat menyebabkan daun berlubang, cacat, keriting dan pertumbuhan tanaman tidaksempurna. Keberadaan ulat grayak S. litura dan penggerek pucuk H. armigera selalu ada karenakeduanya termasuk polifagus yang mempunyai beberapa jenis tanaman inang baik tanaman sayuran,pangan, perkebunan dan tanaman industri (Esquerra and Gabriel, 1969; Kalshoven, 1981). Pengendalian jenis-jenis serangga hama utama tersebut dan kutu daun masih mengandalkanpestisida berbahan aktif kimiawi (insektisida). Penyemprotan insektisida yang secara terus-menerusmenyebabkan serangga berdaptasi, sehingga serangga menjadi resisten. Problem ini memacu petaniuntuk menggunakan insektisida yang lebih banyak. Kenyataan di lapang menunjukkan bahwa pelaksanaanpenyemprotan tidak selalu sesuai dengan populasi dan macam serangga hama sasaran. Tumpang tindihserangga hama dan kutu daun sering menimbulkan kekeliruan memilih insektisida yang tepat sehinggapopulasi serangga dan kutu daun tidak menurun tetapi justru meningkat. Dampak negatif lainnya terlihatdengan menurunnya populasi musuh alami atau meningkatnya ketahanan serangga hama terhadapinsektisida. Dari hasil penelitian Sri Hadiyani (1995), pada tembakau cerutu Besuki tingkat resistensiulat grayak S. litura telah mencapai 6,5 kali. Untuk mengantisipasi terjadinya efek samping penggunaaninsektisida, maka penggunaan insektisida harus secara selektif, yaitu insektisida yang efektifmembunuh serangga hama sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penggunaan insektisida dalam mengendalikanserangga hama utama dan kutu daun pada tanaman tembakau. BAHAN DAN METODA Penelitian telah dilaksanakan di areal pertanaman tembakau milik petani desa Jati Guwi,kecamatan Sumber Pucung, kabupaten Malang pada musim tanam tahun 2008. Perlakuan terdiri atas 6(enam) tingkat konsentrasi insektisida berbahan aktif Abamektin yaitu 0,125; 0,25; 0,375; 0,50 0,75;0,1 ml/l, 1 (satu) tingkat konsentrasi insektisida berbahan aktif Beta siflutrin yaitu 0,5 ml/l dan kontrol(tanpa perlakuan), disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) diulang 4 (empat) kali. Bibit tembakau rajangan yang berasal dari pesemaian ditanam pada petak-petak yang berukuran5 m x 10 m, dengan jarak tanam 45 x 90 cm dengan sistem double row, satu bibit per lubang tanaman,jarak antar perlakuan 2 m dan antar ulangan 3 m. Pemupukan dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada saattanam dan 21 hari setelah tanam (HST) dengan dosis 200 kg Urea dan 100 kg SP-36 per ha. Aplikasi insektisida dimulai saat tanaman berumur 14 HST atau sudah ditemukan ulat instar-3dan vector virus, menggunakan alat semprot punggung otomatis ”Knapsack sprayer” bertekanan tinggidengan volume semprot 400-600 l/ha. Parameter pengamatan meliputi tingkat populasi serangga hama utama dan kutu daun pada 20tanaman contoh yang ditentukan secara acak mengikuti garis diagonal pada setiap petak. Pengamatandilakukan satu hari sebelum (-1) dan satu hari setelah (+1) aplikasi. Aplikasi dilakukan dengan intervalwaktu 7 (Tujuh) hari sekali. Jika pada pengamatan pertama populasi hama sasaran yang ditimbulkantidak berbeda antar perlakuan, maka efikasi insektisida dihitung dengan persamaan dari Abbott(Ciba-Geygy,1981): 2
