Tugas sofkill etika bisnis (janu eka)

946 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
946
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
15
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tugas sofkill etika bisnis (janu eka)

  1. 1. TUGAS SOFTSKILL ETIKA UTILITARIANISME DALAM BISNIS Nama : Janu Eka W NPM : 13210717 Kelas : 4EA21 S1 Manajemen Ekonomi UNIVERSITAS GUNADARMA 2013
  2. 2. I. Pedahuluan Teoritika Etika Bisnis 1.1 . Teori Pengertian Etika Etika berasal dari dari bahasa Yunani yaitu ‘Ethos’ (jamak – ta etha), berarti adat istiadat. Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada suatu masyarakat. Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tatacara hidup yg baik, aturan hidup yg baik dan segala kebiasaan yg dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang yang lain atau dari satu generasi ke generasi yg lain. Menurut Magnis Suseno, etika adalah sebuah ilmu dan bukan ajaran, yang menurutnya adalah etika dalam pengertian kedua. Sebagai ilmu yang terutama menitik-beratkan refleksi kritis dan rasional, etika dalam kedua ini mempersoalkan apakah nilai dan norma moral tertentu harus dilaksanakan dalam situasi konkret tertentu yang dihadapi seseorang. Dalam bahasa Kant, etika berusaha menggugah kesadaran manusia untuk bertindak secara otonom dan bukan secara hetoronom. Etika bermaksud membantu manusia utnuk bertindak secara bebas tetapi dapat dipertanggungjawabkan. A Norma Umum Norma Umum adalah sebuah aturan yang bersifat umum atau universal. Nomra Umum dapat dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu : 1. Norma Sopan Santun, disebut juga norma etiket yaitu nomra yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah manusia, misalnya : sikap dan prilaku saat bertamu, makan dan minum serta cara duduk dan berpakaian dan seterusnya 2. Norma Hukum, norma yang ditutut keberlakuannya secara tegas oleh masyarakat karena dianggap perlu dan niscaya demi keselamatan dan kesejahteraan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. 3. Norma Moral, yaitu aturan mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai manusia. Norma ini menyangkut aturan tentang baik buruknya, adil tidaknya tindakan dan perilaku manusia sejauh dilihat sebagai manusia. B. Teori etika Deontologi Teori Deontologi bearsal dari bahasa Yunani yaitu “Deon” yang artinya kewajiban. Sehingga Etika Deontologi menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Suatu tindakan baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibatnya atau tujuan baik dari tindakan yang dilakukan melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada diri sendiri, dengan
  3. 3. kata lain bahwa tindakan itu bernilai moral karena tindakan dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu. C. Teori etika teleologi Teleologi berasal dari bahasa Yunani yaitu telos, yang berarti akhir, tujuan, maksud, dan logos, perkataan.Teleologi adalah ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu.Istilah teleologi dikemukakan oleh Christian Wolff, seorang filsuf Jerman abad ke-18. Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan Dua aliran etika teleologi : 1 . Egoisme Etis Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri ,golongan/keluarganya sendiri. 2. Utilitarianisme berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. 1.2. Bisnis Sebuah Profesi 1. Etika Terapan Secara umum kita dapat membagi etika menjadi etika umum dan etika khusus. Etika umum berbicara mengenai norma dan nilai moral, kondisikondisi dasar bagi manusia untuk bertindak secara etis, bagaimana manusia Teori Etika Deontologi Deontologi ( Deontology ) berasal dari kata dalam Bahasa Yunani yaitu : deon yang artinya adalah kewajiban. Dalam suatu perbuatan pasti ada konsekuensinya, dalam hal ini konsekuensi perbuatan tidak boleh menjadi pertimbangan.Perbuatan menjadi baik bukan dilihat dari hasilnya melainkan karena perbuatan tersebut wajib dilakukan.Deontologi menekankan perbuatan tidak dihalalkan karena tujuannya.Tujuan yang baik tidak menjadi perbuatan itu juga baik.Di sini kita tidak boleh melakukan suatu perbuatan jahat agar sesuatu yang dihasilkan
