SlideShare a Scribd company logo

Training 2G RF planning & Optimization

Dokumen tersebut merangkum materi pelatihan mengenai perencanaan RF jaringan 2G untuk optimasi jaringan yang akan diselenggarakan pada tanggal 11-12 Mei 2013 di Hotel Paragon Jakarta. Materi pelatihan meliputi proses perencanaan RF secara berlangkah, propagasi gelombang radio, perhitungan anggaran taut, dan pengenalan tentang perencanaan frekuensi dan parameter jaringan."

1 of 205
Download to read offline
Training Material
2G RF Planning for Network Optimization
Hotel Paragon Jakarta 11 & 12 May 2013
Our Product and Service
Learning Center
Research and Development
Industrial Product
www.floatway.com
Lingga Wardhana
Educational Background :
 Electrical Engineering, Gadjah Mada University (2001 –
2006)
 MBA Program, Gadjah Mada University (2011 – present )
Professional Experience :
 PT. Siemens Indonesia, Network Optimization Engineer
(2006 – 2008)
 PT. Lexcorp Solution, RF Optimization Consultant (2008 –
2009)
 PT. Nexwave, RF Optimization Consultant (2009)
 PT. Lintas Media Telekomunikasi, 3G RF Senior
Optimization Consultant (2009 – 2010)
 PT. Floatway Systems, Founder (2010 – Present)
Achievements :
 1st winner of Indosat Telco Project 2005
 1st winner of Indosat Wireless Innovation Contest 2007,
Hardware Category
3rd position in European Satellite Navigation Competititon
2009 for Regional Gipuzkoa/Spain (www.galileo-masters.eu)
Agenda Day One
09.00-10.00 :
Step by step 2G RF Planning Process
Propagation Model
Link Budget
dB Review
dBm Review
10.00-10.15 (Coffee Break)
10.15-12.00 :
GSM Frequency Allocation
Frequency Planning Rules
12.00-13.00 (Makan Siang, Sholat)
13.00-15.00 :
Review Materi
Co-channel & Adjacent Channel
Interference
15.00 – 15.30 (Coffee Break, Sholat)
15.30 – 17.00 :
Frequency Hopping Strategy
Review Materi
PROSES BELAJAR
5
Proses Belajar
Belajar merupakan hak
setiap orang, akan tetapi
kesempatan mengikuti
program pengembangan
diri di Floatway
Learning Center adalah
suatu privilege.
Perlu dicatat bahwa belajar
merupakan kegiatan individual.
Yang diharapkan bahwa peserta
juga melakukan kegiatan mandiri
seperti membaca, menerapkan
teori pada praktek nyata,
menganalisis dan hal-hal lain
yang mengembangkan
kemandirian belajar di luar kelas
formal.
Privilege bahwa
seseorang secara formal
telah menjalani kegiatan
belajar dan
mendapatkan
pengakuan atas hasil
belajarnya.
Sehingga harapannya tidak terjadi
kesenjangan antara pemberi
materi dan peserta program dan
terjadi pertukaran informasi di
antara peserta di dalam kelas dan
akhirnya kegiatan training class
menjadi kegiatan yang
menyenangkan tanpa
meninggalkan semangat dan
kegigihan atau profesional.
WHAT IS RF ENGINEER
7
What is RF Engineer?
RF Engineer atau
Radio Frequency
Engineer adalah
seseorang yang
bertanggung jawab
segala sesuatu hal
pada jaringan seluler
yang berhubungan
dengan sisi radio.
di sisi radio kita dapat
mengetahui user
perception atau
“rasa” yang dialami
oleh pengguna
jaringan operator
RF PLANNING AND
OPTIMIZATION
9
RF Planning
Site Data (Engineering
Parameter)
Map Tools :
MapInfo
Google
Earth
Necto
SiteSee
Common
Map Tools
Planning Tools
Planning Tools :
NetAct Planner (NSN)
Unet (Huawei)
TEMS Cell Planner
(Ericsson)
Asset3G (Aircom)
Digunakan oleh
RF Optimization
team dan
Drivetest team.
Planning Team
Site Data dari Planning
(Engineering Parameter)
Untuk OSS tim
OSS Engineer or Database
Engineer
Parameter
Database
Alarm
Database
Capacity and
Utilization
Database
OSS Tools
Digunakan
oleh Planning
Team salah
satunya untuk
membuat map
dengan relasi
adjacent
BTS BSC
2G Network
Data-data dari OSS digunakan
oleh RF Optimization untuk
proses optimisasi
Site Data dari Planning team dan
Parameter Database digunakan
untuk membuat Drivetest Cell File
OSS Engineer
Performance
Database
OSS Tools :
NetAct OSS (NSN)
M2000 (Huawei)
LMT (Huawei)
Citrix (Ericsson)
WINFIOL (Ericsson)
Batrana (Siemens)
Ms Access & Ms Excell
Site Data dari Planning
(Engineering Parameter)
Drivetest Engineer
Drive Test
Cell File
Drivetest Tools
Drivetest Tools :
TEMS
Investigation
Nemo
Probe
Drive Test
Logfile
Drivetest team
mengambil
data “user
experience”
dengan
Drivetest Tool
Drivetester
Team
Data Logfile digunakan
RF Optimization untuk
dianalisis.
RF Optimization
Team
Site Data dari Planning team dan
Parameter Database digunakan
untuk membuat Drivetest Cell File
Logfile dari
Drivetester
Untuk RF
Optimization
Rigger Team
Site Audit Tools
Site Audit Tools :
Kompas
GPS
Kamera
Meteran
Tilt meter
Site Audit Data/
Physical Data
Rigger Team
Physical data selain
digunakan oleh RF
Optimization, juga
oleh Planning Team
untuk mengupdate
Site Data.
Data-data physical
seperti antenna height,
antenna downtilt,
azimuth dan panoramic
picture diambil oleh
tim Rigger.
Proposal and
Reporting
Parameter CR
Neighbour CR
Physical CR
Alarm Clearance
RF Optimization
Drivetest Post
Processing Tools
Measurement
Analysis Tools
Parameter Change Request akan dieksekusi oleh
tim OSS, Physical Change oleh tim Rigger,
Hardware clearance akan diekskalasi ke tim BSS.
Physical site
data dari rigger
atau dari
planning team
RF Optimization Team
Logfile dari
Drivetester
Performance
Statistik dari OSS
RF Planning Scope of Work
RF
Planning
Scrambling
Code
Planning in
3G
Frequency
Planning in
2G
Physical
Parameter
for New
Site
Database
Parameter
for New
site
Neighbour
Planning
Planning
for add
new site
Planning
for
Capacity
Expansion
RF Optimization Scope of
Work
RF
Optimization
Knowing and
Reporting
Network
Performance
Knowing and
tuning for
optimal
Network
Parameter
Acessibility
Performance
Improvement
Retainability
Performance
Improvement
Integrity
Performance
Improvement
Drivetest
analysis and
recommenda
tion
Support for
newsite and
capacity
expansion
requirement
STEP BY STEP PROSES
RF PLANNING
17
Step by step proses RF
Planning
Step by step proses RF
Planning
Analisis trafik dan
coverage
Trafik dan
Coverage
Perencanaan
Rollout
Link Budget
Model Trafik
Kebutuhan
coverage
Konfigurasi
BTS
Perencanaan
pasar
operator
Step by step proses RF Planning
Analisis trafik dan
coverage
Step by step proses RF Planning
Pada saat penentuan Nominal Cell Plan
data-data mengenai perangkat yang
akan digunakan seperti tipe BTS, tipe
antena, tipe feeder sudah harus
didefinisikan, juga data-data mengenai
lokasi site dan juga coverage
predictions dengan model propagasi
yang telah di-tuning sesuai dengan
keadaan sebenarnya.
Plan juga harus memperhitungkan site
yang sudah ada atau existing site agar
tidak terjadi pemborosan biaya dengan
penambahan site baru padahal site yang
sudah ada dapat lebih dimaksimalkan
kapasitasnya.
Nominal cell plan
Step by step proses RF Planning
Radio Site Survey adalah
survey awal untuk
menentukan bahwa titik
pada nominal plan benar-
benar cocok untuk
diimplementasikan site.
Pada saat penentuan posisi site
biasanya terdapat tiga titik yang
akan di survey. Dari ketiga titik
tersebut terdapat batas toleransi
biasanya 20% dari jarak antar
site. Misalnya pada jaringan GSM
dengan jarak rata-rata 800 meter
di area urban maka lokasi yang
di-survey dari titik awal
maksimum dengan radius 160
meter.
Radio Site Survey
Hal-hal yang
perlu di survey :
1. Koordinat GPS
2. Informasi
Ketinggian
3. Informasi antena,
posisi, tinggi, azimuth
4. Informasi adanya
halangan
5. Sketsa dan gambar
sekeliling site
Step by step proses RF Planning
Radio Site Survey
Equipment yang diperlukan : GPS,
Kompas, Teropong, Kamera Digital,
Papper Maps yang akurat, Meteran,
Inklinometer, Coverage Plot dan Form isian
site survey.
Step by step proses RF Planning
Radio Site Survey
Equipment yang diperlukan :
GPS, Kompas, Teropong, Kamera
Digital, Papper Maps yang akurat,
Meteran, Inklinometer, Coverage
Plot dan Form isian site survey.
Step by step proses RF Planning
Radio Site Survey
Equipment yang diperlukan :
GPS, Kompas, Teropong, Kamera
Digital, Papper Maps yang akurat,
Meteran, Inklinometer, Coverage
Plot dan Form isian site survey.
Step by step proses RF Planning
Radio Site Survey
Equipment yang diperlukan :
GPS, Kompas, Teropong, Kamera
Digital, Papper Maps yang akurat,
Meteran, Inklinometer, Coverage
Plot dan Form isian site survey.
Step by step proses RF Planning
Kegiatan Sipil dan
keperluan instalasi perlu
melakukan survei
tersendiri yang
dinamakan Site
Investigation antara lain
menginvestigasi kekuatan
tanah, instalasi antena
yang cocok, Informasi
luas area dan informasi
sumber daya yang akan
digunakan apakah
menggunakan jaringan
PLN atau harus
menggunakan genset.
Site Investigation
Step by step proses RF
Planning
Setelah survey
selesai dilakukan
maka penentuan
frekuensi BCCH
dan frekuensi
TCH dilakukan.
Sistem Desain
Implementasi
Pada tahap ini
dilakukan
pekerjaan
instalasi,
commisioning dan
testing.
Step by step proses RF
Planning
Setelah site on-air maka
dilakukan proses optimisasi
pada site tersebut.
Sering juga disebut new
site optimization atau PLO
Karena trafik terus meningkat maka kegiatan
optimasi harus terus berjalan. Pada suatu saat
perlu penambahan kapasitas untuk mengakomodir
trafik yang terus naik. Pada poin ini analisis trafik
dan coverage perlu dilakukan dan proses planning
berjalan berulang lagi.
Proses Optimasi Hal-hal dilakukan
saat PLO antara
lain :
1. Konfigurasi dilapangan
sudah terimplementasi sesuai
dengan Final Cell Plan
2. Performance sudah
mencapai KPI yang diinginkan
3. Melakukan initial tuning
parameter
4. Mengambil Drive test
Measurement
RADIO WAVE
PROPAGATION
30
Radio Wave Propagation
Radio Frekuensi dengan rentang
frekuensi antara 3Hz sampai 3000 GHz
dibagi klasifikasinya menjadi 12 bagian.
Komunikasi seluler GSM 900 MHz dan
1800 MHz termasuk dalam kategori
UHF.
Radio Wave Propagation
Meskipun gelombang
radio merambat di
udara tanpa impedansi
sama sekali. Tetapi
bukan berarti
pentransmissian
gelombang radio tanpa
loss sama sekali.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Radio
Wave Propagation antara lain :
1. Fakta bahwa gelombang radio dipantulkan oleh permukaan bumi (karena
permukaan bumi bersifat konduktif)
2. Loss pada saat pentransmissian karena terdapat halangan gedung atau
pepohonan
3. Variasi topografi seperti hutan, pedesaan atau perkotaan
Radio Wave Propagation
Short Term (fast) dan Long Term (slow)
fading
Receiving Level
distanceVariations due
to shadowing
Global mean
Variations due
to Rayleigh fading
Longandshort term fading
Fast fading muncul karena
halangan-halangan yang
bersifat sebagai pemantul.
Dan akhirnya diterima
pada antena penerima
berbagai macam sinyal
dengan berbagai macam
fase, amplitudo dan
kadang-kadang saling
menghilangkan satu
dengan lainnya. Hal ini
dapat mengakibatkan
lemahnya sinyal.
Beberapa solusi dapat
digunakan untuk
mengurangi efek
Fast/Short/Rayleight fading
antara lain dengan
menambah power output
dan juga penggunaan space
diversity pada antena.
Radio Wave Propagation
Space Diversity
Diversity dapat diartikan
penggunaan dua sinyal di
sisi penerimaan yang
memiliki perbedaan history
pada saat pentransmissian,
sehingga salah satu sinyal
dengan kualitas yang
terbaik yang digunakan.
Gambar disamping
menunjukkan Receive
Diversity pada sistem GSM
dengan menggunakan
teknik Space Diversity atau
dua RX yang terpisah
sejauh L
LINK BUDGETING
35
Link Budgeting
Pada praktek nyata
perbedaan antara
coverage uplink dan
downlink sering
terjadi karena
perbedaan power
antara MS dan BTS.
Tetapi
bagaimanapun
system balancing
antara uplink dan
downlink harus
diperhatikan
sebelum melakukan
kalkulasi coverage.
Link Budgeting
Maka balancing sistem untuk
GSM900 power class 4 dengan
Pout MS = 2W atau 33 dBm
dan GdBTS = 3.5 dB dan
sensitivitas MS sens = -104
dBm dan sensitivitas BTS BTS
sens = -110 dBm maka
didapatkan output power
maksimum BTS = 42.5 dBm
Link Budgeting
EiRP (Effective Radiated Power)
Power efektif yang
diradiasikan pada sisi
antena atau yang disebut
ERP atau EiRP
Huruf i pada EiRP
menginterprestasikan apabila
power yang sama diberikan
kepada antena isotropik yang
mempunyai power yang sama
dengan antena dengan gain Ga
BTS. Seperti telah dijelaskan
pada bagian sebelumnya EiRP
dan ERP mempunyai selisih
sebesar 2.15 dB
Link Budgeting
MS Power Classes
MS Power Class Output Power (dBm) Sensitivity (dBm)
2 39 -106
3 37 -106
4 (handheld) 33 -104
5 (handheld) 29 -104
MS Power Class Output Power (dBm) Sensitivity (dBm)
1 30 -104
2 24 -104
BTS Output Power
GSM 900
GSM 1800
Output power (dBm) Sensitivity (dBm)
43.5 -110
33 -106
22 -100
Link Budgeting
Feeder Loss
Feeder Type 800/900 (dB/100m) 1800/1900 (dB/100m)
LCF 1/2” 7.0/7.2 10.5
LCF 7/8” 4.0 6.5
LCF 1-1/4” 3.3 5.3
LCF 1-5/8” 2.6 4.2
Feeder length VS Feeder type
Feeder Length (m) Feeder Type
MiniMacro GSM900 DCS1800 WCDMA2100
1 - 20 LDF 1/2" AVA 7/8" AVA 7/8" AVA 7/8"
21 - 30 - AVA 7/8" AVA 7/8" AVA 7/8"
31 - 40 - AVA 7/8" AVA 7/8" AVA 7/8"
41 - 50 - AVA 7/8" AVA 7/8" AVA 7/8"
51 - 60 - AVA 7/8" LDF 1 1/4" LDF 1 1/4"
60 - 70 - LDF 1 1/4" LDF 1 1/4" LDF 1 1/4"
70 - 80 - LDF 1 1/4" AVA 1 5/8" AVA 1 5/8"
> 80 - AVA 1 5/8" AVA 1 5/8" AVA 1 5/8"
Short Quiz 1 (Link Budgeting)
Sebuah jaringan indoor multi operator GSM 900 dipasangkan ke
sebuah gedung. Berapakah EIRP pada sebuah antena, dimana
antena tersebut disambungkan dengan feeder LCF 7/8” dengan
panjang 200 meter melewati combiner dengan loss 9 dB, sebuah
splitter dengan loss 3 db dan gain antenna 3 dBi?
DECIBEL REVIEW
42
dB Review
Decibel (dB) adalah satuan
(unit) yang menyatakan
perbandingan (ratio) dalam
bentuk logaritma basis 10. Unit
ini sering digunakan untuk
menyatakan penguatan (gain)
atau redaman (losses) level
sinyal, daya dan tegangan.
Decibel (dB) digunakan agar
representasi gain lebih
sederhana. Misal penguatan
10*log (1,000,000,000/1) dapat
dituliskan 90 dB. Contoh lain
penguatan dari 1ke
0,000000001 dapat dituliskan
menjadi -90 dB. Ini
memudahkan dalam penulisan
penguatan sinyal pada
telekomunikasi
dBm Review
Unit dBm mengekspresikan
absolute value dari power.
Untuk mengubah dari power
(watts) ke dBm
Satuan ini sering digunakan
dalam telekomunikasi untuk
merepresentasikan nilai yang
sangat besar atau sangat kecil
dalam bentuk yang lebih
sederhana.
Kesimpulannya gunakan db
untuk mengekspresikan ratio
antara dua nilai power. Dan
gunakan dBm untuk
mengekspresikan absolute
value dari power.
Short Quiz 2 (dB Review)
1. Sebuah output RF dengan power 40 watt dimasukkan
ke dalam combiner dengan loss 3 dB berapa watt kah
keluaran dari combiner?
2. Jika diketahui power output maksimum sebuah BTS
adalah 20 Watt berapa dBm-kah output maksimum BTS
tersebut ?
GSM FREQUENCY
ALLOCATION
46
GSM Frequency Allocation
Pada standar
jaringan GSM
frekuensi yang lebih
tinggi digunakan
untuk komunikasi
downlink dan
frekuensi yang lebih
rendah digunakan
untuk komunikasi
uplink. Hal ini
berhubungan
dengan power
uplink yang
biasanya lebih
rendah daripada
power downlink
Guard band
sebesar 200 kHz
diaplikasikan di
batas-batas
frekuensi antar
operator untuk
menghindari
terjadinya saling
interference pada
operator penyedia
layanan GSM.
2G Frequency Allocation in
Indonesia
GSM
900
DCS 1800
Frequency & Wavelength
Panjang
gelombang ()
adalah jarak
yang di ukur dari
satu titik dari
sebuah
gelombang ke
titik yang sama
di gelombang
selanjutnya.
= kecepatan
cahaya /
frekuensi
( c = 3 x 108
m/s)
Perilaku Gelombang Radio :
• Semakin panjang panjang gelombang, semakin jauh gelombang radio merambat.
• Semakin panjang panjang gelombang, semakin mudah gelombang radio melalui
atau mengitari penghalang.
• Semakin pendek panjang gelombang, semakin banyak data yang dapat di kirim.
Short Quiz 3 (Frequency Spectrum)
1. Untuk penetrasi indoor dan coverage bagaimana
perbandingan antara sinyal frekuensi GSM dan
frekuensi DCS apabila kedua site tersebut memiliki
power, ketinggian dan konfigurasi antenna yang sama ?
2. Apakah keuntungan operator dengan frekuensi GSM
1800 yang contiguous (berdampingan) dibandingkan
dengan frekuensi yang tidak berdampingan seperti
yang dialami oleh operator-operator GSM di Indonesia
?
FREQUENCY PLANNING
RULES
51
Frequency Planning Rules
Setiap operator
seluler akan
mendapatkan
sekumpulan
ARFCN (satu
ARFCN = 200 kHz)
dan dibagi menjadi
dua kelompok yaitu
BCCH carriers dan
TCH carriers.
Misalkan sebuah
operator mendapatkan
40 carriers dari channel 1
sampai 40. Maka
pembagian channelnya
akan tampak seperti
gambar diatas,
BCCH carriers TCH carriers
BCCH frequency TCH frequency
Spacing Frequency
Frequency Planning Rules
Maka didapatkan
pembagian
1. 15 carriers digunakan untuk BCCH
frequency
2. 24 carriers digunakan untuk TCH
frequency
3. 1 carrier digunakan untuk guard band antara BCCH carriers dan TCH
carriers
Frequency Planning Rules
Sektor yang saling
berhadapan atau
berada dalam satu site
minimal harus berselisih
2 ARFCN, sektor yang
memiliki azimuth sama
dan bersebelahan
langsung juga harus
berselisih 2 ARFCN.
Jaringan pada real
network jauh lebih rumit
dimana orientasi setiap
antena tidak homogen
dan jumlah konfigurasi
TCH jauh lebih lebih
banyak.
CO-CHANNEL/
ADJACENT CHANNEL
INTERFERENCE
55
Co-channel Interference
Co-Channel Interference
adalah interferensi yang
disebabkan karena
penggunaan frequensi
yang sama oleh cell carrier
dan juga cell yang lain.
Pada GSM Spesification rasio antara carrier dan
interference atau disebut C/I harus lebih besar dari
9dB. Tetapi biasanya operator menentukan bahwa
rasio C/I harus lebih besar dari 12 dB. Apabila
digunakan frequency hopping maka margin berkurang
3dB
Adjacent Channel Interference
Setiap frekuensi ARFCN mempunyai
bandwidth 200 kHz. Dan setiap frequency
yang adjacent (berbeda 200 kHz atau 1
ARFCN) tidak diperbolehkan memiliki sinyal
yang terlalu kuat juga. Meskipun berbeda
frekuensi beberapa sinyal yang berhimpitan
frekuensinya dapat mempengaruhi kualitas.
Pada GSM Spesification rasio antara
carrier dan adjacent frekuensi harus lebih
besar dari 9dB. Adjacent Channel
Interference harus dihindari pada cells di
site yang sama dan juga pada
neighbouring cells.
Adjacent Channel Interference
Perencanaan
frekuensi untuk
menghindari
adjacent dan
co-channel
interference.
Short Quiz 4 ( Frequency Planning)
1. Sebuah operator memiliki site GSM dengan sector heterogen seperti tampak
pada gambar dibawah. Apabila ditentukan ARFCN BCCH : 51 – 68, ARFCN
TCH : 70 -87, ARFCN 69 sebagai guard band. Dan konfigurasi cell 2/2/2.
Lakukan alokasi frequency untuk cell-cell dibawah ini.
FREQUENCY HOPPING
60
Frequency Hopping
Frequency hopping
adalah teknik
penggunaan sistem
spread spectrum untuk
mengurangi efek
interferensi, multipath
fading dan juga untuk
menghindari frequency
jamming.
Dalam Frequency
hopping setiap
frequency carrier
berubah dalam
sekuensial yang
bersifat
pseudorandom.
Ada dua macam
frequency hopping
yaitu Baseband
Hopping dan juga
Synthesizer hopping.
Frequency Hopping
Keuntungan frequency hopping
1. Frekuensi hopping memudahkan dalam proses planning karena
enginner tidak perlu lagi mem-plan satu-persatu frekuensi untuk setiap
TCH carrier
2. Karena frekuensi hopping terdiri dari sekumpulan frekuensi maka
dengan mengatur tabrakan antar frekuensi seminimal mungkin bisa
meningkatkan performansi jaringan.
3. Dengan frekuensi hopping mengurangi loss-loss yang disebabkan
dari fading, multipath propagation dan karena co-channel interference.
Frequency Hopping
Synthesizer Hopping 1 x 1
Semua site
menggunakan
frekuensi grup yang
sama.
Semua sektor dalam
satu site
menggunakan HSN
(Hopping Sequence
Number) yang identik
tetapi antar site HSN
harus berbeda.
Ada konfigurasi
tertentu untuk MAIO
untuk menghindari
interferensi co-
channel dan adjacent
channel.
Frequency Hopping
Synthesizer Hopping 1 x 3
Setiap sector memiliki
frekuensi grup yang
berbeda.
Jarak minimal antar
frekuensi dalam group
2 ARFCN.
Jarak minimal antar
frekuensi beda sektor
dalam satu site 2
ARFCN. Semua
sektor dalam satu site
menggunakan HSN
(Hopping Sequence
Number) yang identik
tetapi antar site HSN
harus berbeda.
Frequency HoppingSynthesizer Hopping 1 x 1 MAIO
Management
P = jumlah TRX per
sektor
n = urutan TRX
Jumlah TRX Sector 1 Sector 2 Sector 3
TRX1 0 2p 4p
TRX2 2 2p + 2 4p + 2
TRX3 4 2p + 4 4p + 4
…. …. …. ….
TRXn 2n-2 2p+(2n-2) 4p+(2n-2)
Jumlah TRX Sector 1 Sector 2 Sector 3
TRX1 0 6 12
TRX2 2 8 14
TRX3 4 10 16
Contoh site
dengan konfigurasi
3/3/3
Frequency HoppingSynthesizer Hopping 1 x 3 MAIO
Management
n = urutan TRX
Jumlah TRX Sector 1 Sector 2 Sector 3
TRX1 0 1 0
TRX2 2 3 2
TRX3 4 5 4
…. …. …. ….
TRXn 2n – 2 4n – 2 6n – 2
Frequency HoppingCyclic Hopping dan Random
Hopping
Pada Synthesizer
Hopping ada dua
macam lompatan
frekuensi yaitu Cyclic
Hopping dan Random
Hopping. Pada Cyclic
Hopping lompatan
berdasarkan pattern
tertentu sedangkan
pada Random Hopping
lompatan frekuensi
bersifat Random.
Frequency Hopping
Kalkulasi Fractional Load
Perhitungan fractional load
digunakan untuk
menentukan Apakah
dengan jumlah frekuensi
yang tersedia dapat
digunakan untuk
penggunaan teknik SFH
karena berhubungan
dengan probabilitas
frekuensi yang sama
dipancarkan pada saat
yang bersamaan.
Oleh sebab itu semakin
besar pengalokasian
frekuensi untuk teknik SFH
1 x1 atau 1 x 3 maka
kualitas RF semakin baik.
Untuk menggunakan teknik
SFH 1 x 3 maksimum
Fractional Load adalah
sebesar 50%.
Frequency Hopping
Kalkulasi Fractional Load
Perbandingan FER antara SFH 1 x 3 dengan Fractional Load 30% dan 60%. FER atau
Frame Erasure Rate adalah perhitungan persentase sebuah blok pada sebuah frame
yang dihapus karena kesalahan pada saat parity check (CRC). Dapat dilihat dengan
Fractional Load 30% memberikan kualitas jaringan yang lebih baik.
Short Quiz 5 (Frequency Hopping)
1. Bandingkan Fractional Load cell-cell GSM
pada ketiga operator besar Telkomsel, Indosat,
XL apabila ketiganya menggunakan SFH 1 x 1,
alokasi BCCH 15 ARFCN dan maksimum
konfigurasi TRX 4/4/4 ?
2. Bandingkan Fractional Load cell-cell GSM
pada ketiga operator besar Telkomsel, Indosat,
XL apabila ketiganya menggunakan SFH 1 x 3,
alokasi BCCH 15 ARFCN dan maksimum
konfigurasi TRX 4/4/4 ?
3. Apabila maksimum fractional load untuk SFH
adalah 60% baik untuk SFH 1 x 1 maupun
SFH 1 x 3 berapa maksimum konfigurasi TRX
untuk DCS tiap operator apabila alokasi BCCH
ARFCN 29 dan guard band 1 ?
Short Quiz 6 (Frequency Hopping)
1. Pelajari kembali materi mengenai SFH 1 x 1 dan SFH 1 x 3. Kemudian
tentukan MAIO , frequency group dan HSN pada kumpulan site-site GSM
900 dibawah ini apabila diketahui ARFCN yang digunakan untuk frekuensi
TCH adalah 2 sampai 28. Dan teknik SFH yang digunakan adalah SFH 3 x 3
?
Agenda Day Two
08.00-08.30 :
Review Materi
08.30-10.00 :
Traffic Engineering in GSM
TCH and SDCCH Channel Dimensioning
10.00-10.15 (Coffee Break)
10.15-12.00 :
GSM Architecture & BTS Type
12.00-13.00 (Makan siang, sholat)
13.00-15.00 :
Handover and Cell Reselection Concept
GSM Radio Optimization
15.00-15.30 (Coffee Break, Sholat)
15.30-17.00 :
Drivetest Optimization
Post Test
GSM CHANNEL TYPE
73
GSM Channel Type TCH/F dan TCH/H
Traffic Channels
digunakan untuk
transmisi data.
BCH (Broadcast
Channels) hanya
digunakan pada saat DL
untuk sinkronisasi MS
dan informasi broadcast.
CCCH (Common
Control Channel)
digunakan untuk
komunikasi dua arah
downlink dan uplik pada
saat pengaksesan awal
sebelum MS melakukan
panggilan telepon, SMS
dll
DCCH (Dedicated
Control Channel)
digunakan untuk
komunikasi dua arah
downlink dan uplink
untuk sinyal dedicated.
TRAFFIC CHANNEL
75
Traffic Channel
Trafik
merepresentasika
