Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

002.dewi penyebarmaut

4,055 views

Published on

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

002.dewi penyebarmaut

  1. 1. 1"Ayah...," suara pelan mengandung isak terdengarmemecah kesunyian pagi. Suara itu berasal darisebuah mulut mungil berpakaian serba putih yangduduk bersimpuh di depan sebuah gundukan tanahmerah. Wajah sosok tubuh ramping ini tidak terlihatkarena kepalanya tertunduk "Aku menyesal sekali, Ayah...," kembali suaramengandung isak itu terdengar. Menilik suaranyayang begitu menyayat, dapat diperkirakan kalausosok tubuh ramping ini adalah seorang wanita. "Kalau aku tidak datang terlambat, mungkin Ayahtidak meninggal. Aku menyesal sekali. Tapi, tenanglahdi dalam kuburmu. Akan kubalaskan sakit hatimu.Akan kubunuh mereka yang telah secara curangmengeroyokmu. Dengar janjiku ini, Ayah. Kalau tidakberhasil memenuhi janjiku ini, maka akan kugantinamaku, Ayah. Akan kubuang nama Melati!" Tegas dan mantap sekali ucapan terakhir yangkeluar dari mulut sosok yang berpakaian serba putih,dan ternyata bernama Melati itu. Apalagi kata-kata ituditutup dengan kepalan tangannya di depan dada,sambil mengangkat wajah! Tangan yang terkepal itubegitu indah! Jari-jemarinya terlihat lentik, halus, danberkulit putih mulus. Punggung tangannya yang tidaktertutup baju bertangan panjang itu pun putih, halus,dan mulus! Tetapi bila dibandingkan dengan wajahyang kini nampak jelas itu, tangan itu tidak berartiapa-apa. Wajah sosok serba putih itu begitu cantik
  2. 2. jelita, laksana Dewi! Kulit wajahnya putih, halus, danmulus. Hidungnya mbangir, dan bibirnya yang tipisdan mungil itu berwarna merah segar. Hanya satu yang menyeramkan pada gadis berusiasekitar sembilan belas tahun itu. Sepasang matanyayang tajam mencorong, dan bersinar kehijauan!Persis seperti sorot mata kucing dalam gelap. Setelah mengucapkan sumpahnya, Melati bangkitdari duduknya, kemudian melesat dari situ. Cepatsekali gerakannya. Sehingga dalam sekejap matasaja, hanya terlihat sebuah titik di kejauhan yangsemakin lama semakin mengecil dan akhirnya lenyap. *** Seraut wajah cantik jelita berpakaian serba putih,dengan sikap tak acuh melangkah memasuki sebuahkedai di Desa Waringin. Dihampirinya sebuah mejayang masih kosong. Dan dengan malas dihenyakkantubuhnya ke kursi. Tak dipedulikan berpasang-pasangmata yang menatap liar ke arahnya. Sang pemilik kedai, seorang setengah tua yangberwajah totol-totol hitam, tergopoh-gopoh datangmenghampirinya. "Mau pesan apa, Nisanak?" tanya pemilik kedairamah. Wanita yang tidak lain dari Melati ini lalu memesanmakanan yang disukainya. Suaranya begitu merdu. Sang pemilik kedai mengangguk-angguk mengerti,kemudian berlalu untuk menyiapkan pesanan itu.Sebelum berlalu, mulutnya sempat berbisik pelahanpada Melati. "Hati-hati, Nisanak. Di sini banyak orang jahat.Kalau bisa, cepatlah pergi dari sini..."
  3. 3. Melati hanya tersenyum sinis. Sama sekali tidakdigubris peringatan. pemilik kedai itu. Tidak lama, pemilik kedai itu sudah kembali sambilmembawa makanan pesanan Melati. Setelahmempersilakan, ia pun berlalu dari situ. Baru beberapa langkah pemilik kedai itumeninggalkan meja Melati, dua orang berwajah kasaryang sejak tadi menatap liar pada Melati, bangkit darikursinya. Tampaknya mereka melangkah mendekatimeja Melati. "Nisanak...," ucap salah seorang di antara merekayang berkulit hitam dan berwajah penuh bercak-bercak putih. Lagaknya membuat Melati merasaperutnya mual. "Makan sendirian tidak enak. Lebihbaik pindah ke meja kami, dan kita makan bersama-sama." "Benar, Nisanak," sambut seorang lagi, yangbermulut lebar. "Lalat-lalat kotor menyebalkan!" ucap Melati takacuh. Tanpa mempedullkan mereka, gadis itu terussaja melanjutkan makannya. "Aku heran, kenapa dikedai sebersih ini masih ada dua ekor lalat busukyang menjemukan?!" "Keparat!" teriak si muka hitam berang."Perempuan tak tahu diuntung! Berani benar kaumenghina Sepasang Setan Hitam?! Kau harusdihukum atas kekurangajaranmu itu! Kecuali kalaukau mau meminta maaf dan mencium kami masing-masing sepuluh kali." "Ya, betul," sambut si mulut lebar. Sudahterbayang di benaknya betapa nikmat dicium gadissecantik wanita berpakaian serba putih ini. Sepasang mata Melati mencorong mendengarucapan yang kurang ajar itu. Tangannya yang tengah
  4. 4. menyuap nasi, terhenti di depan mulut. "Lalat-lalat busuk bermulut kotor! Orang sepertikalian tidak pantas hidup lebih lama lagi!" bentakgadis itu geram. "Ha ha ha...!" si mulut lebar tertawa bergelak. "Kaudengar apa yang dikatakannya, Kang? Lucu! Sungguhlucu! Kelinci hendak mengalahkan harimau!" Si muka hitam yang berangasan tidak menyahutigurauan rekannya. Sambil mendengus seperti kerbaumarah, kedua tangannya begitu kurang ajar hendakmencengkeram ke arah dada Melati. Wajah gadis itu langsung memerah melihatserangan yang kurang ajar ini. Seketika itu jugatangannya cepat bergerak menyambut. Dan di lainsaat, dua tangan yang mungil dan indah itu sudahmencekal pergelangan kedua tangan si muka hitamyang terarah ke dada. Pelahan sekali tangan gadis itumeremas, tetapi akibatnya hebat bukan kepalang!Terdengar suara gemeretak tulang patah daripergelangan si muka hitam. Kelihatannya tulang-tulang itu hancur diremas tangan mungil yangmengandung tenaga dalam tinggi itu. "Akh...!" si muka hitam berteriak kesakitan.Keringat sebesar biji-biji jagung bermunculan diwajahnya karena menahan rasa sakit pada keduatangannya. Si muka hitam kaget bukan main. Sekuat tenagaditarik kedua tangannya yang dipegangi Melati. Tapibetapa pun telah mengerahkan segenap tenaganya,tetap saja dia tidak mampu membebaskan keduatangannya dari cekalan tangan halus itu. Belum lagisempat berbuat sesuatu, tangan kiri gadis berpakaianserba putih itu sudah bergerak menampar pelipis simuka hitam.
  5. 5. Prakkk...!" "Akh...!" Terdengar suara berderak keras ketika tanganhalus gadis itu menghantam pelipis si muka hitam.Orang pertama dari Sepasang Setan Hitam inimengeluh tertahan, sebelum rubuh ke tanah dengannapas putus. Si mulut lebar meraung murka melihat temannyatewas. Tak dipikirkan lagi, bahwa kematian rekannyayang begitu mudah menjadi suatu tanda betapatingginya kepandaian yang dimiliki gadis berpakaianserba putih itu. Dengan amarah meluap-luap, dicabutsenjatanya yang berupa sebuah kapak dari baja putih.Seketika diayunkannya senjata itu ke kepala Melati.Dan memang, hilang sudah gairahnya pada gadis itu. Wuttt..! Angin keras berhembus sebelum serangan kapakitu tiba. Tetapi, Melati sama sekali tidak gugupmelihat serangan itu. Hanya dimiringkan kepalanyasedikit, maka kapak itu lewat beberapa rambut didepan mukanya. Dan sebelum kapak itumenghantam meja, tangan Melati sudah bergerakcepat menotok pergelangan tangan si mulut lebar. Si mulut lebar mengeluh tertahan. Pergelangantangannya terasa lumpuh, sulit digerakkan lagi. Dansebelum ia berbuat sesuatu, kapak itu kini sudahberpindah ke tangan Melati. Begitu tangan gadis yangkini telah menggenggam kapak itu bergerak, si mulutlebar menjerit ngeri. Dadanya tertembus kapaknyasendiri. Beberapa saat lamanya tubuh salah satu dariSepasang Setan Hitam itu menggelepar-geleparsebelum akhirnya tidak bergerak-gerak untuk selama-lamanya. Setelah menewaskan si mulut lebar, Melati
  6. 6. kembali duduk menghadapi mejanya. Sikapnya takacuh, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Parapengunjung yang melihat keganasan gadis itumenjadi ngeri. Beberapa di antara mereka secaradiam-diam meninggalkan kedai itu setelah membayarmakanannya. Tentu saja Melati mengetahuinya. Tapi,gadis itu tidak mempedulikan. Terus saja dilanjutkanmakannya yang tertunda. Tak lama kemudian, Melati menyelesaikanmakannya. Diletakkan pembayarannya di atas meja.Dengan sikap tidak peduli, dilangkahkan kakinyaberjalan ke luar kedai. Sepeninggal Melati, maka terdengarlah suara-suara bergumam mirip kerumunan lebah di dalamkedai itu. Semuanya sibuk membicarakan kejadianyang baru saja terjadi. "Sayang sekali!" ucap salah seorang pengunjungmenyayangkan. "Siapa sangka kalau di balik wajahcantik seperti Dewi, tersembunyi hati yang kejam." "Benar!" sambut yang lain. "Begitu mudah danenaknya ia menyebar maut di sini!" "Tindakannya seperti Malaikat Pencabut Nyawasaja!" orang pertama menyahuti lagi. "Ah, tidak cocok dong!" sergah yang lain. "Manaada malaikat wanita! Kalau menurutku, julukan yangpantas baginya adalah Dewi Penyebar Maut!" "Benar...!" sahut salah seorang. "Akur...!" Sejak peristiwa di kedai itu, tanpa sepengetahuanMelati sendiri, ia telah dijuluki orang Dewi PenyebarMaut. Dalam waktu sebentar saja, julukan itu telahmenyebar ke seluruh pelosok desa. Bahkan sampaike desa-desa sekitar. Dewi Penyebar Maut, sebuahjulukan bagi seorang gadis cantik yang berpakaian
  7. 7. serba putih, tapi berhati kejam. *** "Perguruan Elang Sakti," gumam Melati sinis,membaca tulisan pada sebuah papan besar dan tebalyang tergantung di depan pintu gerbang sebuahbangunan besar yang dikelilingi tembok tinggi. "Hup!" Melati melompati tembok yang tingginya tidakkurang dari satu tombak itu. Tanpa suara, kakinyamendarat seperti seekor kucing. Tetapi belum juga gadis itu berbuat sesuatu,terdengar sebuah bentakan keras. "Berhenti!" Melati menoleh ke arah asal suara itu. Nampak didepannya berdiri seorang pemuda gagah dengankedua tangan bersedekap. Tatapan matanya penuhselidik. Tetapi, sepasang mata yang semula tajam itumendadak lunak begitu melihat wajah Melati. "Eh! Nggg..., siapa Nini? Mengapa masuk secaragelap-gelapan?" tanya pemuda itu gagap. "Siapa pun aku, tidak perlu kau tahu. Yang jelas,kedatanganku ke sini adalah karena mempunyaikeperluan yang sangat penting dengan gurumu!"sahut Melati sambil tersenyum sinis. "Ahhh.... Ada keperluan apakah, sehingga Niniingin bertemu guruku?" "Aku ingin mengirimnya ke akherat!" lantang dantegas kata-kata Melati. "Apa?!" Sepasang mata pemuda itu terbelalak. Kinisikapnya seketika berubah kembali. "Jangan harapmampu melakukannya sebelum melangkahimayatku!"
  8. 8. "Hi hi hi...! Berapa sih, susahnya melangkahimayatmu?!" ejek Melati tajam, setelah tawamengikiknya selesai. "Boleh kau coba!" tantang pemuda itu. "Manusia dungu yang suka mencari penyakitsendiri! Jangan salahkan aku kalau kau mati ditanganku!" Setelah berkata demikian, tubuh Melati berkelebatke arah sasaran. Pemuda itu kaget sekali. Yangterlihat hanya sekelebat bayangan yang cepatmeluruk ke arahnya. Dengan sebisanya, pemuda itubergerak menangkis. Tapi usahanya sia-sia. Crokkk! "Aaakh...!" Pemuda malang itu langsung rubuh sambilberteriak keras menyayat. Darah segar seketikamembasahi ubun-ubunnya yang pecah! Tanpa mempedulikan keadaan pemuda itu lagi,Melati bergerak menghampiri pintu gerbang. Tepat didepan pintu gerbang itu langkahnya terhenti serayabertolak pinggang. "Satria, Mega..., keluar! Kalian harus menerimakematian!" teriak Melati lantang. Teriakan Melati yang disertai pengerahan tenagadalam, langsung menggema ke sekitar tempat itu.Akibatnya sudah bisa diduga. Belasan muridPerguruan Elang Sakti bermunculan, dan bersikapwaspada. "Iblis dari mana yang tersesat ke sini?!" tanya salahseorang murid kepala, bernada kasar. Kemudiandengan amarah meluap-luap, dihampirinya Melati.Untuk sesaat hatinya terperangah melihat kecantikansi pengacau yang luar biasa itu. Tapi, sekejapkemudian perasaannya sudah bisa dikuasai.