  4. 4. itu baik, karena dalam Teori Deontologi kewajiban itu tidak bisa ditawar lagi karena ini merupakan suatu keharusan.Contoh : kita tidak boleh mencuri, berbohong kepada orang lain melalui ucapan dan perbuatan. 2.Norma Moral yaitu aturan mengenai sikap dan perilaku manusia sebagai manusia. Norma moral ini menyangkut aturan tentang baik buruknya, adil tidaknya tindakan dan perilaku manusia sejauh ia dilihat sebagai manusia. 3. mengambil keputusan etis, teori-teori etika, lembaga-lembaga normative, dan semacamnya. Etika umum sebagai ilmu atau filsafat moral dapat dianggap sebagai etika teoritis, kendati istilah ini sesungguhnya tidak teat karena bagaimanapun juga etika selalu berkaitan dengan perilaku dan kondisi praktis dan actual dari manusia dalam kehidupannya sehari-hari dan tidak hanya semata-mata bersifat teoritis. 1. Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip atau norma-norma moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Dalam hal ini, norma dan prinsip moral diteropongi dalam konteks kekhususan bidang kehidupan manusia yang khusus tertentu. Dengan kata lain, etika sebagai refleksi kritis rasional meneropongi dan merefleksi kehidupan manusia dengan mendasarkan diri kepada norma dan nilai moral yang ada disatu pihak dan situasi khusus dari bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukan setiap orang atau kelompok orang dalam suatu masyarakat. Dalam hal ini etika tidak lagi sekedar meneropong perilaku dan kehidupan manusia sebagai manusia begitu saja, melainkan meneropong perilaku dan kehidupan manusia sebagai manusia dalam bidang kehidupan dan egiatan khusus tertentu.Etika khusus dibagi lagi menjadi tiga, yaitu etika individual, etika sosial, dan etika lingkungan hidup. 2. Etika Profesi Kata etik (atau etika) berasal dari kata ethos (bahasa Yunani) yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimilki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.Etika merupakan sebuah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya. Profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.Berdasarkan pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa etika profesi dalah keterampilan seseorang dalam suatu
  5. 5. pekerjaan utama yang diperoleh dari jalur pendidikan atau pengalaman dan dilaksanakan secara kontinu yang merupakan sumber utama untuk mencari nafkah. 3. Menuju Bisnis Sebagai Profesi Luhur Berdasarkan pengertian profesi yang menekankan pada keahlian dan ketrampilan yang tinggi serta komitmen moral yang mendalam, maka jelas kiranya bahwa pekerjaan yang kotor tidak akan disebut sebagai profesi. Karena itu sesungguhnya bisnis bukanlah merupakan profesi, kalau bisnis dianggap sebagai pekerjaan kotor, kendati kata profesi, professional, dan profesionalisme sering begitu diobaral dalam kaitan dengan kegiatan bisnis. Namun pihak lain tidak dapat disangkal bahwa ada banyak orang bisnis dan 4. juga perusahaan yang sangat menghayati pekerjaan dan kegiatan bisnisnya sebagai sebuah profesi dalam pengertiannya sebagaimana kita jelaskan diatas. Mereka tidak hanya mempunyai keahlian dan ketrampilan yang tinggi tapi punya komitmen morak yang mendalam. Karena itu, bukan tiddak mungkin bahwa bisnis pun dapat menjadi sebuah professi dalam pengertiannya yang sebenar-benarnya bahkan menjadi sebuah profesi luhur. II. Bisnis dan Etika. Etika bisnis tidak akan dilanggar jika ada aturan dan sanksi. Kalau semua tingkah laku salah dibiarkan, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Repotnya, norma yang salah ini akan menjadi budaya. Oleh karena itu bila ada yang melanggar aturan diberikan sanksi untuk memberi pelajaran kepada yang bersangkutan. Ada tiga sasaran dan ruang lingkup pokok etika bisnis yaitu : (1) etika bisnis sebagai etika profesi membahas berbagai prinsip, kondisi, dan masalah yang terkait dengan praktek bisnis yang baik dan etis, (2) menyadarkan masyarakat, khususnya konsumen, buruh, atau karyawan dan masyarakatluas pemilik aset umum semacam lingkungan hidup, akan hak dan kepentingan mereka yang tidak boleh dilanggar oleh praktik bisnis siapapun juga , dan (3) etika bisnis juga berbicara mengenai sistem ekonomi yang sangat menentukan etis tidaknya suatu praktek bisnis. Dalam hal ini, etika bisnis lebih bersifat makro atau lebih tepat disebut etika ekonomi.