n penggunaan
kanal dan dapat
diartikan holding
time tiap unit
waktu atau
besaran panggilan
per jam untuk
setiap satu sirkuit
(kanal).
Sebagai contoh sebuah
cell memiliki dua
carrier/TRX dan alokasi
untuk kanal TCH misalkan
14 TCH (didapat dari 2 x 8
-2 = 14, dua kanal yang
lain diperuntukkan untuk
kanal BCCH dan SDCCH)
maka dengan GOS 2%
berdasarkan tabel erlang
B trafik yang dilewatkan
sebesar 8.2003 Erlang.
Trafik dihitung
dalam Erlang (E),
sebagai contoh
seorang
subscriber
menggunakan
telepon selama
satu jam maka
akan
menghasilkan
trafik sebesar 1E.
GOS 2% disini
diartikan dari 100
antrian panggilan
masuk hanya 2
panggilan yang
mengalami
congestion
(kepenuhan).
Seorang ilmuwan
berkebangsaan
Denmark, Erlang,
menemukan Erlang
B Table untuk
mengasumsikan
banyaknya erlang
yang dapat
ditampung
berdasarkan jumlah
kanal dan GOS.
Hal sebaliknya juga
bisa dilakukan.
Contoh apabila kita
memiliki besaran
trafik dan ingin
diketahui besaran
kanal yang
dibutuhkan. Misalkan
trafik 33 Erlang
dengan GOS 2%
maka channel yang
dibutuhkan 43 kanal.
Tabel Erlang
B
Traffic Channel
Dengan alokasi 14 kanal dan
menggunakan GOS 2% maka
berdasarkan tabel erlang B trafik yang
dilewatkan sebesar 8.2003 Erlang.
Erlang Calculator
Menggunakan Calcucel
Tools seperti
calcucel
dapat
digunakan
untuk
menghitung
Traffic dari
sebuah
kanal
dengan
menggunaka
n tabel
erlang B.Bagaimana
perhitungan
dimensionin
g kanal TCH
atau SDCCH
apabila data
yang perlu
dihitung
dalam
jumlah besar
?
Short Quiz 7 (Traffic Channel)
1. Sebuah cell mengalami SDCCH Blocking. Saat
ini cell tersebut dialokasikan satu kanal
SDCCH. Pada saat busy hour traffic SDCCH
yang harus dilewatkan sebesar 14.5 erlang.
Dengan menggunakan GOS 2% berapa
jumlah kanal SDCCH harus ditambah ?
2. Sebuah cell mengalami TCH Blocking. Saat ini
terdapat 14 kanal TCH pada cell tersebut.
Pada saat busy hour traffic TCH yang harus
dilewatkan sebesar 18 erlang. Dengan
menggunakan GOS 2% berapa jumlah TRX
yang harus ditambah pada cell tersebut ?
CAPACITY
DIMENSIONING
80
Erlang Calculator
Menggunakan NPFun32
NPFun32 adalah
suatu add in pada
Microsoft Excell
yang dapat
digunakan untuk
membantu
dimensioning
capacity pada kanal
GSM
Capacity Dimensioning (TCH Channel)
Step by step proses (1)
Jumlah
kanal Full
Rate
Jumlah
kanal Half
Rate
Jumlah kanal
GPRS
Dedicated
2
Erlang
Offered
(TCH)
Erlang Offered (TCH)=npErlbTraf(2%,Full Rate+(Half Rate*2)-Dedicated GPRS
Channel)
Erlang
Offered
(TCH)
TCH Traffic
Busy Hour
TCH
Utilization
Capacity Dimensioning (TCH Channel)
Step by step proses (2)
TCH Traffic
Busy Hour
Kebutuhan kanal TCH
dengan utilisasi 80%
dari Busy Hour Traffic
Kebutuhan kanal TCH =npErlbChs(TCH Traffic Busy Hour+(20%*TCH Traffic Busy
Hour),2%)
Add/Reduce TCH
Kebutuhan kanal TCH
dengan utilisasi 80%
dari Busy Hour Traffic
Jumlah
kanal Full
Rate
Jumlah
kanal Half
Rate
Jumlah kanal
GPRS
Dedicated
2
Capacity Dimensioning (SDCCH
Channel)
Step by step proses (1)
Jumlah
kanal
SDCCH
8
Erlang
Offered
(SDCCH)
Erlang Offered (SDCCH)=npErlbTraf(2%,(Jumlah kanal
SDCCH*8))
SDCCH
Traffic Busy
Hour
Max SDCCH
TrafficVS
Average
SDCCH
Traffic
Erlang
Offered
(SDCCH)
Max SDCCH
Traffic
SDCCH
Utilization
Capacity Dimensioning (SDCCH
Channel)
Step by step proses (2)
Max SDCCH
Traffic
Kebutuhan kanal
SDCCH dengan
utilisasi 80% dari
Busy Hour Traffic
Kebutuhan kanal SDCCH =ROUNDUP(npErlbChs(Max SD+(20%*Max
SD),2%)/8,0)
Kebutuhan kanal
SDCCH dengan
utilisasi 80% dari
Busy Hour Traffic
Jumlah
SDCCH
8
Add/Reduce
SDCCH
Short Quiz 8 (Capacity
Dimensioning)
1. Dengan menggunakan add in NPFun32. Isilah tabel dibawah ini.
TRX
Data Channel Data
Erlang
Offer TRAFFIC Utilization TRAFFIC Utilization Capacity DimensioningcellId
SumOf#ofTRX
SumOf#ofTRXHR
SumOf#ofSDCCH
SumOf#ofFRChn
SumOf#ofDRChn
TotalChannel
TCH
SDCCH
TCHTrafficBH
TCHUtilization
SDTrafficBH
SDTrafficAve
MaxSDTraffic
SDUtil
TCHUtil80%-Need#ofTCH
Total#ofTCHNow
Add/ReduceTCH
SDUtil80%-Need#ofSD
Total#ofSDNow
Add/ReduceSDCCH
#dedicatedGPRSTS
22354 2 2 2 0 13 16 8.01 1.04 0.87 0
22355 2 2 2 0 13 16 14.905 2.035 1.435 0
22356 2 2 2 0 13 16 5.575 0.425 0.415 0
24084 2 1 2 10 3 16 9.695 0.95 0.555 0
24085 2 2 2 2 11 16 16.465 1.84 1.345 0
24086 2 2 3 0 12 16 19.88 3.16 2.515 0
24091 2 0 2 13 0 16 0 0 0 2
24092 2 0 2 13 0 16 0 0 0 1
GSM ARCHITECTURE &
BTS TYPE
87
GSM Architecture
Mobile Switching
Center (MSC)
berfungsi sebagai
switch dan
penghubung
dengan jaringan
fixed.
Network
Switching
Systems
Home Location
Register (HLR)
HLR merupakan
database yang
berisi data-data
pelanggan yang
tetap.
Visitor Location
Register (VLR)
VLR merupakan
database yang
berisi informasi
sementara
mengenai
pelanggan,
terutama saat
lokasi dari
pelanggan diluar
cakupan area
jaringan HLR-nya
Base Transceiver
Station (BTS)
BTS merupakan
perangkat pemancar
dan penerima yang
memberikan pelayanan
radio kepada MS.
Base Station
Systems
Base Station
Controller (BSC)
BSC membawahi satu
atau lebih BTS serta
mengatur trafik yang
datang dan pergi dari
BSC menuju MSC atau
BTS.
BTS Type
Nokia’s BTS now merger as
Nokia Siemens Networks
BTS Type
Siemens’s BTS now merger
as Nokia Siemens Networks
BTS Type
Ericsson’s BTS
Tower Type 1. BTS Greenfield
dengan struktur berkaki
empat, biasanya untuk
BTS dengan ketinggian
lebih dari 30 meter di
daerah rural
2. BTS Greenfield
dengan struktur berkaki
tiga, lebih hemat tempat
dan cocok untuk daerah
perkotaan
3. BTS kamuflase yang
menyerupai pohon untuk
keindahan estetika
4. BTS monopole
5. Ericsson Tower Tube,
tower yang ramah
lingkungan.
6. BTS yang difungsikan
juga sebagai lampu
penerangan
Indoor BTS
Gambar Antena indoor building.
Beberapa gedung-gedung tinggi di
kota besar seperti Jakarta misalnya
diharuskan menggunakan antena
indoor karena penetrasi sinyal BTS
macro biasanya sangat lemah
didalam gedung.
Short Quiz 9 ( Architecture)
1. Si A (MOC) menelepon si B (MTC). Si A menggunakan
jaringan 2G sedangkan si B menggunakan 3G. Gambarkan
aliran data A ke B pada arsitektur jaringan seluler !
2. Si A kembali menelepon si B menggunakan Google Talk. Si A
menggunakan jaringan 3G sedangkan si B menggunakan 2G.
Gambarkan aliran data dari A ke B pada arsitektur jaringan
seluler !
HANDOVER &
CELL RESELECTION
95
Idle Mode and Dedicated Mode
Idle mode
adalah kondisi
dimana MS
tidak sedang
melakukan
panggilan
telepon.
Sedangkan
dedicated
mode adalah
kondisi dimana
MS sedang
melakukan
panggilan.
Cell Selection
Cell Selection adalah
proses sinkronisasi
awal saat MS
dinyalakan sehingga
terhubung ke operator
jaringan seluler dan
layanan jaringan dapat
digunakan
sepenuhnya.
Proses Cell Selection
menggunakan kanal
logika BCCH untuk
sikronisasi frekuensi
antara MS dan cell.
Cell Selection
MCC MNC Brand Operator Status Bands (MHz)
510 00 PSN PT Pasifik Satelit Nusantara
(ACeS)
Operational Satellite
510 01 INDOSAT PT Indonesian Satellite
Corporation Tbk (INDOSAT)
Operational GSM 900 / GSM 1800 /
UMTS 2100
510 03 StarOne PT Indosat Tbk Operational CDMA 800
510 07 TelkomFlexi PT Telkom Operational CDMA 800
510 08 AXIS PT Natrindo Telepon Seluler Operational GSM 1800 / UMTS 2100
510 09 SMART PT Smart Telecom Operational CDMA 1900
510 10 Telkomsel PT Telekomunikasi Selular Operational GSM 900 / GSM 1800 /
UMTS 2100
510 11 XL PT XL Axiata Tbk Operational GSM 900 / GSM 1800 /
UMTS 2100
510 20 TELKOMMobile PT Telkom Indonesia Tbk Unknown GSM 1800
510 21 IM3 PT Indonesian Satellite
Corporation Tbk (INDOSAT)
Not operational GSM 1800
510 27 Ceria PT Sampoerna
Telekomunikasi Indonesia
Operational CDMA 450
510 28 Fren/Hepi PT Mobile-8 Telecom Operational CDMA 800
510 89 3 PT Hutchison CP
Telecommunications
Operational GSM 1800 / UMTS 2100
510 99 Esia PT Bakrie Telecom Operational CDMA 800
PLMN
(Public Land
Mobile
Network)
selection
adalah
proses
pertama kali
saat
dilakukan
cell selection
PLMN, atau
istilah
mudahnya
adalah operator,
dibedakan
dengan MCC
(Mobile
Country Code)
dan MNC
(Mobile
Network Code).
Cell Re-Selection
Cell Reselection
adalah proses
perpindahan
mobile user dari
satu cell ke cell
yang lain pada
saat idle mode
Cell awal yang
ditinggalkan
disebut source
cell sedangkan
cell tujuan
disebut dengan
target cell.
Handover
Handover adalah proses
perpindahan mobile user dari satu
cell ke cell yang lain pada saat
dedicated mode.
Handover berfungsi untuk tetap menjaga
koneksi sewaktu melakukan panggilan
ketika mobile user berada diluar
jangkauan source cell.
Terdapat beberapa kriteria yang
menyebabkan terjadinya handover antara
lain sinyal yang lemah pada source cell
yang telah melewati batas yang telah
ditentukan, kualitas yang kurang bagus dll.
Pada saat terjadi handover koneksi dengan
source cell diputus dan dipindahkan ke target
cell oleh sebab itu handover adalah proses yang
sangat komplek dan kritis pada sistem GSM.
Handover Handover Type
Intra cell
handover
Inter cell
handover
Inter BSC
handover
Inter MSC
handover
Inter PLMN
Paging
Paging adalah proses broadcast
pesan dari jaringan seluler kepada
spesifik mobile user untuk
mengetahui posisi tepatnya mobile
user dalam suatu cell.
Pendekatan yang sangat baik
adalah sistem harus melakukan
paging ke semua cell untuk
mengetahui dimana tepatnya
mobile user berada.
Tetapi apabila ini dilakukan maka
kapasitas radio yang digunakan
akan sangat besar.
Hal ini dapat diatasi dengan
adanya Location Area dan
Location Update.
Location Update
Location Update
digunakan untuk
mengurangi jumlah
proses paging yang
harus dilakukan
oleh sistem
jaringan seluler.
Setiap proses Location
update dilakukan
update data-data
tepatnya posisi MS
berada dalam suatu cell
akan disimpan dalam
VLR (Visitor Location
Register). Update data
pada VLR diambil dari
data subscriber pada
HLR (Home Location
Register).
Sistem jaringan
seluler dibagi
menjadi beberapa
location area,
setiap BSC dapat
terdiri dari
beberapa location
area dan minimal
terdiri dari satu
location area.
Dengan adanya
Location Update proses
paging tidak harus
dilakukan di semua cell
di satu jaringan seluler
tetapi hanya dilakukan
oleh cell-cell yang
berada dalam satu
Location Area.
Setiap mobile user
mengidentifikasikan
location area yang
baru, dan
berpindah ke
location area yang
baru maka MS
akan melakukan
Location Update.
Proses Location update
tidak hanya terjadi
apabila terjadi
perpindahan Location
Area tetapi juga terjadi
secara periodik apabila
MS masih terletak pada
Location Area yang
sama agar data selalu
ter-update.
Location Update
Outgoing Call
Proses
melakukan
panggilan
keluar atau
Outgoing Call
biasa disebut
juga sebagai
Mobile
Originating Call
(MOC)
Incoming Call
Proses
menerima
panggillan
masuk atau
Incoming Call
biasa disebut
juga sebagai
Mobile
Terminating
Call (MTC)
Short Quiz 10 (Handover & Cell
Reselection)
Site A
Site A adalah sebuah newsite dengan Cell Id (CI) 64451, 5632,
5633 buatlah neighbour relation dengan mencantumkan CI
source dan CI target agar newsite Site A dapat memproses
handover dan cell reselection dengan cell-cell sekitarnya.
GSM RADIO
OPTIMIZATION
108
WHY OPTIMIZATION?
109
Why Optimization ?
Why Optimization ?
• Parameter yang di-set pada proses planning harus ditinjau ulang
menurut statistik jaringan
• Saat jumlah pengguna meningkat, ekspansi jaringan harus
dipertimbangkan juga implementasi strategi baru
• Frekuensi mungkin harus diubah untuk menghindari interferensi
dan meminimalisir degradasi kualitas jaringan selama
pertumbuhan user
Why optimize a network?
Hasn’t everything been
done during planning
phase?
NO!
Why Optimization ?
Dari sisi operator, Optimization dapat memaksimalkan efisiensi jaringan,
meminimalisir churn rate (pergantian kartu oleh user), menarik customer
baru, meningkatkan kepuasan pelanggan dan menaikkan revenue.
Revenue Example :
Berikut adalah suatu contoh perhitungan bagaimana dengan menaikkan CSSR (Call Setup
Success Rate) dapat menaikkan revenue yang tidak sedikit ke operator.
Skenario :
Sebuah jaringan pada suatu Propinsi dengan 36 BSC
Jumlah Trafik pada saat Busy Hour : 21.353 Erlang/BH
Mean Call Holding Time (Rata-rata lama panggilan telepon) : 60 Detik
CSSR Improvement sebesar 1,43 % dari 88,3 % ke 89,73 %
Diasumsikan 50 % pengulangan panggilan dan 50 % kenaikan panggilan
Harga adalah per menit adalah 100 IDR dan lama Busy Hour per day = 8
Berapakah Kenaikan Revenue yang diperoleh selama setahun?
Perhitungan :
Jumlah kenaikan panggilan pada Busy Hour : 21.353 Erlang × 3600/60 × 1,43 % = 18320
call/BH
Jumlah kenaikan revenue per Busy Hour : 18320 × 50 % × 100 x 60/60 = 916000 IDR/BH
Jumlah kenaikan revenue per tahun : 916000 × 8 × 365 = 2.674.720.000 IDR/Year
Kesimpulan :
Why Optimization ?
KEY PERFORMANCE
INDICATORS
114
Key Performance Indicator
Menurut rekomendasi dari ITU (International Telecommunication Union) terdapat 3
kategori pengklasifikasian Key Performance Indicator (KPI) untuk evaluasi sebuah
jaringan yaitu Accessibility, Retainability dan Integrity.
Key Performance Indicator
Accessibility adalah kemampuan user untuk memperoleh servis sesuai dengan
layanan yang disediakan oleh pihak penyedia jaringan. Contoh pada jaringan 2G
yang termasuk dalam kategori Accessibility adalah Random Access Success Rate
(RACH Success Rate), SD Drop Rate, SDCCH Success Rate, SDCCH Blocking
Rate dan TCH Blocking Rate.
Retainability adalah kemampuan user dan sistem jaringan untuk
mempertahankan layanan setelah layanan tersebut berhasil diperoleh sampai
batas waktu layanan tersebut dihentikan oleh user. Contoh pada jaringan 2G
yang termasuk dalam kategori Retainability adalah TCH Drop Rate, Erlang per
Minute Drop.
Integrity adalah derajat pengukuran disaat layanan berhasil diperoleh oleh user.
Contoh pada jaringan 2G yang termasuk dalam kategori Integrity adalah
Handover Succes rate, FER, RxQual, SQI.
*Mobility adalah derajat pengukuran yang berkaitan pada mobilitas. Beberapa
operator memasukkan beberapa KPI yang beruhubungan dengan mobilitas dalam
group KPI mobility.
Key Performance IndicatorNormal call flow untuk MOC dan relasinya dengan
KPI
Key Performance IndicatorNormal call flow untuk MTC dan relasinya dengan
KPI
WORST CELL
119
Worst Cell
Definisi Worst cell adalah
sebuah site/cell yang memiliki
performance jelek dan secara
wajar mempengaruhi
performance pada jaringan.
Worst cell didefinisikan setelah KPI
ditentukan. Apabila Key Performance
Indicator telah didefinisikan maka proses
selanjutnya adalah perumusan formula
untuk KPI tersebut. Dan penentuan Worst
cell dapat dibuat setelah diketahuinya
formula dari setiap KPI.
Untuk menghasilkan sebuah Worst
cell yang tepat maka diharuskan
menggunakan dua kriteria yaitu
kriteria value dan kontribusinya.
Kontribusi dapat menggunakan
kontribusi fail atau kontribusi trafik.
Worst Cell
Worst Cell
Category KPI 1 Name Criteria 1 KPI 2 Name Criteria 2
Accessibility SDSR SDSR Value < 96 % Drops on SDCCH Drops on SDCCH
Contribution > 0.05 %
Accessibility SDCCH Blocking Rate SDCCH Blocking Rate
Value > 2 %
Failed SDCCH
Seizures due to Busy
SDCCH
SDCCH Seizures due to Busy
SDCCH Contribution > 0.05
%
Accessibility TCH Blocking Rate TCH Blocking Rate
Value > 2 %
Failed TCH Seizures
due to Busy TCH
(Signaling Channel)
+ Failed TCH
Seizures due to Busy
TCH (Traffic
Channel)
Failed TCH Seizures due to
Busy TCH (Signaling Channel)
+ Failed TCH Seizures due to
Busy TCH (Traffic Channel)
Contribution > 0.05 %
Retainability Drop Call Drop Call Value > 1 % Call Drops on TCH Call Drops on TCH
Contribution > 0.05 %
Retainability TBF Completion Rate TBF Completion Rate
Value < 96 %
TBF Failure TBF Failure Contribution >
0.05 %
Mobility HOSR HOSR Value < 96 % HOSR Failure HOSR Failure Contribution >
0.05 %
Integrity GPRS throughput (kbps) GPRS throughput
Value < 48 kbps
Integrity EDGE throughput (kbps) EDGE throughput
Value < 64 kbps
CELL RESELECTION
123
Cell Reselection
Salah satu kriteria yang
harus dipenuhi adalah C1 >
0
C1 = (A-Max (B, 0))
A = Rata-rata power yang diterima –
RXLEV_ACCESS_MIN
= RLA_P – RXLEVAMI (Siemens)
= Received signal level – ACCMIN (Ericsson)
B = MS_TXPWR_MAX_CCH – P
= MSTXPMAXCH – P (Siemens)
= CCHPWR – P (Ericsson)
RXLEVAMI atau
ACCMIN adalah
parameter cell level
yang mengindikasikan
sinyal level minimum
yang dibutuhkan MS
untuk mengakses ke
sistem.
MSTXPMAXCH/ CCHPWR
adalah parameter yang
mengindikasikan power
transmit maksimum MS
untuk mengakses ke sistem
dan P adalah output power
maksimum MS tergantung
dari MS Class.
C1 Parameter
Cell Reselection
MS akan mengkalkulasi kriteria path loss pada serving
cell dan non serving cell paling tidak selama 5 detik.
Kriteria path loss terpenuhi jika C1> 0 (jika C1 < 0
pada periode paling tidak 5 detik maka cell dihilangkan
dari list). Jika C1 pada neighbour cell lebih tinggi
daripada C1 pada serving cell maka akan terjadi cell
reselection dari serving cell ke neighbour cell.
Terdapat parameter CELLRESH(Siemens) dimana terdapat
histerisis value pada perhitungan path loss C1. Sehingga
apabila C1 neighbour cell > C1 serving cell + CELLRESH paling tidak
selama 5 detik maka baru akan terjadi cell reselection.
Parameter CELLRESH(Siemens) berfungsi untuk menghindari
terjadinya kejadian cell reselection yang tidak perlu (ping-
pong cell reselection).
C1 Parameter
Cell Reselection
C2 Parameter
C2 berguna pada saat penggunaan strategi load sharing antara
GSM dan DCS dan juga untuk menghindari cell reselection yang
tidak perlu pada fast moving MS dimana terdapat coverage
microcell dan coverage macrocell.
C2 = C1 + CRESOFF (Siemens) - TEMPOFF
(Siemens)
C2 = C1 + CRO (Ericcson) - TO (Ericsson)
PENTIME ( Siemens) /
PT (Ericsson) < 31
C2 = C1 + CRESOFF (Siemens)
C2 = C1 + CRO (Ericcson)
PENTIME ( Siemens) / PT (Ericsson) expired
C2 = C1 - CRESOFF (Siemens)
C2 = C1 - CRO (Ericcson)
PENTIME = 31
Untuk kasus load sharing strategy antara GSM dan DCS biasanya akan dilakukan
seting dimana C2 DCS > C2 GSM. Dengan TEMPOFF (Siemens) / TO (Ericsson) = 0
dan PENTIME ( Siemens) / PT (Ericsson) = 0. Sehingga hanya parameter
CRESOFF(Siemens) / CRO (Ericcson) saja yang digunakan.
Cell Reselection
C2 Parameter
Aplikasi Timer
Pentime/PT
Aplikasi Pada Fast
Moving MS
Short Quiz 11 (Traffic Sharing)
Cell A GSM memiliki traffic utilization 90% dan Cell B DCS memiliki
traffic utilization 40 %. Keduanya berdekatan. Bagaimana setting
parameter yang disarankan agar utilization kedua site balance?
Cell C GSM memiliki traffic utilization 40% dan Cell D DCS memiliki
traffic utilization 90 %. Keduanya berdekatan. Bagaimana setting
parameter yang disarankan agar utilization kedua site balance?
Push ke DCS Push ke GSM
CRO
PT
TO
POWER CONTROL &
HANDOVER
129
Power Control
Untuk menghindari dominasi interferensi dari user yang memiliki
sinyal sangat kuat dan biasanya berada pada jarak yang lebih
dekat dengan base station, digunakan konsep power control.
Power control akan mengatur daya pancar tiap-tiap user sehingga
daya yang diterima oleh base station adalah sama untuk semua
user yang tersebar secara acak pada setiap lokasi di dalam sel
yang dicakup oleh base station.
Power control akan memerintahkan mobile station untuk
menaikkan daya pancarnya ketika level RxLevel atau RxQual
menurun dan akan memerintahkan MS untuk menurunkan daya
pancarnya ketika RxLevel tinggi.
Handover & Power Control Parameter
Handover & Power Control Parameter
Ini adalah daerah dimana terjadi handover karena low RxLevel.1
Dimana threshold ini diatur oleh parameter HOLTHLVDL (Siemens) / threshold
level downlink Rx level (LDR) (Nokia) pada sisi downlink dan parameter
HOLTHLVUL (Siemens) / threshold level uplink Rx level (LUR) (Nokia) pada sisi
uplink.
Ini adalah threshold dimana power control untuk menaikkan RxLevel
bekerja.2
Threshold pada daerah ini diatur oleh parameter LOWTLEVD (Siemens) / pc
lower thresholds lev dl Rxlevel (LDR) (Nokia) pada sisi downlink. Dan
LOWTLEVU (Siemens) / pc lower thresholds lev ul Rxlevel (LUR) (Nokia) pada sisi
uplink.
Ini adalah kondisi dimana MS dalam level dan kualitas yang baik
sehingga tidak perlu adanya power control yang bekerja.
3
Ini adalah threshold dimana power control untuk menurunkan RxLevel
bekerja.4
Threshold pada daerah ini diatur oleh parameter UTLEVD (Siemens) / pc
upper thresholds lev dl Rx level (UDR) (Nokia) pada sisi downlink. Dan
UTLEVU (Siemens) / pc upper thresholds lev ul Rxlevel (UUR) (Nokia) pada sisi
uplink.
Ini adalah daerah dimana level sinyal bagus tetapi kualitas jelek karena
terdapat adanya interferensi. Pada daerah ini akan terjadi handover
dapat berupa intracell handover atau intercell handover.
Ini adalah threshold terjadinya handover yang diakibatkan karena low
RxQual.
Handover & Power Control Parameter
Ini adalah threshold dimana power control untuk menaikkan RxLevel
bekerja dan juga power control untuk menaikkan RxQual bekerja.
5
Ini adalah threshold dimana power control untuk menaikkan RxQual
bekerja.
6
Threshold pada daerah ini diatur oleh parameter LOWTQUAD (Siemens) / pc
lower thresholds qual dl Rx qual (LDR) (Nokia) pada sisi downlink. Dan
LOWTQUAU (Siemens) / pc lower thresholds qual ul Rx qual (LUR) (Nokia) pada
sisi uplink.
7
8
Dimana threshold ini diatur oleh parameter HOLTHQUDL (Siemens) / threshold
qual downlink Rx qual (QDR) (Nokia) pada sisi downlink dan parameter
HOTHQUUL (Siemens) / threshold qual uplink Rx qual (QUR) (Nokia) pada sisi
uplink.
Short Quiz 12 (Power Control & Handover)
Tentukan aksi yang akan terjadi pada jaringan apabila setting
threshold untuk handover dan power control ditentukan seperti
pada slide 18.
1. Kondisi Rx Level DL -100 dBm, Rx Qual DL 3?
2. Kondisi Rx Level DL -85 dBm, Rx Qual DL 6 ?
3. Kondisi Rx Level DL -78 dBm, Rx Qual DL 2 ?
4. Kondisi Rx Level UL -95 dBm, Rx Qual UL 3?
5. Kondisi Rx Level UL -92 dBm, Rx Qual UL 4?
COVERAGE & QUALITY
ISSUES
135
Coverage and Quality Issue
Pada jaringan 2G kita dapat memperhitungkan RF Coverage dan RF Quality
dengan menganalisa sebaran Rx Level dan Rx Qual. Rx Level
dipergunakan untuk mengukur kuat sinyal yang diterima oleh MS (dalam
satuan dBm) sedangkan Rx Qual menunjukkan kualitas sinyal yang diterima
oleh MS. Diukur dari Bit Error Rate sinyal yang diterima. Skala yang
digunakan pada Rx Qual adalah 0 sampai 7.
RxQual Bit Error Rate (BER)
0 BER < 0, 2 %
1 0,2 % < BER < 0,4 %
2 0,4 % < BER < 0,8 %
3 0,8 % < BER < 1,6 %
4 1,6 % < BER < 3,2 %
5 3,2 % < BER < 6,4 %
6 6,4 % < BER < 12,8 %
7 12,8 % < BER
Rx Level and Rx
Qual
Coverage and Quality Issue
Bad Air Quality DL (RxLevel >=-85dBm & Rx Qual DL >= 5)
Dengan memperhitungkan distribusi trafik dimana banyak subscriber berada
pada RxLevel yang bagus tetapi dengan RxQual jelek, interferensi
mungkin saja terjadi pada area ini. Jika lebih dari 50% measurement berada
pada kondisi ini (seperti terlihat pada gambar diatas) perlu dilakukan
pengechekan dengan menggunakan drivetest, frequency scanning dan
pengechekan adanya frekuensi co-channel dan adjacent channel/near
channel pada map.
Coverage and Quality Issue
Poor Coverage DL (TA<1.5 km & Rx Level <-85dBm)
Apabila lebih dari 50% measurement pada jarak yang dekat (TA < 2 atau
dibawah 1.5 kilometer) tetapi diserving pada RxLevel yang rendah perlu di
check adanya permasalahan pada instalasi hardware seperti pada instalasi
connector, semirigid atau feeder antena, atau problem pada output power
(combiner/TRX). Juga perlu dilakukan site audit untuk melihat apakah
terdapat obstacle yang menyebabkan RxLevel yang diterima oleh
subscriber sangat lemah.
Coverage and Quality Issue
Poor Coverage DL (Rx Level <=-85dBm & Rx Qual>=5)
