Current Status on Indonesia’s MDGs Achievements Randy R. Wrihatnolo Jakarta, 14 Februari 2008 2007
TUJUAN 1: Kemiskinan dan Kelaparan Target 1:  Menurunkan proporsi penduduk miskin    menjadi setengahnya kurun 1990-2015 ...
Target 2: Penanggulangan Kekurangan Gizi Pada Balita Note:  Catatan:  Indikator yang digunakan untuk mengukur target terse...
TUJUAN 2: Pencapaian  Pendidikan Dasar Target 3: Pendidikan dasar untuk semua umur dan jenis kelamin Catatan:  Indikator y...
TUJUAN 3:  Mendorong Kesetaraan Gender & Pemberdayaan Perempuan <ul><li>Target 4: </li></ul><ul><li>Ketimpangan gender di ...
TUJUAN 4:  Menurunkan Angka Kematian Anak Target 5:  Angka Kematian Balita    turun 2/3 antara tahun 1990-2015 Catatan: I...
TUJUAN 5:  Meningkatkan Kesehatan Ibu Target 6:  Angka kematian ibu    turun ¾ antara tahun 1990-2015 Catatan: Indikator ...
TUJUAN 6:  Memerangi HIV/AIDS, Malaria & Penyakit Menular Lainnya <ul><li>Target 7:  </li></ul><ul><li>Mengendalikan penye...
TUJUAN 6:  Memerangi HIV/AIDS, Malaria & Penyakit Menular Lainnya <ul><li>Target 8:  </li></ul><ul><li>Mengendalikan penya...
TUJUAN 7:  Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup <ul><li>Target 9: </li></ul><ul><li>Memadukan prinsip pembangunan berke...
TUJUAN 7:  Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup <ul><li>Target 9: </li></ul><ul><li>Memadukan prinsip pembangunan berke...
TUJUAN 7:  Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup <ul><li>Target 9: </li></ul><ul><li>Memadukan prinsip pembangunan berke...
<ul><li>Target 10:  </li></ul><ul><li>Proporsi penduduk tanpa akses thd sumber air minum    turun 50% pada tahun 2015 </l...
<ul><li>Target 10:  </li></ul><ul><li>Proporsi penduduk tanpa akses fasilitas sanitasi dasar    turun 50% pada tahun 2015...
Target 11:  Perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di pemukiman kumuh pada tahun 2020. TUJUAN 7:  Memastik...
Target 12:  Mengembangkan sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka, berbasis peraturan, dapat diprediksi, dan tidak di...
Target 15:  Menangani hutang negara berkembang  melalui upaya nasional maupun internasional agar pengelolaan hutang berkes...
Target 16:  Bekerjasama dengan negara lain untuk mengembangkan dan menerapkan strategi penciptaan lapangan kerja yang baik...
Target 18: Bekerjasama dengan sektor swasta dalam memanfaatkan teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi...
Pada tahun 2007 ketika Indonesia menyusun Laporan Perkembangan Pencapaian  Millenium Development Goals  (MDGs) Tahun 2007,...
Pencapaian target MDGs di setiap provinsi  dalam kurun tahun 1993 sampai 2006 menunjukkan perkembangan yang terus membaik....