  9. 9. Tetapi sebelum Melati menjawab, terdengarsebuah suara dari arah belakang para murid itu. "Mundur, Kusna!" Si murid kepala yang ternyata bernama Kusna,segera mengenali suara gurunya. Maka buru-buru diamelangkah mundur. Seiring mundurnya Kusna, daribelakang kerumunan murid itu menyeruak dua orangpria berusia tiga puluhan. "Kaliankah yang bernama Satria dan Mega itu?"tanya Melati sinis. "Tidak salah! Aku Satria, dan ini temanku, Mega,"jawab Satria yang kini bersama Mega menjadi KetuaPerguruan Elang Sakti (Untuk mengetahui kisah ten-tang Satria dan Mega sebelumnya, silakan baca serialDewa Arak dalam episode "Pedang Bintang"). "Ada urusan apakah, sehingga Nini datang mencarikami? Bahkan dengan cara yang sangat tidak sopan!" Wajah Melati berubah beringas melihat orang yangdicarinya telah di depan mata. "Hutang nyawa!" sahut gadis itu keras, bernadapenuh kebencian. Berkerut kening Satria mendengar jawaban yangtidak disangka-sangka itu. "Hutang nyawa? Aku tidak mengerti maksudmu,Nini. Apakah kau tidak salah alamat?" "Tidak!" bentak Melati lagi. "Bersiaplah kalianberdua untuk menerima kematian!" "Tunggu dulu, Nini!" cegah Satria cepat. "Kalauboleh tahu, siapakah yang telah kami bunuh?" Semakin beringas wajah Melati. Kini sepasangmatanya mencorong tajam bersinar kehijauan. "Ayahku," jawab Melati, agak ditekan suaranya. "Ayahmu? Siapa nama ayahmu?" tanya Megacepat.
  10. 10. "Ayahku berjuluk Raja Racun Pencabut Nyawa!Jelas?! Atau masih mau mungkir?" Geraham Melatibergemeletuk, karena menahan amarah (Bila inginjelas tentang Raja Racun Pencabut Nyawa, silakanbaca serial Dewa Arak, dalam episode "PedangBintang"). "Tidak mungkin!" potong Satria cepat. "Raja Racunitu tidak mempunyai anak, lagipula..." "Terimalah kematianmu, manusia pengecut!"potong gadis itu cepat sambil menyerang Satriadengan mendorongkan tangannya ke depan. Wuuuttt...! Angin kuat berhembus menyambar ke arah Satria.Ketua Perguruan Elang Sakti ini buru-buru melempartubuh ke samping dan bergulingan beberapa kali ditanah. Akibatnya serangan itu lewat terus kebelakang dan kontan menghantam murid-muridSatria yang tidak sempat mengelak lagi. Suara jerit kesakitan terdengar saling susul, ketikapukulan jarak jauh Melati menghantam mereka. Tidakkurang dari lima orang terjengkang rubuh kebelakang dengan dada pecah! Satria dan Mega terkejut bukan main. Dalamsegebrakan saja dapat diketahui kalau gadisberpakaian serba putih ini memiliki tenaga dalamtinggi. Tanpa ragu-ragu lagi, keduanya segeramencabut senjatanya dan menyerang secaraberbareng. "Hi hi hi...," Melati tertawa mengikik. "Keroyoklahaku, manusia-manusia pengecut! Tapi, kali ini janganharap akan semujur dulu!" berbareng denganselesainya Melati mengucapkan ancamannya,serangan dua batang pedang itu telah menyambarkembali. Tetapi, gadis itu hanya tersenyum sinis.
  11. 11. Kemudian, tangannya yang telanjang segeramemapak bacokan kedua pedang itu. Satria dan Mega kaget sekali. Apa yang diperbuatgadis berpakaian serba putih ini benar-benarmembuat mereka terkejut. Menangkis seranganpedang dengan tangan telanjang, membutuhkantenaga dalam yang amat tinggi. Dan selama ini hanyaBargolalah yang berani menangkis seperti itu (Baca;Serial Dewa Arak dalam episode "Pedang Bintang").Mungkinkah gadis yang mengaku putri Raja RacunPencabut Nyawa itu mempunyai tenaga dalamsetingkat Bargola? Tapi.... Trakkk! Trakkk! Satria dan Mega menyeringai. Tangan dua orangKetua Perguruan Elang Sakti yang menggenggampedang, terasa lumpuh ketika tangan telanjang gadisitu menangkis pedang mereka. Hampir saja pedangmereka terlepas dari genggaman. Kini, terbuktibahwa tenaga dalam yang dimiliki gadis itu benar-benar setingkat dengan Bargola. "Hi hi hi...," kembali Melati tertawa mengikik. Hati gadis itu kelihatan gembira melihat kedualawannya kaget. Sengaja dia tidak terburu-burumembinasakan, karena ingin melihat merekaketakutan sebelum maut menjemput. "Kini, terimalah kematian kalian!" Setelah berkata demikian, tubuh Melati melesatcepat menerjang kedua pemimpin Perguruan ElangSakti itu. Jari-jari kedua tangannya berkelebat cepat,membentuk cakar naga. Angin tajam berciutanmengiringi tibanya serangan itu. Satria dan Mega kebingungan. Gerakan lawanyang terlalu cepat membuat mereka tidak dapatmenduga, ke arah mana dan dengan cara bagaimana
  12. 12. gadis itu menyerang. Dengan cara untung-untunganmereka memutar pedang bagai baling-baling untukmembuat pertahanan. Tapi, mendadak putaran pedang itu lenyap. Se-dangkan pedang-pedang itu sendiri sudahberpentalan jatuh ke lantai, sehingga menimbulkansuara berkerontangan. Satria dan Mega tidak tahubagaimana hal itu terjadi. Yang jelas, tiba-tiba sekujurtangan mereka terasa lumpuh. Tetapi diyakini, pastitangan gadis berpakaian serba putih itu telahmenotok pergelangan tangan mereka. Dan belum lagidapat berbuat sesuatu, tangan Melati telahmenyambar pelipis dan ubun-ubun mereka, yangmerupakan dua bagian tubuh yang mematikan. Crokkk! Plakkk! Terdengar suara berderak dua kali berturut-turutDan seiring lenyapnya suara itu, tubuh Satria danMega rubuh ke tanah, tanpa bersuara lagi. Mati. Tentu saja kematian kedua pemimpin PerguruanElang Sakti itu membuat para muridnya menjaditerkejut bercampur marah. Dengan serentak merekayang kini berjumlah tiga belas orang, mencabutsenjata masing-masing. Srattt! Srattt! Srattt! Melati hanya tersenyum sinis. "Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian.Kuperingatkan, jangan ikut campur dalam masalahini, kalau tidak ingin bernasib seperti guru kalian,"ancam gadis itu. "Perempuan keparat! lblis berwajah manusia! Kaukira kami takut mati? Serbuuu...!" teriak salahseorang dari mereka. Tiga belas orang murid itu pun serentak menerjangMelati. Belasan senjata tajam yang terdiri dari pedang
  13. 13. dan golok berkelebat menyambar sekujur tubuh gadisitu. Tapi Melati melayani hanya dengan senyum sinis. Dan seketika kedua tangannya yang lembut danhalus itu memapak semua serangan lawannya,sekaligus memberikan serangan-serangan balasan. Akibatnya sudah bisa diduga. Ke mana tanganatau kaki Melati bergerak, berarti di situ ada korban.Dan dalam waktu yang singkat, tidak ada seorang punmurid Perguruan Elang Sakti yang masih berdiri.Semua telah terkapar tanpa nyawa. Melati memandangi hamparan mayat-mayat disekelilingnya beberapa saat. Pandang matanyaberhenti agak lama pada tubuh Satria dan Mega.Kepalanya pun kemudian menengadah. "Ayah...," desis gadis itu pelan tapi tajam. "Lihat-lah! Telah kubalaskan dendammu. Telah kubunuhdua dari empat orang yang telah secara pengecutmengeroyokmu! Kini tinggal dua orang lagi, Ayah. Dansetelah itu tenanglah kau di alam sana!" Belum habis gema suaranya, Melati sudah melesatdari situ. Tujuannya jelas, mencari pembunuh RajaRacun Pencabut Nyawa. Masih tinggal dua orang lagiyang dicarinya. Ningrum, dan Ular Hitam. Tanpa sepengetahuan Melati, ada sepasang matayang mengintai semua perbuatannya. Dan begitudilihatnya gadis itu telah pergi, baru si pemiliksepasang mata itu berani keluar. Ditatapnya belasansosok tubuh yang terkapar bergelimpangan disertaiperasaan ngeri. "Sungguh ganas dan kejam sekali, Dewi PenyebarMaut itu...," desahnya bergidik. Memang, dia jugasudah melihat peristiwa di kedai beberapa hari yanglalu, sewaktu Melati menewaskan Sepasang SetanHitam. Oleh karena itu, begitu melihat, langsung
  14. 14. dikenalinya. "Tolooong...! Tolooong...! Ada pembunuhan!" te-riaknya sambil berlari ke luar. Dalam waktu sebentar saja, halaman depanPerguruan Elang Sakti dipenuhi penduduk yangberkumpul karena mendengar teriakan itu! Danjulukan Dewi Penyebar Maut pun, kembalidigumamkan orang dengan perasaan ngeri.
  15. 15. 2Suara irama napas teratur, tetap, dan berulang-ulangterdengar memecah keheningan pagi dalam sebuahhutan di luar Desa Kemukus. Suara itu ternyataberasal dari hidung dan mulut seorang gadis yangtengah bersemadi. Gadis itu berwajah cantik manis, dan berpakaianserba hijau. Di pipi kirinya bertengger sebuah tahilalat, yang membuat wajahnya yang memang cantikitu kian bertambah menarik. Gadis itu adalahNingrum, putri Raja Pisau Terbang. Sudah beberapahari ini, gadis itu berada di hutan. Dia memang dalamperjalanan mengikuti jejak Arya Buana, si Dewa Arakyang telah membuat hatinya terguncang padapandangan pertama. Selama beberapa hari di dalam hutan ini, Ningrumberlatih keras. Gadis ini merasa kecewa menyadaribetapa kepandaiannya masih terlalu rendah.Sehingga sewaktu menghadapi Raja Racun PencabutNyawa, ia terdesak. Padahal, waktu itu ia dibantu duaorang murid kepala Perguruan Tangan Sakti! Hal inimembuatnya penasaran sekali. Maka, dalamperjalanannya menyusuri jejak pemuda berambutputih keperakan, ia selalu menyempatkan diri untukberlatih. Tapi bila situasinya tidak memungkinkan, diahanya bersemadi dan latihan pemapasan saja. Danbila situasinya memungkinkan, ia pun melatih pulajurus-jurus pisau terbang dan tangan kosong. Pelahan-lahan sang mentari mulai meninggi.
  16. 16. Sinarnya yang hangat pun mulai menerpa sekujurtubuh dan wajah Ningrum. Tapi, sedikit pun gadis itutidak terganggu, dan tetap tenggelam dalamsemadinya. Napasnya keluar masuk dengan iramatetap. Putri Raja Pisau Terbang ini baru menghentikansemadi, ketika pendengarannya yang tajammenangkap suara-suara langkah kaki menuju kearahnya. Baru saja Ningrum membuka mata, di depannya,telah berdiri beberapa sosok tubuh berwajah kasarsambil menatap liar. Bergegas gadis yang bertahi lalatdi pipi kiri ini bangkit dari bersilanya. Melihat darigelagatnya, Ningrum tahu bahwa saat ini tengahberhadapan dengan orang-orang yang tidak berniatbaik. "Ha ha ha...! Sungguh tidak disangka di dalamhutan ini aku dapat bertemu seorang bidadari! Ha haha...! Mimpi apa aku semalam?!" seru orang palingdepan yang bertubuh tinggi besar, berwajah kasar. Dilehernya tergantung seuntai kalung bermatakantengkorak kepala bayi. Tampaknya dia gembira sekali. Ucapan si tinggi besar ini segera disambut gelaktawa tujuh sosok tubuh yang berada di belakangnya. "Bagaimana? Cocokkah bila kujadikanpermaisuriku?" tanya si tinggi besar yang rupanyapemimpin gerombolan itu sambil menoleh kebelakang. "Ha ha ha...! Kakang memang pintar memilih.Wanita ini memang pantas menjadi permaisuriKakang. Dan kelihatannya dia menguasai sedikit ilmusilat. Dunia persilatan akan memuji Kakang, karenapandai memilih istri," sahut salah seorang darimereka.
  17. 17. Ningrum tak kuat lagi menahan kemarahannyamendengar pembicaraan mereka. "Manusia-manusia bermulut kotor! Pergilah kaliansebelum hilang kesabaranku!" "Ha ha ha...!" kembali laki laki tinggi besar yangberjuluk Raksasa Kulit Baja itu tertawa bergelak."Kalian lihat! Bukan hanya wajahnya saja, sikapnyapun memenuhi persyaratan untuk menjadipermaisuriku. Ha ha ha...!" Untuk yang kesekian kalinya tujuh orang yangberada di belakang Raksasa Kulit Baja itu tertawabergelak. Kali ini amarah Ningrum pun meledak. "Tutup mulutmu yang bau itu, raksasa busuk!"bentak gadis itu keras. Kontan berubah merah wajah si tinggi besarmendengar makian pedas itu. Tawanya pun seketikaterhenti. "Rupanya kau tidak senang diperlakukan baik-baik,Cah Ayu! Kau lebih suka diperlakukan secara kasardulu, baru mau tunduk, heh?! Akan kuturuti bila ituyang diinginkan!" Setelah berkata demikian, Raksasa Kulit Bajamenggerakkan ujung telunjuk, pada salah seorangyang berdiri di belakangnya. Sambil tertawa-tawa, si muka kuning, yang diberiisyarat Raksasa Kulit Baja ini melangkah maju.Sepasang matanya liar menatap Ningrum. Sekejapkemudian, dia telah bergerak menyerang gadis itu.Tangannya menangkap lengan kanan gadis yangbertahi lalat di pipi kirinya ini. Dikiranya, gadis ini pastitak akan dapat mengelakkan sergapannya. Tetapi, si muka kuning tertipu. Dengan sebuahgerakan sederhana, Ningrum telah membuattangkapan itu hanya mengenai tempat kosong.