Apabila lebih dari 50% measurement subscriber terdistribusi pada RxLevel yang rendah dan
RxQual yang jelek maka perlu di check adanya permasalahan pada instalasi hardware
seperti pada instalasi connector, semirigid atau feeder antena, atau problem pada output
power (combiner/TRX), atau perlu dilakukan pengechekan konfigurasi hardware seperti
antena tilt, arah antena, ketinggian antena, dan kesesuaian konfigurasi antena sesuai
dengan yang diajukan oleh tim RF Planning.
Apabila tidak terdapat problem pada hardware bisa dilakukan pengechekan distribusi Timing
Advance untuk mengetahui ada tidaknya overshooting.
Coverage and Quality Issue
Overshooting Coverage
Apabila lebih dari 50% measurement pada jarak yang jauh (TA > 5 atau diatas 5 kilometer)
maka dapat diasumsikan banyak terjadi overshooting coverage. Sebenarnya definisi dari
overshooting coverage pada sebuah cell adalah suatu kondisi dimana coverage area sebuah
cell sampai melebihi coverage area adjacent relasinya. Yang akhirnya kondisi ini dapat
menyebabkan terjadinya inteferensi atau handover fail.
Coverage and Quality Issue
Site to site distance
Untuk memperhitungkan presentase overshoot coverage
sebuah cell kita dapat membandingkan antara jarak
maksimum sebuah cell dengan relasinya dan distribusi
TA cell tersebut. Jika trafik distribusi melebihi jarak
maksimum sebuah cell dengan relasinya maka cell
tersebut mengalami overshoot coverage. Jika
persentasenya besar atau lebih dari 50 % maka perlu
dilakukan coverage tuning.
Rumus :
Rumus pada
excel :
1 degree = 111.1211
km
Short Quiz 13 (Coverage
Issue)
1. Sebuah Cell A memiliki relasi adjacent dengan
Cell B, Cell C, Cell D, Cell E. Apabila diketahui
longitude dan latitude Cell A dan relasinya
adalah sebagai berikut :
Longitude Latitude
Cell A 106.8555922 -6.27588375
Cell B 106.8527082 -6.28311818
Cell C 106.8700848 -6.27815585
Cell D 106.8679064 -6.28808216
Cell E 106.8721099 -6.29614116
Hitung pada TA ke berapakah sebuah MS yang
diserving oleh cell A mulai mengalami overshoot
coverage?
ACCESSIBILITY
PERFORMANCE
OPTIMIZATION
143
Accessibility Performance
Optimization
Random Access (RACH) Success Rate (1/4)
Random Access Channel
(RACH) digunakan oleh
MS pada sisi uplink untuk
me-request alokasi
SDCCH. Request ini dapat
dikarenakan MS ter-
paging pada saat adanya
panggilan masuk atau saat
MS mencoba mengakses
jaringan. Availability
SDCCH pada sisi BTS
tidak berpengaruh pada
Random Access Success
Rate.
Pengulangan percobaan MS untuk
mengakses ke jaringan (apabila pada
percobaan akses belum ada respon dari
sisi BTS pada channel AGCH baik berupa
jawaban immediate assignment atau
immediate assignement reject) dapat
ditentukan oleh paremeter MAXRET
(ericsson) / MAXRETR (siemens) / MAX
NUMBER OF RETRANSMISSION (RET)
(nokia) dan waktu interval antara akses
request yang satu dengan yang lain
ditentukan oleh parameter TX (ericsson) /
NSLOTST (siemens) / NUMBER OF SLOTS
SPREAD TRANS (SLO) (nokia).
Accessibility Performance
Optimization
Random Access (RACH) Success Rate (2/4)
Start
Change
BSIC
YES
Poor BSIC Plan ?
Poor BCCH Plan
?
NO
NOYES
BCCH Retune/
Frequency
Retune
2
2
Low Random Access
Success rate
3
Accessibility Performance
Optimization
Random Access (RACH) Success Rate (3/4)
Poor Coverage /
Overshooting ?
YES
Do site audit and
physical/parameter
tuning related to
coverage
NO
2
Phantom RACH
problem ?
YES
Optimizing filtering in
hardware and tuning
for CRO (Ericcson) and
ACCMIN (Ericcson)
NO
2
Faulty on
Antenna or
cable ?
YES
Fix hardware
problem
NO
2
4
3
Accessibility Performance
Optimization
Random Access (RACH) Success Rate (4/4)
4
Tuning for CRO
(Ericcson) and
ACCMIN (Ericcson)
YES Unapropriate
setting for CRO
and ACCMIN ?
Unapropriate
setting for MAXRET
and TX ?
NO
YES
Tuning for
MAXRET (Ericcson)
and TO (Ericcson)
2
2
Performance
Monitoring to see
impact after
troubleshooting
activities
2
Accessibility Performance
Optimization
SDCCH Congestion Rate/SDCCH Blocking Rate (1/4)
SDCCH adalah control
channel yang
digunakan oleh sistem
pada saat Location
Update (dengan mean
holding time 3,5 detik),
IMSI Detach (2,9 detik),
Mobile Originated Calls
(2,7 detik), Mobile
Terminated Calls (2,9
detik), SMS (6,2 detik).
Secara keseluruhan
channel SDCCH
memainkan peranan
penting dimana pada
proses call setup
setiap user pasti
menggunakan kanal
ini sebelum
memperoleh kanal
TCH.
Accessibility Performance
Optimization
SDCCH Congestion Rate/SDCCH Blocking Rate (2/4)
Start
Fix Hardware/TRX
Problem
YES
Hardware/TRX
Problem?
Lack SDCCH
Channel?
NO
YES
Add SDCCH
Channel
2
2
High SDCCH
Congestion/Blocking Rate
3
NO
Accessibility Performance
Optimization
SDCCH Congestion Rate/SDCCH Blocking Rate (3/4)
Coverage
Problem/
Overshooting?
YES
Do site audit and
physical/parameter
tuning related to
coverage
NO
2
High Location
Area Update?
YES
Check LAC Border,
Check parameter
related to
location update
NO
2
Load
Sharing/Traffic
Sharing already
implemented?
NO
Implement Traffic
Sharing Strategy
YES
2
3
3
Accessibility Performance
Optimization
SDCCH Congestion Rate/SDCCH Blocking Rate (4/4)
3
Implemented
adaptive logical
channel
NO Adaptive Logical
Channel already
implemented?
Immediate
Assignment on
TCH?
YES
NO
Activate feature
and monitor the
performance
2
2
Performance
Monitoring to
see impact
after
troubleshooting
activities
2
OPTIONAL FEATURE
Accessibility Performance
Optimization
SDCCH Drop Rate (1/7)
Pada saat proses-
proses MOC SDCCH
dapat mengalami
drop yang
disebabkan karena
faktor hardware,
interferensi, poor
coverage, overshoot
coverage atau
lainnya.
Dan apabila
kontribusinya besar
dapat mempengaruhi
turunnya KPI
accessibility sebuah
cell.
Accessibility Performance
Optimization
SDCCH Drop Rate (2/7)
Sistem
Ericsson
Data yang
ditampilkan berikut
hanya contoh.
Accessibility Performance
Optimization
SDCCH Drop Rate (3/7)
Sistem
Siemens
Data yang
ditampilkan berikut
hanya contoh.
Accessibility Performance
Optimization
SDCCH Drop Rate (4/7)
Sistem Nokia
Data yang
ditampilkan berikut
hanya contoh.
Accessibility Performance
Optimization
SDCCH Drop Rate (5/7)
Start
Fix Hardware/TRX
Problem
YES
Hardware/TRX
Problem?
Low signal
strength UL/DL
(RF Problem)?
NO
YES
Do site audit and
physical/parameter
tuning related to
coverage
2
2
High SDCCH
Drop Rate
3
NO
Accessibility Performance
Optimization
SDCCH Drop Rate (6/7)
Bad Quality UL/DL
(RF Problem)?
YES NO
2
Excessive Timing
Advance/Distance
to Limit?
YESCheck TRX quality,
check interfrence
from other sites,
check if any
eksternal
interference
NO
2
Due to Abis
Failure?
YES
Fix problem related
to Abis link, Check
transmision alarm,
check transmisi
availability.
NO
3
Antenna
Downtilt/Red
uce antenna
height/
reduce BTS
power
2
3
Accessibility Performance
Optimization
SDCCH Drop Rate (7/7)
3
Fix problem related
to A-if link, Check
alarm, check
availability. Check
that configuration
already correct in
MSS side.
YES Due to A-if
Failure?
Other Reason?
NO
YES
Check LAPD,
Remote
transcoder,
BCSU and
other element
2
2
Performance
Monitoring to
see impact after
troubleshooting
activities
2
Accessibility Performance
Optimization
TCH Congestion Rate (1/5)
Alokasi kanal TCH dilakukan
setelah proses immediate
assignment berhasil. TCH
Blocking/Congestion terjadi apabila
tidak tersedia kanal TCH yang
available. Beberapa faktor seperti
kerusakan hardware, kurang
baiknya dimensioning untuk kanal
TCH adalah beberapa faktor
penyebab terjadinya TCH
Blocking/TCH Congestion.
Accessibility Performance
Optimization
TCH Congestion Rate (2/5)
Start
Fix Hardware/TRX
Problem
YES
Hardware/TRX
Problem?
Any site down
in surrounding
area?
NO
YES NO
Fix site down2
2
High TCH
Congestion/Blocking Rate
3
Accessibility Performance
Optimization
TCH Congestion Rate (3/5)
Half Rate already
implemented?
NO
Implement
half rate
YES
2
Coverage
problem/
overshooting?
YES
Do site audit and
physical/paramet
er tuning related
to coverage
NO
2
Any missing
adjacencies ?
YES
Add neighbour
NO
2
4
3
Accessibility Performance
Optimization
TCH Congestion Rate (4/5)
4
Implement Traffic
Sharing Strategy
NO Load Sharing/Traffic
Sharing already
implemented?
Too many
SDCCH
allocation?
YES
YES
Change SDCCH
to TCH2
2
NO
5
Accessibility Performance
Optimization
TCH Congestion Rate (5/5)
Performance
Monitoring to see
impact after
troubleshooting
activities
2
Implement
assignment to
another cell
2
Upgrade TRX
2
Already
Implemented
assignment to
another cell?
NO YES
Possible for TRX
Upgrade?
YES NO
Plan new site with
reason capacity
OPTIONAL FEATURE
TRX configuration already full
5
RETAINABILITY
PERFORMANCE
OPTIMIZATION
164
Retainability Performance
Optimization
TCH Drop Rate (1/7)
Sistem
Ericsson
Data yang
ditampilkan berikut
hanya contoh.
Retainability Performance
Optimization
TCH Drop Rate (2/7)
Sistem Nokia
Data yang
ditampilkan berikut
hanya contoh.
Retainability Performance
Optimization
TCH Drop Rate (3/7)
Sistem
Siemens
Data yang
ditampilkan berikut
hanya contoh.
Retainability Performance
Optimization
TCH Drop Rate (4/7)
Start
Fix Hardware/TRX
Problem
YES
Hardware/TRX
Problem?
Low signal
strength UL/DL
(RF Problem)?
NO
YES
Do site audit and
physical/paramete
r tuning related to
coverage
2
2
High TCH
Drop Rate
3
Retainability Performance
Optimization
TCH Drop Rate (5/7)
Bad Quality UL/DL
(RF Problem)?
YES NO
2
Any Missing
neighbour?
YESCheck TRX quality,
check interfrence
from other sites,
check if any
eksternal
interference
NO
2
Many handover
Failure?
YES
Check if there is any
swapped sector,
check handover per
relation, fix problem
on target cell
NO
2
4
Do neighbour
audit and add
neighbour
3
Retainability Performance
Optimization
TCH Drop Rate (6/7)
Excessive Timing
Advance/Distance
to Limit?
YES
2
Antenna
Downtilt/Reduce
antenna height/
reduce BTS power
DTX already
active?
YESNO
Activate
DTX
2
5
4
Check LAPD,
Remote
transcoder, BCSU
and other element
Retainability Performance
Optimization
TCH Drop Rate (7/7)
YES
Due to A-if
Failure?
Other Reason?
NO
YES
2
2
Performance
Monitoring to
see impact after
troubleshooting
activities
2
Due to Abis
Failure?
YES
Fix problem related
to Abis link, Check
transmision alarm,
check transmisi
availability.
2
NO
Fix problem related
to A-if link, Check
alarm, check
availability. Check
that configuration
already correct in
MSS side.
5
INTEGRITY
PERFORMANCE
OPTIMIZATION
172
Integrity Performance Optimization
Handover Success Rate (1/4)
Start
Add neighbour if any
missing neighbor/
Reduce if too many
neighbour
YES Missing Neighbour/
Too many Neighbour
?
NO
2
Low Handover
Success Rate
Low Handover
Attempt ?
NO
Check Handover
parameter / Do
site audit / Cell in
remote island
2
3
Integrity Performance Optimization
Handover Success Rate (2/4)
Low for overall
relation ?
YES NO
5
4
Check if any co
BCCH/BSIC with
surrounding
cells ?
NO
Do frequency
retune/ BSIC retune
Check Handover Success
Rate per relation
3
2
YES
Integrity Performance Optimization
Handover Success Rate (3/4)
4
Performance
Monitoring to see
impact after
troubleshooting
activities
2
Hardware Problem
on Target cell ?
YES NO
2
Incorrect
Handover
Parameter per
cell?
YES
Handover
Parameter tuning
2
Solve Hardware Problem
/ Handover parameter
tuning per relation
TCH Congestion
on Target Cell ?
YESNO
Solve TCH congestion /
Handover parameter
tuning per relation
2
Integrity Performance Optimization
Handover Success Rate (4/4)
5
2
Low signal
strength UL/DL
(RF Problem)?
YES NO
2
Incorrect Handover
Parameter/
Threshold ?
YES
Handover
Parameter tuning
Do site audit and
physical/parameter tuning
related to coverage
Any
Swapped
Sector ?
YESNO
Solve Swapped
sector
2
DRIVE TEST
177
Tools : TEMS Investigation
TEMS sangat
powerfull dan
mudah
digunakan.
Sampai saat ini
rilis TEMS
Investigation
sudah sampai rilis
ke 11.
Pada umumnya
drivetest
membutuhkan Laptop
yang telah terinstal
software TEMS,
Handphone dan kabel
datanya, dongle, serta
USB GPS.
Drivetest berguna
untuk analisis
coverage sebuah
cakupan jaringan atau
cakupan sebuah cell.
Drivetest
menggunakan sampel
data user perception
pada coverage
tertentu.
INFO ELEMENT
PREPARATION
179
Info Element Preparation
Serving and Neighbour
menunjukkan informasi seperti Cell
name, BSIC, ARFCN, RxLev, C1,
C2, serving cell dan juga enam
neighbour list dengan Rxlevel
terbagus.
Radio Parameter menunjukkan
informasi kondisi radio saat ini
seperti RxLevel, RxQual, FER,
SQI, TA dll
Current Channel menunjukkan
informasi yang berkaitan dengan
channel yang digunakan. Disini
akan didapatkan informasi
mengenai CGI, BSIC, BCCH
ARFCN dan juga Time Slot yang
dipergunakan.
2G
Info Element Preparation
C/A menunjukkan level interferensi
dari adjacent channel.
C/I diartikan Carrier-to-interference
ratio yang menunjukkan rasio
antara kuat sinyal bit-bit informasi
dan kuat sinyal bit-bit interference
yang tidak diinginkan. C/I
disebabkan karena adanya
interferensi yang disebabkan
karena penggunaan frequensi
yang sama oleh cell carrier dan
juga cell yang lain.
Current Channel menunjukkan
informasi yang berkaitan dengan
channel yang digunakan. Disini
akan didapatkan informasi
mengenai CGI, BSIC, BCCH
ARFCN dan juga Time Slot yang
dipergunakan.
2G
What to measure?
RxLev dipergunakan
untuk mengukur kuat
sinyal yang diterima
oleh MS (dalam
satuan dBm).
RxQual menunjukkan
kualitas sinyal yang
diterima oleh MS.
Diukur dari Bit Error
Rate sinyal yang
diterima. Skala yang
digunakan pada
RxQual adalah 0
sampai 7.
INTERFERENCE CHECK
& FREQUENCY
SCANNING
183
Interference Check
Untuk mengecek adanya interferensi dapat dilakukan dengan
pengamatan pada jendela Radio Parameter dan Jendela
Current Channel, apabila RxQual atau C/I atau SQI pada
TRX yang dilakukan pengetesan jelek tetapi RxLevel pada
kondisi baik. Kemungkinan terjadi adanya interferensi. Perlu
adanya pengecekan frekuensi dan perlu dilakukannya frequeny
retune pada TRX tersebut.
Frequency Scanning
Baik buruknya kualitas jaringan
GSM ditentukan dari baik-
buruknya perencanaan frekuensi.
Co-BCCH ataupun Adjacent-
BCCH antara dua site yang
berdekatan dapat menimbulkan
tingginya interferensi diantara
kedua site tersebut. Adanya
overshooting coverage juga
dapat menimbulkan tingginya
interferensi.
Dengan melakukan drivetest kita
dapat mengetahui daerah
dimana terdapat kuat sinyal yang
bagus (RxLevel bagus) tetapi
kualitas sinyalnya buruk (RxQual
jelek), hal ini dapat disebabkan
oleh karena adanya interferensi
di daerah atau spot tersebut.
Dengan menggunakan metode
GSM Scanning kita dapat
mengetahui list BCCH ARCFN
pada suatu daerah/spot dan
mengetahui list BCCH ARFCN
yang menjadi interference
frequency.
Frequency Scanning
Untuk memulai scanning pada Combo Box
Scanning Task pilih Frequency Scanning.
Klik pada tombol Scan Properties.
Klik Pada tab Scanned
Channels centang pada Scan
selected channels kemudian
centang pada Manual
selection lalu klik Select dan
masukkan list ARFCN yang
ingin di-scan. Masukkan hanya
BCCH ARFCN yang
bersesuaian dangan BCCH
ARFCN pada operator yang
ingin diinvestigasi.
Klik tombol Start Scanning untuk memulai
scanning.
klik tombol Stop Scanning untuk
menghentikan proses scanning.
Frequency Scanning ...
Neighbour List Scanning
Mode
Neighbour list scanning
dapat digunakan sebagai
referensi sebuah cell yang
memiliki kuat sinyal bagus
tetapi belum ter-create
sebagai neighbour.
Pendeteksian berdasarkan
kuat sinyal BCCH ARFCN
yang terukur oleh sebab itu
hanya masukan list BCCH
pada operator yang ingin
diinvestigasi. Berikut
tampilan Neighbour List
Scanning Mode.
DRIVETEST KPI
188
Drivetest KPI
Call Setup Success Rate (CSSR)
Call Setup Successful Rate (%) = ((Total number of successful setup)/
(Total number of calls attempt))*100
Total number of successful setup = Jumlah mobile originating calls yang berhasil
menempati kanal trafik (TCH).
Total number of calls attempt = Jumlah total percobaan attempt untuk
melakukan mobile orginating call.
Dropped Call Rate (DCR)
Dropped Call Rate, dikenal juga sebagai TCH drop rate
Dropped Call Rate (%) = ((Call set-up Success) – (number of completed
calls)) / (Call set-up Success)*100
Drivetest KPI
Handover Success Rate (HOSR)
Handover Success Rate (%) = ((Total number of successful handovers) /
(Total number of handover attempts))*100
Handover per Call
Handover per call = (Total number of Handover success / total number of
call setup success)
Rx Level dan Rx Qual
Pada jaringan 2G kita dapat memperhitungkan RF Coverage dan RF Quality
dengan menganalisa sebaran Rx Level dan Rx Qual. Rx Level dipergunakan
untuk mengukur kuat sinyal yang diterima oleh MS (dalam satuan dBm)
sedangkan Rx Qual menunjukkan kualitas sinyal yang diterima oleh MS.
Diukur dari Bit Error Rate sinyal yang diterima. Skala yang digunakan pada Rx
Qual adalah 0 sampai 7.
Drivetest KPI
Rx Qual VS SQI
SQI (Speech Quality Index)
Adalah pengukuran quality yang mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan RxQual.
Berikut beberapa kelemahan RxQual :
BER yang berfluktuasi (tinggi ke rendah atau sebaliknya) menyebabkan perceived
quality lebih rendah daripada BER yang konstan. Sedangkan RxQual hanya mengukur
rata-rata dari BER dan tidak dapat mengukur fluktuasi (deviasi) ini.
RxQual tidak memperhitungkan Frame Erasure Rate (FER).
Saat terjadi handover selalu mengakibatkan hilangnya sebuah frame, yang dapat
menyebabkan menurunnya kualitas di sisi user. Hal ini tidak terlihat pada RxQual.
Pemilihan speech code, level kualitas akan bervariasi setiap speech codec. Dimana
setiap speech codec memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Sedangkan pengukuran SQI juga memperhitungkan :
BER (bit Error Rate)
FER (Frame Erasure Rate)
Handover events
Komputasi yang berbeda untuk setiap speech codec
Speech Coding
FR, HR, EFR and AMR
Voice
Speech
Coding
(FR, HR,
EFR)
Modulasi
GMSK
Burst
Full Rate (FR), speech coding dengan bit rate : 13 kbit/s
Half Rate (HR), speech coding dengan bit rate : 5.6
kbit/s, kapasitasnya dapat dua kali full rate
Enhanced Full Rate (EFR),speech coding dengan bit
rate : 12,2 kbit/s. Ada peningkatan kualitas dibandingkan
dengan Full Rate dengan adanya noise free
Adaptive Multi Rate (AMR), speech codec bersifat
adaptif
DRIVETEST
IMPROVEMENT
193
Drive Test Improvements
Signal Strength Analysis
Shadowed Antenna Faulty Hardware
Height/down Tilt
Output Power
Visit site
Check antenna installation
Is there a better antenna
position at same site?
Add reduce down tilt?
Can antenna be placed
lower or higher to give
better coverage?
Check output power
Parameters
BSPWRT - NON BCCH FREQ
BSPWRB - BCCH FREQ
Site Location
Possible to move site?
New antenna location at
same site? Is it necessary
to expand and build a new
site?
Check alarm & BTS Error
log
Visit site
Missing Neighbor
Is the call dragged?
Is low SS due to missing
neighbor relations
Drive Test Improvements
Interference Analysis
From DT logfile & map:
What channel group suffer from
interference? HOP or Non HOP?
Check Current channel information
in TEMS INV, hopping channel and
hopping frequency.
Where does the interference come
from? Cell name?
Study map and logfile, look for co-
channel or adjacent channel
interference.
Does the interference lead to lower
SQI?
Look at SQI measurement during
high RxQual.
Use OSS statistic to assist analysis.
Possible Solutions:
Enable Frequency Hopping or add
frequencies to Hopping group.
Enable BTS Power Control, MS
power control and make it less
aggressive.
Change frequency of interferer or
interfered cell:
Possible to find new frequency by
using TEMS Scanning.
Down tilt or change antenna of
interferer.
Redo frequency plan.
Add new site.
Drive Test Improvements
Handover Analysis (ping pong)
Analysis ..
• Identify UL/DL interference
• Imbalance link, e.g. most cases UL signal strength issue
• H/W defect, e.g. TRX, combiner, VSWR, etc.
• Cross or swap feeder
• Wrong handover parameter, e.g. UL/DL signal strength or quality
threshold
• Bad neighboring hysteresis parameters, e.g. HOM, etc
Drive Test Improvements
Call Setup Failure Analysis
Analysis:
• Low Signal Strength
• Interference
• High Congestion on SDCCH
• High Congestion on TCH
• Transmission Fault
• Faulty TRX/Hardware
• BSC Processor Overload
• Cell is not defined in MSC.
Possible Solutions:
• Signal strength analysis
• Interference analysis
• Define more SDCCH or adaptive
SDCCH or direct TCH
assignment
• Traffic sharing, redefine SDCCH
to TCH, coverage tuning
• Fix the transmission problem
• Replace faulty TRX
• BTS re-homing, upgrade BSC
capacity
• Define missing cell database in
MSC
Drive Test Improvements
Drop Call Analysis
Analysis ..
• Check the Radio environment just before drop:
 If High Rxqual for a longer period of time and RLINKT expire 
Interference problem.
 If Low SS DL, SSDL < MSSENS ( -104dBm)  low signal
strength problem.
 If TA > 63  too far from the cell.
• If DL radio is good, check the TX power. If there is MS power down
regulation when the MS is close to the cell. If full power  suspect
uplink interference or antenna, TMA problem.
• Verify or isolate the problem using OSS Statistic (Drop call and
reasons).
Drive Test Improvements
Sample Case: Missing Neighbor
Hal ini dapat
menyebabkan efek
"cell dragging“ ;
dimana MS
bergerak tetapi
masih dipegang
oleh cell lama
meskipun telah
melewati jarak
tertentu dan
seharusnya dilayani
oleh cell tetangga
yang RXLevel-nya
lebih bagus. Efek
ini juga dapat
menyebabkan
RXQual dan SQI
buruk karena
interferensi co-
channel.
Drive Test Improvements
Sample Case: Non-mutual Relation
Hal ini dapat
menimbulkan efek
yang sama dengan
efek "Missing
Neighbour".
Pastikan neighbour
relation dibuat “both
way” apabila
ditinjau dari site
database.
Untuk alasan
tertentu, hubungan
“one way”
diperbolehkan,
misalnya pada
lokasi penjara, dll
Drive Test Improvements
Sample Case: Co-channel BCCHFrequency
scanning adalah
cara yang paling
praktis untuk
menemukan
sumber interferensi.
Jika lebih dari satu
BSIC terkodekan
untuk satu ARFCN
BCCH yang
diamati, kita dapat
menyimpulkan
adanya "co-channel
interference".
Dengan
mengetahui BSIC
dan memeriksa
pada site database
kita dapat
mengetahui cell
yang menjadi
sumber interferensi.
Drive Test Improvements
Sample Case: Swap Feeder and Crossed Feeder
Sebuah kasus
cross feeder, dapat
diidentifikasi
melalui Drive Test
dan biasanya
menunjukkan
banyak ping-pong
HO.
Kasus swap
feeder,
mangakibatkan MS
dilayani oleh Cell
yang salah,
misalnya pada
saat MS berada di
area main lobe
sektor 1, MS tidak
dilayani oleh sektor
1, tetapi diserving
oleh sektor 2.
Drive Test Improvements
Sample Case: Low Level Signal at Near Site
Adanya
halangan/medan
perbukitan menjadi
penyebab terjadinya
kasus ini, meskipun
tidak semuanya
disebabkan oleh
kondisi medan.
Seting CRO yang
terlalu tinggi
dibandingkan dengan
BTS yang dekat
dapat menjadi
penyebabnya. MS
akan “camp” pada
BTS yang jauh
meskipun Rx
Levelnya tidak terlalu
kuat tetapi karena
nilai C2 yang tinggi.
End of Training
Questions?
See you in other training class…
TELECOMMUNICATION TRAINING
 GSM Planning
 3G/WCDMA Planning
 GSM Optimization
 3G/WCDMA Optimization
 Wireless Broadband
ELECTRONICS TRAINING
 PCB Design with Eagle/Protel/OrCAD
 Microcontroller System For Beginners
 Microcontroller System For Advanced
TECHNOPRENEURSHIP TRAINING Contact Person :
Lingga Wardhana
Phone : +62 8562893622
Email : lingga.wardhana@floatway.com
Floatway Learning Centre Address :
Cipinang Elok 2 Blok BJ No. 2C
Cipinang Jakarta Timur
Phone : (+62 21) 85911547
Fax : (+62 21) 85911547
www.floatway.com