Terima kasih
Contact: Website: www.wrihatnolo.blogspot.com   Email: [email_address]   [email_address] Mobilenumber: +62.811.112266
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Review Status MDGs 2007 di Indonesia

6,154 views

Published on

Brief on summary report of Millennium Development Goals in Indonesia during 1990-2007

Published in: News & Politics
2 Comments
8 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
6,154
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
28
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
2
Likes
8
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Review Status MDGs 2007 di Indonesia

  1. 1. Current Status on Indonesia’s MDGs Achievements Randy R. Wrihatnolo Jakarta, 14 Februari 2008 2007
  2. 2. TUJUAN 1: Kemiskinan dan Kelaparan Target 1: Menurunkan proporsi penduduk miskin  menjadi setengahnya kurun 1990-2015 Note: Catatan: target 1 ini dalam konteks Indonesia diukur oleh indikator garis kemiskinan nasional berdasarkan ukuran 2100 kalori Gambar 1 Perkembangan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, Tahun 1976-2006 Perkembangan dan Tantangan Berdasarkan ukuran US$ 1 PPP, pada tahun 1990 terdapat 20,6 persen penduduk dengan konsumsi di bawah US$ 1 per orang per hari. Berdasarkan pencapaian tahun 1990 maka sasaran tahun 2015 yang harus dicapai sekitar 10 persen. Kalau menggunakan ukuran ini maka pada tahun 2000 Indonesia telah mencapai 9,9 persen dan membaik menjadi 6,74 persen pada tahun 2007. Sehingga sasaran target 1 telah tercapai jauh sebelum 2015. Berdasarkan ukuran garis kemiskinan nasional, pada tahun 1990 terdapat 15,10 persen penduduk dengan konsumsi di bawah garis kemiskinan. Berdasarkan pencapaian tahun 1990 maka sasaran tahun 2015 adalah sekitar 7,55 persen. Sementara itu pencapaian nasional tahun 2007 baru mencapai 16,58 persen dari seluruh penduduk atau sekitar 37,17 juta jiwa. Menurunkan penduduk miskin dari 16,58 persen pada tahun 2007 menjadi 7,55 persen pada tahun 2015 merupakan tantangan yang berat. Berdasarkan ukuran US$ 2 PPP, jumlah penduduk dengan konsumsi di bawah 2 per orang per hari pada tahun 2007 adalah sebesar 45,2 persen. Sebagian dari mereka adalah penduduk yang sangat rentan menjadi miskin apabila terjadi goncangan ekonomi. Upaya Yang Diperlukan Untuk mencapai sasaran target 1, Indonesia memerlukan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7-8 persen dalam kurun 2007-2015. Pertumbuhan ekonomi tinggi membutuhkan investasi besar. Keikutsertaan masyarakat mendorong pertumbuhan ekonomi sangat penting. Karena sebagian besar orang bekerja di sektor rumah tangga, mikro, kecil dan menengah, maka mendorong tumbuh-kembang UKM sangat vital dalam menciptakan kesempatan kerja dan dengan demikian sangat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Gambar 2 Perkembangan Penduduk Dengan Konsumsi Di Bawah US$1 PPP/org/hari (%)
  3. 3. Target 2: Penanggulangan Kekurangan Gizi Pada Balita Note: Catatan: Indikator yang digunakan untuk mengukur target tersebut dalam konteks Indonesia adalah status kekurangan gizi pada balita TUJUAN 1: Kemiskinan dan Kelaparan Gambar 2 Perkembangan persentase anak-anak berusia di bawah 5 tahun yang mengalami gizi buruk ( severe underweight ) dan gizi kurang ( moderate underweight ), Tahun 1989-2005 Perkembangan dan Tantangan Status kekurangan gizi --yang mencakup penderita gizi kurang dan gizi buruk-- menurun dari 37,47 persen pada tahun 1989 menjadi 26,36 persen pada tahun 1999. Indikator status gizi ini menunjukkan kecenderungan membaik menjadi 27,30 persen pada tahun 2002 namun meningkat kembali menjadi 28,17 persen pada tahun 2005. Jika menggunakan keadaan tahun 1989 sebagai tahun dasar, maka Indonesia diharapkan dapat mencapai target 18,74 persen pada tahun 2015. Upaya Yang Diperlukan Masalah kurang gizi disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan pengetahuan, status kesehatan, dan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, upaya terpenting untuk mencapai sasaran MDGs adalah memperbaiki status gizi masyarakat, terutama masyarakat miskin yang harus menjadi salah satu prioritas pembangunan kesehatan. Penanggulangan masalah gizi berfokus pada kelompok miskin yang harus dilakukan secara sinergis meliputi berbagai bidang seperti pertanian, pendidikan, dan ekonomi. Perbaikan gizi yang perlu dilakukan antara lain meliputi pemenuhan energi protein pada ibu hamil, bayi, dan balita, berikut pemenuhan gizi besi, yodium, vitamin A, dan zat gizi mikro lainnya, pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) pada bayi dan anak (6-24 bulan), dan pemberian vitamin A pada bayi dan balita/ibu nifas, serta pemberian tablet Fe pada ibu hamil, pemberian kapsul Yodium pada wanita usia subur di daerah endemik kekurangan gizi, dan surveilans gizi di lembaga pelayanan kesehatan terdekat dengan masyarakat seperti pos pelayanan terpadu (posyandu).