  18. 18. Sebaliknya adalah ujung kaki putri Raja PisauTerbang ini telah mendarat di perut si muka kuning. Bukkk..! "Hugh!" Si muka kuning mengeluh tertahan. Sodokan ujungkaki Ningrum memang keras sekali. Tak pelak lagi,tubuh si muka kuning terbungkuk-bungkuk serayamemegangi perutnya yang tiba-tiba terasa mulasbukan main. Dan selagi si muka kuning sibukmerasakan sakit pada perutnya, kaki Ningrumkembali bergerak menendang bahunya. Tentu sajagadis itu tidak mengerahkan seluruh tenaganya.Sebab kalau hal itu dilakukan, si muka kuning inipasti tewas. Desss! Tubuh si muka kuning terpental ke belakang dankeras sekali mencium tanah. Laki-laki itu terguling-guling sesaat, untuk kemudian tidak bergerak lagi.Pingsan. Tentu saja hal ini membuat Raksasa Kulit Baja dananak buahnya yang lain terperanjat kaget. Denganmata terbelalak, mereka menatap Ningrum. Sungguhsulit dipercaya dengan apa yang terjadi di depanmereka ini. Benarkah gadis yang mereka sangkaseekor domba ternyata adalah singa betina? Raksasa Kulit Baja tentu saja merasa penasaransekali. Dengan gerak kepalanya, diperintahkan sisaanak buahnya untuk menyerang berbareng. Makakeenam orang anak buahnya melangkah majumengepung Ningrum. Sadar kalau gadis itu bukanlahlawan empuk, mereka pun tidak mau bersikap main-main lagi. "Mengapa tanggung-tanggung, raksasa busuk?Majulah! Biar urusan ini cepat selesai! ejek Ningrum
  19. 19. sambil tersenyum sinis. Mendengar ejekan itu, Raksasa Kulit Bajameraung murka. "Kau terlalu sombong, perempuan keparat! Kalaunanti sudah tertangkap, kau akan kutelanjangi dankuperkosa sampai aku puas. Tidak sampai di situsaja, tubuhmu akan kuberikan pada mereka, agardapat dinikmati sampai kau mati kelelahan!" Ningrum bergidik mendengarnya, dan wajahnyalangsung memerah. Ucapan Raksasa Kulit Baja itubenar-benar membuat kemarahannya berkobar.Orang seperti dia memang tidak patut untukdibiarkan hidup. Tetapi putri Raja Pisau Terbang itutidak bisa berlama-lama termenung. Serangan-serangan anak buah Raksasa Kulit Baja itu telahmenyambar cepat ke arahnya Ningrum tersenyum mengejek. Dari gerakan danserangan mereka, sudah dapat dinilai kekuatanlawannya. Jangankan hanya tujuh orang, biarditambah dua kali lipat lagi pun masih sanggupmenghadapinya. Maka, sikapnya pun tenangmenghadapi hujan serangan itu. Ningrum yang tidak sudi bersentuhan tangandengan mereka, tidak menangkis serangan-seranganitu. Dengan ilmu meringankan tubuh yang jauh di ataslawan-lawannya, dihindari setiap serangan yangdatang. Serta-merta, dibalas serangan-serangan yangdatang dengan sepasang kakinya yang berkelebatanke sana kemari. Terdengar suara berdebuk berulangulang, disusul berpentalannya tubuh parapengeroyoknya. Hanya beberapa gebrakan saja,semua lawan telah bergeletakan di tanah dalamkeadaan pingsan. Beberapa di antaranya mengalamipatah kaki, maupun patah tangan. Bahkan ada pula
  20. 20. yang benjol-benjol kepalanya. "Kini giliranmu, raksasa busuk!" tantang Ningrumsambil berkacak-pinggang. Raksasa Kulit Baja menggeram. Wanita inisungguh keterlaluan! Berkali-kali menghinanya. Makadengan wajah merah, dilangkahkan kakinyamenghampiri Ningrum. "Hiyaaa...!" manusia bertubuh raksasa itumembuka serangan dengan sebuah cengkeraman kearah bahu Ningrum. Bagaimanapun juga RaksasaKulit Baja ini merasa sayang untuk memukul matigadis yang telah membangkitkan gairahnya ini. Wut...! Sambaran angin keras mengawali tibanyacengkeraman itu. Dari angin serangan ini, Ningrumdapat mengetahui kalau lawannya ini memiliki tenagadalam tinggi. Tetapi, walaupun serangan itu mengandungtenaga dalam tinggi, tapi gerakannya kelihatan terlalulambat. Mudah saja bagi putri Raja Pisau Terbang iniuntuk mengelakkannya. Bahkan menyusuli dengantotokan ujung kakinya pada punggung Raksasa KulitBaja. Tukkk...! "Aih...!" Ningrum menjerit kaget, ketika ujung kakinyamembentur kulit daging yang keras, sehinggatendangannya membalik. Dirasakan, jari-jari kakinyaterasa nyeri bukan main. Dan ini membuatnya kagettak terkirakan, juga penasaran. Maka dikirimkanserangan bertubi-tubi pada bagian tubuh RaksasaKulit Baja yang lainnya. Namun tetap saja hasilnyasama saja. Ningrum menjadi bingung. Laki-laki tinggibesar itu ternyata memiliki ilmu kebal! Bahkan pisau
  21. 21. terbang gadis itu pun tidak mampu melukai kulitlawannya ini. "Ha ha ha...! Silakan kau pilih kulitku yang palingempuk, Manis," ejek Raksasa Kulit Baja menantang. Ningrum sadar, bahwa tidak ada gunanya lagimelawan Raksasa Kulit Baja yang ternyata memilikiilmu kebal ini. Maka gadis ini memutuskan untukmelarikan diri saja. Dan memang, adalah suatuperbuatan bodoh untuk melawan terus. Karena sudahdapat dipastikan, lama-kelamaan gadis itu akankehabisan tenaga. Dan apabila hal itu terjadi, bahayayang mengerikan akan diterima dari si tinggi besar ini. Setelah berpikir demikian, Ningrum segera melesatkabur. Tentu saja Raksasa Kulit Baja menjadi terkejutbukan main. Sungguh di luar dugaan kalau lawannyaini melarikan diri. Buru-buru manusia bertubuh bagairaksasa itu berlari mengejar. Tapi karena ilmumeringankan tubuhnya masih berada jauh di bawahputri Raja Pisau Terbang itu, jarak antara merekasemakin bertambah jauh saja. Sampai akhirnya tubuhgadis itu lenyap di kejauhan. Raksasa Kulit Baja memaki-maki dan menyumpahserapah. Dipandangi arah tubuh Ningrummenghilang, kemudian bergerak mengikutinya. Takdipedulikan lagi anak buahnya yang tergeletak didalam hutan dalam keadaan pingsan. "Akan kucari ke mana pun kau pergi, perempuankeparat!" teriaknya keras. "Sekalian akan kucaripembunuh saudara angkatku, si Harimau Mata Satu.Ya, akan kucari si Dewa Arak alias Arya Buana...."(Harimau Mata Satu terbunuh oleh Arya Buana dalamserial Dewa Arak, episode "Pedang Bintang"). ***
  22. 22. Ningrum mengerahkan segenap kemampuannya.Hatinya benar-benar ngeri membayangkan kalausampai bisa ditangkap Raksasa Kulit Baja itu.Ancaman si tinggi besar itu tidak main-main danbenar-benar membuat bulu tengkuknya meremang. Legalah hati Ningrum ketika tidak melihat lagibayangan tubuh Raksasa Kulit Baja yangmengejarnya. "Hhh...!" desah Ningrum pelan. Gadis itu menghentikan larinya, dan untukbeberapa saat hanya berdiri termenung. Otaknyaberpikir keras, apakah terus melanjutkan perjalananatau kembali ke tempat ayahnya. Jika kembali ketempat ayahnya, dia bisa kembali berlatih. Disadarikalau dengan tingkat kepandaian sekarang ini, akanbanyak mengalami kekecewaan-kekecewaan dalampetualangannya. Setelah lama mempertimbangkan, Ningrummemutuskan untuk kembali pulang ke tempatkediaman ayahnya. Tekadnya, harus berlatih keras,dan tidak malas-malasan seperti dulu. Setelahkeputusannya bulat, gadis berpakaian serba hijau inipun melesat dengan tujuan pasti. Tempat kediamanayahnya. Beberapa hari kemudian, sampailah gadis ini dimulut sebuah hutan yang menjadi tempat menyepiayahnya. Dan baru saja hendak melangkah masuk,sebuah seruan keras membuatnya terpaksamengurungkan langkah. "Nisanak yang di depan! Tunggu sebentar!"Ningrum menoleh ke belakang. Tampak di kejauhan,sesosok bayangan putih melesat cepat menuju kearahnya. Dalam waktu sekejap saja sosok bayanganitu telah berada di depannya.
  23. 23. Ningrum memperhatikan sosok tubuh dihadapannya ini dengan pandangan mata kagum.Betapa tidak? Sosok tubuh di hadapannya ini ternyataadalah seorang wanita cantik jelita. WalaupunNingrum menyadari kalau dirinya terhitung cantik,tapi secara jujur diakui kalau wanita di hadapannyaini memiliki kecantikan yang mengunggulinya. "Ada apa, Kak?" tanya Ningrum ramah. "Ah, tidak. Aku hanya ingin bertanya. Apakah betuldi sini tempat tinggal Raja Pisau Terbang?" tanyawanita yang tidak lain adalah Melati. Ningrum mengerutkan alisnya yang indah. Darimana wanita di hadapannya ini mengetahui kalauayahnya tinggal di sini? "Kalau boleh tahu, Kakak ini sebenarnya siapa?" "Panggil saja aku Melati," jawab gadis berpakaianserba putih ini pelan. Dari raut wajah dan nadasuaranya, nampak kalau gadis itu tidak sukamendapat pertanyaan itu. "Hm... Begini, Kak. Ada urusan apa sehinggaKakak menanyakan tempat tinggal RajaPisauTerbang?" tanya Ningrum lagi, bernada tidakenak. Tentu saja dia pun mengetahui kalau wanita dihadapannya ini tidak senang mendapat pertanyaanseperti itu. Perasaan simpatinya pun pupus seketika. "Apa urusannya hal itu denganmu?!" sambut Melatiketus. "Apa urusannya?!" pekik Ningrum keras. Meluapsudah kemarahan yang sejak tadi ditahan-tahannya. "Perlu kau ketahui, wanita liar! Aku adalah putridari orang yang kau cari itu!" Terbelalak sepasang mata Melati yang berjulukDewi Penyebar Maut itu. "Apa?! Kau putri Raja Pisau Terbang? Kau..., kau
  24. 24. yang bernama Ningrum itu? Ah...! Mengapa akubegitu bodoh?! Gadis cantik bertahi lalat di pipi kiri,dan berpakaian serba hijau! Tololnya aku...! Sungguhaku tidak tahu kalau musuhku berada di depanmata!" Kini ganti sepasang mata Ningrum yang terbelalak. "Apa katamu?! Siapa dan apa maksudmusebenarnya?" tanya Ningrum tak mengerti. "Ingatkah kau pada Raja Racun Pencabut Nyawayang telah kau bunuh secara curang?!" tanya Melatidengan kasar sambil mencorongkan matanya. Tak terasa Ningrum mengangguk. "Nah! Perlu kau ketahui, Ningrum. Raja RacunPencabut Nyawa itu adalah ayahku. Sengaja akudatang ke sini untuk mencabut nyawamu! Bersiaplah,Ningrum. Agar kau tidak mati secara percuma!" "Ayahnya iblis, anaknya pun pasti kuntilanak! Jadi,sudah kewajibanku untuk melenyapkan bibit penyakityang ada di dunia!" balas Ningrum tak kalah gertak. "Terimalah kematianmu, Ningrum!" Dibarengi ucapannya, Melati menerjang putri RajaPisau Terbang dengan jari-jari tangan berbentukcakar naga ke arah ulu hati. Suara bercicitan terdengar mengawali seranganMelati. Dari bunyi angin itu, Ningrum sudah dapatmengetahui betapa tingginya tenaga dalam yangmengarah dadanya itu. Buru-buru gadis bertahi lalat ini melangkahkankaki kanannya ke kiri belakang, sehingga seranganitu lewat di depan dadanya. Dengan cepat Ningrummengirimkan serangan balasan ke arah pelipis DewiPenyebar Maut itu. Gadis berpakaian serba putih itu memiringkankepalanya, sambil tangan kirinya menangkis
  25. 25. serangan itu. Plakkk...! "Aih...!" Ningrum menjerit. Dirasakan jari-jari tangannyayang beradu dengan jari-jari tangan lawan sakit bukanmain. Bahkan sekujur tangannya terasa lumpuh.Suatu bukti kalau tenaga dalam Dewi Penyebar Mautjauh lebih kuat darinya. Tetapi bukan Ningrum namanya kalau baru beradutangan sekali, sudah kapok. Malah sebaliknya, rasapenasaran segera timbul. Mana mungkin gadis itulebih lihai darinya. Gurunya saja belum jelas.Mungkinkah guru gadis itu lebih lihai dari ayahnya?Karena belum dibuktikan, jadi tidak ada alasanbaginya untuk tidak melawan gadis itu. Dan kiniNingrum menyerang dahsyat. Dikeluarkan seluruhkemampuan yang dimilikinya. Tetapi, lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya,Ningrum harus menerima kenyataan pahit. Setiapserangannya selalu mudah dapat dielakkan DewiPenyebar Maut. Sebaliknya, setiap serangan balasanyang dilakukan gadis itu, memaksanya pontang-panting untuk menyelamatkan diri. Setelah beberapa jurus bertarung, sadarlahNingrum kalau gadis yang bernama Melati itumemiliki kemampuan beberapa tingkat di atasnya.Baik dalam tenaga, maupun kecepatan gerak. Dandalam waktu sebentar saja Ningrum sudah terdesakhebat, sehingga hanya mampu bertahan tanpa beranibalas menyerang. Ningrum sadar. Kalau keadaan ini terusberlangsung, sudah pasti akhirnya ia akan rubuh ditangan putri Raja Racun Pencabut Nyawa ini. Makataktik harus dirubah, kalau ingin selamat.