  3. 3. Andi Muhammad Amir Dan I Wayan Laba : Pengendalian Secara Kimiawi Serangga Hama Utama Dan Vektor Virus Pada Tanaman Tembakau (Ca – Ta) EI = --------------- x 100 % Cadimana: EI = Efikasi insektisida yang diuji (%); Ta = Populasi hama sasaran/persentase kerusakan tanaman pada petak perlakuan insektisida yang diuji setelah penyemprotan insektisida; Ca = Populasi hama sasaran/persentase kerusakan tanaman pada petak kontrol diuji setelah penyemprotan insektisida. Jika pada pengamatan pertama populasi hama sasaran yang ditimbulkan berbeda antarperlakuan, maka efikasi insektisida dihitung dengan persamaan dari Henderson and Titan(Ciba-Geygy,1981): (Ta Cb) EI = 1 - -------- x -------- x 100 % (Ca Tb)dimana: EI = Efektivitas insektisida yang diuji (%); Tb = populasi hama sasaran/persentase kerusakan tanaman pada petak perlakuan insektisida yang diuji sebelum penyemprotan insektisida; Ta = populasi hama sasaran/persentase kerusakan tanaman pada petak perlakuan insektisida yang diuji sebelum penyemprotan insektisida; Ca = populasi hama sasaran/persentase kerusakan tanaman pada petak kontrol sebelum penyemprotan insektisida; Cb = populasi hama sasaran/persentase kerusakan tanaman pada petak kontrol setelah penyemprotan insektisida. HASIL DAN PEMBAHASANPopulasi ulat grayak Spodoptera litura Rata-rata populasi ulat grayak Spodoptera litura pada beberapa tingkat konsentrasi disajikanpada Tabel 1. Pada aplikasi I, rata-rata populasi ulat grayak S. litura sehari sebelum aplikasi (-1),secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antara semua tingkat konsentrasi maupunkontrol, kemudian sehari setelah aplikasi (+1), populasi S. litura pada semua tingkat konsentrasimengalami penurunan terutama insektisida Abamektin konsentrasi 0,50 ml/l air yaitu 3,10 ekor kecualikontrol yang cenderung meningkat hingga 9,33 ekor. Pada aplikasi II, sehari setelah aplikasi (+1)konsentrasi 0,50 dan 0,75 ml/l air mampu menekan populasi hingga 1,73 ekor dan 1,75 ekor.Selanjutnya pada aplikasi III dan IV, konsentrasi 0,50-0,75 ml/l masih mampu menekan populasi hinggaterendah yaitu 0,51 dan 0,26 ekor. 3
  4. 4. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.3.,2011                      Tabel 1.  Rata‐rata populasi ulat grayak Spodoptera litura pada 20 sample tanaman  tembakau.  Malang, 2008.  Bahan   Kons,  Aplikasi I  Aplikasi II  Aplikasi III  Aplikasi VI  Aktif  ml/l       ‐1  +1  ‐1  +1  ‐1  +1  ‐1  +1  Abamektin  0,125  7,28 ab*  4,85 bc    4,50 bc    3,08 bc    2,69 bc    1,96 a    1,95 a    0,94 a  Abamektin  0,25  9,99 a  5,14 b    4,25 bcd    2,58 c    2,64 bc    1,51 a    1,51 a    0,70 a  Abamektin  0,375  6,25 a  4,04 bc    3,44 cd    2,28 c    2,95 bc    1,65 a    1,65 a    0,70 a  Abamektin  0,50  7,14 a  3,10 c    2,63 d    1,75 c    2,14 c    1,43 a    1,15 a    0,51 a  Abamektin  0,75  6,34 a  4,01 bc    3,13 cd    1,73 c    2,40 c    1,63 a    1,29 a    0,26 a  Abamektin  1,00  6,86 a  4,75 bc    4,20 bcd    2,71 c    2,61 bc    1,83 a    0,76 a    0,69 a  Beta sufliutrin  0,50  6,74 a  4,70 bc    5,75 b    4,40 b    3,88 b    2,36 a    0,95 a    0,49 a  Kontrol  ‐  7,98 ab  9,33 a  14,46 a  14,21 a  16,55 a  17,09 b  13,95 b  13,78 b           Keterangan:                       ‐ 1 = sehari sebelum aplikasi;  +1 = sehari setelah aplikasi                       *  Angka‐angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada                               taraf 5% uji  jarak berganda Duncan. Populasi penggerek pucuk Helicoverpa armigera Rata-rata populasi H. armigera pada beberapa tingkat konsentrasi disajikan pada Tabel 2. Padaaplikasi I, rata-rata populasi penggerek pucuk