Recommended

2 g and 3g kpi improvement by parameter optimization (nsn, ericsson, huawei) ...
2 g and 3g kpi improvement by parameter optimization (nsn, ericsson, huawei) ...2 g and 3g kpi improvement by parameter optimization (nsn, ericsson, huawei) ...
2 g and 3g kpi improvement by parameter optimization (nsn, ericsson, huawei) ...Jean de la Sagesse
 
5G NR parameters
5G NR parameters5G NR parameters
5G NR parametersSasi Reddy
 
Throughput Calculation for LTE TDD and FDD System
Throughput Calculation for  LTE TDD and FDD SystemThroughput Calculation for  LTE TDD and FDD System
Throughput Calculation for LTE TDD and FDD SystemSukhvinder Singh Malik
 
Throughput calculation for LTE TDD and FDD systems
Throughput calculation for LTE TDD and FDD systemsThroughput calculation for LTE TDD and FDD systems
Throughput calculation for LTE TDD and FDD systemsPei-Che Chang
 
LTE Attach Call Flow_Vi.pptx
LTE Attach Call Flow_Vi.pptxLTE Attach Call Flow_Vi.pptx
LTE Attach Call Flow_Vi.pptxGaganVerma62
 

More Related Content

What's hot

06a_LTE mobility management v1_0.ppt
06a_LTE mobility management v1_0.ppt06a_LTE mobility management v1_0.ppt
06a_LTE mobility management v1_0.pptssuser022794
 
Pci mod3,6,30 analysis and auto optimization
Pci mod3,6,30 analysis and auto optimizationPci mod3,6,30 analysis and auto optimization
Pci mod3,6,30 analysis and auto optimizationShuangquan Lei
 
Hw lte rf-optimization-guide
Hw lte rf-optimization-guideHw lte rf-optimization-guide
Hw lte rf-optimization-guidetharinduwije
 
01 lte radio_parameters_lte_overview_rl1
01 lte radio_parameters_lte_overview_rl101 lte radio_parameters_lte_overview_rl1
01 lte radio_parameters_lte_overview_rl1Md.Akm Sahansha
 
2 drive test analysis ver1
2 drive test analysis ver12 drive test analysis ver1
2 drive test analysis ver1Virak Sou
 
UMTS system architecture, protocols & processes
UMTS system architecture, protocols & processesUMTS system architecture, protocols & processes
UMTS system architecture, protocols & processesMuxi ESL
 
VoLTE KPI Performance Explained
VoLTE KPI Performance ExplainedVoLTE KPI Performance Explained
VoLTE KPI Performance ExplainedVikas Shokeen
 
Kpi analysis
Kpi analysisKpi analysis
Kpi analysisavneesh7
 
Wcdma kpi-analysis
Wcdma kpi-analysisWcdma kpi-analysis
Wcdma kpi-analysisa8us
 
LTE Call Processing and Handover
LTE Call Processing and HandoverLTE Call Processing and Handover
LTE Call Processing and HandoverSitha Sok
 
Ericsson important optimization parameters
Ericsson important optimization parametersEricsson important optimization parameters
Ericsson important optimization parametersPagla Knight
 
Kpi 2g troubleshootin
Kpi 2g troubleshootinKpi 2g troubleshootin
Kpi 2g troubleshootinAbd Yehia
 
Part 1 fundamentals of 3 g
Part 1  fundamentals of 3 gPart 1  fundamentals of 3 g
Part 1 fundamentals of 3 gHenry Chikwendu
 

What's hot (20)

06a_LTE mobility management v1_0.ppt
06a_LTE mobility management v1_0.ppt06a_LTE mobility management v1_0.ppt
06a_LTE mobility management v1_0.ppt
 
Pci mod3,6,30 analysis and auto optimization
Pci mod3,6,30 analysis and auto optimizationPci mod3,6,30 analysis and auto optimization
Pci mod3,6,30 analysis and auto optimization
 