  26. 26. "Cabut senjatamu, gadis jahat! Kalau kau tidakmau mati sia-sia di tanganku!" dengus Ningrum. Belum habis ucapannya, tubuh Ningrum sudahmelenting ke belakang. Dan ketika hinggap di tanahdengan manis, pada kedua tangannya telahtergenggam sebuah pisau putih berkilat. "Menghadapi pengecut-pengecut seperti kau dandua orang temanmu yang telah kukirim ke akherat,tidak perlu mengeluarkan senjata!" dengus DewiPenyebar Maut tak kalah garangnya. Putri Raja Pisau Terbang ini kaget mendengarucapan gadis berpakaian serba putih itu. Sudah bisaditebak, siapa yang dimaksud dua orang temannyaitu. Pasti Satria dan Mega! Jadi, iblis wanita ini telahmembunuhnya! Menilik kepandaiannya, memang merupakansuatu hal yang mudah bagi gadis itu untukmembunuh kedua murid kepala Perguruan TanganSakti. "Kuntilanak sombong! Kau harus mati di tangankuuntuk menebus nyawa kedua orang temanku yangtelah kau bunuh itu! Haaat...!" Sambil berteriak nyaring, Ningrum melompatmenerjang Melati. Dua buah pisau putih berkilat ditangannya, mengeluarkan suara berdesing ketikaberkelebat cepat mencari sasaran-sasaran di tubuhgadis berpakaian serba putih itu. Melati tahu betapa berbahayanya sepasang pisauterbang itu. Juga, betapa kuatnya tenaga yangterkandung dalam setiap sabetan, atau tusukan pisauitu. Maka gadis itu tidak berani bertindak ceroboh.Apalagi untuk memapak kedua pisau itu dengantangan telanjang. Sekarang ini Ningrum tidak bisadisamakan dengan Satria dan Mega!
  27. 27. Beberapa saat lamanya, Dewi Penyebar Mauthanya menghindar terus. Gadis ini tidak inginbertindak gegabah. Diperhatikan baik-baik setiapserangan Ningrum. Memang, dengan tingkat ilmumeringankan tubuh yang berada cukup jauh di atasNingrum tidak sukar baginya untuk mengelakkansetiap serangan. Ningrum menggertakkan giginya dengan perasaangeram. Hatinya dongkol bukan kepalang, melihatlawannya itu hanya mengelak tanpa balasmenyerang. Jelas dia merasa diremehkan. Hal inimembuat amarahnya kian meluap. Dan sebagaiakibatnya, serangan kedua pisau terbangnya punsemakin bertubi-tubi. Melati yang merasa sudah cukup mengetahuiperkembangan gerak dan ciri khas pada setiapserangan lawan, kini mulai balas menyerang. Pelahan namun pasti, putri Raja Pisau Terbang itumulai terdesak. Serangan-serangan pisau terbangnyamulai mengendor. Sampai akhirnya sepasang pisauberwarna putih berkilat itu hanya dipakai untukmempertahankan diri dari setiap serangan Melati. Tak terasa Ningrum mengeluh dalam hati. Diakuikalau kepandaian Melati memang berada jauh diatasnya. Dan rasa-rasanya, kepandaian gadis ini takkalah dengan kepandaian Raja Racun PencabutNyawa! "Akh...!" Ningrum memekik ketika sebuah totokan ujungkaki Dewi Penyebar Maut menyerang pergelangantangan kirinya. Kontan sekujur tangannya terasalumpuh. Dan tanpa dapat ditahan lagi, pisauterbangnya pun terlepas dari pegangan. Belum lagi gadis itu berbuat sesuatu, serangan
  28. 28. susulan dari Melati telah menyusul tiba. Tangankanan menyampok pelipis, sedangkan tangan kiri dariarah bawah, mengancam dagu. Ningrum kaget bukan main. Serangan itu datangbegitu cepat. Sudah bisa diperkirakan kalau akhirnyaia akan tewas di tangan putri Raja Racun PencabutNyawa ini. Mendadak saja, ada sesuatu yang menariktubuhnya ke belakang. Dan untunglah, keduaserangan maut itu hanya mengenai tempat kosong.Buru-buru Ningrum menoleh ke belakang, melihatsosok yang telah menolongnya. Tampak di belakangnya telah berdiri sosok tubuhtua dari seorang kakek berusia enam puluh tahun.Sepasang matanya tampak tajam berkilat. Rautmukanya menampakkan kesabaran. Ningrum kenalbetul siapa pemilik wajah ini. "Ayah...," desah gadis itu dengan suara lemah. Kakek penolong yang ternyata adalah Raja PisauTerbang itu hanya tersenyum getir. Ditarik tubuhputrinya ke belakang, kemudian dilangkahkankakinya beberapa tindak. "Ada urusan apa dengan anakku, sehinggasedemikian tega hendak menurunkan tangan mautpadanya, Nisanak?" tanya Raja Pisau Terbang,bernada sabar. Tidak tampak ada nada kemarahan,baik pada suara maupun wajahnya. "Dia adalah putri Raja Racun, Ayah!" selak Ningrumcepat. "Ahhh...! Benarkah demikian?" tanya Raja PisauTerbang memastikan. "Benar!" jawab Melati ketus. Melati mengangkat dagunya, seperti menantang.Memang, begitu geram hatinya melihat pada saat
  29. 29. terakhir Ningrum berhasil lolos dari maut. Dan gadisini tahu betul orang yang telah menyelamatkan gadisitu. Raja Pisau Terbang! Ini diketahui karena Ningrummemanggil orang itu dengan sebutan ayah. "Dan aku datang untuk membalaskan kematianayahku pada anakmu itu!" tegas Melati. Raja Pisau Terbang mengangguk-anggukkankepalanya. Walaupun berkali-kali Melati bersikapkasar padanya, tetap saja ia tidak menampakkankemarahan. "Putri Raja Racun Pencabut Nyawa? Aneh! Tidaksalahkah pendengaranku, Nisanak. Sepanjangpengetahuanku, almarhum Raja Racun tidakmempunyai anak seorang pun. Yang justru kudengaradalah keponakannya, yang bernama Arya Buanaalias si Dewa Arak!" bantah Raja Pisau Terbang,seperti tidak mengerti. "Aku tidak butuh keterangan darimu, Orang Tua!Yang kuinginkan adalah melenyapkan anakmu untukmembalas kematian ayahku! Menyingkirlah dari situ!Aku tidak mau membunuh orang yang tidak punyaurusan apa-apa denganku!" tandas Melati tegas. "Bagus! Aku hargai pendirianmu. Berarti, kaubukanlah seorang gadis jahat. Marilah kitaberbincang-bincang. Aku yakin ada kesalahpahamandalam hal ini..." "Jaga seranganku, Orang Tua!" teriak Melati tiba-tiba sambil menyerang bagian dada kakek itu denganjari-jari tangan berbentuk cakar naga. Jari-jari tanganyang membentuk cakar itu nampak berwarna merah. Raja Pisau Terbang hanya tersenyum. Ia tahukalau serangan cakar itu tidak akan mencapaisasaran. Jarak antara dirinya dengan gadis itu sekitar
  30. 30. satu setengah tombak. Jadi, mustahil dapat dijangkautangan manusia. Dapat dibayangkan betapa kagetnya kakek iniketika melihat cengkeraman itu terus menjulurmenyambar dadanya. Gadis ini ternyata memiliki ilmuyang dapat memanjangkan tangan! Dan Raja PisauTerbang ini tahu, siapa pemilik ilmu itu. Ki GeringLangit! "Jurus Naga Merah Mengulur Kuku...!" teriakkakek itu dengan hati kaget bukan kepalang. Jelaslahkalau ilmu yang digunakan gadis itu adalah ilmuCakar Naga Merah! Buru-buru kakek ini menangkis serangan maut itudengan pengerahan seluruh tenaga dalam. Prattt...! Tubuh Raja Pisau Terbang terhuyung dua langkahke belakang. Sementara tubuh Melati hanyaterhuyung satu langkah. Tangannya yang tadinyamulur, langsung memendek lagi seperti sediakala. Seketika pucat wajah Raja Pisau Terbang! Dari adutenaga itu tadi sudah dapat diketahui kalau tenagadalam yang dimiliki gadis berpakaian serba putih itu,masih lebih tinggi darinya. Suatu hal yang nampaknyaamat mustahil! "Tahan...!" teriak Raja Pisau Terbang untukmencegah gadis itu menyerangnya lebih lanjut. "Adahubungan apa kau dengan Ki Gering Langit?" Seketika Melati pun menghentikan gerakannya.Sikap kakek itu membuat gadis itu jadimenghormatinya, sehingga tanpa sadar dihentikangerakannya. "Aku tidak mengenalnya!" tandas gadis itu, setelahmengerutkan alisnya sesaat. "Tidak mungkin! Bukankah jurus itu adalah Naga
  31. 31. Merah Mengulur Kuku? Salah satu jurus dari ilmuCakar Naga Merah?" desak kakek berwajah sabar inipenasaran. Melati menganggukkan kepalanya. "Memang betul apa yang kau katakan itu, OrangTua. Tapi, aku sama sekali tidak kenal terhadap orangyang kau sebutkan tadi!" "Aneh! Lalu dari mana kau mendapatkan ilmu itu?Apakah kau menemukan kitab-kitabpeninggalannya?" "Kau ini aneh, Orang Tua. Tentu saja ilmu itukupelajari dari guruku. Beliaulah yang telahmengajarkan aku...." "Siapa nama gurumu?" selak Raja Pisau Terbangcepat. Gadis berpakaian serba putih itu menggelengkankepalanya. "Ia melarangku untuk menyebutkan namanya. Jadi,terpaksa tidak dapat kuberitahukan padamu." Alis Raja Pisau Terbang nampak berkerut. Iabingung memikirkan masalah ini. Tapi yang sudahjelas, gadis itu sama sekali tidak mengenal Ki GeringLangit! "Jaga seranganku, Nisanak!" tiba-tiba Raja PisauTerbang menyambitkan beberapa buah pisauterbangnya ke arah Melati. Karuan saja serangan tiba-tiba itu membuat Melatiterkejut bukan main. Apalagi yang melepaskan adalahseorang ahli pisau, sehingga berjuluk Raja PisauTerbang. Sudah dapat diperkirakan kedahsyatanserangan pisau-pisau itu. Dewi Penyebar Maut melempar tubuhnya kebelakang, kemudian bergulingan beberapa kali ditanah. Maka semua serangan itu hanya mengenai
  32. 32. tempat kosong. Dan cepat-cepat gadis itu bangkitberdiri, tapi menjadi terlongong. Kakek itu danNingrum telah lenyap dari tempatnya semula. Melati menggertakkan giginya menahan rasageram. Secara untung-untungan dia mengejar masukke dalam hutan itu. Cukup lama juga gadis itu beradadi dalam hutan. Dan sewaktu kembali ke luar, wajahgadis itu merah padam. "Kali ini kau boleh mujur, Ningrum! Tapi, kelakapabila kita berjumpa lagi, jangan harap akansemujur ini!" Dewi Penyebar Maut itu berteriak sambilmengerahkan tenaga dalamnya, sehingga suaranyabergema ke seluruh pelosok hutan. Puas dengan ancamannya, Melati melesatmeninggalkan tempat itu. Dari mulutnya yang mungilitu terdengar suara desahan. "Dewa Arak, kau punharus bertanggung jawab atas kematian ayahku.Meskipun bukan kau yang membunuhnya, tapi jikatidak kau biarkan, Ayah tidak mungkin mati. Ya, kauharus mendapat hukuman pula. Apalagi kau tidakberniat membalas dendam atas kematiannya.Padahal, ia pamanmu sendiri..."
  33. 33. 3Seorang pemuda yang berwajah tampan, berahangkokoh, berambut putih keperak-perakan, danberpakaian berwarna ungu tengah melangkahmemasuki pintu gerbang Desa Canting. Pemuda itu berusia sekitar dua puluh tahun. Dipunggungnya tergantung sebuah guci arak yangterbuat dari perak. Dengan langkah yang tidaktergesa-gesa, pemuda itu mengayun kakinyamemasuki desa yang kelihatan sepi. Sepasangmatanya bergerak liar memperhatikan setiapbangunan yang ditemukan. Langkah pemuda yang tak lain adalah Dewa Arakatau Arya Buana ini baru terhenti ketika sepasangmatanya tertumbuk pada sebuah papan tebal, danlebar. Di situ tertulis huruf-huruf yang berbunyiPerguruan Mawar Merah. Papan tebal itu bergantungpada pintu gerbang sebuah bangunan yang dikelilingitembok cukup tinggi. Arya mengerutkan alisnya yang tebal. Adaperasaan curiga yang timbul di hati ketika melihatkeadaan papan nama perguruan yang begitu kumuh,dan tak terurus. Bahkan huruf-huruf yang membentuknama Perguruan Mawar Merah itu pun sudah banyakyang terkelupas. "Kalau tidak salah, inilah yang dimaksud PamanLindu itu," gumam Arya pelan. Sebelum tewas, Raja Racun Pencabut Nyawamemang sempat memberitahu Ular Hitam tentang
  34. 34. keberadaan ibu kandung Arya Buana (Untuk jelasnya,silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "PedangBintang"). Dan berdasarkan pesan itulah, pemudaberpakaian ungu ini memasuki Desa Canting danmencari Perguruan Mawar Merah. Beberapa saat lamanya Dewa Arak termenung didepan pintu gerbang perguruan itu. Sedikit pun tidakada suara yang terdengar dari dalam. Sepi sekali. Daricelah pintu gerbang yang tidak tertutup rapat itu,pemuda berambut putih keperakan ini mengintai kedalam. Tetap sepi. Perasaan curiga dan penasaranmemaksa Arya melangkahkan kakinya memasukipintu gerbang itu. Tapi, baru beberapa langkah kakinya melewatiambang pintu, terdengar sebuah teguran halus. "Apa yang kau cari, Anak Muda?" Arya menoleh ke arah asal suara itu. Tampakseorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun,berjalan menghampirinya. Tubuhnya kecil dan kurus,sehingga membuatnya terlihat lebih tua. "Betulkah ini Perguruan Mawah Merah, Nyi?" tanyaArya Buana sopan. "Betul," wanita itu menganggukkan kepalanya."Kau siapa, Anak Muda?" "Aku Arya Buana, Nyi. Orang-orang biasamemanggil Arya. Lalu, kalau boleh tahu, siapanamamu, Nyi?" "Aku? Panggil saja Nyi Parti," jawab nenek itumemperkenalkan diri. "Ada urusan apa kau ke sini,Nak Arya?" Pemuda berambut putih keperakan ini termenungsejenak. "Betulkah ini Perguruan Mawar Merah, Nyi?" tanyaArya ingin memastikan.