  6. 6. 2.1 . Mitos Bisnis Amoral Bisnis tidak punya sangkut paut dengan etika dan moralitas.Mitos bisnis amoral mengungkapkan suatu keyakinan bahwa antara bisnis dan moralitas atau etika tidak ada hubungan sama sekali. Keduanya adalah dua bidang yang terpisah satu sama lain. Etika justru bertenatangan dengan bisnis yang ketat, maka orang bisnis tiak perlu memperhatikan imbauanimbauan, norma-norma dan nilai-nilai moral.Bisnis memang sering diibaratkan dengan judi bahkan sudah dianggap sebagai semacam judi atau permainan penuh persaingan yang ketat. Tidak sepenuhnya benar bahwa sebagai sebuah permainan (judi ) Harus dibedakan antara legalitas dan moralitas. Etika harus dibedakan dari ilmu empiris. Pemberitaan, surat pembaca, dan berbagai aksi protes yang terjadi dimana-mana untuk mengecam berbagai pelanggaran dalam kegiatan bisnis, atau mengecam kegiatan bisnis yang tidak baik, menunjukkan bahwa masih banyak orang dan kelompok masyarakat menghendaki agar bisnis dijalankan secara baik dan tetap mengindahkan norma-norma moral. 2.2 Keutamaannya Etika Bisnis para pelaku bisnisdituntut untuk menjadi orangorang professionaldi bidangnyaPerusahaan yang unggul bukan hanya memilikikinerja dalam bisnis,manajerial dan financialyang baik akan tetapi juga kinerja etis dan etosbisnis yang baik. Dalam persaingan bisnis yang sangatketat,maka konsumen benar-benar rajaKepercayaan konsumen dijaga denganmemperlihatkan citra bisnis yang baik dan etis. Dalam sistem pasar terbuka dengan peran pemerintah yang menjamin kepentingan dan hak bagi semua pihak, maka perusahaan harus menjalankan bisnisnya dengan baik dan etis. Perusahaan modern sangat menyadari bahwa karyawan bukanlah tenaga yang harus dieksploitasi demi mendapat keuntungan 2.3 Sasaran dan Lingkup Etika Bisnis Tiga sasaran dan lingkup pokok etika bisnis: 1) Etika bisnis sebagai etika profesi membahas berbagai prinsip, kondisi dan masalah yang terkait dengan praktek bisnis yang baik dan etis.
  7. 7. 2) Untuk menyadarkan masyarakat, khususnya konsumen, buruh atau karyawan, dan masyarakat luas pemilik asset umum semacam lingkungan hidup, akan hak dan kepentingan mereka yang tidak boleh dilanggar atau praktek bisnis siapa pun juga. 3) Etika bisnis juga membicarakan mengenai system ekonomi yang sangat menentukan etis tidaknya suatu praktek bisnis. 2.4 . Prinsip-prinsip Etika Bisnis Beberapa prinsip umum dalam etika bisnis antara lain: a. Prinsip Otonomi Otonomi adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. b. Prinsip Kejujuran Prinsip ini merupakan prinsip paling problematic karena masih banyak pelaku bisnis yang mendasarkan kegiatan bisnisnya pada tipu-menipu atau tindakan curang. c. Prinsip Keadilan Yaitu menuntut setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai criteria yang rasional obyektif dan dapat dipertanggung jawabkan. d. Prinsip Saling Menguntungkan Yaitu menuntut agar setiap bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak. e. Prinsip Integritas Moral Yaitu dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan agar dia menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baiknya atau nama baik perusahaan. 2.5 Etos Kerja Umumnya etos kerja ini mula pertama dibangun atas dasar visi atau filsafat suatu perusahaan sebagai penghayatan pribadi orang tersebut, maka terbangunlah suatu budaya, sebuah etos, sebuah kebiasaan yang ditanamkan kepada semua karyawan sejak diterima masuk dalam perusahaan maupun terus menerus dalam seluruh evaluasi dan penyegaran selanjutnya