H. armigera sehari sebelum aplikasi (-1), tidakmenunjukkan perbedaan yang nyata antara semua tingkat konsentrasi maupun kontrol, kemudian seharisetelah aplikasi (+1), populasi menurun. Pada konsentrasi 0,75 ml/l air populasi hanya 1,74 ekor, lebihrendah dibanding populasi pada semua tingkat konsentrasi yang diuji. Pada aplikasi III, populasi padasemua tingkat konsentrasi yaitu antara 0,25-0,93 ekor, terendah pada konsentrasi 1,00 ml/l air yaitu0,25 ekor. Selanjutnya pada aplikasi IV, konsentrasi 1,00 ml/l air populasinya hanya 0,03 ekor.                 Tabel 2.  Rata‐rata populasi ulat penggerek pucuk Helicoverpa armigera  pada 20  sampel tanaman tembakau.  Malang, 2008.  Bahan   Kons.  Aplikasi I  Aplikasi II  Aplikasi III  Aplikasi VI  Aktif  ml/l       ‐1  +1  ‐1  +1  ‐1  +1  ‐1  +1  Abamektin  0,125  3,95 a*  2,68 a  1,69 a  1,05 a  1,36 a  0,60 bc  0,40 a  0,20 a  Abamektin  0,25  3,64 a  2,22 a  1,74 a  1,00 a  1,43 a  0,93 b  0,58 a  0,33 a  Abamektin  0,375  3,34 a  1,73 a  1,94 a  0,91 a  1,41 a  0,73 bc  0,14 a  0,08 a  Abamektin  0,50  3,75 a  1,85 a  1,51 a  0,85 a  0,70 a  0,43 bc  0,11 a  0,04 a  Abamektin  0,75  3,50 a  1,74 a  1,79 a  0,76 a  0,69 a  0,28 c  0,21 a  0,08 a  Abamektin  1,00  4,23 a  2,23 a  1,49 a  0,64 a  0,60 a  0,25 c  0,14 a  0,03 a  Beta siflutrin   0,50  4,05 a  2,48 a  1,74 a  1,15 a  0,88 a  0,58 bc  0,70 a  0,29 a  Kontrol  ‐  4,34 a  5,50 b  5,53 b  5,63 b  6,24 b  5,91 c  3,16 b  4,00 b             Keterangan:                         ‐ 1 = sehari sebelum aplikasi;  +1 = sehari setelah aplikasi                        *  Angka‐angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada                               taraf 5% uji  jarak berganda Duncan. Populasi kutu daun Myzus persicae Rata-rata populasi kutu daun M. persicae pada beberapa tingkat konsentrasi disajikan padaTabel 3. Pada aplikasi I, populasi M. persicae sehari setelah aplikasi (+1), populasi antara perlakuansecara statistik menunjukkan perbedaan yang tidak nyata, tetapi jumlah populasi pada konsentrasi 1,00ml/l air terendah dibanding dengan konsentrasi lainnya yaitu 27,69 ekor. Selanjutnya yaitu pada aplikasiII, populasi M. persicae sehari setelah aplikasi (+1) merupakan populasi terendah yaitu 9,19 ekor padakonsentrasi 1,00 ml/l air. Selanjutnya pada aplikasi III, sehari setelah aplikasi (+1), populasi menurundan yang terendah pada perlakuan konsentrasi 1,00 ml/l air yaitu 4,61 ekor. Pengamatan populasiM. persicae selanjutnya tidak dilakukan karena populasi di lapang sudah tidak ada, hal ini disebabkankarena pada saat tersebut curah hujan cukup tinggi. 4
  5. 5. Andi Muhammad Amir Dan I Wayan Laba : Pengendalian Secara Kimiawi Serangga Hama Utama Dan Vektor Virus Pada Tanaman Tembakau                              Tabel 3.  Rata‐rata populasi kutu daun Myzus persicae  pada 20 tanaman sampel tembakau.  Malang, 2008.   Bahan aktif  Kons.  Aplikasi I  Aplikasi II  Aplikasi III   insektisida  ml/l       ‐1  +1  ‐1  +1  ‐1  +1  Abamektin  0,125  53,21 a*  27,90 b  16,92 b  16,31 a  17,88 a  12,28 b  Abamektin  0,25  58,03 a  34,03 b  30,19 b  16,99 a  16,60 a  10,73 bc  Abamektin  0,375  55,43 a  40,58 ab  26,65 b  16,24 a  14,51 a    8,94 bc  Abamektin  0,50  72,17 a  50,93 ab  25,05 b  12,99 a    4,90 a    2,28 bc  Abamektin  0,75  52,39 a  39,05 b  40,94 ab  11,05 a  11,84 a    7,24 bc  Abamektin  1,00  43,90 a  27,69 b  18,09 b    9,19 a    9,35 a    4,61 c  Beta