  35. 35. "Betul," Nyi Parti menganggukkan kepalanya, tapihatinya heran. Memang pertanyaan itu sudahdijawabnya tadi. Arya memperhatikan sekelilingnya sekilas. Keragu-raguan nampak terbayang pada wajahnya. "Mengapa begitu sepi, Nyi?" Wanita yang bernama Nyi Parti itu menghelanapas. "Sudah bertahun-tahun perguruan ini bubar, AnakMuda. Yahhh..., sejak pemimpin kami diculik orang." "Diculik?!" Sepasang mata Arya terbelalak.Perasaan tidak enak seketika menjalari hatinya.Pemimpin Perguruan Mawar Merah diculik! Bukankahmenurut penururan Raja Racun Pencabut Nyawasebelum meninggal, Ketua Perguruan Mawar Merahadalah ibunya? Jadi ibunya.... Tidak berani pemudaberpakaian ungu ini melanjutkan dugaannya. "Ya, diculik. Oleh seorang datuk sesat...." "Bukankah Ketua Perguruan Mawar Merah adalahNyi Sani?" tanya Arya memastikan. "Memang. Padahal Nyi Sani memiliki ilmukepandaian tinggi, akan tetapi tidak berdaya jugamenghadapi lawannya..." Lemaslah tubuh Arya. Benar. Ibunya telah diculikorang yang disebut datuk kaum sesat oleh Nyi Parti.Datuk kaum sesat? Arya terlonjak bagai disengatkalajengking. Datuk kaum sesat hanya ada dua. UlarHitam dan Bargola. Tidak mungkin kalau Ular Hitamyang melakukannya. Jadi, tinggal satu tertuduh lagi.Bargola! "Tadi, Nyi Parti katakan I..., eh! Nyi Sani diculikdatuk kaum sesat. Bagaimana ciri-cirinya, Nyi?" tanyaArya. Beberapa saat lamanya, kening Nyi Parti berkerut.
  36. 36. Tampaknya tengah berpikir keras. "Penculik itu bertubuh tinggi besar. Dan berkulithitam legam. Di telinga kirinya terdapat sebuahanting, anting yang berukuran sebesar gelang danberwarna putih." "Bargola...," desis Arya Buana pelan. Tiba-tiba Nyi Parti terlonjak. "Ya. Nama itu pula yang diucapkan Den Lindu.Beberapa waktu yang lalu, Den Lindu bersamatemannya yang selalu berselubung putih itu jugamencari-cari ke mana Bargola membawa Nyi Sani." "Ketemu?" Arya tiba-tiba merasa bodohmengajukan pertanyaan itu. "Tidak!" "Sudah lamakah kejadian itu, Nyi?" tanya Arya lagi. Kembali Nyi Parti mengerutkan keningnya.Rupanya begitulah yang dilakukan kalau sedangmengingat-ingat. "Kalau tidak salah..., sudah empat belas tahun!" "Empat belas tahun!" pemuda berambut putihkeperakan ini terpekik kaget. Apakah dalam waktuyang selama itu ibunya masih hidup? Perasaan ragu-ragu yang hebat melanda hari Arya Buana. Tetapihidup atau mati, harus ditemuinya. Paling tidak, jikaibunya sudah meninggal, harus ditemukankuburannya! Setelah mengambil keputusan begitu, Arya segeramelesat meninggalkan tempat itu, setelah terlebihdulu berpamit pada Nyi Parti. Nyi Parti memandangi kepergian pemudaberambut putih keperakan itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sampai bayangan tubuhpemuda itu lenyap ditelan jalan, dia masih terpaku disitu.
  37. 37. *** Arya bergerak cepat meninggalkan PerguruanMawar Merah dengan perasaan resah. Ke manaharus mencari Bargola? Mencari seseorang di duniayang luas ini laksana mencari sebuah jarum ditumpukan jerami! Apalagi, tokoh ini sudah terlalulama tidak terdengar beritanya. Jelas kalau datuk itutelah mengasingkan diri. Hanya ada satu patokan yang bisa dijadikanpegangan Dewa Arak ini. Bargola adalah datuk yangmerajai daerah Timur. Jadi, kemungkinan besar tetapberada di wilayah kekqasaannya. Tapi wilayah Timursangat luas. Apalagi, jangan-jangan dia telahmenyepi. Perasaan putus asa mulai merayapi hariArya Buana. Ke mana ia harus mencari datuk itu? Plakkk! Arya menepak kepalanya sendiri. Betapa bodohnyaia! Mengapa bingung-bingung? Bukankah di antaradua datuk, hanya Bargola yang mempunyaiperguruan? Mengapa harus pusing-pusing? Ya,datangi saja perguruan itu! Wajah pemuda berambut putih keperakan ini punkembali cerah. Dengan langkah penuh semangat,kembali dilanjutkan pencariannya. Beberapa hari kemudian, pemuda ini sudahsampai pada sebuah desa yang termasuk dalamwilayah Timur. Rasa lelah yang menyerang keduakaki, membuatnya memutuskan untuk beristirahat.Pandangan mata Arya liar mengawasi sekelilingnya.Dan senyumnya pun melebar ketika menemukan apayang dicari. Dengan langkah lebar, dihampirinya sebuah pohon
  38. 38. yang cukup besar. Dan... "Hup!" Sekali mengenjotkan kaki, tubuh Dewa Arak inimelayang ke atas dan hinggap ringan pada sebuahcabang besar. Diambilnya guci yang bertengger dipunggung, kemudian digantungkan pada sebuahranting. Baru setelah itu dibaringkan tubuhnya. Tanpa sengaja pandangan mata Arya menerawangjauh ke arah rumah-rumah penduduk yang berada didepannya. Dan seketika matanya yang sudah merem-melek itu membelalak lebar. Dari ketinggian di atas cabang pohon itu, pemudaini melihat asap tebal dan hitam yang membumbungtinggi. Sekali lihat saja Arya tahu kalau asap ituberasal dari rumah yang terbakar. Dan tidak hanyasatu buah! Jelas, ada kejanggalan di sini! Naluri Dewa Arak sebagai seorang pendekarlangsung bangkit. Lenyap seketika rasa lelahnya.Segera disambarnya guci arak yang baru sajadigantungkan di ranting pohon, lalu diikatkan lagi kepunggungnya. Bergegas pemuda itu melompat turun. Ringan sekali kedua kaki Dewa Arak hinggap ditanah, sehingga tak terdengar suara sedikit pun.Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnyamelesat ke arah asap itu berasal. Berkat ilmu meringankan tubuh yang memangsudah mencapai taraf kesempurnaan, Arya tidakmembutuhkan waktu yang terlalu lama untuk tiba ditempat asal api itu. Seperti yang diduga Arya, api itu memang tidakwajar. Di depan rumah yang terbakar itu, tampaktengah terjadi pertempuran yang tidak seimbang. Arya memperhatikan orang-orang yang bertempuritu sejenak. Tampak seorang yang bertubuh bagai
  39. 39. raksasa, berwajah kasar, dan memakai kalung ber-matakan tengkorak kepala bayi, tengah dikeroyokbelasan orang bersenjata. Melihat senjata yangmereka gunakan, Dewa Arak itu dapat mendugakalau para pengeroyok itu adalah penduduk desayang rata-rata tidak memiliki ilmu olah kanuragan. Si tinggi besar yang tidak lain dari Raksasa KulitBaja ini tertawa-tawa. Dibiarkan saja hujan senjatamenghantam tubuhnya. Dan setiap senjata yangmengenai tubuh raksasa ini, selalu terpental balik. Sebaliknya, setiap Raksasa Kulit Baja inimelakukan serangan balasan, sudah dapatdipastikan ada satu tubuh yang tumbang. Beberapadi antaranya, dengan tulang tangan atau kaki patah.Malah ada pula yang menyemburkan darah darimulut. Sekali lihat saja Arya tahu, jika hal ini terusdibiarkan, tidak akan ada lagi penduduk yang berdiritegak. Jiwa kependekaran pemuda berarnbut putihkeperak-perakan ini bangkit. Apalagi si tinggi besar inijuga bertangan telengas. Setiap kali melakukanserangan, selalu menimbulkan akibat yang parah bagipara pengeroyoknya. "Manusia keji! Akulah lawanmu!" Sambil berkatademikian, Arya bergerak memasuki kancahpertempuran. Langsung saja dikirimkan sebuahserangan berupa tepakan ke arah hahu Raksasa KulitBaja ini. Dewa Arak yang memang tidak pernahmenurunkan tangan maut kalau tidak terpaksa sekali,sengaja mengarahkan serangan ke arah bagian tubuhyang tidak berbahaya. Pemuda ini memang tahukalau lawannya memiliki ilmu kebal, sehingga tidaksungkan-sungkan lagi mengerahkan separuh daritenaga dalamnya.
  40. 40. Plakkk! Arya Buana terperanjat kaget. Tepakan tangannyaseolah-olah bukan menghantam tubuh manusia,melainkan seperti menghantam gumpalan karetkeras yang membuat tenaganya berbalik! "Hebat...," puji Dewa Arak dalam hati. Sementara itu, Raksasa Kulit Baja juga dilandakekagetan serupa. Walaupun tepakan tangan Aryatidak membuatnya kesakitan atau terluka dalam, tapikarena kuatnya tenaga dalam lawan, tubuhnya takurung terhuyung-huyung dua langkah ke belakang. "Menyingkirlah, Kisanak semua!" perintah Aryapada para penduduk yang masih berdiri di situ. "Tapi.... Orang ini sangat berbahaya, Kisanak,"bantah salah seorang penduduk, memberitahupemuda berambut putih keperak-perakan didepannya. "Saya akan mencoba menjauhkan dia dari desa ini,Paman," jawab Arya merendah, sambil tersenyumtipis. "Tapi...." "Sudahlah, Paman. Lebih baik, padamkanlah apiyang membakar rumah itu sebelum seluruh desa inimusnah dilalap api!" Ucapan itu menyadarkan para penduduk desaakan ancaman bahaya lain. Kontan mereka serentakmeninggalkan arena pertarungan. "Groahhh..!" tiba-tiba saja Raksasa Kulit Baja itumenggeram hebat. Sejak tadi ia memang menatapArya seperti orang terkesima. Keningnya berkerut,seperti sedang mengingat sesuatu. "Jahanam! Kaukah yang berjuluk Dewa Arak itu?!"tanya manusia tinggi besar itu dengan suara keras.Sepasang matanya memerah karena amarah yang
  41. 41. meluap-luap. Belum lagi Arya memberikan tanggapan, RaksasaKulit Baja itu telah menyelak lagi. "Ya. Kau pasti DewaArak itu. Pakaianmu, rambutmu, dan juga guci arak dipunggungmu! Grrrhhh...! Kau harus mati di tanganku,keparat!" "Tunggu...!" cegah Arya begitu melihat manusiaraksasa itu akan menyerangnya. "Siapa kau? Danmengapa ingin membunuhku?! Padahal kita bertemupun baru kali ini?" "Groahhh...!" dengus Raksasa Kulit Bajamenggeram. "Baiklah! Agar tidak mati penasaran, akankuberitahu padamu, keparat! Aku, Raksasa Kulit Baja.Saudara angkat Harimau Mata Satu yang telah kaubunuh! Dan aku membakar rumah itu, karena orang-orang keparat itu tidak mau memberitahu di manadirimu. Sungguh tidak kusangka kalau kau datangsendiri mencari mati. Orang lain boleh takut padamu.Tapi, jangan harap kau akan mampu menghadapiku!" Arya manggut-manggut. Disadari kalau tidakmungkin lagi menghindari pertempuran. RaksasaKulit Baja tidak mungkin akan menghabiskanpersoalan sebelum salah satu di antara merekatewas. Tentu saja pemuda berambut putih keperak-perakan ini tidak ingin mati. Masih banyak tugas yangbelum diselesaikan. "Mampuslah kau, keparat!" teriak Raksasa KulitBaja disertai suara mengguntur seraya menyerangdengan sebuah pukulan ke arah dada Dewa Arak. Angin keras bertiup mengawali serangan itu. Darisini saja Dewa Arak dapat menilai kekuatan yangterkandung dalam serangan itu. Hanya saja gerakanitu terlalu lambat.