  4. 4. TUJUAN 2: Pencapaian Pendidikan Dasar Target 3: Pendidikan dasar untuk semua umur dan jenis kelamin Catatan: Indikator yang digunakan Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI (7-12 tahun) dan Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs (13-15 tahun) APM SD/MI APM SLTP/MTs Gambar 3 Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Sekolah Dasar (7-12 tahun) dan Angka Partisipasi Murni (APM) Sekolah Menegah Pertama (13-15 tahun), Nasional, 1992-2006 (dalam persen). Perkembangan dan Tantangan Pada tahun 1992, APM SD/MI tercatat 88,7 persen dan pada tahun 2006 telah mencapai 94,73 persen. Sementara itu APM SMP/MTs tahun 1992 adalah 41,9 persen dan mencapai 66,52 persen pada tahun 2006. Jika kecenderungan seperti ini mampu dipertahankan, maka Indonesia diperkirakan berhasil mencapai target MDG pada tahun 2015. Namun dilihat dari ukuran Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs maka pencapaian sasaran pendidikan dasar di tingkat SMP/MTs lebih baik. Jika APK SMP/MTs tahun 1992 masih berada di angka 55,6 persen, maka pada tahun 2006 telah mencapai 88,68 persen. Indikator ini menginformasikan bahwa berbagai program SD/MI dan SMP/MTs non-reguler telah berhasil menjaring kembali murid SD/MI dan SMP/MTs untuk menuntaskan masa belajar mereka di bangku SD/MI maupun SMP/MTs. Upaya Yang Diperlukan Upaya yang diperlukan untuk menjawab tantangan di atas dilaksanakan melalui berbagai kebijakan, yaitu peningkatan akses dan perluasan kesempatan belajar bagi semua anak usia pendidikan dasar, dengan target utama daerah dan masyarakat miskin, terpencil, dan terisolasi; peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan dasar; dan peningkatan efisiensi manajemen pendayagunaan sumberdaya pendidikan, serta mengupayakan agar semua lembaga pendidikan dasar dapat melaksanakan fungsinya secara lebih efisien dan efektif.
  5. 5. TUJUAN 3: Mendorong Kesetaraan Gender & Pemberdayaan Perempuan <ul><li>Target 4: </li></ul><ul><li>Ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar  0% pada tahun 2005. </li></ul><ul><li>Ketimpangan gender di semua jenjang pendidikan  0% pada tahun 2015. </li></ul><ul><li>Catatan: Indikator yang digunakan adalah Rasio APM perempuan terhadap anak laki-laki (P/L) di tingkat pendidikan dasar, lanjutan, dan tinggi </li></ul>Gambar 4 Rasio APM Perempuan terhadap Laki-laki pada setiap Jenjang Pendidikan. Perkembangan dan Tantangan Jumlah perempuan yang berpartisipasi dalam suatu jenjang pendidikan semakin setara dengan dengan jumlah laki-laki yang berpartisipasi dalam suatu jenjang pendidikan yang sama dalam kurun 1990-2006. Jika rasio APM SLTA pada kurun waktu tahun 1992-2002 rata-rata hanya 98,76 persen per tahun, maka rasio tersebut antara tahun 2002-2006 meningkat dengan rata-rata per tahunnya mencapai 99,07 persen. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada rasio APM pendidikan tinggi yang rata-rata per tahunnya antara tahun 1992-2002 sebesar 85,73 persen dan terus meningkat dalam kurun 2003-2006 dengan rata-rata sebesar 97,24 persen per tahun. Membaiknya Kondisi ini pada gilirannya mendorong meningkatnya partisipasi perempuan di semua bidang dan berkembangnya kesetaraan gender terutama di sektor formal. Meski kesetaraan peran perempuan dalam bidang pendidikan meningkat, namun kesenjangan masih nampak pada persoalan ekonomi. Para perempuan yang bekerja, selain jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan rekan laki-lakinya, besaran upah yang diterima perempuan pun lebih rendah dibandingkan rekan laki-lakinya. Tantangan terbesar untuk mencapai target 4 agar lebih berkualitas adalah mencapai kesataraan gender dalam hampir semua lini kegiatan. Upaya Yang Diperlukan Upaya yang perlu dilakukan adalah (1) meningkatkan keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabatan publik; (2) meningkatkan taraf pendidikan dan akses serta kualitas kesehatan serta bidang pembangunan lainnya, yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup dan sumber daya kaum perempuan; (3) memperkuat kelembagaan, koordinasi, dan jaringan pengarusutamaan gender dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi dari berbagai kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan.