UMTS/WCDMA Call Flows for Handovers
UMTS/WCDMA Call Flows for HandoversUMTS/WCDMA Call Flows for Handovers
UMTS/WCDMA Call Flows for Handovers
 
Gsm optimization
Gsm optimizationGsm optimization
Gsm optimization
 
Hw lte rf-optimization-guide
Hw lte rf-optimization-guideHw lte rf-optimization-guide
Hw lte rf-optimization-guide
 
Lte optimization
Lte optimizationLte optimization
Lte optimization
 
Umts call-flows
Umts call-flowsUmts call-flows
Umts call-flows
 
01 lte radio_parameters_lte_overview_rl1
01 lte radio_parameters_lte_overview_rl101 lte radio_parameters_lte_overview_rl1
01 lte radio_parameters_lte_overview_rl1
 
LTE Planning
LTE PlanningLTE Planning
LTE Planning
 
2 drive test analysis ver1
2 drive test analysis ver12 drive test analysis ver1
2 drive test analysis ver1
 
UMTS system architecture, protocols & processes
UMTS system architecture, protocols & processesUMTS system architecture, protocols & processes
UMTS system architecture, protocols & processes
 
VoLTE KPI Performance Explained
VoLTE KPI Performance ExplainedVoLTE KPI Performance Explained
VoLTE KPI Performance Explained
 
Kpi analysis
Kpi analysisKpi analysis
Kpi analysis
 
Part 2 planning of 3G
Part 2  planning of 3GPart 2  planning of 3G
Part 2 planning of 3G
 
Wcdma kpi-analysis
Wcdma kpi-analysisWcdma kpi-analysis
Wcdma kpi-analysis
 
LTE Optimization
LTE OptimizationLTE Optimization
LTE Optimization
 
LTE Call Processing and Handover
LTE Call Processing and HandoverLTE Call Processing and Handover
LTE Call Processing and Handover
 
Ericsson important optimization parameters
Ericsson important optimization parametersEricsson important optimization parameters
Ericsson important optimization parameters
 
Kpi 2g troubleshootin
Kpi 2g troubleshootinKpi 2g troubleshootin
Kpi 2g troubleshootin
 
Part 1 fundamentals of 3 g
Part 1  fundamentals of 3 gPart 1  fundamentals of 3 g
Part 1 fundamentals of 3 g
 

Similar to Training 2G RF planning & Optimization

Dunia kerja telekomunikasi seluler for indonesia belajar
Dunia kerja telekomunikasi seluler for indonesia belajarDunia kerja telekomunikasi seluler for indonesia belajar
Dunia kerja telekomunikasi seluler for indonesia belajarindonesiabelajar
 
Survey Guide USO
Survey Guide USOSurvey Guide USO
Survey Guide USORamaEmerald
 
RF Evaluation and Optimization.pptx
RF Evaluation and Optimization.pptxRF Evaluation and Optimization.pptx
RF Evaluation and Optimization.pptxrisetmisred
 
Perencanaan jaringan mobile seluler
Perencanaan jaringan mobile selulerPerencanaan jaringan mobile seluler
Perencanaan jaringan mobile selulerHerdito Wahyu
 
Tugas ii komunikasi nirkabel
Tugas ii komunikasi nirkabelTugas ii komunikasi nirkabel
Tugas ii komunikasi nirkabelmiron2
 
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR ANALISIS PERFORMANSI ANTENA SEASPACE AXY...
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR ANALISIS PERFORMANSI ANTENA SEASPACE AXY...DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR ANALISIS PERFORMANSI ANTENA SEASPACE AXY...
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR ANALISIS PERFORMANSI ANTENA SEASPACE AXY...Arif Hidayat
 
DESIGN AND IMPLEMENTATION WEB BASED EXPERT SYSTEM FOR ANALIZING PERFORMANCE ...
DESIGN AND IMPLEMENTATION WEB BASED  EXPERT SYSTEM FOR ANALIZING PERFORMANCE ...DESIGN AND IMPLEMENTATION WEB BASED  EXPERT SYSTEM FOR ANALIZING PERFORMANCE ...
DESIGN AND IMPLEMENTATION WEB BASED EXPERT SYSTEM FOR ANALIZING PERFORMANCE ...Arif Hidayat
 
Perencanaan jaringan nirkabel
Perencanaan jaringan nirkabelPerencanaan jaringan nirkabel
Perencanaan jaringan nirkabelAtik Charisma
 
PEMBANGUNAN JARINGAN RT-RW NET BERBASIS MIKROTIK DI DESA SUKODONO KECAMATAN D...
PEMBANGUNAN JARINGAN RT-RW NET BERBASIS MIKROTIK DI DESA SUKODONO KECAMATAN D...PEMBANGUNAN JARINGAN RT-RW NET BERBASIS MIKROTIK DI DESA SUKODONO KECAMATAN D...
PEMBANGUNAN JARINGAN RT-RW NET BERBASIS MIKROTIK DI DESA SUKODONO KECAMATAN D...LuffyTopiJerami
 
[Jurnal] pemanfaatan gps untuk pemetaan dengan koordinasi 3 g
[Jurnal] pemanfaatan gps untuk pemetaan dengan koordinasi 3 g[Jurnal] pemanfaatan gps untuk pemetaan dengan koordinasi 3 g
[Jurnal] pemanfaatan gps untuk pemetaan dengan koordinasi 3 gAldima Arifiyanto
 
Huawe 2 g&amp;3g drive test training v1.3
Huawe 2 g&amp;3g drive test training v1.3Huawe 2 g&amp;3g drive test training v1.3
Huawe 2 g&amp;3g drive test training v1.3AK Rahman
 
Proposal Tugas Akhir Teknik Elektro Telekomunikasi
Proposal Tugas Akhir Teknik Elektro TelekomunikasiProposal Tugas Akhir Teknik Elektro Telekomunikasi
Proposal Tugas Akhir Teknik Elektro TelekomunikasiAfif Efendi
 

Similar to Training 2G RF planning & Optimization (20)

Dunia kerja telekomunikasi seluler for indonesia belajar
Dunia kerja telekomunikasi seluler for indonesia belajarDunia kerja telekomunikasi seluler for indonesia belajar
Dunia kerja telekomunikasi seluler for indonesia belajar
 
Survey Guide USO
Survey Guide USOSurvey Guide USO
Survey Guide USO
 
RF Evaluation and Optimization.pptx
RF Evaluation and Optimization.pptxRF Evaluation and Optimization.pptx
RF Evaluation and Optimization.pptx
 
Perencanaan jaringan mobile seluler
Perencanaan jaringan mobile selulerPerencanaan jaringan mobile seluler
Perencanaan jaringan mobile seluler
 
Tugas ii komunikasi nirkabel
Tugas ii komunikasi nirkabelTugas ii komunikasi nirkabel
Tugas ii komunikasi nirkabel
 
Wireless AP Metrics
Wireless AP MetricsWireless AP Metrics
Wireless AP Metrics
 
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR ANALISIS PERFORMANSI ANTENA SEASPACE AXY...
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR ANALISIS PERFORMANSI ANTENA SEASPACE AXY...DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR ANALISIS PERFORMANSI ANTENA SEASPACE AXY...
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PAKAR ANALISIS PERFORMANSI ANTENA SEASPACE AXY...
 
DESIGN AND IMPLEMENTATION WEB BASED EXPERT SYSTEM FOR ANALIZING PERFORMANCE ...
DESIGN AND IMPLEMENTATION WEB BASED  EXPERT SYSTEM FOR ANALIZING PERFORMANCE ...DESIGN AND IMPLEMENTATION WEB BASED  EXPERT SYSTEM FOR ANALIZING PERFORMANCE ...
DESIGN AND IMPLEMENTATION WEB BASED EXPERT SYSTEM FOR ANALIZING PERFORMANCE ...
 
Perencanaan jaringan nirkabel
Perencanaan jaringan nirkabelPerencanaan jaringan nirkabel
Perencanaan jaringan nirkabel
 
Wireless Lan Security
Wireless Lan SecurityWireless Lan Security
Wireless Lan Security
 
Wireless lan security
Wireless lan securityWireless lan security
Wireless lan security
 
PEMBANGUNAN JARINGAN RT-RW NET BERBASIS MIKROTIK DI DESA SUKODONO KECAMATAN D...
PEMBANGUNAN JARINGAN RT-RW NET BERBASIS MIKROTIK DI DESA SUKODONO KECAMATAN D...PEMBANGUNAN JARINGAN RT-RW NET BERBASIS MIKROTIK DI DESA SUKODONO KECAMATAN D...
PEMBANGUNAN JARINGAN RT-RW NET BERBASIS MIKROTIK DI DESA SUKODONO KECAMATAN D...
 
Mentum ellipse rev.1
Mentum ellipse rev.1Mentum ellipse rev.1
Mentum ellipse rev.1
 
[Jurnal] pemanfaatan gps untuk pemetaan dengan koordinasi 3 g
[Jurnal] pemanfaatan gps untuk pemetaan dengan koordinasi 3 g[Jurnal] pemanfaatan gps untuk pemetaan dengan koordinasi 3 g
[Jurnal] pemanfaatan gps untuk pemetaan dengan koordinasi 3 g
 
223 781-1-pb
223 781-1-pb223 781-1-pb
223 781-1-pb
 
Proposial skripsi
Proposial skripsiProposial skripsi
Proposial skripsi
 
Huawe 2 g&amp;3g drive test training v1.3
Huawe 2 g&amp;3g drive test training v1.3Huawe 2 g&amp;3g drive test training v1.3
Huawe 2 g&amp;3g drive test training v1.3
 
Jurnal proyek akhir
Jurnal proyek akhirJurnal proyek akhir
Jurnal proyek akhir
 
Wcdma
WcdmaWcdma
Wcdma
 
Proposal Tugas Akhir Teknik Elektro Telekomunikasi
Proposal Tugas Akhir Teknik Elektro TelekomunikasiProposal Tugas Akhir Teknik Elektro Telekomunikasi
Proposal Tugas Akhir Teknik Elektro Telekomunikasi
 