  42. 42. Dewa Arak mencondongkan tubuhnya ke kanansehingga serangan itu lewat di depan dadanya. Dancepat bagai kilat kaki kanannya terayun deras ke arahperut lawan. Tukkk...! Tendangan cepat yang dilakukan Dewa Arak tidakmampu dielakkan Raksasa Kulit Baja yang memilikigerakan terlampau lambat. Dengan telak tendanganitu mengenai perutnya. Tapi lagi-lagi tendangan Dewa Arak tidakmenghasilkan apa-apa. Tubuh manusia raksasa ituhanya terhuyung dua langkah ke belakang. Kini iakembali menerjang dengan serangan-serangan buasdan brutal. Sadarlah Arya kalau lawannya ini benar-benarmemiliki kekebalan tubuh. Pemuda itu kini tidak ragu-ragu lagi untuk menyarangkan serangan padasasaran-sasaran yang berbahaya dan bertenagadalam penuh. Hanya saja, Dewa Arak ini masih belumingin menggunakan ilmu andalannya. Untukmenghadapi Raksasa Kulit Baja ini, hanya digunakanilmu warisan ayahnya saja. Beberapa jurus telah berlalu. Dan entah sudahberapa kali serangan Dewa Arak mendarat diberbagai bagian tubuh Raksasa Kulit Baja. Namun taknampak tanda tanda sedikit pun kalau serangan Aryaitu dirasakannya. Diam-diam pemuda berpakaian ungu ini terkejutbukan kepalang melihat kekuatan tubuh lawannya ini.Sepanjang pengetahuannya, kekebalan hanya dapatdimiliki oleh orang yang telah memiliki tenaga dalamtinggi, misalnya Dewa Arak sendiri. Itu pun hanyaterbatas pada bagian-bagian yang tidak berbahayasaja. Tapi kekebalan yang dimiliki Raksasa Kulit Baja
  43. 43. ini sungguh aneh. Padahal si manusia raksasa initidak memiliki tenaga dalam, tapi hanya memilikitenaga luar yang besar. Dewa Arak segera sadar kalau Raksasa Kulit Bajaini mendapatkan ilmu kekebalan tubuh lewat carayang tidak wajar. Ular Hitam pernah menceritakankepadanya tentang berbagai macam ilmu yangterdapat di dunia persilatan. Sebagai seorang yang telah lama malang-melintang dalam rimba persilatan, tentu saja UlarHitam memiliki pengetahuan luas. Pengalamannyayang sudah ratusan kali bertempur menghadapilawan. Ular Hitam mengatakan kalau kekebalan bisadidapat dengan dua cara. Dengan meningkatkantenaga dalam, dan dengan mempelajari ilmu hitam.Dari sini Arya menduga bahwa orang macam RaksasaKulit Baja pasti mendapatkannya dari ilmu hitam. Tak terasa dua puluh jurus telah berlalu. Danpertarungan antara kedua orang itu telah bergeserjauh dari tempat semula. Itu memang disengaja DewaArak, karena ingin menghindari dari kejadian-kejadianyang tidak diinginkan. Plakkk! Kibasan kaki Dewa Arak yang dilakukan sambilberputar itu telak menghantam pelipis Raksasa KulitBaja. Kibasan yang disertai pengerahan tenagasepenuhnya itu membuat tubuh lawannya terlempar,melayang sejauh beberapa tombak. Kemudian tubuhbesar itu jatuh, dan terguling guling di tanah. Tapi lagi-lagi, Raksasa Kulit Baja kembali bangkittanpa kurang suatu apa pun. "Gila...!" teriak Arya putus asa. Pemuda berambutputih keperak-perakan ini jadi hilang kesabarannya.Dengan perasaan geram bercampur bingung, diambil
  44. 44. guci araknya. Gluk... gluk... gluk.... Terdengar suara berceglukan ketika arak itumemasuki tenggorokan. Arya mengusap mulutnyadengan punggung tangan, lalu disimpan lagi guciaraknya di punggung. Tak berapa lama kemudian, tubuhnya pun mulaisempoyongan. Pemuda berbaju ungu ini terpaksamenggunakan jurus Belalang Mabuk-nya. "Haaat...!" Raksasa Kulit Baja melolos senjatanya.Tampak sebuah rantai baja berujung mata arit tajamberkilat, yang sejak tadi melilit pinggang, kiniberputar-putar mencari mangsa. Wukkk... wukkk... wukkk...! Seketika disabetkan rantai baja itu ke arah kepalaDewa Arak. Singgg. .! Suara mendesing nyaring terdengar ketika rantaibaja itu menyambar ke arah kepala Arya. Tubuh pemuda berambut putih keperak-perakanyang semula sempoyongan itu, mendadak berubahkokoh. Dan secepat posisi tubuh itu berubah, secepatitu pula tubuh Dewa Arak melayang ke arah RaksasaKulit Baja. Kedua tangannya bergerak persis sepertiseekor belalang yang tengah mempermainkan kaki-kakinya. Prattt...! Pralll. .! Rantai baja yang menyambar kepala itu tertangkistangan Arya, dan kontan putus berantakan! Belum lagi, Raksasa Kulit Baja berbuat sesuatu,tubuh Arya telah berada di mukanya. Dan... Prattt! Prattt! Desss. ! Bertubi-tubi dan hampir bersamaan, tiga buah
  45. 45. serangan Dewa Arak mendarat telak pada sasaran.Kedua tangannya menghantam pelipis dan ubun-ubun. Disusul kedua kakinya menggedor dada.Kelihatannya itu adalah serangan maut! Jangankan ketiga-tiganya. Satu saja serangan ituditerima seorang seperti datuk sesat sekalipun,cukup membuat orang itu pergi ke alam kubur! Kiniketiga tiganya diterima sekaligus oleh Raksasa KulitBaja! Tanpa ampun lagi, tubuh Raksasa Kulit Bajaterlempar jauh, tidak kurang dari delapan tombak!Luncuran tubuhnya baru berhenti ketika menabraksebuah pohon besar hingga tumbang, menimbulkansuara gemuruh. Bahkan pohon itu juga menimpatubuh Raksasa Kulit Baja yang tergolek di bawahnya. Arya menghentikan gerakannya. Dengan posisikaki tidak tetap, dia masih bergerak sempoyongan.Kedua tangannya terus bergerak-gerak liar di depandada. Beberapa saat lamanya pemuda berambut putihkeperakan ini menunggu. Sepertinya tidak ada tanda-tanda kalau lawannya yang luar biasa itu akanbangkit kembali. Lalu Arya pun membalikkan tubuhnya untukmeninggalkan tempat itu, walaupun langkahnyasempoyongan. Tapi tiba-tiba saja terdengar suararibut-ribut dari arah belakangnya. Segera Aryamenoleh. Terbelalaklah sepasang matanya yangsudah sayu itu ketika melihat pemandangan dibelakangnya. Tampak batang pohon itu bergerak-gerak,kemudian tiba-tiba terangkat dan terlempar kearahnya. Suara yang ditimbulkan begitu bergemuruh.
  46. 46. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Dewa Araksegera mendorongkan kedua telapak tangannya kedepan, mengirimkan pukulan jarak jauh. Wuttt...! Brakkk...! Batang pohon itu hancur berkeping-kepingsebelum mengenai Arya. Bahkan daun-daunnyalangsung mengering layu. Arya Buana menatap sosok tubuh yang kini bangkitdari tindihan pohon tadi. Siapa lagi kalau bukansosok Raksasa Kulit Baja. Seketika sepasang mataDewa Arak membelalak. Ternyata manusia raksasaitu tidak terluka sama sekali! "Ilmu iblis!" desah Arya, antara takjub dan ngeri. "Ha ha ha...! Keluarkan semua ilmumu, dewakeparat!" Raksasa Kulit Baja tertawa pongah."Sekarang kau baru tahu kehebatan ilmu TamengWajaku! Kalau saja ilmu ini sudah kumiliki sejak dulu,mungkin akulah yang akan menjadi raja kaum sesat!Ha ha ha...!" Dewa Arak menarik napas dalam-dalam.Dikumpulkannya segenap tenaganya. Kemudian... "Hiyaaa...!" Arya Buana berteriak keras, kemudianmendorongkan kedua tangannya ke depan. Wuttt...! Angin panas berhembus keras menyambar tubuhRaksasa Kulit Baja yang tengah melangkahmenghampirinya. Bresss...! Pukulan jarak jauh yang dilepaskan pemudaberambut putih keperakan itu telak menghantamdada saudara angkat Harimau Mata Satu. Akibatnya hebat sekali! Tubuh Raksasa Kulit Bajamelayang jauh bagai dihempas angin ribut, dan jatuhbelasan tombak dari tempat semula.
  47. 47. "Iblis!" pekik Arya ketika melihat lawannya itubangkit kembali. Sungguh tidak ada tanda-tanda sedikit pun kalautokoh itu terpengaruh pukulan yang merupakanusaha terakhir Dewa Arak. Hanya satu yangmembuktikan kalau pukulan Arya tepat menghantamsasaran. Pakaian Raksasa Kulit Baja itu hangus, danpelahan-lahan hancur berkeping-keping ketika anginmeniupnya. Dan kini, si tinggi besar ini jadi telanjangbulat! "Keparat!" Raksasa Kulit Baja berteriak memaki. "Kali ini kau mujur, Dewa Arak! Tapi, jangan haraplain kali akan seberuntung ini!" Setelah berkata demikian, Raksasa Kulit Bajamelesat kabur dari situ. Dia merasa malumelanjutkan pertarungan tanpa penutup tubuh. Arya menghela napas lega. Pemuda berambutputih keperakan ini merasa lelah bukan main.Sungguh bingung memikirkan bagaimana caranyamenghadapi Raksasa Kulit Baja itu. Dengan langkahlunglai, diayunkan kakinya melanjutkan perjalananmencari jejak Bargola.
  48. 48. 4Siang ini udara begitu panas. Matahari menyengatkulit sejuruh makhluk yang ada di permukaan maya-pada ini. Demikian pula dengan Arya Buana. Pemudaitu tengah mempercepat langkahnya ketika beberapatombak di depannya membentang sebuah sungai.Ingin rasanya segera mandi atau setidak-tidaknyamembasuh muka untuk menyegarkan diri. Sekujurtubuhnya dirasakan penat dan lengket akibatpertarung-annya melawan Raksasa Kulit Baja. Apalagiudara demikian panasnya. Pertarungannya yang alot tadi benar-benarmembuat tenaga Dewa Arak terkuras. Tetapi diam-diam pemuda itu mengakui kehebatan ilmu TamengWaja milik Raksasa Kulit Baja. Bahkanpertarungannya melawan Siluman Tengkorak Putihseperti tidak berarti apa-apa bila dibandingkandengan manusia yang tubuhnya bagai raksasa itu. "Hhh...!" Arya menghela napas berat. Dia memang baru menyadari kalau kepandaianyang tinggi tidak menjamin kemenangan dalam suatupertarungan. Ternyata pengalaman dan pengetahuanluas juga tidak kalah pentingnya. Dan ini telahdialaminya sendiri. Pemuda berbaju ungu ini yakin, masih banyak lagihal baru yang akan dijumpai dalam petualangannya. Ia memang belum berpengalaman, sehinggabanyak hal yang tidak diketahuinya. Berbeda denganUlar Hitam. Pembimbing Dewa Arak itu banyak
  49. 49. pengalaman dalam dunia persilatan. Mungkin kalauUlar Hitam yang menghadapi, Raksasa Kulit Bajabelum tentu akan mampu menandingi. Arya terus menyusuri sepanjang sungai itu. Melihatbetapa jernihnya air itu, maka dia berniat mandiuntuk menyegarkan tubuh. Tentu saja untuk itu,harus dicari tempat yang tersembunyi sehingga tidakdapat dilihat orang. Hampir saja pemuda itu bersorak ketika melihatada tempat tersembunyi, yang terletak di kelokansungai. Rerimbunan semak dan pepohonan, rapatmenutupinya. Bergegas Dewa Arak menghampiri tempat itu.Ketika rerimbunan semak-semak dan pepohonandisibak, mendadak wajah Arya memerah. Ternyata didalam sungai itu ada seorang wanita yang tengahmandi! Memang, hanya rambutnya saja yang terlihat,tapi cukup membuat pemuda ini memerah wajahnya.Tubuh wanita itu terlindung sebuah baru besar yangdatar, dan tengah menundukkan kepalanya. Rupanya bunyi semak-semak dan pepohonan yangtersibak tangan Arya cukup keras. Terbukti wanita itumendongakkan kepalanya, memandang ke arahsuara itu berasal. Sesaat lamanya sepasang matawanita itu terbelalak. Keterkejutan yang amat sangatnampak pada wajahnya. "Manusia kurang ajar!" teriak wanita itu kerasseraya lebih menyembunyikan tubuhnya ke dalam air. Kontan wajah Arya kian memerah. "Celaka! Bisa-bisa aku dituduh sebagai lelakihidung belang yang hendak mengintip wanita mandi!"ujar Dewa Arak dalam hati. Pemuda berambut putih keperakan itu langsungmembatalkan niatnya untuk mandi, dan buru-buru
  50. 50. berlalu dari situ dengan wajah memerah. Jantungdalam dadanya berdetak keras. Ada perasaan anehmenyelinap ketika sekilas melihat wajah yangmemandang kepadanya dengan terbelalak itu. Wajah itu demikian cantik. Belum pernah Aryamelihat wajah secantik itu. Ada sesuatu yang terselipdalam dadanya ketika melihat wajah itu. Sesuatuyang belum pernah dirasakan ketika melihat wanita-wanita cantik lainnya. Pemuda berbaju ungu ini meninggalkan tempat itudengan perasaan berat. Seketika ada sesuatu yanghilang dan dalam rongga dadanya. Hal ini membuatArya merasa bingung sendiri. Apa yang terjadi padadirinya? Baru kali ini Arya mengalami hal seperti itu.Dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tanpa sadar Arya menghentikan larinya.Ditolehkan kepalanya ke arah tempat yang baru sajaditinggalkan. Ada dorongan kuat yang seolah-olahmembetot kedua kakinya untuk kembali ke sana. Selagi Dewa Arak ini dilanda perasaan bimbang,tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebatmendekatinya. Cepat sekali gerakan bayangan itu,sehingga dalam sekejap saja telah berdiri didepannya. Arya menatap sosok bayangan putih dihadapannya, yang ternyata seorang wanita berwajahsangat cantik. Beberapa saat lamanya pemudaberambut putih keperak-perakan ini terkesima, tapimendadak tersentak kaget. Memang! Wajah wanita didepannya adalah wanita yang tadi tengah mandi! "Mau lari ke mana kau, manusia kurang ajar?!"tanya gadis yang berpakaian serba putih itu sinis.Mulutnya menyunggingkan senyum mengejek."Manusia semacam kau tidak pantas dibiarkan