  6. 6. TUJUAN 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Target 5: Angka Kematian Balita  turun 2/3 antara tahun 1990-2015 Catatan: Indikator yang digunakan adalah Angka Kematian Bayi (AKB) dan balita (AKBA) Gambar 5 Perkembangan Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Balita, nasional, tahun 1989-2005. Perkembangan dan Tantangan Perkembangan pencapaian AKB dari tahun ke tahun cenderung membaik sebagai dampak positif dari pelaksanaan berbagai program di sektor kesehatan. AKB tahun 1992 tercatat 68 per 1.000 kelahiran hidup, kemudian menurun menjadi 57 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1994, turun lagi menjadi 46 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1997, dan pada tahun 2002-2003 penurunannya sudah mencapai 35 per 1000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). Menurut proyeksi BPS (BPS-UNDP-Bappenas, 2005), pada tahun 2003 angka AKB terus membaik hingga mencapai 33,9 per 1.000 kelahiran hidup. Dengan kecenderungan perkembangan pencapaian AKB secara nasional seperti ini, pencapaian target MDGs pada tahun 2015 diperkirakan sudah akan tercapai pada tahun 2013. Sementara itu, angka kematian balita (AKBA) juga menunjukkan perkembangan yang membaik. Jika pada tahun 1992 AKBA masih berada pada angka 97 per 1.000 kelahiran hidup, maka pada tahun 1994 angka ini telah turun menjadi 81 per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2002-2003 AKBA sudah mencapai angka 46 dan tahun 2005 mencapai 40 per 1.000 per kelahiran hidup. Pada tahun 2000 Indonesia telah mencapai dan melampaui target yang ditetapkan dalam World Summit for Children (WSC) yaitu 65 per 1000 kelahiran hidup. Upaya Yang Diperlukan Terdapat tiga penyebab utama kematian bayi yang masih menjadi tantangan besar untuk diatasi. Ketiga hal tersebut adalah infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), komplikasi perinatal, dan diare. Gabungan ketiga penyebab ini memberi andil bagi 75 persen kematian bayi. Pola penyebab utama kematian balita juga hampir sama, yaitu penyakit saluran pernafasan, diare, penyakit syaraf—termasuk meningitis dan encephalitis—dan tifus. Perlindungan dan pelayanan kesehatan bagi golongan miskin dan kelompok rentan di perdesaan dan wilayah terpencil, serta kantong-kantong kemiskinan di daerah perkotaan, merupakan salah satu strategi kunci untuk menurunkan angka kematian anak. Selain itu, kerjasama antar Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah serta kerjasama lintassektor bagi peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak secara umum sangat diperlukan.
  7. 7. TUJUAN 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Target 6: Angka kematian ibu  turun ¾ antara tahun 1990-2015 Catatan: Indikator yang digunakan adalah Angka K ematian Ibu (AKI) pada saat melahirkan Gambar 6 Kecenderungan Angka Kematian Ibu (AKI), nasional, tahun 1982-2003 (dalam 100.000 kelahiran hidup) Perkembangan dan Tantangan Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia telah mengalami penurunan menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup (KH) pada tahun 2002-2003 bila dibandingkan dengan angka tahun 1994 yang mencapai 390 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Tetapi akibat komplikasi kehamilan atau persalinan yang belum sepenuhnya dapat ditangani, masih terdapat 20.000 ibu yang meninggal setiap tahunnya. Dengan kondisi ini, pencapaian target MDGs untuk AKI akan sulit dicapai. BPS memproyeksikan bahwa pencapaian AKI baru mencapai angka 163 kematian ibu melahirkan per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, sedangkan target MDG pada tahun 2015 tersebut adalah 102. Pencapaian target MDGs akan dapat terwujud hanya jika dilakukan upaya yang lebih intensif untuk mempercepat laju penurunannya. Upaya Yang Diperlukan Penurunan angka kematian ibu sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang justru berada di luar sektor kesehatan. Hal ini disebabkan oleh status kesehatan manusia yang bukan hanya dipengaruhi oleh sektor kesehatan, melainkan juga faktor-faktor lain (determinan) seperti lingkungan fisik (prasarana), lingkungan sosial ekonomi, serta lingkungan budaya dan politik. Determinan lain adalah sifat-sifat yang melekat pada genetik individu, perilaku, serta gaya hidup. Dengan demikian, untuk menghadapi tantangan tersebut, diperlukan upaya yang sistematis dan terfokus. Upaya tersebut terutama pada penanganan komplikasi pada saat melahirkan yang merupakan salah satu kunci utama dalam upaya penurunan kematian ibu. Tiga intervensi utama yang direkomendasikan sebagai upaya paling efektif adalah pelayanan antenatal, persalinan oleh tenaga kesehatan, dan pelayanan dasar serta komprehensif untuk darurat obstetri. Untuk pelayanan antenatal, selain peningkatan frekuensi kunjungan, peningkatan kualitas pelayanan juga diperlukan, yang mencakup pemeriksaan kehamilan dan pemberian tablet zat besi dan kapsul vitamin A.