Training 2G RF planning & Optimization

  • 1. Training Material 2G RF Planning for Network Optimization Hotel Paragon Jakarta 11 & 12 May 2013
  • 2. Our Product and Service Learning Center Research and Development Industrial Product www.floatway.com
  • 3. Lingga Wardhana Educational Background :  Electrical Engineering, Gadjah Mada University (2001 – 2006)  MBA Program, Gadjah Mada University (2011 – present ) Professional Experience :  PT. Siemens Indonesia, Network Optimization Engineer (2006 – 2008)  PT. Lexcorp Solution, RF Optimization Consultant (2008 – 2009)  PT. Nexwave, RF Optimization Consultant (2009)  PT. Lintas Media Telekomunikasi, 3G RF Senior Optimization Consultant (2009 – 2010)  PT. Floatway Systems, Founder (2010 – Present) Achievements :  1st winner of Indosat Telco Project 2005  1st winner of Indosat Wireless Innovation Contest 2007, Hardware Category 3rd position in European Satellite Navigation Competititon 2009 for Regional Gipuzkoa/Spain (www.galileo-masters.eu)
  • 4. Agenda Day One 09.00-10.00 : Step by step 2G RF Planning Process Propagation Model Link Budget dB Review dBm Review 10.00-10.15 (Coffee Break) 10.15-12.00 : GSM Frequency Allocation Frequency Planning Rules 12.00-13.00 (Makan Siang, Sholat) 13.00-15.00 : Review Materi Co-channel & Adjacent Channel Interference 15.00 – 15.30 (Coffee Break, Sholat) 15.30 – 17.00 : Frequency Hopping Strategy Review Materi
  • 6. Proses Belajar Belajar merupakan hak setiap orang, akan tetapi kesempatan mengikuti program pengembangan diri di Floatway Learning Center adalah suatu privilege. Perlu dicatat bahwa belajar merupakan kegiatan individual. Yang diharapkan bahwa peserta juga melakukan kegiatan mandiri seperti membaca, menerapkan teori pada praktek nyata, menganalisis dan hal-hal lain yang mengembangkan kemandirian belajar di luar kelas formal. Privilege bahwa seseorang secara formal telah menjalani kegiatan belajar dan mendapatkan pengakuan atas hasil belajarnya. Sehingga harapannya tidak terjadi kesenjangan antara pemberi materi dan peserta program dan terjadi pertukaran informasi di antara peserta di dalam kelas dan akhirnya kegiatan training class menjadi kegiatan yang menyenangkan tanpa meninggalkan semangat dan kegigihan atau profesional.
  • 7. WHAT IS RF ENGINEER 7
  • 8. What is RF Engineer? RF Engineer atau Radio Frequency Engineer adalah seseorang yang bertanggung jawab segala sesuatu hal pada jaringan seluler yang berhubungan dengan sisi radio. di sisi radio kita dapat mengetahui user perception atau “rasa” yang dialami oleh pengguna jaringan operator
  • 10. RF Planning Site Data (Engineering Parameter) Map Tools : MapInfo Google Earth Necto SiteSee Common Map Tools Planning Tools Planning Tools : NetAct Planner (NSN) Unet (Huawei) TEMS Cell Planner (Ericsson) Asset3G (Aircom) Digunakan oleh RF Optimization team dan Drivetest team. Planning Team Site Data dari Planning (Engineering Parameter) Untuk OSS tim
  • 11. OSS Engineer or Database Engineer Parameter Database Alarm Database Capacity and Utilization Database OSS Tools Digunakan oleh Planning Team salah satunya untuk membuat map dengan relasi adjacent BTS BSC 2G Network Data-data dari OSS digunakan oleh RF Optimization untuk proses optimisasi Site Data dari Planning team dan Parameter Database digunakan untuk membuat Drivetest Cell File OSS Engineer Performance Database OSS Tools : NetAct OSS (NSN) M2000 (Huawei) LMT (Huawei) Citrix (Ericsson) WINFIOL (Ericsson) Batrana (Siemens) Ms Access & Ms Excell Site Data dari Planning (Engineering Parameter)
  • 12. Drivetest Engineer Drive Test Cell File Drivetest Tools Drivetest Tools : TEMS Investigation Nemo Probe Drive Test Logfile Drivetest team mengambil data “user experience” dengan Drivetest Tool Drivetester Team Data Logfile digunakan RF Optimization untuk dianalisis. RF Optimization Team Site Data dari Planning team dan Parameter Database digunakan untuk membuat Drivetest Cell File Logfile dari Drivetester Untuk RF Optimization
  • 13. Rigger Team Site Audit Tools Site Audit Tools : Kompas GPS Kamera Meteran Tilt meter Site Audit Data/ Physical Data Rigger Team Physical data selain digunakan oleh RF Optimization, juga oleh Planning Team untuk mengupdate Site Data. Data-data physical seperti antenna height, antenna downtilt, azimuth dan panoramic picture diambil oleh tim Rigger.
  • 14. Proposal and Reporting Parameter CR Neighbour CR Physical CR Alarm Clearance RF Optimization Drivetest Post Processing Tools Measurement Analysis Tools Parameter Change Request akan dieksekusi oleh tim OSS, Physical Change oleh tim Rigger, Hardware clearance akan diekskalasi ke tim BSS. Physical site data dari rigger atau dari planning team RF Optimization Team Logfile dari Drivetester Performance Statistik dari OSS
  • 15. RF Planning Scope of Work RF Planning Scrambling Code Planning in 3G Frequency Planning in 2G Physical Parameter for New Site Database Parameter for New site Neighbour Planning Planning for add new site Planning for Capacity Expansion
  • 16. RF Optimization Scope of Work RF Optimization Knowing and Reporting Network Performance Knowing and tuning for optimal Network Parameter Acessibility Performance Improvement Retainability Performance Improvement Integrity Performance Improvement Drivetest analysis and recommenda tion Support for newsite and capacity expansion requirement
  • 17. STEP BY STEP PROSES RF PLANNING 17
  • 18. Step by step proses RF Planning
  • 19. Step by step proses RF Planning Analisis trafik dan coverage Trafik dan Coverage Perencanaan Rollout Link Budget Model Trafik Kebutuhan coverage Konfigurasi BTS Perencanaan pasar operator
  • 20. Step by step proses RF Planning Analisis trafik dan coverage
  • 21. Step by step proses RF Planning Pada saat penentuan Nominal Cell Plan data-data mengenai perangkat yang akan digunakan seperti tipe BTS, tipe antena, tipe feeder sudah harus didefinisikan, juga data-data mengenai lokasi site dan juga coverage predictions dengan model propagasi yang telah di-tuning sesuai dengan keadaan sebenarnya. Plan juga harus memperhitungkan site yang sudah ada atau existing site agar tidak terjadi pemborosan biaya dengan penambahan site baru padahal site yang sudah ada dapat lebih dimaksimalkan kapasitasnya. Nominal cell plan
  • 22. Step by step proses RF Planning Radio Site Survey adalah survey awal untuk menentukan bahwa titik pada nominal plan benar- benar cocok untuk diimplementasikan site. Pada saat penentuan posisi site biasanya terdapat tiga titik yang akan di survey. Dari ketiga titik tersebut terdapat batas toleransi biasanya 20% dari jarak antar site. Misalnya pada jaringan GSM dengan jarak rata-rata 800 meter di area urban maka lokasi yang di-survey dari titik awal maksimum dengan radius 160 meter. Radio Site Survey Hal-hal yang perlu di survey : 1. Koordinat GPS 2. Informasi Ketinggian 3. Informasi antena, posisi, tinggi, azimuth 4. Informasi adanya halangan 5. Sketsa dan gambar sekeliling site
  • 23. Step by step proses RF Planning Radio Site Survey Equipment yang diperlukan : GPS, Kompas, Teropong, Kamera Digital, Papper Maps yang akurat, Meteran, Inklinometer, Coverage Plot dan Form isian site survey.
  • 24. Step by step proses RF Planning Radio Site Survey Equipment yang diperlukan : GPS, Kompas, Teropong, Kamera Digital, Papper Maps yang akurat, Meteran, Inklinometer, Coverage Plot dan Form isian site survey.
  • 25. Step by step proses RF Planning Radio Site Survey Equipment yang diperlukan : GPS, Kompas, Teropong, Kamera Digital, Papper Maps yang akurat, Meteran, Inklinometer, Coverage Plot dan Form isian site survey.
  • 26. Step by step proses RF Planning Radio Site Survey Equipment yang diperlukan : GPS, Kompas, Teropong, Kamera Digital, Papper Maps yang akurat, Meteran, Inklinometer, Coverage Plot dan Form isian site survey.
  • 27. Step by step proses RF Planning Kegiatan Sipil dan keperluan instalasi perlu melakukan survei tersendiri yang dinamakan Site Investigation antara lain menginvestigasi kekuatan tanah, instalasi antena yang cocok, Informasi luas area dan informasi sumber daya yang akan digunakan apakah menggunakan jaringan PLN atau harus menggunakan genset. Site Investigation
  • 28. Step by step proses RF Planning Setelah survey selesai dilakukan maka penentuan frekuensi BCCH dan frekuensi TCH dilakukan. Sistem Desain Implementasi Pada tahap ini dilakukan pekerjaan instalasi, commisioning dan testing.
  • 29. Step by step proses RF Planning Setelah site on-air maka dilakukan proses optimisasi pada site tersebut. Sering juga disebut new site optimization atau PLO Karena trafik terus meningkat maka kegiatan optimasi harus terus berjalan. Pada suatu saat perlu penambahan kapasitas untuk mengakomodir trafik yang terus naik. Pada poin ini analisis trafik dan coverage perlu dilakukan dan proses planning berjalan berulang lagi. Proses Optimasi Hal-hal dilakukan saat PLO antara lain : 1. Konfigurasi dilapangan sudah terimplementasi sesuai dengan Final Cell Plan 2. Performance sudah mencapai KPI yang diinginkan 3. Melakukan initial tuning parameter 4. Mengambil Drive test Measurement
  • 31. Radio Wave Propagation Radio Frekuensi dengan rentang frekuensi antara 3Hz sampai 3000 GHz dibagi klasifikasinya menjadi 12 bagian. Komunikasi seluler GSM 900 MHz dan 1800 MHz termasuk dalam kategori UHF.
  • 32. Radio Wave Propagation Meskipun gelombang radio merambat di udara tanpa impedansi sama sekali. Tetapi bukan berarti pentransmissian gelombang radio tanpa loss sama sekali. Faktor-faktor yang mempengaruhi Radio Wave Propagation antara lain : 1. Fakta bahwa gelombang radio dipantulkan oleh permukaan bumi (karena permukaan bumi bersifat konduktif) 2. Loss pada saat pentransmissian karena terdapat halangan gedung atau pepohonan 3. Variasi topografi seperti hutan, pedesaan atau perkotaan
  • 33. Radio Wave Propagation Short Term (fast) dan Long Term (slow) fading Receiving Level distanceVariations due to shadowing Global mean Variations due to Rayleigh fading Longandshort term fading Fast fading muncul karena halangan-halangan yang bersifat sebagai pemantul. Dan akhirnya diterima pada antena penerima berbagai macam sinyal dengan berbagai macam fase, amplitudo dan kadang-kadang saling menghilangkan satu dengan lainnya. Hal ini dapat mengakibatkan lemahnya sinyal. Beberapa solusi dapat digunakan untuk mengurangi efek Fast/Short/Rayleight fading antara lain dengan menambah power output dan juga penggunaan space diversity pada antena.
  • 34. Radio Wave Propagation Space Diversity Diversity dapat diartikan penggunaan dua sinyal di sisi penerimaan yang memiliki perbedaan history pada saat pentransmissian, sehingga salah satu sinyal dengan kualitas yang terbaik yang digunakan. Gambar disamping menunjukkan Receive Diversity pada sistem GSM dengan menggunakan teknik Space Diversity atau dua RX yang terpisah sejauh L
  • 36. Link Budgeting Pada praktek nyata perbedaan antara coverage uplink dan downlink sering terjadi karena perbedaan power antara MS dan BTS. Tetapi bagaimanapun system balancing antara uplink dan downlink harus diperhatikan sebelum melakukan kalkulasi coverage.
  • 37. Link Budgeting Maka balancing sistem untuk GSM900 power class 4 dengan Pout MS = 2W atau 33 dBm dan GdBTS = 3.5 dB dan sensitivitas MS sens = -104 dBm dan sensitivitas BTS BTS sens = -110 dBm maka didapatkan output power maksimum BTS = 42.5 dBm
  • 38. Link Budgeting EiRP (Effective Radiated Power) Power efektif yang diradiasikan pada sisi antena atau yang disebut ERP atau EiRP Huruf i pada EiRP menginterprestasikan apabila power yang sama diberikan kepada antena isotropik yang mempunyai power yang sama dengan antena dengan gain Ga BTS. Seperti telah dijelaskan pada bagian sebelumnya EiRP dan ERP mempunyai selisih sebesar 2.15 dB
  • 39. Link Budgeting MS Power Classes MS Power Class Output Power (dBm) Sensitivity (dBm) 2 39 -106 3 37 -106 4 (handheld) 33 -104 5 (handheld) 29 -104 MS Power Class Output Power (dBm) Sensitivity (dBm) 1 30 -104 2 24 -104 BTS Output Power GSM 900 GSM 1800 Output power (dBm) Sensitivity (dBm) 43.5 -110 33 -106 22 -100
  • 40. Link Budgeting Feeder Loss Feeder Type 800/900 (dB/100m) 1800/1900 (dB/100m) LCF 1/2” 7.0/7.2 10.5 LCF 7/8” 4.0 6.5 LCF 1-1/4” 3.3 5.3 LCF 1-5/8” 2.6 4.2 Feeder length VS Feeder type Feeder Length (m) Feeder Type MiniMacro GSM900 DCS1800 WCDMA2100 1 - 20 LDF 1/2" AVA 7/8" AVA 7/8" AVA 7/8" 21 - 30 - AVA 7/8" AVA 7/8" AVA 7/8" 31 - 40 - AVA 7/8" AVA 7/8" AVA 7/8" 41 - 50 - AVA 7/8" AVA 7/8" AVA 7/8" 51 - 60 - AVA 7/8" LDF 1 1/4" LDF 1 1/4" 60 - 70 - LDF 1 1/4" LDF 1 1/4" LDF 1 1/4" 70 - 80 - LDF 1 1/4" AVA 1 5/8" AVA 1 5/8" > 80 - AVA 1 5/8" AVA 1 5/8" AVA 1 5/8"
  • 41. Short Quiz 1 (Link Budgeting) Sebuah jaringan indoor multi operator GSM 900 dipasangkan ke sebuah gedung. Berapakah EIRP pada sebuah antena, dimana antena tersebut disambungkan dengan feeder LCF 7/8” dengan panjang 200 meter melewati combiner dengan loss 9 dB, sebuah splitter dengan loss 3 db dan gain antenna 3 dBi?
  • 43. dB Review Decibel (dB) adalah satuan (unit) yang menyatakan perbandingan (ratio) dalam bentuk logaritma basis 10. Unit ini sering digunakan untuk menyatakan penguatan (gain) atau redaman (losses) level sinyal, daya dan tegangan. Decibel (dB) digunakan agar representasi gain lebih sederhana. Misal penguatan 10*log (1,000,000,000/1) dapat dituliskan 90 dB. Contoh lain penguatan dari 1ke 0,000000001 dapat dituliskan menjadi -90 dB. Ini memudahkan dalam penulisan penguatan sinyal pada telekomunikasi
  • 44. dBm Review Unit dBm mengekspresikan absolute value dari power. Untuk mengubah dari power (watts) ke dBm Satuan ini sering digunakan dalam telekomunikasi untuk merepresentasikan nilai yang sangat besar atau sangat kecil dalam bentuk yang lebih sederhana. Kesimpulannya gunakan db untuk mengekspresikan ratio antara dua nilai power. Dan gunakan dBm untuk mengekspresikan absolute value dari power.
  • 45. Short Quiz 2 (dB Review) 1. Sebuah output RF dengan power 40 watt dimasukkan ke dalam combiner dengan loss 3 dB berapa watt kah keluaran dari combiner? 2. Jika diketahui power output maksimum sebuah BTS adalah 20 Watt berapa dBm-kah output maksimum BTS tersebut ?
  • 47. GSM Frequency Allocation Pada standar jaringan GSM frekuensi yang lebih tinggi digunakan untuk komunikasi downlink dan frekuensi yang lebih rendah digunakan untuk komunikasi uplink. Hal ini berhubungan dengan power uplink yang biasanya lebih rendah daripada power downlink Guard band sebesar 200 kHz diaplikasikan di batas-batas frekuensi antar operator untuk menghindari terjadinya saling interference pada operator penyedia layanan GSM.
  • 48. 2G Frequency Allocation in Indonesia GSM 900 DCS 1800
  • 49. Frequency & Wavelength Panjang gelombang () adalah jarak yang di ukur dari satu titik dari sebuah gelombang ke titik yang sama di gelombang selanjutnya. = kecepatan cahaya / frekuensi ( c = 3 x 108 m/s) Perilaku Gelombang Radio : • Semakin panjang panjang gelombang, semakin jauh gelombang radio merambat. • Semakin panjang panjang gelombang, semakin mudah gelombang radio melalui atau mengitari penghalang. • Semakin pendek panjang gelombang, semakin banyak data yang dapat di kirim.
  • 50. Short Quiz 3 (Frequency Spectrum) 1. Untuk penetrasi indoor dan coverage bagaimana perbandingan antara sinyal frekuensi GSM dan frekuensi DCS apabila kedua site tersebut memiliki power, ketinggian dan konfigurasi antenna yang sama ? 2. Apakah keuntungan operator dengan frekuensi GSM 1800 yang contiguous (berdampingan) dibandingkan dengan frekuensi yang tidak berdampingan seperti yang dialami oleh operator-operator GSM di Indonesia ?
  • 52. Frequency Planning Rules Setiap operator seluler akan mendapatkan sekumpulan ARFCN (satu ARFCN = 200 kHz) dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu BCCH carriers dan TCH carriers. Misalkan sebuah operator mendapatkan 40 carriers dari channel 1 sampai 40. Maka pembagian channelnya akan tampak seperti gambar diatas, BCCH carriers TCH carriers BCCH frequency TCH frequency Spacing Frequency
  • 53. Frequency Planning Rules Maka didapatkan pembagian 1. 15 carriers digunakan untuk BCCH frequency 2. 24 carriers digunakan untuk TCH frequency 3. 1 carrier digunakan untuk guard band antara BCCH carriers dan TCH carriers
  • 54. Frequency Planning Rules Sektor yang saling berhadapan atau berada dalam satu site minimal harus berselisih 2 ARFCN, sektor yang memiliki azimuth sama dan bersebelahan langsung juga harus berselisih 2 ARFCN. Jaringan pada real network jauh lebih rumit dimana orientasi setiap antena tidak homogen dan jumlah konfigurasi TCH jauh lebih lebih banyak.
  • 56. Co-channel Interference Co-Channel Interference adalah interferensi yang disebabkan karena penggunaan frequensi yang sama oleh cell carrier dan juga cell yang lain. Pada GSM Spesification rasio antara carrier dan interference atau disebut C/I harus lebih besar dari 9dB. Tetapi biasanya operator menentukan bahwa rasio C/I harus lebih besar dari 12 dB. Apabila digunakan frequency hopping maka margin berkurang 3dB
  • 57. Adjacent Channel Interference Setiap frekuensi ARFCN mempunyai bandwidth 200 kHz. Dan setiap frequency yang adjacent (berbeda 200 kHz atau 1 ARFCN) tidak diperbolehkan memiliki sinyal yang terlalu kuat juga. Meskipun berbeda frekuensi beberapa sinyal yang berhimpitan frekuensinya dapat mempengaruhi kualitas. Pada GSM Spesification rasio antara carrier dan adjacent frekuensi harus lebih besar dari 9dB. Adjacent Channel Interference harus dihindari pada cells di site yang sama dan juga pada neighbouring cells.
  • 58. Adjacent Channel Interference Perencanaan frekuensi untuk menghindari adjacent dan co-channel interference.
  • 59. Short Quiz 4 ( Frequency Planning) 1. Sebuah operator memiliki site GSM dengan sector heterogen seperti tampak pada gambar dibawah. Apabila ditentukan ARFCN BCCH : 51 – 68, ARFCN TCH : 70 -87, ARFCN 69 sebagai guard band. Dan konfigurasi cell 2/2/2. Lakukan alokasi frequency untuk cell-cell dibawah ini.
  • 61. Frequency Hopping Frequency hopping adalah teknik penggunaan sistem spread spectrum untuk mengurangi efek interferensi, multipath fading dan juga untuk menghindari frequency jamming. Dalam Frequency hopping setiap frequency carrier berubah dalam sekuensial yang bersifat pseudorandom. Ada dua macam frequency hopping yaitu Baseband Hopping dan juga Synthesizer hopping.
  • 62. Frequency Hopping Keuntungan frequency hopping 1. Frekuensi hopping memudahkan dalam proses planning karena enginner tidak perlu lagi mem-plan satu-persatu frekuensi untuk setiap TCH carrier 2. Karena frekuensi hopping terdiri dari sekumpulan frekuensi maka dengan mengatur tabrakan antar frekuensi seminimal mungkin bisa meningkatkan performansi jaringan. 3. Dengan frekuensi hopping mengurangi loss-loss yang disebabkan dari fading, multipath propagation dan karena co-channel interference.
  • 63. Frequency Hopping Synthesizer Hopping 1 x 1 Semua site menggunakan frekuensi grup yang sama. Semua sektor dalam satu site menggunakan HSN (Hopping Sequence Number) yang identik tetapi antar site HSN harus berbeda. Ada konfigurasi tertentu untuk MAIO untuk menghindari interferensi co- channel dan adjacent channel.
  • 64. Frequency Hopping Synthesizer Hopping 1 x 3 Setiap sector memiliki frekuensi grup yang berbeda. Jarak minimal antar frekuensi dalam group 2 ARFCN. Jarak minimal antar frekuensi beda sektor dalam satu site 2 ARFCN. Semua sektor dalam satu site menggunakan HSN (Hopping Sequence Number) yang identik tetapi antar site HSN harus berbeda.
  • 65. Frequency HoppingSynthesizer Hopping 1 x 1 MAIO Management P = jumlah TRX per sektor n = urutan TRX Jumlah TRX Sector 1 Sector 2 Sector 3 TRX1 0 2p 4p TRX2 2 2p + 2 4p + 2 TRX3 4 2p + 4 4p + 4 …. …. …. …. TRXn 2n-2 2p+(2n-2) 4p+(2n-2) Jumlah TRX Sector 1 Sector 2 Sector 3 TRX1 0 6 12 TRX2 2 8 14 TRX3 4 10 16 Contoh site dengan konfigurasi 3/3/3
  • 66. Frequency HoppingSynthesizer Hopping 1 x 3 MAIO Management n = urutan TRX Jumlah TRX Sector 1 Sector 2 Sector 3 TRX1 0 1 0 TRX2 2 3 2 TRX3 4 5 4 …. …. …. …. TRXn 2n – 2 4n – 2 6n – 2
  • 67. Frequency HoppingCyclic Hopping dan Random Hopping Pada Synthesizer Hopping ada dua macam lompatan frekuensi yaitu Cyclic Hopping dan Random Hopping. Pada Cyclic Hopping lompatan berdasarkan pattern tertentu sedangkan pada Random Hopping lompatan frekuensi bersifat Random.
  • 68. Frequency Hopping Kalkulasi Fractional Load Perhitungan fractional load digunakan untuk menentukan Apakah dengan jumlah frekuensi yang tersedia dapat digunakan untuk penggunaan teknik SFH karena berhubungan dengan probabilitas frekuensi yang sama dipancarkan pada saat yang bersamaan. Oleh sebab itu semakin besar pengalokasian frekuensi untuk teknik SFH 1 x1 atau 1 x 3 maka kualitas RF semakin baik. Untuk menggunakan teknik SFH 1 x 3 maksimum Fractional Load adalah sebesar 50%.
  • 69. Frequency Hopping Kalkulasi Fractional Load Perbandingan FER antara SFH 1 x 3 dengan Fractional Load 30% dan 60%. FER atau Frame Erasure Rate adalah perhitungan persentase sebuah blok pada sebuah frame yang dihapus karena kesalahan pada saat parity check (CRC). Dapat dilihat dengan Fractional Load 30% memberikan kualitas jaringan yang lebih baik.
  • 70. Short Quiz 5 (Frequency Hopping) 1. Bandingkan Fractional Load cell-cell GSM pada ketiga operator besar Telkomsel, Indosat, XL apabila ketiganya menggunakan SFH 1 x 1, alokasi BCCH 15 ARFCN dan maksimum konfigurasi TRX 4/4/4 ? 2. Bandingkan Fractional Load cell-cell GSM pada ketiga operator besar Telkomsel, Indosat, XL apabila ketiganya menggunakan SFH 1 x 3, alokasi BCCH 15 ARFCN dan maksimum konfigurasi TRX 4/4/4 ? 3. Apabila maksimum fractional load untuk SFH adalah 60% baik untuk SFH 1 x 1 maupun SFH 1 x 3 berapa maksimum konfigurasi TRX untuk DCS tiap operator apabila alokasi BCCH ARFCN 29 dan guard band 1 ?
  • 71. Short Quiz 6 (Frequency Hopping) 1. Pelajari kembali materi mengenai SFH 1 x 1 dan SFH 1 x 3. Kemudian tentukan MAIO , frequency group dan HSN pada kumpulan site-site GSM 900 dibawah ini apabila diketahui ARFCN yang digunakan untuk frekuensi TCH adalah 2 sampai 28. Dan teknik SFH yang digunakan adalah SFH 3 x 3 ?
  • 72. Agenda Day Two 08.00-08.30 : Review Materi 08.30-10.00 : Traffic Engineering in GSM TCH and SDCCH Channel Dimensioning 10.00-10.15 (Coffee Break) 10.15-12.00 : GSM Architecture & BTS Type 12.00-13.00 (Makan siang, sholat) 13.00-15.00 : Handover and Cell Reselection Concept GSM Radio Optimization 15.00-15.30 (Coffee Break, Sholat) 15.30-17.00 : Drivetest Optimization Post Test
  • 74. GSM Channel Type TCH/F dan TCH/H Traffic Channels digunakan untuk transmisi data. BCH (Broadcast Channels) hanya digunakan pada saat DL untuk sinkronisasi MS dan informasi broadcast. CCCH (Common Control Channel) digunakan untuk komunikasi dua arah downlink dan uplik pada saat pengaksesan awal sebelum MS melakukan panggilan telepon, SMS dll DCCH (Dedicated Control Channel) digunakan untuk komunikasi dua arah downlink dan uplink untuk sinyal dedicated.