  51. 51. hidup!" Kontan wajah Arya memerah. "Ini..., eh anu ... Kau salah paham, Nini. Nggg...sungguh! Aku... aku tidak bermaksud begitu....Sungguh!" dengan gugup pemuda ini mencobamenerangkan yang sebenarnya. "Pengecut!" desis sosok serba putih itu. Walaupun wanita itu mendamprat, namun takurung memperhatikan Arya sekilas. Diam-diam dipujikegagahan pemuda berambut putih keperakan yangada di depannya ini. Dan memang ada perasaan anehyang mencuat dari dalam dadanya ketika menatapwajah pemuda ini. Dan perasaannya ini pula yangtelah mencegahnya untuk menurunkan tangan mautpada pemuda di hadapannya. Gadis yang berpakaian serba putih ini ternyataMelati. Kalau saja tidak terpengaruh perasaan anehyang menjalari hatinya, pasti ia akan tahu kalaupemuda berambut putih keperakan ini adalah orangyang dicari-carinya untuk diberikan hukuman! AryaBuana, si Dewa Arak yang juga keponakan ayahnya! Merah padam wajah Arya dimaki seperti itu. Kalausaja bukan gadis ini yang mengatakan demikian,mungkin sudah turun tangan menghajarnya. Pantangbaginya dimaki seperti itu. Sementara itu, si gadis setelah memaki Aryasegera melesat kabur dari situ. Tercekat hati DewaArak melihat kecepatan gerak gadis itu. Dan inidipujinya dalam hati. Mata pemuda itu terus menatappunggung gadis yang habis memakinya hingga lenyapdi kejauhan. "Huh...!" Arya mendesah pelan, mencoba mengusirperasaan aneh yang tiba-tiba menyerang. Rasanyaseperti ada sesuatu yang hilang dari dada, seiring
  52. 52. dengan perginya gadis berpakaian putih itu. *** Arya memasuki sebuah kedai dengan langkahlunglai. Memang, sejak pertemuannya dengan gadisyang ditemuinya di sungai, Arya jadi sering merasalesu. Bahkan jadi sering melamun. Kadang-kadangtersenyum sendiri, bila teringat pada raut wajah gadisitu sewaktu dipergoki tengah mandi di sungai. Tapi dilain saat, wajah pemuda berambut keperakan inimenjadi murung, mengingat betapa gadis itu sepertijadi membencinya karena persoalan itu. "Hhh...!" desah Arya pelan. Pemuda itu menghenyakkan tubuhnya di salahsatu kursi dalam kedai. Sering dicobanya untukmengusir bayangan gadis itu dari pelupuk matanya,tapi tidak mampu. Selalu terbayang kembali dibenaknya, senyum sinis gadis itu. Juga,keterkejutannya sewaktu dipergokinya tengah mandi.Apalagi sikapnya yang begitu dingin. Dan anehnya,semua tingkah laku itu di matanya sangat menarik. "Mau pesan apa, Tuan?" sebuah suara, pelan dansopan menyadarkan Arya dari lamunan. Dengansuara agak gagap, disebutkan pesanannya. Danpemilik kedai itu pun bergegas masuk ke dalam untukmenyiapkan pesanan pemuda berbaju ungu itu. "Ha ha ha...!" tiba-tiba terdengar tawa terbahak-bahak dari meja yang terletak di sebelah kiri Arya. Dengan sudut mata, Arya melirik ke arah asalsuara itu. Dilihatnya tiga orang laki-laki kasar tengahtertawa-tawa. Dengan lagak memuakkan, merekamemandang ke satu arah. Sambil lalu Arya mengikuti arah pandangan ketiga
  53. 53. orang kasar itu. Kontan sepasang matanya terbelalak.Jantung dalam dadanya berdebar kencang. Betapatidak? Di sebuah meja di sudut sana duduk tenangsesosok tubuh yang selama ini mengganggupikirannya. Jadi, rupanya orang-orang kasar itu tengahmengganggu gadis itu Perasaan tegang melandahatinya. Dan ini disadari Arya. Diam-diam pemuda itumerasa heran, karena tidak pernah merasa tegangseperti ini walaupun keadaan yang dihadapi begitugawat. Tapi sekarang? Salah seorang dari tiga laki-laki kasar itu tiba-tibabangkit dari kursinya. Sambil tertawa-tawadihampirinya meja gadis berpakaian serba putih, yangternyata Melati. Jantung dalam dada Arya kian keras berdetak.Perasaan pemuda ini tegang bukan main. Seluruhurat syaraf di tubuhnya menegang, untuk bersiap-siapmenghadapi segala kemungkinan. Sungguh bertolakbelakang keadaan pemuda ini dengan keadaanMelati. Gadis itu nampak tenang-tenang sajamenikmati makanannya. Perasaan tegang yang melanda Dewa Arakmemaksanya meraih guci arak yang sejak tadi sudahdiletakkan di atas meja. Gluk... gluk... gluk.... Suara tegukan terdengar ketika arak itu memasukitenggorokan. Sesaat kemudian hawa arak yanghangat menyerbu, membuat perasaan tegangnyaberkurang. Suara tegukan yang timbul sewaktu Arya meminumarak, rupanya terdengar tiga orang kasar itu. Terbuktiketiganya menoleh ke arah asal suara itu. Dan ketikapandangan mereka tertumbuk pada sesosok tubuh
  54. 54. yang mengeluarkan suara tegukan itu, kontan wajahmereka memucat. "De..., Dewa Arak?!" desis mereka dengan suarabergetar. Tentu saja mereka telah mendengar beritayang menggemparkan tentang tokoh aneh ini, yangdalam pemunculannya telah membuat duniapersilatan gempar. Sebenarnya mereka tadi juga telah melihat Arya.Tapi karena tengah terpusat pada gadis berpakaianserba putih, mereka tidak teringat akan tokoh itu.Baru setelah pemuda berambut putih keperak-perakan itu mengeluarkan suara tegukan yang keluardari mulutnya, mereka semua tersadar. Ketiga pasang mata milik orang-orang kasar ituberputar liar, mencari jalan untuk kabur. Begitu adakesempatan, bergegas mereka bergerak salingmendahului untuk melarikan diri. Sedangkan Aryasama sekali tidak mengejar, dan dibiarkan saja ketigaorang kasar itu melarikan diri. Tetapi baru saja Dewa Arak hendak menikmatiaraknya kembali, terdengar bunyi kursi tarseret.Sebentar kemudian disusul suara langkah kakimendekati mejanya. Arya mengangkat kepalanya, dantampaklah gadis berpakaian serba putih itu telahberdiri di hadapannya. Pandangan matanya begitumenusuk. "Kau yang berjuluk Dewa Arak?!" tanya Melatidengan suara merdu. Dan sebenarnya diam-diam gadis ini merasa heranterhadap kelakuannya kali ini. Tidak biasanya iabersikap seperti ini jika berhadapan dengan orangyang diduga sebagai musuh. Biasanya, Melati selalumengharapkan anggukan kepala dari orang yangditanya. Namun kali ini, gadis itu berharap agar
  55. 55. pemuda itu menggelengkan kepalanya. Betapa kecewanya hati gadis itu ketika dilihatnyaArya menganggukkan kepalanya. "Namamu Arya Buana?" tanya Melati lagi. Kembali Arya menganggukkan kepalanya."Begitulah nama yang diberikan orang tuaku, Nini..." "Kalau begitu, bersiaplah kau, Dewa Arak...!" teriakMelati dengan suara yang diusahakan keras. Beratrasanya bersikap kasar terhadap pemuda dihadapannya ini. Tapi, hal itu mau tidak mau harusdilakukannya. Tidak mungkin sumpahnya sendiridikhianati. Srattt! Dicabut pedangnya, dan ditodongkan ke dadaArya. "Keluarkan senjatamu, Dewa Arak! Atau kau lebihsuka mati sia-sia di tanganku!" teriak Melati yangdijuluki Dewi Penyebar Maut itu. Namun demikian,suaranya terdengar agak gemetar. Bukan karenaperasaan marah, tapi karena harus berperangmelawan perasaannya sendiri. Tak heran kalau diamencabut pedang, karena untuk lebih menguatkanhatinya. "Nini," ucap Arya sambil menengadahkan kepala. Sesaat tak ada suara yang keluar dari mulutpemuda itu. Dia hanya menatap wajah cantik yangberdiri di depannya. Pandangan matanya sayu.Memang pemuda ini merasa terpukul melihat gadisyang dikagumi ini nampak membencinya. Dansekarang bahkan memusuhinya. "Bukankah telah kukatakan padamu, kalauperistiwa itu terjadi tidak sengaja. Aku...." "Aku tidak meributkan masalah itu lagi!" potongMelati cepat. Wajahnya seketika menyemburat
  56. 56. merah. "Lalu masalah apa, Nini? Rasanya baru dua kalikita bertemu. Dan sepengetahuanku, belum pernahaku berbuat salah pada Nini. Kecuali peristiwa disungai itu...," sahut pemuda ini setelah termenungbeberapa saat lamanya. "Kau memang tidak salah padaku, Dewa Arak.Tapi, pada ayahku kau mempunyai kesalahan besar." Tercekat hati Arya Buana mendengar ucapan gadisitu. "Ayahmu? Siapa ayahmu?" Melati menghela napas berat. Digertakkan giginyauntuk lebih menguatkan hati. "Raja Racun Pencabut Nyawa..." Pelan dan lambat-lambat gadis itu mengucapkankata-katanya. Tapi, akibatnya tidak demikian bagiArya. "Apa?!" Arya terlonjak kaget. Bangku yangdidudukinya hancur berantakan karena getarantenaga dalam yang menghambur dari tubuhnya. "Siapa nama ayahmu, Nini...?" pemuda berambutputih keperakan ini mengulangi pertanyaannyadengan suara gemetar. "Raja Racun Pencabut Nyawa!" ulang Melati. Kaliini suaranya lebih keras. "Tidak mungkin!" teriak Arya lantang. Benda-bendayang terletak di atas meja, bergetaran keras. Jelas, iniakibat pengaruh teriakan pemuda itu yangmengandung tenaga dalam dahsyat. "Paman Lindu tidak punya anak!" Melati sama sekali tidak mengacuhkan bantahanArya. Sambil meletakkan tangan kirinya di pinggang,tangan kanannya yang menggenggam pedangmenuding wajah pemuda berpakaian ungu ini.
  57. 57. "Paman?! Kau memanggil ayahku paman?! Anehsekali! Sang Paman mati dibunuh, tapi si Keponakanmembiarkan saja pembunuh-pembunuh pamannyaberkeliaran! Aneh sekali! Keponakan macam apa kauini, Dewa Arak?!" Merah muka Arya mendengar sindiran tajam itu.Ditatapnya wajah gadis yang telah menjatuhkanhatinya ini lekat-lekat. "Banyak hal yang tidak kau mengerti, Nini. PamanLindu bukan orang baik-baik. Tindakannya banyakmerugikan orang. Tak sedikit orang yang tewas ditangannya. Dan adalah wajar kalau akhirnya tewas ditangan orang-orang yang telah dirugikannya itu.Setidak-tidaknya, orang yang membunuh PamanLindu memiliki itikad baik, yakni memusnahkansumber kerusakan di muka bumi," kilah Arya. "Aku tidak peduli orang macam apa ayahku! Yangkutahu, beliau telah dibunuh secara pengecut. Dantelah menjadi kewajibanku untuk membalaskankematiannya. Pikirlah, Dewa Arak! Kapan lagi akumembalas budinya, kalau tidak sekarang?" Suara gadis itu kian pelan. Dan Arya menangkapada isak tertahan di dalamnya, sehingga membuathatinya tersentuh. Bisa dimaklumi perasaan yangterkandung dalam hati gadis itu, karena dia sendiripernah mengalami hal yang serupa. Hal inimembuatnya terdiam. "Bersiaplah, Dewa Arak," tegas Melati lagi. Kinisuaranya sudah kembali terdengar seperti biasa.Dingin. "Eh! Apa maksudmu, Nini?" tanya Arya kaget. "Tidak usah banyak cakap, Dewa Arak! Aku harusmembuat perhitungan padamu atas kematianayahku! Bersiaplah, agar tidak mati percuma!"
  58. 58. "Tahan dulu, Nini!" teriak pemuda ini mencegah.Tetapi gadis itu tidak menghiraukannya. Pedang ditangan kanannya berkelebat menebas leher Arya. Suara berdesing nyaring mengawali tibanyaserangan itu. Buru-buru Arya melempar tubuhnya kebelakang seraya tangan kanannya menyambar guciarak yang terletak di atas meja. Wut...! Tappp! Pedang Melati hanya menyambar tempat kosong,karena tubuh pemuda berambut putih keperakan itutelah agak jauh dari situ. Begitu kedua kakinya mendarat di tanah, Aryasegera melompat ke luar kedai. Tak lupa dilemparkanuang pembayaran pesanannya ke meja tempat diatadi duduk. "Mau kabur ke mana kau, pengecut! Jangan harapdapat lolos dari tanganku!" sambil berkata demikian,Melati melompat mengejar. Dewa Arak tentu saja tidak suka dianggappengecut Sesampainya di luar kedai, dihentikanlangkahnya. Kemudian dibalikkan tubuhnya, menantiMelati. Baru juga Arya membalikkan tubuhnya, Melatitelah berdiri di hadapannya. Dalam hati, Arya memujikecepatan gerak gadis ini. Sulit dibayangkankepandaian dan tenaga dalam gadis itu. Dan jikamelihat ilmu meringankan tubuhnya, gadisberpakaian serba putih ini merupakan seorang lawanyang amat berat dan berbahaya! "Rupanya kau tidak pengecut, Dewa Arak. Tidakseperti Raja Pisau Terbang dan putrinya! Sebelumberhasil kubunuh, mereka telah melarikan diridengan cara licik. Mudah-mudahan kau tidak
  59. 59. sepengecut itu," ujar Dewi Penyebar Maut serayatersenyum sinis. Berubah wajah Arya. Benarkah apa yang dikatakangadis ini. Rasanya mustahil Raja Pisau Terbang dapatdikalahkan. Tokoh itu adalah seorang datuk. Kalaubenar gadis itu telah mengalahkannya, sukardibayangkan sampai di mana tingkat kepandaiangadis berpakaian serba putih itu. "Kau..., kau telah menemui mereka? Dari manakau mengetahuinya?" tanya pemuda berambut putihkeperakan ini dengan suara tersendat. Memang, Arya Buana kaget juga mendengarucapan itu. Dia dapat memperkirakan kalau ikutcampurnya Raja Pisau Terbang, karena anaknyaterancam maut. Tapi yang menjadi pertanyaan, darimana gadis itu mengetahui kalau Ningrum adalahsalah seorang pembunuh ayahnya? "Lho, apa susahnya mengetahui siapa pengecut-pengecut yang membunuh ayahku? Saksi sangatbanyak!" jawab Dewi Penyebar Maut. "Sayang sekali,Ningrum bisa lolos dari tanganku. Kalau tidak, hanyatinggal kau dan Ular Hitam. Dan setelah itu tugaskupun selesai!" "Jadi..., jadi..." Arya tergagap, karena tercekathatinya. "Ya. Dua orang yang ikut andil dalam membunuhayahku telah kubereskan," selak Melati sambilmenganggukkan kepalanya. "Maksudmu, Kakang Satria dan Kakang Mega?"tanya Dewa Arak dengan wajah pucat pasi. Gadis berpakaian serba putih itu tidak menjawab,tapi hanya mengangguk kecil. Tapi anggukan itusudah cukup bagi Arya. "Kau keterlaluan, Nini!" bentak Arya Buana keras.