  8. 8. TUJUAN 6: Memerangi HIV/AIDS, Malaria & Penyakit Menular Lainnya <ul><li>Target 7: </li></ul><ul><li>Mengendalikan penyebaran HIV/AIDS </li></ul><ul><li>Jumlah kasus HIV/AIDS baru  turun pada tahun 2015 </li></ul><ul><li>Catatan: indikator yang digunakan Jumlah Kasus Baru dan Kumulatif AIDS (orang) </li></ul>Gambar 7 Jumlah kasus baru dan kumulatif AIDS yang dilaporkan di Indonesia tahun 1987-Maret 2007. Perkembangan dan Tantangan Prevalensi HIV/AIDS pada penduduk usia 15-29 tahun diperkirakan masih di bawah 0,1 persen. Namun angka prevalensi pada sub-populasi perilaku beresiko telah melebihi 5 persen. Bahkan di Papua, HIV dan AIDS telah masuk pada populasi umum (usia 15-49 tahun) dengan prevalensi 2,4 persen. Epidemi AIDS sekarang telah terjadi hampir di seluruh indonesia. Hal ini dapat diketahui dari adanya laporan tentang kasus AIDS dari setiap provinsi. Jika pada tahun 2004 hanya 16 provinsi yang melaporkan adanya kasus AIDS maka pada tahun 2007 AIDS telah dilaporkan di 32 provinsi. Jumlah kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan juga meningkat cukup tajam, yaitu dari 2.682 kasus pada tahun 2004, menjadi 10.384 kasus hingga akhir September 2007. Ancaman epidemi HIV/AIDS telah terlihat melalui data infeksi HIV yang terus meningkat, khususnya di kalangan kelompok beresiko tinggi. Diperkirakan terdapat 90.000-130.000 orang dengan HIV/AIDS pada tahun 2003 dan pada tahun 2010 akan ada sekitar 110.000 orang yang menderita atau meninggal karena AIDS, serta 1-5 juta orang yang mengidap virus HIV. Data ini menunjukkan bahwa HIV/AIDS telah menjadi ancaman bagi Indonesia. Upaya Yang Diperlukan Penanggulangan penyebaran HIV/AIDS, terutama pada kelompok resiko tinggi, mendapat perhatian utama dari Pemerintah. Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia terdiri atas upaya pencegahan, termasuk peningkatan kualitas dan akses pelayanan kesehatan reproduksi dan pemahaman akan hak-hak reproduksi; pengobatan, dukungan, dan perawatan bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS; dan pengawasan atau surveilans. Upaya pencegahan juga ditujukan kepada populasi beresiko tinggi seperti pekerja seks komersial dan pelanggannya, orang yang telah terinfeksi dan pasangannya, para pengguna napza suntik, serta pekerja kesehatan yang mudah terpapar oleh infeksi HIV/AIDS.