  • 76. Traffic Channel Trafik merepresentasika n penggunaan kanal dan dapat diartikan holding time tiap unit waktu atau besaran panggilan per jam untuk setiap satu sirkuit (kanal). Sebagai contoh sebuah cell memiliki dua carrier/TRX dan alokasi untuk kanal TCH misalkan 14 TCH (didapat dari 2 x 8 -2 = 14, dua kanal yang lain diperuntukkan untuk kanal BCCH dan SDCCH) maka dengan GOS 2% berdasarkan tabel erlang B trafik yang dilewatkan sebesar 8.2003 Erlang. Trafik dihitung dalam Erlang (E), sebagai contoh seorang subscriber menggunakan telepon selama satu jam maka akan menghasilkan trafik sebesar 1E. GOS 2% disini diartikan dari 100 antrian panggilan masuk hanya 2 panggilan yang mengalami congestion (kepenuhan). Seorang ilmuwan berkebangsaan Denmark, Erlang, menemukan Erlang B Table untuk mengasumsikan banyaknya erlang yang dapat ditampung berdasarkan jumlah kanal dan GOS. Hal sebaliknya juga bisa dilakukan. Contoh apabila kita memiliki besaran trafik dan ingin diketahui besaran kanal yang dibutuhkan. Misalkan trafik 33 Erlang dengan GOS 2% maka channel yang dibutuhkan 43 kanal.
  • 77. Tabel Erlang B Traffic Channel Dengan alokasi 14 kanal dan menggunakan GOS 2% maka berdasarkan tabel erlang B trafik yang dilewatkan sebesar 8.2003 Erlang.
  • 78. Erlang Calculator Menggunakan Calcucel Tools seperti calcucel dapat digunakan untuk menghitung Traffic dari sebuah kanal dengan menggunaka n tabel erlang B.Bagaimana perhitungan dimensionin g kanal TCH atau SDCCH apabila data yang perlu dihitung dalam jumlah besar ?
  • 79. Short Quiz 7 (Traffic Channel) 1. Sebuah cell mengalami SDCCH Blocking. Saat ini cell tersebut dialokasikan satu kanal SDCCH. Pada saat busy hour traffic SDCCH yang harus dilewatkan sebesar 14.5 erlang. Dengan menggunakan GOS 2% berapa jumlah kanal SDCCH harus ditambah ? 2. Sebuah cell mengalami TCH Blocking. Saat ini terdapat 14 kanal TCH pada cell tersebut. Pada saat busy hour traffic TCH yang harus dilewatkan sebesar 18 erlang. Dengan menggunakan GOS 2% berapa jumlah TRX yang harus ditambah pada cell tersebut ?
  • 81. Erlang Calculator Menggunakan NPFun32 NPFun32 adalah suatu add in pada Microsoft Excell yang dapat digunakan untuk membantu dimensioning capacity pada kanal GSM
  • 82. Capacity Dimensioning (TCH Channel) Step by step proses (1) Jumlah kanal Full Rate Jumlah kanal Half Rate Jumlah kanal GPRS Dedicated 2 Erlang Offered (TCH) Erlang Offered (TCH)=npErlbTraf(2%,Full Rate+(Half Rate*2)-Dedicated GPRS Channel) Erlang Offered (TCH) TCH Traffic Busy Hour TCH Utilization
  • 83. Capacity Dimensioning (TCH Channel) Step by step proses (2) TCH Traffic Busy Hour Kebutuhan kanal TCH dengan utilisasi 80% dari Busy Hour Traffic Kebutuhan kanal TCH =npErlbChs(TCH Traffic Busy Hour+(20%*TCH Traffic Busy Hour),2%) Add/Reduce TCH Kebutuhan kanal TCH dengan utilisasi 80% dari Busy Hour Traffic Jumlah kanal Full Rate Jumlah kanal Half Rate Jumlah kanal GPRS Dedicated 2
  • 84. Capacity Dimensioning (SDCCH Channel) Step by step proses (1) Jumlah kanal SDCCH 8 Erlang Offered (SDCCH) Erlang Offered (SDCCH)=npErlbTraf(2%,(Jumlah kanal SDCCH*8)) SDCCH Traffic Busy Hour Max SDCCH TrafficVS Average SDCCH Traffic Erlang Offered (SDCCH) Max SDCCH Traffic SDCCH Utilization
  • 85. Capacity Dimensioning (SDCCH Channel) Step by step proses (2) Max SDCCH Traffic Kebutuhan kanal SDCCH dengan utilisasi 80% dari Busy Hour Traffic Kebutuhan kanal SDCCH =ROUNDUP(npErlbChs(Max SD+(20%*Max SD),2%)/8,0) Kebutuhan kanal SDCCH dengan utilisasi 80% dari Busy Hour Traffic Jumlah SDCCH 8 Add/Reduce SDCCH
  • 86. Short Quiz 8 (Capacity Dimensioning) 1. Dengan menggunakan add in NPFun32. Isilah tabel dibawah ini. TRX Data Channel Data Erlang Offer TRAFFIC Utilization TRAFFIC Utilization Capacity DimensioningcellId SumOf#ofTRX SumOf#ofTRXHR SumOf#ofSDCCH SumOf#ofFRChn SumOf#ofDRChn TotalChannel TCH SDCCH TCHTrafficBH TCHUtilization SDTrafficBH SDTrafficAve MaxSDTraffic SDUtil TCHUtil80%-Need#ofTCH Total#ofTCHNow Add/ReduceTCH SDUtil80%-Need#ofSD Total#ofSDNow Add/ReduceSDCCH #dedicatedGPRSTS 22354 2 2 2 0 13 16 8.01 1.04 0.87 0 22355 2 2 2 0 13 16 14.905 2.035 1.435 0 22356 2 2 2 0 13 16 5.575 0.425 0.415 0 24084 2 1 2 10 3 16 9.695 0.95 0.555 0 24085 2 2 2 2 11 16 16.465 1.84 1.345 0 24086 2 2 3 0 12 16 19.88 3.16 2.515 0 24091 2 0 2 13 0 16 0 0 0 2 24092 2 0 2 13 0 16 0 0 0 1
  • 88. GSM Architecture Mobile Switching Center (MSC) berfungsi sebagai switch dan penghubung dengan jaringan fixed. Network Switching Systems Home Location Register (HLR) HLR merupakan database yang berisi data-data pelanggan yang tetap. Visitor Location Register (VLR) VLR merupakan database yang berisi informasi sementara mengenai pelanggan, terutama saat lokasi dari pelanggan diluar cakupan area jaringan HLR-nya Base Transceiver Station (BTS) BTS merupakan perangkat pemancar dan penerima yang memberikan pelayanan radio kepada MS. Base Station Systems Base Station Controller (BSC) BSC membawahi satu atau lebih BTS serta mengatur trafik yang datang dan pergi dari BSC menuju MSC atau BTS.
  • 89. BTS Type Nokia’s BTS now merger as Nokia Siemens Networks
  • 90. BTS Type Siemens’s BTS now merger as Nokia Siemens Networks
  • 92. Tower Type 1. BTS Greenfield dengan struktur berkaki empat, biasanya untuk BTS dengan ketinggian lebih dari 30 meter di daerah rural 2. BTS Greenfield dengan struktur berkaki tiga, lebih hemat tempat dan cocok untuk daerah perkotaan 3. BTS kamuflase yang menyerupai pohon untuk keindahan estetika 4. BTS monopole 5. Ericsson Tower Tube, tower yang ramah lingkungan. 6. BTS yang difungsikan juga sebagai lampu penerangan
  • 93. Indoor BTS Gambar Antena indoor building. Beberapa gedung-gedung tinggi di kota besar seperti Jakarta misalnya diharuskan menggunakan antena indoor karena penetrasi sinyal BTS macro biasanya sangat lemah didalam gedung.
  • 94. Short Quiz 9 ( Architecture) 1. Si A (MOC) menelepon si B (MTC). Si A menggunakan jaringan 2G sedangkan si B menggunakan 3G. Gambarkan aliran data A ke B pada arsitektur jaringan seluler ! 2. Si A kembali menelepon si B menggunakan Google Talk. Si A menggunakan jaringan 3G sedangkan si B menggunakan 2G. Gambarkan aliran data dari A ke B pada arsitektur jaringan seluler !
  • 96. Idle Mode and Dedicated Mode Idle mode adalah kondisi dimana MS tidak sedang melakukan panggilan telepon. Sedangkan dedicated mode adalah kondisi dimana MS sedang melakukan panggilan.
  • 97. Cell Selection Cell Selection adalah proses sinkronisasi awal saat MS dinyalakan sehingga terhubung ke operator jaringan seluler dan layanan jaringan dapat digunakan sepenuhnya. Proses Cell Selection menggunakan kanal logika BCCH untuk sikronisasi frekuensi antara MS dan cell.
  • 98. Cell Selection MCC MNC Brand Operator Status Bands (MHz) 510 00 PSN PT Pasifik Satelit Nusantara (ACeS) Operational Satellite 510 01 INDOSAT PT Indonesian Satellite Corporation Tbk (INDOSAT) Operational GSM 900 / GSM 1800 / UMTS 2100 510 03 StarOne PT Indosat Tbk Operational CDMA 800 510 07 TelkomFlexi PT Telkom Operational CDMA 800 510 08 AXIS PT Natrindo Telepon Seluler Operational GSM 1800 / UMTS 2100 510 09 SMART PT Smart Telecom Operational CDMA 1900 510 10 Telkomsel PT Telekomunikasi Selular Operational GSM 900 / GSM 1800 / UMTS 2100 510 11 XL PT XL Axiata Tbk Operational GSM 900 / GSM 1800 / UMTS 2100 510 20 TELKOMMobile PT Telkom Indonesia Tbk Unknown GSM 1800 510 21 IM3 PT Indonesian Satellite Corporation Tbk (INDOSAT) Not operational GSM 1800 510 27 Ceria PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia Operational CDMA 450 510 28 Fren/Hepi PT Mobile-8 Telecom Operational CDMA 800 510 89 3 PT Hutchison CP Telecommunications Operational GSM 1800 / UMTS 2100 510 99 Esia PT Bakrie Telecom Operational CDMA 800 PLMN (Public Land Mobile Network) selection adalah proses pertama kali saat dilakukan cell selection PLMN, atau istilah mudahnya adalah operator, dibedakan dengan MCC (Mobile Country Code) dan MNC (Mobile Network Code).
  • 99. Cell Re-Selection Cell Reselection adalah proses perpindahan mobile user dari satu cell ke cell yang lain pada saat idle mode Cell awal yang ditinggalkan disebut source cell sedangkan cell tujuan disebut dengan target cell.
  • 100. Handover Handover adalah proses perpindahan mobile user dari satu cell ke cell yang lain pada saat dedicated mode. Handover berfungsi untuk tetap menjaga koneksi sewaktu melakukan panggilan ketika mobile user berada diluar jangkauan source cell. Terdapat beberapa kriteria yang menyebabkan terjadinya handover antara lain sinyal yang lemah pada source cell yang telah melewati batas yang telah ditentukan, kualitas yang kurang bagus dll. Pada saat terjadi handover koneksi dengan source cell diputus dan dipindahkan ke target cell oleh sebab itu handover adalah proses yang sangat komplek dan kritis pada sistem GSM.
  • 101. Handover Handover Type Intra cell handover Inter cell handover Inter BSC handover Inter MSC handover Inter PLMN
  • 102. Paging Paging adalah proses broadcast pesan dari jaringan seluler kepada spesifik mobile user untuk mengetahui posisi tepatnya mobile user dalam suatu cell. Pendekatan yang sangat baik adalah sistem harus melakukan paging ke semua cell untuk mengetahui dimana tepatnya mobile user berada. Tetapi apabila ini dilakukan maka kapasitas radio yang digunakan akan sangat besar. Hal ini dapat diatasi dengan adanya Location Area dan Location Update.
  • 103. Location Update Location Update digunakan untuk mengurangi jumlah proses paging yang harus dilakukan oleh sistem jaringan seluler. Setiap proses Location update dilakukan update data-data tepatnya posisi MS berada dalam suatu cell akan disimpan dalam VLR (Visitor Location Register). Update data pada VLR diambil dari data subscriber pada HLR (Home Location Register). Sistem jaringan seluler dibagi menjadi beberapa location area, setiap BSC dapat terdiri dari beberapa location area dan minimal terdiri dari satu location area. Dengan adanya Location Update proses paging tidak harus dilakukan di semua cell di satu jaringan seluler tetapi hanya dilakukan oleh cell-cell yang berada dalam satu Location Area. Setiap mobile user mengidentifikasikan location area yang baru, dan berpindah ke location area yang baru maka MS akan melakukan Location Update. Proses Location update tidak hanya terjadi apabila terjadi perpindahan Location Area tetapi juga terjadi secara periodik apabila MS masih terletak pada Location Area yang sama agar data selalu ter-update.
  • 105. Outgoing Call Proses melakukan panggilan keluar atau Outgoing Call biasa disebut juga sebagai Mobile Originating Call (MOC)
  • 106. Incoming Call Proses menerima panggillan masuk atau Incoming Call biasa disebut juga sebagai Mobile Terminating Call (MTC)
  • 107. Short Quiz 10 (Handover & Cell Reselection) Site A Site A adalah sebuah newsite dengan Cell Id (CI) 64451, 5632, 5633 buatlah neighbour relation dengan mencantumkan CI source dan CI target agar newsite Site A dapat memproses handover dan cell reselection dengan cell-cell sekitarnya.
  • 111. Why Optimization ? • Parameter yang di-set pada proses planning harus ditinjau ulang menurut statistik jaringan • Saat jumlah pengguna meningkat, ekspansi jaringan harus dipertimbangkan juga implementasi strategi baru • Frekuensi mungkin harus diubah untuk menghindari interferensi dan meminimalisir degradasi kualitas jaringan selama pertumbuhan user Why optimize a network? Hasn’t everything been done during planning phase? NO!
  • 112. Why Optimization ? Dari sisi operator, Optimization dapat memaksimalkan efisiensi jaringan, meminimalisir churn rate (pergantian kartu oleh user), menarik customer baru, meningkatkan kepuasan pelanggan dan menaikkan revenue.
  • 113. Revenue Example : Berikut adalah suatu contoh perhitungan bagaimana dengan menaikkan CSSR (Call Setup Success Rate) dapat menaikkan revenue yang tidak sedikit ke operator. Skenario : Sebuah jaringan pada suatu Propinsi dengan 36 BSC Jumlah Trafik pada saat Busy Hour : 21.353 Erlang/BH Mean Call Holding Time (Rata-rata lama panggilan telepon) : 60 Detik CSSR Improvement sebesar 1,43 % dari 88,3 % ke 89,73 % Diasumsikan 50 % pengulangan panggilan dan 50 % kenaikan panggilan Harga adalah per menit adalah 100 IDR dan lama Busy Hour per day = 8 Berapakah Kenaikan Revenue yang diperoleh selama setahun? Perhitungan : Jumlah kenaikan panggilan pada Busy Hour : 21.353 Erlang × 3600/60 × 1,43 % = 18320 call/BH Jumlah kenaikan revenue per Busy Hour : 18320 × 50 % × 100 x 60/60 = 916000 IDR/BH Jumlah kenaikan revenue per tahun : 916000 × 8 × 365 = 2.674.720.000 IDR/Year Kesimpulan : Why Optimization ?
  • 115. Key Performance Indicator Menurut rekomendasi dari ITU (International Telecommunication Union) terdapat 3 kategori pengklasifikasian Key Performance Indicator (KPI) untuk evaluasi sebuah jaringan yaitu Accessibility, Retainability dan Integrity.
  • 116. Key Performance Indicator Accessibility adalah kemampuan user untuk memperoleh servis sesuai dengan layanan yang disediakan oleh pihak penyedia jaringan. Contoh pada jaringan 2G yang termasuk dalam kategori Accessibility adalah Random Access Success Rate (RACH Success Rate), SD Drop Rate, SDCCH Success Rate, SDCCH Blocking Rate dan TCH Blocking Rate. Retainability adalah kemampuan user dan sistem jaringan untuk mempertahankan layanan setelah layanan tersebut berhasil diperoleh sampai batas waktu layanan tersebut dihentikan oleh user. Contoh pada jaringan 2G yang termasuk dalam kategori Retainability adalah TCH Drop Rate, Erlang per Minute Drop. Integrity adalah derajat pengukuran disaat layanan berhasil diperoleh oleh user. Contoh pada jaringan 2G yang termasuk dalam kategori Integrity adalah Handover Succes rate, FER, RxQual, SQI. *Mobility adalah derajat pengukuran yang berkaitan pada mobilitas. Beberapa operator memasukkan beberapa KPI yang beruhubungan dengan mobilitas dalam group KPI mobility.
  • 117. Key Performance IndicatorNormal call flow untuk MOC dan relasinya dengan KPI
  • 118. Key Performance IndicatorNormal call flow untuk MTC dan relasinya dengan KPI
  • 120. Worst Cell Definisi Worst cell adalah sebuah site/cell yang memiliki performance jelek dan secara wajar mempengaruhi performance pada jaringan. Worst cell didefinisikan setelah KPI ditentukan. Apabila Key Performance Indicator telah didefinisikan maka proses selanjutnya adalah perumusan formula untuk KPI tersebut. Dan penentuan Worst cell dapat dibuat setelah diketahuinya formula dari setiap KPI. Untuk menghasilkan sebuah Worst cell yang tepat maka diharuskan menggunakan dua kriteria yaitu kriteria value dan kontribusinya. Kontribusi dapat menggunakan kontribusi fail atau kontribusi trafik.
  • 122. Worst Cell Category KPI 1 Name Criteria 1 KPI 2 Name Criteria 2 Accessibility SDSR SDSR Value < 96 % Drops on SDCCH Drops on SDCCH Contribution > 0.05 % Accessibility SDCCH Blocking Rate SDCCH Blocking Rate Value > 2 % Failed SDCCH Seizures due to Busy SDCCH SDCCH Seizures due to Busy SDCCH Contribution > 0.05 % Accessibility TCH Blocking Rate TCH Blocking Rate Value > 2 % Failed TCH Seizures due to Busy TCH (Signaling Channel) + Failed TCH Seizures due to Busy TCH (Traffic Channel) Failed TCH Seizures due to Busy TCH (Signaling Channel) + Failed TCH Seizures due to Busy TCH (Traffic Channel) Contribution > 0.05 % Retainability Drop Call Drop Call Value > 1 % Call Drops on TCH Call Drops on TCH Contribution > 0.05 % Retainability TBF Completion Rate TBF Completion Rate Value < 96 % TBF Failure TBF Failure Contribution > 0.05 % Mobility HOSR HOSR Value < 96 % HOSR Failure HOSR Failure Contribution > 0.05 % Integrity GPRS throughput (kbps) GPRS throughput Value < 48 kbps Integrity EDGE throughput (kbps) EDGE throughput Value < 64 kbps
  • 124. Cell Reselection Salah satu kriteria yang harus dipenuhi adalah C1 > 0 C1 = (A-Max (B, 0)) A = Rata-rata power yang diterima – RXLEV_ACCESS_MIN = RLA_P – RXLEVAMI (Siemens) = Received signal level – ACCMIN (Ericsson) B = MS_TXPWR_MAX_CCH – P = MSTXPMAXCH – P (Siemens) = CCHPWR – P (Ericsson) RXLEVAMI atau ACCMIN adalah parameter cell level yang mengindikasikan sinyal level minimum yang dibutuhkan MS untuk mengakses ke sistem. MSTXPMAXCH/ CCHPWR adalah parameter yang mengindikasikan power transmit maksimum MS untuk mengakses ke sistem dan P adalah output power maksimum MS tergantung dari MS Class. C1 Parameter
  • 125. Cell Reselection MS akan mengkalkulasi kriteria path loss pada serving cell dan non serving cell paling tidak selama 5 detik. Kriteria path loss terpenuhi jika C1> 0 (jika C1 < 0 pada periode paling tidak 5 detik maka cell dihilangkan dari list). Jika C1 pada neighbour cell lebih tinggi daripada C1 pada serving cell maka akan terjadi cell reselection dari serving cell ke neighbour cell. Terdapat parameter CELLRESH(Siemens) dimana terdapat histerisis value pada perhitungan path loss C1. Sehingga apabila C1 neighbour cell > C1 serving cell + CELLRESH paling tidak selama 5 detik maka baru akan terjadi cell reselection. Parameter CELLRESH(Siemens) berfungsi untuk menghindari terjadinya kejadian cell reselection yang tidak perlu (ping- pong cell reselection). C1 Parameter
  • 126. Cell Reselection C2 Parameter C2 berguna pada saat penggunaan strategi load sharing antara GSM dan DCS dan juga untuk menghindari cell reselection yang tidak perlu pada fast moving MS dimana terdapat coverage microcell dan coverage macrocell. C2 = C1 + CRESOFF (Siemens) - TEMPOFF (Siemens) C2 = C1 + CRO (Ericcson) - TO (Ericsson) PENTIME ( Siemens) / PT (Ericsson) < 31 C2 = C1 + CRESOFF (Siemens) C2 = C1 + CRO (Ericcson) PENTIME ( Siemens) / PT (Ericsson) expired C2 = C1 - CRESOFF (Siemens) C2 = C1 - CRO (Ericcson) PENTIME = 31 Untuk kasus load sharing strategy antara GSM dan DCS biasanya akan dilakukan seting dimana C2 DCS > C2 GSM. Dengan TEMPOFF (Siemens) / TO (Ericsson) = 0 dan PENTIME ( Siemens) / PT (Ericsson) = 0. Sehingga hanya parameter CRESOFF(Siemens) / CRO (Ericcson) saja yang digunakan.
  • 127. Cell Reselection C2 Parameter Aplikasi Timer Pentime/PT Aplikasi Pada Fast Moving MS
  • 128. Short Quiz 11 (Traffic Sharing) Cell A GSM memiliki traffic utilization 90% dan Cell B DCS memiliki traffic utilization 40 %. Keduanya berdekatan. Bagaimana setting parameter yang disarankan agar utilization kedua site balance? Cell C GSM memiliki traffic utilization 40% dan Cell D DCS memiliki traffic utilization 90 %. Keduanya berdekatan. Bagaimana setting parameter yang disarankan agar utilization kedua site balance? Push ke DCS Push ke GSM CRO PT TO
  • 130. Power Control Untuk menghindari dominasi interferensi dari user yang memiliki sinyal sangat kuat dan biasanya berada pada jarak yang lebih dekat dengan base station, digunakan konsep power control. Power control akan mengatur daya pancar tiap-tiap user sehingga daya yang diterima oleh base station adalah sama untuk semua user yang tersebar secara acak pada setiap lokasi di dalam sel yang dicakup oleh base station. Power control akan memerintahkan mobile station untuk menaikkan daya pancarnya ketika level RxLevel atau RxQual menurun dan akan memerintahkan MS untuk menurunkan daya pancarnya ketika RxLevel tinggi.
  • 131. Handover & Power Control Parameter
  • 132. Handover & Power Control Parameter Ini adalah daerah dimana terjadi handover karena low RxLevel.1 Dimana threshold ini diatur oleh parameter HOLTHLVDL (Siemens) / threshold level downlink Rx level (LDR) (Nokia) pada sisi downlink dan parameter HOLTHLVUL (Siemens) / threshold level uplink Rx level (LUR) (Nokia) pada sisi uplink. Ini adalah threshold dimana power control untuk menaikkan RxLevel bekerja.2 Threshold pada daerah ini diatur oleh parameter LOWTLEVD (Siemens) / pc lower thresholds lev dl Rxlevel (LDR) (Nokia) pada sisi downlink. Dan LOWTLEVU (Siemens) / pc lower thresholds lev ul Rxlevel (LUR) (Nokia) pada sisi uplink. Ini adalah kondisi dimana MS dalam level dan kualitas yang baik sehingga tidak perlu adanya power control yang bekerja. 3 Ini adalah threshold dimana power control untuk menurunkan RxLevel bekerja.4 Threshold pada daerah ini diatur oleh parameter UTLEVD (Siemens) / pc upper thresholds lev dl Rx level (UDR) (Nokia) pada sisi downlink. Dan UTLEVU (Siemens) / pc upper thresholds lev ul Rxlevel (UUR) (Nokia) pada sisi uplink.
  • 133. Ini adalah daerah dimana level sinyal bagus tetapi kualitas jelek karena terdapat adanya interferensi. Pada daerah ini akan terjadi handover dapat berupa intracell handover atau intercell handover. Ini adalah threshold terjadinya handover yang diakibatkan karena low RxQual. Handover & Power Control Parameter Ini adalah threshold dimana power control untuk menaikkan RxLevel bekerja dan juga power control untuk menaikkan RxQual bekerja. 5 Ini adalah threshold dimana power control untuk menaikkan RxQual bekerja. 6 Threshold pada daerah ini diatur oleh parameter LOWTQUAD (Siemens) / pc lower thresholds qual dl Rx qual (LDR) (Nokia) pada sisi downlink. Dan LOWTQUAU (Siemens) / pc lower thresholds qual ul Rx qual (LUR) (Nokia) pada sisi uplink. 7 8 Dimana threshold ini diatur oleh parameter HOLTHQUDL (Siemens) / threshold qual downlink Rx qual (QDR) (Nokia) pada sisi downlink dan parameter HOTHQUUL (Siemens) / threshold qual uplink Rx qual (QUR) (Nokia) pada sisi uplink.
  • 134. Short Quiz 12 (Power Control & Handover) Tentukan aksi yang akan terjadi pada jaringan apabila setting threshold untuk handover dan power control ditentukan seperti pada slide 18. 1. Kondisi Rx Level DL -100 dBm, Rx Qual DL 3? 2. Kondisi Rx Level DL -85 dBm, Rx Qual DL 6 ? 3. Kondisi Rx Level DL -78 dBm, Rx Qual DL 2 ? 4. Kondisi Rx Level UL -95 dBm, Rx Qual UL 3? 5. Kondisi Rx Level UL -92 dBm, Rx Qual UL 4?
  • 136. Coverage and Quality Issue Pada jaringan 2G kita dapat memperhitungkan RF Coverage dan RF Quality dengan menganalisa sebaran Rx Level dan Rx Qual. Rx Level dipergunakan untuk mengukur kuat sinyal yang diterima oleh MS (dalam satuan dBm) sedangkan Rx Qual menunjukkan kualitas sinyal yang diterima oleh MS. Diukur dari Bit Error Rate sinyal yang diterima. Skala yang digunakan pada Rx Qual adalah 0 sampai 7. RxQual Bit Error Rate (BER) 0 BER < 0, 2 % 1 0,2 % < BER < 0,4 % 2 0,4 % < BER < 0,8 % 3 0,8 % < BER < 1,6 % 4 1,6 % < BER < 3,2 % 5 3,2 % < BER < 6,4 % 6 6,4 % < BER < 12,8 % 7 12,8 % < BER Rx Level and Rx Qual
  • 137. Coverage and Quality Issue Bad Air Quality DL (RxLevel >=-85dBm & Rx Qual DL >= 5) Dengan memperhitungkan distribusi trafik dimana banyak subscriber berada pada RxLevel yang bagus tetapi dengan RxQual jelek, interferensi mungkin saja terjadi pada area ini. Jika lebih dari 50% measurement berada pada kondisi ini (seperti terlihat pada gambar diatas) perlu dilakukan pengechekan dengan menggunakan drivetest, frequency scanning dan pengechekan adanya frekuensi co-channel dan adjacent channel/near channel pada map.
  • 138. Coverage and Quality Issue Poor Coverage DL (TA<1.5 km & Rx Level <-85dBm) Apabila lebih dari 50% measurement pada jarak yang dekat (TA < 2 atau dibawah 1.5 kilometer) tetapi diserving pada RxLevel yang rendah perlu di check adanya permasalahan pada instalasi hardware seperti pada instalasi connector, semirigid atau feeder antena, atau problem pada output power (combiner/TRX). Juga perlu dilakukan site audit untuk melihat apakah terdapat obstacle yang menyebabkan RxLevel yang diterima oleh subscriber sangat lemah.