siflutrin  0,50  71,53 a  46,46 ab  20,81 b  12,54 a  12,38 a    7,89 bc  Kontrol   ‐  61,08 a  62,73 a  60,24 a  58,96 b  47,04 b  53,21 a             Keterangan:                       ‐ 1 = sehari sebelum aplikasi;  +1 = sehari setelah aplikasi                      *  Angka‐angka yang diikuti oleh huruf  yang  sama pada kolom yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada                            taraf 5% uji  jarak berganda Duncan,  Pada umumnya insektisida-insektisida yang digunakan untuk mengendalikan hama baik ulat dankutu daun bersifat sistemik. Insektisida sistemik mempunyai beberapa sifat membunuh berbagaiserangga. Sebagai racun syaraf yang manjur untuk ulat, dengan konsentrasi rendah, telah dapatmenghambat acetylcholinesterase dan meracuni jaringan lipoid serangga tersebut (O’ Brien andYamamoto. 1970; Nayar et al., 1978). Sebagai racun perut, dapat mematikan serangga dalam waktucepat dan sangat beracun untuk telur, larva mapun imago terutama H. armigera. (Anonim. 1984).Sebagai racun kontak dapat menghambat produksi acetylcholinesterase yang mengakibatkan pemutusangerak oleh syaraf (Eto. 1976). Selanjutnya menurut Palumbo and Kerns (1994), insektisida sistemikdapat memberikan perlindungan tanaman terhadap kutu daun selama 3 bulan.Efikasi insektisida Dari hasil penghitungan dengan menggunakan persamaan dari About (Ciba-Geygy. 1981), makatingkat efikasi insektisida terhadap hama ulat grayak S. litura, penggerek pucuk H. armigera dan kutudaun M. persicae pada tanaman tembakau cukup tinggi, masing-masing yaitu 61,75%, 100% dan 58,86%. KESIMPULAN Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa insektisida berbahan aktif Abamektin dengankonsentrasi 1,00 ml/l air efektif menekan populasi ulat grayak S. litura dan penggerek pucukH. armigera dan konsentrasi 0,50–0,75 ml/l air efektif menekan populasi kutu daun M. persicae padatanaman tembakau dengan tingkat efikasi insektisida 65,37–100%. DAFTAR PUSTAKAAnonim. 1984. Larvin, Thiodikarb Insecticide, the Ideal Insecticide. Technical Information manual. Union Carbide. Agricultural Product Co. Inc. 49p.Esquerra, M. M. and B. P. Gabriel. 1969. Insect Pest of Vegetables. Dept. of Ento. Coll of Agric Univ. of The Phillipines.Eto, M. 1976. Organophosphorus Pesticide: Organic and Biochemical Chemistry. CRR Press. P.123-157.Kalshoven, L. G. E. 1981. Pest of Crops in Indonesia. Revised and Translated by van der Laan. PT. Ichtiar Baru van Hoeve. Jakarta,Nayar, K.K., TN. Ananthakrishman and B.V. david. 1976. General and Aplied Entomology. Tata Mc Grow Hill Publ.Co.Ltd. p.370-386. 5
  6. 6. Superman : Suara Perlindungan Tanaman, Vol.1.,No.3.,2011O’Brien, R.D. and I. yamamoto. 1970. Biochemical Toxicology of Insecticide. Academic Press. New York. P.193-200.Palumbo. J.C, Kerns D.L. 1994. Effects of imidacloprid as a soil treatment on colonization of green peach aphid and marketability of lettuce. Southwestern Entomologist 19: 339-346.Sri Hadiyani. 1995. Pengendalian Serangga Hama Tanaman Kapas dan Tembakau dalam Resistensi Serangga Terhadap Insektisida dan Upaya Penanggulangannya, Risalah Seminar Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) Cabang Malang.Subiyakto, A. A. A. Gothama dan S. H. Isdijoso dan T. Soemartono. 1992. Penentuan Ambang Kendali Helicoverpa spp. Pada Tembakau Besuki Na Oosgt. Prosiding Kongres Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) IV di Jogyakarta. 28-30 Januari 1992. 6

×