  60. 60. Tapi gadis itu hanya menyambutnya dengan tawasinis. Srakkk! Melati memasukkan pedang ke dalam sarungnya. "Sekarang giliranmu, Dewa Arak!" Setelah berkatademikian, gadis berpakaian serba putih ini menerjangArya. Kaki kanannya melangkah ke depanmembentuk kuda-kuda ke arah kanan. Tangan kirimengancam pelipis, sedangkan tangan kananterpalang di depan perut. Melati yang sebenarnyatidak sampai hati mencelakai pemuda yang telahmenjatuhkan hatinya ini, tidak mengerahkan seluruhtenaga sewaktu menyerang. Hanya dikerahkan tigaperempat dari tenaganya. Angin berciut keras menyambar Arya sebelumserangan itu tiba. Pemuda berambut putih keperakanini pun segera tahu kalau serangan lawan itumengandung tenaga dalam cukup kuat. Dewa Arak cepat menarik kaki kanannya mundursambil mencondongkan tubuhnya ke belakang.Berbarengan dengan itu, tangan kanannya diulurkanmemapak serangan yang mengarah ke pelipis. Aryayang tidak ingin mencelakakan gadis yang mengakuputri pamannya ini, hanya mengerahkan separuh daritenaganya. Plakkk! Dua buah tangan yang mengandung tenaga dalamyang sangat kuat bertemu. Arya terhuyung dualangkah ke belakang. Sedangkan Melati hanyaterhuyung satu langkah. Pemuda berambut putih keperakan ini terkejut.Ternyata tenaga dalam gadis itu cukup tinggi juga.Sedangkan Melati sudah bisa memastikan kalaupemuda yang berjuluk Dewa Arak ini, ternyata hanya
  61. 61. mengeluarkan kekuatan tenaga dalam sedikit rendahdibanding tenaga dalamnya. Jadi dia tidak akanmenambah kekuatan tenaganya dalam seranganselanjutnya. Sedangkan Arya yang merasakan betapa kuatnyatenaga dalam gadis itu, terpaksa menambah tenagauntuk pertarungan selanjutnya. Dalampertarungannya melawan gadis ini, pemuda berambutputih keperakan ini hanya menggunakan ilmuDelapan Cara Menaklukkan Harimau. Rasanya, tidaktega jika menggunakan ilmu andalannya. Dalam waktu sebentar saja, mereka sudahbertarung lebih dari lima jurus. Melati penasaranbukan main ketika menyadari tenaga dalam pemudaitu ternyata sepertinya semakin lama semakin kuat. Semula dengan tiga perempat dari tenaganya saja,pemuda itu sudah terhuyung. Tapi kini sampaimengeluarkan hampir seluruh tenaganya, pemuda itumampu menangkisnya tanpa terhuyung. Kini gadis inisadar kalau Dewa Arak tadi tidak bersungguh-sungguh dalam menangkis serangannya. Hal ini membuat Dewi Penyebar Maut yangmemang mempunyai watak ganjil jadi tersinggung.Gadis ini merasa diremehkan. Dan sebagai akibatnya,kini dikerahkan seluruh kemampuan dalam seranganselanjutnya. Ilmu Cakar Naga Merah-nyamenyambar-nyambar buas ke arah Arya. "Tahan...!" Dewa Arak berseru keras sambilmelentingkan tubuhnya ke belakang menghindariserangan Melati yang bertubi-tubi. Gadis berpakaian serba putih yang tengah dilandapenasaran itu terpaksa menahan serangannya.Dengan napas masih memburu, ditatapnya Arya. "Mengapa berhenti, Dewa Arak? Takut?"
  62. 62. Pemuda berpakaian ungu itu sama sekali tidakmenggubris ejekan tajam Melati. Wajahnya terlihattegang bukan main. "Dari mana kau dapatkan ilmu itu, Nini?" tanyaDewa Arak dengan suara gemetar. Sepasang mata putri Raja Racun Pencabut Nyawaitu seketika membelalak. "Apa hubunganmu dengan ilmu yang kumiliki?!Mau kudapatkan dari mana saja, atau dari mencuripun itu urusanku. Dan tidak ada sangkut-pautnyadenganmu!" jawab gadis itu ketus. "Memang ada hubungannya, jika dugaanku benar.Maka sudah menjadi urusanku kalau ilmu yang kaugunakan itu adalah Cakar Naga Merah," tandas Aryategas. "Kalau memang benar ilmu itu adalah Cakar NagaMerah, kau mau apa?" tantang Melati. "Harus kau katakan dari mana memperolehnya!Apakah kau mempelajarinya dari Ki Gering Langit?" Wajah Melati memerah. Pelahan-lahan kemarahanmulai membakar hatinya. Pemuda di hadapannya initerlalu usilan dan sombong. "Apa hakmu dengan ilmuku ini, Dewa Arak?!" "Apakah Ki Gering Langit itu gurumu, Nini?" desakArya, tidak menggubris ucapan gadis itu. Kemarahan yang sejak tadi membakar hati Melati,kini tak bisa ditahan lagi. "Keparat! Kau terlalu sombong, Dewa Arak! Jangandikira aku takut padamu!" Setelah berkata demikian, gadis itu kembalimenerjang Arya. Tidak dipedulikannya lagi teriakan-teriakan mencegah dari pemuda itu. Hatinya telahsangat tersinggung terhadap sikap pemuda itu, yangsama sekali tidak menganggap dirinya.
  63. 63. Dewa Arak tidak punya pilihan lagi. Cepat-cepatdisambut serangan Melati, dan dibalasnya denganserangan yang tak kalah dahsat. Kali ini Dewa Arakterpaksa menggunakan ilmu andalannya. BelalangMabuk, dan Delapan langkah Belalang. Tak lupa,diambilnya guci arak yang berada di punggungnya.Dan diangkat ke atas mulutnya. Gluk... gluk... gluk...! Terdengar suara berceglukan dari mulut Aryaketika arak itu memasuki mulutnya. Sesaat kemudiantubuhnya mulai sempoyongan. Melati mulai menyerang secara ganas. Kini hatinyatidak ragu-ragu lagi mengeluarkan segenapkemampuannya. Disadari kalau kepandaian pemudadi hadapannya ini tidak serendah dugaannya. Berkali-kali tubuhnya terhuyung setiap kali pemuda itumenangkis serangannya. Hal ini membuat amarah gadis itu kian meluap.Apalagi terlihat jelas kalau pemuda itu jarang sekalimembalas serangannya. Lebih sering Aryamengelakkan serangan atau menangkisnya. Delapan puluh jurus telah terlewati, tapi belumnampak ada tanda-tanda yang akan terdesak. Diam-diam Arya memuji kelihaian lawannya ini. Pantaslahkalau Raja Pisau Terbang harus melarikan diri darihadapannya. Kepandaian gadis berpakaian serbaputih ini memang sangat tinggi. Melati menggertakkan gigi. Gadis ini sadar, takmungkin rasanya mengalahkan Arya Buana. Diiringisebuah keluhan tertahan dari kerongkongannya, DewiPenyebar Maut segera melesat meninggalkan DewaArak. Tentu saja Arya yang tidak menduga hal itumenjadi kaget bukan main.
  64. 64. "Nini!" teriak Arya keras. "Tunggu...!" Tetapi gadis berpakaian serba putih itu takmenggubris teriakan Arya, dan terus saja berlari.Dalam sekejap tubuhnya sudah lenyap di kejauhan. Arya hanya termenung memandangi kepergianMelati. Disadari kalau tidak ada gunanya mengejargadis itu. "Hhh...!" Arya menghela napas berat. Dilangkahkankakinya meninggalkan tempat itu, untuk menyusurijejak Bargola yang telah menculik ibunya.
  65. 65. 5Pandangan mata pemuda berbaju ungu itu terpakupada sebuah bangunan yang dikelilingi tembok tinggi.Dia adalah Arya Buana alias Dewa Arak. Setelahcukup lama bersikap seperti itu, baru kemudiandihampirinya gerbang yang sudah tidak memiliki pintulagi. Di ambang pintu itu, langkah kaki Arya terhenti.Pemuda ini lalu berjongkok, mengamat-amatikepingan-kepingan papan tebal yang berserakan dibawah kakinya. Pada tiap kepingan papan tebal itutertera tulisan. Dewa Arak lalu menyusun tiap kepingan papanbertulisan itu, dan benarlah dugaannya. Kepinganpapan tebal itu memang mulanya adalah papan namaperguruan, yang kini sudah hancur berantakan. "Perguruan Beruang Hitam," gumam pemuda itupelan. Perguruan itu memang didirikan Bargola, yangsekarang tengah dicarinya. Pemuda itu datang ke sinidengan harapan ada berita mengenai tempat DatukTimur itu mengasingkan diri. Dengan langkah setengah hati-hati, Aryamelangkah masuk. Seperti yang sudah diduganya,hanya kelengangan dan kesunyian saja yangdijumpai. Juga, bangunan-bangunan yang bekasterbakar di sana-sini. "Hhh...!" Arya menghembuskan napas kecewa.Tanpa diberitahu pun, ia telah bisa menebak orangyang mengobrak-abrik perguruan ini. Siapa lagi kalau
  66. 66. bukan Raja Racun Pencabut Nyawa yang dibantuSiluman Tengkorak Putih? Kali ini Arya tidak menyalahkan tindakanpamannya itu. Wajar bila pamannya melampiaskankekesalan atas tindakan Bargola yang menculik adikkandungnya. Tidak tanggung-tanggung,dihancurkannya perguruan yang didirikan Bargola itu. Tengah pemuda itu termenung bingung,pendengarannya yang tajam menangkap suaralangkah kaki dari arah bangunan yang tidak terbakar. Tanpa pikir panjang lagi, Arya melompat ke atasdan hinggap di atas sebuah cabang pohon yangterletak tidak jauh dari situ. Dari situ Dewa Arakmengintai ke arah suara langkah kaki tadi berasal. Tampaklah seorang laki-laki tengah melangkahkeluar dari bangunan itu. Wajah maupun potongantubuhnya tidak jelas, karena jarak yang cukup jauh.Kepala laki-laki itu nampak menoleh ke kanan dan kekiri, seolah-olah ada sesuatu yang ditakutinya. Barusetelah itu, sosok tubuh itu melangkah ke luardengan berindap-indap. Melihat tindak-tanduk orang itu, Arya menjadicuriga. Keadaan tempat itu sebenarnya sudahmembuat orang berpikir kalau di situ tidak adapenghuninya. Kalau sosok tubuh itu tetap tinggal disitu, berarti ada satu dugaan. Dia sengajabersembunyi di situ. Setelah sosok tubuh itu lenyap ditelan kejauhan,Arya melompat turun dari tempat persembunyiannya. Rasa ingin tahu memaksanya untuk menyelidiki kedalam bangunan itu. Dengan sikap waspada, Arya melangkah masuk.Heran juga hatinya ketika melihat keadaan dalambangunan itu. Begitu kotor, kumuh dan tak terurus.
  67. 67. Debu dan sarang laba-laba berserakan di sana-sini.Semua ruangan keadaannya sama. Lalu, di manakahorang itu tinggal? Sungguh pun jaraknya cukup jauh, Arya dapatmelihat kalau pakaian orang itu bersih. Padahal diseluruh ruangan yang ada di dalam bangunan ini,tidak ada tempat yang bersih. Aneh! Ataukah adaruang rahasia di dalam bangunan besar ini? Pemuda berambut putih keperakan ini tahu bahwaakan memakan waktu yang sangat lama, kalaumencoba mencari ruang rahasia itu. Jalan yang palingmudah adalah menunggu lelaki tadi kembali,kemudian menguntitnya menuju ruang rahasia itu.Kalau memang benar ruang rahasia itu ada. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arya segerakeluar dari gedung itu. Diintainya keadaan di depansebelum dilangkahkan kakinya ke luar. Barangkalisaja orang yang tadi diintainya telah kembali. Tapi diluar sepi. Bergegas pemuda ini kembali ke tempatpersembunyiannya semula. Menunggu. Cukup lama juga pemuda berambut putihkeperakan ini menunggu, sebelum akhirnya melihatorang itu di kejauhan. Kini nampak jelas, kalau kelakuan orang itu yanganeh. Sebelum melangkahkan kakinya memasukipintu gerbang yang terdapat papan nama perguruan,orang itu menoleh ke kanan dan ke kiri dengan sikappenuh curiga. Baru setelah yakin tidak ada yang melihatnya,orang itu bergegas masuk ke dalam. Kelihatennyasetengah berlari saat memasuki bangunan besaryang baru saja ditinggalkan Arya. Bergegas Dewa Arak melompat turun dari cabangpohon itu. Dan dengan hati-hati diikutinya orang itu.

×