  • 139. Coverage and Quality Issue Poor Coverage DL (Rx Level <=-85dBm & Rx Qual>=5) Apabila lebih dari 50% measurement subscriber terdistribusi pada RxLevel yang rendah dan RxQual yang jelek maka perlu di check adanya permasalahan pada instalasi hardware seperti pada instalasi connector, semirigid atau feeder antena, atau problem pada output power (combiner/TRX), atau perlu dilakukan pengechekan konfigurasi hardware seperti antena tilt, arah antena, ketinggian antena, dan kesesuaian konfigurasi antena sesuai dengan yang diajukan oleh tim RF Planning. Apabila tidak terdapat problem pada hardware bisa dilakukan pengechekan distribusi Timing Advance untuk mengetahui ada tidaknya overshooting.
  • 140. Coverage and Quality Issue Overshooting Coverage Apabila lebih dari 50% measurement pada jarak yang jauh (TA > 5 atau diatas 5 kilometer) maka dapat diasumsikan banyak terjadi overshooting coverage. Sebenarnya definisi dari overshooting coverage pada sebuah cell adalah suatu kondisi dimana coverage area sebuah cell sampai melebihi coverage area adjacent relasinya. Yang akhirnya kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya inteferensi atau handover fail.
  • 141. Coverage and Quality Issue Site to site distance Untuk memperhitungkan presentase overshoot coverage sebuah cell kita dapat membandingkan antara jarak maksimum sebuah cell dengan relasinya dan distribusi TA cell tersebut. Jika trafik distribusi melebihi jarak maksimum sebuah cell dengan relasinya maka cell tersebut mengalami overshoot coverage. Jika persentasenya besar atau lebih dari 50 % maka perlu dilakukan coverage tuning. Rumus : Rumus pada excel : 1 degree = 111.1211 km
  • 142. Short Quiz 13 (Coverage Issue) 1. Sebuah Cell A memiliki relasi adjacent dengan Cell B, Cell C, Cell D, Cell E. Apabila diketahui longitude dan latitude Cell A dan relasinya adalah sebagai berikut : Longitude Latitude Cell A 106.8555922 -6.27588375 Cell B 106.8527082 -6.28311818 Cell C 106.8700848 -6.27815585 Cell D 106.8679064 -6.28808216 Cell E 106.8721099 -6.29614116 Hitung pada TA ke berapakah sebuah MS yang diserving oleh cell A mulai mengalami overshoot coverage?
  • 144. Accessibility Performance Optimization Random Access (RACH) Success Rate (1/4) Random Access Channel (RACH) digunakan oleh MS pada sisi uplink untuk me-request alokasi SDCCH. Request ini dapat dikarenakan MS ter- paging pada saat adanya panggilan masuk atau saat MS mencoba mengakses jaringan. Availability SDCCH pada sisi BTS tidak berpengaruh pada Random Access Success Rate. Pengulangan percobaan MS untuk mengakses ke jaringan (apabila pada percobaan akses belum ada respon dari sisi BTS pada channel AGCH baik berupa jawaban immediate assignment atau immediate assignement reject) dapat ditentukan oleh paremeter MAXRET (ericsson) / MAXRETR (siemens) / MAX NUMBER OF RETRANSMISSION (RET) (nokia) dan waktu interval antara akses request yang satu dengan yang lain ditentukan oleh parameter TX (ericsson) / NSLOTST (siemens) / NUMBER OF SLOTS SPREAD TRANS (SLO) (nokia).
  • 145. Accessibility Performance Optimization Random Access (RACH) Success Rate (2/4) Start Change BSIC YES Poor BSIC Plan ? Poor BCCH Plan ? NO NOYES BCCH Retune/ Frequency Retune 2 2 Low Random Access Success rate 3
  • 146. Accessibility Performance Optimization Random Access (RACH) Success Rate (3/4) Poor Coverage / Overshooting ? YES Do site audit and physical/parameter tuning related to coverage NO 2 Phantom RACH problem ? YES Optimizing filtering in hardware and tuning for CRO (Ericcson) and ACCMIN (Ericcson) NO 2 Faulty on Antenna or cable ? YES Fix hardware problem NO 2 4 3
  • 147. Accessibility Performance Optimization Random Access (RACH) Success Rate (4/4) 4 Tuning for CRO (Ericcson) and ACCMIN (Ericcson) YES Unapropriate setting for CRO and ACCMIN ? Unapropriate setting for MAXRET and TX ? NO YES Tuning for MAXRET (Ericcson) and TO (Ericcson) 2 2 Performance Monitoring to see impact after troubleshooting activities 2
  • 148. Accessibility Performance Optimization SDCCH Congestion Rate/SDCCH Blocking Rate (1/4) SDCCH adalah control channel yang digunakan oleh sistem pada saat Location Update (dengan mean holding time 3,5 detik), IMSI Detach (2,9 detik), Mobile Originated Calls (2,7 detik), Mobile Terminated Calls (2,9 detik), SMS (6,2 detik). Secara keseluruhan channel SDCCH memainkan peranan penting dimana pada proses call setup setiap user pasti menggunakan kanal ini sebelum memperoleh kanal TCH.
  • 149. Accessibility Performance Optimization SDCCH Congestion Rate/SDCCH Blocking Rate (2/4) Start Fix Hardware/TRX Problem YES Hardware/TRX Problem? Lack SDCCH Channel? NO YES Add SDCCH Channel 2 2 High SDCCH Congestion/Blocking Rate 3 NO
  • 150. Accessibility Performance Optimization SDCCH Congestion Rate/SDCCH Blocking Rate (3/4) Coverage Problem/ Overshooting? YES Do site audit and physical/parameter tuning related to coverage NO 2 High Location Area Update? YES Check LAC Border, Check parameter related to location update NO 2 Load Sharing/Traffic Sharing already implemented? NO Implement Traffic Sharing Strategy YES 2 3 3
  • 151. Accessibility Performance Optimization SDCCH Congestion Rate/SDCCH Blocking Rate (4/4) 3 Implemented adaptive logical channel NO Adaptive Logical Channel already implemented? Immediate Assignment on TCH? YES NO Activate feature and monitor the performance 2 2 Performance Monitoring to see impact after troubleshooting activities 2 OPTIONAL FEATURE
  • 152. Accessibility Performance Optimization SDCCH Drop Rate (1/7) Pada saat proses- proses MOC SDCCH dapat mengalami drop yang disebabkan karena faktor hardware, interferensi, poor coverage, overshoot coverage atau lainnya. Dan apabila kontribusinya besar dapat mempengaruhi turunnya KPI accessibility sebuah cell.
  • 153. Accessibility Performance Optimization SDCCH Drop Rate (2/7) Sistem Ericsson Data yang ditampilkan berikut hanya contoh.
  • 154. Accessibility Performance Optimization SDCCH Drop Rate (3/7) Sistem Siemens Data yang ditampilkan berikut hanya contoh.
  • 155. Accessibility Performance Optimization SDCCH Drop Rate (4/7) Sistem Nokia Data yang ditampilkan berikut hanya contoh.
  • 156. Accessibility Performance Optimization SDCCH Drop Rate (5/7) Start Fix Hardware/TRX Problem YES Hardware/TRX Problem? Low signal strength UL/DL (RF Problem)? NO YES Do site audit and physical/parameter tuning related to coverage 2 2 High SDCCH Drop Rate 3 NO
  • 157. Accessibility Performance Optimization SDCCH Drop Rate (6/7) Bad Quality UL/DL (RF Problem)? YES NO 2 Excessive Timing Advance/Distance to Limit? YESCheck TRX quality, check interfrence from other sites, check if any eksternal interference NO 2 Due to Abis Failure? YES Fix problem related to Abis link, Check transmision alarm, check transmisi availability. NO 3 Antenna Downtilt/Red uce antenna height/ reduce BTS power 2 3
  • 158. Accessibility Performance Optimization SDCCH Drop Rate (7/7) 3 Fix problem related to A-if link, Check alarm, check availability. Check that configuration already correct in MSS side. YES Due to A-if Failure? Other Reason? NO YES Check LAPD, Remote transcoder, BCSU and other element 2 2 Performance Monitoring to see impact after troubleshooting activities 2
  • 159. Accessibility Performance Optimization TCH Congestion Rate (1/5) Alokasi kanal TCH dilakukan setelah proses immediate assignment berhasil. TCH Blocking/Congestion terjadi apabila tidak tersedia kanal TCH yang available. Beberapa faktor seperti kerusakan hardware, kurang baiknya dimensioning untuk kanal TCH adalah beberapa faktor penyebab terjadinya TCH Blocking/TCH Congestion.
  • 160. Accessibility Performance Optimization TCH Congestion Rate (2/5) Start Fix Hardware/TRX Problem YES Hardware/TRX Problem? Any site down in surrounding area? NO YES NO Fix site down2 2 High TCH Congestion/Blocking Rate 3
  • 161. Accessibility Performance Optimization TCH Congestion Rate (3/5) Half Rate already implemented? NO Implement half rate YES 2 Coverage problem/ overshooting? YES Do site audit and physical/paramet er tuning related to coverage NO 2 Any missing adjacencies ? YES Add neighbour NO 2 4 3
  • 162. Accessibility Performance Optimization TCH Congestion Rate (4/5) 4 Implement Traffic Sharing Strategy NO Load Sharing/Traffic Sharing already implemented? Too many SDCCH allocation? YES YES Change SDCCH to TCH2 2 NO 5
  • 163. Accessibility Performance Optimization TCH Congestion Rate (5/5) Performance Monitoring to see impact after troubleshooting activities 2 Implement assignment to another cell 2 Upgrade TRX 2 Already Implemented assignment to another cell? NO YES Possible for TRX Upgrade? YES NO Plan new site with reason capacity OPTIONAL FEATURE TRX configuration already full 5
  • 165. Retainability Performance Optimization TCH Drop Rate (1/7) Sistem Ericsson Data yang ditampilkan berikut hanya contoh.
  • 166. Retainability Performance Optimization TCH Drop Rate (2/7) Sistem Nokia Data yang ditampilkan berikut hanya contoh.
  • 167. Retainability Performance Optimization TCH Drop Rate (3/7) Sistem Siemens Data yang ditampilkan berikut hanya contoh.
  • 168. Retainability Performance Optimization TCH Drop Rate (4/7) Start Fix Hardware/TRX Problem YES Hardware/TRX Problem? Low signal strength UL/DL (RF Problem)? NO YES Do site audit and physical/paramete r tuning related to coverage 2 2 High TCH Drop Rate 3
  • 169. Retainability Performance Optimization TCH Drop Rate (5/7) Bad Quality UL/DL (RF Problem)? YES NO 2 Any Missing neighbour? YESCheck TRX quality, check interfrence from other sites, check if any eksternal interference NO 2 Many handover Failure? YES Check if there is any swapped sector, check handover per relation, fix problem on target cell NO 2 4 Do neighbour audit and add neighbour 3
  • 170. Retainability Performance Optimization TCH Drop Rate (6/7) Excessive Timing Advance/Distance to Limit? YES 2 Antenna Downtilt/Reduce antenna height/ reduce BTS power DTX already active? YESNO Activate DTX 2 5 4
  • 171. Check LAPD, Remote transcoder, BCSU and other element Retainability Performance Optimization TCH Drop Rate (7/7) YES Due to A-if Failure? Other Reason? NO YES 2 2 Performance Monitoring to see impact after troubleshooting activities 2 Due to Abis Failure? YES Fix problem related to Abis link, Check transmision alarm, check transmisi availability. 2 NO Fix problem related to A-if link, Check alarm, check availability. Check that configuration already correct in MSS side. 5
  • 173. Integrity Performance Optimization Handover Success Rate (1/4) Start Add neighbour if any missing neighbor/ Reduce if too many neighbour YES Missing Neighbour/ Too many Neighbour ? NO 2 Low Handover Success Rate Low Handover Attempt ? NO Check Handover parameter / Do site audit / Cell in remote island 2 3
  • 174. Integrity Performance Optimization Handover Success Rate (2/4) Low for overall relation ? YES NO 5 4 Check if any co BCCH/BSIC with surrounding cells ? NO Do frequency retune/ BSIC retune Check Handover Success Rate per relation 3 2 YES
  • 175. Integrity Performance Optimization Handover Success Rate (3/4) 4 Performance Monitoring to see impact after troubleshooting activities 2 Hardware Problem on Target cell ? YES NO 2 Incorrect Handover Parameter per cell? YES Handover Parameter tuning 2 Solve Hardware Problem / Handover parameter tuning per relation TCH Congestion on Target Cell ? YESNO Solve TCH congestion / Handover parameter tuning per relation 2
  • 176. Integrity Performance Optimization Handover Success Rate (4/4) 5 2 Low signal strength UL/DL (RF Problem)? YES NO 2 Incorrect Handover Parameter/ Threshold ? YES Handover Parameter tuning Do site audit and physical/parameter tuning related to coverage Any Swapped Sector ? YESNO Solve Swapped sector 2
  • 178. Tools : TEMS Investigation TEMS sangat powerfull dan mudah digunakan. Sampai saat ini rilis TEMS Investigation sudah sampai rilis ke 11. Pada umumnya drivetest membutuhkan Laptop yang telah terinstal software TEMS, Handphone dan kabel datanya, dongle, serta USB GPS. Drivetest berguna untuk analisis coverage sebuah cakupan jaringan atau cakupan sebuah cell. Drivetest menggunakan sampel data user perception pada coverage tertentu.
  • 180. Info Element Preparation Serving and Neighbour menunjukkan informasi seperti Cell name, BSIC, ARFCN, RxLev, C1, C2, serving cell dan juga enam neighbour list dengan Rxlevel terbagus. Radio Parameter menunjukkan informasi kondisi radio saat ini seperti RxLevel, RxQual, FER, SQI, TA dll Current Channel menunjukkan informasi yang berkaitan dengan channel yang digunakan. Disini akan didapatkan informasi mengenai CGI, BSIC, BCCH ARFCN dan juga Time Slot yang dipergunakan. 2G
  • 181. Info Element Preparation C/A menunjukkan level interferensi dari adjacent channel. C/I diartikan Carrier-to-interference ratio yang menunjukkan rasio antara kuat sinyal bit-bit informasi dan kuat sinyal bit-bit interference yang tidak diinginkan. C/I disebabkan karena adanya interferensi yang disebabkan karena penggunaan frequensi yang sama oleh cell carrier dan juga cell yang lain. Current Channel menunjukkan informasi yang berkaitan dengan channel yang digunakan. Disini akan didapatkan informasi mengenai CGI, BSIC, BCCH ARFCN dan juga Time Slot yang dipergunakan. 2G
  • 182. What to measure? RxLev dipergunakan untuk mengukur kuat sinyal yang diterima oleh MS (dalam satuan dBm). RxQual menunjukkan kualitas sinyal yang diterima oleh MS. Diukur dari Bit Error Rate sinyal yang diterima. Skala yang digunakan pada RxQual adalah 0 sampai 7.
  • 184. Interference Check Untuk mengecek adanya interferensi dapat dilakukan dengan pengamatan pada jendela Radio Parameter dan Jendela Current Channel, apabila RxQual atau C/I atau SQI pada TRX yang dilakukan pengetesan jelek tetapi RxLevel pada kondisi baik. Kemungkinan terjadi adanya interferensi. Perlu adanya pengecekan frekuensi dan perlu dilakukannya frequeny retune pada TRX tersebut.
  • 185. Frequency Scanning Baik buruknya kualitas jaringan GSM ditentukan dari baik- buruknya perencanaan frekuensi. Co-BCCH ataupun Adjacent- BCCH antara dua site yang berdekatan dapat menimbulkan tingginya interferensi diantara kedua site tersebut. Adanya overshooting coverage juga dapat menimbulkan tingginya interferensi. Dengan melakukan drivetest kita dapat mengetahui daerah dimana terdapat kuat sinyal yang bagus (RxLevel bagus) tetapi kualitas sinyalnya buruk (RxQual jelek), hal ini dapat disebabkan oleh karena adanya interferensi di daerah atau spot tersebut. Dengan menggunakan metode GSM Scanning kita dapat mengetahui list BCCH ARCFN pada suatu daerah/spot dan mengetahui list BCCH ARFCN yang menjadi interference frequency.
  • 186. Frequency Scanning Untuk memulai scanning pada Combo Box Scanning Task pilih Frequency Scanning. Klik pada tombol Scan Properties. Klik Pada tab Scanned Channels centang pada Scan selected channels kemudian centang pada Manual selection lalu klik Select dan masukkan list ARFCN yang ingin di-scan. Masukkan hanya BCCH ARFCN yang bersesuaian dangan BCCH ARFCN pada operator yang ingin diinvestigasi. Klik tombol Start Scanning untuk memulai scanning. klik tombol Stop Scanning untuk menghentikan proses scanning.
  • 187. Frequency Scanning ... Neighbour List Scanning Mode Neighbour list scanning dapat digunakan sebagai referensi sebuah cell yang memiliki kuat sinyal bagus tetapi belum ter-create sebagai neighbour. Pendeteksian berdasarkan kuat sinyal BCCH ARFCN yang terukur oleh sebab itu hanya masukan list BCCH pada operator yang ingin diinvestigasi. Berikut tampilan Neighbour List Scanning Mode.
  • 189. Drivetest KPI Call Setup Success Rate (CSSR) Call Setup Successful Rate (%) = ((Total number of successful setup)/ (Total number of calls attempt))*100 Total number of successful setup = Jumlah mobile originating calls yang berhasil menempati kanal trafik (TCH). Total number of calls attempt = Jumlah total percobaan attempt untuk melakukan mobile orginating call. Dropped Call Rate (DCR) Dropped Call Rate, dikenal juga sebagai TCH drop rate Dropped Call Rate (%) = ((Call set-up Success) – (number of completed calls)) / (Call set-up Success)*100
  • 190. Drivetest KPI Handover Success Rate (HOSR) Handover Success Rate (%) = ((Total number of successful handovers) / (Total number of handover attempts))*100 Handover per Call Handover per call = (Total number of Handover success / total number of call setup success) Rx Level dan Rx Qual Pada jaringan 2G kita dapat memperhitungkan RF Coverage dan RF Quality dengan menganalisa sebaran Rx Level dan Rx Qual. Rx Level dipergunakan untuk mengukur kuat sinyal yang diterima oleh MS (dalam satuan dBm) sedangkan Rx Qual menunjukkan kualitas sinyal yang diterima oleh MS. Diukur dari Bit Error Rate sinyal yang diterima. Skala yang digunakan pada Rx Qual adalah 0 sampai 7.
  • 191. Drivetest KPI Rx Qual VS SQI SQI (Speech Quality Index) Adalah pengukuran quality yang mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan RxQual. Berikut beberapa kelemahan RxQual : BER yang berfluktuasi (tinggi ke rendah atau sebaliknya) menyebabkan perceived quality lebih rendah daripada BER yang konstan. Sedangkan RxQual hanya mengukur rata-rata dari BER dan tidak dapat mengukur fluktuasi (deviasi) ini. RxQual tidak memperhitungkan Frame Erasure Rate (FER). Saat terjadi handover selalu mengakibatkan hilangnya sebuah frame, yang dapat menyebabkan menurunnya kualitas di sisi user. Hal ini tidak terlihat pada RxQual. Pemilihan speech code, level kualitas akan bervariasi setiap speech codec. Dimana setiap speech codec memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sedangkan pengukuran SQI juga memperhitungkan : BER (bit Error Rate) FER (Frame Erasure Rate) Handover events Komputasi yang berbeda untuk setiap speech codec
  • 192. Speech Coding FR, HR, EFR and AMR Voice Speech Coding (FR, HR, EFR) Modulasi GMSK Burst Full Rate (FR), speech coding dengan bit rate : 13 kbit/s Half Rate (HR), speech coding dengan bit rate : 5.6 kbit/s, kapasitasnya dapat dua kali full rate Enhanced Full Rate (EFR),speech coding dengan bit rate : 12,2 kbit/s. Ada peningkatan kualitas dibandingkan dengan Full Rate dengan adanya noise free Adaptive Multi Rate (AMR), speech codec bersifat adaptif
  • 194. Drive Test Improvements Signal Strength Analysis Shadowed Antenna Faulty Hardware Height/down Tilt Output Power Visit site Check antenna installation Is there a better antenna position at same site? Add reduce down tilt? Can antenna be placed lower or higher to give better coverage? Check output power Parameters BSPWRT - NON BCCH FREQ BSPWRB - BCCH FREQ Site Location Possible to move site? New antenna location at same site? Is it necessary to expand and build a new site? Check alarm & BTS Error log Visit site Missing Neighbor Is the call dragged? Is low SS due to missing neighbor relations
  • 195. Drive Test Improvements Interference Analysis From DT logfile & map: What channel group suffer from interference? HOP or Non HOP? Check Current channel information in TEMS INV, hopping channel and hopping frequency. Where does the interference come from? Cell name? Study map and logfile, look for co- channel or adjacent channel interference. Does the interference lead to lower SQI? Look at SQI measurement during high RxQual. Use OSS statistic to assist analysis. Possible Solutions: Enable Frequency Hopping or add frequencies to Hopping group. Enable BTS Power Control, MS power control and make it less aggressive. Change frequency of interferer or interfered cell: Possible to find new frequency by using TEMS Scanning. Down tilt or change antenna of interferer. Redo frequency plan. Add new site.
  • 196. Drive Test Improvements Handover Analysis (ping pong) Analysis .. • Identify UL/DL interference • Imbalance link, e.g. most cases UL signal strength issue • H/W defect, e.g. TRX, combiner, VSWR, etc. • Cross or swap feeder • Wrong handover parameter, e.g. UL/DL signal strength or quality threshold • Bad neighboring hysteresis parameters, e.g. HOM, etc
  • 197. Drive Test Improvements Call Setup Failure Analysis Analysis: • Low Signal Strength • Interference • High Congestion on SDCCH • High Congestion on TCH • Transmission Fault • Faulty TRX/Hardware • BSC Processor Overload • Cell is not defined in MSC. Possible Solutions: • Signal strength analysis • Interference analysis • Define more SDCCH or adaptive SDCCH or direct TCH assignment • Traffic sharing, redefine SDCCH to TCH, coverage tuning • Fix the transmission problem • Replace faulty TRX • BTS re-homing, upgrade BSC capacity • Define missing cell database in MSC
  • 198. Drive Test Improvements Drop Call Analysis Analysis .. • Check the Radio environment just before drop:  If High Rxqual for a longer period of time and RLINKT expire  Interference problem.  If Low SS DL, SSDL < MSSENS ( -104dBm)  low signal strength problem.  If TA > 63  too far from the cell. • If DL radio is good, check the TX power. If there is MS power down regulation when the MS is close to the cell. If full power  suspect uplink interference or antenna, TMA problem. • Verify or isolate the problem using OSS Statistic (Drop call and reasons).
  • 199. Drive Test Improvements Sample Case: Missing Neighbor Hal ini dapat menyebabkan efek "cell dragging“ ; dimana MS bergerak tetapi masih dipegang oleh cell lama meskipun telah melewati jarak tertentu dan seharusnya dilayani oleh cell tetangga yang RXLevel-nya lebih bagus. Efek ini juga dapat menyebabkan RXQual dan SQI buruk karena interferensi co- channel.
  • 200. Drive Test Improvements Sample Case: Non-mutual Relation Hal ini dapat menimbulkan efek yang sama dengan efek "Missing Neighbour". Pastikan neighbour relation dibuat “both way” apabila ditinjau dari site database. Untuk alasan tertentu, hubungan “one way” diperbolehkan, misalnya pada lokasi penjara, dll
  • 201. Drive Test Improvements Sample Case: Co-channel BCCHFrequency scanning adalah cara yang paling praktis untuk menemukan sumber interferensi. Jika lebih dari satu BSIC terkodekan untuk satu ARFCN BCCH yang diamati, kita dapat menyimpulkan adanya "co-channel interference". Dengan mengetahui BSIC dan memeriksa pada site database kita dapat mengetahui cell yang menjadi sumber interferensi.
  • 202. Drive Test Improvements Sample Case: Swap Feeder and Crossed Feeder Sebuah kasus cross feeder, dapat diidentifikasi melalui Drive Test dan biasanya menunjukkan banyak ping-pong HO. Kasus swap feeder, mangakibatkan MS dilayani oleh Cell yang salah, misalnya pada saat MS berada di area main lobe sektor 1, MS tidak dilayani oleh sektor 1, tetapi diserving oleh sektor 2.
  • 203. Drive Test Improvements Sample Case: Low Level Signal at Near Site Adanya halangan/medan perbukitan menjadi penyebab terjadinya kasus ini, meskipun tidak semuanya disebabkan oleh kondisi medan. Seting CRO yang terlalu tinggi dibandingkan dengan BTS yang dekat dapat menjadi penyebabnya. MS akan “camp” pada BTS yang jauh meskipun Rx Levelnya tidak terlalu kuat tetapi karena nilai C2 yang tinggi.
  • 205. See you in other training class… TELECOMMUNICATION TRAINING  GSM Planning  3G/WCDMA Planning  GSM Optimization  3G/WCDMA Optimization  Wireless Broadband ELECTRONICS TRAINING  PCB Design with Eagle/Protel/OrCAD  Microcontroller System For Beginners  Microcontroller System For Advanced TECHNOPRENEURSHIP TRAINING Contact Person : Lingga Wardhana Phone : +62 8562893622 Email : lingga.wardhana@floatway.com Floatway Learning Centre Address : Cipinang Elok 2 Blok BJ No. 2C Cipinang Jakarta Timur Phone : (+62 21) 85911547 Fax : (+62 21) 85911547 www.floatway.com