  8. 8. dalam perusahaan tersebut. Demikian pula etos ini dapat berubah, dalam arti yang lebih baik, sesuai visi yang dianut oleh setiap manajer yang silih berganti memegang perusahaan tersebut. Dirumuskan secara jelas, pada tingkat pertama ada nilai, nilai adalah apa yang diyakini sebagai hal yang paling mendasar dalam hidup ini dan menyangkut kondisi yang didambakan dan paling penting bagi seorang atau kelompok dan yang sekaligus yang paling menentukan dalam hidup orang atau kelompok orang itu. Nilai ini kemudiaan menjelma menjadi prinsip hidup. Nilai dan prinsip ini lalu menentukan sikap seseorang atau kelompok orang. Sikap disini tidak lain adalah kecenderungan seseorang untuk bertindak secara tertentu berdasarkan dan sesuai dengan nilai yang dianutnya. 2.6 Realisasi Moral Bisnis Tiga pandangan yang dianut, yaitu: a. Norma etis berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. b. Norma sendirilah yang paling benar dan tepat. c. Tidak ada norma moral yang perlu diikuti sama sekali . 2.7 Pendekatan-pendekatan Stocholder a) Kelompok primer Yaitu pemilik modal, saham, kreditor, karyawan, pemasok, konsumen, penyalur dan pesaing atau rekanan. b) Kelompok Sekunder Yaitu pemerintah setempat, pemerintah asing, kelompok social, media massa, kelompok pendukung, dan masyarakat. III. Etika Utilitarianisme dalam Bisnis 3.1 Kriteria Dan Prinsip Etika Utilitarianisme “Utilitarisme “ berasal dari kata latin utilis yang berarti “ bermanfaat “. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Jadi, utilitarisme ini tidak boleh di
  9. 9. mengerti dengan cara egoistik. Menurut suatu perumusan terkenal, dalam rangka pemikiran utilitarisme (utilitarianism) kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah the greatest hainess of the greatest number, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar. Pendekatan utilitarianisme sering disebut pendekatan konsekuensialis, karena menekankan pentingnya konsekuensi atas keputusan yang diambil. Kualitas moral suatu perbuatan, baik buruknya tergantung pada konsekuensi atau akibat yang ditimbulkan. Seperti keputusan moral yang diambil perusahaan Caltex saat mereka mengklaim bahwa perusahaan perlu memindahkan pusat operasinya ke daerah Afrika Selatan karena dinilai mendatangkan konsekuensi yang paling menguntungkan. Dalam situasi apa pun, tindakan atau kebijakan yang benar adalah memberikan keuntungan yang paling besar atau biaya yang paling rendah. Istilah yang digunakan untuk mengacu hanya pada keuntungan yang diperoleh dari suatu tindakan adalah utilitas. Dengan demikian istilah Utilitarianisme digunakan untuk semua teori yang mendukung pemilihan tindakan atau kebijakan yang memaksimalkan keuntungan atau menekan biaya. Banyak analis yang meyakini bahwa cara terbaik untuk mengevaluasi kelayakan suatu keputusan bisnis adalah dengan mengandalkan pada analisis biaya-keuntungan utilitarian. Tindakan bisnis yang secara sosial bertanggungjawab adalah tindakan yang mampu memeberikan keuntungan terbesar atau biaya terendah bagi masyarakat. 3.2 . Nilai Positif Etika Utilitarianisme a. Rasionalitas, prinsip moral yang diajukan oleh etika utilitarianisme ini tidak didasarkan pada aturan-aturan kaku yang mungkin tidak kita pahami dan yang tidak bias kita persoalkan keabsahannya. b. Dalam kaitannya dengan itu, utilitarianisme sangat menghargai kebebasan setiap pelaku moral. Setiap orang dibiarkan bebas untuk mengambil keputusan dan bertindak dengan hanya memberinya ketiga criteria objektif dan rasional tadi. c. Universalitas, yaitu berbeda dengan etika teleologi lainnya yang terutama menekankan manfaat bagi diri sendiri atau kelompok sendiri, utilitarianisme justru mengutamakan manfaat atau akibat baik dari suatu tindakan bagi banyak orang. 3.3 Utilitarianisme Sebagai Proses Dan Standar Penilaian Pada umumnya etika utilitarianisme dapat dipakai dalam 2 (dua) wujud yang berbeda, yaitu :
  10. 10. a. Sebagai Proses Pengambilan Keputusan. Etika utilitarianisme digunakan sebagai proses untuk mengambil keputusan. Etika ini dipakai untuk melakukan perencanaan yang mengatur sasaran atau target yang akan dicapai. Atau dengan kata lain etika utilitarianisme menjadi dasar utama dalam penyusunan program atau perencanaan yang menyangkut kepetingan banyak orang. Kriteria etika utilitarianisme lalu menjadi kriteria seleksi bagi setiap alternatif yang bisa diambil. b. Sebagai Standar Penilaian. Etika utilitarianisme digunakan sebagai standar penilaian atas tindakan atau kebijakan yang telah dilakukan. Kriteria etika utilitarianisme benar-benar digunakan untuk menilai apakah tindakan atau kebijakan yang ditetapkan tersebut memang baik atau tidak. Ini berarti bahwa pada wujud ini etika utilitarianisme sangat tepat digunakan untuk mengevaluasi tindakan yang sudah dijalankan. 