  9. 9. TUJUAN 6: Memerangi HIV/AIDS, Malaria & Penyakit Menular Lainnya <ul><li>Target 8: </li></ul><ul><li>Mengendalikan penyakit malaria </li></ul><ul><li>Jumlah kasus malaria dan penyakit lainnya  turun pada tahun 2015 </li></ul>Gambar 8 Angka Penemuan Kasus Malaria, Nasional, per 2005. Perkembangan dan Tantangan Pada tahun 1989 prevalensi malaria di daerah Jawa dan Bali ( Annual Malaria Incidence atau AMI per 1.000 penduduk) adalah 28,06. Angka ini pada tahun 1997 telah menurun menjadi 16,06. Sejak tahun 1998, terdapat kecenderungan peningkatan prevalensi kasus malaria, yang mencapai puncaknya 31,09 pada tahun 2000. Mulai tahun 2001, angka ini menurun hingga 18,94 pada tahun 2005. Hal yang sama juga terjadi untuk daerah di luar Jawa dan Bali ( Annual Parasite Incidence atau API , per 1.000 penduduk). Jika pada tahun 1989 API tercatat 0,21 maka pada tahun 1997 angkanya menjadi 0,12. Mulai tahun 1998, angka ini terus meningkat hingga mencapai 0,81 pada tahun 2000. Kasus malaria di daerah luar Jawa dan Bali mulai menurun hingga 0,15 pada tahun 2005. Upaya Yang Diperlukan Tingginya prevalensi malaria merefleksikan adanya hambatan finansial dan budaya untuk mencegah dan mengobati malaria secara tepat dan efektif. Malaria sangat erat kaitannya dengan kemiskinan. Upaya pencegahan difokuskan untuk meminimalkan jumlah kontak manusia dengan nyamuk melalui pemakaian kelambu ( bed nets ) dan penyemprotan rumah. Faktor lain yang berkontribusi pada memburuknya malaria adalah bencana dan tingginya mobilitas penduduk. Pencegahan malaria diintensifkan melalui pendekatan Roll Back Malaria (RBM) yang dioperasionalkan dalam Gerakan Berantas Kembali (Gebrak) Malaria sejak tahun 2000. Upaya ini dilakukan dengan strategi deteksi dini dan pengobatan yang tepat; peran serta aktif masyarakat dalam pencegahan malaria; dan perbaikan kapasitas personil kesehatan yang terlibat. Yang tak kalah penting adalah pendekatan terintegrasi pembasmian malaria dengan kegiatan lain seperti Manajemen Terpadu Balita Sakit dan promosi kesehatan.
  10. 10. TUJUAN 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup <ul><li>Target 9: </li></ul><ul><li>Memadukan prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional </li></ul><ul><li>Mengembalikan sumberdaya lingkungan yang hilang. </li></ul>Gambar 10 Persentase Kawasan Lindung Terhadap Luas Daratan (%), per tahun 2005. Gambar 9 Persentase Penutupan Lahan Berhutan Terhadap Luas Daratan (%), per tahun 2005.
  11. 11. TUJUAN 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup <ul><li>Target 9: </li></ul><ul><li>Memadukan prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional </li></ul><ul><li>Mengembalikan sumberdaya lingkungan yang hilang. </li></ul>Gambar 11 Emisi CO2 per Kapita (metrik ton/jiwa)
  12. 12. TUJUAN 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup <ul><li>Target 9: </li></ul><ul><li>Memadukan prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional </li></ul><ul><li>Mengembalikan sumberdaya lingkungan yang hilang. </li></ul>Gambar 12 Jumlah penggunaan energi dari berbagai jenis (dalam setara barel minyak, SBM), tahun 1990-2005.
  13. 13. <ul><li>Target 10: </li></ul><ul><li>Proporsi penduduk tanpa akses thd sumber air minum  turun 50% pada tahun 2015 </li></ul>TUJUAN 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Gambar 13 Pelayanan Air Minum Perpipaan dan Non-Perpipaan Terlindungi (Total), Tahun 1992-2006 (dalam %) .
  14. 14. <ul><li>Target 10: </li></ul><ul><li>Proporsi penduduk tanpa akses fasilitas sanitasi dasar  turun 50% pada tahun 2015 </li></ul>TUJUAN 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Gambar 14 Proporsi Rumah Tangga dengan Akses Sanitasi Layak (%).
  15. 15. Target 11: Perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di pemukiman kumuh pada tahun 2020. TUJUAN 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup Gambar 15 Proporsi Rumah Tangga Dengan Akses Rumah Tinggal Tetap (%), Tahun 1992-2006.
  16. 16. Target 12: Mengembangkan sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka, berbasis peraturan, dapat diprediksi, dan tidak diskriminatif . TUJUAN 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan Gambar 16 Tingkat Keterbukaan Ekonomi, LDR Bank Umum, dan LDR BPR (dalam Persen).
  17. 17. Target 15: Menangani hutang negara berkembang melalui upaya nasional maupun internasional agar pengelolaan hutang berkesinambungan dalam jangka panjang. TUJUAN 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan Gambar 17 Rasio Debt-to Service dan Rasio Posisi Pinjaman Luar Negeri terhadap PDB, 1990-2006.
  18. 18. Target 16: Bekerjasama dengan negara lain untuk mengembangkan dan menerapkan strategi penciptaan lapangan kerja yang baik dan produktif bagi penduduk usia muda. TUJUAN 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan Gambar 18 Tingkat Pengangguran Usia Muda (15-24 Tahun), Menurut Jenis Kelamin, Nasional, Tahun 1990-2007 (dalam %).
  19. 19. Target 18: Bekerjasama dengan sektor swasta dalam memanfaatkan teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi. TUJUAN 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan Gambar 19 Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Telepon dan Telepon Selular Per Provinsi, Tahun 2005 dan 2006.
  20. 20. Pada tahun 2007 ketika Indonesia menyusun Laporan Perkembangan Pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) Tahun 2007, dilakukan penyusunan Millenium Development Goals Index . Salah satu tujuannya adalah mempermudah perbandingan pencapaian target MDGs di masing-masing daerah. Dalam penyusunan formula, prinsip yang mendasar adalah (1) teknis perhtungan yang mudah untuk menyusun composite index dari beberapa variabel MDGs yang relevan di masing-masing daerah; dan (2) menggunakan asumsi bahwa semakin besar angka indeks, maka semakin baik pencapaiannya. Langkah-langjah yang diperlukan untuk perhitungan tersebut adalah: (1) Menentukan variabel yang akan dipergunakan untuk tahun yang dipilih; (2) Menentukan kelengkapan data masing-masing provinsi; (3) Variabel dengan notasi angka berbanding terbalik atributnya dilakukan pembalikan. Misal, Po semakin besar berarti jumlah penduduk miskin semakin besar; (4) Variabel yang digunakan disesuaikan dengan ketersediaan data pada tahun yang bersangkutan. Misal: Tahun 1993 menggunakan 10 variabel, tahun 2000 menggunakan 8 variabel, tahun 2006 menggunakan 14 variabel. Berdasarkan kepentingan tersebut, maka formula yang diberlakukan untuk penghitungan index composite MDGs ini adalah sebagai berikut: Dimana: v adalah persentase masing-masing variabel. n adalah banyaknya variabel yang dipakai dalam perhitungan. ITPM adalah Indeks Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs Index). Indonesia’s Millenium Development Goals Index Indonesia’s Regional Achievements
  21. 21. Pencapaian target MDGs di setiap provinsi dalam kurun tahun 1993 sampai 2006 menunjukkan perkembangan yang terus membaik. Berdasarkan pencapaian 13 indikator sebagaimana dibahas dalam uarain di atas, maka pada tahun 1993, Provinsi Sumatera Barat merupakan provinsi dengan rata-rata pencapaian umum yang terbaik. Sementara Papua pada tahun 1993 merupakan provinsi dengan pencapaian paling buruk. Namun, pada tahun 2000 posisi Provinsi Sumatera Barat menduduk posisi ke-5, sedangkan Provinsi Kalimantan Barat menjadi yang terburuk menggantikan posisi Provinsi Papua. Pada tahun 2006, Provinsi Gorontalo merupakan provinsi dengan pencapaian umum yang terbaik. Sementara itu Provinsi Maluku Utara menjadi provinsi dengan pencapaian terburuk. Indonesia’s Millenium Development Goals Index Indonesia’s Regional Achievements
  22. 22. Terima kasih
  23. 23. Contact: Website: www.wrihatnolo.blogspot.com Email: [email_address] [email_address] Mobilenumber: +62.811.112266

×