3.4. Analisis Keuntungan dan Kerugian 3.4.1 Keuntungan dan kerugian (cost and benefits) yang dianalisis jangan semata-mata dipusatkan pada keuntungan dan kerugian bagi perusahaan, kendati benar bahwa ini sasaran akhir. Yang juga perlu mendapat perhatian adalah keuntungan dan kerugian bagi banyak pihak lain yang terkait dan berkepentingan, baik kelompok primer maupun sekunder. Jadi, dalam analisis ini perlu juga diperhatikan bagaimana dan sejauh mana suatu kebijaksanaan dan kegiatan bisnis suatu perusahaan membawa akibat yang menguntungkan dan merugikan bagi kreditor, konsumen, pemosok, penyalur, karyawan, masyarakat luas, dan seterusnya. Ini berarti etika utilitarianisme sangat sejalan dengan apa yang telah kita bahas sebagai pendekatan stakeholder. 3.4.2 Seringkali terjadi bahwa analisis keuntungan dan kerugian ditempatkan dalam kerangka uang (satuan yang sangat mudah dikalkulasi). Yang juga perlu mendapat perhatian serius adalah bahwa keuntungan dan kerugian disini tidak hanya menyangkut aspek financial, melainkan juga aspek-aspek moral; hak dan kepentingan konsimen, hak karyawan, kepuasan konsumen, dsb.Jadi, dalam kerangka klasik etika utilitarianisme, manfaat harus ditafsirkan
  11. 11. secara luas dalam kerangka kesejahteraan, kebahagiaan, keamanan sebanyak mungkin pihhak terkait yang berkepentingan. 3.4.3 Bagi bisnis yang baik, hal yang juga mendapat perhatian dalam analisis keuntungan dan krugian adalah keuntungan dan kerugian dalam jangka panjang. Ini penting karena bias saja dalam jangka pendek sebuah kebijaksanaan dan tindakan bisnis tertentu sangat menguntungkan, tapi ternyata dalam jangka panjang merugikan atau paling kurang tidak memungkinkan perusahaan itu bertahan lama. Karena itu, benefits yang menjadi sasaran utama semua perusahaan adalah long term net benefits. 3.5 . Kelemahan Etika Utilitarianisme Manfaat dan Keuntungan sebagaimana diisyaratkan aliran utilitarianisme dengan argumentasi : a. Bagaimana nilai utilitas dari berbagai tindakan yang berbeda orang-orang yang berbeda pada orang-orang yang berbeda dapat diukur dan dibandingkan. b. Sejumlah biaya dan keuntungan tertentu tampak sangat sulit dinilai, misalnya, bagaimana menilai nyawa atau kesehatan seseorang. c. Banyak biaya dan keuntungan dari suatu tindakan tidak dapat diprediksi dengan baik, maka penilaian pun juga tidak dapat dilakukan dengan baik d. Sampai saat ini masih belum jelas apa yang bisa dihitung sebagai biaya. e. Asumsi utilitarian yang menyatakan bahwa semua barang diukur atau dinilai mengimplikasikan bahwa semua barang dapat diperdagangkan Sumber : http://rinton.blogdetik.com/mitos-bisnis-amoral/ http://nuraini-maryadi.blogspot.com/2010/12/etika-utilitarianisme-dalam-bisnis.html http://liasetianingsih.wordpress.com/2011/10/14/bisnis-sebuah-profesi-etis/ http://meikorandya.blogspot.com/2013/01/etika-utilitarianisme-dalam-bisnis.html http://pii.or.id/etika-bisnis
  12. 12. http://yuumenulis.wordpress.com/2012/11/07/bisnis-dan-etika/ http://joko-sekti.stmik-aub.ac.id/ http://ennoasriani.wordpress.com/2012/10/22/etika-utilitarianisme-dalam-bisnis-tulisan-2softskill-etika-bisnis/ Sekian TerimaKasih Nama : Janu Eka W NPM : 13210717 Tanggal : 24 Oktober 2013 Tugas Soft Skill :My Puisi Lupa Ingatan….Ku Aku berawal dari gak ada menjadi ada Aku berasal kerja keras dari Ibu dan ayahku
  13. 13. Aku berasal dari kecil menjadi besar Aku berasal dari tidak mengerti apa apa menjadi tahu apa yang aku tau Aku berasal dari bodoh menjadi pandai Semua ini perjalanan yang harus aku jalani sebagai jalanku Aku ingin dan Aku ingin ...ingin ….dan selalu ingin sampai ku lupa untuk apa semua keinginanku ini Akhirnya aku lupa akan semua Etika kehidupan ini yang semestinya aku pegang erat…. Bahkan dalam Etika Berbisnis pun aku lupa…aku lupa….aku lupa ingatan Akhir kata …… Aku sangat mebutuhkan kehadiranMu untuk menemaniku … Semoga Aku tidak melupakanMu yang selalu ada dihatiku… Terima Kasih

×